Showing posts sorted by relevance for query Galatia 3. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Galatia 3. Sort by date Show all posts

Tuesday, January 1, 2008

Penolong 24 Jam

Ayat Bacaan: Galatia 3:3-5
=====================

"Allah memberikan Roh-Nya kepadamu dan mengadakan keajaiban-keajaiban di antara kalian. Apakah Allah melakukan itu karena kalian menjalankan hukum agama atau karena kalian mendengar Kabar Baik itu dan percaya kepada Kristus?"

Melanjutkan renungan kemarin, akhirnya, tahun 2007 sudah ada dibelakang kita, saatnya menyongsong taun 2008. Teman, apakah taun baru memiliki arti buat kalian? Setiap pergantian tahun orang selalu melihat kedepan dan membuat setumpuk list baru berisi apa yang ingin kita capai. Mungkin Anda semua mereview lagi atau mengingat lagi keinginan-keinginan atau goals yang taun kemarin sudah anda tetapkan. Apakah semua tercapai? Apakah anda masih merasa gagal?

Kadangkala di tahun baru kita merenung, kenapa hal ini tidak tercapai? kenapa hal itu sama sekali tidak terlaksanakan? Padahal semua hal sudah anda lakukan, sampai anda berpikir, "apakah aku ini sebuah kegagalan?" Lalu anda mengeset lagi list-list baru untuk tahun yang baru akan anda songsong. Berharap anda bisa membayar semua keinginan-keinginan yang belum tercapai. Anda akan kecewa kalau cita-cita anda itu tidak tercapai lagi.

Mungkin anda sudah berusaha keras, bahkan terlalu keras, tapi hal itu belum saja ada dalam gengaman anda. Tapi saya mau membagikan ayat, bahwa Allah kita mengingatkan begini dalam Galatia 3 ayat 3:

"Mengapa kalian begitu bodoh! Kalian sudah mulai hidup baru dengan Roh Allah, masakan sekarang kalian mau mencapai kesempurnaannya dengan kekuatanmu sendiri?"

Ya, kita berusaha setengah mati...bersusah-susah, berlelah-lelah, tapi kita melakukannya dengan kekuatan sendiri, sehingga ketika kita gagal, kita kecewa berat dengan semuanya.

Galatia 3 ayat 5 berkata: "Allah memberikan Roh-Nya kepadamu dan mengadakan keajaiban-keajaiban di antara kalian. Apakah Allah melakukan itu karena kalian menjalankan hukum agama atau karena kalian mendengar Kabar Baik itu dan percaya kepada Kristus?"

Iman. Bukan hanya iman kepada diri kita sendiri bahwa kita sanggup melakukannya, tapi iman kepada Roh Allah. Allah tidak memberikan pertolongan dan keajaiban kepada kita hanya karena kita rajin ke gereja tapi tidak menegerti FirmanNya, atau karena kita berbuat baik dalam hidup tapi kita tidak percaya Allah bisa mengubah hidup kita. Allah telah memberikan kita penolong yang bisa berada didalam diri kita 24 jam. Apakah kita sudah memanfaatkannya? mengimani usaha-usaha kita ke dalam kuasaNya? Jika belum, maka lakukanlah di tahun 2008. Lakukan sesuatu bukan hanya dengan kekuatan kita sendiri, melainkan dengan kekuatan Allah yang ada pada kita. Niscaya, Allah takkan mengecewakan anakNya.

Selamat Tahun Baru 2008, teman.

Tanpa Allah, kita gagal. Berusahalah dan tetap andalkan Roh Nya dalam setiap usahamu.

Sunday, December 26, 2010

Milik Yesus

Ayat bacaan: Galatia 3:29
==================
"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah."

milik YesusIngatkah anda dengan lagu "Aku ini Punya Siapa?" Lagu lawas ini kembali saya dengar hari ini ketika dibawakan oleh salah satu artis yang tampil dalam sebuah event jazz yang saya hadiri. Lagu ini bercerita tentang ketidaksetiaan seorang pasangan yang dikarang dengan lirik yang sangat sederhana dan ringan oleh Dian Pramana Putra dan Deddy Dhukun. Pertanyaan yang sama mungkin bisa kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Aku ini punya siapa sih sebenarnya? Siapa yang memiliki kita? Jelas, sebagai orang-orang percaya kita adalah milik Yesus. Dan untunglah Yesus merupakan Tuhan yang setia, sehingga kita tidak perlu mengalami nasib seperti lagu di atas.

Kita ini milik Yesus. Sebagai miliknya apa yang menjadi janji Allah kepada kita? Coba bayangkan seandainya anda sebagai orang biasa lalu diangkat anak oleh seorang raja. Anda akan memiliki hak-hak sebagai anak raja dan berhak untuk menerima warisan dari raja. Hal yang sama pun terjadi ketika kita sudah menjadi anak-anak Allah, sebuah status yang kita peroleh dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan percaya dalam namaNya. (Yohanes 1:12). Menerima Kristus, itu artinya kita menjadi milikNya, dan dengan demikian kita pun berhak atas janji Tuhan. Firman Tuhan berkata: "Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." (Galatia 3:29). Lihatlah apa yang dikatakan ayat ini. Setiap orang yang menerima Yesus akan menjadi keturunan Abraham, dan oleh karenanya menjadi berhak untuk menerima apa yang dijanjikan Allah.

Seperti apa janji Allah itu? Tuhan menjanjikan segala kebaikan kepada kita seperti janjiNya yang telah Dia tepati kepada Abraham. Abraham menerimanya, maka kita pun berhak untuk itu. Janji itu diwariskan kepada kita, ketika kita menjadi keturunan Abraham dengan menerima Kristus. Mari kita lihat apa kata Yesaya ratusan tahun sebelumnya. "Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengejar apa yang benar, hai kamu yang mencari TUHAN! Pandanglah gunung batu yang dari padanya kamu terpahat, dan kepada lobang penggalian batu yang dari padanya kamu tergali. Pandanglah Abraham, bapa leluhurmu, dan Sara yang melahirkan kamu; ketika Abraham seorang diri, Aku memanggil dia, lalu Aku memberkati dan memperbanyak dia. Sebab TUHAN menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya; Ia membuat padang gurunnya seperti taman Eden dan padang belantaranya seperti taman TUHAN. Di situ terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang nyaring." (Yesaya 51:1-3). Lihatlah bagaimana Tuhan memanggil Abraham ketika ia seorang diri. Tuhan kemudian memberkati dan memberikan keturunan yang banyak. Inilah yang akan berlaku pula bagi kita, seperti janji Tuhan.

Seperti halnya Abraham, kitapun dipanggil untuk memisahkan diri dari segala kebejatan dan kesesatan dunia ini. Itu akan membuat berkat-berkat Tuhan bisa mengalir deras tanpa hambatan dalam kehidupan yang terus meningkat. Hal ini tepat seperti apa yang dikatakan Paulus: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Kita perlu melepaskan diri dari pengaruh dan kebiasaan serta pola pikir dunia agar bisa menerima segala janji yang telah diberikan Tuhan. Dalam Yesaya 51:3 kita bisa melihat kerinduan Tuhan untuk menghibur dan memulihkan segala sesuatu yang selama ini terbuang atau hancur dari dalam hidup kita. Kekuatan Tuhan sanggup merubah padang gurun yang paling gersang sekalipun untuk menjadi seindah taman Eden, dimana yang terdapat hanyalah kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu puji-pujian yang nyaring. Tuhan rindu untuk melakukannya. Semua janji ini bisa turun pada kita dengan syarat bisa kita baca pada Yesaya 51:1, yaitu menjadi orang-orang "yang mengejar apa yang benar dan terus bertekun mencari Tuhan". Tuhan adalah sumber kekuatan. Dia adalah gunung batu dimana kita bisa berlindung.

Tuhan ingin membuat hidup kita seindah taman Eden. Tuhan ingin mengubah penderitaan dan kesedihan kita menjadi sukacita dan kegembiraan. Dia ingin memberkati kita secara berkelimpahan, lebih dari yang anda bayangkan sekalipun. Tetapi ingatlah bahwa semua itu bukanlah untuk dipakai berfoya-foya atau demi kepentingan diri sendiri saja. Tuhan ingin segala yang telah Dia percayakan ke dalam tangan kita dipakai kembali untuk memuliakanNya. Pemazmur berkata: "Biarlah bersorak-sorai dan bersukacita orang-orang yang ingin melihat aku dibenarkan! Biarlah mereka tetap berkata: "TUHAN itu besar, Dia menginginkan keselamatan hamba-Nya!" (Mazmur 37:27). Dalam bahasa Ingrisnya dikatakan "Let the Lord be magnified. Who takes pleasure in the prosperity of His servant."

Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, percaya kepadaNya, akan membuat kita berhak menerima janji seperti yang diberikan Tuhan kepada Abraham. Selanjutnya tetaplah mengejar apa yang benar dan teruslah mencari Tuhan. Tuhan rindu untuk mengubah segala padang gurun dan padang belantara yang tengah kita alami menjadi taman Eden, tamannya Tuhan yang penuh dengan kegirangan, sukacita dan nyanyian syukur.

Menjadi milik Kristus melayakkan kita menerima janji Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, December 23, 2016

To Whom Do We Belong?

Ayat bacaan: Galatia 3:29
==================
"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah."

Ada sebuah lagu lama berjudul "Nobody's Child". Lagu ini pertama kali dinyanyikan pada tahun 1949 dan awalnya tidak terlalu sukses. Tapi kemudian waktu membuktikan bahwa lagu ini menjadi lagu klasik yang masih terus dinyanyikan ulang oleh begitu banyak artis dari masa ke masa sampai hari ini. Lagu ini bercerita tentang seorang anak yatim yang tidak ada yang mau mengadopsi karena ia terlahir buta. Lagu yang sangat menyedihkan. Saya membayangkan seorang anak yang buta duduk sedih di panti asuhan. Saat ia melihat teman-temannya satu persatu pergi mendapat kasih sayang dari orang tua baru yang mengadopsi mereka, ia tetap tersisihkan karena kondisinya tuna netra. Ia terlahir ke dunia bukan karena keinginannya, ia buta bukan karena kemauannya, tapi ia harus hidup menderita karena sesuatu yang bukan salahnya. "I'm nobody's child", "saya bukan anak siapapun."

Sekarang, mari kita berkaca dari lagu ini. Kita adalah manusia yang punya begitu banyak kelemahan, terus berbuat dosa. Kalau dosa kita diakumulasikan, kita harusnya diganjar hukuman berat. Logikanya, mana mungkin Tuhan yang kudus mau menganggap kita yang cemar sebagai anak? Tapi puji Tuhan, sebagai orang-orang percaya kita adalah milik Yesus. Dan karenanya kita dilayakkan untuk menjadi anak-anak Allah. Betapa besarnya anugerah itu.

Berapa banyak dari kita yang sadar bahwa kita adalah milik Yesus? Berapa banyak dari kita yang menyikapinya dengan benar? Lantas, sebagai miliknya apa yang menjadi janji Allah kepada kita? Coba bayangkan seandainya anda manusia biasa yang bukan siapa-siapa lalu diangkat anak oleh seorang raja. Saat anda sah menjadi anak raja, dengan sendirinya anda akan memiliki hak-hak sebagai anak raja dan berhak untuk menerima warisan dari raja. Hal seperti itulah tepatnya yang terjadi ketika kita sudah menjadi anak-anak Allah, sebuah status yang kita peroleh dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan percaya dalam namaNya. (Yohanes 1:12). Menerima Kristus, itu artinya kita menjadi milikNya, dan dengan demikian kita pun berhak atas janji Tuhan. Firman Tuhan berkata: "Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." (Galatia 3:29). Lihatlah apa yang dikatakan ayat ini. Setiap orang yang menerima Yesus akan menjadi keturunan Abraham, dan oleh karenanya menjadi berhak untuk menerima apa yang dijanjikan Allah.

Seperti apa janji Allah itu? Tuhan menjanjikan segala kebaikan kepada kita seperti janjiNya yang telah Dia tepati kepada Abraham. Abraham menerimanya, maka kita pun berhak untuk itu. Ketika kita menjadi keturunan Abraham dengan menerima Kristus, otomatis warisan yang sama pun diturunkan kepada kita. Mari kita lihat apa kata Yesaya ratusan tahun sebelumnya. "Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengejar apa yang benar, hai kamu yang mencari TUHAN! Pandanglah gunung batu yang dari padanya kamu terpahat, dan kepada lobang penggalian batu yang dari padanya kamu tergali. Pandanglah Abraham, bapa leluhurmu, dan Sara yang melahirkan kamu; ketika Abraham seorang diri, Aku memanggil dia, lalu Aku memberkati dan memperbanyak dia. Sebab TUHAN menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya; Ia membuat padang gurunnya seperti taman Eden dan padang belantaranya seperti taman TUHAN. Di situ terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang nyaring." (Yesaya 51:1-3). Lihatlah bagaimana Tuhan memanggil Abraham ketika ia seorang diri. Tuhan kemudian memberkati dan memberikan keturunan yang banyak. Inilah yang akan berlaku pula bagi kita, seperti janji Tuhan.

Seperti halnya Abraham, kitapun dipanggil untuk memisahkan diri dari segala kebejatan dan kesesatan dunia ini. Itu akan membuat berkat-berkat Tuhan bisa mengalir deras tanpa hambatan dalam kehidupan yang terus meningkat. Hal seperti itulah yang tepatnya dikatakan Paulus: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2).

Kita perlu melepaskan diri dari pengaruh dan kebiasaan serta pola pikir dunia agar bisa menerima segala janji yang telah diberikan Tuhan. Dalam Yesaya 51:3 kita bisa melihat kerinduan Tuhan untuk menghibur dan memulihkan segala sesuatu yang selama ini terbuang atau hancur dari dalam hidup kita. Kekuatan Tuhan sanggup merubah padang gurun yang paling gersang sekalipun untuk menjadi seindah taman Eden, dimana yang terdapat hanyalah kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu puji-pujian yang nyaring. Tuhan rindu untuk melakukannya. Semua janji ini bisa turun pada kita dengan syarat bisa kita baca pada Yesaya 51:1, yaitu menjadi orang-orang "yang mengejar apa yang benar dan terus bertekun mencari Tuhan". Tuhan adalah sumber kekuatan. Dia adalah gunung batu, tempat perlindungan kita yang kokoh, kuat dan teguh.

Tuhan ingin membuat hidup kita seindah taman Eden. Tuhan ingin mengubah penderitaan dan kesedihan kita menjadi sukacita dan kegembiraan. Dia ingin memberkati kita secara berkelimpahan, lebih dari yang anda bayangkan sekalipun. Tetapi ingatlah bahwa semua itu bukanlah untuk dipakai berfoya-foya atau demi kepentingan diri sendiri saja. Tuhan ingin segala yang telah Dia percayakan ke dalam tangan kita dipakai kembali untuk memuliakanNya. Pemazmur berkata: "Biarlah bersorak-sorai dan bersukacita orang-orang yang ingin melihat aku dibenarkan! Biarlah mereka tetap berkata: "TUHAN itu besar, Dia menginginkan keselamatan hamba-Nya!" (Mazmur 37:27). Dalam bahasa Ingrisnya dikatakan "Let the Lord be magnified. Who takes pleasure in the prosperity of His servant."

Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, percaya kepadaNya, itu akan mengantarkan kita untuk berhak menerima janji seperti yang diberikan Tuhan kepada Abraham. Selanjutnya tetaplah mengejar apa yang benar dan teruslah mencari Tuhan. Tuhan rindu untuk mengubah segala padang gurun dan padang belantara yang tengah kita alami menjadi taman Eden, tamannya Tuhan yang penuh dengan kegirangan, sukacita dan dipenuhi ucapan syukur.

I belong to Jesus, you belong to Jesus, we belong to Jesus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, May 12, 2015

Milik Kristus

Ayat bacaan: Galatia 3:29
==================
"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah."

Sebagian dari anda tentu masih ingat dengan lagu January Christy di tahun 80'an yang berjudul Aku Ini Punya Siapa. Lagu ini dibuat ringan dan jenaka bercerita tentang seorang wanita yang kebingungan karena memiliki kekasih yang matanya jelalatan. Barusan saya mendengar lagu ini dan sebuah pemikiran muncul di benak saya. Sebagai seorang manusia, kita ini sebenarnya punya siapa? Mudah bagi kita untuk berkata bahwa kita punya Kristus, tapi apakah kehidupan kita sudah mencerminkan itu, atau masih dengan jelas tergambar bahwa kita ini milik dunia atau jangan-jangan malah berorientasi ke si jahat? Pertanyaan berikutnya, apa yang akan kita terima kalau kita menjadi milik Kristus?  

Banyak orang menjadi lupa kepada Tuhan ketika sudah menjadi orang sukses, saat mereka mendapat popularitas, kaya raya dan sebagainya. Ada banyak pula yang sampai rela menjual/menggadaikan hak kesulungannya, meninggalkan atau bahkan mencampakkan Tuhan ketika segala yang dianggap dunia sebagai penjamin kemakmuran sudah berhasil diraih. Padahal seharusnya kita menyadari bahwa setiap jengkal keberhasilan kita berasal dari Tuhan, segala anugerahNya, kesempatan yang Dia bukakan dan talenta yang sudah Dia bekali. Kalau begitu sudah selayaknya semua kita persembahkan kembali kepadaNya. Bersyukur bahwa kita milik Kristus, dan semakin giat menunjukkan jatidiri kita sebagai milikNya.

Saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi, kita pun menjadi milikNya. Dalam posisi sebagai milikNya, apa saja yang dijanjikan Allah? Sebelum menjawab itu, mari kita berandai-andai sejenak. Bayangkan seandainya anda adalah rakyat jelata lalu diberi kehormatan dengan diangkat anak oleh seorang raja. Itu akan membuat anda otomatis mendapat posisi terhormat dan memperoleh hak-hak sebagai anak raja, termasuk hak untuk menerima warisan. Seperti itu pula yang terjadi saat kita menjadi anak-anak Allah, sebuah status yang kita peroleh dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan percaya dalam namaNya. (Yohanes 1:12). Menerima Kristus, itu artinya kita menjadi milikNya, dan dengan demikian kita pun berhak atas janji Tuhan. Firman Tuhan berkata: "Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." (Galatia 3:29). Ayat ini singkat tetapi mengandung makna yang luar biasa besar. Setiap orang yang menerima Yesus akan menjadi keturunan Abraham, dan oleh karena itu berhak untuk menerima apa yang dijanjikan Allah.

Seperti apa janji yang diberikan Tuhan itu? Tuhan menjanjikan segala kebaikan kepada kita seperti janjiNya yang telah Dia tepati kepada Abraham. Kalau Abraham terbukti menerimanya, janji yang sama diberikan kepada kita. Janji itu diwariskan kepada kita, ketika kita menjadi keturunan Abraham dengan menerima Kristus. Mari kita lihat apa kata Yesaya ratusan tahun sebelumnya. "Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengejar apa yang benar, hai kamu yang mencari TUHAN! Pandanglah gunung batu yang dari padanya kamu terpahat, dan kepada lobang penggalian batu yang dari padanya kamu tergali. Pandanglah Abraham, bapa leluhurmu, dan Sara yang melahirkan kamu; ketika Abraham seorang diri, Aku memanggil dia, lalu Aku memberkati dan memperbanyak dia. Sebab TUHAN menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya; Ia membuat padang gurunnya seperti taman Eden dan padang belantaranya seperti taman TUHAN. Di situ terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang nyaring." (Yesaya 51:1-3). Lihatlah bagaimana Tuhan memanggil Abraham ketika ia seorang diri. Tuhan kemudian memberkati dan memberikan keturunan yang banyak. Tuhan memberi penghiburan, kegirangan dan sukacita, Tuhan memeliharanya dan membuat padang gurun menjadi taman Eden dan belantara seperti tamannya Tuhan. Seperti itulah janji Tuhan yang akan diberikan pula kepada semua umat yang menjadi milik Kristus.

Seperti halnya Abraham, kitapun dipanggil untuk memisahkan diri dari segala kesesatan dunia ini. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Itu akan membuat berkat-berkat Tuhan bisa mengalir deras tanpa hambatan dalam kehidupan yang terus meningkat. Kita perlu melepaskan diri dari pengaruh dan kebiasaan serta pola pikir dunia agar bisa menerima segala janji yang telah diberikan Tuhan. Dalam Yesaya 51:3 diatas kita bisa melihat kerinduan Tuhan untuk menghibur dan memulihkan segala sesuatu yang selama ini terbuang atau hancur dari dalam hidup kita. Kekuatan Tuhan sanggup merubah padang gurun yang paling gersang sekalipun untuk menjadi seindah taman Eden, dimana yang terdapat hanyalah kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu puji-pujian yang nyaring. Semua janji ini bisa turun pada kita saat kita menjadi milik Yesus.

Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, percaya kepadaNya, akan membuat kita berhak menerima janji seperti yang diberikan Tuhan kepada Abraham. Selanjutnya tetaplah menjaga setiap langkah agar jangan sampai segala hak yang sudah dianugerahkan kepada kita menjadi lenyap. Anugerah untuk menjadi milik Kristus dan karenanya menerima janji-janji Allah sudah ada pada kita, jangan tergiur oleh apapun sehingga kita tanpa sadar tidak lagi menjadi milik Kristus melainkan milik berbagai penguasa dunia maupun si jahat. Tuhan rindu untuk mengubah segala padang gurun dan padang belantara yang tengah kita alami menjadi taman Eden, tamannya Tuhan yang penuh dengan kegirangan, sukacita dan nyanyian syukur. Itu menjadi bagian kita, itu merupakan janji Allah, jangan lepaskan itu dengan alasan apapun.

Menjadi milik Kristus melayakkan kita menerima janji Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, November 13, 2014

I Belong to Jesus

Ayat bacaan: Galatia 3:29
==================
"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah."

Piala Dunia 2002, Jepang. Ketika itu Brazil mengalahkan Jerman di partai puncak dan keluar sebagai juara. Seorang anak muda yang bersinar terang sepanjang perhelatan akbar ini melepas jerseynya sambil berlutut, mengambil posisi berdoa dengan wajah menengadah ke atas dengan penuh sukacita. Dibalik jerseynya ada baju kaos putih dengan sebuah testimoni tegas bertuliskan: "I Belong to Jesus." Dan dunia pun sontak menjadikan hal ini sebagai bagian berita dibalik kemenangan Brazil dan pernak-pernik catatan Piala Dunia di Jepang tahun 2002 itu. Kelak ia kembali melakukan hal yang sama ketika membela klubnya AC Milan seperti saat Milan menjadi juara liga dan dalam beberapa pertandingan lainnya ketika ia mencetak gol. Ia adalah Kaká.

Secara terang-terangan Kaká menyatakan dirinya sebagai milik Yesus. Ia bersyukur secara terbuka di depan kamera, membiarkan dunia melihat kepada siapa ia menyerahkan dirinya dan darimana keberhasilan ia peroleh. He belong to Jesus, all of his triumph belong to Jesus, all the glory belong to Jesus. Saat banyak orang menjadi lupa kepada Tuhan ketika sudah menjadi orang sukses, ternama, kaya raya dan sebagainya, saat sebagian orang bahkan tega menjual hak kesulungannya, meninggalkan atau bahkan mencampakkan Tuhan ketika popularitas dan ketenaran sudah berhasil diraih, Kaká menunjukkan sikap yang berbeda. Seorang anak muda yang berasal dari sebuah kota bernama Gama di Brazil, kemudian menjadi pemain termahal dengan raihan prestasi mencengangkan. Semua ia persembahkan kembali kepada Yesus dan tetap berkomitmen menyatakan jatidirinya sebagai milik Yesus.

Sebagai orang percaya, seperti Kaká ,kita semua juga milik Yesus. Itu otomatis kita terima saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita. Dalam posisi sebagai milikNya, apa yang menjadi janji Allah kepada kita? Mari kita berandai-andai terlebih dahulu. Bayangkan seandainya anda adalah rakyat biasa lalu diberi kehormatan dengan diangkat anak oleh seorang raja. Itu akan membuat anda langsung mendapat posisi terhormat dan memperoleh hak-hak sebagai anak raja, termasuk hak untuk menerima warisan. Seperti itu pula yang terjadi saat kita menjadi anak-anak Allah, sebuah status yang kita peroleh dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan percaya dalam namaNya. (Yohanes 1:12). Menerima Kristus, itu artinya kita menjadi milikNya, dan dengan demikian kita pun berhak atas janji Tuhan. Firman Tuhan berkata: "Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." (Galatia 3:29). Lihatlah betapa besar makna yang ada terkandung di dalam ayat yang singkat ini. Setiap orang yang menerima Yesus akan menjadi keturunan Abraham, dan oleh karenanya menjadi berhak untuk menerima apa yang dijanjikan Allah.

Seperti apa janji yang diberikan Tuhan itu? Tuhan menjanjikan segala kebaikan kepada kita seperti janjiNya yang telah Dia tepati kepada Abraham. Abraham menerimanya, maka kita pun berhak untuk itu. Janji itu diwariskan kepada kita, ketika kita menjadi keturunan Abraham dengan menerima Kristus. Mari kita lihat apa kata Yesaya ratusan tahun sebelumnya. "Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengejar apa yang benar, hai kamu yang mencari TUHAN! Pandanglah gunung batu yang dari padanya kamu terpahat, dan kepada lobang penggalian batu yang dari padanya kamu tergali. Pandanglah Abraham, bapa leluhurmu, dan Sara yang melahirkan kamu; ketika Abraham seorang diri, Aku memanggil dia, lalu Aku memberkati dan memperbanyak dia. Sebab TUHAN menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya; Ia membuat padang gurunnya seperti taman Eden dan padang belantaranya seperti taman TUHAN. Di situ terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang nyaring." (Yesaya 51:1-3). Lihatlah bagaimana Tuhan memanggil Abraham ketika ia seorang diri. Tuhan kemudian memberkati dan memberikan keturunan yang banyak. Tuhan memberi penghiburan, kegirangan dan sukacita, Tuhan memeliharanya dan membuat padang gurun menjadi taman Eden dan belantara seperti tamannya Tuhan. Inilah janji Tuhan yang akan diberikan pula kepada semua umat yang menjadi milik Kristus.

Seperti halnya Abraham, kitapun dipanggil untuk memisahkan diri dari segala kesesatan dunia ini. Itu akan membuat berkat-berkat Tuhan bisa mengalir deras tanpa hambatan dalam kehidupan yang terus meningkat. Hal ini tepat seperti apa yang dikatakan Paulus: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Kita perlu melepaskan diri dari pengaruh dan kebiasaan serta pola pikir dunia agar bisa menerima segala janji yang telah diberikan Tuhan. Dalam Yesaya 51:3 kita bisa melihat kerinduan Tuhan untuk menghibur dan memulihkan segala sesuatu yang selama ini terbuang atau hancur dari dalam hidup kita. Kekuatan Tuhan sanggup merubah padang gurun yang paling gersang sekalipun untuk menjadi seindah taman Eden, dimana yang terdapat hanyalah kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu puji-pujian yang nyaring. Semua janji ini bisa turun pada kita saat kita menjadi milik Yesus.

Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, percaya kepadaNya, akan membuat kita berhak menerima janji seperti yang diberikan Tuhan kepada Abraham. Selanjutnya tetaplah mengejar apa yang benar dan teruslah mencari Tuhan agar jangan sampai segala hak yang sudah dianugerahkan kepada kita menjadi lenyap.  Tuhan rindu untuk mengubah segala padang gurun dan padang belantara yang tengah kita alami menjadi taman Eden, tamannya Tuhan yang penuh dengan kegirangan, sukacita dan nyanyian syukur.

Menjadi milik Kristus melayakkan kita menerima janji Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, November 4, 2009

Anak Allah

Ayat bacaan: Roma 8:17
====================
"Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."

anak Allah, anak RajaIngat lagu rohani yang kerap diajarkan di sekolah minggu berjudul "Aku Anak Raja"? Lagu ini begitu sederhana sehingga mudah sekali diingat oleh anak-anak. tetapi apa yang diingatkan di dalam lagu ini sesungguhnya begitu penting, bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa, untuk anda dan saya. Banyak orang yang lupa statusnya, berpikir bahwa mereka bukanlah siapa-siapa. Berbuat salah pun menjadi hal yang biasa, tidak peduli bahwa perbuatan itu bisa mempermalukan Bapanya. Status yang kita sandang tidaklah main-main. Anak Raja. Layaknya pangeran di sebuah istana, jika pangeran itu berbudi dan mengasihi, maka harum pula nama ayahnya, sang raja. Sebaliknya, meskipun raja baik tapi pangeran punya perilaku buruk, maka nama ayahnya pun akan turut tercoreng. Di kehidupan sehari-hari sikap anak pun bisa mempengaruhi penilaian orang akan orang tuanya. Lihatlah komentar orang jika melihat ada anak yang bandel. "aduh bandelnya... anak siapa sih ini?" Komentar seperti ini sungguh sering kita dengar. Apa yang diperbuat seorang anak sedikit banyak akan selalu berdampak pada orang tuanya.

Apa yang dikatakan Tuhan sesungguhnya besar. Status kita sebagai anak berarti pula bahwa kita adalah ahli waris, yang artinya kita dilayakkan untuk menerima berkat-berkat yang telah disediakan Allah sebagai Bapa. "Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia." (Roma 8:17). Ini sebuah status terhormat yang seharusnya kita hargai lebih dari apapun. Jika kita bisa bangga menjadi anak dari orang tua kita, apalagi menjadi anak Allah. Tapi sayangnya banyak orang yang tidak memperhitungkan anugerah Tuhan yang begitu luar biasa besarnya ini. Untuk itulah hari ini saya mengajak teman-teman untuk merenungkan sudah sejauh mana kita berlaku selayaknya anak Raja, alias anak Allah. Apakah apa yang kita lakukan sudah memuliakan Tuhan, sehingga orang mengenal Kristus yang sebenarnya, atau malah kita terus menjadi batu sandungan sehingga Kristus pun menjadi tercoreng karena sikap kita yang tidak baik?

Berbicara mengenai anak Allah, siapa sebenarnya yang disebut sebagai anak Allah itu? alkitab mencatat beberapa ciri sebagai berikut:

1. Dipimpin Roh Allah
"Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah....Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." (Roma 8:14,16).
Anak-anak Allah adalah orang yang dipimpin langsung oleh Roh Allah. Roh yang dijanjikan Tuhan Yesus sebagai Penolong untuk menyertai kita selama-lamanya. (Yohanes 14:16). Kehidupan
anak-anak Allah adalah kehidupan yang selalu disertai oleh Roh Kudus dalam setiap perbuatan dan perilaku sehari-hari. Roh Kudus diberikan kepada siapapun yang menjadi anak Allah yang sejati. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6).


2. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus
"Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus." (Galatia 3:26-27). Memberi diri dibaptis adalah sebuah langkah ketaatan dalam iman akan Kristus. Mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, dan merupakan lambang menenggelamkan (meninggalkan) hidup kita yang lama untuk kemudian lahir baru, menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Predikat anak Allah diberikan Tuhan kepada kita ketika kita memberi diri dibaptis dalam Kristus dan mengijinkan Kristus bertahta dan berkuasa dalam hidup kita.

3. Mengasihi Allah
"Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah." (1 Korintus 8:3)
Anak-anak Allah adalah orang-orang yang hidup dalam kasih. Apapun yang ia perbuat adalah karena Tuhan, bukan karena ingin populer, ingin terlihat hebat, atau jenis-jenis motivasi lainnya selain untuk Tuhan. Sibuk melakukan pekerjaan Tuhan belum tentu menjamin seseorang dikenal Tuhan apabila semua itu dilakukan bukan karena mengasihi Allah. (Matius 7:21-23). Anak-anak Allah juga dikatakan sebagai orang yang mengasihi Allah serta melakukan perintahNya sebagai wujud kasih itu. (1 Yohanes 5:2-3). Dan tentunya jika kita mengasihi Allah, kita pun akan menuruti segala perintahNya. (Yohanes 14:15). Ini berhubungan dengan ciri berikutnya.

4. Taat kepada Allah
"Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih." (Efesus 5:1-8)
Ketaatan tidak bisa dimulai jika kita tidak mengenal pribadi Allah. Oleh karena itu kita perlu mengenal siapa Allah itu sesungguhnya, bagaimana besarnya Dia mengasihi kita dan betapa kita berharga di mataNya. Untuk mengenalnya kita perlu membaca, merenungkan firman-firman Tuhan dalam alkitab, juga dengan serius mendengarkan kotbah, membekali diri dengan bacaan-bacaan rohani lainnya, secara teratur berdoa, mencari Tuhan dengan segenap hati dan sebagainya. Tapi jangan berhenti di situ, karena setelahnya kita harus pula menjadi pelaku-pelaku firman yang mengaplikasikan segala yang telah kita pelajari ke dalam kehidupan nyata. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."(Yakobus 1:25) Dalam 1 Yohanes 5:2-3 di atas kita melihat juga bahwa anak-anak Allah itu adalah orang yang dengan taat melakukan firmanNya sebagai pernyataan kasih kita kepadaNya.

5. Hidup dalam terang
"Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang," (Efesus 5:8). Sebelum bertobat kita hidup dalam kegelapan. Tapi setelah kita meninggalkan manusia lama kita dan lahir kembali sebagai ciptaan baru, kitapun beroleh terang dalam Tuhan. Oleh karena itulah kita dituntut untuk hidup sebagai anak-anak terang, dan inilah salah satu ciri yang dimiliki anak Allah. Menjadi anak terang berarti menjadi orang yang berbuah kebaikan, keadilan dan kebenaran dalam hidupnya. (ay 9).

Berpindah dari gelap ke dalam terang, dari bukan siapa-siapa menjadi anak Raja, itu anugerah Tuhan yang sangat besar yang Dia berikan kepada kita. Dan dengan demikian kita pun menjadi ahli waris Allah. "Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." (Galatia 4:7). Apakah kita sudah memiliki ciri sebagai anak Allah di atas? Marilah kita sama-sama bersyukur dan menjaga anugerah begitu besar yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Hiduplah sebagai anak-anak Allah yang sesungguhnya.

aku anak Raja, engkau anak Raja, kita semua anak Raja

Sunday, February 12, 2017

Kita Anak Raja (2)

(sambungan)

1. Anak Allah hidup dipimpin Roh Allah

Demikian Firman Tuhan: "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah....Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." (Roma 8:14,16).

Anak-anak Allah adalah orang-orang  yang hidupnya dipimpin langsung oleh Roh Allah bukan oleh ilah-ilah jaman. Inilah Roh yang dijanjikan Tuhan Yesus sebagai Penolong untuk menyertai kita selama-lamanya seperti yang disebutkan dalam Yohanes 14:16. Artinya kehidupan anak-anak Allah adalah sebuah kehidupan yang selalu disertai oleh Roh Kudus dalam setiap perbuatan dan perilaku sehari-hari.

Roh Kudus diberikan kepada siapapun yang menjadi anak Allah yang sejati. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6).

Hidup yang dipimpin Roh Allah bisa dilihat dari cara anak-anak Allah yang sejati mengambil keputusan dalam hidupnya. Apakah keputusan-keputusan didasari kebenaran, mengacu kepada ketetapan firman Tuhan atau mengikuti arus dunia yang terus bertambah sesat. Hidup yang dipimpin Roh Allah tidak lagi berpusat pada diri sendiri tetapi diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Kalau kita masih gamang dalam melangkah, tidak bertanya kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan-keputusan, jika kita masih hidup menurut pandangan dunia, mentolerir dosa, mendahulukan keinginan daging, itu artinya kita belumlah hidup sebagai anak Allah, meski sudah mengaku beriman kepada Kristus sekalipun.

2. Anak Allah sudah dibaptis dalam nama Yesus Kristus

"Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus." (Galatia 3:26-27).

Memberi diri dibaptis adalah sebuah langkah ketaatan dalam iman akan Kristus. Mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, dan merupakan lambang menenggelamkan (meninggalkan) hidup kita yang lama untuk kemudian lahir baru, menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Predikat anak Allah diberikan Tuhan kepada kita ketika kita memberi diri dibaptis dalam Kristus, yang artinya mengijinkan Kristus bertahta dan berkuasa dalam hidup kita.

3. Anak Allah Mengasihi Bapanya

"Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah." (1 Korintus 8:3)

Anak-anak Allah adalah orang-orang yang hidup dalam kasih. Apapun yang ia perbuat adalah karena dan untuk Tuhan, bukan karena ingin populer, ingin terlihat hebat, mencari keuntungan pribadi sesaat maupun jenis-jenis motivasi lainnya selain untuk Tuhan. Sibuk melakukan pekerjaan Tuhan belum tentu menjamin seseorang dikenal Tuhan apabila semua itu dilakukan bukan karena mengasihi Allah, seperti yang disebutkan dalam Matius 7:21-23. Anak-anak Allah juga dikatakan sebagai orang yang mengasihi Allah serta melakukan perintahNya sebagai wujud kasih itu. (1 Yohanes 5:2-3). Dan tentunya kalau kita mengasihi Allah, kita pun akan menuruti segala perintahNya. (Yohanes 14:15).

(bersambung)


Sunday, July 25, 2010

Filadelfia

Ayat bacaan: Ibrani 13:1
===================
"Peliharalah kasih persaudaraan!"

filadelfia, kasih persaudaraanPada suatu kali saya berkunjung ke sebuah persekutuan teman saya dan saya diberkati denganapa yang saya dapati disana. Anggota persekutuannya sungguh beragam. Mulai dari pimpinan perusahaan besar, yang sudah mapan, dewasa, hingga yang masih kuliah. Bukan hanya dari pekerjaan atau status, tetapi juga terdiri dari suku atau etnis yang berbeda. Latar belakang mungkin berbeda, tingkat kedewasaan dan sebagainya juga berbeda. Tantangan hidup yang dihadapi berbeda, namun disana semuanya menjadi satu, sebagai saudara seiman, menjadi satu keluarga, bersama-sama memuji dan menyembah Tuhan, berbagi firman, kesaksian, pengalaman. Begitu akrab, begitu erat, sesuatu yang sangat jarang kita dapati dalam pola kehidupan masyarakat secara umum yang cenderung berkelompok dengan orang-orang yang memiliki persamaan baik dari segi usia, pekerjaan, status sosial dan sebagainya. Di sana mereka mengedepankan sebuah persamaan yang jauh lebih penting, dan dipandang indah di mata Tuhan, yaitu sama-sama saling bersaudara di dalam Kristus.

Filadelfia, itu kata yang menggambarkan kasih persaudaraan seperti yang dipakai dalam Alkitab. Filadelfia berasal dari kata Fhileo yang artinya sebuah kasih tulus dan murni tanpa menuntut imbalan apa-apa, dan Delfho yang artinya sebuah ikatan persaudaraan yang erat. Jika digabungkan maka Filadelfia berarti Kasih Persaudaraan. Ini adalah sebuah hal yang sangat penting di mata Tuhan, yang menuntut kita menyingkirkan segala perbedaan-perbedaan yang bersifat duniawi tetapi kemudian bersatu dalam kasih sebagai satu keluarga, sesama saudara dalam Kristus. Penulis Ibrani menyerukannya dengan ringkas, tegas dan jelas: "Peliharalah kasih persaudaraan!" (Ibrani 13:1). Inilah bentuk ikatan yang dikehendaki Tuhan. Latar belakang boleh berbeda, ras, suku, status, tingkat pendidikan dan sebagainya boleh berbeda, tetapi dalam Kristus semuanya bersaudara.

Menarik jika kita melihat apa yang dikatakan Yesus setelah kebangkitanNya. Kepada Maria, Yesus berkata: "Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." (Yohanes 20:17). Lihatlah bahwa kata yang dipakai Yesus adalah "saudara-saudaraKu" yang mengacu kepada murid-muridNya. Ini penting untuk kita simak, karena dari hal ini kita bisa melihat dengan jelas bahwa lewat kebangkitan Yesus kita dilahirkan kembali (1 Petrus 1:3) lalu disebut "anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus." (Galatia 3:26). Orang-orang percaya ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambaran Kristus, dimana Kristus sendiri dikatakan "menjadi yang sulung di antara banyak saudara." (Roma 8:29). Bayangkan, status kita berubah menjadi saudara-saudara dari Yesus. Jika Yesus saja menganggap kita sebagai saudara, mengapa kita sulit sekali untuk menerima sesama orang percaya sebagai saudara, dan selalu lebih mengedepankan perbedaan dalam berbagai hal ketimbang menekankan persamaan?

Kata Filadelfia ini akan mengingatkan kita pula kepada satu dari tujuh gereja yang disebutkan secara khusus dalam kitab Wahyu. Hanya ada dua gereja yang tidak mendapat teguran Tuhan, yaitu Filadelfia dan Smirna. Pesan Tuhan berbunyi seperti ini: "Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku." (Wahyu 3:8). Jemaat Filadelfia dikatakan sebagai jemaat yang kekuatannya tidak seberapa, namun mereka menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Tuhan. Mereka menerapkan kasih persaudaraan disana, dan ternyata meski kekuatan mereka tidak seberapa, namun kesatuan mereka yang erat dan penuh kasih itu ternyata sanggup membawa perbedaan dan hasil yang luar biasa. Begitu luar biasa hingga Tuhan pun berkenan memuji mereka.

Pola kasih persaudaraan ini secara jelas bisa kita lihat dari gaya hidup jemaat mula-mula yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 2:41-47. Mereka dikatakan "selalu tekun dalam pengajaran dan persekutuan, selalu berkumpul, bersama-sama memecah roti dan berdoa" (ay 42). Betapa eratnya persatuan sebagai saudara itu, sehingga dikatakan "segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." (ay 44-45). Tidaklah heran jika gereja itu kemudian berkembang sangat pesat. Dimulai dengan pertobatan ribuan jiwa (ay 41) hingga datangnya berkat Tuhan yang terus menambahkan jumlah mereka dengan jiwa-jiwa diselamatkan lainnya. (ay 47). Dan ini juga yang terjadi kepada jemaat Filadelfia di dalam kitab Wahyu. Salah satu upah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka adalah menjadi "sokoguru di dalam Bait Suci Allah" (Wahyu 3:12) yang artinya diberkati dalam pelayanan dan kemuliaan Tuhan.

Kita harus memperhatikan kasih persaudaraan ini secara sungguh-sungguh, menjadikannya sebagai sebuah gaya hidup dan pola pikir dasar seperti halnya jemaat mula-mula dan jemaat Filadelfia. Apa yang dipesankan kepada jemaat Filadelfia sesungguhnya jelas. "Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu." (Wahyu 3:11). Ini pesan yang harus kita ingat baik-baik saat ini juga. Betapa pentingnya bagi kita untuk menghidupi kasih persaudaraan ini dengan sungguh-sungguh agar mahkota yang telah kita pegang jangan sampai lepas dari tangan kita. Mari hilangkan sekat-sekat yang membatasi kasih diantara kita, berhentilah memandang dari segala sudut perbedaan dan dasarkan kembali kepada sebuah kesatuan yang kokoh sebagai satu saudara dalam Kristus. Belajarlah dari sekarang untuk Hidup dengan kasih persaudaraan yang erat dan saling melengkapi, saling mengingatkan dan menguatkan.

Jadilah anak-anak Tuhan yang memiliki kasih persaudaraan kuat

Wednesday, January 16, 2013

Introspeksi

Ayat bacaan: Efesus 5:15
===================
"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif"

Jika ingin maju kita tentu butuh melakukan evaluasi secara berkala untuk melihat sampai sejauh mana kita sudah mencapai keberhasilan, apakah kita masih tetap dalam koridor yang telah ditetapkan sebelumnya, apakah semua sesuai target, dan tidak kalah pentingnya melihat di titik mana saja kita gagal agar kita bisa belajar dari hal tersebut dan tidak perlu mengulanginya lagi. Yang juga perlu, lewat evaluasi kita bisa melihat apa yang bisa kita canangkan lagi buat kedepannya. Betapa pentingnya sebuah proses evaluasi dalam sebuah lembaga, apakah itu komunitas, perusahaan atau organisasi. Langkah-langkah perbaikan bisa disusun agar bisa lebih baik lagi ke depannya. Kita bisa melihat apa yang harus dipertahankan, apa yang harus ditingkatkan dan apa yang harus dihindari. Evaluasi seperti ini juga sangatlah baik dilakukan oleh kita masing-masing, bukan saja dalam hal pekerjaan atau kegiatan tapi juga mengenai kehidupan kita, terlebih dalam membangun hubungan yang lebih baik lagi dengan Sang Pencipta. Adalah sangat baik jika kita rajin mengevaluasi apa yang sudah kita capai dalam hidup kita, mengetahui apa yang masih menjadi titik lemah kita, agar kita bisa memperbaikinya. Dan kita biasa menyebutnya dengan introspeksi.

Introspeksi sudah menjadi bagian hidup saya selama beberapa tahun terakhir. Terutama setelah saya bekerja, menikah dan aktif dalam berbagai kegiatan maupun pelayanan. Sangatlah penting buat saya untuk melakukan introspeksi, mengevaluasi seperti apa dan dimana saat ini saya berada. Saya ingin menjadi suami yang terbaik bagi istri saya, menjadi kepala rumah tangga yang bertanggungjawab dan bisa memimpin dengan kasih. Saya ingin melakukan berbagai pekerjaan dan kegiatan saya dengan baik dan terus meningkat. Saya ingin segala yang dititipkan Tuhan bisa saya lakukan atau kerjakan dengan semaksimal mungkin dengan talenta-talenta yang telah Dia berikan. Saya ingin melayani lebih baik lagi, bisa memberkati lebih lagi. I want to do my best in every aspects of my life. Saya rindu bahwa segala sesuatu yang saya perbuat bisa terus memuliakan Tuhan di atasnya. Saya sadar betul bahwa saya masih jauh dari sempurna. Ada banyak kelemahan yang masih harus diperbaiki. Karena itulah saya merasa penting untuk terus introspeksi dan mengevaluasi diri secara berkala, melihat apa yang sudah saya capai, dimana kelemahan saya dan berusaha menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Kesuksesan bisa membuat orang jatuh pada dosa kesombongan, ketamakan, lupa diri dan sebagainya. Sebaliknya kegagalan bisa membuat patah semangat bahkan kepahitan. Lengah sedikit, kita bisa terpeleset. Dan jika sudah baik, itu saatnya untuk meningkatkan agar bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Maka itu bagi saya adalah sangat penting untuk terus melakukan introspeksi dan evaluasi.

Pesan untuk tetap introspeksi pun disampaikan Paulus kepada jemaat Efesus. Paulus berpesan agar mereka tetap memperhatikan bagaimana hidup mereka. "Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif". (Efesus 5:15). Ini adalah sebuah pesan penting agar mereka tidak lupa diri, jangan menyia-nyiakan waktu dan agar bisa tetap bijaksana. Paulus melanjutkan, "dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (ay 16). Jika hari-hari pada masa itu adalah jahat, sekarang pun tidak ada bedanya. Bisa jadi sekarang malah lebih parah ketika dosa hadir dalam berbagai hal dan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Dosa mengintip dari segala aspek kehidupan kita baik lewat hiburan, lingkungan rumah/pekerjaan/pendidikan, di mana-mana kita bisa setiap saat tersandung dalam dosa. Paulus menggambarkan celah masuknya dosa-dosa ini lewat tiga hal yang saling berhubungan, yaitu dunia, kedagingan dan iblis. (Efesus 2:1-3). Keterkaitan ketiga aspek ini bagaikan pusaran air yang bisa menyeret kita untuk masuk ke dalamnya jika tidak hati-hati. Yesus pun mengajarkan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa untuk mencegah masuknya pencobaan lewat kelemahan daging kita. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."(Matius 26:41).

Semua pencapaian kita bisa sia-sia seketika jika kita akhirnya jatuh ke dalam dosa kedagingan. Sangat ironis ketika kita telah mulai dengan Roh, namun berakhir dalam daging dan kehilangan janji-janji Tuhan. Itulah yang juga disinggung oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia. "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!" (Galatia 3:3-4). Sering mengevaluasi diri dan melakukan introspeksi akan membuat kita lebih awas dan waspada dalam berbagai kejatuhan itu, karena ada kalanya kita terpeleset tanpa sadar. Disamping itu, tekunlah berdoa dengan kerinduan akan Tuhan. Biarkan Roh Tuhan bekerja dan memimpin langkah-langkah kita, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan yang mengarah kepada maut. Marilah kita senantiasa menjaga keberadaan diri kita agar tetap hidup bijaksana, bertumbuh lebih baik dari waktu ke waktu, dan tetap memuliakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita.

Tetaplah bertumbuh dan memperbaiki diri agar lebih baik lagi di kemudian hari

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, February 25, 2015

Rajin-Rajin Mengevaluasi Diri

Ayat bacaan: Efesus 5:15
===================
"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif"

Sebuah perusahaan yang baik memerlukan evaluasi secara berkala. Sangatlah penting untuk melihat apa yang sudah dicapai, apakah sudah sesuai target, dan apa rencana jangka pendek dan jangka panjang ke depannya. Penetapan target ke depan, pencapaian yang ingin diraih, apa yang menjadi kekuatan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan perlu untuk diperhatikan. Lantas apabila ada yang masih belum baik, perlu pula dipikirkan bagaimana cara memperbaikinya. Meningkatkan kinerja, konsolidasi ke dalam dan penguatan dari berbagai sisi akan sangat menentukan kemana nantinya perusahaan tersebut akan berada. Bukan saja perusahaan, tetapi lembaga lainnya seperti komunitas, organisasi dan sebagainya juga seharusnya memikirkan hal ini. Bahkan secara individu kita pun secara berkala butuh evaluasi, introspeksi atau mengambil waktu-waktu perenungan secara khusus agar kita bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Secara berkala saya rutin untuk melakukan introspeksi, mengevaluasi seperti apa saya saat ini sebagai seorang suami, sahabat, dan dalam pekerjaan dan pelayanan yang saya lakukan. Saya ingin menjadi suami yang terbaik bagi istri saya, menjadi kepala rumah tangga yang bertanggungjawab dan bisa memimpin dengan cinta. Saya ingin menjadi sahabat yang peduli yang mengenal mereka dengan baik. Saya ingin berhasil dalam pekerjaan dan ingin terus melayani dengan baik. Semua adalah titipan Tuhan yang harus saya kerjakan dan pertanggungjawabkan dengan semaksimal mungkin dengan talenta-talenta yang telah Dia berikan. I want to do my best in every aspects of life, itu intinya, semoga apapun yang saya lakukan bisa terus memuliakan Tuhan. Ada banyak kelemahan yang masih harus diperbaiki, itu pasti. Semua itu tidaklah mungkin jika saya terlalu santai dan tidak pernah mengevaluasi dan mengintrospeksi diri. Kesuksesan bisa membuat orang jatuh pada dosa kesombongan, ketamakan, lupa diri dan sebagainya. Sebaliknya kegagalan bisa membuat patah semangat bahkan kepahitan. Lengah sedikit, kita bisa terpeleset jatuh ke salah satunya. Maka itu bagi saya adalah sangat penting untuk terus melakukan introspeksi dan evaluasi.

Kepada jemaat Efesus, Paulus memberi pesan agar mereka tetap memperhatikan bagaimana hidup mereka. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif". (Efesus 5:15). Ini adalah sebuah pesan penting agar tidak lupa diri, jangan menyia-nyiakan waktu dan agar bisa tetap bijaksana. Paulus melanjutkan pula, "dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (ay 16). Jika hari-hari pada jaman itu dikatakan jahat, sekarang pun tidak ada bedanya. Mungkin malah lebih parah. Dosa mengintip dari segala aspek kehidupan kita. Hiburan, lingkungan rumah/pekerjaan/pendidikan, di mana-mana kita bisa setiap saat tersandung dalam dosa. Seringkali dosa-dosa ini dibungkus dengan kemasan yang sepintas terlihat baik, padahal di dalamnya ada bahaya yang mengintai. Paulus menggambarkan celah masuknya dosa-dosa ini lewat tiga hal yang saling berhubungan, yaitu dunia, kedagingan dan iblis. (Efesus 2:1-3). Keterkaitan ketiga aspek ini bagaikan pusaran air yang bisa menyeret kita untuk masuk ke dalamnya jika tidak hati-hati. Yesus pun mengajarkan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa untuk mencegah masuknya pencobaan lewat kelemahan daging kita. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41).

Semua usaha keras kita dan pencapaian-pencapaian yang sudah kita raih bisa sia-sia dalam sekejap kalau kita membiarkan diri kita jatuh dalam dosa. Sangat ironis ketika kita telah mulai dengan Roh, namun berakhir dalam daging dan kehilangan janji-janji Tuhan. Itulah yang juga disinggung oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia. "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!" (Galatia 3:3-4).

Sering mengevaluasi diri dan melakukan introspeksi akan membuat kita lebih awas dan waspada dalam berbagai kejatuhan itu, karena ada kalanya kita lemah terhadap berbagai godaan yang ada di sekeliling kita. Disamping itu, tekunlah berdoa dengan kerinduan akan Tuhan. Biarkan Roh Tuhan bekerja dan memimpin langkah-langkah kita, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan yang mengarah kepada maut. Marilah kita senantiasa menjaga keberadaan diri kita agar tetap hidup bijaksana, bertumbuh lebih baik dari waktu ke waktu, dan tetap memuliakan Tuhan dalam setiap langkah.

Rajinlah mengevaluasi diri agar tidak mudah disesatkan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, May 10, 2009

Introspeksi dan Evaluasi

Ayat bacaan: Efesus 5:15
===================
"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif"

evaluasi, introspeksi, berdoa, memperhatikan cara hidupBeberapa hari yang lalu saya mengikuti rapat sebuah komunitas jazz di kota saya. Rapat itu mengenai evaluasi bagaimana perjalanan dan penampilan mereka di sebuah event jazz besar di negeri ini. Apa yang sudah dicapai, apa yang dirasa masih kurang, dan apa harapan ke depan. Itu intinya. Betapa pentingnya sebuah proses evaluasi dalam sebuah lembaga, apakah itu komunitas, perusahaan atau organisasi. Langkah-langkah perbaikan bisa disusun agar bisa lebih baik lagi ke depannya, dan strong point atau kekuatan yang sudah ada selama ini bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan. Evaluasi seperti ini juga sangatlah baik dilakukan oleh kita masing-masing. Adalah sangat baik jika kita rajin mengevaluasi apa yang sudah kita capai dalam hidup kita, mengetahui apa yang masih menjadi titik lemah kita, agar kita bisa memperbaikinya. Sebuah introspeksi, itu biasanya sebutan buat kita yang menganalisa atau mengevaluasi pencapaian kita selama ini.

Introspeksi menjadi bagian hidup saya selama beberapa tahun belakangan ini. Terutama setelah saya menikah, terlebih setelah situs musik saya menanjak naik dan aktif dalam pelayanan, baik di Gereja maupun di renungan harian yang setiap hari saya tulis. Saya merasa penting untuk terus introspeksi, mengevaluasi seperti apa saya saat ini sebagai seorang suami, seorang pengajar dan pemilik sebuah situs yang mengalami peningkatan signifikan selama bulan-bulan terakhir ini. Saya ingin menjadi suami yang terbaik bagi istri saya, menjadi kepala rumah tangga yang bertanggungjawab dan bisa memimpin dengan cinta. Saya ingin menjadi pengajar yang baik, peka terhadap siswa, menjadi seorang teman yang mengenal mereka dengan baik. Saya ingin mengelola situs dengan baik dan serius, karena segala kesuksesan disana adalah titipan Tuhan yang harus saya kerjakan dengan semaksimal mungkin dengan talenta-talenta yang telah Dia berikan. Saya ingin melayani lebih baik lagi, bisa memberkati lebih lagi lewat pelayanan saya. Do my best in every aspects of life, itu intinya, dimana segala sesuatu yang saya perbuat, mudah-mudahan bisa terus memuliakan Tuhan di atasnya. Saya sadar betul bahwa saya masih jauh dari sempurna. Ada banyak kelemahan yang masih harus diperbaiki. Semua itu tidaklah mungkin jika saya terlalu santai dan tidak pernah introspeksi, mengevaluasi diri, melihat apa yang sudah saya capai, dimana kelemahan saya dan berusaha menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Kesuksesan bisa membuat orang jatuh pada dosa kesombongan, ketamakan, lupa diri dan sebagainya. Sebaliknya kegagalan bisa membuat patah semangat bahkan kepahitan. Lengah sedikit, kita bisa terpeleset. Maka itu bagi saya adalah sangat penting untuk terus melakukan introspeksi dan evaluasi.

Untuk jemaat Efesus, Paulus berpesan agar mereka tetap memperhatikan bagaimana hidup mereka. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif". (Efesus 5:15). Ini adalah sebuah pesan penting agar tidak lupa diri, jangan menyia-nyiakan waktu dan agar bisa tetap bijaksana. Paulus melanjutkan pula, "dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (ay 16). Jika hari-hari waktu itu adalah jahat, sekarang pun tidak ada bedanya. Mungkin malah lebih parah. Dosa mengintip dari segala aspek kehidupan kita. Hiburan, lingkungan rumah/pekerjaan/pendidikan, di mana-mana kita bisa setiap saat tersandung dalam dosa. Paulus menggambarkan celah masuknya dosa-dosa ini lewat tiga hal yang saling berhubungan, yaitu dunia, kedagingan dan iblis. (Efesus 2:1-3). Keterkaitan ketiga aspek ini bagaikan pusaran air yang bisa menyeret kita untuk masuk ke dalamnya jika tidak hati-hati. Yesus pun mengajarkan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa untuk mencegah masuknya pencobaan lewat kelemahan daging kita. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."(Matius 26:41).

Semua pencapaian kita bisa sia-sia seketika jika kita akhirnya jatuh ke dalam dosa kedagingan. Sangat ironis ketika kita telah mulai dengan Roh, namun berakhir dalam daging dan kehilangan janji-janji Tuhan. Itulah yang juga disinggung oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia. "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!" (Galatia 3:3-4). Sering mengevaluasi diri dan melakukan introspeksi akan membuat kita lebih awas dan waspada dalam berbagai kejatuhan itu, karena ada kalanya kita terpeleset tanpa sadar. Disamping itu, tekunlah berdoa dengan kerinduan akan Tuhan. Biarkan Roh Tuhan bekerja dan memimpin langkah-langkah kita, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan yang mengarah kepada maut. Marilah kita senantiasa menjaga keberadaan diri kita agar tetap hidup bijaksana, bertumbuh lebih baik dari waktu ke waktu, dan tetap memuliakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita.


Tetaplah bertumbuh dan memperbaiki diri hingga kedatangan Yesus kedua kalinya

Tuesday, June 25, 2013

Rajin Introspeksi

Ayat bacaan: Efesus 5:15
===================
"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif"

Sebuah band yang saya kenal dekat baru saja rampung mengerjakan album barunya. Pentolannya bercerita kepada saya bahwa proses pembuatannya membutuhkan waktu beberapa tahun. Itu waktu yang tidak sedikit. Ketika saya tanya mengapa harus sampai selama itu, ia pun menjawab bahwa untuk menghasilkan album yang maksimal ia perlu waktu tidak hanya untuk proses penulisan komposisi dan latihan, tapi juga karena mereka perlu waktu untuk mengevaluasi sampai dimana pencapaian mereka dalam album-album terdahulu, dimana kekurangannya, apa yang menjadi kekuatan mereka. Kemudian mereka pun harus memperbaiki apa yang masih kurang dan menggodok konsep lebih baik lagi agar album ini bisa sukses baik di pasaran maupun bagi karir mereka. Berkecimpung di dunia seperti ini saya sudah biasa menyaksikan berbagai pola band atau musisi di dapur rekaman. Ada yang serius seperti band yang saya baru saya ceritakan, ada pula yang kejar tayang karena ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya selagi bisa. Orang-orang yang kejar tayang biasanya menomor duakan pentingnya menghasilkan album dengan kualitas bagus. Lebih cepat, lebih baik, supaya untungnya pun bisa cepat. Begitu pikir mereka. Meniru, mengikuti trend pun menjadi alternatif agar album bisa lekas rampung. Bisa saja mereka sukses di pasar, tapi biasanya band-band seperti ini hanya numpang lewat saja. Hari ini sukses, besok sudah dilupakan orang. Band yang serius dalam berkarir biasanya tidak terlalu sering mengeluarkan album. Bisa makan waktu lama, tapi mereka punya ketahanan lebih kuat dalam meniti karir di dunia industri musik. Band yang saya ceritakan di atas sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Selalu saja ada inovasi baru yang keluar dari proses pemikiran, introspeksi, evaluasi, penelitian, pengembangan dan berbagai proses evaluasi lainnya.

Tidak hanya bagi band, dalam segala aspek kehidupan kita perlu melakukan hal yang sama. Alangkah baiknya apabila kita rajin mengevaluasi apa yang sudah kita capai dalam hidup kita. Mencari titik-titik lemah yang harus diperbaiki. Mempertahankan dan meningkatkan pencapaian-pencapaian yang sudah baik. Bukan hanya mengenai karir dan pekerjaan saja, tetapi dalam aspek lainnya termasuk keluarga kita pun sebaiknya melakukan hal yang sama. Apakah kita sudah menjadi pemimpin rumah tangga (pria) atau ibu rumah tangga (wanita) yang baik? Apakah kita sudah mendidik anak dengan baik, menjalankan peran sebagai orang tua yang mengasihi mereka, sudah membagi waktu yang cukup buat mereka? Melakukan introspeksi, mengevaluasi dan memperbaiki, itu proses yang akan sangat menentukan seperti apa kita sekian tahun ke depan. 

Kepada jemaat Efesus, Paulus memberi pesan agar mereka jangan terlena tapi mau terus memperhatikan bagaimana mereka menjalani hidup. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif". (Efesus 5:15). Ini tentu merupakan pesan yang sangat positif dan penting untuk kita ingat. Perhatikan setiap langkah kehidupan agar bisa tetap menjadi orang yang arif atau bijaksana, bukan orang bebal.

Selanjutnya Paulus melanjutkan pula, "dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (ay 16). Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Jika hari-hari pada masa itu dikatakan jahat, sekarang pun tidak ada bedanya, atau mugkin malah lebih parah. Dosa mengintip dari segala aspek kehidupan kita, dimanapun kita berada. Sekarang kita malah bisa dijebak dosa tanpa harus beranjak dari kursi atau melangkah pergi lewat gadget-gadget teknologi tinggi yang kita miliki. Di dunia hiburan, lingkungan rumah/pekerjaan/pendidikan, di mana-mana ada jebakan yang siap menjerat kita.

Paulus menggambarkan celah masuknya dosa-dosa ini lewat tiga hal yang saling berhubungan yaitu mengikuti jalan dunia, kedagingan dan iblis. (Efesus 2:1-3). Keterkaitan ketiga aspek ini bagaikan pusaran air yang bisa menyeret kita yang bisa menenggelamkan kita dalam seketika jika tidak hati-hati. Hal ini sangat penting untuk dicermati, bahkan Yesus pun mengajarkan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa untuk mencegah masuknya pencobaan lewat kelemahan daging kita. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."(Matius 26:41).
Semua pencapaian baik yang sudah kita perjuangkan dengan susah payah bisa sia-sia dalam sekejap mata kalau kita tidak berhati-hati menjaga kehidupan kita. Bukankah sangat disayangkan kalau ketika kita telah mulai dengan Roh, tapi harus berakhir dalam daging dan kehilangan janji-janji Tuhan? Itulah yang juga disinggung oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia. "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!" (Galatia 3:3-4).

Agar bisa terhindar dari hal tersebut, kita harus sering-sering mengevaluasi diri dan melakukan introspeksi akan membuat kita lebih awas dalam mencermati berbagai jebakan di segala lini kehidupan. Kita bukan diminta untuk bersikap aneh dengan menarik diri dari sekitar kita, tetapi kita harus tetap mewaspadai segala langkah. Selain itu, tekunlah berdoa. Biarkan Roh Tuhan bekerja dan memimpin langkah-langkah kita, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan yang mengarah kepada maut. Mulailah rajin mengintrospeksi dan mengevaluasi hidup mulai sekarang agar tetap hidup bijaksana, bertumbuh lebih baik dari waktu ke waktu.

Lakukan introspeksi teratur agar bisa hidup sebagai orang bijaksana

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, June 28, 2009

Menyikapi Kemerdekaan

Ayat bacaan: Galatia 5:13
==================
"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih."


menyikapi kemerdekaan, mengisi kemerdekaanReformasi secara luar biasa mengubah begitu banyak hal di Indonesia mengenai kemerdekaan atau kebebasan. Sekarang kita jauh lebih bebas untuk mengekspresikan diri, mengeluarkan unek-unek dan berpendapat. Itu sebuah sisi positif yang mendapat pujian dari banyak negara-negara di belahan dunia. Tapi di sisi lain, kita melihat efek samping dari reformasi. Kebebasan seringkali diartikan dengan bebas sebebas-bebasnya berbuat apapun. Akhirnya kelompok-kelompok ekstrim kini menampakkan diri dengan mengatasnamakan kebebasan. Aksi-aksi anarkhis, kekerasan, pemaksaan kehendak dari mayoritas pada minoritas, bentuk-bentuk tekanan, dan sebagainya, muncul sebagai konsekuensi dari pemahaman keliru mengenai kebebasan. Salah seorang teman pernah berkata, jika begini jadinya, lebih baik tidak usah reformasi. Bangsa kita ternyata belum siap untuk menerima kebebasan dan perbedaan pendapat secara dewasa. Yang lain berpendapat, kita adalah sebuah bangsa yang terlalu lama disuapi, dan ketika keran kebebasan dibuka, banyak yang menjadi salah tingkah dan akhirnya "keblinger". Just like two sides of coin, selalu saja ada sisi positif dan negatif dalam kehidupan. Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana cara menyikapi sebuah kemerdekaan. Dan hari ini saya ingin berbagi firman Tuhan yang menunjukkan bagaimana seharusnya kita bersikap atas sebuah kemerdekaan atau kebebasan.

Apakah kita sudah dimerdekakan? Lewat karya penebusan Kristus, kita sudah dimerdekakan. "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran." (Roma 6:18). "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." (Galatia 5:1). Jika demikian, pertanyaannya adalah bukan lagi apakah kita sudah merdeka atau tidak, melainkan bagaimana kita mengisi kemerdekaan itu. Apa yang harus kita lakukan, bagaimana kita menyikapinya. Ayat bacaan hari ini dengan jelas berisikan firman Tuhan mengenai hal itu. "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih." (Galatia 5:13). Kemerdekaan yang kita peroleh lewat karya penebusan Kristus di atas kayu salib bukan berarti bahwa kita bisa berbuat seenaknya. Ada banyak orang yang memahami kemerdekaan sebagai sebuah kebebasan untuk berbuat sesuka hati. Melakukan dosa sebebasnya, toh nanti Tuhan akan mengampuni. Ini bentuk kebebasan yang keliru, memanfaatkan Tuhan untuk hal-hal jelek atau jahat yang kita lakukan. Kemerdekaan adalah karunia Tuhan atas kita, karena kasihNya yang begitu besar. Dan ketika kita menerima kasih sedemikan rupa yang memerdekakan dari Tuhan, bukankah seharusnya kita pun terpanggil untuk mengasihi orang lain lebih lagi? Inilah bentuk mengisi kemerdekakan yang difirmankan Tuhan. "Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (ay 14). Ini adalah pesan yang sangat penting agar kita tidak keliru mengartikan sebuah kemerdekaan yang dikaruniakan Tuhan pada kita.

"Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut." (Roma 8:3) Bagaimana bisa demikian? "Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan." (2 Korintus 3:17). Ketika ada Roh yang memberi kemerdekaan, maka seharusnya kita akan menghasilkan buah-buah Roh seperti yang tertulis pada Galatia 5:22-23. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23). Jadi alangkah ironisnya apabila kemerdekaan yang kita peroleh malah membuat kita menuruti keinginan daging dengan sebebasnya. Padahal jelas dikatakan bahwa keinginan Roh bertentangan dengan keinginan daging. (ay 17). Sebagaimana Roh memerdekakan dalam Kristus, kita pun harus menghasilkan buah-buah Roh dalam kehidupan kita, dimana Tuhan bisa dipermuliakan.

Ketika dunia mengartikan kemerdekaan sebagai sebuah kebebasan tanpa batas untuk melakukan apa yang mereka sukai seenaknya, kita haruslah berbeda. Kita menyikapi kemerdekaan dengan ucapan syukur dan sukacita, dan mengisinya dengan menyatakan kasih kepada orang-orang di sekitar kita. Itulah sebuah bentuk yang sangat baik sebagai sebuah apresiasi akan besarnya kasih Tuhan yang telah memerdekakan kita. Kasih adalah inti dasar kekristenan, dan itulah yang seharusnya kita pakai sebagai landasan untuk mewartakan kabar gembira dan keselamatan di dalam Kristus. Kita semua sudah dipanggil untuk merdeka. Puji Tuhan untuk itu. Marilah kita menjaga diri kita agar tidak menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk berbuat dosa. Sebaliknya mari kita menyatakan kasih dengan segala tingkah laku dan perbuatan kita kepada sesama kita, tanpa membedakan apapun latar belakang mereka.

Hasilkan buah-buah Roh untuk mengisi kemerdekaan yang telah dikaruniakan Tuhan

Tuesday, January 29, 2013

Kasih sebagai Sumber Daya Iman

Ayat bacaan: Galatia 5:6
==================
"...faith activated and energized and expressed and working through love." (English AMP)

Jika anda menggunakan Blackberry, anda tentu tahu betapa besarnya kebutuhan smart phone ini akan sumber daya. Baterainya relatif tidak sanggup bertahan lama terutama jika anda sangat aktif berhubungan lewat aplikasi instant messaging atau punya beberapa group di dalamnya yang aktif. Betapa seringnya saya melihat orang sibuk mencari colokan listrik agar Blackberry nya bisa bertahan hidup baik di restoran, cafe dan sebagainya. Demikian pula dengan gadget atau peralatan-peralatan yang menggunakan listrik lainnya. Kita selalu membutuhkan sumber daya agar semua itu bisa beroperasi. Jika listrik padam, maka kita akan bingung tidak tahu harus melakukan apa, karena kita hidup di jaman yang serba elektronik.

Bagaimana dengan iman? Apakah iman juga butuh sumber daya, atau dengan apa iman sebenarnya bekerja? Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa ternyata iman pun butuh 'sumber daya' agar iman kita tetap menyala. Ada hal yang diperlukan agar iman kita tetap bekerja dengan baik, sesuatu yang bisa membuat kita tetap berada dalam proses yang benar dari hari ke hari dan tetap bisa melanjutkan hidup dengan penuh sukacita, penuh pengharapan dalam melewati hari-hari yang sulit.

Hal itu bisa kita lihat dalam surat Galatia, dimana Paulus mengingatkan jemaat tentang apa yang penting atau mempunyai makna mengenai keselamatan. Ia menyinggung tentang banyaknya orang yang lebih bergantung kepada prosesi, tata cara atau ritual-ritual lengkap dengan perulangannya. Ini dianggap penting dan mampu membawa keselamatan, sementara kita lupa akan hal lain yang justru jauh lebih penting, bahkan dikatakan berarti atau bermakna dalam menerima janji-janji Tuhan. Mari kita lihat ayat berikut ini: "Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih." (Galatia 5:6). Paulus memulai bagian ini dengan penegasan tentang kemerdekaan yang sesungguhnya sudah diberikan kepada orang percaya lewat Kristus. (ay 1). Tapi banyak yang tidak mengetahuinya dan masih bergantung kepada prosesi atau ritual, bahkan menganggap prosesi dan ritual sebagai hal yang terpenting lalu melupakan apa yang justru terutama yang harus kita lakukan. Maka Paulus pun mengatakan sia-sialah semua itu tanpa adanya satu hal yang terpenting dalam hidup untuk kita miliki, yaitu iman. Itulah yang dikatakan Paulus sebagai hal yang "mempunyai sesuatu arti", alias bermakna,atau  something that really counts. Dan perhatikan ayat Galatia 5:6 bagian terakhir, disana dikatakan bahwa iman itu bekerja oleh kasih. Dalam versi English Amplified bagian ini tertulis sangat detail, "...faith activated and energized and expressed and working through love."

Dari mana iman itu timbul? Firman Tuhan mengatakan bahwa "..Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Dari sanalah iman itu berasal. Benih-benih Firman Tuhan yang kita tabur dan jatuh di tanah yang baik akan membuat benih-benih itu bertunas dan tumbuh subur. Selanjutnya ada sumber daya yang menggerakkan agar iman itu bisa terus berbuah baik untuk kebaikan kita sendiri maupun kebaikan sesama, dan sumber daya itu ternyata, dan tidak lain adalah kasih. Sedemikian pentingnya arti kasih itu, jauh lebih penting dari hal-hal lainnya.

Bagaimana jika tidak ada aliran kasih dalam diri kita? Itu akan sama dengan peralatan elektronik kita tanpa adanya listrik. Bayangkan bagaimana hidup tanpa kasih. Kita akan dengan mudahnya membenci orang lain, mendendam atau merasa iri hati dan cepat tersinggung. Kita akan hidup mencari kepentingan sendiri dan tega mengorbankan siapapun demi diri kita. Jika itu terjadi maka berbagai perbuatan jahat lainnya akan mengintip dan siap menerkam kita, "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Itu sangatlah berbahaya, dan bahaya-bahaya semacam itulah yang akan mudah menguasai kita ketika kita tidak memiliki kasih. Disanalah akan terbuka banyak lahan subur bagi iblis untuk berpesta di dalam kita. Perhatikanlah bahwa kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sementara iri hati adalah bagian dari keinginan daging (ay 19-21). Kemudian lihatlah ayat ini: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (ay 17). Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Hubungan kita dengan Tuhan terputus, iman kita tidak bekerja lagi dan tentu semua itu merugikan bahkan akan membinasakan kita.

Kasih adalah prinsip dasar dalam kekristenan. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi."Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi..." (1 Yohanes 3:11). Kemudian Yohanes mengingatkan kita pula akan akibat yang timbul jika kita tidak mengasihi atau memiliki kasih, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut" (ay 14), dan dengan lebih keras melanjutkan bahwa "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia" (ay 15). Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati dan berbagai kebencian lainnya untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Kita harus mencegah apapun yang bisa membuat kabel kasih kita terputus dari sumber dayanya. Kasih adalah esensi dasar ajaran Kristus, sedemikian pentingnya sehingga dikatakan "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (1 Korintus 13:13). Ingat pula bahwa aliran kasih itu akan mampu menghindarkan kita dari banyak kejahatan, sekaligus menyembuhkan berbagai luka dan membawa pengampunan bagi orang yang pernah menyakiti kita. "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." "For love covers a multitude of sins [forgives and disregards the offenses of others]."  (1 Petrus 4:8).  Ini waktunya kita memeriksa kembali apakah kabel kasih masih terpasang pada tempatnya dalam diri kita atau sudah lama tercabut. Selanjutnya kita harus memastikan bahwa kabel itu terus bekerja mengalirkan kasih ke dalam diri kita, lalu mengalirkannya keluar dari diri kita untuk menjangkau orang-orang lain. Adalah percuma jika kita mengikuti tata cara, ritual dan kebiasaan tetapi melupakan esensi terpenting yang menjadi dasar utama kekristenan. Kita tidak bisa mengaku beriman tanpa memiliki kasih. Itu tidak akan membawa arti atau makna apa-apa, sebab iman tidak akan berfungsi apa-apa tanpa adanya kasih dalam diri kita.

Iman bekerja oleh kasih

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 25, 2011

Kasih Sebagai Motor Penggerak Iman

Ayat bacaan: Galatia 5:6
==================
"...faith activated and energized and expressed and working through love." (English AMP)

kabel kasihJika anda tengah menonton televisi lalu ada orang yang mencabut kabelnya dari stop kontak, apa yang terjadi? Tentu televisi itu akan mati. Stasiun televisi yang tengah menyiarkan acara yang sedang anda tonton masih terus berjalan, tetapi anda tidak lagi bisa melihatnya karena tidak ada lagi listrik yang mengalir agar televisi bisa beroperasi. Sama halnya dengan berbagai peralatan elektronik lainya yang mengunakan listrik sebagai sumber dayanya. Ketika kabel tercabut, aliran listik yang menjadi sumber daya dari peralatan-peralatan itu pun terputus. Dan akibatnya alat-alat elektronik itu pun tidak lagi bisa berfungsi. Ada kalanya hal ini sepele, tetapi ada saatnya pula dimana terputusnya aliran listrik ini merepotkan kita. Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja kabel listrik laptop saya tercabut ketika saya menggerakkan kaki. Ternyata kabelnya tersangkut pada gerakan itu dan kemudian membuat kabel lepas dari stop kontak. Saya kebetulan tengah melepas baterainya karena sedang menggunakan listrik. Laptop mendadak mati, sedang ketikan yang sedang saya kerjakan belum disimpan. Maka saya harus mengulang lagi dari awal, dan itu cukup merepotkan dan memakan waktu ekstra yang tidak sedikit.

Dengan apa iman sebenarnya bekerja? Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang menggerakkan iman untuk terus bekerja. Ada "sumber daya" yang membuat iman kita tetap menyala, sesuatu yang bisa membuat kita tetap berada dalam proses yang benar dari hari ke hari. Hal itu bisa kita lihat dalam surat Galatia, dimana Paulus mengingatkan jemaat disana tentang apa yang penting atau mempunyai makna mengenai keselamatan. Ia menyinggung tentang banyaknya orang yang lebih bergantung kepada prosesi, tata cara atau ritual-ritual lengkap dengan perulangannya. Ini dianggap penting dan mampu membawa keselamatan, sementara kita lupa akan hal lain yang justru jauh lebih penting, bahkan dikatakan berarti atau bermakna dalam menerima janji-janji Tuhan. Mari kita lihat ayat berikut ini: "Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih." (Galatia 5:6). Paulus memulai bagian ini dengan penegasan jelas tentang kemerdekaan yang sesungguhnya sudah hadir bagi orang percaya lewat Kristus. (ay 1). Tapi banyak yang tidak mengetahuinya dan masih bergantung kepada prosesi atau ritual bahkan menganggapnya sebagai hal yang terpenting dan malah melupakan apa yang terutama yang harus kita lakukan. Maka Paulus pun mengatakan sia-sialah semua itu tanpa adanya satu hal yang terpenting dalam hidup untuk kita miliki, yaitu iman. Itulah yang dikatakan Paulus sebagai hal yang "mempunyai sesuatu arti", alias bermakna,atau  something that really counts. Dan perhatikan ayat Galatia 5:6 bagian terakhir, disana dikatakan bahwa iman itu bekerja oleh kasih. Dalam versi English Amplified bagian ini tertulis sangat detail, "...faith activated and energized and expressed and working through love."

Kita mengetahui dari mana iman itu timbul. "..Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Dari sanalah iman itu berasal. Benih-benih Firman Tuhan yang kita tabur dan jatuh di tanah yang baik akan membuat benih-benih itu bertunas dan tumbuh subur. Selanjutnya ada "motor" yang menggerakkan agar iman itu bisa terus berbuah baik untuk kebaikan kita sendiri maupun kebaikan sesama, dan motor penggerak atau sumber daya itu adalah kasih. Sedemikian pentingnya arti kasih itu, jauh lebih penting dari hal-hal lainnya.

Bagaimana jika tidak ada aliran kasih dalam diri kita? Bayangkan bagaimana hidup tanpa kasih. Kita akan dengan mudahnya membenci, mendendam atau merasa iri hati kepada orang lain. Kita akan hidup mencari kepentingan sendiri dan tega mengorbankan orang lain. Sementara jika itu terjadi maka berbagai perbuatan jahat lainnya akan mengintip dan siap menerkam kita, "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16).Perasaan-perasaan seperti itu akan mudah menguasai kita ketika kita tidak memiliki kasih, dan itu akan menjadi lahan subur bagi iblis untuk berpesta di dalam kita. Mengijinkan iri hati masuk pada diri kita adalah seperti membuka pintu bagi segala kekacauan dan kejahatan untuk masuk. Perhatikanlah bahwa kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sementara iri hati adalah bagian dari keinginan daging (ay 19-21). Kemudian lihatlah ayat ini: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (ay 17). Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Hubungan kita dengan Tuhan terputus, iman kita tidak bekerja lagi dan tentu semua itu merugikan bahkan mematikan.

Kasih adalah prinsip dasar kekristenan.
Karena itu tidaklah heran jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi."Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi..." (1 Yohanes 3:11). Kemudian Yohanes mengingatkan kita pula akan akibat yang timbul jika kita tidak mengasihi atau memiliki kasih, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut" (ay 14), dan dengan lebih keras melanjutkan bahwa "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia" (ay 15). Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati dan berbagai kebencian lainnya untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Kita harus berhenti mencoba mengganggu kabel kasih kita. Kasih adalah esensi dasar ajaran Kristus, sedemikian pentingnya sehingga dikatakan "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (1 Korintus 13:13). Ingat pula bahwa aliran kasih itu akan mampu menghindarkan kita dari banyak kejahatan, sekaligus menyembuhkan berbagai luka dan membawa pengampunan bagi orang yang pernah menyakiti kita. "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." "For love covers a multitude of sins [forgives and disregards the offenses of others]."  (1 Petrus 4:8).  Ini waktunya kita memeriksa kembali apakah kabel kasih masih terpasang pada tempatnya dalam diri kita atau sudah lama tercabut. Selanjutnya kita harus memastikan bahwa kabel itu terus bekerja mengalirkan kasih ke dalam diri kita, lalu mengalirkannya keluar dari diri kita untuk menjangkau orang-orang lain. Adalah percuma jika kita mengikuti tata cara dan kebiasaan tetapi melupakan esensi terpenting yang menjadi dasar utama kekristenan. Kita tidak bisa mengaku beriman tanpa memiliki kasih. Itu tidak akan membawa arti atau makna apa-apa, sebab Iman tidak akan berfungsi apa-apa tanpa adanya kasih dalam diri kita.

Iman bekerja oleh kasih

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, October 9, 2013

Keselamatan (2)

(sambungan)

Jika kita lihat dalam Roma 3:27, Paulus mengingatkan hal yang sama, bahwa tidaklah ada gunanya bermegah berdasarkan perbuatan. Jangan keliru. Kekristenan bukanlah mengajarkan bahwa kita boleh berbuat jahat, justru kita sangat diharuskan atau diwajibkan untuk selalu berbuat baik bukan hanya terhadap saudara/saudari seiman tapi kepada siapapun tanpa terkecuali. Kita bahkan harus mendasarkan segala sesuatu dalam kasih, seperti halnya Tuhan mengasihi kita. Dan berbuat baik tentu saja merupakan salah satu elemen penting akan hal ini. Tetapi perbuatan baik tidak pernah cukup untuk menjamin atau mendatangkan keselamatan.

Roma pasal 3 menjelaskan sebuah konsep keselamatan. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (Roma 3:24) Penebusan dalam Yesus, itulah yang membebaskan kita, menyelamatkan kita dan memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan. Itulah yang mampu membuat kita mampu memperoleh kembali kemuliaan Tuhan. Semua itu diberikan dengan cuma-cuma karena karya penebusan Kristus. Itu bukti nyata betapa Tuhan mengasihi manusia dan tidak ingin satupun dari kita untuk binasa. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." (Yohanes 3:16-17). Keadaan manusia yang tadinya diciptakan bermahkotakan kemuliaan dengan mengambil gambar dan rupa Allah sendiri ternyata cemar oleh macam-macam dosa. Itu membinasakan dengan sangat mengerikan. Tapi Tuhan tidaklah rela itu terjadi atas diri kita. Tapi keadaan yang sudah terlanjur sangat parah, sehingga untuk menebus kita, Tuhan harus merelakan Yesus untuk menggantikan kita di atas kayu salib. Karya penebusanNya membebaskan kita dari belenggu dosa, dan kemudian mampu hidup menurut kehendak Tuhan. (1 Petrus 2:24).

Tuhan telah melakukan sebuah langkah luar biasa besar, atas dasar kasihNya, sehingga kita semua bisa terlepas dari belenggu dosa yang selama ini merintangi hubungan kita dengan-Nya. Lantas apa yang harus kita lakukan? Bacalah ayat ini: "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:9-10). Kita ternyata diminta untuk mengakui dan percaya. Kenyataannya tidaklah mudah untuk mengakui dengan mulut, apalagi percaya. Ada banyak orang yang malah tega menyangkal Yesus agar bisa memperoleh sesuatu. Dengar apa kata Yesus: "Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah." (Lukas 12:8). Untuk itulah, kita sebagai anak-anak Allah yang telah mengalami sendiri penyertaan Tuhan dengan berbagai berkatNya harus tampil dengan kesaksian-kesaksian kita, dengan pola hidup kita, seperti yang dipesankan Kristus. Anugrah keselamatan sungguh mahal, dan itu semua diberikan cuma-cuma lewat karya penebusan Kristus.

Dalam pertemuan di malam hari dengan Nikodemus, Yesus memberi penjelasan seperti ini: "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah." (Yohanes 3:18). Dan Yesus juga sudah berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6), dan "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput." (10:9). Semua ini menegaskan bahwa kita hanya bisa dibebaskan dari hukuman, menerima kembali kemuliaan Allah dan menerima keselamatan jika dan hanya jika kita mengaku dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat kita.

Perbuatan baik itu penting. Itu benar. Tapi perbuatan baik tidaklah menyelamatkan. Berbuat baik adalah sesuatu yang secara otomatis seharusnya kita jalankan ketika kita bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita.  Perbuatan baik bukan sumber keselamatan melainkan merupakan buah Roh (Galatia 5:22-23) yang hidup di dalam kita ketika kita menjadi orang percaya. Dalam Titus 3:5 disebutkan bahwa perbuatan baik itu tidak mendatangkan keselamatan, tetapi perhatikan pula bahwa dalam Yakobus 2:2 ada ayat yang berkata: "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna." Perbuatan baik yang merupakan buah Roh merupakan satu dari perbuatan nyata dalam melakukan firman, dan itulah yang kemudian akan menjadikan iman kita sempurna. Keselamatan hanya ada dalam Kristus, dan itu diberikan cuma-cuma sebagai bentuk rahmat atau kasih karunia Tuhan kepada kita. Mari kita membuka hati kita untuk menerima Yesus sepenuhnya yang akan membawa kita kepada keselamatan kekal. Lalu jadilah pelaku-pelaku firman yang didalamnya penuh dengan perbuatan baik kepada sesama tanpa terkecuali.

Keselamatan merupakan rahmat Tuhan yang diberikan lewat Yesus Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, December 24, 2011

Menolong Orang Miskin

Ayat bacaan: Galatia 2:10
===================
"hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya."

menolong orang miskinDi masa-masa sulit seperti sekarang ini, hal tersulit yang harus dihadapi mungkin adalah kehilangan pekerjaan. Bekerja saja bagi banyak orang tidaklah mampu menjamin kelangsungan hidup sekeluarga, apalagi jika disaat seperti itu malah kehilangan pekerjaan. Seorang teman baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja karena perusahaan tempatnya bekerja harus mengalami perampingan agar bisa terus berjalan. Apa hendak dikata, ia termasuk yang tidak dipertahankan. "Mau mencari kerja kemana lagi.." katanya murung. Kita tentu tahu bagaimana sulitnya mencari pekerjaan apalagi jika ilmunya pas-pasan. Puji Tuhan, seorang teman satu gerejanya kemudian memberinya pekerjaan sehingga ia tidak harus pusing berlama-lama. Ketika bertemu lagi dengannya ia pun berkata, "Tuhan sungguh baik, Dia menjawab doaku lewat bapak itu." Ya, Tuhan senang memakai orang lain untuk menjadi saluran berkatNya. Tapi itu tidak bisa terlaksana apabila kita tumbuh menjadi manusia-manusia yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli kepada orang lain yang sedang menderita dan membutuhkan pertolongan.

Sebagai orang Kristen, kita seharusnya terpanggil untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan, terlebih ketika jaman tengah dilanda resesi atau krisis. Sayangnya tidaklah banyak di antara mereka yang mengaku sebagai pengikut Kristus untuk mau menjalani panggilannya dalam wadah kasih, yang menjadi inti dasar kekristenan. Orang lebih suka berhitung untung rugi menurut timbangannya sendiri tanpa mau peduli kepada penderitaan orang lain. Itu bukanlah gambaran yang tepat dari umat Allah. Kita selalu diingatkan untuk membantu orang lain di saat sukar, dan itu sudah dinyatakan berulang kali baik di Perjanjian Lama apalagi di Perjanjian Baru. Penulis Amsal menggambarkan kecenderungan manusia yang tidak baik ini. "Juga oleh temannya orang miskin itu dibenci, tetapi sahabat orang kaya itu banyak." (Amsal 14:21). "The poor is hated even by his own neighbor, but the rich has many friends." Itu versi bahasa Inggrisnya. Lalu ayat selanjutnya mengingatkan bahwa itu merupakan hal yang buruk, bahkan dikatakan sebagai dosa. "Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita." (ay 21). Sementara orang yang menghina atau membenci saudaranya yang miskin berarti berbuat dosa, orang yang menaruh belas kasihan kepada mereka disebutkan sebagai orang yang berbahagia, blessed and fortunate.

Dalam Galatia 2 kita bisa melihat bagaimana Paulus dan Barnabas menyadari bahwa di balik kasih karunia yang telah diberikan kepada mereka dan rekan-rekan sekerja yang lain, ada panggilan penting bagi mereka untuk mengingat atau memberi perhatian kepada orang yang miskin. "Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya." (Galatia 2:9-10). Lihatlah bahwa meski mereka menyadari sebuah kasih karunia istimewa yang diberikan kepada para rasul, mereka harus pula mengingat orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan. Kita memang wajib mendoakan siapa saja, tapi itu tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak mengulurkan bantuan secara nyata pula di dunia. Seringkali orang memilih melakukan yang paling mudah agar mereka tidak harus rugi. Berdoa itu gratis, sementara memberi itu artinya membuat milik kita berkurang. Seperti itulah isi pikiran banyak orang. Jadi mereka memilih hanya untuk berdoa agar mereka tidak harus "membuang" sedikit dari timbunan harta mereka. Paulus dan Barnabas serta para rasul lainnya untungnya tidak terjebak pada pemikiran seperti itu. Kita bisa melihat bagaimana mereka melakukan tepat seperti itu; memberitakan Injil sekaligus mengumpulkan bantuan keuangan bagi mereka yang membutuhkan. "Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea. Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus." (Kisah Para Rasul 11:29-30). Atau dalam surat 1 Korintus: "Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia.  Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing--sesuai dengan apa yang kamu peroleh--menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. Sesudah aku tiba, aku akan mengutus orang-orang, yang kamu anggap layak, dengan surat ke Yerusalem untuk menyampaikan pemberianmu." (1 Korintus 16:1-3).

Sebuah seruan penting disampaikan oleh Paulus. "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya." (1 Timotius 6:17-19). Kita diberkati sesungguhnya bukan untuk dipakai berfoya-foya dan menimbun sendiri melainkan untuk disalurkan kepada orang lain lewat berbuat baik dan beramal. Singkatnya, kita diberkati untuk memberkati. "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." (1 Petrus 3:9). Lalu lihat pula ayat berikut ini:  "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." (2 Korintus 9:8 BIS). Di tengah kondisi sulit seperti sekarang ini, marilah kita menjadi pelaku-pelaku firman yang siap menolong orang lain yang membutuhkan baik secara rohani maupun materi. Uang yang kita keluarkan mungkin tidak berpengaruh besar kepada kita, tapi itu bisa memberi kelegaan dan sukacita bagi mereka yang tengah terdesak. Sikap murah hati atas dasar kasih terhadap Tuhan dan sesama, itulah yang diperlukan, terlebih dalam masa-masa seperti sekarang ini.

"Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."
(Kisah Para Rasul 20:35)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...