Thursday, March 7, 2013

Siapa yang Buta?

Ayat bacaan: Yohanes 9:2
=====================
"Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"

Pada suatu kali ada seorang kakek peminta-minta yang bungkuk punggungnya berdiri di depan sebuah warung dimana saya tengah makan. Ada sekumpulan anak muda yang duduk tidak jauh dari saya, dan salah satunya berkata sambil tertawa kecil, "sudah minta-minta, bungkuk pula.. apa ya salah ibunya dulu.." Saya merasa kaget mendengar celetukannya, yang meski tidak dikatakan dengan suara keras tapi tetap bisa saya dengar dengan jelas. Mungkin ia hanya terbawa suasana ramai makan malam bersama teman-teman, namun perkataannya sangat tajam dan akan sangat melukai si kakek pengemis apabila mendengarnya. Kenapa ibunya yang dikata-katai, padahal kenal saja tidak. Merefleksikan hal tersebut pada kehidupan kita sehari-hari, kita pun sering secara tidak sadar mengeluarkan ucapan-ucapan yang secara tidak langsung menyakiti orang lain, menyudutkan dan menjatuhkan. Komentar-komentar yang selintas, sambil lalu, tanpa kita tahu kebenarannya.

Kejadian seperti ini pun pernah terjadi pada masa kehadiran Yesus di dunia, ironisnya justru dilakukan bukan oleh orang fasik tetapi justru oleh para murid. Pada suatu hari ketika Yesus sedang berjalan bersama mereka, lewatlah seorang pengemis yang buta sejak lahir. Melihat orang buta itu, murid-murid Yesus spontan bertanya kepadaNya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (Yohanes 9:2). Bayangkan apabila kita berada di posisi si pengemis buta. Ia tentu akan merasa sangat sakit hati dikatai seperti itu. Orang buta itu tentu sudah menderita karena tidak bisa melihat. Ia harus menanggung malu dengan mengemis untuk bisa menyambung hidup. Bukannya di bantu, di sapa dengan ramah, atau diberi sedekah, tapi malah dikomentari. Tentu hal itu akan semakin menambah penderitaannya. "Kok sampai bisa buta begitu ya... karena dosanya atau orang tuanya atau apa?" Begitu kira-kira yang mereka perbincangkan. Aduh, sakitnya mendengar komentar seperti ini, yang ironisnya datang justru dari murid-murid Yesus sendiri. Sepertinya murid-murid itu lupa bahwa mereka sendiri adalah manusia yang berdosa juga, dan belum tentu lebih baik dari si pengemis buta. Mereka lupa diri karena merasa sudah aman karena menjadi murid Yesus. Melihat bahwa mereka sanggup mengeluarkan komentar seperti ini , itu menunjukkan bahwa mereka pun sebenarnya mengalami kebutaan yaitu buta secara rohani.

Menanggapi komentar murid-muridNya, Yesus memilih untuk melakukan sesuatu secara nyata. Yesus pun menyembuhkan pengemis buta tadi sehingga dia bisa melihat, sesuatu yang belum pernah ia alami sejak lahir. Akan halnya menjawab para murid, Yesus pun berkata: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia." (ay 3). Pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia. Itu kata Yesus. Wow. Tidakkah itu luar biasa bagi seorang pengemis buta yang mungkin tidak ada yang peduli dan terbuang dari strata sosial masyarakat disana waktu itu? Sebelum bertemu Yesus, hidup baginya hanyalah kegelapan, dia tidak berguna. Tiba-tiba dia mendapat perhatian, disembuhkan sehingga kini bisa melihat terang. Bukan itu saja, bahkan dia dilibatkan dalam pekerjaan Allah! Ini sesuatu yang sungguh luar biasa.

Yesus sudah berpesan bahwa kita harus melakukan pekerjaan Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan. "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (ay 4). Sangatlah tidak pantas jika kita cuma bicara, apalagi membicarakan dosa orang lain, gosip, mengatai orang dan sebagainya. Apa yang seharusnya kita lakukan adalah seperti Yesus yang langsung mengambil tindakan nyata, selagi "hari masih siang", selagi kesempatan itu masih ada. Mengatai, menggosip atau membicarakan orang lain adalah sia-sia dan sama saja dengan memberi tuduhan palsu. Hal tersebut tajam adanya dan bisa sangat melukai. "Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam." (Amsal 25:18). Bentuk-bentuk perkataan yang tidak pada tempatnya itu pun sama halnya seperti menghakimi orang lain. Apa kata Yesus mengenai hal menghakimi? "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Matius 7:1-2). Daripada melakukan hal yang mendatangkan masalah bagi kita dan menyakiti orang lain, daripada kita terjebak pada dosa menghakimi orang lain yang akibatnya fatal, alangkah lebih baik jika kita mengambil tindakan nyata dengan memberkati orang lebih dan lebih lagi. Masih begitu banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan di ladang Tuhan, dan lakukanlah itu secara nyata selagi waktu masih disediakan bagi kita.

Ambil langkah positif dengan melakukan tindakan nyata untuk memberkati orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, March 6, 2013

Re-Boot

Ayat bacaan: Kolose 1:14
=====================
"di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa."

Seringkali komputer yang dipakai rutin menjadi berat atau lambat. Ada banyak penyebabnya seperti karena minimnya RAM atau kekurangan memory, banyaknya program yang diinstal, startup programs dan service yang standby ketika komputer dinyalakan dan sebagainya. Semakin kecil memori kita maka semakin cepat pula komputer kita menjadi berat, apalagi jika kita banyak browsing atau membuka berbagai program sekaligus. Ketika komputer menjadi terasa berat untuk dipergunakan, salah satu cara yang paling cepat adalah dengan merestart komputer atau biasanya kita sebut dengan re-boot. Biasanya komputer akan jauh lebih ringan setelahnya, dan kita pun bisa melanjutkan pekerjaan kita kembali dengan lebih cepat. Saya sering berpikir, seandainya ketika hidup ini mulai menjadi berat akibat banyaknya dosa yang terus bertimbun di dalam diri kita, betapa menyenangkan jika kita bisa me'reboot' diri kita kembali agar menjadi ringan dan lepas dari dosa-dosa itu. Seringkali itu sulit untuk dilakukan, tetapi sebenarnya itu bukanlah hal yang tidak mungkin. Tuhan justru menginginkan kita untuk melepaskan semua beban dosa itu dan kembali bersih untuk menerima semua janji-janjiNya, termasuk keselamatan sebagai sesuatu yang luar biasa yang Dia anugerahkan bagi kita.

Ada banyak orang yang merasa sulit melanjutkan hidup mereka karena dosa di masa lalu yang masih membelenggu mereka. Mereka terus tertuduh, merasa dihantui masa lalu, terus hidup dalam siksaan perasaan dan merasa tidak akan pernah bisa lepas dari rasa bersalah. Ini salah satu dampak berat yang bisa mengganggu hidup kita dari sebuah dosa besar yang pernah kita lakukan. Ada banyak orang pula yang putus asa dan membiarkan dirinya terus berselimut dosa karena merasa sudah terlanjur berdosa dan berpikir bahwa Tuhan tidak akan mau lagi mengampuni mereka. Bagaikan narapidana yang meski sudah menyelesaikan masa hukuman secara penuh, status residivis atau mantan narapidana akan terus menempel di diri mereka selama mereka hidup. Kita bisa trauma terhadap masa lalu kita dan gagal untuk bangkit. Kita bisa gelisah ketika tidur lalu tersentak bangun tengah malam ketika memori di masa lalu tiba-tiba seperti mengarahkan telunjuknya kepada diri kita. Maka ketika ini terjadi, kita pun akan berpikir, seandainya kita bisa melupakannya. Seandainya semua itu tidak pernah terjadi, tidak pernah kita lakukan. Seandainya kita bisa memulai lagi dari awal. Seandainya, hidup bisa semudah komputer yang tinggal di reboot ulang. Bisakah itu kita lakukan?

Dengarlah, itu bisa dilakukan. Tuhan memberikan kesempatan untuk itu dan telah Dia nyatakan berulang kali dalam sepanjang Alkitab. Meski sering ada konsekuensi di dunia yang masih harus kita tanggung akibat perbuatan salah kita di masa lalu, tetapi ketika kita mengakui dosa kita dan bertobat secara sungguh-sungguh, saat itu pula pengampunan turun atas diri kita secara total. Ini penting untuk kita ingat agar kita tidak terus menjadi tertuduh seumur hidup kita. Iblis akan dengan senang hati memanfaatkan perasaan kita dan akan siap untuk terus menuduh kita hingga kita tidak akan pernah lagi bisa bertumbuh. Tuhan mengatakan bahwa Dia siap untuk "menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut." (Mikha 7:9). Tuhan siap menjauhkan kita dari pelanggaran kita sejauh timur dari barat (Mazmur 103:12), bahkan siap untuk tidak lagi mengingat-ingat alias melupakan dosa kita. (Yesaya 43:25). Tuhan siap untuk memutihkan kembali dosa kita yang semerah kirmizi atau kain kesumba sekalipun untuk kembali seputih salju atau bulu domba. (Yesaya 1:18). Semua itu menunjukkan bagaimana sikap hati Tuhan dalam menyikapi anak-anakNya yang bertobat dan kembali kepadaNya.

Tuhan memberikan fasilitas "reboot" kepada kita, termasuk menyediakan waktu dan kesempatan lebih dari cukup bagi kita untuk bertobat dan meninggalkan semua dosa-dosa di masa lalu. Tuhan bahkan rela turun ke muka bumi ini untuk menebus dosa-dosa kita. Dan dalam Yesus kita mengalami penebusan, pengampunan atas dosa-dosa yang pernah kita buat sebelumnya. Firman Tuhan berkata "di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa." (Kolose 1:14). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: "In Whom we have our redemption through His blood, (which means) the forgiveness of our sins." Di dalam Dia, dengan darahNya, kita mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa kita. Ini berbicara mengenai dosa secara keseluruhan. Bukan hanya satu atau dua dosa kecil saja, tetapi semua dosa secara menyeluruh.

Adakah diantara teman-teman yang saat ini masih memiliki ganjalan akan sebuah kesalahan di masa lalu sehingga sulit untuk bangkit kembali? Apakah ada diantara teman-teman yang masih dihantui perbuatan dosa di waktu lampau yang masih memberatkan langkah anda saat ini? Apakah anda masih merasa seperti tertuduh meski sudah berulangkali mengakui dosa dan bertobat? Mulai hari ini bangkitlah kembali, alami hari depan yang cerah tanpa rasa takut lagi, yakinlah bahwa Tuhan sudah mengampuni anda. Dia sudah mengampuni segala pelanggaran kita, menghapuskan "surat hutang" yang terus mendakwa dan mengancam kita, dan semua itu telah Dia tiadakan dengan memakukannya di atas kayu salib. (Kolose 2:13-14). Lewat darah Kristus kita sudah mengalami pengampunan dosa, dipulihkan bahkan dibenarkan, tidak peduli sebesar apapun dosa yang pernah anda lakukan di waktu lalu. Jangan terus biarkan anda merasa tertuduh dan sulit untuk bertumbuh. Ketika iblis masih mencoba menjadikan anda seorang tertuduh, katakanlah bahwa darah Yesus sudah mencuci bersih semua bangkai dosa yang pernah singgah dalam hidup anda. You are forgiven, the new dawn has come. Let's have a new fresh life!

Pengampunan Tuhan adalah pintu untuk memulai hidup yang baru

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, March 5, 2013

Sikap Terhadap Musuh (2)

(sambungan)

Setelah kejadian ditelan ikan raksasa, Yunus memang mentaati perintah Tuhan. Tetapi meski demikian, kita bisa melihat bahwa hatinya ternyata masih sama kerasnya seperti saat ia melarikan diri dari penugasan Tuhan. Di dalam hatinya ia masih tetap menginginkan kehancuran Niniwe. Itu bukanlah sikap yang diinginkan Tuhan untuk kita miliki. Ada banyak orang-orang yang pernah, sedang dan akan menyakiti kita suatu saat nanti. Terhadap mereka kita tidak diperbolehkan untuk membenci, mendendam apalagi mengutuk. Justru reaksi yang diinginkan Tuhan dari kita adalah sebentuk kasih yang didalamnya terdapat pengampunan tanpa batas. Kita juga dituntut untuk selalu berbuat baik bagi mereka, bahkan mendoakan mereka. "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu... kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat." (Lukas 6:27,35). Dalam Injil Matius dikatakan "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44). Ini merupakan perintah penting yang digariskan Tuhan untuk kita amalkan dalam kehidupan kita. Mungkin berat bagi kita, tapi ingatlah bahwa ada Roh Kudus di dalam diri kita yang akan memampukan kita untuk berbuat demikian.

Tuhan mengasihi semua ciptaanNya di dunia ini. Siapapun manusianya, baik atau jahat, semuanya tetap layak untuk diselamatkan. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." (Yohanes 3:16-17). Besarnya kasih Allah itu sama bagi siapapun tanpa terkecuali, bukan hanya terhadap Israel saja. Kedatangan Yesus pun bukan hanya untk menyelamatkan segelintir umat pilihan, tapi berlaku untuk siapa saja yang percaya padaNya, tanpa pandang bulu, tanpa terkecuali.

Perhatikan kata Tuhan Yesus berikut. "Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala." (Yohanes 10:16). Semua ini menggambarkan besarnya kasih Allah kepada seluruh umat manusia di bumi ini tanpa terkecuali. Dia rindu untuk melihat pertobatan dari segala bangsa agar selamat.

Jika Tuhan memiliki persepsi demikian, mengapa kita malah harus bersenang hati melihat kehancuran orang lain? Mari kita menjaga hati kita agar tidak terperosok kepada pemahaman keliru seperti Yunus. Tetaplah berbuat baik, jangan terpengaruh oleh provokasi atau pancingan-pancingan dari orang yang berlaku jahat, tetapi ampuni kesalahan mereka. Jangan benci dan dendam, tapi doakanlah mereka. Jika musuh atau orang yang kita benci jatuh, janganlah bergembira karenanya, tapi justru kita harus menunjukkan empati dan berusaha menolong semampunya. Mungkin bisa jadi sulit bagi kita untuk melakukannya, terutama ketika mereka melakukan sesuatu yang sangat menyakiti kita dan berdampak untuk waktu yang lama. Tapi kita bisa berdoa dan minta agar Roh Kudus memampukan kita agar sanggup melakukannya.

Dari Yunus hari ini kita bisa belajar bahwa meskipun kita sudah melakukan tindakan yang benar, tetapi kita masih mungkin berbuat kesalahan jika kita tidak menjaga hati kita agar tetap seturut kehendak Allah. Dan Firman Tuhan pun sudah mengingatkan kita untuk menjaga hati. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Mari miliki hati yang lembut dan penuh kasih, karena Allah pun memperlakukan kita semua dengan cara seperti itu.

Jangan mendendam, tapi ampuni dan doakan orang-orang yang telah atau masih berlaku jahat kepada kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, March 4, 2013

Sikap Terhadap Musuh (1)

Ayat bacaan: Yunus 4:1
====================
"Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia."

Bagaimana reaksi kita ketika melihat orang yang tidak kita sukai jatuh? Kebanyakan orang akan sangat senang dan puas. Kepuasan itu akan bertambah apabila orang tersebut pernah menyakiti hati kita. Kata-kata yang keluar biasanya bernada puas mulai dari "rasakan", "biar tahu rasa", "biar kapok" hingga kata-kata yang kasar yang tidak pantas untuk ditulis disini. Itu bisa menjadi respon kita melihat orang yang tidak kita sukai atau pernah melakukan sesuatu yang salah kepada kita mengalami situasi sulit. Kita akan merasa wajar bereaksi seperti itu, karena toh orang tersebut pernah menyakiti kita. Itu dianggap sangat manusiawi dan sah-sah saja. Apakah benar kita berhak bereaksi seperti itu? Dalam kekristenan sebenarnya sama sekali tidak ada alasan bagi kita untuk bereaksi demikian. Mengapa? Karena kita seharusnya memiliki kasih Kristus di dalam diri kita yang sama sekali tidak menyediakan tempat buat bersenang hati terhadap kejatuhan orang lain,yang telah berbuat jahat terhadap kita, seperti apapun bentuknya.

Kita bisa belajar akan hal tersebut dalam banyak kesempatan di dalam Alkitab, salah satunya lewat kisah Yunus. Kita tentu tahu apa yang terjadi pada mulanya. Yunus mengelak untuk melakukan tugas yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Ia lari dan akibatnya lewat serangkaian konsekuensi, ia pun ditelan oleh sebuah ikan besar dan harus berada disana selama beberapa hari. Setelah ia keluar dari perut ikan dan kemudian memutuskan untuk taat terhadap perintah Tuhan, ia kemudian menurut untuk pergi mengingatkan Niniwe agar bertobat. Pertobatan menyeluruh dari bangsa Niniwe pun terjadi. Seisi Niniwe berbalik dari tingkah laku yang jahat dan berselubung kain kabung tanda pertobatan. Bukan hanya manusia, tetapi ternak-ternak pun demikian. Melihat itu, Tuhan pun mengampuni mereka. "Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya." (Yunus 3:10). Bagaimana respon Yunus menyikapi hal ini? Seharusnya tentu ia gembira, merasa lega, bahwa tugas maha berat yang dibebankan kepadanya ternyata berujung keberhasilan. Seharusnya Yunus merasa bahagia melihat begitu banyak manusia yang terluput dari kebinasaan dan beroleh keselamatan. Tapi nyatanya bukan itu yang menjadi respon Yunus. Justru sebaliknya, Alkitab mencatat respon Yunus adalah seperti ini: "Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia." (Yunus 4:1).

Mari kita lihat hubungan antara Niniwe dan Israel pada masa itu. Ketika itu Niniwe merupakan musuh bebuyutan dari bangsa Israel. Jika demikian, lantas untuk apa Allah Israel menyelamatkan musuh dari umatNya sendiri? Mungkin itu yang menjadi isi hati Yunus. Ia mengira bahwa hanya bangsa Israel saja yang mendapat janji Tuhan, dan dengan demikian hanya Israellah satu-satunya yang berhak diselamatkan. Begitu kecewanya, Yunus bahkan berterus terang mengungkapkan rasa marahnya melihat Niniwe diselamatkan.

Pikiran seperti itu jelas keliru dan tidak pada tempatnya. Lewat pohon jarak yang ditumbuhkan dan kemudian layu di hari selanjutnya Tuhan memberi pelajaran kepada Yunus bahwa bukan hanya Israel, tapi bangsa-bangsa lain pun layak untuk dikasihi Tuhan. "Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" (Yunus 4:10-11). Bukankah bangsa Niniwe pun Tuhan sendiri yang menciptakan? Bukankah mereka juga diciptakan menurut gambar dan rupaNya? Jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan tidak mengasihi mereka juga, dan mengapa Tuhan harus tega membiarkan ciptaanNya sendiri binasa? Kalau dalam pandangan Tuhan seperti itu, adakah hak kita untuk bertindak sebaliknya dengan bersukacita melihat seteru, musuh atau orang yang kita benci tengah menderita akibat satu dan lain hal yang menyakiti mereka?

(bersambung)

Sunday, March 3, 2013

Pulang

Ayat bacaan: Lukas 15:20b
====================
"Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia."

Tidak jauh dari rumah saya ada sebuah keluarga tengah mengadakan pesta kecil menyambut kembalinya anak mereka dari perantauan. Mereka tidak mendengar satupun kabar dari anak mereka selama bertahun-tahun. Awalnya si anak mengatakan ingin merantau, lalu ia pun bertengkar dengan orang tuanya karena mereka tidak setuju akan rencananya. Ia tetap pergi meski orang tua menentang, dan semenjak itu tidak ada kabar berita darinya. Si anak ternyata sempat bekerja sebagai buruh di negara tetangga sebelum akhirnya terlantar disana. Untunglah ia kemudian bisa kembali pulang. Untunglah kedua orang tuanya mau memaafkannya, menerimanya kembali bahkan mengadakan pesta kecil untuk menyambut kembalinya si anak yang sempat hilang. Saya mengenal ayah dan ibunya, dan si ayah mengatakan: "Yang sudah berlalu biarlah berlalu.. yang penting dia sudah kembali dengan selamat, dan kami sangat bahagia hari ini."

Ada sebuah kisah yang sangat mirip dengan hal itu diceritakan Yesus untuk menggambarkan bentuk hati Bapa Surgawi, yaitu kisah Perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas 15:32. Dalam kisah ini ada seorang anak bungsu yang belum apa-apa sudah meminta bagian warisannya untuk dipergunakan bertualang ke negeri yang jauh. Ayahnya masih hidup, tapi ia berani meminta itu dan kemudian meninggalkan ayahnya. Sepintas hidup terasa luar biasa indah. Ia menghabiskan semuanya untuk berfoya-foya. Yang terjadi kemudian, dalam waktu singkat ia pun melarat. Begitu menderitanya, bahkan ia harus makan ampas sisa makanan babi agar bisa bertahan hidup. Ia lalu menyadari kesalahannya, sangat menyesal dan berpikir untuk kembali. Ia rela menerima kenyataan meski harus dihukum dan tidak lagi mendapat hak sebagai anak sekalipun. Dia pun pulang.

Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah ia dihukum atau diusir ayahnya? Ternyata tidak. Lihatlah reaksi sang ayah. "Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia." (Lukas 15:20b). Ia tidak dihukum, bahkan dimarahi pun tidak. Ayahnya segera berlari merangkul dan menciumnya. Ia bahkan segera memberikan jubah terbaik, cincin, sepatu dan menyembelih anak sapi tambun untuk menyambut kembalinya si anak dengan penuh sukacita. (ay 22-23). Betapa besar sukacita sang ayah karena anaknya yang hilang telah kembali. "Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." (ay 32).

Ada banyak orang yang merasa bosan dengan kehidupannya yang terkesan itu-itu saja lalu rindu untuk mendapatkan atau memulai sesuatu yang baru. Adalah bagus apabila hal ini membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik, tetapi jika tidak hati-hati, hal ini sering dimanfaatkan iblis yang menawarkan berbagai gemerlap dunia yang sebenarnya berisi penuh jebakan. Tak terasa, tiba-tiba orang bisa menjadi begitu sesat bergelimang dosa. Pada suatu saat ketika tersadar, banyak diantara mereka menjadi ragu untuk kembali dan bertobat. Mereka merasa sudah terlalu sesat, semua sudah terlambat dan Tuhan pasti tidak akan mengampuni mereka lagi akibat besarnya kesalahan yang sudah mereka perbuat. Apakah Tuhan menutup pintu dari orang-orang yang ingin bertobat dan kembali kepadaNya? Sebenarnya tidaklah perlu untuk berpikir demikian. Yesus menggambarkan langsung hati Bapa dalam menyikapi orang-orang yang 'pulang' kepadaNya. Setiap saat Tuhan merindukan anak-anakNya yang sudah meninggalkanNya, bahkan yang sudah jauh sekalipun, untuk kembali. Setiap saat itu pula Tuhan siap menyambut dengan penuh sukacita dengan pelukanNya untuk kembali melimpahi kita dengan berkat-berkatNya.

Lewat dosa-dosa yang kita lakukan kitapun seharusnya mati. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Kedatangan Kristus ke dunia ini justru untuk mencegah kita semua masuk ke dalam kematian kekal dan memberikan kita semua jalan untuk memperoleh keselamatan. Yesus berkata "..Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13b), "Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang." (18:11). Jika Tuhan memang langsung menutup pintu dan membiarkan orang yang tersesat untuk binasa, Dia tentu tidak perlu repot-repot untuk memberikan Kristus menebus dosa-dosa kita bukan? Itulah hati Bapa yang penuh kasih yang selalu rindu menanti kita untuk pulang kembali kepadaNya, kepada jalan menuju keselamatan yang kekal.

Keselamatan adalah berkat terbesar yang diberikan Tuhan buat manusia. Tuhan selalu rindu menantikan kita semua untuk kembali kepadanya. Tidak peduli apa yang telah kita lakukan, sejauh mana kita tersesat, Dia akan selalu siap menyambut kita dengan tangan terbuka. Tuhan siap melemparkan dosa kita jauh ke dalam tubir laut (Mkha 7:19), membuang dosa-dosa kita sejauh timur dari barat (Mazmur 103:12), mengampuni kesalahan kita bahkan tidak lagi mengingat-ingat dosa-dosa yang telah kita lakukan. (Yeremia 31:34). Marilah kita menyadari betul betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, sehingga AnakNya yang tunggal pun rela Dia anugerahkan kepada kita agar tidak satupun dari kita binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal. (Yohanes 3:16). Tidak peduli dosa apapun yang telah kita lakukan, Tuhan siap memberikan pengampunannya kepada kita, dan akan menyambut kepulangan kita dengan penuh sukacita. Tidak perlu merasa takut, tidak perlu ragu atau sungkan, karena Tuhan selalu mengasihi kita semua dan akan segera menyambut kepulangan kita kapan saja. Jangan tunda lagi, pulanglah sekarang juga dan biarkan Tuhan dan seisi Surga bersukacita menyambut anda.

It's never too late to come home to God

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, March 2, 2013

Making Excuses

Ayat bacaan: Kejadian 3:12
====================
"Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."

Mencari alasan sebagai bentuk pembenaran alias making excuses merupakan hal yang sangat sering kita perbuat ketika kita melakukan kesalahan. Kebanyakan dari kita lebih memilih untuk itu ketimbang mengakui kesalahan secara jantan. Dahulu kala di Jepang mereka menunjukkan pengakuan atas kesalahan secara sangat ekstrim dengan melakukan harakiri alias bunuh diri dengan samurai mereka. Kita tentu tidak perlu sampai seperti itu. Tapi setidaknya satu hal yang bisa kita lihat adalah bagaimana kita bisa dengan lapang hati mengakui dan meminta maaf atasnya jika kita melakukan kesalahan.

Pada kenyataannya banyak orang sulit melakukan itu. Meski dalam keadaan terdesak dan jelas-jelas salah sekalipun kebanyakan orang akan tetap berusaha mencari alasan yang bisa dijadikan pembenaran, atau setidaknya mengurangi beban kesalahan. Betapa kreatifnya orang ketika menciptakan berbagai alasan dalam pikirannya mulai dari yang sederhana sampai yang begitu kompleks. Lucunya, anak-anak kecil saja sudah seperti terlatih untuk mencari alasan dan berbohong padahal tidak ada yang mengajarkan mereka untuk itu. Mungkin kita pun pernah atau malah masih kerap melakukannya pada waktu-waktu tertentu. Mengakui kesalahan secara jujur memang tidak mudah, karena dalam banyak hal kita harus melawan ego, harga diri, wibawa dan lain-lain, bahkan ada kalanya kita juga harus siap menerima konsekuensi akibat kesalahan kita. Di dalam Alkitab pun kita bisa menemukan begitu banyak tokoh yang mencari alasan baik untuk mengelak dari kesalahan maupun untuk menghindar dari tugas yang diberikan Tuhan kepada mereka. Untuk hari ini mari kita lihat sebuah kisah klasik di awal penciptaan manusia ketika baru ada dua manusia saja, yaitu Adam dan Hawa.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa dimana konsekuensinya masih kita rasakan hingga hari ini dimulai ketika Hawa tergiur dengan buah dari pohon pengetahuan tentang baik dan jahat yang terletak di tengah-tengah taman Eden dan kemudian melanggar larangan Allah. Memang benar, adalah ular yang mempengaruhi Hawa untuk memakan buah dari pohon itu, tetapi keputusan apakah mau menuruti Tuhan atau ular sebenarnya ada di tangan Hawa. Sayangnya Hawa memutuskan untuk mendengar ular, dan seterusnya berbagi kepada Adam. Lagi-lagi keputusan ada di tangan Adam apakah ia mau mematuhi Tuhan atau melanggarnya dengan mengikuti kesalahan Hawa. Adam memilih untuk menuruti Hawa. Maka akibatnya jatuhlah manusia ke dalam dosa untuk pertama kali.

Selanjutnya yang terjadi adalah mencari alasan dan saling melempar kesalahan. Ketika Tuhan menegur Adam, lihatlah bagaimana responnya. "Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." (Kejadian 3:12). Bukan meminta maaf, tetapi dengan segera melemparkan kesalahan kepada Hawa. Bahkan jika kita perhatikan baik-baik respon Adam, dia bukan hanya melemparkan kesalahan kepada Hawa, tetapi juga kepada Tuhan. "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku.." secara tidak langsung Adam berkata bahwa itu karena bujukan wanita yang Tuhan tempatkan. Dengan kata lain Adam menyatakan bahwa apabila Tuhan tidak menempatkan Hawa, maka ia tidak akan melakukan kesalahan. Kemudian Tuhan pun menegur Hawa. Tetapi apa jawab Hawa? "Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." (ay 13b). Lihatlah estafet melempar kesalahan  yang terjadi pada waktu itu. Dan marahlah Tuhan. Tidak saja ular yang dihukum berat, tetapi Adam dan Hawa pun dijatuhi hukuman berat. Wanita berusah payah mengandung penuh kesakitan, sementara pria harus bersusah payah banting tulang dalam mencari nafkah seumur hidupnya. Semua ini berawal dari pelanggaran terhadap larangan Tuhan dan keengganan untuk mengakui kesalahan secara tulus. Kapan manusia mulai belajar untuk mencari alasan? Dari kisah awal kejatuhan manusia ini kita bisa melihat asal mulanya, yaitu sejak dosa mulai menguasai manusia.

Apa yang dilakukan Adam dan Hawa pada saat perbuatan keliru mereka diketahui Tuhan sungguh berakibat fatal. Dari sanalah dosa kemudian menyeruak masuk menguasai hidup manusia dan berusaha membinasakan kita hingga hari ini. Itu adalah konsekuensi berat yang harus ditanggung manusia sampai sekarang. Adalah kasih Tuhan yang luar biasa besar bagi kita yang akhirnya menyelesaikannya lewat Yesus Kristus. "Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia." (Ibrani 9:28). Tanpa Yesus niscaya manusia akan terus bergelimang dosa dan kehilangan peluangnya akan keselamatan kekal. Puji Tuhan dan bersyukurlah untuk itu. Adalah penting bagi kita untuk bisa bersikap legawa, jujur dan dengan rendah hati berani mengakui ketika melakukan kesalahan. Bereskan segera dan jangan mencoba menutupi dengan mencari alasan-alasan pembenaran sebelum semuanya bertambah sulit untuk dibereskan dan membawa konsekuensi yang jauh lebih berat lagi.

Belajarlah mengakui kesalahan dengan tulus tanpa mencari alasan sebagai pembenaran

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, March 1, 2013

Kesempurnaan

Ayat bacaan: Matius 19:21
=====================
"Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

Kesempurnaan, itu ditawarkan berbagai iklan dan akan selalu diinginkan setiap manusia. Apa yang kita anggap sebagai bentuk kesempurnaan dalam hidup? Banyak dari kita yang, entah karena terpengaruh iklan atau pandangan dunia sejak kecil, memandang kesempurnaan itu adalah kondisi atau saat dimana kita hidup tanpa masalah, berlimpah harta, punya segalanya, tidak sedang sakit dan sebagainya. Sempurna adalah ketika kita punya pasangan paling ganteng atau cantik, punya anak sepasang, mencapai prestasi/kedudukan tertinggi dalam pekerjaan, punya usaha super laris dan seterusnya. Semua ini dipandang dunia sebagai ukuran kesuksesan. Tapi apakah itu semua yang menjadi ukurannya? Tuhan Yesus tidak mengatakan itu semua sebagai ukuran kesuksesan.

Apakah kita memang diinginkan Tuhan untuk menjadi sempurna? Jawabannya ya. Jika kita ingin sempurna, Tuhan pun sesungguhnya demikian. Firman Tuhan berkata kita harus mengejar kesempurnaan seperti yang dimiliki oleh Bapa. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Tapi bagaimana kita bisa memperoleh kesempurnaan yang sesuai dengan pengertian Tuhan akan hal itu? Harta berlimpah jelas bukan bentuknya. Firman Tuhan sudah menyebutkan bahwa tanpa kuasa menikmati semua itu hanyalah akan berakhir sia-sia (bacalah Pengkotbah 6:2), dan itu semua sudah begitu sering terbukti. Keluarga yang hancur berantakan meski mereka kaya raya bukanlah hal aneh lagi untuk kita lihat disekitar kita. Pada suatu saat kita akan sadar bahwa uang bukanlah segalanya dan tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan sejati, juga tidak akan pernah bisa menjadi solusi atas segalanya. Kembali kepada pertanyaan di awal paragraf ini, bagaimana agar kita bisa menjadi sempurna? Jawabannya bisa kita temukan dalam kisah perjumpaan seorang pemuda kaya dengan Yesus dalam Matius 19:16-26.

Ada seorang pemuda kaya yang datang kepada Yesus dan menanyakan cara agar ia bisa menerima hidup yang kekal, to possess the eternal life. Yesus kemudian mengatakan bahwa untuk memperolehnya ia harus menuruti segala perintah Allah. Dan kemudian Yesus memberi garis besarnya satu persatu. Tapi si pemuda kaya itu tampaknya menyadari bahwa masih ada sesuatu yang belum ia lakukan. Dia sudah merasa melakukan itu, but something's still missing. Ia merasa sudah baik, tapi belum sempurna. Dan perhatikan jawaban Yesus. "Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 9:21). Ternyata si pemuda tidak sanggup untuk meninggalkan hartanya yang berlimpah, maka ia pun kemudian lebih memilih hartanya ketimbang mengikut Yesus. (ay 22).

Ayat ini sering disalah tafsirkan banyak orang sebagai keharusan bagi orang percaya untuk hidup miskin. Padahal bukan itu maksudnya. Kita bisa melihat ayat berikut untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:10). Dari sini kita bisa melihat bahwa yang salah bukanlah uangnya, tetapi cinta terhadap uang yang melebihi segalanya. Itulah masalahnya, dan itu pula yang menjadi akar permasalahan si pemuda kaya dalam kisah diatas. Ia menolak menyerahkan segala harta miliknya, itu artinya ia menganggap hartanya sebagi hal terpenting dalam hidupnya, dan bukan Tuhan. Firman Tuhan pun mengingatkan "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Tuhan telah menjanjikan berkat berlimpah kepada kita, tetapi jangan sampai itu menjadi fokus terutama kita melebihi ketaatan berdasarkan kasih dan rasa takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, artinya kita telah mengabdikan diri kepada harta, menghamba kepada harta dan menomorduakan Tuhan dibawahnya. Ketika itu terjadi, artinya kita sedang meninggalkan panggilan untuk menuju kesempurnaan dan membawa diri kita kedalam kehancuran.

Pemuasan terhadap keinginan daging mungkin bisa terpenuhi lewat harta, tetapi itu adalah sebuah perlawanan (hostile) di hadapan Allah. "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya." (Roma 8:7). Selanjutnya dengan tegas dikatakan "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (ay 8). Apalah artinya kekayaan berlimpah yang kita miliki jika hanya bisa dipakai dalam jangka waktu yang amat sangat singkat dibanding sebuah kekekalan yang akan datang kelak? Sebuah kesempurnaan hanya akan mungkin kita peroleh apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu yang kita miliki untuk takluk kepada kehendak Tuhan, bahkan yang kita anggap penting bagi kita sekalipun. Abraham sudah membuktikannya ketika ia taat dan rela menyerahkan anaknya yang sangat ia kasihi, Ishak untuk dijadikan korban bakaran. Tidak heran jika Abraham pun diakui sebagai Bapa orang beriman karena ketaatan dan imannya yang luar biasa. Dan itulah yang Tuhan kehendaki, karena sudah seharusnya posisi Tuhan berada di atas segalanya dalam hidup kita. Adalah tidak benar apabila kita mengakui beriman kepada Kristus namun masih terus lebih mementingkan segala hal lain selain Dia dalam hidup kita. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman tetapi tidak menyertainya dengan perbuatan nyata?

Ada banyak orang yang ternyata jauh lebih mementingkan miliknya yang berharga ketimbang Tuhan dalam hidup mereka. Bagi si pemuda dalam Matius 19 itu adalah harta kekayaan, mungkin bagi orang lain itu bisa berupa hal lain. Kita harus rela menyerahkan itu semua jika Tuhan meminta itu, dan itulah yang bisa membawa kita untuk mencapai kesempurnaan. Kita harus kembali ingat bahwa semua berasal dari Tuhan. Dibanding apapun yang kita miliki saat ini, tentu Sang Pemberi harus berada dalam posisi teratas. Keberadaan dan penyertaan Tuhan, kebersamaan kita berjalan bersama Tuhan seturut kehendakNya, itulah yang seharusnya kita kejar lebih dari apapun juga. Panggilan untuk menjadi sempurna hanyalah akan bisa kita capai apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan sepenuhnya tanpa berbantah, tanpa bersungut-sungut, tanpa syarat. Are we willing to surrender everything we have in order to follow Him?

"Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!" (2 Korintus 13:11)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...