Friday, September 2, 2022

Cerminan (2)

 

(sambungan)

Perhatikan bagaimana kedua rasul yaitu Petrus dan Yohanes pada saat itu dikenal orang. Mereka dikenal bukan sebagai orang terpelajar, bukan seperti para imam dan orang Saduki, orang-orang yang merasa 'pintar' baik dalam hal keagamaan, merasa mereka adalah juru kunci surga, paling suci dan lain-lain, juga punya posisi tinggi di masyarakat. Tapi secara jelas Alkitab mencatat bahwa kedua rasul juga dikenal sebagai pengikut Kristus, dan status sebagai pengikut Kristus ini ternyata membuat mereka tampil beda sehingga mengherankan para petinggi agama saat itu. Secara jelas citra Kristus tergambar dari cara hidup, pikiran dan perkataan mereka. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Keduanya dibebaskan karena memang tidak ada kesalahan apapun yang bisa didakwa dari mereka. (ay 21).

Mau disadari atau tidak, tingkah dan polah, lagak dan gaya kita dalam bermasyarakat akan mengarah kepada pengenalan orang akan Kristus. Maka kita perlu menjaga perilaku kita agar orang tidak salah mengenal siapa pribadi Kristus itu sebenarnya. Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita agar selalu siap menjadi terang dan garam. "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:13-16). 

Garam hanya akan berfungsi jika bercampur dengan makanan. Dan jika garam menjadi hambar maka garam akan kehilangan fungsi dan tujuannya. Demikian pula dengan terang. Terang hanya akan berfungsi dalam gelap. Jika semuanya terang benderang, untuk apa lagi kita menambahkan terang? Dan jika terang disembunyikan atau ditutupi, apakah gunanya terang itu? Tuhan Yesus pun mengingatkan kita agar kita senantiasa mampu menjadi terang dan garam agar Tuhan bisa dipermuliakan. Lebih jauh lagi, 

Yesus pun telah memerintahkan kita untuk saling mengasihi. Bukan hanya sekedar mengasihi orang lain seperti mengasihi diri kita sendiri saja, melainkan mengasihi orang lain seperti halnya Kristus sendiri telah mengasihi kita. "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Hal ini penting, karena "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (ay 35). The world should be able to know that we are His disciples if we applied love to one another, that's where they can see the real image of Jesus through us.

Tidak peduli apa pekerjaan, jabatan, status dan tempat kita saat ini, kita selalu dituntut untuk siap menjadi terang dan garam yang bisa mewakili gambaran Kristus di dunia saat ini. Bahkan orang yang dianggap bodoh atau tidak terpelajar, yang dianggap tak berguna bagi dunia sekalipun bisa Tuhan pakai. "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat." (1 Korintus 1:27). Artinya, siapapun kita, anda dan saya, kita harus selalu siap menjadi duta Kristus dimanapun kita ditempatkan dan mencerminkan image Yesus secara benar di dunia. Alangkah ironis jika Yesus yang mengasihi kita justru mendapat gambaran yang salah di dunia lewat perilaku kita. Yesus sendiri telah mengingatkan kita dan telah memberikan keteladanan yang luar biasa. Kita harus terus berusaha untuk menjadi sosok yang penuh dengan kemuliaan Tuhan sehingga tidak diragukan oleh siapapun disekeliling kita. Sudah seharusnya demikian, karena kita sudah menjadi ciptaan baru, tidak lagi sama dengan dunia ini, yang dipenuhi Roh Kudus. 

Adalah perlu bagi kita untuk menghidupi cahaya Tuhan dalam diri kita hingga orang asing di pinggir jalan sekalipun akan mampu melihat Yesus lewat diri kita. Mari kita periksa tingkah laku dan cara hidup kita hari ini. Apakah Tuhan dipermuliakan atau dipermalukan lewat hidup kita? Siapkah anda menjadi duta Kristus yang memberi gambaran yang benar akan diriNya?

Jagalah perilaku kita agar Tuhan senantiasa dipermuliakan di dalamnya, bukan dipermalukan


Thursday, September 1, 2022

Cerminan (1)

 Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 4:13
============================
"Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus."

Sejak lahir anak saya sudah terlihat mirip papanya. Semakin dia bertumbuh, maka semakin mirip pula wajahnya seperti saya. Saya jelas senang banget. Namanya sudah lama menunggu hingga 10 tahun, lantas setelah lahir mirip saya, tentu saja saya senang. Setiap kali saya dengar orang berkata "mirip banget ya sama papanya..." hati saya pun terasa berbunga-bunga. Tapi bagi saya ada yang lebih penting dari kemiripan fisik. Saya ingin ia tumbuh menjadi anak yang dibanggakan, menjadi teladan dan disukai siapa saja yang berada di dekatnya, bukan hanya sekarang tapi seumur hidupnya. Saya ingin dia hidup dengan memegang teguh nilai-nilai dan prinsip kebenaran.

Perhatikan bagaimana anak kecil seringkali diasosiasikan dengan orang tuanya .Ketika si anak berperilaku baik maka orang tuanya yang dipuji, sebaliknya jika ada yang bandel maka kerap orang tuanya yang disalahkan. Artinya, seperti apa tingkah laku si anak akan memberi gambaran orang tuanya di mata orang lain. Itu saat ia masih kecil. Setelah ia tumbuh dewasa, maka sikap, perbuatan dan tindakannya akan menentukan apakah ia nantinya menjadi orang yang disukai, diidolakan atau dijauhi dan dimusuhi.  Jadi, tidak ada jalan lain bagi kami orang tuanya untuk terus menanamkan nilai dan prinsip kebenaran Kerajaan Allah itu sejak dini, dan kami terus memastikan bahwa semua itu bukan hanya teoritis saja melainkan lewat contoh dan keteladanan yang akan selalu bisa ia saksikan lewat orang tuanya. Akan sangat memalukan apabila kami berharap anak kami bisa seperti itu tapi kami gagal memberi contoh. Karena itulah, semua yang kami ajarkan harus terlebih dahulu kami lakukan, sehingga ia akan bisa melihat korelasi dari apa yang kami ajarkan dengan apa yang ia lihat dari kedua orang tuanya. Bagi kami orang tuanya, hal itu kami anggap sebagai warisan terbesar yang bisa kami berikan kepadanya.

Seperti apa orang mengenal kita hari ini? Apakah kita dikenal sebagai orang yang menyenangkan, baik, ramah, damai, penuh kasih, bukan orang yang hidup dengan topeng, mementingkan orang lain ketimbang diri sendiri, sosok yang toleran, rajin menolong sesama atau justru sebaliknya, kasar, sombong dan penuh kebencian, suka gosip, hobi menjelek-jelekkan orang lain, merasa diri paling benar sendiri, paling tahu, atau bahkan biang kerok alias sumber masalah dimanapun kita ada? Apakah ketika kita hadir orang merasa senang atau sebaliknya ketakutan atau malah bikin mood langsung drop begitu wajah kita nongol?

Seorang anak akan selalu mencerminkan orang tuanya. Dan sadarilah bahwa bagaimana kita hidup akan menjadi cermin dari Tuhan yang kita sembah. Sebagai pengikut Yesus, seperti apa citra kita di mata orang lain mau tidak mau akan mengarahkan orang untuk mengenal seperti apa Yesus itu. Sebagai orang percaya, kita akan mencerminkan kepada siapa kita beriman. Dengan kata lain, orang bisa, dan akan mengenal Yesus lewat pribadi kita.

Mari kita saksikan sebuah kejadian yang dicatat dalam Alkitab, yaitu pada saat Petrus dan Yohanes ditangkap oleh para imam kepala dan orang Saduki saat mereka sedang mengajar. Para imam kepala dan orang Saduki merasa terganggu dengan kegiatan kedua rasul itu dalam mewartakan kabar gembira mengenai Kristus. Penangkapan itu ternyata tidaklah melemahkan mental mereka. Tapi Alkitab mencatat tanggapan orang-orang yang hadir dalam persidangan kala itu. "Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus." (Kisah Para Rasul 4:13). 

(bersambung)


Wednesday, August 31, 2022

Figur Yang Bisa Diandalkan dan Dipercaya (2)

(sambungan)

 Mari kita lihat lanjutannya. "Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin", untuk memuliakan Allah." Jadi, untuk apa kita mengatakan amin? Jawabannya: untuk memuliakan Allah. Memuliakan Allah, karena semua janji Allah itu ada jaminan kepastian lewat atau dalam Yesus.

Ada ayat lain yang menegaskan demikian: "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19). Ayat ini dengan tegas menggambarkan jatidiri Allah yang jelas bukan seperti manusia yang bisa ingkar janji, melanggar atau tidak menepati. Bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Kuasa berfirman lalu melanggarnya? Itu tentu bukan karakter atau sifat Tuhan. Dia tidak akan pernah melakukan itu. When God promises, God fulfills.

Apa yang Tuhan rancangkan bagi kita adalah "rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan" seperti yang tertulis dalam Yeremia 29:11. Sejak penciptaan langit dan bumi, rancanganNya selalu seperti itu. Karenanya, dalam menghadapi permasalahan apapun, peganglah erat-erat janjiNya, dan percayalah dalam Yesus ada jaminan kepastian akan hal itu.

Ayat yang saya bahas hari ini berkali-kali menguatkan saya saat saya sedang ditekan oleh kesulitan yang kalau mau dituruti bisa melemahkan iman saya. Saya tidak mau berdoa tanpa disertai keyakinan. Keyakinan bahwa Tuhan tahu pergumulan saya, keyakinan bahwa Tuhan peduli, keyakinan bahwa Dia sanggup dan berkenan untuk mengulurkan tanganNya. Saya berpikir akan lebih baik jika saya tidak berdoa saja daripada saya berdoa tanpa disertai keyakinan. Lebih baik saya skip daripada saya mengatakan dalam nama Yesus di akhir doa lantas ditutup dengan Amin, tapi tidak ada efeknya sama sekali buat batin saya, karena itu artinya sama saja saya tidak percaya pada jaminan kepastian dalam Yesus dan tidak memuliakanNya. Masalah akan selalu ada, percayakah kita bahwa kita punya Figur yang bisa diandalkan dan dipercaya? Do we see Him as reliable and believable Figure just yet?

Dalam Yesus ada jaminan kepastian, ucapan Amin adalah ekspresi memuliakan Allah  

 

Tuesday, August 30, 2022

Figur Yang Bisa Diandalkan dan Dipercaya (1)

Ayat bacaan: 2 Korintus 1:19-20
==============
“Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah "ya" dan "tidak", tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada "ya". Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah.”

Sewaktu saya masih kecil saya tidur harus dalam keadaan lampu menyala. Kenapa? Karena saya takut gelap. Saya berpikir bahwa kalau gelap nanti ada hantu yang bisa memakan saya. Suatu kali ayah saya memanggil saya dan mengajak saya bicara tentang hal itu. "Kenapa kamu harus takut? Kamu lupa ya kalau kamu punya papa? Kalau ada hantu papa yang maju dan tendang hantunya jauh-jauh. Jadi harusnya hantu itu yang takut sama kamu bukan sebaliknya, karena kamu punya papa." Sejak saat itu saya tidak lagi takut pada gelap apalagi hantu. Kejadian saat ayah saya memanggil saya ini sudah puluhan tahun lalu, tapi kapan, dimana dan apa perkataannya waktu itu saya masih ingat jelas sampai sekarang.

Figur yang bisa diandalkan dan dapat dipercaya, itu tentu sangat berguna bagi anak kecil, dan buat yang sudah dewasa pun kita sebenarnya tetap membutuhkan figur seperti itu. Mungkin bukan urusan gelap dan hantu lagi, tapi justru dalam menghadapi masalah-masalah hidup yang realistis, bisa jadi berhubungan dengan kelangsungan hidup kita dan keluarga, bisa membuat kita cemas bahkan takut, jauh lebih parah dari sekedar urusan gelap dan hantu seperti yang ada di pikiran anak-anak.

Sadarkah kita bahwa diluar figur manusia, ada Figur lain yang jauh lebih besar, jauh lebih bisa diandalkan dan dipercaya? Betul, saya bicara tentang figur Allah. Mudah bagi kita untuk berkata ya, tapi apakah kenyataannya demikian? Mudah pula bagi kita untuk berkata ya saat kita sedang baik-baik saja, tapi masih mudahkah saat kita berhadapan dengan situasi atau kondisi sulit?

Seberapa seringkah kita doa minta pertolongan Tuhan, lalu kita tutup dalam nama Yesus, kita bilang amin, tapi begitu selesai kita langsung khawatir dan takut lagi saat itu juga? Lantas buat apa kita berdoa kalau Sosok yang kepadaNya kita panjatkan doa ternyata belum cukup mampu kita pandang sebagai figur yang dapat diandalkan dan dipercaya? Apa gunanya kata amin kita ucapkan untuk menutup doa? Jika ada diantara teman-teman yang seperti itu, ketahuilah anda tidak sendirian, karena saya pun sempat beberapa kali mengalaminya.

Hari ini mari kita lihat ayat yang saya jadikan ayat bacaan yang diambil dari surat 2 Korintus 1:19-20. Bunyinya adalah sebagai berikut: “Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah "ya" dan "tidak", tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada "ya". Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah."

Mari perhatikan baik-baik rangkaian dua ayat diatas. Hal pertama yang harus kita camkan baik-baik adalah bahwa dalam Yesus tidak ada tipu, keliru, batal, kadang-kadang, mungkin, lihat nanti dan ketidakpastian atau tipuan lainnya. Yesus bukan Sosok yang plin-plan, suka ingkar janji, hari ini ya besok tidak, tapi di dalam Yesus hanya ada "ya". Sebab, Yesus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Artinya, dalam Yesus itu jelas ada jaminan kepastian. Karena adanya jaminan kepastian itulah kita mengatakan "Amin".

(bersambung)

Monday, August 29, 2022

Bandel (2)

 (sambungan)

Apakah mereka patuh? Ternyata tidak. Firman Tuhan selanjutnya mengatakan "Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku." (ay 12). Bangsa Israel sepertinya lupa atau menganggap remeh pengalaman yang sebenarnya mereka alami sendiri secara langsung, yaitu bahwa adalah Tuhan sendiri yang menuntun mereka keluar dari tanah perbudakan untuk menuju tanah terjanji yang melimpah susu dan madunya. Bukannya patuh tapi malah membandel dan mengatakan tidak suka kepada Allah seperti apa yang ditulis dalam ayat 12 tadi. Mereka menganggap Tuhan sebagai Pribadi yang egois dan demanding atau menuntut secara berlebihan. Dan akibatnya, Tuhan pun membiarkan mereka dengan pilihannya! "Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!" (ay 13).

Sejarah mencatat bahwa keputusan Israel itu kemudian membuat mereka terpuruk. Dijajah musuh, hancur berantakan, jauh dari apa yang sebenarnya telah disediakan Tuhan bagi mereka. Seandainya saja mereka mau mendengar, if only they would listen. Kalau mereka mau dengar, lihatlah apa yang disediakan Tuhan untuk mereka. 

"Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku. Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya." (ay 14-17).

Kebandelan akan membawa dampak buruk bagi kita. Resikonya nyata, dan bisa jadi pada suatu ketika menjadi fatal. Kita suka memberi pemakluman bahwa sifat tidak suka dilarang dan cepat tersinggung ketika diingatkan itu adalah sesuatu yang manusiawi. Tetapi Tuhan sesungguhnya tidak menginginkan kita menjadi pribadi-pribadi yang keras kepala seperti itu. Tuhan ingin kita memiliki hati yang lembut, sebentuk hati yang siap dibentuk. Tuhan menginginkan ketaatan kita lebih dari apapun. 

"Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu." (Ulangan 10:12-13).

Bangsa Israel sudah merasakan sendiri bagaimana konsekuensi yang harus mereka pikul akibat kebandelan mereka yang sesungguhnya sudah dilakukan berulang kali. Anak-anak bisa terlena membangkang karena mereka tidak menyadari bahaya yang mengintai mereka. Ironisnya, orang dewasa pun sering berlaku seperti anak-anak, tidak menyadari bahaya yang mengancam mereka akibat kebandelan, kekerasan hati dan kepalanya. Seharusnya contoh-contoh itu bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak lagi mengulangi kesalahan seperti itu.

Sebuah larangan memang terlihat seperti membatasi pergerakan kita dan membuat kita seolah tidak bisa menikmati hal-hal yang tampaknya menarik dan menyenangkan secara duniawi. Tetapi pikirkanlah, jika itu semua bertujuan baik, agar kita bisa terhindar dari masalah dan penderitaan yang dapat berujung pada kehancuran yang seharusnya tidak perlu terjadi, kenapa kita harus mengabaikan apalagi melawan? Jadi apabila Tuhan masih mau mengingatkan kita meski terkadang keras, bersyukurlah. Karena kita sendiri yang rugi apabila kemudian kita harus terjatuh dalam banyak masalah akibat kebandelan kita sendiri. Apakah itu langsung dari Tuhan, lewat hati nurani kita, atau lewat orang tua, saudara atau sahabat yang peduli kepada kita, bersyukurlah dan berterima kasihlah untuk itu dan dengarkanlah. Jangan keraskan hati apalagi menuduh dan bersungut-sungut, sebab larangan atau peringatan yang baik yang kita terima sesungguhnya bisa mencegah kita dari bencana yang bisa jadi akan kita sesali pada suatu ketika nanti.

Tuhan menuntut ketaatan kepadaNya demi kebaikan kita

Sunday, August 28, 2022

Bandel (1)

Ayat bacaan: Mazmur 81:9
====================
"Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!"

Anak-anak di usia dini memang terkadang bisa bandel. Mereka cenderung untuk melakukan apa yang berbeda dengan apa yang diingatkan, semakin dilarang semakin dilakukan. Itu rasanya dialami oleh setiap orang tua. Dan yang sering terjadi, mereka pun akan mengalami situasi seperti terjatuh, luka dan sebagainya saat mengabaikan peringatan orangtuanya. Mereka akan menangis, merasakan sakit dan lain-lain karena bandel. Saya pun mengalami hal itu. Dan jika itu terjadi, saya biasanya mengingatkannya: "lain kali kalau papa ingetin didengar ya.. kamu tidak harus mengalami itu, kalau saja kamu dengar larangan papa."

If only you listen. Masalah abai dan bandel sebenarnya bukan cuma masalah untuk anak kecil, tapi yang dewasa pun seringkali masih berperilaku sama. Bahkan ada yang bilang bahwa peraturan itu ada untuk dilanggar, kan? Padahal, namanya peraturan dibuat untuk mengatur agar semua berjalan baik dan menjauhkan kita dari masalah. Sebaliknya kebandelan atau pembangkangan tidak akan pernah membawa manfaat positif, malah sebaliknya bisa menjerumuskan, mencelakakan atau bahkan membinasakan.

Tuhan memberikan dengan jelas tuntunan hidup yang akan membawa kita kedalam kehidupan yang indah seperti yang diinginkanNya dan juga mengarah kepada keselamatan yang kekal. Tuhan memberikan batasan-batasan dan larangan-larangan, tapi sejauh mana kita mau mendengarnya? Yang sering terjadi justru sikap membangkang dari kita, mengira bahwa Tuhan tidak ingin kita menikmati sesuatu yang menyenangkan, terlalu mengekang atau bersikap otoriter. Padahal sadarkah kita bahwa itu pun sebenarnya demi kebaikan kita sendiri dan bukan untuk kepuasan Tuhan?

Hari ini mari kita buka Mazmur pasal 81 yang menggambarkan bagaimana kesalnya Tuhan dalam menyikapi kebandelan bangsa Israel. Dengan nyaring Tuhan sudah mengingatkan: 

"Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!" (Mazmur 81:9). 

God said: "Hear me, my people, and I will warn you — if you would only listen to me". Aku mengingatkan kalian, Aku mau menjauhkan kalian dari masalah, kalau kalian mau mendengarkan. If only you would listen. Dengan kata lain, Tuhan mau bilang: "Aku mau jauhkan kalian dari bahaya dan celaka, kalau saja kalian mau dengar. Sekali lagi, Tuhan peduli. 

Perhatikan bahwa Tuhan memberi peringatan bukan demi kepentinganNya melainkan demi kebaikan umatNya sendiri. Seandainya kalian mau dengar, itu kata Tuhan.

Apa yang diingatkan Tuhan adalah agar bangsa Israel berhenti menyembah allah-allah asing. 

"Janganlah ada di antaramu allah lain, dan janganlah engkau menyembah kepada allah asing. Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh." (ay 10-11).



(bersambung)

Saturday, August 27, 2022

Kegelapan (2)

 (sambungan)

Yesus  mengingatkan kita agar berhati-hati menjaga diri kita agar tidak terperangkap dalam kegelapan. "Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan." (Matius 12:35). Pesan Yesus ini penting, karena seringkali kita terperangkap dalam kegelapan bukan atas kehendak kita. Tidak satupun dari kita memang berniat untuk hidup dalam kegelapan kan? Tapi saat kita tidak kuat menyikapi tekanan, atau saat kita mulai membuka sedikit celah untuk melakukan pelanggaran, maka kegelapan itu bisa tanpa kita sadari menguasai kita. Kita pikir kita masih baik-baik saja tetapi tahu-tahu sudah dikuasai kegelapan. Betapa berbahayanya jika kita tidak memperhatikan atau tidak awas.

Paulus berpesan pada jemaat Efesus mengenai hal ini dengan rinci. Pada perikop Hidup Sebagai Anak Terang (Efesus 5:1-21), kita diingatkan agar selalu hidup dalam kasih (ay 1), jangan sampai diri kita dimasuki oleh rupa-rupa kecemaran, keserakahan, percabulan, perkataan kotor dan kosong dan lain-lain (ay 3), dan kita harus tetap waspada agar jangan sampai disesatkan (ay 6).

Paulus mengingatkan bahwa dengan menerima Kristus, kita mendapat status sebagai anak-anak terang. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yoh 8:12). Karena itu pula, bagi kita yang mengikut Yesus, kita pun diminta untuk menjadi terang dunia. (Lukas 5:14). Namun kita tidak akan bisa menjadi terang dunia jika kegelapan masih memiliki kuasa atas diri kita. Karenanya, Paulus pun mengingatkan kita agar senantiasa hidup sebagai anak-anak terang. "Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang" (Efesus 5:9).

Katakan tidak pada dosa meski yang kecil atau tampak sepele sekalipun. Dosa meski yang kelihatannya ringan dan sering dianggap kenakalan biasa bisa menjadi pintu masuk iblis untuk menyesatkan kita lebih jauh. Jangan pernah beri toleransi, jangan beri kesempatan, jangan buka peluang, karena sekali kita beri kesempatan, tanpa sadar kita akan menjadi terbiasa dalam kegelapan. Terbiasa berbuat dosa dan kehilangan segala yang baik dari Tuhan.

Tetaplah hidup sesuai firman Tuhan, dan hiduplah kudus sehingga Roh Kudus menerangi hidup kita. Tidak akan ada gelap yang mampu melawan terang kecuali kita sendiri yang menyingkirkan terang dan mengijinkan gelap memasuki hidup kita. Pastikan kita tetap memiliki terang Kristus dan bercahaya di depan orang dan dengan demikian kita memuliakan Bapa. "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16).

"Darkness cannot drive out darkness; only light can do that." - Marin Luther King, Jr

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...