Thursday, June 8, 2017

Baju Zirah (2)

(sambungan)

Baju zirah pada jaman dahulu dipakai untuk berperang. Apakah kita diminta untuk berperang pula melawan sesama manusia? Tentu tidak. Kita tidak pernah disuruh melawan orang lain, bahkan kita diminta untuk mengasihi musuh alias orang-orang yang berlaku tidak adil, jahat dan menindas kita. Apa yang kita perangi bukanlah manusia melainkan bala tentara iblis. "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:11-12).

Saya menyebut bala tentara, karena tampaknya iblis pun punya sebuah struktural pemerintahan mulai dari tingkat pemerintah, penguasa, penghulu dan roh-roh jahat yang beterbangan di udara. Secara struktural iblis bisa menyerang, memasang perangkap, menipu, menjebak dan memutar-balikkan kebenaran dalam banyak tingkatan dan cara. Dimanapun ada celah yang kita buka atau lengah kita jaga, disana iblis akan masuk menghancurkan kita.

Di hari-hari yang semakin sulit dan jahat ini kita perlu lebih memperhatikan dan menjaga diri kita untuk tidak terjerumus ke dalam jebakan-jebakan yang dipasang iblis dimana-mana. Kewaspadaan sangatlah penting agar tidak terjebak tipu muslihat iblis. Kita juga perlu perisai pelindung dalam menghadapi serangan iblis yang bisa datang setiap saat dari berbagai sisi. Lengah sedikit akibatnya bisa parah.

Karenanya kita diingatkan agar tidak terlena melainkan harus senantiasa tetap berjaga dalam keadaan dan sadar. "Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam." (1 Tesalonika 5:6-7). Firman Tuhan berkata, hiduplah seperti orang yang sadar selayaknya kita di siang hari, dan bukan seperti orang yang tertidur, tidak konsentrasi dan tidak awas di malam hari. Selanjutnya firman Tuhan juga mengingatkan: "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati." (Roma 13:13).

Kita tidak pernah tahu kapan hari Tuhan datang, dan alangkah ironis jika ketika saatnya tiba, kita ternyata sedang lengah, tidak berjaga-jaga, "karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan..." (1 Tesalonika 5:2-3). Hal yang sama pula juga diingatkan langsung oleh Yesus sendiri. "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." (Matius 24:42-44).

Kesadaran yang harus kita miliki bukanlah kesadaran ala kadarnya, tetapi sebuah kesadaran penuh, dengan sebaik-baiknya, seperti yang diingatkan dalam 1 Korintus 15:34 agar kita tidak gampang terjebak atau diserang. Mari kita kenakan baju zirah, iman dan kasih, juga keadilan, terus membangun iman kita dalam Kristus, melakukan kesetiaan dalam situasi dan kondisi apapun. Keselamatan sudah dianugerahkan bagi kita semua, dan kita sudah menerimanya. Sekarang saatnya kita menjaga dan terus mengerjakan keselamatan itu dengan sungguh-sungguh agar kita selamat sampai tujuan.

Kenakan baju zirah agar kita tidak mudah dihancurkan si jahat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, June 7, 2017

Baju Zirah (1)

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:8
=========================
"Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan."

Kalau sekarang ada rompi anti peluru, di masa lalu para prajurit memakai lempengan besi di dada dan punggung untuk melindungi mereka dari panah, tombak dan pedang. Perlengkapan pelindung ini disebut dengan baju zirah, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut breastplate atau plate armour. Selama berabad-abad baju zirah ini terbukti mampu secara signifikan mengurangi resiko kematian dari prajurit atau para ksatria  Di jaman sekarang rompi anti peluru sudah jauh lebih ringan dan fleksibel, tapi dahulu orang harus bisa menahan berat lempengan besi agar bisa melindungi organ-organ pentingnya dari serangan senjata yang bisa mengakibatkan kematian.

Sangatlah menarik ketika Paulus mengambil contoh baju zirah ini dalam beberapa kesempatan untuk menyampaikan kebenaran firman Tuhan. Misalnya dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika. Disana kita bisa menemukan Paulus menggunakan baju zirah sebagai alat "peraga" dalam menyampaikan Firman Tuhan. Ia berkata begini: "Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan." (1 Tesalonika 5:8). Kalau diibaratkan sedang berjuang atau berperang, apa yang digambarkan Paulus sebagai baju zirah adalah iman dan kasih. Iman dan kasih dikatakan dapat berfungsi sebagai baju zirah yang mampu melindungi diri baik dari serangan iblis maupun menjaga kita dari berbagai ketidakpastian dalam hidup, masalah yang datang menghampiri atau dalam menghadapi orang-orang sulit.

Apakah iman itu? Dalam Ibrani 11:1 kita bisa menemukan jawabannya. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Ketika kita berhadapan dengan segala ketidakpastian akan sesuatu yang belum terjadi, bukankah sebuah jaminan kepastian lewat iman sangat kita butuhkan? Tepatlah bahwa iman dikatakan sebagai salah satu baju zirah untuk melindungi kita dalam berperang melawan keinginan daging maupun provokasi, tipuan dan serangan si jahat.

Lalu bagaimana dengan kasih? Mungkin sepintas lalu agak terasa aneh kalau dikatakan bahwa kasih bisa berfungsi sebagai baju zirah. Tapi mari kita lihat dua ayat berikut ini: "Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran." (Amsal 10:12), "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." (1 Petrus 4:8). Dari kedua ayat ini saja kita bisa melihat bagaimana vitalnya peran kasih dalam hidup kita. Kasih bisa mencegah begitu banyak pelanggaran, dan menutupi banyak sekali dosa.

Kalau ada yang masih bingung akan korelasinya, mari kita ambil contoh kecil saja. Kalau anda disakiti orang, kasih akan membuat anda memberi pengampunan sehingga anda terhindar dari perilaku-perilaku buruk seperti sakit hati, balas dendam yang pada tingkatan ekstrim bisa mencelakakan orang lain. Kasih akan membuat anda menghindari perilaku kecurangan. Kasih akan membuat anda tidak menutup mata dari orang yang membutuhkan bantuan. Kasih akan membuat anda tidak membeda-bedakan orang. Kasih akan membuat anda tidak merugikan orang lain. Ini baru sedikit contoh dari bagaimana kasih bisa menjadi baju zirah yang melindungi kita dari membuka celah sehingga memungkinkan masuknya serangan iblis.

Dalam kesempatan lain Paulus kembali mengutip baju zirah ketika ia menggambarkan perlengkapan senjata Allah. "Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan.." (Efesus 6:14). Kalau Kepada jemaat Tesalonika Paulus menggunakan contoh baju zirah sebagai gambaran iman dan kasih. Itulah yang bisa melindungi kita, kepada jemaat Efesus Paulus mempergunakan baju zirah untuk menggambarkan keadilan sebagai salah satu perlengkapan senjata Allah untuk melawan kuasa iblis.

Firman Tuhan dalam kitab Ulangan pun berbicara tentang pentingnya keadilan ini. "Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu." (Ulangan 16:19-20). Jadi singkatnya, baju zirah merupakan senjata yang penting baik untuk bertahan, berjaga-jaga maupun berperang, dan dalam hidup kita itu akan hadir lewat kasih, iman dan keadilan.

(bersambung)


Tuesday, June 6, 2017

Proses (2)

(sambungan)

Bunyi ayatnya adalah sebagai berikut: " Kita bisa lihat ayatnya dalam surat Roma: "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara." (Roma 8:29). Bandingkan pula ayat ini dengan apa yang ditulis dalam Efesus: "tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." (Efesus 4:15-16). Perhatikan bahwa panggilan tertinggi atau the highest calling ini bukanlah sesuatu yang ditujukan untuk diperoleh secara instan, melainkan harus melalui sebuah proses berkelanjutan yang harus diisi dengan keseriusan.

Yesus mengajarkan banyak hal soal itu. Bukan cuma sekedar mengajarkan, tetapi Yesus pun telah mencontohkan, membuktikan secara langsung semua yang Dia ajarkan. Yesus sudah menjadi teladan yang sempurna bagi kita semua.

Ada sebuah kisah menarik akan hal ini yaitu kisah pada saat ibu dari anak-anak Zebedeus mendatangi Yesus agar kiranya Yesus berkenan memberikan kedua anaknya posisi tinggi secara instan. Kisah ini bisa dibaca dalam Matius 20:20-28. Lihat apa kata si ibu kepada Yesus: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (ay 21). Si ibu menginginkan sebuah hasil instan tanpa proses. Mau cari gampangnya, mau cari mudahnya, sama seperti pola pikir kita hari ini juga. Tapi Yesus kemudian mengajarkan pola pikir yang berbeda dengan apa yang dipercaya oleh dunia. Yesus berkata: "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu." (ay 26-27).

Apakah Yesus cukup hanya bertitah saja? Tidak. Dia kemudian berkata: "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28). Dan itu semua digenapi Yesus. Artinya, Yesus sudah memberi keteladanan bagi kita mengenai segala sesuatu yang Dia ajarkan. Dan dalam hal proses pertumbuhan kita dalam detail-detail dari apa yang dikirim teman saya di atas, kita bisa melihat bahwa Yesus adalah satu-satunya yang sempurna dalam memberi keteladanan itu.

Karena itulah kita seharusnya mau bersabar dan tetap bersyukur ketika berada dalam sebuah proses. Mungkin proses itu tidaklah terasa nyaman malah sakit, mungkin tidak mudah malah begitu berat dan sulit. Mungkin butuh pengorbanan besar, mungkin perlu latihan lama. Tetapi itulah masa-masa kita ditempa, dibentuk untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Yakobus mengatakan "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu." (Yakobus 1:21).

Hati yang lembut dan mau dibentuk, hati yang subur harus kita miliki sehingga Firman bisa tertanam dan bertumbuh disana. Dari masa tanam, dipupuk, tumbuh dan pada suatu ketika berbuah, itu butuh proses yang semuanya terlalu berharga untuk dilewati. Apakah proses itu lembut atau keras, semua itu bertujuan baik untuk melatih kita agar berhasil menjadi pribadi-pribadi yang dewasa secara rohani. Itu akan membuat kita mampu menapak lebih tinggi lagi sehingga tidak lagi mudah goyah ketika masalah datang menerpa kita.

Apapun itu butuh proses. Untuk bisa menuju sempurna butuh proses. Untuk bisa menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas butuh proses. Untuk bisa menjadi serupa seperti Yesus butuh proses. Bersyukurlah jika anda sedang berada dalam proses itu. Belajarlah taat, belajarlah mengampuni, belajarlah legawa, dan belajarlah untuk terus bersyukur dalam kondisi apapun. Pada suatu ketika nanti anda akan tersenyum melihat transformasi diri anda berjalan baik menjadi semakin serupa dengan Dia, yang sulung diantara banyak saudara termasuk anda dan saya.

Hidup itu harus melewati proses, pertumbuhan rohani pun butuh proses

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, June 5, 2017

Proses (1)

Ayat bacaan: Matius 20:28
===================
"sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Sejak kecil saya senang merintis sesuatu. Saya sangat suka membangun dari nol dan kemudian melihatnya bertumbuh. Sampai hari ini saya sangat menikmati itu. Banyak orang yang tidak sabar dan ingin segala sesuatunya instan. Kalau bikin apa-apa langsung sukses, cuma cari yang besar, mau yang langsung enak tanpa mempedulikan apa sebenarnya rencana Tuhan bagi dirinya. Dari pengalaman saya, seringkali apa yang menjadi rencana Tuhan justru dimulai dari sesuatu yang kecil, yang seringkali pula membutuhkan pengorbanan dari segala sisi. Kepekaan terhadap suara Tuhanlah yang bisa membuat kita berani melangkah maju dan tidak keliru dalam membuat keputusan. Kalau kita tahu memang itu rencanaNya, tentu kita tidak takut rugi di depan, dan itu akan mencegah kita dari kerugian yang diderita akibat mengambil langkah yang salah.

Saya pernah mengajar, dan itu dimulai justru dari angka honor yang terbilang sangat aneh yaitu 30 ribu saja sebulan. Itu terjadi baru 12 tahun lalu, yang artinya nilai itu memang sangat kecil. Tapi saya tahu itu rencana Tuhan, dan akhirnya terbukti. Saya kemudian sempat berkarir disana dengan pendapatan yang sangat baik dan mencapai beberapa prestasi. Lalu sekarang, saya merintis beberapa acara reguler. Itupun berawal dari nol. Bukan cuma tidak dibayar, tapi saya sendiri harus keluar uang,pikiran dan tenaga untuk waktu yang cukup lama. Kenapa saya mau melakukan itu? Karena saya tahu itu adalah bagian dari proses sesuai rencana Tuhan. Dan ya, lagi-lagi terbukti. Selain saya jadi belajar banyak lewat pengalaman seiring waktu, saya sekarang mendapat support dari banyak pihak dan yang paling penting, lewat acara-acara itu saya bisa memberkati banyak orang, terutama para musisi muda yang butuh jam terbang untuk bisa menjadi pemain-pemain handal di masa depan.

Semakin tinggi teknologi bukan membuat orang semakin sabar, tetapi malah semakin melupakan atau mengabaikan proses dan hanya mencari hasil yang cepat tanpa peduli kualitas apalagi penggenapan rencana Tuhan. Segala sesuatu yang dibuat serba instan bisa menjadi bukti nyata bagaimana fenomena ini semakin bertambah subur di dalam kehidupan manusia modern. Kopi instan, mi instan, makanan-makanan cepat saji dan sebagainya, itu membuktikan bahwa manusia semakin tidak peduli terhadap proses dalam menghasilkan sesuatu melainkan hanya ingin hasil akhirnya.

Dalam hal kerohanian pun sama. Tuhan berbicara mengenai proses dalam begitu banyak ayat baik dalam Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, itu menunjukkan betapa pentingnya sebuah proses dalam pertumbuhan dan pendewasaan diri di mata Tuhan. Bukankah proses kita dari lahir sampai dewasa hari ini juga melewati sebuah tahapan atau proses yang tidak singkat? Tidak ada bayi instan yang langsung menjadi dewasa secara instan pula. Bayi bertumbuh dari janin di dalam kandungan selama 9 bulan, lalu masa pertumbuhan pun berjalan tahunan. Balita, remaja, dewasa, itu makan waktu yang sangat lama.

Begitu pula kedewasaan spiritual atau rohani kita. Meski Tuhan mengatakan bahwa dengan menerima Kristus kita menjadi ciptaan baru, tetapi kita tetap harus berproses setiap hari untuk bisa menjadi orang-orang dengan tingkat kerohanian dewasa. Ibrani 5:11-14 menggambarkan proses pertumbuhan secara spiritual ini yang digambarkan bagai proses pendewasaan manusia, mulai dari susu saat bayi hingga makanan keras saat sudah dewasa. Proses ini seharusnya dilakukan atau dilewati oleh oleh orang-orang percaya termasuk saya dan anda. Tetapi keenganan manusia untuk berproses dan lebih mementingkan hasil akhir bisa membuat kita kehilangan arah hingga kita tidak bisa mencapai pertumbuhan iman yang seharusnya.

Ada sebuah bahan renungan yang pernah dikirim oleh seorang teman saya di kota lain.

"Banyak yang ingin sekuat baja tetapi enggan di TEMPA. Banyak yang ingin secemerlang emas tapi enggan DILEBUR. Banyak yang ingin berguna di dunia tapi enggan BERBAGI. Banyak yang ingin mengasihi tapi enggan MENGAMPUNI. Banyak yang ingin menjadi baik tetapi enggan BERBUAT BENAR. Banyak yang ingin jadi pahlawan tapi enggan BERKORBAN. Banyak yang ingin menuai tapi enggan MENABUR. Yesus adalah TELADAN sempurna bagi kita." 

Mari kita renungkan dan cerna baik-baik. Bukankah itu benar? Kita cenderung menginginkan sesuatu yang instan dan jika keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita, maka kita pun dengan cepat menyalahkan Tuhan. Rangkaian kata di atas kalau kita telaah satu persatu berdasarkan Firman Tuhan, maka kita mungkin harus berhadapan dengan ratusan ayat yang saling berhubungan. Sedemikian banyaknya Firman Tuhan yang berbicara akan hal ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah proses bagi kita.

Satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa panggilan yang paling tinggi bagi orang percaya, the highest calling for believers, adalah "menjadi serupa dengan Kristus."

(bersambung)


Sunday, June 4, 2017

Mengeluh atau Besyukur? (2)

(sambungan)

Di sisi lain, lihatlah apa yang terjadi pada orang-orang Israel saat menuju tanah terjanji. Sebagian besar dari mereka gagal mencapai tanah tersebut yaitu tanah Kanaan. Tuhan telah melepaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir, menyediakan masa depan bagi mereka, berjalan langsung di depan memimpin mereka, menurunkan berbagai berkat dan pertolongan selama perjalanan, dan sebagainya. Namun apa yang dilakukan oleh bangsa Israel ketika itu? Bersyukurkah mereka? Mereka malah bersungut-sungut, protes, mulut mereka penuh dengan keluhan, hujatan dan kesinisan, dan itulah yang terjadi. Mereka gagal mencapai apa yang telah dijanjikan Tuhan.

Mengenai perkataan, Amsal berkata: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). Hidup yang menggambarkan semangat, gairah, motivasi, pengharapan, dan sebagainya, dikuasai lidah, dan sebaliknya, mati yang menggambarkan depresi, patah semangat, putus asa, dan sebagainya pun dikuasai lidah. Bersungut-sungut tidak akan membawa manfaat apa-apa selain kegagalan yang akan berujung pada kebinasaan. Dalam Korintus tertulis: "Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut." (1 Korintus 10:10).

Lewat kisah penggandaan lima roti dan dua ikan di atas kita sebenarnya bisa melihat kuasa sebesar apa yang bisa hadir lewat ucapan syukur. Lalu sebaliknya, untuk orang yang suka bersungut-sungut dan mempergunakan mulutnya untuk hal-hal yang negatif, konsekuensi yang harus ditanggung pun jelas. Kalau kita merenungkan baik-baik kedua hal ini, seharusnya kita tahu apa yang terbaik kita lakukan.

Apa yang mengisi mulut kita secara dominan hari-hari ini? Apakah ucapan syukur, puji-pujian atau sebaliknya keluh kesah, umpatan atau makian? Hidup atau mati, itu dikuasai lidah. Lidah yang berasal dari hati yang senantiasa bersyukur akan penuh pula dengan ucapan syukur, begitu pula sebaliknya. Sebuah pesan penting pun muncul. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18).

Apakah akibat tekanan hidup, panasnya suhu bumi, atau apapun alasannya, hendaklah kita tidak terjebak pada emosi yang merusak jiwa dan hati kita. Selain bisa membawa kita kepada berbagai penyakit bahkan kematian, hal tersebut juga mengarah pada kegagalan bahkan kebinasaan. Hidup yang penuh ucapan syukur akan tetap bersukacita walau badai menerpa sekalipun. Hati yang penuh rasa syukur tidak akan terpengaruh oleh suhu dan tekanan, bahkan bisa mendatangkan berkat dan kuasa mukjizat.

Apapun yang kita hadapi hari ini, manis atau pahit sekalipun, jangan pernah berhenti untuk mengucap syukur. Biarlah Tuhan bertahta di atas puji-pujian dan ucapan syukur kita dan alamilah segala kebaikan Tuhan tercurah sepenuhnya atas kita.

Quit complaining and give thanks

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, June 3, 2017

Mengeluh atau Bersyukur? (1)

Ayat bacaan: Lukas 9:16
===================
"Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak."

Semakin lama manusia semakin sulit untuk bersyukur. Penyebabnya ada banyak. Tekanan ekonomi yang membuat pemenuhan kebutuhan baik primer, sekunder maupun tertier terkendala, banyaknya orang-orang yang sulit diatur, diajak kerjasama atau bahkan provokatif, berbagai agenda yang harus diselesaikan, tumpukan masalah yang bertubi-tubi, hingga cuaca yang terlalu panas saja sering membuat orang kehilangan kendali atas emosinya. Pagi ini ketika saya bangun, saya langsung teringat akan beberapa hal yang harus saya selesaikan, yang belakangan memang cukup menyita waktu, pikiran dan energi.

Saya tidak ingin pagi hari saya sudah diganggu oleh masalah yang akan segera merebut sukacita dari diri saya sejak menit pertama saya bangun. Saya tidak ingin kehilangan kesempatan merasakan adanya rahmat Tuhan yang baru, yang bisa luput dari perhatian saat berbagai problem berkecamuk di pikiran saya, lantas menyebabkan polusi dalam hati saya. Saya ingin pagi hari diisi dengan merenungkan kebaikan Tuhan, dan mengisi hati, pikiran dan ucapan dengan ucapan syukur. Saya yakin itu akan membuat hari ini jauh lebih indah untuk dijalani, meski masalah tetap belum hilang dan masih harus dihadapi. Kalau pikiran tentang kesulitan dan permasalahan hidup kita biarkan merasuk di pagi hari, kita bisa menghabiskan hari dengan keluhan dan umpatan. Hati yang sudah panas sejak pagi akan membuat hari tidak lagi menyenangkan untuk dilalui.

Pemikiran ini kemudian membawa saya pada sebuah perenungan: apa yang lebih mendominasi mulut kita saat ini? Apakah keluh kesah, umpatan, omelan, gerutu, atau puji-pujian penuh ucapan syukur? Tidak ada yang mudah dalam hidup ini, apalagi ketika dunia semakin tua semakin dipenuhi krisis multi dimensi. Tapi apakah itu kita biarkan untuk merampas sukacita dalam diri kita? Haruskah kita menyerahkan keceriaan pagi dan sukacita sepanjang hari dengan setumpuk pemikiran tentang masalah hidup? Adakah itu membantu atau malah menambah masalah saja?

Mari kita lihat sebuah kisah yang sangat familiar bagi kita saat Yesus melakukan mukjizat dengan menggandakan lima roti dan dua ikan yang mampu memberi makan 5000 orang, belum termasuk wanita dan anak-anak. Sudah memberi makan sebegitu banyak orang, mukjizat itu masih menyisakan 12 bakul penuh.

Mari kita lihat lebih dekat apa yang terjadi disana. Ketika itu ada ribuan orang yang mendengarkan pengajaran Yesus tentang Kerajaan Allah, dan mendapat kesembuhan dari Yesus. Ketika matahari mulai tenggelam, datanglah para murid kepada Yesus dan meminta Yesus agar memulangkan mereka semua, agar mereka bisa makan dan mencari penginapan. Apa jawab Yesus? "Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Kamu harus memberi mereka makan!" (Lukas 9:13a). Apa jawab para murid? "Mereka menjawab: "Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini." (ay 13b). Yesus kemudian meminta lima roti dan dua ikan itu.

Perhatikan apa yang selanjutnya dilakukan Yesus. "Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak." (Lukas 9:16). Yesus mengucap berkat, mengucap syukur, lalu mulai memecah-mecahkan roti. Dari apa yang dilakukan Yesus kita bisa menyaksikan betapa luar biasanya kuasa yang berasal dari ucapan syukur.

Kalau melihat situasi saat itu, logikanya manusia akan mudah mengeluh. Bagaimana tidak? Sudah capai, sudah harus melayani ribuan orang, masih harus ditambah dengan keharusan memberi makan semua orang itu. Jumlahnya bukan sedikit, ada 5000 orang belum termasuk wanita dan anak-anak. Dikali dua saja bisa 10.000 orang jumlahnya. Bukankah itu masalah besar? Itu sudah cukup untuk membuat kita pusing, mengeluh dan lupa bersyukur. Tapi Yesus mengajarkan kita untuk memeriksa apa yang ada, lantas mengucap berkat dan mengucap syukur atasnya. Dan itu ternyata cukup untuk mendatangkan sesuatu yang ajaib. Ucapan syukur mampu mendatangkan berkat dan mukjizat yang tidak terpikirkan sekalipun.

(bersambung)


Friday, June 2, 2017

Manual Kehidupan (2)

(sambungan)

Seperti yang saya katakan, saya sudah merasakan sendiri indahnya berjalan bersama Firman Tuhan setiap harinya. Indah disini bukan berarti bahwa hidup menjadi lebih mudah, tanpa masalah dan harta berlimpah-limpah. Tentu bukan seperti itu. Saya pun menghadapi masalah-masalah tersendiri. Tetapi keberadaan Tuhan dalam setiap hal yang saya jalani membuat saya lebih kuat dan tenang dalam menghadapinya. Saya tidak perlu kehilangan sukacita dan damai sejahtera meski kondisi mungkin sedang sulit-sulitnya. Dengan berpegang teguh dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan, saya tidak harus kehilangan harapan dalam kondisi separah apapun. Saya tahu Dia akan selalu meneguhkan dan pada waktunya menolong. FirmanNya hidup, dan itu menjadi pegangan yang mampu membuat saya tetap semangat dan tegar dalam segala kondisi. Karena itu saya merasa sangat senang membagikan Firman Tuhan setiap harinya untuk bersama-sama kita renungkan.

Satu kesimpulan penting yang saya dapatkan adalah bahwa segala jawaban dalam kehidupan ini sesungguhnya tertulis di dalam Alkitab. Apapun permasalahan yang ada, apapun pergumulan kita, apapun yang kita butuhkan, pertanyaan apapun yang butuh jawaban, Firman Tuhan dalam Alkitab menjawab dan memberi solusinya. Itulah sebabnya saya terus haus akan Firman Tuhan setiap hari dan selalu rindu membagikannya karena selalu saja ada jawaban disana yang akan sangat berguna bagi kita semua.

Ada ayat yang berkata: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Lihatlah betapa besar manfaat yang diberikan Firman Tuhan kepada kita. Dalam tiap ayatnya selalu ada bimbingan yang mengarahkan kita dalam kebenaran, dan itu bisa memberi hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman akan Kristus (ay 15). Lalu lihat ayat pembuka Mazmur dikatakan: "Berbahagialah orang yang..kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Dari Mazmur ini kita bisa melihat dahsyatnya kuasa yang akan menyertai orang-orang yang gemar membaca, merenungkan dan melakukan firman Tuhan. Kita akan kehilangan itu semua apabila kita menyia-nyiakan atau mengabaikan kesempatan yang ada untuk mengetahui segala tulisan yang diilhamkan Allah kepada kita seperti yang sudah tertulis sejak lama di dalam Kitab Suci.

Alkitab secara lengkap telah menyatakan segala hal, pesan, janji dan jawaban serta solusi yang bisa menuntun kita dalam kebenaran menuju keselamatan. Alkitab memberi hikmat kepada kita. Ada kuasa di dalamnya, dan Firman itu hidup. Semua itu akan lepas dari genggaman kita apabila kita tidak juga mau meluangkan waktu untuk membaca, merenungkan, memperkatakan dan melakukannya. Segala tuntunan dalam perjalanan kehidupan, segala jawaban dari pertanyaan dan kesulitan-kesulitan kita hingga selamat sampai di tujuan sudah tesedia dalam Alkitab.

Jika demikian semua tergantung kita. Apakah kita mau mulai untuk membacanya dengan serius dan sungguh-sungguh, menggali dalam-dalam tentang kebenaran agar bisa terus memahami prinsip Kerajaan dan isi hati Tuhan, atau kita tetap hanya membiarkan Alkitab kita tergeletak tanpa disentuh. Kalaupun malas berat menenteng buku, dengan gadget-gadget sekarang seharusnya kita sudah lebih terbantu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan sehingga tidak lagi ada alasan yang untuk kesulitan mengakses Kitab Suci.

Jika saya sudah dan akan terus mendapatkan segala jawaban tentang kehidupan baik yang saat ini maupun yang akan datang lewat Alkitab, saya percaya teman-teman pun pasti demikian. Semakin banyak yang anda ketahui, semakin banyak rahasia Kerajaan Allah yang disingkapkan, maka semakin anda tahu bahwa hidup ini sangatlah indah jika dijalani bersama Tuhan dalam setiap langkahnya.

Alkitab menjawab semua pertanyaan dan permasalahan dalam hidup kita dan menyediakan solusi yang benar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...