==================
"Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."
Iman adalah sebuah kata yang sangat sederhana dan singkat. Iman juga kata yang sudah sangat tidak asing lagi bagi kita. Meski kata ini sudah sering kita dengar, bahkan mungkin malah sudah terlalu sering, tapi seringkali iman ini diartikan berbeda-beda sesuai dengan pandangan masing-masing. Apa pandangan anda tentang iman? Ada sebagian orang yang menganggap bahwa iman hanya berbicara tentang kehidupan berikutnya. Iman itu perlu, supaya kalau mati nanti masuk surga. Ada pula sebagian orang yang menganggap bahwa iman berarti percaya bahwa Yesus itu Tuhan. That's all. Dan itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan saat ini. Iman saya percaya pada Yesus, tapi soal menjalani hidup itu urusannya lain. Tidak jarang pula yang menjadikan iman sebagai alternatif terakhir ketika semua cara sudah tidak mempan. Ketika semuanya gagal, maka tidak ada salahnya mencoba berharap kepada Tuhan. Katanya harus dengan iman? Ya sudah, saya pakai iman. Habis tidak ada lagi yang bisa dilakukan, sih.. Itu pun bisa menjadi' gambaran iman bagi sebagian orang. Kita memang diselamatkan bukan atas hasil usaha, jerih payah atau kebaikan kita, melainkan karena kasih karunia oleh iman dalam Kristus. Akan tetapi iman tidak berbicara secara sempit hanya mengenai destinasi kita selanjutnya setelah selesai berurusan dengan dunia yang fana ini. Seorang pemanjat gunung tidak akan pernah bisa sampai ke puncak gunung hanya dengan mengatakannya saja. Ia harus mempersiapkan stamina baik fisik maupun mental terlebih dahulu melalui serangkaian proses panjang, lalu harus menapak batu satu demi satu hingga sampai ke tujuan. Seringkali hambatan akan membuatnya terjatuh beberapa langkah, namun pada akhirnya keteguhannya akan membawanya sampai ke puncak. Iman pun seperti itu. Kita tidak bisa memisahkan iman dari kehidupan kita, dan tidak akan pernah cukup hanya diucapkan lewat kata saja. Iman menjanjikan keselamatan jiwa, seperti yang dikatakan Petrus dalam 1 Petrus 1:9, itu benar, tetapi diperlukan proses berkesinambungan untuk membangunnya. Dengan kata lain, iman bukan saja berlaku untuk kehidupan selanjutnya, tetapi sudah seharusnya iman itu berada dalam proses kehidupan kita yang dinamis.
Di awal surat Paulus untuk jemaat Roma ia mengatakan hal ini. "Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman." (Roma 1:17). Ayat ini mengikuti keyakinan Paulus bahwa Injil merupakan kekuatan Allah yang mampu menyelamatkan setiap orang percaya. (ay 16). Kebenaran Allah sungguh nyata di dalamnya, yang akan bisa kita pahami dengan iman, dan kebenaran-kebenaran ini pun akan memimpin kita kepada pertumbuhan iman. Dan Paulus pun menyimpulkan bahwa orang benar akan selalu hidup oleh iman. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "the man who through faith is just and upright shall live and shall live by faith." Orang yang benar akan hidup, dan akan hidup oleh iman. Hidup adalah sebuah proses yang terus berlanjut, dan kata hidup di dalam ayat ini pun menggambarkan sebuah proses berkesinambungan yang seharusnya diisi dengan iman. Paulus menekankan bahwa iman seharusnya berada dalam kehidupan kita sehari-hari, kapanpun, bagaimanapun dan dimanapun. Dalam keadaan baik atau buruk, dalam keadaan tenang atau sedang menghadapi badai, dalam keadaan riang atau sedih, tertawa atau marah, iman seharusnya ada di sana. Iman memberikan "hidup" dalam kehidupan kita.
Dengan sangat indah firman Tuhan menggambarkan iman dengan rangkaian kata yang singkat."Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Iman itu merupakan dasar dari segalanya dan bukti dari apa yang tidak atau belum kita lihat. Iman memampukan kita untuk bisa melihat lebih luas dari apa yang mampu ditangkap mata, iman memampukan kita untuk memahami apa yang menjadi rencana Allah dalam hidup kita. Lihatlah sederetan saksi-saksi iman yang tertera dalam Ibrani pasal 11 ini. Musa, Abraham, Sara, Yusuf, Yakub, Rahab, Gideon, Simson, Daud, Yefta dan lain-lain, mereka semua telah menunjukkan bagaimana iman itu bukan lagi hanya sebatas kata-kata saja melainkan telah menyatu dalam segala sendi kehidupan mereka. Para tokoh ini telah membuktikan bagaimana iman itu berada dalam hidup mereka, terus berproses secara kontinu dan tentu saja memberi hidup kepada mereka.
Yakobus mengingatkan bahwa "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2:17). Tidak hanya mati, namun dikatakan pula bahwa "iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong." (ay 20). Sudah seharusnya iman menyertai kehidupan kita dan memberi sebentuk hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. Tidak hanya sebatas kata-kata, tidak hanya abstrak atau samar, tetapi secara nyata bersinggungan dengan sendi-sendi kehidupan kita. Iman akan mampu membuat kita hidup dengan tenang, penuh kedamaian dan sukacita tanpa harus terpengaruh dengan kondisi yang tengah kita hadapi hari ini.
Hidupi dan hiduplah dengan iman
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Apa yang kita butuhkan untuk bisa bertahan hidup? Kebutuhan primer yaitu sandang, pangan dan papan (tempat tinggal) mungkin akan menjadi jawaban kita. Itu memang kebutuhan yang paling mendasar yang akan menjadi ukuran apakah kita sudah hidup dengan layak atau tidak. Karena itulah maka ketiganya disebut sebagai kebutuhan yang primer, yang utama. Bisakah anda membayangkan hidup tanpa makan? Atau tidak punya baju, lalu tidak punya tempat tinggal? Meski mungkin kita bisa bertahan hidup dengan menumpang, tetapi kita tidak bisa selamanya menumpang di rumah orang lain. Tetapi selain ketiga hal ini, Alkitab menyebutkan satu hal lain yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan menjadi ukuran dari kehidupan seperti apa yang kita jalani dalam status kita sebagai orang percaya. Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa ternyata kebutuhan primer saja tidaklah cukup untuk hidup sebagai orang benar. Untuk sekedar hidup di dunia mungkin ya, tetapi untuk dapat hidup sebagai orang benar, nanti dulu. Alkitab mengatakan ada satu hal lagi yang dibutuhkan untuk hidup sebagai orang benar. Dan itu adalah iman.
Hampir setiap film box office saat ini dibuat versi 3D nya. Penonton bisa memilih apakah mereka lebih suka menonton versi biasanya atau ingin meningkatkan serunya menonton dengan memilih versi 3D. Meski harganya sedikit lebih mahal, tetapi kepuasannya jelas berbeda. Film dengan sistem 3D akan membuat tayangan seolah hadir tepat di depan kita. Untuk bisa menyaksikan dengan sempurna, maka anda memerlukan kacamata khusus. Cobalah masuk kesana dan menonton tanpa memakai kacamata. Anda akan pusing karena gambarnya berbayang dan tidak jelas. Kacamata 3D berbeda dengan kacamata minus, berbeda pula dengan kacamata plus. Jika mata anda minus, maka pandangan tidak akan membaik dengan memakai kacamata plus, dan begitu pula sebaliknya. Bagaimana untuk memandang masa depan? Sebaik apapun mata anda, dengan kacamata seperti apapun yang disediakan di dunia ini, anda tidak akan pernah bisa melihat masa depan. Tetapi Alkitab berkata bahwa ada satu kacamata yang bisa membuat kita mampu melihat sesuatu di depan sana. Itu adalah kacamata iman.

Saya termasuk orang yang merasa tidak nyaman dalam menggunakan jasa penerbangan. Tidak sampai phobia dan menghindarinya karena saya masih bisa terbang bersama maskapai penerbangan apa saja, tetapi tetap saja saya sulit merasa tenang ketika berada di dalamnya. Perasaan tidak bisa berbuat apa-apa pun terasa begitu mengganggu. Begitu menaiki pesawat, sikap pasrah pun harus ditanamkan, dan mau tidak mau kita harus mempercayakan kepada burung besi dan pilot yang mengemudinya. Agak lucu juga sebenarnya jika kita takut naik pesawat terbang, karena sebuah survey pernah mengatakan bahwa menggunakan pesawat terbang itu 25 kali lebih aman ketimbang mengemudi di jalan raya atau menggunakan alat transportasi darat lainnya. Bahkan survey itu lebih lanjut menyebutkan bahwa tingkat kecelakaan akibat menyeberang jalan jauh lebih tinggi dibanding kecelakaan pesawat terbang, bahkan secara ilmiah survey pun membuktikan bahwa adalah lebih aman bagi kita untuk berada di dalam pesawat terbang ketimbang di dalam bath tub. Meskipun demikian, kita tetap menemukan ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang takut naik pesawat. Ternyata hasil survey itu menyimpulkan bahwa bukanlah jatuhnya pesawat yang dipermasalahkan, melainkan takutnya kehilangan kendali akibat meninggalkan tanahlah yang membuat orang mengalami phobia berada di dalam pesawat terbang di atas awan.
Pesimis atau optimiskah anda memandang tahun yang baru ini? Beberapa teman pengusaha memandang tahun ini sebagai tahun yang akan lebih sulit lagi dari tahun sebelumnya. Ada banyak perusahaan gulung tikar di tahun 2009, ada banyak yang mengalami kesulitan. Bagi saya pribadi, justru tahun 2009 kemarin adalah tahun yang luar biasa. Memegang janji Tuhan terbukti tidak pernah sia-sia. Ada begitu banyak mukjizat dan berkat yang Dia sediakan sehingga saya dan keluarga sama sekali tidak merasakan kegoncangan apapun selama tahun 2009. Bahkan sebuah rumah yang indah hadir di penghujung tahun 2009 kemarin. Itu berkat yang luar biasa, mengingat dari gaji standar yang saya terima, saya seharusnya tidak akan mampu membelinya. Pindah dari rumah kontrakan ke rumah sendiri tentu merupakan sebuah hal yang luar biasa, apalagi tanpa perlu menyicilnya selama bertahun-tahun. Perlukah saya korupsi agar saya mampu membeli rumah? Perlukah saya cemas memikirkan tempat tinggal? Perlukah saya terus berkeluh kesah dalam kekhawatiran dalam setiap doa? Tidak. Tuhan tahu persis apa yang kita butuhkan. Tahun lalu saya melangkah dengan iman memasuki tahun yang menurut sebagian orang merupakan tahun yang sangat sulit, dan itu terbukti. Tuhan mampu mencukupi bahkan menurunkan berkatNya di saat dunia berada dalam kondisi apapun. Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak terbatas.
Selalu mengagumkan melihat orang-orang yang visioner dan optimis memandang masa depan, apalagi di tengah dunia yang semakin lama semakin banyak dipenuhi orang-orang yang pesimistis. Orang-orang yang visioner dan penuh optimisme akan selalu bersikap positif meski kondisi secara realita sepertinya tidak mendukung. Hidup yang semakin lama semakin sulit akan mudah membuat kita kehilangan semangat. "Mau bagaimana bisa yakin kalau situasinya serba tidak menentu seperti ini..." kata seorang teman yang membuka toko pada suatu kali. Sebaliknya orang-orang yang optimis tetap memiliki semangat juang tanpa memandang situasi dan kondisi terkini. Saya katakan visioner, karena mereka ini biasanya bisa memandang jauh ke depan melebihi jarak pandang orang awam. Bukan karena mereka punya mata yang lebih dari kita, bukan pula karena kehebatan supranatural dan sebagainya. Salah seorang tipe visioner ini pernah membagi rahasianya kepada saya. "Saya memandang dengan iman, bukan dengan mata biasa. Selama saya melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, mengapa saya harus ragu tentang kesuksesan di masa depan?" katanya sambil tersenyum. Luar biasa. Inilah sebenarnya rahasia yang sepertinya mudah untuk dikatakan, mungkin juga tidak asing lagi bagi telinga kita, tetapi seringkali sulit untuk dilakukan.
Iman adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan, namun seringkali sulit untuk dijelaskan, apalagi dipraktekkan. Implikasi dan aplikasi iman sungguh sangat luas, begitu luas sehingga Yesus berkata bahwa jika sekiranya saja kita memiliki iman sebesar biji sesawi sekalipun, maka gunung sekalipun akan pindah, dan dengan iman tidak akan ada hal yang mustahil lagi bagi kita. (Matius 17:20). Kita melihat bahwa iman yang seukuran biji sesawi saja (diameternya kurang dari satu milimeter) akan bisa membawa dampak yang begitu luar biasa. Sebuah gambar di samping mungkin bisa menggambarkan kira-kira sebesar apa biji sesawi itu jika dibandingkan dengan jari telunjuk manusia. Kita seringkali berkata bahwa kita beriman pada Kristus, hal itu akan gampang diucapkan ketika hidup sedang berada pada titik puncak kenyamanan, namun akan menjadi begitu sulit untuk direalisasikan ketika berbagai masalah sedang menjungkirbalikkan kita ke titik terendah. Semua orang boleh mengaku sudah memiliki iman, namun segalanya akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi dan tindakan kita dalam menghadapi situasi sulit, sebuah ketidakpastian, hal yang secara logis mustahil atau bahkan hal yang belum bisa kita lihat secara nyata. Reaksi dan tindakan kita akan menunjukkan secara nyata sejauh dan sebesar apa iman kita, sejauh mana kita percaya, sejauh mana kita patuh.
Apakah anda termasuk orang yang takut terbang dengan pesawat? Ada banyak orang yang mengalami rasa takut ketika mereka berada di dalam pesawat terbang. Ada yang meski takut tapi bisa memberanikan diri, ada pula yang betul-betul tidak mau sama sekali. Dennis Berkamp seorang pesepak bola terkenal yang sudah pensiun dulu merupakan andalan tim Arsenal dan timnas Belanda. Tetapi ia selalu hanya mau memilih jalan darat ketimbang naik pesawat bersama teman-temannya. Ia bahkan rela melepas peluang untuk bermain di ajang prestisius sekelas Piala Dunia karena ia takut terbang dengan pesawat. Istri saya termasuk orang yang tidak nyaman berada di dalam pesawat. Tetapi ia masih mau dan paling-paling menggenggam tangan saya erat-erat sambil terus berdoa. Mengapa banyak orang takut naik pesawat? Data statistik menunjukkan jumlah kecelakaan dengan mengendarai mobil atau transportasi darat lainnya jauh lebih tinggi dibanding kecelakaan di udara. Bahkan kecelakaan menyeberang jalan pun lebih tinggi dibanding kecelakaan dalam penerbangan. Mungkin orang takut pesawatnya jatuh, pilotnya kurang cakap, takut ketika berada di ketinggian, takut berada dalam ruang tertutup dan sebagainya. Tapi menariknya, sebuah penelitian menyimpulkan bahwa penyebabnya bukan karena takut pesawatnya jatuh, tetapi karena rasa takut kehilangan kendali ketika meninggalkan tanah. 
