(sambungan)
Apa yang dilakukan iblis ini sesungguhnya adalah
sesuatu yang klasik. Itu adalah jenis pekerjaan atau gugus tugas yang
sudah menjadi makanannya sejak semula. Dulu begitu, sampai hari ini pun
tetap sama. Iblis akan selalu berusaha dengan segala daya upaya untuk
menghalangi, memperlambat laju atau bahkan menggagalkan pesan-pesan
Tuhan untuk sampai kepada manusia. Itu bisa ia lakukan lewat
gangguan-gangguan ketika kita membaca Alkitab, gangguan disaat kita
sedang serius mendengar kotbah di gereja, berusaha memecahkan
konsentrasi kita saat berdoa, membuat iman kita lemah dengan berbagai
rasa takut, mencoba menggoyahkan keyakinan kita, menggoda kita dengan
segala sesuatu yang terlihat menarik namun menyesatkan dan sebagainya.
Membuat hal-hal sehingga doa kita terhalang. Pendek kata, ada seribu
satu cara iblis untuk menghalangi pesan-pesan Tuhan untuk sampai kepada
kita, ada banyak cara mereka untuk menjauhkan kita dari Tuhan dan segala
kebenaranNya, dan akan selalu berupaya untuk memutus hubungan kita
dengan Tuhan.
Dan akan hal itu Firman Tuhan pun sudah
menyebutkannya. Lihatlah ayat berikut ini. "perjuangan kita bukanlah
melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan
penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini,
melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Iblis bersama
antek-antek atau kroni-kroninya, kaki tangannya, para penguasa, penghulu
kegelapan alias roh-roh jahat akan siap menghalangi sampainya
pesan-pesan dari Tuhan kepada kita. Mereka ini berlapis-lapis atau
bahkan ada tingkatan-tingkatannya,mulai dari pemerintah, penguasa,
penghulu dan sebagainya. Iblis siap memutus dan merusak hubungan kita
dengan Tuhan lewat manipulasi lewat kelemahan kita. Dia bersembunyi di
balik dosa dan pelanggaran kita, mempengaruhi kita agar menjadi lemah
dengan berbagai tipu muslihatnya. Dan karena itu, kita diingatkan untuk
terus mengenakan perlengkapan senjata Allah agar mampu mengatasinya. (ay
11).
Lalu ingat pula pesan Paulus yang berbunyi: "dan
janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:27). Memberi
kesempatan kepada iblis, kalau bukan sengaja mengundang, kita seringkali
tanpa sadar membuka peluang serta kesempatan bagi iblis untuk masuk
mempengaruhi kita. Kita memberi toleransi-toleransi terhadap dosa,
membuka celah-celah yang bisa dengan mudah dimasuki si jahat.
Itulah
sebabnya kita harus benar-benar menjaga agar tidak ada peluang
sedikitpun bagi iblis. Jangan biarkan si jahat menghambat laju pesan
Tuhan dari KerajaanNya ini agar bisa sampai kepada kita.
Iblis
akan selalu berusaha menghalangi kita dengan segala cara untuk mendengar
pesan Tuhan. Iblis akan dengan segala daya upayanya memutus hubungan
kita dengan Tuhan. Daniel dulu mengalaminya, kita pun bisa menghadapi
itu. Tapi lihatlah bagaimana Tuhan kemudian turut campur lebih jauh
agar pesanNya bisa sampai dengan baik kepada Daniel. Tuhan sanggup untuk
membuat pesanNya tiba dengan selamat kepada kita. Tetapi ingatlah bahwa
kita harus terlebih dahulu mempersiapkan diri kita dengan baik, tetap
mengenakan perlengkapan senjata Allah dan tidak memberi kesempatan
kepada iblis sama sekali. Lalu hendaklah kita seperti Daniel pula, yang
tetap memiliki kerinduan untuk mendapat pengertian dan terus merendahkan
diri di hadapan Tuhan. (Daniel 10:12). Sekarang juga, mari pastikan
agar pesan Tuhan bisa sampai kepada kita tanpa terhalang atau dihalangi
oleh apapun.
Jangan beri ruang dan celah pada iblis dan terus perkuat hubungan kita dengan Tuhan
Wednesday, September 7, 2022
Kurir (2)
Tuesday, September 6, 2022
Kurir (1)
Ayat bacaan: Daniel 10:13
====================
"Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia."
Kalau di jaman dulu cuma ada pak pos dari kantor pos yang bertugas sebagai pengantar kiriman surat atau barang, di jaman sekarang ada banyak lagi perusahaan jasa pengiriman yang melayani transportasi barang. Saya yang membuka toko di beberapa platform belanja online jadi kenal baik dengan para kurir perusahaan jasa ini karena mereka kerap mampir untuk pick up maupun mengantar barang. Tugas mereka ini sepintas terlihat simpel karena hanya menjemput dan mengantar barang saja kan? Tapi sebenarnya kerjaan mereka tidaklah sesimpel itu. Mereka harus benar-benar memastikan jangan ada barang yang terselip, tercecer, ketinggalan, gagal antar, dan yang pasti jangan sampai ada yang hilang, baik yang dipickup maupun yang diantar. Membawa karung-karung berisi paket yang harus di drop ke masing-masing rumah dengan hanya mempergunakan sepeda motor, itu pasti berat dan sulit juga. Tapi kalau ditanya apa yang tersulit bagi mereka, jawabannya hampir semua sama: yaitu cuaca. Mau panas terik, mau hujan lebat, mereka tetap harus jalan mengantar dan menjemput barang. "Kalau nanti lama sampai kami disalahkan, kalau datang hujan-hujan dan paket jadi basah, kami pun disalahkan", ujar salah satu dari mereka. Belum lagi kalau pas diantar orangnya tidak ada di rumah. Selain bisa disalahkan karena paket lama sampai, mereka pun harus kembali lagi di lain waktu yang artinya tugasnya jadi dobel atau lebih, atau rumah yang ada anjing galak. Ada banyak sekali kendala yang harus mereka hadapi untuk menunaikan tugas mereka dengan baik.
Saya pernah juga membaca perjuangan berat para pak pos di jaman perang dimana mereka harus juga mengantarkan surat ke garis depan di masa perang. Ada begitu banyak paket dan surat yang harus dibawa bahkan sampai ke bunker di tengah perang. Ancaman tertembak, kena bom, itu menjadi resiko mereka. Kalau tentara punya senjata, pak pos tidak. Itu membuat mereka lebih terancam karena tidak bisa melawan balik. Sering pula mereka gagal menyampaikan surat karena orang yang dituju ternyata sudah meninggal dalam perang. Kalau sudah begitu, biasanya mereka akan membawa kembali surat kepada si pengirim dengan disertai catatan bahwa orang yang dituju sudah tiada.
Di Perjanjian lama, para malaikat sering diutus Tuhan sebagai pengantar pesan, membawa pesan dari Surga ke bumi, kepada kita orang-orang percaya. Seperti halnya para kurir di atas, apa yang dialami para malaikat inipun berat dan penuh tantangan. Kenapa? Karena iblis sedari dulu hingga sekarang tidak akan pernah berpangku tangan membiarkan pesan dari Tuhan itu sampai kepada kita.
Dalam kitab Daniel kita bisa melihat salah satu contohnya yang disampaikan dengan detail. Pada suatu kali Daniel mendapat sebuah penglihatan di tepi sungai Tigris. Ada sosok malaikat turun menghampiri dia. Daniel melihatnya dengan jelas dan memberikan deskripsi lengkap mengenai malaikat utusan Tuhan yang menjumpainya ini. "kuangkat mukaku, lalu kulihat, tampak seorang yang berpakaian kain lenan dan berikat pinggang emas dari ufas. Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat; matanya seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang digilap, dan suara ucapannya seperti gaduh orang banyak." (Daniel 10:5-6).
Kepada Daniel, sang malaikat menceritakan bagaimana sulitnya ia menerobos halangan penguasa-penguasa udara kerajaan Persia. "Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia." (ay 13). Pemimpin kerajaan Persia ini dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan the prince of Persia, atau roh-roh pelindung kerajaan Persia. Roh-roh ini sempat sukses memperlambat malaikat itu untuk mencapai Daniel seperti yang ditugaskan Allah kepadanya bukan satu-dua jam tapi sampai dua puluh satu hari lamanya. Untunglah kemudian Mikhael, satu dari para pemimpin malaikat datang membantu. Ia kemudian menghadapi serangan anak buah iblis ini sehingga malaikat utusan Tuhan itu bisa lolos untuk meneruskan perjalanannya untuk menjumpai Daniel.
(bersambung)
Monday, September 5, 2022
The Edomites (3)
(sambungan)
Ingatlah selalu bahwa Tuhan sangat tidak suka orang
yang sombong. Firman Tuhan berkata: "Allah menentang orang yang congkak,
tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6). Lewat Paulus
kita diingatkan "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh
berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Jika
kita lupa dan mengira kita boleh sombong atau tinggi hati, itu artinya
kita tengah membiarkan diri kita berjalan menuju kehancuran. Selain itu
Firman Tuhan lewat Salomo berkata "Kecongkakan mendahului kehancuran,
dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Ini hanyalah
sebagian saja dari begitu banyak pesan untuk menghindari sikap angkuh
atau sombong dalam hidup kita, apapun alasannya.
Kita harus
bersyukur saat sukses, kita tentu boleh menikmati keberhasilan atas
hasil kerja keras kita, karir menanjak, bisnis bagus dan meningkat.
Apalagi dalam situasi ekonomi saat deraan penderitaan global akibat
pandemi seperti sekarang ini, bisnis yang masih berjalan apalagi
meningkat tentu merupakan anugerah luar biasa. Benar, kita tentu boleh
menghargai keseriusan dan usaha keras kita, tapi kita harus ingat bahwa
semua itu tidak akan terjadi tanpa perkenanan Tuhan. Sebesar-besarnya
kekuatan atau rasa lebih yang ada saat ini, jangan sampai itu membuat
kita lupa diri kemudian berubah sikap menjadi sombong. Karena kalau
sampai Tuhan marah karena sikap buruk kita tersebut, kita bisa habis
dalam sekejap mata. Dia bisa menjungkir-balikkan semuanya dalam seketika
semudah membalik telapak tangan. Kehancuran atau kejatuhan yang
terjadi bisa sangat serius, karena seringkali bukan hanya terjadi untuk
pribadi atau individu saja, tapi bisa menjadi kolektif bahkan menimpa
satu bangsa besar sekalipun, seperti yang terjadi pada bangsa Edom.
Inilah yang harus kita sikapi dengan baik agar kehidupan kita bisa jauh
dari murka Tuhan melainkan terus diberkati Tuhan hingga kesudahannya.
Selanjutnya
ingat pula bahwa kita diselamatkan untuk menyelamatkan. Kita diberkati
untuk memberkati. Semua itu bukanlah untuk ditimbun sendiri, apalagi
kalau malah dipakai untuk menyombongkan diri. Bukan karena kekuatan dan
kehebatan kita, tapi semua itu berasal dari Tuhan. Oleh karena itulah
kita jangan sampai merasa berada di atas angin lantas menjadi sombong
dan mengabaikan bahwa keberhasilan tetap merupakan berkat dari Tuhan.
Bukankah kepandaian kita pun berasal dari anugerahNya juga? Bukankah
kesehatan untuk terus bisa bekerja keras dan berusaha, segala
peluang-peluang yang terbuka, kepintaran kita dalam berpikir,
talenta-talenta yang kita miliki, itupun semuanya berasal dari Tuhan?
Bukankah keadaan baik kita, kondisi aman, tenang jauh dari kesulitan
hidup juga merupakan karunia Tuhan? Jika demikian, sesungguhnya tidak
ada alasan apapun yang bisa membuat kita berhak menjadi sombong.
Firman
Tuhan berkata "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari
padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim:
direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur
75:7-8). Perkara naik dan turun sesungguhnya berada dalam keputusan
Tuhan. Maka dari itu Petrus berkata "Karena itu rendahkanlah dirimu di
bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada
waktunya." (1 Petrus 5:6). Tanpa Tuhan kita tidak akan mungkin bisa
mempertahankan apa yang sudah sukses kita peroleh hari ini, tidak peduli
sehebat apapun diri kita. Semua itu bisa berlalu dari kita, lenyap
tanpa bekas dalam sekejap saja.
Berkaca pada konsekuensi
mengenaskan yang diterima bangsa Edom, marilah kita semua menjaga diri
kita untuk terhindar dari kesombongan, sikap angkuh, tinggi hati,
bersenang diatas penderitaan orang dan lain-lain. Pakai segala yang
diberikan Tuhan untuk anda bukan untuk membanggakan atau meninggikan
diri tetapi untuk menjadi saluran berkat buat orang lain, menjadi terang
dan garam dimana anda ditempatkan. Pakailah semua itu untuk memuliakan
Tuhan.
Kesombongan itu mendahului kehancuran
Sunday, September 4, 2022
The Edomites (2)
(sambungan)
Menyadari keuntungan teritorial mereka secara
geografis, orang Edom merasa sangat aman. Bukannya bersyukur, mereka
malah terjerumus pada sikap lupa diri dan sombong. Mereka berpikir bahwa
tidak akan ada bangsa manapun yang akan mampu menandingi mereka.
Jangankan menandingi atau menyerang, mengganggu saja mereka yakin tidak
akan ada yang berani.
Ironisnya, meski bangsa Edom ini memiliki
hubungan darah dengan Israel, tetapi kedua bangsa ini tidaklah harmonis.
Ketidakakuran mereka sudah terjadi sejak jaman nenek moyang mereka dan
terus berlanjut ke generasi-generasi berikutnya.
Pada suatu kali
nabi Obaja mendapat sebuah penglihatan mengenai situasi yang bisa
menghancurkan negeri Edom. Dari Tuhan ia mengetahui bahwa Tuhan sedang
mengirim utusan ke tengah bangsa itu untuk memeranginya. Beginilah yang
pesan yang ia dapat dari Tuhan. "Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil
di antara bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat." (ay 2).
Mengapa
Tuhan sampai sebegitu marah? Obaja menyatakan bahwa itu disebabkan
Tuhan sangat tidak berkenan melihat keangkuhan bangsa itu. Demikian
Tuhan berkata: "Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau
yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi;
engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku
ke bumi?" (ay 3).
Kesombongan atau keangkuhan bangsa ini muncul
hanya karena mereka punya posisi strategis di gunung dengan tebing
terjal dan jurang. Itu membuat mereka sombong dan merasa tidak ada
kekuatan apapun yang bisa menandingi mereka. Mereka lupa bahwa meski
keadaan geografis yang strategis dan terlihat sangat aman, kekuatan
mereka tidaklah berarti apa-apa dibanding kekuatan Tuhan yang memiliki
kuasa diatas segala-galanya. Kesombongan mereka ternyata menjadi
perhatian serius dari Tuhan. Begitu tidak sukanya Tuhan atas sikap
mereka hingga siap menjatuhkan hukuman. "Sekalipun engkau terbang
tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan
di antara bintang- bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau,
--demikianlah firman TUHAN." (ay 4).
Kenapa Tuhan sampai semarah
itu? Sejauh mana sebenarnya kesombongan mereka sampai mendatangkan murka
Tuhan jatuh atas mereka? Kalau hanya melihat dari bagian ini saja,
kemarahan Tuhan bisa terlihat seperti hanya dipicu oleh keangkuhan atau
arogansi bangsa Edom atas kelebihan kondisi geografis mereka. Tapi
sebenarnya, kalau kita baca lebih jauh Obaja pasal 1 kita bisa melihat
bahwa bangsa ini memang sudah keterlaluan sombongnya.
Dalam ayat
11-14 kita bisa membaca bahwa mereka memandang rendah saudara-saudaranya
orang Yehuda saat mengalami serangan bangsa lain. Mereka bukannya
menolong atau setidaknya bersimpati, tapi malah senang melihat
kehancuran Yerusalem yang diserang dan dirampas kekayaannya. Tidak
sampai disitu, mereka bahkan menghadang orang-orang Yehuda yang berhasil
melarikan diri, menangkap dan menyerahkan mereka pada lawan. Bukan main
jahat dan angkuhnya mereka, dan lihatlah ada berapa banyak prinsip
Allah yang sebenarnya sudah mereka langgar.
Jadi tidaklah mengherankan kalau Allah sampai marah. Apa yang turun sebagai murka Allah pada bangsa Edom sangat mengenaskan. Kita bisa lihat bahwa Tuhan akan menurunkan/merendahkan mereka (ay 4), akan diserang/diperangi (ay 1), orang-orang bijaksananya akan dilenyapkan dan para pahlawannya akan terbunuh, dan harta kekayaan bangsa itu akan disapu habis para musuh (ay 5-7). Puncaknya, Tuhan menyatakan bahwa akibat kekejaman mereka terhadap bangsa Yehuda, bangsa Edom akan dilenyapkan untuk selama-lamanya (ay 10), dibinasakan dan dicela orang sepanjang jaman (versi BIS). Semua nubuatan ini kemudian terbukti. Bangsa Edom sudah lama punah. Hari ini puing-puing yang tinggal dari sebuah bangsa yang tadinya makmur hanya menjadi saksi bisu bagaimana mengerikannya saat hukuman Tuhan turun akibat kesombongan satu bangsa.
(bersambung)
Saturday, September 3, 2022
The Edomites (1)
Ayat bacaan: Obaja 1:3
==============
"Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?"
Dalam politik di jaman manapun akan ada orang-orang yang dianggap 'the untouchables'. Kata untouchable yang berarti 'tak tersentuh' ini diberikan pada orang-orang yang sepertinya tak tersentuh oleh hukum. Mereka merasa bisa berbuat seenaknya, segala pelanggaran mereka sepertinya tak terlihat oleh hukum. Mereka biasanya ada di kalangan elit politik kelas atas, orang-orang berkuasa atau bisa juga orang yang punya koneksi dengan orang-orang berpengaruh. Ada yang punya jaringan seperti mafia, ada juga yang kalau digoyang bisa membuat stabilitas negara menjadi riskan. Biasanya mereka ini memiliki faktor-faktor yang kuat hingga tak tersentuh seperti harta, jabatan, relasi, koneksi, kekuasaan dan sebagainya. Semua itu bisa membuat orang berada di atas hukum dan keadilan. Mungkin untuk masa tertentu mereka bisa sombong dan tertawa, tapi akan ada saatnya mereka yang untouchables ini kena batunya juga. Yang sekelas Al Capone saja akhirnya diringkus oleh sekelompok aparat yang memegang integritas dan tidak bisa disuap atau diimingi apapun. Dan kita terus melihat satu persatu dari mereka yang selama ini untouchables tetap harus berhadapan dengan hukum. Sekarang mungkin masih bisa sombong, tapi semua kejahatan akan selalu mendapat ganjaran. Kalau tidak di dunia, nanti di akhirat tetap saja semua itu harus dipertanggungjawabkan.
Dunia memang cenderung memandang pada tingkatan. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin. Yang berkuasa menindas yang tidak. Itu terjadi dimana-mana sejak lama. Pola ini bahkan sudah terjadi di kalangan anak-anak, baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar. Dengan pola seperti ini yang sudah lama dan luas, tidaklah heran kalau kesombongan menjadi sesuatu yang terlihat biasa saja, dan meski kita kesal tetap dianggap wajar dilakukan oleh mereka yang punya pengaruh. They feel untouchable. They feel above the law. Sekali lagi, di dunia mungkin ya, tapi apakah mereka lupa bahwa ada penghakiman yang lebih besar dari apapun yang harus mereka hadapi pada suatu saat, yaitu penghakiman Tuhan? Manusia bisa dikuasai, bisa ditekan, bisa dibeli, tapi Tuhan tidak akan pernah bisa. Tidak ada satupun hal yang dimiliki manusia yang mampu membeli keadilan Tuhan.
Kesombongan bisa terjadi pada individu, kelompok atau golongan, organisasi bahkan negara yang merasa di atas angin. Kalaupun belum sampai masuk kategori untouchable, kesombongan pun sudah menjangkiti orang-orang biasa. Kapan orang biasanya menjadi angkuh atau sombong? Biasanya ini menjadi penyakit yang timbul ketika orang mulai atau sudah sukses. Berhasil dalam karir, bisnis, atau aspek-aspek kehidupan lainnya. Atau ketika orang mulai punya sesuatu yang lebih dari orang lain. Tidaklah heran apabila kita melihat orang yang tiba-tiba berubah sikapnya begitu mereka mencapai keberhasilan. Mengandalkan uang atau harta, jabatan dan koneksi, itu jadi kartu as untuk bisa berbuat seenaknya, bebas melanggar peraturan tanpa mendapat ganjaran. Kita harus hati-hati dari sikap yang mudah merasuki dan menguasai diri kita ini, sebuah sikap yang menyelinap dari sesuatu yang seharusnya kita syukuri. Ya, kesombongan itu sangat mudah muncul dan seringkali tidak direncanakan, dipikirkan atau disadari. Siapapun kita, untouchables atau bukan, jika kita bersikap sombong maka murka Tuhan bisa sama menimpa semuanya tanpa pandang bulu.
Hari ini saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat konsekuensi dari kesombongan sebuah bangsa yang bernama Edom.
Siapa bangsa Edom ini? Bangsa Edom adalah bangsa yang berasal dari keturunan Esau dan membangun tempat tinggalnya di atas gunung. Letak wilayah mereka itu ada di ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan laut. Kontur tempatnya ada di tebing terjal dengan jurang yang dalam. Kalau ditinjau dari segi geografis, Edom jelas sangat diuntungkan karena berada pada posisi yang sangat strategis dan aman. Pada waktu itu belum ada bom, rudal atau pesawat tempur sehingga mereka bisa dengan mudah menyapu bersih siapapun yang menyerang dari bawah.
(bersambung)
Friday, September 2, 2022
Cerminan (2)
(sambungan)
Perhatikan bagaimana kedua rasul yaitu Petrus dan
Yohanes pada saat itu dikenal orang. Mereka dikenal bukan sebagai orang
terpelajar, bukan seperti para imam dan orang Saduki, orang-orang yang
merasa 'pintar' baik dalam hal keagamaan, merasa mereka adalah juru
kunci surga, paling suci dan lain-lain, juga punya posisi tinggi di
masyarakat. Tapi secara jelas Alkitab mencatat bahwa kedua rasul juga
dikenal sebagai pengikut Kristus, dan status sebagai pengikut Kristus
ini ternyata membuat mereka tampil beda sehingga mengherankan para
petinggi agama saat itu. Secara jelas citra Kristus tergambar dari cara
hidup, pikiran dan perkataan mereka. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?
Keduanya dibebaskan karena memang tidak ada kesalahan apapun yang bisa
didakwa dari mereka. (ay 21).
Mau disadari atau tidak, tingkah
dan polah, lagak dan gaya kita dalam bermasyarakat akan mengarah kepada
pengenalan orang akan Kristus. Maka kita perlu menjaga perilaku kita
agar orang tidak salah mengenal siapa pribadi Kristus itu sebenarnya.
Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita agar selalu siap menjadi terang
dan garam. "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar,
dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan
diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas
gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita
lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian
sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya
terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu
yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:13-16).
Garam hanya akan berfungsi jika bercampur dengan makanan. Dan jika garam menjadi hambar maka garam akan kehilangan fungsi dan tujuannya. Demikian pula dengan terang. Terang hanya akan berfungsi dalam gelap. Jika semuanya terang benderang, untuk apa lagi kita menambahkan terang? Dan jika terang disembunyikan atau ditutupi, apakah gunanya terang itu? Tuhan Yesus pun mengingatkan kita agar kita senantiasa mampu menjadi terang dan garam agar Tuhan bisa dipermuliakan. Lebih jauh lagi,
Yesus
pun telah memerintahkan kita untuk saling mengasihi. Bukan hanya
sekedar mengasihi orang lain seperti mengasihi diri kita sendiri saja,
melainkan mengasihi orang lain seperti halnya Kristus sendiri telah
mengasihi kita. "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya
kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian
pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Hal ini penting,
karena "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah
murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (ay 35). The world
should be able to know that we are His disciples if we applied love to
one another, that's where they can see the real image of Jesus through
us.
Tidak peduli apa pekerjaan, jabatan, status dan tempat kita
saat ini, kita selalu dituntut untuk siap menjadi terang dan garam yang
bisa mewakili gambaran Kristus di dunia saat ini. Bahkan orang yang
dianggap bodoh atau tidak terpelajar, yang dianggap tak berguna bagi
dunia sekalipun bisa Tuhan pakai. "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia,
dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang
lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat." (1
Korintus 1:27). Artinya, siapapun kita, anda dan saya, kita harus selalu
siap menjadi duta Kristus dimanapun kita ditempatkan dan mencerminkan
image Yesus secara benar di dunia. Alangkah ironis jika Yesus yang
mengasihi kita justru mendapat gambaran yang salah di dunia lewat
perilaku kita. Yesus sendiri telah mengingatkan kita dan telah
memberikan keteladanan yang luar biasa. Kita harus terus berusaha untuk
menjadi sosok yang penuh dengan kemuliaan Tuhan sehingga tidak diragukan
oleh siapapun disekeliling kita. Sudah seharusnya demikian, karena kita
sudah menjadi ciptaan baru, tidak lagi sama dengan dunia ini, yang
dipenuhi Roh Kudus.
Jagalah perilaku kita agar Tuhan senantiasa dipermuliakan di dalamnya, bukan dipermalukan
Thursday, September 1, 2022
Cerminan (1)
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 4:13
============================
"Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus."
Perhatikan bagaimana anak kecil seringkali diasosiasikan dengan orang tuanya .Ketika si anak berperilaku baik maka orang tuanya yang dipuji, sebaliknya jika ada yang bandel maka kerap orang tuanya yang disalahkan. Artinya, seperti apa tingkah laku si anak akan memberi gambaran orang tuanya di mata orang lain. Itu saat ia masih kecil. Setelah ia tumbuh dewasa, maka sikap, perbuatan dan tindakannya akan menentukan apakah ia nantinya menjadi orang yang disukai, diidolakan atau dijauhi dan dimusuhi. Jadi, tidak ada jalan lain bagi kami orang tuanya untuk terus menanamkan nilai dan prinsip kebenaran Kerajaan Allah itu sejak dini, dan kami terus memastikan bahwa semua itu bukan hanya teoritis saja melainkan lewat contoh dan keteladanan yang akan selalu bisa ia saksikan lewat orang tuanya. Akan sangat memalukan apabila kami berharap anak kami bisa seperti itu tapi kami gagal memberi contoh. Karena itulah, semua yang kami ajarkan harus terlebih dahulu kami lakukan, sehingga ia akan bisa melihat korelasi dari apa yang kami ajarkan dengan apa yang ia lihat dari kedua orang tuanya. Bagi kami orang tuanya, hal itu kami anggap sebagai warisan terbesar yang bisa kami berikan kepadanya.
Seperti apa orang mengenal kita hari ini? Apakah kita dikenal sebagai orang yang menyenangkan, baik, ramah, damai, penuh kasih, bukan orang yang hidup dengan topeng, mementingkan orang lain ketimbang diri sendiri, sosok yang toleran, rajin menolong sesama atau justru sebaliknya, kasar, sombong dan penuh kebencian, suka gosip, hobi menjelek-jelekkan orang lain, merasa diri paling benar sendiri, paling tahu, atau bahkan biang kerok alias sumber masalah dimanapun kita ada? Apakah ketika kita hadir orang merasa senang atau sebaliknya ketakutan atau malah bikin mood langsung drop begitu wajah kita nongol?
Seorang anak akan selalu mencerminkan orang tuanya. Dan sadarilah bahwa bagaimana kita hidup akan menjadi cermin dari Tuhan yang kita sembah. Sebagai pengikut Yesus, seperti apa citra kita di mata orang lain mau tidak mau akan mengarahkan orang untuk mengenal seperti apa Yesus itu. Sebagai orang percaya, kita akan mencerminkan kepada siapa kita beriman. Dengan kata lain, orang bisa, dan akan mengenal Yesus lewat pribadi kita.
Mari kita saksikan sebuah kejadian yang dicatat dalam Alkitab, yaitu pada saat Petrus dan Yohanes ditangkap oleh para imam kepala dan orang Saduki saat mereka sedang mengajar. Para imam kepala dan orang Saduki merasa terganggu dengan kegiatan kedua rasul itu dalam mewartakan kabar gembira mengenai Kristus. Penangkapan itu ternyata tidaklah melemahkan mental mereka. Tapi Alkitab mencatat tanggapan orang-orang yang hadir dalam persidangan kala itu. "Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus." (Kisah Para Rasul 4:13).
(bersambung)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...



