Sunday, March 17, 2013

Cinta dan Relatifnya Waktu

webmaster | 10:00:00 PM |
Ayat bacaan: Kejadian 29:20
======================
"Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel."

Kecepatan waktu itu sama dari dahulu sampai sekarang, dan berlaku sama pula bagi semua orang tanpa terkecuali. Tapi perasaan kita dalam merasakan cepatnya waktu berjalan bisa berbeda-beda, tergantung apa yang sedang kita alami atau rasakan. Ketika anda tengah terkantuk-kantuk dalam ibadah raya di gereja atau merasa kotbah yang disampaikan membosankan, waktu rasanya begitu lama berlalu. Tapi ketika anda antusias mendengarkannya, apalagi kalau pendetanya punya cara yang menyenangkan dalam menyampaikan Firman Tuhan, maka anda pun akan merasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Ketika sedang menunggu atau mengantri, waktu terasa begitu lambat berjalan. Begitu juga bagi anda yang masih kuliah atau sekolah, pelajaran yang bagi anda membosankan akan membuat waktu terasa berjalan begitu lambat. Tapi sebaliknya waktu terasa begitu cepat ketika kita sedang mengerjakan sesuatu yang menyenangkan. Kita sering lupa waktu ketika sedang bermain, ngobrol dengan sahabat dan sebagainya. Apalagi ketika sedang bersama kekasih, waktu terasa seperti berlari sprint saja. Baru saja bertemu, tiba-tiba sudah harus berpisah. Waktu seakan begitu kencang berjalan. Sebaliknya ketika anda tengah menanti antrian, waktu bisa terasa panjang.

Berbicara mengenai cinta dan waktu, sangat menarik melihat sekelumit kisah percintaan antara Yakub dan Rahel yang tertulis dalam Kejadian 29. Ayat bacaan hari ini diambil dari pasal tersebut, bunyinya: "Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel." (Kejadian 29:20). Bukan tujuh jam, bukan tujuh hari, tapi tujuh tahun lamanya Yakub harus bekerja di rumah Laban, ayah Rahel agar bisa menjadikan pujaannya sebagai istri. Tujuh tahun itu merupakan waktu yang sangat lama. Jika kita bisa menggerutu di saat menunggu antrian dua jam saja, bayangkan jika harus bekerja cuma-cuma untuk menanti sebuah harapan hingga tercapai. Tapi Yakub nyatanya melakukan itu dengan senang hati. Apa yang menggerakkannya? Ayat tersebut secara jelas menyebutkan alasannya, yaitu "karena cintanya kepada Rahel". Karena cinta. Betapa relatifnya waktu itu bagi kita. Yakub merasa tujuh tahun itu bagaikan beberapa hari saja, dan adalah dorongan cinta yang bisa membuat waktu itu serasa cepat berlalu. Cinta ternyata dapat memperpendek waktu. Meskipun waktu dalam keadaan nyata waktu berjalan sama cepatnya bagi setiap manusia, tapi waktu bisa terasa seolah cepat atau lambat, tergantung perasaan kita. Yang jelas, jatuh cinta bisa membuat waktu terasa sangat pendek. Saya yakin kita semua pun pernah merasakan hal yang sama ketika tengah jatuh cinta.

Kalau dalam hubungan antar manusia hal itu bisa kita rasakan, bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan? Terasa singkat atau lamakah rasanya waktu yang kita gunakan untuk bersekutu dengan Tuhan di saat-saat teduh kita? Misalnya setengah jam saja sehari saja yang kita pergunakan secara teratur untuk bersaat teduh, terasa cepat atau lambatkah itu bagi kita? Apakah kita memiliki kerinduan terus menerus untuk bersekutu denganNya atau malah sekarang terasa membosankan? Ini adalah pertanyaan yang sesungguhnya sangat penting dan sangat menentukan seperti apa kuatnya kita berjalan dalam hidup ini dan dimana kita berdiri saat ini.

Kekuatan dan kesetiaan kasih Tuhan bagi kita sesungguhnya sudah jelas. Tuhan selalu rindu berada dekat dengan kita. Dia sudah berulang-ulang berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, dan Tuhan selalu dan akan selalu memegang janjinya. Jika dalam lembah kekelaman saja Tuhan tidak meninggalkan kita, bagaimana mungkin Dia membiarkan kita sendiri menghadapi berbagai kesulitan hidup? Yakobus menyadari hal itu. Karenanya ia pun menyatakan "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8a). Daud sudah membuktikan itu jauh sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana keintiman atau kekariban yang terbangun antara Daud dengan Tuhan hampir disepanjang kitab Mazmur. Terasa begitu harmonis, begitu dekat, begitu indah. Lihatlah bagaimana Daud menggambarkan kedekatannya dengan Tuhan. "Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau." (Mazmur 63:3). Bagi Daud, kasih setia Tuhan lebih besar dari hidup itu sendiri. It's larger than life. Jika anda mencintai seseorang dengan begitu besar, hingga rela mengorbankan nyawa anda sekalipun demi dia, Tuhan mengasihi anda seperti itu. Kehadiran Yesus untuk menebus dosa-dosa kita menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Jika anda merasa waktu berjalan singkat ketika anda tengah berada dekat dengan orang yang anda cintai, seharusnya seperti itu pula yang anda rasakan dalam setiap momen-momen pribadi yang anda ambil untuk bersekutu dengan Tuhan.

Apa yang penting untuk kita renungkan adalah sejauh mana saat ini kita mengasihi Tuhan, yang sudah mengasihi kita sedemikian besar terlebih dahulu justru di saat kita masih berdosa. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Kita diangkat menjadi anak-anakNya sejak semula oleh Kristus, dan itu merupakan bentuk kasih Tuhan yang nyata bagi kita. "Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya." (Efesus 1:5-6). Kalau begitu, sekarang semuanya tergantung kita sendiri. Mari kita periksa diri kita apakah kita masih merasakan kasih mula-mula atau sebenarnya tanpa kita sadari kasih kita itu sudah mulai mendingin atau membeku? Apakah saat ini anda masih merasakan gairah dalam bersaat teduh atau merasa bosan, terpaksa atau bahkan sering tertidur? Apakah anda masih mengisi banyak waktu dengan doa sebagai saluran dialog dengan Tuhan atau merasa bahwa itu bukan lagi hal yang penting dibandingkan aktivitas-aktivitas lainnya sehari-hari? Dari ukuran kecepatan waktu yang kita rasakan ketika bersekutu dengan Tuhan  sebenarnya kita bisa mengetahui dimana posisi kita saat ini. Bila kasih kita kepada Tuhan berkobar-kobar, setengah jam akan terasa terlalu singkat. Sedangkan jika kasih itu mulai pudar, maka setengah jam akan terasa sangat lama dan seperti buang-buang waktu. Bagi yang mulai merasa jauh dari Tuhan, mulai kehilangan motivasi, kehilangan semangat untuk bersekutu denganNya, Tuhan masih membuka kesempatan untuk berbenah. "Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat." (Wahyu 4:5). Ini saatnya kita pulihkan kembali kasih mula-mula kita. Kembalilah miliki kasih yang begitu besar, menggelora dan berkobar kepada Tuhan, dan rasakan kembali betapa waktu seolah terlalu singkat bagi kita dalam menikmati kedamaian berada di hadiratNya yang kudus.

Cepat lambatnya waktu bisa terasa sangat relatif, tergantung dari perasaan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker