Tuesday, September 27, 2016

The greatest poverty (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Amsal 21:13
========================
"Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru."

Apa sebenarnya yang menjadi tolok ukur kemiskinan? Kalau ditanyakan kepada orang, jawaban kemungkinan besar mengarah kepada faktor-faktor ekonomi atau finansial. Tidak sanggup mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari, itu miskin. Tidak punya tempat tinggal, itu dianggap orang juga sebagai miskin. Tidak punya baju yang layak pakai, itu juga katanya miskin. Di jaman sekarang kata miskin justru semakin meluas, yaitu menyentuh kepada kebutuhan lainnya yang sebenarnya tidaklah penting-penting amat, setidaknya tidak seperti kebutuhan pokok yang kalau tidak terpenuhi maka akan beresiko bagi hidup. Misalnya, orang yang tidak punya mobil dikatakan miskin. Mobil biasa bukan mewah, apalagi keluaran lama, itu miskin. Tidak punya kendaraan, bahkan motor sekalipun, itu lebih parah. Tidak punya smart phone minimal android dengan fitur seadanya, itu juga sudah dianggap miskin. Ada orang yang lebih dari cukup tapi tetap merasa miskin dan terus mengejar uang dan harta. Lucunya ada banyak orang yang memakai kata miskin sebagai excuse. Misalnya mengaku-ngaku miskin supaya tidak harus keluar uang buat sumbangan, buat menolong orang lain yang terdesak dan sebagainya. Lihatlah bahwa kata miskin memang semakin jauh meningkat penggunaannya dibanding sekedar memenuhi kebutuhan pokok saja. Miskin ternyata relatif dan subyektif sifatnya.

Kalau miskin itu relatif dan subyektif, seperti apakah kemiskinan yang termiskin itu sebenarnya? Kondisi seperti apa sebenarnya yang membuat orang bisa dikatakan sebagai yang paling miskin? Jawabannya pun pasti beragam dan kebanyakan akan mengarah kepada kesulitan finansial dalam tingkat tinggi atau ekstrim. Tapi kalau pertanyaan ini diberikan kepada mendiang Bunda Teresa, jawaban beliau sangatlah berbeda. Apa yang menurutnya kemiskinan termiskin justru jauh dari hal-hal finansial. Ia pernah ditanya tentang hal ini, dan demikian jawabannya.

"We think sometimes that poverty is only being hungry, naked and homeless. But the poverty of being unwanted, unloved and uncared for is the greatest poverty. We must start in our own homes to remedy this kind of poverty."

Ada versi lainnya yang berbunyi sebagai berikut:

"Being unwanted, unloved, uncared for, forgotten by everybody, I think that is a much greater hunger, a much greater poverty than the person who has nothing to eat."

Apa yang digambarkan Bunda Teresa mengenai kemiskinan yang termiskin adalah berdasarkan pengalamannya sendiri dalam melayani para orang miskin jauh dari negara asalnya. Sejarah mencatat bahwa hampir sepanjang hidupnya ia habiskan di Kalkuta, India, berada ditengah-tengah masyarakat yang dianggap sebagai yang termiskin dari yang miskin untuk melayani mereka. Ia menjadi wakil Tuhan untuk mereka yang termiskin dan terbuang. Bunda Teresa melayani orang yang lapar, gelandangan, buta, pincang, dan mereka yang menderita penyakit-penyakit yang bagi orang dianggap menjijikkan seperti lepra atau kusta dan sakit penyakit lainnya. Dia berhadapan setiap hari dengan mereka ini. Tapi dari pengalamannya sendiri, ia berkata bahwa the greatest poverty justru adalah orang-orang yang tidak ada yang mengasihi. The unloved, unwanted and uncared. orang-orang yang tidak diperhatikan, tidak ada yang mencintai dan orang-orang tertolak. Bayi-bayi hasil hubungan gelap yang kelahirannya tidak diinginkan, mereka yang terbuang. Tentu pengalaman menghadapi kenyataan seperti itu selama sekian dasawarsa membuat Bunda Teresa tahu betul apa sebenarnya yang paling menyedihkan, atau apa yang sebenarnya paling dibutuhkan orang. Apa yang beliau katakan seharusnya membuka mata kita mengenai kemiskinan terberat atau terburuk yang bisa dialami manusia.

Kemiskinan terparah bukanlah kelaparan, telanjang dan tidak punya rumah, melainkan rasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak dipedulikan. Kalau kita renungkan, apa yang ia katakan bisa jadi benar. Pada kenyataannya ada begitu banyak orang yang menderita dan bermasalah bukan karena mereka tidak mampu secara finansial, tapi karena mereka merasa tertolak, merasa tidak dikasihi dan punya pengalaman pahit tentang cinta yang membuat mereka hambar atau bahkan sulit percaya kepada orang lain. Mereka hidup menyendiri dan menderita secara mental, jauh dari perasaan dikasihi atau dicintai. Saya sudah bertemu dengan beberapa orang yang mengalami hal seperti ini. Ada beberapa orang yang melakukan banyak hal buruk termasuk mencoba bunuh diri tanpa tahu kenapa, tapi setelah ditelusuri mereka ternyata mengalami penolakan di masa kecilnya atau selamat dari percobaan aborsi. Meski secara ekonomi mereka berkecukupan, hidup mereka sangat perih dan rata-rata membutuhkan waktu lama untuk memulihkan gambar dirinya.

(bersambung)

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker