=====================
"Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya."
Bagi yang suka mendengar lagu-lagu rohani tentu tahu sebuah lagu terkenal karangan Jeffrey S Tjandra yang berjudul Seperti Bapa Sayang AnakNya. Hari ini saya mendengar lagu tersebut dalam playlist saya, dan salah satu bagian reffrainnya berbunyi: Sperti Bapa Sayang Anaknya
Demikianlah Engkau Mengasihiku
Kau Jadikan Biji MataMu
Kau Berikan Smua Yg Ada PadaMu
Jeffrey menuliskan bahwa Bapa begitu sayang kepada kita, hingga Dia menjadikan kita biji mataNya. Ini tertulis di dalam Alkitab, yaitu dalam Ulangan 32:10 yang bunyinya: "Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya."
Mata adalah satu dari panca indra yang punya fungsi sangat penting. Tanpa mata maka segalanya akan terlihat gelap. Kita tidak akan bisa melihat apapun. Apakah itu berbagai keragaman ciptaan Tuhan, keindahan warna-warni dunia, segala karya seni tak tertandingi buah karyaNya akan luput dari penglihatan kita tanpa adanya sepasang mata. Mata pun merupakan salah satu objek keindahan tersendiri yang sering kita kagumi. Kita tentu pernah terpesona melihat mata yang indah milik seseorang? Contact lense dengan warna-warna menarik pun tersedia di mana-mana untuk mempercantik mata. Tidak hanya pada bola mata saja, tetapi wanita pun suka memoles area sekitar mata mereka dengan berbagai warna, baik pada kelopak, bulu mata dan alis. Agar tidak silau orang pun melindungi matanya dengan kaca mata hitam. Kalau anda bekerja sebagai pengelas, anda pun harus melindungi mata anda dari percikan api las dalam bekerja. Ini semua menggambarkan betapa berharga dan pentingnya mata bagi kita.
Jika manusia menganggap mata itu penting atas banyak alasan, demikian pula bagi Tuhan. Betapa indahnya ketika Tuhan menganggap kita bagai biji mataNya. Dia akan senantiasa menjaga, melindungi dan mengawasi kita bagaikan menjaga biji mataNya sendiri. Itulah yang tertulis di dalam Ulangan 32:10 tadi. Bagian ini termasuk dalam rangkaian nyanyian Musa yang ternyata cukup penting, karena kelak pada kitab Wahyu nyanyian ini kembali disebutkan. "Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: "Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!" (Wahyu 15:3). Pada akhir jaman nanti, mereka yang menang atas binatang dan patungnya dan orang-orang yang ditandai dengan angka (bilangan) akan menyanyikan kembali nyanyian Musa, bersama-sama dengan nyanyian Anak Domba dengan diiringi kecapi Allah. (ay 2). Luar biasa bukan? Artinya pernyataan kita sebagai biji matanya Tuhan akan terus ada hingga akhir jaman.
Adakah orang yang akan dengan sengaja merusak matanya sendiri? Tentu tidak. Jika kita merusak mata kita sendiri, sama artinya dengan merusak diri kita sendiri. Tidak ada bagian tubuh kita yang tidak berguna, Tuhan telah melengkapi kita secara luar biasa, termasuk di dalamnya mata, salah satu organ tubuh yang sangat penting agar kita dapat melihat. Semua keindahan alam beserta keragamannya, jutaan budaya berbeda-beda dengan daya tariknya sendiri-sendiri, segala kebesaran Tuhan lewat ciptaan-ciptaanNya yang luar biasa, semua bisa kita saksikan lewat mata. Kita membaca betapa Daud menyadari betul keindahan ciptaan Tuhan yang menunjukkan kebesaranNya dalam Mazmur 104:1-35. Lihatlah salah satu petikan dari perikop itu. "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." (Mazmur 104:24). Mata merupakan salah satu organ terpenting yang memampukan kita untuk menikmati itu semua. Tanpa mata akan sulit bagi kita untuk melihat keindahan ciptaan Tuhan. Betapa indahnya mengetahui bahwa kita yang tidak ada apa-apanya dan kerap mengecewakanNya ternyata begitu penting bagi Tuhan. Begitu penting sehingga akan selalu Dia perhatikan seperti halnya Dia memperhatikan biji mataNya sendiri.
Mari kita lihat sebentar sebuah bagian dari kisah hidup Daud. Ketika Daud dikejar-kejar musuh, Daud pun mengaitkannya dengan biji mata ini dalam menantikan perlindungan Tuhan. "Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu, terhadap orang-orang fasik yang menggagahi aku, terhadap musuh nyawaku yang mengepung aku." (Mazmur 17:9). Lalu marilah kita lihat bagaimana bunyi Firman Tuhan yang memberi jaminan pemeliharaan atas hidup kita. "Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu--sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya" (Zakharia 2:8). Firman Tuhan berkata: barang siapa menjamah kita anak-anakNya itu sama artinya dengan menjamah biji mataNya. Bagi mereka-mereka ini, demikian kata Tuhan: "Sesungguhnya Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka, dan mereka akan menjadi jarahan bagi orang-orang yang tadinya takluk kepada mereka. Maka kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku." (ay 9). Sebuah jaminan perlindungan luar biasa sudah dinyatakan Tuhan sendiri atas kita, dengan menyatakan bahwa kita itu begitu penting seperti biji mataNya sendiri.
Jika Tuhan sudah menjanjikan sebuah jaminan pemeliharaan yang sama pentingnya seperti melindungi biji mataNya sendiri, maka itu artinya kita tidak perlu khawatir, tidak perlu ragu, tidak perlu takut dalam menatap hari depan. Meskipun itu semua belum bisa kita lihat, meski mungkin hari ini kita masih berhadapan dengan ketidakpastian atau bahkan jika himpitan berbagai masalah kehidupan masih terus menekan kita, jangan khawatir, karena biar bagaimanapun Tuhan sudah menyatakan bahwa kita merupakan biji mataNya sampai kapanpun. Begitu berharganya kita di mata Tuhan, Dia akan senantiasa ada bersama kita, mengawasi dan melindungi kita dari segala hal agar bisa mendapat hidup yang aman lengkap dengan segala kelimpahannya. Apapun yang kita hadapi hari ini, yakinlah bahwa kita akan selalu menjadi biji mata Tuhan sampai kapanpun. Puji Tuhan dan bersyukurlah untuk itu.
Kita berharga di mata Tuhan seperti biji mataNya sendiri
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Kesombongan dan kepongahan orang bukanlah hal yang langka untuk kita lihat hari ini. Ada begitu banyak orang yang merasa diatas angin penuh kuasa hingga sama sekali tidak merasa bersalah untuk menindas atau merendahkan orang lain. Apakah itu dari harta kekayaan, status, pangkat dan jabatan, atau di sisi lain merasa kuat karena termasuk dalam anggota geng, punya koneksi atau hubungan dengan orang 'kuat', atau sekedar otot dan wajah seram yang dipercaya akan membuat orang takut ketika bertemu muka. Hari ini ketika sedang mengemudi di malam hari, saya bertemu dengan geng bermotor berjumlah puluhan yang berlaku seenaknya di jalan. Mereka terkenal tidak ragu-ragu dalam menyakiti orang lain di jalan raya, sehingga siapapun akan segera menghindar daripada mendapat masalah. Saat ini mungkin mereka merasa punya kekuatan atau kuasa besar yang bahkan membuat polisi memilih untuk menutup mata mereka, tapi sadarkah mereka bahwa 'show of force' mereka hanya berlaku sangat singkat di dunia yang fana ini? Pada saatnya kelak mereka harus menghadapi Sang Pencipta, dan tidak ada otot, senjata atau kekuatan apapun yang bisa mereka andalkan untuk mengelak dari pertanggungjawaban sepenuhnya atas perbuatan mereka selama hidup. Mereka lupa bahwa meski mereka punya kekuatan saat ini, mereka sama seperti kita, tidak lebih dari sosok yang kata Alkitab hanya dibentuk dari tanah liat.
Julukan biasanya diberikan dengan mengacu kepada sifat dan karakteristik atau keistimewaan seseorang. Baik dalam dunia musik, seni, olahraga, politik dan dalam keseharian kita, kita tentu sering mendengar berbagai bentuk julukan atas seseorang yang tentunya sangat menggambarkan sosok mereka dengan jelas. Meski kebanyakan julukan mengacu kepada hal-hal yang positif, ada kalanya orang memberi julukan negatif pula terhadap sosok yang tidak mereka sukai. Apapun itu, positif dan negatif, julukan yang dibuat akan mengacu kepada sesuatu yang tentu saja sanggup merepresentasikan orang tersebut secara umum, dan tentu saja kita perlu mengenal mereka terlebih dahulu sebelum memberi sebuah julukan. Berbicara mengenai hal ini, apakah Tuhan memiliki julukan atau sebutan? Alkitab mencatat begitu banyak sebutan Tuhan. Begitu banyak, sehingga apabila kita mengambil kurang dari sepertiga kitab Mazmur saja, kita bisa menemukan begitu banyak sebutan bagi Tuhan yang ditulis oleh Pemazmur.
Saya pernah mengikuti jalan di atas bara api sebagai sebuah metode untuk melatih keyakinan dan keberanian dalam melakukan sesuatu pada saat saya mengambil kuliah. Tentu awalnya mengerikan membayangkan kaki harus melewati bara api sepanjang beberapa meter tanpa memakai alas. Kuncinya agar kaki tidak terbakar sebenarnya hanya satu, kita harus melakukannya tanpa ragu. Jika kontak kulit dan bara api terjadi dalam jarak waktu yang sangat singkat maka kaki tidak akan mendapatkan cukup panas untuk membakar kulit sehingga kita bisa luput dari luka bakar serius. Langkah yang cepat juga membuat kaki menginjak ringan saja sehingga resikonya pun menjadi jauh lebih ringan. Sedikit saja ragu di tengah, itu akan membuat langkah kita melambat dan disanalah masalah bisa terjadi.
Tidak satupun dari kita yang ingin terus terpancing emosi. Marah-marah itu bukan saja mengganggu orang lain di sekitar kita, tapi juga beresiko terhadap kesehatan dan saya yakin anda setuju kalau saya katakan bahwa marah itu sangat-sangat melelahkan. "Kita ingin hidup damai, tapi mereka kan yang memancing? Mereka jual, saya beli!" kata teman saya yang tidak bisa menahan emosi karena antriannya di kedai makanan diserobot sekelompok ibu-ibu. Itulah memang yang menjadi masalahnya. Rasanya orang akan lebih suka hidup tenang dan damai, tapi menghadapi orang-orang yang sulit, usaha untuk tetap tenang pun menjadi sulit pula. Apalagi kalau yang terganggu itu adalah prinsip kita. Wah, bukan main sulitnya mengontrol emosi. Lucunya, ada pula sebagian orang yang menganggap dirinya gagah berani dan jantan apabila marah atau menonjolkan kekerasan sebagai gaya hidupnya. Sebagai manusia mungkin ada kalanya kita memang harus marah. Tapi kita perlu menjaga agar emosi itu tidak berkepanjangan dan kemudian membuka peluang bagi iblis untuk mengobok-obok dan memporak-porandakan diri kita untuk masuk ke dalam berbagai bentuk dosa yang kelak akan kita sesali juga. Karena itu yang terbaik adalah usaha untuk mengendalikan emosi sedini mungkin sebelum emosi kita menjadi melebar melebihi batas. Untuk itu kita memerlukan hati yang lembut.
Sebuah band rohani pernah bercerita mengenai sebuah komposisinya kepada saya. Komposisi itu terinspirasi dari orang-orang yang sibuk mudik menjelang hari raya keagamaan. Itu mengilhami sebuah perenungan bahwa manusia pada hakekatnya tengah menjalani sebuah 'journey' dalam kehidupan ini. "Kita bisa berjalan begitu jauh, tapi pada suatu saat kita tahu bahwa kita akan kembali ke tempat dari mana kita berasal." katanya. Ia pun melanjutkan bahwa dalam rangkaian perjalanan kehidupan ada kalanya kita keluar dari jalur dan menjauh dari alur yang seharusnya, tapi ketika kita mendengar dan merespon ketukan Tuhan dalam hati kita, selalu ada kesempatan bagi kita untuk kembali kepada Tuhan yang akan dengan senang hati menerima kita kembali dengan penuh sukacita bersama seisi Surga.
Ada sebuah layang-layang yang terbang dengan indahnya meliuk ke kiri dan kanan. Ia menjadi objek kekaguman banyak anak-anak yang melihatnya. Karena itu muncullah sikap sombong dari layang-layang tersebut. Ia tidak lagi ingin dikendalikan dari bawah dan ingin terbang makin tinggi dengan bebas tanpa kendali. Tiba-tiba benangnya putus. Layang-layang pun gembira karena berpikir bahwa ia sekarang bisa melayang naik ke atas dengan bebas. Tapi bukan itu yang terjadi. Layang-layang itu kemudian terhuyung-huyung turun ke bawah dan akhirnya berakhir sobek di atas sebuah pagar. Layang-layang kemudian menyesal karena lupa bahwa keindahannya meliuk gemulai di udara sesungguhnya tergantung dari orang yang mengendalikan dirinya lewat seutas benang dari bawah. Tetapi sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Nasi sudah jadi bubur. Layang-layang yang indah kini tinggal rangka yang tersobek-sobek tanpa arti lagi.
Seperti apa image seorang pemimpin di benak anda? Bagi teman saya yang sudah bekerja di beberapa tempat berbeda, gambaran pemimpin yang ia dapatkan adalah angkuh, sok kuasa, jaim alias jaga-image, dingin dan kerap berkata seenaknya menyakiti hati bawahan. Dari teman saya yang lain, sosok pemimpin adalah sosok yang bisa berbuat seenaknya, tidak pernah salah, sinis dan pilih kasih. Mungkin gambaran seperti itu mewakili image dari banyak pemimpin. Jika kita melihat sikap para pejabat di negara ini, gambaran-gambaran seperti itu pun akan mudah kita lihat. Disaat orang memiliki kuasa, ada banyak di antara mereka yang kemudian lupa diri dan mempertontonkan sikap-sikap yang negatif. Ada pula yang menjaga image secara berlebihan dan tidak bersahabat. Perubahan sikap dan gaya bisa menjadi berubah sangat kontras ketika mendapat kenaikan jabatan, bahkan kepada teman-teman sendiri. Dunia boleh saja menjadikan hal seperti itu sebagai hal yang lumrah, namun Kekristenan tidak pernah mengajarkan hal yang demikian. Kerendahan hati, kesabaran dan keramahan merupakan penekanan penting dalam melayani siapapun seperti yang bisa diteladani langsung dari Kristus sendiri.
Bagi saya yang berkecimpung dalam pekerjaan yang kebanyakan berada di dunia maya, agak mengherankan bagi saya ketika mendengar pandangan-pandangan negatif yang sering digelontorkan di media mengenai bahaya internet. Banyak orang yang dengan sempit mengartikan cyber world sebagai sebuah dunia yang melulu berisi hal yang buruk. Benar, ada banyak hal buruk yang bisa menjadi dipermudah aksesnya dengan menggunakan internet, tetapi itu hanyalah sebagian kecil dari begitu banyak manfaat positif yang bisa kita peroleh lewat itu. Bayangkan ketika dahulu kita harus repot duduk di perpustakaan untuk mencari referensi, saat ini kita cukup duduk di rumah dan dengan beberapa klik kita bisa memperoleh informasi atau data yang kita butuhkan. Bukankah saya mempergunakan media internet untuk menulis renungan setiap hari untuk membagi berkat sesuai panggilan saya bagi teman-teman sekalian? Itu membuktikan juga bahwa internet bukan melulu berisi hal yang buruk, tapi bisa juga dipakai sebagai media yang mewartakan Injil Kerajaan bagi orang-orang yang hidup didalamnya. Mulai dari resep membuat sambal terasi sampai bom atom bisa kita peroleh di internet. Masalahnya bukan dari teknologinya, tetapi justru dari kita sebagai pengguna atau pengakses. Anda bisa menyebutkan pisau sebagai benda tajam berbahaya yang bisa membunuh, tapi bagaimana kita bisa memotong dalam memasak tanpa adanya pisau? Apakah pisau masih merupakan senjata berbahaya ketika dipakai untuk memasak di dapur? Itu sebuah analogi sederhana yang mungkin bisa menggambarkan bahwa berbahaya atau bermanfaat, semua tergantung dari si pengguna. Dengan kata lain, baik atau buruknya sesuatu, itu tergantung dari tangan siapa yang menggunakannya.
Manusia cenderung tidak ingin kelemahan atau kekurangannya terekspos. Dalam banyak hal kita cenderung berusaha menyembunyikan kelemahan kita rapat-rapat dan menonjolkan kelebihan kita agar tidak terlihat lemah di mata orang lain. Kita bahkan merasa perlu untuk mendandani kelebihan kita habis-habisan agar terlihat 'kinclong' agar orang tidak melihat kelemahan kita. Tidak jarang pula sebagian orang tega mengeluarkan bad campaign atau berbicara buruk tentang orang lain semata-mata agar mereka terlihat hebat. Di sisi lain, ada banyak juga orang yang menyerah sebelum bertanding karena merasa terlalu lemah dan tidak sanggup berbuat apa-apa. Haruskah kita malu terhadap kelemahan kita? Di sisi lain, apakah kita tidak boleh memiliki kelebihan? Benar, kita memang harus memaksimalkan talenta kita, harus terus meningkatkan kapasitas kita sesuai dengan apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Tapi kadang kala kita lupa bahwa itu berasal dari Tuhan. Kita terlena akan kelebihan atau kehebatan kita, lantas kita bermegah berlebihan dan bersikap melebihi batas. Fokus kepada apa yang bisa kita lakukan, pada spesialisasi kita masing-masing, itu bagus. Tapi di sisi lain kita pun harus mengakui dengan jujur bahwa kita bukanlah mahluk yang 100% sempurna. Di satu sisi kita kuat, di sisi lain kita lemah. Semua manusia pasti punya kelemahan sendiri-sendiri, baik secara fisik, emosi, kemampuan, intelegensia bahkan juga rohani.
Adakah 'alarm' yang bisa berbunyi sebagai peringatan ketika kita mulai melakukan sebuah kesalahan, atau katakanlah ketika kita mulai melenceng keluar dari garis batas yang ditetapkan Tuhan? Dalam hidup ini ada begitu banyak tawaran yang bisa membuat kita tertarik karena terlihat menyenangkan. Jika tidak waspada, maka salah-salah kita bisa memberi toleransi terhadap dosa dan menganggap itu hanyalah 'dosa ringan' yang sepele saja. Kita lupa bahwa dosa tetaplah dosa meski sekecil apapun, dan berbagai keinginan-keinginan yang terlihat sepele itu tetap bisa berujung maut seperti yang sudah disebutkan dalam Yakobus 1:14-15. Oleh karena itu kita bisa berpikir alangkah baiknya jika kita punya alarm yang akan mengingatkan kita segera sebelum kita mulai melenceng keluar jalur. Apakah ada? Sebenarnya ada. Selain Roh Kudus yang akan selalu mengingatkan kita dalam setiap langkah, selain pagar Firman Tuhan yang akan berfungsi banyak untuk membantu kita menjaga batas-batas perjalanan agar tetap berada dalam koridor yang benar, Tuhan pun sebenarnya telah memberikan sesuatu dalam diri kita yang bisa berfungsi sebagai alarm awal untuk menghindari dosa, sesuatu yang Dia beri dalam hati kita. Kita mengenalnya dengan sebutan hati nurani.
Satu terkena flu, seisi rumah pun tertular. Itulah yang terjadi di rumah saya saat ini. Berawal dari saya yang pilek, batuk dan demam, adik ipar dan ayah mertua yang sedang menginap di rumah beserta istri pun terkena virus yang sama. Sedikit saja dalam kondisi lemah, kita akan mudah tertular penyakit. Sangatlah sulit bagi kita untuk menghindar karena hampir setiap saat kita bertemu atau bersinggungan dengan orang lain. Ada beberapa orang yang saat ini rajin memakai masker penutup hidung dan mulut, tapi itupun tidak 100% mampu mencegah penularan penyakit terutama bagi yang tinggal di lingkungan padat penduduk, kota besar dan pusat-pusat perbelanjaan yang penuh sesak. Lewat udara, lewat bersentuhan, bersinggungan dan sebagainya Berbagai penyakit bisa menular, mulai dari yang ringan hingga yang berat.
"Menjadi orang terkenal itu keren!" kata seorang teman sambil tertawa.Apa yang ia katakan menjadi kerinduan begitu banyak orang. Untuk itu orang akan berusaha dengan segala cara untuk bisa mencapai status populer atau terkenal. Segala cara, berapapun harganya, itu akan dihalalkan agar bisa memperoleh status populer di kalangan dunia. Lihatlah bagaimana berbagai kontes-kontes atau acara mencari bakat terus menjamur dan laris. Itu menunjukkan bahwa menjadi populer itu sangatlah penting bagi begitu banyak orang. Ingin dikagumi, dikenal, diperhatikan dan diidolakan. Apa boleh buat jika harus menabrak larangan-larangan Tuhan yang bisa jadi dianggap penghalang untuk bisa mencapai popularitas di mata dunia. Dan dunia pun akan terus mengajarkan kita untuk bisa populer, sukses, kaya raya, dan itu diarahkan agar kita percaya bahwa semuanya bisa membuat kita bahagia. Tetapi nyatanya tidaklah demikian. Pada suatu ketika nanti kita akan mengerti bahwa uang tidak menjamin kebahagiaan dan tidak pula bisa menjamin keselamatan kita. Tidak ada tiket yang sanggup kita bayar dengan berapapun harta yang kita miliki di dunia ini yang bisa menjamin kita untuk masuk ke dalam kerajaanNya. Seberapa terkenalnya pun kita di muka bumi ini tidak akan berpengaruh terhadap kemana nanti kita akan menuju. Bukan di mata manusia atau dunia yang penting, tapi bagaimana, siapa atau seperti apa kita di mata Tuhan, itulah sesungguhnya yang terpenting.
Dalam sebuah acara di televisi saya melihat cuplikan kejadian menegangkan tentang seorang pria yang terseret arus di sebuah negara di luar sana. Ia terus terseret dan gagal diselamatkan karena arus yang menariknya cukup deras. Untunglah setelah hanyut sekian kilometer, ia akhirnya berhasil diangkat keluar dan tidak harus kehilangan nyawanya. Begitulah besar resikonya ketika terseret arus deras. Seorang teman pernah menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika ia hampir menemui ajalnya karena terseret arus saat sedang berenang di sebuah sungai. Ia beruntung karena sempat meraih sebuah dahan yang menjorok ke arah sungai. Kalau tidak, ia bisa jatuh ke bebatuan di bawah karena tidak jauh dari posisi dahan itu ada air terjun yang cukup tinggi siap menelannya. Sebagai anak kecil pada saat itu, ia tidak mengetahui betapa besar bahayanya jika terseret arus. Ia mungkin hanya ingin bersenang-senang sebentar dengan bermain di sungai, tetapi ia tidak menyadari malapetaka yang tengah mengintip akibat perbuatannya itu.
Buat saya yang bekerja di dunia musik, saya merasakan betul bahwa Tuhan sungguh Seniman yang Agung. Tanpa adanya musik yang Dia ciptakan, maka tidak akan ada musik setiap saat sanggup menghibur hati kita. Benar, manusialah yang bermain musik, terus mengembangkan dan menciptakan kreasi-kreasi baru dalam berbagai rupa dan gaya, tetapi tanpa musik, talenta, kemampuan dan kepintaran yang semuanya berasal dari Tuhan, niscaya semua itu tidak akan pernah hadir dalam hidup kita. Saya hidup ditengah-tengah bunyi musik setiap harinya, dan kerap saya menyempatkan diri untuk mengucap syukur atas adanya musik ini, terutama ketika saya bekerja di malam hari. Ketika musik bisa menghibur, membuat kita rileks dan merasa bahagia, ingatlah bahwa nyanyian dan musik itu seharusnya tidak berhenti sampai disitu saja. Alangkah baiknya apabila kebaikan yang Tuhan ciptakan lewat musik itu bisa kita kembalikan sebagai sarana memuji dan menyembahNya.