Sunday, March 3, 2013

Sikap Terhadap Musuh (1)

webmaster | 10:00:00 PM |
Ayat bacaan: Yunus 4:1
====================
"Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia."

Bagaimana reaksi kita ketika melihat orang yang tidak kita sukai jatuh? Kebanyakan orang akan sangat senang dan puas. Kepuasan itu akan bertambah apabila orang tersebut pernah menyakiti hati kita. Kata-kata yang keluar biasanya bernada puas mulai dari "rasakan", "biar tahu rasa", "biar kapok" hingga kata-kata yang kasar yang tidak pantas untuk ditulis disini. Itu bisa menjadi respon kita melihat orang yang tidak kita sukai atau pernah melakukan sesuatu yang salah kepada kita mengalami situasi sulit. Kita akan merasa wajar bereaksi seperti itu, karena toh orang tersebut pernah menyakiti kita. Itu dianggap sangat manusiawi dan sah-sah saja. Apakah benar kita berhak bereaksi seperti itu? Dalam kekristenan sebenarnya sama sekali tidak ada alasan bagi kita untuk bereaksi demikian. Mengapa? Karena kita seharusnya memiliki kasih Kristus di dalam diri kita yang sama sekali tidak menyediakan tempat buat bersenang hati terhadap kejatuhan orang lain,yang telah berbuat jahat terhadap kita, seperti apapun bentuknya.

Kita bisa belajar akan hal tersebut dalam banyak kesempatan di dalam Alkitab, salah satunya lewat kisah Yunus. Kita tentu tahu apa yang terjadi pada mulanya. Yunus mengelak untuk melakukan tugas yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Ia lari dan akibatnya lewat serangkaian konsekuensi, ia pun ditelan oleh sebuah ikan besar dan harus berada disana selama beberapa hari. Setelah ia keluar dari perut ikan dan kemudian memutuskan untuk taat terhadap perintah Tuhan, ia kemudian menurut untuk pergi mengingatkan Niniwe agar bertobat. Pertobatan menyeluruh dari bangsa Niniwe pun terjadi. Seisi Niniwe berbalik dari tingkah laku yang jahat dan berselubung kain kabung tanda pertobatan. Bukan hanya manusia, tetapi ternak-ternak pun demikian. Melihat itu, Tuhan pun mengampuni mereka. "Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya." (Yunus 3:10). Bagaimana respon Yunus menyikapi hal ini? Seharusnya tentu ia gembira, merasa lega, bahwa tugas maha berat yang dibebankan kepadanya ternyata berujung keberhasilan. Seharusnya Yunus merasa bahagia melihat begitu banyak manusia yang terluput dari kebinasaan dan beroleh keselamatan. Tapi nyatanya bukan itu yang menjadi respon Yunus. Justru sebaliknya, Alkitab mencatat respon Yunus adalah seperti ini: "Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia." (Yunus 4:1).

Mari kita lihat hubungan antara Niniwe dan Israel pada masa itu. Ketika itu Niniwe merupakan musuh bebuyutan dari bangsa Israel. Jika demikian, lantas untuk apa Allah Israel menyelamatkan musuh dari umatNya sendiri? Mungkin itu yang menjadi isi hati Yunus. Ia mengira bahwa hanya bangsa Israel saja yang mendapat janji Tuhan, dan dengan demikian hanya Israellah satu-satunya yang berhak diselamatkan. Begitu kecewanya, Yunus bahkan berterus terang mengungkapkan rasa marahnya melihat Niniwe diselamatkan.

Pikiran seperti itu jelas keliru dan tidak pada tempatnya. Lewat pohon jarak yang ditumbuhkan dan kemudian layu di hari selanjutnya Tuhan memberi pelajaran kepada Yunus bahwa bukan hanya Israel, tapi bangsa-bangsa lain pun layak untuk dikasihi Tuhan. "Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" (Yunus 4:10-11). Bukankah bangsa Niniwe pun Tuhan sendiri yang menciptakan? Bukankah mereka juga diciptakan menurut gambar dan rupaNya? Jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan tidak mengasihi mereka juga, dan mengapa Tuhan harus tega membiarkan ciptaanNya sendiri binasa? Kalau dalam pandangan Tuhan seperti itu, adakah hak kita untuk bertindak sebaliknya dengan bersukacita melihat seteru, musuh atau orang yang kita benci tengah menderita akibat satu dan lain hal yang menyakiti mereka?

(bersambung)

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker