(sambungan)
Dari sosok Elia kita bisa belajar pula bahwa doa sebagai sarana bagi kita untuk berhubungan dengan Tuhan mampu membawa turunnya berkat melimpah ini. Selain dijuluki nabi api, Elia juga dikenal sebagai nabi hujan atau the rain maker. Elia hanyalah manusia biasa, sama seperti kita. Tetapi apa yang membedakan adalah kesungguhannya dalam berdoa. Perhatikan apa yang dikatakan Yakobus berikut mengenai Elia. "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya." (Yakobus 5:17-18). Mari kita beri penekanan pada kata "berdoa", "hujan" dan "buah". Ada banyak dari kita yang terus menerus bekerja tanpa henti, meletakkan pekerjaan atau karir di atas segalanya sehingga menomorduakan bahkan melupakan berdoa sebagai sebuah kewajiban yang harus kita lakukan. Atau mungkin berdoa, tapi berdoa hanya sebatas konteks kebiasaan, rutinitas, dan bukan berasal dari kerinduan hati terdalam untuk mencari dan bersekutu dengan Tuhan karena mengasihi Tuhan. Maka lewat kisah Elia kita bisa belajar untuk tidak melupakan kesungguhan dalam "berdoa", agar "hujan" turun dengan lebat dan membuat kita "berbuah".
Berbuah dengan subur bukan hanya berbicara mengenai berkat-berkat jasmani, tapi juga mengenai berkat-berkat rohani. Berbuah tidak hanya dalam pekerjaan, studi, karir dan jabatan, namun juga dalam hal pelayanan. Apakah pelayanan anda selama ini sudah disertai dengan doa yang sungguh-sungguh? Ingatlah bahwa doa yang berasal dari orang benar, dan dengan yakin diucapkan, akan memiliki kuasa yang sangat besar. "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b). Berdoa dengan sungguh-sungguh yang berasal dari hati akan membuat Tuhan membuka perbendaharaanNya yang melimpah dari Surga untuk menurunkan hujan berkatNya ke atas kita, hujan yang akan membuat bumi termasuk kita di dalamnya sanggup mengeluarkan buah. Selain bekerja, janganlah melupakan untuk berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan berkenan melimpahkan hujan dari langit untuk kita.
Selain itu, ingat pula kewajiban kita untuk memberikan persembahan perpuluhan. Apa kata Tuhan akan hal ini? "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." (Maleakhi 3:10). Pemberian perpuluhan dikatakan akan membukakan tingkap-tingkap langit (windows of heaven, floodgates of heaven, "s" disana berarti bukan hanya satu tapi banyak) dan mencurahkan berkat hingga berkelimpahan. Ini adalah hal serius yang tidak boleh kita lupakan. Faktanya ada banyak orang yang merasa pelit untuk memberi, berhitung untung rugi atau malah beranggapan bahwa perpuluhan adalah sarana untuk menyogok Tuhan untuk mengabulkan permintaannya. Orang-orang ini akan terus berdebat tanpa henti apakah yang harus diserahkan tepat 10% atau tidak. Ada yang mengatakan harus, ada yang tidak, tetapi saya lebih tertarik untuk berpikir seperti ini: seandainya saya memberi dengan penuh sukacita tepat 10% atau bahkan lebih, apakah saya akan kekurangan? Faktanya tidak. Ada begitu banyak kesaksian yang saya dengar secara langsung, dan saya sendiri sudah membuktikannya. Tuhan justru akan membuka floodgates of heaven dan membalas dengan berlipat ganda hingga berkelimpahan kepada orang-orang yang memberi dengan kerelaan hati, atas dasar ketaatan dan kasihnya, dan dengan penuh sukacita.
Elia bukan Tuhan dan bukan pula dewa. Elia adalah hanya manusia biasa yang sama seperti kita, yang punya kelemahan dan keterbatasan. Seperti kita, ia pun mengalami masa-masa ups and downs, pasang surut dalam perjalanan hidupnya. Tiga tahun enam bulan dikatakan bangsa Israel mengalami paceklik akibat kekeringan. Bayangkan apa yang bisa terjadi jika hujan tidak kunjung turun selama itu. Tanah akan gersang akibat kemarau berkepanjangan, dan bukan saja hasil pertanian, tetapi mungkin untuk minum pun orang sudah sulit pada masa itu. Tetapi lihatlah doa Elia mampu menurunkan hujan yang berlimpah ruah sehingga bumi pun kembali mengeluarkan buahnya. Jika lewat Elia hujan bisa turun, maka hujan itu pun mampu turun atas kita sampai kita mengeluarkan buah, baik dalam pekerjaan, studi, kehidupan maupun pelayanan. Ingin memiliki pekerjaan, studi, hidup dan pelayanan yang berbuah? Sertailah kegiatan-kegiatan anda dengan doa yang sungguh-sungguh dan jangan lupa pula bahwa ketaatan akan firmanNya yang diaplikasikan langsung dalam hidup melalui perbuatan nyata memegang peranan yang teramat sangat penting. Tuhan rindu untuk menurunkan hujan dari surga secara berlimpah-limpah saat ini juga atas anak-anakNya. Tetapi semua tergantung keputusan kita akan bagaimana cara kita hidup. Jika ingin mengalami kelimpahan dalam hidup, benahilah segala yang masih kurang mulai sekarang juga.
Hujan berkat melimpah turun atas anak-anakNya yang taat dan rajin berdoa
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, October 17, 2011
Sunday, October 16, 2011
Melimpah (1)
Ayat bacaan: Ulangan 28:12
====================
"TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman."
Apa yang dikatakan sebagai melimpah? Melimpah adalah sesuatu yang mengalir keluar melebihi wadah dimana ia dituangkan. Cobalah tuangkan air ke dalam gelas sampai melebihi batas kemampuan gelas itu untuk menampungnya, maka air akan mengalir keluar terus selama kita masih menuangnya, dan itulah yang dikatakan dengan melimpah. Bayangkan jika yang melimpah bukan air, tetapi berkat Tuhan. Bayangkan berkat Tuhan tercurah hingga melimpah kepada kita. Mungkinkah itu terjadi pada anda dan saya? Banyak orang yang percaya bahwa mereka tidaklah seberuntung itu. Ya, ada orang yang bisa mengalaminya, tetapi bukan saya. Itu menjadi bentuk pemikiran banyak orang. "Saya cuma orang biasa...saya cuma orang kecil, ya tidak mungkinlah.." seperti itulah kira-kira isi pikiran yang tinggal di benak banyak orang. Tetapi benarkah demikian? Mungkinkah kita bisa memperoleh berkat Tuhan yang tercurah hingga berkelimpahan itu? Jawabannya, mengapa tidak? Tuhan berkali-kali mengingatkan kita bahwa Dia siap untuk mencurahkan berkatNya atas kita bukan ala kadarnya, bukan pas-pasan, tetapi dengan melimpah.
Mari kita baca bersama-sama janji berkat berikut ini: "TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman." (Ulangan 28:12). Hujan berkat itu jelas dikatakan berasal dari perbendaharaan Tuhan, yang turun dari langit (surga). Bukan atas hasil usaha kita, bukan atas kehebatan dan kuat kuasa kita, namun dari perbendaharaan Tuhan. Ini hanyalah satu dari rangkaian janji berkat yang tertulis di dalam Ulangan 28:1-14. Apa yang menjadi kunci untuk bisa mengalaminya? Kuncinya adalah: "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini..." (ay 1). Mendengar dengan baik, alias taat dan patuh kepada Firman atau suaraNya, dan tidak berhenti sampai disitu saja, melainkan melanjutkan dengan melakukan, bukan asal-asalan tetapi dengan setia, segala perintahNya alias menjadi pelaku firman. Ini akan membawa kita untuk menerima curahan Tuhan atas kita, turun bagai hujan dari langit hingga melimpah. Tuhan siap membuka perbendaharaanNya dan melimpahi kita dengan segala berkatNya, bahkan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sekalipun, Tuhan siap memberi kita itu semua dengan berkelimpahan. "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Ini pun berbicara mengenai kemurahan hati Tuhan untuk memberi siapapun yang mengasihi Dia, taat kepada perintahNya secara berlimpah-limpah.
Selanjutnya mari kita lihat ayat lainnya. "Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang." (Ulangan 11:13-14). Tuhan siap menurunkan hujan berkat kepada siapapun yang taat pada perkataanNya, mengasihiNya dan dengan sungguh-sungguh beribadah padaNya. Hujan berkat yang akan memampukan kita menghasilkan buah dengan berkelimpahan. Itu janji Tuhan. Kembali kita melihat kunci yang sama. Bersungguh-sungguh taat, lalu bersungguh-sungguh beribadah dengan segenap hati dan jiwa. Bukan karena kebiasaan, bukan karena rutinitas, bukan simbolis apalagi hanya agar terlihat baik di mata orang, bukan pula karena sebuah keharusan semata, namun karena panggilan hati yang sungguh-sungguh dan kerinduan untuk mengasihiNya. Inilah yang mampu menurunkan hujan berkat yang melimpah-limpah itu. Ayat pembuka dalam Mazmur pun menyatakan hal yang kurang lebih sama. "Berbahagialah orang yang...kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Daud menyadari betul bagaimana kemurahan Tuhan dalam melimpahi berkatNya atas kita. Lihatlah Mazmur 23:1-6 dimana Daud berbicara mengenai Tuhan sebagai gembala yang baik. "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku...Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah." (Mazmur 23:1,5). Bagaimana jika pada saat ini kondisi ekonomi atau bisnis anda tengah porak poranda? Tuhan sanggup memulihkannya secara melimpah-limpah. "Hujan yang melimpah Engkau siramkan, ya Allah; Engkau memulihkan tanah milik-Mu yang gersang,sehingga kawanan hewan-Mu menetap di sana; dalam kebaikan-Mu Engkau memenuhi kebutuhan orang yang tertindas, ya Allah." (68:10-11).
(bersambung)
====================
"TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman."
Apa yang dikatakan sebagai melimpah? Melimpah adalah sesuatu yang mengalir keluar melebihi wadah dimana ia dituangkan. Cobalah tuangkan air ke dalam gelas sampai melebihi batas kemampuan gelas itu untuk menampungnya, maka air akan mengalir keluar terus selama kita masih menuangnya, dan itulah yang dikatakan dengan melimpah. Bayangkan jika yang melimpah bukan air, tetapi berkat Tuhan. Bayangkan berkat Tuhan tercurah hingga melimpah kepada kita. Mungkinkah itu terjadi pada anda dan saya? Banyak orang yang percaya bahwa mereka tidaklah seberuntung itu. Ya, ada orang yang bisa mengalaminya, tetapi bukan saya. Itu menjadi bentuk pemikiran banyak orang. "Saya cuma orang biasa...saya cuma orang kecil, ya tidak mungkinlah.." seperti itulah kira-kira isi pikiran yang tinggal di benak banyak orang. Tetapi benarkah demikian? Mungkinkah kita bisa memperoleh berkat Tuhan yang tercurah hingga berkelimpahan itu? Jawabannya, mengapa tidak? Tuhan berkali-kali mengingatkan kita bahwa Dia siap untuk mencurahkan berkatNya atas kita bukan ala kadarnya, bukan pas-pasan, tetapi dengan melimpah. Mari kita baca bersama-sama janji berkat berikut ini: "TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman." (Ulangan 28:12). Hujan berkat itu jelas dikatakan berasal dari perbendaharaan Tuhan, yang turun dari langit (surga). Bukan atas hasil usaha kita, bukan atas kehebatan dan kuat kuasa kita, namun dari perbendaharaan Tuhan. Ini hanyalah satu dari rangkaian janji berkat yang tertulis di dalam Ulangan 28:1-14. Apa yang menjadi kunci untuk bisa mengalaminya? Kuncinya adalah: "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini..." (ay 1). Mendengar dengan baik, alias taat dan patuh kepada Firman atau suaraNya, dan tidak berhenti sampai disitu saja, melainkan melanjutkan dengan melakukan, bukan asal-asalan tetapi dengan setia, segala perintahNya alias menjadi pelaku firman. Ini akan membawa kita untuk menerima curahan Tuhan atas kita, turun bagai hujan dari langit hingga melimpah. Tuhan siap membuka perbendaharaanNya dan melimpahi kita dengan segala berkatNya, bahkan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sekalipun, Tuhan siap memberi kita itu semua dengan berkelimpahan. "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Ini pun berbicara mengenai kemurahan hati Tuhan untuk memberi siapapun yang mengasihi Dia, taat kepada perintahNya secara berlimpah-limpah.
Selanjutnya mari kita lihat ayat lainnya. "Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang." (Ulangan 11:13-14). Tuhan siap menurunkan hujan berkat kepada siapapun yang taat pada perkataanNya, mengasihiNya dan dengan sungguh-sungguh beribadah padaNya. Hujan berkat yang akan memampukan kita menghasilkan buah dengan berkelimpahan. Itu janji Tuhan. Kembali kita melihat kunci yang sama. Bersungguh-sungguh taat, lalu bersungguh-sungguh beribadah dengan segenap hati dan jiwa. Bukan karena kebiasaan, bukan karena rutinitas, bukan simbolis apalagi hanya agar terlihat baik di mata orang, bukan pula karena sebuah keharusan semata, namun karena panggilan hati yang sungguh-sungguh dan kerinduan untuk mengasihiNya. Inilah yang mampu menurunkan hujan berkat yang melimpah-limpah itu. Ayat pembuka dalam Mazmur pun menyatakan hal yang kurang lebih sama. "Berbahagialah orang yang...kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Daud menyadari betul bagaimana kemurahan Tuhan dalam melimpahi berkatNya atas kita. Lihatlah Mazmur 23:1-6 dimana Daud berbicara mengenai Tuhan sebagai gembala yang baik. "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku...Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah." (Mazmur 23:1,5). Bagaimana jika pada saat ini kondisi ekonomi atau bisnis anda tengah porak poranda? Tuhan sanggup memulihkannya secara melimpah-limpah. "Hujan yang melimpah Engkau siramkan, ya Allah; Engkau memulihkan tanah milik-Mu yang gersang,sehingga kawanan hewan-Mu menetap di sana; dalam kebaikan-Mu Engkau memenuhi kebutuhan orang yang tertindas, ya Allah." (68:10-11).
(bersambung)
Saturday, October 15, 2011
Kapasitas Kantong Anggur
Ayat bacaan: Markus 2:22
====================
"Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."
Seorang tokoh terkenal pernah berkata: "Are you green and growing or ripe and rotting?" Kalimat ini mengambil sebuah permisalan dari buah. Jika buah masih hijau, itu artinya buah itu masih akan tumbuh untuk mencapai saat dimana buah itu nantinya akan masak atau matang. Tetapi ketika buah sudah masak, maka itu artinya buah tinggal menanti untuk membusuk dan akhirnya tidak lagi berarti. Ini bisa diaplikasikan dalam hidup pula. Selama kita masih hijau itu artinya kita masih akan terus bertumbuh, namun begitu kita merasa sudah tahu segalanya dan tidak punya keinginan lagi untuk terus bertumbuh atau belajar, maka itu bagaikan tinggal menunggu waktu untuk membusuk dan tidak lagi bermakna apa-apa. Perkataan yang berasal dari pendiri waralaba terkenal McDonald ini mengacu kepada nasihatnya agar kita tidak berhenti belajar dan terus bertumbuh. Semangat, niat dan keinginan untuk terus belajar akan terus membuat kita menjadi semakin baik dari hari ke hari, sebaliknya, dengan keengganan untuk terus belajar dan merasa diri sudah sempurna akan menghambat kemajuan kita dalam segala hal, bahkan ada orang yang mengatakan pada hakekatnya hidup pun berhenti sampai disitu, meski nyawa sebenarnya masih ada pada kita.
Tuhan ingin kita terus bertumbuh dan berkembang. Tuhan ingin kita terus menemukan potensi-potensi yang ada pada diri kita, lalu mengasahnya terus baik lewat belajar, latihan dan sebagainya dan kemudian mempergunakan itu semua untuk tujuan yang baik, demi kebaikan kita dan sesama, terlebih untuk kemuliaan Tuhan. Sesungguhnya Tuhan ingin terus memberikan atau melimpahi kita dengan berkat-berkatNya, tetapi yang jadi masalah adalah sebesar apa kapasitas yang ada pada kita untuk menampungnya? Ibaratkan anda memiliki kantong-kantong untuk menampung berkat Tuhan, bagaimana kantong anda saat ini? Apakah anda memiliki kantong-kantong baru yang kuat atau anda masih terus bertahan dengan kantong lama yang usang dan lapuk? Yesus menyatakan menyatakan pentingnya hal memperbesar kapasitas ini dengan mengambil perumpamaan yang sama.
Perhatikan ayat berikut. Yesus berkata: "Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula." (Markus 2:22). Pada masa ketika Yesus turun ke dunia, anggur biasanya disimpan di dalam kantong kulit. Sebuah kantong kulit biasanya akan meregang setelah dimasuki anggur, karena anggur terus mengalami fermentasi, dan kemudian mengeras. Bisa dibayangkan jika kantong tua yang sudah mengalami peregangan diisi kembali dengan anggur baru. Anggur baru itu akan melanjutkan proses fermentasinya dan beresiko mengoyak kantong tua yang sudah lapuk akibat terus mengalami peregangan dan pengerasan itu. Yang terjadi adalah, anggur akan tumpah terbuang percuma. Terlebih jika sudah terlanjur sobek, kantong itu tidak akan bisa dipergunakan kembali. Intinya adalah, kita tidak akan bisa menampung apa-apa lagi apabila wadah yang dipakai sudah terlalu tua dan tidak lagi layak guna. Sebelum ayat ini, Yesus pun menyatakan: "Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya." (ay 21). Bayangkan apabila baju yang anda miliki sudah tua dan sobek, adakah gunanya anda menambalnya meski dengan kain yang baru? Dalam setiap proses tambalan itu anda justru akan semakin memperbesar sobekan pada baju karena baju itu sudah lapuk. Seperti itulah yang terjadi apabila kita tidak menganggap penting untuk terus belajar dan berlatih untuk menjadi lebih baik lagi, dan seperti itulah "kantong-kantong" atau "baju-baju" kita apabila kita terus mempertahankan yang usang dan tidak memiliki yang baru.
Dalam perumpamaan tentang talenta pun kita bisa belajar mengenai masalah kapasitas ini. Disana kita melihat bahwa Tuhan mempercayakan kita tanggung jawab sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. "Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya.." (Matius 25:15). Tuhan bukan sedang pilih kasih, ada yang diberi sedikit, ada yang banyak, tapi perhatikan bagian kalimat "menurut kesanggupannya", atau dengan kata lain sesuai kapasitas kita. In proportion to our own personal ability, within our capacity. Bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan talenta besar pada kapasitas kecil? Kalaupun Dia mau, kapasitas kita jelas tidak akan cukup untuk menampungnya. Bisakah kantong anggur yang usang menampung anggur baru? Tidak. Kalau begitu, kita harus memiliki kapasitas yang memadai agar mendapat kepercayaan untuk menerima sebuah tanggung jawab dan juga berkat dari Tuhan. Bukan hanya kapasitas mengenai kemampuan saja, seperti keahlian, bakat-bakat tertentu, tapi juga kapasitas yang berhubungan dengan karakter seperti jujur, sabar, tidak sombong, mampu bekerja sama dan lain-lain. Ayat bacaan diatas berbicara mengenai panggilan untuk mengembangkan kapasitas kita lebih lagi. Dan perhatikanlah bahwa jika kita mampu mengolah talenta-talenta itu dengan baik, kapasitas kita akan meningkat, dan Tuhan pun akan mempercayakan lebih banyak lagi pada kita. "...engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar..." (ay 21, 23). Kemarin kita pun sudah melihat bagaimana Ezra yang sudah dikatakan sebagai ahli Taurat Musa masih punya kerinduan, semangat serta keinginan untuk menggali Firman Tuhan lebih dalam, kemudian mengaplikasikannya dalam hidupnya lalu selanjutnya mengajarkan semua itu kepada orang lain. "Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel." (Ezra 7:10).
Tuhan selalu mencurahkan anggur baru yang terbaik buat kita semua. Anggur baru akan memberi kita kapasitas maksimal dalam kehidupan, pekerjaan dan pelayanan. Jika kita tidak mempersiapkan hati kita untuk menerima anggur yang tercurah dari Tuhan, kita bisa kehilangan begitu banyak berkat. "Kantong" kita tidak mampu menampung curahan berkat, dan akibatnya berkat akan terbuang sia-sia tanpa kita sadari. Jika kita tidak menjaga hati dengan baik, jika kita masih memiliki hati lama yang menyimpan banyak dendam, iri hati, tidak menjaga kekudusan dan lain-lain, hati kita tidak akan bisa menerima berkat Tuhan. Jika kita tidak bertumbuh, tidak terus belajar, apalagi terus mendalami Firman Tuhan, merenungkan dan melakukanNya, maka kantong kita pun tidak akan pernah diperbaharui. Kantong-kantong usang itu tidak akan bisa menerima apa yang Tuhan rindu berikan kepada kita. "Kantong" lama harus kita ganti dengan "kantong" hidup baru, sehingga kita bisa menerima berkat Tuhan secara maksimal, dan mempergunakan seluruh "anggur baru" yang dicurahkan Tuhan dengan kapasitas maksimal dalam hidup kita, demi kebaikan kita dan juga sesama. Jangan berhenti bertumbuh. Tetaplah miliki semangat untuk belajar lebih dan lebih lagi. Terus latih diri anda dalam segala hal yang baik, dan teruslah hidup dalam rencana dan kehendak Tuhan lebih dalam lagi. Persiapkanlah diri anda dengan maksimal, sehingga tidak perlu ada lagi yang terbuang sia-sia akan segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan pada kita.
Curahan anggur baru tidak akan bisa ditampung kantong anggur lama
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
====================
"Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."
Seorang tokoh terkenal pernah berkata: "Are you green and growing or ripe and rotting?" Kalimat ini mengambil sebuah permisalan dari buah. Jika buah masih hijau, itu artinya buah itu masih akan tumbuh untuk mencapai saat dimana buah itu nantinya akan masak atau matang. Tetapi ketika buah sudah masak, maka itu artinya buah tinggal menanti untuk membusuk dan akhirnya tidak lagi berarti. Ini bisa diaplikasikan dalam hidup pula. Selama kita masih hijau itu artinya kita masih akan terus bertumbuh, namun begitu kita merasa sudah tahu segalanya dan tidak punya keinginan lagi untuk terus bertumbuh atau belajar, maka itu bagaikan tinggal menunggu waktu untuk membusuk dan tidak lagi bermakna apa-apa. Perkataan yang berasal dari pendiri waralaba terkenal McDonald ini mengacu kepada nasihatnya agar kita tidak berhenti belajar dan terus bertumbuh. Semangat, niat dan keinginan untuk terus belajar akan terus membuat kita menjadi semakin baik dari hari ke hari, sebaliknya, dengan keengganan untuk terus belajar dan merasa diri sudah sempurna akan menghambat kemajuan kita dalam segala hal, bahkan ada orang yang mengatakan pada hakekatnya hidup pun berhenti sampai disitu, meski nyawa sebenarnya masih ada pada kita. Tuhan ingin kita terus bertumbuh dan berkembang. Tuhan ingin kita terus menemukan potensi-potensi yang ada pada diri kita, lalu mengasahnya terus baik lewat belajar, latihan dan sebagainya dan kemudian mempergunakan itu semua untuk tujuan yang baik, demi kebaikan kita dan sesama, terlebih untuk kemuliaan Tuhan. Sesungguhnya Tuhan ingin terus memberikan atau melimpahi kita dengan berkat-berkatNya, tetapi yang jadi masalah adalah sebesar apa kapasitas yang ada pada kita untuk menampungnya? Ibaratkan anda memiliki kantong-kantong untuk menampung berkat Tuhan, bagaimana kantong anda saat ini? Apakah anda memiliki kantong-kantong baru yang kuat atau anda masih terus bertahan dengan kantong lama yang usang dan lapuk? Yesus menyatakan menyatakan pentingnya hal memperbesar kapasitas ini dengan mengambil perumpamaan yang sama.
Perhatikan ayat berikut. Yesus berkata: "Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula." (Markus 2:22). Pada masa ketika Yesus turun ke dunia, anggur biasanya disimpan di dalam kantong kulit. Sebuah kantong kulit biasanya akan meregang setelah dimasuki anggur, karena anggur terus mengalami fermentasi, dan kemudian mengeras. Bisa dibayangkan jika kantong tua yang sudah mengalami peregangan diisi kembali dengan anggur baru. Anggur baru itu akan melanjutkan proses fermentasinya dan beresiko mengoyak kantong tua yang sudah lapuk akibat terus mengalami peregangan dan pengerasan itu. Yang terjadi adalah, anggur akan tumpah terbuang percuma. Terlebih jika sudah terlanjur sobek, kantong itu tidak akan bisa dipergunakan kembali. Intinya adalah, kita tidak akan bisa menampung apa-apa lagi apabila wadah yang dipakai sudah terlalu tua dan tidak lagi layak guna. Sebelum ayat ini, Yesus pun menyatakan: "Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya." (ay 21). Bayangkan apabila baju yang anda miliki sudah tua dan sobek, adakah gunanya anda menambalnya meski dengan kain yang baru? Dalam setiap proses tambalan itu anda justru akan semakin memperbesar sobekan pada baju karena baju itu sudah lapuk. Seperti itulah yang terjadi apabila kita tidak menganggap penting untuk terus belajar dan berlatih untuk menjadi lebih baik lagi, dan seperti itulah "kantong-kantong" atau "baju-baju" kita apabila kita terus mempertahankan yang usang dan tidak memiliki yang baru.
Dalam perumpamaan tentang talenta pun kita bisa belajar mengenai masalah kapasitas ini. Disana kita melihat bahwa Tuhan mempercayakan kita tanggung jawab sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. "Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya.." (Matius 25:15). Tuhan bukan sedang pilih kasih, ada yang diberi sedikit, ada yang banyak, tapi perhatikan bagian kalimat "menurut kesanggupannya", atau dengan kata lain sesuai kapasitas kita. In proportion to our own personal ability, within our capacity. Bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan talenta besar pada kapasitas kecil? Kalaupun Dia mau, kapasitas kita jelas tidak akan cukup untuk menampungnya. Bisakah kantong anggur yang usang menampung anggur baru? Tidak. Kalau begitu, kita harus memiliki kapasitas yang memadai agar mendapat kepercayaan untuk menerima sebuah tanggung jawab dan juga berkat dari Tuhan. Bukan hanya kapasitas mengenai kemampuan saja, seperti keahlian, bakat-bakat tertentu, tapi juga kapasitas yang berhubungan dengan karakter seperti jujur, sabar, tidak sombong, mampu bekerja sama dan lain-lain. Ayat bacaan diatas berbicara mengenai panggilan untuk mengembangkan kapasitas kita lebih lagi. Dan perhatikanlah bahwa jika kita mampu mengolah talenta-talenta itu dengan baik, kapasitas kita akan meningkat, dan Tuhan pun akan mempercayakan lebih banyak lagi pada kita. "...engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar..." (ay 21, 23). Kemarin kita pun sudah melihat bagaimana Ezra yang sudah dikatakan sebagai ahli Taurat Musa masih punya kerinduan, semangat serta keinginan untuk menggali Firman Tuhan lebih dalam, kemudian mengaplikasikannya dalam hidupnya lalu selanjutnya mengajarkan semua itu kepada orang lain. "Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel." (Ezra 7:10).
Tuhan selalu mencurahkan anggur baru yang terbaik buat kita semua. Anggur baru akan memberi kita kapasitas maksimal dalam kehidupan, pekerjaan dan pelayanan. Jika kita tidak mempersiapkan hati kita untuk menerima anggur yang tercurah dari Tuhan, kita bisa kehilangan begitu banyak berkat. "Kantong" kita tidak mampu menampung curahan berkat, dan akibatnya berkat akan terbuang sia-sia tanpa kita sadari. Jika kita tidak menjaga hati dengan baik, jika kita masih memiliki hati lama yang menyimpan banyak dendam, iri hati, tidak menjaga kekudusan dan lain-lain, hati kita tidak akan bisa menerima berkat Tuhan. Jika kita tidak bertumbuh, tidak terus belajar, apalagi terus mendalami Firman Tuhan, merenungkan dan melakukanNya, maka kantong kita pun tidak akan pernah diperbaharui. Kantong-kantong usang itu tidak akan bisa menerima apa yang Tuhan rindu berikan kepada kita. "Kantong" lama harus kita ganti dengan "kantong" hidup baru, sehingga kita bisa menerima berkat Tuhan secara maksimal, dan mempergunakan seluruh "anggur baru" yang dicurahkan Tuhan dengan kapasitas maksimal dalam hidup kita, demi kebaikan kita dan juga sesama. Jangan berhenti bertumbuh. Tetaplah miliki semangat untuk belajar lebih dan lebih lagi. Terus latih diri anda dalam segala hal yang baik, dan teruslah hidup dalam rencana dan kehendak Tuhan lebih dalam lagi. Persiapkanlah diri anda dengan maksimal, sehingga tidak perlu ada lagi yang terbuang sia-sia akan segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan pada kita.
Curahan anggur baru tidak akan bisa ditampung kantong anggur lama
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Friday, October 14, 2011
Upgrade Iman
Ayat bacaan: Ezra 7:10
==================
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel."
Jika anda orang yang sering atau bahkan rutin mempergunakan komputer atau gadget-gadget elektronik lainnya, anda pasti akan selalu berhadapan dengan pesan update. Apakah itu program atau software, bahkan operating system, aplikasi, hardware dan lain-lain selalu mengeluarkan update-update terbarunya yang dipercaya mampu memberikan performance lebih baik dan tinggi dibanding sebelumnya. Bisa jadi untuk menutupi bugs atau masalah-masalah sekuriti yang muncul dan lain-lain, tetapi kita memang dianjurkan untuk melakukan upgrade secara rutin agar bisa mengurangi berbagai resiko yang tidak kita inginkan atau jika ingin software dan aplikasi-aplikasi berfungsi maksimal. Dalam hidup pun kita tidak pernah dianjurkan untuk tidak berkembang. Kita harus terus mengupdate ilmu dan pengetahuan kita, terus mempelajari hal-hal baru atau kita akan ketinggalan jaman. Ada banyak orang yang tidak tertarik untuk mengikuti perkembangan teknologi, dan sekarang kelabakan karena tiba-tiba teknologi menjadi sesuatu yang mutlak untuk terus diikuti perkembangannya. Istilah "gaptek" atau gagap teknologi pun muncul yang dipakai untuk menggambarkan mereka yang tidak tahu mengoperasikan gadget-gadget yang dianggap sudah umum. Dalam perjalanan iman kita, hal upgrade ini pun memegang peranan yang sangat penting pula. Dalam banyak kesempatan Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah sebuah proses, termasuk pula didalamnya iman kita. Iman kita akan bertumbuh dalam sebuah proses, dimana cepat tidaknya, sehat tidaknya atau baik tidaknya pertumbuhannya akan sangat tergantung dari sejauh mana kita rajin melakukan update, alias terus membaca, merenungkan dan kemudian melakukan atau mengaplikasikan Firman Tuhan. Kita akan melewatkan begitu banyak hal apabila kita tidak tertarik untuk menggali lebih dalam berbagai prinsip-prinsip Kerajaan Allah yang sebenarnya sudah dibuka begitu lebar di dalam Alkitab. Kita akan luput dari pengetahuan akan janji-janji Tuhan dan solusi atas semua permasalahan yang juga telah dinyatakan lengkap di dalam Alkitab. Untuk itu kita perlu sering melakukan update baik dalam hal pengetahuan umum, kepandaian, keahlian dan terlebih iman kita, agar kita bisa bertumbuh lebih baik lagi dari hari ke hari.
Kita bisa belajar dari Ezra dan ketekunannya untuk terus mendalami lebih jauh lagi apa yang menjadi pesan-pesan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, Ezra dikenal sebagai seorang ahli kitab yang sangat mahir mengenai Taurat Musa. Dikatakan demikian: "Ezra ini berangkat pulang dari Babel. Ia adalah seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa yang diberikan TUHAN, Allah Israel. Dan raja memberi dia segala yang diingininya, oleh karena tangan TUHAN, Allahnya, melindungi dia" (Ezra 7:6). Ezra sudah dianggap sebagai seorang ahli atau expert dalam mengenali Firman Tuhan. Tapi ternyata Ezra tidak pernah berpuas diri hingga disitu saja. Ia ternyata merupakan orang yang terus bertekad untuk meningkatkan kapasitasnya. Dengan sangat jelas itu bisa kita lihat dalam sebuah ayat berikut ini: "Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel." (ay 10). Lihatlah bahwa Ezra terus melakukan update baik dari segi kemampuan dan pengetahuan maupun karakternya. Ia terus ingin meneliti lebih dalam lagi, dan tidak berhenti disana karena ia pun ingin terus mengaplikasikan semua yang ia ketahui dalam kehidupannya bahkan mengajarkannya kepada orang lain. Apa yang dilakukan Ezra inilah yang memberkati dirinya. Ia terus memperlengkapi dirinya dengan firman Tuhan dan terus bertekun melakukan firman. Dan hasilnya, kita bisa melihat bahwa ia memperoleh segala yang diingininya karena dengan jelas ayat 6 diatas mengatakan bahwa tangan Tuhan sendiri yang melindungi dia.
Ada banyak yang ditawarkan dunia untuk menghambat pertumbuhan iman kita. Berbagai gelimang kenikmatan terus ditawarkan sehingga jika tidak hati-hati kita bisa melupakan pentingnya upgrade iman bagi keselamatan kita. Oleh karena itulah Paulus mengingatkan kita untuk mau terus melakukan perubahan lewat pembaharuan budi. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Semakin jauh kita meningkatkan kapasitas diri kita dan memperbaiki diri, semakin pula kita mampu membedakan mana yang berasal dari Allah dan mana yang tidak. Semakin besar tekad kita untuk terus menjadi lebih baik dari hari ke hari maka semakin baik pula kita sebagai anak Allah. Ingatlah bahwa ini tidak berarti kita cukup membaca saja, tetapi harus pula dilanjutkan dengan merenungkan, memperkatakan dan melakukannya dalam hidup kita. Yakobus mengatakan demikian: "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22). Bagaimana jika tidak? Yakobus lalu memberikan sebuah contoh. "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya." (ay23-24). Jika ini terjadi dalam hal iman kita, bukankah itu bisa berbahaya? Itulah sebabnya penting bagi kita untuk selalu mengingat pesan berikut ini: "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (ay 25).
Hidup adalah sebuah proses, dan alangkah baiknya jika proses kehidupan kita terus diisi dengan melakukan segala sesuatu yang menuju ke arah perbaikan sesuai dengan kehendak Tuhan, terus mengupgrade diri dalam segala hal untuk hal-hal yang baik dan benar, yang sesuai dengan isi hati Tuhan. Dalam hal beribadah pun sama. Paulus mengingatkan "Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Ada kata latih disana, yang berbicara mengenai sebuah proses berkesinambungan untuk mencapai peningkatan-peningkatan. Singkatnya, adalah penting bagi kita untuk terus mengupgrade diri kita menuju ke arah yang lebih baik, dan terus berusaha sungguh-sungguh untuk lebih lagi menyenangkan Tuhan.
Kita harus mau membuka hati kita untuk terus belajar, jika perlu berubah untuk menuju ke arah yang lebih baik. Ketika kita berpikir bahwa melakukan perubahan itu tidak mudah, maka itu memang menjadi tidak mudah. Lupakan pikiran negatif tersebut, itu tidak akan membawa kita kemanapun. Coba berpikir bahwa bukan kita yang merubah diri kita sendiri, tapi Allah, tetapi itu akan tergantung dari mau atau tidaknya kita membiarkannya terjadi. Katakan anda dan saya mau, maka niscaya Tuhan sendiri yang akan menuntun kita pada perbaikan diri kita dari hari ke hari. Roh Kudus akan dengan senang hati membukakan banyak hal dan menuntun kita menjadi semakin serupa dengan Kristus seiring perjalanan kehidupan kita.
Dalam segala hal kita harus terus melakukan upgrade rutin agar bisa memperoleh hasil atau performance yang lebih baik. Orang yang berhenti berproses tidak akan pernah bisa memperoleh sesuatu yang baru. Menjadi orang gagap teknologi dan berbagai kemajuan di dunia tidak baik, apalagi jika kita gagap dalam urusan mengetahui suara Tuhan. Latihlah terus diri kita untuk beribadah, temukan berbagai janji, pesan, teguran dan nasihat Tuhan dan segala rahasia Kerajaan yang sudah dibukakan di dalam Alkitab, lalu renungkan, perkatakan dan aplikasikan dalam hidup kita. Teruslah bertumbuh, dan bertumbuhlah dengan subur.
Hidup di dunia butuh upgrade, untuk kehidupan kekalpun kita butuh update
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
==================
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel."
Jika anda orang yang sering atau bahkan rutin mempergunakan komputer atau gadget-gadget elektronik lainnya, anda pasti akan selalu berhadapan dengan pesan update. Apakah itu program atau software, bahkan operating system, aplikasi, hardware dan lain-lain selalu mengeluarkan update-update terbarunya yang dipercaya mampu memberikan performance lebih baik dan tinggi dibanding sebelumnya. Bisa jadi untuk menutupi bugs atau masalah-masalah sekuriti yang muncul dan lain-lain, tetapi kita memang dianjurkan untuk melakukan upgrade secara rutin agar bisa mengurangi berbagai resiko yang tidak kita inginkan atau jika ingin software dan aplikasi-aplikasi berfungsi maksimal. Dalam hidup pun kita tidak pernah dianjurkan untuk tidak berkembang. Kita harus terus mengupdate ilmu dan pengetahuan kita, terus mempelajari hal-hal baru atau kita akan ketinggalan jaman. Ada banyak orang yang tidak tertarik untuk mengikuti perkembangan teknologi, dan sekarang kelabakan karena tiba-tiba teknologi menjadi sesuatu yang mutlak untuk terus diikuti perkembangannya. Istilah "gaptek" atau gagap teknologi pun muncul yang dipakai untuk menggambarkan mereka yang tidak tahu mengoperasikan gadget-gadget yang dianggap sudah umum. Dalam perjalanan iman kita, hal upgrade ini pun memegang peranan yang sangat penting pula. Dalam banyak kesempatan Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah sebuah proses, termasuk pula didalamnya iman kita. Iman kita akan bertumbuh dalam sebuah proses, dimana cepat tidaknya, sehat tidaknya atau baik tidaknya pertumbuhannya akan sangat tergantung dari sejauh mana kita rajin melakukan update, alias terus membaca, merenungkan dan kemudian melakukan atau mengaplikasikan Firman Tuhan. Kita akan melewatkan begitu banyak hal apabila kita tidak tertarik untuk menggali lebih dalam berbagai prinsip-prinsip Kerajaan Allah yang sebenarnya sudah dibuka begitu lebar di dalam Alkitab. Kita akan luput dari pengetahuan akan janji-janji Tuhan dan solusi atas semua permasalahan yang juga telah dinyatakan lengkap di dalam Alkitab. Untuk itu kita perlu sering melakukan update baik dalam hal pengetahuan umum, kepandaian, keahlian dan terlebih iman kita, agar kita bisa bertumbuh lebih baik lagi dari hari ke hari.Kita bisa belajar dari Ezra dan ketekunannya untuk terus mendalami lebih jauh lagi apa yang menjadi pesan-pesan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, Ezra dikenal sebagai seorang ahli kitab yang sangat mahir mengenai Taurat Musa. Dikatakan demikian: "Ezra ini berangkat pulang dari Babel. Ia adalah seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa yang diberikan TUHAN, Allah Israel. Dan raja memberi dia segala yang diingininya, oleh karena tangan TUHAN, Allahnya, melindungi dia" (Ezra 7:6). Ezra sudah dianggap sebagai seorang ahli atau expert dalam mengenali Firman Tuhan. Tapi ternyata Ezra tidak pernah berpuas diri hingga disitu saja. Ia ternyata merupakan orang yang terus bertekad untuk meningkatkan kapasitasnya. Dengan sangat jelas itu bisa kita lihat dalam sebuah ayat berikut ini: "Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel." (ay 10). Lihatlah bahwa Ezra terus melakukan update baik dari segi kemampuan dan pengetahuan maupun karakternya. Ia terus ingin meneliti lebih dalam lagi, dan tidak berhenti disana karena ia pun ingin terus mengaplikasikan semua yang ia ketahui dalam kehidupannya bahkan mengajarkannya kepada orang lain. Apa yang dilakukan Ezra inilah yang memberkati dirinya. Ia terus memperlengkapi dirinya dengan firman Tuhan dan terus bertekun melakukan firman. Dan hasilnya, kita bisa melihat bahwa ia memperoleh segala yang diingininya karena dengan jelas ayat 6 diatas mengatakan bahwa tangan Tuhan sendiri yang melindungi dia.
Ada banyak yang ditawarkan dunia untuk menghambat pertumbuhan iman kita. Berbagai gelimang kenikmatan terus ditawarkan sehingga jika tidak hati-hati kita bisa melupakan pentingnya upgrade iman bagi keselamatan kita. Oleh karena itulah Paulus mengingatkan kita untuk mau terus melakukan perubahan lewat pembaharuan budi. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Semakin jauh kita meningkatkan kapasitas diri kita dan memperbaiki diri, semakin pula kita mampu membedakan mana yang berasal dari Allah dan mana yang tidak. Semakin besar tekad kita untuk terus menjadi lebih baik dari hari ke hari maka semakin baik pula kita sebagai anak Allah. Ingatlah bahwa ini tidak berarti kita cukup membaca saja, tetapi harus pula dilanjutkan dengan merenungkan, memperkatakan dan melakukannya dalam hidup kita. Yakobus mengatakan demikian: "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22). Bagaimana jika tidak? Yakobus lalu memberikan sebuah contoh. "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya." (ay23-24). Jika ini terjadi dalam hal iman kita, bukankah itu bisa berbahaya? Itulah sebabnya penting bagi kita untuk selalu mengingat pesan berikut ini: "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (ay 25).
Hidup adalah sebuah proses, dan alangkah baiknya jika proses kehidupan kita terus diisi dengan melakukan segala sesuatu yang menuju ke arah perbaikan sesuai dengan kehendak Tuhan, terus mengupgrade diri dalam segala hal untuk hal-hal yang baik dan benar, yang sesuai dengan isi hati Tuhan. Dalam hal beribadah pun sama. Paulus mengingatkan "Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Ada kata latih disana, yang berbicara mengenai sebuah proses berkesinambungan untuk mencapai peningkatan-peningkatan. Singkatnya, adalah penting bagi kita untuk terus mengupgrade diri kita menuju ke arah yang lebih baik, dan terus berusaha sungguh-sungguh untuk lebih lagi menyenangkan Tuhan.
Kita harus mau membuka hati kita untuk terus belajar, jika perlu berubah untuk menuju ke arah yang lebih baik. Ketika kita berpikir bahwa melakukan perubahan itu tidak mudah, maka itu memang menjadi tidak mudah. Lupakan pikiran negatif tersebut, itu tidak akan membawa kita kemanapun. Coba berpikir bahwa bukan kita yang merubah diri kita sendiri, tapi Allah, tetapi itu akan tergantung dari mau atau tidaknya kita membiarkannya terjadi. Katakan anda dan saya mau, maka niscaya Tuhan sendiri yang akan menuntun kita pada perbaikan diri kita dari hari ke hari. Roh Kudus akan dengan senang hati membukakan banyak hal dan menuntun kita menjadi semakin serupa dengan Kristus seiring perjalanan kehidupan kita.
Dalam segala hal kita harus terus melakukan upgrade rutin agar bisa memperoleh hasil atau performance yang lebih baik. Orang yang berhenti berproses tidak akan pernah bisa memperoleh sesuatu yang baru. Menjadi orang gagap teknologi dan berbagai kemajuan di dunia tidak baik, apalagi jika kita gagap dalam urusan mengetahui suara Tuhan. Latihlah terus diri kita untuk beribadah, temukan berbagai janji, pesan, teguran dan nasihat Tuhan dan segala rahasia Kerajaan yang sudah dibukakan di dalam Alkitab, lalu renungkan, perkatakan dan aplikasikan dalam hidup kita. Teruslah bertumbuh, dan bertumbuhlah dengan subur.
Hidup di dunia butuh upgrade, untuk kehidupan kekalpun kita butuh update
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Thursday, October 13, 2011
Kemalasan (2)
(sambungan)
Dalam Amsal ada sebuah ayat yang menarik yang menggambarkan orang malas bagaikan sebuah pintu. "Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya." (Amsal 26:14). Perhatikanlah cara kerja sebuah pintu. Pintu hanya berputar pada engselnya. Bergerak sih bergerak, tapi tidak berpindah, alias hanya berputar ditempatnya saja. Orang yang malas untuk mulai melakukan sesuatu pun seperti itu, hanya akan berjalan di tempat dan tidak akan berpindah posisi. Jika malas menjadi kebiasaan kita, bagaimana kita bisa maju? Dalam ayat 16 kita membaca demikian: "Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak dari pada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana." (ay 16). Ayat ini menggambarkan lebih lanjut mengenai sikap orang yang malas. Meskipun banyak orang yang memotivasi, bahkan mungkin siap membantu, mereka tetap saja tidak mau memulai. Mereka tidak mau repot, mungkin terlalu malas untuk keluar dari zona nyaman mereka. Yang kerap terjadi selanjutnya adalah sikap untuk mencari pembenaran diri akibat kemalasannya sendiri.
Kemalasan tidak akan membawa manfaat apa-apa dan hanya akan merugikan. Tuhan pun sangat tidak suka pada pemalas. Dalam perumpamaan tentang talenta, kita melihat apa jawaban Tuhan pada si hamba yang tidak mempergunakan dan melipatgandakan talenta yang telah dipercayakan padanya. "Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?" (ay 25:26). Dan bagi mereka ini, tempat yang disediakan adalah tempat yang tergelap yang penuh ratap tangis dan kertak gigi. (ay 30). Jika kita melihat tokoh-tokoh Alkitab pilihan Allah, semuanya yang dipilih adalah orang-orang yang giat bekerja, bahkan kita sering melihat orang-orang yang ketika mendapatkan panggilan justru tengah bekerja. Tuhan tidak mau memakai orang malas. Bahkan di dalam Alkitab tegurannya sungguh keras. "..jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10).
Kemalasan bukanlah semata-mata berbicara mengenai orang yang tidak mau bekerja saja, tapi juga mengenai orang yang tidak disiplin, malas berusaha atau malas mencari Tuhan. Salomo juga menegur para pemalas untuk belajar dari semut dalam Amsal 6:6 yang berkata "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak." Bayangkan semut yang ukurannya begitu kecil, lemah dan bisa mati dengan sedikit pencetan saja dari manusia, tetapi untuk urusan kerajinan, kita yang berukuran ratusan kali lebih besar dan lebih kuat ternyata harus belajar dari seekor semut. Maka dengan tegas teguran pun datang dalam hal ini."Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata." (ay 9-11). Kemiskinan, itulah yang menjadi dampak atau akibatnya.
Kemiskinan itu kerap merupakan hasil dari kemalasan, dengan kata lain kemalasan menjadi sumber dari segala kemiskinan. Apakah itu miskin harta, miskin ilmu, miskin hikmat, miskin pemikiran, miskin pengertian, juga miskin rohani. Tuhan memberikan 24 jam sehari, dan itu seharusnya kita syukuri. Bukan saja dengan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, namun bentuk rasa syukur pun akan sangat indah apabila kita wujudkan dengan keseriusan kita untuk memanfaatkannya dengan baik demi kepentingan yang baik pula, bagi diri kita sendiri juga kepada sesama. Sayangnya masih banyak dari kita tidak memaksimalkannya. Sadarilah sedini mungkin bahwa waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali. Mulailah belajar menghargai waktu sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia. Kita harus melatih diri kita untuk disiplin dan tidak berkompromi pada kemalasan, karena gaya hidup malas tidak boleh menjadi bagian dari gaya hidup kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu yang dititipkan Tuhan kepada kita? Mulailah bangkit dan lakukan sesuatu. Do something for ourselves, for others, and most of all, for the glory of God. Atur dan manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya, dan itulah cara yang sangat baik untuk menunjukkan rasa terimakasih kita kepada Tuhan.
Waktu yang berlalu tidak akan pernah bisa kembali, jadi jangan buang sia-sia
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Dalam Amsal ada sebuah ayat yang menarik yang menggambarkan orang malas bagaikan sebuah pintu. "Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya." (Amsal 26:14). Perhatikanlah cara kerja sebuah pintu. Pintu hanya berputar pada engselnya. Bergerak sih bergerak, tapi tidak berpindah, alias hanya berputar ditempatnya saja. Orang yang malas untuk mulai melakukan sesuatu pun seperti itu, hanya akan berjalan di tempat dan tidak akan berpindah posisi. Jika malas menjadi kebiasaan kita, bagaimana kita bisa maju? Dalam ayat 16 kita membaca demikian: "Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak dari pada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana." (ay 16). Ayat ini menggambarkan lebih lanjut mengenai sikap orang yang malas. Meskipun banyak orang yang memotivasi, bahkan mungkin siap membantu, mereka tetap saja tidak mau memulai. Mereka tidak mau repot, mungkin terlalu malas untuk keluar dari zona nyaman mereka. Yang kerap terjadi selanjutnya adalah sikap untuk mencari pembenaran diri akibat kemalasannya sendiri.
Kemalasan tidak akan membawa manfaat apa-apa dan hanya akan merugikan. Tuhan pun sangat tidak suka pada pemalas. Dalam perumpamaan tentang talenta, kita melihat apa jawaban Tuhan pada si hamba yang tidak mempergunakan dan melipatgandakan talenta yang telah dipercayakan padanya. "Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?" (ay 25:26). Dan bagi mereka ini, tempat yang disediakan adalah tempat yang tergelap yang penuh ratap tangis dan kertak gigi. (ay 30). Jika kita melihat tokoh-tokoh Alkitab pilihan Allah, semuanya yang dipilih adalah orang-orang yang giat bekerja, bahkan kita sering melihat orang-orang yang ketika mendapatkan panggilan justru tengah bekerja. Tuhan tidak mau memakai orang malas. Bahkan di dalam Alkitab tegurannya sungguh keras. "..jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10).
Kemalasan bukanlah semata-mata berbicara mengenai orang yang tidak mau bekerja saja, tapi juga mengenai orang yang tidak disiplin, malas berusaha atau malas mencari Tuhan. Salomo juga menegur para pemalas untuk belajar dari semut dalam Amsal 6:6 yang berkata "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak." Bayangkan semut yang ukurannya begitu kecil, lemah dan bisa mati dengan sedikit pencetan saja dari manusia, tetapi untuk urusan kerajinan, kita yang berukuran ratusan kali lebih besar dan lebih kuat ternyata harus belajar dari seekor semut. Maka dengan tegas teguran pun datang dalam hal ini."Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata." (ay 9-11). Kemiskinan, itulah yang menjadi dampak atau akibatnya.
Kemiskinan itu kerap merupakan hasil dari kemalasan, dengan kata lain kemalasan menjadi sumber dari segala kemiskinan. Apakah itu miskin harta, miskin ilmu, miskin hikmat, miskin pemikiran, miskin pengertian, juga miskin rohani. Tuhan memberikan 24 jam sehari, dan itu seharusnya kita syukuri. Bukan saja dengan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, namun bentuk rasa syukur pun akan sangat indah apabila kita wujudkan dengan keseriusan kita untuk memanfaatkannya dengan baik demi kepentingan yang baik pula, bagi diri kita sendiri juga kepada sesama. Sayangnya masih banyak dari kita tidak memaksimalkannya. Sadarilah sedini mungkin bahwa waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali. Mulailah belajar menghargai waktu sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia. Kita harus melatih diri kita untuk disiplin dan tidak berkompromi pada kemalasan, karena gaya hidup malas tidak boleh menjadi bagian dari gaya hidup kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu yang dititipkan Tuhan kepada kita? Mulailah bangkit dan lakukan sesuatu. Do something for ourselves, for others, and most of all, for the glory of God. Atur dan manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya, dan itulah cara yang sangat baik untuk menunjukkan rasa terimakasih kita kepada Tuhan.
Waktu yang berlalu tidak akan pernah bisa kembali, jadi jangan buang sia-sia
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Wednesday, October 12, 2011
Kemalasan (1)
Ayat bacaan: Amsal 12:27
=====================
"Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga."
Ada 24 jam sehari yang diberikan Tuhan kepada kita untuk dipergunakan. Jika satu jam 60 menit dan satu menit 60 detik, maka 24 jam itu setara dengan 86.400 detik. Itulah total waktu per hari yang diberikan kepada kita untuk dipergunakan. Untuk apa saja waktu sebanyak itu kita manfaatkan setiap hari? Apa yang kita lakukan di dalamnya? Banyak orang yang justru menganggap jumlah itu masih kurang, karena rasa-rasanya tumpukan pekerjaan tidak bisa terselesaikan hanya dalam rentang waktu demikian per harinya. Tetapi sebaliknya ada pula orang yang lebih suka membuangnya sia-sia dengan hal-hal yang tidak berguna. Betapa sayangnya, karena waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah bisa kembali lagi dengan cara apapun. Sekali lewat, waktu itu akan berlalu selamanya. Sekali terbuang, waktu tidak akan bisa kita beli kembali dengan harga berapapun. Tetapi tetap saja ada banyak orang yang memilih untuk membiarkan waktu berlalu tanpa diisi dengan apapun yang berguna, baik untuk dirinya sendiri apalagi buat orang lain.
Beberapa hari terakhir kita sudah melihat banyak hal mengenai pentingnya manajemen waktu. Bagi orang yang sangat sibuk, kemarin kita melihat betapa pentingnya untuk belajar mendelegasikan atau membuat struktur kepemimpinan dengan job description jelas dan lengkap agar suatu pekerjaan itu bisa berjalan lebih efektif dan efisien. Selalu berusaha untuk bekerja sendirian dan menyelesaikan semuanya sendirian merupakan salah satu kesalahan terbesar dari banyak orang yang sibuk dalam pekerjaannya. Mungkin anda merasa tidak punya wewenang untuk menentukan pembagian struktur kepemimpinan karena anda hanyalah bawahan, tetapi dalam rapat-rapat perusahaan itu selalu bisa didiskusikan, atau di antara teman sekerja. Kita sudah melihat pandangan maju Yitro tentang manajemen yang ia sampaikan atas dasar rasa kasihannya melihat kesibukan Musa dalam melakukan panggilan Tuhan atasnya. (Keluaran 18:13-27). Musa sebenarnya menjalankan dengan sungguh-sungguh, bahkan ekstra sungguh-sungguh. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk membenahi bangsa Israel yang berjumlah sangat banyak tetapi bandelnya bukan main. Musa melakukan hal yang baik dan benar, tetapi ia melupakan pentingnya sebuah pengaturan atau manajemen agar waktu yang dipergunakan bisa lebih efektif dan hasilnya pun akan lebih baik. Itu buat orang yang sibuk. Hari ini mari kita lihat sebaliknya, yaitu orang-orang yang memilih untuk membuang waktu secara sia-sia dengan kemalasannya. Manajemen waktu bukan saja menjadi hal penting untuk dilakukan oleh orang-orang yang sangat sibuk dan sering tertimbun pekerjaan, tetapi juga seharusnya menjadi pemikiran yang penting bagi mereka yang suka bermalas-malasan. Adalah penting untuk memikirkan apa yang bermanfaat yang bisa kita lakukan setiap hari, baik untuk diri sendiri maupun bagi sesama, tidak membuang waktu begitu saja. Pemanfaatan waktu dengan baik juga merupakan salah satu bagian dari pengaturan atau manajemen waktu.
Mari kita lihat sedikit kisah ketika bangsa Israel berada di Silo (Yosua 18). Pada saat itu segenap umat Israel berkumpul dan mendirikan Kemah Pertemuan di sana. Tuhan telah menyertai mereka sedemikian rupa sehingga negeri yang dijanjikan Tuhan kepada mereka itu secara umum telah berhasil mereka taklukkan. Meski Tuhan sudah memberkati mereka dengan tanah yang melimpah madu dan susunya seperti itu, dan Tuhan sendiri pula sudah menyertai mereka dalam setiap langkah untuk merebut tanah yang dijanjikan itu, tetapi tetap saja suku-suku tersebut enggan berangkat berperang untuk menguasai wilayah yang masih tersisa. Tuhan sudah menyediakan segalanya dan membantu, tetapi mereka masih juga malas-malasan. Maka akhirnya datanglah teguran melalui Yosua atas mereka. "Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: "Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?" (ay 3). Sikap malas dan senang menunda-nunda ternyata bukan hanya penyakit di jaman sekarang, tetapi sudah ada sejak dulu dan terus membudaya dan dilakukan banyak orang hingga hari ini. Pesan yang sama berlaku pula bagi kita. Berapa lama lagi kita harus bermalas-malasan sehingga tidak pergi menggapai janji-janji yang telah disediakan Tuhan bagi kita?
Ada banyak ayat yang menggambarkan ketidaksukaan Tuhan atas orang-orang yang malas. Salah satunya dikatakan: "Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga." (Amsal 12:27). Bagaimana kita bisa menangkap janji Tuhan jika kita enggan atau malas bergerak untuk mulai melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh? Sangat disayangkan ketika Tuhan sudah meletakkan berkat-berkatNya di depan kita, tetapi kemalasan membuat kita tidak akan pernah bisa meraihnya. Mengharapkan berkat tanpa adanya usaha sama saja dengan mengharapkan bintang jatuh dari langit. Kemalasan seringkali menjadi penyebab gagalnya kita untuk menerima berkat-berkat Tuhan. Kita harus mulai melakukan sesuatu dan berhenti membuang-buang waktu serta kesempatan.
(bersambung)
=====================
"Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga."
Ada 24 jam sehari yang diberikan Tuhan kepada kita untuk dipergunakan. Jika satu jam 60 menit dan satu menit 60 detik, maka 24 jam itu setara dengan 86.400 detik. Itulah total waktu per hari yang diberikan kepada kita untuk dipergunakan. Untuk apa saja waktu sebanyak itu kita manfaatkan setiap hari? Apa yang kita lakukan di dalamnya? Banyak orang yang justru menganggap jumlah itu masih kurang, karena rasa-rasanya tumpukan pekerjaan tidak bisa terselesaikan hanya dalam rentang waktu demikian per harinya. Tetapi sebaliknya ada pula orang yang lebih suka membuangnya sia-sia dengan hal-hal yang tidak berguna. Betapa sayangnya, karena waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah bisa kembali lagi dengan cara apapun. Sekali lewat, waktu itu akan berlalu selamanya. Sekali terbuang, waktu tidak akan bisa kita beli kembali dengan harga berapapun. Tetapi tetap saja ada banyak orang yang memilih untuk membiarkan waktu berlalu tanpa diisi dengan apapun yang berguna, baik untuk dirinya sendiri apalagi buat orang lain.Beberapa hari terakhir kita sudah melihat banyak hal mengenai pentingnya manajemen waktu. Bagi orang yang sangat sibuk, kemarin kita melihat betapa pentingnya untuk belajar mendelegasikan atau membuat struktur kepemimpinan dengan job description jelas dan lengkap agar suatu pekerjaan itu bisa berjalan lebih efektif dan efisien. Selalu berusaha untuk bekerja sendirian dan menyelesaikan semuanya sendirian merupakan salah satu kesalahan terbesar dari banyak orang yang sibuk dalam pekerjaannya. Mungkin anda merasa tidak punya wewenang untuk menentukan pembagian struktur kepemimpinan karena anda hanyalah bawahan, tetapi dalam rapat-rapat perusahaan itu selalu bisa didiskusikan, atau di antara teman sekerja. Kita sudah melihat pandangan maju Yitro tentang manajemen yang ia sampaikan atas dasar rasa kasihannya melihat kesibukan Musa dalam melakukan panggilan Tuhan atasnya. (Keluaran 18:13-27). Musa sebenarnya menjalankan dengan sungguh-sungguh, bahkan ekstra sungguh-sungguh. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk membenahi bangsa Israel yang berjumlah sangat banyak tetapi bandelnya bukan main. Musa melakukan hal yang baik dan benar, tetapi ia melupakan pentingnya sebuah pengaturan atau manajemen agar waktu yang dipergunakan bisa lebih efektif dan hasilnya pun akan lebih baik. Itu buat orang yang sibuk. Hari ini mari kita lihat sebaliknya, yaitu orang-orang yang memilih untuk membuang waktu secara sia-sia dengan kemalasannya. Manajemen waktu bukan saja menjadi hal penting untuk dilakukan oleh orang-orang yang sangat sibuk dan sering tertimbun pekerjaan, tetapi juga seharusnya menjadi pemikiran yang penting bagi mereka yang suka bermalas-malasan. Adalah penting untuk memikirkan apa yang bermanfaat yang bisa kita lakukan setiap hari, baik untuk diri sendiri maupun bagi sesama, tidak membuang waktu begitu saja. Pemanfaatan waktu dengan baik juga merupakan salah satu bagian dari pengaturan atau manajemen waktu.
Mari kita lihat sedikit kisah ketika bangsa Israel berada di Silo (Yosua 18). Pada saat itu segenap umat Israel berkumpul dan mendirikan Kemah Pertemuan di sana. Tuhan telah menyertai mereka sedemikian rupa sehingga negeri yang dijanjikan Tuhan kepada mereka itu secara umum telah berhasil mereka taklukkan. Meski Tuhan sudah memberkati mereka dengan tanah yang melimpah madu dan susunya seperti itu, dan Tuhan sendiri pula sudah menyertai mereka dalam setiap langkah untuk merebut tanah yang dijanjikan itu, tetapi tetap saja suku-suku tersebut enggan berangkat berperang untuk menguasai wilayah yang masih tersisa. Tuhan sudah menyediakan segalanya dan membantu, tetapi mereka masih juga malas-malasan. Maka akhirnya datanglah teguran melalui Yosua atas mereka. "Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: "Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?" (ay 3). Sikap malas dan senang menunda-nunda ternyata bukan hanya penyakit di jaman sekarang, tetapi sudah ada sejak dulu dan terus membudaya dan dilakukan banyak orang hingga hari ini. Pesan yang sama berlaku pula bagi kita. Berapa lama lagi kita harus bermalas-malasan sehingga tidak pergi menggapai janji-janji yang telah disediakan Tuhan bagi kita?
Ada banyak ayat yang menggambarkan ketidaksukaan Tuhan atas orang-orang yang malas. Salah satunya dikatakan: "Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga." (Amsal 12:27). Bagaimana kita bisa menangkap janji Tuhan jika kita enggan atau malas bergerak untuk mulai melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh? Sangat disayangkan ketika Tuhan sudah meletakkan berkat-berkatNya di depan kita, tetapi kemalasan membuat kita tidak akan pernah bisa meraihnya. Mengharapkan berkat tanpa adanya usaha sama saja dengan mengharapkan bintang jatuh dari langit. Kemalasan seringkali menjadi penyebab gagalnya kita untuk menerima berkat-berkat Tuhan. Kita harus mulai melakukan sesuatu dan berhenti membuang-buang waktu serta kesempatan.
(bersambung)
Tuesday, October 11, 2011
Delegasikan
Ayat bacaan: Keluaran 18:18
=======================
"Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja."
Rentang waktu perhari sama bagi semua orang, yaitu 24 jam dengan kecepatan berjalannya waktu yang sama pula. Sementara kita yang sibuk sering mengeluhkan kurangnya waktu yang bisa dipakai untuk bekerja, beraktivitas, istirahat dan sebagainya, ada orang-orang yang mampu sukses memimpin beberapa tugas sekaligus atau berdiri di atas beberapa profesi, sembari sukses pula membina rumah tangganya. Bagaimana rahasianya mereka sanggup melakukan itu? Kita kalang kabut dan kelabakan dalam menyelesaikan tugas-tugas kita, sementara sebagian orang itu masih bisa tersenyum bahagia meski tanggung jawab yang mereka jalani jauh lebih banyak dan besar. Seringkali kuncinya terletak pada kemampuan kita memanajemen waktu. Orang-orang yang sukses menjalani beberapa profesi sekaligus dan disamping itu malah masih sanggup melayani rata-rata memberikan kunci yang sama. Kemampuan manajerial waktu tidaklah kalah pentingnya dibanding memanajemen perusahaan atau orang dalam pekerjaan kita sehari-hari. Tentu anda lebih tahu apa yang anda harus lakukan untuk itu, karena ada banyak cara yang bisa dilakukan dan caranya tentu bisa berbeda-beda dalam setiap kasus, tergantung kebutuhan, kapabilitas atau kemampuan masing-masing. Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan, kita cenderung ingin menyelesaikan semuanya sendirian. Kita tidak bisa melakukan itu terus menerus dan kemudian mengabaikan tugas-tugas lainnya. Ada banyak orang yang tidak memikirkan keseimbangan dalam menjalani hari, hanya mementingkan satu hal lalu mengabaikan yang lainnya. Keluarga tidak lagi diperhatikan, anak-anak dianggap mengganggu pekerjaan dan akibatnya kita melihat ada banyak anak-anak yang kurang perhatian karena ayah juga ibunya hanya sibuk bekerja. Keluarga menjadi berantakan, jauh dari Tuhan, dan pada suatu ketika nanti situasi sudah sulit untuk diperbaiki. Padahal jika kita mau, mungkin kita bisa mencari jalan dengan mendelegasikan beberapa tugas kepada orang lain.
Mendelegasikan. Itu merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengoptimalkan penggunaan waktu. Kita bisa belajar tentang hal ini dari Musa. Musa dipilih Allah secara langsung untuk sebuah tugas besar yang sangat berat. Membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Itu sama sekali tidak mudah. Bagi sebagian orang bisa jadi terlihat mengerikan. Dalam proses itu Musa menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada bangsa yang ia pimpin, sementara jumlah bangsa yang harus ia pimpin tidaklah kecil. Mengingat job desk yang berat itu, agaknya Musa terlalu fokus kepada penunjukan Tuhan atas dirinya, sehingga ia langsung terjun mengurus segalanya sendirian dan lupa akan pentingnya sebuah struktur yang lebih efektif dalam melayani. Ia tidak terpikir untuk mendelegasikan atau menyusun struktur kepengurusan agar bisa lebih efektif dan mau menyelesaikan semuanya sendirian, all by himself. "Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang." (Keluaran 18:13). Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang terjadi di antara sesama orang Israel yang memang hobi berseteru dan ribut. Kapan selesainya kalau seperti ini terus? Dalam ayat tersebut kita membaca bahwa Musa seharian duduk mengadili berbagai masalah yang dialami bangsa Israel yang tidak ada habisnya. Yitro, mertua Musa prihatin melihat menantunya dan tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu tidaklah efektif. Dia pun menanyakan "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" (ay 14). Musa pun menyatakan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang. Dan Yitro merasa kasihan melihat menantunya harus bekerja sendirian menghadapi segalanya. "Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja." (ay 18). Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17). Lalu Yitro pun memberi masukan kepada Musa, memberi usulan agar Musa bisa memakai strategi yang lebih baik, menyusun struktur kepemimpinan yang akan bisa membantu Musa dalam menyelesaikan setiap permasalahan secara lebih cepat, efektif dan efisien. "Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya." (ay 21-22). Sungguh menarik melihat usulan Yitro agar Musa membentuk kelompok-kelompok yang bertingkat dengan pemimpin masing-masing. Ini akan jauh lebih mempermudah Musa dalam menjalankan perintah Tuhan. Ini gambaran struktur kepemimpinan terawal yang dicatat dalam Alkitab. Musa adalah pribadi yang rendah hati dan mau menerima masukan. Ia tidak menolak dan mendengarkan nasihat mertuanya. "Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya." (ay 24). Yitro pun bisa melihat langsung bagaimana menantunya memperbaiki sistem pelayanannya dengan melibatkan orang-orang yang cakap sebagai rekan sekerja sebelum ia pulang kembali ke negerinya. (ay 27).
Dalam salah satu doa Musa kemudian, ia meminta Tuhan memberi hikmat kepadanya untuk mampu menghitung hari-hari. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12) Musa menyadari pentingnya meminta hikmat agar ia bisa membagi dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin, dan kita pun bisa melakukan hal yang sama. Yang penting adalah menyadari terlebih dahulu bahwa kita tidak akan sanggup mengerjakan semuanya sendirian. Kita perlu menyiasati banyak hal agar bisa memanfaatkan waktu secara optimal. Itu tidak mudah, tetapi itu harus kita lakukan agar hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi dalam banyak hal. Seperti kemarin, kita sudah melihat bahwa Paulus mengingatkan kita untuk mempergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya, karena sesungguhnya hari-hari yang kita lalui ini adalah jahat. (Efesus 5:16). Kemampuan memanajemen waktu akan sangat berkaitan erat dengan kemampuan kita mendelegasikan tugas-tugas. Kita tidak akan bisa menyelesaikan semuanya sendirian, dan disaat yang sama meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga dan untuk melayani Tuhan. Delegasikan sejauh mana yang bisa anda lakukan. Tanpa itu kita tidak akan bisa mengalami peningkatan. Waktu terbatas, tapi bukan berarti tidak cukup. Kita terbatas, tetapi bukan berarti kita harus jalan di tempat. Bersama Tuhan, milikilah hikmat untuk bisa menyusun jadwal perencanaan yang baik. Manajemen waktu merupakan sebuah hal yang penting untuk kita lakukan jika kita mau mempergunakan waktu seefektif dan seefesien mungkin.
Kemampuan mendelegasikan termasuk strategi terbaik dalam manajemen waktu
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=======================
"Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja."
Rentang waktu perhari sama bagi semua orang, yaitu 24 jam dengan kecepatan berjalannya waktu yang sama pula. Sementara kita yang sibuk sering mengeluhkan kurangnya waktu yang bisa dipakai untuk bekerja, beraktivitas, istirahat dan sebagainya, ada orang-orang yang mampu sukses memimpin beberapa tugas sekaligus atau berdiri di atas beberapa profesi, sembari sukses pula membina rumah tangganya. Bagaimana rahasianya mereka sanggup melakukan itu? Kita kalang kabut dan kelabakan dalam menyelesaikan tugas-tugas kita, sementara sebagian orang itu masih bisa tersenyum bahagia meski tanggung jawab yang mereka jalani jauh lebih banyak dan besar. Seringkali kuncinya terletak pada kemampuan kita memanajemen waktu. Orang-orang yang sukses menjalani beberapa profesi sekaligus dan disamping itu malah masih sanggup melayani rata-rata memberikan kunci yang sama. Kemampuan manajerial waktu tidaklah kalah pentingnya dibanding memanajemen perusahaan atau orang dalam pekerjaan kita sehari-hari. Tentu anda lebih tahu apa yang anda harus lakukan untuk itu, karena ada banyak cara yang bisa dilakukan dan caranya tentu bisa berbeda-beda dalam setiap kasus, tergantung kebutuhan, kapabilitas atau kemampuan masing-masing. Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan, kita cenderung ingin menyelesaikan semuanya sendirian. Kita tidak bisa melakukan itu terus menerus dan kemudian mengabaikan tugas-tugas lainnya. Ada banyak orang yang tidak memikirkan keseimbangan dalam menjalani hari, hanya mementingkan satu hal lalu mengabaikan yang lainnya. Keluarga tidak lagi diperhatikan, anak-anak dianggap mengganggu pekerjaan dan akibatnya kita melihat ada banyak anak-anak yang kurang perhatian karena ayah juga ibunya hanya sibuk bekerja. Keluarga menjadi berantakan, jauh dari Tuhan, dan pada suatu ketika nanti situasi sudah sulit untuk diperbaiki. Padahal jika kita mau, mungkin kita bisa mencari jalan dengan mendelegasikan beberapa tugas kepada orang lain. Mendelegasikan. Itu merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengoptimalkan penggunaan waktu. Kita bisa belajar tentang hal ini dari Musa. Musa dipilih Allah secara langsung untuk sebuah tugas besar yang sangat berat. Membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Itu sama sekali tidak mudah. Bagi sebagian orang bisa jadi terlihat mengerikan. Dalam proses itu Musa menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada bangsa yang ia pimpin, sementara jumlah bangsa yang harus ia pimpin tidaklah kecil. Mengingat job desk yang berat itu, agaknya Musa terlalu fokus kepada penunjukan Tuhan atas dirinya, sehingga ia langsung terjun mengurus segalanya sendirian dan lupa akan pentingnya sebuah struktur yang lebih efektif dalam melayani. Ia tidak terpikir untuk mendelegasikan atau menyusun struktur kepengurusan agar bisa lebih efektif dan mau menyelesaikan semuanya sendirian, all by himself. "Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang." (Keluaran 18:13). Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang terjadi di antara sesama orang Israel yang memang hobi berseteru dan ribut. Kapan selesainya kalau seperti ini terus? Dalam ayat tersebut kita membaca bahwa Musa seharian duduk mengadili berbagai masalah yang dialami bangsa Israel yang tidak ada habisnya. Yitro, mertua Musa prihatin melihat menantunya dan tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu tidaklah efektif. Dia pun menanyakan "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" (ay 14). Musa pun menyatakan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang. Dan Yitro merasa kasihan melihat menantunya harus bekerja sendirian menghadapi segalanya. "Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja." (ay 18). Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17). Lalu Yitro pun memberi masukan kepada Musa, memberi usulan agar Musa bisa memakai strategi yang lebih baik, menyusun struktur kepemimpinan yang akan bisa membantu Musa dalam menyelesaikan setiap permasalahan secara lebih cepat, efektif dan efisien. "Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya." (ay 21-22). Sungguh menarik melihat usulan Yitro agar Musa membentuk kelompok-kelompok yang bertingkat dengan pemimpin masing-masing. Ini akan jauh lebih mempermudah Musa dalam menjalankan perintah Tuhan. Ini gambaran struktur kepemimpinan terawal yang dicatat dalam Alkitab. Musa adalah pribadi yang rendah hati dan mau menerima masukan. Ia tidak menolak dan mendengarkan nasihat mertuanya. "Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya." (ay 24). Yitro pun bisa melihat langsung bagaimana menantunya memperbaiki sistem pelayanannya dengan melibatkan orang-orang yang cakap sebagai rekan sekerja sebelum ia pulang kembali ke negerinya. (ay 27).
Dalam salah satu doa Musa kemudian, ia meminta Tuhan memberi hikmat kepadanya untuk mampu menghitung hari-hari. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12) Musa menyadari pentingnya meminta hikmat agar ia bisa membagi dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin, dan kita pun bisa melakukan hal yang sama. Yang penting adalah menyadari terlebih dahulu bahwa kita tidak akan sanggup mengerjakan semuanya sendirian. Kita perlu menyiasati banyak hal agar bisa memanfaatkan waktu secara optimal. Itu tidak mudah, tetapi itu harus kita lakukan agar hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi dalam banyak hal. Seperti kemarin, kita sudah melihat bahwa Paulus mengingatkan kita untuk mempergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya, karena sesungguhnya hari-hari yang kita lalui ini adalah jahat. (Efesus 5:16). Kemampuan memanajemen waktu akan sangat berkaitan erat dengan kemampuan kita mendelegasikan tugas-tugas. Kita tidak akan bisa menyelesaikan semuanya sendirian, dan disaat yang sama meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga dan untuk melayani Tuhan. Delegasikan sejauh mana yang bisa anda lakukan. Tanpa itu kita tidak akan bisa mengalami peningkatan. Waktu terbatas, tapi bukan berarti tidak cukup. Kita terbatas, tetapi bukan berarti kita harus jalan di tempat. Bersama Tuhan, milikilah hikmat untuk bisa menyusun jadwal perencanaan yang baik. Manajemen waktu merupakan sebuah hal yang penting untuk kita lakukan jika kita mau mempergunakan waktu seefektif dan seefesien mungkin.
Kemampuan mendelegasikan termasuk strategi terbaik dalam manajemen waktu
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...