Friday, February 28, 2014

Rules Are Meant to be Broken?

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Mazmur 81:9
====================
"Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!"

Ada anekdot yang mengatakan "rules are meant to be broken." Peraturan ada untuk dilanggar. Sebuah peraturan dibuat dengan tujuan untuk membuat tatanan masyarakat yang lebih baik dan lebih teratur. Meski ada banyak peraturan yang seiring perkembangan waktu menjadi ketinggalan jaman alias tidak lagi tepat untuk diterapkan dan disisi lain ada banyak pula peraturan yang justru menjadi kontroversi karena hanya mengacu kepada kepentingan sekelompok golongan saja. Tapi pada hakekatnya semua tentu bertujuan baik. Sayangnya idiom 'peraturan ada untuk dilanggar' dianut oleh begitu banyak orang. Mereka melanggar dengan berbagai alasan, bahkan atas alasan-alasan yang sangat tidak penting seperti cuma kepingin, ingin terlihat hebat dan sebagainya. Peraturan lalu lintas adalah yang paling sering dilanggar terutama di malam hari ketika orang-orang yang tidak bertanggung jawab merasa bahwa tidak ada lagi polisi yang bisa menilang. Demikianlah sifat manusia yang agaknya susah diatur dan alergi terhadap larangan. Banyak orang yang menganggap bahwa peraturan itu ada untuk dilanggar, bukan untuk suatu tujuan yang baik. Padahal lihatlah bagaimana kebandelan itu bisa merusak atau bahkan membahayakan baik diri kita sendiri maupun orang lain.

Terhadap peraturan di dunia kita terbiasa membangkang, terhadap peraturan Tuhan apalagi. Tuhan memberikan dengan jelas tuntunan hidup yang akan membawa kita kedalam kehidupan yang indah seperti yang diinginkanNya dan juga mengarah kepada keselamatan yang kekal. Tuhan memberikan batasan-batasan dan larangan-larangan, tapi sejauh mana kita mau mendengarnya? Yang sering terjadi justru sikap membangkang dari kita, mengira bahwa Tuhan tidak ingin kita menikmati sesuatu yang menyenangkan, terlalu mengekang atau bersikap otoriter. Banyak orang yang memilah-milah peraturan Tuhan, hanya melakukan selama tidak bertabrakan dengan kesenangan. Padahal sadarkah kita bahwa itu pun sebenarnya demi kebaikan kita sendiri dan bukan untuk kepuasan Tuhan?

Sikap manusia seperti ini sebenarnya sudah merupakan masalah klasik yang turun temurun sejak dahulu. Dari sekian banyak contoh, kita bisa lihat Mazmur 81 yang mencatat bagaimana kesalnya Tuhan dalam menyikapi kebandelan bangsa Israel. Dengan tegas Tuhan sudah mengingatkan: "Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!" (Mazmur 81:9). Itu bentuk kepedulian Tuhan. Dia memberi peringatan bukan demi kepentinganNya melainkan demi kebaikan bangsa Israel sendiri. Dengarlah kalau mau, itu kata Tuhan. Apa yang diingatkan Tuhan adalah agar bangsa Israel berhenti menyembah allah-allah asing. "Janganlah ada di antaramu allah lain, dan janganlah engkau menyembah kepada allah asing. Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh." (ay 10-11). Sudah sedemikian besar janji Tuhan, tapi bagaimana respon bangsa Israel? Mereka membandel, dan kebebalan mereka membuat mereka menolak untuk patuh. Firman Tuhan selanjutnya mengatakan "Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku." (ay 12). Bangsa Israel sudah merasakan sendiri bagaimana Tuhan menuntun mereka keluar dari tanah perbudakan untuk menuju tanah terjanji yang melimpah susu dan madunya, dan Tuhan pun telah melakukan begitu banyak mukjizat buat mereka sepanjang perjalanan. Tapi agaknya mereka meremehkan dan melupakan itu semua. Bukannya patuh tapi malah membandel dan mengatakan tidak suka kepada Allah seperti apa yang ditulis dalam ayat 12 tadi. Mereka menganggap Tuhan sebagai Pribadi yang egois, penuntut atau tidak suka melihat mereka senang. Yang terjadi selanjutnya, Tuhan pun membiarkan mereka dengan pilihannya! "Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!" (ay 13). Seandainya saja mereka mau mendengar, lihatlah apa yang disediakan Tuhan itu. "Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku. Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya." (ay 14-17). Mereka tetap bandel dan memilih sendiri jalan mereka. Yang terjadi sangat menyedihkan. Sejarah mencatat bahwa keputusan Israel itu kemudian membawa konsekuensi buruk buat mereka. Perilaku bandel itu membuat mereka terpuruk. Dijajah musuh, hancur berantakan, jauh dari apa yang sebenarnya telah disediakan Tuhan bagi mereka.

Kebandelan tidak akan pernah membawa manfaat sebaliknya justru akan berdampak buruk bagi kita. Resikonya jelas, konsekuensinya nyata, bisa jadi membawa akibat sangat fatal dan sukar untuk diperbaiki lagi. Kita menganggap bahwa sifat tidak suka dilarang, anti peraturan dan cepat tersinggung ketika diingatkan itu adalah manusiawi dan bisa ditoleransi. Tetapi Tuhan sesungguhnya tidak menginginkan kita menjadi pribadi-pribadi yang keras kepala atau degil seperti itu. Tuhan rindu agar kita memiliki hati yang lembut yang siap dibentuk, setia dan taat terhadap peraturan terutama ketetapanNya. "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu." (Ulangan 10:12-13). Bangsa Israel sudah merasakan sendiri konsekuensi yang harus mereka hadapi akibat kedegilan mereka melawan Tuhan dalam begitu banyak kesempatan. Hanya gara-gara ingin dianggap keren orang-orang yang mengemplang peraturan berlalu lintas tidak sadar bahwa mereka bisa membahayakan jiwa banyak orang. Padahal tidak ada keren-kerennya sama sekali, justru itu menunjukkan sikap yang tidak terdidik dan terpuji. Sebuah larangan memang terlihat seperti membatasi pergerakan kita dan membuat kita seolah tidak bisa menikmati hal-hal yang tampaknya menarik dan menyenangkan di dunia. Tetapi itu semua bertujuan baik, agar kita bisa terhindar dari masalah dan penderitaan yang dapat berujung pada kebinasaan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Apakah itu langsung dari Tuhan, lewat hati nurani kita, atau lewat orang tua, saudara atau sahabat yang peduli kepada kita, bersyukurlah dan berterima kasihlah jika diingatkan. Jangan keraskan hati apalagi menuduh dan bersungut-sungut, sebab larangan atau peringatan yang baik yang kita terima sesungguhnya bisa menghindarkan kita dari kejadian-kejadian yang kelak akan kita sesali sendiri.

Tuhan memberi larangan bukan untuk kepuasanNya melainkan demi kebaikan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker