Monday, August 7, 2017

Korah dan Keangkuhannya (1)

Ayat bacaan: Bilangan 16:33
==========================
"Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu."      

                                                                                                                                                                 

Saya adalah orang yang suka membangun, meski saya bukan kontraktor atau tukang bangunan. Saya menikmati proses seringkali lebih dari hasil. Ketimbang memulai langsung gede, saya lebih suka merintis dari kecil, lalu seiring waktu membangunnya perlahan, memastikan adanya peningkatan pada tiap langkah agar lebih banyak lagi orang yang bisa merasakan hasilnya. Ada kalanya sesuatu yang sudah lama saya rintis, bangun dan rawat seperti mengurus anak itu kemudian tidak bisa berlanjut dan harus pindah ke tempat lain. Itu salah satu realita hidup dalam salah satu panggilan saya yang diwujudkan dengan mengadakan event untuk anak-anak muda yang punya hobi bermusik. Yang saya pastikan adalah, meski mungkin saya harus berpindah tempat, saya ingin acara tersebut tidak kehilangan jati dirinya sebagai acara yang sehat dan bersahabat bagi siapapun. Saya tidak harus mengulang lagi melainkan melanjutkan di tempat yang baru. Dan saya menjaga betul agar jangan sampai ada kesombongan sedikitpun pada diri saya, karena itu akan menghancurkan apa yang sudah saya bangun selama ini, termasuk pula menghancurkan diri sendiri. Kesuksesan sekecil apapun itu seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan bukan untuk menjadikan kita sombong. Setiap peningkatan hendaknya menjadikan kita bisa memberkati orang lebih banyak lagi.

Ada banyak orang yang hancur dalam sekejap setelah mati-matian membangun karirnya lama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun hanya karena lengah atau terlena atas kesuksesan yang tengah dirasakan. Lihatlah begitu banyaknya para pelaku dunia hiburan yang melesat menuju ketenaran tapi kemudian menghujam membentur bumi dalam sekejap karena melakukan hal-hal buruk. Obat terlarang dan skandal mungkin merupakan penyebab yang paling sering mendatangkan bencana sehingga karirnya harus berakhir jauh lebih cepat dari selanjutnya. Ada yang ditangkap, atau kemudian mengalami kecelakaan, atau ada juga yang citranya rusak sedemikian rupa sehingga sulit untuk dipulihkan lagi. Semua itu datang sebagai resiko akibat kesalahan yang ia perbuat sendiri. Sungguh amat disayangkan sesuatu yang telah dibangun harus hancur dalam sekejap mata karena kebodohan sendiri. Terlena dalam kesuksesan bisa membuat orang lupa diri. Kesombongan menguasai diri, menjadi lengah terhadap dosa, dan itu akan menggagalkan usaha kita untuk menggenapi rancangan Tuhan. Menghancurkan apa yang sudah begitu lama kita bangun dengan susah payah, bahkan bisa menjadi sangat fatal akibatnya.

Betapa besar bahayanya bisa kita pelajari lewat kejatuhan Korah. Korah mengawali langkahnya dengan sangat baik. Pada awalnya ia merupakan seorang pemimpin yang cukup berpengaruh di masa ketika Israel keluar dari Mesir. Seperti halnya orang Lewi lainnya, Korah dipercaya untuk melakukan pekerjaan pada Kemah Suci Tuhan, bertugas melayani umat. Dengan status seperti itu dengan sendirinya Korah mendapat kepercayaan yang lebih tinggi di banding orang Israel lainnya. Tidak semua orang bisa melakukan pekerjaannya, seharusnya ia memandang hal tersebut sebagai suatu kehormatan yang sepantasnya disyukuri dan dipertanggungjawabkan dengan sungguh-sungguh.

Sayang sekali Korah tidak berpikir seperti itu. Bukannya menghargai kepercayaan yang diberikan atas dirinya, Korah malah tersungkur dalam dosa pemberontakan. Ia menjadi lupa akan hakekat kepercayaan yang telah diberikan Tuhan kepadanya setelah sukses menjalaninya. Ia menghargai dirinya sendiri secara berlebihan dan kemudian gagal mengenal dan memperhatikan batasan yang telah ditetapkan Tuhan baginya. Ia lupa kepada apa yang menjadi garis tugasnya dan berubah menjadi angkuh.

Korah merencanakan makar. Ia "mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan." (Bilangan 16:1-2). Mengapa ia memberontak? Karena ia merasa dirinya hebat diatas orang lain dan haus akan jabatan. Ia dan rekan-rekannya merasa iri kepada Musa. Mereka tidak lagi menerima fakta bahwa Musa dipilih Tuhan dan menginginkan posisi Musa.

Lantas Musa pun menegur mereka: "Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?" (ay 9-10).

(bersambung)


Sunday, August 6, 2017

Belajar dari Bangsa Edom (2)

(sambungan)

Kemarahan Tuhan tampaknya dipicu oleh keangkuhan atau arogansi bangsa Edom dari kondisi geografis mereka. Tapi sebenarnya, kalau kita baca lebih jauh Obaja pasal 1 kita bisa melihat bahwa bangsa ini memang sudah keterlaluan sombongnya. Dalam ayat 11-14 kita bisa membaca bahwa mereka memandang rendah saudara-saudaranya orang Yehuda saat mengalami serangan bangsa lain. Mereka bukannya menolong atau setidaknya bersimpati, tapi malah senang melihat kehancuran Yerusalem yang diserang dan dirampas kekayaannya. Tidak sampai disitu, mereka bahkan menghadang orang-orang Yehuda yang berhasil melarikan diri, menangkap dan menyerahkan mereka pada lawan. Bukan main jahatnya, dan lihatlah ada berapa banyak prinsip Allah yang mereka langgar.

Maka tidak heran kalau Allah pun marah. Kita bisa lihat bahwa Tuhan akan:
menurunkan/merendahkan mereka (ay 4)
- diserang/diperangi (ay 1)
orang-orang bijaksananya akan dilenyapkan dan para pahlawannya akan terbunuh, dan harta kekayaan bangsa itu akan disapu habis para musuh (ay 5-7).
- Puncaknya, Tuhan menyatakan bahwa akibat kekejaman mereka terhadap bangsa Yehuda, bangsa Edom akan dilenyapkan untuk selama-lamanya (ay 10), dibinasakan dan dicela orang sepanjang jaman (versi BIS).

Semua nubuatan ini terbukti. Bangsa Edom sudah lama punah. Hari ini puing-puing yang tinggal dari sebuah bangsa yang tadinya makmur menjadi saksi bisu bagaimana mengerikannya saat hukuman Tuhan turun akibat kesombongan satu bangsa.

Tuhan sangat tidak suka orang yang sombong. Firman Tuhan berkata: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6). Lewat Paulus kita sudah diingatkan "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Jika kita lupa dan mengira kita boleh sombong atau tinggi hati, itu artinya kita tengah membiarkan diri kita berjalan menuju kehancuran. Firman Tuhan lewat Salomo berkata "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Ini hanyalah sebagian saja dari begitu banyak pesan untuk menghindari sikap angkuh atau sombong dalam hidup kita, apapun alasannya.

Kita harus bersyukur saat sukses, boleh menikmati keberhasilan atas hasil kerja keras kita, karir menanjak, bisnis bagus dan meningkat. Apalagi dalam situasi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini, bisnis yang masih meningkat tentu merupakan anugerah luar biasa. Benar, kita boleh memberi kredit atas keseriusan dan usaha keras kita, tapi kita harus ingat bahwa semua itu tidak akan terjadi tanpa perkenan Tuhan. Sebesar-besarnya kekuatan atau rasa aman, jangan sampai itu membuat kita lupa diri kemudian berubah sikap menjadi sombong. Karena kalau kita berhadapan dengan Tuhan karena sikap buruk kita tersebut, kita bisa habis dalam sekejap mata. Dia bisa menjungkir-balikkan semuanya dalam seketika semudah membalik telapak tangan.  Kehancuran atau kejatuhan yang terjadi bisa sangat serius, karena seringkali bukan hanya terjadi untuk pribadi atau individu saja, tapi bisa menjadi kolektif bahkan menimpa satu bangsa besar sekalipun, seperti yang terjadi pada bangsa Edom. Inilah yang harus kita sikapi dengan baik agar kehidupan kita bisa jauh dari murka Tuhan melainkan terus diberkati Tuhan hingga kesudahannya.

Ingtlah bahwa kita diselamatkan untuk menyelamatkan. Kita diberkati untuk memberkati. Semua itu bukanlah untuk ditimbun sendiri, apalagi kalau malah dipakai untuk menyombongkan diri. Bukan karena kuat dan hebat kita, bukan karena kepandaian atau kehebatan kita, tapi semua itu berasal dari Tuhan. Oleh karena itulah kita jangan sampai merasa berada di atas angin lantas menjadi sombong dan mengabaikan bahwa keberhasilan tetap merupakan berkat dari Tuhan. Bukankah kepandaian kita pun berasal dari anugerahNya juga? Bukankah kesehatan untuk terus bisa bekerja keras, peluang-peluang yang terbuka, kepintaran kita dalam berpikir, talenta-talenta yang kita miliki, itupun semuanya berasal dari Tuhan? Bukankah keadaan baik kita, kondisi aman, tenang jauh dari kesulitan hidup juga merupakan karunia Tuhan? Kalau begitu, tidak ada alasan apapun yang bisa membuat kita berhak menjadi sombong.

Firman Tuhan berkata "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Perkara naik dan turun sesungguhnya berada dalam keputusan Tuhan. Maka dari itu Petrus berkata "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." (1 Petrus 5:6). Tanpa Tuhan kita tidak akan mungkin bisa mempertahankan apa yang sudah sukses kita peroleh hari ini, tidak peduli sehebat apapun diri kita. Dalam sekejap mata semua itu bisa berlalu dari kita, lenyap tanpa bekas.

Dengan berkaca pada konsekuensi mengenaskan yang diterima bangsa Edom, mari kita menjaga diri kita untuk terhindar dari kesombongan, sikap angkuh, tinggi hati, dendam, bersenang diatas penderitaan orang dan sejenisnya. Pakai segala yang diberikan Tuhan untuk anda bukan untuk membanggakan atau meninggikan diri tetapi untuk menjadi saluran berkat buat orang lain, menjadi terang dan garam dimana anda ditempatkan, dan pakai semua itu untuk memuliakan Tuhan.

Kesombongan mendahului kehancuran

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, August 5, 2017

Belajar dari bangsa Edom (1)

Ayat bacaan: Obaja 1:3
==============
"Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?"

Dalam politik ada orang-orang yang dianggap untouchable. Kata untouchable atau 'tak tersentuh' ini disematkan kepada orang-orang yang tampaknya tidak tersentuh hukum. High rank, high power people, yang bisa berbahaya bahkan menggoyang sebuah bangsa jika diusik. Ada yang punya jaringan seperti mafia, ada juga yang bukan cuma tidak tersentuh tapi juga tidak terlihat. Biasanya kalau mereka mulai bersentuhan dengan hukum lewat pelanggaran, beritanya akan segera cepat menguap sehingga tidak lagi diingat orang, bahkan seperti tidak pernah ada. Apa yang membuat mereka kuat? Bisa banyak. Harta, jabatan, relasi, koneksi, kekuasaan, semua itu bisa membuat orang berada di atas hukum dan keadilan. Dunia memang cenderung memandang pada tingkatan. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin. Itu terjadi dimana-mana sejak lama. Bahkan anak SD saja sudah harus menghadapi bully dari kakak kelas atau temannya yang kebetulan punya postur lebih atau punya gang berkuasa. Kalau sudah begitu powerful sampai bisa tidak tersentuh, mereka akan merasa bisa bertindak seenaknya. Kesombongan akan dengan serta merta menjadi standar perilaku mereka. Di dunia ada orang-orang yang untouchable, dan mungkin jika mereka begitu kuat, tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang bisa menghukumnya. Di dunia mungkin ya, tapi jangan lupa bahwa ada penghakiman yang lebih besar dari apapun yang harus mereka hadapi pada suatu saat, yaitu penghakiman Tuhan. Manusia bisa dikuasai, bisa ditekan, bisa disogok, tapi Tuhan tidak akan pernah bisa dibegitukan, tak peduli berapapun harta yang seseorang punya dan sebesar apapun kuasanya.

Kesombongan bisa menimpa individu, kelompok atau golongan, organisasi bahkan negara yang merasa di atas angin. Kalaupun belum sampai masuk kategori untouchable, kesombongan bisa menjangkiti orang-orang biasa. Kapan orang biasanya menjadi angkuh atau sombong? Biasanya ini menjadi penyakit yang timbul ketika orang mulai atau sudah sukses. Berhasil dalam karir, bisnis, atau aspek-aspek kehidupan lainnya. Tidaklah heran apabila kita melihat orang yang tiba-tiba berubah sikapnya begitu mereka mencapai keberhasilan. Mengandalkan uang atau harta, jabatan dan koneksi, itu jadi kartu as untuk bisa berbuat seenaknya, bebas melanggar peraturan tanpa mendapat ganjaran. Siapapun mereka atau apapun bentuknya, murka Tuhan bisa sama menimpanya tanpa pandang bulu. Hari ini saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat konsekuensi dari kesombongan sebuah bangsa bernama Edom.

Bangsa Edom berasal dari keturunan Esau dan membangun bangsanya di atas gunung. Tingginya lebih dari 600 meter di atas permukaan laut. Kontur tempatnya ada di tebing terjal dengan jurang yang dalam. Kalau ditinjau dari segi geografis, Edom sangat diuntungkan karena berada pada posisi yang sangat strategis dan aman. Pada waktu itu belum ada rudal, bom atau pesawat tempur sehingga mereka bisa dengan mudah menyapu bersih siapapun yang menyerang dari bawah. Menyadari ini, orang Edom merasa sangat aman sehingga lupa diri dan sombong. Mereka berpikir bahwa tidak akan ada bangsa manapun yang akan mampu menandingi mereka. Jangankan menandingi atau menyerang, mengganggu pun harus pikir panjang dan lama dulu.

Ironisnya, meski bangsa Edom ini memiliki hubungan darah dengan Israel, tetapi kedua bangsa ini tidaklah harmonis. Ketidakakuran mereka sudah terlihat sejak nenek moyangnya yang terus berlanjut ke generasi-generasi berikutnya.

Pada suatu kali Obaja mendapat sebuah penglihatan mengenai situasi yang bisa menghancurkan negeri Edom. Lewat Tuhan ia mengetahui bahwa Tuhan sedang mengirim utusan ke tengah bangsa itu untuk memeranginya. Beginilah bentuk murka Tuhan. "Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat." (ay 2).

Mengapa Tuhan sampai sebegitu marah? Obaja menyebutkan bahwa itu karena Tuhan sangat tidak berkenan melihat keangkuhan bangsa itu. Demikian Tuhan berkata: "Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?" (ay 3). Kesombongan atau keangkuhan bangsa ini muncul hanya karena mereka punya posisi strategis di gunung dengan tebing terjal dan jurang. Itu membuat mereka arogan, tidak ada kekuatan apapun yang bisa menandingi mereka. Mereka lupa bahwa meski keadaan geografis yang strategis dan terlihat sangat aman, kekuatan mereka tidaklah berarti apa-apa dibanding kekuatan Tuhan yang memiliki kuasa diatas segala-galanya. Kesombongan mereka ternyata menjadi perhatian serius dari Tuhan yang siap menjatuhkan hukuman bagi mereka. "Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang- bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, --demikianlah firman TUHAN." (ay 4).

(bersambung)


Friday, August 4, 2017

Pengujian (2)

(sambungan)

Bayangkan bagaimana bahayanya kesehatan kita kalau tidak pernah kita periksa atau perhatikan dengan baik. Betapa berbahaya kalau kita tidak pernah berolahraga tapi terus membiarkan hal-hal yang merusak kesehatan kita silih berganti masuk dalam tubuh kita. Itu dari sisi jasmani. Rohani pun sama. Kondisi rohani kita perlu diperiksa atau diuji secara teratur. Bayangkan ada berapa banyak bahaya yang mengancam apabila iman kita mampet seperti saringan yang tidak pernah dibersihkan. Hanya pada saat kita berani menguji atau memeriksa diri sendiri kita akan bisa melihat dimana dan bagaimana tingkat keimanan kita saat ini. Itu artinya kita berani melihat segala sesuatu dari diri kita, yang baik maupun yang buruk. Itu artinya kita berani melihat kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan kita, disitulah kita akan dapat mengambil langkah untuk melakukan perbaikan. Dan hasilnya jelas, kita akan lebih kuat, lebih tahan uji dibandingkan orang yang tidak pernah peduli terhadap kebugaran rohaninya sendiri.

Daud ternyata paham betul akan pentingnya memeriksa diri sendiri. Lihat betapa ia berani meminta Tuhan untuk menguji dan memeriksa dirinya. "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku." (Mazmur 26:2). Dalam kesempatan lain ia berkata "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (139:23-24). Kalau ia berani meminta Tuhan memeriksa dan mengujinya, tentu ia sudah rajin melakukan itu dan meminta Tuhan memastikan apakah hati dan batinnya sudah bersih atau belum. Sebab, bagaimana jadinya kalau saat meminta Tuhan menguji dan menyeldiki batin anda hati kita, ternyata isinya masih penuh kecemaran? Setelah menguji, mendapati bagian-bagian yang bermasalah lalu memperbaiki dan memurnikannya, kita bisa meminta Tuhan untuk menguji agar sempurna, siapa tahu masih ada hal-hal buruk yang masih luput dari perhatian kita.

Kapan sebaiknya waktu yang paling tepat untuk menguji diri? Anda bisa memilih waktu yang terbaik dimana anda biasanya bisa berkonsentrasi sepenuhnya tanpa ada gangguan dari lingkungan sekitar. Ada yang memilih malam hari sebelum tidur, bagi sebagian lagi mungkin lebih nyaman pada waktu saat teduh di pagi hari. Apakah saat beristirahat kerja? Sehabis pulang? Anda bisa atur waktu yang anda anggap terbaik untuk itu. Jika ternyata anda sulit mencari waktu yang tepat, itu artinya anda perlu menata ulang waktu dan urutan prioritas anda. Yang pasti, menguji diri secara berkala merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan.

Ada banyak ancaman dan godaan dalam hidup yang cepat atau lambat bisa membuat kita jatuh. Daya tahan kita terhadap berbagai serangan ini akan sangat tergantung dari sejauh mana tingkat keimanan kita. Apakah Yesus masih tinggal berdiam dalam diri kita atau kita sudah tidak lagi punya tempat bagi Dia karena ada banyak hal-hal dan keinginan lain yang menduduki semua ruang di hati kita, itu akan sangat menentukan bagaimana reaksi kita dalam menghadapi setiap gangguan, godaan dan ancaman dalam menjalani hidup.

Oleh karena itu tetaplah rajin memeriksa, menguji diri sendiri secara rutin. Akan jauh lebih mudah memperbaikinya selagi masih ringan sebelum kerusakan semakin bertambah parah dan sudah terlanjur sulit untuk diperbaiki. Jika anda belum pernah melakukannya, lakukan sekarang juga selagi masih ada kesempatan. Jika masih jarang, pastikan agar anda menjadikannya kegiatan rutin secara berkala. Pastikan agar identitas diri anda tetap tegak dalam iman dan Yesus masih ada dalam diri anda agar anda bisa tetap melangkah kuat meski menghadapi badai sekuat apapun.

Rajin menguji iman akan sangat menentukan sekuat apa daya tahan kita dalam menghadapi cobaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, August 3, 2017

Pengujian (1)

Ayat bacaan: 2 Korintus 13:5
======================
"Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji."

Untuk bisa mengetahui mutu dari sesuatu diperlukan proses uji. Misalnya, apakah seseorang berkompeten atau layak untuk satu jabatan tertentu, maka dibutuhkan uji kelayakan. Untuk mengetahui kualitas bahan maka bahan tersebut harus diuji terlebih dahulu. Mobil yang mengedepankan safety mempergunakan crash test dummy untuk menguji kekuatan serta keamanan produknya. Dalam berbagai riset, tidak akan pernah ada hasil resmi secara ilmiah yang bisa dikeluarkan tanpa melewati pengujian yang cukup. Anda buka restoran, maka harus ada pengujian dulu dari rasa dan tampilan sajian sebelum ditampilkan pada menu. Madu harus diuji kalau mau pasti asli atau tidak. Bahkan film pun memerlukannya. Dalam dunia sinema ada istilah film screening yang digunakan untuk menguji sebuah film dengan diputarkan pada sejumlah penonton sesuai target, apakah masih dibutuhkan editing lebih lanjut, pengulangan shooting atau bisa jadi perlu perombakan script, merubah ending film dan sebagainya. Kita akan sulit mengetahui kemurnian, keaslian, kecakapan, ketahanan, kekuatan, keamanan dan berbagai kualitas lainnya yang terkandung dalam sebuah produk tanpa melalui pengujian.

Tubuh kita pun sama. Untuk memastikan bahwa dirinya tetap dalam keadaan baik, ada banyak orang melakukan check up rutin. Kalau ada sesuatu yang tidak ideal seperti gula darah tinggi, masalah jantung sampai tumor yang terdeteksi tapi belum terasa tentu secepatnya harus diatasi. Lebih cepat lebih baik, sebelum terlambat. Bagi yang kurang mampu untuk memeriksakan diri secara rutin, setidaknya mereka bisa menjaga pola hidup sehat. Tidak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, tidak memasukkan berbagai zat mengandung racun ke dalam diri mereka, olah raga teratur, tidur yang cukup, itu bisa mencegah kita dari mengalami masalah di kemudian hari. Sehat tidaknya kemudian bisa diuji dengan sederhana. Misalnya, apakah naik tangga dua lantai saja sudah ngos-ngosan, jantung berdetak terlalu kencang dan tidak teratur, mudah pusing, lekas lelah, berat badan turun drastis, itu menunjukkan adanya gejala gangguan kesehatan yang harus disikapi serius secepatnya. Bagi anda yang dulu masih tertipu oleh tahayul sehingga takut hantu, anda bisa menguji dengan melihat reaksi anda saat sendirian di tempat gelap.

Bagaimana dengan iman? Alkitab mengatakan bahwa untuk hal keimanan juga diperlukan pengujian. Mari kita lihat apa yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus. Paulus berkata seperti ini: "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5).

Mengapa Paulus mengingatkan jemaat agar menguji kehidupan imannya? Pertama-tama yang harus kita pahami adalah bahwa kemurnian iman merupakan sesuatu yang harus kita jaga dan perjuangkan seumur hidup. Jika dulu kita pernah hidup dengan iman yang teguh, bukan berarti bahwa selamanya kita akan tetap begitu. Bisa saja pada suatu ketika iman kita lemah, dan kalau kita tidak menyadarinya iman kita akan terancam bahaya dan itu akan merugikan kita sendiri. Kemudian, kita juga harus memastikan bahwa kita belum atau tidak bergeser dari identitas diri kita sebagai manusia baru dalam Kristus. Jika kita lupa akan hal ini maka kita mudah dipengaruhi oleh rupa-rupa godaan yang dihadirkan dunia. Itu jelas akan membuat identitas kita kabur bahkan kemudian mengembalikan kita pada identitas lama, sebagai manusia berdosa yang harus menghadapi konsekuensi murka Allah.

Masalahnya, kita sering lengah dan tidak sadar bahwa iman kita sudah tercemar, fokus kita sudah bergeser dan identitas kita meredup. Karena itulah kita butuh menguji diri kita sendiri. Apakah kita masih berjalan sesuai Firman Tuhan, dalam kebenaran, apakah Yesus masih tinggal dalam diri kita atau tidak, itu merupakan hal yang sangat penting. Kalau ternyata tidak, maka kita akan rapuh dan mudah terganggu oleh permasalahan hidup dan mudah pula tercemar oleh dosa. Sedikit saja masalah muncul maka kita akan goyah seperti pohon yang akarnya rapuh. Daya tahan kita lemah dan kita rentan terhadap berbagai macam godaan. Intinya, kita tidak akan tahan uji atas berbagai serangan dan godaan. Singkatnya, kalau dulu kita pernah bagus, bukan berarti sekarang kita juga pasti bagus. Untuk memastikannya kita perlu menguji diri secara teratur.

(bersambung)


Wednesday, August 2, 2017

Family Builders (2)

(sambungan)

Dalam 1 Korintus 1:30 dikatakan "Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita." Kita jangan sampai lupa bahwa hikmat yang berharga lebih dari emas, perak dan permata manapun yang paling diinginkan orang, yang bagi banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang menjamin kebahagiaan keluarga. Hikmat yang berasal dari Allah itu terwujudkan dalam kepribadian Yesus. Yesus menjadi hikmat bagi kita. Ada begitu banyak hal dari kepribadian Yesus yang bisa kita teladani dan aplikasikan dalam membangun keluarga dengan hikmat. Beberapa diantaranya adalah the unconditional love alias cinta tanpa syarat, rendah hati yang dalam bahasa aslinya di Alkitab diartikan dengan tidak memaksakan kehendak sendiri tapi mengijinkan kehendak Tuhan yang terlaksana dalam hidup, memiliki pribadi yang melayani dan lemah lembut. Jika keempat hal ini saja kita jadikan hikmat dalam membangun keluarga atau rumah tangga, anda akan melihat betapa beda hasilnya.

Perjalanan hidup ini sesungguhnya singkat. Jika kita terus menyia-nyiakannya maka pada suatu ketika kita tidak lagi punya cukup waktu untuk membangun dan mengisi kehidupan ini dengan warna-warna yang menarik. Musa menyadari betul betapa singkatnya hidup itu, sehingga salah satu doanya yang dicatat Pemazmur berkata: "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (Mazmur 90:10). Alangkah sia-sianya jika kehidupan yang singkat itu tidak kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Betapa sayangnya bila hari demi hari berlalu begitu saja tanpa makna, tanpa ada sesuatu peningkatan atau diisi dengan sesuatu yang baik. Dan alangkah ironis jika keluarga yang sudah berjalan lama hancur berantakan karena tidak dirawat dengan baik. Untuk itu jelas diperlukan hikmat agar kita tahu bagaimana caranya memanfaatkan waktu-waktu yang ada dengan hal-hal bijaksana.  Maka Musa pun berdoa meminta hikmat untuk bisa menghitung hari demi hari dan mengisinya dengan hal-hal bermakna. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (ay 12).

Adalah penting bagi kita semua untuk memiliki hikmat agar dapat maksimal dalam membangun keluarga sesuai dengan keinginan Tuhan. Selain hikmat, dari ayat bacaan hari ini kita juga diingatkan bahwa keluarga harus ditegakkan dengan kepandaian. Kepandaian bukan cuma mengenai kecerdasan otak tapi juga cerdas secara rohani. Kecerdasan rohani bisa kita peroleh dengan memenuhi diri dengan prinsip kebenaran, mengenal Firman Tuhan. Tapi tidak berhenti sampai disitu saja, kita harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan setiap hari dalam kehidupan keluarga sebagai ajang latihan terus menerus hingga kebenaran itu menjadi reflek dalam perbuatan kita. Kecerdasan rohani kemudian akan melahirkan pengertian, dan dengan pengertian kita akan mengisi kehidupan kita pribadi dan keluarga dengan hal-hal bernilai tinggi dan berharga dengan standar kebenaran Firman Tuhan.

Esensi dari kehidupan adalah bagaimana kita bisa bertumbuh dan berbuah, dan mengisinya dengan mempergunakan segala potensi yang ada bagi kita demi kebaikan diri kita, keluarga dan buat sesama, dimana Tuhan dipermuliakan di atasnya. Seperti layaknya membangun rumah, kitapun harus membangun kehidupan dan keluarga kita dengan pondasi yang kuat, dan mengisinya dengan berbagai hal baik yang bisa membuat keluarga menjadi seindah surga di bumi. Untuk itu, seperti Bob the Builder, diperlukan hikmat, kecerdasan atau kepandaian dan pengertian.

Juga diperlukan kerjasama tim dimana setiap anggota keluarga mengetahui perannya masing-masing dan berusaha serius memberi yang terbaik sesuai perannya. Pria tahu perannya sebagai suami, ayah, pemimpin, imam dan juga teman yang peduli, istri tahu perannya sebagai penolong, penyeimbang, penghibur, pendamping, teman dan pelengkap suaminya, ibu yang penuh kasih pada anak-anaknya. Anak-anak patuh kepada orang tuanya, serius dalam menuntut ilmu dan membanggakan orang tua dimanapun mereka berada dalam apapun yang mereka kerjakan. Suami mengasihi istri, istri taat pada suami. Anak tunduk dan hormat pada orang tua, orang tua dekat dengan anaknya dan selalu memberi waktu dalam membina hubungan yang dekat dengan anak layaknya teman. Ada keteladanan akan prinsip kebenaran dalam hidup orang tua yang ditransfer kepada anak-anaknya secara terus menerus. Hikmat, kecerdasan spiritual dan pengertian yang baik akan kebenaran dalam sebuah keluarga akan menjadikan keluarga itu kokoh dan bersinar di dunia.

The world today needs family builders more than ever. Siapkah anda menjadi salah satunya lalu menginspirasi keluarga lainnya untuk turut serta?

Bangun keluarga dalam Kristus yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, August 1, 2017

Family Builders (1)

Ayat bacaan: Amsal 24:3-4
=====================
"Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik."

Bagi anda yang punya anak masih kecil, anda tentu familiar dengan sebuah karakter animasi asal Inggris bernama Bob the Builder. Bob berprofesi sebagai kontraktor bangunan yang mengerjakan berbagai proyek pembangunan maupun renovasi gedung, rumah dan jalan. Acara ini sangat baik untuk ditonton anak-anak karena selain bisa merangsang kreativitas mereka, Bob the Builder juga mengajarkan kerjasama atau kekompakan tim, bagaimana bersosialisasi dengan orang lain dan pemecahan masalah menggunakan ketrampilan dan kerjasama dengan timnya.

Dari satu jaman ke jaman lainnya dunia sangat membutuhkan ahli bangunan dalam merancang bangun tempat tinggal maupun tata kota yang baik. Di satu sisi kita butuh orang yang mau bekerja membangun yang membutuhkan tenaga besar, di sisi lain kita juga butuh perancang yang mengerti struktur, kualitas bahan dan hal-hal lain secara teknis yang dibutuhkan agar semua yang dibangun kokoh, tahan terhadap perubahan cuaca, kondisi alam yang bisa buruk dan berbagai potensi gangguan lainnya. Kalau asal bangun tanpa memperhatikan aspek teknis, bisa sangat berbahaya untuk tinggal di dalamnya. Rumah bisa rubuh lantas mencelakakan pemiliknya.

Untuk membangun rumah kita butuh sosok seperti Bob the Builder. Bagaimana dengan keluarga? Pada kenyataannya, keluarga tidak terjadi secara natural melainkan perlu dibangun dengan baik kalau ingin kokoh. Ada banyak orang yang mendasari pernikahannya pada alasan keliru, lalu keliru menetapkan tujuan. Ada yang keliru menyikapi pembentukan keluarga, keliru bertindak di dalamnya dan cenderung membiarkan saja keluarga berjalan tanpa dibangun lantas berharap semua akan menjadi lebih baik seiring waktu. Layaknya rumah, keluarga butuh pondasi yang kuat dan kemudian diatasnya dibangun dengan baik. Tanpa itu, keluarga bisa rubuh porak poranda dalam waktu singkat. Singkatnya, untuk sebuah tatanan kehidupan atau peradaban yang baik, dunia sangat membutuhkan para pembangun keluarga. The world today is seriously in need of family builders.

What kind of family builders? Builders that know what God wants and has planned in a family that He has given His blessing. Keluarga sejatinya adalah tempat dimana Tuhan menyatakan diriNya secara penuh. Sebuah keluarga yang baik adalah keluarga dimana kita bisa mendapati atau merasakan karakter dan keilahianNya. Sudah saatnya kita menyikapi bagaimana dan seperti apa keluarga itu seharusnya. Keluarga jangan lagi cuma sekedar tempat makan dan tidur, bukan lagi sekedar tempat berteduh dan beristirahat, tapi tempat dimana Tuhan dinyatakan yang bisa dirasakan oleh siapapun.

Ayat bacaan hari diambil dari kitab Amsal yang bunyinya: "Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik." (Amsal 24:3-4). Rumah disini bukan berbicara hanya mengenai masalah rumah dalam bentuk harafiah, rumah yang didirikan dari batu, beton, pasir, kayu, rangka besi, semen dan berbagai bahan bangunan lainnya. Tapi rumah disini berbicara akan sesuatu yang lebih luas, yaitu sebuah kehidupan. Sebuah kehidupan yang baik haruslah didirikan atas dasar hikmat, ditegakkan dengan kepandaian, dan kehidupan itu selanjutnya diisi dengan berbagai hal berharga. Tidak hanya atas satu hal saja, melainkan berbagai hal, bukan yang sia-sia tetapi yang berharga. Berharga buat hidup kita sendiri, berharga buat sesama, berharga buat buat orang lain, dan tentunya berharga di mata Tuhan.

Keluarga sebagai sebuah bagian dari kehidupan pun harus didirikan dengan hikmat, ditegakkan dengan kepandaian dan diisi dengan berbagai hal bernilai tinggi dan menarik dengan berdasarkan pengertian. Inilah sebuah pelajaran penting dari penulis Amsal akan betapa pentingnya kita memperhatikan kehidupan dan keluarga dengan sungguh-sungguh. Kalau kita membiarkan saja hidup berjalan sendiri, kalau kita membiarkan saja jalannya keluarga tanpa diperhatikan, dibangun, dibina, dijaga dengan benar, semua itu bisa gagal total. Sebagai bagian dari keluarga, jika kita tidak membangun maka kita hanya akan mengacau dan mengganggu kebahagiaan di dalamnya.

Seperti apa mendirikan rumah dengan hikmat itu? Hikmat menurut Alkitab bukanlah cuma pengetahuan tapi wujud dari pribadi Allah yang mengintervensi kehidupan manusia. Lewat hikmat Tuhan mengintervensi manusia yang hidup dengan kehendak bebasnya supaya manusia bisa membedakan mana yang benar dan salah, mengetahui kemana harus melangkah sehingga tidak salah jalan, bisa menjadi pribadi-pribadi bijaksana dan berintegritas yang mengaplikasikan prinsip kebenaran Allah dalam kehidupannya dimanapun ia ada.

(bersambung)


Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...