Thursday, March 28, 2013

Relatifnya Sebuah Ukuran

webmaster | 10:00:00 PM |
Ayat bacaan: 2 Korintus 4:17
======================
"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami."

Sebutir nasi itu tentu sangat kecil bagi kita, yang biasanya bisa memakan puluhan atau bahkan ratusan butir itu dalam sekali suap. Tapi ketika anda melihat seekor semut mengangkut sebutir nasi, butiran itu terlihat sangat besar bagi semut. Contoh berikutnya, besar atau kecilkah bola tenis menurut anda? Jawabannya pun bisa beragam. Bola tenis akan terlihat kecil jika dibandingkan dengan bola sepak atau bola bowling, tetapi akan terlihat besar dibanding bola pingpong atau gundu. Sebuah jeruk bisa terlihat besar kalau dibandingkan dengan anggur, tapi kecil kalau berada di dekat buah semangka. Dalam satuan ukur setiap benda punya ukurannya masing-masing, tapi untuk memutuskan besar atau tidaknya benda itu tentu akan sangat relatif. Nilai mata uang pun demikian. Dua puluh tahun yang lalu lima ribu rupiah sudah sangat besar, tapi hari ini kita hanya bisa makan pas-pasan di warung dengan jumlah itu. Seperti itulah gambaran relativitas nilai atau ukuran sebuah benda.

Bagaimana dengan ukuran masalah yang tengah anda hadapi? Seperti apa anda memandang permasalahan hidup hari ini? Besar atau kecil? Saya kira kebanyakan orang akan setuju menilai permasalahan hidup ini besar. Hidup memang tidak mudah. Pergumulan-pergumulan dan tekanan-tekanan hidup akan selalu siap mendorong kita jatuh jauh ke bawah, begitu jauh hingga terkadang kita sulit untuk kembali bangkit dalam waktu yang singkat. Tidak jarang orang yang menyerah setelah diterpa badai, tapi ada pula yang tetap tegar meski badai telah mencoba mengobrak-abrik hidup dalam waktu yang cukup lama. Besar kecilnya masalah pun ternyata relatif. Ada yang sudah pesimis ketika sedikit masalah saja menerpanya. Masalah itu besar jika dibandingkan ketika keadaannya sedang tanpa masalah, namun kecil jika dibandingkan permasalahan yang jauh lebih berat yang mungkin sedang menimpa orang lain. Ada pula orang yang bisa tetap tenang dalam menghadapi masalah besar karena sudah pernah berhasil melewati masalah yang jauh lebih besar lagi. Karena besar kecilnya masalah itu relatif, maka saya beranggapan bukan kadar masalah yang membuat orang jatuh menyerah dalam keputus asaan, namun pola pikir atau cara pandanglah yang sangat menentukan. Fokus kepada masalah, maka masalah itu akan terus bertumbuh semakin besar. Namun jika fokus diarahkan dalam iman yang percaya, niscaya kita akan masih bisa tersenyum dan bersukacita seberat-beratnya masalah menimpa kita.

Sebuah contoh bisa kita lihat dari riwayat Paulus. Kurang besar bagaimana lagi masalah yang dihadapi Paulus? Jika kita yang mengalami, mungkin sepertiga saja dari masalahnya sudah membuat kita mundur dan menyerah. Lihatlah bahaya, ancaman atau penyiksaan yang ia alami baik dari sesama manusia maupun alam. (2 Korintus 11:23-28). Apakah cuma itu? Tidak. Ia juga mendapatkan masalah dari dalam tubuhnya sendiri. (12:7-8). Dalam kesempatan lain Paulus mengatakan "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini." (1 Korintus 4:11-13). Paulus mengalami semua itu, tapi dia tetap sabar. Dia tetap bisa bertahan dan tetap teguh menjalankan tugas pelayanannya seperti yang telah ditetapkan Tuhan dengan keramahan, kesabaran dan ketabahan. Bagaimana bisa demikian? Seperti yang pernah saya tulis beberapa hari yang lalu, Paulus bisa bersikap seperti itu karena ia mengarahkan pandangannya bukan kepada masalah yang menimpanya, tapi kepada apa yang ada di depannya.

Bagaimana ia bisa tahan menghadapi semua itu? Semua berasal dari visi atau kemana ia memandang. Visinya adalah memandang kepada apa yang dijanjikan Tuhan lewat Kristus. "..tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Dengan pandangan seperti itulah Paulus bisa tetap tegar meski tubuh bahkan nyawanya harus ia pertaruhkan. Ia tidak terfokus kepada penderitaan daging yang fana, tapi ia memusatkan perhatiannya kepada keselamatan roh yang kekal. Jika dipandang dari sudut masalah, jelas masalah yang dialami Paulus amat sangat besar. Dan tentu ia paham itu. Tetapi jika dipandang dari apa yang akan ia terima di depan, semua itu tidaklah ada apa-apanya. Dan itulah sebabnya mengapa Paulus mampu berkata dengan luar biasa seperti ini: "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (2 Korintus 4:17).

Secara manusia, stamina atau daya tahan Paulus dan teman-teman sepelayanan pasti merosot. Tapi disaat seperti itu mereka menyadari bahwa secara batin mereka terus diperbaharui dari hari ke hari. (ay 16). Penderitaan itu terasa ringan karena mereka membandingkannya dengan apa yang dijanjikan Tuhan di depan. Dibanding masa-masa ketika Paulus belum bertobat, penderitaan yang ia alami sekarang tentu besar. Namun itu tidaklah sepadan jika dibandingkan sebuah mahkota kehidupan yang akan ia terima. Mahkota kehidupan, janji keselamatan kekal sebagai ahli waris Allah bisa ia lihat melalui imannya, meski secara kasat mata hal itu tidak bisa dilihat. Seperti itulah yang dikatakan Paulus selanjutnya. "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (ay 18).

Sebuah kunci penting diberikan oleh Penulis Ibrani yang mendefenisikan arti sebuah iman. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Sesuatu yang belum terlihat dengan kasat mata itu ternyata bisa terlihat jelas dengan memakai kacamata iman. Itulah yang dilakukan Paulus. Ia tidak pernah putus pengharapan, karena sesungguhnya dengan imannya ia sudah melihat semuanya dengan pasti. "Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun." (Roma 8:24-25). Lihatlah visi Paulus tersebut. Itulah yang memungkinkan dirinya tetap kuat menanggung segala masalah yang dari ukuran manusia rasanya sudah terlalu berat. Seperti apa kita mengukur masalah yang menimpa kita hari ini? Jika dibandingkan dengan orang yang sedang hidup nyaman, atau hidup kita di masa lalu yang tenang, masalah akan terasa berat. Tapi itu semua bisa menjadi tidak berarti ketika kita melihat keselamatan yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita. Sebuah hidup yang kekal, yang bebas dari masalah, kesedihan, penderitaan dan dukacita telah dipersiapkan di depan. Apakah kita mampu bertahan untuk mencapainya, atau kita menyerah saat ini dan malah luput dari apa yang Dia janjikan di depan, semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi segala permasalahan yang saat ini menimpa kita. Paulus pun mengingatkan kita untuk tetap mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar setiap saat, setiap waktu. (Filipi 2:12). Seperti relatifnya ukuran bola tenis diantara bola-bola lain, buah jeruk di antara buah lainnya, seperti itu pula besar kecilnya masalah yang kita hadapi. Seberat apapun itu, semuanya belumlah sebanding dengan besarnya janji yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Pakailah kacamata iman dan fokuslah kepada janji keselamatan yang telah Tuhan sediakan di depan

Follow RHO Twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker