Friday, June 1, 2018

Ragi Orang Farisi (1)

Ayat bacaan: Lukas 12:1
=========================
"Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi."

Dalam Alkitab dikatakan: "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara." (Roma 8:29). Lalu dalam ayat lain dikatakan: "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar." (2 Korintus 3:18).

Our ultimate goal in life is to become more and more like Jesus. Itu yang harus kita kejar selama kesempatan hidup masih ada pada kita. Kita belajar, mendalami Firman Tuhan, lantas mengaplikasikannya dalam bentuk nyata pada kehidupan sehari-hari. We think like Jesus think, we do like Jesus does. We give forgiveness like He gives, we show compassion and love like He does. Kita harus terus berproses hingga kita bisa semakin mendekati gambaranNya sehingga gambar Yesus yang benar bisa tercermin lewat cara, sikap, tingkah laku dan perilaku kita di tengah masyarakat. Setiap kebenaran Firman yang kita pelajari haruslah kita terapkan dan membawa kita ke dalam pertumbuhan iman, karena kalau kita berhenti hanya pada mencari ilmu tanpa disertai kematangan rohani, kita akan tumbuh menjadi orang-orang sombong.

Banyak orang yang terjatuh pada kesombongan rohani di saat mereka sedang bertekun mengejar 'the ultimate goal' ini. Penyakit ini bisa mulai menjangkit di masa pertumbuhan dan bisa terus bercokol bahkan sampai kita seharusnya sudah terjun dalam pelayanan.

Suatu kali saya berkunjung ke rumah seorang teman yang kebetulan sedang mengadakan persekutuan di rumahnya. Saat berdoa sebelum pulang, dalam doanya mereka mengatakan seperti ini: "Tuhan, jatuhkanlah hukuman pada si A karena dia melakukan hal buruk. Pada si B yang sudah lama tidak datang, si C yang imannya sekarang lemah" dan seterusnya. Saya terkejut, karena doa seharusnya tidak ditujukan untuk menjatuhkan penghakiman pada orang lain, apalagi sampai meminta Tuhan memberi hukuman segala. Ini menjadi salah satu bentuk kesombongan rohani, yang sebenarnya bukanlah hal baru karena sudah terjadi setidaknya sejak 2000 tahun lalu lewat kelakuan orang-orang Farisi dan juga Saduki.

Mari kita lihat apa yang dikatakan Yesus dalam Injil Lukas akan hal ini.

"Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi." (Lukas 12:1).

Perhatikan kata "pertama-tama". Begitu Yesus mulai mengajar, ia langsung menyasar hal kemunafikan orang Farisi yang dikatakan sebagai ragi. Kita tahu bahwa ragi adalah zat meyebabkan fermentasi. Ragi mengandung mikroorganisme seperti bakteri dan beberapa jenis jamur yang melakukan fermentasi dan media biakan bagi mikroorganisme tersebut. Meskipun ragi dipakai untuk membuat beberapa jenis makanan dan minuman seperti tempe, tape, roti atau bir, ragi sifatnya membusukkan dan ini dipakai Yesus untuk menggambarkan kemunafikan yang terdapat dalam sikap orang-orang Farisi. Kalau Yesus langsung menuju kepada ragi orang Farisi begitu mulai mengajar, itu artinya hal ini sangatlah penting. Yesus tahu bahwa saat orang berproses untuk menjadi semakin baik dalam kerohanian, ada bahaya yang bersembunyi disana yang harus benar-benar mendapat perhatian serius, dan itu adalah soal kemunafikan.

Dalam Matius 16:6 Yesus mengatakan "Yesus berkata kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki". 

Siapa mereka ini? Orang Farisi adalah para pemimpin spiritual yang digambarkan sebagai pengamat dan penegak hukum Taurat yang sangat teliti. Mereka ini terkenal suka mencari dan memperhatikan hal-hal yang sangat kecil. Karena mereka menguasai hukum Taurat,  mereka menganggap diri mereka sebagai orang beragama yang saleh atau alim sehingga mereka memisahkan diri dari orang biasa. Orang Saduki adalah orang-orang dalam kelompok bangsawan yang berkuasa di Yerusalem, dimana imam-imam termasuk imam besar Yahudi biasanya juga digolongkan ke dalam kelompok ini.

(bersambung)


Thursday, May 31, 2018

Simon Orang Farisi dan Wanita Berdosa (7)

(sambungan)

Sebagai orang Farisi, Simon menguasai seluk beluk kitab Taurat. Sebagai orang Farisi, Simon termasuk mereka yang berdiri di jalan-jalan menyatakan kedekatan mereka dengan Tuhan dan menunjukkan bahwa mereka orang pilihan yang paling berhak mengajarkan isi kitab. Seharusnya mereka ini menjadi garda terdepan yang menyatakan kasih Allah. Tapi sebaliknya, para orang Farisi ini justru menganggap kehormatan itu sebagai jurang besar yang memisahkan antara diri mereka dengan orang lain. Hati mereka tertutup oleh pembenaran diri sendiri.

Sementara wanita berdosa itu kemungkinan besar di jalan. Dia tidak menguasai isi kitab, pengetahuannya tentang Tuhan jelas sangat terbatas, kalau tidak bisa dibilang sangat minim. Orang sepertinya yang tidak mengenal Tuhan secara baik logikanya akan menjauhi atau tidak peduli terhadap keberadaan Yesus di kotanya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Wanita iniah yang bersujud di depan Yesus, meletakkan wajahnya di kaki Yesus, menangis disana, mengeringkan dengan rambutnya sendiri dan meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi. Ia membuka hatinya dan memohon belas kasih dari Yesus dengan tulus dan jujur.

Di posisi mana kita berdiri hari ini? Apakah ada di posisi Simon orang Farisi yang merasa paling benar dan tidak perlu menghormati Tuhan meski masih membutuhkan, atau ada di posisi wanita berdosa yang sadar diri dan dengan hati lembut merendahkan diri di kaki Tuhan dan mempersembahkan apa yang terbaik yang kita miliki untuk Dia?

Saatnya hari ini untuk datang kepadaNya, duduk di kakiNya, dengar suaraNya dan sembah Dia dengan sepenuh hati. Tuhan Yesus tetap akan datang memenuhi undangan siapapun, tapi Dia akan menyambut mereka yang:
- menyembahNya dengan sungguh-sungguh
- memiliki kesadaran diri dan bukan pembenaran diri
- menghargai/mensyukuri pengampunan dan kasih karuniaNya, yang hidupnya diliputi kasih Tuhan

Tidak perlu malu jika kita masih punya banyak dosa, karena Yesus siap mengampuni semuanya sehingga kita, seperti wanita berdosa itu bisa keluar dengan selamat. Sebaliknya, hindari sikap hati seperti Simon orang Farisi. Sadari bahwa semua berasal dari Tuhan dan kita tetap membutuhkan pengampunanNya. Hargai kasih karunia yang diberikan dengan penuh hormat, dan tetaplah hidup dalam kasih. We might be mighty sinners, but never forget that we have a mighty Savior.

Great love comes from great forgiveness

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, May 30, 2018

Simon Orang Farisi dan Wanita Berdosa (6)

(sambungan)

- Melihat kekurangan atau kesalahan orang lain dan tidak melihat dosa yang masih ada pada diri sendiri. 

Peribahasa mengatakan: gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, semut di seberang lautan tampak jelas. Kesalahan diri sendiri tidak terlihat, tapi kesalahan orang lain terlihat jelas. Yesus sendiri sudah mengatakan: "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (Matius 7:3). Kita harus berhenti menilai orang lain dan kembali menata hidup kita sendiri. Memastikan agar hidup kita bisa memancarkan terang, menampilkan gambar atau image Tuhan secara benar dalam hidup kita. Terus lebih baik lagi sampai orang bisa mengenal Yesus dan kebenaran Ilahi yang Dia ajarkan secara benar lewat diri kita secara langsung.

- Kita menolak kesempatan untuk melayani Tuhan.
Simon hanya mencari sesuatu dari Yesus. Dia hanya butuh Yesus untuk memenuhi apa yang ia perlukan. Tidak lebih. Orang yang bersikap seperti ini tidak mau repot-repot melakukan sesuatu untuk orang lain, karena mereka hanya mementingkan pemenuhan kebutuhannya sendiri. Kalau orang percaya masih banyak yang terjebak pada sikap ini, bayangkan bagaimana gereja bisa memperluas daya jangkaunya, dan yang lebih parah lagi, bagaimana kita bisa berharap Kerajaan Allah bisa dinyatakan di muka bumi ini.

- Kita lebih peduli terhadap informasi daripada transformasi
Banyak orang yang lebih sibuk mencari pengajaran ketimbang meng-upgrade pertumbuhan imannya. Mencari pengetahuan, mengejar kotbah, bukan untuk mengalami transformasi ke arah yang lebih baik melainkan hanya untuk diperdebatkan, dicari-cari kesalahannya atau bahkan dipakai untuk menghakimi orang lain. Firman Tuhan hanya dipandang sebagai informasi. Semakin banyak informasi yang didapat bisa membuat diri kita semakin terlihat hebat. Ini semua adalah beberapa bentuk ragi Farisi yang harus kita hindari.

3. Apakah kita mengasihiNya dan menghargai betul pengampunan dan kasih karunia yang diberikanNya buat kita?

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, Yesus menegur Simon dengan mengambil sebuah perumpamaan. Ada dua orang yang berhutang, satu hutangnya besar, satu kecil. Keduanya diberikan pengampunan hutang sepenuhnya. Yang mana yang lebih menghargai pengampunan itu? Tentu orang yang hutangnya lebih besar. Maka Yesus berkata:
"Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." (ay 47).

Dalam versi The Message dikatakan "She was forgiven many, many sins, and so she is very, very grateful. If the forgiveness is minimal, the gratitude is minimal."

Simon memperlakukan Yesus dengan sangat tidak pantas. Jangankan menyembah, dia bahkan tidak menyambut Yesus sesuai dengan tradisi Yahudi pada saat itu. Itu terjadi karena Simon gagal menyadari bahwa sebagai manusia, ia masih jauh dari sempurna dan masih membutuhkan pengampunan dan kasih karunia dari Yesus agar bisa selamat. Selain gagal menyadari hal itu, dia juga gagal menyadari siapa yang bisa mengampuninya. Kalau dia sadar akan hal itu, saya yakin saat itu juga ia akan berlutut dan mencium kaki Yesus seperti halnya yang dilakukan oleh si wanita berdosa.

(bersambung)


Tuesday, May 29, 2018

Simon Orang Farisi dan Wanita Berdosa (5)

(sambungan)


Ada beberapa hal yang penting untuk kita jadikan pedoman dari kisah ini.

1. Apakah kita sudah memberikan penghormatan yang pantas saat kita memanggilNya? 

Kita butuh Tuhan dalam hidup kita. Masalahnya:

- Apakah kita hanya butuh bantuanNya, berkatNya, penyertaanNya tapi tidak memiliki hati yang menyembah, yang mengasihi dan takut akan Tuhan?
Do we only take Him for granted? 
- Apakah kita hanya memanfaatkan Yesus, atau bahkan
- menganggapNya hanya sebagai ban serap, mencariNya hanya kalau kita berada dalam kesulitan?
- Apakah kita ke gereja dan membaca Alkitab hanya karena kewajiban semata atau karena kita ingin mengalami pertumbuhan untuk terus menjadi seperti Kristus?
- Apakah kita lebih peduli apa kata orang atau seperti apa kita menurut orang daripada bagaimana Yesus memandang kita?

Dengan kata lain, Tuhan Yesus akan menyambut orang-orang yang menyembahNya dengan sepenuh hati.

2. Apakah kita hidup dengan memiliki kesadaran diri atau pembenaran diri sendiri?

Lihatlah reaksi Simon saat melihat wanita itu menyentuh kaki Yesus. Dia merasa wanita itu kotor, tidak layak untuk melakukan itu. Yesus pastilah bukan seperti yang dikatakanNya kalau membiarkan hal itu terjadi. Itu yang Simon pikirkan seperti yang ditulis dalam ayat 39.

Sangatlah menyedihkan apabila kita masih sibuk menilai orang lain tapi tidak melihat pada diri sendiri. Merasa paling benar dan karenanya merasa berhak untuk menghakimi orang lain. Bagaikan sedang menunjuk orang, satu jari menuju pada orang lain tapi jari lainnya sebenarnya mengarah pada diri kita sendiri. Firman Tuhan sudah mengingatkan akan bahaya dari orang yang berperilaku seperti ini. "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Petrus 5:5). God does oppose the proud and gives grace to the humble. 

Beberapa bentuk pembenaran diri sendiri seperti sikapnya Simon antara lain:

- Merasa diri lebih baik dari orang lain
Mungkin kita hari ini sudah hidup berkecukupan, bahkan lebih. Punya pekerjaan, rumah, keluarga, anak, semua kebutuhan primer, sekunder dan tertier terpenuhi. Kita sudah ke gereja, kita sudah berdoa. Itu bukan alasan untuk memegahkan diri apalagi sampai merasa berhak menghakimi orang lain. Kita tidak boleh lupa bahwa semua yang ada pada kita saat ini berasal dari Tuhan, bukan hanya karena hasil usaha kita sendiri saja.

- Merasa tidak perlu memuji dan menyembah Yesus, karena menganggap diri sudah benar sehingga tidak lagi membutuhkan apa-apa dariNya
Orang-orang yang merasa sudah aman akan punya kecenderungan bersikap seperti itu. Kalau sudah benar, kenapa masih harus merendahkan diri? Nanti saja kalau ada masalah lagi. Tuhan kan mengasihi manusia, jadi semua adalah kewajibanNya, saya tidak perlu menyembah dan memujiNya. Ini juga merupakan sikap Simon orang Farisi yang berbahaya. Kalau kita hari ini berada dalam keadaan baik tak kurang suatu apapun, sadarilah bahwa itu berasal daripadaNya. Dia tetap dan akan selalu lebih dari layak untuk disembah dan diberikan ucapan syukur.

(bersambung)


Monday, May 28, 2018

Simon Orang Farisi dan Wanita Berdosa (4)

(sambungan)

Satu hal lagi yang penting untuk kita cermati adalah kata-kata Yesus berikut ini: "Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." (ay 47). Mungkin agak sulit untuk dimengerti, tapi mari kita dalami apa yang dimaksud Yesus.

Untuk bisa mengerti, kita harus terlebih dahulu melihat sebuah perumpamaan singkat yang disampaikan Yesus disana saat itu.

"Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." (ay 41-43).

Ada dua orang yang berhutang, yang satu hutangnya besar, sedang satunya kecil, cuma sepersepuluh hutang orang pertama. Keduanya tidak sanggup membayar, si pemberi pinjaman kemudian memutuskan untuk menghapuskan hutang mereka. Siapa yang lebih mengasihi si pemberi pinjaman? Tentu saja orang yang hutangnya lebih banyak yang lebih bersyukur.

Wanita berdosa ini jelas butuh banyak pengampunan. Atas segala dosanya, ia tahu bahwa ia seharusnya berakhir binasa dalam api menyala. Agar terhindar dari itu, ia butuh banyak pengampunan. Dan yang bisa melakukan itu hanyalah Tuhan saja. Dalam rumah Simon yang penuh dengan yang terhormat para ahli kitab, ia menumpahkan kasih sebegitu besar. Dan karena itu Yesus pun mengampuni semua dosanya yang banyak itu.

Apa bedanya dengan Simon dan teman-teman? Bedanya adalah kalau si wanita berdosa sangat haus akan pengampunan, mereka tidak merasa haus akan hal itu, atau merasa butuh diampuni. Buat apa? Mereka ini adalah kelompok orang paling tahu isi kitab, paling rohani dan paling benar. Buat apa lagi pengampunan? Kalau wanita berdosa itu butuh kasih karunia, mereka tidak membutuhkannya. Kalau wanita berdosa itu rindu memperolehnya, para orang Farisi hanya ingin menganalisa dan mencari-cari kesalahan disana.

Kalau wanita berdosa itu memohon pengampunan, mereka hanya ingin mencari perdebatan mengenai hal itu. Dan lihatlah bagaimana reaksi mereka saat melihat wanita berdosa ini menangis di kaki Yesus, mencium dan menyeka dengan rambutnya. Bukannya terenyuh dan timbul rasa belas kasihan, mereka malah merasa jijik dan mempersoalkan Yesus yang membiarkan wanita yang tercemar banyak dosa melakukan hal itu kepadaNya.

Lihatlah, bahwa orang yang tidak butuh pengampunan, yang kalaupun butuh cuma sedikit sekali saja, akan sulit mengasihi. Dengan kata lain, orang yang tidak butuh pengampunan akan kesulitan untuk mengasihi. Great love comes from great forgiveness. Those who don't need forgiveness don't feel the need to love. 

Besok kita akan melihat beberapa poin penting dari kisah ini yang bisa kita jadikan panduan bagi kita untuk melihat hidup dan sikap hati kita.

(bersambung)


Sunday, May 27, 2018

Simon Orang Farisi dan Wanita Berdosa (3)

(sambungan)


Sementara si wanita berdosa butuh usaha keras untuk bisa berada disana. Seperti Simon, ia pun pasti sudah mendengar begitu banyak perbuatan Yesus yang menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan. Saat merenungkan Firman Tuhan, saya suka mencoba membayangkan kejadiannya secara visual dalam benak saya. Ijinkan saya membagikan apa yang saya lihat dalam gambaran di pikiran saya.

Mungkin pada suatu hari ia berada di sisi jalan saat melihat Yesus melakukan mukjizat dan mendengar pengajaran Yesus. Hidupnya yang penuh dosa tersentuh oleh FirmanNya, hatinya yang beku menjadi cair. Kehangatan kasih Kristus mengalir dalam dirinya.

Karena selalu ada kerumunan orang di dekat Yesus, ia tidak bisa bertemu dan berbicara langsung dengan Yesus. Apalagi melihat statusnya yang sudah diketahui seisi kota sebagai wanita pendosa. Tapi suatu hari saat ia mendengar bahwa Yesus akan datang pada jamuan makan di rumah seseorang, ia mengambil keputusan untuk bertemu dengan Yesus, no matter what, no matter how. Ia rindu akan sebuah pertemuan yang lebih personal, ia ingin mendapat jamahan Tuhan secara langsung. Dia tidak peduli dimana, dia tidak peduli siapa orang-orang yang bakal ada disana dan apa yang akan mereka katakan tentang dia. Kalaupun ia kemudian diusir atau dilempar keluar, setidaknya ia sudah berusaha.

Dalam ayat 38 kita bisa melihat bahwa ia berhasil. "Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu." Ia sudah ada tepat di belakang Yesus dekat kakinya. Dia menyadari statusnya, merasa tidak layak dan terjatuh di kaki Yesus. Dia tidak tahu harus berkata apa, dia tidak sanggup mengontrol emosinya. Semua beban hidupnya yang berat tumpah seketika disana lewat air mata yang mengalir deras. Begitu deras sehingga cukup untuk mencuci kaki Yesus.

Bagaimana mengeringkannya? Wanita ini memilih untuk menyeka kaki Yesus yang basah oleh air mata dengan rambutnya. Ia mencium kaki Yesus dan kemudian meminyaki dengan minyak wangi yang ia bawa, bukan di kepala seperti adat Yahudi melainkan di kaki Yesus, satu-satunya tempat yang ia bisa atau berani dekati. Bagi saya apa yang ia lakukan sangat mengharukan. Siapapun kita yang mungkin hari ini sedang berada di persimpangan jalan dan tengah terpuruk oleh dosa, kita bisa ikuti langkah wanita ini menuju kaki Yesus.

Sebuah kesimpulan bisa kita dapatkan dari kisah ini. Simon mengundang Yesus ke rumahnya, tapi bukan ke dalam hatinya. Sementara wanita berdosa ini menyambut Yesus dalam hatinya, dan Yesus membalas dengan menyambutNya dengan sukacita lalu mengampuni seluruh dosanya. Ia masuk sebagai wanita berdosa, tapi keluar dengan selamat.

(bersambung)


Friday, May 25, 2018

Simon Orang Farisi dan Wanita Berdosa (2)

(sambungan)

Orang-orang Farisi yang lebih tahu aturan, paham tata krama dibanding orang biasa seharusnya tahu apa yang wajib dilakukan untuk menyambut tamu, terutama tamu khusus yang memang sengajar mereka undang. Anehnya mereka tidak melakukan ini. Tidak ada sentuhan pada bahu, tidak ada ciuman, tidak ada sambutan mencuci kaki dan tidak juga meminyaki kepala.

Kita bisa tahu itu lewat apa yang dikatakan Yesus sendiri. "Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi." (ay 44-46).

Bukannya tuan rumah atau tamu lainnya yang semuanya pakar agama dan ahli kitab, orang-orang yang merasa sebagai manusia 'paling benar' dan 'paling beradab' di muka bumi ini yang melakukan itu, tapi malah seorang wanita berdosa yang saya yakin bahkan tidak diundang.

- Saat mereka tidak mencuci kaki Yesus, wanita berdosa itu membasahi kaki Yesus dengan air mata, lalu ia keringkan dengan rambutnya sendiri.
- Saat mereka tidak mencium Yesus, wanita berdosa itu tanpa henti mencium kaki Yesus.
- Saat mereka tidak meminyaki kepala Yesus dengan minyak, wanita berdosa itu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi.

Kalau di awal perikop kita langsung dikenalkan pada dua tokoh dengan strata sosial, status atau tingkat kehormatan bak bumi dan langit alias besar sekali perbedaannya, dari bagian ini kita bisa melihat reaksi mereka juga berbeda, tapi justru sebaliknya.

Wanita berdosa itu saya yakin tidak diundang oleh Simon. Bisa jadi wanita ini harus berjuang dengan susah payah untuk bisa melihat Yesus secara langsung dan duduk di kakiNya. Kalaupun ia tidak diusir, sepertinya Simon orang Farisi memang ingin menjebak, atau setidaknya menguji Yesus lewat bagaimana Yesus akan bereaksi terhadap wanita pendosa. Itu bisa kita lihat lewat ayat ini: "Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." (ay 39).

Perhatikan, Simon bahkan tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan. Paling tinggi juga nabi, itu menurutnya. Dan itupun masih harus diuji dulu dari bagaimana reaksi Yesus terhadap seorang wanita tidak dikenal yang tiba-tiba menjamah kakiNya. Dan Simon memanggil Yesus dengan "Guru", tidak lebih, tidak kurang (ay 40). Jadi sampai "Guru" lah status Yesus di mata Simon. Ada kemungkinan naik tingkat sampai Nabi, tapi itu masih tergantung hasil pembuktian.

Kalaupun dia anggap Yesus sebagai Guru, bukankah seorang guru pun layak mendapat sambutan sepantasnya sesuai tradisi mereka? Seharusnya demikian. Tapi mereka tidak melakukan itu, dan itu menunjukkan sikap mereka yang tidak menghormati kedatangan Yesus. Mereka tahu bahwa Yesus sudah melakukan banyak mukjizat, jadi Simon mengundang Yesus mungkin untuk mengajar atau melakukan mukjizat, tapi tidak lebih dari itu. Itu menunjukkan sebuah hubungan yang cuma didasarkan pada untung rugi, mereka cuma ingin memanfaatkan Yesus.

(bersambung)


Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...