Ayat bacaan: Amsal 4:23
===================
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
Belum lama ini saat saya ngobrol dengan teman, ia mengeluarkan unek-uneknya tentang kondisi kebersatuan bangsa saat ini. Ia prihatin, sedih karena apa yang selama ini kita banggakan tentang toleransi, kebersamaan dan persatuan, sesuatu yang menjadi warisan turun temurun dan menjadi inspirasi bagi banyak bangsa sudah berada di ambang pintu kepunahan. Bangsa ini semakin parah kehilangan jati dirinya, katanya. Betapa mudahnya orang diprovokasi oleh segelintir orang yang punya agenda sendiri demi keuntungan pribadi mereka atau golongan. "Kenapa orang bisa semudah itu diprovokasi ya?" katanya. Ia berasal dari keluarga dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam. Saya juga. Jadi buat orang-orang yang sudah hidup lama dalam kedamaian ditengah keragaman, apa yang terjadi sekarang memang begitu menyedihkan. Buka sosial media isinya banyak yang menyuarakan kebencian, tertawa di atas penderitaan orang lain, saling tuduh, saling hasut, saling hina, rasis dan sebagainya.
Kenapa orang bisa mudah terprovokasi? Jika Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya, apakah sikap-sikap penuh kebencian seperti itu mencerminkan sisi manapun dari Tuhan? Jika tidak, bukankah itu sama saja dengan melawan esensi dasar tentang Tuhan dan menghina isi hati Tuhan pada saat Dia menciptakan manusia secara begitu istimewa? Quo vadis, bangsaku?
Selain masalah utama yang tampaknya sementara ini menjadi klimaks dari serangkaian permasalahan yang menyelimuti bangsa ini dan juga banyak tempat di dunia, banyak dari kita hari-hari ini bergumul dengan kesulitannya masing-masing. Ada begitu banyak orang hari-hari ini yang mulai putus asa dan kehilangan harapan dalam hidupnya. They are slowly giving up, closing the book and don't want to write another chapter. They had enough. Kita bisa mengetahui mereka yang kehilangan harapan ini dengan mudah dari apa yang paling sering keluar dari mulut mereka, bahkan air muka saja sudah bisa menyiratkan itu. Ada banyak orang yang semakin cenderung bicara mengenai hal-hal yang negatif. Mengeluh, bersungut-sungut, menggerutu dan sebagainya.
Lalu semakin banyak orang bisa begitu gampang tersulut emosi, menjadi sangat sulit untuk sabar lalu menjadi orang pemarah. Sumbu emosinya menjadi sangat pendek seperti petasan cabe. Tersulut sedikit langsung meledak besar. Di sisi lain ada orang yang semakin lama semakin tidak yakin akan kemampuan dirinya sendiri. Mereka menolak peluang-peluang yang terbuka di depan mata karena merasa diri mereka pasti tidak sanggup untuk melakukannya bahkan sebelum mereka mencoba atau setidaknya memikirkan baik-baik terlebih dahulu. Ada yang bangga dengan hidup penuh kebencian. Masih mending kalau bencinya disimpan untuk diri sendiri, tapi mereka menyuarakan dengan lantang ke mana-mana, menyebarkan hasutan bahkan kebohongan agar orang mau masuk ke dalam dunia penuh benci mereka.
Ada orang optimis, ada orang pesimis. Ada orang sabar, ada yang cepat marah. Ada yang tidak jemu-jemu berusaha meski sudah terjatuh beberapa kali, ada yang kehilangan harapan dan berhenti berusaha, ada juga yang menyerah sebelum bertanding. Ada yang terus percaya akan rencana Tuhan walau masih berada dalam situasi sulit, tetapi ada pula yang masih ragu meski mereka baik-baik saja. Ada yang mengasihi, ada yang memusuhi dan membenci. Ada banyak faktor yang menjadi dasar perbedaan karakter, cara pandang atau pola pikir seperti ini, tetapi apapun itu, cepat atau lambat kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa semuanya bermuara dari satu hal, yaitu hati.
Seperti apa kondisi dan suasana hati kita hari ini? Kalau diibaratkan seperti cuaca, seperti apa temperaturnya sekarang, panas, hangat atau dingin membeku? Keadaan atau kondisi hati kita akan sangat menentukan reaksi kita dalam memandang kehidupan kita dan bagaimana kita bersikap ditengah persinggungan dengan banyak orang. Ketika hati sedang panas,kita akan mudah terpancing emosi, gampang tersinggung dan sebagainya. Hati yang panas akan mempengaruhi air muka dan kemudian mendorong kita untuk melakukan tindakan-tindakan tercela yang jelas melanggar Firman Tuhan.
Kita bisa melihat sebuah contoh dalam Alkitab, yaitu ketika Kain membunuh saudara kandungnya sendiri, Habel. Mengapa ia membunuh saudaranya? Karena ia iri. Darimana iri itu muncul? Dari hati. Dan Alkitab mencatatnya dengan jelas. "tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram." (Kejadian 4:6). Hatinya panas, itu kemudian membuat wajahnya menjadi muram. Ia menjadi gelap mata, tidak lagi bisa berpikir sehat dan akhirnya ia pun melakukan kekejian, yang rasanya tidak akan mungkin dilakukan oleh manusia normal. Sebuah kejahatan yang fatal terjadi, dan itu semua berasal dari hati yang tidak terjaga dengan baik.
Dalam contoh lain, kepahitan pun bisa timbul dari hati yang kecewa. Dalam hal ini mungkin Naomi bisa menjadi contoh. Tidak tanggung-tanggung, Naomi mengalami kepahitan karena kecewa kepada Tuhan. "Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku." (Rut 1:20). Ayub pun merupakan salah satu contoh yang sempat mengalami kepahitan. Satu kesimpulan yang bisa kita ambil, hati akan sangat menentukan bagaimana kita menjalani hidup. Apakah kita optimis atau pesimis, apakah kita bersukacita atau penuh kepahitan, semua bermuara pada satu hal, yaitu kondisi hati kita.
(bersambung)
Wednesday, November 8, 2017
Tuesday, November 7, 2017
Hati Teguh Sekeras Intan (2)
(sambungan)
Kemudian mari lihat bagian ini: "janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya". Ini poin tiga. Kita kerap mudah terintimidasi sebelum kita mulai melakukan sesuatu. Melihat wajah-wajah sangar yang berteriak-teriak saja sudah membuat kita takut, apalagi kalau mereka sambil mengacungkan senjata dalam bentuk apapun dan memakai atribut tertentu. "Wah sudah, lain kali saja deh." Itu yang kita pikirkan sambil balik badan dan ambil langkah seribu. Atau, kita justru menolak dan kabur karena takut. "Orang lain saja ah, Tuhan, jangan saya. Kasihani saya yang tidak bisa apa-apa ini." Itu mungkin jadi jawaban kita. Ketakutan dan rasa gentar itu berasal dari hati yang kemudian mempengaruhi pikiran kita yang akhirnya memutuskan untuk menolak, setidaknya menunda tugas yang diperintahkan Tuhan.
Sadar atau tidak, kita harus menyadari ada berapa peluang yang terbuang karena kita membiarkan hati kita takut dan gentar. Saya sudah beberapa kali melakukan hal ini dan benar, Tuhan memang melengkapi saat Dia memberi tugas. Menyampaikan kesaksian tentang Kristus itu kewajiban kita, tapi kita harus pakai hikmat dalam melakukannya terutama dalam penugasan yang mengundang resiko. Jangan pintar-pintaran atau nekad pakai cara sendiri karena itu jelas berbahaya. Jadi, kita butuh hikmat, dan harus punya hati yang seteguh intan yang akan membuat hati kita tidak mudah takut dan gentar, agar bisa melakukannya. Kalau Tuhan buka kesempatan untuk itu dan suruh kita, kita harus siap.
Banyak orang menganggap hati adalah kata lain dari perasaan. Ada juga yang menganggap bahwa hati hanyalah pusat emosi semata. Hati adalah pusat diri, pusat dari segala keinginan yang terkuat. Dari hati lahir berbagai kehendak dan keinginan, hati juga dapat memberi gambaran yang lebih besar dari apa yang bahkan tidak bisa dilihat melalui persepsi otak. Dari hati lah kita bisa membuat pilihan-pilihan bijaksana, penuh hikmat, penuh kasih, atau sebaliknya. Betapa penting fungsi hati bagi manusia, dan itu pun ditegaskan di dalam Alkitab dalam banyak kesempatan.
Karena itu pula adalah sangat penting bagi kita untuk menjaga hati kita dengan baik. Firman Tuhan berkata: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23) Berapa banyak dari kita yang menyadari bahwa hati adalah pusat kontrol segala sesuatu tentang kehidupan kita? Hati yang penuh amarah akan membuat kita tampil menjadi pemarah alias orang bersumbu pendek. Hati penuh kebencian akan membuat kita hidup membenci semuanya, bahkan air muka kita pun akan menampilkan itu. Orang yang hatinya penuh kasih tentu berbeda, dan itu akan terlihat dengan nyata.
Betapa banyak diantara kita gagal menjadi anak Allah yang hidup benar karena kita tidak atau kurang memiliki keteguhan hati. Kita seringkali terlalu mudah terbawa arus pergaulan, ikut-ikutan teman maupun mengikuti cara dunia kemudian berubah menjadi "pemberontak". Itu sesuatu yang sangat tidak Allah inginkan dari kita. Dengan begitu mudahnya kita terpengaruh oleh hal-hal kedagingan yang berpusat kepada kenikmatan duniawi, hal-hal yang mengakibatkan dosa, hanya karena hati kita begitu lemah dan tidak sanggup untuk mengatakan "tidak" kepada segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Jika kondisi hati kita masih seperti itu, akan sanggupkah kita untuk melakukan tugas yang sudah diamanatkan kepada setiap orang percaya? Untuk menjaga hidup tetap benar di dunia yang sulit saja bakalan sulit minta ampun. Sebentuk hati yang teguh akan selalu memotivasi kita, mengingatkan kita untuk memberikan yang terbaik dari diri kita bagi kemuliaan Tuhan. Hati yang teguh akan selalu memberi peringatan apabila berbagai bentuk dosa mulai mendekati kita.
Sekali lagi, kalau Tuhan menugaskan, Dia memperlengkapi. Tuhan tidak akan memberi tugas lantas meninggalkan kita begitu saja sendirian. Dia tahu betul apa yang kita butuhkan untuk bisa melakukan dengan baik, Dia tahu apa yang masih kurang dari kita untuk itu. Dengan hati seteguh intan, hati kita seharusnya tidak lagi dipenuhi ketakutan dan rasa gentar. Yehezkiel diberi tugas yang tidak mudah. Tuhan melengkapinya dan kemudian ia bisa melakukan apa yang diinginkan Tuhan. Hari ini kita semua pun punya tugas yang tidak mudah. Kita mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang terlalu jauh di atas kemampuan kita, tapi kalau Tuhan yang menugaskan, tentu Dia tahu bahwa kita mampu. Segala yang kurang Dia yang lengkapi, yang dibutuhkan adalah kesediaan kita untuk taat menjawab Tuhan dengan tindakan nyata.
Hati seteguh intan akan membuat kita mampu menembus tantangan yang terkeras sekalipun
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sadar atau tidak, kita harus menyadari ada berapa peluang yang terbuang karena kita membiarkan hati kita takut dan gentar. Saya sudah beberapa kali melakukan hal ini dan benar, Tuhan memang melengkapi saat Dia memberi tugas. Menyampaikan kesaksian tentang Kristus itu kewajiban kita, tapi kita harus pakai hikmat dalam melakukannya terutama dalam penugasan yang mengundang resiko. Jangan pintar-pintaran atau nekad pakai cara sendiri karena itu jelas berbahaya. Jadi, kita butuh hikmat, dan harus punya hati yang seteguh intan yang akan membuat hati kita tidak mudah takut dan gentar, agar bisa melakukannya. Kalau Tuhan buka kesempatan untuk itu dan suruh kita, kita harus siap.
Banyak orang menganggap hati adalah kata lain dari perasaan. Ada juga yang menganggap bahwa hati hanyalah pusat emosi semata. Hati adalah pusat diri, pusat dari segala keinginan yang terkuat. Dari hati lahir berbagai kehendak dan keinginan, hati juga dapat memberi gambaran yang lebih besar dari apa yang bahkan tidak bisa dilihat melalui persepsi otak. Dari hati lah kita bisa membuat pilihan-pilihan bijaksana, penuh hikmat, penuh kasih, atau sebaliknya. Betapa penting fungsi hati bagi manusia, dan itu pun ditegaskan di dalam Alkitab dalam banyak kesempatan.
Karena itu pula adalah sangat penting bagi kita untuk menjaga hati kita dengan baik. Firman Tuhan berkata: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23) Berapa banyak dari kita yang menyadari bahwa hati adalah pusat kontrol segala sesuatu tentang kehidupan kita? Hati yang penuh amarah akan membuat kita tampil menjadi pemarah alias orang bersumbu pendek. Hati penuh kebencian akan membuat kita hidup membenci semuanya, bahkan air muka kita pun akan menampilkan itu. Orang yang hatinya penuh kasih tentu berbeda, dan itu akan terlihat dengan nyata.
Betapa banyak diantara kita gagal menjadi anak Allah yang hidup benar karena kita tidak atau kurang memiliki keteguhan hati. Kita seringkali terlalu mudah terbawa arus pergaulan, ikut-ikutan teman maupun mengikuti cara dunia kemudian berubah menjadi "pemberontak". Itu sesuatu yang sangat tidak Allah inginkan dari kita. Dengan begitu mudahnya kita terpengaruh oleh hal-hal kedagingan yang berpusat kepada kenikmatan duniawi, hal-hal yang mengakibatkan dosa, hanya karena hati kita begitu lemah dan tidak sanggup untuk mengatakan "tidak" kepada segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Jika kondisi hati kita masih seperti itu, akan sanggupkah kita untuk melakukan tugas yang sudah diamanatkan kepada setiap orang percaya? Untuk menjaga hidup tetap benar di dunia yang sulit saja bakalan sulit minta ampun. Sebentuk hati yang teguh akan selalu memotivasi kita, mengingatkan kita untuk memberikan yang terbaik dari diri kita bagi kemuliaan Tuhan. Hati yang teguh akan selalu memberi peringatan apabila berbagai bentuk dosa mulai mendekati kita.
Sekali lagi, kalau Tuhan menugaskan, Dia memperlengkapi. Tuhan tidak akan memberi tugas lantas meninggalkan kita begitu saja sendirian. Dia tahu betul apa yang kita butuhkan untuk bisa melakukan dengan baik, Dia tahu apa yang masih kurang dari kita untuk itu. Dengan hati seteguh intan, hati kita seharusnya tidak lagi dipenuhi ketakutan dan rasa gentar. Yehezkiel diberi tugas yang tidak mudah. Tuhan melengkapinya dan kemudian ia bisa melakukan apa yang diinginkan Tuhan. Hari ini kita semua pun punya tugas yang tidak mudah. Kita mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang terlalu jauh di atas kemampuan kita, tapi kalau Tuhan yang menugaskan, tentu Dia tahu bahwa kita mampu. Segala yang kurang Dia yang lengkapi, yang dibutuhkan adalah kesediaan kita untuk taat menjawab Tuhan dengan tindakan nyata.
Hati seteguh intan akan membuat kita mampu menembus tantangan yang terkeras sekalipun
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, November 6, 2017
Hati Teguh Sekeras Intan (1)
Ayat bacaan: Yehezkiel 3:8-9
======================
"Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak."
Ijinkan saya mengambil kembali ayat dalam Yehezkiel 3:8-9 sebagai ayat bacaan hari ini dan melanjutkan apa yang sudah saya bagikan kemarin. Kita sudah tahu bahwa disamping keindahan dan kilaunya yang muncul dari kemampuannya mendispersikan cahaya, intan merupakan mineral yang sangat keras, bahkan melebihi tingkat keras baja. Banyak penelitian menyebutkan bahwa intan sebagai bentuk kristal dari karbon lewat proses selama jutaan tahun memiliki kekerasan dengan skala tertinggi yang bisa dijumpai di alam (10 MOHs) karena memiliki kerapatan atau kepadatan atom yang teramat sangat padat.
Itulah sebabnya intan bukan saja dipakai sebagai bahan baku pembuatan berlian tapi juga sangat dibutuhkan dalam dunia industri dan pertambangan. tika yang lain tidak lagi sanggup, maka intanlah satu-satunya alat yang sanggup memotong benda keras ini.Sejak sekitar abad ke 15 intan mulai dipakai untuk memotong permata termasuk sesama intan. Intan juga dipakai sebagai mata bor untuk menembus bebatuan keras dalam pertambangan seperti pertambangan minyak bumi dan batu bara misalnya.
Alangkah menariknya jika Tuhan memakai intan sebagai contoh yang bisa dimengerti terhadap apa yang akan Dia berikan kepada Yehezkiel agar tidak gentar dalam menjalankan misinya seperti yang diinginkan Tuhan. Dan ini membawa kita pada poin pertama renungan saya kali ini: Ketika Tuhan memberi penugasan, Dia melengkapi kita dengan segala sesuatu yang dibutuhkan.
Tuhan tidak memberi tugas yang tidak bisa kita selesaikan. Mungkin kita merasa tidak sanggup, mungkin kita sendiri belum menyadari potensi yang ada pada diri kita, tapi Tuhan sebagai Pihak yang menciptakan tentu lebih tahu luar dalam tentang ciptaanNya dibanding kita sendiri. Yang sering menjadi sumber keraguan atau bahkan penolakan kita terhadap tugasNya adalah karena kita merasa ada yang masih kurang lengkap dari diri kita agar bisa melakukannya. Ayat hari ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak sekedar menyuruh tapi juga melengkapi.
Jadi, ketika Tuhan memberikan tugas dan kita memandang kita belum cukup mampu untuk itu, berjalan dan pandang dengan iman. Percayalah bahwa Tuhan tahu kebutuhan kita dan Dia sendiri yang akan sediakan. Yang diperlukan adalah ketaatan dan kesediaan kita untuk melakukan, karena seringkali apa yang dituntut Tuhan bukanlah soal bisa atau tidak tapi mau atau tidak.
Kemudian, yang tidak kalah menarik adalah sifat keras intan yang dipakai Tuhan untuk mengatasi orang-orang pemberontak yang hatinya keras seperti batu. Pada masa itu dikatakan ada begitu banyak orang yang kepalanya keras seperti batu. Dalam bahasa Inggrisnya kata yang dipakai bukanlah stone tapi flint, alias batu sangat keras yang biasanya dipakai untuk membuat perkakas atau senjata seperti tombak.
Supaya Yehezkiel sanggup menunaikan tugasnya, tentu Tuhan harus memberikan sesuatu yang lebih kuat dari batu jenis itu, something harder than flint. Dan intan (adamant) memang terbukti mampu memotong atau menembus batu sekeras flint ini, sehingga apabila Yehezkiel diberikanNya kekuatan seperti intan, Yehezkiel akan mampu menembus keras kepalanya para pemberontak ini. Poin kedua: Tuhan tahu betul apa yang kita butuhkan secara detail, itulah yang persisnya Dia sediakan buat kita. He knows EXACTLY what we need to be able to do His task, He will SURELY provide what we lack of.
Tugas Yehezkiel sangat berat. Yehezkiel harus menghadapi sebuah bangsa yang memberontak terhadap Allah. Bayangkan jika kita hari ini ditugaskan untuk menghadapi para pemberontak di jaman ini dan mengantarkan Firman kepada mereka. Mereka yang keras kepala, menindas, mau menang sendiri, merasa paling benar, merasa punya hak untuk merampas hak-hak orang lain bahkan menyakiti dan berani mengatasnamakan Tuhan dalam melakukannya. Orang-orang yang mengandalkan kekuatan jumlah manusia dalam menyiksa kaum lebih kecil, mereka yang hidup dengan penuh kebencian dan tidak mengenal kasih.
Bayangkan jika seandainya kita diminta Tuhan untuk berhadapan dengan mereka. Wah, itu menyeramkan. Tentu saja. Tapi seperti yang saya katakan tadi, Tuhan tidak asal suruh lantas tidak mau tahu. Dia justru tahu apa yang kita butuhkan dengan sangat detail, dan Dia akan sediakan itu buat kita. Untuk menghadapi bangsa keras kepala yang memberontak, Allah mengatakan memberikan hati sekeras batu intan agar Yehezkiel sanggup melakukan tugas seberat itu.
Ada kalanya kita kesulitan menembus penghalang-penghalang dalam menunaikan tugas-tugas kita. Seperti mata bor yang tidak akan sanggup menembus kerasnya sebuah benda tanpa memakai intan, seperti itu pula hati kita apabila tidak memiliki kekerasan setara intan. Alih-alih bertahan, kita malah akan menyerah kalah bahkan hancur dini karena tidak berdaya menembus mereka. Kita merasa tidak Tuhan tahu itu dan Dia memperlengkapi kita agar tugasNya bisa kita selesaikan dengan baik.
(bersambung)
======================
"Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak."
Ijinkan saya mengambil kembali ayat dalam Yehezkiel 3:8-9 sebagai ayat bacaan hari ini dan melanjutkan apa yang sudah saya bagikan kemarin. Kita sudah tahu bahwa disamping keindahan dan kilaunya yang muncul dari kemampuannya mendispersikan cahaya, intan merupakan mineral yang sangat keras, bahkan melebihi tingkat keras baja. Banyak penelitian menyebutkan bahwa intan sebagai bentuk kristal dari karbon lewat proses selama jutaan tahun memiliki kekerasan dengan skala tertinggi yang bisa dijumpai di alam (10 MOHs) karena memiliki kerapatan atau kepadatan atom yang teramat sangat padat.
Itulah sebabnya intan bukan saja dipakai sebagai bahan baku pembuatan berlian tapi juga sangat dibutuhkan dalam dunia industri dan pertambangan. tika yang lain tidak lagi sanggup, maka intanlah satu-satunya alat yang sanggup memotong benda keras ini.Sejak sekitar abad ke 15 intan mulai dipakai untuk memotong permata termasuk sesama intan. Intan juga dipakai sebagai mata bor untuk menembus bebatuan keras dalam pertambangan seperti pertambangan minyak bumi dan batu bara misalnya.
Alangkah menariknya jika Tuhan memakai intan sebagai contoh yang bisa dimengerti terhadap apa yang akan Dia berikan kepada Yehezkiel agar tidak gentar dalam menjalankan misinya seperti yang diinginkan Tuhan. Dan ini membawa kita pada poin pertama renungan saya kali ini: Ketika Tuhan memberi penugasan, Dia melengkapi kita dengan segala sesuatu yang dibutuhkan.
Tuhan tidak memberi tugas yang tidak bisa kita selesaikan. Mungkin kita merasa tidak sanggup, mungkin kita sendiri belum menyadari potensi yang ada pada diri kita, tapi Tuhan sebagai Pihak yang menciptakan tentu lebih tahu luar dalam tentang ciptaanNya dibanding kita sendiri. Yang sering menjadi sumber keraguan atau bahkan penolakan kita terhadap tugasNya adalah karena kita merasa ada yang masih kurang lengkap dari diri kita agar bisa melakukannya. Ayat hari ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak sekedar menyuruh tapi juga melengkapi.
Jadi, ketika Tuhan memberikan tugas dan kita memandang kita belum cukup mampu untuk itu, berjalan dan pandang dengan iman. Percayalah bahwa Tuhan tahu kebutuhan kita dan Dia sendiri yang akan sediakan. Yang diperlukan adalah ketaatan dan kesediaan kita untuk melakukan, karena seringkali apa yang dituntut Tuhan bukanlah soal bisa atau tidak tapi mau atau tidak.
Kemudian, yang tidak kalah menarik adalah sifat keras intan yang dipakai Tuhan untuk mengatasi orang-orang pemberontak yang hatinya keras seperti batu. Pada masa itu dikatakan ada begitu banyak orang yang kepalanya keras seperti batu. Dalam bahasa Inggrisnya kata yang dipakai bukanlah stone tapi flint, alias batu sangat keras yang biasanya dipakai untuk membuat perkakas atau senjata seperti tombak.
Supaya Yehezkiel sanggup menunaikan tugasnya, tentu Tuhan harus memberikan sesuatu yang lebih kuat dari batu jenis itu, something harder than flint. Dan intan (adamant) memang terbukti mampu memotong atau menembus batu sekeras flint ini, sehingga apabila Yehezkiel diberikanNya kekuatan seperti intan, Yehezkiel akan mampu menembus keras kepalanya para pemberontak ini. Poin kedua: Tuhan tahu betul apa yang kita butuhkan secara detail, itulah yang persisnya Dia sediakan buat kita. He knows EXACTLY what we need to be able to do His task, He will SURELY provide what we lack of.
Tugas Yehezkiel sangat berat. Yehezkiel harus menghadapi sebuah bangsa yang memberontak terhadap Allah. Bayangkan jika kita hari ini ditugaskan untuk menghadapi para pemberontak di jaman ini dan mengantarkan Firman kepada mereka. Mereka yang keras kepala, menindas, mau menang sendiri, merasa paling benar, merasa punya hak untuk merampas hak-hak orang lain bahkan menyakiti dan berani mengatasnamakan Tuhan dalam melakukannya. Orang-orang yang mengandalkan kekuatan jumlah manusia dalam menyiksa kaum lebih kecil, mereka yang hidup dengan penuh kebencian dan tidak mengenal kasih.
Bayangkan jika seandainya kita diminta Tuhan untuk berhadapan dengan mereka. Wah, itu menyeramkan. Tentu saja. Tapi seperti yang saya katakan tadi, Tuhan tidak asal suruh lantas tidak mau tahu. Dia justru tahu apa yang kita butuhkan dengan sangat detail, dan Dia akan sediakan itu buat kita. Untuk menghadapi bangsa keras kepala yang memberontak, Allah mengatakan memberikan hati sekeras batu intan agar Yehezkiel sanggup melakukan tugas seberat itu.
Ada kalanya kita kesulitan menembus penghalang-penghalang dalam menunaikan tugas-tugas kita. Seperti mata bor yang tidak akan sanggup menembus kerasnya sebuah benda tanpa memakai intan, seperti itu pula hati kita apabila tidak memiliki kekerasan setara intan. Alih-alih bertahan, kita malah akan menyerah kalah bahkan hancur dini karena tidak berdaya menembus mereka. Kita merasa tidak Tuhan tahu itu dan Dia memperlengkapi kita agar tugasNya bisa kita selesaikan dengan baik.
(bersambung)
Sunday, November 5, 2017
Mental Sekeras Baja, Hati Seteguh Intan (2)
(sambungan)
Menghadapi situasi dan orang-orang seperti itu jelas bukan tugas yang mudah, malah boleh dikatakan sebagai mission impossible. Tapi Tuhan pun tahu itu. Oleh karena itulah maka Tuhan memberikan hati sekeras batu intan untuk memampukan Yehezkiel menunaikan tugasnya yang sangat sulit itu. "Lihat, Aku meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan semangatmu melawan ketegaran hati mereka. Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu." (Yehezkiel 3:8-9a).
Bukankah kita sangat memerlukan hal yang sama dalam menghadapi hari demi hari di jaman yang berat ini. Alkitab sejak dulu sudah menyebutkan bahwa "seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat" (1 Yohanes 5:9). Kita hidup di dunia dimana "orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13). Di setiap sisi kehidupan kita akan terus berhadapan dengan saat-saat dimana iman kita diuji. Dunia terus menawarkan kenikmatan yang setiap saat mampu membuat kita terjatuh dalam dosa. Betapa seringnya kita gagal dalam perjalanan karena kita tidak memiliki keteguhan hati yang cukup. Kita sering terbawa arus pergaulan, begitu cepat terpengaruh akan hal-hal duniawi dan sulit untuk mengatakan "tidak" kepada hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebentuk hati yang ada di dalam diri kita sesungguhnya lemah dan rentan untuk disusupi berbagai hal yang akan meruntuhkan kita cepat atau lambat.
Disisi lain, kita bertemu dengan orang-orang yang memaksakan kehendak dan menindas orang yang berbeda dengan mereka. Kemerdekaan kita dirampas, hidup kita bisa terancam sedemikian rupa seolah kita seharusnya tidak pernah ada di muka bumi ini. Dalam keadaan seperti ini, lantas kita harus mengemban Amanat Agung, bukankah itu berat? Jelas kita butuh hati yang teguh, sekeras batu intan yang lebih keras dari batu lainnya bahkan lebih keras dari baja. Dari mana kita dapatkan? Apa yang dikatakan Tuhan pada Yehezkiel menunjukkan dengan sangat terang bahwa Tuhan yang menyediakan dan memberikan itu pada kita. Dia tahu apa yang kita butuhkan, Dia menyediakannya.
Dalam melakukan pelayanan, mewartakan kabar gembira di dunia yang penuh tekanan berat, kita butuh hati sekeras intan. Dalam menjalani hidup pun jelas kita butuh itu. Kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam apabila kita memiliki hati yang lembek, yang gampang terpengaruh arus dunia. Kita tidak akan bisa menjalankan Amanat Agung, kita tidak akan bisa menggenapi rencana Allah tanpa memiliki hati yang kuat. Hati yang teguh, sekeras intan yang jauh lebih keras dari batu apapun, itulah yang disediakan Tuhan buat kita. Jangan lupa pula bahwa seperti halnya intan yang kemudian dijadikan berlian, kehidupan kita harus pula memancarkan terang Tuhan pada sesama. Hati yang seperti berlian seharusnya menyatakan kekekalan, hati yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran yang akan membuat pemiliknya mampu melakukan hal-hal berharga bagi orang banyak lewat panggilannya masing-masing. Malam ini ketika saya merenungkan ayat bacaan kita hari ini, saya melihat betapa hebatnya Tuhan mengambil contoh intan untuk menggambarkan hati seperti apa yang seharusnya kita miliki dan Dia sediakan sehingga kita tetap bisa menjadi pemenang dalam tatanan dunia yang sulit.
Agar bisa memperolehnya, sangatlah penting bagi kita agar tetap menjaga dan memelihara diri kita dalam sebuah hubungan yang erat dengan Allah dan taat kepada perintah-perintahNya. Jangan lari dari tugas dan panggilan Tuhan, jangan ragu atau setengah hati dalam melakukannya. Jangan sampai sesuatu yang sangat berharga dari Tuhan ini terbuang sia-sia atau malah tidak pernah sampai pada kita. Mental pemenang yang sejati hanya akan hadir dari hati seteguh intan. Hati seteguh intan akan memampukan kita untuk berbuat yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan, bahkan di tempat, situasi atau ditengah-tengah orang-orang tersulit sekalipun.
Hati seteguh batu intan yang keras disediakan Tuhan agar kita kuat menghadapi hidup yang sulit
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Menghadapi situasi dan orang-orang seperti itu jelas bukan tugas yang mudah, malah boleh dikatakan sebagai mission impossible. Tapi Tuhan pun tahu itu. Oleh karena itulah maka Tuhan memberikan hati sekeras batu intan untuk memampukan Yehezkiel menunaikan tugasnya yang sangat sulit itu. "Lihat, Aku meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan semangatmu melawan ketegaran hati mereka. Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu." (Yehezkiel 3:8-9a).
Bukankah kita sangat memerlukan hal yang sama dalam menghadapi hari demi hari di jaman yang berat ini. Alkitab sejak dulu sudah menyebutkan bahwa "seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat" (1 Yohanes 5:9). Kita hidup di dunia dimana "orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13). Di setiap sisi kehidupan kita akan terus berhadapan dengan saat-saat dimana iman kita diuji. Dunia terus menawarkan kenikmatan yang setiap saat mampu membuat kita terjatuh dalam dosa. Betapa seringnya kita gagal dalam perjalanan karena kita tidak memiliki keteguhan hati yang cukup. Kita sering terbawa arus pergaulan, begitu cepat terpengaruh akan hal-hal duniawi dan sulit untuk mengatakan "tidak" kepada hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebentuk hati yang ada di dalam diri kita sesungguhnya lemah dan rentan untuk disusupi berbagai hal yang akan meruntuhkan kita cepat atau lambat.
Disisi lain, kita bertemu dengan orang-orang yang memaksakan kehendak dan menindas orang yang berbeda dengan mereka. Kemerdekaan kita dirampas, hidup kita bisa terancam sedemikian rupa seolah kita seharusnya tidak pernah ada di muka bumi ini. Dalam keadaan seperti ini, lantas kita harus mengemban Amanat Agung, bukankah itu berat? Jelas kita butuh hati yang teguh, sekeras batu intan yang lebih keras dari batu lainnya bahkan lebih keras dari baja. Dari mana kita dapatkan? Apa yang dikatakan Tuhan pada Yehezkiel menunjukkan dengan sangat terang bahwa Tuhan yang menyediakan dan memberikan itu pada kita. Dia tahu apa yang kita butuhkan, Dia menyediakannya.
Dalam melakukan pelayanan, mewartakan kabar gembira di dunia yang penuh tekanan berat, kita butuh hati sekeras intan. Dalam menjalani hidup pun jelas kita butuh itu. Kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam apabila kita memiliki hati yang lembek, yang gampang terpengaruh arus dunia. Kita tidak akan bisa menjalankan Amanat Agung, kita tidak akan bisa menggenapi rencana Allah tanpa memiliki hati yang kuat. Hati yang teguh, sekeras intan yang jauh lebih keras dari batu apapun, itulah yang disediakan Tuhan buat kita. Jangan lupa pula bahwa seperti halnya intan yang kemudian dijadikan berlian, kehidupan kita harus pula memancarkan terang Tuhan pada sesama. Hati yang seperti berlian seharusnya menyatakan kekekalan, hati yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran yang akan membuat pemiliknya mampu melakukan hal-hal berharga bagi orang banyak lewat panggilannya masing-masing. Malam ini ketika saya merenungkan ayat bacaan kita hari ini, saya melihat betapa hebatnya Tuhan mengambil contoh intan untuk menggambarkan hati seperti apa yang seharusnya kita miliki dan Dia sediakan sehingga kita tetap bisa menjadi pemenang dalam tatanan dunia yang sulit.
Agar bisa memperolehnya, sangatlah penting bagi kita agar tetap menjaga dan memelihara diri kita dalam sebuah hubungan yang erat dengan Allah dan taat kepada perintah-perintahNya. Jangan lari dari tugas dan panggilan Tuhan, jangan ragu atau setengah hati dalam melakukannya. Jangan sampai sesuatu yang sangat berharga dari Tuhan ini terbuang sia-sia atau malah tidak pernah sampai pada kita. Mental pemenang yang sejati hanya akan hadir dari hati seteguh intan. Hati seteguh intan akan memampukan kita untuk berbuat yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan, bahkan di tempat, situasi atau ditengah-tengah orang-orang tersulit sekalipun.
Hati seteguh batu intan yang keras disediakan Tuhan agar kita kuat menghadapi hidup yang sulit
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, November 4, 2017
Mental Sekeras Baja, Hati Seteguh Intan (1)
Ayat bacaan: Yehezkiel 3:8-9a
========================
"Lihat, Aku meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan semangatmu melawan ketegaran hati mereka. Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu.."
"Miliki mental sekeras baja!" Ini seruan yang saya lihat tertulis di sebuah tembok dengan cat semprot di sebuah jalan pada saat saya melewatinya. Saya berpikir, "wah, jarang-jarang ada tulisan di tembok yang isinya sesuatu yang membangun, bukan cuma mengotori dengan tulisan tanpa makna." Siapa yang tidak butuh mental sekeras baja dalam menghadapi dunia yang sangat sulit seperti sekarang ini? Kondisi ekonomi susah, ada banyak usaha gulung tikar, daya beli jeblok, harga barang terus naik semakin lama semakin tidak terkejar oleh pendapatan. Cari kerja susah karena selain saingannya banyak, lapangannya pun semakin sedikit karena perusahaan banyak yang pada tiarap.
Belum lagi ketimpangan, intimidasi, ketidakadilan, ketidakjujuran, kejahatan dan berbagai masalah lainnya memberi kontribusi signifikan pada kondisi bangsa yang semakin terpuruk. Bukankah kita melihat semakin banyak orang keras kepala yang memaksakan kehendaknya lalu merugikan masyarakat umum saat ini? Mereka semakin di atas angin karena merasa jumlahnya yang besar membuat aparat penegak hukum harus berpikir dua-tiga kali kalau harus berhadapan dengan mereka. Kalau mental lemah atau lembek, selesailah kita. Jadi, meski tulisan itu menodai tembok tanpa ijin, setidaknya ada pesan positif yang seharusnya bisa menginspirasi banyak orang yang membacanya saat kebetulan melintas disana.
Setelah melewatinya, saya kemudian berpikir, adakah pesan yang sama ditulis di dalam Alkitab? Mental atau hati sekeras baja? Kalau ada, bagaimana cara mendapatkannya? Seperti yang saya percaya, tentu saja ada. Malah lebih baik, dengan mengambil materi yang justru lebih keras dari baja. Tuhan tahu bahwa manusia yang memilih hidup benar membutuhkan mental atau hati yang kuat agar sanggup menghadapi tekanan dan problema kehidupan yang kuat. Benda atau materi apa yang lebih kuat dari baja? Jawabannya adalah intan.
Sebelum kita bahas lebih lanjut, mari kita lihat dulu bahan mineral bernama intan ini. Orang awam mungkin mengenal intan sebagai berlian yang sering dipasang pada cincin dalam pernikahan karena dianggap melambangkan cinta sejati yang indah serta tinggi nilainya. Kalau dulu orang cukup dengan 'say it with flowers' sekarang jamannya sudah 'say it with diamond'. Apakah intan sama dengan berlian? Tidak terlalu salah kalau banyak yang menyamakan. Tapi sebenarnya berlian adalah hasil olahan dari intan yang sudah melalui proses penggosokan dan dibentuk dengan proses pemotongan tertentu. Jika sebuah berlian bernilai tinggi, itu jelas tidak terlepas dari nilai bahan bakunya.
Proses pembentukan intan memerlukan waktu yang luar biasa lama. Intan merupakan mineral yang berasal dari substansi karbon yang mengalami tekanan dan panas yang sangat tinggi pada kerak bumi dan melalui proses bukan hanya setahun-dua tahun, puluhan atau ratusan, tetapi selama jutaan tahun. Proses jutaan tahun jelas tidak sebentar. Kalau anda jadi mineral itu, anda harus berada dalam tekanan dan panas terlebih dahulu untuk waktu yang lama agar bisa menjadi sebuah intan. Sakit? Menderita? Pasti. Tapi lihatlah pada akhirnya akan diperoleh sebuah bahan mineral yang punya kekuatan luar biasa besar, selain tentunya bisa diproses menjadi batu permata yang sangat indah dan tinggi nilainya.
Mari kita fokus kepada kekerasannya. Intan sangatlah istimewa karena memiliki tingkat kekerasan yang paling tinggi yang bisa dijumpai dari alam. Itu akibat kerapatan atomnya yang luar biasa padat. Itulah sebabnya intan banyak dipakai dalam bidang industri. Selain sebagai alat pemotong kaca, intan kerap dijadikan mata bor dalam pertambangan minyak bumi dan batu bara. Intan jelas lebih keras dibanding baja. Dan kalau punya mental seperti baja saja sudah sangat baik, Tuhan ingin kita punya hati lebih keras, yaitu sekeras intan. Menariknya, intan bukan saja keras, tapi setelah diproses menjadi berlian orang bisa melihat keindahan dan keabadiannya. Bukankah akan sangat luar biasa kalau kita bisa memiliki hati sekeras intan dalam mengarungi kehidupan yang terus makin sulit? Dan, bukankah lebih luar biasa lagi kalau itu berasal dari Tuhan dan Dia siap berikan pada kita? Keistimewaan intan ini dipakai Tuhan untuk menggambarkan keteguhan hati yang mampu diberikanNya bagi kita untuk bisa menghadapi situasi sulit dalam hidup di dunia ini.
Yehezkiel pada masanya dipakai Tuhan untuk menghadapi sebuah bangsa yang keras, bangsa luar biasa keras kepala dan tegar hati sehingga berani memberontak terhadap Allah.
(bersambung)
========================
"Lihat, Aku meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan semangatmu melawan ketegaran hati mereka. Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu.."
"Miliki mental sekeras baja!" Ini seruan yang saya lihat tertulis di sebuah tembok dengan cat semprot di sebuah jalan pada saat saya melewatinya. Saya berpikir, "wah, jarang-jarang ada tulisan di tembok yang isinya sesuatu yang membangun, bukan cuma mengotori dengan tulisan tanpa makna." Siapa yang tidak butuh mental sekeras baja dalam menghadapi dunia yang sangat sulit seperti sekarang ini? Kondisi ekonomi susah, ada banyak usaha gulung tikar, daya beli jeblok, harga barang terus naik semakin lama semakin tidak terkejar oleh pendapatan. Cari kerja susah karena selain saingannya banyak, lapangannya pun semakin sedikit karena perusahaan banyak yang pada tiarap.
Belum lagi ketimpangan, intimidasi, ketidakadilan, ketidakjujuran, kejahatan dan berbagai masalah lainnya memberi kontribusi signifikan pada kondisi bangsa yang semakin terpuruk. Bukankah kita melihat semakin banyak orang keras kepala yang memaksakan kehendaknya lalu merugikan masyarakat umum saat ini? Mereka semakin di atas angin karena merasa jumlahnya yang besar membuat aparat penegak hukum harus berpikir dua-tiga kali kalau harus berhadapan dengan mereka. Kalau mental lemah atau lembek, selesailah kita. Jadi, meski tulisan itu menodai tembok tanpa ijin, setidaknya ada pesan positif yang seharusnya bisa menginspirasi banyak orang yang membacanya saat kebetulan melintas disana.
Setelah melewatinya, saya kemudian berpikir, adakah pesan yang sama ditulis di dalam Alkitab? Mental atau hati sekeras baja? Kalau ada, bagaimana cara mendapatkannya? Seperti yang saya percaya, tentu saja ada. Malah lebih baik, dengan mengambil materi yang justru lebih keras dari baja. Tuhan tahu bahwa manusia yang memilih hidup benar membutuhkan mental atau hati yang kuat agar sanggup menghadapi tekanan dan problema kehidupan yang kuat. Benda atau materi apa yang lebih kuat dari baja? Jawabannya adalah intan.
Sebelum kita bahas lebih lanjut, mari kita lihat dulu bahan mineral bernama intan ini. Orang awam mungkin mengenal intan sebagai berlian yang sering dipasang pada cincin dalam pernikahan karena dianggap melambangkan cinta sejati yang indah serta tinggi nilainya. Kalau dulu orang cukup dengan 'say it with flowers' sekarang jamannya sudah 'say it with diamond'. Apakah intan sama dengan berlian? Tidak terlalu salah kalau banyak yang menyamakan. Tapi sebenarnya berlian adalah hasil olahan dari intan yang sudah melalui proses penggosokan dan dibentuk dengan proses pemotongan tertentu. Jika sebuah berlian bernilai tinggi, itu jelas tidak terlepas dari nilai bahan bakunya.
Proses pembentukan intan memerlukan waktu yang luar biasa lama. Intan merupakan mineral yang berasal dari substansi karbon yang mengalami tekanan dan panas yang sangat tinggi pada kerak bumi dan melalui proses bukan hanya setahun-dua tahun, puluhan atau ratusan, tetapi selama jutaan tahun. Proses jutaan tahun jelas tidak sebentar. Kalau anda jadi mineral itu, anda harus berada dalam tekanan dan panas terlebih dahulu untuk waktu yang lama agar bisa menjadi sebuah intan. Sakit? Menderita? Pasti. Tapi lihatlah pada akhirnya akan diperoleh sebuah bahan mineral yang punya kekuatan luar biasa besar, selain tentunya bisa diproses menjadi batu permata yang sangat indah dan tinggi nilainya.
Mari kita fokus kepada kekerasannya. Intan sangatlah istimewa karena memiliki tingkat kekerasan yang paling tinggi yang bisa dijumpai dari alam. Itu akibat kerapatan atomnya yang luar biasa padat. Itulah sebabnya intan banyak dipakai dalam bidang industri. Selain sebagai alat pemotong kaca, intan kerap dijadikan mata bor dalam pertambangan minyak bumi dan batu bara. Intan jelas lebih keras dibanding baja. Dan kalau punya mental seperti baja saja sudah sangat baik, Tuhan ingin kita punya hati lebih keras, yaitu sekeras intan. Menariknya, intan bukan saja keras, tapi setelah diproses menjadi berlian orang bisa melihat keindahan dan keabadiannya. Bukankah akan sangat luar biasa kalau kita bisa memiliki hati sekeras intan dalam mengarungi kehidupan yang terus makin sulit? Dan, bukankah lebih luar biasa lagi kalau itu berasal dari Tuhan dan Dia siap berikan pada kita? Keistimewaan intan ini dipakai Tuhan untuk menggambarkan keteguhan hati yang mampu diberikanNya bagi kita untuk bisa menghadapi situasi sulit dalam hidup di dunia ini.
Yehezkiel pada masanya dipakai Tuhan untuk menghadapi sebuah bangsa yang keras, bangsa luar biasa keras kepala dan tegar hati sehingga berani memberontak terhadap Allah.
(bersambung)
Friday, November 3, 2017
Bijak Menyikapi Popularitas (2)
(sambungan)
Lewat Yohanes Pembaptis kita bisa melihat contoh jelas akan hal itu. Yohanes Pembaptis merupakan satu-satunya orang yang diberi kehormatan besar untuk membaptis Yesus. Itu bisa membuatnya membesarkan dirinya demi popularitas pribadi, tetapi ia bukanlah orang seperti itu. Lihatlah apa katanya. "Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya...Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:28,30). Apa yang disampaikan Yohanes Pembaptis harus kita aplikasikan dalam hidup kita. Kemuliaan Allah harus terus semakin besar lewat pribadi kita dan dalam saat yang sama kita harus terus semakin rendah hati dan tidak tergiur oleh dorongan mencari popularitas di mata manusia. Ini jelas berbanding terbalik dari apa yang hebat dalam pandangan dunia, tapi itulah yang seharusnya kita jaga agar perjalanan kita di dunia tidak melenceng keluar jalur dan kemudian gagal mencapai garis akhir seperti yang diinginkan Tuhan.
Memilih untuk rendah hati dan tidak mengejar ketenaran bisa jadi dianggap sebagai pilihan tidak populer atau malah bodoh di mata dunia. Tapi bila memang kita harus dianggap aneh oleh dunia, atau malah harus menghadapi resiko disingkirkan atau dikucilkan,itu masih jauh lebih baik ketimbang kita mentolerir berbagai bentuk pelanggaran yang akan semakin menjauhkan kita dari posisi kita sebagai ahli waris Tuhan. Yesus bahkan telah mengingatkan "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Kenapa? "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." (Matius 16:25). Dan itulah yang sesungguhnya berguna hingga kekekalan, the everlasting, eternal life. Itu yang dijanjikan oleh Kristus. Itulah yang jauh lebih pantas kita usahakan ketimbang mencari popularitas di dunia yang sifatnya hanya sementara ini.
Lalu dengarkanlah apa kata Yesus selanjutnya: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (ay 26). Apa gunanya popularitas di dunia dibandingkan dengan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang terberkati dalam Kerajaan Allah? Buat apa terlihat hebat di mata dunia dan dikenal semua orang tetapi Tuhan tidak mengenal kita dan kita sama sekali tidak tertulis di dalam daftar yang akan masuk menerima kebahagiaan yang kekal kelak bersamaNya?
Sekali lagi, saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh populer atau terkenal. Yang salah adalah kalau kita sibuk mengejar popularitas diantasa banyak hal lainnya seperti kekayaan dan menomorduakan atau bahkan berhenti mengejar untuk terus belajar lebih lagi dalam mengenal Tuhan, mengerti dan hidup melakukan kehendakNya. Sepanjang popularitas bukan menjadi prioritas utama untuk dikejar dalam hidup ini, jika kondisi hati kita tetap terjaga rendah hati dan memberikan semua kemuliaan bagi Tuhan, tentu itu baik.
Menjadi populer bisa sangat baik apabila itu dipakai untuk memuliakan Tuhan. Tuhan bisa berikan kita itu, tapi kita harus berhati-hati agar jangan sampai popularitas justru mendatangkan malapetaka bagi kita. Sikap hati harus terus dikawal dengan penuh kewaspadaan. Jangan lupa seperti halnya Yohanes Pembaptis, semakin tinggi kita naik, seharusnya Tuhanlah yang semakin kita tinggikan dan kita sendiri semakin kecil. Populer boleh saja, tetapi bukan untuk menunjukkan kekuasaan atau kehebatan kita tetapi untuk menyatakan kebenaran, kebaikan dan kasih Tuhan dengan segala kerendahan hati.
Kita harus hati-hati betul terhadap berbagai tawaran dunia yang menjanjikan kepopuleran dan ketenaran. Itu semua tidaklah penting karena tidak akan pernah bisa berguna untuk kehidupan kita kelak jika hanya dipakai untuk mencari keuntungan diri sendiri. Muliakan Tuhan di dalam segala yang kita kerjakan, biarlah setiap langkah kesuksesan kita menyerukan nama Tuhan dan bukan nama kita. Biarlah dalam setiap langkah peningkatan Tuhan yang dipermuliakan bukan diri kita dibiarkan merebut hak Tuhan. Yang harus kita ingat betula adalah Tuhan memanggil kita untuk melakukan apa yang benar dan bukan untuk menjadi populer di mata dunia. Meski di mata orang lain kita dianggap aneh atau bodoh, ingatlah bahwa Allah selalu menghargai betul keputusan kita untuk tetap tampil sebagai orang benar.
Kita diminta untuk menjadi orang benar dan bukan untuk populer. Better becareful, because fame and popularity could kill.
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Lewat Yohanes Pembaptis kita bisa melihat contoh jelas akan hal itu. Yohanes Pembaptis merupakan satu-satunya orang yang diberi kehormatan besar untuk membaptis Yesus. Itu bisa membuatnya membesarkan dirinya demi popularitas pribadi, tetapi ia bukanlah orang seperti itu. Lihatlah apa katanya. "Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya...Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:28,30). Apa yang disampaikan Yohanes Pembaptis harus kita aplikasikan dalam hidup kita. Kemuliaan Allah harus terus semakin besar lewat pribadi kita dan dalam saat yang sama kita harus terus semakin rendah hati dan tidak tergiur oleh dorongan mencari popularitas di mata manusia. Ini jelas berbanding terbalik dari apa yang hebat dalam pandangan dunia, tapi itulah yang seharusnya kita jaga agar perjalanan kita di dunia tidak melenceng keluar jalur dan kemudian gagal mencapai garis akhir seperti yang diinginkan Tuhan.
Memilih untuk rendah hati dan tidak mengejar ketenaran bisa jadi dianggap sebagai pilihan tidak populer atau malah bodoh di mata dunia. Tapi bila memang kita harus dianggap aneh oleh dunia, atau malah harus menghadapi resiko disingkirkan atau dikucilkan,itu masih jauh lebih baik ketimbang kita mentolerir berbagai bentuk pelanggaran yang akan semakin menjauhkan kita dari posisi kita sebagai ahli waris Tuhan. Yesus bahkan telah mengingatkan "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Kenapa? "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." (Matius 16:25). Dan itulah yang sesungguhnya berguna hingga kekekalan, the everlasting, eternal life. Itu yang dijanjikan oleh Kristus. Itulah yang jauh lebih pantas kita usahakan ketimbang mencari popularitas di dunia yang sifatnya hanya sementara ini.
Lalu dengarkanlah apa kata Yesus selanjutnya: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (ay 26). Apa gunanya popularitas di dunia dibandingkan dengan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang terberkati dalam Kerajaan Allah? Buat apa terlihat hebat di mata dunia dan dikenal semua orang tetapi Tuhan tidak mengenal kita dan kita sama sekali tidak tertulis di dalam daftar yang akan masuk menerima kebahagiaan yang kekal kelak bersamaNya?
Sekali lagi, saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh populer atau terkenal. Yang salah adalah kalau kita sibuk mengejar popularitas diantasa banyak hal lainnya seperti kekayaan dan menomorduakan atau bahkan berhenti mengejar untuk terus belajar lebih lagi dalam mengenal Tuhan, mengerti dan hidup melakukan kehendakNya. Sepanjang popularitas bukan menjadi prioritas utama untuk dikejar dalam hidup ini, jika kondisi hati kita tetap terjaga rendah hati dan memberikan semua kemuliaan bagi Tuhan, tentu itu baik.
Menjadi populer bisa sangat baik apabila itu dipakai untuk memuliakan Tuhan. Tuhan bisa berikan kita itu, tapi kita harus berhati-hati agar jangan sampai popularitas justru mendatangkan malapetaka bagi kita. Sikap hati harus terus dikawal dengan penuh kewaspadaan. Jangan lupa seperti halnya Yohanes Pembaptis, semakin tinggi kita naik, seharusnya Tuhanlah yang semakin kita tinggikan dan kita sendiri semakin kecil. Populer boleh saja, tetapi bukan untuk menunjukkan kekuasaan atau kehebatan kita tetapi untuk menyatakan kebenaran, kebaikan dan kasih Tuhan dengan segala kerendahan hati.
Kita harus hati-hati betul terhadap berbagai tawaran dunia yang menjanjikan kepopuleran dan ketenaran. Itu semua tidaklah penting karena tidak akan pernah bisa berguna untuk kehidupan kita kelak jika hanya dipakai untuk mencari keuntungan diri sendiri. Muliakan Tuhan di dalam segala yang kita kerjakan, biarlah setiap langkah kesuksesan kita menyerukan nama Tuhan dan bukan nama kita. Biarlah dalam setiap langkah peningkatan Tuhan yang dipermuliakan bukan diri kita dibiarkan merebut hak Tuhan. Yang harus kita ingat betula adalah Tuhan memanggil kita untuk melakukan apa yang benar dan bukan untuk menjadi populer di mata dunia. Meski di mata orang lain kita dianggap aneh atau bodoh, ingatlah bahwa Allah selalu menghargai betul keputusan kita untuk tetap tampil sebagai orang benar.
Kita diminta untuk menjadi orang benar dan bukan untuk populer. Better becareful, because fame and popularity could kill.
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Thursday, November 2, 2017
Bijak Menyikapi Popularitas (1)
Ayat bacaan: Yohanes 3:30
=====================
"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."
"Kamu mau jadi apa kalau besar?" "Saya mau jadi orang terkenal oom!" Itu jawaban dari seorang anak kecil dengan mantap saat saya tanyakan cita-citanya. Jawaban yang tidak terlalu lazim, karena biasanya anak kecil akan mengacu pada sebuah profesi seperti dokter, polisi, pilot, insinyur dan sebagainya. Saya pun tergelitik untuk bertanya lagi pada si anak, kenapa ia mau jadi terkenal. Dan jawabannya membuat saya tertawa karena lucu. "Orang terkenal kan enak oom, mau kemana-mana mudah, disambut meriah, dikasih hadiah, pokoknya saya mau seperti itu kalau sudah besar". katanya. Entah dari mana anak balita bisa mengerti soal terkenal. Mungkin ia melihat dari banyak acara selebrita di televisi dimana orang terkenal itu tampak keren dan beda dari kebanyakan orang. Dapat sambutan meriah, dilayani, disambut dengan karpet merah, dihormati orang, bahkan seringkali mendapat banyak kemudahan dibanding orang biasa.
Apa yang dikatakan si anak kecil mewakili keinginan banyak orang. Mereka akan berusaha dengan segala cara untuk bisa mencapai status populer atau terkenal. Segala cara, berapapun harganya, itu akan dihalalkan agar bisa memperoleh status populer di kalangan dunia. Lihatlah bagaimana berbagai kontes-kontes atau acara mencari bakat terus menjamur dan laris. Itu menunjukkan bahwa menjadi populer itu sangatlah penting bagi begitu banyak orang. Ingin dikagumi, dikenal, diperhatikan dan diidolakan. Mungkin sebagian hanya ingin sukses menjalankan hobi atau bakatnya, tapi tidak bisa dipungkiri sebagian besar ingin bisa tenar. Salahkah kalau terkenal? Bisa ya bisa tidak. Tidak apa-apa kalau terkenal secara alami karena berprestasi, sepanjang tidak melakukan pelanggaran terhadap Firman Tuhan. Tapi masalahnya, ada banyak orang yang tidak sungkan menabrak larangan-larangan Tuhan yang bisa jadi dianggap penghalang untuk bisa mencapai popularitas di mata dunia. Seringkali untuk sukses orang harus mengorbankan bahkan imannya, dan itu bukanlah sesuatu yang baru. Banyak pemimpin yang memilih membuat keputusan-keputusan yang salah karena tidak mau popularitasnya tergerus. Posting aneh-aneh di media sosial, itu pun sekarang bisa membuat orang terkenal dalam waktu singkat.
Bagi saya yang bergerak di dunia musik, ada banyak musisi atau artis yang tadinya ramah, baik dan taat tapi kemudian berubah sikapnya setelah sukses. Popularitas bisa baik kalau itu membuat kita bisa lebih lagi menjadi saluran berkat Tuhan untuk orang lain, popularitas bisa baik kalau itu membuat kita bisa semakin memuliakan Tuhan dalam setiap yang kita kerjakan. Tapi kalau popularitas malah membuka jurang antara kita dengan Tuhan, membuat kita salah menyikapi rencana Tuhan dan nantinya menggagalkan kita untuk mencapai garis akhir dengan tetap memelihara iman, wah nanti dulu.
Masalahnya, popularitas bisa menjadi salah satu penyebab terbesar kejatuhan manusia dan menjadi salah satu cara paling favorit buat si jahat untuk membinasakan manusia. Dunia terus mengajarkan untuk mengejar popularitas sebagai satu dari sekian hal yang dikatakan bisa mendatangkan kebahagiaan dan keamanan. Dari beberapa contoh nyata, berada di puncak popularitas dengan harta bertimbun ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Seorang artis terkenal mengatakan bahwa ia bahkan tidak lagi bisa berjalan di mall atau berekreasi seperti dahulu. Ia harus pergi dulu ke negara lain untuk bisa bersantai tanpa terganggu. Ada yang jatuh pada berbagai dosa seperti obat-obatan terlarang, pergaulan bebas, kesombongan, iri hati dan sebagainya, yang justru hadir setelah kesuksesan dan popularitas datang menghampiri. Tidak heran kalau ada beberapa selebritis yang kemudian meninggalkan gemerlapnya dunia popularitas karena mereka sudah pernah mengalami kejatuhan disana.
Sekali lagi, saya tidak mengatakan bahwa populer itu sudah pasti salah. Tapi bagaimana kita sikap hati kita dalam menyikapi popularitas akan sangat menentukan seperti apa perjalanan kita ke depan. Yang perlu diingatkan, popularitas ini seringkali bagai arus deras yang siap menghanyutkan dan melemparkan kita ke dasar air terjun dalam sekejap mata. Waspadai betul setiap kesuksesan dan ketenaran, terutama kondisi hati kita, itu menjadi sesuatu yang sangat penting dan harus kita lakukan saat kesuksesan atau ketenaran mulai hadir dalam hidup kita.Pada akhirnya, bukan siapa kita di mata manusia atau dunia yang penting, tapi bagaimana, siapa atau seperti apa kita di mata Tuhan, itulah sesungguhnya yang terpenting.
Menariknya, Alkitab sudah mengingatkan kita agar mewaspadai bahaya yang bisa ditimbulkan oleh popularitas, bahkan tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar popularitas di mata dunia. Malah Tuhan secara tegas berfirman: "Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." (Lukas 6:26). Celaka? Itu keras betul. Mengapa Firman Tuhan harus berbunyi sekeras itu? Karena semua itu bisa membuat kita lupa diri kemudian melupakan Sang Pemberinya. Itu bisa membuat kita lupa diri dan merebut hak Tuhan. Terus mengejar popularitas dunia bisa membuat kita terjebak pada kesalahan itu. Apa yang dituntut dari kita bukanlah berlomba-lomba menjadi terkenal melainkan terus berupaya menjadi orang benar, semakin sempurna seperti Bapa di sorga (Matius 5:48), menghayati keberadaan kita sebagai manusia baru yang terus diperbaharui untuk lebih mengenal Allah dengan lebih dalam (Kolose 3:10) dan terus semakin menyerupai Yesus dengan pertolongan Roh Kudus yang telah dianugerahkan untuk diam di dalam diri kita. (2 Korintus 3:18). Itulah yang sesungguhnya dituntut dari kita, dan bukan untuk mengejar popularitas di mata manusia yang hanya fana sifatnya.
Mari kita lihat perbedaan nyata antara pandangan dunia dengan pandangan Tuhan. Ketika dunia terus mengajarkan kita untuk terus mencari popularitas lebih dan lebih lagi, Alkitab justru mengatakan sebaliknya. Semakin tinggi kita menapak naik, kita seharusnya semakin kecil, dan Tuhan lah yang seharusnya semakin besar.
(bersambung)
=====================
"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."
"Kamu mau jadi apa kalau besar?" "Saya mau jadi orang terkenal oom!" Itu jawaban dari seorang anak kecil dengan mantap saat saya tanyakan cita-citanya. Jawaban yang tidak terlalu lazim, karena biasanya anak kecil akan mengacu pada sebuah profesi seperti dokter, polisi, pilot, insinyur dan sebagainya. Saya pun tergelitik untuk bertanya lagi pada si anak, kenapa ia mau jadi terkenal. Dan jawabannya membuat saya tertawa karena lucu. "Orang terkenal kan enak oom, mau kemana-mana mudah, disambut meriah, dikasih hadiah, pokoknya saya mau seperti itu kalau sudah besar". katanya. Entah dari mana anak balita bisa mengerti soal terkenal. Mungkin ia melihat dari banyak acara selebrita di televisi dimana orang terkenal itu tampak keren dan beda dari kebanyakan orang. Dapat sambutan meriah, dilayani, disambut dengan karpet merah, dihormati orang, bahkan seringkali mendapat banyak kemudahan dibanding orang biasa.
Apa yang dikatakan si anak kecil mewakili keinginan banyak orang. Mereka akan berusaha dengan segala cara untuk bisa mencapai status populer atau terkenal. Segala cara, berapapun harganya, itu akan dihalalkan agar bisa memperoleh status populer di kalangan dunia. Lihatlah bagaimana berbagai kontes-kontes atau acara mencari bakat terus menjamur dan laris. Itu menunjukkan bahwa menjadi populer itu sangatlah penting bagi begitu banyak orang. Ingin dikagumi, dikenal, diperhatikan dan diidolakan. Mungkin sebagian hanya ingin sukses menjalankan hobi atau bakatnya, tapi tidak bisa dipungkiri sebagian besar ingin bisa tenar. Salahkah kalau terkenal? Bisa ya bisa tidak. Tidak apa-apa kalau terkenal secara alami karena berprestasi, sepanjang tidak melakukan pelanggaran terhadap Firman Tuhan. Tapi masalahnya, ada banyak orang yang tidak sungkan menabrak larangan-larangan Tuhan yang bisa jadi dianggap penghalang untuk bisa mencapai popularitas di mata dunia. Seringkali untuk sukses orang harus mengorbankan bahkan imannya, dan itu bukanlah sesuatu yang baru. Banyak pemimpin yang memilih membuat keputusan-keputusan yang salah karena tidak mau popularitasnya tergerus. Posting aneh-aneh di media sosial, itu pun sekarang bisa membuat orang terkenal dalam waktu singkat.
Bagi saya yang bergerak di dunia musik, ada banyak musisi atau artis yang tadinya ramah, baik dan taat tapi kemudian berubah sikapnya setelah sukses. Popularitas bisa baik kalau itu membuat kita bisa lebih lagi menjadi saluran berkat Tuhan untuk orang lain, popularitas bisa baik kalau itu membuat kita bisa semakin memuliakan Tuhan dalam setiap yang kita kerjakan. Tapi kalau popularitas malah membuka jurang antara kita dengan Tuhan, membuat kita salah menyikapi rencana Tuhan dan nantinya menggagalkan kita untuk mencapai garis akhir dengan tetap memelihara iman, wah nanti dulu.
Masalahnya, popularitas bisa menjadi salah satu penyebab terbesar kejatuhan manusia dan menjadi salah satu cara paling favorit buat si jahat untuk membinasakan manusia. Dunia terus mengajarkan untuk mengejar popularitas sebagai satu dari sekian hal yang dikatakan bisa mendatangkan kebahagiaan dan keamanan. Dari beberapa contoh nyata, berada di puncak popularitas dengan harta bertimbun ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Seorang artis terkenal mengatakan bahwa ia bahkan tidak lagi bisa berjalan di mall atau berekreasi seperti dahulu. Ia harus pergi dulu ke negara lain untuk bisa bersantai tanpa terganggu. Ada yang jatuh pada berbagai dosa seperti obat-obatan terlarang, pergaulan bebas, kesombongan, iri hati dan sebagainya, yang justru hadir setelah kesuksesan dan popularitas datang menghampiri. Tidak heran kalau ada beberapa selebritis yang kemudian meninggalkan gemerlapnya dunia popularitas karena mereka sudah pernah mengalami kejatuhan disana.
Sekali lagi, saya tidak mengatakan bahwa populer itu sudah pasti salah. Tapi bagaimana kita sikap hati kita dalam menyikapi popularitas akan sangat menentukan seperti apa perjalanan kita ke depan. Yang perlu diingatkan, popularitas ini seringkali bagai arus deras yang siap menghanyutkan dan melemparkan kita ke dasar air terjun dalam sekejap mata. Waspadai betul setiap kesuksesan dan ketenaran, terutama kondisi hati kita, itu menjadi sesuatu yang sangat penting dan harus kita lakukan saat kesuksesan atau ketenaran mulai hadir dalam hidup kita.Pada akhirnya, bukan siapa kita di mata manusia atau dunia yang penting, tapi bagaimana, siapa atau seperti apa kita di mata Tuhan, itulah sesungguhnya yang terpenting.
Menariknya, Alkitab sudah mengingatkan kita agar mewaspadai bahaya yang bisa ditimbulkan oleh popularitas, bahkan tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar popularitas di mata dunia. Malah Tuhan secara tegas berfirman: "Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." (Lukas 6:26). Celaka? Itu keras betul. Mengapa Firman Tuhan harus berbunyi sekeras itu? Karena semua itu bisa membuat kita lupa diri kemudian melupakan Sang Pemberinya. Itu bisa membuat kita lupa diri dan merebut hak Tuhan. Terus mengejar popularitas dunia bisa membuat kita terjebak pada kesalahan itu. Apa yang dituntut dari kita bukanlah berlomba-lomba menjadi terkenal melainkan terus berupaya menjadi orang benar, semakin sempurna seperti Bapa di sorga (Matius 5:48), menghayati keberadaan kita sebagai manusia baru yang terus diperbaharui untuk lebih mengenal Allah dengan lebih dalam (Kolose 3:10) dan terus semakin menyerupai Yesus dengan pertolongan Roh Kudus yang telah dianugerahkan untuk diam di dalam diri kita. (2 Korintus 3:18). Itulah yang sesungguhnya dituntut dari kita, dan bukan untuk mengejar popularitas di mata manusia yang hanya fana sifatnya.
Mari kita lihat perbedaan nyata antara pandangan dunia dengan pandangan Tuhan. Ketika dunia terus mengajarkan kita untuk terus mencari popularitas lebih dan lebih lagi, Alkitab justru mengatakan sebaliknya. Semakin tinggi kita menapak naik, kita seharusnya semakin kecil, dan Tuhan lah yang seharusnya semakin besar.
(bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...



