(sambungan)
3. Murah hati merupakan salah satu produk kasih
Lihatlah ayat berikut: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 Korintus 13:4).
Seperti yang sudah sering saya sampaikan, intisari dari kekristenan adalah kasih. Kasih punya kekuatan begitu besar yang bahkan sanggup menggerakkan Tuhan untuk mengorbankan Yesus untuk menyelamatkan kita. Kalau ada yang bertanya, seperti apa sebenarnya kasih itu? Apa yang disampaikan Paulus dalam 1 Korintus pasal 13 menjabarkan berbagai produk kasih secara lengkap dan detail, dimana salah satunya adalah kemurahan hati.
Jadi kalau kita masih sulit untuk bermurah hati, masih tidak peduli terhadap kesulitan atau penderitaan orang lain, tentu kita harus mencari tahu kenapa hati kita masih belum memiliki kasih sehingga tidak menghasilkan produk murah hati dari sana.
Selanjutnya mari kita pindah ke surat Galatia. Dalam salah satu bagiannya disebutkan bahwa kasih adalah salah satu buah Roh, alias buah-buah yang dihasilkan oleh orang yang dipimpin oleh Roh Allah, dan tidak ada satupun hukum yang mampu menentang hal tersebut. (Galatia 5:22-23).
Jadi apabila kita berakar pada Tuhan, kasih seharusnya menjadi buah yang dihasilkan hidup kita. Jika kita gabungkan dengan ayat 1 Korintus 13:4 di atas, kasih kemudian akan melahirkan berbagai produk dimana murah hati adalah satu diantaranya.
(bersambung)
Friday, February 21, 2025
Kasih Itu Murah Hati (5)
Friday, February 14, 2025
Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (4)
(sambungan)
Bagaimana jika tidak ada aliran kasih dalam diri kita? Itu akan sama dengan peralatan elektronik kita tanpa adanya listrik. Bayangkan bagaimana hidup tanpa kasih. Kita akan dengan mudahnya membenci orang lain, mendendam atau merasa iri hati dan cepat tersinggung. Kita akan hidup mencari kepentingan sendiri dan tega mengorbankan siapapun demi diri kita.
Jika itu sampai terjadi maka berbagai perbuatan jahat lainnya akan mengintip dan siap menerkam kita, Dan hal itu sudah diingatkan oleh Firman Tuhan. "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16).
Membiarkan diri tanpa kasih itu sangatlah berbahaya. Disanalah akan terbuka banyak lahan subur bagi iblis untuk berpesta di dalam kita. Perhatikanlah bahwa kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sementara iri hati dan berbagai sikap jahat lainnya adalah bagian dari keinginan daging (ay 19-21).
Kemudian lihatlah ayat ini: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (ay 17).
Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Hubungan kita dengan Tuhan terputus, iman kita tidak bekerja lagi dan tentu semua itu merugikan bahkan siap menghancurkan kita sampai habis.
(bersambung)
Thursday, February 13, 2025
Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (3)
(sambungan)
Paulus memulai bagian ini dengan penegasan tentang kemerdekaan yang sesungguhnya sudah diberikan kepada orang percaya lewat Kristus. (ay 1). Tapi banyak yang tidak mengetahuinya dan masih bergantung kepada prosesi atau ritual, bahkan menganggap prosesi dan ritual sebagai hal yang terpenting lalu melupakan apa yang justru seharusnya menjadi yang terutama yang harus kita lakukan. Maka Paulus pun mengatakan sia-sialah semua itu tanpa adanya satu hal yang terpenting dalam hidup untuk kita miliki, yaitu iman.
Iman. Itulah yang dikatakan Paulus sebagai hal yang "mempunyai sesuatu arti", alias bermakna, atau something that really counts.
Lantas perhatikan ayat Galatia 5:6 bagian terakhir, disana dikatakan bahwa iman itu bekerja oleh kasih. Dalam versi English Amplified bagian ini tertulis dengan sangat detil, yaitu: "...faith activated and energized and expressed and working through love."
Iman diaktivasi, diberi tenaga/daya dan diekspresikan dan bekerja lewat kasih.
Dari mana iman itu timbul? Firman Tuhan mengatakan bahwa "..Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17).
Dari sanalah iman itu berasal. Benih-benih Firman Tuhan yang kita tabur dan jatuh di tanah yang baik akan membuat benih-benih itu bertunas dan tumbuh subur.
Selanjutnya kita butuh sumber daya yang akan menggerakkan agar iman itu bisa terus berbuah baik untuk kebaikan kita sendiri maupun kebaikan sesama, dan sumber daya itu ternyata, dan tidak lain adalah kasih. Sedemikian pentingnya arti kasih itu, jauh lebih penting dari hal-hal lainnya.
(bersambung)
Monday, January 1, 2024
Panduan Damai Sejahtera (6)
(Sambungan)
Sebuah ayat dalam surat Kolose menyatakan hal ini. "Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah." (Kolose 3:15). Dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari alias BIS dikatakan: "Hendaklah keputusan-keputusanmu ditentukan oleh kedamaian yang diberikan oleh Kristus di dalam hatimu. Sebab Allah memanggil kalian untuk menjadi anggota satu tubuh, supaya kalian hidup dalam kedamaian dari Kristus itu. Hendaklah kalian berterima kasih."
Lihatlah bahwa rasa damai sejahtera Kristus bisa menjadi pemandu kita dalam mengambil keputusan. "let the peace (soul harmony which comes) from Christ rule (act as umpire continually) in your hearts [deciding and settling with finality all questions that arise in your minds, in that peaceful state]", itu bunyi versi English Amplified-nya.
Dari ketiga versi di atas kita bisa melihat jelas bahwa damai sejahtera Kristus mampu memandu kita agar tidak salah jalan dalam memutuskan sesuatu. Apakah kita sudah pernah merasakannya, setidaknya tahu, atau malah tidak tahu sama sekali, persoalannya ada pada kita sendiri. Yang jelas damai sejahtera Kristus akan selalu mampu menjadi peringatan apakah keputusan atau tindakan yang kita ambil itu baik atau buruk bagi kita maupun orang lain, juga benar atau salah di mata Tuhan.
Damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Yesus Kristus berulang kali dinyatakan oleh Paulus terutama dalam penutup surat-suratNya. Lihatlah pada akhir surat Galatia, Efesus Filipi, Tesalonika dan Timotius juga Kolose, Paulus selalu menyatakan hal yang kurang lebih sama: "Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu."
Selain Paulus, Yohanes menyatakan itu juga dalam suratnya: "Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih." (2 Yohanes 1:3) Petrus pun demikian. "Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin." (1 Petrus 5:14b).
(bersambung)
Tuesday, December 26, 2023
Room for Jesus (6)
(sambungan)
Bukan hanya sekedar numpang lewat, bukan menginap, tetapi tinggal berdiam atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan kata "dwell" dan bukan "stay". Semua itu hanyalah dimungkinkan apabila kita benar-benar mengasihi Yesus dan menuruti firmanNya. (ay 14).
Dengan menjadi milikNya kita pun dilayakkan untuk menerima janji-janji Allah seperti yang Dia janjikan kepada Abraham. "Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." (Galatia 3:29).
Untuk keselamatan dan segala kebaikan dalam kelimpahan bagi kita, dengan digerakkan oleh rasa kasih Allah yang begitu besar pada kita, Yesus rela menggantikan kita di atas salib dan menebus semua itu dengan lunas. Tidak satupun yang Dia lakukan untuk kepentinganNya. Alangkah keterlaluan apabila kita tidak menghargai sedikitpun anugerah luar biasa yang telah Dia berikan kepada kita. Pikirkanlah hal ini dalam memperingati kelahiranNya tahun ini.
Menyambut Natal kali ini, mari kita introspeksi diri. Dalam segala kesibukan dan hal-hal yang harus kita lakukan, masihkah kita menempatkan Kristus pada posisi teratas atau kita sebenarnya masih terus mengabaikan atau menyisihkan Dia yang telah menciptakan dan begitu mengasihi kita? Apakah kita masih memberikan Yesus sebuah kondisi memperihatinkan seperti saat Yesus lahir dalam rupa manusia lebih dari dua ribu tahun yang lalu? Tidak ada tempat kecuali palungan yang kotor, sebuah tempat sisa yang tidak layak sama sekali untuk manusia apalagi Yesus, atau jangan-jangan kita malah lebih parah, bahkan dalam palungan pun Yesus tidak kita ijinkan untuk berdiam.
Mari hari ini kita membuka hati kita sepenuhnya untuk Kristus. Katakanlah kepadaNya bahwa selalu ada ruang yang luas untukNya di dalam hati kita. Undang Dia untuk hadir dan berdiam disana. Mulai dari hari ini, ijinkan dia berdiam dalam diri kita dan bertahta sepenuhnya atas hidup kita. Selamat Hari Natal teman-teman, Tuhan Yesus memberkati.
"Everyone is always trying to leave Jesus out, which is one reason we are in the mess we are in." (quote dari film berjudul War Room)
Wednesday, June 21, 2023
Iri (5)
(sambungan)
Mari kita lihat lebih jauh, ternyata iri hati termasuk salah satu dari keinginan daging yang berlawanan dengan keinginan roh, yang dapat menyebabkan kita kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21). Lihatlah bahwa iri hati berada dalam kategori yang sama dengan dosa-dosa yang kita anggap "lebih serius" seperti percabulan, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir dan sebagainya. Alangkah sayangnya jika kita sudah bersusah payah menghindari dosa-dosa itu, namun kita berkompromi pada iri hati yang menyelinap secara diam-diam.
Hendaklah kita menyadari betapa pentingnya kita untuk berjaga-jaga sepenuhnya karena waktunya sudah dekat. Paulus mengatakan: "Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati." (Roma 13:12-13).
Sudah waktunya bagi kita untuk berhenti mengijinkan iblis membawa masuk hal-hal yang membinasakan, pada hidup, pekerjaan dan pelayanan kita, termasuk hal-hal yang seolah dianggap ringan seperti iri hati. Kita harus terus berusaha agar tidak serupa dengan dunia ini. "Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?" (1 Korintus 3:3). Apa yang harus kita lakukan? Bergantunglah pada Kristus. "Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya." (Roma 13:14).
Mari kita waspadai sikap iri hati yang hendak masuk ke dalam diri kita agar jangan sampai kekacauan dan perbuatan jahat merebut kita dari keselamatan yang sudah dianugerahkan kepada kita.
Jangan pernah berkompromi dengan iri hati walau sekecil apapun
Saturday, January 21, 2023
The Ultimate Goal (6)
(sambungan)
Tidak akan ada gunanya kita mengaku sebagai orang Kristen apabila kita tidak mencerminkan pribadi Kristus dalam kehidupan kita. Menjadi serupa dengan Kristus akan mampu mengarahkan kita untuk masuk ke dalam Kerajaan dan kemuliaan Tuhan. Dengan menerima Kristus kita "telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kolose 3:9-10). Artinya, dari hari ke hari seharusnya kita terus mengalami pembaharuan dan semakin mendapatkan gambaran yang benar akan Kristus. Dengan demikian kita terus berproses untuk semakin menyerupaiNya.
Sejak awal Tuhan menciptakan kita dengan grand design dan tujuan besar. Kita secara istimewa diciptakan sesuai gambar dan rupaNya, dan hanya kitalah yang dirancangNya seperti demikian. Dan kini setelah diselamatkan, kita dipanggil untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, Yesus Kristus, menjadikan Yesus sebagai yang sulung, dan kita meneladani Dia dengan serius dan sungguh-sungguh. Itu panggilan spesifik yang diberikan Tuhan kepada setiap orang percaya.
Sudahkah kita mencerminkan Yesus dalam perbuatan, perilaku dan dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita masih mengeluarkan perkataan-perkataan yang menyakiti orang lain? Mengeluarkan kutuk, kata-kata kotor? Masih menyimpan sakit hati, dendam dan sulit mengampuni? Gampang tersinggung? Mentolerir dan berkompromi dengan dosa? Melakukan kecurangan? Tampil dengan topeng rohani padahal kehidupan jauh dari kebenaran? Suka berbohong? Tidak fokus kepada tugas dan tujuan? Berhitung untung rugi atau pamrih dalam memberi? Suka meninggikan diri? Masih terjebak kesombongan? Manipulatif? Licik dan tidak tulus? Berat untuk melayani, pasang argo tinggi? Hidup masih terombang-ambing antara percaya dan ragu? Masih sering merasa cemas, kuatir, was-was atau malah panik saat terguncang sedikit saja? Kalau ya, berarti kita masih jauh dari tujuan yang paling utama. Kita harus mampu mengenal gambaran Kristus secara utuh, dan itu tidaklah sulit untuk didapati dalam Alkitab.
Selanjutnya, proses pertumbuhan untuk terus menjadi seperti Kristus akan memampukan kita untuk menghasilkan buah-buah Roh, antara lain "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23). Itu adalah buah-buah yang seharusnya muncul dari kita. Bayangkan apabila buah-buah ini dihasilkan oleh orang percaya di berbagai penjuru bumi, bukankah itu luar biasa indahnya? Tapi itu tidak akan bisa terjadi jika orang percaya masih belum menyadari apa sebenarnya yang menjadi tujuan mereka yang paling utama. Bagaimana mau fokus dan berhasil kalau tahu saja tidak?
Karena itu, hari ini mari kita ingat dengan serius apa yang menjadi tujuan utama kita sebagai orang percaya. Kalau sudah tahu, fokuslah dalam mengejar tujuan tersebut. Diperlukan sebuah proses berkesinambungan untuk bisa mencapai sebuah kepenuhan dalam menggenapinya, oleh karena itu bertekunlah dan sungguh-sungguhlah dalam setiap sekuensnya. Seriuslah menjalani proses, jangan buang waktu, dan nikmati. Teladani Yesus dalam segala yang kita perbuat atau kerjakan, dalam segenap aspek kehidupan kita, dan teruslah lebih baik
lagi sampai kita bisa mencapai sebuah tingkatan serupa seperti Yesus.
You're created and equipped to become like Christ
Tuesday, August 9, 2022
Maksud Kemurahan Tuhan (3)
(sambungan)
Hendaknya segala kebaikan Tuhan lewat kasih
karunia jangan dipakai sebagai kesempatan untuk memperoleh sesuatu demi
kepentingan pribadi, sebagai kesempatan untuk berbuat seenaknya di luar
kehendak Tuhan, apalagi kalau dimanfaatkan untuk hal-hal yang justru
berlawanan dengan Firman Tuhan, tapi hendaknya dipakai sebagai MODAL
yang memampukan kita untuk menghidupi kehendakNya.
Kemurahan-Nya,
kesabaran-Nya, kelapangan hati-Nya, semua kasih karunia yang ia berikan
bagi kita hendaknya menghasilkan buah Roh, karena sejatinya baik
tidaknya sebuah pohon akan tergantung dari buah-buah yang dihasilkan.
Apa saja buah Roh itu? "... buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri." (Galatia 5:22-23a). Proses pertobatan dan pertumbuhan
iman kita harus terus dikerjakan hingga kita bisa menghasilkan buah-buah
Roh seperti yang dinyatakan dalam ayat Galatia ini.
Jadi
jelaslah bahwa kasih karunia bukanlah akhir, melainkan awal dari
perjalanan panjang kita menuju proses keserupaan dengan Kristus.
Tentu
saja proses yang harus dijalani tidak mudah. Dan, pasti butuh waktu
untuk berproses. Usaha, seringkali butuh pengorbanan. Itu juga betul.
Tapi lagi-lagi, kasih karunia seharusnya memberi awal yang baik,
membantu dan memampukan kita untuk berproses. Yang dituntut dari kita
adalah komitmen untuk memulai dan menjalani proses dengan serius.
Lantas
bagaimana kalau kita sudah berusaha tapi belum berhasil? It's okay,
asal terus dikerjakan dan diseriusi dengan sungguh-sungguh. Proses
menuju keserupaan dengan Yesus menjadi goal bagi kita orang percaya,
yang hendaknya menjadi penekanan penting dalam perjalanan hidup kita.
Kita bisa mengisinya dengan target pencapaian dan terus meningkat lagi
lebih jauh.
Jadi, apakah kita harus bersukacita atas kasih karunia? Tentu saja.
Apakah kita harus bersyukur atas kasih karunia? Most definitely.
Tapi
apakah kita boleh take it for granted? Memanfaatkan itu demi keuntungan
pribadi kita? Menjadi sombong atasnya, dan menggunakan itu untuk
hal-hal yang salah menurut prinsip Kerajaan Allah? Absolutely not.
Kita
boleh berharap akan kekayaan kemurahan Tuhan, kesabaran dan juga
kelapangan hatiNya. Tapi jangan pernah sepelekan atau manfaatkan untuk
tujuan-tujuan yang buruk, melainkan pandanglah semua itu sebagai modal
awal yang bisa menuntun kita menuju pertobatan. Dari pertobatan menuju
pertumbuhan, dan kemudian menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan. Semoga
kemurahan Allah selalu melimpahi kita, dan semoga kita terus tekun
berproses agar semakin serupa dengan Kristus.
If we are not changed by grace, we are not saved by grace
Wednesday, August 22, 2018
Menyikapi Kemerdekaan Dengan Benar (4)
Ini pesan penting dalam menyikapi kemerdekaan yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Pesan penting dari Petrus dari dua ayat ini jelas. Menyikapi kemerdekaan yang sesuai dengan prinsip Kerajaan adalah kemerdekaan yang:
1. tidak disalahgunakan untuk melindungi kejahatan
2. dihidupi/dijalani sebagai hamba Allah
3. dipakai untuk menghormati semua orang, tanpa terkecuali
4. diisi dengan mengasihi saudara-saudara atau sesama manusia
5. disikapi dengan takut/hormat akan Allah
6. tidak membuat masalah melainkan menghormati pemimpin dan keputusannya
Sedangkan Paulus dalam surat Galatia 5 yang sudah saya sampaikan dalam bagian sebelumnya mengingatkan agar kita menyikapi kemerdekaan dengan:
1. Berdiri teguh menjauhi belenggu dan jerat dosa
2. Jangan lagi mau diperhamba atau mengenakan kuk perhambaan
3. Tidak menjadikannya kesempatan untuk hidup dalam dosa
4. melayani sesama oleh kasih
5. memiliki mindset mengasihi sesama seperti diri sendiri
Menyikapi kemerdekaan dengan keliru dan salah kaprah, menyikapi demokrasi dengan kebablasan, mempergunakan kemerdekaan sebagai selubung untuk melakukan berbagai kejahatan, menyuarakan pendapat dengan cara-cara yang tidak pantas, memaksakan kehendak dan meneror sudah begitu sering kita lihatdi sekeliling kita. Jangan sampai kita melakukan hal yang sama. Kita seharusnya tahu bagaimana menyikapi kemerdekaan dengan benar, yang sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhan karena semua cara dan prinsipnya sudah diberitahukan pada kita lewat Firman Tuhan.
Pertama, sebagai orang merdeka dalam iman kita jangan lagi mau diperbudak dosa yang merupakan produk dari si jahat. Hiduplah dalam kemerdekaan yang sungguh-sungguh, yang sebenar-benar atau sepenuhnya yang sudah diberikan Yesus, dan kemudian, isi kemerdekaan bangsa ini dengan buah-buah yang lahir dari kebenaran. Tidak menjadi bagian dari masalah melainkan bagian dari solusi.
How do we look at our nation? What can we do to make it better? What contribution can we give right now? Let's start doing something!
Kebebasan diberikan Tuhan bukanlah sebagai peluang untuk berbuat dosa
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Tuesday, August 21, 2018
Menyikapi Kemerdekaan Dengan Benar (3)
Ayat ini sesungguhnya memberikan dasar yang sangat jelas tentang bagaimana kita seharusnya menyikapi kemerdekaan. Kemerdekaan bukan, dan tidak pernah boleh dipakai sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa. Kita tidak pernah boleh memanfaatkan kemerdekaan untuk melakukan hal-hal yang jahat, kita tidak pernah boleh merugikan orang lain dengan atas dasar kebebasan. Kita tidak boleh memaksakan kehendak, membenci, apalagi menyakiti dengan alasan kebebasan di era reformasi. Kita tidak boleh memanfaatkan kemerdekaan untuk melakukan berbagai perbuatan yang jahat di mata Tuhan. Jangan sampai karena alasan sudah merdeka, kita berpikir bahwa kita boleh melakukan dosa.
Apa yang harusnya kita lakukan justru mempergunakannya agar kita bisa melayani satu sama lain lebih dari sebelumnya dengan didasarkan atas kasih. Untuk lebih menegaskan lagi, Paulus melanjutkan: "Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (ay 14). Kalau kita memiliki prinsip hidup mengasihi sesama seperti diri sendiri, kita tentu tidak akan mau melakukan berbagai hal buruk yang merugikan diri sendiri maupun orang lain atas nama kebebasan. Itu akan bisa menghindarkan kita dari kegagalan atau kekeliruan dalam menyikapi sebuah kemerdekaan.
Benar bahwa Tuhan menyediakan pengampunan untuk dosa kita. Tapi itu bukan berarti bahwa kita boleh memanfaatkan atau menyalahgunakan kasih Tuhan itu sebagai kesempatan untuk terus hidup dalam dosa. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa mengelak dari konsekuensi akibat dosa-dosa yang kita lakukan. Dan pada saatnya nanti, segala perbuatan dan perkataan kita haruslah kita pertanggungjawabkan di hadapanNya.
Petrus mengingatkan juga hal yang sama. "Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah." (1 Petrus 2:16). Itu pesan Petrus mengenai bagaimana menyikapi kemerdekaan dengan baik dan benar. Pesannya jelas. Kita tidak boleh menyalahgunakan kemerdekaan, apalagi memakai itu untuk menyelubungi/melindungi kejahatan-kejahatan seperti apa yang dilakukan sebagian orang yang masih dengan mudah bisa kita saksikan sampai hari ini. Kita tidak boleh ikut-ikutan seperti itu. Tapi, hiduplah sebagai hamba Allah. Hamba yang taat sepenuhnya kepada tuannya, yang hidup melayani tuannya. Hamba yang tidak akan mengecewakan tuannya dengan melakukan hal-hal dan nilai-nilai kehidupan seperti yang dimiliki tuannya.
Lebih lanjut Petrus mengatakan: "Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!" (ay 17).
(bersambung)
Friday, July 6, 2018
What Do We Have Today? (4)
Perikop ini mengajarkan kita tentang tiga hal penting yang saling berhubungan, yaitu:
1. Kepekaan/belas kasih terhadap sesama
Petrus peduli terhadap penderitaan si orang yang sudah lumpuh sejak lahir. Orang lumpuh itu merasa hanya bisa bertahan hidup mengharapkan sedekah dari orang lain, tetapi Petrus mengalirkan kasih Tuhan kepadanya dengan memberi mukjizat kesembuhan.
2. Pengenalan apa yang ada dan tidak ada pada kita
Petrus tahu apa yang dia punya dan apa yang tidak ia punya. Tidak memiliki harta, emas dan perak bukanlah kendala sama sekali buat Petrus. Ia tidak memakai itu untuk menjadi alasan tidak sanggup membantu orang lain.
3. Mempergunakan apa yang ada pada kita untuk memberkati sesama
Dengan mengetahui apa yang ia punya, Petrus pergunakan itu untuk memberkati orang lain. Tidak hanya sebatas ucapan kasihan, rasa iba, tapi Petrus melakukan sesuatu yang nyata.
Dalam berbuat baik kita tidak perlu berfokus pada apa yang tidak kita miliki yang bisa menghambat kita untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Kesalahan cara berpikir ini akan membuat kita tidak menyadari apa yang ada pada kita dan karenanya kehilangan kesempatan untuk menolong orang lain. Dan Firman Tuhan tegas berkata: "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." (Yakobus 4:17). Karenanya sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui potensi diri kita, apa yang kita punya dan memakainya untuk memberkati orang lain.
Selain itu Alkitab juga mengingatkan kita: "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." (Galatia 6:9). Kita harus terus melakukan perbuatan-perbuatan baik yang bisa memuliakan Allah dengan tidak jemu-jemu. Ada atau tidak apresiasi manusia bukan masalah, karena sesuatu yang dengan tulus kita lakukan demi namaNya akan selalu berharga di mataNya. Dan tentu saja, tidak perlu ribet berpikir tentang apa yang tidak kita punya, tapi periksalah apa yang kita punya dan pakai itu untuk memberkati orang lain.
Mengenai memeriksa apa yang kita punya, ada contoh bagus dalam kisah Yesus memberi makan lebih lima ribu orang lewat lima roti dan dua ikan. Memberi makan sebanyak itu, mau dari mana? Dari mana duitnya, dan siapa yang bisa memenuhi kebutuhan sebanyak itu? Para murid pun kemudian pesimis karena memandang pada apa yang tidak mereka miliki.
(bersambung)
Wednesday, June 13, 2018
Ragi Herodes (3)
Bukan lagi hal baru bagi kita mendengar atau menyaksikan orang-orang percaya atau hamba Tuhan yang karena diiming-imingi pangkat atau jabatan dari gereja menjadi bergeser dari iman yang tadinya murni. Gereja bukan lagi menjadi House of Worship where God lives in, tapi berubah menjadi tempat politik dan kancah perebutan kekuasaan. Pertumbuhan tidak lagi pada kualitas rohani jemaat tapi menjadi mengejar kuantitas. Dari segi bangunan, tata suara, tata cahaya, semuanya megah dan gagah, tapi sebagai rumah Tuhan sebenarnya sudah tinggal puing-puing saja. Lihatlah bahaya ragi yang satu ini dan dampak yang bisa ditimbulkan.
Ada contoh menarik tentang hal ini dari kisah perjalanan Paulus melayani. Pada akhir surat Paulus kepada Timotius, Paulus bercerita tentang kesulitannya. "karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus" (2 Timotius 4:10-12). Paulus meminta Timotius untuk bersegera datang bersama Markus untuk membantunya karena ia kekurangan orang disana. Yang tinggal hanya dia dan Lukas. Ia merestui kepergian Krekes ke Galatia, Titus ke Dalmatia dan Tikhikus ke Efesus, tapi ia juga menyampaikan bahwa ada satu rekan sepelayanannya bernama Demas ternyata terkena ragi Herodes ini.
Demas lebih mencintai dunia dan meninggalkan Paulus. Sepertinya setelah keadaan semakin mencekam dan berbahaya buat mereka dalam menyebarkan berita keselamatan, Demas tergoda lebih mencintai dunia ketimbang Yesus. Ia melupakan Amanat Agung yang dipesankan Yesus dan lebih memilih semua yang ditawarkan dunia. Demas meninggalkan Paulus pada saat sulit. Ia tidak lagi peduli dimana Tuhan ingin menempatkannya, Demas lebih memilih kenyamanan hidup di kota besar yang megah seperti Tesalonika.
Hamba Tuhan yang memilih pindah kapal karena tergiur iming-iming atau tawaran lebih besar dari tempat lamanya masih kerap terjadi sampai hari ini. Ada gereja-gereja yang kemudian harus kolaps sebagai dampaknya. Perpecahan antar bagian tubuh Kristus bisa menjadi kelanjutannya, dan kalau hal ini dibiarkan, kita tidak akan mampu berdampak pada kota dan bangsa dimana kita ditempatkan. Semua ini bisa timbul akibat ragi Herodes yang dibiarkan terus mengembang membusukkan orang-orang percaya.
Secara singkat, ragi Herodes ini adalah cinta dunia, seperti halnya raja Herodes yang mencintai dunia dan segala yang ditawarkan disana. Raja Herodes dikenal sebagai raja boneka Romawi yang lalim, kejam, tidak bermoral, licik dan tidak segan-segan membunuh atau membantai demi kepentingan dirinya yang mencintai segala kemewahan dan kenikmatan maupun kehormatan yang ditawarkan dunia. Raginya mengembang membusukkan orang-orang Herodian, para pengikut setia, sekongkolan atau kroni-kroninya dan bisa menyebar di kalangan orang percaya.
(bersambung)
Friday, March 30, 2018
Daging vs Roh (3)
Paulus mengingatkan juga bahwa menuruti keinginan daging berarti perseteruan terhadap Allah, dan siapapun yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah. (ay 7-8). Jika kita terus memberi kelonggaran untuk memenuhi berbagai keinginan daging, kita akan mati. Sebaliknya jika Roh lebih berkuasa dalam hidup kita, kita akan hidup. "Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." (ay 13).
Jika kita hidup oleh Roh, kita tidak akan lagi menuruti keinginan daging (Galatia 5:16). Kalau keinginan daging dijabarkan dalam pasal 19 sampai 21, maka buah Roh bertolak belakang dengan itu semua. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (ay 22-23). Betapa berbedanya keinginan daging dan keinginan Roh, dan kita tahu dimana masing-masing akan membawa kita berlabuh, apa yang akan kita dapatkan dari keduanya.
Lantas kita harus ingat pesan ini: "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh." (ay 24-25). Jadi kalau kita berkomitmen untuk hidup oleh Roh, maka hidup kita sudah seharusnya dipimpin oleh Roh. Dan kalau kita memang mengaku sebagai milik Kristus, maka sudah seharusnya pula kita menyalibkan kedagingan beserta segala hawa nafsu dan keinginan di dalamnya. Keduanya tidak akan bisa dijalankan bersama-sama. Kita tidak bisa mengaku sebagai pengikut Yesus tapi tetap memuaskan keinginan-keinginan daging. Kita tidak bisa terus mencari kenikmatan yang memuaskan daging lantas berharap mendapat bagian dalam KerajaanNya juga.
Salah satu pintu masuknya dosa yang paling utama adalah lewat keinginan-keinginan daging. Ini merupakan salah satu celah favorit yang dipergunakan untuk mengalihkan pandangan kita dari kebenaran. Kenikmatan dan kesenangan yang ditawarkan bisa begitu menggoda sehingga kita mudah memberi toleransi, membuka pintu terhadap dosa dan membiarkannya di dalam kita sampai kita benar-benar hancur dibuatnya.
Ingatlah bahwa Yesus sudah menyatakan bahwa roh memang penurut tetapi daging lemah (Matius 26:41). Daging itu lemah, mudah menyerah dan tergoda. Pemahaman kebenaran yang lemah dan toleransi yang besar yang diberikan kepada keinginan-keinginan daging ini akan membuat kita terus jatuh semakin jauh dan tenggelam semakin dalam, sampai-sampai kita tidak lagi sadar bahwa pemuasan keinginan daging ini sudah membuat kita gagal menuai rencana Tuhan dan akan kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah.
Oleh karena itulah dalam ayat yang sama ini Yesus mengajak kita untuk terus berjaga-jaga dan berdoa supaya jangan sampai kita menuruti keinginan daging yang lemah lalu menuai konsekuensi buruk. Tidak bisa tidak, kita harus benar-benar menyalibkan daging supaya kita bisa mengalami sebuah hidup yang dipimpin oleh Roh, bukan dikuasai oleh segala yang diinginkan daging.
Godaan akan selalu hadir untuk menjebak kita. Itu tidak akan pernah mudah. Antara roh dan daging akan selalu tarik menarik Tapi kita harus berkomitmen secara serius agar kita jangan sampai kalah terhadap segala yang diinginkan daging. Hidup yang kita jalani jangan sampai dikuasai oleh daging tapi seharusnya oleh Roh. Itulah yang akan membuat kita bisa hidup dalam damai sejahtera dan penuh dengan buah Roh.
Keinginan daging merupakan hal yang berasal dari dunia bukan dari Allah. Hiduplah dipimpin oleh Roh bukan daging
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sunday, March 11, 2018
Kasih : Sumber Daya Iman (2)
Dari mana iman itu timbul? Firman Tuhan mengatakan bahwa "..Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Dari sanalah iman itu berasal. Benih-benih Firman Tuhan yang kita tabur dan jatuh di tanah yang baik akan membuat benih-benih itu bertunas dan tumbuh subur. Selanjutnya kita butuh sumber daya yang akan menggerakkan agar iman itu bisa terus berbuah baik untuk kebaikan kita sendiri maupun kebaikan sesama, dan sumber daya itu ternyata, dan tidak lain adalah kasih. Sedemikian pentingnya arti kasih itu, jauh lebih penting dari hal-hal lainnya.
Bagaimana jika tidak ada aliran kasih dalam diri kita? Itu akan sama dengan peralatan elektronik kita tanpa adanya listrik. Bayangkan bagaimana hidup tanpa kasih. Kita akan dengan mudahnya membenci orang lain, mendendam atau merasa iri hati dan cepat tersinggung. Kita akan hidup mencari kepentingan sendiri dan tega mengorbankan siapapun demi diri kita. Jika itu terjadi maka berbagai perbuatan jahat lainnya akan mengintip dan siap menerkam kita, Dan hal itu sudah diingatkan oleh Firman Tuhan. "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). \
Membiarkan diri tanpa kasih itu sangatlah berbahaya. Disanalah akan terbuka banyak lahan subur bagi iblis untuk berpesta di dalam kita. Perhatikanlah bahwa kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sementara iri hati dan berbagai sikap jahatlainnya adalah bagian dari keinginan daging (ay 19-21). Kemudian lihatlah ayat ini: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (ay 17).
Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Hubungan kita dengan Tuhan terputus, iman kita tidak bekerja lagi dan tentu semua itu merugikan bahkan siap menghancurkan kita sampai habis.
Kasih adalah prinsip dasar dalam kekristenan. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi."Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi..." (1 Yohanes 3:11). Kemudian Yohanes mengingatkan kita pula akan akibat yang timbul jika kita tidak mengasihi atau memiliki kasih, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut" (ay 14), dan dengan lebih keras melanjutkan bahwa "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia" (ay 15).
Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati dan berbagai kebencian serta bentuk kejahatan lainnya untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Kita harus mencegah apapun yang bisa membuat kabel kasih kita terputus dari sumber dayanya.
Kasih adalah esensi dasar ajaran Kristus. Sedemikian pentingnya sehingga dikatakan "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (1 Korintus 13:13). Ingat pula bahwa aliran kasih itu akan mampu menghindarkan kita dari banyak kejahatan, sekaligus menyembuhkan berbagai luka dan membawa pengampunan bagi orang yang pernah menyakiti kita. "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." "For love covers a multitude of sins [forgives and disregards the offenses of others]." (1 Petrus 4:8).
Sekarang waktunya kita memeriksa kembali apakah iman masih terhubung dengan sumber dayanya yaitu kasih, dan apakah sumber daya kasih itu masih hidup dalam diri kita. Kita harus memastikan bahwa kasih menggerakkan iman dalam hidup kita, sehingga kita bisa terus melangkah dengan kepastian dan jaminan dari Tuhan. Adalah percuma jika kita mengikuti tata cara, ritual dan kebiasaan tetapi melupakan esensi terpenting yang menjadi dasar utama kekristenan. Hari ini kita belajar bahwa kita tidak bisa mengaku beriman tanpa memiliki kasih, iman tidak akan bisa bekerja tanpa adanya kasih.
Iman hanya bisa berfungsi jika ada aliran dari sumber dayanya yaitu kasih
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sunday, January 28, 2018
Pohon dan Buah (2)
Dan lihatlah bagaimana murka Tuhan. "Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak; Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya." (ay 5-6). Kemarahan itu tentu mengerikan jika harus kita terima sebagai konsekuensinya.
Dalam injil Matius, pokok atau pohon-pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik dikatakan akan "ditebang dan dibuang ke dalam api." (Matius 3:10). Lalu dalam Wahyu kita kembali mendapati konsekuensi yang harus dihadapi oleh "buah-buah anggur asam" ini." "...Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak." Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam kilangan besar, yaitu murka Allah." (Wahyu 14:18b-19).
Kalau begitu, seperti apa seharusnya buah yang seharusnya dihasilkan? Buah bisa berharga sangat tinggi dilihat dari kualitasnya. Kita orang-orang percaya, manusia dengan tubuh, jiwa dan roh seharusnya bisa menghasilkan buah yang jauh lebih berharga lagi. Dan itu tercatat dalam surat Galatia, yang disebut dengan buah Roh.
Demikian bunyi ayatnya: "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23). Lihatlah betapa tinggi kualitas buah-buah yang dihasilkan oleh sebentuk roh yang melekat pada Kristus. Dan seharusnya seperti itulah buah yang ingin Tuhan dapatkan atas hasil usahaNya dalam merawat dan mengasihi kita.
Perhatikanlah bahwa setiap buah menggambarkan aspek demi aspek dari citra Kristus. Itu bisa kita lihat dari cara hidup Kristus yang dicatat dalam keempat Injil. Disana tergambar jelas bagaimana Kristus mendemonstrasikan secara langsung segala kebajikan dari masing-masing buah. Dia ingin kita menghasilkan kualitas yang sama yang terpancar melalui cara hidup kita, apakah lewat cara kita bertutur kata, bersikap, berpikir, bertingkah laku dan lain sebagainya. Sudah seharusnya kita meletakkan pikiran dan perasaan kita seperti pikiran dan perasaan Kristus, seperti yang disampaikan oleh Paulus dalam Filipi 2:5.
Buah-buah Roh merupakan semua nilai kebajikan yang tidak terbantahkan oleh siapapun. Semua mengakui kualitasnya, tapi hanya sedikit yang mampu menghasilkannya. Terlebih saat dunia semakin sering mempertontonkan kebencian, kepuasan dari pembalasan dendam, penindasan, ketidakadilan dan buah-buah yang bukan berasal dari Tuhan melainkan dari sisi kegelapan. Buah-buah ini semakin langka, dan saya yakin akan semakin tinggi nilainya saat bisa dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Buah-buah Roh ini menampilkan karakteristik buah yang baik dan bernilai tinggi, dan itulah yang diinginkan Tuhan untuk dihasilkan secara berlimpah oleh hidup kita.
(bersambung)
Sunday, January 21, 2018
Belajar dari Cara Hidup/Etos Kerja Petani (4)
4. Taburan banyak, tuaian banyak
Petani yang berharap bisa panen besar tentu harus menabur banyak pula. Kita juga sama, hendaknya kita rajin-rajin menabur, agar kita bisa menuai banyak. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." (2 Korintus 9:6). Orang biasanya menolak menabur banyak karena mereka terus merasa berkekurangan alias tidak pernah puas. Tapi ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah menyediakan segalanya untuk ditabur, Dia sendiri juga yang akan memberkati kita lewat apa yang kita tabur. "Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami." (ay 11-12).
Bersikap pelit dan hanya menimbun uang kita tidak akan mendatangkan kebaikan, sebaliknya hanyalah akan merugikan. Harta seharusnya dikumpulkan di Surga dan bukan di bumi, dimana ada banyak ngengat dan karat yang bisa menghabiskan semuanya sampai ludes. "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya." (Matius 6:19-20).
Ada satu hal penting yang kita harus ingat dalam hal menabur, yaitu perhatikan benar-benar motivasinya. Janganlah menabur karena punya motivasi-motivasi ingin kaya. Ada banyak paham kemakmuran (prosperity teaching) yang keliru mengartikan hal ini sehingga bisa menyesatkan kita. Menabur bukan karena mengharapkan imbalan berlipat-lipat melainkan karena didasari kerinduan untuk memberkati orang lain, menjadi saluran berkat dan terutama atas dasar kasih kita kepada Tuhan dan bukan karena motivasi pribadi. Kita memberkati bukan untuk diberkati, tapi kita diberkati untuk memberkati.
Dengan kata lain, pemberian haruslah tulus, ikhlas dan dilakukan karena mengasihi Tuhan. Sebab Tuhan Yesus sudah berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Dan pada akhirnya, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Dengan terus memberkati orang lain, kita sedang mengumpulkan harta di Surga yang sifatnya kekal, bukan di dunia yang hanya sementara lalu banyak pula ngengat karatnya.
Jangan pula keliru beranggapan bahwa perbuatan baik menjamin keselamatan seperti pemikiran di luar sana, karena keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Perbuatan baik tidak mendatangkan keselamatan tetapi merupakan buah-buah yang dihasilkan dari iman kita. "Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita." (Titus 3:4-7). Singkatnya, perbuatan baik bukan sumber keselamatan melainkan merupakan buah Roh (Galatia 5:22-23).
(bersambung)
Wednesday, January 17, 2018
Hindari Amarah dan Panas Hati (3)
Menariknya, ada Firman yang mengatakan bahwa kalaupun kita harus marah, milikilah kendali penuh atas amarah kita. Firmannya berbunyi: "Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam." (Mazmur 4:4). Firman ini mengingatkan, apabila kita memang terlanjur marah, segera kuasai agar kita jangan sampai jatuh melakukan perbuatan dosa. Jangan keluarkan amarah lewat perkataan karena seringkali perkataan yang dibiarkan keluar saat emosi bisa begitu tajam melukai diri sendiri dan orang lain, dimana kata-kata itu jauh dari fakta dan biasanya sudah melebar jauh melebihi topik. Jadi jangan buat tindakan atau hindari perkataan-perkataan yang didasari emosi saat kita masih marah. Dan tentu saja yang terpenting, redakan segera sebelum api yang terlanjur menyala jangan sampai terlanjur besar sehingga sulit dikendalikan dan mendatangkan malapetaka.
Kembali pada Mazmur 37 di atas, setelah Daud mengatakan bahwa kemarahan itu tidak akan membawa manfaat apa-apa selain mengarah kepada berbagai tindak kejahatan, demikian bunyi ayat berikutnya: "Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri." (Mazmur 37:9).
Jadi disaat orang yang menanti-nantikan Tuhan pada akhirnya mewarisi negeri, orang-orang yang berbuat jahat tidak akan mewarisi apa-apa selain kebinasaan yang kekal. Dan ini sejalan dengan apa yang dikatakan Yesus setelahnya: "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." (Matius 5:5). Orang yang mudah dipenuhi kemarahan tidak mampu menguasai diri mereka dan hanya akan menuai kehancuran, sebaliknya orang yang lemah lembut akan memperoleh banyak hal, bahkan dikatakan orang yang demikian akan memiliki bumi.
Lebih lanjut, lemah lembut merupakan satu dari sekian banyak buah Roh seperti yang tertulis dalam Galatia. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22). Benar, secara normal kita menjadi marah saat terprovokasi atau dijahati orang, atau saat ada sesuatu yang terjadi merugikan atau menyakiti kita. Wajar, manusiawi, itu mungkin yang kita pikirkan. Tetapi perhatikanlah bahwa apa yang dikatakan dengan lemah lembut adalah orang yang memiliki hati tunduk kepada kehendak Tuhan dalam hidupnya.
Penundukan berbicara luas dalam berbagai aspek, baik pikiran, tindakan, perkataan atau perbuatan. Dan semuanya seharusnya tunduk ke dalam tuntunan Tuhan, lewat Roh Kudus yang tinggal diam di dalam diri kita. Ketaatan kita untuk tunduk kepada Roh Allah, kerelaan kita untuk hidup dipimpin Roh Kudus akan menghasilkan buah-buah Roh, dimana beberapa diantaranya adalah kelemah lembutan dan penguasaan diri. "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh." (ay 25). Inilah yang akan membuat kita mampu terus hidup dengan sikap lemah lembut walaupun hal-hal yang sangat berpotensi mampu membangkitkan amarah akan terus datang menghampiri kita pada waktu-waktu tertentu.
Hati yang panas lalu menyulut kemarahan. Itu punya potensi besaruntuk mendatangkan bahaya bagi kita. Baik secara langsung di dunia ini, seperti berbagai penyakit yang bisa menyerang kita, maupun ancaman berbuat berbagai kejahatan yang menimbulkan dosa. Sikap seperti ini tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah dan hanya mengarahkan kita pada banyak kejahatan. Karena itulah kita harus senantiasa berusaha untuk menjaga hati kita agar tetap lemah lembut. Yakobus pun mengingatkan hal ini dengan sangat jelas. "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:20).
Tidak ada kebaikan apapun yang bisa kita tuai dari sebuah kemarahan. Memasang muka penuh amarah pun tidak membawa kebaikan apa-apa, justru akan sangat merugikan kita. Yakobus kemudian melanjutkan: "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu." (ay 21).
Terus bekali hati, jiwa dan roh kita dengan firman-firman Tuhan, dan terimalah itu dengan lemah lembut. Hiduplah dipimpin oleh Roh Allah dan hasilkan buah-buah yang berasal daripadaNya, sehingga kita bisa menjalani hidup dengan sukacita dan bahagia tanpa terpengaruh oleh hal apapun yang mencoba menimbulkan amarah kita dan bisa membawa orang untuk melihat serta merasakan Tuhan dalam hidup kita. Mungkin tidak mudah bagi kita untuk menahan diri disaat kita ditindas, disakiti, dirugikan atau ditekan, tapi apabila kita berjalan bersama RohNya, hati yang lemah lembut merupakan salah satu buah yang akan kita hasilkan.
Don't let wrath and anger fill our heart because all leads only to evil and never to Him
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, December 30, 2017
Dipandu Damai Sejahtera (3)
Ingatlah bahwa tuntunan batin dari Roh Kudus bisa membawa rasa kegelisahan saat kita keliru bersikap, atau sebaliknya damai saat kita mengikuti tuntunan dengan baik. Ini adalah sesuatu yang harus kita cermati dengan seksama. Bagi orang percaya, Yesus sudah mengutus Penolong yakni Roh Kudus untuk menyertai kita selama-lamanya. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." (Yohanes 14:16-17).
Roh Kudus akan membantu mengingatkan kita, menegur, menasihati dalam kelemahan kita, termasuk di dalamnya membantu kita untuk menyampaikan kepada Allah tentang keluhan-keluhan yang tidak lagi bisa terucapkan oleh kita. (Roma 8:26). Kalau kita memiliki hati nurani yang berfungsi baik dengan kepekaan, kita akan mudah merasakan betapa seringnya Roh Kudus memberitahukan banyak hal lewat batin kita. Itu adalah salah satu cara yang kerap dipakai oleh Tuhan untuk membimbing anak-anakNya. Kehendak bebas yang Dia berikan kepada kita membuat kita bisa memilih untuk patuh atau tidak terhadap suaraNya. Tapi kita harus mengimani bahwa Tuhan tahu tentang apa yang terbaik buat kita lebih dari apa yang kita pikir terbaik buat kita sendiri.
Sebuah ayat dalam surat Kolose menyatakan hal ini. "Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah." (Kolose 3:15). Dalam versi lainnya dikatakan: "Hendaklah keputusan-keputusanmu ditentukan oleh kedamaian yang diberikan oleh Kristus di dalam hatimu. Sebab Allah memanggil kalian untuk menjadi anggota satu tubuh, supaya kalian hidup dalam kedamaian dari Kristus itu. Hendaklah kalian berterima kasih."(BIS). Lihatlah bahwa rasa damai sejahtera Kristus bisa menjadi pemandu kita dalam mengambil keputusan. "let the peace (soul harmony which comes) from Christ rule (act as umpire continually) in your hearts [deciding and settling with finality all questions that arise in your minds, in that peaceful state]", itu bunyi versi English Amplified-nya.
Dari ketiga versi di atas kita bisa melihat jelas bahwa damai sejahtera Kristus mampu memandu kita agar tidak salah jalan dalam memutuskan sesuatu. Apakah kita sudah pernah merasakannya, setidaknya tahu, atau malah tidak tahu sama sekali, persoalannya ada pada kita sendiri. Yang jelas damai sejahtera Kristus akan selalu mampu menjadi peringatan apakah keputusan atau tindakan yang kita ambil itu baik atau buruk bagi kita maupun orang lain, juga benar atau salah di mata Tuhan.
Damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Yesus Kristus berulang kali dinyatakan oleh Paulus terutama dalam penutup surat-suratNya. Lihatlah pada akhir surat Galatia, Efesus Filipi, Tesalonika dan Timotius juga Kolose, Paulus selalu menyatakan hal yang kurang lebih sama: "Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu."
Selain Paulus, Yohanes menyatakan itu juga dalam suratnya: "Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih." (2 Yohanes 1:3) Petrus pun demikian. "Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin." (1 Petrus 5:14b).
Damai sejahtera dari Bapa dan Kristus akan selalu menyertai kita, dan kitalah yang memilih apakah kita mau menerima atau menolaknya, apakah kita mau menjadikannya sebagai pemandu bagi langkah, pengambilan keputusan kita atau memilih untuk mengabaikannya dan membiarkan diri kita untuk terus berjalan, mengambil keputusan dan bersikap tanpa tuntunan.
(bersambung)
Wednesday, December 27, 2017
Kembali pada Esensi Natal (3)
Apa yang harus kita lakukan adalah: "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." (ay 2). Lebih dari apa yang menyenangkan diri kita pribadi, kita harus bisa mengesampingkannya demi mencari apa yang bisa menyenangkan sesama kita, apa yang bisa kita buat untuk menolong atau meringankan beban mereka. Tidak sebatas memberi kesenangan saja karena itu bisa mengarah kepada pemberian-pemberian yang tidak mendidik atau malah menyesatkan, tapi Firman Tuhan berkata bahwa kita wajib membantu untuk kebaikan mereka.
Demikianlah keteladanan yang kita peroleh dari Kristus. "Karena Kristus juga tidak mencari kesenanganNya sendiri." (Ay 3). Jauh dari kesenangan atau kenyamanan, Yesus menghabiskan waktu demi orang lain, lalu Dia pun rela menderita menanggung siksaan luar biasa keji hingga akhirnya mati di kayu salib. Tanpa itu, entah apa nasib kita hari ini. Penebusan dan pemulihan hubungan dengan Allah yang lama terputus akibat dosa diberikan pada kita lewat kematian dan kebangkitanNya. Jadi kita bisa melihat betapa besarnya kepedulian Kristus terhadap manusia lebih dari kepentingan diriNya sendiri.
Jika Tuhan saja demikian, sudah sepantasnya kita pun demikian. Setidaknya kita bisa memakai momentum Natal tahun ini untuk mulai belajar melakukan itu dimulai dari hal-hal yang sederhana, lalu terus melatih kepekaan kita terhadap penderitaan sesama, sehingga pada suatu ketika kita bisa "satu hati dan satu suara memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus" bersama-sama mereka. (ay 6).
Jika kita bersyukur atas anugerah keselamatan dari Tuhan lewat kelahiran Kristus ke dunia, berarti sudah pada tempatnya kita berpikir untuk melakukan sesuatu sebagai ucapan syukur kita. Apa yang harus kita lakukan? Yesus berkata bahwa "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40) Itu pesan pentingnya, dan dalam memperingati Natal pun sudah seharusnya kita memikirkan untuk melakukannya. Ingatlah bahwa kita hidup untuk memuliakan Tuhan. "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36).
Hidup ini berasal dari Tuhan, berpusat pada Tuhan, menjalani bersama Tuhan dan berakhir untuk Tuhan. Itulah kehidupan kekristenan sejati. Jika demikian, kita tidak pantas untuk mementingkan kepentingan diri sendiri saja, sibuk membuat pesta dengan segala kemewahan dan kemeriahannya sementara di sekeliling kita masih banyak orang yang berjuang mati-matian untuk sekedar bertahan hidup.
Mengejar perayaan agar terlihat hebat di mata orang bukanlah gambaran yang benar dari hamba Kristus. Dan itu sudah disampaikan pula oleh Paulus. Ingatlah pesan Tuhan berbunyi "Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus." (Galatia 1:10). Pesta besar tentu akan berkenan kepada manusia, pujian dan pujaan mungkin hadir buat kita, nama dan popularitas mungkin meningkat, tapi itu tidaklah berkenan bagi Kristus sebelum kita terlebih dahulu mengulurkan tangan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Seorang hamba Kristus akan rela melepas atribut dan hak dalam melakukan segala yang dikehendaki Tuhan dalam hidupnya.
Jangan lupa pula bahwa seperti yang saya sampaikan dalam renungan sebelum ini, pesan Tuhan untuk Natal tahun ini adalah agar kita menjaga betul kemurnian hati kita, dimana seluruh kehidupan itu terpancar. Hati yang tercemar akan menghasilkan kualitas hidup yang juga penuh kecemaran. Itu akan sangat buruk buat kita dan akan pula buruk buat siapapun yang ada di sekitar kita. Buah kebencian dari hati yang dicemari kebencian bukan saja membuat kita jauh dari sukacita dan damai sejahtera tapi juga bisa merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang kita lihat beberapa waktu ini.
Celakanya, kebencian hanyalah satu dari begitu banyak produk buruk dari hati yang tercemar. Tidak ada kasih yang bisa hidup disana, apalagi kasih yang bersifat universal, menembus sekat dan batas primordial alias pandangan atau paham baik mengenai tradisi, adat, kepercayaan dan lain-lain, kasih yang berisi pengampunan yang lebih besar dari ukuran dunia, kasih yang sanggup menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang nyata buat orang lain tanpa memandang latar belakangnya, bukan seperti sistim sempit yang dianut orang di luar sana. Sedikit kecemaran saja sudah bisa membuat hati kita menghasilkan produk-produk buruk yang terpancar keluar dari kehidupan kita.
Tuhan menyediakan pelitaNya lewat roh kita untuk menyelidiki sisi-sisi terdalam pada hati kita agar kita bisa memastikan apakah hati kita sudah murni atau masih mengandung kecemaran. Dan karena itu disediakan lewat roh, maka kita harus memastikan agar roh kita kuat dan memegang kendali atas hidup kita, bukan kedagingan. Lalu kita harus menyerahkan atau menundukkan pikiran dan perasaan kita agar selaras dengan pikiran dan perasaan Yesus. We think the way He thinks, we feel the way He feels. Tanpa ini semua, kita akan hidup dengan bahaya kecemaran menuju pada kehancuran.
Sebagai bentuk ucapan syukur kita atas anugerah Tuhan dalam memperingati Natal, hendaklah kita sama-sama merenungkan kembali semua ini. Miliki hati yang murni dalam Tuhan yang menghasilkan produk-produk dimana kasihNya tercermin dan terasa disana. Tidak ada perayaan Natal apabila Tuhan tidak digerakkan oleh kasih memutuskan untuk menebus kita. Tidak ada Natal apabila Yesus tidak datang ke dunia, melepas semua atribut ke-IlahianNya dan mengorbankan diriNya demi kita semua. Mari rayakan Natal tahun ini dengan kembali pada esensinya. Mengerti, menyikapi benar dan mensyukuri, kemudian meneladani dan mengaplikasikan. Jangan jadikan semua yang dilakukan Tuhan sia-sia. Let's make this Christmas as a start of something good. Merry Christmas, God bless you!
We may love the Christmas season, but do we love Christ?
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Friday, December 22, 2017
Mengenali Strategi Lawan (3)
Apa yang harus kita perhatikan dengan sepenuhnya sudah disampaikan pada kita. Kalau mau punya roh kuat, kita harus berusaha untuk sepenuhnya hidup dalam Roh dan bukan menuruti keinginan daging seperti yang dinyatakan dengan jelas dalam Roma 8:1-17. Mengapa? "Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera." (Roma 8:6). Sepintas keinginan-keinginan daging memang terlihat menggoda, penuh dengan kesenangan dan kenikmatan yang bisa sangat memuaskan daging. Tapi berhati-hatilah karena semua itu bisa melahirkan dosa berujung maut. "Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." (ay 13). Kita bisa melihat pula bagaimana perbedaan atau perbandingan hidup menurut daging dan Roh dalam Galatia 5:16-26.
Mengenai roh dan daging juga diingatkan oleh Yesus sendiri. Dia sudah memberi peringatan dengan tegas agar kita mewaspadai benar-benar keinginan-keinginan yang berasal dari daging ini. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41).
Yesus mengatakan kita harus berhati-hati karena sementara roh itu penurut, daging sebenarnya sangat lemah atau rentan terhadap godaan. Terlebih karena keinginan daging justru bisa memikat kita lebih daripada roh. Pada saat roh kita kalah dibandingkan daging, maka berbagai hal jahat pun berpotensi menghancurkan kita. Disaat seperti itu roh kita tidak akan bisa memfungsikan dirinya sebagai pelita Allah, dan saat tidak ada pelita membawa terang Allah, maka hati kita pun tidak akan bisa kita pastikan bebas dari kecemaran. Itu jelas berbahaya.
Selanjutnya, bagaimana caranya agar kita mampu mengatasi godaan-godaan dari kedagingan ini? Tuhan Yesus sudah mengatakan caranya pada ayat tadi. Berjaga-jaga, dan berdoa. Itu akan mencegah masuknya berbagai bentuk dosa lewat kelemahan daging kita. Alangkah sayangnya kalau kita yang sudah memulai kehidupan baru dalam Roh kemudian semuanya sia-sia karena kita gagal menjaga kedagingan kita dari berbagai serangan.
Jangan hanya serius pada satu hal tapi mengabaikan yang lain, jangan cuma rajin berdoa tapi lengah berjaga-jaga. Sebaliknya jangan pula tekun berjaga-jaga tapi jarang berdoa. Bukan salah satu tetapi dilakukan bersama-sama, beriringan dan simultan. Berjaga-jaga, berdoa. Berdoa, berjaga-jaga. Itulah kunci utama agar kita tidak menyerah kepada jebakan si jahat yang seringkali masuk melalui berbagai keinginan daging kita yang lemah.
Marilah hal ini kita sikapi serius. Mulailah sejak awal membentengi diri kita dengan baik agar hari demi hari bisa kita lalui penuh kemenangan bersama Tuhan. Jangan lewatkan saat-saat teduh dimana kita bisa membangun hubungan yang terus lebih dalam dengan Tuhan. Jangan berhenti untuk terus membekali diri kita dengan Firman Tuhan yang hidup. Jangan menghindar tapi tetaplah biasakan diri untuk bersekutu bersama saudara-saudari seiman yang bisa saling menguatkan satu sama lain. Dan tetap libatkan Tuhan dalam apapun yang anda lakukan.
Perhatikan agar jangan sampai kedagingan yang berkuasa atas diri kita, bukan roh. Kenali strategi iblis, kenali titik-titik lemah kita agar kita tidak berakhir sebagai santapan empuk dan lahan bermain iblis untuk melakukan kerusakan atas semua yang sudah kita bangun yang berasal dari kasih karunia Tuhan. Jika anda berperang dan ingin menang, sudahkah anda tahu strategi yang tepat?
"Hence the saying: If you know the enemy and you know yourself, your victory will not stand in doubt; if you know Heaven and you know Earth, you may make your victory complete." - Sun Tzu
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...