Friday, August 14, 2015

Fase Padang Gurun (2)

(sambungan)

Untuk apa sebenarnya Tuhan mengijinkan kita, anak-anakNya untuk masuk ke dalam padang gurun? Apakah karena Tuhan senang menyiksa anak-anakNya? Tentu tidak. Tuhan mengijinkan kita terdampar di padang gurun dengan tujuan agar kita menjadi kuat, teruji dan berkualitas, baik dari segi mental maupun spiritual. Ketahanan, kesabaran, ketegaran dan kekuatan iman kita akan diuji betul disana. Tuhan tidak ingin kita menjadi orang-orang yang penuh kesombongan. Tuhan tidak ingin kita memiliki sikap hati yang salah. Tuhan tidak ingin kita terlena, menjadi manja dan lemah. Ketika Tuhan mengijinkan kita masuk ke dalam padang gurun, disana kita ditempa untuk memiliki otot-otot rohani yang kuat dan belajar untuk berpegang teguh pada Tuhan, belajar bahwa kehebatan kita tidaklah ada apa-apanya, dan nanti ketika kita keluar dari padang gurun, kita akan jauh lebih bisa menghargai kehidupan dan sang Pemilik kehidupan.

Kepada bangsa Israel Tuhan berpesan demikian: "Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN." (Ulangan 8:2-3). Pesan yang sama berikut alasan mengapa pencobaan padang gurun harus dilalui juga berlaku pada kita. Tanpa melewati berbagai ujian di padang gurun, kita akan menjadi pengikut Kristus yang lemah. Mudah sombong, manja dan lemah otot imannya. Tanpa adanya fase sulit, iman kita belumlah teruji, dan kita bisa lengah dan lupa diri karena kita belum merasakan bagaimana yang namanya penderitaan.

Adalah sangat penting bagi setiap kita untuk dilatih memiliki iman yang teguh, tahu untuk mengandalkan Tuhan dalam setiap kehidupan kita lewat berbagai pengalaman di padang gurun. Jika saya ibaratkan padang gurun sebagai sebuah ujian, maka lulus atau tidak dari padang gurun tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita tegar dan taat untuk belajar dari segala penderitaan dan bisa benar-benar menghargai "tanah terjanji" yang disediakan Tuhan di depan, atau kita memilih untuk menyerah dan "kembali ke Mesir", yang berbicara mengenai kembali kepada dosa-dosa lama kita. Apakah kita memilih untuk belajar bergantung pada Tuhan saja, atau kita malah memilih tawaran-tawaran instan yang penuh tipu daya iblis lewat menyembah ilah lain. Semua ini penting untuk disikapi, karena lewat padang gurun inilah Tuhan ingin menguji bagaimana isi hati dan sikap kita sebenarnya.

Tidak mudah, tidak menyenangkan, menyakitkan, itu semua akan dirasakan ketika kita berada di padang gurun. Tapi ingatlah satu hal: meski ditengah penderitaan kita terkadang sulit merasakan keberadaan Tuhan dan mengira Dia diam dan memalingkan muka, sesungguhnya Tuhan selalu ada bersama kita dan tidak akan membiarkan kita menghadapinya sendirian. Tuhan sendiri berjanji bahwa dalam masa padang gurun sekalipun, Dia akan selalu menjaga kita layaknya biji mataNya sendiri! "Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya." (Ulangan 32:10).

Seperti halnya Yesus yang tetap dilayani oleh para Malaikat ketika dibawa oleh Roh ke dalam padang gurun (Markus 1:13), demikian pula perjalanan anak-anakNya yang takut akan Dia di dalam kesesakan. Lihat apa kata Daud: "Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka." (Mazmur 24:8). Yakobus mengingatkan kita juga mengenai akhir indah dari sebuah perjalanan di padang gurun yang penuh pencobaan. "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12).

Oleh sebab itu apabila ada diantara anda yang tengah berjalan dalam fase padang gurun, janganlah menyerah, jangan putus asa, dan jagalah diri anda agar jangan malah terjatuh ke dalam kesesatan ketika berada di padang gurun. Itu adalah sebuah proses menuju kepada kedewasaan rohani, yang menyiapkan kita untuk tidak lupa diri ketika kita mengalami keberhasilan dan berkat-berkat dari Tuhan, fase yang mempersiapkan kita untuk menjadi orang-orang yang kuat otot imannya, lebih tegar, lebih kuat, lebih dewasa, lebih bijaksana dan lebih mengandalkan Tuhan. Jadikan saat-saat di padang gurun sebagai sebuah pengalaman berharga, tetaplah bersyukur dan lakukan yang terbaik disana agar anda memperoleh manfaatnya secara maksimal.

Proses padang gurun adalah sebuah proses pendewasaan rohani agar kita menjadi umatNya yang layak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, August 13, 2015

Fase Padang Gurun (1)

Ayat bacaan: Markus 1:12
=====================
"Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun."

Game first-person shooter punya banyak penggemar. Permainan dengan jenis seperti ini punya tampilan dari perspektif atau sudut pandang kita sendiri sehingga ketika sedang asyik kita akan merasa seolah kita sendirilah yang berjalan kesana kemari menembaki musuh satu persatu. Ada satu game sejenis yang sudah lumayan lama saya mainkan mengambil setting di dunia wild-wild west nya koboi. Setelah melewati beberapa ronde yang relatif mudah, maka saya biasanya akan masuk ke daerah gurun tandus dimana musuh berlipat-lipat kali banyaknya dan tingkat kesulitannya pun menjadi jauh lebih tinggi. Suka tidak suka, mau tidak mau orang yang memainkannya memang harus melewati fase ronde ini. Tapi meski sulit, saya justru menyukai ronde padang gurun ini karena angka atau score bisa sangat tinggi pula setelah melewatinya, ada banyak bonus disana dan terlebih lagi saya mempergunakannya sebagai sarana latihan ketepatan menembak. Yang jelas, setelah sering berada disana, saya lebih terampil dan semakin bisa membidik sasaran dengan tepat dan cepat.

Fase kehidupan pun punya ronde seperti itu, dan rondenya disebut kurang lebih sama, yaitu fase padang gurun. Fase seperti ini kerap datang pada waktu-waktu yang tak terduga, bahkan seringkali muncul di saat hidup sedang terasa baik-baik saja. Itu tidak enak rasanya, bisa membuat kita menderita dan bisa saja saat beban terasa sangat berat, kita merasa seolah Tuhan diam saja dan membiarkan kita berada disana. Kalau kita memandang penderitaan saat berada pada fase padang gurun, tentu yang kita rasakan hanyalah rasa sakit saja. Tetapi kalau kita melihat lebih jauh ke depan, akan ada begitu banyak hasil yang sangat bermanfaat bagi kita yang tidak akan bisa kita dapatkan tanpa melewati fase ini.

Ada kalanya Tuhan mengijinkan anak-anakNya untuk masuk ke dalam padang gurun, sebuah tempat yang jauh dari kenyamanan. Bayangkan diri anda berada sendirian di tengah padang gurun yang amat panas. Pasir yang begitu menyiksa ketika anda berjalan di atasnya. Belum lagi potensi dehidrasi dan bahaya-bahaya yang mengancam disana. Berada di padang gurun membutuhkan kerja keras dan perjuangan yang lebih dari biasanya, dan seringkali disana kesabaran dan iman kita diuji. Berjalan di padang gurun berarti kita dihadapkan pada tantangan, situasi yang sulit dan beragam hal lain yang menyakitkan. Fase padang gurun kerap mendatangkan sebuah situasi dimana kita akan tahu bahwa kekuatan dan kepintaran kita tidak lagi berarti. Di saat seperti itulah kita seharusnya mulai sadar bahwa satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan bergantung sepenuhnya pada Tuhan.

Begitu banyak tokoh-tokoh Alkitab yang harus mengalami masa-masa padang gurun terlebih dahulu sebelum mereka dipakai secara luar biasa. Yusuf, Abraham, Musa, Daniel, Daud, Paulus dan murid-murid  Yesus lainnya, bahkan Yesus sendiri, seperti ayat bacaan hari ini, pernah melewati masa kelam melewati padang gurun untuk sebuah proses. Orang Israel juga harus melewati padang gurun selama 40 tahun sekeluarnya mereka dari Mesir untuk memasuki tanah terjanji yang berlimpah berkat, yaitu tanah Kanaan.

(bersambung)


Wednesday, August 12, 2015

Manfaat Ujian (3)

(sambungan)

2. Menunjukkan bahwa manusia ada batasnya
Benar, manusia bisa kuat, pintar, gagah, kaya dan sebagainya. Tapi kita harus sadar bahwa manusia, siapapun orangnya, punya keterbatasan. Saat hidup berjalan baik biasanya kita tidak menyadari hal itu, tetapi di saat ujianlah kita akan menyadari bahwa kita ini sangat terbatas kemampuan dan kekuatannya. Ujian akan membuka mata kita bahwa ada Tuhan yang kuasaNya di atas segalanya, dan kabar baiknya, Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia akan selalu ada bersama kita meski saat kita tengah ada di dalam lembah yang paling kelam sekalipun.

Cara yang terbaik disampaikan Petrus. Ada tiga hal yang ia kemukakan, yaitu:
- Merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat supaya kita ditinggikan pada waktunya (1 Petrus 5:6)
- Menyerahkan segala kekuatiran kepada Tuhan, sebab Dia yang memelihara kita (ay 7)
- Tetap berjaga-jaga dari kemungkinan di mangsa si jahat (ay 8)
Di balik keterbatasan kita, ingatlah bahwa ada Tuhan dengan kuasa yang tidak terbatas bersama kita. Dia akan senang sekali kalau kita mau mengandalkanNya lebih dari apapun sebaliknya mengecam manusia yang hanya mengandalkan kekuatan sendiri dalam melakukan apa-apa. Jika demikian, kenapa kita tidak mulai mengandalkanNya mulai dari sekarang? Ujian akan membuka mata kita akan hal ini.

3. Membentuk karakter kita
Lewat ujian kita bisa berharap akan sesuatu yang lebih baik ke depannya. Ajang ujian membuka kesempatan bagi kita untuk memperbaiki dan meningkatkan kapasitas. Lewat ujian kita bisa menjadi orang-orang yang lebih dewasa, lebih sabar, lebih matang, lebih bijaksana, lebih kuat dan hal-hal baik lainnya. Orang yang tidak pernah mengalami masalah akan sulit mengalami perubahan karakter ke arah yang lebih baik. Sebaliknya orang yang teruji akan punya karakter yang jauh lebih kuat, dan itu tentu sangat diperlukan dalam mengarungi kehidupan yang keras dan berat ini.

Penulis Amsal mengatakan: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Tidak dikatakan "hati yang gembira pada saat kita sedang tidak ada masalah", tapi hati yang tetap gembira dalam situasi dan kondisi apapun, itu akan tetap bisa menjadi obat yang manjur. Maka tepatlah kalau Yakobus menyarankan agar kita menghadapi ujian dengan kebahagiaan dan bersyukur, dan itu akan kita rasakan kalau kita menyadari ada hal-hal luar biasa yang dapat kita petik dari berbagai ujian hidup itu. Tanpa ujian, kita akan berjalan di tempat, atau malah makin merosot.

Karenanya, hadapilah ujian dengan penuh ungkapan syukur. Jangan lari dari masalah, tapi hadapilah dengan tegar sambil terus berpegang teguh pada pengharapan dalam iman akan Tuhan. Adakah diantara anda yang hari ini tengah menghadapi ujian? Bergembiralah dalam menghadapinya, dan percayalah ada sesuatu yang indah di depan sana yang akan anda petik begitu anda lulus dari ujian itu.

Tanpa ujian kita tidak akan pernah bisa naik kelas, jadi bersyukurlah saat ujian dan beri yang terbaik dari kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, August 11, 2015

Manfaat Ujian (2)

(sambungan)

Lewat ayat dalam Amsal 24:10 ini kita diingatkan bahwa kalau kita gampang menyerah ketika menghadapi kesesakan, kita tidak akan pernah bisa bertumbuh baik secara mental maupun rohani. Kekuatan kita akan tetap kecil atau malah menyusut. Ujian demi ujian yang kita hadapi akan mampu membawa kita ke level yang lebih tinggi. Despite of the outcome, either you win or lose, either you succeed or fail, jika kita menyikapinya dengan benar, tetap dalam pengharapan yang tidak pernah padam di dalam Kristus, kita akan mendapatkan hasil luar biasa dalam pertumbuhan iman kita.

Lihatlah apa yang dihadapi tokoh-tokoh Alkitab. Mereka bertemu dengan ujian-ujian yang sungguh berat, yang bagi logika manusia kelihatannya tidak masuk akal. Tapi mereka berhasil membuktikan bahwa percaya sepenuhnya pada Tuhan akan membawa hasil luar biasa. Daud harus bertemu dengan Goliat di usia yang masih sangat muda. Itu adalah ujian yang tidak main-main dan taruhannya nyawa. Tapi Daud mengandalkan Tuhan, percaya penuh kepadaNya dan ternyata sukses. Dari sanalah Daud kemudian dikenal.

Abraham mengalami ujian yang sungguh berat. Menanti janji Tuhan begitu lama di usia yang sudah tua renta, dan ketika ia memperolehnya, ia malah diminta mengorbankan anaknya. Tapi Abraham percaya pada Tuhan, dan ia melalui ujian dengan baik dan lulus dengan sangat memuaskan. Ia pun disebut bapa orang beriman lewat serangkaian ujian tersebut. Ujian boleh datang, namun cara kita menyikapinyalah yang akan membuat perbedaan.

Yakobus berkata: "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yakobus 1:2-4). Ujian terhadap iman menghasilkan ketekunan. Lalu ketekunan itu pada suatu ketika akan memperoleh buah yang matang, dan kita pun menjadi semakin sempurna, utuh dan tak kekurangan apapun. Itu janji Tuhan, itu kebenaran.

Anda mungkin bisa stres dalam menghadapi ujian di sekolah, tapi anda tentu tahu bahwa tanpa itu anda tidak akan pernah lulus dan akan menjadi siswa atau mahasiswa abadi. Maka suka atau tidak, anda akan menghadapi ujian dengan sungguh-sungguh dan berharap bahwa anda melakukannya dengan baik dan setelahnya dinyatakan lulus. Begitu pula dengan ujian terhadap iman. Kalau begitu buat apa kita meratap, mengamuk atau melakukan reaksi-reaksi negatif lainnya? Yakobus mengatakan: "anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan." Kita bukan harus bersedih, tapi seharusnya bahagia. Karena alasannya jelas, untuk kebaikan kita sendiri juga, untuk menghasilkan buah dalam hidup kita. Kita tidak akan bisa bertumbuh dan naik ke jenjang yang lebih tinggi apabila kita tidak menghadapi atau gagal dalam ujian. So when you encounter a test, don't give up! Kita tidak akan memperoleh hasil apa-apa selain kegagalan dengan tawar hati. Bukannya baik, malah hanya akan menambah masalah saja nantinya.

Secara ringkas, ujian mendatangkan banyak manfaat pada kita. Secara garis besar saya menyimpulkan ada tiga tujuan utama, yaitu:

1. Memurnikan
Ujian bisa memurnikan diri kita. Setiap saat kita berpotensi mendapat gangguan dan godaan dari banyak sisi. Hal itu bisa melemahkan kita dan menjauhkan ktia dari iman. Karena itulah seharusnya kita bisa seperti anjuran Yakobus, menganggap ujian itu sebagai sesuatu yang membahagiakan. Bukan karena kita senang menderita, tetapi karena melihat manfaat dari ujian tersebut. Kalau melihat tokoh-tokoh Alkitab, tidak satupun yang tidak melalui ujian terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan hasil yang luar biasa. Oleh karenanya yang terbaik dalam menyikapi ujian adalah bersyukur dan melaluinya dengan kesanggupan terbaik dari kita.

(bersambung)


Monday, August 10, 2015

Manfaat Ujian (1)

Ayat bacaan: Yakobus 1:3-4
====================
"sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."

Kalau mau naik tingkat orang biasanya harus menempuh sesuatu yang namanya ujian. Saat anda sekolah, anda tentu terbiasa dengan hal itu. Ujian akan dijadikan acuan atau tolok ukur apakah anda bisa naik atau masih harus mengulang lagi. Ketekunan kita mempersiapkan diri akan sangat berperan disana. Kalau kita asal-asalan saja atau malah tidak belajar, maka nilai buruk atau kegagalan sudah menanti di depan mata. Sebaliknya kalau kita benar-benar serius mempersiapkannya maka bukan saja naik tapi nilai yang baik pun bisa kita raih.

Bagaimana suasana pada saat ujian? Tidak satupun ujian yang diadakan dalam suasana ramai dan ribut. Orang butuh konsentrasi dalam mengerjakan soal satu demi satu, sehingga keheningan dan ketenangan suasana menjadi hal yang mutlak. Tidak ada pengawas yang malah ribut ketika sedang mengawas ujian, kecuali pengawasnya tidak bertanggung jawab. Sunyi, sepi, hening, mungkin jarum yang jatuh ke lantai saja akan kedengaran jelas oleh semua peserta ujian. Agaknya itu menjadi bahan perenungan bagi Rick Warren mengenai ujian-ujian yang kita alami dalam kehidupan. Ia berkata: "The teacher is always silent when the test is given. If God is silent in your life right now, it's a test of faith." 

Rick Warren menyinggung momen saat Tuhan memilih untuk diam. Tuhan bisa diam pada waktu-waktu tertentu bukan dengan tujuan untuk membiarkan kita menderita atau tidak peduli terhadap persoalan kita, tetapi karena Dia menginginkan sebuah pertumbuhan iman yang signifikan demi kebaikan kita sendiri. Untuk menjelaskan hal itu, Rick mengambil contoh yang mudah dicerna lewat sikap seorang guru ketika mengawasi ujian. Ujian suka tidak suka harus kita hadapi jika kita mau naik kelas atau naik ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak ada orang yang naik kelas dan lulus tanpa melalui ujian bukan? Karenanya contoh sederhana yang disampaikan Rick Warren ini rasanya akan mudah untuk kita mengerti dalam hubungannya dengan saat-saat ketika Tuhan memutuskan untuk berdiam diri disaat kita tengah menghadapi kesesakan.

Kalau kita memperhatikan jalan hidup kita, setiap saat sebenarnya hidup itu penuh dengan ujian. Life is always a test. Dalam hal iman pun sama seperti itu. Agar menjadi lebih baik, kita harus menempuh berbagai ujian yang tidaklah menyenangkan saat dijalankan. Tapi hasilnya akan sangat menentukan apakah kita nantinya naik tingkat menjadi lebih baik, bijaksana, taat atau teguh berpegang kepada Tuhan atau tidak.

Buat saya pribadi, setiap hari adalah bagian dari proses menjadi orang yang lebih baik lagi. Sekarang harus berbeda dengan saya esok, dan saya esok hari harus berbeda dengan saya lusa, seminggu lagi saya sudah harus lebih baik lagi, dan seterusnya. Itu sudah menjadi tekad saya. Tidak saja dalam bersikap, bertingkah laku, tidak saja dalam pengetahuan, tapi juga dalam mendalami suara hati Tuhan bagi manusia yang terkandung dalam Alkitab. Saya menikmati hidup, tapi saya juga menghadapinya dengan serius terutama dalam menghadapi berbagai godaan yang ada di sekitar saya. For me, that's the fun part of life. I love to play and have fun, but I don't wanna just play around and forget to learn. Begitu kira-kira. Ujian-ujian kehidupan bisa ringan, bisa juga berat. Dan seperti halnya ujian lainnya, kita bisa lulus dan bisa gagal. Disaat ujiannya berat, saya tahu kalau saya bisa melewatinya, hasilnya tentu akan jauh lebih besar daripada ujian-ujian yang ringan. Jadi saat ujian berat, saya tidak harus patah semangat dan menyerah, terlebih kalau menyadari bahwa di saat seperti itupun Tuhan sebenarnya tidak pernah meninggalkan saya. Lalu bagaimana kalau gagal, haruskah kita menyerah? Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menyikapi sebuah kegagalan dan belajar dari kegagalan itu untuk mencapai sukses luar biasa pada kesempatan lain. Kesempatan untuk berhasil akan selalu ada selama kita masih hidup.

Dalam menghadapi berbagai ujian lewat segala macam dimensi problema kehidupan ada sesuatu yang penting untuk kita perhatikan. Masalah boleh hadir, tapi bagaimana sikap kita menghadapinya akan membawa perbedaan nyata. Kita bisa memilih untuk mengeluh, kecewa atau larut dalam mengasihani diri sendiri secara berlebihan atau kita bisa menguji iman kita, sampai dimana kita kenal Yesus, sampai dimana kekuatan pengharapan lewat iman kita. Jika kita gampang menyerah, itu artinya kita belum mampu untuk percaya sepenuhnya kepada kuasa Kristus. Lihatlah apa yang tertulis dalam Amsal. "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu." (Amsal 24:10).

(bersambung)


Sunday, August 9, 2015

Perihal Mengampuni dan Diampuni (4)

(sambungan)

Terkadang memang tidak mudah bagi kita untuk mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita atau telah merugikan kita. Tapi pengampunan merupakan hal yang wajib diberikan oleh anak-anak Tuhan kepada orang yang telah menyakiti kita, dan idealnya itu seharusnya tanpa batas. Itu sebuah keharusan karena bukankah Tuhan sendiri tidak pernah berpelit pengampunan kepada kita? Coba pikir, ada berapa banyak kesalahan yang kita perbuat dalam hidup kita, dan seringkali pelanggaran-pelanggaran berat kita lakukan, yang seharusnya akan berakibat kebinasaan. Jika memakai standar kepantasan, ada banyak kesalahan yang rasanya tidak pantas dimaafkan dan seharusnya untuk itu kita harus siap menanggung hukuman berat. Tapi Tuhan begitu mengasihi kita dan selalu siap untuk mengampuni kita begitu kita bertobat. Itu bentuk kasih Tuhan yang luar biasa.

Sebesar apapun dosa kita, Tuhan siap memutihkan bahkan berkata tidak akan mengingat-ingat dosa kita lagi. (Yesaya 43:25). Bayangkan apabila Tuhan sulit mengampuni kita, tidak mendengarkan pertobatan kita dan terus memutuskan untuk mengganjar kita dengan hukuman berat, apa jadinya dengan diri kita hari ini? Tapi Tuhan penuh kasih, belas kasihan dan kemurahan. Pengampunan akan segera diberikan kepada kita seketika begitu kita bertobat secara sungguh-sungguh. Jika kesalahan kita yang begitu banyak dan besar saja tidak henti-hentinya diampuni Tuhan, bukankah sudah sepantasnya kita pun mengampuni orang yang bersalah kepada kita, yang mungkin ukurannya lebih kecil dari dosa-dosa kita kepada Tuhan, seperti apa yang diberikan Yesus dalam perumpamaan di atas?

Sering berhadapan dengan situasi sulit, dengan orang-orang sulit bisa membuat kita semakin sulit pula mengampuni. Ada yang dengan sadar tidak kita maafkan, ada pula yang secara tidak sengaja. Mungkin kita bahkan sudah lupa tapi belum membereskannya. Jika kita tidak mempertebal kasih dalam diri kita dan tidak menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, maka akan semakin banyak orang-orang yang tidak kita ampuni, dan akibatnya bisa fatal, karena selain bisa membahayakan kelangsungan hidup kita dan menghilangkan damai sejahtera dan sukacita, hal itu akan menghambat pengampunan Tuhan untuk turun atas diri kita.

Memaafkan mungkin mudah dikatakan tapi sulit untuk dilakukan. Jika anda masih sulit melakukannya, berdoalah dan minta Roh Kudus untuk menguatkan anda dalam memberi pengampunan. Jika memakai perasaan sendiri mungkin sulit, tapi kita punya Roh Kudus yang akan memampukan.

Dua contoh yang saya sebut di awal renungan lewat kisah hidup Nelson Mandela dan Eric Lomax hendaknya membuka mata kita bahwa meski sulit, tapi manusia sebenarnya sanggup melakukan itu. Yang satu dipenjara selama 27 tahun dalam ruang lembab dan kehilangan hak kebebasannya, yang satu lagi mengalami penyiksaan kejam sebagai tahanan perang. Tapi keduanya sanggup melepaskan pengampunan terhadap orang yang jahat kepada mereka tanpa syarat. Hati mereka bentuknya sama seperti hati kita, kekuatan dan kemampuan mereka pun batasnya sama seperti kita. Kalau mereka bisa kenapa kita tidak?

Kita bisa melihat bagaimana Tuhan dengan penuh kasih membuka pengampunan seluas-luasnya kepada kita tanpa memandang sebesar apa dosa yang pernah kita perbuat, maka kita pun seharusnya melakukan hal itu. Ketika Tuhan sudah menghapuskan dosa kita yang terbesar sekalipun, sudahkah kita dengan besar hati membukakan pintu pengampunan pula kepada orang lain?

"To be a Christian means to forgive the inexcusable because God has forgiven the inexcusable in you." - C.S. Lewis

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, August 8, 2015

Perihal Mengampuni dan Diampuni (3)

(sambungan)

Ada korelasi kuat antara diampuni dan mengampuni. Yesus berkata:  "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15). Untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan, syaratnya adalah kita harus pula mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

Tidak ada satupun dari kita yang tidak pernah berbuat salah atau dosa. Sebaik-baiknya kita, sebagai manusia yang lemah dan terus diserang atau dipengaruhi si jahat ada kalanya kita terpeleset lagi ke dalam perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran Firman. Dan kita tentu ingin diampuni bukan? Kalau dosa-dosa kita yang begitu banyak dan berat saja Tuhan mau ampuni, siapakah kita yang merasa berhak untuk mendendam atau sulit mengampuni?

Seringkali kita berlaku seperti si hamba dalam perumpamaan Yesus di atas. Tuhan tidak menuntut kita membayar hutang dosa yang begitu besar. Dia membebaskan kita, bahkan menganugerahkan AnakNya yang tunggal untuk menggantikan kita di atas kayu salib, menebus dosa-dosa kita agar kita tidak berakhir dalam kebinasaan. Itu sebuah kasih berukuran luar biasa, yang dilakukan saat kita masih penuh dengan dosa dalam hubungan yang terputus dengan Tuhan. Bukan salahnya Tuhan tapi salah kita, namun Tuhan bersikap proaktif, digerakkan oleh kasih dengan memberikan anugerah sebesar itu.

Sayangnya kebanyakan orang tidak menyadari itu. Kita dengan mudah tidak mau mengampuni orang-orang yang bersalah, menyinggung, menyakiti atau menipu kita. Kalau orang minta maaf kita mungkin bilang ya tapi di hati sebenarnya masih tersimpan dendam yang belum beres, atau dalih orangnya tidak minta maaf kita jadikan dasar untuk tidak memaafkan. Apakah orang yang bersalah itu sudah minta maaf atau tidak, itu seharusnya tidak menjadi soal. Ingatlah bagaimana Tuhan menyatakan belas kasihanNya kepada kita. Ingatlah bagaimana Tuhan membebaskan kita, mengampuni kita secara total dan bukan setengah-setengah. Jika Tuhan saja mau berbuat itu mengapa kita tidak?

Lantas perhatikan dalam doa yang diajarkan Yesus sendiri. Salah satu bagiannya adalah "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." (Matius 6:12). Tuhan akan mengampuni seperti kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Mengingat ini bentuk doa yang langsung datangnya dari Yesus, perihal pengampunan sesungguhnya amatlah penting.

Lebih lanjut lagi, lihatlah apa yang dikatakan Yesus saat memberi nasihat mengenai doa. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Markus 11:25). Itu wajib untuk kita lakukan agar doa-doa kita jangan sampai terhalang dan sia-sia saja. Selanjutnya dikatakan: "(Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)" (ay 26). Kembali kita lihat keterkaitan kuat antara diampuni dan mengampuni. Menahan dendam atau sakit hati bukan saja buruk bagi kesehatan tapi juga sangat merugikan kita dalam membangun hubungan yang bebas hambatan dengan Tuhan.


(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...