(sambungan)
Pembangkangan seperti apa? Ada yang jelas-jelas melanggar dengan melakukan hal-hal jahat dan sesat, ada pula bentuk-bentuk pembangkangan mungkin tidak terlihat nyata, tapi secara tidak sadar kita sering melakukannya. Beberapa contoh akan saya berikan dengan dihubungkan pada beberapa ayat yang sudah kita kenal baik.
Waktu Yesus mengatakan "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28), kita cenderung menolak dan mengambil alasan terlalu sibuk dengan kegiatan, pekerjaan atau aktivitas-aktivitas lainnya. Waktu Tuhan menginginkan kita untuk rajin membaca dan merenungkan FirmanNya, "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam" (Yosua 1:8), kita berdalih tidak punya cukup waktu untuk melakukannya.
Ketika Tuhan berseru "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11), kita menolak untuk diam, karena merasa diam itu hanya berarti buang-buang waktu. Daripada diam, kita jauh lebih tertarik untuk panik dan terus mencari jalan menurut kita sendiri, termasuk mengambil keputusan-keputusan yang justru semakin keliru, semakin jauh dari kehendak Bapa.
Lantas ketika Tuhan berkata "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:16), kita malah berkata, "nanti dulu, bukankah dunia ini penuh dengan kenikmatan dan kesenangan yang sayang untuk diabaikan?" Waktu Tuhan mengingatkan kita bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus sehingga kita harus memuliakan Allah dengan tubuh kita (1 Korintus 6:19-20), kita tetap saja memasukkan berbagai zat atau benda yang akan sangat mengotori tubuh kita.
Ini baru beberapa contoh saja mengenai pembangkangan yang sering dilakukan orang percaya. Bukannya taat, kita menyerah pada keadaan dan ikut-ikutan berlaku sesat seperti yang dilakukan banyak orang. Padahal disetiap perintah Tuhan tersimpan janji luar biasa yang siap diberikan kepada kita sebagai upahnya. Terutama, saat kita hidup sesuai kebenaran dan menjalaninya sebagai murid Kristus yang taat, bukankah keselamatan kekal menjadi hak kita? Sayangnya kita justru lebih tertarik untuk urusan-urusan lainnya di dunia ini lebih dari menunjukkan ketaatan kepada Tuhan. Apa yang dirasakan Tuhan melihat perilaku-perilaku kita yang dengan berbagai alasan menomor-duakan dan mengabaikanNya? Tuhan akan sangat sedih dan kecewa karena semua yang terbaik yang Dia berikan kita abaikan sia-sia.
(bersambung)
Saturday, January 14, 2017
Friday, January 13, 2017
Pembangkang (1)
Ayat bacaan: Mikha 6:8
======================
"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"
Seorang teman memutuskan untuk membatasi tontonan anaknya di televisi. Ada banyak stasiun televisi lokal, tapi hampir-hampir tidak ada yang aman bagi anak. Mayoritas sibuk mengejar rating dan tidak mempedulikan dampaknya bagi anak. Sinetron-sinetron semakin saja mengajarkan keburukan moral. Orang tua atau orang dewasa yang kejam, anak-anak yang tidak tahu sopan santun, berbagai sifat kasar, tipu menipu, perselingkuhan, orang yang batinnya teraniaya, semua dipertontonkan dengan bebas setiap hari sehingga kalau kita terus menontonnya lama-lama kita akan menganggap semua itu sebagai hal biasa. Bayangkan jika anak-anak yang masih polos menyerap semua ini, mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak berperilaku buruk. Ada banyak orang tua yang terlalu sibuk sehingga gagal memperhatikan tontonan anaknya. Pergaulan yang tidak diperhatikan pun bisa merusak moral mereka. Sementara terlalu ketat membuat anak tidak pintar bersosialisasi. Serba salah, tapi itulah salah satu tugas orang tua. Teman saya ini menyadari hal itu. Mengingat anaknya masih di usia dini, ia memutuskan untuk menghilangkan beberapa channel dari televisinya. Kemudian menyewa tv cable dengan prioritas pada acara-acara untuk anak. "Mahal sedikit tidak apa-apa, yang penting anak-anak saya aman." katanya.
Semakin lama semakin banyak anak yang suka membangkang pada orang tuanya. Ini adalah salah satu dari sekian banyak hal negatif yang timbul akibat kurangnya pendidikan moral dan budi pekerti yang seharusnya dilakukan oleh orang tua. Kalau tidak dijaga, mereka bisa disesatkan oleh tayangan-tayangan buruk, lingkungan pergaulan dan lain-lain. Dunia dengan segala kecemaran akan terus berusaha mengkontaminasi lebih banyak lagi orang. Dan sikap membangkang hanyalah satu dari sekian banyak problematika yang timbul sejak usia dini.
Menghadapi anak-anak yang sudah terlanjur tumbuh sebagai pembangkang tidak mudah. Selain dibutuhkan kesabaran ekstra, bentuk hukuman yang diberikan pun harus benar-benar cermat dipikirkan. Jika terlalu keras bisa membuat mereka tambah berontak, jika terlalu lembut tidak membawa efek jera. Kalau anak-anak saja sudah susah diurus, bayangkan jika anda berhadapan dengan orang yang sudah dewasa tapi punya tipe pembangkang seperti itu. Mereka sulit mendengar tapi cepat membantah atau melawan, bahkan sebelum mereka mengetahui terlebih dahulu duduk perkaranya. Ada banyak pula tipe pembangkang yang hanya melawan karena hanya ingin beda biar keren. Yang penting beda, benar tidak itu urusan belakangan. Seperti itu kira-kira. Anda tentu pernah bertemu orang-orang seperti ini dan merasakan kekesalan, sedih, kecewa bahkan emosi saat harus berhadapan atau berhubungan dengan mereka.
Kalau terhadap manusia yang kelihatan kita terbiasa membangkang, apalagi terhadap Tuhan yang tidak kasat mata. Bagaimana dengan kita? apakah kita pernah berpikir seperti apa perasaan Tuhan menghadapi pembangkangan dari anak-anakNya sendiri? Ada banyak orang percaya yang menolak untuk taat sepenuhnya kepada Tuhan dan terus melemparkan alasan demi alasan sebagai pembenaran. Ada banyak orang yang berkompromi terhadap dosa dan mengira bahwa sedikit-sedikit itu tidak apa-apa. Bisa dibayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya Tuhan melihat perilaku seperti ini. Jika kita bisa merasa kesal, kecewa, sedih dan sebagainya menghadapi beberapa orang saja, Tuhan pun akan merasakan hal yang sama jika harus menghadapi begitu banyak anak-anakNya sendiri yang terus menerus membangkang, melawan ketetapanNya.
Padahal Tuhan memberikan segala yang terbaik, menjanjikan keselamatan bahkan rela ketika harus mengorbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus mati demi kita. Semua itu bukan lagi akan diberikan, tetapi sudah terlebih dahulu diberikan ketika manusia masih berlumur dosa. Tapi apa yang kita berikan sebagai balasannya? Bukannya bersyukur dan menghargai dengan mematuhiNya, manusia malah terus melawan dan membangkang. Tuhan jelas kecewa dan sedih, bukan saja karena harus berhadapan dengan kebandelan kita tapi juga karena itu berarti kita menolak kasih karunia yang sudah Dia berikan dan lebih suka binasa.
(bersambung)
======================
"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"
Seorang teman memutuskan untuk membatasi tontonan anaknya di televisi. Ada banyak stasiun televisi lokal, tapi hampir-hampir tidak ada yang aman bagi anak. Mayoritas sibuk mengejar rating dan tidak mempedulikan dampaknya bagi anak. Sinetron-sinetron semakin saja mengajarkan keburukan moral. Orang tua atau orang dewasa yang kejam, anak-anak yang tidak tahu sopan santun, berbagai sifat kasar, tipu menipu, perselingkuhan, orang yang batinnya teraniaya, semua dipertontonkan dengan bebas setiap hari sehingga kalau kita terus menontonnya lama-lama kita akan menganggap semua itu sebagai hal biasa. Bayangkan jika anak-anak yang masih polos menyerap semua ini, mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak berperilaku buruk. Ada banyak orang tua yang terlalu sibuk sehingga gagal memperhatikan tontonan anaknya. Pergaulan yang tidak diperhatikan pun bisa merusak moral mereka. Sementara terlalu ketat membuat anak tidak pintar bersosialisasi. Serba salah, tapi itulah salah satu tugas orang tua. Teman saya ini menyadari hal itu. Mengingat anaknya masih di usia dini, ia memutuskan untuk menghilangkan beberapa channel dari televisinya. Kemudian menyewa tv cable dengan prioritas pada acara-acara untuk anak. "Mahal sedikit tidak apa-apa, yang penting anak-anak saya aman." katanya.
Semakin lama semakin banyak anak yang suka membangkang pada orang tuanya. Ini adalah salah satu dari sekian banyak hal negatif yang timbul akibat kurangnya pendidikan moral dan budi pekerti yang seharusnya dilakukan oleh orang tua. Kalau tidak dijaga, mereka bisa disesatkan oleh tayangan-tayangan buruk, lingkungan pergaulan dan lain-lain. Dunia dengan segala kecemaran akan terus berusaha mengkontaminasi lebih banyak lagi orang. Dan sikap membangkang hanyalah satu dari sekian banyak problematika yang timbul sejak usia dini.
Menghadapi anak-anak yang sudah terlanjur tumbuh sebagai pembangkang tidak mudah. Selain dibutuhkan kesabaran ekstra, bentuk hukuman yang diberikan pun harus benar-benar cermat dipikirkan. Jika terlalu keras bisa membuat mereka tambah berontak, jika terlalu lembut tidak membawa efek jera. Kalau anak-anak saja sudah susah diurus, bayangkan jika anda berhadapan dengan orang yang sudah dewasa tapi punya tipe pembangkang seperti itu. Mereka sulit mendengar tapi cepat membantah atau melawan, bahkan sebelum mereka mengetahui terlebih dahulu duduk perkaranya. Ada banyak pula tipe pembangkang yang hanya melawan karena hanya ingin beda biar keren. Yang penting beda, benar tidak itu urusan belakangan. Seperti itu kira-kira. Anda tentu pernah bertemu orang-orang seperti ini dan merasakan kekesalan, sedih, kecewa bahkan emosi saat harus berhadapan atau berhubungan dengan mereka.
Kalau terhadap manusia yang kelihatan kita terbiasa membangkang, apalagi terhadap Tuhan yang tidak kasat mata. Bagaimana dengan kita? apakah kita pernah berpikir seperti apa perasaan Tuhan menghadapi pembangkangan dari anak-anakNya sendiri? Ada banyak orang percaya yang menolak untuk taat sepenuhnya kepada Tuhan dan terus melemparkan alasan demi alasan sebagai pembenaran. Ada banyak orang yang berkompromi terhadap dosa dan mengira bahwa sedikit-sedikit itu tidak apa-apa. Bisa dibayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya Tuhan melihat perilaku seperti ini. Jika kita bisa merasa kesal, kecewa, sedih dan sebagainya menghadapi beberapa orang saja, Tuhan pun akan merasakan hal yang sama jika harus menghadapi begitu banyak anak-anakNya sendiri yang terus menerus membangkang, melawan ketetapanNya.
Padahal Tuhan memberikan segala yang terbaik, menjanjikan keselamatan bahkan rela ketika harus mengorbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus mati demi kita. Semua itu bukan lagi akan diberikan, tetapi sudah terlebih dahulu diberikan ketika manusia masih berlumur dosa. Tapi apa yang kita berikan sebagai balasannya? Bukannya bersyukur dan menghargai dengan mematuhiNya, manusia malah terus melawan dan membangkang. Tuhan jelas kecewa dan sedih, bukan saja karena harus berhadapan dengan kebandelan kita tapi juga karena itu berarti kita menolak kasih karunia yang sudah Dia berikan dan lebih suka binasa.
(bersambung)
Thursday, January 12, 2017
Pentingnya Pengambilan Keputusan (2)
(sambungan)
Mari kita lihat reaksi Musa ketika ia hendak diutus Tuhan. "Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?" (Keluaran 4:1). Tuhan pun kemudian menunjukkan beberapa mukjizat dengan mengubah tongkatnya menjadi ular. Patuhkah Musa? Ternyata belum. Ia kembali mengeluarkan alasan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (ay 10). Tuhan kemudian mengingatkan Musa bahwa semua yang ada pada Musa itu Dia sendiri yang menciptakan. "Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (ay 11).
Ayat ini jelas mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang akan menyertai dan mengajar kita dalam melakukan tugas-tugas Kerajaan. Bukan kehebatan dan kekuatan kita yang Tuhan minta, tetapi kepatuhan kita. Tapi Musa masih ragu dan berkelit lagi. "Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." (ay 13). Karena terus begitu, Tuhan pun marah. Musa kemudian takut, dan memutuskan untuk taat pada perintah Tuhan. Dalam ayat 18 kita bisa melihat keputusan Musa untuk taat menjalani apa yang diperintahkan Tuhan. Kita tahu bagaimana Tuhan kemudian memakai Musa secara luar biasa, dimana hasilnya masih tetap harum dikenang orang hingga hari ini.
Masalah berkelit dan berbantah ini tidak hanya dilakukan Musa. Ada beberapa nabi lainnya yang juga melakukan hal ini. Nabi Yeremia misalnya. Ia berkelit dengan alasan bahwa ia terlalu muda untuk menjalani tugas berat dan belum saatnya untuk tampil di depan. (Yeremia 1:6). Kepada Yeremia Tuhan mengatakan: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan." (Yeremia 1:7). Apa dasarnya? "Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (ay 8).
Contoh lain, Yunus yang memilih untuk melarikan diri dari tugas yang disematkan Tuhan kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana mereka dipakai Tuhan secara luar biasa. Dari contoh-contoh ini jelas terlihat bahwa semua itu berawal dari sebuah keputusan. Tuhan mengutus, itu satu hal, tapi apakah kita mau taat atau menolak, itu hal lain. Kalau kita mengambil keputusan untuk menolak maka apapun rencana Tuhan, kita tidak akan membawa perubahan apa-apa. Keputusan yang kita ambil hari ini akan sangat menentukan di masa depan. Dampaknya seringkali bukan hanya untuk diri sendiri melainkan menyangkut kehidupan banyak orang. Mungkin awalnya tidak banyak, tapi sangat mungkin untuk meningkat atau bertumbuh.
Kita terbiasa untuk punya seribu satu alasan untuk menghindar dari apa yang diinginkan Tuhan untuk kita perbuat. Jangankan melayani, membantu orang yang susah saja rasanya sudah berat. Padahal Tuhan ingin kita semua menjadi perpanjangan tanganNya untuk mewartakan Injil, menjadi garam dan terang, agar dunia bisa mengenal Kristus dan selamat lewat diri kita masing-masing. Terlalu muda, terlalu tua, tidak pandai bicara, terlalu sibuk, sulit menghadapi orang, kekhawatiran ini dan itu, bagaimana jika begini dan begitu, semua ini selalu menjadi alasan kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan.
Bagi teman-teman yang belum menjadi rekan sekerja Tuhan, apa yang menjadi kendala bagi anda untuk masih belum bekerja untukNya? Percayalah bahwa ketika anda menjalaninya, anda akan melihat sendiri bahwa yang diinginkan Tuhan hanyalah kerelaan kita untuk membagi sedikit waktu. Siapapun bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, karena Tuhan tidak butuh ahli-ahli melainkan butuh hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan telah mengasihi kita. Tuhan tahu persis kekurangan dan kelemahan kita masing-masing. Tapi itu semua tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk mampu bekerja di ladang Tuhan. Yang Dia butuhkan adalah kemauan kita, bukan kemampuan kita. Dan Dia sedang menanti kita untuk bersukacita bekerja bersamaNya. Bukankah adalah sebuah kehormatan jika Tuhan mau memakai kita?
Tuhan tidak memerlukan kuat dan hebat kita, bukan kemampuan kita, yang Dia inginkan hanyalah kemauan kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Mari kita lihat reaksi Musa ketika ia hendak diutus Tuhan. "Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?" (Keluaran 4:1). Tuhan pun kemudian menunjukkan beberapa mukjizat dengan mengubah tongkatnya menjadi ular. Patuhkah Musa? Ternyata belum. Ia kembali mengeluarkan alasan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (ay 10). Tuhan kemudian mengingatkan Musa bahwa semua yang ada pada Musa itu Dia sendiri yang menciptakan. "Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (ay 11).
Ayat ini jelas mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang akan menyertai dan mengajar kita dalam melakukan tugas-tugas Kerajaan. Bukan kehebatan dan kekuatan kita yang Tuhan minta, tetapi kepatuhan kita. Tapi Musa masih ragu dan berkelit lagi. "Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." (ay 13). Karena terus begitu, Tuhan pun marah. Musa kemudian takut, dan memutuskan untuk taat pada perintah Tuhan. Dalam ayat 18 kita bisa melihat keputusan Musa untuk taat menjalani apa yang diperintahkan Tuhan. Kita tahu bagaimana Tuhan kemudian memakai Musa secara luar biasa, dimana hasilnya masih tetap harum dikenang orang hingga hari ini.
Masalah berkelit dan berbantah ini tidak hanya dilakukan Musa. Ada beberapa nabi lainnya yang juga melakukan hal ini. Nabi Yeremia misalnya. Ia berkelit dengan alasan bahwa ia terlalu muda untuk menjalani tugas berat dan belum saatnya untuk tampil di depan. (Yeremia 1:6). Kepada Yeremia Tuhan mengatakan: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan." (Yeremia 1:7). Apa dasarnya? "Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (ay 8).
Contoh lain, Yunus yang memilih untuk melarikan diri dari tugas yang disematkan Tuhan kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana mereka dipakai Tuhan secara luar biasa. Dari contoh-contoh ini jelas terlihat bahwa semua itu berawal dari sebuah keputusan. Tuhan mengutus, itu satu hal, tapi apakah kita mau taat atau menolak, itu hal lain. Kalau kita mengambil keputusan untuk menolak maka apapun rencana Tuhan, kita tidak akan membawa perubahan apa-apa. Keputusan yang kita ambil hari ini akan sangat menentukan di masa depan. Dampaknya seringkali bukan hanya untuk diri sendiri melainkan menyangkut kehidupan banyak orang. Mungkin awalnya tidak banyak, tapi sangat mungkin untuk meningkat atau bertumbuh.
Kita terbiasa untuk punya seribu satu alasan untuk menghindar dari apa yang diinginkan Tuhan untuk kita perbuat. Jangankan melayani, membantu orang yang susah saja rasanya sudah berat. Padahal Tuhan ingin kita semua menjadi perpanjangan tanganNya untuk mewartakan Injil, menjadi garam dan terang, agar dunia bisa mengenal Kristus dan selamat lewat diri kita masing-masing. Terlalu muda, terlalu tua, tidak pandai bicara, terlalu sibuk, sulit menghadapi orang, kekhawatiran ini dan itu, bagaimana jika begini dan begitu, semua ini selalu menjadi alasan kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan.
Bagi teman-teman yang belum menjadi rekan sekerja Tuhan, apa yang menjadi kendala bagi anda untuk masih belum bekerja untukNya? Percayalah bahwa ketika anda menjalaninya, anda akan melihat sendiri bahwa yang diinginkan Tuhan hanyalah kerelaan kita untuk membagi sedikit waktu. Siapapun bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, karena Tuhan tidak butuh ahli-ahli melainkan butuh hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan telah mengasihi kita. Tuhan tahu persis kekurangan dan kelemahan kita masing-masing. Tapi itu semua tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk mampu bekerja di ladang Tuhan. Yang Dia butuhkan adalah kemauan kita, bukan kemampuan kita. Dan Dia sedang menanti kita untuk bersukacita bekerja bersamaNya. Bukankah adalah sebuah kehormatan jika Tuhan mau memakai kita?
Tuhan tidak memerlukan kuat dan hebat kita, bukan kemampuan kita, yang Dia inginkan hanyalah kemauan kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Wednesday, January 11, 2017
Pentingnya Pengambilan Keputusan (1)
Ayat bacaan: Keluaran 4:11-12
======================
"Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."
Ada teman saya yang melayani sebagai pemain bass di gereja. Sejauh yang saya lihat, ia merupakan pemain bass yang handal. Rhythm feel nya bagus, dia punya groove dan intuisi dan instingnya pun hidup. Saat ia melakukan 'walking bass' pun keren. Suatu kali saat ngobrol, saya menanyakan dimana atau dari siapa ia belajar. Sambil tertawa ia berkata bahwa Tuhanlah guru bassnya. Saya terkejut dan bertanya, bagaimana bisa? Maka ia bercerita awal mulanya ia berkenalan dengan instrumen ini.
Awalnya ia merupakan pemain gitar dalam tim musik gereja. Suatu kali pemain bass berhalangan hanya beberapa jam sebelum kebaktian raya. Mencari pengganti dadakan tidaklah mudah. Alternatif tentu mengarah kepada pemain gitar. Tapi teman saya ini belum pernah memegang bass sama sekali sebelumnya. Tidak ada lagi orang lain yang bisa, waktu terus berjalan. Ia mengambil waktu berdoa, dan kemudian setelahnya dengan teguh ia menyatakan kesediaannya untuk menjadi pemain bass. Ia hanya sempat membunyikan bass beberapa saat sebelum tampil di depan. Dan ternyata, ia sendiri kaget dengan hasilnya. "Tangan saya seolah dituntun. Mula-mula saya berusaha berpikir cepat untuk mencerna intuisi meniti fret gitar bass, tapi kemudian saya membiarkan jari saya mengalir, mengikuti kemana Tuhan mau." katanya. Sejak saat itu ia pun beralih menjadi pemain bass.
Ia kemudian berkata bahwa seringkali pikiran kita mengintervensi rencana Tuhan. Kita tidak cukup percaya kepadaNya dan lebih mengandalkan logika dan penilaian kita sendiri terhadap kemampuan kita. Tidaklah heran kalau akhirnya kita minim pengalaman akan kuasa Tuhan yang supranatural, karena kita tidak membiarkan Tuhan bekerja atas diri kita. "Yang Tuhan cari itu orang yang mau, bukan yang mampu. Kalau kita mau, Tuhan yang memampukan." katanya.
Saya setuju dengannya. Saya mengalami sendiri hal itu. Saya bukanlah lulusan sekolah Alkitab, bukan pula penulis. Sebelumnya saya tidak pernah menulis selain tugas-tugas di sepanjang pendidikan formal, bahkan diary pun tidak. Waktu saya memutuskan untuk menulis renungan, saya masih bolong-bolong berdoa dan tidak betah membaca Alkitab. Bacanya malam, aminnya pagi, karena ketiduran. Itu sering sekali terjadi. Oleh karena itulah saat saya mendengar dalam hati saya sebuah 'suara' yang cukup jelas agar saya mulai melayani lewat menulis renungan, saya tidak langsung merespon untuk melakukannya. Mau tulis apa? Itu harus dilakukan tiap hari dan harus bisa menyampaikan kebenaran Firman Tuhan dengan aplikasinya masing-masing. Tapi kemudian saya mendengar kata-kata yang sama. "Yang Aku cari bukan orang yang mampu, tapi yang mau." Dan saya memutuskan untuk mau.
Hari ini saya sudah memasuki tahun ke 10 dalam meluangkan waktu setiap hari mengisi blog ini dengan Firman Tuhan. Komitmen yang masih saya pegang dan lakukan dengan sukacita. Ada banyak singkapan Tuhan yang disampaikan untuk saya sampaikan lagi kepada teman-teman, dan pengalaman itu buat saya luar biasa. Kalau saya waktu itu menolak, saya akan kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan kedekatan Tuhan yang begitu nyata dalam hidup saya. Saya bersyukur saya tidak melawan saat itu dan memilih untuk taat, meskipun pikiran normal saya waktu itu meragukan kesanggupan saya.
Making decision atau mengambil keputusan adalah penentu ke arah mana hidup kita berjalan. Kita sering kurang menyadari hal itu, apalagi dalam mengambil keputusan-keputusan atas hal-hal yang kecil, sepele atau dianggap tidak/kurang penting. Padahal sekecil apapun, keputusan yang berbeda akan mendatangkan arah yang berbeda pula. Sama seperti jika anda memilih sebuah rute, anda akan melewati jalan yang berbeda, waktu tempuh yang berbeda dan sebagainya. Satu belokan akan sangat menentukan. Jadi seharusnya, kita harus benar-benar memastikan setiap keputusan kita sudah melalui pemikiran matang dan sesuai dengan rencana Tuhan agar tidak ada waktu terbuang sia-sia atau yang lebih parah lagi, membuat kita tersesat dan gagal mencapai tujuan. Satu langkah salah bisa mengarah pada langkah salah lainnya kalau tidak segera disadari dan diperbaiki. Semakin banyak keputusan yang salah, semakin jauh pula kita dari penggenapan rencana Allah atas hidup kita.
Hari ini mari kita lihat kepada siapa atau bagaimana Tuhan memilih pekerja-pekerjanya. Jika anda membaca Alkitab dengan seksama, maka bisa jadi anda akan terkejut karena mendapati bahwa Tuhan ternyata lebih suka memakai orang-orang yang bagi dunia mungkin dipandang sebelah mata ketimbang orang-orang yang ahli Taurat, menguasai hukum, orang kaya, jenius dan sebagainya. Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang yang pintar dan hebat tidak akan Dia pakai. Tuhan rindu memakai setiap anak-anakNya karena tugas yang diberikan bukanlah tugas yang mudah. Tapi yang ingin saya katakan adalah seberapa kecil pun kemampuan yang anda rasa anda miliki, itu bukan penghalang untuk menjadi pekerja yang berhasil. Dan siapapun anda, Tuhan tetap punya tugas dan rencana untuk anda.
Mari kita ambil satu contoh, yaitu Musa. Sangatlah menarik jika melihat reaksi awal Musa ketika mendapat tugas berat dari Tuhan. Kita tahu bahwa Musa adalah seorang nabi besar dan dihormati oleh begitu banyak orang dari kepercayaan yang berbeda, namanya harum dan menginspirasi dari generasi ke generasi hingga hari ini.Tapi lihatlah bahwa untuk menjadi besar seperti itu, Musa terlebih dahulu melewati sebuah proses pengambilan keputusan. Alkitab mencatat bahwa pada awalnya Musa ragu dan sempat berbantah-bantahan dengan Tuhan. Ia terus mencari alasan untuk berkelit karena merasa tugas yang dibebankan terlalu berat buat dirinya yang tidak lagi muda dan tidak ada apa-apanya.
(bersambung)
======================
"Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."
Ada teman saya yang melayani sebagai pemain bass di gereja. Sejauh yang saya lihat, ia merupakan pemain bass yang handal. Rhythm feel nya bagus, dia punya groove dan intuisi dan instingnya pun hidup. Saat ia melakukan 'walking bass' pun keren. Suatu kali saat ngobrol, saya menanyakan dimana atau dari siapa ia belajar. Sambil tertawa ia berkata bahwa Tuhanlah guru bassnya. Saya terkejut dan bertanya, bagaimana bisa? Maka ia bercerita awal mulanya ia berkenalan dengan instrumen ini.
Awalnya ia merupakan pemain gitar dalam tim musik gereja. Suatu kali pemain bass berhalangan hanya beberapa jam sebelum kebaktian raya. Mencari pengganti dadakan tidaklah mudah. Alternatif tentu mengarah kepada pemain gitar. Tapi teman saya ini belum pernah memegang bass sama sekali sebelumnya. Tidak ada lagi orang lain yang bisa, waktu terus berjalan. Ia mengambil waktu berdoa, dan kemudian setelahnya dengan teguh ia menyatakan kesediaannya untuk menjadi pemain bass. Ia hanya sempat membunyikan bass beberapa saat sebelum tampil di depan. Dan ternyata, ia sendiri kaget dengan hasilnya. "Tangan saya seolah dituntun. Mula-mula saya berusaha berpikir cepat untuk mencerna intuisi meniti fret gitar bass, tapi kemudian saya membiarkan jari saya mengalir, mengikuti kemana Tuhan mau." katanya. Sejak saat itu ia pun beralih menjadi pemain bass.
Ia kemudian berkata bahwa seringkali pikiran kita mengintervensi rencana Tuhan. Kita tidak cukup percaya kepadaNya dan lebih mengandalkan logika dan penilaian kita sendiri terhadap kemampuan kita. Tidaklah heran kalau akhirnya kita minim pengalaman akan kuasa Tuhan yang supranatural, karena kita tidak membiarkan Tuhan bekerja atas diri kita. "Yang Tuhan cari itu orang yang mau, bukan yang mampu. Kalau kita mau, Tuhan yang memampukan." katanya.
Saya setuju dengannya. Saya mengalami sendiri hal itu. Saya bukanlah lulusan sekolah Alkitab, bukan pula penulis. Sebelumnya saya tidak pernah menulis selain tugas-tugas di sepanjang pendidikan formal, bahkan diary pun tidak. Waktu saya memutuskan untuk menulis renungan, saya masih bolong-bolong berdoa dan tidak betah membaca Alkitab. Bacanya malam, aminnya pagi, karena ketiduran. Itu sering sekali terjadi. Oleh karena itulah saat saya mendengar dalam hati saya sebuah 'suara' yang cukup jelas agar saya mulai melayani lewat menulis renungan, saya tidak langsung merespon untuk melakukannya. Mau tulis apa? Itu harus dilakukan tiap hari dan harus bisa menyampaikan kebenaran Firman Tuhan dengan aplikasinya masing-masing. Tapi kemudian saya mendengar kata-kata yang sama. "Yang Aku cari bukan orang yang mampu, tapi yang mau." Dan saya memutuskan untuk mau.
Hari ini saya sudah memasuki tahun ke 10 dalam meluangkan waktu setiap hari mengisi blog ini dengan Firman Tuhan. Komitmen yang masih saya pegang dan lakukan dengan sukacita. Ada banyak singkapan Tuhan yang disampaikan untuk saya sampaikan lagi kepada teman-teman, dan pengalaman itu buat saya luar biasa. Kalau saya waktu itu menolak, saya akan kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan kedekatan Tuhan yang begitu nyata dalam hidup saya. Saya bersyukur saya tidak melawan saat itu dan memilih untuk taat, meskipun pikiran normal saya waktu itu meragukan kesanggupan saya.
Making decision atau mengambil keputusan adalah penentu ke arah mana hidup kita berjalan. Kita sering kurang menyadari hal itu, apalagi dalam mengambil keputusan-keputusan atas hal-hal yang kecil, sepele atau dianggap tidak/kurang penting. Padahal sekecil apapun, keputusan yang berbeda akan mendatangkan arah yang berbeda pula. Sama seperti jika anda memilih sebuah rute, anda akan melewati jalan yang berbeda, waktu tempuh yang berbeda dan sebagainya. Satu belokan akan sangat menentukan. Jadi seharusnya, kita harus benar-benar memastikan setiap keputusan kita sudah melalui pemikiran matang dan sesuai dengan rencana Tuhan agar tidak ada waktu terbuang sia-sia atau yang lebih parah lagi, membuat kita tersesat dan gagal mencapai tujuan. Satu langkah salah bisa mengarah pada langkah salah lainnya kalau tidak segera disadari dan diperbaiki. Semakin banyak keputusan yang salah, semakin jauh pula kita dari penggenapan rencana Allah atas hidup kita.
Hari ini mari kita lihat kepada siapa atau bagaimana Tuhan memilih pekerja-pekerjanya. Jika anda membaca Alkitab dengan seksama, maka bisa jadi anda akan terkejut karena mendapati bahwa Tuhan ternyata lebih suka memakai orang-orang yang bagi dunia mungkin dipandang sebelah mata ketimbang orang-orang yang ahli Taurat, menguasai hukum, orang kaya, jenius dan sebagainya. Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang yang pintar dan hebat tidak akan Dia pakai. Tuhan rindu memakai setiap anak-anakNya karena tugas yang diberikan bukanlah tugas yang mudah. Tapi yang ingin saya katakan adalah seberapa kecil pun kemampuan yang anda rasa anda miliki, itu bukan penghalang untuk menjadi pekerja yang berhasil. Dan siapapun anda, Tuhan tetap punya tugas dan rencana untuk anda.
Mari kita ambil satu contoh, yaitu Musa. Sangatlah menarik jika melihat reaksi awal Musa ketika mendapat tugas berat dari Tuhan. Kita tahu bahwa Musa adalah seorang nabi besar dan dihormati oleh begitu banyak orang dari kepercayaan yang berbeda, namanya harum dan menginspirasi dari generasi ke generasi hingga hari ini.Tapi lihatlah bahwa untuk menjadi besar seperti itu, Musa terlebih dahulu melewati sebuah proses pengambilan keputusan. Alkitab mencatat bahwa pada awalnya Musa ragu dan sempat berbantah-bantahan dengan Tuhan. Ia terus mencari alasan untuk berkelit karena merasa tugas yang dibebankan terlalu berat buat dirinya yang tidak lagi muda dan tidak ada apa-apanya.
(bersambung)
Tuesday, January 10, 2017
Diampuni dan Disucikan (2)
(sambungan)
Kalau sudah terlanjur, apa yang harus kita lakukan? Yohanes berkata begini. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).
Lewat ayat ini kita bisa melihat bahwa apabila kita mengakui dosa kita dengan jujur, ada dua hal yang akan Tuhan lakukan. Tuhan akan:
1. mengampuni dosa kita
2. menyucikan kita
God clearly promises that once we admit our sins, He will forgive and cleanse us from all unrighteousness, artinya dari semua pikiran, perasaan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan ketetapanNya. Dan ini sesuai dengan sifat Tuhan yang sangat menonjol yaitu adil dan setia. Pintu pengampunan ternyata masih dibuka lebar-lebar bagi anak-anakNya yang terlanjur kembali tersesat. Itu jelas kabar baik dan sangat-sangat kita butuhkan sebagai manusia yang punya tendensi untuk melanggar ketetapan Tuhan.
Selanjutnya Yohanes mengatakan: "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." (1 Yohanes 2:1-2). Apa yang dikatakan Yohanes jelas. Sebagai ciptaan baru seharusnya kita tidak lagi berbuat dosa. Tetapi kalaupun kita kembali terjatuh, ingatlah bahwa kita punya Kristus yang akan bertindak sebagai perantara atau pembela buat kita di hadapan Allah. Ini janji Tuhan yang dihadirkan lewat Yohanes dan ditujukan buat kita, orang-orang percaya.
Ketika kita kembali berbuat dosa setelah bertobat, itu artinya kita memilih untuk kembali hidup dalam penghukuman. Arah jalan yang sudah menuju hidup kekal pun kemudian kembali berbalik menuju jurang kebinasaan. Tetapi begitu kita mau mengakui dosa dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi, saat itu juga Tuhan mengampuni, tidak lagi mengingat-ingat pelanggaran kita sebelumnya. Bukan hanya itu, diri kita pun akan dibersihkan atau disucikan kembali.
Kebenaran akan kembali muncul setelah kita disucikan atau dimurnikan. Idealnya pada saat kita menerima Kristus dan dibaptis, kita sudah menjadi manusia baru dan sudah meninggalkan berbagai perbuatan salah masa lalu, sedang menatap ke depan untuk menuai janji-janji Tuhan. Akan tetapi kita bisa kembali terjebak dalam berbagai perbuatan dosa. Apabila itu yang terjadi, ingatlah bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kita orang yang sudah percaya untuk mengakui dosa di hadapan Tuhan. Jika itu dilakukan, maka Tuhan sendiri yang akan mengambil langkah: mengampuni dan menyucikan. He will forgive and cleanse us from our sins, and put us back to the path He's destined to each and every one of us.
Ketika Tuhan masih membuka kesempatan, bertobatlah segera sebelum kesempatan itu hilang
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Kalau sudah terlanjur, apa yang harus kita lakukan? Yohanes berkata begini. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).
Lewat ayat ini kita bisa melihat bahwa apabila kita mengakui dosa kita dengan jujur, ada dua hal yang akan Tuhan lakukan. Tuhan akan:
1. mengampuni dosa kita
2. menyucikan kita
God clearly promises that once we admit our sins, He will forgive and cleanse us from all unrighteousness, artinya dari semua pikiran, perasaan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan ketetapanNya. Dan ini sesuai dengan sifat Tuhan yang sangat menonjol yaitu adil dan setia. Pintu pengampunan ternyata masih dibuka lebar-lebar bagi anak-anakNya yang terlanjur kembali tersesat. Itu jelas kabar baik dan sangat-sangat kita butuhkan sebagai manusia yang punya tendensi untuk melanggar ketetapan Tuhan.
Selanjutnya Yohanes mengatakan: "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." (1 Yohanes 2:1-2). Apa yang dikatakan Yohanes jelas. Sebagai ciptaan baru seharusnya kita tidak lagi berbuat dosa. Tetapi kalaupun kita kembali terjatuh, ingatlah bahwa kita punya Kristus yang akan bertindak sebagai perantara atau pembela buat kita di hadapan Allah. Ini janji Tuhan yang dihadirkan lewat Yohanes dan ditujukan buat kita, orang-orang percaya.
Ketika kita kembali berbuat dosa setelah bertobat, itu artinya kita memilih untuk kembali hidup dalam penghukuman. Arah jalan yang sudah menuju hidup kekal pun kemudian kembali berbalik menuju jurang kebinasaan. Tetapi begitu kita mau mengakui dosa dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi, saat itu juga Tuhan mengampuni, tidak lagi mengingat-ingat pelanggaran kita sebelumnya. Bukan hanya itu, diri kita pun akan dibersihkan atau disucikan kembali.
Kebenaran akan kembali muncul setelah kita disucikan atau dimurnikan. Idealnya pada saat kita menerima Kristus dan dibaptis, kita sudah menjadi manusia baru dan sudah meninggalkan berbagai perbuatan salah masa lalu, sedang menatap ke depan untuk menuai janji-janji Tuhan. Akan tetapi kita bisa kembali terjebak dalam berbagai perbuatan dosa. Apabila itu yang terjadi, ingatlah bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kita orang yang sudah percaya untuk mengakui dosa di hadapan Tuhan. Jika itu dilakukan, maka Tuhan sendiri yang akan mengambil langkah: mengampuni dan menyucikan. He will forgive and cleanse us from our sins, and put us back to the path He's destined to each and every one of us.
Ketika Tuhan masih membuka kesempatan, bertobatlah segera sebelum kesempatan itu hilang
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, January 9, 2017
Diampuni dan Disucikan (1)
Ayat bacaan: 1 Yohanes 1:9
======================
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."
Di taman-taman kota sekarang sudah disediakan air yang bisa langsung diminum dari keran. Saya melihat ada banyak pengunjung dari desa yang masih belum terbiasa melihat fasilitas ini. Mereka sepertinya bingung, termasuk saat memencet tombol keluar air sehingga air pun muncrat kemana-mana. Air ini sudah melewati filterisasi yang baik agar bisa langsung diminum. Kalau dahulu air harus dimasak dahulu, sekarang teknologi sudah memungkinkan kita untuk langsung meminumnya, tentu saja dengan sistem penyaringan yang baik. Kalau tidak, kita bisa sakit perut dan mengalami banyak masalah lewat kandungan bakteri dan logam-logam berbahaya yang terkandung di dalamnya.
Apakah bersih tidaknya air bisa dilihat kasat mata? Benar, air yang keruh apalagi yang ada endapan atau butir-butiran kotor sudah pasti tidak layak minum. Tapi air yang terlihat bersih, berwarna biru cerah sekalipun belum menjamin bahwa air itu sudah layak dikonsumsi. Tetap diperlukan proses yang baik, mungkin penelitian atau pemeriksaan kandungan air terlebih dahulu untuk memastikan apakah air itu sudah boleh diminum atau tidak. Air yang sudah murni kalau dibiarkan tak terjaga dan terbuka lama bisa kembali terkontaminasi oleh banyak kotoran. Karenanya kalau mau air itu tetap bertahan kemurniannya, kita harus menjaganya dengan benar.
Ilustrasi ini bisa diterapkan pada keadaan manusia. Kita bisa terlihat suci, rohani, tampak baik dari tampilan luar tapi sebenarnya di dalam tidaklah sebersih yang terlihat. Apalagi kalau dari luar saja sudah 'keruh', bisa dipastikan bahwa kita harus melakukan proses supaya hati yang sudah terkontaminasi itu bisa kembali bersih seperti yang diinginkan Tuhan bagi anak-anakNya.
Waktu kita menerima Yesus, kita mendapat kesempatan untuk menerima anugerah untuk menjadi manusia baru Dalam 2 Korintus 5:17 hal itu disampaikan dengan jelas. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Kita pun dikatakan sudah suci oleh ketaatan akan kebenaran karena kita dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana melainkan benih yang tidak fana, melainkan oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal (1 Petrus 22:23-24). Itu artinya kita sudah dimurnikan, dilepaskan dari berbagai ikatan dan dosa-dosa kita di masa lalu. Job done, at least for a while.
Tugas kita selanjutnya adalah memastikan agar apa yang sudah murni jangan sampai kotor kembali. Seperti itu seharusnya, idealnya. Tapi dalam perjalanan hidup kita, kita bisa saja kembali jatuh ke dalam jebakan dosa mulai dari yang kecil sampai yang besar. Jangan lupa bahwa dosa-dosa masa lalu bisa kembali menjadi masalah mengotori kita. Juga dosa-dosa yang belum dibereskan. Maka ibarat air, bisa saja kita terlihat jernih dari luar tetapi sesungguhnya mengandung banyak kandungan yang membahayakan. Jika kotornya sudah keterlaluan, maka kita pun bisa terlihat seperti air lumpur yang pekat.
Pertanyaannya sekarang, kalau kita sudah terlanjur terpeleset dan kembali kotor, adakah 'filter' yang bisa kembali memurnikan kita jika ini yang terjadi? The good news is, yes there is. Tuhan tetap membuka pintu kesempatan kepada siapapun untuk berbalik dari jalan-jalan yang salah dan kembali kepada jalan kebenaran yang mengarah kepada keselamatan.
Akan hal ini, mari kita baca kitab 1 Yohanes. Surat ini ditujukan untuk orang-orang percaya. Dengan kata lain, surat ini dituliskan secara khusus untuk orang-orang Kristen yang sudah bertobat dan menerima Kristus. Yohanes mengerti bahwa setelah seseorang bertobat, akan selalu ada godaan yang berpotensi mengembalikannya ke dalam perangkap dosa. Misalnya kembali melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang seharusnya sudah kita tinggalkan ketika kita telah menjadi ciptaan yang baru, atau tergoda untuk mencoba dosa-dosa baru.
(bersambung)
======================
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."
Di taman-taman kota sekarang sudah disediakan air yang bisa langsung diminum dari keran. Saya melihat ada banyak pengunjung dari desa yang masih belum terbiasa melihat fasilitas ini. Mereka sepertinya bingung, termasuk saat memencet tombol keluar air sehingga air pun muncrat kemana-mana. Air ini sudah melewati filterisasi yang baik agar bisa langsung diminum. Kalau dahulu air harus dimasak dahulu, sekarang teknologi sudah memungkinkan kita untuk langsung meminumnya, tentu saja dengan sistem penyaringan yang baik. Kalau tidak, kita bisa sakit perut dan mengalami banyak masalah lewat kandungan bakteri dan logam-logam berbahaya yang terkandung di dalamnya.
Apakah bersih tidaknya air bisa dilihat kasat mata? Benar, air yang keruh apalagi yang ada endapan atau butir-butiran kotor sudah pasti tidak layak minum. Tapi air yang terlihat bersih, berwarna biru cerah sekalipun belum menjamin bahwa air itu sudah layak dikonsumsi. Tetap diperlukan proses yang baik, mungkin penelitian atau pemeriksaan kandungan air terlebih dahulu untuk memastikan apakah air itu sudah boleh diminum atau tidak. Air yang sudah murni kalau dibiarkan tak terjaga dan terbuka lama bisa kembali terkontaminasi oleh banyak kotoran. Karenanya kalau mau air itu tetap bertahan kemurniannya, kita harus menjaganya dengan benar.
Ilustrasi ini bisa diterapkan pada keadaan manusia. Kita bisa terlihat suci, rohani, tampak baik dari tampilan luar tapi sebenarnya di dalam tidaklah sebersih yang terlihat. Apalagi kalau dari luar saja sudah 'keruh', bisa dipastikan bahwa kita harus melakukan proses supaya hati yang sudah terkontaminasi itu bisa kembali bersih seperti yang diinginkan Tuhan bagi anak-anakNya.
Waktu kita menerima Yesus, kita mendapat kesempatan untuk menerima anugerah untuk menjadi manusia baru Dalam 2 Korintus 5:17 hal itu disampaikan dengan jelas. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Kita pun dikatakan sudah suci oleh ketaatan akan kebenaran karena kita dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana melainkan benih yang tidak fana, melainkan oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal (1 Petrus 22:23-24). Itu artinya kita sudah dimurnikan, dilepaskan dari berbagai ikatan dan dosa-dosa kita di masa lalu. Job done, at least for a while.
Tugas kita selanjutnya adalah memastikan agar apa yang sudah murni jangan sampai kotor kembali. Seperti itu seharusnya, idealnya. Tapi dalam perjalanan hidup kita, kita bisa saja kembali jatuh ke dalam jebakan dosa mulai dari yang kecil sampai yang besar. Jangan lupa bahwa dosa-dosa masa lalu bisa kembali menjadi masalah mengotori kita. Juga dosa-dosa yang belum dibereskan. Maka ibarat air, bisa saja kita terlihat jernih dari luar tetapi sesungguhnya mengandung banyak kandungan yang membahayakan. Jika kotornya sudah keterlaluan, maka kita pun bisa terlihat seperti air lumpur yang pekat.
Pertanyaannya sekarang, kalau kita sudah terlanjur terpeleset dan kembali kotor, adakah 'filter' yang bisa kembali memurnikan kita jika ini yang terjadi? The good news is, yes there is. Tuhan tetap membuka pintu kesempatan kepada siapapun untuk berbalik dari jalan-jalan yang salah dan kembali kepada jalan kebenaran yang mengarah kepada keselamatan.
Akan hal ini, mari kita baca kitab 1 Yohanes. Surat ini ditujukan untuk orang-orang percaya. Dengan kata lain, surat ini dituliskan secara khusus untuk orang-orang Kristen yang sudah bertobat dan menerima Kristus. Yohanes mengerti bahwa setelah seseorang bertobat, akan selalu ada godaan yang berpotensi mengembalikannya ke dalam perangkap dosa. Misalnya kembali melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang seharusnya sudah kita tinggalkan ketika kita telah menjadi ciptaan yang baru, atau tergoda untuk mencoba dosa-dosa baru.
(bersambung)
Sunday, January 8, 2017
Perasaan Tidak Dimengerti
Ayat bacaan: Mazmur 139:1-3
=======================
"TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi."
Saya termasuk beruntung karena punya kedua orang tua yang mengerti anaknya. Kedekatan saya dengan keduanya dan kemudahan saya berkomunikasi membuat saya relatif tidak punya masalah dengan masalah dimengerti. Belakangan setelah dewasa saya baru sadar kalau ternyata ada banyak orang yang tumbuh dewasa membawa masalah tentang hal ini. Semasa kecil orang tua terlalu sibuk, mereka hanya menginginkan anak mereka untuk mengikuti perintah mereka secara sepihak tanpa mau melihat apa yang menjadi masalah dalam diri anak-anaknya. Bisa makan, bisa sekolah, punya kamar tidur atau minimal tempat tidur, punya uang jajan, sudah kan? Jangan macem-macem lagi, pakai minta dimengerti segala. Itu pikir orang tua yang mengira bahwa gelontoran uang dan penyediaan kewajiban dasar untuk anak sudah lebih dari cukup untuk memenuhi peran sebagai orang tua. Suami terlalu sibuk kerja sehingga tidak lagi punya cukup waktu untuk mendengarkan istrinya. Istri terlalu sibuk dengan gadget sehingga tidak lagi mempedulikan kebutuhan-kebutuhan suami yang sudah lelah seharian mengais rejeki di luar rumah. Teman-teman ada disaat suka, tapi disaat duka hilang entah kemana. Mereka datang pada kita kalau butuh apa-apa, tapi begitu kita yang butuh, seribu satu alasan muncul. Kita bermaksud baik, tapi disalah-artikan terus. Alih-alih mau mendengar dahulu dan mencoba mengerti, belum apa-apa sudah langsung menyalahkan. Sudah mati-matian berusaha menerangkan duduk permasalahan, tetapi disepelekan. Pernahkah anda merasakan seperti itu, bahwa sepertinya tidak ada satupun orang yang (mau) mengerti? Tidak ada yang peduli? Nobody understands. Nobody wants to understand. Nobody cares.
Perasaan seperti ini berpotensi menghambat pertumbuhan rohani kita. Rasa tidak dipedulikan, tidak dianggap, tidak didengar, tidak dimengerti, semua itu bisa mengkontaminasi hati dan melahirkan berbagai masalah. Kalau sudah melahirkan masalah, bisa dibayangkan buah yang akan kita petik. Oleh karena itu kita tidak boleh membiarkan perasaan seperti ini terus bercokol dalam diri kita. Jika sudah terlanjur ada, kita harus tangani cepat, jika belum, kita harus jaga supaya kita jangan sampai kecolongan.
Manusia bisa mengecewakan, bahkan orang-orang yang kita anggap dekat dan seharusnya bisa mengerti kita sekalipun. Jika anda tengah menghadapi masa-masa seperti itu, ingatlah satu hal: ada Tuhan yang sangat mengenal anda. Dia tahu pasti apa yang menjadi permasalahan anda. Dia mengenal anda luar dalam dengan sangat baik. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya, Dia tahu isi hati kita yang terdalam sekalipun.
Daud tahu benar akan hal itu. Lihatlah apa yang ia katakan dalam Mazmur. "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi." (Mazmur 139:1-3). Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang menguatkan Daud dalam menjalani hidupnya yang tidak mudah. Daud tahu bahwa Tuhan mengenalnya, Tuhan tahu apa yang ia alami atau hadapi, ia mengerti setiap langkah Daud dalam hidupnya. Bagi saya ayat ini menunjukkan sebuah kedekatan dan saling pengertian yang sangat indah yang bisa terbangun antara manusia dengan Tuhan. Daud tahu, saat tidak ada manusia yang mengerti, ada Tuhan yang selalu mengerti dirinya dan keputusan-keputusan yang diambilnya.
Sebuah Firman Tuhan dalam Yesaya 29 menggambarkan betapa Tuhan sungguh mengetahui kita, karena kita adalah ciptaanNya sendiri. Jika Tuhan diibaratkan sebagai tukang periuk, dan kita adalah bejana yang dibentuk dari tanah liat olehNya sendiri, bisa kah kita berkata bahwa Tuhan, Sang Pencipta, tidak mengenal apa-apa tentang kita? "..Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: "Bukan dia yang membuat aku"; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: "Ia tidak tahu apa-apa"? (Yesaya 29:16). Tuhan sungguh mengenal kita dengan baik, Dia sungguh peduli, namun seringkali kita-lah tidak mau mengenal Dia dengan sungguh-sungguh. Ketika Tuhan peduli, kita tidak peduli padaNya dan hanya menggantungkan harapan kepada manusia. Kita hanya berharap bisa dimengerti oleh orang lain dan melupakan kasih Tuhan yang selalu dicurahkan atas kita semua. Kita hanya ingin Tuhan mengabulkan semua permintaan kita, tapi kita tidak peduli untuk membangun hubungan yang kuat dan benar-benar intim denganNya. Kita peduli apa kata orang, tapi tidak peduli apa kata Tuhan. Kita mau dimengerti Tuhan, tapi kita tidak mau mengerti isi hatiNya.
Manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Kalau kita sadar itu, seharusnya kita selalu mengandalkan Tuhan dalam segenap aspek kehidupan kita. Dia tidak pernah mengecewakan. "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7).
Ketika tidak ada orang mengerti, ingatlah ada Tuhan yang mengerti. Ketika tidak ada yang peduli, ketahuilah Tuhan selalu peduli. Ketika tidak ada yang mau mengenal anda lebih jauh, Tuhan sudah mengenal anda bahkan lebih dari anda mengenal diri anda sendiri. Tuhan tahu pasti apa yang menjadi pergumulan anda saat ini. Bahkan hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk dikemukakan, sulit untuk diucapkan, Tuhan pun mengetahui itu semua. Tuhan sungguh mendengar jeritan hati kita. Anda merasa sendirian saat ini menghadapi segala sesuatu? Datanglah pada Tuhan. Dia sangat mengenal anda, mengerti anda, mengasihi anda dan peduli.
Tuhan tidak pernah mengecewakan karena Dia sangat mengenal dan mengasihi kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=======================
"TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi."
Saya termasuk beruntung karena punya kedua orang tua yang mengerti anaknya. Kedekatan saya dengan keduanya dan kemudahan saya berkomunikasi membuat saya relatif tidak punya masalah dengan masalah dimengerti. Belakangan setelah dewasa saya baru sadar kalau ternyata ada banyak orang yang tumbuh dewasa membawa masalah tentang hal ini. Semasa kecil orang tua terlalu sibuk, mereka hanya menginginkan anak mereka untuk mengikuti perintah mereka secara sepihak tanpa mau melihat apa yang menjadi masalah dalam diri anak-anaknya. Bisa makan, bisa sekolah, punya kamar tidur atau minimal tempat tidur, punya uang jajan, sudah kan? Jangan macem-macem lagi, pakai minta dimengerti segala. Itu pikir orang tua yang mengira bahwa gelontoran uang dan penyediaan kewajiban dasar untuk anak sudah lebih dari cukup untuk memenuhi peran sebagai orang tua. Suami terlalu sibuk kerja sehingga tidak lagi punya cukup waktu untuk mendengarkan istrinya. Istri terlalu sibuk dengan gadget sehingga tidak lagi mempedulikan kebutuhan-kebutuhan suami yang sudah lelah seharian mengais rejeki di luar rumah. Teman-teman ada disaat suka, tapi disaat duka hilang entah kemana. Mereka datang pada kita kalau butuh apa-apa, tapi begitu kita yang butuh, seribu satu alasan muncul. Kita bermaksud baik, tapi disalah-artikan terus. Alih-alih mau mendengar dahulu dan mencoba mengerti, belum apa-apa sudah langsung menyalahkan. Sudah mati-matian berusaha menerangkan duduk permasalahan, tetapi disepelekan. Pernahkah anda merasakan seperti itu, bahwa sepertinya tidak ada satupun orang yang (mau) mengerti? Tidak ada yang peduli? Nobody understands. Nobody wants to understand. Nobody cares.
Perasaan seperti ini berpotensi menghambat pertumbuhan rohani kita. Rasa tidak dipedulikan, tidak dianggap, tidak didengar, tidak dimengerti, semua itu bisa mengkontaminasi hati dan melahirkan berbagai masalah. Kalau sudah melahirkan masalah, bisa dibayangkan buah yang akan kita petik. Oleh karena itu kita tidak boleh membiarkan perasaan seperti ini terus bercokol dalam diri kita. Jika sudah terlanjur ada, kita harus tangani cepat, jika belum, kita harus jaga supaya kita jangan sampai kecolongan.
Manusia bisa mengecewakan, bahkan orang-orang yang kita anggap dekat dan seharusnya bisa mengerti kita sekalipun. Jika anda tengah menghadapi masa-masa seperti itu, ingatlah satu hal: ada Tuhan yang sangat mengenal anda. Dia tahu pasti apa yang menjadi permasalahan anda. Dia mengenal anda luar dalam dengan sangat baik. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya, Dia tahu isi hati kita yang terdalam sekalipun.
Daud tahu benar akan hal itu. Lihatlah apa yang ia katakan dalam Mazmur. "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi." (Mazmur 139:1-3). Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang menguatkan Daud dalam menjalani hidupnya yang tidak mudah. Daud tahu bahwa Tuhan mengenalnya, Tuhan tahu apa yang ia alami atau hadapi, ia mengerti setiap langkah Daud dalam hidupnya. Bagi saya ayat ini menunjukkan sebuah kedekatan dan saling pengertian yang sangat indah yang bisa terbangun antara manusia dengan Tuhan. Daud tahu, saat tidak ada manusia yang mengerti, ada Tuhan yang selalu mengerti dirinya dan keputusan-keputusan yang diambilnya.
Sebuah Firman Tuhan dalam Yesaya 29 menggambarkan betapa Tuhan sungguh mengetahui kita, karena kita adalah ciptaanNya sendiri. Jika Tuhan diibaratkan sebagai tukang periuk, dan kita adalah bejana yang dibentuk dari tanah liat olehNya sendiri, bisa kah kita berkata bahwa Tuhan, Sang Pencipta, tidak mengenal apa-apa tentang kita? "..Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: "Bukan dia yang membuat aku"; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: "Ia tidak tahu apa-apa"? (Yesaya 29:16). Tuhan sungguh mengenal kita dengan baik, Dia sungguh peduli, namun seringkali kita-lah tidak mau mengenal Dia dengan sungguh-sungguh. Ketika Tuhan peduli, kita tidak peduli padaNya dan hanya menggantungkan harapan kepada manusia. Kita hanya berharap bisa dimengerti oleh orang lain dan melupakan kasih Tuhan yang selalu dicurahkan atas kita semua. Kita hanya ingin Tuhan mengabulkan semua permintaan kita, tapi kita tidak peduli untuk membangun hubungan yang kuat dan benar-benar intim denganNya. Kita peduli apa kata orang, tapi tidak peduli apa kata Tuhan. Kita mau dimengerti Tuhan, tapi kita tidak mau mengerti isi hatiNya.
Manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Kalau kita sadar itu, seharusnya kita selalu mengandalkan Tuhan dalam segenap aspek kehidupan kita. Dia tidak pernah mengecewakan. "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7).
Ketika tidak ada orang mengerti, ingatlah ada Tuhan yang mengerti. Ketika tidak ada yang peduli, ketahuilah Tuhan selalu peduli. Ketika tidak ada yang mau mengenal anda lebih jauh, Tuhan sudah mengenal anda bahkan lebih dari anda mengenal diri anda sendiri. Tuhan tahu pasti apa yang menjadi pergumulan anda saat ini. Bahkan hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk dikemukakan, sulit untuk diucapkan, Tuhan pun mengetahui itu semua. Tuhan sungguh mendengar jeritan hati kita. Anda merasa sendirian saat ini menghadapi segala sesuatu? Datanglah pada Tuhan. Dia sangat mengenal anda, mengerti anda, mengasihi anda dan peduli.
Tuhan tidak pernah mengecewakan karena Dia sangat mengenal dan mengasihi kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...



