Showing posts sorted by relevance for query iman. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query iman. Sort by date Show all posts

Saturday, January 8, 2011

Menghidupi Iman

Ayat bacaan: Roma 1:17
==================
"Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

menghidupi imanIman adalah sebuah kata yang sangat sederhana dan singkat. Iman juga kata yang sudah sangat tidak asing lagi bagi kita. Meski kata ini sudah sering kita dengar, bahkan mungkin malah sudah terlalu sering, tapi seringkali iman ini diartikan berbeda-beda sesuai dengan pandangan masing-masing. Apa pandangan anda tentang iman? Ada sebagian orang yang menganggap bahwa iman hanya berbicara tentang kehidupan berikutnya. Iman itu perlu, supaya kalau mati nanti masuk surga. Ada pula sebagian orang yang menganggap bahwa iman berarti percaya bahwa Yesus itu Tuhan. That's all. Dan itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan saat ini. Iman saya percaya pada Yesus, tapi soal menjalani hidup itu urusannya lain. Tidak jarang pula yang menjadikan iman sebagai alternatif terakhir ketika semua cara sudah tidak mempan. Ketika semuanya gagal, maka tidak ada salahnya mencoba berharap kepada Tuhan. Katanya harus dengan iman? Ya sudah, saya pakai iman. Habis tidak ada lagi yang bisa dilakukan, sih.. Itu pun bisa menjadi' gambaran iman bagi sebagian orang.

Kita memang diselamatkan bukan atas hasil usaha, jerih payah atau kebaikan kita, melainkan karena kasih karunia oleh iman dalam Kristus. Akan tetapi iman tidak berbicara secara sempit hanya mengenai destinasi kita selanjutnya setelah selesai berurusan dengan dunia yang fana ini. Seorang pemanjat gunung tidak akan pernah bisa sampai ke puncak gunung hanya dengan mengatakannya saja. Ia harus mempersiapkan stamina baik fisik maupun mental terlebih dahulu melalui serangkaian proses panjang, lalu harus menapak batu satu demi satu hingga sampai ke tujuan. Seringkali hambatan akan membuatnya terjatuh beberapa langkah, namun pada akhirnya keteguhannya akan membawanya sampai ke puncak. Iman pun seperti itu. Kita tidak bisa memisahkan iman dari kehidupan kita, dan tidak akan pernah cukup hanya diucapkan lewat kata saja. Iman menjanjikan keselamatan jiwa, seperti yang dikatakan Petrus dalam 1 Petrus 1:9, itu benar, tetapi diperlukan proses berkesinambungan untuk membangunnya. Dengan kata lain, iman bukan saja berlaku untuk kehidupan selanjutnya, tetapi sudah seharusnya iman itu berada dalam proses kehidupan kita yang dinamis.

Di awal surat Paulus untuk jemaat Roma ia mengatakan hal ini. "Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman." (Roma 1:17). Ayat ini mengikuti keyakinan Paulus bahwa Injil merupakan kekuatan Allah yang mampu menyelamatkan setiap orang percaya. (ay 16). Kebenaran Allah sungguh nyata di dalamnya, yang akan bisa kita pahami dengan iman, dan kebenaran-kebenaran ini pun akan memimpin kita kepada pertumbuhan iman. Dan Paulus pun menyimpulkan bahwa orang benar akan selalu hidup oleh iman. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "the man who through faith is just and upright shall live and shall live by faith." Orang yang benar akan hidup, dan akan hidup oleh iman. Hidup adalah sebuah proses yang terus berlanjut, dan kata hidup di dalam ayat ini pun menggambarkan sebuah proses berkesinambungan yang seharusnya diisi dengan iman. Paulus menekankan bahwa iman seharusnya berada dalam kehidupan kita sehari-hari, kapanpun, bagaimanapun dan dimanapun. Dalam keadaan baik atau buruk, dalam keadaan tenang atau sedang menghadapi badai, dalam keadaan riang atau sedih, tertawa atau marah, iman seharusnya ada di sana. Iman memberikan "hidup" dalam kehidupan kita.

Dengan sangat indah firman Tuhan menggambarkan iman dengan rangkaian kata yang singkat."Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Iman itu merupakan dasar dari segalanya dan bukti dari apa yang tidak atau belum kita lihat. Iman memampukan kita untuk bisa melihat lebih luas dari apa yang mampu ditangkap mata, iman memampukan kita untuk memahami apa yang menjadi rencana Allah dalam hidup kita. Lihatlah sederetan saksi-saksi iman yang tertera dalam Ibrani pasal 11 ini. Musa, Abraham, Sara, Yusuf, Yakub, Rahab, Gideon, Simson, Daud, Yefta dan lain-lain, mereka semua telah menunjukkan bagaimana iman itu bukan lagi hanya sebatas kata-kata saja melainkan telah menyatu dalam segala sendi kehidupan mereka. Para tokoh ini telah membuktikan bagaimana iman itu berada dalam hidup mereka, terus berproses secara kontinu dan tentu saja memberi hidup kepada mereka.

Yakobus mengingatkan bahwa "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2:17). Tidak hanya mati, namun dikatakan pula bahwa "iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong." (ay 20). Sudah seharusnya iman menyertai kehidupan kita dan memberi sebentuk hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. Tidak hanya sebatas kata-kata, tidak hanya abstrak atau samar, tetapi secara nyata bersinggungan dengan sendi-sendi kehidupan kita. Iman akan mampu membuat kita hidup dengan tenang, penuh kedamaian dan sukacita tanpa harus terpengaruh dengan kondisi yang tengah kita hadapi hari ini.

Hidupi dan hiduplah dengan iman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, April 30, 2011

Hidup oleh Iman

Ayat bacaan: Roma 1:17
===============
"Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

hidup oleh imanApa yang kita butuhkan untuk bisa bertahan hidup? Kebutuhan primer yaitu sandang, pangan dan papan (tempat tinggal) mungkin akan menjadi jawaban kita. Itu memang kebutuhan yang paling mendasar yang akan menjadi ukuran apakah kita sudah hidup dengan layak atau tidak. Karena itulah maka ketiganya disebut sebagai kebutuhan yang primer, yang utama. Bisakah anda membayangkan hidup tanpa makan? Atau tidak punya baju, lalu tidak punya tempat tinggal? Meski mungkin kita bisa bertahan hidup dengan menumpang, tetapi kita tidak bisa selamanya menumpang di rumah orang lain. Tetapi selain ketiga hal ini, Alkitab menyebutkan satu hal lain yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan menjadi ukuran dari kehidupan seperti apa yang kita jalani dalam status kita sebagai orang percaya. Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa ternyata kebutuhan primer saja tidaklah cukup untuk hidup sebagai orang benar. Untuk sekedar hidup di dunia mungkin ya, tetapi untuk dapat hidup sebagai orang benar, nanti dulu. Alkitab mengatakan ada satu hal lagi yang dibutuhkan untuk hidup sebagai orang benar. Dan itu adalah iman.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma nengatakan: "Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman." (Roma 1:17). Ia menyampaikan sebuah pesan penting agar mereka, dan juga kita hidup oleh iman. Apa artinya hidup oleh iman ini? Tanpa iman, maka saya tidak akan hidup. Itu jelas. Tetapi apa yang digambarkan sebagai iman bukanlah berbicara hanya sekedar selamat dari lubang jarum saja. Benar, kita selamat oleh kasih karunia Allah, tapi lihatlah bahwa iman sangatlah berperan di dalamnya. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah." (Efesus 2:8). Tuhan memberi kasih karuniaNya untuk menyelamatkan kita, tetapi semua akan sangat tergantung dengan iman yang ada pada kita. Iman akan sangat menentukan bagi keselamatan kita kelak, tetapi untuk di dunia pun iman akan sangat menentukan seperti apa hidup yang kita jalani. Orang benar, itu hidup oleh iman. Artinya iman sangat menentukan langkah orang untuk menjadi orang benar.

Iman bukan hanya berarti sekedar menerima Yesus, and that's it. Titik.  kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Yang penting saya menerima Yesus, bagaimana saya hidup itu lain soal. Hidup boleh seenaknya, tidak perlu memperhatikan atau mengasihi orang lain, terus diombang-ambingkan rasa takut atau kuatir. Bukan seperti itu. Lewat Paulus kita bisa mendapatkan bambaran yang jelas bahwa iman akan sangat berperan dan harus ada dalam setiap sisi kehidupan kita sehari-hari. Kata "hidup" dalam Roma 1:17 di atas mengacu kepada sebuah proses, daya, atau kekuatan yang berkelanjutan yang harus ada untuk menopang hidup kita. Dengan demikian, kapan, bagaimana dan dimanapun kita harus hidup oleh iman. Ketika bekerja, belajar, berbelanja, bertetangga, berteman, saat kita mengambil keputusan, hingga disaat-saat kesabaran kita diuji, mendapat perlakuan tidak adil atau ketika kita mulai kehilangan kesabaran, iman akan menentukan bagi kita. Iman memberi hidup bagi kita, iman akan sangat penting apakah kita hidup sebagai orang benar atau tidak.

Ambil satu contoh yang sederhana saja. Apakah kita bisa tidur dengan nyenyak dengan rasa damai di malam hari atau kita kerap gelisah, tidak bisa tidur karena takut dalam menghadapi sesuatu? Apakah rasa damai sukacita ada dalam diri kita ketika kita berhadapan dengan orang lain, termasuk orang-orang yang sangat sulit dan selalu memancing emosi sekalipun, atau kita terus membiarkan diri kita dikuasai emosi? Dalam contoh tidur itu, kita bisa melihat bagaimana hasil iman yang bekerja dalam diri orang benar lewat kata-kata Daud berikut: "Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!" (Mazmur 3:6). Seperti itulah iman bekerja dalam kehidupan sehari-hari kita. Artinya, iman bukan hanya sekedar berbicara mengenai sekedar lolos dari neraka dan masuk surga saja. Tidak. Kualitas hidup akan sangat tergantung dari seberapa jauh iman bekerja dalam diri kita. Bacalah ilustrasi tentang para saksi iman dalam Ibrani 11:1-40 dan kita bisa mendapat gambaran yang lebih jelas. Ada banyak tokoh-tokoh yang bisa menjadi teladan tentang bagaimana kita hidup. Penulis Ibrani sudah menuliskan begitu banyak contoh orang-orang yang hidup lewat iman lalu berhasil mencapai hidup yang berkemenangan dengan iman mereka. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1), begitulah Penulis Ibrani memulai uraiannya tentang para saksi iman ini. Sebuah defenisi iman yang seharusnya mampu mengubah setiap sendi kehidupan kita, termasuk didalamnya bagaimana cara kita memandang hidup dan masa depan kita.

Iman seharusnya berada dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam setiap hal yang kita lakukan, putuskan atau jalani. Sebuah kualitas hidup orang benar sesungguhnya sangatlah ditentukan oleh seberapa besar iman mengisi hidup mereka. Apakah kehidupan yang penuh ketakutan, kebimbangan atau hidup yang dipenuhi damai sukacita tanpa tergantung situasi yang tengah dihadapi, apakah hidup dengan sikap positif atau mudah berburuk sangka, apakah hidup dengan ketulusan dalam mengasihi atau pamrih, semua akan bermula dari iman seperti apa yang ada dalam diri kita. Kebutuhan primer bisa menjamin hidup setiap orang, tetapi jika ingin hidup berkualitas sebagai orang benar, maka tidak bisa tidak, itu haruslah bersumber kepada iman. Orang benar, kata Firman Tuhan, itu hidup oleh iman. Sebaliknya orang yang tidak mengindahkan itu akan menjadi orang-orang yang tidak disenangi Tuhan. "Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya." (Ibrani 10:38). Jika ada yang bertanya dari mana iman itu bisa timbul, maka Paulus mengatakan pada ayat sebelum ayat bacaan kita hari ini: "Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani." (Roma 1:16), atau ingat pula bahwa "..iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (10:17). Dimana letak kita hari ini? Seperti apa iman yang ada di dalam hidup kita? Mari pastikan bahwa iman tengah memimpin kita dalam setiap sisi kehidupan, karena orang benar itu hidup oleh iman.

Iman timbul dari pendengaran firman Kristus, dan orang benar akan hidup oleh iman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, July 2, 2014

Iman Disertai Perbuatan

Ayat bacaan: Yakobus 2:18
=========================
"Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku."

Sebuah kata iman sesungguhnya memiliki pengertian sangat dalam yang berkenaan dengan kepercayaan atau keyakinan yang sepenuh atau seteguh hati. Penulis Ibrani menggambarkan iman sebagai "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). The assurance/confirmation, the title deed of the things we hope for, the proof of things we do not see and the conviction of their reality. In other words, faith perceiving as real fact what is not revealed to the senses. Dengan kata lain, iman membuat kita mampu memperoleh pemahaman dan keyakinan bahwa hal-hal yang tidak atau belum kita alami/lihat sepanjang kemampuan nalar dan logika kita bisa menjadi sesuatu yang nyata pada waktunya. Adalah iman yang akan sangat menentukan kemana kita nantinya melangkah, adalah iman pula yang menentukan kita tampil menjadi orang seperti apa dalam hidup. Sayangnya, ada banyak orang yang menilai atau menganggap iman hanya secara sempit, berbicara cuma pada koridor identitas agamawi tanpa menyadari makna besar yang terkandung di dalamnya. Mereka menempatkan iman pada kotak yang berbeda dengan perbuatan atau perilaku dalam kehidupan. Tidaklah mengherankan kalau kita masih sering melihat orang-orang yang mengaku beriman tapi hidupnya masih melenceng jauh dari kemana iman itu sesungguhnya berpusat. Mengaku beriman tapi korupsi, mengaku beriman tapi menipu dan terus melakukan perbuatan jahat lainnya, mengaku beriman tapi hidup masih saja dipenuhi ketakutan dan kekuatiran, bahkan rasa takut yang tidak perlu seperti takut mendengar cerita seram, takut hantu dan lain-lain. Dengan kata lain, meski iman bukan lagi sebuah kata asing dan akan dengan cepat diproklamirkan orang sebagai sesuatu yang mereka miliki dalam diri dan hati mereka, tapi jarang sekali iman itu diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari secara langsung.

Bukan hanya di luar Kristus, tapi orang-orang yang percaya pun sering keliru menafsirkan makna iman. Ada banyak orang yang kalau dilihat hidupnya sangat religius. Tidak pernah lupa ke gereja, selalu berdoa sebelum makan tapi tidak didukung sikap atau tindakan yang menunjukkan ketaatan mereka pada Tuhan. Malah tidak jarang ada orang-orang percaya menjadi batu sandungan bagi orang lain. Biar bagaimanapun kita harus menyadari bahwa Yesus bisa dikenal orang lewat diri kita murid-muridNya. Alkitab sudah menyatakan bahwa kita adalah surat Kristus (2 Korintus 3:3). Orang bisa mengenal sebuah pohon dari buahnya. Bayangkan jika orang-orang percaya seperti ini yang tampil di dunia, maka orang di luar sana akan terus mendapatkan gambaran keliru tentang Tuhan dan bentuk kasihNya yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bahwa antara pengakuan keimanan dan perbuatan belumlah tentu sejalan.

Hal inilah yang disampaikan Yakobus. Dalam suratnya pasal dua pada perikop 14-26 ia dengan panjang lebar mengingatkan pentingnya mengaplikasikan iman dengan perbuatan-perbuatan nyata yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari. Dengan tegas ia memulai perikop ini dengan sebuah seruan: "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" (Yakobus 2:14). Bisakah sebuah iman berfungsi dan membawa manfaat sebagaimana mestinya apabila tidak dipergunakan alias didiamkan saja? Itu sama saja seandainya anda memiliki sepatu yang bisa melindungi kaki anda dalam menapak di jalan terjal berbatu, tapi tidak anda pakai dan hanya ditenteng saja. Kaki anda akan tetap sakit penuh luka meski sepatu itu ada bersama anda. Maka Yakobus menegaskan bahwa iman yang tidak disertai perbuatan pada hakekatnya tidaklah berguna bahkan mati. "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (ay 17).

Selanjutnya Yakobus menyinggung mengenai masalah sifat manusia yang ternyata sudah terjadi sejak dahulu kala, yaitu membedakan antara iman dan perbuatan dalam kehidupan nyata. "Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (ay 18). Ada orang yang bersandar pada imannya, ada yang bersandar pada perbuatannya. Kamu punya iman, saya punya perbuatan. Artinya keduanya ditempatkan pada posisi terpisah atau berbeda. Yakobus pun menantang orang-orang yang mengartikan hal ini secara keliru untuk melihat bagaimana seharusnya iman itu bekerja lewat dirinya sendiri. "Tunjukkan padaku gunanya iman tanpa perbuatan, aku akan menunjukkan bagaimana iman itu sesungguhnya lewat perbuatan-perbuatanku." katanya. Perbuatan seperti apa? Dalam versi Bahasa Inggris dikatakan "by good works of obedience", yaitu dengan perbuatan-perbuatan yang baik didasari ketaatan.

Selain mengingatkan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati seperti yang tertulis dalam ayat 17 dan "Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati" (ay 26), Yakobus juga menyatakan bahwa "iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong" (ay 20). Kosong, sia-sia, tidak ada gunanya, inactive, ineffective and worthless. Sebaliknya sebuah iman yang dilakukan secara langsung dengan perbuatan akan menyempurnakan iman tersebut. "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna." (ay 22). Oleh karena itu jangan puas hanya dengan kehidupan religius tanpa dibarengi dengan perubahan sikap dan perbuatan nyata, karena dengan demikian iman itu belumlah berfungsi atau berguna. Itu pun artinya kita belum menunjukkan diri sebagai anak Allah yang taat dan percaya. Tuhan ingin agar kita hidup semakin baik, menyatakan kemuliaanNya kepada banyak orang dengan kasih.Tuhan ingin kita menjadi orang yang sabar, tidak sulit memaafkan, dan mampu menguasai diri kita. Sebuah perubahan menjadi lebih baik, dimana orang bisa melihat bahwa ketika menerima Yesus hidup anda diubahkan secara luar biasa, itulah yang diharapkan Tuhan. Jika tadinya orang tidak suka berteman dengan anda, sekarang tanpa anda, terasa seperti ada yang kurang. Jika orang diluar sana cepat kuatir dan cemas, anda menjadi bukti bahwa dengan berjalan bersama Tuhan anda tidak perlu takut kekurangan apapun. Kalau galau menjadi kebiasaan orang, kita bisa menunjukkan kehidupan penuh sukacita dan damai sejahtera yang tidak tergantung pada situasi atau kondisi faktual dalam kehidupan. Kita harus mampu seperti Yakobus yang sanggup dan berani menunjukkan iman yang berfungsi baik lewat perbuatan-perbuatan nyata dalam hidup kita. Aplikasikan iman secara nyata, maka selain hidup anda akan menjadi hidup yang berkemenangan, anda pun bisa menjadi surat Kristus yang benar bagi orang-orang disekitar anda.

Iman dengan perbuatan adalah iman yang hidup, yang berkenan dihadapan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, September 22, 2011

Kacamata Iman

Ayat bacaan: Ibrani 11:1
====================
"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."

kacamata imanHampir setiap film box office saat ini dibuat versi 3D nya. Penonton bisa memilih apakah mereka lebih suka menonton versi biasanya atau ingin meningkatkan serunya menonton dengan memilih versi 3D. Meski harganya sedikit lebih mahal, tetapi kepuasannya jelas berbeda. Film dengan sistem 3D akan membuat tayangan seolah hadir tepat di depan kita. Untuk bisa menyaksikan dengan sempurna, maka anda memerlukan kacamata khusus. Cobalah masuk kesana dan menonton tanpa memakai kacamata. Anda akan pusing karena gambarnya berbayang dan tidak jelas. Kacamata 3D berbeda dengan kacamata minus, berbeda pula dengan kacamata plus. Jika mata anda minus, maka pandangan tidak akan membaik dengan memakai kacamata plus, dan begitu pula sebaliknya. Bagaimana untuk memandang masa depan? Sebaik apapun mata anda, dengan kacamata seperti apapun yang disediakan di dunia ini, anda tidak akan pernah bisa melihat masa depan. Tetapi Alkitab berkata bahwa ada satu kacamata yang bisa membuat kita mampu melihat sesuatu di depan sana. Itu adalah kacamata iman.

Mari kita lihat ayat bacaan hari ini. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Iman adalah dasar dari segala sesuatu, dari apapun yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat, dari yang belum kita alami. We can look at it through faith. Ambil sebuah contoh ketika kita menghadapi ujian di sekolah atau kampus. Ujian bukan lagi disebut ujian apabila kita sudah tahu jawabannya bukan? Demikian pula dengan kehidupan kita. Kita adalah manusia yang terbatas yang tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di depan. Dan karena itulah kita membutuhkan kacamata iman, yang mampu bertindak sebagai bukti dari segala sesuatu yang belum terlihat. Tanpa iman hidup akan mudah diombang-ambingkan berbagai hal yang dapat membuat kita terus berada dalam kegelisahan atau ketakutan. Tanpa iman kita akan gamang bahkan takut menghadapi hari depan. Tapi ada iman, yang bisa menjadi bukti meski menghadapi yang belum terjadi sekalipun. Singkatnya, dengan iman kita bisa tenang menatap hari depan.

Betapa pentingnya iman dalam hidup kita. Pertanyaannya sekarang, seberapa besar iman yang kita butuhkan? Yesus sudah menjawabnya. "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Matius 17:20). Mengacu kepada janji ini, apabila kita belum mengalami satupun janji Tuhan, itu tandanya iman kita masih lebih kecil dari biji sesawi, yang diameternya begitu kecil, kurang dari satu milimeter. Padahal jika kita memiliki iman seukuran itu saja akan bisa membawa perubahan yang begitu besar. Faktanya adalah, iman seringkali gampang diucapkan namun sulit untuk dipraktekkan atau diaplikasikan dalam hidup kita. Semua orang boleh saja mengaku sudah memiliki iman, namun semua akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi kita dalam menghadapi situasi sulit atau pandangan kita ketika menatap masa depan yang penuh ketidakpastian. Akan jelas terlihat apakah seseorang memiliki kacamata iman atau tidak sama sekali. Reaksi dan pandangan kita akan menunjukkan dengan jelas sebesar apa sesungguhnya iman kita hari ini. Sebab iman adalah bukti dari bagaimana kita memandang masa depan, yang tidak atau belum kita lihat.

Untuk lebih mendalami perihal iman ini, mari kita ambil satu tokoh Alkitab yang sangat tersohor sebagai contoh. Abraham dikenal sebagai bapa orang beriman. Mengapa? Karena lewat kesaksian hidupnya ada serangkaian kisah yang membuktikan penggenapan janji Tuhan lewat iman. Penulis Ibrani jelas mencatatnya. Pertama, "Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui." (Ibrani 11:8). Jika kita di posisi Abraham, maukah kita pergi ke sebuah tempat yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, di saat kita sedang hidup baik-baik saja? Maukah kita meninggalkan zona nyaman kita untuk pergi kepada sebuah tempat yang tidak kita ketahui? Pada saat itu Abraham tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi lihatlah bahwa ia taat dan pergi mengikuti perintah Tuhan. Itu ia lakukan karena ia memandang dengan kacamata iman. Meski tidak ada yang pasti, dan pada saat itu ia belum mendapat penjelasan apa-apa mengenai tujuan Tuhan, kenyataannya ia tetap pergi dan berdiam di tanah asing yang dijanjikan Tuhan kepadanya. (ay 9). Dan lihatlah apa yang ditulis alkitab mengenai itu. "Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah." (ay 10). Abraham memiliki visi tentang masa depan, sesuatu yang belum ia lihat secara nyata, namun ia memiliki buktinya yaitu lewat iman. Ia bisa melihatnya lewat kacamata iman yang ia miliki. Selanjutnya, "Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia." (ay 11). Pada saat itu Abraham dan Sara sudah tua renta. Tetapi mereka bisa memegang janji Tuhan yang mungkin terdengar sangat aneh ketika diberikan kepada sepasang kakek nenek yang sudah sangat lanjut usia seperti Abraham dan Sara. Keturunan besar seperti bintang di langit dan pasir di laut? Kepada kakek dan nenek? Kita mungkin akan tertawa ketika memperoleh janji yang bunyinya seperti itu, namun Abraham menerima janji dan memegangnya teguh. Pembuktian itu tidak langsung datang seketika. Untuk digenapi, ternyata janji itu masih membutuhkan bertahun-tahun setelahnya. Dan kita tahu janji Tuhan itu nyata terbukti. Abraham sudah mengetahuinya terlebih dahulu meski belum melihatnya, dan itu karena kacamata iman yang ia pakai. Lalu selanjutnya perhatikan ketika Ishak sudah lahir. Datanglah perintah Tuhan agar ia mengorbankan anak yang dijanjikan Tuhan sebagai persembahan. Jika ini kita alami, bagaimana reaksi kita? Kita mungkin akan mengamuk dan menuduh Tuhan mempermainkan kita seenaknya. Tapi Abraham tidak melakukan itu. "Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali." (ay 17-19). Abraham tahu bahwa Tuhan tidak terbatas kuasaNya, dan ia tahu persis bahwa Tuhan bukanlah sosok kejam dan jahat. Semua itu pasti ada alasannya, dimana rancangan Tuhan itu akan selalu baik pada waktunya. Oleh karena itu ia taat, dan kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Semua itu bisa dilakukan Abraham lewat iman yang memberi bukti akan sesuatu yang belum ia ketahui. Ia mendapat segala bukti terhadap apa yang belum ia lihat lewat kacamata iman. Dia bisa memiliki visi yang jelas di masa depan karena ia percaya sepenuhnya kepada janji Tuhan, dan ia memiliki bukti nyata karena ia memandang dengan iman.

Kita memang manusia yang terbatas. Tetapi jangan lupa bahwa Tuhan kita adalah Allah yang tidak terbatas dan tidak bisa dibatasi oleh apapun. Aplikasi dan implikasi iman sesungguhnya sangatlah luas. Iman mampu menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan menjadi bukti kuat dari apapun yang belum kita lihat. Yesus berkata "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22). Kuncinya hanya satu: percaya. Dan percaya akan hadir lewat iman. Dan jangan lupa, karena iman dalam Kristus pula kita dibenarkan, sehingga kita bisa hidup tenang dalam damai sejahtera. "Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." (Roma 5:1-2). Kita memang tidak tahu apa yang bisa terjadi di depan sana. Tetapi maukah kita percaya bahwa Tuhan akan selalu berada bersama kita dan melindungi kita? Bisakah kita memiliki visi seperti Abraham yang bisa melihat janji Tuhan dinyatakan jauh sebelum itu terjadi? Sudahkah kita memiliki kacamata iman? Apa yang akan kita alami akan sangat tergantung dari cara pandang kita, apakah kita memandang dengan kacamata iman atau tidak. Itu akan memberikan perbedaan yang sangat besar terhadap kemampuan kita dalam memandang sesuatu yang belum kita lihat.

FAITH is the assurance of the things we hope for, being the proof of things we do not see and the conviction of their reality

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, June 6, 2010

From RHO-ers: Relasional VS. Kondisional

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Habakuk 3:16
====================

“Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan …”


Pengalaman mengamati doa-doa yang dinaikkan oleh orang-orang (termasuk para hamba Tuhan) di dalam pelayanan ke orang-orang yang sakit keras membuat saya jadi merenungi bagaimana sebenarnya iman di dalam hati manusia itu bekerja. Entah itu iman di dalam hati orang yang sakit keras maupun iman di dalam hati orang yang mendoakan.

Salah satu pengalaman yang menarik adalah ketika saya melayani di salah satu Gereja di Semarang. Salah seorang rekan hamba Tuhan mengajak saya mendoakan seorang Bapak koster Gereja yang sedang sakit leukemia. Rekan hamba Tuhan ini, seperti biasa, membacakan satu bagian firman Tuhan sebelum ia mendoakan Bapak koster Gereja ini. Setelah membacakan satu bagian firman Tuhan, ia kemudian menjelaskan sedikit dan lalu mengajak Bapak koster ini untuk berdoa. Di dalam doanya ia seperti “menjatuhkan” rasa bersalah dan rasa tersudut kepada Bapak koster ini. Seolah-olah di dalam doanya, rekan hamba Tuhan ini hendak mengatakan bahwa penyebab dari sakit leukemia yang dihadapi oleh Bapak koster ini adalah karena ia tidak beriman kepada Tuhan! Rekan hamba Tuhan ini menekankan bahwa Bapak koster ini harus berani mengklaim janji Tuhan dengan iman yang penuh. Dan jika klaim itu tidak terkabul maka berarti yang salah adalah pada diri si Bapak koster ini. Bapak koster ini kurang beriman sih!

Demikian kurang-lebih “pesan” yang saya tangkap dari isi doa rekan hamba Tuhan ini.
Lalu beberapa hari kemudian setelah didoakan, Bapak koster ini akhirnya “sembuh” dari penyakit leukimianya. Tuhan “menyembuhkan” dia dengan memanggil dia “pulang”. Pertanyaan yang menggema di benak dan di dalam hati saya setelah “kepulangannya” adalah: apa sih sebenarnya arti beriman kepada Tuhan? Apakah beriman kepada Tuhan berarti bahwa segala kondisi kita akan berubah seperti yang kita doakan dan mintakan kepada Tuhan? Atau beriman kepada Tuhan itu berarti bahwa segala kondisi di sekitar kita boleh seperti apapun jadinya tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Tuhanku?

Habakuk di dalam pergumulannya melihat kelaliman, penindasan dan kejahatan di sekelilingnya membuat ia sempat “down” dan putus asa sebab keadaan di sekelilingnya tak kunjung berubah walaupun ia telah menjeritkan keadaan sekelilingnya kepada Tuhan --- “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi …” (Habakuk 1:2-3)

Akan tetapi di dalam perjalanan pergumulan iman Habakuk, Tuhan menolong Habakuk dan menghidupkan kesadaran di dalam batinnya bahwa daripada ia terus mempertanyakan pertanyaan “kapan”, “mengapa”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, jauh lebih baik jika ia “berdiam diri di hadapan-Nya.” (Habakuk 2:20). Sebab hanya di dalam “… tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30:15)
Di dalam tinggal diam biasanya kita baru “ter-bangun-kan” bahwa sebenarnya yang terpenting di dalam beriman kepada Tuhan adalah bukan perubahan kondisi di sekeliling kita yang carut-marut, melainkan relasi kita dengan Tuhan yang semakin kokoh melalui kondisi di sekeliling kita yang carut-marut sekalipun! Surat Ibrani mengingatkan bahwa “Iman adalah DASAR dari segala sesuatu yang kita harapkan dan BUKTI dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1)

Iman Kristiani (bukan iman orang Kristen lho – sebab banyak orang Kristen yang tidak Kristiani imannya) adalah iman yang mengharapkan BUKTI dari segala sesuatu yang TIDAK KITA LIHAT! Jadi iman kita memang adalah iman yang tidak melihat – sebab apalah artinya beriman jika kita sudah dapat melihat? – akan tetapi iman Kristiani tidaklah berarti sebuah iman yang “melompat” di dalam kegelapan. Iman kita adalah iman yang “melompat” berdasarkan (berfondasikan) pada pengenalan [RELASIONAL] akan Allah yang berdaulat itu, dan bukan pada keadaan [KONDISIONAL] sekitar kita!

Iman Kristiani adalah iman yang “sekalipun” dan iman yang “namun”… Iman Kristiani bukanlah iman yang “karena”!! Contoh: “Karena” Allah menyembuhkan maka aku sekarang percaya bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa atas segala macam penyakit!”
Iman seperti contoh di atas memang tidak salah dan sah-sah saja, TETAPI iman seperti di atas adalah iman yang berdasarkan KONDISIONAL saja dan bukan berdasarkan RELASIONAL! Iman yang tergantung pada kondisi bukan pada relasi! Kelemahan dari iman yang tergantung pada kondisi adalah ketika kondisi tidak seperti yang kita harapkan maka kita akan mudah untuk menjadi kecewa dan meninggalkan Tuhan! Tetapi ketika iman kita adalah iman yang relasional, maka kondisi apapun yang menimpa kita, kita tetap dapat berdiri teguh karena kita tahu BERSAMA SIAPA kita berjalan di dunia ini! (Contoh: Lihatlah teladan iman dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam Daniel 3:17-18 --- “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi SEANDAINYA TIDAK, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”)

Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap beriman kepada Allah-nya karena mereka kenal betul Allah yang dengan-Nya mereka berelasi. Kondisi di hadapan mereka boleh semenakutkan apapun, Allah mau tolong silahkan, Allah tidak tolongpun silahkan, kami (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) tidak akan menyembah patung emas buatan raja!! Luar biasa bukan!! Iman relasional vs. iman kondisional!

Marilah kita yang masih menaruh iman kita kepada Tuhan berdasarkan kondisi beralih kepada iman yang berdasarkan relasi! Jalinan relasional dengan Allah jauh lebih memberikan rasa aman daripada jalinan iman kondisional! Kesusahan yang membuat kita “gemetar”, “menggigil” dan “kemasukan sengal” boleh datang silih berganti, “namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan itu…” karena aku tahu aku berjalan (menjalin relasi) dengan Siapa! Imanku bukan berdasarkan APA tapi berdasarkan SIAPA!


"Faith cannot be inherited or gained by being baptized into a Church. Faith is a matter between the individual and God." (Martin Luther)

"Faith takes God without any ifs." (D.L. Moody)

Tuesday, July 1, 2014

Menyempurnakan Iman dengan Perbuatan

Ayat bacaan: Yakobus 2:22
====================
"Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna."

Tidak satupun dari kita yang menyangkal bahwa iman akan sangat menentukan seperti apa bentuk, wujud dan arah dari sebuah perjalanan hidup. Meski Yesus sudah berkata bahwa iman sebesar biji sesawi saja sudah mampu mendatangkan hal-hal besar yang ajaib, ukuran seperti itu masih terbilang sulit untuk dikejar oleh sebagian besar manusia. Kita sudah tahu bagaimana cara untuk memperoleh iman seperti yang bisa dibaca dalam Roma 10:17 "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus", tapi banyak orang yang tidak memikirkan pentingnya untuk mempergunakan iman secara nyata dalam kehidupannya. Mengaku beriman pada Yesus, tapi masih saja hidupnya dipenuhi ketakutan, kecemasan atau kekuatiran. Sedikit-sedikit takut, berada di tempat gelap takut, mendengar cerita seram takut, hidup goncang sedikit langsung galau seperti layangan putus melayang tak tentu arah. Hidup bagai tak punya pegangan dan harapan, putus asa mewarnai perasaan sehari-hari. Belajar agar bisa memiliki iman itu satu hal, tapi mau mempergunakannya itu hal lain. Seandainya anda punya sebuah baju yang bisa membuat anda tampil elegan dan indah, tapi itu hanya anda letakkan pada lemari terkunci tanpa anda pakai, apakah baju itu mampu mendatangkan kebaikan bagi anda? Seperti itu pula iman yang hanya diparkir, sekedar diketahui bahwa iman itu ada tapi tidak pernah diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, maka iman itu tidak akan membawa manfaat apa-apa meski kita tahu bahwa hidup yang memiliki iman akan jauh lebih kuat alias tidak gampang goyah dan akan menghindari kita dari kehilangan sukacita, terutama akan membuat kita bisa berjalan ke arah yang benar sampai garis akhir. Sekedar mengaku beriman itu tidaklah cukup. Jadi setelah kita tahu dari mana iman itu timbul, langkah seharusnya yang tidak boleh terabaikan adalah mempergunakannya secara nyata dalam setiap langkah kehidupan kita.

Akan hal iman yang diaplikasikan dalam bentuk perbuatan nyata, kita bisa belajar dari Rahab yang tertulis dalam bagian mengenai Pengintai-pengintai di Yerikho pada Yosua 2:1-24. Rahab tadinya adalah seorang wanita penghibur tinggal di balik tembok tebal menjulang kota Yerikho. Pada suatu hari Yosua melepas dua orang pengintai untuk mengamati kota Yerikho. Kedua pengintai ini pun kemudian bertemu dengan Rahab disana. Pada saat itu kedatangan mereka untuk memata-matai kota itu ternyata didengar oleh Raja Yerikho. Raja segera mengirimkan utusannya untuk menggeledah rumah Rahab yang disinyalir sebagai tempat persembunyian para pengintai itu. Akan sangat mudah bagi Rahab untuk membiarkan saja kedua mata-mata itu ditangkap. Toh ia tidak kenal mereka sebelumnya dan dengan menolong kedua orang ini ia bisa dihukum mati. Tapi ternyata Rahab memutuskan untuk menyembunyikan kedua pengintai itu di atas sotoh rumahnya, dan akhirnya kedua pengintai ini selamat dari tangkapan. Ini sebuah tindakan yang beresiko, tetapi Rahab berani melakukannya.

Apa yang membuat Rahab berani melakukan itu? Apakah karena nekad atau malah cari mati? Tentu tidak. Alasannya disebutkan dalam perikop ini, yaitu karena Rahab telah atau pernah mendengar bagaimana besarnya kuasa Tuhan bangsa Israel. (ay 9-11). Rahab bisa percaya meski ia tidak melihat langsung kuasa Tuhan ketika membelah laut Teberau dan bagaimana penyertaan Tuhan memampukan bangsa Israel untuk terus memperoleh kemenangan demi kemenangan dalam peperangan. Tapi lewat pendengarannya akan besarnya kuasa Tuhan, imannya sudah terbentuk dengan baik. Tapi meski imannya tumbuh, itu tidak akan berarti kalau dia tidak mempergunakan itu secara nyata dalam hidupnya. Meski Rahab tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, bisa saja ia ketahuan dan kemudian dibunuh, atau bahkan ia bisa saja nanti dibunuh oleh bangsa Israel saat mereka berhasil memasuki wilayah Yerikho, Rahab percaya bahwa para pengintai itu yang masuk dengan penyertaan Tuhan akan menyelamatkan dirinya beserta keluarganya.

Dan itulah yang sesungguhnya terjadi. Dalam Yosua pasal 6 kita bisa melihat bahwa Rahab dan keluarganya akhirnya selamat. "Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho." (Yosua 6:25). Ternyata iman yang ia aplikasikan secara nyata membawa keselamatan baginya. Tidak hanya itu, Rahab kemudian mendapat sebuah anugerah yang sangat besar karena di kemudian hari kita mendapati ternyata namanya tertulis dalam silsilah Yesus. (Matius 1:5).

Semuanya berawal dari keputusannya untuk menyelamatkan para pengintai. Apa yang ditunjukkan oleh Rahab adalah sebuah bentuk iman yang disertai perbuatan nyata. Ia mendasari keputusannya karena percaya kepada Tuhan yang ia dengar. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, tetapi ia percaya. Itulah sebuah iman, dan Rahab memilikinya. Penulis Ibrani pun kemudian mencantumkan Rahab dalam kelompok saksi-saksi iman bersama dengan tokoh-tokoh besar seperti Musa, Abraham, Yusuf, Daud dan lainnya. "Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik." (ay 31).

Perhatikanlah kisah Rahab di atas, maka kita akan mampu melihat bahwa iman Rahab itu menjadi sempurna karena disertai dengan perbuatan. Rahab tidak berhenti hanya kepada percaya saja, tetapi ia pun mengaplikasikannya dalam tindakan secara langsung dalam bentuk ril. Kelak Yakobus menuliskan kembali sejarah Rahab ini dalam hubungannya dengan iman yang disusul perbuatan nyata.  "Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?" (Yakobus 2:25). Iman Rahab bukanlah iman yang kosong. Iman yang dimilikinya adalah iman yang disertai perbuatan. Jadi jelaslah bahwa sekedar mengaku beriman saja tidak cukup, seperti apa yang dikatakan Yakobus  "Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman." (ay 24).

Iman haruslah disertai dengan perbuatan, karena hanya lewat perbuatanlah iman itu kemudian disempurnakan. "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna." (ay 22). Tanpa perbuatan, iman dikatakan kosong (ay 20), bahkan pada hakekatnya adalah mati (ay 17). Yakobus tahu betul pentingnya perbuatan nyata yang menyertai iman. Ia bahkan berkata: "Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (ay 18).Lewat pekerjaan-pekerjaan pelayanannya yang serius dan ketaatannya, Yakobus siap menunjukkan seperti apa bentuk iman yang seharusnya, yang disertai dengan tindakan-tindakan secara langsung dalam hidup. "Come and I will show you my faith", he said, "by good works of obedience".

Dari kisah Rahab kita bisa belajar mengenai hal ini, sebab hanya karena perbuatannya nyata yang mengikuti imannya-lah ia dibenarkan. Ada keterkaitan erat atau sambungan yang tak terpisahkan antara iman dan perbuatan nyata. Keduanya harus bekerjasama agar bisa menjadi sempurna. Ketika kita menghadapi hari-hari yang sulit hari ini, mampukah kita mengaplikasikan iman kita dengan sebentuk perbuatan nyata seperti halnya yang dilakukan Rahab? Mampukah kita terus percaya kepada Tuhan dengan segenap hati kita meski apa yang sedang kita hadapi hari ini seolah belum mengarah kepada jalan keluar? Mampukah kita tetap bersukacita dan percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan solusi meski kita belum melihat apa-apa saat ini? Jangan berpuas diri hanya pada pengakuan bahwa kita beriman, tetapi sertailah dengan perbuatan dan sikap diri kita ketika menghadapi kesulitan.

Faith needs real action to be completed and reached its supreme expression

Follow us on our twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, September 1, 2013

Iman dan Perbuatan

Ayat bacaan: Yakobus 2:22
====================
"Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna."

Seorang polisi yang tengah bertugas di hari Minggu pagi menghentikan sebuah mobil yang menerobos lampu merah. Mobil ini mengebut dengan kecepatan tinggi dan hampir saja menabrak beberapa kendaraan dari arah berbeda yang sedang mempergunakan haknya melintas di saat lampu sedang hijau. Sambil meminta surat-surat kendaraan dan surat ijin mengemudi, pak polisi bertanya kepada pengendara mengapa ia begitu sembrono mengendarai mobilnya dan melanggar peraturan. Dengan santai pengemudi berkata, "maaf pak, tapi saya sudah telat ke gereja." Mari renungkan ilustrasi sederhana ini dan pikirkan baik-baik. Telat ke gereja itu tidak baik. Tapi apakah itu berarti kita boleh seenaknya melanggar peraturan, bahkan bisa mengancam nyawa orang lain dan diri sendiri atas alasan itu? Apakah iman hanya sebatas tidak terlambat ke gereja, hanya diucapkan dengan kata-kata "ya, saya orang beriman", tapi sama sekali tidak tercermin lewat perilaku, cara dan gaya hidup kita? Seperti apa iman seharusnya? Adakah bentuk-bentuk yang bisa merepresentasikan tingkat keimanan seseorang tanpa harus disebutkan kepada orang lain?

Akan hal ini, mari kita mengacu kepada surat Yakobus. Surat Yakobus ditujukan kepada semua orang percaya secara umum tanpa memandang latar belakang atau jemaat mana. Pada ayat pertama, dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) terlihat bahwa surat ini disertai salam kepada semuanya yang tersebar di seluruh dunia. Yakobus berupaya menerangkan pentingnya iman dan hubungannya dengan perbuatan. Itu artinya, hubungan antara iman dan perbuatan adalah sesuatu yang penting untuk diketahui oleh semua orang percaya, bukan ditujukan hanya untuk jemaat tertentu.

Sekarang kita menuju pada pasal 2 ayat 14 sampai 26. Yakobus memulainya dengan bertanya: "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" (ay 14). Can such faith, which isn't reflected through any good works, save one's soul? Ayat ini memberikan sebuah perenungan sekaligus peringatan lewat kalimat yang sederhana. Yakobus lalu memberi contoh sederhana tentang reaksi ketika saudara/saudari kita memerlukan pakaian dan kekurangan makanan, adakah gunanya kita mengucapkan "selamat memakai pakaian dan selamat makan" tapi tidak membantu kebutuhan mereka? (ay 15-16). Itu tentu tidak ada gunanya sama sekali.

Jadi jelaslah bahwa iman haruslah disertai lewat perbuatan. Yakobus menyatakan hal ini dengan kalimat: "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna." (ay 22). Faith should cooperate with work, and would be complete or reach it's supreme expression when it's implemented by good works. Jadi iman harus bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan baik yang keluar dari kita, dan oleh itulah iman kita menjadi sempurna.
Tanpa perbuatan, iman dikatakan oleh Yakobus sebagai kosong ("Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?"-ay 20) atau bahkan mati ("..Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."-ay 17). Benar, kita diselamatkan oleh iman dan bukan karena perbuatan, tetapi iman kita seharusnya secara otomatis menggerakkan kita untuk melakukan banyak perbuatan baik yang memberkati orang lain. Ketika kita mengakui beriman kepada Allah, sikap dan perbuatan kita akan menjadi cermin apakah itu memang ada atau tidak, karena biar bagaimanapun iman yang baik akan menghasilkan buah-buah yang baik pula.

Jadi mari kita pikir dimana kita berada hari ini.
- Apakah kita mengaku beriman kepada Kristus tetapi selalu bertengkar dengan istri, anak bahkan tetangga dan lingkungan sekitar kita?
- Apakah kita mengaku beriman tetapi berat bahkan tidak mau menolong orang yang sedang ditimpa kesusahan meski kita sanggup untuk itu?
- Apakah kita mengaku beriman tetapi masih mudah cemas, khawatir, takut atau panik ketika menghadapi masalah? Ditambah lagi dengan melakukan hal-hal yang menyakiti hati Tuhan lewat berbagai alternatif yang ditawarkan dunia?
- Apakah kita masih suka mempertontonkan kerajinan kita berdoa kepada orang lain tetapi perbuatan kita menunjukkan hal-hal buruk?
- Apakah kita mengaku beriman tetapi masih mudah tersinggung lalu membenci dan mencari jalan membalas dendam ketika dikecewakan seseorang?
- Apakah kita mengaku beriman tetapi masih suka iri hati dan gemar menyombongkan diri?

Ini hanya beberapa contoh yang mungkin bisa kita jadikan perenungan. Intinya, iman bukanlah hal yang abstrak karena kita bisa melihat dan mengukurnya dari perbuatan. Ketika iman berfungsi baik, seharusnya kita mengalami perubahan dengan mulai melakukan perbuatan-perbuatan baik yang bukan saja menjadi indikator iman dalam diri kita tetapi juga menyempurnakan iman tersebut. Pada hakekatnya, orang benar itu hidup oleh iman, dan iman itu akan terlihat dari buah-buah yang dihasilkan dalam hidupnya.

Iman berhubungan erat dengan perbuatan, dan lewat perbuatan-perbuatan baik itulah iman kita menjadi sempurna

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, January 10, 2012

Iman dan Takut Terbang

Ayat bacaan: Lukas 17:5
=======================
"Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"

iman, fear of flyingSaya termasuk orang yang merasa tidak nyaman dalam menggunakan jasa penerbangan. Tidak sampai phobia dan menghindarinya karena saya masih bisa terbang bersama maskapai penerbangan apa saja, tetapi tetap saja saya sulit merasa tenang ketika berada di dalamnya. Perasaan tidak bisa berbuat apa-apa pun terasa begitu mengganggu. Begitu menaiki pesawat, sikap pasrah pun harus ditanamkan, dan mau tidak mau kita harus mempercayakan kepada burung besi dan pilot yang mengemudinya. Agak lucu juga sebenarnya jika kita takut naik pesawat terbang, karena sebuah survey pernah mengatakan bahwa menggunakan pesawat terbang itu 25 kali lebih aman ketimbang mengemudi di jalan raya atau menggunakan alat transportasi darat lainnya. Bahkan survey itu lebih lanjut menyebutkan bahwa tingkat kecelakaan akibat menyeberang jalan jauh lebih tinggi dibanding kecelakaan pesawat terbang, bahkan secara ilmiah survey pun membuktikan bahwa adalah lebih aman bagi kita untuk berada di dalam pesawat terbang ketimbang di dalam bath tub. Meskipun demikian, kita tetap menemukan ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang takut naik pesawat. Ternyata hasil survey itu menyimpulkan bahwa bukanlah jatuhnya pesawat yang dipermasalahkan, melainkan takutnya kehilangan kendali akibat meninggalkan tanahlah yang membuat orang mengalami phobia berada di dalam pesawat terbang di atas awan.

Sebuah permasalahan yang sama pun terjadi pada iman kita. Banyak diantara kita yang sudah menerima Yesus, telah rajin ke gereja, rajin berdoa, tapi nyatanya belum sanggup mempercayakan hidupnya secara penuh kepada Tuhan. Cobalah perhatikan. Berapa banyak di antara kita yang masih takut berada di tempat gelap? Ada berapa banyak yang takut menatap masa depan, stres menghadapi resesi atau krisis keuangan, putus asa menghadapi suami/istri atau anak-anak yang bandel, dan lain-lain, meskipun sudah menjadi anak Allah? Mungkin seperti cerita di atas, banyak yang merasa sulit mempercayakan hidup sepenuhnya pada Allah yang tidak terlihat, dan lebih percaya pada "bumi yang kita pijak sehari-hari", sesuatu yang kasat mata. Mungkin hal ini lebih sering terjadi pada teman-teman yang masih baru mengenal Kristus, tapi tidak jarang pula terjadi pada yang sudah lama mengikuti Yesus. Ada seorang teman yang sejak lahir ada dalam keluarga kristen, tapi tetap saja mengaku belum sanggup untuk mengandalkan Tuhan secara total dalam kehidupannya. "Iya kalau Tuhan mau menolong, bagaimana kalau tidak? Saya belum sampai pada tahapan seperti itu.." katanya ringan.

Permasalahan yang sama pun dialami para murid Yesus sendiri. Meski mereka berjalan bersama Yesus yang hadir mengambil rupa dan fisik manusia sehingga dapat mereka sentuh, lihat dan dengar, mereka masih sering dilanda kekuatiran. Pada ayat bacaan hari ini mereka meminta iman mereka ditambahkan, ketika Yesus mengajarkan mereka untuk menaikkan level pengampunan bagi orang lain. Ternyata bagi para murid mengampuni itu merupakan hal yang susah. Menarik jika melihat bahwa murid-murid ini tahu bahwa akar penyebabnya ada pada iman mereka yang masih kurang. Karena itulah mereka berkata: "Tambahkanlah iman kami!" (Lukas 17:5). Bagaimana reaksi Yesus? Yesus berkata bahwa mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kita akan bisa memiliki kuasa yang sungguh dahsyat. "Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." (ay 6). Pada kesempatan lain Yesus kembali mengulangi hal ini. "Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Matius 17:20). Ternyata untuk memiliki iman yang sungguh-sungguh itu bukan masalah mudah. Untuk mencapai iman sekecil biji sesawi pun nyatanya tidak banyak yang sanggup, bahkan murid-murid Yesus yang sudah bertemu langsung denganNya ini masih saja terjadi.

Firman Tuhan sudah berkata jelas mengenai iman. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Iman memampukan kita untuk bisa melihat sesuatu yang belum terlihat. Ini berbicara mengenai jawaban atas segala sesuatu yang kita harapkan dan juga jawaban atau bukti atas segala sesuatu yang belum dapat kita lihat di masa depan. Artinya, di dalam iman ada kuasa dan kekuatan, ada jaminan dan ada pengharapan. Tanpa iman akan sulit bagi kita untuk bisa melangkah dengan baik karena ketakutan akan selalu menghalangi kita untuk melakukan itu.

Para rasul menyadari kelemahan mereka terletak pada iman. Dan mereka merasa penting untuk meminta Tuhan menambahkan iman mereka. Demikianlah pentingnya iman bagi kita dalam menjalani roda kehidupan. Dan itu tidaklah mengherankan, karena sesungguhnya iman yang sekecil biji sesawi, yang ukurannya bagai sebuah butir padi saja ternyata sanggup membawa perbedaan nyata dalam hidup kita. Kita butuh iman, dan kita bisa berdoa agar iman kita ditambahkan. Tetapi itu tidak akan terjadi apabila kita tidak terus melatih diri kita untuk meletakkan pengharapan dengan kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan. Urusan iman bukanlah urusan yang instan. Kita memerlukan proses agar iman itu bisa tumbuh menjadi semakin besar dalam hidup kita. Itu adalah sesuatu yang harus ditanam, disiram dan dirawat, itu adalah sesuatu yang harus dilatih secara kontinu dan konsisten. Selain iman, kita pun bisa meminta Tuhan menambahkan hikmat agar kita bisa lebih bijaksana dalam memandang setiap permasalahan dengan cara pandang yang melibatkan Tuhan di dalamnya. Yakobus pun berkata: "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5).

Sangatlah penting bagi kita untuk terus melatih iman kita untuk berpegang teguh pada Tuhan. Semakin terlatih iman kita maka iman itu pun akan tumbuh semakin besar. Ketika iman ini tumbuh besar, disanalah kita akan lebih mudah mempercayakan hidup kita sepenuhnya padaNya. Biar bagaimanapun Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik buat kita. Nothing but the best. Mari kita percayakan hidup ini dalam tanganNya, dan tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri saja. Lalu berusahalah untuk menaikkan level iman kita hingga kita tidak lagi merasa perlu untuk kuatir atas apapun.

Iman yang kecil saja sudah bisa mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran anda. Belajarlah mempercayakan hidup pada Tuhan dengan melatih iman anda.

Follow us on twitter: >http://twitter.com/dailyrho

Friday, January 1, 2010

Memandang Dengan Iman

Ayat bacaan: Ibrani 11:1
====================
"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."

memandang dengan iman, iman adalah buktiPesimis atau optimiskah anda memandang tahun yang baru ini? Beberapa teman pengusaha memandang tahun ini sebagai tahun yang akan lebih sulit lagi dari tahun sebelumnya. Ada banyak perusahaan gulung tikar di tahun 2009, ada banyak yang mengalami kesulitan. Bagi saya pribadi, justru tahun 2009 kemarin adalah tahun yang luar biasa. Memegang janji Tuhan terbukti tidak pernah sia-sia. Ada begitu banyak mukjizat dan berkat yang Dia sediakan sehingga saya dan keluarga sama sekali tidak merasakan kegoncangan apapun selama tahun 2009. Bahkan sebuah rumah yang indah hadir di penghujung tahun 2009 kemarin. Itu berkat yang luar biasa, mengingat dari gaji standar yang saya terima, saya seharusnya tidak akan mampu membelinya. Pindah dari rumah kontrakan ke rumah sendiri tentu merupakan sebuah hal yang luar biasa, apalagi tanpa perlu menyicilnya selama bertahun-tahun. Perlukah saya korupsi agar saya mampu membeli rumah? Perlukah saya cemas memikirkan tempat tinggal? Perlukah saya terus berkeluh kesah dalam kekhawatiran dalam setiap doa? Tidak. Tuhan tahu persis apa yang kita butuhkan. Tahun lalu saya melangkah dengan iman memasuki tahun yang menurut sebagian orang merupakan tahun yang sangat sulit, dan itu terbukti. Tuhan mampu mencukupi bahkan menurunkan berkatNya di saat dunia berada dalam kondisi apapun. Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak terbatas.

Selain keajaiban besar yang saya ceritakan di atas, saya melihat pula bagaimana luar biasanya Tuhan menjamah banyak orang sepanjang tahun ini. Ada banyak jiwa-jiwa dipulihkan yang saya saksikan langsung. Ada banyak mukjizat kesembuhan terjadi, bukan hanya kepada manusia, tapi seperti yang pernah saya jadikan renungan kesaksian beberapa waktu yang lalu, seekor anjing yang tulang dadanya sempat menonjol ke luar sampai tidak bisa berjalan pun bisa Dia pulihkan kembali normal hanya dalam hitungan jam. Tuhan masih terus bekerja hingga hari ini. Berbagai mukjizat yang pernah Dia lakukan di waktu lalu kepada para tokoh alkitab masih berlaku sama hingga hari ini, karena Dia adalah Bapa yang kekal. "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8). Jika kita menyadari hal itu, mengapa kita harus takut melangkah memasuki tahun yang baru? Semua itu sudah merupakan janji Tuhan yang tidak akan pernah Dia ingkari. Apa yang perlu kita lakukan adalah percaya penuh, memandang ke depan dan melangkah memasuki tahun yang baru ini dengan iman.

Firman Tuhan berkata: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Dasar dari segala sesuatu, dari apapun yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat, dari yang belum kita alami. Ketika kita menghadapi ujian di sekolah, ujian bukan lagi ujian ketika kita sudah tahu jawabannya. Demikian pula dengan kehidupan kita. Tapi kita adalah manusia yang terbatas yang tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di depan, dan karena itulah kita membutuhkan iman, yang mampu bertindak sebagai bukti dari segala sesuatu yang belum terlihat . Tanpa iman niscaya hidup akan selalu penuh dengan ketidakpastian karena kita tidak akan pernah secara pasti mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, bahkan sedetik kemudian. Tanpa iman hidup akan mudah diombang-ambingkan berbagai hal yang dapat membuat kita terus berada dalam kegelisahan atau ketakutan. Tapi ada iman, yang bisa menjadi bukti meski menghadapi yang belum terjadi sekalipun. Singkatnya, dengan iman kita bisa tenang menatap hari depan.

Jika demikian, jelaslah terlihat betapa pentingnya iman dalam hidup kita. Seberapa besar iman yang kita butuhkan? Yesus berkata "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Matius 17:20). Artinya ketika kita belum mengalami janji Tuhan, iman kita masih lebih kecil dari biji sesawi, yang diameternya kurang dari satu milimeter. Padahal jika kita memiliki iman seukuran itu saja akan bisa membawa dampak yang begitu besar. Iman seringkali mudah diucapkan namun sulit untuk dipraktekkan atau diaplikasikan. Semua orang boleh saja mengaku sudah memiliki iman, namun semua akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi kita dalam menghadapi situasi sulit atau pandangan kita ketika menatap masa depan yang penuh ketidakpastian. Reaksi dan pandangan kita akan menunjukkan dengan jelas sebesar apa sesungguhnya iman kita saat ini. Sejauh mana kita percaya kepada janji Tuhan. Sebab iman adalah buktinya.

Mari kita ambil satu tokoh saja sebagai contoh. Abraham disebut bapa orang beriman. Mengapa disebut demikian? Karena lewat kesaksian hidupnya ada serangkaian kisah yang membuktikan penggenapan janji Tuhan lewat iman. Pertama, "Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui." (Ibrani 11:8). Jika kita di posisi Abraham, maukah kita pergi ke sebuah tempat yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, di saat kita sedang hidup dengan tenteram, meninggalkan semua kenyamanan kita? Jawaban ya mungkin mudah kita lakukan ketika kita sudah mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Kita sudah mengetahui kisah Abraham, maka mungkin mudah bagi kita untuk mengatakan ya. Tapi pada saat itu apakah Abraham tahu apa yang akan terjadi? Tidak. Tapi apakah ia taat dan pergi sesuai dengan panggilan Tuhan? Ya. Itu karena imannya. Meski tidak ada yang pasti, dan pada saat itu ia belum mendapat penjelasan apa-apa mengenai tujuan Tuhan, nyatanya ia tetap pergi dan berdiam di tanah asing yang dijanjikan Tuhan kepadanya. (ay 9). Itu pun karena imannya. Dan lihatlah apa yang ditulis alkitab mengenai itu. "Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah." (ay 10). Abraham memiliki visi tentang masa depan, sesuatu yang belum ia lihat secara nyata, namun ia memiliki buktinya yaitu lewat iman. Karenanya ia bisa memandang sebuah visi ke depan meski ia belum memiliki bukti apa-apa secara langsung. Itu karena iman. Selanjutnya, "Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia." (ay 11). Pada saat itu mereka sudah berusia sangat lanjut. Sara sudah lama menopause, Abraham sudah "mati pucuk", namun mereka bisa memegang janji Tuhan yang mungkin terdengar sangat aneh ketika diberikan kepada sepasang kakek nenek seperti Abraham dan Sara. Keturunan besar seperti bintang di langit dan pasir di laut? Kepada orang lanjut usia? Apa tidak salah? Kita mungkin akan tertawa ketika dijanjikan seperti itu, namun Abraham menerima janji dan memegangnya teguh, meski pembuktian itu tidak langsung datang seketika melainkan membutuhkan bertahun-tahun ke depan untuk digenapi. Dan kita tahu janji Tuhan itu secara ajaib terbukti. Abraham sudah mengetahuinya terlebih dahulu meski belum melihatnya, dan itu karena iman. Lalu ketika Ishak sudah lahir, datang pula perintah Tuhan agar ia mengorbankan anak yang dijanjikan Tuhan sebagai persembahan. Jika ini kita alami, bagaimana reaksi kita? Sedih, kecewa, marah? Menuduh Tuhan mempermainkan kita seenaknya? Tapi tidak bagi Abraham. "Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali." (ay 17-19). Abraham tahu bahwa Tuhan tidak terbatas kuasaNya, dan ia tahu persis bahwa Tuhan bukanlah sosok kejam dan jahat. Semua itu pasti ada alasannya, dimana rancangan Tuhan itu akan selalu baik. Oleh karena itu ia taat, dan kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Semua itu bisa dilakukan Abraham lewat iman. Ia mendapat segala bukti terhadap apa yang belum ia lihat dengan iman. Dia bisa memiliki visi yang jelas di masa depan karena ia percaya sepenuhnya kepada janji Tuhan, dan ia memiliki bukti nyata karena ia memandang dengan iman. FAITH is the assurance of the things we hope for, being the proof of things we do not see and the conviction of their reality.

Aplikasi dan implikasi iman sesungguhnya sangatlah luas. Iman mampu menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan menjadi bukti kuat dari apapun yang belum kita lihat. Yesus berkata "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22). Kuncinya hanya satu: percaya. Dan percaya akan hadir lewat iman. Dan jangan lupa, karena iman dalam Kristus pula kita dibenarkan, sehingga kita bisa hidup tenang dalam damai sejahtera. "Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." (Roma 5:1-2). Kita memang tidak tahu apa yang bisa terjadi di sepanjang tahun ini. Tapi mampukah kita memandang positif? Mampukah kita percaya bahwa Tuhan akan selalu berada bersama kita dan melindungi kita? Bisakah kita memiliki visi seperti Abraham yang bisa melihat janji Tuhan dinyatakan jauh sebelum itu terjadi? Apa yang akan kita alami akan sangat tergantung dari cara pandang kita. Ingatlah bahwa meski semuanya belum terjadi, kita sudah memiliki bukti yaitu iman. Oleh karena itu, marilah kita memandang tahun ini dengan optimis. Songsonglah tahun yang baru ini dengan sukacita dan dalam damai Tuhan. Dia tidak akan pernah meninggalkan setiap anak-anakNya yang taat mengikuti kehendakNya. Itu sudah dibuktikan oleh para saksi iman sepanjang alkitab, itu sudah saya buktikan langsung sepanjang tahun 2009 yang lalu, dan itu pun berlaku buat anda.

Dengan iman kita memiliki dasar terhadap segala sesuatu yang kita inginkan dan bukti dari semua yang tidak kita lihat

Saturday, May 26, 2012

Jarak Pandang Rajawali

 Ayat bacaan: Ibrani 11:1
====================
"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."

rajawaliSelalu mengagumkan melihat orang-orang yang visioner dan optimis memandang masa depan, apalagi di tengah dunia yang semakin lama semakin banyak dipenuhi orang-orang yang pesimistis. Orang-orang yang visioner dan penuh optimisme akan selalu bersikap positif meski kondisi secara realita sepertinya tidak mendukung. Hidup yang semakin lama semakin sulit akan mudah membuat kita kehilangan semangat. "Mau bagaimana bisa yakin kalau situasinya serba tidak menentu seperti ini..." kata seorang teman yang membuka toko pada suatu kali. Sebaliknya orang-orang yang optimis tetap memiliki semangat juang tanpa memandang situasi dan kondisi terkini. Saya katakan visioner, karena mereka ini biasanya bisa memandang jauh ke depan melebihi jarak pandang orang awam. Bukan karena mereka punya mata yang lebih dari kita, bukan pula karena kehebatan supranatural dan sebagainya. Salah seorang tipe visioner ini pernah membagi rahasianya kepada saya. "Saya memandang dengan iman, bukan dengan mata biasa. Selama saya melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, mengapa saya harus ragu tentang kesuksesan di masa depan?" katanya sambil tersenyum. Luar biasa. Inilah sebenarnya rahasia yang sepertinya mudah untuk dikatakan, mungkin juga tidak asing lagi bagi telinga kita, tetapi seringkali sulit untuk dilakukan.

Dua hari terakhir kita sudah melihat beberapa karakteristik burung rajawali yang bisa kita pakai sebagai pelajaran hidup bagi kita. Alkitab memakai burung rajawali sebagai contoh dalam banyak kesempatan, lebih dari jenis burung lainnya. Ini tidaklah mengherankan karena burung rajawali memang memiliki banyak keistimewaan yang bisa kita teladani. Kita sudah melihat bagaimana induk rajawali melatih anaknya untuk mandiri, keluar dari zona kenyamanan dalam sarang untuk bisa terbang tanpa harus takut. Kita juga sudah melihat bagaimana rajawali melayang jauh tinggi di langit mampu terbang di atas angin kencang atau badai dibawahnya. Satu hal lagi yang bisa kita pelajari dari burung rajawali adalah jarak pandangnya. Jarak pandang burung rajawali dikatakan bisa mencapai sekitar 6 km atau kurang lebih 8 kali jarak pandang manusia. Berada di tempat tinggi akan membuatnya mampu memandang dengan lebih jauh tanpa terhalang tembok-tembok atau pohon dan gunung yang bisa menutupi kemampuan pandangnya yang jauh itu. Dalam Obaja 1:4 dikatakan bahwa burung rajawali menempatkan sarangnya di antara bintang-bintang, dan memang demikianlah adanya. Rajawali selalu berada di tempat tinggi, dimana selain ia bisa melewati berbagai halangan di udara, rajawali juga akan aman dari serangan pemburu atau pemangsa yang biasanya ramai di tempat rendah.

Kita bisa belajar dari burung rajawali mengenai pandangan jauh ke depan ini tanpa harus mengganti mata kita terlebih dahulu dengan mata rajawali. Kunci untuk itu sebenarnya sudah disebutkan di dalam Alkitab. Bagaimana agar kita bisa memandang jauh ke depan? Lihatlah ayat ini. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Seperti apa yang dikatakan oleh orang yang visioner di atas, kita bisa memandang jauh ke depan, yang mungkin jauh diatas jarak pandang mata kita, dengan mempergunakan mata iman. Iman merupakan DASAR dari segala sesuatu yang kita harapkan, juga merupakan BUKTI dari Segala sesuatu yang tidak atau belum kita lihat. Memandang dengan iman akan membuat kita tidak perlu ragu menatap masa depan. Memandang dengan iman akan membuat kita bisa melihat segala janji Tuhan bahkan sebelum janji itu tiba bagi kita. Mengapa kita bisa yakin? Sebab Tuhan sudah menjanjikan segala yang terbaik buat kita seperti dalam Yeremia 29:11, dan itu tidak akan bisa kita lihat tanpa mempergunakan iman. Kemampuan jarak pandang mata kita yang sangat terbatas tidak akan pernah mampu membawa kita untuk melihat berbagai penggenapan di masa depan. Kita hanya menunggu dan menunggu, berharap tanpa pernah sedikitpun percaya akan hal itu. Bagaimana kita bisa percaya jika kita tidak bisa melihat buktinya? Itu mungkin yang menjadi pemikiran banyak orang. Maka ayat ini memberi ketegasan bahwa kita bisa melihat BUKTI dari segala yang belum kita lihat itu jika kita mau memandang dengan iman. Iman, itulah dasarnya yang akan membawa perbedaan. Iman yang akan memampukan kita untuk tetap tenang dan percaya, tetap berjalan tanpa ragu menatap hari depan yang cerah dan penuh harapan.

Seberapa besar iman yang kita butuhkan untuk bisa memandang jauh seperti itu? Sebesar rumah, gedung pencakar langit atau lebih? Yesus menyebutkan sebaliknya. Yesus berkata "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Matius 17:20). Bila kita belum mengalami janji Tuhan, itu artinya iman kita masih lebih kecil dari biji sesawi, yang diameternya kurang dari satu milimeter. Padahal jika kita memiliki iman seukuran itu saja dampaknya bisa begitu besar. Iman seringkali mudah diucapkan namun sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Kita mungkin tahu akan sepasang mata iman, tetapi sedikit dari kita yang mau memiliki dan memakainya. Semua orang boleh saja mengaku sudah memiliki iman, namun semua akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi kita dalam menghadapi situasi sulit atau pandangan kita ketika menatap masa depan yang penuh ketidakpastian. Reaksi dan pandangan kita akan menunjukkan dengan jelas sebesar apa sesungguhnya iman kita saat ini. Sejauh mana kita percaya kepada janji Tuhan. Sebab iman adalah buktinya.

Seandainya kita bisa bertanya kepada burung rajawali bagaimana indahnya memandang sejauh jarak itu, saya kira burung rajawali akan tersenyum dan berkata bahwa jarak pandang itu membuatnya mampu melihat segala sesuatu yang lebih indah dari pandangan manusia yang 8 kali lebih rendah darinya. Seperti itulah apabila kita memiliki mata iman dalam memandang hidup. Membiarkan mata hanya memandang kesulitan yang tengah dihadapi tidak akan membawa manfaat apa-apa. Kita perlu mata iman untuk memandang jauh mengatasi situasi sulit yang tengah kita hadapi. Kita perlu mata iman untuk melihat janji-janji yang disediakan Tuhan bagi kita yang tengah menanti di depan sana. Kita perlu mata iman yang memandang kepada Tuhan sehingga kita tidak perlu goyah, ragu atau takut dalam berjalan. God is with us in every step of the way! He's promised us, and He will guide us towards the way. Mata imanlah yang akan memampukan kita memandang semua itu. Iman, itulah bukti dari segala yang tidak/belum kita lihat, itulah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan. Sudahkah anda mempergunakan mata iman dalam memandang hidup? Jika belum, pergunakanlah sekarang, sehingga anda tidak perlu harus kehilangan sukacita dalam menapak naik di atas hari-hari yang sulit.

Mata iman akan membawa anda melihat janji-janji Tuhan sebelum ia hadir

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, March 13, 2009

Iman Nuh

Ayat bacaan: Ibrani 11:7
===================
"Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya."

iman nuh, iman sebesar biji sesawiIman adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan, namun seringkali sulit untuk dijelaskan, apalagi dipraktekkan. Implikasi dan aplikasi iman sungguh sangat luas, begitu luas sehingga Yesus berkata bahwa jika sekiranya saja kita memiliki iman sebesar biji sesawi sekalipun, maka gunung sekalipun akan pindah, dan dengan iman tidak akan ada hal yang mustahil lagi bagi kita. (Matius 17:20). Kita melihat bahwa iman yang seukuran biji sesawi saja (diameternya kurang dari satu milimeter) akan bisa membawa dampak yang begitu luar biasa. Sebuah gambar di samping mungkin bisa menggambarkan kira-kira sebesar apa biji sesawi itu jika dibandingkan dengan jari telunjuk manusia. Kita seringkali berkata bahwa kita beriman pada Kristus, hal itu akan gampang diucapkan ketika hidup sedang berada pada titik puncak kenyamanan, namun akan menjadi begitu sulit untuk direalisasikan ketika berbagai masalah sedang menjungkirbalikkan kita ke titik terendah. Semua orang boleh mengaku sudah memiliki iman, namun segalanya akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi dan tindakan kita dalam menghadapi situasi sulit, sebuah ketidakpastian, hal yang secara logis mustahil atau bahkan hal yang belum bisa kita lihat secara nyata. Reaksi dan tindakan kita akan menunjukkan secara nyata sejauh dan sebesar apa iman kita, sejauh mana kita percaya, sejauh mana kita patuh.

Penulis Ibrani mencoba menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan iman. Mari kita lihat firman Tuhan berikut: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Dalam bahasa Inggris, dikatakan demikian: "NOW FAITH is the assurance of the things we hope for, being the proof of things we do not see and the conviction of their reality" Iman adalah jaminan atas segala sesuatu yang kita harapkan, bukti dari segala sesuatu yang tidak/belum kita lihat, dan mempunyai kepastian sebagai sesuatu yang nyata, meski tidak terlihat sekalipun. Kemudian penjelasan selanjutnya: "Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat." (Ay 2-3). Berbagai kesaksian luar biasa yang dialami begitu banyak nabi dalam Perjanjian Lama semuanya oleh karena iman mereka. Dan iman lah yang membuat kita bisa mengerti bahwa alam semesta yang bisa kita lihat saat ini, semua terjadi karena firman Tuhan, yang tidak dapat kita lihat. Mari kita lihat salah satu contoh tentang hal ini, dari kisah Nuh.

Nuh mendapat tugas "aneh" dari Tuhan pada suatu hari. Dia diminta untuk membangun sebuah bahtera super besar, yang harus mampu memuat seluruh keluarganya beserta sepasang dari segala jenis hewan. Nuh bukanlah seorang tukang kapal. Dan sepertinya pada masa itu hujan belum pernah turun, sehingga kita bisa membayangkan, bagaimana jika kita menjadi Nuh pada saat itu. Perintah untuk membangun kapal besar, di usia senjanya, padahal sebelumnya mungkin dia belum pernah melihat apa yang digambarkan sebagai sebuah bahtera. Apa yang dilakukan oleh Nuh? Nuh taat melakukan perintah Tuhan tanpa membantah sedikitpun. Saya membayangkan, mungkin selama masa ia membangun, begitu banyak orang yang menertawakannya, mengapa ia membangun sesuatu yang luar biasa besar di atas daratan. Nuh pada saat itu mendapat hikmat Allah, dimana Allah sendirilah yang secara langsung memberitahukan detail-detail untuk membangun sebuah kapal. "Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas." (Kejadian 6:15-17). Ukurannya tidak main-main, sekitar 133 meter panjangnya, 22 meter lebarnya dan 13 meter tingginya. Saat itu rasanya belum pernah ada yang namanya hujan lebat yang begitu lama yang akan membuat seluruh bumi tenggelam. Nuh belum pernah melihat hal tersebut sebelumnya, sehingga saya yakin logikanya tidak akan mampu menggambarkan hal tersebut. Namun Nuh taat, dan mengerjakan seluruhnya sesuai perintah Tuhan. Nuh percaya bahwa sesuatu yang belum pernah terjadi bukan berarti tidak akan terjadi. Dia memilih untuk patuh. "Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya." (ay 22). Setelah selesai, Tuhan pun berkata: "Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini." (7:1). Lalu hujan pun turun selama 40 hari dan 40 malam menenggelamkan segalanya. Pada akhirnya, kita mengetahui bahwa Nuh beserta keluarganya diselamatkan. Karena Nuh orang yang selalu baik? Bukan demikian yang dicatat Alkitab. Allah menyelamatkan Nuh bukan karena Nuh orang baik, melainkan karena Nuh adalah orang benar.

Karena iman, Nuh melakukan segala sesuatu yang belum pernah atau bisa dia lihat dengan ketaatan penuh, iman yang dimiliki Nuh membuat ia dinyatakan benar di hadapan Tuhan, dan karenanya diselamatkan. Inilah yang dijelaskan Penulis Ibrani mengenai Nuh. "Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya." (Ibrani 11:7). Dengan kata lain, Ketaatan Nuh berasal dari imannya, dan karena imannya itulah ia diperhitungkan Tuhan sebagai orang yang benar.

Sudahkah kita memiliki iman seperti Nuh? Sanggupkah kita terus memegang teguh janji Tuhan, meski mungkin saat ini kita belum melihat jawaban apapun atas permasalahan kita? Masihkah kita tetap percaya dan terus bersyukur meski gelombang kesulitan masih terus bergejolak? Miliki iman yang teguh, tetaplah percaya bahkan ketika anda belum melihat apa-apa. Percayalah bahwa iman sanggup membuat segala sesuatu yang mustahil sekalipun menjadi nyata, bahkan dengan ukuran biji sesawi sekalipun.

Dengan iman Nuh dibenarkan dan diselamatkan beserta keluarganya

Sunday, April 17, 2011

Fear of Flying

Ayat bacaan: Lukas 17:5
===================
"Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"

takut terbangApakah anda termasuk orang yang takut terbang dengan pesawat? Ada banyak orang yang mengalami rasa takut ketika mereka berada di dalam pesawat terbang. Ada yang meski takut tapi bisa memberanikan diri, ada pula yang betul-betul tidak mau sama sekali. Dennis Berkamp seorang pesepak bola terkenal yang sudah pensiun dulu merupakan andalan tim Arsenal dan timnas Belanda. Tetapi ia selalu hanya mau memilih jalan darat ketimbang naik pesawat bersama teman-temannya. Ia bahkan rela melepas peluang untuk bermain di ajang prestisius sekelas Piala Dunia karena ia takut terbang dengan pesawat. Istri saya termasuk orang yang tidak nyaman berada di dalam pesawat. Tetapi ia masih mau dan paling-paling menggenggam tangan saya erat-erat sambil terus berdoa. Mengapa banyak orang takut naik pesawat? Data statistik menunjukkan jumlah kecelakaan dengan mengendarai mobil atau transportasi darat lainnya jauh lebih tinggi dibanding kecelakaan di udara. Bahkan kecelakaan menyeberang jalan pun lebih tinggi dibanding kecelakaan dalam penerbangan. Mungkin orang takut pesawatnya jatuh, pilotnya kurang cakap, takut ketika berada di ketinggian, takut berada dalam ruang tertutup dan sebagainya. Tapi menariknya, sebuah penelitian menyimpulkan bahwa penyebabnya bukan karena takut pesawatnya jatuh, tetapi karena rasa takut kehilangan kendali ketika meninggalkan tanah.

Rasa takut bisa muncul dalam berbagai bentuk. Alasannya pun bermacam-macam. Kita mengenal kata phobia yang bisa tersambung dengan banyak hal menakutkan yang berbeda pada masing-masing individu. Diantara orang percaya rasa takut yang berlebihan seperti ini pun masih sering terjadi. Sudah rajin ke gereja, rajin berdoa, tetapi rasa takut masih saja berkuasa atas diri mereka. Mulai dari rasa takut yang sepele seperti takut berjalan di dalam gelap, takut menatap masa depan, stres menghadapi masalah finansial, putus asa dalam menghadapi anak atau pasangan dan sebagainya. Ada banyak orang yang memang melakukan ibadah secara rajin, tapi kekurangan iman dalam hidupnya. Mungkin mereka sulit mempercayakan hidup kepada Allah yang tidak bisa dilihat kasat mata dan lebih percaya kepada apa yang bisa dilihat di muka bumi yang kita jalani sehari-hari. Akibatnya fokus hanyalah kepada hal-hal duniawi, dan itu dianggap realistis. Masalahnya terletak pada iman yang belum cukup percaya untuk mampu menjawab segala kekhawatiran kita.

Sebesar apa iman itu seharusnya? Tuhan Yesus justru menyatakan bahwa iman sekecil biji sesawi saja sudah mampu menghasilkan sesuatu. "Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." (Lukas 17:6). Hal ini dikatakan Yesus untuk menjawab permintaan murid-muridNya akan iman yang lebih besar. Ketika itu Yesus tengah mengajarkan mereka untuk meningkatkan kemampuan mengampuni ke level yang lebih tinggi. Dan mereka menanggapinya dengan meminta tambahan iman kepada Yesus. "Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" (Lukas 17:5). Maka iman sebesar biji sesawi merupakan jawaban dari Yesus yang sungguh penting. Seringkali kita berpikir bahwa kita membutuhkan iman yang tidak pernah cukup besarnya. Kita ingin lebih dan lebih lagi, padahal sebesar biji sesawi saja, yang ukurannya cuma seujung kecil jari sudah bisa membawa mukjizat yang besar. Ketika para murid gagal menyembuhkan seorang pemuda yang dikuasai roh jahat dalam Matius 17:14-21, ternyata Yesus kembali mengulangi pesan yang sama. "Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (ay 20). Ya, iman sebesar biji sesawi saja sudah mampu membuat hal yang mustahil menjadi mungkin. Iman sebesar biji sesawi sekalipun sudah mampu untuk membawa kita mengalami keajaiban mukjizat Tuhan.

Penulis Ibrani mendefenisikan iman secara sangat baik. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Kalau kita mempercayai sesuatu yang terlihat itu bukan iman lagi namanya. Bisa tidaknya kita percaya bahwa Tuhan akan melakukan sesuatu bagi kita nanti sementara kita masih belum melihatnya saat ini, itu tergantung sepenuhnya dari iman. Percaya tidaknya kita terhadap jawaban Tuhan atas sesuatu yang kita harapkan, itu tergantung dari iman. Dan ketika orang berpikir bahwa imannya masih terlalu kecil, Yesus menyatakan sebesar biji sesawi sekalipun itu sudah cukup untuk melihat mukjizat Tuhan dinyatakan atas hidup kita. Yang menjadi masalah adalah seperti jawaban Yesus di atas: yaitu "Karena kamu kurang percaya." Berulang-ulang Yesus mengingatkan kita agar jangan takut dan percaya kepadaNya, tetapi kita terus saja ragu dan memandang hanya kepada masalahnya saja. Kita terus mendesak Tuhan untuk melakukan pertolongan sesuai dengan waktu yang kita inginkan. Kita kurang percaya dan tidak mau membiarkan Tuhan melakukan tepat pada waktunya, kita sulit meyakini bahwa waktu yang dianggap Tuhan paling baik adalah yang terbaik pula buat kita. Iman yang kecil saja sudah membawa dampak luar biasa, dan apabila kita masih belum mengalaminya itu berarti iman kita masih berada di bawah ukuran yang sekecil biji sesawi, dan ingatlah bahwa iman itu tidak akan pernah bisa tumbuh apabila kita tidak kunjung belajar untuk percaya kepada Tuhan. Anda memiliki ketakutan akan sesuatu hari ini? Jika ya, inilah saatnya untuk mulai belajar percaya kepada Tuhan. Pegang janjiNya dan lakukan segala sesuatu sesuai kehendakNya. Disanalah anda akan melihat bagaimana iman itu akan mulai bertumbuh, dan ketika sampai kepada ukuran sebesar biji sesawi saja anda akan mengalami banyak hal menakjubkan dari kuasa Tuhan.

Belajarlah percaya agar iman anda bisa bertumbuh

Follow us on twitter: http://twitter.com./dailyrho

Tuesday, October 24, 2017

Iman, Orang Benar dan Kasih Karunia (1)

Ayat bacaan: Ibrani 11:7
===================
"Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya."

Seperti banyak orang, saya dahulu mengambil les mengemudi agar bisa menyetir mobil sendiri saat saya berusia 18 tahun. Selama dua minggu saya diajarkan dan langsung praktek di jalan raya. Saya dikenalkan pada jalan yang lengang dan menghadapi macet. Belajar mundur buat saya adalah yang tersulit karena posisinya terbalik ke belakang. Setelah lulus, saya menyadari bahwa ternyata saya harus menyesuaikan diri lagi untuk benar-benar terjun ke jalan. Masalahnya, selama kursus menyetir instruktur punya rem dan kopling sendiri. Jadi kalau saya lupa atau kurang injak, instrukturlah yang akan mencegah terjadinya tabrakan dengan kendaraan lain. Kalau setir kurang lurus atau terlalu mepet, dia juga yang memperbaiki arah mobil. Kalau terlalu kencang diingatkan, kalau terlalu pelan diingatkan. Saat tidak ada lagi instruktur dan ekstra kopling dan rem disamping saya, maka disanalah ujian sebenarnya untuk mengetahui apakah saya sudah cukup mahir atau belum. Lumayan sulit, karena ada banyak hal yang harus saya perhatikan seperti menjaga kecepatan yang pas dengan flow di jalan, menjaga agar mobil tidak berbenturan dengan mobil lain, menjaga jarak rem, bagaimana ganti kopling agar mesin jangan sampai mati dan deg-degannya jika harus parkir mundur apalagi parkir paralel. Kemudian melatih reflek mengerem atau membanting setir kalau-kalau ada situasi mendadak yang mungkin saja dilakukan oleh pengendara lain yang tidak disiplin.

Soal iman bisa jadi mirip proses di atas. Ada masa dimana kita belajar agar mengalami pertumbuhan iman, tapi apakah iman yang kita punya memang sudah cukup besar atau tidak baru akan teruji saat berhadapan langsung dengan situasi nyata. Dari reaksi kita menyikapi masalah dan keputusan yang kita ambil, kita bisa melihat apakah iman kita sudah semakin besar dan kuat atau masih tidak bertumbuh, atau jangan-jangan malah menyusut. Apakah kita gampang panik, cemas, takut saat berhadapan dengan masalah, segera kecewa dan menyalahkan Tuhan, tidak sabaran dan mengambil jalan-jalan pintas yang mengarah pada kuasa kegelapan, itu semua menunjukkan bahwa iman kita masih perlu dibenahi secara serius. Atau, dalam menghadapi panggilan atau tugas dari Tuhan, apakah kita taat melakukan tepat seperti yang Tuhan mau meski awalnya terlihat aneh, terlalu sulit atau sangat berat, atau kita terus menunda, tak henti bertanya dan lebih suka mengelak. Selain reaksi menghadapi masalah, reaksi dalam menyikapi tugas/panggilan pun bisa kita jadikan salah satu penanda sampai dimana iman kita saat ini.

Pertanyaannya, seberapa besar sebetulnya iman yang dibutuhkan agar bisa tetap berjalan dalam kebenaran dalam situasi apapun? Yesus mengatakan kita bukan butuh yang sebesar gunung, sebesar pulau atau bumi, tapi kalau kita punya sebesar biji sesawi saja maka tidak ada yang mustahil bagi kita. Sebesar apa biji sesawi itu? Biji sesawi bukan seperti biji salak atau jeruk, tapi jauh lebih kecil dengan diameter kurang dari satu milimeter. Punya iman sebesar itu saja dampaknya sudah luar biasa. Kalau kita masih mudah goyah, gampang panik, masih suka mengambil cara-cara keliru, menduakan Tuhan dan sebagainya saat menghadapi masalah atau tugas dari Tuhan, itu artinya iman kita masih jauh lebih kecil ketimbang biji sesawi yang kecil itu.

Iman sebagai sebuah kata sangat mudah untuk diucapkan tapi seringkali sulit untuk dipraktekkan. Padahal implikasi dan aplikasi iman sungguh luas, begitu luas sehingga Yesus berkata bahwa jika sekiranya saja kita memiliki iman sebesar biji sesawi saja maka gunung sekalipun akan pindah, dan dengan iman tidak akan ada hal yang mustahil lagi bagi kita. (Matius 17:20). Kita mudah mengatakan bahwa kita beriman pada Kristus terutama saat hidup sedang berada pada keadaan baik, nyaman tanpa gangguan masalah. Tapi bisa menjadi begitu sulit untuk direalisasikan ketika berbagai masalah sedang menjungkirbalikkan kita ke titik terendah. Semua orang boleh mengaku sudah memiliki iman tapi segalanya akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi dan tindakan kita dalam menghadapi situasi sulit, sebuah ketidakpastian, hal yang secara logis mustahil atau bahkan hal yang belum bisa kita lihat secara nyata. Reaksi dan tindakan kita akan menunjukkan secara nyata sejauh dan sebesar apa iman kita, sejauh mana kita percaya, sejauh mana kita bisa taat kepada Tuhan.

Apa yang dimaksud dengan iman? Penulis Ibrani sudah memberikan jawabannya. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Dalam bahasa Inggris, dikatakan demikian: "Now faith is the assurance of the things we hope for, being the proof of things we do not see and the conviction of their reality" Iman adalah jaminan atas segala sesuatu yang kita harapkan, bukti dari segala sesuatu yang tidak/belum kita lihat, dan mempunyai kepastian sebagai sesuatu yang nyata, meski tidak terlihat sekalipun. Kemudian penjelasan selanjutnya: "Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat." (Ay 2-3). Berbagai kesaksian luar biasa yang dialami begitu banyak nabi dalam Perjanjian Lama semuanya oleh karena iman mereka. Dan iman lah yang membuat kita bisa mengerti bahwa alam semesta yang bisa kita lihat saat ini, semua terjadi karena firman Tuhan, yang tidak dapat kita lihat.

Dalam beberapa renungan terdahulu kita sudah melihat banyak inspirasi dan bukti dari kisah Nuh. Hari ini mari kita fokus dari sisi imannya.

(bersambung)


Monday, August 26, 2013

Iman + Kesabaran dalam Menuai Janji Tuhan (1)

Ayat bacaan: Ibrani 6:12
=================
"agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah."

Pada suatu kali saya menemani istri di dapur ketika sedang membuat kue. Saya melihatnya mengocok campuran beberapa bahan baku dengan penuh kesabaran agar adonan kue bisa menjadi bagus. Sambil tersenyum saya berkata kepadanya bahwa pekerjaan itu terlihat melelahkan dan tampaknya membosankan. Tapi ia menjawab bahwa meski pegal, itu akan menentukan berhasil tidaknya kue yang dimasak. Setelah beberapa waktu, saya mulai melihat hasilnya. Dan pada saat disajikan, kue terasa lezat dan bagus bentuknya. Kue sukses dibuat.

Sambil mencicipi potongan kue itu, saya pun berpikir bahwa proses pembuatan kue hingga bisa dinikmati ini menggambarkan proses kita dalam menanti janji Tuhan untuk digenapi dalam hidup kita. Jika kue saya ibaratkan sebagai janji Tuhan, maka segala bahan baku dan wadah adalah iman, lalu pekerjaan tangan dalam mengocok adonan menggambarkan kesabaran. Jadi untuk menuai janji Tuhan diperlukan kerjasama yang sinergis antara iman dan kesabaran. Salah satu kurang maka keberhasilan tidak akan bisa dicapai. Gambar dalam renungan hari ini memberi ilustrasi sederhana mengenai hal ini.

Iman dan kesabaran merupakan syarat utama untuk menerima apa yang dijanjikan Tuhan. Itu disebutkan dalam Ibrani 6:12 : "agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah." Penulis Ibrani mengingatkan agar kita jangan menjadi malas, tetapi supaya hidup seperti orang-orang yang menerima janji Tuhan lewat iman dan kesabaran. Ayat selanjutnya memberi contoh nyata lewat pengalaman Abraham. "Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya: "Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak." Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya." (ay 13-15). Kesabaran Abraham menyempurnakan imannya sehingga ia pun menuai janji Tuhan. Kita tahu bahwa janji Tuhan yang diberikan kepada Abraham tidaklah langsung terjadi melainkan butuh waktu tahunan untuk digenapi. Abraham punya keduanya: iman dan kesabaran sehingga pada akhirnya kita melihat ia berhasil menerima berkat luar biasa sesuai janji Tuhan kepadanya.

Iman tanpa kesabaran akan membuat kita terjebak untuk berkompromi dengan berbagai tawaran dunia, mencoba menjawab sendiri doa-doa kita lewat berbagai alternatif yang menyesatkan. Sedang kesabaran tanpa iman hanya akan membuat kita hidup tanpa makna, sabar menanti sesuatu yang tidak pernah datang atau hanya mendasari hidup dengan apa yang kita lihat, dan itu berarti kita sama seperti orang yang tidak mengenalNya. Mengetahui janji Tuhan tanpa didasari iman dan kesabaran akan membawa kita pada kesalahan-keslaahan pemahaman akan Tuhan dan membuat hidup kita terombang ambing tanpa arah pasti. Tetapi sebuah gabungan antara iman dan kesabaran yang berjalan beriringan dengan stabil (tidak timpang) akan memampukan kita untuk menuai janji-janji Tuhan secara nyata. Bukan lagi hanya wacana, bukan sesuatu yang utopia, bukan hanya kata orang, tetapi kita mengalaminya secara nyata dalam hidup kita. Jadi iman dan kesabaran itu sama pentingnya dan harus berada dalam posisi sejajar dalam urusan menerima sesuatu dari Tuhan. Apakah itu berkat, pertolongan, pemulihan dan sebagainya, iman dan kesabaran akan sangat berpengaruh terhadap berhasil tidaknya kita memperoleh jamahan Tuhan dan menerima kucuran berkatNya.

Apa yang dimaksud dengan iman? Dalam Ibrani 11:1 dengan jelas dikatakan bahwa "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Iman bukan saja dasar, tapi juga bukti. Ketidaktahuan kita akan apa yang akan terjadi di depan bisa dengan mudah membuat kita khawatir atau malah takut. Mengapa? Karena kita tidak bisa melihat atau mengetahuinya. Karena itulah kita membutuhkan kacamata iman, yang mampu bertindak sebagai dasar dan bukti dari segala sesuatu yang belum terlihat itu. Iman punya kekuatan luar biasa, yang jika ukurannya hanya sebesar biji sesawi saja, itu sudah bisa memindahkan gunung bahkan dikatakan tidak akan ada lagi yang mustahil bagi kita (Matius 17:20).  Ada banyak tokoh Alkitab yang sudah membuktikan kekuatan luar biasa dari iman yang bisa kita teladani, sebaliknya banyak pula yang gagal justru karena iman mereka yang lemah dan ketidaksabaran terus menguasai mereka. Itu seharusnya mampu membuat kita menyadari betapa dahsyatnya peran iman dalam menentukan keberhasilan hidup kita, termasuk di dalamnya menentukan keberhasilan menuai janji-janji Tuhan.
(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...