Monday, April 11, 2016

Korelasi Mengampuni dan Diampuni (4)

(sambungan)

Seringkali kita berlaku seperti si hamba dalam perumpamaan Yesus dalam Matius 18:21-35. Atas kesalahan kita yang luar biasa banyak, Tuhan tidak menuntut kita membayar hutang dosa yang begitu besar. Dia membebaskan kita, bahkan menganugerahkan AnakNya yang tunggal untuk menggantikan kita di atas kayu salib, menebus dosa-dosa kita agar kita tidak berakhir dalam kebinasaan. Itu sebuah kasih berukuran luar biasa, yang dilakukan saat kita masih penuh dengan dosa dalam hubungan yang terputus dengan Tuhan. Bukan salahnya Tuhan tapi salah kita, namun Tuhan bersikap proaktif, digerakkan oleh kasih dengan memberikan anugerah sebesar itu.

Sayangnya kebanyakan orang tidak menyadari itu. Kita begitu sulitnya mengampuni orang-orang yang bersalah, menyinggung, menyakiti atau menipu kita. Kalau orang minta maaf kita mungkin bilang ya tapi di hati sebenarnya masih tersimpan dendam yang belum beres. Ada juga yang berkata: "buat apa saya maafkan? Orangnya saja tidak minta maaf." Atau, kedua pihak sama-sama tidak merasa bersalah, sehingga gengsi untuk minta maaf duluan. Apakah orang yang bersalah itu sudah minta maaf atau tidak, itu seharusnya tidak menjadi soal. Ingatlah bagaimana Tuhan menyatakan belas kasihanNya kepada kita. Ingatlah bagaimana Tuhan membebaskan kita, mengampuni kita secara total dan bukan setengah-setengah. Jika Tuhan saja mau berbuat itu mengapa kita tidak? Lagipula, kalau masalah hubungan antara mengampuni dan diampuni ini disebutkan dalam doa yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri dalam Matius 6:12, itu artinya hal ini sesungguhnya amatlah penting.

Lebih lanjut lagi, lihatlah apa yang dikatakan Yesus saat memberi nasihat mengenai doa. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Markus 11:25). Itu wajib untuk kita lakukan agar doa-doa kita jangan sampai terhalang dan sia-sia saja. Selanjutnya dikatakan: "(Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)" (ay 26). Kembali kita lihat keterkaitan kuat antara diampuni dan mengampuni. Menahan dendam atau sakit hati bukan saja buruk bagi kesehatan tapi juga sangat merugikan kita dalam membangun hubungan yang bebas hambatan dengan Tuhan.

Terkadang memang tidak mudah bagi kita untuk mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita atau telah merugikan kita. Tapi pengampunan merupakan hal yang wajib diberikan oleh anak-anak Tuhan kepada orang yang telah menyakiti kita, dan idealnya itu seharusnya tanpa batas. Itu sebuah keharusan karena bukankah Tuhan sendiri tidak pernah berpelit pengampunan kepada kita? Coba pikir, ada berapa banyak kesalahan yang kita perbuat dalam hidup kita, dan seringkali pelanggaran-pelanggaran berat kita lakukan, yang seharusnya akan berakibat kebinasaan. Jika memakai standar kepantasan, ada banyak kesalahan yang rasanya tidak pantas dimaafkan dan seharusnya untuk itu kita harus siap menanggung hukuman berat. Tapi Tuhan begitu mengasihi kita dan selalu siap untuk mengampuni kita begitu kita bertobat. Itu bentuk kasih Tuhan yang luar biasa.

(bersambung)

Sunday, April 10, 2016

Korelasi Mengampuni dan Diampuni (3)

(sambungan)

Sebuah perumpamaan tentang pengampunan pernah diberikan Yesus dalam Matius 18:21-35 yang menggambarkan betapa pentingnya bagi kita untuk membuka pintu pengampunan seluas-luasnya. Dalam perumpamaan itu digambarkan adanya seorang raja yang mau menyelesaikan hutang-hutang dari hamba-hambanya. Saat itu ada seorang hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta. Si hamba pun memohon keringanan waktu untuk dapat membayar lunas hutangnya dengan memohon sambil berlutut. Sang raja pun merasa iba. "Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya." (ay 27). Bukan cuma diberi keringanan, tapi hutangnya dihapuskan. Betapa beruntungnya si hamba tersebut.

Tapi yang terjadi selanjutnya sungguh ironis. Ketika si hamba keluar, ia bertemu dengan orang lain yang berhutang kepadanya, dengan jumlah yang jauh lebih kecil dari hutangnya kepada raja. Kali ini urusannya bukan dia yang berhutang, tapi ia ada pada posisi piutang alias yang dihutangi. Kalau dalam posisi berhutang ia perlu memohon-mohon agar diringankan, reaksinya langsung berbeda ketika ia berada di posisi sebaliknya. Ia langsung mencekik dan memaksa orang itu untuk segera membayar hutangnya. Orang itu pun memohon dengan berlutut untuk meminta keringanan, persis seperti apa yang baru saja ia lakukan di hadapan raja. Tapi si hamba tidak mempedulikan hal itu.

Ketika mendengar perbuatannya, raja pun marah besar. "Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?" (ay 32-33). "Jika aku mengampuni engkau bahkan menghapuskan hutangmu yang besar, masakan engkau tega melakukan itu kepada temanmu yang hanya berhutang sedikit?" Begitu kira-kira kata sang raja. "Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya." (ay 34). Dan Yesus pun menutup perumpamaan itu dengan sebuah peringatan penting: "Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (ay 35). Bukan sekedar mengampuni, tapi mengampuni sungguh-sungguh, sepenuhnya, dengan segenap hati. Itulah yang diinginkan Tuhan dan yang akan membukakan pintu pengampunan dari Tuhan pula bagi kita.

Dari beberapa ayat di atas kita bisa melihat bahwa jelas ada korelasi atau hubungan yang kuat antara diampuni dan mengampuni. Yesus juga berkata: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15). Untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan, syaratnya adalah kita harus pula mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

Tidak ada satupun dari kita yang tidak pernah berbuat salah atau dosa. Sebaik-baiknya kita, sebagai manusia yang lemah dan terus diserang atau dipengaruhi si jahat ada kalanya kita terpeleset lagi ke dalam perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran Firman. Dan kita tentu ingin diampuni bukan? Kalau dosa-dosa kita yang begitu banyak dan berat saja Tuhan mau ampuni, siapakah kita yang merasa berhak untuk mendendam atau sulit mengampuni?

(bersambung)

Saturday, April 9, 2016

Korelasi Mengampuni dan Diampuni (2)

(sambungan)

Ada satu contoh lagi yang ingin saya bagikan hari ini, yaitu Nelson Mandela. Sejak usia muda ia gigih menentang rasisme di negaranya Afrika Selatan. Pada tahun 1964 ia ditangkap dan kemudian dimasukkan ke dalam penjara. Saat ditangkap ia sebenarnya sudah tidak muda lagi, berusia sekitar 46 tahun. Dan karena perjuangannya ia harus rela mendekam di penjara bukan untuk waktu yang singkat melainkan selama 27 tahun. Saat ia bebas di tahun 1990, usianya sudah mencapai lebih dari 70 tahun.



Di penjara yang lembab ia sempat menderita berbagai penyakit seperti tuberkolosis. Dan selama 27 tahun mendekam di penjara, dengan sendirinya ia kehilangan kesempatan untuk menikmati usia produktifnya. Kalau dengan usia rata-rata Indonesia saja, dipenjara seperti itu hampir berarti bahwa kita akan mengakhiri hidup dalam tahanan.

Jika kita yang mengalami, mungkin yang terpikir adalah bagaimana membalas dendam terhadap mereka yang sudah begitu kejam mengurung kita selama lebih dari dua setengah dekade seperti itu. Apalagi kalau kita berhasil keluar dan kemudian punya pengaruh secara internasional seperti Mandela. Tapi luar biasanya ia tidak melakukan itu. Ia justru mengajak bangsanya untuk melepaskan pengampunan tanpa syarat. Bukan hanya mengajak, tetapi ia pun memberi keteladanan secara langsung. Ia duduk semeja dengan para 'musuh'nya, bersalaman dengan mereka dan menatap masa depan Afrika Selatan yang lebih cerah.

"Instead of hatred and revenge, we chose reconciliation and nation-building." katanya. Itulah yang dilakukan oleh orang yang dipenjara selama 27 tahun terhadap mereka yang menjebloskannya. Akan halnya kemaafan atau pengampunan, inilah yang ia katakan: "Forgiveness liberates the soul. It removes fear. That's why it's such a powerful weapon." Terjemahannya: "Pengampunan memerdekakan jiwa. Pengampunan menyingkirkan rasa takut." Karena itulah pengampunan merupakan senjata yang sangat kuat." Mandela meninggal di usia 95 tahun pada 2013 lalu, dan saya yakin sosoknya akan dikenang sampai waktu yang lama, dan akan terus menginspirasi dan memberkati banyak orang di setiap generasi ke depan.

Sebelum kita membahas hal pengampunan menurut Firman Tuhan, mari kita lihat terlebih dahulu seperti apa dampak memaafkan itu bisa mempengaruhi kesehatan kita dari sisi medis. Coba anda ingat-ingat lagi saat anda marah besar. Bukankah jantung anda berdetak cepat, tubuh terasa gemetar, nafas menjadi cepat dan anda sulit untuk berpikir jernih? Detak jantung dan tekanan darah menjadi tidak normal saat kita emosi. Dan itu tentu berbahaya bagi kesehatan atau nyawa kita. Salah-salah pembuluh darah di otak pecah atau kena serangan jantung. Kalau sudah begitu, apa hal baik yang bisa kita dapatkan dari membiarkan amarah dan dendam dalam diri kita?

Sebuah jurnal kesehatan pernah memuat studi tentang mengampuni. Saat kita mengampuni seseorang dan melepaskan jerat dendam yang membelenggu hati kita, detak jantung dan tekanan darah menurun. Stres berkurang, sehingga orangnya jadi bisa tidur nyenyak, hidup menjadi rileks dan lapang, dan karenanya kita tidak lagi perlu kehilangan sukacita dari diri kita. Itu tentu akan sangat baik dampaknya buat kesehatan dan panjangnya umur kita.

Tuhan mengharuskan pengampunan sebagai syarat agar pelanggaran-pelanggaran kita pun bisa dimaafkan. Tuhan menganggap penting kebesaran hati kita untuk mengampuni, dan menjadikan itu sebagai sebuah syarat agar kita bisa menerima pengampunannya. Dan itu disampaikan dalam banyak bagian di dalam Alkitab, yang menunjukkan bahwa masalah pengampunan ini sangatlah penting. Salah satunya bahkan dari doa yang diajarkan Yesus langsung yang dikenal dengan Doa Bapa Kami. "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami". (Matius 6:12). Disamping itu, penyampaian hal mengampuni yang berulang-ulang juga menunjukkan pemahaman Tuhan akan kecilnya kemampuan kita untuk melakukan itu dibanding menyimpan dan membalas dendam.

(bersambung)

Friday, April 8, 2016

Korelasi Mengampuni dan Diampuni (1)

Ayat bacaan: Matius 6:12
======================
"dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami"

Sudahkkah anda menonton film berjudul "Railway Man"? Film yang dibintangi Nicole Kidman dan Colin Firth ini merupakan kisah nyata mengenai dua prajurit dari dua negara yang sedang berperang, Eric Lomax seorang tentara Inggris dan Takashi Nagase, tentara Jepang. Pada masa Perang Dunia II tepatnya tahun 1942, Lomax yang saat itu sudah berpangkat letnan ditangkap oleh tentara Jepang di Singapura. Ia kemudian disekap di Thailand, mengalami kerja paksa membangun rel kereta api di Burma dan mengalami penyiksaan mengerikan, brutal, diluar batas kemanusiaan oleh Kempetai karena ketahuan merangkai radio secara diam-diam. Orang yang kerap mengeksekusi penyiksaan dan kerap bertindak kejam kepadanya tidak lain adalah Takashi. Siksaan yang berlangsung untuk waktu yang cukup lama membuatnya hidup dengan trauma psikologis berat selama puluhan tahun setelah perang selesai. Ia tidak bisa hidup normal dan menjadi pasien dari sebuah Foundation medis yang secara khusus menangani korban penyiksaan.



Pada suatu hari di usia tuanya, 50 tahun setelah tragedi penyiksaan itu ia mengambil sebuah langkah luar biasa hebatnya. Ia mengambil keputusan untuk mengampuni Takashi. Bukan cuma lewat kata-kata, ia memutuskan untuk rekonsiliasi dengan Takashi. Yang lebih luar biasa lagi, rekonsiliasi itu ia lakukan di lokasi dimana ia dahulu mengalami penyiksaan. Setelah rekonsiliasi, Eric dan Takashi kemudian bahkan menjadi sahabat dekat hingga akhir hayat mereka.

Mengapa ia mau melakukan rekonsiliasi? Apa yang mendorongnya? Lomax bilang, ia harus mengambil langkah itu untuk membebaskan dirinya dari kepahitan dan rasa benci/dendam sepanjang hidupnya. Ia ingin bebas dari penderitaan psikologis selama puluhan tahun akibat trauma yang dideritanya. Tidak ada jalan lain untuk merdeka selain memberikan pengampunan. Mudahkah? Tentu tidak. Bayangkan ia harus bertemu dengan orang yang selama puluhan tahun memberinya penderitaan. Dulu fisik, lalu psikis. Dan pertemuan dengan penyiksanya dilakukan di tempat dimana ia mengalami perlakuan di luar batas itu. Ia bisa mengalahkan rasa takutnya, ia bahkan yang mengambil inisiatif untuk pemulihan, dan itu benar-benar membebaskannya. Ia meninggal dengan tenang dan damai di usia 93 tahun.

Tidak banyak orang yang bisa memiliki hati seperti Eric. Ada orang yang memendam dendam selama puluhan tahun dan tidak bisa lepas dari dendam itu sampai akhir hayatnya. Tidak ada sukacita saat kita mendendam, dan bayangkan dalam masa hidup yang singkat ini, sekian puluh tahun hidup harus dijalani tanpa sukacita karena membiarkan dendam menguasai diri. Kalau itu saja sudah parah, ada yang bahkan bertikai dan bermusuhan lebih dari satu generasi. Sampai tujuh turunan bahkan lebih. Generasi yang dibawah mungkin tidak lagi mengetahui latar belakangnya, tetapi mereka tetap harus bermusuhan dengan keturunan musuh nenek buyutnya. Dari pengalaman saya sendiri, mengampuni orang dan hidup tanpa dendam membuat hidup terasa jauh lebih ringan. Benar, ada kalanya orang berlaku demikian buruk kepada kita sehingga melukai perasaan atau bisa saja merugikan kita habis-habisan. Tetapi pengampunan tetap saja harus diberikan agar hidup kita terasa lebih lega tanpa ada perasaan yang terus memberatkan kita. Ada sebuah kata bijak yang sangat memberkati saya dan akan terus saya ingat saat ada orang yang mengecewakan atau menyakiti saya: "Forgive others, not because they deserve forgiveness but because you deserve peace." Sadari bahwa tidak melepaskan pengampunan pada akhirnya hanya akan membelenggu kita, menghalangi kita untuk bisa meneruskan hidup dengan damai dan sukacita.

Ada orang yang sulit mengampuni meski masalahnya sebenarnya tidaklah terlalu berat, tapi sebaliknya ada orang yang sanggup membuka pintu pengampunan meski kerugian dan penderitaan yang mereka tanggung luar biasa besarnya. Terlepas dari ketulusan orang untuk meminta maaf saat menyadari kesalahan atau masih tetap bersikukuh tidak mau minta maaf, pada kenyataannya kemampuan untuk memaafkan pun ternyata tidak kalah sulitnya. Itulah sebabnya Mahatma Gandhi pada suatu kali mengatakan bahwa "The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong." Orang lemah tidak akan pernah bisa mengampuni, karena mengampuni hanyalah atribut dari yang kuat.

(bersambung)

Thursday, April 7, 2016

Overheat Problem

Ayat bacaan: Pengktobah 7:9
=======================
"Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh."

Entah apa yang terjadi, tapi laptop yang saya gunakan bunyi kipasnya seperti mesin pabrik. Ribut dan terasa panas. Mungkin kipasnya kotor, dan itu wajar karena saya pakai terus menerus tanpa benar-benar dirawat. Saat masalahnya masih kecil, penanganannya biasanya tidak terlalu berat. Biaya pun tidak perlu besar. Tapi kalau dibiarkan berlama-lama bisa mendatangkan banyak masalah. Selain biaya membengkak, data-data yang tersimpan dalam komputer pun bisa hilang.

Panasnya processor yang mengakibatkan komputer kita menjadi berat bisa menjadi analogi yang sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana panasnya amarah atau emosi dalam diri kita. Ada banyak orang yang tidak menyadari akibat yang bisa ditimbulkan oleh kebiasaan membiarkan amarah menguasai diri kita. Sebagian menganggap bahwa sikap emosional bisa memberi rasa aman bagi mereka. Kalau mereka menunjukkan sikap seram, orang akan menjauh sehingga tidak perlu ada masalah dengannya. Ada yang berpikir bahwa mereka bisa terlihat hebat dan berkuasa dengan sering marah. Ada pula yang membiarkan saja diri mereka gampang tersulut emosi meski atas hal yang sebenarnya sepele saja. Dan banyak orang yang suka membiarkan kemarahan terus membakar hati mereka.

Api kemarahan biasanya tidak langsung besar nyalanya melainkan bermula dari setitik api kecil saja. Jika tidak kita padamkan dengan segera, api itu akan bertambah besar dan pada suatu ketika kita tidak lagi bisa memadamkannya. Disaat seperti itulah berbagai dosa mengintip dan si jahat siap menerkam kita hingga tidak berkutik lagi. Penyesalan di kemudian hari bisa jadi sudah menjadi terlambat jika kita terlanjur melakukan sesuatu yang bodoh karena tidak bisa berpikir jernih akibat dikuasai emosi. Kalau bukan karena melakukan perbuatan-perbuatan ceroboh, berbagai penyakit pun bisa menyerang kita dimana beberapa diantaranya berpotensi mengakhiri hidup kita. Selain itu, coba bayangkan jika anda hidup dengan kemarahan, sakit hati, dendam, kesal atau kebencian kepada banyak orang, tidakkah itu akan membuat diri anda seolah ditumpuki beban yang semakin lama semakin berat? Seperti halnya processor yang panas, hati yang terus menerus panas oleh kobaran amarah pun akan membuat diri kita menjadi semakin berat dan lambat dalam melangkah. Dan salah-salah, kita pun bisa seperti komputer yang tamat riwayatnya.

Ada sebuah ayat yang sangat baik mengingatkan kita akan hal ini. "Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh." (Pengkotbah 7:9). Alkitab berkata hanya orang bodoh-lah yang membiarkan hidupnya terus dikuasai amarah. Orang yang bijak akan tahu resiko-resiko dari kemarahan, mulai dari yang sederhana hingga yang fatal sehingga tidak akan membiarkan dirinya terus menerus dibakar api emosi. Kita bersinggungan dengan begitu banyak orang setiap hari, dan kita memang tidak bisa menghindari pertemuan dengan orang-orang yang sulit, provokatif atau sengaja membuat ulah, itu benar. Tetapi itu bukanlah alasan untuk membiarkan diri kita terus menerus dikuasai amarah. Kita bisa terus memastikan hati dan kepala kita tetap dingin sehingga biar bagaimanapun kita ditekan, kita bisa meresponnya dengan tenang karena hati dan otak kita tetap sejuk. Firman Tuhan mengatakan "janganlah lekas-lekas marah dalam hati." Janganlah mudah terpancing emosi. Jangan sedikit-sedikit sudah marah. Itu bunyi Firman Tuhan yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini. Kalimat ini menunjukkan satu hal, bahwa marah itu adalah pilihan, dan bukan keharusan, bukan pula keterpaksaan. Artinya, marah atau tidak itu tergantung dari keputusan kita. Memastikan hati tetap dingin akan membuat emosi tidak bisa bertumbuh dalam hati kita, dan itu akan mencegah kita dari melakukan perbuatan-perbuatan bodoh yang pada suatu saat akan kita sesali.

Terus mendendam, menyimpan kemarahan, membiarkan rasa sakit hati bercokol dalam diri kita dan lain-lain bukanlah sesuatu yang sesuai dengan prinsip Kerajaan.Sebaliknya, kita justru diminta untuk memberi pengampunan seluas-luasnya kepada siapapun. Kepada Petrus yang bertanya, "Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." (Matius 18:22). Ini artinya kita diminta untuk bisa memberi pengampunan tanpa batas, seperti halnya Tuhan mengampuni kita. Lalu ingatlah bahwa ada keterkaitan antara mengampuni dan diampuni, seperti apa yang dikatakan Yesus: "..ampunilah dan kamu akan diampuni." (Lukas 6:37). Atau lihatlah ayat berikut: "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)" (Markus 11:25-26).

Mengampuni itu merupakan pilihan. Benar, untuk melakukannya tidak pernah segampang mengucapkannya. Tapi perhatikanlah bahwa membiarkan sakit hati, kebencian dan kemarahan untuk berkuasa atas kita akan membuat kita terus ditambahi beban berat di atas punggung kita, hingga pada suatu ketika kita tidak akan bisa lagi berdiri dan hanya akan terjatuh terhimpit beban-beban berat. Sebaliknya mengampuni itu sama dengan melepaskan beban. Apakah ada yang bisa tetap merasa ringan ketika sedang benci atau marah kepada seseorang? tentu tidak. Rasa ringan akan terasa jika kita mulai sungguh-sungguh melepaskan pengampunan dan tidak terjebak pada kemarahan.

Yakobus mengingatkan: "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah." (Yakobus 1:19). Mengapa? Ini alasannya: "sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (ay 20). Kita harus ingat pula bahwa apa yang kita tabur itu akan kita tuai. (Galatia 6:7). "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu." (ay 8). Jika kita terus menabur kebaikan dalam Roh, meski dalam situasi atau kondisi apapun yang kita hadapi, maka kita pun akan menghasilkan tuaian yang baik atasnya.

Tidaklah gampang untuk mengampuni atau menahan amarah jika kita terus ditekan. Tetapi tetaplah ingat bahwa marah atau tidak adalah pilihan dan bukan keterpaksaan. Tuhan mengingatkan kita agar tidak cepat marah, dan apabila marah pun jangan membiarkan marah itu menetap di dalam diri kita. Itu akan membuat hati kita tetap sejuk dan karenanya kita pun bisa jauh lebih ringan dan nyaman dalam menjalani hidup.

Becareful with anger. Control it or it will control you!

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, April 6, 2016

Tidak Mengungkin Masa Lalu

Ayat bacaan: Filemon 1:11
=========================
"dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku."

Perselisihan yang terjadi dalam sebuah rumah tangga adalah hal yang pasti pernah dialami semua orang yang sudah berkeluarga. Seperti yang kemarin saya sampaikan, seringkali pertengkaran dimulai dengan sebuah perselisihan yang sebetulnya ringan. Tapi perselisihan ringan yang dibiarkan berlarut-larut dan tidak ditangani kemudian menimbulkan emosi yang semakin meningkat sehingga pertengkaran membesar dan meluas. Meninggalkan luka-luka yang ajdinya sulit disembuhkan. Apa yang biasanya menyebabkan pertengkaran menjadi besar? Salah satu yang paling sering adalah faktor mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu. Masalah yang sebenarnya sudah diselesaikan pun kembali beterbangan keluar sehingga suasana malah semakin memanas. Saya sudah beberapa kali mencoba memulihkan hubungan yang hancur, dan yang membuat kondisi menjadi berat biasanya adalah saat luka-luka lama yang tidak dibereskan itu terus muncul ke permukaan. Saya dan istri juga bukannya tidak pernah berselisih. Hanya saja, setiap ada perselisihan kami sepakat untuk membatasi perdebatan hanya pada masalah yang tengah dihadapi dan tidak melebar kemana-mana. Lantas perselisihan pun diselesaikan langsung supaya tidak kemana-mana. Cara sederhana, tapi berhasil. Satu lagi, sulitnya orang mengampuni menjadi salah satu penyebab munculnya akar-akar pahit dalam sebuah pernikahan.

Hari ini saya diingatkan pada surat Paulus untuk Filemon. Filemon mempunyai seorang hamba bernama Onesimus. Onesimus pernah merugikan Filemon, kemungkinan mencuri sesuatu dan kemudian kabur (Filemon 1:18). Sesuai hukum Romawi saat itu, hukuman untuk jenis kejahatan ini adalah hukuman mati. Filemon kemudian bertemu dengan Paulus, dan kemudian setelah dilayani Paulus, Onenimus pun bertobat dan menerima Kristus. Hidupnya mengalami perubahan. Onenimus disuruh pulang kembali pada Filemon. Kemudian sepucuk surat dilayangkan Paulus kepada Filemon untuk memintanya menerima kehadiran Onenimus kembali, karena Onenimus yang sekarang bukanlah Onenimus yang dulu lagi, seperti yang kita lihat dari ayat bacaan hari ini. "Dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku." (Filemon 1:11). Paulus meminta agar Filemon mau memaafkan Onenimus dan menerimanya kembali, bukan lagi sebagai seorang hamba, tapi sebagai saudara yang kekasih di dalam Tuhan. (ay 16).

Cara pendekatan Paulus yang elegan dan bijaksana untuk mendamaikan keduanya digambarkan secara sangat menarik dalam surat Filemon. Dia tidak menempatkan diri sebagai seorang pemimpin rohani atau yang lebih tinggi dari Filemon, tapi menganggap bahwa Filemon sebagai saudara dan teman sekerja. Tidak ada paksaan atau perintah dari Paulus, malah secara luar biasa Paulus pun menyatakan siap menanggung segala kerugian yang pernah dibuat Onenimus. Intinya Paulus meminta agar Filemon tidak lagi mengungkit kesalahan di masa lalu dan mau menerima Onenimus kembali sebagai saudara seiman, karena Onenimus sudah berubah.

Sebagai murid Yesus yang taat, Paulus mengajarkan prinsip pengampunan seperti apa yang diajarkan Yesus. Pengampunan dari Kristus adalah pengampunan yang tuntas. Dia tidak pernah mengungkit lagi dosa yang telah kita akui di masa lalu. Oleh sebab itulah kita pun harus berbuat hal yang sama kepada saudara-saudara kita. "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15). Kita harus siap untuk mengampuni tanpa batas seperti yang firmanNya dalam perikop "Perumpamaan Tentang Pengampunan" (Matius 18:21-35). Dalam doa yang diajarkan Yesus Kristus pun kita membaca: "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami" (Matius 6:12). Disini kita melihat bahwa ada hubungan antara mengampuni dan diampuni.

Seorang teolog bernama Henry Ward Beecher pernah menulis: "Forgiveness ought to be like a canceled note torn in two, and burned up, so that it never can be shown against one." Ya, bagaikan nota yang sudah dibatalkan, disobek dan dibakar, sehingga tidak lagi bisa dipakai untuk mendakwa apa-apa, itulah bentuk pengampunan tuntas yang sesungguhnya. Terus mengungkit masa lalu mengakibatkan frustasi dan mempersulit pembaruan di masa depan. Janganlah mengungkit-ungkit masa lalu terutama ketika bertengkar, dan belajarlah memaafkan secara tuntas karena Kristus juga mengampuni secara tuntas.

"Forgiveness is not an occasional act, it is a permanent attitude." - Martin Luther King, Jr

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, April 5, 2016

Mengerti Orang Lain

Ayat bacaan: Amsal 20:5
======================
"Counsel in the heart of man is like water in a deep well, but a man of understanding draws it out." (English Amplified Bible)

Manusia selalu ingin dimengerti, tapi banyak diantaranya yang sulit untuk mengerti orang lain. Jangankan antar orang yang baru kenal atau belum kenal betul, diantara suami istri atau antara orang tua dan anak sekalipun sering terjadi perselisihan hanya karena saling kurang mengerti satu sama lain. Antara pria dan wanita, tua dan muda, perselisihan karena saling sulit mengerti. Tidak jarang pula sisi perbedaan yang tidak diwaspadai ini terekspos secara terlalu besar dalam sebuah keluarga dan mengakibatkan runtuhnya hubungan yang sudah dibangun selama ini. Alasan tidak ada lagi kecocokan kerap menjadi alasan berakhirnya sebuah hubungan. Ada banyak hubungan yang rusak atau hancur kalau ditelusuri sebenarnya bermula karena keduanya sama-sama tidak mengerti baik latar belakang keluarga, sifat dan kebiasaan. Bukankah ironis apabila pernikahan menjadi hancur bukan karena apa-apa tapi hanya karena keduanya tidak mencoba mengerti satu dan lainnya?

Petrus mengingatkan pentingnya bagi suami untuk bisa memahami istri sepenuhnya. "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang." (1 Petrus 3:7). Dalam versi Bahasa Indonesia sehari-hari, kata "hiduplah bijaksana" ini diartikan "hidup dengan penuh pengertian". Atau dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "live considerately".Ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan oleh para suami, begitu penting sehingga dikatakan bahwa doa-doa kita bisa terhalang jika kita mengabaikan kewajiban untuk memahami pasangan kita masing-masing. Secara luas prinsip ini pun berlaku sebaliknya. Siapapun kita, semuanya butuh untuk dimengerti. Kita terlahir dengan kebutuhan seperti itu dan menjalani hidup dengan kebutuhan itu. Jika kita ingin dimengerti, maka sudah seharusnya pula kita belajar untuk lebih memahami orang lain. Kita ingin dimengerti, orang pun ingin dimengerti. It works both ways, and imagine how wonderful life would be if we can understand each other.

Dalam Amsal ada tertulis: "Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya." (Amsal 20:5). Versi Bahasa Inggrisnya berbunyi: "Counsel in the heart of man is like water in a deep well, but a man of understanding draws it out." Isi hati orang berbeda-beda, sifat orang berbeda-beda, dan terkadang sulit untuk diselami, bagaikan air yang dalam, like water in a deep well. Tapi itu bukan berarti kita bisa menjadikannya alasan untuk tidak mau mengerti mereka. Amsal Salomo berkata, hanya orang yang memiliki pengertian (a man of understanding) lah yang sanggup menimbanya. Dalam kesempatan lain Salomo juga menegaskan: "Understanding is a wellspring of life to those who have it, but to give instruction to fools is folly." (Amsal 16:22). Understanding, atau pengertian, adalah sumber kehidupan, kebahagiaan bagi yang memilikinya. Tapi orang yang tidak memiliki pengertian adalah seperti orang bodoh, yang akan tersiksa oleh kebodohannya sendiri.

Tentu saja tidak ada orang yang mampu memahami orang lain sepenuhnya seratus persen. Tetapi itu bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita selalu bisa memperoleh sesuatu yang baru dari mereka setiap hari, semakin memahami karakter atau pribadi mereka secara perlahan. Kita bisa terus belajar untuk itu. Belajar menghidupi "the wellspring of life" kita, hidup berdampingan secara harmonis dengan setiap orang, rukun dan damai. Dan itu semua bisa kita alami apabila kita mau mulai belajar untuk lebih mengerti orang lain. Tidak hanya berpusat pada ego diri sendiri, apa maunya kita saja, tetapi mulai memikirkan alasan-alasan orang lain ketika memutuskan sesuatu, mulai untuk lebih memahami orang lain, meski keputusan yang mereka ambil berbeda dengan apa yang kita anggap baik.

Butuh waktu tentu untuk bisa mengerti satu sama lain secara baik. Tapi itu bisa merupakan sesuatu yang sangat berharga baik bagi mereka dan kita. Sejauh mana kita mau meluangkan waktu untuk belajar memahami orang-orang yang kita kasihi akan menunjukkan sejauh mana kita peduli terhadap mereka. Dan kita pun akan belajar banyak disana mengenai kebijaksanaan. Understanding takes time and effort, but we can always learn something new everyday. Tidak ada alasan apapun yang pantas kita angkat untuk menghindari hal ini. Tuhan tidak membentuk kita sebagai orang-orang yang tidak peduli, ignorance, berpusat pada ego dan kepentingan diri sendiri, hanya meminta dimengerti tapi tidak mau mengerti. Tuhan rindu setiap kita, anak-anakNya, memiliki belas kasih, yang di dalamnya termasuk pengertian terhadap orang lain. Mungkin sulit, mungkin berat, tapi yakinlah kita bisa melakukannya. Mintalah hikmat Tuhan agar kita bisa belajar untuk lebih memahami orang-orang yang berarti bagi kita, dan bagi orang-orang yang ditempatkan Tuhan di sekitar kita secara umum.


Maturity is not when we start speaking BIG things, but it is when we start understanding SMALL things

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...