(sambungan)
Teman-teman, bagaimana perasaan anda hari ini? Jika diibaratkan seperti cuaca, seperti apa temperaturnya sekarang, panas atau sejuk? Sedang baik-baik saja atau sedang tertekan oleh sesuatu? Ketahuilah bahwa suhu atau kondisi hati kita akan sangat menentukan reaksi kita dalam memandang kehidupan kita dan bagaimana kita bersikap ditengah persinggungan dengan banyak orang. Ketika hati sedang panas,kita akan mudah terpancing emosi, gampang tersinggung dan sebagainya. Kalau dibiarkan maka kita akan jadi orang-orang penuh kebencian. Dan disaat seperti itu berbagai kejahatan pun akan mudah mengobrak abrik kita. It starts from the polluted heart.
Mari kita ambil satu contoh dalam Alkitab, yaitu ketika Kain membunuh saudara kandungnya sendiri, Habel. Mengapa ia membunuh saudaranya? Karena ia iri. Darimana iri itu muncul? Ya, dari hati. Dan Alkitab mencatatnya dengan jelas. "tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram." (Kejadian 4:6). Bermula dari hati yang menjadi panas, itu kemudian membuat air wajahnya berubah. Itu kemudian diikuti dengan reaksi menjadi gelap mata, tidak lagi bisa berpikir sehat dan akhirnya ia pun melakukan kekejian, yang rasanya tidak akan mungkin dilakukan oleh manusia normal. Sebuah kejahatan yang fatal terjadi, dan itu semua berasal dari hati yang tidak terjaga baik.
Dalam contoh lain tentang hati, kita bisa melihat bahwa kepahitan pun bisa timbul dari hati yang kecewa. Dalam hal ini mungkin Naomi bisa menjadi contoh. Tidak tanggung-tanggung, Naomi mengalami kepahitan karena kecewa kepada Tuhan. "Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku." (Rut 1:20).
Selain Naomi, Ayub pun merupakan salah satu contoh yang sempat mengalami kepahitan.
(bersambung)
Tuesday, November 7, 2023
Protecting Our Hearts (3)
Monday, November 6, 2023
Protecting Our Hearts (2)
(sambungan)
Masalah perasaan adalah masalah hati. Disana pusat kontrol perasaan, dan kita harus sadar pula bahwa apa yang dihasilkan disana akan menyatakan siapa diri kita. Apakah kita dianggap pemarah, orang yang labil, orang negatif, mudah membenci, baperan, atau penyabar, ramah, baik, kalem, orang yang menyenangkan, lucu dan sebagainya.
Disisi lain, saat kita berhadapan dengan kondisi keras atau sulit dalam hidup, itupun bisa mempengaruhi hati kita. Ada begitu banyak orang hari-hari ini yang mulai putus asa dan kehilangan harapan dalam hidupnya. Dan itu bisa kita ketahui dengan mudah dari apa yang paling sering keluar dari mulut mereka, atau yang paling sederhana, air muka saja sudah bisa menyiratkan itu. Disaat keadaan sedang kurang baik, perasaan negatif bisa mengkontaminasi hati. Orang bisa begitu gampang tersulut emosi, menjadi sangat sulit untuk sabar lalu menjadi orang pemarah.
Di sisi lain ada orang yang semakin lama semakin tidak yakin akan kemampuan dirinya sendiri setelah mengalami kegagalan berkali-kali. Mereka menolak peluang-peluang yang terbuka di depan mata karena merasa diri mereka pasti tidak sanggup untuk melakukannya bahkan sebelum mereka mencoba atau setidaknya memikirkan baik-baik terlebih dahulu. Ada orang optimis, tapi lebih banyak orang pesimis. Ada orang sabar, ada yang cepat marah. Ada yang tidak jemu-jemu berusaha meski sudah terjatuh beberapa kali, ada yang menyerah sebelum bertanding. Ada yang terus percaya akan rencana Tuhan walau masih berada dalam situasi sulit, tetapi ada pula yang masih terus ragu.
Ada banyak faktor yang menjadi dasar perbedaan karakter, cara pandang atau pola pikir seperti ini, tetapi apapun itu, pada akhirnya kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa semuanya bermuara dari satu hal, yaitu hati.
(bersambung)
Sunday, November 5, 2023
Protecting Our Hearts (1)
Ayat bacaan: Amsal 4:23
===================
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
Pandemi ini merubah banyak sistem hidup manusia. Kita jadi mengenal sistem WFH alias work from home disaat virus mengganas. Rapat onine, dan sistem pembelajaran online pun jadi hal baru yang segera jadi gaya hidup saat dunia sedang tidak bersahabat. Anak saya mulai mengikuti playgroup saat memasuki usia 3 tahun secara daring atau online. Dengan sistem itu, kami orang tuanya bisa menyaksikan langsung bagaimana cara para guru ini mengajar anak di usia dini.
Ada satu hal menarik dari apa yang dilakukan guru sekolah playgroup anak saya. Ia kerap bertanya bagaimana perasaan anak-anak muridnya satu persatu. Kamu bagaimana perasaannya pagi ini? Dan si anak bebas mengutarakan apa yang ia rasakan. Apakah senang, sedih, sedang marah atau sedang kesal dan sebagainya.
Hal ini menurut saya sangat bagus. Ada banyak orang tua yang masih memaksakan anaknya untuk menahan perasaan mereka. Kalau mereka lagi marah langsung dimarahi balik, kalau lagi nangis disuruh berhenti seketika itu juga, bisa dalam bentuk perintah atau bisa juga dengan bentakan. Kalau anak tertawa keras-keras disuruh diam karena bising. Atau atas alasan yang buat saya lucu, anaknya disuruh berhenti ketawa karena nanti kalau keterusan bakal nangis. Hal seperti ini tidak baik untuk perkembangan mental mereka.
Memang seharusnya sejak dini mereka diajarkan untuk mengeksplor emosi mereka. Peran kita adalah mengajar mereka untuk mengontrol emosi, tapi bukan melarang atau memberhentikan apa yang mereka rasa menurut kehendak kita. Apa yang mereka rasakan itu mutlak milik mereka. Mereka punya emosinya, kita punya emosi kita juga. So they have to be able to feel and express their feeling. Jangan sampai mereka tumbuh dengan perasaan tertekan dan merasa kalau emosi mereka bukanlah milik mereka. Itu bisa berdampak pada perkembangan mental mereka bahkan sampai mereka dewasa nanti.
(bersambung)
Saturday, November 4, 2023
Keep Calm (5)
(sambungan)
Sementara menantikan pertolongan Tuhan, jangan panik. Tetaplah pegang janji Tuhan, luangkan waktu lebih banyak bukan untuk terus berkeluh kesah dan menangis dalam doa-doa kita, tapi untuk diam, menghampiri hadiratNya, memandang wajahNya dan mendengarkan suara Tuhan lebih lagi.
Ingatlah bahwa sesungguhnya "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita.." (Ibrani 6:19). Percayalah dengan iman yang teguh hanya kepadaNya, maka pertolongan Tuhan pun akan datang yang akan datang bagai fajar menyingsing atau hujan yang menyejukkan. "Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." (Hosea 6:3).
Mungkin jawaban dan pertolongan Tuhan belum datang hari ini, mungkin anda masih bergumul, tapi pada waktunya, sesuai waktu Tuhan, segala yang terbaik akan menjadi milik anda, dan Tuhan akan segera mengangkat anda, tepat seperti janji Tuhan yang tertulis dalam Mazmur: "Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku." (Mazmur 40:2-3)
And always remember that "Salvation belongs to the Lord." "Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu!"(Mazmur 3:9). Dari Tuhanlah datangnya segala pertolongan, bukan dari yang lain. Jadi, mengapa tidak mengarahkan pandangan kepadaNya? Tetap bawa dalam doa setiap langkah yang diambil. Bawa kepada Tuhan, dengar suaraNya dan lakukan tepat seperti apa yang Dia katakan. Itu hanya bisa kita lakukan apabila kita tetap tenang dan mengambil waktu untuk diam. You can't handle it anymore? Do you feel being pushed to the edge? Be calm, be still, arahkan pandangan pada Tuhan dan tetaplah bertekun dalam doa. Percayalah, Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk melepaskan anda.
Keep calm and pray on
Friday, November 3, 2023
Keep Calm (4)
(sambungan)
Dalam menghadapi serangan masalah beruntun kita akan terpancing untuk sibuk melakukan segala sesuatu tanpa pikir panjang dan akan terus kecewa apabila situasi tidak kunjung menjadi baik meski kita sudah mati-matian berusaha mengatasinya. Dalam situasi seperti itu bisa jadi hati kita terus berteriak sehingga membuat kita tidak lagi merasa tenang dan bisa berpikir jernih. Kita seringkali lupa bahwa sebenarnya kita harus mengambil waktu untuk diam lalu mendatangi Tuhan. Duduk diam di hadiratNya untuk mendengar suaraNya, menikmati kedekatan terhadap Tuhan yang sangat mengasihi kita, menyerahkan segala permasalahan kita ke dalam tanganNya dan mengijinkan kehendak dan rencanaNya turun atas kita, karena itulah yang terbaik.
Jangan pernah lupa bahwa Tuhan sanggup menghadirkan kelegaan (Matius 11:28), bahkan menggendong, menanggung dan memikul dan menyelamatkan kita sampai kapanpun. "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4). Kita bisa lupa akan semua ini apabila kita membiarkan diri kita dikuasai rasa takut dan panik. Kita lupa bahwa di atas segalanya, ada Tuhan yang berkuasa lebih dari apapun di dunia ini. Kita lupa bahwa ada Tuhan yang kuasanya tak terbatas melebihi kemampuan kita yang terbatas, bahwa kebesaranNya melebihi masalah sebesar apapun.
Sekali lagi mari kita lihat lagi suara Tuhan: "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11) dan resapi dalam-dalam kata Yeremia "Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN." (Yeremia 3:26). Saat badai menerpa, diamlah dan arahkan pandangan kepada Tuhan. Dalam menghadapi serangan masalah, akan sangat mudah bagi pikiran kita untuk merasa seolah-olah semua janji Tuhan seperti terasa sangat jauh dari jangkauan kita, atau sangat lambat datangnya. Tapi terus ingatkan jiwa kita, bahwa meski saat ini kita masih berhadapan dengan ketidakpastian, ada saat dimana kita harus menunggu disertai harapan yang tetap menyala. Teruslah menanti-nantikan Tuhan, dan itu tidak pernah sia-sia. Ada banyak kuasa luar biasa yang disediakan Tuhan kepada anak-anakNya yang terus tekun menanti-nantikanNya.
(Bersambung)
Thursday, November 2, 2023
Keep Calm (3)
(sambungan)
Jika dalam Ratapan kita diingatkan oleh Yeremia, dalam Mazmur kita bisa mendengar seruan Tuhan. "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11).
Dalam bahasa Inggris tertulis seperti ini: "Let be and be still, and know that I am God."
Bukankah kita sering lupa kepada Tuhan ketika kepanikan sedang berkecamuk menguasai kita? Atau kalau kita ingat Tuhan, bukankah kita suka dengan jeritan hati dalam doa berteriak kepadaNya? Ayat ini mengingatkan kita untuk mengambiljeda sejenak, diam dan berhentilah panik. Lalu ajak pikiran dan hati anda kembali mengingat bahwa ada Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, mampu melakukan sesuatu bahkan hal yang paling mustahil sekalipun. Kembali mengingat janji-janji Tuhan yang begitu mengasihi kita, kuasaNya yang ajaib yang mengatasi bumi.
Dalam renungan kemarin kita sudah melihat bagaimana Daud bisa tetap tenang meski berada dalam situasi yang genting. Dia tetap bisa tidur karena imannya percaya pada Tuhan sepenuhnya. Dalam keadaan tekanan berat, Daud bisa tetap tenang dan mengarahkan pandangannya pada Tuhan.
Masalah mungkin tidak serta merta selesai, pergumulan masih akan terus berlangsung, tapi ada saatnya kita harus mengambil langkah untuk let be and be still, sebelum kita mengambil langkah yang keliru. Disamping itu, adalah jauh lebih baik bagi kita untuk diam ketimbang terus mengisi hidup dengan keluhan dan kata-kata lain yang negatif, yang bukan saja merugikan kita sendiri tapi juga akan menambah lebih banyak lagi masalah.
(Bersambung)
Wednesday, November 1, 2023
Keep Calm (2)
(sambungan)
Yang lebih berbahaya, saat kehilangan kesabaran, kita bisa terjebak untuk mencari alternatif-alternatif lainnya. Disana ada banyak jebakan yang bisa membuat segalanya menjadi lebih runyam, membuat kita semakin menjauh dari Tuhan dan akhirnya menjerumuskan diri sendiri ke dalam jurang kesesatan. Kalau tidak sampai separah itu, kita bisa bermasalah dengan kesehatan seperti terkena stres, depresi, kehilangan kontrol diri, darah tinggi dan lain-lain apabila membiarkan kepanikan melanda kita.
Sebelum semua itu terjadi dan sebelum terlambat, ada baiknya kita mengetahui sebuah tindakan penting yang dianjurkan beberapa kali di dalam Alkitab. Dari pada terus berteriak, mengeluh, mengaduh, menangis atau malah melakukan tindakan-tindakan yang didasari emosi hinga merugikan diri sendiri dan orang lain, ada baiknya kita turuti apa yang diajarkan menurut Tuhan. Dan itu adalah dengan melakukan sesuatu yang sangat sederhana: mengambil waktu untuk diam.
Di dalam kitab Ratapan ada sebuah ayat yang mengingatkan hal ini. "Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN." (Ratapan 3:26) It's good to wait for His help in silence.
Kenapa baik bagi kita untuk diam dalam menanti pertolongan Tuhan? Karena dengan diam kita bisa terhindar dari berbagai godaan yang menyesatkan. Dengan diam kita bisa fokus mengambil momen perenungan, introspeksi ke dalam diri kita, mencari tahu kalau-kalau ada yang masih belum kita bereskan. Dengan diam kita bisa terhindar dari mengambil langkah-langkah yang hanya didasarkan kepada perasaan emosional, tidak rasional dalam memutuskan. Dengan diam itu bisa mencegah kita melakukan kesalahan-kesalahan yang hanya akan menambah masalah. Dengan diam, kita bisa berpikir jernih dan bijak dalam mengambil keputusan. Dengan diam, kita akan bisa terhubung dengan Tuhan.
Dengan diam, kita bisa mendengar suaraNya.
(Bersambung)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...
