Sunday, April 30, 2023

Mempersiapkan Anak di Masa Sukar (2)

 (sambungan)

Ini baru bicara soal virus. Bagaimana dengan kasus gagal ginjal pada anak-anak yang sempat membuat para orang tua yang punya anak balita menjadi ketakutan? Korban berjatuhan  dan itu nyata adanya. Resesi ekonomi, disintegrasi, jurang pemisah yang terus semakin besar akibat adanya orang-orang yang mempergunakan metode itu untuk mencari posisi. Betapa banyaknya permasalahan yang dihadapi. Belum beres satu sudah muncul lagi yang lain. Di satu sisi harus mengatasi bencana global, di sisi lain harus berusaha menyelamatkan banyak nyawa, di sisi lainnya harus terus melawan berbagai berita bohong yang akan membuat semua masa sukar menjadi bertambah sukar dan berlarut-larut. Dalam kondisi seperti ini resesi pun muncul. Daya beli menurun, banyak pengusaha gulung tikar, banyak karyawan dirumahkan, sehingga banyak orang yang berpikir, kalau tidak mati karena virus ya mati karena tidak makan. Itu menunjukkan adanya masa sukar.

Masa sukar. Saya lalu diingatkan akan ayat ini. "Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar." (2 Timotius 3:1). Masa yang sukar. Bukankah itu yang kita rasakan hari ini? Sukar, sulit, berat. Ketika mendengar kata 'masa yang sukar', sebagian besar orang akan segera berpikir akan kesulitan ekonomi yang memang dirasakan kebanyakan dari kita.

Kesulitan ekonomi merupakan salah satu hal dari masa yang sukar? Jelas. Tapi apakah kesulitan ekonomi alias resesi yang berlangsung global merupakan satu-satunya ekses dari masa sukar? Tidak. Kalau anda baca kelanjutan dari ayat di atas, masa yang sukar sebenarnya bukan berbicara hanya mengenai kesulitan ekonomi atau bencana kelaparan yang terjadi di banyak tempat saja, tetapi jauh lebih luas dari itu.

Mari kita lihat ayat-ayat berikutnya.

"Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran." (ay 2-7).

(bersambung)

Saturday, April 29, 2023

Mempersiapkan Anak di Masa Sukar (1)

 Ayat bacaan: 2 Timotius 3:1
=======================
"Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar."


Saya tidak pernah membayangkan harus mengalami masa menyeramkan seperti saat pandemi mulai muncul di penghujung 2019 lalu masuk ke Indonesia sejak sekitar Februari atau Maret 2020. Mendadak kita seolah disuguhi horror dengan adanya virus yang belum dikenal, sehingga jelas butuh waktu panjang untuk mempelajari virus ini, membuat anti virusnya sementara korban mulai berjatuhan. Di masa-masa awal, kita pun bingung bagaimana harus melindungi diri karena belum kenal dan belum terbiasa dengan situasi baru yang menakutkan. Tidaklah heran jika kemudian terjadi panic buying karena menghadapi ketidakpastian. Beberapa produk mulai hilang dari pasaran, dan kalaupun ada harganya langsung melonjak berkali-kali lipat. Selain karena hukum ekonomi, orang-orang yang masih saja memanfaatkan kesempatan tanpa rasa perikemanusiaan mencoba mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Yang membuat saya miris adalah orang-orang yang memanfaatkan situasi dengan terus menyebarkan berita-berita yang salah tentang virus. Media tanpa peduli terus membombardir kita dengan berita berlebihan hanya karena ingin membuat click bait demi keuntungan mereka. Para oposan membuat berita-berita menyerang pemerintah, tak peduli perbuatan itu akan memakan banyak jiwa dari orang yang termakan kebohongan yang mereka jual. Ingatkah saat mereka menyerang pemerintah saat berhasil mendapatkan vaksin untuk memerangi pandemi? Selain negara asal vaksin yang mereka serang, mereka pun mengatakan bahwa pemerintah buang uang untuk membeli vaksin yang belum terbukti. Bagaimana mau terbukti kalau kita berhadapan dengan virus yang baru saja nongol di bumi? Mau tunggu setengah populasi mati dulu? Dan yang paling keterlaluan, di satu sisi mereka mencoba membuat masyarakat tidak percaya dengan vaksin, bahkan virus, sementara mereka sendiri ikutan vaksin.

Seandainya saja di saat genting kita bisa melupakan dulu kepentingan pribadi dan perbedaan lalu bergandengan tangan menghadapi bersama-sama, kita pasti bisa lebih kuat menghadapi situasi ini. Tapi begitulah manusia. Jika hati nurani tidak lagi berfungsi, jika iman bukannya membuat diri menjadi manusia yang lebih baik tapi malah dipakai untuk kepentingan-kepentingan pribadi yang hanya sesaat, maka mereka akan tega mengorbankan siapapun demi mereka sendiri.

Sampai hari ini entah sudah berapa banyak varian hasil mutasi virus ini. Namanya virus, ya memang alaminya seperti itu. Jika anda ingat bagaimana saat flu pertama muncul dan mendatangkan situasi seperti hari ini ratusan tahun lalu, hari ini pun kita berhadapan dengan tidak kurang dari 3000 varian flu. Kabar baiknya, semakin banyak mutasinya, virus akan semakin melemah. Kalau dulu flu bisa membunuh yang tertular, hari ini flu jadi hal biasa yang bisa dikalahkan hanya dengan obat beli di warung, atau bahkan dengan makan vitamin dan beristirahat yang cukup.

(bersambung)

Friday, April 28, 2023

Melayani Semua Orang (5)

 (sambungan)

Tugas untuk membawa banyak orang memperoleh keselamatan merupakan tugas yang harus kita semua jalankan. Jangan menutup diri terlalu kaku, jangan terlalu cepat menghakimi. Jangan belum apa-apa sudah memusuhi, jangan cepat sakit hati atau tersinggung. Meski mungkin anda bukan bertipe intim, tapi tetaplah berusaha menjangkau orang dan mengenalkan mereka pada keselamatan. Jangan berat hati dan menolak meluangkan atau mengorbankan waktu, tenaga dan sebagainya, karena semua ini merupakan hal-hal yang diperlukan dalam memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini.

Semakin sulit orangnya maka pengorbanan yang diperlukan akan semakin besar, tapi lakukanlah dengan sukacita dengan didasari belas kasih. Berbagai hal sederhana seperti memberi pertolongan, menunjukkan kepedulian, atau bahkan memberi sedikit waktu saja bagi mereka untuk mendengarkan, bukan karena didasari agenda-agenda tertentu, melainkan atas dasar kasih, kasih kepada sesama manusia dan mengasihi Tuhan,  bisa menjadi sesuatu yang indah untuk mengenalkan bagaimana kasih Kristus berlaku sama bagi siapapun itu tanpa terkecuali.

Dan yang bagi saya terpenting, bagaimana cara dan gaya kita hidup akan menjadi contoh nyata yang seringkali justru lebih efektif dalam mengenalkan Yesus ketimbang omongan panjang lebar. Kasih akan tetap dan selalu menjadi dasar dalam hal apapun. Selama kita masih bersifat eksklusif, masih suka membeda-bedakan, masih gampang memusuhi, bersikap anti pati, mudah dikuasai kebencian, jangan berharap akan adanya perubahan di dunia ini.

Nyatakan kasih kepada semua orang tanpa terkecuali


Thursday, April 27, 2023

Melayani Semua Orang (4)

 (sambungan)

Contoh keseriusan Paulus dalam melayani bisa kita lihat lebih jauh saat ia berada di Roma. Saat itu ia dikawal dan diawasi oleh seorang prajurit. Tetapi untunglah ia masih diijinkan untuk menyewa sebuah rumah sendiri meski harus tetap hidup dalam pengawasan. "Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya." (Kisah Para Rasul 28:16).

Keterbatasan gerak sebagai tahanan rumah ternyata tidak menyurutkan langkahnya untuk menyebarkan kabar keselamatan.

Dalam beberapa ayat berikutnya kita bisa melihat ia tetap beraktivitas seperti sebelumnya, dan itu dalam waktu yang tidak pula singkat. "Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus." (ay 30-31).

Apa yang bagi saya luar biasa, ia tidak pilih-pilih tebu. Dengan jelas ayat ini mengatakan bahwa Paulus 'menerima SEMUA orang yang datang kepadanya.' Mungkin tidak semua orang yang haus akan kebenaran yang datang. Saya membayangkan mungkin ada yang ingin memprovokasi, memancing emosi, menantang dan sebagainya. Mungkin saja kan? Saya tidak tahu apakah Paulus bertipe introvert atau ekstrovert, apakah ia termasuk tipe orang yang supel dan mudah bergaul atau ia butuh usaha ekstra agar bisa seperti itu, tapi yang pasti, ia teguh melakukan pelayanan terhadap semua orang tanpa terkecuali, tanpa memandang kondisi atau keterbatasan yang ia hadapi saat melakukannya.

Paulus tidak menutup diri dan tidak berhenti melayani. Ia ternyata membuka rumahnya seluas-luasnya bagi semua orang tanpa terkecuali, memberi waktu dan tenaganya sepenuhnya untuk dengan terbuka memberitakan tentang Kerajaan Allah dan Yesus Kristus. Semua ini agar mereka yang datang ke rumahnya mengenal kebenaran dan bisa ikut dilayakkan mendapat anugerah keselamatan.

Ada keragaman manusia yang luas di sekitar kita menunggu untuk dijangkau. Yesus sudah memanggil kita untuk menjadi saksiNya dan telah menganugerahkan Roh Kudus untuk turun atas kita demi panggilan tersebut. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Menjadi saksi baik di lingkungan terdekat kita dan terus bertumbuh hingga kita bisa menjadi saksi Kristus dalam sebuah lingkungan yang lebih besar, bahkan sampai ke ujung bumi tidaklah bisa kita lakukan jika kita terus memandang perbedaan sebagai alasan untuk menutup diri dari sebagian orang yang kita anggap berbeda atau berseberangan dengan kita.

(bersambung)

Wednesday, April 26, 2023

Melayani Semua Orang (3)

 (sambungan)

Kita memiliki tugas sendiri-sendiri. Paulus menggambarkannya seperti ini: "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain." (Roma 12:4-5). Jika diantara kita saja sudah saling tuding dan merendahkan, bagaimana mungkin kita bisa menunaikan tugas kita seperti Amanat Agung yang sudah dipesankan Yesus kepada setiap muridNya, termasuk kita didalamnya?

Mari kita lihat sedikit bagian dari perjalanan pelayanan Paulus. Selama bertahun-tahun setelah pertobatannya, Paulus terus bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan kabar keselamatan. Perjalanan yang ia tempuh bukan pendek. Ia terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain bahkan hingga menyentuh Asia Kecil sebelum akhirnya ia ditangkap dan dipenjarakan di Roma. Walaupun ia banyak mendapat hambatan dalam pelayanannya, Paulus dikenal sebagai figur yang teguh dan taat dalam menjalankan tugasnya. Ia mengabdikan sisa hidupnya sepenuhnya untuk memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini. Paulus terus berusaha menyentuh orang dengan pemberitaan Injil karena ia peduli terhadap keselamatan orang lain, rindu agar semakin banyak orang yang mengenal dan percaya kepada Sang Juru Selamat.

Meski dalam penjara sekalipun ia terus menulis surat. Ia ditangkap, didera, disiksa, dan menunggu waktu dieksekusi mati, tapi secara luar biasa ia tetap teguh melayani. Bagi sebagian besar orang apa yang dialami Paulus mungkin akan dianggap sebagai akhir dari pelayanan. Mendapat beban seperseratus Paulus saja sudah berpotensi mendatangkan kepahitan. Bukankah secara manusiawi kesulitan bisa membuat kita patah semangat dan menyerah? Tapi tidak demikian bagi Paulus. Dia tidak memandang halangan sebagai akhir dari segalanya. Justru Paulus memandang keterbatasan-keterbatasannya bergerak sebagai sebuah kesempatan. Kemanapun ia pergi, apapun resiko yang ia hadapi, seperti apapun keadaan yang ia hadapi, ia terus maju menjangkau banyak jiwa, meski jiwanya sendiri harus menjadi taruhannya.

(bersambung)

Tuesday, April 25, 2023

Melayani Semua Orang (2)

 (sambungan)

Hal ini akan menjadi semakin menarik kalau kita hubungkan dengan sebuah tugas, atau lebih tepatnya disebut Amanat yang Agung yang diberikan Yesus langsung kepada kita, murid-muridNya. Lebih mudah bagi kita menjangkau orang yang bersahabat, itu jelas. Tapi akan menjadi sulit saat berhadapan dengan orang yang tertutup apalagi kalau bertipe keras, tidak ramah apalagi kasar. Padahal, apa yang ditugaskan Tuhan Yesus adalah seperti ini: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20).

Kita semua mengemban tugas untuk menyampaikan kebenaran kepada semua orang tanpa terkecuali. Tugas ini tentu saja bukan berbicara tentang berkotbah atau membacakan Alkitab, atau bagai orang Farisi yang berkotbah di jalan-jalan atau gang-gang di masa Yesus turun ke bumi, bersikap norak atau bahkan kasar, tetapi secara luas berbicara mengenai hidup yang menghasilkan buah, menjadi surat Kristus, alias menyatakan pribadi Kristus lewat cara hidup kita di dunia. Berarti bukan hanya orang-orang yang 'mudah' saja yang harus dijangkau, tetapi orang yang 'sulit' yang ditempatkan disekitar kita pun harus pula mendapat perhatian serius. Ada keragaman manusia yang sangat luas di sekitar kita. Untuk bisa melakukan Amanat Agung dibutuhkan kerelaan untuk meluangkan atau mengorbankan sebagian waktu, tenaga dan lain-lain termasuk kesabaran dan keteguhan, dan pengorbanan akan semakin besar diperlukan ketika berhadapan dengan orang-orang yang sulit. Selain caranya, bagaimana sikap dan reaksi kita saat bertemu orang atau berada di tengah orang-orang yang belum kita kenal akan sangat menentukan.

Tuhan menciptakan manusia dengan variasi yang tidak terbatas. Tidak ada yang persis sama, baik wajah, postur maupun sifat. Semua punya sesuatu yang unik dan berbeda yang membuat hidup ini penuh warna. Ada yang memandang perbedaan itu sebagai berkat Tuhan yang patut disyukuri, ada pula yang memandangnya sebagai alasan untuk menjauhkan diri, atau bahkan menjadikannya landasan untuk berbuat jahat. Ada orang yang bisa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang bisa dijadikan kesempatan untuk belajar banyak, ada orang yang menganggap hal itu sebagai rahmat, ada yang menyikapinya sebagai pembatas, ada yang memandang perbedaan sebagai sebuah ancaman. Jangankan dengan yang tidak seiman, dengan saudara seiman saja perbedaan masih sering disikapi secara negatif. Kalau berbeda denominasi saja masih membuat orang membangun pagar pembatas dan saling menjelekkan, bagaimana mungkin kita berani bermimpi untuk melihat Kerajaan Allah turun di muka bumi ini?

(bersambung)

Monday, April 24, 2023

Melayani Semua Orang (1)

 Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 28:30
==========================
"Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya."

Didikan untuk bersosialisasi bagi saya penting dalam pembentukan karakter anak. Karena itulah meski saya harus tetap waspada karena anak saya bertumbuh menuju balita di saat pandemi, saya harus membiasakannya bertemu orang tanpa membedakan apapun. Mungkin anak saya pun terbantu membawa sifat papanya yang extrovert, sebagian lagi usaha kami mengajarkannya untuk bersosialisasi dan tidak takut orang, saat ini di usia 4 tahun ia tumbuh menjadi anak yang sangat supel, periang dan sangat mudah berteman.

Mungkin sedikit terlalu mudah, karena terkadang saya kasihan melihatnya sedih ketika ia mencoba berteman dengan anak yang baru ketemu tapi tidak mendapat sambutan yang sama. Pada kenyataan ada banyak orang tua yang mengajarkan anaknya agar menyingkir saat ketemu orang meski sebaya, mungkin demi keamanan mereka juga dari sisi penilaian orang tuanya. Mungkin juga karena pandemi masih terus menghantui, dan selain itu tentu saja, karakter anak pun berbeda-beda. Tapi bagi saya itu tetap lebih baik ketimbang anak saya menjadi anak yang penyendiri, sulit berteman, apalagi kalau sampai menjauh dari orang.

Kenapa? Sebab dari pengalaman hidup saya, saya merasakan sendiri bahwa sikap supel dan mudah bersosialisasi sangat bermanfaat dalam hidup. Sementara di lain sisi, istri saya bertipe sebaliknya mengakui bahwa dengan tidak mudah bergaul ia kerap mengalami kesulitan ini dan itu sejak lama. Saya tahu anak saya akan sangat terbantu jika bisa supel dan luwes dalam pergaulan. Di sisi lain, kami harus mengajarkannya agar tetap waspada dalam berteman agar jangan nanti terbawa arus pergaulan yang salah. Butuh lebih ekstra effort ketimbang hanya melarang dan mengajari agar tetap jauh dari orang, tapi tidak apa-apa asal ia mendapat bekal awal yang baik dan cukup dari kami orang tuanya sejak di usia dini.

Dalam kenyataannya, selalu saja ada manusia yang gemar membeda-bedakan orang berdasarkan banyak hal yang rasanya tidak perlu saya sebutkan. Cuma mau berteman dengan yang setipe, sejenis, sealiran atau senada dan seirama dengannya, sementara yang lain dianggap musuh sehingga harus dijauhi, dimusuhi atau bahkan yang lebih ekstrim. Padahal sikap seperti itu tidak pernah membawa manfaat apa-apa selain hanya akan merugikan kita sendiri. 

Dalam renungan kali ini saya ingin melanjutkan lagi tentang mengemban tugas Amanat Agung seperti yang disampaikan Yesus sebelum Dia naik ke surga.

(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...