Wednesday, September 14, 2022

Istri: Teman Sekutu dan Seperjanjian (2)

 

(sambungan)

Sebuah pernikahan adalah sebuah hubungan dimana Tuhan sendiri yang menjadi saksi. Karena itulah dalam kekristenan sebuah pernikahan itu sakral dan kudus. Kalau materai yang kita beli di kantor pos atau toko saja sudah bisa punya kekuatan hukum yang mengikat kedua belah pihak, apalagi jika Tuhan yang memateraikan langsung, menjadi saksi langsung atasnya. Itulah sebabnya dalam kekistenan tidak dikenal istilah cerai. Bagaimana mungkin manusia merasa berhak menceraikan apa yang dipersatukan Tuhan? Ini adalah sebuah dasar penting dalam pernikahan bagi kita.

Lihatlah apa yang dikatakan Yesus berikut ini:  "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6). Tidak boleh, atas dasar apapun. Karena itu bagi yang belum menikah, pikirkan dan pertimbangkan dahulu baik baik saat menentukan pasangan, jangan hanya pakai nafsu dan perasaan saja. Tapi saat sudah memutuskan untuk menikah, maka ada komitmen yang harus dipegang, sebuah komitmen, bahkan ikatan itu berlaku bukan antar manusia saja tetapi melibatkan Tuhan.

Lalu lihatlah kembali ayat dalam Maleakhi 2:14 tadi. Selain Tuhan menjadi saksi atas sebuah pernikahan, disana juga  dikatakan bahwa istri itu merupakan teman sekutu dan seperjanjian. Saat ada dua negara atau lebih bersekutu, mereka pasti harus berjalan beriringan meski mungkin mereka tidak selalu setuju dalam semua hal. Kalau dalam menghadapi perang, sekutu tentu bekerjasama melawan musuhnya, kalau tidak ya berarti bukan sekutu namanya. Dan seperjanjian, itu pun sama bahwa orang yang sudah berjanji tentu harus menepati janjinya. Istri bukan berada di bawah suami, melainkan rekan sekutu, rekan seperjanjian, rekan sekerja yang sama levelnya.

Kalau istri ditutut menghormati suami, kita sebagai suami pun harus menghormati mereka sebagai istri. Bentuknya bisa berupa mengasihi, sabar menghadapi mereka, memberi waktu bagi mereka dan sebagainya. Kalaupun ada yang rasanya kurang pas dan perlu disampaikan, pilih waktu yang baik untuk itu dan sampaikan dengan lembut. Kalau kitanya masih emosi, jangan buru-buru menyerang istri. Tenangkan diri terlebih dahulu, ambil waktu, dan kalau emosi sudah turun, baru kita cari waktu untuk bicara. Dan bicaralah dengan memandang mereka sebagai teman sekutu dan seperjanjian, sesuatu yang bukan manusia, bukan cuma pendeta tetapi Tuhan sendiri yang memateraikan.

Ada kalanya pernikahan jadi berantakan karena disebabkan oleh ekspektasi yang ternyata tidak sama antara sebelum dan sesudah menikah. Ekspektasi atau persepsi salah itu cenderung disebabkan oleh pola pikir keliru dalam memandang pernikahan yang bisa saja anggapannya sudah turun temurun. Beberapa hal tentang pengharapan yang salah alias false hope yang saya dapati dari pengalaman saya adalah pemahaman-pemahaman seperti ini:


1. Pernikahan akan melengkapi saya

Wah kok salah? Pernikahan kan memang harusnya membuat keduanya saling melengkapi? Betul banget. Tapi itu bukan datang instan atau langsung melainkan butuh usaha dari kedua belah pihak. Itu adalah sesuatu yang harus terus diusahakan, dikerjakan, dikejar, dan untuk bisa mengusahakannya seringkali butuh pengorbanan, seperti mengorbankan ego, keinginan pribadi, harapan dan sebagainya. Jadi, apakah pernikahan itu akan melengkapi kita? Ya. Tapi apakah itu otomatis datang hanya dengan menikah di depan altar? Tidak. Begitu kira-kira. Jadi apabila kita berpikir bahwa pernikahan serta merta akan membuat kita langsung lebih lengkap, maka kita akan kecewa karena kenyataannya tidak akan pernah seperti itu.

(bersambung)

Tuesday, September 13, 2022

Istri: Teman Sekutu dan Seperjanjian (1)

 Ayat bacaan: Maleakhi 2:14
====================
"Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu."

Entah bagaimana mulanya, saya lupa. Tapi ternyata sudah beberapa kali Tuhan pertemukan saya dengan beberapa suami dan istri yang hubungannya memanas, retak, dan beberapa sampai pada titik untuk berpisah, alias sudah tidak bisa atau tidak mungkin lagi bersama. Penyebabnya? Wah banyak, dan kalau anda mengira selingkuh selalu jadi sumbernya, tunggu dulu. Karena ada banyak lagi hal lainnya yang bisa jadi pemicu keretakan. Orang ketiga yang hadir belum tentu harus dalam konotasi selingkuhan tapi bisa dari saudara, orang tua atau mertua, yang kemudian masuk ke tengah-tengah lalu menimbulkan friksi di dalam. Ada yang sudah melibatkan unsur kekerasan, dan itu belum tentu secara fisik. Kekerasan verbal alias lewat kata-kata kasar, bentakan, hinaan, itu pun sama sakitnya, bahkan bisa lebih parah.

Coba lihat di sekeliling kita masing-masing, maka kita akan menemukan satu, dua bahkan lebih pasangan yang hubungannya sudah rusak. Broken home, selain menyakitkan bagi pasangan suami istri tapi juga akan menimbulkan dampak negatif untuk anak, apalagi kalau mereka sedang dalam masa pertumbuhan dan masih membutuhkan figur ayah dan ibu. Maka ada banyak pasangan yang memilih bertahan hanya karena anak. Mereka jalan sendiri-sendiri, tapi masih terikat dalam hubungan pernikahan hanya karena alasan anak.

Karena anak. Apakah itu cukup? Buat saya tidak. Karena sejatinya pernikahan seharusnya bukan begitu. Buat saya, faktor cuma bertahan karena anak, meski itu masih lebih baik ketimbang bubar total, tetap tidak cukup karena hakekat pernikahan bukan seperti itu. It's about building a relationship that everyone in it should enjoy. Tapi bagaimana mau enjoy kalau sudah tidak ada kecocokan? Itu akan selalu jadi alasan pembenaran keputusan untuk berpisah. Ada pula yang memilih tetap bertahan karena tidak mau berurusan dengan harta gono-gini. Faktor takut rugi materi jadi alasan untuk bertahan, tapi tetap tidak ada lagi hubungan yang hangat disana. Itu seperti tinggal di atas puing-puing saja. Banyak debu, tetap kena hujan panas, sementara rumah sudah kehilangan fungsinya. Yang tinggal disana tetap saja tidak sehat, apalagi bahagia.

Sebuah pernikahan, seperti halnya hidup punya dua alternatif. It could be like heaven on earth, but it could also become hell break lose. Yang sering dilupakan atau tidak disadari, ketika kita terus berusaha agar hidup menjadi lebih baik, kalau kita berjuang hidup dan mati untuk mempertahankan kehidupan kita, kenapa pernikahan tidak diperlakukan sama seperti itu?

Apakah ada pernikahan yang 100% tanpa masalah atau konflik? Tidak ada. Namanya dua orang dalam satu rumah mau seakur apapun pasti ada saja masalah yang timbul. Saya pun begitu. Yang sering tidak dipikirkan adalah pola pikir kita menyikapi pasangan. Bagaimana kita memandang pasangan kita akan menentukan respon kita terhadap mereka.

Respon? Ya, respon. Ambil contoh, jika kita berselisih paham dengan orang yang anda hormati, kita tentu tahu harus bagaimana menyikapi itu dengan baik-baik. Meski seharusnya tidak dibenarkan untuk memperlakukan orang secara berbeda, tapi biasanya secara naluriah reaksi kita akan berbeda jika berselisih dengan orang yang tidak dikenal atau kita anggap selevel atau di bawah. Dan yang seringkali terjadi, meski tidak tertutup kemungkinan bahwa bisa jadi masalah diawali dari sikap istri yang keterlaluan, berdasarkan pengalaman saya adalah konsep pemikiran bahwa istri itu ada di bawah suami, jadi absolut dan mutlak hukumnya untuk ditaati.

Alangkah menarik jika kita melihat bahwa Alkitab menyebutkan bagaimana seharusnya seorang suami memandang istrinya dalam hubungannya dengan posisi Tuhan dalam sebuah pernikahan. Bacalah ayat ini pelan-pelan. "Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu." (Maleakhi 2:14). 

(bersambung)


Monday, September 12, 2022

Kristen (2)

 (sambungan)

Selanjutnya kita bisa belajar tentang bagaimana cara hidup para orang Kristen mula-mula ini. Setelah mendengar nubuatan salah satu nabi yang datang kesana dan mengatakan bahwa akan ada bencana kelaparan yang besar melanda dunia, para orang Kristen disana pun segera bertindak. Apa tindakannya? Mereka mengumpulkan sumbangan, sesuai kemampuan mereka masing-masing, dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang tinggal di Yudea. Perhatikan bahwa mereka bukan mengumpul untuk kelompok mereka sendiri, melainkan mereka tergerak untuk membantu saudara-saudara mereka, yang tentu saja belum mereka kenal, yang tinggal di wilayah jauh dari mereka, agar mereka punya persediaan saat bencana kelaparan itu datang. Mereka tidak memikirkan diri sendiri tapi mereka berpikir untuk membantu sesama, yang sekali lagi, tidak mereka kenal.

Saya tertarik untuk mengaitkan kisah diatas dengan gaya hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2. Di dalam pasal ini disebutkan bahwa gaya hidup mereka ini tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama (ay 44), bahkan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya lalu membagi-bagikannya kepada yang membutuhkan sesuai keperluan masing-masing (ay 45). Mereka bertekun dan sehati berkumpul tiap hari dalam Bait Allah, mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama dengan gembira dan tulus hati (ay 46), sambil memuji Allah (ay 47).

Apa yang terjadi lewat perilaku mereka itu? Alkitab dengan jelas mencatat bahwa "mereka disukai semua orang" (ay 47), dan karenanya Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (ay 47).

Perhatikan ada kaitan antara "mereka disukai semua orang" dengan "Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan". Apakah Tuhan membimbing banyak orang yang belum percaya untuk datang kepada jemaat mula-mula ini? Tentu saja. Saya tidak ragu akan hal itu. Tuhan bisa menggerakkan dan melembutkan hati siapapun untuk bisa menerima kebenaran. Tapi apakah faktor "disukai semua orang" tidak punya peran sama sekali? Tentu saja tidak. Saya yakin, ketika Tuhan menggerakkan hati orang untuk datang pada kumpulan jemaat mula-mula ini, mereka suka dan bisa melihat langsung bagaimana murid Kristus yang seharusnya. Karena itu mereka pun kemudian percaya dan bertobat, menjadi murid-murid Kristus juga.

Bagaimana  seharusnya hidup sebagai orang Kristen? Orang Kristen harus menunjukkan bahwa apa yang dilakukan itu sesuai dengan Firman Tuhan. Cerminan hidupnya haruslah mencerminkan kebenaran yang terkandung di dalamnya dan mengandung prinsip-prinsip kebenaran itu secara nyata. Jangan sampai kita tidak menjadi pelaku Firman, jangan sampai kita berbeda sikap dan perkataan atau pengajaran, dan jangan sampai pula kita menjadi cerminan buruk yang sama sekali tidak menggambarkan Kristus. Bukannya disukai tapi dibenci, bukannya orang mendekat malah dijauhi, bukannya jadi teladan tapi jadi contoh buruk, bukannya menggiring orang untuk kenal dan percaya tapi malah jadi batu sandungan.

Dari mana kita harus mulai?  Apa yang saya lakukan adalah mulai dari hal-hal kecil saja. Tidak membenci, tidak membohongi, menghargai sesama, mengasihi sesama, berbagi, peduli, dan selanjutnya terus dalami kebenaran Firman, pelajari, renungkan, perkatakan dan lakukan secara nyata dalam hidup kita. Nantinya kalau kita sudah terbiasa menghidupi Firman Tuhan, maka tubuh, jiwa dan pikiran kita pun akan beradaptasi dan terbiasa hidup dengan itu dan selanjutnya kita akan lebih mudah mengadopsi dan mengaplikasikan prinsip-prinsip dan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan dalam hidup kita.

Seperti apa label orang Kristen di luar sana, itu tergantung dari bagaimana kita bertingkah laku, bersikap lewat segala tindakan dan perbuatan kita di tengah masyarakat. Kalau memang masih banyak yang anti pati, jangan buru-buru salahkan mereka karena bisa jadi, kita belum menjadi cerminan yang benar dari Kristus.

Who Christians are to them depend on how we live





Sunday, September 11, 2022

Kristen (1)

 Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 11:26
===================
"Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen."

Hari ini saya mau cerita tentang seorang teman yang pernah secara jujur bicara tentang pandangannya terhadap orang Kristen. "Maaf ya sebelumnya, saya cuma mau bilang bahwa selama kita berteman, kamu mengubah pandangan saya terhadap orang Kristen." Waktu ia mengatakan hal ini, saya merasa sedikit kaget, dan was-was menanti apa yang akan ia katakan selanjutnya. Ia bercerita bahwa sejak kecil ia diajarkan hal-hal negatif tentang orang Kristen, dan kemudian setelah ia dewasa dan bertemu banyak orang Kristen, ia merasa bahwa apa yang diajarkan selama ini itu benar adanya. Maksudnya? "Maksudnya ya semua hal jelek itu ya memang begitu." katanya sambil tertawa kecil. Tapi menurutnya, saya menunjukkan sikap yang jauh berbeda. Saya tidak pernah menyadari bahwa ia diam-diam mengamati saya lewat jati diri saya sebagai orang Kristen. Menurut saya, bagaimana saya berteman dengannya atau dengan siapapun selama ini ya hanya dengan apa adanya saya saja, tidak ada gimmick alias pura-pura, cuma menjadi diri saya sendiri saja. That's it, as simple as that. Ternyata ia merasa bahwa apa yang saya menunjukkan sikap yang berbeda, yang membuatnya belajar bahwa ia tidak boleh menggeneralisasi sesuatu. Ia secara jujur mengatakan bahwa pada mulanya ia menjaga jarak dan hati-hati untuk bisa menerima saya sebagai teman. "Jujur, saya punya rasa curiga dan hati-hati pada awalnya." katanya. Tapi seiring waktu, ia tahu dan kenal siapa saya, dan ia pun bisa dengan nyaman berteman meski punya kepercayaan yang berbeda. I was his first Christian friend. Dan ternyata, itu tidak menakutkan, tidak mengganggu dan lain-lain seperti apa  yang ia dengar dan sudah sempat alami dari yang lain.

Saya bukan sedang mau sombong. Percayalah, saya pun masih jauh dari sempurna dan masih terus belajar untuk lebih banyak mengamalkan prinsip hidup dalam kebenaran. Tapi sejak saya menggali lebih jauh tentang kebenaran terutama seiring dengan aktifnya saya menulis renungan, saya berkomitmen untuk menghidupi apa yang saya pelajari dan tulis secara nyata. Saya selalu berusaha agar apapun yang saya sampaikan saya lakukan juga dalam kehidupan saya sehari-hari. Karena renungan ini bukan saya buat untuk pamer pengetahuan, tapi lebih kepada sarana saya berbagi tentang apa yang saya dapat, untuk kita praktekkan bersama-sama.

Seperti apa orang Kristen di mata mereka yang belum mengenal Kristus, itu akan menjadi gambaran seperti apa Yesus itu di mata mereka. Apakah kita sudah menjadi cermin yang benar atau cemar, itu akan sangat tergantung dari seperti apa cara, gaya dan tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana 'label' Kristen dalam pandangan di luar sana? Positif atau negatif kah saat ini? Dan, sejak kapan ada istilah Kristen, alias pengikut Kristus itu sebenarnya?

Ayat bacaan hari ini menunjukkan saat pertama kali orang percaya dipanggil sebagai Kristen, yaitu di Antiokhia. "Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen." (Kisah Para Rasul 11:26).

Agar lebih jelas, bacalah perikop Kisah Para Rasul 11:19-30. Pada waktu itu penyebaran berita Injil sudah menyebar hingga jauh ke Fenisia, Siprus dan Antiohkhia lewat orang-orang percaya mula-mula. Multiplikasi terjadi, dan mereka yang sudah percaya ini kemudian bergerak menjangkau jiwa dengan melebarkan sayap hingga menyentuh wilayah lain, semakin lama semakin melebar dan semakin jauh. Beberapa orang percaya yang mewartakan Injil di Antiokhia, yang letaknya saat ini masuk wilayah Turki mengabarkan kepada Barnabas bahwa ada banyak orang yang percaya dan bertobat disana. Mendengar kabar itu, Barnabas pun diutus untuk pergi kesana.

Sesampainya disana, ternyata gelombang pertobatan semakin meluas. Alkitab mengatakan bahwa Barnabas adalah orang dengan kualitas: (1) baik, (2) penuh dengan Roh Kudus, dan (3) penuh imannya. Hal ini disebutkan dalam ayat 24. Karena itu, Tuhan menambahkan orang-orang yang percaya. Melihat perkembangan ini, Paulus (waktu itu masih disebut Saulus) diajak Barnabas untuk menjadi rekan sekerjanya disana. Mereka tinggal selama setahun disana untuk mengajar orang-orang percaya lebih jauh dan lebih dalam. Dan disanalah pertama kalinya pengikut Kristus dipanggil Kristen. 

(bersambung)


Saturday, September 10, 2022

Pelari Cepat (3)

 (sambungan)

3. Berlari-lari pada tujuan

Apa yang jadi hadiah bagi pelari cepat dalam perlombaan? Biasanya mereka akan mendapatkan medali dan mengharumkan bangsa, negara atau kota, atau daerahnya, tergantung dari skala pertandingan. Dalam hidup ini kita harus menyadari faktor waktu, tenaga, kemampuan juga kesempatan yang bisa kita manfaatkan untuk melakukan hal-hal yang baik, sehingga keselamatan yang sudah disediakan Tuhan lewat Kristus bagi kita semua di depan sana jangan sampai gagal kita raih.

Jadi, setelah memastikan tidak ada beban yang memberatkan kaki kita untuk melangkah dan mengarahkan pandangan ke depan menuju garis akhir, langkah selanjutnya adalah: mulailah berlari menuju tujuan. Setelah mulai berlari, fokuslah sepenuhnya. Jangan setengah-setengah, jangan maju mundur tapi benar-benar fokus dengan menghitung waktu dan momentum yang ada pada kita.

Selain penguasaan teknik, waktu dan momentum merupakan modal yang sama bagi semua pelari. Tapi bagaimana masing-masing pelari menyikapinya akan sangat menentukan apakah mereka yang keluar menjadi pemenang atau bukan. Sedikit saja pikiran melayang, bahkan sepersekian detik sekalipun, maka itu bisa mempengaruhi bahkan menentukan hasil akhir.

Di depan sana sudah ada hadiah yang menanti. Paulus bilang, hadiah itu adalah "panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus". (ay 14).

Hadiah itu sudah ada disediakan di depan. Pertanyaannya, apakah kita mampu mencapai garis akhir sebagai pemenang dan memperoleh hadiah itu? Tanpa melepaskan beban masa lalu, tanpa mengarahkan diri kepada apa yang ada didepan, tanpa berlari dengan baik untuk mencapai tujuan, hadiah itu bisa gagal kita peroleh. Itulah sebabnya buat saya apa yang disampaikan Paulus dengan ilustrasi lewat pelari dalam perlombaan ini menjadi sangat baik untuk direnungkan. Ilustrasi sederhana yang mudah dicerna, tapi sangat esensial dalam hal perjalanan hidup kita di dunia yang fana alias sementara untuk menuju destinasi selanjutnya yang kekal.

Teman-teman, kita tidak bisa mengubah masa lalu, dan tidak bisa pula mengubah situasi eksternal. Apapun yang pernah terjadi di masa lalu, dan seburuk apapun realita kehidupan di luar diri kita hari ini, itu ada di luar jangkauan kita. All out of reach. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengubah cara kita menerima situasinya pada diri kita. Ingat juga bahwa ikut Tuhan bukan berarti hidup akan selalu lancar dan aman, tapi bersama Tuhan kita tahu bahwa Dia akan selalu ada bersama kita dalam melewati setiap tantangan atau ujian satu demi satu.

Apakah anda siap untuk berlari? Kalau begitu mari sama-sama dengan saya. Kita ambil sikap bersiap yang terbaik, fokus ke depan. On your mark, get set..... let's go!

Winning is about attitude and lifestyle, let us be winners


Friday, September 9, 2022

Pelari Cepat (2)

 

(sambungan)

1. Melupakan apa yang ada di belakang

Seringkali yang menjadi penghambat utama kita untuk maju adalah beban masa lalu. Bisa berupa duka di masa lalu yang tak kunjung terobati, bisa berupa kesalahan masa lalu yang terus menerus membuat kita menjadi tertuduh, berbagai kegagalan di masa lalu yang menimbulkan trauma dan lain sebagainya.

Untuk bisa berlari ke depan, kita harus meninggalkan, atau menanggalkan beban-beban yang bisa memperberat langkah kita. Kalaupun masih sulit untuk melupakan, setidaknya kita harus mulai berpikir bahwa tidak ada satupun hal yang bisa kita lakukan untuk mengubah masa lalu kita. Dan untuk bisa mengarahkan langkah ke depan, kita harus bisa melepaskan beban masa lalu tersebut.

Apakah itu artinya kita harus menganggapnya tidak ada? Tidak juga. Ada kalanya adalah baik buat kita untuk belajar dari segala kegagalan di masa lalu agar kita bisa lebih baik lagi ke depannya. Tapi kalau beban masa lalu itu bagaikan beban berat yang membuat kita sulit atau tidak bisa melangkah, kita harus mulai berpikir untuk mengelola segala beban itu, memaafkan diri kita, memohon ampun pada Tuhan jika itu belum dilakukan, dan mulailah mengubah fokus untuk berlari ke depan, bukan berdiri di tempat apalagi mundur ke belakang.

Masalahnya, waktu hidup kita terbatas. Kita tidak akan punya waktu selamanya untuk bisa menuntaskan hidup kita dengan baik dan keluar jadi pemenang. Jangan sampai semua itu terlambat, karena tidak satupun dari kita yang tahu sampai kapan masa hidup yang ada pada kita masing-masing.

2. Mengarahkan diri ke depan

Mengarahkan diri ke depan, atau mengarahkan diri kepada apa yang didepan kita, itu bicara mengenai kemana fokus kita seharusnya mengarah. Saat beban masa lalu terasa begitu berat dan kuat menarik kita, ada kalanya kita, baik sadar maupun tidak, mengarahkan pandangan atau diri kita justru ke belakang dan bukan ke depan. Jika anda seorang atlit pelari cepat, jangankan menang, anda bahkan tidak akan mungkin bisa mencapai garis finish jika anda terus melihat ke belakang.

Jadi, terbelenggu beban masa lalu adalah satu hal, diri yang terus melihat ke belakang adalah hal lain yang harus juga kita cermati.

Tentu saja ada kalanya kita memang harus melihat ke belakang, misalnya saat kita butuh penguatan atau peneguhan dengan melihat ulang atau kilas balik tentang semua hal-hal luar biasa yang Tuhan pernah lakukan pada kita di masa lalu. Kalau dulu Tuhan bisa, sekarangpun Dia pasti bisa. Itu sisi positif dari pengalaman masa lalu. Tapi bukankah itupun kita pakai untuk membantu kita mengarahkan diri kita ke depan? Jadi intinya, fokus kita hendaknya diarahkan ke depan, dan bukan tersangkut di belakang. Kita tidak akan pernah bisa berlari kencang menuju finish jika kita memandang ke belakang. Bahkan saat berlomba pun, seorang atlit tidak boleh peduli dengan posisi pelari lainnya, karena jika mereka memalingkan kepalanya, selain mereka bisa terjatuh, itu akan memperlambat laju kecepatan mereka secara signifikan.

 The same with us and our lives. If we want to finish our lives good, if we want to reach the finish line, we have to aiming ourselves in the right way, and pressing on forward. Terkadang, move on saja belum cukup, karena bisa jadi sesaat, tapi pressing on, itu lebih intens karena faktor tenaga yang bekerja lebih besar di banding sekedar move on. Maka saya lebih suka memakai kata 'pressing on'. 

(bersambung)


Thursday, September 8, 2022

Pelari Cepat (1)

 Ayat bacaan: Filipi 3:13-14
==================
"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."


Jika anda seorang atlit pelari cepat, anda akan tahu bahwa ada teknik-teknik yang harus diperhatikan, dipelajari, dipahami dan dilakukan agar anda bisa mencapai waktu terbaik untuk mencapai garis finish. Benar, latihan teknik berlari, mengangkat kaki, jarak langkah, gerakan antar kedua kaki, ritme, itu semua sangat penting untuk dikuasai, tapi ada pula latihan-latihan lainnya yang tidak kalah penting. Misalnya olah raga angkat berat, yang berguna untuk melatih dan meningkatkan stamina dan power. Latihan nafas itu penting juga, demikian pula dengan mengatur posisi tubuh agar sedikit lebih condong ke depan. Terlalu condong akan membuat sang pelari bisa jatuh, kurang condong akan membuat kecepatan berkurang. Mengerti kapan harus mengambil kecepatan maksimal pun penting, karena untuk bisa berlari cepat bukan berarti harus nge-gas sejak awal, tapi harus tahu momentumnya. Singkatnya, untuk bisa menjadi pemenang dalam lomba lari butuh mempelajari banyak aspek. Secepat-cepatnya kita mampu berlari, tanpa memahami teknik dasar dan latihan pelengkap, niscaya kita tidak akan pernah bisa keluar sebagai pemenang.

Sekarang coba bayangkan seandainya kaki dari sang atlit diganduli beban berat. Mau sudah ahli dari sisi teknik sekalipun, beban berat ini tetap akan menjadi penghalang baginya untuk mencapai finish sebagai pemenang. Semakin berat bebannya, maka semakin sulit pula berlari kencang. Mau jadi pemenang lomba lari? Perhatikan semua tekniknya, tinggalkan semua beban (termasuk beban pikiran) di belakang dan fokuslah kepada garis finish. Itu yang dikatakan mantan atlit pelari kepada saya pada suatu ketika.

Alangkah menarik buat saya saat menyadari bahwa hal ini dipakai Paulus sebagai ilustrasi dalam menyampaikan pengajaran, dan hal itu ia tulis dalam suratnya untuk jemaat di Filipi ; salah satu surat yang Paulus tulis saat ia berada dalam penjara dan menantikan hukuman mati. Paulus mengatakan demikian:

"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14).

Meski tidak secara jelas menyebutkan soal lomba lari jarak dekat atau sedang atau jauh, Paulus menggunakan ilustrasi lomba lari dimana hadiah disediakan di depan sana, di garis finish.

Seperti yang dikatakan oleh atlit pelari pada saya, Paulus juga menyebutkan bahwa jangan sampai ada beban yang membelenggu kita sehingga sulit berlari, bahkan bisa gagal mencapai destinasi akhir.

Secara garis besarnya ayat diatas bisa dibagi atas tiga hal. Mari kita lihat satu persatu. 

(bersambung)


Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...