Saturday, December 10, 2016

Christlikeness in the Spirit of Our Mind (1)

Ayat bacaan: Filipi 2:5
=================
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus"

Baru saja rasanya kita memasuki tahun 2016. Tidak terasa kita sudah berada di bulan Desember. Sebelum masuk ke tahun yang baru, kita akan merayakan Natal terlebih dahulu, mengenang dan mensyukuri kelahiran Sang Juru Selamat yang datang ke dunia, yang didasari atas kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Berkat anugerah yang sangat besar ini, kita tidak lagi harus binasa melainkan diperkenankan beroleh kehidupan yang kekal, seperti yang tertulis dengan sangat jelas pada Yohanes 3:16.

Bagaimana anda mengisi Natal tahun ini? Banyak diantara kita yang sudah mulai bersiap-siap untuk liburan, tukar menukar hadiah dengan orang-orang dekat yang kita kasihi dan berbagai perayaan lain. Beberapa pusat perbelanjaan sudah mulai berbenah mendekor dengan tema Natal. Lagu-lagu Natal yang syahdu dan ceria terdengar dimana-mana sehingga suasananya sudah sangat terasa. Sebagian dari kita pun sudah memasang pohon Natal dirumah yang menambah kebahagiaan seisi keluarga. Kelahiran Yesus memang sepantasnya kita sikapi dengan sukacita. Sebagai manusia tentu kita akan merayakannya melalui berbagai kegiatan yang diisi dengan kegembiraan. Tapi kita harus juga berpikir lebih jauh, apakah semangat Natal hanyalah berbicara atau berkaitan dengan pesta dan berbagai perayaan lainnya saja? Jika kegiatan kita hanya berkutat dalam hal-hal tersebut, maka itu tandanya kita belumlah memahami hakekat kedatangan Kristus ke dunia.

Natal adalah saat dimana kita merayakan kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Seperti yang saya sebutkan di atas tadi, Natal ada karena kasih Tuhan yang begitu besar atas kita. Tuhan merelakan AnakNya yang tunggal turun ke dunia, mengambil rupa sama seperti kita, menebus dosa-dosa kita semua agar kita tidak binasa, melainkan bisa memperoleh kehidupan yang kekal. Lewat karya penebusan Kristus hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan, sehingga hari ini kita bisa "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" (Ibrani 4:16). Ini sebuah anugerah luar biasa yang bisa kita nikmati hanya oleh penebusan Kristus.

Hari ini mari kita lihat sebuah pesan Paulus yang sangat penting untuk kita perhatikan. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:5). We should think of having Christlikeness in the spirit of our mind. 

Pertama, lihatlah bahwa demi kita, Yesus tidak menganggap bahwa kesetaraanNya dengan Allah harus dipertahankan. Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (ay 6-7)

Kedua, Yesus mau merendahkan diriNya untuk taat sepenuhnya menjalankan misi yang digariskan Tuhan sampai kepada kematianNya di atas kayu salib. Semua dilakukan demi menyelamatkan kita. "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (ay 8). Ini semua Dia lakukan karena kasih yang begitu besar kepada kita, sehingga anugerah sebesar ini diberikan kepada kita yang sebenarnya tidak layak menerimanya.

Lewat anugerah sebesar ini sudah sepantasnya kita meneladani apa yang telah diperbuat Kristus untuk menjangkau sesama kita pula. Kita menaruh pikiran dan perasaan kita seperti halnya Yesus. We think the way He thinks, we love others the way He loves us. We do what Jesus does.

Tuhan Yesus memikirkan nasib manusia, Dia peduli dan mengasihi kita, dan karena itulah Natal ada. Jika Dia mau memikirkan nasib kita, tidakkah itu berarti bahwa kita pun harus merepresentasikan itu dengan mengasihi sesama kita juga? So, we should think, what would Jesus do? Kalau kita sepikiran dan seperasaan, kita tentu tahu dan melakukan seperti apa yang Dia akan lakukan.

Lewat pertobatan kita sesungguhnya sudah meninggalkan kehidupan lama kita yang penuh noda untuk diperbaharui dalam roh dan pikiran,  dan menggantikannya dengan sebentuk hidup sebagai manusia baru yang telah sesuai kehendakNya dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya sesuai kehendak Tuhan.

(bersambung)


Friday, December 9, 2016

Orang Gerasa (2)

(sambungan)

Manusia akan lebih mudah menangkap ilustrasi dari sebuah kehidupan nyata dan akan lebih mudah mencerna hingga mengaplikasikannya ketimbang hanya disuruh menelan bulat-bulat segala sesuatu yang sifatnya teoritis saja. Ada banyak peneliti yang sudah pernah melakukan observasi mengenai hal ini, dan mereka akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sebuah pengalaman pribadi tentang sesuatu akan memiliki kekuatan tersendiri untuk menggerakkan seseorang.

Demikian pula dalam hal berbagi pengalaman tentang kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Ada waktu-waktu dimana kita butuh mendengar berbagai kesaksian dari orang-orang yang mengalami mukjizat untuk menguatkan kita di saat kita goyah, ada waktu-waktu dimana kita harus membagikan pengalaman kita kepada orang lain sebagai bentuk kesaksian atas campur tangan Tuhan yang luar biasa dalam hidup kita. Ada begitu banyak janji Tuhan yang diberikan dalam Alkitab, dan ketika kita tengah mengalami masalah seringkali kita terasa jauh dari berbagai janji itu. Itulah sebabnya berbagai kesaksian biasanya mampu menguatkan kita dan memulihkan iman kita untuk kembali dipenuhi pengharapan yang kokoh terhadap janji Tuhan.

Kembali kepada pentingnya sebuah kesaksian di mata Yesus, Dia menyampaikan sebuah pesan terakhir sebelum terangkat naik kembali ke tahtaNya di surga. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Bagi kita diberikan sebuah tugas yang sesungguhnya tidak mudah. Kita diminta bertindak menjadi saksi Kristus baik di lingkungan tempat tinggal atau pekerjaan, kemudian meningkat kepada kota-kota atau desa-desa di sekitar kita, menjangkau saudara-saudara kita yang belum mengenal Kristus atau bahkan hingga ke seluruh bumi. Kita tidak harus menjadi pendeta untuk bersaksi, kita tidak harus berkotbah panjang lebar di jalan-jalan untuk menjalankan tugas ini. Kita bisa melakukan itu dengan cara yang sederhana, yaitu dengan membagikan kesaksian bagaimana campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita membuat perbedaan.

Dalam Wahyu kita bisa membaca bahwa kesaksian adalah salah satu alat yang mampu membunuh iblis dan perbuatan-perbuatan jahatnya. "Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Wahyu 12:11). Ini menggambarkan betapa pentingnya sebuah kesaksian untuk menghancurkan tipu muslihat iblis dan kuasa-kuasa kegelapan yang sangat ingin membuat lebih banyak lagi orang untuk dilemparkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebuah kesaksian tidak harus selalu berisikan mukjizat-mukjizat seperti kesembuhan sakit penyakit, pelepasan, pemulihan, berkat-berkat dan sebagainya. Sebuah kesaksian kecil mengenai bagaimana kita bisa tetap hidup dalam pengharapan di kala kesesakan, bagaimana kita bisa tetap teguh dalam iman di saat sulit, bagaimana keluarga kita bahagia, sepakat dan tidak mudah goyah, itupun bisa menjadi berkat yang memberi kekuatan tersendiri bagi orang lain. Bahkan saat anda menerapkan Firman Tuhan dalam hidup anda dan keluarga, terkadang anda tidak perlu bercerita apa-apa untuk memberi kesaksian sebab orang akan bisa melihat dan merasakan sendiri.

Tidak ada satu orangpun yang tidak memiliki kesaksian. Masalahnya adalah, maukah kita membagikannya kepada orang lain agar mereka bisa mengenal siapa Yesus sebenarnya? Bukan kemampuan kita berbicara atau ilmu yang kita miliki yang dibutuhkan, tetapi pakailah kuasa Allah yang bekerja di dalam diri kita. Kalau begitu, mau dan siapkah anda untuk menceritakan kesaksian kepada orang lain?

Kesaksian kita, sekecil apapun, sanggup memberkati orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, December 8, 2016

Orang Gerasa (1)

Ayat bacaan: Markus 5:19
=====================
"Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"

Alkisah ada seseorang yang tengah dirasuk roh jahat ketika ia keluar dari area pekuburan. Roh jahat yang masuk ke dalam orang itu begitu banyaknya hingga disebutkan sebagai sebuah legiun. Menurut penelitian, satu legiun itu berjumlah kira-kira 6000 orang dan terbagi dalam 10 kelompok. Itu jelas banyak sekali. Tidak ada satupun orang yang sanggup melepaskannya, bahkan rantai sekalipun tidak mampu menahannya. Jika anda membayangkannya, saya yakin anda akan bergidik seperti tengah menonton film horror. Tapi kisah ini benar terjadi, ditulis dalam perikop berjudul "Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa" (Markus 5:1-20).

Singkat cerita, adalah Yesus yang pada akhirnya sanggup melepaskan orang malang dari Gerasa ini. Begitu bersukacitanya si orang malang setelah dilepaskan, maka untuk mengungkapkan rasa syukurnya ia pun kemudian meminta agar ia diperkenankan mengikuti Yesus kemanapun Dia pergi. Tapi lihatlah reaksi menarik Yesus terhadap permintaannya itu. "Yesus tidak memperkenankannya lalu Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" (Markus 5:19).

Apakah anda mendapatkan sesuatu yang agak aneh? Kalau Yesus berkeliling mengajak orang-orang dari berbagai latar belakang untuk menjadi murid-muridnNya dan pergi melayani bersama-sama, kenapa Yesus tidak mengijinkan atau menolak orang ini untuk mengikutinya? Lantas apa yang diminta Yesus untuk ia lakukan? Ayat di atas dengan sangat jelas memberikan alasannya.

Perhatikan bahwa Yesus menolak orang dari Gerasa yang baru dilepaskan itu untuk mengikutinya karena sebuah alasan penting. Yesus meminta si orang yang baru saja dilepaskan dari kuasa roh-roh jahat untuk kembali ke kampungnya lalu memberi kesaksian disana mengenai apa yang telah Tuhan lakukan atas dirinya, dan kemudian menceritakan pula bagaimana Tuhan mengasihaninya. Kata-kata Yesus kepada orang Gerasa ini dengan jelas menunjukkan betapa pentingnya sebuah kesaksian bagi orang percaya yang telah mengalami langsung jamahan dan belas kasih Tuhan itu untuk dibagikan kepada sesama kita lainnya. Begitu penting, sehingga Yesus menyuruh si orang yang baru mengalami pelepasan ini untuk lebih baik pulang ke kampungnya dan bersaksi ketimbang terus mengikuti Yesus kemanapun Dia pergi.

Bagaimana reaksi dari orang Gerasa itu? Ia ternyata patuh dan menurut. "Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran." (ay 20). Apa yang dialami oleh orang Gerasa tersebut adalah sebuah pengalaman luar biasa mengenai bagaimana Tuhan sanggup melakukan apapun dan betapa besarnya belas kasihan Tuhan. Tentu saja hal seperti itu akan menjadi sebuah kesaksian indah yang akan mampu memberkati orang-orang lain, karena itulah Yesus kemudian memintanya untuk kembali dan menyampaikan kesaksian tentang apa yang baru saja ia alami.

Sekedar informasi, area Dekapolis terdiri dari 10 kota. Ayat 20 menunjukkan bahwa orang yang disembuhkan itu ternyata berkeliling ke 10 kota untuk menyampaikan kesaksiannya. Kita tidak tahu berapa orang yang kemudian bertobat setelah kesaksian itu, tapi saya percaya ada banyak yang diberkati dan kemudian memutuskan untuk bertobat.

Sebuah kesaksian itu sangatlah penting di mata Tuhan. Dan itu tidaklah aneh, karena jelas sebuah kesaksian tentu akan sanggup berbicara jauh lebih banyak ketimbang sesuatu yang sifatnya hanya teoritis saja. Berbagi pengalaman hidup akan jauh lebih bermanfaat sebagai sarana motivasi karena itu merupakan kisah nyata dari pengalaman pribadi yang membagikannya. Sebuah kesaksian akan keajaiban perbuatan Tuhan dalam hidup manusia akan mampu berbicara banyak mengenai kebaikan Tuhan secara langsung. Bahkan sebuah kesaksian yang paling sederhana sekalipun akan lebih efektif ketimbang mengkotbahi orang panjang lebar tanpa disertai contoh.

(bersambung)


Wednesday, December 7, 2016

Habakuk

Ayat bacaan: Habakuk 3:19
=====================
"ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku."

Di dalam masa-masa yang sulit seperti saat ini, mau tidak mau kita harus berjuang lebih dari normal. Apakah anda merasakannya hari-hari ini? Dalam situasi yang tidak menentu dan kesulitan ekonomi yang hampir merata di seluruh dunia, banyak dari kita yang kebingungan, tidak tahu lagi bagaimana menyikapinya. Berbagai usaha gulung tikar karena sepi pembeli. Mereka harus menaikkan harga sementara daya beli justru lagi melemah. Ada seorang teman yang sedang puyeng karena usahanya sepi pembeli. Bisnisnya terbilang spesifik yaitu jualan senar gitar dan aksesoris. Saya masih ingat beberapa tahun lalu ia berkata bahwa usahanya berjalan dengan sangat baik. "Siapa sih yang tidak butuh senar gitar?" katanya waktu itu dengan gembira. Sekarang situasinya berubah. Kesulitan ekonomi tampaknya membuat orang harus menghemat, terutama dalam membeli barang-barang yang bukan kebutuhan pokok. Kalau dulu sehari bisa ada banyak pembeli, sekarang kalau ada satu saja seminggu sudah syukur. Ia masih untung karena istrinya pun bekerja sehingga buat sementara keluarganya masih tertopang lewat pendapatan istrinya. Ada banyak yang tidak seberuntung dirinya dan berada dalam kondisi yang sudah lampu merah. Pemerintahan yang baik sulit bekerja cepat karena selain permasalahan ada banyak sekali, perongrongpun tak kalah banyaknya. Mereka terus menghambat dengan segala daya upaya, lucunya dengan mengatasnamakan rakyat. Rakyat yang mana? Sebenarnya tidak salah juga sih, bukannya para perongrong dan kelompok atau golongan yang dibelanya juga merupakan bagian dari rakyat juga? Korupsi, kekerasan, degradasi moral ada dimana-mana dan semakin parah. Persatuan, toleransi menjadi kata yang semakin lama semakin kehilangan maknanya. Tidak sedikit yang bertanya-tanya kenapa Tuhan seolah diam dan membiarkan semua ini terjadi.

Haruskah kita menyerah kalah dalam berjuang di dunia yang serba sulit ini? Apa yang harus kita lakukan? Bagi saya, lingkungan atau bahkan dunianya yang sedang kacau ini seharusnya menjadi momen bagi kita untuk belajar mengandalkan Tuhan lebih dari sebelumnya. Pada situasi-situasi dimana kemampuan manusia yang terbatas tampaknya menemui jalan-jalan yang buntu, kita seharusnya belajar untuk memandang ke atas mengandalkannya. Ketika pada satu titik kita merasa tidak lagi memiliki cukup tenaga lagi untuk berjuang, apa yang harus kita ingat adalah keberadaan Tuhan yang selalu setia menyertai kita dengan kekuatannya yang tidak terbatas, yang tidak pernah berada lebih rendah dari segala kesulitan duniawi dengan segala liku-likunya seperti yang tengah kita hadapi hari ini.

Sehubungan dengan hal ini saya ingin mengangkat kisah tentang Habakuk. Habakuk adalah seorang nabi yang hidup di jaman yang sangat berat, penuh dengan krisis moral yang sungguh luar biasa. Pada saat itu Habakuk meratap melihat bangsa Yehuda tengah berada dalam bahaya. Habakuk menyadari bahwa penyebabnya adalah akibat ketidaksetiaan. (Habakuk 1:2-4). Lebih lanjut, dikatakan bahwa bangsa Yehuda tengah menghadapi ancaman serius dari orang Kasdim (bangsa Babel) yang terkenal kejam dan ganas yang siap untuk membantai mereka. (ay 6-11). Habakuk sempat mengaku tidak mengerti mengapa Allah yang Mahakudus bisa berdiam diri melihat orang-orang fasik menghancurkan umatNya. (ay 12-13). Tidak mengerti, itu satu hal, dan memang kemampuan kita terbatas untuk bisa menyelami rencana Tuhan secara utuh. Tetapi jangan sampai hal itu berlanjut kepada ketidakyakinan kita akan penyertaan Tuhan.

Habakuk menyadari hal ini, dan berkata: "Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya." (2:4). Meskipun ia tidak mengerti mengapa Tuhan terkesan membiarkan bencana siap menghancurkan bangsa Yehuda, tapi Habakuk tahu pasti bahwa Tuhan akan tetap turun tangan terhadap orang benar, yakni orang yang hidup oleh iman.

Di akhir kitab Habakuk kita melihat bagaimana tingginya iman nabi yang satu ini. Iman Habakuk adalah iman yang tidak tergoncang oleh situasi apapun, bahkan dalam ketidak-mengertiannya akan keputusan Tuhan sekalipun. Habakuk mengakhiri doanya dengan keyakinan teguh. Doa itu berbunyi: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (ay 17-19).

Lihatlah sebentuk iman yang besar yang dimiliki Habakuk. Meski ia tengah berada dalam keadaan krisis, tekanan, ketakutan, ancaman yang kelihatannya mengerikan sekalipun, Habakuk ternyata tetap mampu bersukacita dan bersorak-sorak pada Tuhan. Sikap Habakuk didasarkan pada imannya yang secara penuh berserah pada keputusan Tuhan. Meski situasi yang ia hadapi mungkin akan menjadi lebih parah, tetapi kita bisa lihat bahwa imannya pada Tuhan tidaklah goyah. Dia tetap bersorak-sorak dalam Allah yang menyelamatkan. Itu tidak mungkin terjadi pada orang yang memandang masalah. Sikap ini hanya akan muncul pada orang yang menjadikan Tuhan sebagai sumber kekuatannya.

Adakah hari ini anda tengah tergoncang akibat kesulitan menghadapi iklim yang semakin sulit? Adakah iman anda hari ini mulai goyah akibat tekanan demi tekanan yang terus menghujam diri anda, kesulitan hidup yang makin meningkat, persoalan yang belum memiliki jalan keluar? Atau mungkin anda kesulitan untuk bisa beribadah karena mendapat pelarangan bahkan ancaman dari saudara-saudara kita yang berbeda kepercayaan? Apakah hari ini anda sulit mengerti mengapa Tuhan seolah diam terhadap persoalan anda? Miliki iman seteguh iman Habakuk yang tidak goncang sama sekali dalam kondisi apapun. Meski Tuhan seperti terlihat diam saja, Dia tidak akan pernah tinggal diam. Percayalah bahwa Tuhan mampu membuat "kaki kita selincah kaki rusa" untuk melompati 'batu-batu' masalah itu, tidak peduli sebesar, sebanyak dan setajam apapun batu-batu yang membentang di hadapan anda.

Dasari hidup dengan iman yang teguh, jangan pernah putus harapan. Percayalah sepenuhnya pada Tuhan dengan segenap hati. Tuhan mampu memperlengkapi kita untuk mampu menghadapi segala masalah, segala ketidakpastian dalam hidup, karena Tuhan adalah sumber kekuatan kita. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19).

Live by faith! 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, December 6, 2016

Keledai (2)

(sambungan)

Maka Yesus pun kemudian masuk ke Yerusalem, bukan untuk gagah-gagahan dengan mengendarai kuda tegap, melainkan dengan lemah lembut membawa damai mengendarai seekor keledai. Hal ini sekaligus menggenapi nubuat Nabi Zakharia: "Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Zakharia 9:9). Dari sini kita bisa melihat bahwa berbeda dengan kuda, keledai menggambarkan kelembutan dan kedamaian.

Dunia boleh saja memandang keledai sebelah mata sebagai hewan lemah dan bodoh, dan memakainya untuk menggambarkan kebodohan. Tapi bagi Tuhan ternyata tidaklah demikian. Tuhan berkenan mempergunakan keledai dalam berbagai kesempatan secara khusus. Jika keledai yang bagi dunia dianggap bodoh saja bisa dipakai Tuhan seperti itu, mengapa kita manusia sebagai masterpieceNya yang mulia tidak?

Tuhan selalu memerlukan kita, anak-anakNya untuk melakukan pekerjaanNya di muka bumi ini. Bisa berupa tugas spesifik, a brief single task seperti keledai yang dipakai Yesus atau yang dipakai untuk menegur Bileam, dan bisa pula berupa sebuah proses panjang yang memerlukan ketaatan dan ketekunan bertahun-tahun. Kita bisa saja merasa tidak sanggup dan berusaha menolak dengan berbagai alasan atau bahkan melarikan diri dari tanggung jawab, tetapi kita harus sadar bahwa sanggup tidaknya kita sebenarnya bukan tergantung kita, kemampuan atau kuat hebatnya kita, melainkan tergantung pendapat dan keputusan Tuhan sendiri.

"Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu." (Yohanes 15:16). Keledai boleh saja dipakai sebagai simbol yang menggambarkan kebodohan seperti kita yang mungkin merasa tidak sanggup, terlalu lemah atau bahkan merasa terlalu bodoh untuk berbuat sesuatu. Tapi bukankah Tuhan pun telah menyatakan secara langsung seperti ini? "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti." (1 Korintus 1:27-28).

Bukan kehebatan kita, bukan kuasa kita yang dibutuhkan Tuhan, tetapi kesediaan kita. Bukan apa yang kita miliki, bukan kuat dan hebat kita, tetapi kemauan kita. Itu yang Dia butuhkan. Dia siap pakai siapapun kita hari ini dengan kemampuan kita masing-masing. Besar atau kecil, tua atau muda, apapun gelar dan tingkat pendidikan anda, apapun kemampuan anda, semua itu bisa dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaanNya. Jika keledai saja bisa diperlukan Tuhan untuk melayani, kenapa kita tidak?

"Give your hands to serve and your hearts to love" - Mother Theresa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, December 5, 2016

Keledai (1)

Ayat bacaan: Matius 21:2b-3
=======================
"Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya."

Kenapa keledai digambarkan sebagai hewan bodoh? Ada yang bilang kalau keledai sebenarnya bukan hewan bodoh melainkan keras kepala. Dari sana kemudian terjadi pergeseran menjadi bodoh. Kebetulan secara fisik keledai mirip kuda, tapi lebih kecil dan kurang gagah. Keledai sangat mirip kuda, tapi tidak terlihat kekar dan gagah. Kupingnya yang lebih panjang pun membuat keledai semakin kehilangan 'harga dirinya'. Saya tidak tahu pasti kenapa keledai dianggap bodoh, tapi yang pasti hampir di semua negara di dunia keledai yang malang ini dianggap sebagai simbol kebodohan. Kalau anda dengar orang bilang, "Dasar keledai...", anda akan segera menyimpulkan bahwa yang disebut sebagai keledai pasti orang yang bodoh, yang berbuat kesalahan berkali-kali dan sejenisnya. Bukankah ada juga pepatah yang berkata: "Keledai saja tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya?" Bagi yang punya keledai, saya beberapa kali membaca bahwa keledai ternyata tidaklah sebodoh apa yang dianggap orang. Tapi pintar atau tidak, apa yang menarik adalah bahwa keledai ternyata berulang kali dipergunakan dalam pandangan yang berbeda baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahkan oleh Yesus sendiri.

Kalau mengacu pada  bukti-bukti sejarah dan catatan Alkitab menunjukkan bahwa kuda adalah binatang yang umum digunakan dalam ketentaraan masyarakat jaman dahulu di Timur Tengah. Kuda sering dipandang sebagai simbol kegagahan/kekuatan bahkan kekuasaan. Memiliki kavaleri atau pasukan berkuda akan membuat sebuah bangsa merasa kuat untuk menghadapi peperangan di medan yang berat. Uniknya, berkali-kali dalam Perjanjian Lama Tuhan mengingatkan bangsa Israel untuk tidak mengandalkan kuda. Contohnya peringatan yang hadir lewat Yesaya berikut ini: "Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Apabila TUHAN mengacungkan tangan-Nya, tergelincirlah yang membantu dan jatuhlah yang dibantu, dan mereka sekaliannya habis binasa bersama-sama." (Yesaya 31:3). Tuhan ternyata lebih menganjurkan bangsa Israel untuk memilih keledai yang lebih kecil dan lebih lemah dari kuda. Itu untuk menunjukkan bahwa bukan soal kudanya yang penting, tetapi penyertaan Tuhan, Tuhan ingin kita mengandalkanNya dan bukan kekuatan-kekuatan di dunia ini.

Selanjutnya, kita juga melihat keledai disebutkan berkali-kali sebagai tanda kekayaan. Ayub awalnya dikenal sebagai orang yang sangat kaya, dan Alkitab menyebutkan bahwa Ayub memelihara banyak keledai betina, artinya ia beternak keledai. (Ayub 1:14). Kelak setelah Ayub melewati segala cobaan dan dipulihkan serta diberkati lebih dari sebelumnya, Alkitab kembali mencatat bahwa salah satu ternaknya adalah keledai, dimana keledai betinanya mencapai seribu ekor. (42:12).

Beberapa kali pula Tuhan menunjukkan perhatianNya kepada keledai. Lihatlah dalam kisah Bileam bagaimana Tuhan menggunakan keledai yang ditunggangi Bileam untuk menegurnya dalam Bilangan 22:21-35 seperti yang bisa dibaca dalam renungan kemarin. Dalam kesempatan lain kita bisa melihat Tuhan menegur bangsa Israel yang memberontak dengan membandingkan mereka dengan keledai. "Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya." (Yesaya 1:3). Tuhan bilang keledai malahan lebih setia, lebih tahu berterima kasih dan lebih tahu menghargai ketimbang bangsa Israel.

Selanjutnya kita tahu pula kisah Yesus memasuki Yerusalem. (Matius 21:1-11, Markus 11:1-10, Lukas 19:28-38, Yohanes 12:12-15). Saat itu Tuhan Yesus menyuruh dua orang muridNya untuk masuk ke kampung dan mengambil seekor keledai betina dan anaknya untuk dibawa kepadaNya. "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya." (Matius 21:2-3).

Secara spesifik Yesus mengatakan langsung bahwa Dia memerlukan keledai itu untuk melakukan sesuatu yang tentu saja penting. Keledai itu diperlukan dalam melayani. Lihat bahwa keledai sekalipun bisa dipakai Tuhan secara khusus dan istimewa seperti itu.

(bersambung)


Sunday, December 4, 2016

Bileam dan Keledainya (2)

(sambungan)

Keledai Bileam melihat Malaikat, lalu menghindar. Itu membuat perjalanannya terganggu, karenanya Bileam kemudian memukuli keledainya dengan tongkat. Tiga kali hal itu terjadi, tiga kali pula Bileam yang kesal memukuli keledainya. Apa yang terjadi kemudian, pada kali ketiga? "Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: "Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?" (ay 28).

Tuhan memakai keledai yang ditunggangi Bileam selama hidupnya untuk berbicara menegur Bileam, yang kemudian disusul dengan penampakan Malaikat. Semua itu, membuat Bileam sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah salah. Dan untunglah, Bileam segera menyesali kesalahannya dan berubah menjadi taat sepenuhnya.

Bayangkan betapa ironisnya, seekor keledai saja mampu melihat, tapi manusia tidak. Semua ini tidak harus terjadi apabila Bileam patuh sepenuhnya sejak awal dan tidak berulang-ulang mempertanyakan keputusan Tuhan.

Sikap Bileam ini sebenarnya menjadi cerminan sikap banyak orang percaya. Bileam pada fase ini menunjukkan ketaatan, tapi sayangnya ketaatan itu masih sering tidak sepenuhnya utuh. Kita terombang-ambing atara percaya, kurang percaya alias ragu dan tidak percaya. Kadang kita percaya, sesaat kemudian jadi kurang atau bahkan tidak percaya sama sekali. Padahal keraguan merupakan salah satu penghalang terbesar untuk kita mengalami mukjizat, pertolongan dan berkat dari Tuhan.

Terkadang kita pun berusaha meyakinkan Tuhan, bahkan memaksa Tuhan untuk menyetujui apa yang kita anggap baik, padahal itu belum tentu yang terbaik menurut Tuhan. Doa-doa kita bukannya dibangun dalam bentuk ketaatan dan penyerahan sepenuhnya, tetapi malah bertujuan untuk meminta Tuhan mengabulkan semua yang kita inginkan. Bahkan untuk hal-hal yang tidak penting sekalipun.

Maka tidak heran jika ada saat dimana kita ditegur. Teguran Tuhan bisa datang lewat apa saja, baik secara lembut lewat hati nurani, lewat Firman Tuhan yang disampaikan pada kita yang kita dengar atau baca, lewat orang-orang yang berbicara pada kita, hingga teguran keras lewat berbagai kejadian jika kita masih juga bandel dan tuli.

Saya sendiri sudah beberapa kali mendapat teguran dari Tuhan lewat berbagai hal, sehingga saya tahu pasti bahwa Tuhan bisa memakai sarana apapun untuk menegur. Saya pun tahu pasti, teguran itu bukanlah bertujuan untuk menyakiti atau mempermalukan kita, tapi karena Tuhan sayang dan demi kebaikan kita juga. Tidakkah lebih baik ditegur saat ini daripada dibiarkan untuk masuk ke dalam siksaan kekal? Ayub pernah berkata, "Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa." (Ayub 5:17). Berbagai teguran itu jika kita sikapi dengan baik akan membuat kita terus bertambah baik pula. Itu pasti.

 Bentuk teguran adalah untuk mendidik kita, karena Tuhan begitu mengasihi kita dan tidak ingin kita menderita kelak. Dan karena itulah, kita pantas berbahagia ketika ditegur Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita cukup ditegur dengan halus, atau harus lewat teguran "memalukan" seperti Bileam, atau bahkan harus melalui penderitaan dan rasa sakit? Semua tergantung sejauh mana kita mau mendengarkan dan menuruti teguran Tuhan, sejauh mana kita mau berubah dari jalan yang salah dan kembali pada "rel" yang sesuai keinginan Tuhan.

Bagi saya sendiri, adalah jauh lebih baik untuk terus ditegur demi kebaikan, daripada dibiarkan tersesat dan berakhir pada penyesalan. Saya bersyukur untuk teguran demi teguran, juga untuk kesempatan yang masih diberikan pada saya untuk bertobat dan berubah menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Oleh sebab itu, janganlah keraskan hati ketika kita ditegur. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7b).

Dengarkan dan patuhi segera teguran Tuhan segera sebelum terlambat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...