(sambungan)
Okelah kalau anak-anak terkadang masih sulit diatur, diperingatkan atau ditegur. Yang tidak oke adalah kalau orang yang sudah dewasa yang seharusnya sudah punya pertimbangan matang tapi masih kerap melakukan hal yang sama terhadap Allah. Telinga mendengar Firman, namun sikap, tindakan dan perbuatan sama sekali tidak mencerminkan apa yang kita dengar.
Kalau anak-anak yang tidak mendengar orang tua bisa cedera atau terluka atau kecelakaan yang lebih serius, kita pun sama. Akan ada banyak kerugian yang akan kita alami kalau kita bandel terhadap nasihat, pesan, didikan dan pengajaran akan prinsip kebenaran baik dari orang tua, orang yang lebih bijaksana dan dewasa terlebih dari Tuhan.
Namanya orang percaya tentu sering mendengarkan Firman Tuhan. Apakah itu dari kotbah dalam ibadah Minggu, dari mendengar rekaman, menonton, membaca Alkitab dan sebagainya. Tapi pertanyaannya, apakah kita sudah menanggapi, mentaati dan menghidupinya? Sebagian orang akan terus melakukan hal-hal yang menyenangkan dirinya tanpa mempedulikan apa kata Tuhan mengenai apa yang diperbuatnya.
Mendengar Firman sih iya, tapi setelah itu mereka akan kembali pada kehidupan duniawinya. Mereka tahu apa kata sebagian Firman Tuhan, tapi tidak tahu mengaplikasikannya dalam hidup. Saat bersenang-senang mereka cenderung mengabaikan segala nasihat maupun peringatan Tuhan. Saat masalah datang, bukannya segera mencari tahu apa kata Tuhan sebagai solusi tapi malah kalang kabut mencari alternatif-alternatif di luar sana yang jelas mendukakan hati Tuhan.
(bersambung)
Saturday, September 21, 2024
Bandel atau Taat? (2)
Tuesday, March 5, 2024
Kuasa Kasih Menutupi Banyak Sekali Dosa (7)
(sambungan)
Ambil satu contoh. Kita mengasihi orang, tapi kemudian orang tersebut berbuat jahat pada kita. Kita terganggu karenanya, lalu mulai membenci dan sulit mengampuni. Bukankah kita jadi begitu karena mereka yang mulai? Bukankah mereka yang memprovokasi? Bisa jadi. Tapi kasih yang tetap terjaga kehangatannya seharusnya memampukan kita untuk saling mengampuni, mengatasi luka-luka di masa lalu, sehingga seharusnya sulit bagi dosa untuk tumbuh dalam sebuah kehidupan yang kaya akan kasih Kristus. Dan itu akan membuat kita terhindar dari banyak sekali peluang perbuatan dosa dalam perjalanan hidup kita.
Kasih yang dibiarkan dingin lalu semakin lenyap dari diri kita akan membawa kita masuk pada perbuatan-perbuatan dosa. Di sisi lain kasih yang terjaga suhunya dalam diri kita bisa menjauhkan kita dari begitu banyak dosa. Selain itu, kasih pun bisa menjadi jendela bagi orang-orang di sekitar kita untuk mengenal dan mengalami Tuhan lewat diri kita. Itu jelas disebutkan Yesus sendiri. "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35).
Oleh karena itu tetaplah dekat dengan Tuhan. Terus kenal pribadiNya lebih dalam lagi, itu akan berfungsi sebagai penjaga kehangatan kasih di dalam diri kita. Jangan abaikan saat teduh, jangan lewatkan waktu-waktu berdoa dan bersekutu denganNya, jangan lupa bersyukur, tekunlah membaca dan merenungkan Firman Tuhan, dan jangan hindari pertemuan-pertemuan ibadah dimana kita bisa terus bertumbuh dan saling membangun dengan saudara-saudara seiman. Selanjutnya, terus aplikasikan kasih tersebut kepada sesama. Itu akan membuat kita hidup lebih bahagia, lebih tenang, lebih damai dan tenteram. Periksalah hati kita saat ini. Apakah masih ada kasih disana, dan apakah kasih itu masih hangat?
Kasih yang hangat menutupi banyak sekali dosa, kasih yang dingin membuka banyak sekali celah dosa
Tuesday, December 12, 2023
Prioritas (7)
(sambungan)
2. Orang yang mementingkan pembangunan 'istana'nya lebih dari atau di atas rumah Tuhan juga terdapat di antara kita juga
Jika anda memperhatikan baik-baik, dalam kisah Hagai ini teguran Tuhan itu turun untuk orang-orang percaya, termasuk anda dan saya.
Kita memulai dengan baik. Lahir baru, rajin membaca Alkitab, berdoa secara teratur dan tertanam di gereja. Aktif di sana, ikut persekutuan, dan mungkin juga sudah melayani. Tapi kemudian mungkin usaha-usaha kita mulai mengalami benturan. Kita mulai berselisih dengan sesama orang percaya, kecewa terhadap orang-orang sepelayanan atau bahkan gereja, atau di dunia kerja kita mengalami hasil yang mengecewakan padahal kita merasa sudah melakukannya tanpa melanggar ketetapan Tuhan. Pada masa-masa tertentu kita bisa bertemu dengan masa-masa dimana Tuhan seakan-akan berpaling dari kita, tidak kunjung memberi pertolongan meski kita sudah mati-matian berdoa siang dan malam.
Sementara itu kehidupan sangat sulit. Tagihan menumpuk, kebutuhan-kebutuhan semakin lama semakin tak lagi terbeli. So we have to double our effort, we fight harder. Itu sangat baik untuk dilakukan daripada kita mengeluh apalagi mencari kambing hitam untuk disalahkan. Tapi sangatlah penting bagi kita untuk memperhatikan betul prioritas menempatkan Tuhan tetap ada di atas semuanya, dan mengandalkannya dalam setiap usaha yang kita lakukan.
Jangan sampai, kita masih berusaha untuk rutin ke gereja dan menghadiri persekutuan, tapi kita tidak lagi mendapatkan apa-apa dari sana. Jangan sampai siraman rohani tidak lagi mampu mengatasi kekeringan jiwa kita. Jangan sampai semua hal yang berhubungan dengan niat membangun hubungan yang intim dengan Tuhan hanya menjadi sesuatu yang karena kebiasaan saja. Atau, jangan sampai seluruh bentuk ibadah kita menjadi tentatif tergantung ada sisa waktu atau tidak, apa kita lagi sibuk atau santai, bukan lagi menjadi sesuatu yang penting.
Perhatikan, bekerja dan berjuang hidup bukanlah hal buruk. Kita tidak sedang memberontak, membangkang atau melawan, kita tidak melakukan hal-hal yang tidak baik. Tapi ada potensi bagi kita untuk bergeser meletakkan 'istana' kita di atas bait Tuhan kalau kita tidak mawas diri dalam menjalani hidup hari perhari.
(bersambung)
Saturday, September 2, 2023
Belalang (4)
(sambungan)
Meskipun Perjanjian Baru banyak memberi penekanan kepada pertumbuhan iman kita secara individu, Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang eksklusif. Gereja dan umat Tuhan tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam jika keimanannya hanya dibatasi oleh dinding-dinding gereja dan tidak pernah berpikir untuk menjangkau lebih banyak jiwa yang berada di luar dinding itu. Itu sama saja dengan garam yang diam di dalam botol tertutup. Tanpa dipakai, garam tidak akan membawa manfaat atau berfungsi apa-apa. Atau kalau garam dipakai menggarami garam, itu pun tidak akan membawa manfaat apa-apa.
Penulis Ibrani menyampaikan: "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Marilah kita 'saling'. Kata saling menunjukkan bahwa bukan terpisah-pisah tapi bersama-sama. Prinsip saling yang positif harus terus kita tumbuh kembangkan, karena kita harus menyadari bahwa manusia pada hakekatnya terbatas dan lemah, sama seperti seekor belalang.
Menghadapi hari-hari yang sukar dan terus semakin sukar ini, kita harus lebih menekankan kebersamaan, membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan erat dengan saudara-saudari kita lainnya. Apa yang diiinginkan Tuhan itu jelas. Kita harus berhenti menjadi pribadi yang eksklusif. Tak peduli berapa seringnya kita berdoa dan membaca Alkitab di rumah, beribadah bersama saudara seiman, menghidupi kehidupan persekutuan yang aktif tetaplah menjadi kebutuhan penting bagi kita. "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25). Ayat ini jelas mengacu kepada pentingnya kita untuk membangun kehidupan berfellowship, saling dukung, saling bantu, saling menguatkan. Ini adalah hal yang penting untuk dilakukan terlebih ketika hari Tuhan semakin mendekat.
Dalam kesempatan lain Firman Tuhan berkata: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Lalu "Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan." (ay 12).
(bersambung)
Saturday, August 26, 2023
Mengusahakan DAN Berdoa (7)
(sambungan)
Untuk contoh kecil saja yang menggambarkan kepedulian orang percaya akan pentingnya berdoa bagi kota, bangsa dan negara ini, perhatikan berapa banyak jemaat yang masih bertahan dan berapa yang lebih memilih pulang duluan karena takut terjebak macet, saat ibadah raya akan ditutup dengan doa bagi kota, bangsa, negara beserta para pemimpinnya? Itu bisa menunjukkan sebesar apa kepeduliaan dari orang percaya akan nasib kota, bangsa dan negaranya.
Akan hal ini, mari kita lihat apa yang pernah dilakukan Daniel sekian ribu tahun yang lampau. Pada saat itu Daniel menyadari betapa bangsanya telah jatuh ke dalam begitu banyak kesalahan. Daniel mungkin bisa saja memilih diam mengingat dia bukanlah termasuk salah satu dari orang-orang dari bangsanya pada saat itu yang berbuat kejahatan di mata Tuhan. Tapi lihatlah bahwa Daniel memilih untuk melakukan sesuatu lewat doa. Dia mengambil waktu untuk berdoa bukan difokuskan untuk dirinya sendiri tetapi untuk bangsanya.
Agar lebih jelas, bacalah seluruh isi doa Daniel yang tertulis dalam Daniel 9:1-19 maka kita bisa melihat seperti apa bentuk doa yang ia tujukan bagi bangsanya.
Dalam surat untuk Timotius, Paulus mengatakan demikian: "Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." (1 Timotius 2:1-2). Mengapa demikian? Karena "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." (ay 3-4).
(bersambung)
Tuesday, June 27, 2023
Suami Bijaksana (2)
(sambungan)
Kalau mereka berdalih mereka seperti itu karena istri mereka tidak berperilaku baik, apakah itu memberi mereka hak untuk mengasari hingga memukuli istri? Wanita saja sudah tidak boleh diperlakukan kasar, apalagi istri sendiri. Kedua suami ini berjemaat dan rutin beribadah setiap minggu, lantas kemana hilangnya hasil ibadah itu? Atau, buat apa beribadah kalau hal itu tidak mendatangkan kebaikan dalam hidup mereka? Kalau kita dengar atau lihat berita-berita yang ada, kasus-kasus lebih parah yang sampai tega menghabisi nyawa pun sudah terlalu sering terjadi.
Saya merasa sangat sedih melihat fakta bahwa keluarga tidak lagi menjadi surga di dunia bagi banyak orang. Kalaupun tidak terjadi kekerasan baik fisik maupun verbal, ada banyak yang sudah tidak lagi hangat dan manis, melainkan dingin dan pahit. Tidak lagi ada rasa cinta seperti semasa pacaran, sudah digantikan oleh alasan bertahan demi anak atau demi lain-lainnya. Seharusnya keluarga bisa menjadi surga bagi kita selama berada di dunia. Disana kita bisa merasakan dan menghidupi kasih, tempat terdamai dan terhangat yang akan selalu mampu menenangkan, meneduhkan dan membahagiakan kita ditengah segala kesulitan dan tekanan hidup.
Tapi yang terjadi bukan itu. It's not heaven on earth anymore, but turn into hell break loose. Keluarga jadi tempat pelampiasan emosi, tempat bisa menunjukkan kuasa yang seringkali menjadi pelarian karena di luar tertindas. Hubungan yang menjadi dingin lalu pahit, tempat bisa berlaku seenaknya dan hal-hal buruk lainnya. Tinggal serumah tapi hidup sendiri-sendiri. Berbagai keputusan dibuat hanya seenaknya tanpa pertimbangan, tidak lagi memikirkan pasangan hidup yang sudah dinikahi dimana saat itu Tuhan sendiri yang memateraikannya.
Ada banyak pria yang menjadikan wanita hanya seolah sebuah komoditas saja, yang seperti membeli pasangan lewat pernikahan. Namanya sudah membeli, ya bisa sesuka hati. Mungkin begitu pikir mereka. Maka banyak pria berlaku buruk terhadap istrinya. Salah sedikit dimarahi, jika berbicara dianggap mengganggu, dinomor-duakan bahkan direndahkan di depan orang lain.
(bersambung)
Sunday, April 30, 2023
Mempersiapkan Anak di Masa Sukar (2)
(sambungan)
Ini baru bicara soal virus. Bagaimana dengan kasus gagal ginjal pada anak-anak yang sempat membuat para orang tua yang punya anak balita menjadi ketakutan? Korban berjatuhan dan itu nyata adanya. Resesi ekonomi, disintegrasi, jurang pemisah yang terus semakin besar akibat adanya orang-orang yang mempergunakan metode itu untuk mencari posisi. Betapa banyaknya permasalahan yang dihadapi. Belum beres satu sudah muncul lagi yang lain. Di satu sisi harus mengatasi bencana global, di sisi lain harus berusaha menyelamatkan banyak nyawa, di sisi lainnya harus terus melawan berbagai berita bohong yang akan membuat semua masa sukar menjadi bertambah sukar dan berlarut-larut. Dalam kondisi seperti ini resesi pun muncul. Daya beli menurun, banyak pengusaha gulung tikar, banyak karyawan dirumahkan, sehingga banyak orang yang berpikir, kalau tidak mati karena virus ya mati karena tidak makan. Itu menunjukkan adanya masa sukar.
Masa sukar. Saya lalu diingatkan akan ayat ini. "Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar." (2 Timotius 3:1). Masa yang sukar. Bukankah itu yang kita rasakan hari ini? Sukar, sulit, berat. Ketika mendengar kata 'masa yang sukar', sebagian besar orang akan segera berpikir akan kesulitan ekonomi yang memang dirasakan kebanyakan dari kita.
Kesulitan ekonomi merupakan salah satu hal dari masa yang sukar? Jelas. Tapi apakah kesulitan ekonomi alias resesi yang berlangsung global merupakan satu-satunya ekses dari masa sukar? Tidak. Kalau anda baca kelanjutan dari ayat di atas, masa yang sukar sebenarnya bukan berbicara hanya mengenai kesulitan ekonomi atau bencana kelaparan yang terjadi di banyak tempat saja, tetapi jauh lebih luas dari itu.
Mari kita lihat ayat-ayat berikutnya.
"Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran." (ay 2-7).
(bersambung)
Wednesday, March 22, 2023
Mengantuk (4)
(sambungan)
Berikutnya, kita harus menyadari betul bahwa tujuan kita menghadiri kebaktian adalah berkumpul bersama saudara-saudara seiman untuk memuliakan Tuhan. Kita bisa saling menguatkan, saling sokong, bersama-sama bersukacita dalam hadirat Tuhan. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Mat 18:20).
Penulis Ibrani mengingatkan: "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Ketahuilah bahwa iblis akan selalu mengaum-aum, mencoba mempengaruhi lewat segala hal agar kita punya seribu satu alasan untuk tidak menghadiri kebaktian, atau kalaupun hadir, diusahakan agar kita tidak menangkap esensi firman Tuhan yang disampaikan dengan segala cara.
Alangkah baik jika kita mempersiapkan diri sehari sebelumnya. Jika butuh mencatat, sediakan buku tulis dan pulpen, atau kalau mau dicatat pakai hp, siapkan dahulu agar baterainya cukup. Lalu yang penting, tidur yang cukup, sehingga kita dapat mengikuti kebaktian dengan segar dan bersemangat.
Tetap ingatkan diri kita bahwa kita adalah manusia-manusia yang membutuhkan kekuatan Tuhan agar bisa terus melanjutkan hidup kita dengan optimal. Meski mungkin anda telah menetapkan jadwal teratur untuk bersama Tuhan di saat-saat teduh di rumah setiap hari, tapi pada kebaktian di gereja anda memuji dan memuliakan Tuhan bersama dengan saudara-saudara lainnya, merasakan hadirat Tuhan turun atas seluruh anak-anak Tuhan yang benar-benar mencariNya. Dan tentu saja, mendapatkan sesuatu dari firman Tuhan yang disampaikan. Bukankah ini hal yang indah?
Beribadahlah sungguh-sungguh disertai niat yang benar, bukan asal-asalan
Tuesday, March 21, 2023
Mengantuk (3)
(sambungan)
Kalau begitu untuk apa beribadah di gereja? Apakah ke gereja hanya karena sudah menjadi rutinitas semata tanpa kerinduan apa-apa untuk mendengarkan firman Tuhan dan mendapatkan penjelasannya, apakah hanya karena terpaksa misalnya karena disuruh orang tua, kewajiban dari sekolah dan sebagainya, itu bisa menjadi alasan kenapa seseorang berada di gereja secara fisik tapi hati dan pikirannya tidak disana dan tengah mengembara kemana-mana. Atau ke gereja semata berharap terima berkat atau keuntungan-keuntungan duniawi? Itu pun banyak yang melakukan, baik sadar maupun tidak.
Kalau alasannya pendetanya terlalu serius, kita itu sedang mendengar kotbah atau niatnya mau nonton standup comedy? Tidak menarik, membosankan, cara membawakannya tidak pas dengan selera kita, well.. intinya tetap adalah mendapat siraman rohani lewat firman Tuhan. Tangkap esensinya, camkan, dan terapkan. Itu yang terpenting, bukan siapa dan bagaimana cara membawakannya.
Akan sangat ironis apabila saat kita mengantuk pendeta yang malah disalahkan. Mencari pembenaran dengan mengkambing hitamkan orang lain menjadi kebiasaan banyak orang yang tidak pernah mau disalahkan. Mereka mencari pembenaran, making excuses, padahal mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sudah membuang kesempatan besar untuk diberkati lewat firman Tuhan, dan membuang kesempatan untuk bersekutu bersama saudara seiman, bersatu hati memuji dan menyembah Tuhan, merasakan hadirnya Kristus ditengah-tengah jemaat.
Salah satu kunci agar bisa mengikuti kebaktian dengan baik adalah persiapan yang cukup. Pertama, kita harus menyadari betul bahwa kita beribadah ke gereja itu banyak gunanya dalam segala hal, baik buat hidup yang sekarang atau hidup yang akan datang nanti.(1 Timotius 4:8). Bayangkan ketika kita mengalami begitu banyak tekanan dan bergumul dalam pekerjaan selama 6 hari, kerohanian kita bisa disegarkan kembali, dipulihkan agar kuat menghadapi minggu berikutnya dengan siraman firman Tuhan. Bagaimana ibadah kita pun berpengaruh pada apa yang akan datang pada kita di kehidupan berikutnya.
(bersambung)
Saturday, January 14, 2023
Tergerak - Bergerak (4)
(sambungan)
"Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu. Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN." (ay 21-22).
Ayat-ayat selanjutnya melanjutkan apa saja jenis persembahan khusus yang mereka serahkan sebagai respon perintah Tuhan tersebut. Dan, "Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan--mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN." (ay 29).
Sebuah persembahan atau pemberian yang benar pada hakekatnya lahir dari kerelaan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan tanpa menonjolkan diri atau mengharap imbalan. Ada banyak yang memberi, tapi sedikit yang benar motivasinya. Ada banyak orang yang memberi persembahan seolah seperti sogokan agar bisnis lancar, agar bisa berhasil, agar diberkati terutama secara finansial dan lain-lain. Mereka ini menganggap Tuhan seolah bank yang membuka deposito atau bahkan asuransi dengan premi tertentu. Makin besar yang diberi, makin besar pula yang diperoleh. Dan ironisnya, banyak hamba Tuhan yang memakai paradigma berpikir keliru seperti itu demi keuntungan mereka.
Meski Tuhan bisa memberi kelimpahan dan kepenuhan, cara kita memperolehnya bukanlah seperti itu. Kerelaan yang lahir dari kerinduan untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan sebagai wujud ucapan syukur dan mengasihi Tuhan seharusnya tidak boleh terkontaminasi oleh kekeliruan-kekeliruan cara berpikir seperti itu. Dalam hal memberi kepada orang lain, banyak yang menjadikan itu sebagai sarana untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Ingin dilancarkan urusan, ingin naik pangkat, ingin menang dalam pemilihan untuk jadi pemimpin atau anggota dewan dan banyak motivasi keliru lainnya. Sebuah pemberian yang baik bukanlah pemberian yang punya motivasi terselubung atau agenda-agenda dibelakangnya, bahkan dikatakan bahwa kalau kita memberi, seharusnya itu kita lakukan diam-diam saja bukan harus dipublikasikan atau ditunjukkan ke orang lain untuk mendapatkan pujian.
(bersambung)
Friday, January 13, 2023
Tergerak - Bergerak (3)
(sambungan)
"Ambillah bagi TUHAN persembahan khusus dari barang kepunyaanmu; setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN..." (ay 5).
Perhatikan bahwa dalam ayat 5 ini secara spesifik Tuhan mengatakan agar mereka memberi berdasarkan dorongan hati, alias saat hati mereka tergerak. Bukan karena terpaksa, bukan paksaan apalagi disertai ancaman, melainkan dari dorongan hati. Bukan dengan iming-iming agar mereka nantinya diberkati dalam usaha, supaya tidak masuk neraka, supaya tidak mengalami hal buruk dan lain-lain seperti pehaman keliru yang masih saja dilakukan oknum-oknum saat mengharapkan persembahan besar dari jemaatnya. Tapi yang seharusnya adalah sesuai dorongan hati.
Musa meminta mereka untuk mendengar dorongan hati mereka. Saat hati tergerak, mereka hendaknya melanjutkan kepada langkah selanjutnya, yaitu bergerak melakukan tindakan nyata, memberi persembahan khusus dan tidak diam saja tanpa melakukan apapun. Hati bisa tergerak, tapi keputusan kita masing-masing akan menentukan apakah kita akan bergerak mengambil langkah nyata berikutnya yaitu melakukan sesuatu yang nyata berdasarkan dorongan hati atau membiarkan saja tanpa ada aksi sedikitpun. Singkatnya, Tuhan sudah menyebutkan apa yang Dia mau, Dia sudah menyentuh hati kita agar tergerak, tapi kemudian diperlukan tindakan atau gerakan nyata dari kita untuk menjawab keinginan Tuhan tersebut.
Bagaimana reaksi orang-orang Israel waktu itu setelah mendengar perintah Tuhan yang disampaikan lewat Musa? Mereka segera bergegas pulang dan melakukan tepat seperti apa yang mereka dengar dari Musa. "Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu. Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN." (ay 21-22).
(bersambung)
Wednesday, January 11, 2023
Tergerak - Bergerak (1)
Ayat bacaan: Keluaran 35:21-22
=====================
"Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu. Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN."
Ada seorang pelanggan saya yang tidak memelihara kucing, tapi rutin membeli makanan kucing. Bapak ini mengaku tadinya tidak suka kucing, tapi belakangan hatinya renyuh melihat kucing-kucing liar di jalan yang kondisinya kurus dan lusuh. Setiap kali membeli, ia selalu minta plastiknya langsung digunting agar ia bisa segera memberi makan kucing yang ia lihat saat berjalan pulang.
Bagi saya, apa yang dilakukan Bapak ini sangatlah luar biasa. Ia bukan orang yang kaya raya. Umurnya sudah lanjut, tapi ia melakukan sebentuk ekspresi kasih terhadap hewan liar sesuai kemampuannya. Hatinya tergerak, dan ia bergerak. Apa yang ia lakukan mirip dengan istri saya yang sejak dulu sering berkeliling secara khusus jika sempat untuk memberi makan kucing di jalan. Selalu ada makanan kucing di motor, dan ia akan minta saya berhenti dulu jika melihat ada kucing yang terlihat kurus di pinggir jalan untuk diberinya makan. Beberapa kali saya pun membantu me-rescue kucing dan anjing, mencarikan adopter nya agar mereka bisa mendapat orang yang sayang dan mau merawat mereka dengan baik. Seperti si Bapak tadi, istri saya tergerak, lalu bergerak. Saya tergerak, lalu bergerak.
Hari ini saya ingin menyampaikan tentang perbedaan antara 'tergerak' dan 'bergerak'. Antara sekedar iba atau kasihan dengan sebuah tindakan nyata. Awalan 'ter' yang mengawali kata 'gerak' menunjukkan sebuah bentuk kata kerja yang pasif, sedang jika diganti dengan 'ber' membuat kata tersebut menjadi bentuk aktif. Seringkali apa yang kita lakukan bermula dari 'ter' yang harus disusul dengan 'ber' agar menjadi bermakna.
Ambil satu contoh sederhana saja. Misalnya anda bertugas sebagai seorang kiper dalam sebuah tim sepak bola. Hati anda tergerak untuk melompat ke kiri menghalau bola yang menghujam ke gawang anda. Tapi akankah apa yang tergerak itu berguna jika anda hanya diam di tempat, berdiri tanpa bergerak sama sekali? Apakah ada sesuatu yang dihasilkan jika anda tidak melakukan apa-apa? Yang ada gawang anda hanya akan terus dibobol tanpa ampun. Tapi ketika tergerak itu kemudian disertai dengan bergerak, maka disanalah si kiper bisa berperan penting bagi timnya.
(bersambung)
Friday, January 6, 2023
Simeon dan Hanna (3)
(sambungan)
Lewat Roh dan iman kita bisa melihat kebenaran yang kita harapkan. Mata kita dicelikan sehingga mampu mengenali Yesus dan segala kebenaran dalam diriNya. Seperti halnya di Bait Allah waktu itu, hari ini pun Yesus hadir ditengah-tengah kita meski tidak lagi secara kasat mata. Yesus hadir dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan, baik dalam kebaktian maupun dalam ibadah yang sejati, yaitu kehidupan kita. Tetapi apakah peduli? Apakah kita merasakan kehadiranNya? Apakah kita cukup merindukan kehadiran Yesus seperti halnya kerinduan yang dimiliki Simeon dan Hana? Masihkah kita merindukan kehadiran Yesus ditengah kesibukan sehari-hari dan segala sesuatu yang kita lakukan? Apakah kita mengingatNya saat berhadapan dengan segala yang diinginkan? Apakah kita berada pada posisi Simeon dan Hana atau orang-orang lain yang berada di bait Allah?
Kita harus mengingatkan diri kita untuk beribadah dengan motivasi yang benar. Jangan sampai ibadah-ibadah kita hanya didasari oleh rutinitas atau sekedar menjalankan kebiasaan saja tanpa memiliki kerinduan yang murni akan Tuhan. Sejatinya ibadah yang kita lakukan dengan motivasi yang benar dan sungguh-sungguh akan membawa keuntungan besar bagi diri kita.
Hidup dalam Roh akan membuat kita mampu melihat segala yang kebenaran dalam Yesus. Paulus berkata "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9). Yesus mengatakan "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yohanes 9:39).
Ada cahaya pengharapan dan keselamatan yang sudah Dia sediakan, dan kedatangan Kristus untuk menebus kita seharusnya bisa membuka mata kita dengan jelas untuk melihat segala kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, ciptaan-ciptaanNya yang teristimewa. Bukan cuma ingin memperoleh berkat dan pertolonganNya semata, tetapi kerinduan untuk mengenalNya dan kemudian mengasihiNya, itulah yang mampu memberikan sukacita penuh rasa syukur dalam hidup kita. Sebab kalau kita tidak kenal dan tidak peduli, bagaimana mungkin kita bisa mengklaim sebagai muridNya? Mari pastikan kualitas dari setiap ibadah yang kita lakukan. Jangan sampai semua ibadah itu tidak ada membawa manfaat apapun alias sia-sia.
Ironis sekali kalau ibadah-ibadah yang kita lakukan ternyata tidak membawa pengenalan akan Kristus
Wednesday, January 4, 2023
Simeon dan Hanna (1)
Ayat bacaan: Lukas 2:25
================
"Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,"
Beribadah itu penting? Saya yakin kita akan sepakat untuk menjawab 'ya'. Tapi kalau pertanyaannya untuk apa kita beribadah, atau apa yang kita peroleh dari ibadah, maka jawabannya bisa beda-beda. Apakah merupakan wujud dari kerinduan kita bertemu dan merasakan hadirat Tuhan atau hanya mencari berkat/pertolongan, supaya terlihat suci di mata orang atau hanya sekedar ritual atau rutinitas belaka, bahkan ada yang hanya karena terpaksa, semua itu bisa jadi alasan kenapa orang beribadah. Sama-sama beribadah, tapi motivasi atau alasannya bisa beragam.
Banyak orang mengira bahwa mereka masih taat dengan terus beribadah, tapi Jangan-jangan sebenarnya sudah tidak lagi peduli terhadap Yesus ketika beribadah melainkan sibuk mementingkan hal-hal lainnya. Dan jangan-jangan, saat kita beribadah mengakunya kepada Yesus, tapi kalau Yesus ada disamping kita, kita bahkan tidak mengenalNya. Kita tidak mengenal siapa Dia, seperti apa hatiNya, dan kalau sudah begitu, bagaimana kita bisa terus berproses untuk menjadi semakin seperti Yesus dalam perjalanan hidup ini? Have you ever asked "what would Jesus do" when you face a situation? Bagaimana mungkin kita bisa beribadah, mengasihiNya dan taat pada perintahNya kalau kita bahkan tidak mengenalNya?
Mari kita lihat apa yang terjadi saat Yesus dibawa ke bait Allah untuk diserahkan kepada Tuhan. Seperti layaknya gereja, saya yakin pada saat itu ada begitu banyak orang yang hadir di sana. Yusuf dan Maria datang membawa bayi Yesus untuk memenuhi hukum Taurat Musa yang menyatakan bahwa "semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah." (Lukas 2:23).
Pertanyaannya sekarang, ada berapa banyak dari yang hadir mengenal Yesus sebagai Juru Selamat yang sudah lama dinanti-nantikan? Ratusan orang? Puluhan? Ternyata sedikit sekali. Alkitab bahkan jelas-jelas menyatakan bahwa hanya dua orang saja yang mengenalNya, dan mereka adalah Simeon dan Hana. Dari sekian banyak orang yang hadir disana hanya dua orang yang benar-benar mengenali Yesus.
Siapakah Simeon dan Hana?
(bersambung)
Friday, December 2, 2022
Kisah Kasih dan Secangkir Kopi (3)
(Sambungan)
Kasih merupakan hukum yang paling utama dalam kekristenan. Tuhan Yesus sendiri telah terlebih dahulu memberi teladan. Dia rela memberikan nyawaNya bagi kita ketika kita masih berdosa, dan oleh karena Dia kita diselamatkan. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8).
Oleh karenanya tepatlah jika Yesus mengajarkan "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Kasih dikatakan akan membuat perbuatan-perbuatan baik kita bermakna, juga bermakna di hadapan Tuhan. Kasih pun mampu membuat kita terhindar dari jebakan berbagai jenis dosa. "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." (1 Petrus 4:8).
Kasih bisa menjadi dingin jika kita terus terjebak pada perbuatan-perbuatan dosa, dalam segala kedurhakaan, di sisi lain kasih yang terjaga suhunya dalam diri kita bisa menjauhkan kita dari begitu banyak dosa dan tetap dekat dengan Tuhan yang tidak lain adalah kasih itu sendiri.
Selain itu, kasih pun bisa menjadi jendela bagi orang-orang di sekitar kita untuk mengenal dan mengalami Tuhan lewat diri kita. "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35).
Oleh karena itu tetaplah dekat dengan Tuhan, mengenal pribadiNya terus lebih dalam lagi, itu akan berfungsi sebagai penjaga kehangatan kasih di dalam diri kita. Jangan abaikan saat teduh, jangan lewatkan waktu-waktu berdoa dan bersekutu denganNya, jangan lupa bersyukur, tekunlah membaca dan merenungkan Firman Tuhan, dan jangan hindari pertemuan-pertemuan ibadah dimana kita bisa terus bertumbuh dan saling membangun dengan saudara-saudara seiman. Lalu lanjutkan dengan terus mengaplikasikan kasih tersebut kepada sesama. Itu akan membuat kita hidup lebih bahagia, lebih tenang dan lebih damai. Mari pastikan kasih dalam diri kita tetap hangat, terus jaga agar jangan sampai menjadi dingin.
Kasih yang hangat menutupi banyak sekali dosa, kasih yang dingin membuka banyak sekali celah dosa
Tuesday, November 1, 2022
Di Pihak Siapa? (2)
(sambungan)
Pertanyaan ini mengingatkan saya pada apa yang dikatakan Abraham Lincoln. Pada suatu kali ada seorang pemimpin rohani berkata pada Lincoln, semoga dalam kepemimpinan Lincoln, "Tuhan akan berada di pihak kita." Ini kalimat yang lazim disebutkan pada pengangkatan seseorang sebagai pemimpin. Tapi Lincoln ternyata memberi jawaban yang sangat menarik. Ia merespon: "for I know that the Lord is always on the side of the right. But it is my constant anxiety and prayer that I and this nation should be on the Lord's side." Kalau diterjemahkan Lincoln berkata begini: "Yang saya tahu Tuhan akan selalu berada di pihak yang benar. Tapi adalah menjadi kegelisahan saya terus menerus dan selalu pula saya bawa dalam doa saya bahwa saya, dan negara ini harus berada di pihak Tuhan." Lincoln menggarisbawahi bahwa tidaklah cukup cuma berharap bahwa Tuhan akan selalu besertanya selama memimpin, tapi ia dan bangsa yang dipimpinnya pun harus pula menjaga hidup dengan benar sehingga senantiasa berada di pihak Tuhan.
Kutipan komentar Lincoln di atas sejalan dengan apa yang tertulis dalam 2 Tawarikh 15. Pada saat Azarya dihinggapi Roh Allah, ia pergi menemui raja Asa dan berkata: "TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia." (2 Tawarikh 15:2).
Lihatlah dalam perjalanan panjang sejarah manusia, begitu banyak orang yang melakukan segala sesuatu dengan mengklaim bahwa Tuhan ada di pihak mereka. Mereka melakukan pembenaran-pembenaran sendiri atas tindakan mereka dengan mengatasnamakan Tuhan. Ini bentuk justifikasi yang terbalik. Ayat bacaan hari ini menunjukkan bahwa Tuhan akan berada di pihak orang yang berpihak padaNya. Orang seperti apa yang berpihak pada Tuhan? Itu adalah orang yang takut akan Tuhan, mengenal hati Tuhan, mengetahui kehendak Tuhan dan melakukan apa yang Dia kehendaki ; bukan orang yang berusaha meyakinkan diri sendiri, orang lain bahkan berusaha meyakinkan Tuhan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar.
Lebih lanjut kita mari kita lihat dalam Yesaya 58:1-12 mengenai kesalehan yang palsu dan sejati. Bentuk ibadah pada Tuhan, yang digambarkan sebagai berpuasa seharusnya bertujuan untuk membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya, selanjutnya untuk membagi makanan kepada orang lapar, memberi tumpangan bagi orang miskin, memberi pakaian pada yang telanjang dan tidak menutup mata terhadap saudara-saudara yang perlu ditolong. (ay 6-7).
(bersambung)
Monday, July 16, 2018
Hanas, Kayafas dan Yohanes Pembaptis (1)
==================
"pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun."
Seorang leader tim musik di sebuah gereja yang saya kenal dekat pada suatu kali bercerita mengenai kesulitan yang tengah ia hadapi. Setiap minggunya ia harus menyusun jadwal pemain di ibadah umum, ibadah remaja dan untuk anak-anak sekolah minggu. Yang bikin dia pusing, banyak yang rebutan mau main di ibadah umum tapi begitu susahnya dapat pemain yang bersedia untuk main di sekolah minggu. "Melayani Tuhan kok pilih-pilih ya.." katanya sambil geleng kepala dan menghela nafas. Saya pun merasa miris mendengarnya. Ini bukan kali pertama saya mendengar permasalahan seperti ini. apa Persembahan Kasihnya beda? Menurutnya sama. Kalaupun beda, itu tentu tidak boleh dijadikan alasan untuk pilih-pilih. Kalau bukan itu, mungkin mereka ingin tampil bak musisi tenar di panggung, di hadapan 'penonton' yang lebih banyak dan bukan anak-anak. Siapa tahu disana ada produser, atau yang sedang butuh band atau penampil keren, itu bisa menjadi alasan mereka untuk berebutan main di ibadah umum dan menolak main buat sekolah minggu.
Menyedihkan saat melihat orang yang melayani punya sikap seperti itu. Tapi itu menunjukkan bahwa motivasi orang dalam melayani memang beda-beda. Di permukaan tampaknya semua rindu melayani Tuhan, tapi ada motivasi-motivasi pribadi yang bisa mengaburkan atau bahkan mencemarkan niat yang seharusnya. Belum lagi banyak pemain musik yang pada pindah ke gereja yang lebih besar. Ada yang jumlah pemain musiknya berlebih, ada yang sangat kekurangan sehingga pemain yang tersedia harus merangkap main. Seorang pemimpin pujian di sebuah gereja berkata bahwa ia sering harus memimpin pujian sambil main keyboard karena kekurangan pemain.
Yang juga lumayan sering terjadi adalah gesekan antar orang yang sama-sama melayani di tempat yang sama, atau antara mereka dengan pemimpin bahkan dengan gembala atau gerejanya. Maka kita sering melihat orang berpindah gereja. Motivasi seseorang dalam melayani sebenarnya juga bisa terlihat dari bagaimana reaksi mereka dalam menghadapi gesekan. Masih mending kalau kepindahannya semata-mata karena kebutuhan rohaninya, ada yang pindah karena mendapat tawaran lebih baik atau tinggi dari gereja lain. Ini baru beberapa masalah yang pernah saya dengar dari sekian banyak masalah lainnya. Itulah gambaran yang kurang baik yang terjadi di kalangan pelayan Tuhan hari ini.
Kalau Tuhan Yesus sudah mengatakan bahwa "tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit" (Matius 9:37), jumlahnya akan jauh lebih sedikit lagi kalau bicara soal mereka yang melayani dengan motivasi yang benar. Ada begitu banyak motivasi yang mungkin menjadi dasar bagi seseorang untuk melayani, seperti halnya dalam profesi maupun pekerjaan sehari-hari. Mungkin saja motivasi awalnya tulus, tapi seiring waktu apabila tidak diperhatikan motivasi bisa berubah dan mengarah kepada keinginan atau kepentingan bahkan keuntungan pribadi seperti cari jabatan, status, ketenaran, popularitas, mencari uang, ingin terlihat hebat, semua ini hanyalah sebagian contoh motivasi yang bisa saja muncul mendasari kegiatan pelayanan, baik disadari maupun tidak.
Mari kita lihat sebuah kejadian amej yang terjadi pada masa negeri Yudea berada di bawah kekaisaran Romawi dan dipimpin oleh kaisar Tiberius. Lukas pasal 3 mencatat bahwa pada masa itu yang memegang status sebagai Imam Besar adalah Hanas dan Kayafas.
Seperti apa posisi imam Besar itu? Kalau kita lihat sejarahnya, jabatan Imam Besar ini pertama sekali diberikan kepada Harun melalui sebuah tanda berupa tongkat Harun yang berbunga diantara imam-imam Lewi lainnya. (tentang hal ini bisa dibaca dalam Bilangan 17). Karena Allah sendiri yang mengangkat Harun sebagai Imam Besar, maka jelas jabatan ini sangat penting sebagai wakil Tuhan di dunia ini atau dengan kata lain sebagai penyambung lidah Tuhan. Sebelum karya penebusan Yesus menyelamatkan kita dan memulihkan hubungan dengan Tuhan, manusia sangat bergantung pada para Imam Besar ini. Orang yang memegang jabatan Imam Besar yang biasanya berlaku seumur hidup dituntut untuk senantiasa hidup benar dan kudus karena merupakan "perpanjangan tangan" Tuhan di dunia ini untuk menyampaikan pesan-pesanNya kepada umatNya.
(bersambung)
Thursday, June 28, 2018
Simon Sang Penyamak Kulit (1)
=========================
"Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit."
Beberapa tahun lalu saya harus membuat sumur bor. Setelah tanya sana sini, akhirnya lewat salah satu warga yang saya kenal di perkampungan belakang rumah, saya dikenalkan pada seorang bapak yang berprofesi sebagai pembuat sumur bor. Harganya jauh lebih murah dibandingkan beberapa tempat yang sempat saya tanyakan. Selama ia bekerja, saya sempat ngobrol dengannya. Ia berkata bahwa pekerjaan itu sudah ia geluti selama puluhan tahun mengikuti jejak ayahnya. Setiap bekerja ia penuh lumpur. Kotor dan karena basah-basahan tentu tidak juga baik buat kesehatan. Ia bercerita bahwa anaknya tidak mau lagi melanjutkan pekerjaan karena tidak mau kotor. "Sekarang lebih banyak pilihan buat bekerja pak, siapa yang mau lagi kerjaan yang kotor seperti ini." katanya.
Saya kagum karena ia berkata bahwa harga kerjanya yang lebih murah dibanding kebanyakan tukang lainnya adalah karena ia memandang kerja sebagai amanah dan ibadah. Ia bisa saja melebihkan harga, atau ada juga katanya yang sengaja memperlambat kerja karena dibayar harian. Jadi jumlah hari bertambah, demikian pula upah. Tapi ia tidak mau melakukan itu. "Jangan cuma karena ingin lebih sedikit saya tidak bisa mempertanggungjawabkan hidup kepada yang diatas." katanya.
Bagi saya apa yang ia katakan terasa sangat memberkati. Ditengah banyaknya orang yang berpikir pendek mencari keuntungan secepat-cepatnya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya tanpa peduli apakah mereka merugikan orang lain atau tidak, saat banyak orang tidak lagi malu menipu dan menganggapnya sebagai hal yang wajar, bapak pembuat sumur bor ini memegang teguh prinsip jujur dalam bekerja. Meski pekerjaannya jauh dari bersih, ia harus mandi lumpur, itu adalah pekerjaan yang harus ia lakukan dengan sungguh-sungguh sebagai ibadah dan amanah. Wah, kalau saja semua orang seperti ini, betapa makmurnya kita.
Saya berpikir, kalau orang tidak lagi mau mengerjakan pekerjaan yang dianggap 'kotor' seperti bengkel, sumur bor, pekerja bangunan, petani dan lain-lain, kita tentu tidak bisa maju. Masalahnya, seperti yang saya sampaikan kemarin, ada banyak orang yang merasa pekerjaannya lebih kecil di banding orang lain sehingga mereka merasa tidak bisa berdampak. Mereka lebih tertarik membandingkan pekerjaannya, mendengar apa kata orang daripada mendengar pandangan Tuhan dan melakukan sesuatu disana yang bisa membuat Tuhan senang dan bangga.
Si bapak pembuat sumur bor melakukan pekerjaan yang mengotori tubuhnya. Pekerjaannya mungkin bukanlah pekerjaan favorit, tapi bagaimana kalau tidak ada pembuat sumur bor di kota kita? Bukankah pekerjaannya penting dan berdampak bagi masyarakat di sekitarnya? Sementara ada banyak orang yang sudah bekerja dalam kondisi yang lebih bersih dan baik masih saja mengeluh atau merasa kurang.
Dalam renungan terdahulu saya sudah membagikan kisah mengenai seorang wanita bernama Tabita atau Dorkas yang tinggal di kota Yope.
(bersambung)
Friday, June 15, 2018
The Will of God vs The Will of the World (1)
========================
"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia."
Mengejar yang fana, menomorsatukannya tapi mengabaikan atau menomorduakan kekekalan? Itu secara logika terdengar aneh. Tapi nyatanya banyak orang yang melakukan itu, baik sadar maupun tidak. Salah satu letak permasalahannya adalah bahwa kita hidup di dunia dan terus dikelilingi pola pikir dan sistim dunia dari segala arah sejak kita kecil. Tentu sulit untuk hidup mengadopsi prinsip Kerajaan Allah sementara kita hidup di dunia. Disamping paradigma berpikir kita yang sudah terkontaminasi oleh cara hidup mayoritas orang di sekitar kita, baik di lingkungan sekitar maupun pertemanan, kita pun bisa-bisa dianggap sok alim, orang aneh, bodoh bahkan gila kalau tidak ikut arus seperti cara pikir dunia.
Merubah paradigma atau pola pikir yang sudah mengeras selama bertahun-tahun itu bukan main sulitnya, apalagi kalau di sekitar kita orang tetap memakai cara dunia dalam menjalani hidup. Dunia terus mengajarkan konsep kekayaan sebagai solusi untuk mencapai kebahagiaan baik secara individu maupun keluarga. Semuanya dinilai dengan uang. Dunia terus mengagung-agungkan popularitas, tingginya jabatan yang bisa dipakai sebagai etalase kebanggaan diri, untuk menciptakan pribadi yang berpengaruh besar sehingga posisinya bahkan bisa berada di atas hukum. Kepemilikan atas benda-benda yang up to date atau trendy akan membuat kita terpandang di masyarakat. Dan untuk bisa memiliki semua itu tentu butuh uang. Karena itu, kejarlah uang sebanyak-banyaknya agar bahagia. Itu kata dunia.
Uang pelicin, uang rokok, atau bentuk-bentuk sogokan lain untuk memuluskan kita memperoleh apa yang kita inginkan dianggap sesuatu yang wajar bahkan wajib saat ini. Kalau tidak ikutan ya pasti tersingkir kalah. Benarkah demikian?
Seorang pengusaha sukses yang membawahi lebih dari seratus anak perusahaan di tempatnya bekerja membuktikan bahwa itu tidak benar. Ia memilih untuk hidup takut akan Tuhan sejak ia menerima Yesus secara pribadi saat ia muda, dan ia berusaha keras untuk tetap hidup sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Ia memulai karirnya dari bawah sekali, dan ia membuktikan bahwa ia bisa mengalami peningkatan sampai pada tahap dimana ia berada sekarang, dan ia bisa memenangkan tender dan bermitra tanpa harus menyogok seperti cara-cara dunia. "Lebih sulit, ya. Tapi bukan tidak mungkin." katanya sambil tersenyum. Ia berkali-kali sudah membuktikan janji-janji Tuhan kepada orang yang setia melakukan Firman, dan itu ternyata menginspirasi banyak karyawannya yang melihat langsung bagaimana hebatnya saat Tuhan yang bekerja. Bukan pakai kekuatan manusia, bukan pakai kekuatan uang.
Manusia langka? Mungkin ya, kalau melihat jumlah orang yang 'militan' dalam iman sepertinya dibanding orang percaya yang masih mengikuti cara dunia. Dunia dan akhirat adalah dua bagian yang terpisah. Urusan beribadah itu hanya untuk nanti setelah mati, urusan dunia terlepas dari soal-soal rohani. Rohani seminggu sekali dan ironisnya hanya dikaitkan dengan kebiasaan mengunjungi gereja, sepulang dari sana hidup akan kembali duniawi lagi sepenuhnya, tidak ada urusan lagi dengan ibadah.
Ada yang mencoba mencari 'jalan tengah' dengan hidup di dua dunia. Mereka beribadah, melakukan kewajiban-kewajiban, berdoa, tapi kalau memang diperlukan mereka bisa switch memakai cara dunia. Beribadah, tapi nyogok dan menggunakan cara dunia bilamana dipandang 'perlu'. Menjaga hidup kudus di satu sisi, tapi memberi toleransi memasukkan dan melakukan hal-hal yang mencemarkan hidup agar tidak tersingkir dari pergaulan atau relasi.
Atau banyak pula yang mengira bahwa ke gereja, bersedekah atau berbuat baik pada waktu-waktu tertentu bisa 'mencuci' tindak-tindak kejahatan yang kita lakukan yang suka saya sebut dengan 'cuci dosa' alias 'sin laundering'. Kalau melakukan korupsi tapi takut kena dosa, ya bangun rumah ibadah supaya uang hasil kejahatan jadi bersih. Atau sumbangkan sebagian ke orang, lembaga atau departemen tertentu, maka itupun bisa me'mutih'kan dosa mereka. Perhatikanlah, bukankah banyak orang yang melakukan itu hari ini? Semua ini merupakan kekeliruan yang umumnya bersumber dari paradigma berpikir yang keliru dan sama sekali jauh dari kebenaran.
(bersambung)
Sunday, June 10, 2018
Ragi Orang Saduki (4)
Dengan jelas Firman Tuhan berkata bahwa "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. " (Ibrani 11:1). Artinya, dengan iman kita bisa memperoleh dasar atau titik tolak akan sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak mampu kita lihat. Terus mencoba mempergunakan logika, mencoba merasionalisasi hal-hal yang jelas-jelas bukan berasal dari dunia akan selalu sia-sia. Itu bisa menghasilkan ragi-ragi yang membusukkan proses pertumbuhan iman kita, membuat kita kehilangan kepercayaan yang sangat dibutuhkan untuk bisa menuai segala kasih karunia Tuhan yang sudah diberikan lewat Kristus.
4. Orang Saduki mementingkan ritual keagamaan
Mereka ini mengkultuskan ritual dengan sangat setia, sehingga sulit menerima kebenaran yang dibawa oleh Kristus ke dunia. Bagi mereka, selama mezbah-mezbah masih mengepulkan asap, bila segala ritual dan tata cara masih dijalankan dengan setia, maka itu berarti keagamaan mereka terpenuhi dan Tuhan ada bersama mereka.
Ada banyak di antara orang percaya yang terjebak pada ragi orang Saduki yang satu ini. Mereka lebih mementingkan ritual dan tata cara sebagai sebuah kebiasaan dibandingkan esensi dasarnya. Bukan hubungan personal dengan Tuhan yang dikejar melainkan gestur, gerakan, posisi atau hafalan yang mereka anggap merupakan hal mutlak yang mendatangkan keselamatan. Yang ditakutkan adalah takut masuk neraka, takut setan atau takut-takut negatif lainnya ketimbang takut akan Tuhan yang artinya bersikap hormat dan segan, tidak ingin mengecewakan Tuhan karena kita mengasihiNya dan menghargai kasih karuniaNya dengan sepenuh hati. Mereka lebih mempertanyakan bagaimana posisi saat berdoa, bagaimana melipat tangan, apa yang harus dikatakan, bagaimana urutannya dan sebagainya daripada mempersembahkan diri sendiri sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah, yang dikatakan sebagai ibadah yang sejati (Roma 12:1).
Orang-orang Saduki dikatakan sebagai 'keturunan ular beludak' (Matius 3:7), angkatan yang jahat dan tidak setia (dalam versi lain dikatakan orang yang jahat dan berdosa) (Matius 16:4), juga orang-orang yang sudah benar-benar sesat (Markus 12:27). Seperti orang-orang Saduki di masa itu, orang yang terkena ragi mereka juga tidak akan bisa memperoleh mukjizat karena tidak percaya dan tidak termasuk orang-orang yang menerima kasih karunia sehingga tidak akan luput atau bisa melarikan diri dari hukuman Allah yang akan datang.
Seperti halnya ragi orang Farisi, ragi orang Saduki sangatlah berbahaya bagi perjalanan kita menuju kehidupan yang kekal. Ragi ini bisa berfermentasi dan mengembang dalam kerohanian kita tanpa kita sadari. Kalau kita tidak waspada mengawasinya, kita akan menjadi orang-orang yang paling malang di dunia ini seperti yang dikatakan Paulus. Sekali lagi, pesan ini disampaikan buat murid Yesus di jaman kita masing-masing. Hendaklah kita sikapi peringatan Yesus ini dengan serius, agar pertumbuhan iman kita tetap berjalan baik hingga menghasikan buah-buah matang yang baik yang membawa kebenaran nyata di muka bumi ini.
Hindari pemikiran yang terombang-ambing akibat ragi orang Saduki, berpeganglah sepenuhnya pada kebenaran Firman dengan iman yang teguh
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...




