(sambungan)
Dari kedua ayat di atas (Habakuk 3:19 dan Mazmur 18:34), perhatikan bahwa Tuhan selalu siap menyediakan pertolongan. Tuhan mampu membuat kaki-kaki kita menjadi lincah seperti rusa yang mampu melewati atau melompati jalan-jalan berbatu dan terjal untuk sampai ke puncak gunung. Tuhan mau kita naik lebih tinggi mengatasi masalah dan keluar menjadi pemenang, merasakan keindahan, kemurahan dan kemuliaanNya yang semua telah tersedia di atas sana. Naik ke atas, punya iman yang jauh lebih tinggi dari segala kesulitan yang terjadi, itu yang Tuhan inginkan untuk kita miliki.
Hal yang tidak kalah menarik, dalam Yesaya dikatakan di tempat tinggi itulah rumah Tuhan akan berdiri tegak. Di tempat seperti itulah kita, rumah Tuhan/bait Allah akan kokoh dan tidak mudah jatuh saat diterpa badai. "Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem." (Yesaya 2:2-3).
Lihatlah bahwa berada di tempat tinggi di atas bukit menjanjikan sebuah tempat dimana masalah tidak lagi mampu menyulitkan kita. Rumah Tuhan atau Bait Allah berbicara mengenai diri kita sendiri (bacalah 1 Korintus 3:16). Disana kita bisa melihat bahwa Tuhan menyediakan pertolongan untuk memampukan kaki kita menjadi lincah, melompat melewati berbagai masalah dan berdiri tegak di atas gunung menikmati segala kemuliaanNya.
Firman Tuhan mengajarkan kita bahwa ujian-ujian yang berat jika kita sikapi dengan benar akan mampu membuat iman kita bertumbuh dan naik lebih tinggi lagi. Paulus mengatakan: "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Roma 5:3-5).
Firman Tuhan mengingatkan kita agar jangan menjadi lemah ketika mengalami kesengsaraan, ketika berjalan di jalan berbatu tajam dan terjal. Kita diingatkan agar tidak putus asa, dan terus bertekun, karena jika kita ingin memenangkan ujian, kita harus bisa melepaskan segala yang merintangi kita dan dosa-dosa yang menjerat kita. Penulis Ibrani berkata: "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1).
Menghadapi apapun, jangan takut dan andalkan Tuhan. Dia siap membuat kaki-kaki kita menjadi lincah agar sanggup melompati bebatuan tajam dan jalan terjal hingga sampai ke puncak gunung. Disana kita bisa tetap tegar meski digoyang masalah seberat apapun. Masalah akan tetap ada sekali waktu, tetapi di puncak itu kita akan berada lebih tinggi dari masalah. Segala sakit dan beban selama perjalanan yang ditempuh akan sirna begitu kita menyaksikan keindahan kemuliaan Tuhan. Tuhan siap menolong kita untuk itu.
Apakah kita mempercayakan perjalanan kita kepada Tuhan? Sudahkah kita memiliki niat yang teguh untuk naik lebih tinggi lagi? Sekarang saatnya bagi kita untuk mendaki lebih tinggi dengan bantuan Tuhan. Kelak ketika kita berada lebih tinggi dari kesengsaraan, kita tidak akan gampang lagi digoyang oleh masalah apapun. Disanalah kita bisa berkata: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku." (Habakuk 3:17-18)
Bersama Tuhan kita bisa meloncat dengan lincah hingga mampu berdiri tegak di atas bukit
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Thursday, June 15, 2017
Wednesday, June 14, 2017
Di Atas Gunung (1)
Ayat bacaan: Habakuk 3:19
=================
"ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku."
Saya bukanlah orang yang suka mendaki gunung. Meski demikian saya suka memandang alam dan selalu kagum kepada orang-orang pencinta alam yang hobi mendaki, dengan segala resikonya bersusah payah untuk bisa mencapai puncak dan disana menikmati keindahan alam yang luar biasa, yang tidak bisa dilihat oleh semua orang. Saya teringat pada seorang teman yang mengalami jamahan Tuhan pada saat berada di puncak. Ia tadinya termasuk orang yang meragukan keberadaan Tuhan. Tapi pada suatu kali saat ia sampai di sebuah puncak gunung, ia memandang sekelilingnya dan terpesona pada apa yang ia lihat. Pemandangan luar biasa indah hadir di sekelilingnya, sejauh mata memandang. Disana ia tiba-tiba menangis dan merasakan jamahan Tuhan seolah memeluknya. Disana Tuhan menyatakan eksistensinya lewat ciptaanNya yang begitu mengagumkan. Sejak saat itu ia tidak lagi meragukan keberadaan Tuhan. Ia sekarang aktif melayani dan kisah ini selalu menjadi bagian favorit yang dengan semangat ia bagikan kepada banyak orang.
Darinya saya mendengar betapa banyak kendala maupun tantangan yang harus dihadapi untuk bisa sampai di puncak gunung. Kalau soal susahnya jalan mendaki di jalan terjal berbatu dengan ransel berat, itu sih biasa. Tantangan menjadi lebih berat karena oksigen seringkali menjadi sangat tipis pada ketinggian tertentu sehingga pendaki bisa merasakan sesak nafas atau gangguan pernafasan lainnya. Belum lagi ancaman cuaca, tersesat, terjatuh, itu bagaikan bertaruh nyawa. Ancaman hewan berbahaya bisa jadi satu dari hal yang harus diwaspadai, belum lagi berbagai tahyul yang bisa meruntuhkan mental.
Mendengar ceritanya saya pun lebih tahu bagaimana beratnya hobi itu. Saya yakin bagi yang melakukan tentu lebih berat lagi daripada apa yang saya dengar. Tapi semua beban itu menjadi sirna begitu sampai ke puncak gunung, katanya. Pemandangan yang luar biasa indah di ketinggian seperti itu membuat semua kesulitan bagai lenyap digantikan kebahagiaan. Menurutnya pemandangan disana selalu begitu menakjubkan. Hanya yang mau bersusah payah mendakilah yang bisa menikmatinya." katanya bangga. Di puncak gunung ia lupa akan kesusahan mendaki dan segala sakit yang ia rasakan. Di puncak gunung ia melihat sebuah keindahan yang tidak dilihat oleh semua orang. Apalagi saat ia mengalami Tuhan disana, sebuah pengalaman yang mengubahkan hidupnya. Itu sangatlah menginspirasi saya. Disana ia mengalami kebesaran dan kemuliaan Tuhan, merasakan keberadaan Tuhan. Di puncak gunung.
Saya merasa diberkati lewat ceritanya. Sebuah pemikiran pun hadir saat saya merenungkannya, yaitu bahwa kalau kita tidak mendaki gunung, maka kita tidak akan bisa merasakan pengalaman yang luar biasa. Ada hal-hal yang tidak bisa kita lihat, alami dan rasakan kalau kita tidak bersusah payah mendaki, naik lebih tinggi dan sampai di puncak. Tanpa melalui proses berat, jalan berliku dan ketegaran/kegigihan menghadapi kesulitan, kita tidak akan bisa menikmati sebuah pemandangan yang sangat langka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Dalam perjalanan hidup kita akan ada waktu dimana kita harus berhadapan dengan bukit-bukit terjal, jalan berbatu-batu yang akan sangat sakit untuk kita jalani. Kita bisa memilih apakah tetap diam di tempat tanpa mau berjalan melewatinya, atau kita mencoba sedikit lalu mundur dan menyerah. Tetapi seperti apa yang dialami oleh teman saya, hanya yang mampu bertahan dan dengan semangat pantang mundurlah yang akan mampu berdiri tegak di atas bukit merasakan kemuliaan Tuhan. Akan ada saat dimana kekuatan kita tidak lagi mampu mengatasi kesulitan itu agar bisa terus maju. Tapi tetap saja pilihan ada pada kita, apakah kita mau terus melangkah meski berat atau memilih berhenti dan menyerah. Sulit? Tentu. Berat? Pasti. Kabar baiknya, Tuhan siap membantu kita untuk itu. Yang diperlukan hanyalah kemauan dan kesediaan kita, serta sejauh mana kita bisa percaya kepada Tuhan bahwa Dia akan menuntun kita melewati jalan-jalan yang sulit itu untuk akhirnya kelak sampai di puncak gunung.
Mari kita lihat Firman Tuhan dalam kitab Habakuk. "ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (Habakuk 3:19) Ada pula sebuah ayat yang kurang lebih sama bisa kita dapatkan dalam Mazmur. "Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit." (Mazmur 18:34).
Mengandalkan kemampuan kita yang terbatas, cepat atau lambat kita akan menyerah dalam berjuang melewati jalan terjal dan berbatu-batu. Kita mungkin tahu bahwa kita harus terus mendaki, tapi ada kalanya kekuatan kita semata tidak lagi bisa diandalkan.
(bersambung)
=================
"ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku."
Saya bukanlah orang yang suka mendaki gunung. Meski demikian saya suka memandang alam dan selalu kagum kepada orang-orang pencinta alam yang hobi mendaki, dengan segala resikonya bersusah payah untuk bisa mencapai puncak dan disana menikmati keindahan alam yang luar biasa, yang tidak bisa dilihat oleh semua orang. Saya teringat pada seorang teman yang mengalami jamahan Tuhan pada saat berada di puncak. Ia tadinya termasuk orang yang meragukan keberadaan Tuhan. Tapi pada suatu kali saat ia sampai di sebuah puncak gunung, ia memandang sekelilingnya dan terpesona pada apa yang ia lihat. Pemandangan luar biasa indah hadir di sekelilingnya, sejauh mata memandang. Disana ia tiba-tiba menangis dan merasakan jamahan Tuhan seolah memeluknya. Disana Tuhan menyatakan eksistensinya lewat ciptaanNya yang begitu mengagumkan. Sejak saat itu ia tidak lagi meragukan keberadaan Tuhan. Ia sekarang aktif melayani dan kisah ini selalu menjadi bagian favorit yang dengan semangat ia bagikan kepada banyak orang.
Darinya saya mendengar betapa banyak kendala maupun tantangan yang harus dihadapi untuk bisa sampai di puncak gunung. Kalau soal susahnya jalan mendaki di jalan terjal berbatu dengan ransel berat, itu sih biasa. Tantangan menjadi lebih berat karena oksigen seringkali menjadi sangat tipis pada ketinggian tertentu sehingga pendaki bisa merasakan sesak nafas atau gangguan pernafasan lainnya. Belum lagi ancaman cuaca, tersesat, terjatuh, itu bagaikan bertaruh nyawa. Ancaman hewan berbahaya bisa jadi satu dari hal yang harus diwaspadai, belum lagi berbagai tahyul yang bisa meruntuhkan mental.
Mendengar ceritanya saya pun lebih tahu bagaimana beratnya hobi itu. Saya yakin bagi yang melakukan tentu lebih berat lagi daripada apa yang saya dengar. Tapi semua beban itu menjadi sirna begitu sampai ke puncak gunung, katanya. Pemandangan yang luar biasa indah di ketinggian seperti itu membuat semua kesulitan bagai lenyap digantikan kebahagiaan. Menurutnya pemandangan disana selalu begitu menakjubkan. Hanya yang mau bersusah payah mendakilah yang bisa menikmatinya." katanya bangga. Di puncak gunung ia lupa akan kesusahan mendaki dan segala sakit yang ia rasakan. Di puncak gunung ia melihat sebuah keindahan yang tidak dilihat oleh semua orang. Apalagi saat ia mengalami Tuhan disana, sebuah pengalaman yang mengubahkan hidupnya. Itu sangatlah menginspirasi saya. Disana ia mengalami kebesaran dan kemuliaan Tuhan, merasakan keberadaan Tuhan. Di puncak gunung.
Saya merasa diberkati lewat ceritanya. Sebuah pemikiran pun hadir saat saya merenungkannya, yaitu bahwa kalau kita tidak mendaki gunung, maka kita tidak akan bisa merasakan pengalaman yang luar biasa. Ada hal-hal yang tidak bisa kita lihat, alami dan rasakan kalau kita tidak bersusah payah mendaki, naik lebih tinggi dan sampai di puncak. Tanpa melalui proses berat, jalan berliku dan ketegaran/kegigihan menghadapi kesulitan, kita tidak akan bisa menikmati sebuah pemandangan yang sangat langka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Dalam perjalanan hidup kita akan ada waktu dimana kita harus berhadapan dengan bukit-bukit terjal, jalan berbatu-batu yang akan sangat sakit untuk kita jalani. Kita bisa memilih apakah tetap diam di tempat tanpa mau berjalan melewatinya, atau kita mencoba sedikit lalu mundur dan menyerah. Tetapi seperti apa yang dialami oleh teman saya, hanya yang mampu bertahan dan dengan semangat pantang mundurlah yang akan mampu berdiri tegak di atas bukit merasakan kemuliaan Tuhan. Akan ada saat dimana kekuatan kita tidak lagi mampu mengatasi kesulitan itu agar bisa terus maju. Tapi tetap saja pilihan ada pada kita, apakah kita mau terus melangkah meski berat atau memilih berhenti dan menyerah. Sulit? Tentu. Berat? Pasti. Kabar baiknya, Tuhan siap membantu kita untuk itu. Yang diperlukan hanyalah kemauan dan kesediaan kita, serta sejauh mana kita bisa percaya kepada Tuhan bahwa Dia akan menuntun kita melewati jalan-jalan yang sulit itu untuk akhirnya kelak sampai di puncak gunung.
Mari kita lihat Firman Tuhan dalam kitab Habakuk. "ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (Habakuk 3:19) Ada pula sebuah ayat yang kurang lebih sama bisa kita dapatkan dalam Mazmur. "Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit." (Mazmur 18:34).
Mengandalkan kemampuan kita yang terbatas, cepat atau lambat kita akan menyerah dalam berjuang melewati jalan terjal dan berbatu-batu. Kita mungkin tahu bahwa kita harus terus mendaki, tapi ada kalanya kekuatan kita semata tidak lagi bisa diandalkan.
(bersambung)
Tuesday, June 13, 2017
Dot (2)
(sambungan)
Bagaimana Tuhan memandang kita? Di dalam Alkitab dikatakan bahwa kita disebut sebagai ciptaanNya yang sangat istimewa. We are His masterpiece, we are created special. Dia menciptakan kita segambar dengan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), kita terlukis dalam telapak tanganNya dan dalam ruang mataNya (Yesaya 49:16), dia mengetahui segala sesuatu akan kita, bahkan jumlah helai rambut kita pun Dia hitung (Matius 10:30).
Tuhan tidak pernah menciptakan kita asal-asalan apalagi sia-sia. Dan Dia punya rencana yang indah bagi setiap kita. Apa yang Dia rencanakan kepada kita sejak semula adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, seperti yang disebutkan dalam Yeremia 29:11, untuk memberikan kita hari depan yang penuh harapan.
Seperti yang kita baca dalam renungan beberapa hari lalu, sebuah ayat indah pada Mazmur mengatakan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang dahsyat dan ajaib. "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:13-14). Dan yang lebih penting lagi, bukankah Tuhan sampai rela mengorbankan AnakNya yang tunggal demi keselamatan kita, yang dengan jelas disebutkan atas dasar kasihNya yang begitu besar, seperti dalam Yohanes 3:16?
Semua ini adalah gambaran dari betapa istimewanya kita di mata Tuhan, dalam setiap rencanaNya saat menciptakan kita. Kalau nilai kita seperti itu di mata Tuhan, mengapa kita harus ragu untuk mengarahkan pandangan kepadaNya? Dia tahu keseriusan kita, Dia tahu pergumulan kita, Dia tahu sejauh mana kita berusaha dan Dia akan menghargai setiap jerih payah kita yang sungguh-sungguh.
Jika kita menyadari bagaimana Tuhan memandang kita, seharusnya kepadaNyalah kita mengarahkan pandangan mata kita. Dengan melakukan itu maka kita tidak akan gampang jatuh dan kehilangan kepercayaan diri. Seperti ayat bacaan hari ini, selalulah berlindung kepada Allah. Tujukan mata kepada Allah.
Bersama Allah tidak akan pernah mengecewakan, karena bagi Dia, kita selalu sangat berharga. Besar atau kecilnya yang kita lakukan, selama itu kita perbuat dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya, itu akan sangat besar nilainya di mata Tuhan. Kita tidak bisa melarang orang untuk mengeluarkan komentar-komentar negatif atas diri kita, tetapi kita bisa memilih dan memutuskan kemana kita mau memandang. Kalau kita tahu itu, mengapa tidak mengarahkan pandangan kepada Tuhan sekarang juga?
Hindari 'dead pixel' dalam hidup dengan mengarahkan pandangan kepada Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Bagaimana Tuhan memandang kita? Di dalam Alkitab dikatakan bahwa kita disebut sebagai ciptaanNya yang sangat istimewa. We are His masterpiece, we are created special. Dia menciptakan kita segambar dengan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), kita terlukis dalam telapak tanganNya dan dalam ruang mataNya (Yesaya 49:16), dia mengetahui segala sesuatu akan kita, bahkan jumlah helai rambut kita pun Dia hitung (Matius 10:30).
Tuhan tidak pernah menciptakan kita asal-asalan apalagi sia-sia. Dan Dia punya rencana yang indah bagi setiap kita. Apa yang Dia rencanakan kepada kita sejak semula adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, seperti yang disebutkan dalam Yeremia 29:11, untuk memberikan kita hari depan yang penuh harapan.
Seperti yang kita baca dalam renungan beberapa hari lalu, sebuah ayat indah pada Mazmur mengatakan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang dahsyat dan ajaib. "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:13-14). Dan yang lebih penting lagi, bukankah Tuhan sampai rela mengorbankan AnakNya yang tunggal demi keselamatan kita, yang dengan jelas disebutkan atas dasar kasihNya yang begitu besar, seperti dalam Yohanes 3:16?
Semua ini adalah gambaran dari betapa istimewanya kita di mata Tuhan, dalam setiap rencanaNya saat menciptakan kita. Kalau nilai kita seperti itu di mata Tuhan, mengapa kita harus ragu untuk mengarahkan pandangan kepadaNya? Dia tahu keseriusan kita, Dia tahu pergumulan kita, Dia tahu sejauh mana kita berusaha dan Dia akan menghargai setiap jerih payah kita yang sungguh-sungguh.
Jika kita menyadari bagaimana Tuhan memandang kita, seharusnya kepadaNyalah kita mengarahkan pandangan mata kita. Dengan melakukan itu maka kita tidak akan gampang jatuh dan kehilangan kepercayaan diri. Seperti ayat bacaan hari ini, selalulah berlindung kepada Allah. Tujukan mata kepada Allah.
Bersama Allah tidak akan pernah mengecewakan, karena bagi Dia, kita selalu sangat berharga. Besar atau kecilnya yang kita lakukan, selama itu kita perbuat dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya, itu akan sangat besar nilainya di mata Tuhan. Kita tidak bisa melarang orang untuk mengeluarkan komentar-komentar negatif atas diri kita, tetapi kita bisa memilih dan memutuskan kemana kita mau memandang. Kalau kita tahu itu, mengapa tidak mengarahkan pandangan kepada Tuhan sekarang juga?
Hindari 'dead pixel' dalam hidup dengan mengarahkan pandangan kepada Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, June 12, 2017
Dot (1)
Ayat bacaan: Mazmur 141:8
=====================
"Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!"
Pernahkah anda mendengar istilah dead pixel? Dead pixel, atau defective pixel atau lebih singkatnya sering disebut dengan 'dot' saja adalah ketika satu titik dari ribuan titik lainnya yang membentuk gambar di layar anda 'tidak nyambung' dengan lainnya. Biasanya ada tiga jenis dead pixel yang terjadi, yaitu titik putih, titik hitam, atau salah satu titik antara merah, hijau atu biru (RGB) yang nyangkut warnanya. Apa yang menyebabkan dead pixel muncul ada bermacam-macam. Selain memang cacat dari pabrik, yang paling sering adalah kalau screen kita terbentur keras. Kurang hati-hati saat membersihkan, terus menerus dioperasikan, terkena air panas juga bisa menjadi penyebab matinya pixel ini. Hanya satu titik yang rusak atau mati, tapi satu diantara ribuan itu bisa sangat mengganggu mata. Sebuah dead pixel biasanya sulit untuk diperbaiki. Opsi yang tersisa hanyalah mengganti keseluruhan screen, karenanya yang paling bijaksana adalah menjaga dengan baik agar layar jangan sampai mengalami masalah dengan pixelnya.
Kita tidaklah terbuat dari pixel seperti halnya gambar atau layar digital. Tapi kita bisa mengalami situasi-situasi yang bisa menimbulkan dead pixel pada perjalanan hidup kita. Maksud saya, itu bisa terjadi saat kita mengalami situasi-situasi yang meruntuhkan mental, percaya diri atau bahkan bisa jadi ketika ada hal-hal yang membentur atau menimbulkan goncangan pada iman kita. Ada orang-orang yang sulit maju karena gambar dirinya rusak. Sejak kecil kerap dibanding-bandingkan terhadap saudaranya yang lain, sering dikatakan bodoh, direndahkan di depan orang lain dan berbagai macam perilaku tidak adil lainnya dari orang tua. Ada juga yang sekian lama ditekan istri sehingga tidak lagi punya semangat juang, atau sebaliknya istri yang selalu takut ketika bertemu orang lain karena sering mendapat tindak kekerasan dari suaminya. Sudah mati-matian melakukan sesuatu tapi tidak dianggap, disalah-artikan, direndahkan, diejek dan sebagainya.
Semua ini bagaikan 'kematian-kematian' pada 'pixel-pixel' pembentuk diri kita yang jika dibiarkan akan membuat kita tidak bisa maju, tidak bertumbuh, tidak berani mengambil langkah atau inisitaif, potensi kita tidak keluar, gambar diri tidak utuh dan akibatnya gagal memenuhi rencana Tuhan dalam hidup. Semakin banyak 'pixel mati' dalam hidup kita, semakin rusak pula gambar diri kita, yang akan berpengaruh pada jalannya hidup dan masa depan kita.
Masalahnya, kita setiap hari bersinggungan dengan orang lain dan seringkali sulit menghindar dari orang-orang yang baik sengaja ataupun tidak membuat mental kita 'down' baik lewat ucapan maupun perbuatan. Tidak masalah kalau kita tidak punya masalah dengan gambar diri, tidak masalah kalau kita sudah kuat dalam iman dan terbiasa mengaplikasikan kebenaran Firman dalam hidup. Tapi bagaimana kalau kita belum sampai pada tahap itu? Bagaimana kalau saat kita bersinggungan dengan orang-orang atau situasi sulit kita sedang lengah atau sedang punya masalah dengan ketahanan kita? Itu bisa mengakibatkan satu atau lebih 'pixel' mati. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan?
Alkitab sudah memberi kuncinya sejak dahulu kala. Perhatikan kata Daud berikut ini: "Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!" (Mazmur 141:8). Daud tahu bahwa situasi tidak akan pernah menjadi lebih baik jika ia terus mengarahkan pandangan matanya kepada masalah, pada situasi atau pada hubungannya dengan orang lain. Keadaan tidak akan menjadi lebih baik jika kita menelan ucapan-ucapan menjatuhkan dari orang lain atau ketika kita menghadapi ancaman dan sebagainya. Yang ada justru sebaliknya, kita akan rugi sendiri. Mental jatuh, hilang percaya diri, hilang semangat, bahkan sukacita dan kedamaian dalam hidup kita pun terampas.
Semua itu bisa dihindarkan kalau kita mengarahkan pandangan mata kita kepada arah yang seharusnya, yaitu kepada Tuhan, yang tidak lain adalah Kasih itu sendiri. Pencipta kita sangat mengasihi kita dan Dia sudah memberi segala talenta dan keperluan lainnya sejak semula pada kita masing-masing agar bisa menggenapi rencanaNya yang indah atas kita. Dia tidak akan pernah merendahkan setiap usaha yang anda lakukan demi namaNya, tak peduli apakah itu dihargai oleh manusia atau tidak. Dia justru akan memberkati usaha setiap anak-anakNya yang telah berupaya dengan sungguh-sungguh memberi yang terbaik, Dia akan menghargai apapun yang kita lakukan dalam namaNya dengan sungguh-sungguh dengan sangat tinggi. Dia akan selalu siap melindungi kita yang berlindung kepadaNya. KepadaNya-lah mata kita seharusnya tertuju dan bukan kepada orang-orang yang menjatuhkan kita.
(bersambung)
=====================
"Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!"
Pernahkah anda mendengar istilah dead pixel? Dead pixel, atau defective pixel atau lebih singkatnya sering disebut dengan 'dot' saja adalah ketika satu titik dari ribuan titik lainnya yang membentuk gambar di layar anda 'tidak nyambung' dengan lainnya. Biasanya ada tiga jenis dead pixel yang terjadi, yaitu titik putih, titik hitam, atau salah satu titik antara merah, hijau atu biru (RGB) yang nyangkut warnanya. Apa yang menyebabkan dead pixel muncul ada bermacam-macam. Selain memang cacat dari pabrik, yang paling sering adalah kalau screen kita terbentur keras. Kurang hati-hati saat membersihkan, terus menerus dioperasikan, terkena air panas juga bisa menjadi penyebab matinya pixel ini. Hanya satu titik yang rusak atau mati, tapi satu diantara ribuan itu bisa sangat mengganggu mata. Sebuah dead pixel biasanya sulit untuk diperbaiki. Opsi yang tersisa hanyalah mengganti keseluruhan screen, karenanya yang paling bijaksana adalah menjaga dengan baik agar layar jangan sampai mengalami masalah dengan pixelnya.
Kita tidaklah terbuat dari pixel seperti halnya gambar atau layar digital. Tapi kita bisa mengalami situasi-situasi yang bisa menimbulkan dead pixel pada perjalanan hidup kita. Maksud saya, itu bisa terjadi saat kita mengalami situasi-situasi yang meruntuhkan mental, percaya diri atau bahkan bisa jadi ketika ada hal-hal yang membentur atau menimbulkan goncangan pada iman kita. Ada orang-orang yang sulit maju karena gambar dirinya rusak. Sejak kecil kerap dibanding-bandingkan terhadap saudaranya yang lain, sering dikatakan bodoh, direndahkan di depan orang lain dan berbagai macam perilaku tidak adil lainnya dari orang tua. Ada juga yang sekian lama ditekan istri sehingga tidak lagi punya semangat juang, atau sebaliknya istri yang selalu takut ketika bertemu orang lain karena sering mendapat tindak kekerasan dari suaminya. Sudah mati-matian melakukan sesuatu tapi tidak dianggap, disalah-artikan, direndahkan, diejek dan sebagainya.
Semua ini bagaikan 'kematian-kematian' pada 'pixel-pixel' pembentuk diri kita yang jika dibiarkan akan membuat kita tidak bisa maju, tidak bertumbuh, tidak berani mengambil langkah atau inisitaif, potensi kita tidak keluar, gambar diri tidak utuh dan akibatnya gagal memenuhi rencana Tuhan dalam hidup. Semakin banyak 'pixel mati' dalam hidup kita, semakin rusak pula gambar diri kita, yang akan berpengaruh pada jalannya hidup dan masa depan kita.
Masalahnya, kita setiap hari bersinggungan dengan orang lain dan seringkali sulit menghindar dari orang-orang yang baik sengaja ataupun tidak membuat mental kita 'down' baik lewat ucapan maupun perbuatan. Tidak masalah kalau kita tidak punya masalah dengan gambar diri, tidak masalah kalau kita sudah kuat dalam iman dan terbiasa mengaplikasikan kebenaran Firman dalam hidup. Tapi bagaimana kalau kita belum sampai pada tahap itu? Bagaimana kalau saat kita bersinggungan dengan orang-orang atau situasi sulit kita sedang lengah atau sedang punya masalah dengan ketahanan kita? Itu bisa mengakibatkan satu atau lebih 'pixel' mati. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan?
Alkitab sudah memberi kuncinya sejak dahulu kala. Perhatikan kata Daud berikut ini: "Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!" (Mazmur 141:8). Daud tahu bahwa situasi tidak akan pernah menjadi lebih baik jika ia terus mengarahkan pandangan matanya kepada masalah, pada situasi atau pada hubungannya dengan orang lain. Keadaan tidak akan menjadi lebih baik jika kita menelan ucapan-ucapan menjatuhkan dari orang lain atau ketika kita menghadapi ancaman dan sebagainya. Yang ada justru sebaliknya, kita akan rugi sendiri. Mental jatuh, hilang percaya diri, hilang semangat, bahkan sukacita dan kedamaian dalam hidup kita pun terampas.
Semua itu bisa dihindarkan kalau kita mengarahkan pandangan mata kita kepada arah yang seharusnya, yaitu kepada Tuhan, yang tidak lain adalah Kasih itu sendiri. Pencipta kita sangat mengasihi kita dan Dia sudah memberi segala talenta dan keperluan lainnya sejak semula pada kita masing-masing agar bisa menggenapi rencanaNya yang indah atas kita. Dia tidak akan pernah merendahkan setiap usaha yang anda lakukan demi namaNya, tak peduli apakah itu dihargai oleh manusia atau tidak. Dia justru akan memberkati usaha setiap anak-anakNya yang telah berupaya dengan sungguh-sungguh memberi yang terbaik, Dia akan menghargai apapun yang kita lakukan dalam namaNya dengan sungguh-sungguh dengan sangat tinggi. Dia akan selalu siap melindungi kita yang berlindung kepadaNya. KepadaNya-lah mata kita seharusnya tertuju dan bukan kepada orang-orang yang menjatuhkan kita.
(bersambung)
Sunday, June 11, 2017
Tuhan Ada
Ayat bacaan: Keluaran 3:14 (BIS)
==========================
"Kata Allah, "Aku adalah AKU ADA. Inilah yang harus kaukatakan kepada bangsa Israel, Dia yang disebut AKU ADA, sudah mengutus saya kepada kamu."
Saya termasuk beruntung memiliki kedua orang tua yang peduli. Saat saya mulai bersekolah, saya tahu bahwa saya selalu bisa mengandalkan orang tua saat saya mendapat kesulitan memahami pelajaran. Sesibuk-sibuknya orang tua saya, mereka selalu punya waktu untuk membantu saya memahami apa saja yang saya tidak mengerti. Mereka mengajarkan saya berhitung dengan cara yang paling sederhana yang mudah dimengerti oleh anak kecil. Mereka membantu saya belajar sejarah dengan cara naratif. Mereka mencarikan buku tambahan untuk belajar, yang pada waktu itu hanya ada dalam bahasa Inggris sehingga mereka harus siap menterjemahkan agar saya bisa mengerti. Mereka pula yang mengajarkan saya beberapa bahasa asing, yang ternyata hari ini sangatlah saya perlukan dalam karir.Jadi saat saya kesulitan dalam belajar, saya selalu bisa mengandalkan mereka. Saya tahu bahwa saya hanya tinggal bertanya kepada mereka, dan saya akan mendapatkan jawaban. Mereka ada buat saya, dan keberadaan mereka nyata.
Demikianlah kehidupan kita yang tidak pernah bisa sendiri. Kita selalu butuh orang-orang yang kita tahu peduli terhadap kita, dan kita tahu bahwa kita akan baik-baik saja jika mereka ada di dekat kita. Bayangkan bagaimana hidup ini seandainya kita hanya sendirian menghadapi segudang masalah. Peran orang-orang terdekat kita tentu sangat penting, dan itu tentu baik. Sayangnya kita seringkali lupa tentang keberadaan Tuhan. Kita sering menjadikanNya sebagai tembok pertahanan terakhir, atau malah tidak mengandalkannya sama sekali. Tidaklah heran jika ada banyak orang yang kemudian menyerah ketika tidak ada siapapun lagi di dunia ini yang bisa diandalkan. Mereka kemudian kehilangan harapan dan sebagian mengambil jalan pintas yang keliru. Mereka lupa bahwa di atas segalanya ada Tuhan yang berkuasa penuh. Mereka lupa bahwa Tuhan itu ada. Sungguh ada.
Ayat bacaan hari ini menggambarkan dengan jelas tentang keberadaan Tuhan yang harus selalu kita ingat. "Kata Allah, "Aku adalah AKU ADA. Inilah yang harus kaukatakan kepada bangsa Israel, Dia yang disebut AKU ADA, sudah mengutus saya kepada kamu." (Keluaran 3:14 BIS). Tuhan menyatakan ini untuk menanggapi timbulnya keraguan Musa ketika ia ditugaskan untuk memimpin bangsa Israel untuk keluar dari perbudakan di Mesir menuju tanah terjanji Kanaan. Siapa Tuhan itu? Kepada Musa Tuhan mengatakan: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah." (ay 6). Tuhan yang memanggil Musa adalah Tuhan yang sama yang telah menunjukkan kuasaNya yang tak terbatas kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Mereka telah melihat sendiri dan membuktikan kemuliaanNya, kesetiaanNya dalam menepati janji, dan seharusnya Musa tahu itu sejak awal dan tidak perlu lagi terus bertanya. Tapi apa yang terjadi pada Musa sebenarnya merupakan gambaran kita hari ini, manusia yang selalu saja diliputi keraguan akan eksistensi dan kuasa Tuhan terlebih pada saat kita sedang tertimpa beban berat.
Ketika kita mulai lemah, patah semangat dan kehilangan harapan, kita seharusnya segera mengingatkan diri kita bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Tuhan di jaman Abraham adalah Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kuasa, di jaman Musa Tuhan masih menunjukkan bagaimana kuasaNya menyertai Musa secara nyata dan luar biasa, dan di jaman sekarang pun Tuhan tetaplah Pribadi yang sama. Dia tetap sama, baik dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. (Ibrani 13:8). Di saat kita menghadapi pergumulan, kita akan sadar bahwa ternyata ada banyak ruang kosong dalam diri kita yang tidak akan pernah bisa diisi oleh apapun selain Tuhan. Kabar baiknya, Tuhan selalu rindu untuk memenuhi kita. Tuhan tidak pernah terlalu jauh untuk dijangkau, Dia selalu menyediakan waktuNya untuk siapapun yang bersungguh-sungguh mencariNya.
Yesus mengatakan "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b). Senantiasa sampai akhir zaman berarti selalu sampai selamanya. Dan itu sudah merupakan janji Tuhan. Bahkan dalam keadaan tersulit dalam hidup kita pun kita perlu tahu bahwa disana Tuhan tetap ada. Lewat Daud kita tahu itu. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4). Dia tidak akan pernah meninggalkan diri kita sendirian. Hal itu bisa kita baca dalam Ibrani. "Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b).
Kalau kita percaya kepada kebenaran Firman Tuhan dalam Alkitab, mengapa kita harus ragu dan takut menghadapi persoalan apapun? Tuhan jelas berada di atas segalanya, termasuk di atas permasalahan kita. Bagi Dia tidak pernah ada kata tidak mungkin, tidak ada kata mustahil. Dia mengasihi kita, Dia mampu memulihkan kita, melepaskan kita dari belenggu masalah, menyembuhkan kita, membimbing kita dan sebagainya. Dia jelas punya kemampuan yang ajaib untuk memberikan apa yang kita butuhkan. Tidak hanya menyertai kita senantiasa, tapi Dia juga sangat peduli akan kehidupan kita, terlebih kepada keselamatan kita.
Tuhan benar ada. KasihNya nyata dan tidak pernah berkurang. Dia tetaplah Tuhan yang sungguh mengasihi kita dan tidak akan mengecewakan kita. Dia Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Dia Allah Musa, Dia Allah yang sanggup membuat kemustahilan menjadi kenyataan bagi ratusan tokoh Alkitab, bagi begitu banyak orang yang telah mengalami kesaksian mengalami Tuhan secara langsung dalam hidupnya, dan jika kepada mereka semua Tuhan mampu menyatakan kemuliaanNya, kepada kita pun tentu sama. Saya tentu tidak akan mau menghabiskan waktu membagi Firman Tuhan setiap hari selama lebih dari 10 tahun jika saya tidak meyakini eksistensi Tuhan dan kebenaran FirmanNya yang sudah sangat teruji lewat pengalaman saya sendiri.
Jika keberadaan Tuhan bisa dengan sangat nyata terbukti, jika kita tahu bahwa Dia benar ada, mengapa harus takut? Apabila ada diantara teman-teman yang merasa kuatir atau takut hari ini, Tuhan mengingatkan anda dengan berkata "AKU ADA", dan Dia sungguh memperhatikan diri anda. Di dalam beban seberat apapun, bersyukurlah hari ini karena Dia ada.
Tuhan benar ada dan Dia mengasihi anda
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
==========================
"Kata Allah, "Aku adalah AKU ADA. Inilah yang harus kaukatakan kepada bangsa Israel, Dia yang disebut AKU ADA, sudah mengutus saya kepada kamu."
Saya termasuk beruntung memiliki kedua orang tua yang peduli. Saat saya mulai bersekolah, saya tahu bahwa saya selalu bisa mengandalkan orang tua saat saya mendapat kesulitan memahami pelajaran. Sesibuk-sibuknya orang tua saya, mereka selalu punya waktu untuk membantu saya memahami apa saja yang saya tidak mengerti. Mereka mengajarkan saya berhitung dengan cara yang paling sederhana yang mudah dimengerti oleh anak kecil. Mereka membantu saya belajar sejarah dengan cara naratif. Mereka mencarikan buku tambahan untuk belajar, yang pada waktu itu hanya ada dalam bahasa Inggris sehingga mereka harus siap menterjemahkan agar saya bisa mengerti. Mereka pula yang mengajarkan saya beberapa bahasa asing, yang ternyata hari ini sangatlah saya perlukan dalam karir.Jadi saat saya kesulitan dalam belajar, saya selalu bisa mengandalkan mereka. Saya tahu bahwa saya hanya tinggal bertanya kepada mereka, dan saya akan mendapatkan jawaban. Mereka ada buat saya, dan keberadaan mereka nyata.
Demikianlah kehidupan kita yang tidak pernah bisa sendiri. Kita selalu butuh orang-orang yang kita tahu peduli terhadap kita, dan kita tahu bahwa kita akan baik-baik saja jika mereka ada di dekat kita. Bayangkan bagaimana hidup ini seandainya kita hanya sendirian menghadapi segudang masalah. Peran orang-orang terdekat kita tentu sangat penting, dan itu tentu baik. Sayangnya kita seringkali lupa tentang keberadaan Tuhan. Kita sering menjadikanNya sebagai tembok pertahanan terakhir, atau malah tidak mengandalkannya sama sekali. Tidaklah heran jika ada banyak orang yang kemudian menyerah ketika tidak ada siapapun lagi di dunia ini yang bisa diandalkan. Mereka kemudian kehilangan harapan dan sebagian mengambil jalan pintas yang keliru. Mereka lupa bahwa di atas segalanya ada Tuhan yang berkuasa penuh. Mereka lupa bahwa Tuhan itu ada. Sungguh ada.
Ayat bacaan hari ini menggambarkan dengan jelas tentang keberadaan Tuhan yang harus selalu kita ingat. "Kata Allah, "Aku adalah AKU ADA. Inilah yang harus kaukatakan kepada bangsa Israel, Dia yang disebut AKU ADA, sudah mengutus saya kepada kamu." (Keluaran 3:14 BIS). Tuhan menyatakan ini untuk menanggapi timbulnya keraguan Musa ketika ia ditugaskan untuk memimpin bangsa Israel untuk keluar dari perbudakan di Mesir menuju tanah terjanji Kanaan. Siapa Tuhan itu? Kepada Musa Tuhan mengatakan: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah." (ay 6). Tuhan yang memanggil Musa adalah Tuhan yang sama yang telah menunjukkan kuasaNya yang tak terbatas kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Mereka telah melihat sendiri dan membuktikan kemuliaanNya, kesetiaanNya dalam menepati janji, dan seharusnya Musa tahu itu sejak awal dan tidak perlu lagi terus bertanya. Tapi apa yang terjadi pada Musa sebenarnya merupakan gambaran kita hari ini, manusia yang selalu saja diliputi keraguan akan eksistensi dan kuasa Tuhan terlebih pada saat kita sedang tertimpa beban berat.
Ketika kita mulai lemah, patah semangat dan kehilangan harapan, kita seharusnya segera mengingatkan diri kita bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Tuhan di jaman Abraham adalah Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kuasa, di jaman Musa Tuhan masih menunjukkan bagaimana kuasaNya menyertai Musa secara nyata dan luar biasa, dan di jaman sekarang pun Tuhan tetaplah Pribadi yang sama. Dia tetap sama, baik dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. (Ibrani 13:8). Di saat kita menghadapi pergumulan, kita akan sadar bahwa ternyata ada banyak ruang kosong dalam diri kita yang tidak akan pernah bisa diisi oleh apapun selain Tuhan. Kabar baiknya, Tuhan selalu rindu untuk memenuhi kita. Tuhan tidak pernah terlalu jauh untuk dijangkau, Dia selalu menyediakan waktuNya untuk siapapun yang bersungguh-sungguh mencariNya.
Yesus mengatakan "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b). Senantiasa sampai akhir zaman berarti selalu sampai selamanya. Dan itu sudah merupakan janji Tuhan. Bahkan dalam keadaan tersulit dalam hidup kita pun kita perlu tahu bahwa disana Tuhan tetap ada. Lewat Daud kita tahu itu. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4). Dia tidak akan pernah meninggalkan diri kita sendirian. Hal itu bisa kita baca dalam Ibrani. "Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b).
Kalau kita percaya kepada kebenaran Firman Tuhan dalam Alkitab, mengapa kita harus ragu dan takut menghadapi persoalan apapun? Tuhan jelas berada di atas segalanya, termasuk di atas permasalahan kita. Bagi Dia tidak pernah ada kata tidak mungkin, tidak ada kata mustahil. Dia mengasihi kita, Dia mampu memulihkan kita, melepaskan kita dari belenggu masalah, menyembuhkan kita, membimbing kita dan sebagainya. Dia jelas punya kemampuan yang ajaib untuk memberikan apa yang kita butuhkan. Tidak hanya menyertai kita senantiasa, tapi Dia juga sangat peduli akan kehidupan kita, terlebih kepada keselamatan kita.
Tuhan benar ada. KasihNya nyata dan tidak pernah berkurang. Dia tetaplah Tuhan yang sungguh mengasihi kita dan tidak akan mengecewakan kita. Dia Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Dia Allah Musa, Dia Allah yang sanggup membuat kemustahilan menjadi kenyataan bagi ratusan tokoh Alkitab, bagi begitu banyak orang yang telah mengalami kesaksian mengalami Tuhan secara langsung dalam hidupnya, dan jika kepada mereka semua Tuhan mampu menyatakan kemuliaanNya, kepada kita pun tentu sama. Saya tentu tidak akan mau menghabiskan waktu membagi Firman Tuhan setiap hari selama lebih dari 10 tahun jika saya tidak meyakini eksistensi Tuhan dan kebenaran FirmanNya yang sudah sangat teruji lewat pengalaman saya sendiri.
Jika keberadaan Tuhan bisa dengan sangat nyata terbukti, jika kita tahu bahwa Dia benar ada, mengapa harus takut? Apabila ada diantara teman-teman yang merasa kuatir atau takut hari ini, Tuhan mengingatkan anda dengan berkata "AKU ADA", dan Dia sungguh memperhatikan diri anda. Di dalam beban seberat apapun, bersyukurlah hari ini karena Dia ada.
Tuhan benar ada dan Dia mengasihi anda
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, June 10, 2017
Dahsyat dan Ajaib (2)
(sambungan)
Ada banyak orang yang menganggap bahwa gambar dan rupa itu artinya kita punya kemiripan wajah dan struktur tubuh dengan Tuhan, tapi sebenarnya yang dimaksudkan disini adalah lebih kepada kepribadian kita yang selaras denganNya. Tuhan menciptakan kita menurut gambarNya sendiri agar kita dapat mengenal dan menanggapiNya. Dia membangun unsur-unsur dalam kepribadian kita yang selaras dengan kepribadianNya. Kita mempunyai pemikiran untuk mengerti dan menanggapi pemikiranNya, we have emotions to grab His emotions, kita juga punya kehendak untuk menanggapi kehendakNya. Jika tidak, Tuhan tidak akan merasa perlu untuk membuat kita menjadi mahluk mulia, ciptaanNya yang teristimewa lewat rupa dan gambarNya sendiri.
Tuhan bahkan membuka diri untuk dikenal, dan menawarkan kepada kita kemampuan untuk bersahabat akrab atau bergaul karib denganNya. Kalau kita menyadari ini, apakah pantas kita mengeluhkan kekurangan kita dan tidak mensyukuri betapa istimewanya, betapa dahsyat dan ajaibnya kita diciptakan?
Apa yang Tuhan pikirkan ketika Dia menciptakan kita secara istimewa dan menjanjikan begitu banyak hal yang indah penuh berkat bagi kita? Semua alasan Tuhan mungkin sulit untuk bisa kita pahami, tetapi setidaknya maukah kita menyadari betul bahwa kita diciptakan secara khusus sebagai ciptaanNya yang teristimewa dan berhenti hanya memandang kekurangan-kekurangan kita untuk kemudian fokus dan bersyukur kepada apa kelebihan yang ditanamkan Allah sejak semula ketika Dia menciptakan kita? Jika kita menyadari hal ini dengan baik, kita akan mampu menyadari kebaikan Tuhan dalam diri kita, dan disaat itulah kita baru bisa menggali potensi-potensi yang ada untuk kemudian dipergunakan dalam segala hal yang memuliakan Allah.
Daud melihat segala yang indah dalam dirinya sebagaimana ia diciptakan Tuhan. Ia menggambarkannya sebagai "dahsyat dan ajaib." Bagaimana kita memandang diri kita hari ini? Apakah jiwa kita sudah benar-benar menyadari betapa dahsyat dan ajaibnya, betapa istimewanya kita, atau jiwa kita masih setengah sadar atau jangan-jangan sama sekali tidak sadar? Yang pasti, Tuhan sangat menganggap kita istimewa. Begitu istimewanya sehingga keselamatan pun Dia berikan kepada kita atas dasar kedahsyatan kasihNya lewat Kristus. Marilah kita merubah cara pandang kita terhadap diri sendiri.
Sadarilah bahwa siapapun anda, anda adalah ciptaanNya yang istimewa, indah, mulia dan berharga, karya orisinil Tuhan, Sang Maestro Yang Agung. Bersyukurlah atas siapa diri anda hari ini dan segala yang Tuhan sudah berikan pada anda.
Pastikan jiwa kita menyadari bahwa kita adalah ciptaanNya yang dahsyat dan ajaib
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Ada banyak orang yang menganggap bahwa gambar dan rupa itu artinya kita punya kemiripan wajah dan struktur tubuh dengan Tuhan, tapi sebenarnya yang dimaksudkan disini adalah lebih kepada kepribadian kita yang selaras denganNya. Tuhan menciptakan kita menurut gambarNya sendiri agar kita dapat mengenal dan menanggapiNya. Dia membangun unsur-unsur dalam kepribadian kita yang selaras dengan kepribadianNya. Kita mempunyai pemikiran untuk mengerti dan menanggapi pemikiranNya, we have emotions to grab His emotions, kita juga punya kehendak untuk menanggapi kehendakNya. Jika tidak, Tuhan tidak akan merasa perlu untuk membuat kita menjadi mahluk mulia, ciptaanNya yang teristimewa lewat rupa dan gambarNya sendiri.
Tuhan bahkan membuka diri untuk dikenal, dan menawarkan kepada kita kemampuan untuk bersahabat akrab atau bergaul karib denganNya. Kalau kita menyadari ini, apakah pantas kita mengeluhkan kekurangan kita dan tidak mensyukuri betapa istimewanya, betapa dahsyat dan ajaibnya kita diciptakan?
Apa yang Tuhan pikirkan ketika Dia menciptakan kita secara istimewa dan menjanjikan begitu banyak hal yang indah penuh berkat bagi kita? Semua alasan Tuhan mungkin sulit untuk bisa kita pahami, tetapi setidaknya maukah kita menyadari betul bahwa kita diciptakan secara khusus sebagai ciptaanNya yang teristimewa dan berhenti hanya memandang kekurangan-kekurangan kita untuk kemudian fokus dan bersyukur kepada apa kelebihan yang ditanamkan Allah sejak semula ketika Dia menciptakan kita? Jika kita menyadari hal ini dengan baik, kita akan mampu menyadari kebaikan Tuhan dalam diri kita, dan disaat itulah kita baru bisa menggali potensi-potensi yang ada untuk kemudian dipergunakan dalam segala hal yang memuliakan Allah.
Daud melihat segala yang indah dalam dirinya sebagaimana ia diciptakan Tuhan. Ia menggambarkannya sebagai "dahsyat dan ajaib." Bagaimana kita memandang diri kita hari ini? Apakah jiwa kita sudah benar-benar menyadari betapa dahsyat dan ajaibnya, betapa istimewanya kita, atau jiwa kita masih setengah sadar atau jangan-jangan sama sekali tidak sadar? Yang pasti, Tuhan sangat menganggap kita istimewa. Begitu istimewanya sehingga keselamatan pun Dia berikan kepada kita atas dasar kedahsyatan kasihNya lewat Kristus. Marilah kita merubah cara pandang kita terhadap diri sendiri.
Sadarilah bahwa siapapun anda, anda adalah ciptaanNya yang istimewa, indah, mulia dan berharga, karya orisinil Tuhan, Sang Maestro Yang Agung. Bersyukurlah atas siapa diri anda hari ini dan segala yang Tuhan sudah berikan pada anda.
Pastikan jiwa kita menyadari bahwa kita adalah ciptaanNya yang dahsyat dan ajaib
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Friday, June 9, 2017
Dahsyat dan Ajaib (1)
Ayat bacaan: Mazmur 139:14
====================
"Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya."
Bagaimana anda menilai diri anda saat ini? Puji Tuhan jika anda melihat hal-hal baik yang Tuhan sediakan bagi anda. Kesehatan, kemampuan berpikir dan bertindak atau bekerja, kelengkapan organ tubuh, bakat, talenta dan sebagainya. Ada banyak orang yang lebih tertarik untuk melihat segala kekurangan mereka ketimbang memperhatikan kelebihan atau segala yang baik yang mereka punya. Lebih suka mengeluhkan kekuangan dibanding bersyukur akan apa yang ada. Bukankah akan jauh lebih indah apabila ia berkata: "Puji Tuhan, aku masih diberi kesehatan dan kekuatan, ketimbang mengeluh? Hidung terlalu pesek, pipi kurang montok, alis, kelopak mata, rambut, warna kulit, ada banyak yang bisa dikeluhkan.
Padahal apa yang menurut kita kurang baik belum tentu sama di mata orang. Ketika orang di rata-rata negara Asia ingin kulit yang putih, orang di Eropa timur iri melihat warna kulit kita. Kita sibuk memakai segala sabun dan cream pemutih, mereka berusaha berjemur agar kulitnya lebih gelap. Bahkan kalau sanggup membeli mesin tanning supaya bisa tetap menggelapkan kulit meskipun sedang tidak ada matahari saat musim dingin. Kita merasa hidung kurang mancung, mereka ingin hidungnya jangan terlalu mancung agar tidak mudah patah saat beraktivitas, seperti yang kerap terjadi pada pemain bola saat bertanding. Kita merasa kurang tinggi, mereka merasa terlalu tinggi sehingga harus menunduk kalau memasuki area yang tidak sepadan dengan tinggi mereka. Kesulitan kita untuk bersyukur bertambah parah dengan gelontoran iklan-iklan yang semakin lama semakin merusak paradigma dan cakrawala berpikir kita hanya demi produknya laku di pasaran. Dan serangan itu kita hadapi tiap hari. Maka semakin lama semakin sulit bagi kita untuk memandang diri kita sebagai ciptaan Tuhan yang indah, yang istimewa.
Pada suatu kali lewat perenungannya Daud menyimpulkan begini: "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:14). Saya tidak tahu apakah saat Daud berkata demikian ia sedang becermin atau tidak, tapi satu hal yang pasti, Daud sadar betul bahwa dirinya bukanlah sebuah hasil kebetulan saja. Dia tidak diciptakan asal-asalan tanpa makna, dia tidak dibuat tanpa tujuan. Daud tahu pasti dirinya adalah hasil mahakarya Tuhan yang indah, dan semua itu dahsyat dan ajaib adanya. Daud juga tahu bahwa hati dan pikirannya, jiwanya bisa lupa akan hal itu. Maka Daud pun mengingatkan jiwanya agar menyadari sepenuhnya akan hal itu.
Mazmur 139:14 ini perlu diingat dan direnungkan baik-baik terutama pada saat kita tengah menghadapi ketidakpercayaan diri. Tidakkah rasanya sangat melegakan jika kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah hasil dari sebuah kesalahan, bukan tidak sengaja ada, bukan tanpa rencana dan bukan pula asal jadi? Kita tidak diciptakan sebagai pecundang tanpa arah tujuan. Kita bukanlah dibuat diciptakan seadanya dengan setengah hati, tetapi Tuhan justru mencurahkan segala yang terindah dalam menciptakan kita. Layaknya Seniman Agung Dia menciptakan manusia secara sangat istimewa. Tidak seperti ciptaan lainnya, kita diciptakan dengan gambar dan rupa Allah sendiri (Kejadian 1:26), mendapatkan nafas hidup langsung dari hembusan Allah (2:7), tetap berada dalam telapak tangan dan ruang mataNya (Yesaya 49:16), dan sungguh semua itu memang benar-benar dahsyat dan ajaib. Bagi Daud, sulit rasanya untuk bisa memahami jalan pikiran Tuhan ketika Dia membentuk buah pinggang dan menenun kita sejak dalam kandungan. (Mazmur 139:13). Ia pun berseru: "Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!" (ay 17).
Dalam kitab Kejadian Tuhan menciptakan kita seperti rupa dan gambarNya sendiri seperti yang bisa kita baca di awal penciptaan. "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita... Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia" (Kejadian 1:26-27). Itu salah satu bukti kuat bahwa Tuhan menciptakan kita dengan sangat istimewa, lebih dari ciptaanNya yang lain.
(bersambung)
====================
"Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya."
Bagaimana anda menilai diri anda saat ini? Puji Tuhan jika anda melihat hal-hal baik yang Tuhan sediakan bagi anda. Kesehatan, kemampuan berpikir dan bertindak atau bekerja, kelengkapan organ tubuh, bakat, talenta dan sebagainya. Ada banyak orang yang lebih tertarik untuk melihat segala kekurangan mereka ketimbang memperhatikan kelebihan atau segala yang baik yang mereka punya. Lebih suka mengeluhkan kekuangan dibanding bersyukur akan apa yang ada. Bukankah akan jauh lebih indah apabila ia berkata: "Puji Tuhan, aku masih diberi kesehatan dan kekuatan, ketimbang mengeluh? Hidung terlalu pesek, pipi kurang montok, alis, kelopak mata, rambut, warna kulit, ada banyak yang bisa dikeluhkan.
Padahal apa yang menurut kita kurang baik belum tentu sama di mata orang. Ketika orang di rata-rata negara Asia ingin kulit yang putih, orang di Eropa timur iri melihat warna kulit kita. Kita sibuk memakai segala sabun dan cream pemutih, mereka berusaha berjemur agar kulitnya lebih gelap. Bahkan kalau sanggup membeli mesin tanning supaya bisa tetap menggelapkan kulit meskipun sedang tidak ada matahari saat musim dingin. Kita merasa hidung kurang mancung, mereka ingin hidungnya jangan terlalu mancung agar tidak mudah patah saat beraktivitas, seperti yang kerap terjadi pada pemain bola saat bertanding. Kita merasa kurang tinggi, mereka merasa terlalu tinggi sehingga harus menunduk kalau memasuki area yang tidak sepadan dengan tinggi mereka. Kesulitan kita untuk bersyukur bertambah parah dengan gelontoran iklan-iklan yang semakin lama semakin merusak paradigma dan cakrawala berpikir kita hanya demi produknya laku di pasaran. Dan serangan itu kita hadapi tiap hari. Maka semakin lama semakin sulit bagi kita untuk memandang diri kita sebagai ciptaan Tuhan yang indah, yang istimewa.
Pada suatu kali lewat perenungannya Daud menyimpulkan begini: "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:14). Saya tidak tahu apakah saat Daud berkata demikian ia sedang becermin atau tidak, tapi satu hal yang pasti, Daud sadar betul bahwa dirinya bukanlah sebuah hasil kebetulan saja. Dia tidak diciptakan asal-asalan tanpa makna, dia tidak dibuat tanpa tujuan. Daud tahu pasti dirinya adalah hasil mahakarya Tuhan yang indah, dan semua itu dahsyat dan ajaib adanya. Daud juga tahu bahwa hati dan pikirannya, jiwanya bisa lupa akan hal itu. Maka Daud pun mengingatkan jiwanya agar menyadari sepenuhnya akan hal itu.
Mazmur 139:14 ini perlu diingat dan direnungkan baik-baik terutama pada saat kita tengah menghadapi ketidakpercayaan diri. Tidakkah rasanya sangat melegakan jika kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah hasil dari sebuah kesalahan, bukan tidak sengaja ada, bukan tanpa rencana dan bukan pula asal jadi? Kita tidak diciptakan sebagai pecundang tanpa arah tujuan. Kita bukanlah dibuat diciptakan seadanya dengan setengah hati, tetapi Tuhan justru mencurahkan segala yang terindah dalam menciptakan kita. Layaknya Seniman Agung Dia menciptakan manusia secara sangat istimewa. Tidak seperti ciptaan lainnya, kita diciptakan dengan gambar dan rupa Allah sendiri (Kejadian 1:26), mendapatkan nafas hidup langsung dari hembusan Allah (2:7), tetap berada dalam telapak tangan dan ruang mataNya (Yesaya 49:16), dan sungguh semua itu memang benar-benar dahsyat dan ajaib. Bagi Daud, sulit rasanya untuk bisa memahami jalan pikiran Tuhan ketika Dia membentuk buah pinggang dan menenun kita sejak dalam kandungan. (Mazmur 139:13). Ia pun berseru: "Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!" (ay 17).
Dalam kitab Kejadian Tuhan menciptakan kita seperti rupa dan gambarNya sendiri seperti yang bisa kita baca di awal penciptaan. "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita... Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia" (Kejadian 1:26-27). Itu salah satu bukti kuat bahwa Tuhan menciptakan kita dengan sangat istimewa, lebih dari ciptaanNya yang lain.
(bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...



