Saturday, January 7, 2017

Manusia Berencana, Tuhan Menentukan

Ayat bacaan: Amsal 16:9
=================
"Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya."

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan kalimat ini. Dan memang demikianlah adanya. Ada banyak orang yang sudah merencanakan begitu banyak hal sejak lama, tapi kemudian yang terjadi adalah sesuatu yang jauh dari rencana sebelumnya. Sehebat-hebatnya kita merencanakan, sehebat-hebatnya kemampuan kita,  pada suatu ketika kita akan menyadari bahwa tetap saja kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Tidak jarang ada banyak orang yang sudah mengeluarkan biaya dan usaha yang tidak sedikit, namun akhirnya harus berakhir dengan kerugian karena ternyata itu tidak sejalan dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Saya sendiri pernah mengalami hal itu beberapa kali sebelum saya mengenal Yesus. Mengambil jalan yang tidak tepat, tidak menjalankan sesuai kebenaran, melawan apa yang menjadi rencanaNya dan pada akhirnya semuanya harus habis ludes, dan saya kemudian memulai lagi dari nol. Bayangkan berapa banyak waktu yang saya buang karena saya tidak mencari tahu dahulu apa yang menjadi rencanaNya bagi saya. Hari ini saya bisa menyadari sepenuhnya bahwa apa yang terbaik adalah ketika kita menjalani hidup seturut dengan kehendakNya, seperti yang sudah Dia rencanakan jauh hari, bahkan sebelum kita dilahirkan. Menjalankan dan kemudian menuai tepat seperti apa yang ada di hati Tuhan saat Dia menciptakan kita. Firman Tuhan berkata "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:16).

Lewat Amsal Salomo kita diingatkan bahwa "Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya." (Amsal 16:9). Ini adalah sebuah pernyataan yang tegas bahwa sehebat apapun kita, kita tidak akan pernah bisa melawan kehendak Tuhan. Kita bisa mencobanya, dan mungkin kita bisa mencapai sesuatu hingga tingkatan tertentu, tetapi walau bagaimanapun sesuatu yang tidak berjalan seperti rancangan Tuhan tentulah tidak sebaik seperti ketika kita berjalan sepenuhnya seturut kehendakNya. Hati atau pikiran kita bisa berpikir tentang jalan yang menurut kita terbaik, tapi di atas segalanya Tuhan tentu lebih tahu tentang kita, karena Dia sendirilah yang "membentuk dan menenun" kita sejak dalam kandungan.

Yesaya mengetahui benar hal itu dan berkata "Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu." (Yesaya 64:8). Sebagai Pembuat kita, tentu Tuhan lebih mengetahui segala sesuatu tentang kita. Dia jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk kita ketimbang apa yang menurut kita terbaik buat kita. Kabar baiknya, Tuhan memang merencanakan segala rancanganNya yang terbaik lengkap dengan segala sesuatu untuk mencapai hari depan yang penuh harapan seperti firmanNya dalam Yeremia 29:11.

Agar kita tidak melakukan sesuatu sia-sia, yang terbaik tentu adalah mengetahui apa yang menjadi rancangan Tuhan buat kita, dan berjalan sesuai dengan rancanganNya. Dan kita tidak akan pernah bisa mengetahui itu apabila kita tidak mulai membangun keintiman dengan Tuhan lewat ungkapan syukur, pujian, ketaatan, kesetiaan dan doa-doa kita. Selain dari pada itu, kita harus pula memiliki sikap hati yang mau dibentuk.

Paulus telah mengingatkan agar kita agar tidak mengeraskan hati dan mau membiarkan Allah untuk membentuk dan mengajar kita. Menjadi ciptaan baru, itu bahasanya Paulus, akan memampukan kita untuk bisa mengetahui apa yang menjadi kehendakNya. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Sebuah transformasi sudah disediakan Tuhan untuk itu dalam Kristus.

Kemudian, apa sebenarnya yang Tuhan ingin berikan pada kita? Alkitab menyebutkan dengan begitu hebat: "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9-10). Dan sesungguhnya "..Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah." (ay 10). Itulah sebabnya kita juga dipanggil untuk hidup dalam roh seperti yang disampaikan Paulus dalam Roma 8.

Kita boleh berencana apapun, tetapi jalan dari Tuhan pasti tetap yang terbaik. Kalau kita menyadari hal ini, sudahkah kita bertanya kepadaNya apa yang menjadi kehendakNya dalam hidup kita? Sudahkah kita mengetahui itu, dan menjalani semua seturut dengan kehendakNya? Kita bisa merencanakan apapun dengan kemampuan kita, namun ingatlah bahwa Tuhan sudah memiliki rancanganNya sendiri bagi kita, sebuah rancangan damai sejahtera, bukan kecelakaan, yang menjanjikan kita hari depan yang penuh harapan. Sebaik-baiknya kita tahu diri kita dan sehebat-hebatnya perencanaan kita, tidak akan ada yang sebaik jalan Tuhan. Mengabaikan rencanaNya hanya akan membuat banyak waktu terbuang sehingga kita tidak bisa maksimal dalam masa hidup kita. Karenanya temukanlah apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk anda dan berjalanlah didalamnya.

Berjalan seturut kehendak Allah adalah yang terbaik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, January 6, 2017

Kegelisahan

Ayat bacaan: Yakobus 4:8a
===================
"Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu."

Seorang guru yang sudah berkarir lebih dari 30 tahun suatu kali bercerita pada saya bahwa lewat pengalamannya yang panjang itu ia relatif bisa melihat anak-anak yang curang pada saat ujian. Menurutnya, biasanya anak-anak ini akan terlihat gelisah, menghindari tatap mata dengan pengawas dan sering curi-curi melihat posisi pengawas dari sisi matanya. Seperti apa orang yang gelisah saat sedang ujian? Biasanya dia celingak-celinguk melihat ke kiri ke kanan. Lalu melakukan banyak gerakan alias tidak bisa diam. Misalnya pura-pura meregangkan badan atau kepala atau seringkali tidak terlihat karena tertutupi punggung teman atau pura-pura memegang kertas ujian tinggi sampai menutup muka. "Kadang ngeselin, tapi kalau diingat-ingat lucu juga" katanya tergelak.

Itu baru contoh gelisah saat menyontek dalam ujian. Ada banyak kegelisahan lain yang bisa mendatangkan gangguan. Kalau kadar gelisahnya masih sedikit, mungkin kita hanya jadi tidak betah duduk diam dan lebih suka mondar mandir agar kegelisahan tersalurkan. Misalnya saat tengah menunggu sesuatu. Saat kadarnya meningkat, perut mulai terasa mulas dan keringat dingin. Kita jadi mudah kesal, sulit tidur, sering terbangun tengah malam karena mimpi buruk atau mengigau sambil berteriak-teriak. Dalam kadar sangat tinggi, ada juga yang mengakhiri hidupnya karena dihantui perasaan tidak tenang. Manusia mempunyai perasaan, dan pada saat ada sesuatu yang mengganggu perasaan kita maka kegelisahan bisa timbul. Ada banyak reaksi yang muncul ketika kegelisahan yang mengganggu ini datang dalam hidup, ada banyak alternatif cara yang mungkin diambil untuk mengatasinya. Tetapi tidak banyak orang yang segera datang kepada Allah, menjadikanNya sebagai jawaban atau solusi atas kegelisahan yang sedang berkecamuk di dalam diri kita.

Berbagai perasaan yang mengganggu seperti kegelisahan bisa datang menghampiri kita kapan saja. Tapi jangan biarkan itu terus berlarut-larut hingga berbagai kesulitan lain berdatangan sebagai akibatnya. Berusaha untuk mencari penyelesaian agar bisa kembali tenang itu baik sejauh tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Tetapi jangan lupa pula bahwa di dalam Tuhanlah sebenarnya ada jawaban yang memampukan kita untuk menyelesaikannya dan keluar menjadi pemenang.

Daud mengetahui hal itu dan berkata: "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku." (Mazmur 62:2). Dalam hubungan yang erat dengan Allah kita akan selalu bisa mendapatkan kekuatan dan penghiburan tanpa perlu memandang berat ringannya kegelisahan, kecemasan atau berbagai perasaan lainnya yang mengganggu hidup kita. Tidak banyak yang menyadari hal ini. Mereka malah semakin lupa kepada Tuhan dan lebih tertarik untuk terus bergelut dalam kegelisahan tanpa jawaban pasti. Saat kita tenang, itu berarti kita bebas dari gelisah. Yesus sudah menyatakan kesediaanNya untuk meringankan beban kita dengan berkata "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28).

Apakah sulit bagi kita untuk mendapatkan Tuhan? Alkitab mengatakan justru sebaliknya. "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8a). Dalam Perjanjian Lama lewat Yeremia kita bisa pula mendapatkan pesan Tuhan yang bunyinya demikian: "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku." (Yeremia 29:12-14a). Lihatlah bahwa Tuhan sudah menyatakan kesediaanNya untuk meringankan beban kita, bahkan menyediakan "akses" yang begitu sederhana agar kita bisa menemukanNya.

Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk kita. Siapapun kita, semuanya adalah ciptaanNya yang istimewa yang teramat sangat Dia kasihi. Tetapi kitalah yang seringkali lupa untuk mencariNya karena terlalu sibuk mencari cara mengatasinya dengan mengandalkan diri sendiri atau berharap pada orang lain.

Ketika berbagai bentuk perasaan yang mengganggu datang, saat kegelisahan menyelubungi kita, itu saatnya bagi kita untuk membenahi ulang hubungan kita dengan Tuhan dan kembali dekat kepadaNya. Mungkin kita sudah terlalu jauh dari Tuhan sehingga beban pikiran dan perasaan bisa begitu menguasai diri kita. Mungkin Tuhan sudah tidak lagi ada dalam hati kita karena terhimpit oleh berbagai ketakutan, kekuatiran dan kegelisahan kita atas masalah-masalah yang sedang dihadapi.

Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia akan selalu siap memberi kelegaan, kembali menguatkan dan bentuk-bentuk pertolongan lainnya kepada siapapun yang mau datang kepadaNya, mencariNya dengan sungguh-sungguh. Apakah itu kegelisahan akan sesuatu yang belum jelas, apakah itu luka-luka atau kekecewaan di masa lalu, kenangan buruk, kondisi-kondisi traumatis akibat kegagalan di waktu lalu, kegelisahan menghadapi kesulitan, masa depan dan sebagainya, Tuhan lebih dari sanggup untuk melepaskan kita dari semua itu, tidak peduli seberat apapun.

Jika ada diantara teman-teman yang saat ini tengah mengalami kegelisahan, jangan biarkan itu berlarut-larut. Inilah saatnya untuk menyegarkan kembali hubungan pribadi anda dengan Tuhan. Jika anda merasa sudah dekat namun kegelisahan masih melanda, mungkin itu tandanya anda harus mulai mengaplikasikan iman yang di dalamnya terdapat pengharapan secara nyata dalam kehidupan rohani anda. Anda ingin mengalami hidup yang tenang, jauh dari kegelisahan tanpa terpengaruh oleh keadaan? Jawabannya ada pada Tuhan dan kedekatan anda denganNya.

Gelisah tidak akan mampu menggoyahkan orang yang punya hubungan dekat dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, January 5, 2017

Curahan Roh Kudus

Ayat bacaan: Yoel 2:28
================
"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan."

Kemarin kita sudah melihat pentingnya berbalik arah untuk kembali kepada jalan Tuhan. Kita tahu bagaimana janji Tuhan yang luar biasa melimpah kepada kita yang melakukan pertobatan dengan sungguh-sungguh. Hujan awal dan hujan akhir, pemulihan dari tahun-tahun yang hasilnya habis dimakan belalang, kehadiran bala tentara Tuhan yang besar ketengah-tengah kita, semua itu akan diberikan kepada kita yang mau berbesar hati untuk menyadari penyimpangan-penyimpangan kita dan kemudian bertobat, kembali kepada Tuhan. Semua ini dengan panjang lebar dan jelas disampaikan dalam Yoel 2:18-27. Ada sebuah janji lagi yang sebenarnya sudah selintas saya singgung dalam renungan terdahulu, yaitu Tuhan akan mencurahkan RohNya, Roh Kudus, ke atas kita semua. Hari ini mari kita lihat lebih jauh mengenai hal ini.

Yoel menubuatkan curahan Roh Kudus seperti ini. "Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu." (Yoel 2:28-29).

Ini adalah sebuah nubuatan yang sangat penting, yang seharusnya kita sadari terlebih dalam menghadapi hari-hari yang sulit sekarang ini. Tuhan sudah berjanji mencurahkan Roh Kudus ke atas kita, sesuatu yang sudah kita peroleh lewat Yesus. Musa juga pernah mengungkapkan keinginan hatinya akan hal ini: "Tetapi Musa berkata kepadanya: "Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!" (Bilangan 11:29). Lantas Petrus pun menyinggung akan nubuatan Yoel ini dalam Kisah Para Rasul 2:16-21.

Lalu apa yang terjadi? Kita kemudian melihat bagaimana Roh Kudus turun dicurahkan Allah dari surga, turun bagai lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap di atas para jemaat gereja mula-mula yamg dicatat dalam Kisah Para Rasul 2. Setelah itu kita bisa melihat berulangkali kisah tercurahnya Roh Kudus ini hadir dalam pasal-pasal berikutnya, misalnya dalam Kisah Para Rasul 10 (ayat 44-46), pasal 11 (ayat 15-18), pasal 19 (ayat 6-7) dan sebagainya. Semua itu hadir dalam berbagai manifestasi secara rohani seperti berbicara dalam bahasa roh, bernubuat dan memuji Tuhan, tepat seperti apa yang dinubuatkan Yoel ratusan tahun sebelumnya.

Pertobatan merupakan langkah awal yang sangat penting untuk kita ambil. Berikutnya, Yoel juga mengingatkan "Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas." (Yoel 2:32). Paulus kembali menyampaikan pesan ini dalam surat Roma: "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:13-14).Janji ini berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali, siapapun dan apapun latar belakangnya.

Kembali kepada pertobatan, sadarilah bahwa dosa bagaikan batu yang jika semakin ditimbun akan semakin berat. Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita untuk melepaskan diri dari dosa-dosa itu secepat mungkin dan melakukan pertobatan menyeluruh. Dan firman Tuhan pun berkata "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).

Kita harus menyadari betul tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa. Tuhan menjanjikan curahan Roh-Nya ke atas diri kita, yang akan memungkinkan kita mampu menjalani kehidupan yang berat di muka bumi ini, mengalami banyak mukjizat yang bisa kita pergunakan sebagai kesaksian, dan juga membuat kita menerima kuasa yang memampukan kita untuk menjadi saksi dimanapun kita berada. (Kisah Para Rasul 1:8). Ini adalah hal yang sangat penting untuk kita perhatikan dalam memasuki tahun yang baru dengan segala kondisi yang mungkin sedikit banyak sepertinya tidak menjanjikan. Bagi saya, kitab Yoel ini terasa sangat memberkati dalam menghadapi perjalanan sepanjang tahun ini. Marilah kita berbenah diri menyongsong tahun yang baru sejak awal agar semua yang baik yang disediakan Tuhan bisa kita alami tanpa kurang sedikitpun.

Tuhan menjanjikan Roh Kudus tercurah ke atas anak-anakNya yang taat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, January 4, 2017

Berbalik (2)

(sambungan)

Pemulihan setelah kehancuran akibat penyimpangan-penyimpangan yang telah kita perbuat pun Dia janjikan pula. "Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu." (ay 25). Dari sana, "maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya. Kamu akan mengetahui bahwa Aku ini ada di antara orang Israel, dan bahwa Aku ini, TUHAN, adalah Allahmu dan tidak ada yang lain; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya." (ay 26-27).

Semua ini hadir sebagai janji Tuhan kepada orang yang mau berbalik dari jalannya yang keliru dan melakukan pertobatan sungguh-sungguh. Tidak hanya itu, pencurahan Roh Allah yang memberkati secara rohani pun juga Tuhan janjikan, seperti ayat-ayat pada perikop selanjutnya dalam Yoel 2:28-32.

Kalau membaca kitab Yeremia kita bisa pula melihat salah satu hasil dari pertobatan yang berkenan di hadapan Tuhan. "Kata mereka: Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah langkahmu yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat; maka kamu akan tetap diam di tanah yang diberikan TUHAN kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya." (Yeremia 25:5). Dengan bertobat, kita akan bisa tetap diam di tanah yang diberikan Tuhan.

Tanah seperti apa? Tanah yang berlimpah susu dan madunya seperti yang berulang-ulang disebutkan dalam kitab Keluaran, Bilangan, Ulangan dan beberapa kitab lainnya. Sebuah tanah yang penuh dengan hujan awal dan hujan akhir. Sebuah tanah dimana segala sesuatu dipulihkan berkelimpahan. Inilah tempat yang seharusnya kita peroleh sebagai pemberian Allah. Dengan bertobat secara sungguh-sungguh, maka kita pun bisa kembali mendiaminya, tidak peduli sejauh manapun kita sudah tersesat dan menyimpang dari tanah yang Dia janjikan itu.

Tuhan begitu mengasihi kita, kita begitu berharga dan mulia di mataNya, sehingga segala yang baik telah Dia sediakan kepada kita dengan segala kelimpahan di dalamnya. Kalaupun kita menyimpang, sebuah pertobatan sungguh-sungguh akan mengantarkan kita kembali menempati posisi seperti yang Dia inginkan. Tuhan selalu begitu rindu agar tidak satupun anakNya terhilang dan terlepas dari peluang mendapatkan segala yang baik ini. Seruan bertobat pun berulang-ulang kita dapati bahkan sampai kitab Wahyu.

Memasuki tahun baru 2017, mari kita perbaharui ketaatan dan kesetiaan kita. Jika ada hal-hal di antara yang kita lakukan ternyata masih menyimpang, marilah kita segera berbalik dan kembali kepadanya. Mari songsong tahun yang baru dengan semangat baru, dengan komitmen baru, sehingga berkat-berkat berkelimpahan Tuhan bisa menjangkau kita semua di tahun ini tanpa terhalang oleh apapun.

God allows u-turns. Repent and turn back to Him

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, January 3, 2017

Berbalik (1)

Ayat bacaan: Yoel 2:23
=============
"Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu."

Suatu kali saya hendak mencari sebuah alamat tujuan di kota lain. Belum ada fasilitas GPS atau aplikasi-aplikasi di smart phone yang bisa membantu kita menemukan jalan dengan mudah pada saat itu. Hanya berbekal alamat, saya pun mencoba menemukannya dengan tanya sana-sini. Beberapa kali saya melewatkan arah yang dimaksud oleh para penunjuk jalan. Harusnya tinggal memutar saja, beres. Tapi saya 'sok tahu', mengira bahwa belokan berikutnya akan sama saja. Yang terjadi kemudian, saya tersesat, tidak lagi tahu harus ke arah mana. Sementara jalan itu sudah sangat jauh dari kota dan sangat sunyi. Mengingat kota itu masih asing buat saya yang baru pertama kali datang kesana, tersesat di jalan yang sunyi di malam hari tentu bukan sesuatu yang menyenangkan. Seandainya saja saat itu saya cepat berbalik arah selagi masih ingat jalannya, saya tidak harus tersesat seperti itu. Untunglah bebeapa waktu kemudian saya berhasil bertemu orang-orang yang menunjukkan jalan sehingga saya bisa kembali mencapai hotel.

Dalam kehidupan kita tidak bisa dipungkiri bahwa ada kalanya kita mengambil langkah-langkah yang salah. Sama seperti ketika anda salah jalan dalam berkendara, ada begitu banyak percabangan dalam perjalanan kehidupan kita, dan jika kita salah mengambil jalan maka kita pun bisa tersesat, sehingga gagal mencapai tujuan kita. Semakin lama kita salah jalan, maka semakin repot pula kita untuk kembali ke jalur yang benar. Itulah sebabnya kita harus segera berbalik begitu menyadari bahwa kita mengambil arah yang salah secepat mungkin, sebelum semuanya menjadi semakin berat dan suatu ketika nanti sudah terlambat untuk diperbaiki lagi.

Kitab Yoel berbicara mengenai bagaimana mengerikannya hukuman Tuhan yang dijatuhkan kepada bangsa Yehuda yang secara nasional sudah menyimpang dari ajaranNya. Disana kita melihat serbuan belalang yang menakutkan (Yoel 1:4), dimana serbuan belalang itu menimbulkan kerusakan sangat parah pada pertanian dan perekonomian mereka. (ay 7-12). Tidak ada lagi gandum, anggur dan minyak, sehingga mereka tidak bisa lagi mempersembahkan korban curahan. (ay 9-13). Bukankah semua ini merupakan gambaran kehancuran yang mengerikan bagi sebuah bangsa? Dan itulah yang terjadi, disebabkan oleh kesalahan bangsa itu sendiri yang terus menyimpang dari ketetapan Tuhan.

Menyikapi hal ini, Yoel menyampaikan seruan Allah pada mereka yang telah menyimpang. Yoel berdoa bagi semuanya. (ay 19). Yoel meminta bangsa Yehuda untuk melakukan tiga hal: meratap (ay 8,13), berkabung (ay 13) dan  puasa (ay 14). Yoel menyerukan agar bangsa Yehuda yang sudah terlanjur tersesat untuk segera berbalik kembali pada Tuhan dengan hati yang koyak. "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya." (Yoel 2:13). Sebuah pertobatan dengan hati terkoyak punya kekuatan untuk mendorong Tuhan menghentikan hukuman kemudian mengembalikan belas kasihNya secara berlimpah untuk turun atas umatNya. Yoel 2:18-27 berbicara mengenai janji Tuhan yang luar biasa pada bangsa yang bertobat. Pemulihan luar biasa atas pertanian yang penuh kelimpahan, curah hujan yang cukup, kehormatan, semua akan mereka peroleh begitu mereka bertobat dengan sungguh-sungguh. Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih, adil, setia dan selalu siap untuk mengampuni siapapun yang datang kepadanya dengan hati hancur untuk bertobat, meninggalkan kesesatan mereka dan kembali pada jalan yang benar, kembali kepada Tuhan.

Meski menyimpang sejauh apapun, Tuhan tetap menyambut anak-anakNya yang berbalik kembali kepadaNya dengan segera dan dengan penuh sukacita, seperti apa yang dicontohkan Yesus dalam perumpamaan anak yang hilang. Dalam kitab Yoel pun gambaran Allah yang sama bisa kita lihat pula. Mari kita lihat janji Tuhan kepada umatNya yang bertobat. "Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu. Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak." (Yoel 2:23-24). Ini seruan Allah yang menjanjikan hujan awal, masa menanam atau investasi, hingga hujan akhir, masa menuai yang sama berkelimpahan.

(bersambung)


Monday, January 2, 2017

With God Throughout the Year (2)

(sambungan)

Berkat yang sama sudah dipersiapkan Tuhan untuk kita dalam memasuki tahun yang baru. Kita mungkin belum melihatnya, tapi sesungguhnya apa yang disediakan Tuhan adalah tahun yang subur, melimpah susu dan madunya, tahun yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit alias tahun yang subur dan sangat menjanjikan, dan diatas semua itu, Tuhan sudah berjanji untuk memelihara kita berjalan di dalamnya, mulai dari awal sampai akhir tahun. Ini janji Tuhan yang luar biasa yang seharusnya bisa membuat kita tidak perlu kuatir dalam memasuki tahun 2017.

Tuhan tentu punya rencana dalam menempatkan kita dimanapun kita berada saat ini. Situasi yang kita alami mungkin saja tidak atau belum kondusif, mungkin kita masih berada dalam bentuk-bentuk tekanan atau mengalami ketidak-adilan. Mungkin semua usaha kita masih belum memperoleh tepat seperti yang diharapkan. Atau mungkin, kita masih terus terbentur berbagai hambatan dalam berusaha. Tahun ini bagi sebagian orang masih terlihat gelap, tetapi jangan lupa bahwa ada setitik cahaya di depan sana yang menjanjikan masa depan yang penuh harapan.

Apa yang Tuhan rencanakan adalah sesuatu yang indah. Ia menyediakan segala sesuatu dalam kelimpahan, ditambah penyertaannya bagi kita sepanjang tahun. Bukankah Tuhan sudah mengatakan bahwa Dia sendiri yang akan memelihara kita dari awal sampai akhir tahun? Bukankah itu seharusnya cukup untuk membuat kita tenang dan bisa melangkah pasti? Masalah mungkin belum akan selesai, mungkin kita masih harus bergumul dalam banyak hal tahun ini, tetapi tidak ada yang perlu kita takutkan jika Tuhan sudah berjanji akan selalu bersama kita sepanjang perjalanan kita di tahun ini.

Apa yang bisa membuat mata kita luput dari melihat itu semua adalah keraguan dan kecemasan kita sendiri. Seperti bangsa Israel, kita bisa buta dan lupa akan bukti penyertaan Tuhan selama ini apabila kita hanya fokus menimbang berat ringannya masalah. Kita lupa bahwa meski masalah awalnya terlihat ringan, bisa jadi kita tetap kesulitan kalau hanya terus mengandalkan kekuatan sendiri. Mata rohani yang buta bisa membuat kita terus didera rasa takut. Itu bisa membuat segala sukacita tercabut dari diri kita digantikan keluh kesah berkepanjangan yang sama sekali tidak produktif.

Padahal apa gunanya rasa kuatir? Adakah itu membawa sesuatu yang baik? Bukankah Yesus sudah mengingatkan kita seperti ini: "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?" (Lukas 12:25). Itulah sebabnya kita harus merubah pola pikir kita. Jangan lagi menggantungkan hidup kepada situasi dan kondisi tetapi pandanglah janji penyertaan Tuhan seperti yang sudah Dia janjikan sendiri. Dalam Filipi 2:5 Paulus berpesan: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus". Itulah yang akan memampukan kita untuk melihat bahwa penyertaan Tuhan sesungguhnya selalu ada bersama kita.

Jika diantara teman-teman ada yang  merasa cemas menatap tahun yang baru ini. ingatlah bahwa kita tidak perlu kuatir. Jangan fokuskan pikiran pada segala kesulitan dalam kerumitannya di tahun lalu karena kita sebenarnya dapat melangkah maju dengan fokus yang tertuju kepada Tuhan yang sudah memberikan janjiNya. Seperti Tuhan mengawasi negeri dan umatNya dahulu, seperti itu pula Dia akan melakukannya untuk kita. MataNya pun akan senantiasa mengawasi kita, dan Dia akan berjalan bersama-sama dengan kita dari awal sampai akhir tahun. Tuhan sudah berjanji untuk mengelilingi, mengawasi dan menjaga kita selayaknya biji mataNya (Ulangan 32:10), kita terlukis dalam telapak tanganNya dan berada dalam ruang mataNya (Yesaya 49:16).

Dengan demikian kita tidak perlu ragu. Ada harapan baru di tahun yang baru, rahmatNya akan tercurah baru setiap pagi sepanjang tahun, dan Dia akan terus bersama anda, menggendong anda untuk menikmati tahun ini dengan penuh sukacita.

Oleh karena itu, masukilah tahun yang baru dengan semangat dan gairah baru dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Jadikan tahun ini sebagai momen anda membina hubungan yang semakin baik dengan Tuhan. Jangan biarkan apapun menghambat turunnya berkat, pesan dan rencana Tuhan bagi diri anda. Jangan lewatkan saat-saat pribadi bersekutu denganNya, jangan lewatkan kesempatan anda untuk menjadi terang dan garam, jangan isi hidup dengan segala kejahatan tapi isilah dengan kebenaran Firman Tuhan.

Mari jadikan tahun 2017 sebagai tahun yang indah dan penuh berkat. Let's welcome the new year, the new dawn with new hope. Let's have a better year with better connection with God. Selamat Tahun Baru, Tuhan memberkati anda semua.

Tuhan sudah berjanji akan mengawasi kita dari awal sampai akhir tahun. Enter and live the year with joy

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, January 1, 2017

With God Throughout the Year (1)

Ayat bacaan: Ulangan 11:12
==================
"suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun."

Tahun demi tahun yang kita jalani tidaklah mudah. Sudah ada begitu banyak perbaikan di berbagai sektor, tapi nampaknya semua itu belum cukup untuk membuat kita bisa hidup makmur dan damai. Harga bahan pokok masih menjadi pekerjaan rumah, kerukunan antar umat beragama masih ternodai oleh paham-paham ekstrimis. Kesenjangan, ketidakadilan, kesulitan ekonomi, keamanan, itu masih memerlukan perbaikan. Bukan hanya tugas pemerintah tentu, melainkan menjadi tugas kita bersama.

Hari ini kita mulai memasuki lembaran tahun yang baru. Semoga teman-teman masih tetap sama seperti saya, terus menjalani dengan optimis dan penuh pengharapan. Sebagian dari kita mungkin menganggap tahun 2016 sebagai tahun yang sulit. Tapi satu hal, jika kita sudah melewati tahun kemarin dan sekarang siap untuk menjalani tahun yang baru, kalau bangsa ini masih bisa berdiri menyongsong 2017, itu jelas karena Tuhan. Artinya, kita masih punya kesempatan dan tidak seharusnya kehilangan pengharapan.

Kita selalu bisa belajar dari pengalaman mereka yang sudah hidup lebih dulu dari kita, termasuk juga belajar dari pengalaman orang-orang di masa lalu yang dicatat di dalam Alkitab. Pada waktu Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir untuk masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan, bangsa Israel sebenarnya telah mengalami begitu banyak penyertaan Tuhan secara langsung sepanjang perjalanan.

Ada tiang api dan tiang awan untuk menghangatkan disaat dingin dan memayungi mereka disaat panas: "TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu." (Keluaran 13:21-22), burung puyuh yang diberikan Tuhan karena mereka bersungut-sungut hanya makan roti terus menerus (Keluaran 16:13) dan lain-lain, sampai sebuah mukjizat besar yang secara mencengangkan jauh melewati batas logika kita waktu Tuhan membelah laut Teberau sehingga mereka bisa berjalan melewati laut itu sementara Firaun dan tentaranya habis tersapu laut yang kembali menutup di saat mereka melintasinya. (Keluaran 14).

Ini hanyalah beberapa bukti nyata penyertaan Tuhan yang saat itu mereka saksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Apakah bangsa Israel ini menjadi teguh imannya dan bisa percaya penuh kepada Tuhan? Sayangnya tidak. Bukannya bersyukur, mereka terus keras kepala dan berulang-ulang menunjukkan sikap buruk baik lewat keluh kesah bahkan menyembah ilah lain. Ini bahkan terus terjadi hingga beberapa generasi selanjutnya.

Musa berulang kali mengingatkan mereka bahwa mereka seharusnya sadar bahwa mata mereka sendiri sebetulnya sudah menyaksikan segala perbuatan besar Tuhan. "Kamu tahu sekarang--kukatakan bukan kepada anak-anakmu, yang tidak mengenal dan tidak melihat hajaran TUHAN, Allahmu--kebesaran-Nya, tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung, tanda-tanda dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya di Mesir terhadap Firaun, raja Mesir, dan terhadap seluruh negerinya; juga apa yang dilakukan-Nya terhadap pasukan Mesir, dengan kuda-kudanya dan kereta-keretanya, yakni bagaimana Ia membuat air Laut Teberau meluap meliputi mereka, ketika mereka mengejar kamu, sehingga TUHAN membinasakan mereka untuk selamanya; dan apa yang dilakukan-Nya terhadapmu di padang gurun, sampai kamu tiba di tempat ini; pula apa yang dilakukan-Nya terhadap Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, anak Ruben, yakni ketika tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya, kemah-kemah dan segala yang mengikuti mereka, di tengah-tengah seluruh orang Israel." (Ulangan 11:2-6).  Seharusnya seluruh bangsa itu sadar, "Sebab matamu sendirilah yang telah melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN." (ay 7).

Teguran Musa ini berlaku pula bagi kita. Kita seringkali terlalu sibuk terfokus memandang masalah sehingga lupa bagaimana Tuhan telah menyertai kita selama ini. Berbagai bukti nyata penyertaan Tuhan yang pernah kita alami kita kesampingkan atau lupakan karena kita terus fokus hanya kepada masalah yang mendera. Pujian dan ucapan syukur tidak lagi ada, digantikan oleh keluhan, ratapan dan kekecewaan dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Benar, hidup masih sulit. Ada banyak di antara kita yang masih bergumul dengan berbagai macam hal. Bangsa Israel pun demikian. Tidaklah mudah untuk berjalan selama 40 tahun untuk menggenapi apa yang Tuhan sediakan buat mereka di depan sana. Apalagi mereka belum mengalami langsung buktinya selagi masih dalam perjalanan. Tapi kalau mereka mau lebih bijaksana, seharusnya mereka melihat bagaimana penyertaan Tuhan dalam hidup mereka sudah begitu nyata mereka alami. Seharusnya mereka bisa mengacu kepada hal itu dan bersyukur pada saat mereka masih mengalami kesulitan demi kesulitan dalam menjalani hidup mereka.

Hal yang sama pula buat kita. Kalau kita menyadari bahwa Tuhan selama ini masih ada bersama kita dalam melewati masa-masa sulit, seharusnya kita tidak putus pengharapan dan bisa memakai iman untuk melihat bahwa rencana Tuhan yang indah menanti di depan sana. Seharusnya kita bisa berkaca pada penyertaan Tuhan yang sudah membawa dampak nyata bagi kita sehingga kita masih ada dan masih bisa berusaha hari ini.

Bangsa Israel tidak kunjung bisa melihat apa yang sebenarnya diberikan Tuhan kepada mereka. Padahal Tuhan sudah melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir dan memberi sebuah tanah yang sangat subur, melimpah susu dan madunya. Apa  yang diberikan Tuhan bukanlah sesuatu yang ala kadarnya, bukan pula janji yang hanya main-main saja. "Sebab negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, bukanlah negeri seperti tanah Mesir, dari mana kamu keluar, yang setelah ditabur dengan benih harus kauairi dengan jerih payah, seakan-akan kebun sayur. Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit." (Ulangan 11:10-11). Dan lebih dari itu, Tuhan juga mengatakan bahwa itu adalah "suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun." (ay 12). Lihatlah betapa besar berkat yang Tuhan sediakan bagi mereka.

(bersambung)


Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...