Saturday, September 30, 2023

Pencitraan (2)

 (sambungan)

Mari saya ambil satu contoh nyata. Ada teman saya yang bekerja di sebuah showroom yang pemiliknya adalah orang yang aktif dalam sebuah gereja. Ia menyandang gelar Pdm, tidak jarang pula ia tampil di mimbar. Teman saya ini bukanlah orang asing melainkan merupakan sepupu dari istrinya, artinya mereka tentu sudah lama saling kenal sebagai saudara. Tapi kelakuannya di kantor, astaga. Kasar, memaki, mengintimidasi sampai bentuk-bentuk penghinaan pun hadir dari dirinya. Bukan hanya teman saya, tapi seluruh karyawan pun sama. "Hei, elo mau pilih huruf "B" atau "T"? Cepat jawab!" Ini contohnya, yang akan ia ucapkan apabila teman saya yang ada di divisi marketing belum berhasil menjual dalam hitungan hari. "B" itu adalah bodoh, "T" adalah tolol. Bayangkan seorang Pdm berperilaku seperti ini. Tak heran kalau teman saya kemudian mengalami kepahitan bukan saja kepada bosnya yang notabene masih hubungan saudara, tapi juga pada gereja. Kenapa bisa begitu? Karena mereka berjemaat di gereja yang sama pula. Bagaimana orang dengan perilaku seperti ini bisa lolos 'screening' di gereja? Faktor politik atau nepotisme bisa jadi penyebabnya. Kalau melihat sosial medianya, wah dia orang paling bijaksana, sempurna dan paling taat di dunia. Pencitraan pun terjadi di dunia ini.

Yang bikin semakin lucu, setiap minggu ia seolah mengadakan 'fellowship' dengan karyawannya yang ia sebut sebagai waktu untuk sharing. Nanti di foto, dipajang di sosial medianya. Di saat seperti itu ia bagaikan pribadi yang berbeda. Ramah, peduli, pintar menasehati. Tapi begitu selesai, ia kembali lagi menjadi bos besar yang sangar dan kasar. Ini adalah kenyataan, karena teman saya ini bukan tipe orang yang suka bohong atau melebih-lebihkan. Ia lebih bertipe cuma mau cerita kepada orang yang ia kenal dekat dan percaya, dan nyaman. Ia saat ini ada dipersimpangan jalan. Kalau diteruskan depresinya bisa semakin parah, sedang kalau ia keluar, betapa sulitnya mencari pekerjaan di masa seperti ini apalagi usianya sudah melewati batas usia yang biasanya dibutuhkan dalam melamar pekerjaan.

Dan biasanya, orang-orang yang merasa sudah sangat rohani ini pun kerap merasa diri paling benar bahkan merasa berhak menghakimi orang lain. Betapa kecewanya Tuhan jika terus mendapati orang-orang yang seharusnya menjadi garam dan terang tapi malah jadi batu sandungan di manapun mereka berada.

Menariknya, hal seperti ini bukan cuma jadi penyakit di jaman sekarang. Tapi di jaman Yesus datang ke dunia pun hal seperti itu sudah terjadi. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat seharusnya merupakan tokoh-tokoh agama yang jadi panutan di masa itu. Mereka mendalami betul isi kitab Taurat dan kitab-kitab nabi, hafal isinya dan seluk beluknya. Tetapi lihatlah bagaimana mereka terjebak kepada kepentingan duniawi.

(Bersambung)

Friday, September 29, 2023

Pencitraan (1)

Ayat bacaan: Matius 6:1
===================
"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga."


Semakin dekat sebuah ajang pemilihan, maka pencitraan politik akan semakin terlihat. Sebuah politik pencitraan merupakan upaya dari (calon) pejabat, partai, organisasi, perusahaan dan lain sebagainya agar terlihat baik di mata orang lain. Menutupi keburukan bukan dengan memberbaiki tapi dengan memoles dan memanipulasi sedemikian rupa sehingga tampak tak bercela. Poster, billboard, selebaran, berbagai iklan di media massa dipakai sebagai salah satu bentuknya. Mereka biasanya berusaha tampil di acara-acara dengan rating tinggi, membagi-bagikan sembako, kaos, agar bisa terpilih atau dilihat punya citra baik. Mereka tidak segan mengeluarkan biaya besar untuk itu, apapun jadi asal tujuannya tercapai. Tidak jarang mereka rela merogoh kocek habis-habisan untuk menyewa konsultan-konsultan besar baik dari dalam dan luar negeri untuk membentuk citra mereka, memberikan persepsi yang baik tentang diri mereka kepada masyarakat dan menyimpan dalam-dalam segala hal yang buruk yang bisa menjatuhkan mereka. Disaat era teknologi digital, dunia internet pun menjadi panggung yang meriah untuk pencitraan. Tidak sedikit yang bahkan tega dan rela melakukan framing-framing negatif terhadap lawan politiknya dengan memanfaatkan segala cara, tak peduli dampak yang ditimbulkan bisa berpotensi menghancurkan bangsa dan negara atau tidak.

Sebagai kandidat atau para pemimpin, tentu saja wajar jika mereka menyampaikan segala pencapaian yang pernah mereka capai dalam karir politik mereka. Itu wajar, bahkan wajib karena biar bagaimanapun akuntabilitas mereka di publik harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Tapi kalau sudah berbentuk pencitraan yang tidak sesuai fakta, membesarkan apa yang tidak benar, bentuk-bentuk glorifikasi yang mungkin saja merebut haknya orang lain, itu tentu sudah tidak lagi wajar. Saya terus berdoa semoga memasuki tahun politik di tahun depan negara ini akan baik-baik saja, dan kita bisa dengan selamat melaluinya tanpa kerusakan parah atau bahkan korban nyawa.

Politik pencitraan sayangnya bukan saja terjadi di area politik tapi juga di antara orang-orang rohani yang seharusnya menjadi panutan. Pakai berbagai atribut agama, cara bicara disetel sereligius mungkin, pintar menyitir ayat, merangkai kata dalam berdoa dan sebagainya. Itu terjadi juga di kalangan kita sendiri. Pintar ngomong, gaya oke, tapi kelakuan aslinya jauh dari apa yang dipertontonkan. Hebat dalam menasihati, hebat dalam casing alias tampilan luar, mengatakan haleluya dan puji Tuhan sudah sangat fasih, tapi dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak mencerminkan itu sama sekali.

(Bersambung)

Thursday, September 28, 2023

Kemiskinan dan Kepedulian (6)

 (sambungan)

Mari kita periksa diri kita masing-masing. Sudahkah kita perduli kepada saudara-saudara kita yang tengah menjerit meminta pertolongan? Pedulikah kita kepada orang-orang yang merasa kesepian dan tidak punya siapa-siapa lagi untuk menolong mereka? Jika pengabdian seperti Bunda Teresa yang meluangkan sepenuh waktunya di tempat kumuh, bersama orang-orang menderita di kota yang jauh dari kemewahan dan jauh pula letaknya terasa begitu jauh dan sulit, sudahkah kita memperhatikan orang-orang yang sangat dekat di sekitar kita? Maukah kita menyisihkan sebagian dari apa yang ada pada kita untuk mereka, atau kita malah kesal, risih atau mengeluh karena merasa terganggu dengan kehadiran mereka?
Jangan lupa bahwa Yesus sudah menyampaikan: "..sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Artinya ini adalah sesuatu yang penting dan wajib untuk kita lakukan. Jangan mengaku bahwa kita mengasihi Yesus dan hidup demi Dia kalau orang-orang yang tertolak, tertindas, terbuang atau tertimbun kesusahan disekitar kita saja masih kita abaikan.

Banyak orang disekitar kita yang sudah sangat terluka dan hidup dengan kesedihan dan kesepian. Banyak orang yang tidak lagi bisa merasakan hangatnya kasih Tuhan karena mereka setiap harinya bergumul sendirian tanpa ada yang peduli. Kita seharusnya bisa berperan disana, membantu mereka untuk kembali merasakan kasih Tuhan lewat keberadaan kita di dekat mereka. Bunda Teresa menjalankan panggilannya untuk terjun langsung ke salah satu pusat kemiskinan terparah di dunia, dan ia melihat bahwa yang terparah ternyata bukanlah masalah pemenuhan kebutuhan pokok tetapi justru perasaan terbuang, tertolak, tidak diinginkan, tidak diakui dan tidak ada yang mengasihi. Tidak perlu jauh-jauh ke Kalkuta karena disekitar kita pun sebenarnya ada banyak orang yang tengah mengalami kemiskinan termiskin ini.

Saat ini juga, marilah berperan secara langsung dengan menyatakan kasih kepada mereka. Kita harus menyatakan bahwa mereka tidaklah sendirian, dan kita harus membawa mereka untuk merasakan kasih Tuhan lewat diri kita. Meskipun anda mulai dari sesuatu yang kecil, anda bisa menyaksikan bagaimana indahnya sebuah pemulihan Ilahi turun atas mereka lewat kasih yang anda curahkan ke dalam hidup mereka.

"We think sometimes that poverty is only being hungry, naked and homeless. But the poverty of being unwanted, unloved and uncared for is the greatest poverty. We must start in our own homes to remedy this kind of poverty." - Mother Teresa






Wednesday, September 27, 2023

Kemiskinan dan Kepedulian (5)

 (sambungan)

Yohanes mengatakan "Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi."  (1 Yohanes 4:11). Bentuk kasih merupakan esensi dasar kekristenan. Karena Tuhan adalah kasih itu sendiri, dan kasihNya kepada manusia sangat besar, begitu besar sampai Dia rela mengorbankan Kristus untuk menebus kita, maka sudah sepantasnya kita tidak menutup mata dan hati dari mereka yang membutuhkan lalu bergerak, mulai membagi kasih kepada sesama kita.

Yesus meminta kita untuk mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri (Matius 22:39), lantas juga memberikan perintah baru kepada kita yaitu "... supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34).

Seperti besarnya kasih Tuhan kepada kita, seperti itu pula kita harus mengasihi orang lain. Level kasih seperti apa yang harus kita lakukan menurut Yesus? Seperti halnya Yesus mengasihi kita. Dan itu level luar biasa berat, karena kasih menggerakkan Yesus untuk mengorbankan diriNya sendiri melewati proses yang luar biasa menyakitkan untuk menebus kita. Itu level yang sangat tinggi sekali. Bandingkan kalau kita cuma berkata kasihan tanpa melakukan apa-apa saat Tuhan ijinkan kita bertemu dengan orang yang membutuhkan, apalagi kalau kita tidak merasa kasihan sama sekali. Selain itu, perhatikan bahwa itu bukan sekedar anjuran tetapi dikatakan perintah. Kalau namanya perintah, itu artinya sesuatu yang harus atau wajib kita laksanakan.

Mengasihi tidaklah harus selalu berbentuk pemberian sedekah lewat materi, tapi juga bisa lewat perhatian, lewat membagikan sebagian waktu kita untuk mendengarkan mereka yang membutuhkan pertolongan, lewat menunjukkan bahwa kita mengasihi atau peduli kepada mereka, bahkan seringkali sebuah senyum tulus bisa berarti besar bagi sebagian orang.

Kita harus bisa menjadi saluran kasih Tuhan untuk menjangkau mereka yang tidak lagi merasakan kasih dari orang lain dalam hidupnya.


(bersambung)

Tuesday, September 26, 2023

Kemiskinan dan Kepedulian (4)

 (sambungan)

Uniknya, saya pernah berhadapan dengan sebuah kasus yang mengejutkan saya. Suatu kali saya dipertemukan dengan orang yang punya masalah dengan kepribadiannya termasuk masuk mencoba bunuh diri tanpa tahu kenapa. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata orang ini mengalami penolakan di masa kecilnya, yaitu berkali-kali diaborsi tapi gagal, dan karenanya ia pun lahir. Hal itu tersimpan jauh sekali di bawah sadarnya, dan baru ia ingat lagi setelah melewati masa konseling yang lama. Ini adalah sebuah fakta bahwa perasaan tertolak atau tidak diinginkan, tidak dicintai bisa saja ada di bawah alam sadar dan kemudian menimbulkan masalah psikis yang bisa jadi fatal bagi yang mengalaminya.

Kita harus bersyukur apabila hari ini, meski kita terdampak dari krisis global, tapi kita tidak sampai mengalami kemiskinan yang termiskin menurut bunda Teresa. Namun pertanyaan selanjutnya, apakah sekedar merasa syukur itu sudah cukup? Seharusnya belum. Kita wajib bersyukur, tapi juga harus menyatakan rasa syukur kita lewat menjadi saluran kasih Tuhan kepada mereka yang tertolak dan terbuang. Di sekitar kita banyak orang-orang yang tidak seberuntung kita, sehingga alangkah indahnya apabila kita bisa menjadi saluran kasih Tuhan buat mereka.

Amsal Salomo berkata: "Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru." (Amsal 21:13).

Lihatlah bahwa Amsal ini mengingatkan kita untuk memiliki telinga peka terhadap jeritan orang yang membutuhkan pertolongan. Kalau tidak, mau berteriak seperti apapun kerasnya dan intensitasnya, Tuhan tidak akan mau mendengar atau mempedulikan kita saat kita membutuhkan pertolongan daripadaNya.  Begitu kerasnya peringatan ini, dan bagi saya hal tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama tanpa memandang latar belakang mereka, apalagi kepercayaan mereka seperti yang banyak dijadikan dasar bagi orang-orang dunia hari ini, merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan.

Dengan kata lain, kepedulian kita dalam membagi dan menyatakan kasih kepada sesama menjadi salah satu barometer Tuhan dalam mengukur apakah kita berkenan kepadaNya atau tidak.


(bersambung)

Monday, September 25, 2023

Kemiskinan dan Kepedulian (3)

 (sambungan)

Pengalaman berada ditengah orang-orang dengan kenyataan pahit seperti itu selama sekian dasawarsa membuat Bunda Teresa tahu betul apa sebenarnya yang paling menyedihkan, atau apa yang sebenarnya kemiskinan yang paling parah. Apa yang beliau katakan seharusnya membuka mata kita mengenai kemiskinan terberat atau terburuk yang bisa dialami manusia. Sekali lagi, that is the feeling of unloved, unwanted and uncared.

Dalam kesempatan lain, mendiang Princess Diana alias Lady Di pernah pula berkata seperti ini: "The biggest disease this day and age is that of people feeling unloved."  Penyakit terparah di jaman ini adalah orang yang merasa tanpa kasih, tidak ada yang mengasihi atau merasa tidak ada yang peduli. That is the biggest disease.

Kemiskinan terparah dari mereka yang menjadi teladan dalam hal kemanusiaan ternyata bukanlah kelaparan, tidak punya baju dan tidak punya rumah, melainkan rasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak dipedulikan. Kalau kita renungkan, apa yang ia katakan bisa jadi benar. Pada kenyataannya ada begitu banyak orang yang menderita dan bermasalah bukan karena mereka tidak mampu secara finansial, tapi karena mereka merasa tertolak, merasa tidak dikasihi dan punya pengalaman pahit tentang cinta yang membuat mereka hambar atau bahkan sulit percaya kepada orang lain. Mereka bisa saja masih bernafas alias masih hidup, tapi menderita secara mental, jauh dari perasaan dikasihi atau dicintai.

Bukankah kita sudah berulang kali melihat di berita tentang ibu-ibu lanjut usia yang harus bertahan hidup sendirian tanpa ada yang peduli? Bahkan ada yang harus rela menerima nasib seperti itu karena tidak dpedulikan atau dibuang oleh anak-anaknya sendiri. Ini sebuah realita sosial yang sudah sering kita dengar atau baca dari berita-berita. Saya sendiri beberapa kali sudah  bertemu dengan orang-orang yang mengalami hal seperti ini. Dalam berbagai dimensi sosial dan kehidupan, mereka butuh waktu untuk bisa pulih. Atau bisa percaya kepada orang lain, itu pun tidak mudah bagi mereka.


(bersambung)

Sunday, September 24, 2023

Kemiskinan dan Kepedulian (2)

 (sambungan)

Suatu kali ada wartawan yang menanyakan kepadanya tentang apa sebenarnya yang dikatakan miskin itu. Bunda Teresa menjawab seperti ini:

"We think sometimes that poverty is only being hungry, naked and homeless. But the poverty of being unwanted, unloved and uncared for is the greatest poverty. We must start in our own homes to remedy this kind of poverty."

Apa yang digambarkan Bunda Teresa mengenai kemiskinan yang termiskin? Berdasarkan pengalamannya sendiri dalam melayani para orang miskin jauh dari negara asalnya, dimana ia menghabiskan waktu hampir sepanjang hidupnya di Kalkuta, India, ia memberi jawaban berbeda.

Bunda Teresa semasa hidupnya berada ditengah-tengah masyarakat yang dianggap sebagai yang termiskin dari yang miskin untuk melayani mereka. Ia menjadi wakil Tuhan untuk mereka yang termiskin dan terbuang. Bunda Teresa melayani orang yang lapar, gelandangan, buta, pincang, dan mereka yang menderita penyakit-penyakit yang bagi orang dianggap menjijikkan seperti lepra atau kusta dan sakit penyakit lainnya. Setiap hari ia ada bersama mereka, menyatakan kasih lewat banyak hal, alias memberikan dirinya dan hidupnya secara penuh bagi mereka.

Dengan profil seperti itu, tentu Bunda Teresa layak menjadi tokoh yang pasti mampu menjelaskan apa sebenarnya kemiskinan itu. Itulah mungkin yang ada di benak si wartawan saat menanyakan tentang kemiskinan kepada bunda Teresa. Apakah ketidakmampuan membeli segala sesuatu yang mewah? Tidak mampu makan? Tidak punya tempat tinggal? Tidak punya penghasilan tetap? Tidak punya cukup baju?

Dan menarik, seperti apa yang dikatakan Bunda Teresa tadi, dan berdasarkan pengalamannya sendiri, ia berkata bahwa the greatest poverty alias kemiskinan terparah justru adalah saat seseorang tidak ada yang mengasihi. The unloved, unwanted and uncared, kata beliau. Orang-orang yang tidak diperhatikan, tidak ada yang mencintai dan orang-orang tertolak. Bayi-bayi hasil hubungan gelap yang kelahirannya tidak diinginkan, mereka yang terbuang.


(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...