(sambungan)
Dari mana sikap sombong itu muncul? Bisa macam-macam sumbernya. Bisa dari kesuksesan, popularitas, status, kekayaan, kemakmuran, kekuasaan dan sebagainya. Tapi semua ini muncul biasanya dari dalam, yaitu dari hati yang tidak dijaga dengan baik. Dalam Markus 7 kita membaca perkataan Yesus yang berbunyi demikian: "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Markus 7:21-23). Dari ayat ini kita bisa melihat dengan jelas bahwa kesombongan merupakan salah satu produk yang dihasilkan dari hati yang tidak dijaga, hati yang kering dan kosong tanpa firman. Kita harus sadar bahwa ada hubungan antara apa yang keluar dari mulut dengan kondisi hati kita, "karena yang diucapkan mulut meluap dari hati." (Matius 12:34b). Jika demikian, agar terhindar dari sikap ini kita juga harus terus menjaga hati kita, karena Alkitab sudah mengatakan bahwa kita harus menjaga hati dengan segala kewaspadaan, karena dari hati lah kehidupan sebenarnya terpancar. (Amsal 4:23).
Akan halnya bentuk kesombongan yang lahir lewat perkataan yang sia-sia, Yesus pun mengingatkan demikian: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman." (ay 36). Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Dari mulut yang sama bisa keluar berkat, tapi bisa pula keluar kutuk. (Yakobus 3:10), karenanya kita perlu untuk menjaga mulut kita. Lalu ingat pula ayat ini: "Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."(Matius 12:37).
Kalaupun kita memang harus mengungkapkan keberhasilan atau pencapaian yang berhasil kita capai, ungkapkanlah secukupnya saja disertai dengan ucapan syukur, dan jangan terjebak pada dosa kesombongan. Kesombongan sesungguhnya tidak membawa manfaat apapun buat kita, sebaliknya akan sangat berpotensi menjadi awal dari kehancuran dan kejatuhan. Dan itu pun sudah disebutkan pada sebuah ayat dalam Alkitab: "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Bukankah itu sering kita lihat dengan nyata-nyata hari-hari ini? Lihatlah betapa banyaknya orang yang seharusnya berpotensi untuk membangun bangsa terjatuh lalu hancur hanya karena mereka tidak bisa menjaga kemurnian hatinya.
Hanya dengan menjaga hati dengan baik kita bisa menghindari pembusukan yang terjadi di dalam diri kita, dimana salah satu produknya adalah kesombongan. Tuhan benci kepada kesombongan dan tidak suka saat kita melakukan itu, "Karena Allah merendahkan orang yang angkuh tetapi menyelamatkan orang yang menundukkan kepala!"(Ayub 22:29). Pada suatu saat nanti akan datang hukuman Tuhan atas orang-orang yang congkak dan angkuh. "Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh, serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan." (Yesaya 2:12).
Menjadi sukses dan mengalami peningkatan dalam segala hal menjadi dambaan semua orang. Tidak satupun dari kita yang bercita-cita untuk gagal. Kita sekolah setinggi mungkin, terus belajar dan mengasah kemampuan sambil terus membawa segala usaha kita dalam doa agar diberkati Tuhan sehingga kita bisa berhasil dalam perjalanan hidup ini. Pada saat kesuksesan datang, berhati-hatilah. Sebab apabila tidak disikapi hati-hati kita bisa terjerumus dalam dosa kesombongan. Terlalu meninggikan atau membanggakan diri sendiri, selain tidak enak di dengar orang, tapi juga menunjukkan lupanya kita kepada peran Tuhan dibalik kesuksesan kita, bahkan mengambil apa yang menjadi hak Tuhan. Memang, mungkin kesuksesan hadir atas kerja keras kita, tapi tanpa seijin Tuhan, tidak akan ada kesuksesan yang mungkin hadir. Selain itu, bukankah Tuhan juga yang memberikan talenta dan kemampuan ke dalam diri kita sehingga kita mampu berusaha untuk memperoleh keberhasilan?
Semakin tinggi tingkat keberhasilan kita, semakin rawan pula kita diracuni dosa kesombongan. Maka saya merasa pepatah yang berbunyi: "Ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk" adalah sangat tepat. Kita harus semakin rendah hati ketika kita semakin menapak naik. Meskipun demikian, terkadang sulit bagi manusia untuk tidak merasa bangga ketika mereka mencapai sesuatu yang membanggakan. Dalam batas tertentu kita boleh bangga, tetapi jangan sampai itu hadir secara berlebihan sehingga menimbulkan sikap sombong. Kesombongan bisa mencelat keluar tanpa direncanakan.
Mengingat kesombongan ini bisa timbul tanpa direncanakan dan akan selalu mencari celah untuk masuk disela-sela keberhasilan kita, tips dari Agur bin Yake di atas bisa menjadi solusi cepat yang tidaklah sulit untuk dilakukan untuk menghindari kita dari jerat maut. "Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!" ""If you play the fool and exalt yourself, or if you plan evil, clap your hand over your mouth!"
"Humble yourself before the Lord and He will exalt you." - Yakobus 4:10
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, May 7, 2016
Friday, May 6, 2016
Menekap Tangan pada Mulut (1)
Ayat bacaan: Amsal 30:32
======================
"Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!"
Dahulu mama sering bercerita tentang sikap saya yang kocak semasa balita. Setiap kali saya mengatakan kata-kata yang tidak sopan dan dimarahi, setelahnya setiap kali saya menyebut lagi kata-kata tersebut, saya segera menutup mulut dan bilang 'oops'. Menurutnya tidak ada satupun yang mengajar saya untuk seperti itu. Menutup mulut dan bilang 'oops', itu dilakukan orang kalau salah ngomong. Mungkin saya pernah melihat orang melakukan itu ketika salah bicara, lantas saya pun menirunya.
Anda tentu pernah bertemu orang yang suka omong besar. Bukan saja lebay suka melebih-lebihkan, tapi mereka ini kerap mengisi pembicaraan dengan meninggikan diri sendiri. Menurut teori psikologis, biasanya hal ini dilakukan orang untuk menutupi kelemahannya sendiri. Ada juga yang setiap ketemu terus menceritakan kehebatan di masa lalu bisa jadi agar tetap terlihat keren meski kondisi faktual yang tengah dialami tidak lagi sebaik dahulu. Ada juga yang tidak siap mental saat menjadi sukses sehingga sikapnya berubah menjadi angkuh dan sombong, dan salah satu keluarannya adalah lewat ucapan. Bentuk ucapan yang bermuara pada kesombongan pun bisa banyak modelnya. Ada yang membesarkan atau meninggikan diri, bisa pula hadir lewat ucapan-ucapan yang merendahkan, menyepelekan atau menghina orang dan sebagainya. Apa yang saya lakukan waktu kecil ternyata bisa dipakai untuk menghentikan keluarnya kesombongan lewat ucapan kita, dan itu ternyata dianjurkan oleh Firman Tuhan yang tercatat dalam Alkitab.
Begini ayatnya. "Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!" (Amsal 30:32). Tips ini sangat gampang untuk dilakukan tapi kelihatannya memang cukup efektif. Agur bin Yake mengatakan bahwa apabila kita mulai meninggikan atau menyombongkan diri baik sadar atau tidak, tanpa atau dengan berpikir, sengaja atau tidak sengaja, segeralah tekapkan tangan pada mulut. Orang yang salah omong biasanya secara reflek langsung menutup mulutnya dengan tangan bukan? Itu artinya, pesan yang terkandung di dalam ayat ini adalah kita harus segera berhenti begitu kita mulai menyombongkan diri.
Menyombongkan diri bukanlah perbuatan yang berkenan di hadapan Tuhan. Perbuatan membanggakan diri sendiri atau menyombongkan diri sebenarnya menggambarkan sebuah sikap mencuri apa yang menjadi hak Tuhan. Lihatlah apa yang disampaikan Paulus kepada jemaat Korintus berikut ini. "Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?" (1 Korintus 4:7- BIS). Itulah sebabnya kenapa tidak boleh ada kesombongan yang muncul dari dalam kita apapun alasannya.
Dalam Amsal dikatakan: "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat." (Amsal 8:13).
Masih dalam Amsal, kita bisa melihat ada enam bahkan tujuh perkara yang sangat tidak disukai Tuhan. "Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara." (Amsal 6:16-17). Dengan jelas sikap sombong disebutkan menjadi satu dari perkara yang dibenci Tuhan. Kata 'mata sombong' dalam ayat ini dalam versi Bahasa Inggris disebutkan sebagai 'proud look', yaitu sikap angkuh, sombong atau arogan yang tercermin lewat air muka atau sikap yang kasat mata bisa terlihat jelas oleh orang lain.
(bersambung)
======================
"Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!"
Dahulu mama sering bercerita tentang sikap saya yang kocak semasa balita. Setiap kali saya mengatakan kata-kata yang tidak sopan dan dimarahi, setelahnya setiap kali saya menyebut lagi kata-kata tersebut, saya segera menutup mulut dan bilang 'oops'. Menurutnya tidak ada satupun yang mengajar saya untuk seperti itu. Menutup mulut dan bilang 'oops', itu dilakukan orang kalau salah ngomong. Mungkin saya pernah melihat orang melakukan itu ketika salah bicara, lantas saya pun menirunya.
Anda tentu pernah bertemu orang yang suka omong besar. Bukan saja lebay suka melebih-lebihkan, tapi mereka ini kerap mengisi pembicaraan dengan meninggikan diri sendiri. Menurut teori psikologis, biasanya hal ini dilakukan orang untuk menutupi kelemahannya sendiri. Ada juga yang setiap ketemu terus menceritakan kehebatan di masa lalu bisa jadi agar tetap terlihat keren meski kondisi faktual yang tengah dialami tidak lagi sebaik dahulu. Ada juga yang tidak siap mental saat menjadi sukses sehingga sikapnya berubah menjadi angkuh dan sombong, dan salah satu keluarannya adalah lewat ucapan. Bentuk ucapan yang bermuara pada kesombongan pun bisa banyak modelnya. Ada yang membesarkan atau meninggikan diri, bisa pula hadir lewat ucapan-ucapan yang merendahkan, menyepelekan atau menghina orang dan sebagainya. Apa yang saya lakukan waktu kecil ternyata bisa dipakai untuk menghentikan keluarnya kesombongan lewat ucapan kita, dan itu ternyata dianjurkan oleh Firman Tuhan yang tercatat dalam Alkitab.
Begini ayatnya. "Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!" (Amsal 30:32). Tips ini sangat gampang untuk dilakukan tapi kelihatannya memang cukup efektif. Agur bin Yake mengatakan bahwa apabila kita mulai meninggikan atau menyombongkan diri baik sadar atau tidak, tanpa atau dengan berpikir, sengaja atau tidak sengaja, segeralah tekapkan tangan pada mulut. Orang yang salah omong biasanya secara reflek langsung menutup mulutnya dengan tangan bukan? Itu artinya, pesan yang terkandung di dalam ayat ini adalah kita harus segera berhenti begitu kita mulai menyombongkan diri.
Menyombongkan diri bukanlah perbuatan yang berkenan di hadapan Tuhan. Perbuatan membanggakan diri sendiri atau menyombongkan diri sebenarnya menggambarkan sebuah sikap mencuri apa yang menjadi hak Tuhan. Lihatlah apa yang disampaikan Paulus kepada jemaat Korintus berikut ini. "Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?" (1 Korintus 4:7- BIS). Itulah sebabnya kenapa tidak boleh ada kesombongan yang muncul dari dalam kita apapun alasannya.
Dalam Amsal dikatakan: "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat." (Amsal 8:13).
Masih dalam Amsal, kita bisa melihat ada enam bahkan tujuh perkara yang sangat tidak disukai Tuhan. "Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara." (Amsal 6:16-17). Dengan jelas sikap sombong disebutkan menjadi satu dari perkara yang dibenci Tuhan. Kata 'mata sombong' dalam ayat ini dalam versi Bahasa Inggris disebutkan sebagai 'proud look', yaitu sikap angkuh, sombong atau arogan yang tercermin lewat air muka atau sikap yang kasat mata bisa terlihat jelas oleh orang lain.
(bersambung)
Thursday, May 5, 2016
Belajar Rendah Hati Lewat Yosua (2)
(sambungan)
Meski Yosua mungkin berhak mengulangi pesan Tuhan yang mengangkatnya setingkat Musa kepada bangsa yang akan ia pimpin, tapi ia tidak melakukan itu. Yosua bersikap rendah hati dan menyadari betul bahwa bukan karena hebat atau kuat kuasanya bangsa Israel nantinya akan bisa melewati sungai Yordan, melainkan karena penyertaan Tuhan. Yosua memusatkan perhatian bukan kepada dirinya sendiri melainkan kepada Tuhan. Fokusnya hanyalah Tuhan satu-satunya yang dimuliakan dalam segala peristiwa yang pernah, sedang dan akan terjadi. Dia tahu bahwa dia hanyalah pelaksana di lapangan. Karenanya Yosua memilih untuk tidak merebut apa yang menjadi hak Tuhan. Selanjutnya Yosua pun menjelaskan secara rinci bagaimana mereka harus menyeberang (ay 11-13), dan itu dia lakukan untuk menunjukkan bahwa apa yang akan terjadi bukanlah kebetulan semata, atau bukan karena kehebatan bangsa Israel atau dirinya sendiri, melainkan karena ada kuasa Tuhan yang bekerja untuk melindungi dan menyelamatkan mereka.
Nasihat untuk rendah hati berulang-ulang disampaikan kepada kita. Kepada jemaat Efesus, Firman Tuhan disampaikan lewat Paulus berkata seperti ini: "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Efesus 4:2). Kepada jemaat Filipi dikatakan "..tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri" (Filipi 2:3). Kepada jemaat Kolose berbunyi seperti ini: "Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran." (Kolose 3:12).
Ada banyak lagi nasihat untuk rendah hati, dan ini penting bagi kita, karena "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6, 1 Petrus 5:5). Ada banyak orang yang terjatuh dalam dosa kesombongan setelah sukses, karenanya ketika kita mulai menapak naik, nasihat untuk rendah hati ini harus selalu kita ingat.
Ketika kita diberkati dan mengalami peningkatan, bersyukurlah kepada Tuhan. Berikan kemuliaan hanya bagiNya dengan berkarya dan memberkati lebih lagi, dan jangan merebut hak Tuhan dengan memegahkan diri sendiri. Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita dengan jelas "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). Dan lewat Paulus firman Tuhan berkata: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." (1 Korintus 1:31).
Bahkan jauh sebelumnya hal ini pun sudah diingatkan. "Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN." (Yeremia 9:23-24).
Jangan pernah lupa bahwa tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa. Meski kita wajib untuk bekerja keras dan melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, semua itu tetap dimungkinkan lewat anugerah Tuhan yang Dia berikan kepada kita. Hari ini ketika anda mengalami kemajuan dalam pekerjaan, promosi atau peningkatan-peningkatan lainnya, bersyukurlah dan berikanlah kemuliaan hanya untuk Tuhan. Sudahkah anda memuliakan Tuhan atas segala anugerahNya atas diri anda hari ini?
Always remember, too much ego will kill your talent
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Meski Yosua mungkin berhak mengulangi pesan Tuhan yang mengangkatnya setingkat Musa kepada bangsa yang akan ia pimpin, tapi ia tidak melakukan itu. Yosua bersikap rendah hati dan menyadari betul bahwa bukan karena hebat atau kuat kuasanya bangsa Israel nantinya akan bisa melewati sungai Yordan, melainkan karena penyertaan Tuhan. Yosua memusatkan perhatian bukan kepada dirinya sendiri melainkan kepada Tuhan. Fokusnya hanyalah Tuhan satu-satunya yang dimuliakan dalam segala peristiwa yang pernah, sedang dan akan terjadi. Dia tahu bahwa dia hanyalah pelaksana di lapangan. Karenanya Yosua memilih untuk tidak merebut apa yang menjadi hak Tuhan. Selanjutnya Yosua pun menjelaskan secara rinci bagaimana mereka harus menyeberang (ay 11-13), dan itu dia lakukan untuk menunjukkan bahwa apa yang akan terjadi bukanlah kebetulan semata, atau bukan karena kehebatan bangsa Israel atau dirinya sendiri, melainkan karena ada kuasa Tuhan yang bekerja untuk melindungi dan menyelamatkan mereka.
Nasihat untuk rendah hati berulang-ulang disampaikan kepada kita. Kepada jemaat Efesus, Firman Tuhan disampaikan lewat Paulus berkata seperti ini: "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Efesus 4:2). Kepada jemaat Filipi dikatakan "..tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri" (Filipi 2:3). Kepada jemaat Kolose berbunyi seperti ini: "Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran." (Kolose 3:12).
Ada banyak lagi nasihat untuk rendah hati, dan ini penting bagi kita, karena "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6, 1 Petrus 5:5). Ada banyak orang yang terjatuh dalam dosa kesombongan setelah sukses, karenanya ketika kita mulai menapak naik, nasihat untuk rendah hati ini harus selalu kita ingat.
Ketika kita diberkati dan mengalami peningkatan, bersyukurlah kepada Tuhan. Berikan kemuliaan hanya bagiNya dengan berkarya dan memberkati lebih lagi, dan jangan merebut hak Tuhan dengan memegahkan diri sendiri. Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita dengan jelas "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). Dan lewat Paulus firman Tuhan berkata: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." (1 Korintus 1:31).
Bahkan jauh sebelumnya hal ini pun sudah diingatkan. "Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN." (Yeremia 9:23-24).
Jangan pernah lupa bahwa tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa. Meski kita wajib untuk bekerja keras dan melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, semua itu tetap dimungkinkan lewat anugerah Tuhan yang Dia berikan kepada kita. Hari ini ketika anda mengalami kemajuan dalam pekerjaan, promosi atau peningkatan-peningkatan lainnya, bersyukurlah dan berikanlah kemuliaan hanya untuk Tuhan. Sudahkah anda memuliakan Tuhan atas segala anugerahNya atas diri anda hari ini?
Always remember, too much ego will kill your talent
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Wednesday, May 4, 2016
Belajar Rendah Hati Lewat Yosua (1)
Ayat bacaan: Yosua 3:10
=======================
"Lagi kata Yosua: "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu.."
Merintis karir dari bawah, bertahun-tahun menapak naik, dan saat sudah di atas kemudian lupa diri, melakukan tindakan yang salah dan akibatnya semuanya runtuh dalam seketika. Ada sangat banyak tokoh yang mengalami hal ini. Rata-rata dari mereka adalah pemuda-pemuda dengan tekad baja dan awalnya baik. Tetapi saat sudah berada di atas, popularitas membuat mereka tidak lagi memakai akal sehat dan hati yang bersih. Kesombongan, perilaku-perilaku tidak terpuji, berbagai kebohongan dan penipuan demi kepentingan diri sendiri atau kelompok menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Kalau di kalangan politisi kita melihat hal itu, di bidang-bidang pekerjaan lain hal seperti itu pun terjadi. Buat saya yang hidup di dunia musik, itu pun terjadi. Ada banyak artis yang tadinya baik, rendah hati dan serius dalam menciptakan karya terbaik mereka kemudian berubah total setelah sukses. Seperti yang saya ceritakan dalam renungan kemarin, ada yang tiba-tiba sombong dan kasar, bukan saja kepada pihak pengundang tapi juga kepada teman-teman se band nya sendiri. Ada yang memberi riders yang sudah tidak lagi menapak bumi. Dari perilaku, riders, tata krama dan sopan santun, semuanya merefleksikan kesombongan tingkat tinggi. Begitulah manusia. orang-orang yang sifatnya seperti ini biasanya tidak bertahan lama. Perlahan tapi pasti, para panitia atau organizer akan mencoret mereka dari daftar, lalu meredup dan tamat. Sudah sangat banyak orang-orang berbakat yang seharusnya bisa sukses untuk jangka waktu lama tapi karirnya singkat bak meteor karena mereka tidak menjaga hati. Saya sedih melihat hal itu, tapi tampaknya memang manusia tidak pernah bisa belajar dari sejarah karena terus melakukan kesalahan yang sama dari masa ke masa.
Kita diberkati dengan talenta tertentu yang bisa membuat kita tampil baik dan istimewa dalam hidup, seistimewa rencana Tuhan bagi kita. Itu sangat pantas jika kita syukuri. Kita bekerja keras, berusaha dan belajar agar bisa menjadi orang-orang yang sukses dalam pekerjaan, kita terus mengasah bakat yang diberikan Tuhan sampai benar-benar tajam, dan itu membutuhkan waktu panjang. Talenta dan usaha kita meningkatkan kemampuan dan ilmu pengetahuan memang sangat menentukan keberhasilan kita. Tetapi hendaknya jangan sampai kita lupa bahwa semua itu merupakan anugerah dari Tuhan dan bukan karena kehebatan diri kita sendiri. Kenyataannya begitu banyak orang lupa diri ketika sudah sukses, dan mengira bahwa kehebatannyalah yang membuat semua itu terjadi. Mereka jumawa, lupa diri, lantas terjerumus dosa kesombongan. Seharusnya semakin kita sukses, kita harus semakin bersyukur karena menyadari bahwa semua itu merupakan berkat dari Tuhan. Seharusnya semakin kita sukses, semakin pula kita rendah hati karena kita semakin bersyukur pada Tuhan atas semua yang Dia sediakan. Sebab kalau tidak, kita bisa terjerumus ke dalam dosa kesombongan yang sama sekali tidak disukai Tuhan, dan itu akan menghancurkan semua yang kita bangun dalam sekejap mata. Rendah hati, itulah yang seharusnya ada pada diri orang percaya. Tidak ada tempat bagi kesombongan mau seberapa besar sekalipun sukses yang ada pada kita. Prinsip padi, semakin berisi semakin merunduk merupakan hal yang wajib kita camkan dan lakukan.
Berbicara mengenai kerendahan hati, kita bisa belajar lewat banyak tokoh. Hari ini mari kita belajar akan hal itu dari kisah hidup Yosua.
Apa yang terjadi pada Yosua bukanlah sesuatu yang kecil. Ia tadinya hanyalah abdi Musa, tapi ia kemudian dipilih Tuhan untuk melanjutkan kepemimpinan Musa atas bangsa Israel. Ketekunan, kesetiaan dan imannya sudah teruji sejak semula ketika ia masih menjadi abdi Musa. Saya percaya Tuhan melihat sikap hatinya sejak muda sehingga Tuhan pun mempersiapkan dirinya dari awal hingga waktunya tiba. Seorang abdi atau pelayan dipilih menggantikan Musa untuk membawa bangsa Israel? Itu sebuah kehormatan yang sangat besar yang tidak sering terjadi, bahkan hampir-hampir mustahil. Dari sekian banyak orang, Tuhan memilihnya. Yosua bisa punya banyak alasan untuk menjadi sombong, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda seperti itu sama sekali.
Sekarang mari kita lihat kisah ketika Yosua hendak memimpin bangsa Israel untuk menyeberangi sungai Yordan. (Yosua 3:1-17). Sebelum memasuki sungai Yordan, Tuhan berbicara kepada Yosua. "Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: "Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau." (ay 7). Tuhan menyatakan kepada Yosua bahwa sama seperti ketika Tuhan menyertai Musa untuk melewati Laut Merah, demikian pula Tuhan akan menyertai Yosua dalam memimpin bangsa Israel dalam menghadapi sungai Yordan. Setelah Yosua menerima pesan Tuhan itu, ia pun bergegas menyampaikan hal tersebut kepada bangsa Israel.
Perhatikan kata-kata yang dipakai Yosua untuk menyampaikan pesan Tuhan itu kepada bangsa Israel. "Lagi kata Yosua: "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu." (ay 10).
Perhatikan, Yosua tidak berkata "Pandang aku dan dengar baik-baik! Lihatlah hari ini kamu semua akan melihat bagaimana Tuhan membesarkan namaku, meninggikan aku ditengah-tengah kamu sekalian.." Yosua tidak berkata, "akulah yang terpilih, lebih tinggi dari kalian semua, dan jika kalian selamat itu semua berkat saya." Tidak, Yosua sama sekali tidak berlaku seperti itu. Ia tidak tergoda untuk bersikap sombong, pamer dan membesarkan diri. Apa yang dikatakan Yosua adalah "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu."
(bersambung)
=======================
"Lagi kata Yosua: "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu.."
Merintis karir dari bawah, bertahun-tahun menapak naik, dan saat sudah di atas kemudian lupa diri, melakukan tindakan yang salah dan akibatnya semuanya runtuh dalam seketika. Ada sangat banyak tokoh yang mengalami hal ini. Rata-rata dari mereka adalah pemuda-pemuda dengan tekad baja dan awalnya baik. Tetapi saat sudah berada di atas, popularitas membuat mereka tidak lagi memakai akal sehat dan hati yang bersih. Kesombongan, perilaku-perilaku tidak terpuji, berbagai kebohongan dan penipuan demi kepentingan diri sendiri atau kelompok menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Kalau di kalangan politisi kita melihat hal itu, di bidang-bidang pekerjaan lain hal seperti itu pun terjadi. Buat saya yang hidup di dunia musik, itu pun terjadi. Ada banyak artis yang tadinya baik, rendah hati dan serius dalam menciptakan karya terbaik mereka kemudian berubah total setelah sukses. Seperti yang saya ceritakan dalam renungan kemarin, ada yang tiba-tiba sombong dan kasar, bukan saja kepada pihak pengundang tapi juga kepada teman-teman se band nya sendiri. Ada yang memberi riders yang sudah tidak lagi menapak bumi. Dari perilaku, riders, tata krama dan sopan santun, semuanya merefleksikan kesombongan tingkat tinggi. Begitulah manusia. orang-orang yang sifatnya seperti ini biasanya tidak bertahan lama. Perlahan tapi pasti, para panitia atau organizer akan mencoret mereka dari daftar, lalu meredup dan tamat. Sudah sangat banyak orang-orang berbakat yang seharusnya bisa sukses untuk jangka waktu lama tapi karirnya singkat bak meteor karena mereka tidak menjaga hati. Saya sedih melihat hal itu, tapi tampaknya memang manusia tidak pernah bisa belajar dari sejarah karena terus melakukan kesalahan yang sama dari masa ke masa.
Kita diberkati dengan talenta tertentu yang bisa membuat kita tampil baik dan istimewa dalam hidup, seistimewa rencana Tuhan bagi kita. Itu sangat pantas jika kita syukuri. Kita bekerja keras, berusaha dan belajar agar bisa menjadi orang-orang yang sukses dalam pekerjaan, kita terus mengasah bakat yang diberikan Tuhan sampai benar-benar tajam, dan itu membutuhkan waktu panjang. Talenta dan usaha kita meningkatkan kemampuan dan ilmu pengetahuan memang sangat menentukan keberhasilan kita. Tetapi hendaknya jangan sampai kita lupa bahwa semua itu merupakan anugerah dari Tuhan dan bukan karena kehebatan diri kita sendiri. Kenyataannya begitu banyak orang lupa diri ketika sudah sukses, dan mengira bahwa kehebatannyalah yang membuat semua itu terjadi. Mereka jumawa, lupa diri, lantas terjerumus dosa kesombongan. Seharusnya semakin kita sukses, kita harus semakin bersyukur karena menyadari bahwa semua itu merupakan berkat dari Tuhan. Seharusnya semakin kita sukses, semakin pula kita rendah hati karena kita semakin bersyukur pada Tuhan atas semua yang Dia sediakan. Sebab kalau tidak, kita bisa terjerumus ke dalam dosa kesombongan yang sama sekali tidak disukai Tuhan, dan itu akan menghancurkan semua yang kita bangun dalam sekejap mata. Rendah hati, itulah yang seharusnya ada pada diri orang percaya. Tidak ada tempat bagi kesombongan mau seberapa besar sekalipun sukses yang ada pada kita. Prinsip padi, semakin berisi semakin merunduk merupakan hal yang wajib kita camkan dan lakukan.
Berbicara mengenai kerendahan hati, kita bisa belajar lewat banyak tokoh. Hari ini mari kita belajar akan hal itu dari kisah hidup Yosua.
Apa yang terjadi pada Yosua bukanlah sesuatu yang kecil. Ia tadinya hanyalah abdi Musa, tapi ia kemudian dipilih Tuhan untuk melanjutkan kepemimpinan Musa atas bangsa Israel. Ketekunan, kesetiaan dan imannya sudah teruji sejak semula ketika ia masih menjadi abdi Musa. Saya percaya Tuhan melihat sikap hatinya sejak muda sehingga Tuhan pun mempersiapkan dirinya dari awal hingga waktunya tiba. Seorang abdi atau pelayan dipilih menggantikan Musa untuk membawa bangsa Israel? Itu sebuah kehormatan yang sangat besar yang tidak sering terjadi, bahkan hampir-hampir mustahil. Dari sekian banyak orang, Tuhan memilihnya. Yosua bisa punya banyak alasan untuk menjadi sombong, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda seperti itu sama sekali.
Sekarang mari kita lihat kisah ketika Yosua hendak memimpin bangsa Israel untuk menyeberangi sungai Yordan. (Yosua 3:1-17). Sebelum memasuki sungai Yordan, Tuhan berbicara kepada Yosua. "Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: "Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau." (ay 7). Tuhan menyatakan kepada Yosua bahwa sama seperti ketika Tuhan menyertai Musa untuk melewati Laut Merah, demikian pula Tuhan akan menyertai Yosua dalam memimpin bangsa Israel dalam menghadapi sungai Yordan. Setelah Yosua menerima pesan Tuhan itu, ia pun bergegas menyampaikan hal tersebut kepada bangsa Israel.
Perhatikan kata-kata yang dipakai Yosua untuk menyampaikan pesan Tuhan itu kepada bangsa Israel. "Lagi kata Yosua: "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu." (ay 10).
Perhatikan, Yosua tidak berkata "Pandang aku dan dengar baik-baik! Lihatlah hari ini kamu semua akan melihat bagaimana Tuhan membesarkan namaku, meninggikan aku ditengah-tengah kamu sekalian.." Yosua tidak berkata, "akulah yang terpilih, lebih tinggi dari kalian semua, dan jika kalian selamat itu semua berkat saya." Tidak, Yosua sama sekali tidak berlaku seperti itu. Ia tidak tergoda untuk bersikap sombong, pamer dan membesarkan diri. Apa yang dikatakan Yosua adalah "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu."
(bersambung)
Tuesday, May 3, 2016
Membangun Motivasi dengan Rendah Hati
Ayat bacaan: 1 Korintus 4:6
======================
"Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain."
"Ah, pemusik sekelas saya masa main di sekolah minggu.. yang benar aja!" Begitulah yang dikatakan seorang gitaris yang memang sudah paruh baya kepada kordinator bidang musik di sebuah gereja. Ia merasa skill dan pengalamannya tidaklah pantas untuk melayani anak kecil dan seharusnya ia bisa tampil memamerkan kehebatannya di ibadah raya/umum dengan jemaat dewasa yang lebih mengerti musik. Ada satu lagi musisi yang berdalih bahwa panggilannya adalah 'bermain di kebaktian umum'. Sama seperti yang pertama, ia pun menolak mentah-mentah untuk melayani anak-anak. Saya heran dengan sikap pilih-pilih seperti itu. Bukankah Yesus saja berkata: "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 18:10)? Saya pikir seharusnya mereka merasa terhormat dan bangga bisa melayani anak-anak Tuhan di usia dini. Kalau bersikap seperti itu, itu menunjukkan gejala-gejala kesombongan dan harus diperiksa lagi motivasi melayani yang sebenarnya.
Di dunia pekerjaan, pendidikan atau lingkungan di mana kita ada kita kerap bertemu dengan orang-orang yang, baik sadar atau tidak, sedang menyombongkan diri. Mungkin kita pun pernah secara tidak sengaja melakukan hal yang sama. Sangat ironis saat ini pun terjadi di gereja, dimana kita seharusnya bisa mendapat kehormatan untuk melayani siapa saja atas nama Tuhan. Keahlian, kehebatan, pengalaman yang panjang tidaklah serta merta menjadikan seseorang lebih dari yang lain, karena di mata Tuhan yang dilihat adalah hati. Kerendahan hati bukan kesombongan, melakukan untuk Tuhan dan bukan untuk popularitas atau mengharap pujian orang. Berulang kali di dalam Alkitab kita melihat bagaimana Tuhan mampu mencurahkan hikmatNya dan memakai seseorang yang tadinya tidak ada apa-apanya menjadi berkat luar biasa bagi sesama. From zero to hero. Salah satunya Paulus.
Dalam tulisan kali ini saya ingin melanjutkan lebih jauh tentang rendah hati lewat apa yang dikatakan Paulus. "Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain." (1 Korintus 4:6). Kita tahu bagaimana beratnya beban yang dialami Paulus dan kawan-kawan dalam mewartakan injil. Lihatlah apa kata Paulus berikutnya: "Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina." (1 Korintus 4:9-10). Paulus melayani jemaat Korintus yang terkenal kuat dan berani dengan sebuah kerendahan hati luar biasa. Hanya orang rendah hati lah yang sanggup berkata seperti Paulus. Sebab orang yang tinggi hati akan selalu mencari posisi lebih dari orang lain dan menuntut perlakuan penuh hormat dari orang lain, bahkan merasa berhak menghakimi/menilai orang lain.
Perkataan Paulus ini mengajarkan kita agar tidak bermegah diri di hadapan orang, tidak iri hati kepada orang lain dan selalu hidup dengan rendah hati. Orang yang mempunyai kasih Kristus dalam dirinya seharusnya mampu hidup rendah hati, mampu bersyukur atas karunia Tuhan pada orang lain. Besaran kasih yang ada dalam diri seseorang akan sangat menentukan sikap hatinya. Dan itu bisa kita lihat dari apa yang disampaikan Paulus juga. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 Korintus 13:4).
Tuhan tidak pernah menginginkan keselamatan yang dianugrahkanNya pada kita sebagai dasar untuk sombong, meninggikan diri. Bahkan Tuhan sudah mengingatkan bahwa semua itu adalah atas dasar kasih karunia pemberian Allah. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:8-9).
Kesombongan tidak boleh menjadi bagian atau gaya hidup pengikut Kristus. Apalagi dalam pelayanan, jangan jadikan pelayanan sebagai kesempatan memamerkan diri melainkan dengan rendah hati melayani dan memberkati orang lain dalam nama Tuhan. Hari ini mari kita periksa diri masing-masing, termasuk motivasi kita dalam bekerja dan melayani. Jika masih ada, mari runtuhkan tembok keegoisan dan kesombongan lalu gantikan dengan kerendahan hati.
"Being humble means recognizing that we are not on earth to see how important we can become, but to see how much difference we can make in the lives of others." - Gordon B Hinckley
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
======================
"Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain."
"Ah, pemusik sekelas saya masa main di sekolah minggu.. yang benar aja!" Begitulah yang dikatakan seorang gitaris yang memang sudah paruh baya kepada kordinator bidang musik di sebuah gereja. Ia merasa skill dan pengalamannya tidaklah pantas untuk melayani anak kecil dan seharusnya ia bisa tampil memamerkan kehebatannya di ibadah raya/umum dengan jemaat dewasa yang lebih mengerti musik. Ada satu lagi musisi yang berdalih bahwa panggilannya adalah 'bermain di kebaktian umum'. Sama seperti yang pertama, ia pun menolak mentah-mentah untuk melayani anak-anak. Saya heran dengan sikap pilih-pilih seperti itu. Bukankah Yesus saja berkata: "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 18:10)? Saya pikir seharusnya mereka merasa terhormat dan bangga bisa melayani anak-anak Tuhan di usia dini. Kalau bersikap seperti itu, itu menunjukkan gejala-gejala kesombongan dan harus diperiksa lagi motivasi melayani yang sebenarnya.
Di dunia pekerjaan, pendidikan atau lingkungan di mana kita ada kita kerap bertemu dengan orang-orang yang, baik sadar atau tidak, sedang menyombongkan diri. Mungkin kita pun pernah secara tidak sengaja melakukan hal yang sama. Sangat ironis saat ini pun terjadi di gereja, dimana kita seharusnya bisa mendapat kehormatan untuk melayani siapa saja atas nama Tuhan. Keahlian, kehebatan, pengalaman yang panjang tidaklah serta merta menjadikan seseorang lebih dari yang lain, karena di mata Tuhan yang dilihat adalah hati. Kerendahan hati bukan kesombongan, melakukan untuk Tuhan dan bukan untuk popularitas atau mengharap pujian orang. Berulang kali di dalam Alkitab kita melihat bagaimana Tuhan mampu mencurahkan hikmatNya dan memakai seseorang yang tadinya tidak ada apa-apanya menjadi berkat luar biasa bagi sesama. From zero to hero. Salah satunya Paulus.
Dalam tulisan kali ini saya ingin melanjutkan lebih jauh tentang rendah hati lewat apa yang dikatakan Paulus. "Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain." (1 Korintus 4:6). Kita tahu bagaimana beratnya beban yang dialami Paulus dan kawan-kawan dalam mewartakan injil. Lihatlah apa kata Paulus berikutnya: "Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina." (1 Korintus 4:9-10). Paulus melayani jemaat Korintus yang terkenal kuat dan berani dengan sebuah kerendahan hati luar biasa. Hanya orang rendah hati lah yang sanggup berkata seperti Paulus. Sebab orang yang tinggi hati akan selalu mencari posisi lebih dari orang lain dan menuntut perlakuan penuh hormat dari orang lain, bahkan merasa berhak menghakimi/menilai orang lain.
Perkataan Paulus ini mengajarkan kita agar tidak bermegah diri di hadapan orang, tidak iri hati kepada orang lain dan selalu hidup dengan rendah hati. Orang yang mempunyai kasih Kristus dalam dirinya seharusnya mampu hidup rendah hati, mampu bersyukur atas karunia Tuhan pada orang lain. Besaran kasih yang ada dalam diri seseorang akan sangat menentukan sikap hatinya. Dan itu bisa kita lihat dari apa yang disampaikan Paulus juga. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 Korintus 13:4).
Tuhan tidak pernah menginginkan keselamatan yang dianugrahkanNya pada kita sebagai dasar untuk sombong, meninggikan diri. Bahkan Tuhan sudah mengingatkan bahwa semua itu adalah atas dasar kasih karunia pemberian Allah. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:8-9).
Kesombongan tidak boleh menjadi bagian atau gaya hidup pengikut Kristus. Apalagi dalam pelayanan, jangan jadikan pelayanan sebagai kesempatan memamerkan diri melainkan dengan rendah hati melayani dan memberkati orang lain dalam nama Tuhan. Hari ini mari kita periksa diri masing-masing, termasuk motivasi kita dalam bekerja dan melayani. Jika masih ada, mari runtuhkan tembok keegoisan dan kesombongan lalu gantikan dengan kerendahan hati.
"Being humble means recognizing that we are not on earth to see how important we can become, but to see how much difference we can make in the lives of others." - Gordon B Hinckley
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, May 2, 2016
Hal Rendah Hati (2)
(sambungan)
2. Orang yang rendah hati tidak sombong.
Sombong, tinggi hati, congkak, sombong, angkuh, dan berbagai sinonim lainnya adalah lawan kata dari rendah hati. Artinya orang yang rendah hati tidak akan bersikap sombong, dan begitu juga sebaliknya. Dengan bersikap sombong bukan saja kita dijauhi orang lain, tapi Tuhan pun akan menjauhi kita, bahkan dikatakan menentang kita. "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6b). Mengasihani dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "gives grace, continually".
Lihatlah bagaimana penghargaan Tuhan atas sikap rendah hati. Sebaliknya Tuhan sendiri akan menjadi lawan kita apabila kesombongan atau kecongkakan terus kita pertahankan dalam diri kita. Kesuksesan merupakan salah satu penyebab terbesar perubahan sikap orang dari rendah hati menjadi sombong. Godaan kesuksesan, popularitas, peningkatan karir dan sebagainya bisa dengan cepat menyelewengkan manusia untuk jatuh ke dalam dosa kesombongan. Padahal kalau mereka mau berpikir sederhana, semua talenta dan kesempatan yang datang itu adalah dari Tuhan. Berasal dariNya dan atas seijinNya. Maka seharusnya semua keberhasilan itu bukan dipakai untuk menjadi sombong tetapi dipakai untuk memberkati banyak orang sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Kalau itu yang kita ingat, kita seharusnya bisa menghindari sikap sombong. Dalam Amsal 21:4 dikatakan juga bahwa hati yang sombong adalah dosa. Karenanya kita harus berhati-hati .
3. Orang yang rendah hati mau diajar dan belajar.
Ada sebuah firman Tuhan berbunyi sebagai berikut: "Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati." (Mazmur 25:9). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa orang-orang yang rendah hati akan memiliki kemauan untuk diajar dan terus belajar. Jalan Tuhan terbentang luas di dalam Alkitab. Dan hanya orang yang rendah hatilah yang mau terus membenahi diri untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Belajar tentang ilmu pengetahuan, terus meningkatkan pengetahuan dan keahlian itu sangat perlu. Tapi jangan lupa pula untuk belajar terus bijaksana, berhikmat dan terus memperdalam pengetahuan akan hati Allah dan prinsip KerajaanNya. Tuhan siap membimbing orang-orang yang mau mengakui kekurangannya dan terus belajar, membaca, meneliti, merenungkan, memperkatakan dan melakukan firman Tuhan. Bagaimana Tuhan mau mengajar orang yang merasa dirinya hebat, bahkan lebih pintar dari Tuhan? Bagaimana firman Tuhan bisa tertanam dan bertumbuh apabila firman itu jatuh di atas tanah yang keras berbatu? Keangkuhan akan merugikan kita sendiri. Dengan memiliki kerendahan hati berarti kita pun memiliki kesempatan untuk dibimbing secara langsung oleh Tuhan, karena kita memang selalu siap untuk terus belajar dan belajar lagi.
4. Orang yang rendah hati tidak mendahulukan kepentingan diri sendiri.
Ini juga merupakan poin penting. Bagaimana sebuah ikatan, persekutuan atau bentuk-bentuk perkumpulan lainnya bisa tetap kokoh apabila anggotanya terus menerus hanya mementingkan diri sendiri saja? Keangkuhan bisa membuat orang besar kepala dan lupa diri, sehingga menganggap diri mereka yang paling penting. Sebuah band musik bisa hancur seketika gara-gara sikap seperti ini, keutuhan keluarga bisa runtuh, begitu pula dengan persekutuan, organisasi atau ikatan lainnya. Orang yang rendah hati tidak akan bersikap demikian karena mereka akan memikirkan orang lain terlebih dahulu ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Firman Tuhan berkata: "..Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:3-4). Sifat rendah hati mampu memunculkan sikap seperti ini.
Dari 4 hal di atas kita bisa melihat kualitas tinggi yang akan tampil apabila kita hidup dengan kerendahan hati. Karena itu tidaklah heran jika Tuhan pun meninggikan orang-orang yang memiliki sifat rendah hati, bahkan siap memahkotai dengan keselamatan. Bukan hanya keselamatan dari bahaya, sakit penyakit dan sebagainya, tetapi keselamatan jiwa yang kekal sifatnya, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan salvation. Itulah yang dimahkotai Tuhan kepada orang-orang yang rendah hati seperti yang bisa kita baca dalam ayat bacaan renungan ini yaitu Mazmur 149:4. Sebaliknya dikatakan "Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman." (Amsal 16:5). Seharusnya kita ingat bahwa kita hanyalah berasal dari debu (Mazmur 103:14), dan semua yang kita miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan. (Ulangan 8:14-18). Oleh karena itu, milikilah sifat rendah hati, teruslah ingatkan diri kita untuk itu agar kita tidak terjebak untuk menjadi orang berperilaku menyimpang yang nantinya akan merugikan kita sendiri.
"Talent is God-given. Be humble.
Fame is man-given. Be grateful.
Conceit is self-given. Be careful." - John Wooden
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
2. Orang yang rendah hati tidak sombong.
Sombong, tinggi hati, congkak, sombong, angkuh, dan berbagai sinonim lainnya adalah lawan kata dari rendah hati. Artinya orang yang rendah hati tidak akan bersikap sombong, dan begitu juga sebaliknya. Dengan bersikap sombong bukan saja kita dijauhi orang lain, tapi Tuhan pun akan menjauhi kita, bahkan dikatakan menentang kita. "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6b). Mengasihani dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "gives grace, continually".
Lihatlah bagaimana penghargaan Tuhan atas sikap rendah hati. Sebaliknya Tuhan sendiri akan menjadi lawan kita apabila kesombongan atau kecongkakan terus kita pertahankan dalam diri kita. Kesuksesan merupakan salah satu penyebab terbesar perubahan sikap orang dari rendah hati menjadi sombong. Godaan kesuksesan, popularitas, peningkatan karir dan sebagainya bisa dengan cepat menyelewengkan manusia untuk jatuh ke dalam dosa kesombongan. Padahal kalau mereka mau berpikir sederhana, semua talenta dan kesempatan yang datang itu adalah dari Tuhan. Berasal dariNya dan atas seijinNya. Maka seharusnya semua keberhasilan itu bukan dipakai untuk menjadi sombong tetapi dipakai untuk memberkati banyak orang sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Kalau itu yang kita ingat, kita seharusnya bisa menghindari sikap sombong. Dalam Amsal 21:4 dikatakan juga bahwa hati yang sombong adalah dosa. Karenanya kita harus berhati-hati .
3. Orang yang rendah hati mau diajar dan belajar.
Ada sebuah firman Tuhan berbunyi sebagai berikut: "Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati." (Mazmur 25:9). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa orang-orang yang rendah hati akan memiliki kemauan untuk diajar dan terus belajar. Jalan Tuhan terbentang luas di dalam Alkitab. Dan hanya orang yang rendah hatilah yang mau terus membenahi diri untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Belajar tentang ilmu pengetahuan, terus meningkatkan pengetahuan dan keahlian itu sangat perlu. Tapi jangan lupa pula untuk belajar terus bijaksana, berhikmat dan terus memperdalam pengetahuan akan hati Allah dan prinsip KerajaanNya. Tuhan siap membimbing orang-orang yang mau mengakui kekurangannya dan terus belajar, membaca, meneliti, merenungkan, memperkatakan dan melakukan firman Tuhan. Bagaimana Tuhan mau mengajar orang yang merasa dirinya hebat, bahkan lebih pintar dari Tuhan? Bagaimana firman Tuhan bisa tertanam dan bertumbuh apabila firman itu jatuh di atas tanah yang keras berbatu? Keangkuhan akan merugikan kita sendiri. Dengan memiliki kerendahan hati berarti kita pun memiliki kesempatan untuk dibimbing secara langsung oleh Tuhan, karena kita memang selalu siap untuk terus belajar dan belajar lagi.
4. Orang yang rendah hati tidak mendahulukan kepentingan diri sendiri.
Ini juga merupakan poin penting. Bagaimana sebuah ikatan, persekutuan atau bentuk-bentuk perkumpulan lainnya bisa tetap kokoh apabila anggotanya terus menerus hanya mementingkan diri sendiri saja? Keangkuhan bisa membuat orang besar kepala dan lupa diri, sehingga menganggap diri mereka yang paling penting. Sebuah band musik bisa hancur seketika gara-gara sikap seperti ini, keutuhan keluarga bisa runtuh, begitu pula dengan persekutuan, organisasi atau ikatan lainnya. Orang yang rendah hati tidak akan bersikap demikian karena mereka akan memikirkan orang lain terlebih dahulu ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Firman Tuhan berkata: "..Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:3-4). Sifat rendah hati mampu memunculkan sikap seperti ini.
Dari 4 hal di atas kita bisa melihat kualitas tinggi yang akan tampil apabila kita hidup dengan kerendahan hati. Karena itu tidaklah heran jika Tuhan pun meninggikan orang-orang yang memiliki sifat rendah hati, bahkan siap memahkotai dengan keselamatan. Bukan hanya keselamatan dari bahaya, sakit penyakit dan sebagainya, tetapi keselamatan jiwa yang kekal sifatnya, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan salvation. Itulah yang dimahkotai Tuhan kepada orang-orang yang rendah hati seperti yang bisa kita baca dalam ayat bacaan renungan ini yaitu Mazmur 149:4. Sebaliknya dikatakan "Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman." (Amsal 16:5). Seharusnya kita ingat bahwa kita hanyalah berasal dari debu (Mazmur 103:14), dan semua yang kita miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan. (Ulangan 8:14-18). Oleh karena itu, milikilah sifat rendah hati, teruslah ingatkan diri kita untuk itu agar kita tidak terjebak untuk menjadi orang berperilaku menyimpang yang nantinya akan merugikan kita sendiri.
"Talent is God-given. Be humble.
Fame is man-given. Be grateful.
Conceit is self-given. Be careful." - John Wooden
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sunday, May 1, 2016
Hal Rendah Hati (1)
Ayat bacaan: Mazmur 149:4
====================
"Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan."
Dulu berjuang dengan keringat dan air mata, hari ini menjadi salah satu superstar populer di Indonesia. Saya mengenal sosoknya sebagai seorang yang bersahabat, ramah dan senang bercanda. Tapi itu dulu. Setelah popularitas sudah dalam genggaman, sifatnya pun berubah. Dia tidak lagi bisa dihubungi baik oleh saya maupun teman-teman sesama musisi. Belakangan anggota bandnya juga merasa sangat kecewa dengan sikapnya. Kalau dulu mereka berjuang bareng, sekarang untuk ngomong kepadanya harus hati-hati. Tidak boleh lagi bercanda seenaknya dan harus formil. Jika diundang, ruang gantinya harus berbeda lantai dengan penampil lainnya.
Lalu ada penyanyi lainnya yang punya masalah behaviour juga. Dalam wawancara ia tak henti-hentinya menyombongkan diri, bahwa ada banyak musisi yang lebih senior justru berebut mengiringinya sebelum terkenal. Aneh, padahal saya tahu betul bagaimana dan oleh siapa ia ditemukan dan diangkat. Manajernya sangat kasar kepada pihak pengundang, dan itu sudah sangat sering saya dengar. Belakangan ada soerang teman musisi yang tasnya ditendang sang artis karena dianggap menghalangi jalan, tepat di depannya. Sama seperti yang pertama, ia pun minta ruang gantinya dipisah jauh dari artis lain. Harus ada ini, itu, dan ada panitia yang pernah cerita, kalau ia belanja maka panitia lah yang harus menanggungnya alias di luar fee. Saya tidak mau menyebut nama mereka, tapi saya yakin anda kenal. Saya sangat menyayangkan perilaku mereka karena kalau sudah banyak orang yang mengeluh dan kapok seperti itu, karir mereka bisa cepat tamat. Padahal dengan bakat dan talenta yang mereka punya, mereka seharusnya punya masa depan yang bisa jauh lebih cerah dari sekarang, dan tentu saja seharusnya bisa memberkati lebih banyak orang lagi.
Soal rendah hati berulang-ulang diingatkan di dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dan itu saya kira menunjukkan bahwa rendah hati merupakan isu serius bagi manusia dari dulu sampai sekarang. Sepertinya ada tendensi orang mudah menjadi sombong ketika kehidupannya sukses. Contoh dari dua artis di atas barulah sedikit dari banyak contoh lainnya yang bisa dengan mudah kita dapati kapan dan dimanapun. Ada yang mengira mereka akan terlihat berwibawa dan berpengaruh jika mereka tampil angkuh atau terus omong besar. Padahal kalau hal ini dilakukan, tidak saja orang akan menjauhi, tetapi kita pun akan bermasalah dengan Tuhan. Dalam Amsal sudah diingatkan bahwa "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Lalu lihat pula ayat keras ini: "Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu. Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan;" (Yesaya 2:11-12).
sikap rendah hati merupakan sebuah keharusan untuk dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Kalau dalam ayat di atas kita melihat betapa kerasnya Firman Tuha nmenegur mereka yang sombong, congkak atau tinggi hati, sebaliknya Tuhan menjanjikan banyak kebaikan buat orang-orang yang rendah hati. Lihatlah salah satunya: "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan." (Mazmur 149:4). Keselamatan, itu sebuah anugerah yang terbesar yang bisa kita peroleh. Dan itu siap disematkan kepada kita apabila kita memiliki sebuah sikap rendah hati. Atau bacalah ayat ini: "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan." (Amsal 22:4). Kalau kita lihat dari ayat-ayat yang sudah saya sebutkan saja, tidakkah kita seharusnya tahu bahwa kesombongan hanya akan merugikan kita sendiri?
Mari kita lihat lebih jauh seperti apa sebenarnya rendah hati itu. Setidaknya ada 4 hal yang bisa kita lihat sebagai gambaran apa yang disebut dengan rendah hati menurut firman Tuhan.
1. Orang yang rendah hati memiliki kerelaan, kebesaran hati atau keberanian untuk mengakui kesalahan.
Saya meletakkan hal ini sebagai yang pertama karena bagi banyak orang mengakui kesalahan merupakan hal yang sungguh sulit untuk dilakukan. Rasa gengsi yang terlalu besar, takut kehilangan harga diri, takut disepelekan dan sebagainya sering membuat kita berat untuk meminta maaf secara terbuka. Ada banyak pula orang yang mengira bahwa mengakui kesalahan merupakan bentuk dari mengaku kalah. Padahal masalah kerelaan untuk meminta maaf merupakan hal yang sangat esensial di mata Tuhan. Sebab bagaimana mungkin kita bisa diampuni Tuhan apabila kita tidak mengakui dosa-dosa kita secara terbuka di hadapanNya? Firman Tuhan pun berkata: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).
Tuhan siap mengampuni dan menyucikan kita sesegera mungkin, tetapi diperlukan kerendahan hati kita untuk mau mengakui dosa-dosa kita. Kerelaan mengaku salah menunjukkan kebesaran hati. Tidak ada satupun manusia yang sempurna. Akan ada waktu dimana kita melakukan kesalahan. Dan apabila itu terjadi, daripada mencari pembenaran atau kambing hitam, tidakkah lebih baik kalau kita cepat menyadari kesalahan kemudian menyelesaikannya dengan orang-orang terkait? Itu akan jauh lebih baik, dan Tuhan pun tidak akan mempersulit kita yang menyesal.
(bersambung)
====================
"Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan."
Dulu berjuang dengan keringat dan air mata, hari ini menjadi salah satu superstar populer di Indonesia. Saya mengenal sosoknya sebagai seorang yang bersahabat, ramah dan senang bercanda. Tapi itu dulu. Setelah popularitas sudah dalam genggaman, sifatnya pun berubah. Dia tidak lagi bisa dihubungi baik oleh saya maupun teman-teman sesama musisi. Belakangan anggota bandnya juga merasa sangat kecewa dengan sikapnya. Kalau dulu mereka berjuang bareng, sekarang untuk ngomong kepadanya harus hati-hati. Tidak boleh lagi bercanda seenaknya dan harus formil. Jika diundang, ruang gantinya harus berbeda lantai dengan penampil lainnya.
Lalu ada penyanyi lainnya yang punya masalah behaviour juga. Dalam wawancara ia tak henti-hentinya menyombongkan diri, bahwa ada banyak musisi yang lebih senior justru berebut mengiringinya sebelum terkenal. Aneh, padahal saya tahu betul bagaimana dan oleh siapa ia ditemukan dan diangkat. Manajernya sangat kasar kepada pihak pengundang, dan itu sudah sangat sering saya dengar. Belakangan ada soerang teman musisi yang tasnya ditendang sang artis karena dianggap menghalangi jalan, tepat di depannya. Sama seperti yang pertama, ia pun minta ruang gantinya dipisah jauh dari artis lain. Harus ada ini, itu, dan ada panitia yang pernah cerita, kalau ia belanja maka panitia lah yang harus menanggungnya alias di luar fee. Saya tidak mau menyebut nama mereka, tapi saya yakin anda kenal. Saya sangat menyayangkan perilaku mereka karena kalau sudah banyak orang yang mengeluh dan kapok seperti itu, karir mereka bisa cepat tamat. Padahal dengan bakat dan talenta yang mereka punya, mereka seharusnya punya masa depan yang bisa jauh lebih cerah dari sekarang, dan tentu saja seharusnya bisa memberkati lebih banyak orang lagi.
Soal rendah hati berulang-ulang diingatkan di dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dan itu saya kira menunjukkan bahwa rendah hati merupakan isu serius bagi manusia dari dulu sampai sekarang. Sepertinya ada tendensi orang mudah menjadi sombong ketika kehidupannya sukses. Contoh dari dua artis di atas barulah sedikit dari banyak contoh lainnya yang bisa dengan mudah kita dapati kapan dan dimanapun. Ada yang mengira mereka akan terlihat berwibawa dan berpengaruh jika mereka tampil angkuh atau terus omong besar. Padahal kalau hal ini dilakukan, tidak saja orang akan menjauhi, tetapi kita pun akan bermasalah dengan Tuhan. Dalam Amsal sudah diingatkan bahwa "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Lalu lihat pula ayat keras ini: "Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu. Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan;" (Yesaya 2:11-12).
sikap rendah hati merupakan sebuah keharusan untuk dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Kalau dalam ayat di atas kita melihat betapa kerasnya Firman Tuha nmenegur mereka yang sombong, congkak atau tinggi hati, sebaliknya Tuhan menjanjikan banyak kebaikan buat orang-orang yang rendah hati. Lihatlah salah satunya: "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan." (Mazmur 149:4). Keselamatan, itu sebuah anugerah yang terbesar yang bisa kita peroleh. Dan itu siap disematkan kepada kita apabila kita memiliki sebuah sikap rendah hati. Atau bacalah ayat ini: "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan." (Amsal 22:4). Kalau kita lihat dari ayat-ayat yang sudah saya sebutkan saja, tidakkah kita seharusnya tahu bahwa kesombongan hanya akan merugikan kita sendiri?
Mari kita lihat lebih jauh seperti apa sebenarnya rendah hati itu. Setidaknya ada 4 hal yang bisa kita lihat sebagai gambaran apa yang disebut dengan rendah hati menurut firman Tuhan.
1. Orang yang rendah hati memiliki kerelaan, kebesaran hati atau keberanian untuk mengakui kesalahan.
Saya meletakkan hal ini sebagai yang pertama karena bagi banyak orang mengakui kesalahan merupakan hal yang sungguh sulit untuk dilakukan. Rasa gengsi yang terlalu besar, takut kehilangan harga diri, takut disepelekan dan sebagainya sering membuat kita berat untuk meminta maaf secara terbuka. Ada banyak pula orang yang mengira bahwa mengakui kesalahan merupakan bentuk dari mengaku kalah. Padahal masalah kerelaan untuk meminta maaf merupakan hal yang sangat esensial di mata Tuhan. Sebab bagaimana mungkin kita bisa diampuni Tuhan apabila kita tidak mengakui dosa-dosa kita secara terbuka di hadapanNya? Firman Tuhan pun berkata: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).
Tuhan siap mengampuni dan menyucikan kita sesegera mungkin, tetapi diperlukan kerendahan hati kita untuk mau mengakui dosa-dosa kita. Kerelaan mengaku salah menunjukkan kebesaran hati. Tidak ada satupun manusia yang sempurna. Akan ada waktu dimana kita melakukan kesalahan. Dan apabila itu terjadi, daripada mencari pembenaran atau kambing hitam, tidakkah lebih baik kalau kita cepat menyadari kesalahan kemudian menyelesaikannya dengan orang-orang terkait? Itu akan jauh lebih baik, dan Tuhan pun tidak akan mempersulit kita yang menyesal.
(bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...



