Thursday, July 16, 2015

Kesempatan yang Sama (2)

(sambungan)

Perbedaan antara yang masuk ke dalam Kerajaan Allah dan yang tidak bukanlah tergantung dari apa yang terjadi di masa lalu, tapi dari bagaimana kita menyikapi hidup dan keputusan apa yang kita ambil pada saat ini. Apakah dengan menyesali penolakan kemudian berbalik untuk percaya atau tetap menolak. Para imam kepala dan pemimpin Yahudi itu tahu persis apa yang telah berulang kali dinubuatkan sebelumnya, karena mereka tentu mendalami apa yang sudah tertulis sebelumnya. Tetapi kenyataannya mereka tidak juga bisa percaya meski sudah langsung bertemu muka dengan Kristus. Sementara di sisi lain, orang-orang berlumur dosa mungkin hidup dalam kegelapan sepanjang hidupnya, namun ketika mereka membuka hati mereka dan bertobat, mau mempercayakan hidup mereka sepenuhnya pada Yesus, maka Kerajaan Allah pun menjadi bagian dari mereka.

Perumpamaan ini mengajarkan hal penting bagi kita. Yaitu, bahwa setiap orang, yang berlumur dosa sekotor apapun tetap diberikan kesempatan untuk mendapatkan janji Tuhan akan keselamatan dan menjadi bagian dalam Kerajaan Allah. Ada begitu banyak contoh lain mengenai hal ini, misalnya kisah perumpamaan mengenai orang Farisi dengan pemungut cukai (Lukas 18:9-14). Ketika keduanya masuk ke bait Allah, ada perbedaan nyata dari sikap hati keduanya. Sementara orang Farisi menyombongkan kerajinannya beribadah dan tata cara hidupnya yang dianggapnya paling benar, pemungut cukai merendahkan dirinya habis-habisan. "Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini" (ay 13). Pemungut cukai lah yang akhirnya pulang sebagai orang yang dibenarkan. (ay 14). Sementara mengenai wanita pelacur, kemarin kita sudah melihat bagaimana Rahab yang awalnya merupakan wanita tuna susila kemudian menjadi satu dari sederet pahlawan iman lainnya sekaliber Musa, Abraham, Yusuf dan lain-lain lewat imannya.

Semua orang dapat kesempatan yang sama tanpa terkecuali untuk bertobat. Tidak terkecuali pendosa seperti wanita pelacur atau pemungut cukai sekalipun, yang biasanya akan mendapatkan stereotipe negatif dari masyarakat. Asalkan mereka menyesali perbuatan-perbuatan mereka dan memilih untuk kembali kepada Tuhan, hidup sesuai firmanNya dan tentunya percaya kepada Kristus, maka mereka pun mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan bagian di Kerajaan Allah. Kenyataannya, justru kepada kita yang berlumur dosa inilah Yesus datang. "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Lukas 5:32). Dia sudah menyerahkan nyawaNya sendiri untuk menebus dosa-dosa kita di atas kayu salib demi kita semua, agar kita bisa diselamatkan. Kesempatan diberikan secara luas kepada siapapun, tapi ingatlah bahwa kesempatan untuk itu tidak akan ada selamanya. "kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:15).

Jangan terlena dengan status kita yang dirasa sudah "aman" ketika kita sudah menerima Kristus, lalu terlena dalam status kita dan lalai dalam menjalankan kewajiban-kewajiban kita seperti halnya anak sulung dalam perumpamaan tentang dua orang anak di atas. Seorang anak sulung bisa luput dari mendapatkan hak-haknya, sebaliknya yang tadinya bukan anak sulung bisa mendapat bagian apabila mereka menyadari kesalahan dan berbalik kepada yang benar.

Hendaklah kita terus menjaga diri kita dan terus berusaha hidup lebih taat lagi dari hari ke hari. Semua orang punya kesempatan yang sama, tidak peduli apapun latar belakang dan dosa-dosa di masa lalu. Kita yang sudah menyandang status sebagai anak sulung pun bisa terpeleset jika kita tidak berhati-hati. Hari ini mari kita semua melembutkan hati dan taat melakukan apa yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan, agar kita semua bisa bersama-sama mendapat bagian dalam KerajaanNya.

Siapapun yang percaya dan melakukan Firman Tuhan akan mendapat tempat dalam Kerajaan Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, July 15, 2015

Kesempatan yang Sama (1)

Ayat bacaan: Matius 21:31
=====================
"Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Ada seseorang yang cukup punya nama sekitar tahun lalu mengagetkan banyak orang karena tiba-tiba secara jelas menunjukkan keimanannya kepada Yesus di sebuah jejaring sosial miliknya. Saya pun termasuk yang kaget, terutama karena saya tahu betapa sinisnya ia kepada iman kekristenan di waktu lalu. Ia bisa mengeluarkan kata-kata menyindir begitu saja tanpa alasan jelas, menolak tampil bersama rekan-rekannya yang berbeda keyakinan dan berbagai bentuk sikap lain. Karena itulah saya terkejut ketika melihat fotonya saat dibaptis. Ketika saya tanyakan, ia bercerita bahwa sepanjang hidupnya ia merasakan kekosongan yang membuat sikap sinis mudah muncul dalam dirinya. Ditambah lagi bentuk-bentuk ajaran yang ditanamkan sejak kecil bahwa ia tidak boleh berteman; kalau tidak memusuhi; orang yang berbeda keyakinan. Ia menjadi pembenci dan itu membuat dirinya semakin jauh dari rasa bahagia, meski secara finansial ia bisa dikatakan lebih dari cukup. Dan sekarang ia merasakan sebuah transformasi menyeluruh yang prosesnya berlangsung relatif cepat. Saat saya tanyakan apakah ia tidak takut dihujat oleh kerabat atau masyarakat, ia berkata "untuk apa takut? saya hanya takut kepada Tuhan. Supaya kamu tahu, sikap kasar seperti itulah yang membuat saya akhirnya mencari tahu seperti apa hidup dalam Kristus dan kemudian memutuskan untuk mengikutiNya." Ia sudah tidak muda lagi, bahkan sudah memasuki masa senja. Tapi ternyata kesempatan untuk beroleh keselamatan tetap terbuka baginya dan keputusannya membawanya untuk menerima semua yang telah diperjuangkan Kristus lewat karya penebusanNya dua ribuan tahun lalu.

Secara logika, ia bukanlah termasuk orang yang mungkin untuk mengenal kebenaran, mengacu kepada sikap-sikap yang ia tunjukkan dahulu. Tidak pernah dibayangkan kalau ia ternyata menerima anugerah keselamatan. Pada sisi lain, ada banyak orang yang mungkin menganggap dirinya sudah terlalu jauh jatuh ke dalam dosa sehingga pintu kesempatan untuk selamat tidak akan mungkin lagi dibukakan baginya. Tapi dengarlah, siapapun bisa mendapatkan keselamatan selama orang itu mau mempergunakan kesempatan yang masih ada untuk berbalik jalan, mengakui semua perkara di hadapan Tuhan dan bertobat dengan kesungguhan hati yang utuh.

Mungkin ada banyak di antara kita yang terlalu mudah menghakimi orang lain, menganggap bahwa dosa mereka jauh lebih besar dari kita, sehingga terburu-buru menganggap bahwa mereka sudah pasti berakhir di sisi yang lain. Kita menganggap si A mungkin, si B tidak mungkin menurut pemikiran kita sendiri. Pada kenyataannya saya sudah menyaksikan begitu banyak orang-orang yang termasuk dalam kategori 'tidak mungkin' ini kemudian mengalami anugerah besar untuk mengenal Kristus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Paulus kalau dilihat dari track recordnya juga sulit dibayangkan bisa bertobat, tetapi bukan saja ia berbalik kepada terang, tetapi ia pun menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam keimanan Kristen. Sulit dibayangkan apa jadinya apabila tidak ada Paulus. Dia bukan seperti Timotius yang memang sudah mengenal Kristus sejak masa mudanya, tapi meski masa lalunya kelam, Paulus juga ternyata mendapat kesempatan yang sama untuk selamat. Keputusannya untuk membaktikan sisa hidupnya kepada penyebaran berita keselamatan hingga menyentuh daerah-daerah yang jauh dari asalnya menjadi sebuah keputusan yang dampaknya masih kita rasakan hingga hari ini.

Saya tertarik untuk mengangkat sebuah perumpamaan singkat namun dalam maknanya yang disampaikan oleh Yesus sendiri, yaitu perumpamaan tentang dua orang anak. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan ini di hadapan para imam-imam kepala dan pemimpin Yahudi yang merasa diri mereka paling alim di antara yang lainnya, yang begitu mudahnya menghakimi orang lain.

Yesus berkata demikian: "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur." (Matius 21:28). Inilah pembuka perumpamaan itu. Ketika anak sulung itu diminta untuk bekerja di kebun anggur, ternyata anak sulung itu menolak. (ay 29). Mungkin anak sulung menganggap bahwa sebagai anak tertua ia sudah pasti mendapatkan segalanya sehingga ia tidak perlu lagi repot-repot mengusahakan sendiri. Anak sulung itu tentu tahu ia wajib melakukan kehendak ayahnya, tapi ia tidak melakukannya karena merasa dirinya sudah aman. Lalu sang ayah mendatangi anak keduanya dan mengulangi permintaannya. Tanggapan si anak kedua ternyata berbeda. Mulanya menolak, namun kemudian ia menyesal dan menuruti permintaan ayahnya. "Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga." (ay 30). Ada perbedaan nyata antara sikap keduanya. Yesus pun kemudian menanyakan pendapat para imam dan tua-tua Yahudi: "Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah." (ay 31). Mengapa? Inilah sebabnya: "Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (ay 32).

(bersambung)

Tuesday, July 14, 2015

Hati Bapa (3)

(sambungan)

Bentuk hati seperti itulah yang dimiliki Tuhan terhadap setiap orang yang terhilang. Itulah bentuk hatinya selagi kita masih bergelimang kesesatan dalam dunia ini. Dia tidak pernah ingin kita terus tersesat. Dia tetap mengasihi kita semua bahkan ketika kita masih terus berlumuran dosa. Satu bukti nyata betapa besarnya kasih Allah terhadap kita orang berdosa ini adalah dengan hadirnya Yesus agar kita semua tidak binasa melainkan layak untuk beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Satu hal yang perlu kita ketahui adalah benar bahwa Tuhan membenci dosa, tapi Dia tidak membenci orang berdosa. Dia terus berharap agar setiap orang yang tersesat bisa kembali ke jalanNya. Dia rindu melihat kita semua berbalik dari jalan-jalan yang salah untuk kembali kepangkuanNya.Dia rindu untuk menyambut 'kepulangan' kita.

Dalam Mazmur Daud pun hal ini dengan jelas dinyatakan. "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia." (Mazmur 103:13). Hati Bapa yang penuh kasih dan penuh pengampunan seperti inilah yang mewarnai sikap Tuhan kepada kita semua. Bukankah ini luar biasa? Tuhan mengatakan bahwa Dia siap untuk membuang dosa kita sejauh timur dari barat (ay 12), melemparkannya jauh ke dalam tubir laut (Mikha 7:9), tidak lagi mengingat-ingat dosa kita (Yesaya 43:25) bahkan dikatakan siap untuk dibenarkan oleh Allah melalui Kristus. (2 Korintus 5:21). Bukan sekedar dipulihkan, diampuni, tapi malah dibenarkan. Hati Bapa adalah hati yang penuh belas kasih. Dia merindukan kita yang terlanjur hilang, dan berharap kita akan kembali kepadaNya. Itulah yang akan menyukacitakan hatiNya lebih dari apapun.

Apabila ada keraguan akan besar pengampunan Tuhan, berhati-hatilah karena dalam pola pemikiran seperti itu iblis akan berpesta pora membuat kita semakin parah sebagai tertuduh atau terdakwa. Itu adalah salah satu kesukaan iblis dalam menjatuhkan kita sekaligus menjauhkan kita dari Tuhan. Ada banyak orang yang menganggap Tuhan sebagai Sosok yang kejam, yang tidak akan segan-segan menghukum kita habis-habisan. Dalam hal tertentu Tuhan memang akan menghukum manusia yang tidak juga bertobat hingga kesempatannya habis. Tapi apakah Tuhan senang dengan itu? Apakah Dia tertawa puas melihat kita disiksa di dalam api neraka?

Sama sekali tidak. Tuhan bukanlah figur beringas, kejam dan penuh kebencian. Dia adalah Bapa yang penuh kasih. Tuhan akan sangat sedih jika sampai kita berakhir di sana. HatiNya akan menangis perih. Dia sudah merelakan Yesus untuk turun ke dunia menyelamatkan kita, dan jika kita masih saja berakhir di ujung yang seburuk itu, maka semua pengorbanan Tuhan akan menjadi sia-sia. Hati Bapa adalah hati yang lembut yang mengasihi kita dengan begitu luar biasa besar.

Tidak ada kata terlambat untuk bertobat selagi kesempatan untuk itu masih ada. Hati Bapa adalah hati yang penuh belas kasih dan akan segera merangkul menyambut kita. sebuah pertobatan pribadi yang sungguh-sungguh akan disambut Allah dengan penuh sukacita bersama seisi surga. Disamping itu, ingat pula bahwa ada banyak orang yang sangat membutuhkan bentuk kasih seperti ini dalam masa-masa sulit mereka. Jangan sampai kita mengabaikan mereka. Alangkah bahagianya jika lebih banyak lagi orang yang akhirnya menemukan jalan menuju Bapa, disambut dengan berlari dan rangkulan penuh sukacita olehNya sendiri, dimana malaikat dan seisi Surga pun akan turut menyambut dengan bersorak sorai. Dan kita bisa berperan di dalamnya untuk mengantarkan mereka pulang menuju sambutan meriah dari Surga.

Jangan pernah berpikir bahwa anda sudah terlambat untuk bertobat, dan jangan abaikan mereka yang masih hilang. Ketahuilah seperti apa isi hati Bapa dan rasakan bersama-sama kehangatan sambutanNya dan pintu kemaafan dariNya yang begitu lembut dan penuh kasih.

Tuhan berlari menyambut kepulangan anak-anakNya dengan rangkulan, ciuman dan pesta besar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, July 13, 2015

Hati Bapa (2)

(sambungan)

Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi dari sisi sang ayah. Apa yang terjadi selama si anak itu pergi meninggalkan dirinya? Apa yang ia lakukan dan bagaimana reaksinya ketika melihat anaknya kembali? "..Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia." (Lukas 15:20).

Mari perhatikan baik-baik ayat ini. "Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya." itu bagian pertama. Jika sang ayah sudah melihat si anak ketika ia masih jauh, tentu itu artinya ia terus menanti dengan memandang jauh ke depan. Saya membayangkan sosok sang bapa yang sedih hatinya terus menanti di depan jendela, melihat sejauh matanya bisa memandang, berharap pada suatu ketika sosok anaknya akan muncul jauh di ujung sana. Jika ia tidak menanti secara khusus seperti itu, tentu ia tidak akan melihat anaknya sejak masih jauh bukan?

Penantian yang sudah ia lakukan justru ketika anaknya belum bertobat, bahkan melewati hari-hari yang panjang dengan penantian itu ketika si anak masih terus berlumur dosa. Bapa itu dengan penuh harap merindukan kepulangan si anak yang hilang. Ia tidak membenci anaknya, sebaliknya ia penuh pengampunan. Saya yakin anaknya selalu berada dalam pikiran dan hatinya, dan ia terus mengasihi anaknya meski perbuatan si anak sungguh memilukan hatinya. Hanya orang yang demikianlah yang menanti sambil memandang jauh, berharap anaknya bisa suatu hari menyesali perbuatannya dan kembali kepangkuannya.

Berikutnya, apabila anda tengah menanti sesuatu yang anda tidak tahu kapan datangnya, apa perasaan anda ketika apa yang anda nanti-nantikan itu akhirnya hadir? Bersukacita? Excited? Melonjak kegirangan? Bergegas lari menyongsongnya? Semua itu tentu akan menjadi reaksi spontan kita, dan itulah yang si ayah lakukan. "lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia."

Lihatlah bagaimana besarnya sukacita sang ayah. Bukannya menolak kedatangan anaknya yang sudah begitu berdosa, bukannya mengusir atau memusuhi, memberi hukuman dan sebagainya, tetapi dikatakan berlari mendapatkan sang anak, lalu langsung merangkul dan mencium. Dia tidak menanti dengan berdiam di tempat, tetapi langsung berlari mendapatkan anak yang hilang. Anaknya yang dari kandang ternak dan sempat hidup dengan mengambil sedikit dari makanan hewan mungkin baunya ampun-ampunan. Tapi si ayah tidak peduli. Apa yang ada dalam hatinya hanyalah sukacita melihat sang anak kembali lagi.

Seperti itulah bentuk hati Bapa. KasihNya yang begitu besar mendorongNya untuk berlari ke arah sang anak, langsung memeluk dan mencium, bukan memukul, menampar atau menghukum. Bukan menghapuskan hak sebagai anak, mengusir, tetapi menerima kembali dengan penuh sukacita. Hanya memeluk dan mencium? Tidak. "Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita."  (ay 22-23). Sebuah pesta besar pun segera Dia siapkan menyambut kembalinya kita. Apapun dosa yang pernah kita lakukan, seberapa besarpun itu, selama kita bertobat dan datang dengan hati hancur kepadaNya, Tuhan akan menyambut kita tepat seperti itu, tepat seperti bapa yang menyambut anaknya yang hilang dalam perumpamaan yang disampaikan Yesus ini.

(bersambung)


Sunday, July 12, 2015

Hati Bapa (1)

Ayat bacaan: Lukas 15:20
=======================
"..Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia."

Ada banyak orang yang mengira bahwa ukuran dosanya sudah terlalu berat sehingga pintu surga sudah tertutup selamanya buat mereka meski mereka masih punya kesempatan untuk bertobat. Ada seseorang yang saya kenal memang punya masa lalu yang sangat kelam. Kalau pakai kacamata manusia, sudah terlalu banyak perbuatan buruk yang ia lakukan sehingga ia mendapat penghakiman di dunia. Bahkan menurutnya, ia ditolak untuk berjemaat di gereja di tempat ia tinggal karena sudah mendapat cap buruk tersebut. "Mereka tidak percaya saya bertobat dan menolak memberi saya kesempatan..." katanya lirih. Dan ia mengira bahwa seperti itu pula Tuhan terhadapnya. Ia menangis dan merasa dijauhi semua orang, justru setelah ia mau mulai membenahi hidupnya. Gereja membuang jemaat karena merasa mereka terlalu kotor? Saya berpikir, jangan-jangan seandainya Yesus turun lagi di dunia dan datang ke gereja itu, Yesus pun bisa diusir karena standar yang mereka pakai sudah tidak lagi mempergunakan standar gereja yang seharusnya.

Kita yang berlumur dosa seringkali merasa diri kita compang camping, jijik dan kotor, bagaikan gelandangan yang merasa tidak layak masuk ke dalam sebuah restoran mewah. Pernahkan anda melihat gelandangan yang diusir keluar agar para tamu yang makan tidak terganggu di dalam? Atau sebuah butik mewah yang segera mengusir pengamen atau pengemis karena dianggap tidak layak menginjakkan kaki di tempat mereka? Bahkan saya pernah mendengar tempat mewah yang menolak tamu dan mempermalukannya karena dikira tidak sanggup berbelanja disana. Tendensi kebanyakan manusia adalah cenderung menghakimi sesamanya. Betapa mudahnya melihat dosa pada diri orang lain sementara untuk menyadari dosa sendiri sulitnya bukan main.

Bahkan Yesus pun pernah menegur sikap seperti ini. "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (Matius 7:3). Di sisi lain, kita sering merasa terlalu buruk dan tidak layak sama sekali untuk menerima anugerah kasih Tuhan yang luar biasa besarnya itu. Tapi apakah reaksi Allah sama seperti reaksi sebagian orang-orang tersebut?  Kembali kepada cerita tentang seseorang di awal tulisan, apa yang saya bagikan kepadanya akan saya tulis hari ini sebagai bahan renungan. Seperti apa sebenarnya hati Allah yang kita panggil Bapa itu? Apakah Dia punya standar seperti gereja yang mengusir atau sebenarnya bukan seperti itu sama sekali?

Tuhan tidak pernah memilih untuk menjauhi kita, mengabaikan kita dan menolak kita yang datang dengan hancur hati. Justru sebaliknya, Tuhan bergegas untuk mendekati kita, bahkan berlari untuk merangkul dan mencium kita. Dari mana saya bisa yakin seperti itu? Karena hal tersebut jelas tertulis di dalam Alkitab, disampaikan oleh Yesus sendiri, yaitu lewat kisah anak yang hilang (Lukas 15:11-32).

Kisah ini tidak asing lagi bagi kita. Tapi ada baiknya saya berikan lagi saja gambaran ringkasnya. Kita sudah tahu bagaimana sikap si anak durhaka itu yang sungguh keterlaluan. Ia meminta hak warisannya selagi ayahnya masih hidup lalu hidup berfoya-foya. Ia memilih meninggalkan ayahnya dan mengejar segala kenikmatan yang ditawarkan dunia. Apa yang terjadi kemudian adalah kehancuran dalam waktu singkat. Ia menyesal dan memutuskan kembali kepada bapanya walaupun mungkin harus menghadapi resiko diusir atau tidak diakui lagi sebagai anak. Itu ringkasan awal dari perumpamaan yang sangat terkenal ini.

(bersambung)


Saturday, July 11, 2015

Julukan

Ayat bacaan: Mazmur 96:4
====================
"Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah."

Nama julukan adalah nama yang disematka kepada seseorang yang bukan nama asli pemberian orang tua. Salah satu asal datangnya nama julukan biasanya diambil dari bagaimana orang melihat sesuatu yang mereka kerjakan atau gambaran dari sifat, pencapaian, ciri khas atau karakter seseorang. Dalam dunia musik misalnya, ada beberapa tokoh ternama yang menyandang predikat-predikat tinggi seperti The King of Pop untuk Michael Jackson, The King of Rock n Roll untuk Elvis, The King of Soul untuk James Brown dan The Queen of Soul untuk Aretha Franklin. Di Indonesia ada gelar Raja Dangdut untuk Rhoma Irama, Mutiara dari Selatan untuk Andi Meriem Matalatta dan banyak lagi. Di dunia olah raga ada julukan Si Leher Beton untuk Mike Tyson diantara sekian banyak julukan yang diberikan pada tokoh-tokoh legendaris dunia olah raga, atau tim sepakbola yang dijuluki sesuai karakter seperti Tim Panser untuk Jerman, Tim Samba untuk Brazil, Tim Tango untuk Argentina, the Red Devil untuk Manchester United dan lain-lain. Julukan juga bisa muncul dari sebentuk kasih sayang dari orang lain atau juga bukti kedekatan antara satu dengan lainnya. Disamping itu julukan biasanya juga mengacu kepada pengenalan seseorang akan diri kita, bagaimana orang menilai diri kita atau apa yang menonjol dari kita di mata orang lain. Dari nama julukan yang diberikan, biasanya kita bisa mengetahui sifat seseorang, karakternya, apa yang istimewa dari mereka atau dari mana mereka berasal.

Hari ini mari kita renungkan sebesar apa Tuhan itu. Apa saja sebutan atau julukan yang bisa kita utarakan untuk menggambarkan kebesaran, keagungan dan kemuliaanNya? Pemazmur jelas terlihat memiliki kedekatan, hubungan yang sangat erat dengan Tuhan. Ada begitu banyak sebutan yang menggambarkan atau mendeskripsikan kehebatan Tuhan dalam kitab Mazmur. Jika anda membaca Mazmur 1 sampai 48 saja anda sudah menemukan begitu banyak gambaran dahsyatnya Tuhan dalam berbagai sebutan. Mari kita lihat apa saja sebutan yang menggambarkan berbagai sifat Tuhan beserta kehebatannya dari sepertiga bagian kitab Mazmur.

Tuhan adalah:
perisai yang melindungi aku (3:4)
yang membiarkan aku diam dengan aman (the source of safety) (4:98)
Rajaku dan Allahku (5:3)
Hakim (7:9. 9-9)
Yang Maha Tinggi (The Most High) (7:18)
tempat perlindungan (our refuge and high tower, a stronghold) (9:10)
penolong anak yatim (the helper of the fatherless) (10:14)
Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya (10:16)
adil (11:7)
bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku (my Rock, my Fortress and my Deliverer) (18:3, 31:3-4)
sandaranku (my stay and support) (18:19)
Penebusku (my Redeemer) (19:15)
Tuhan adalah gembalaku (23:1)
Raja Kemuliaan (24:7)
Maha Kuasa (the Lord of hosts) (24:10)
Penyelamat (25:5)
terangku dan keselamatanku (27:1)
gunung batuku (28:1)
kekuatanku dan perisaiku (28:7)
benteng pertahanan (28:8)
Tuhan adalah Allah yang mulia (29:3)
Allah yang setia (31:6)
Allah yang hidup (42:3)
penolong dalam kesesakan (46:2)
Mahatinggi dan dahsyat
Raja yang besar atas seluruh bumi  (47:3).

"Great is the Lord and highly to be praised in the city of our God.. Besarlah Tuhan dan sangat terpuji di kota Allah kita!" begitulah yang disebutkan dalam Mazmur 48:1. Dalam Mazmur 96:4 kita bisa membaca seruan Daud: "Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah" yang juga terdapat dalam 1 Tawarikh 16:25. Ada begitu banyak kebesaran dan kemuliaan Tuhan yang menggambarkan pribadi Allah kita yang dahsyatnya luar biasa. Tidak akan ada habisnya untuk kita renungkan.

Apakah kita sudah menyadari kebesaran Tuhan dan betapa banyaknya julukan luar biasa sepanjang isi Alkitab? Apa yang saya kutip dari sepertiga bagian kitab Mazmur di atas hanyalah "sedikit" dari sekian banyak gambaran Allah yang tertulis kekal di dalam alkitab. Sudahkah kita memakai waktu kita secara khusus untuk memuji dan menyembahNya? Sudahkah kita bersyukur dengan memiliki Tuhan yang berkuasa di atas segalanya? Lihatlah ada begitu banyak dasar atau alasan bagi kita untuk memuji Tuhan. Tidak akan pernah ada kata cukup untuk memuji Tuhan. Karena itu mari kita sama-sama mencari Dia hari ini untuk mengucap syukur atas segala kebaikanNya kepada kita.

Great is the Lord, and greatly to be praised!

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, July 10, 2015

Makna Spiritual Dibalik Bekerja (2)

(sambungan)

Paulus tidak meminta hak khusus untuk tidak bekerja, meskipun waktu dan fisiknya jelas tersita untuk melayani kemana-mana. Ia mengalami deraan, siksaan dan sebagainya, namun ia tetap bekerja. Bahkan lebih dari sekedar untuk membiayai pelayanan, Paulus pun menyatakan bahwa ia bekerja agar bisa memberi, membantu orang lain. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35).

Dari rangkaian fakta ini kita bisa menyimpulkan bahwa Paulus sangat sadar ia bisa memuliakan Tuhan lewat pekerjaannya. Tidak bersungut-sungut dalam melayani dan bekerja sekaligus, membiayai pelayanannya dan rekan-rekan, plus memberi bantuan kepada orang lain, bukankah semua itu merupakan sesuatu yang berharga di mata Tuhan? Artinya jelas, ada makna spiritual yang harus terkandung di dalam pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.

Firman Tuhan berkata: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini mengikuti ayat sebelumnya yang berbunyi "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan." (ay 22). Ada sebuah alasan yang lebih dari sekedar menyambung hidup atau memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam bekerja, yaitu untuk menyenangkan hati Tuhan. Dan karena itulah kita dituntut untuk bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh, bukan seperti untuk manusia melainkan seperti untuk Tuhan.

Tokoh reformasi gereja Martin Luther pernah berkata: "Even if I knew that tomorrow the world would go to pieces, I would still plant my apple tree." Martin  akan tetap bekerja dengan semangat dan keseriusan yang sama meski besok dunia hancur lebur.

Semua ini bisa membuka cakrawala pemikiran kita bahwa sudah seharusnya pekerjaan kita memiliki nilai spiritual yang sama dalamnya dengan segala kegiatan kerohanian kita seperti berdoa, membaca firman Tuhan, beribadah, bersekutu dan sebagainya. Bekerja merupakan hal yang sangat penting, bukan saja karena Tuhan tidak menyukai orang malas, tetapi karena ada banyak hal yang bisa kita lakukan di dalamnya untuk menyatakan kemuliaan Tuhan.

Oleh sebab itu kita harus memandang dan memperlakukan pekerjaan kita sama serius dan dalamnya seperti segala kegiatan kerohanian kita. Mulai hari ini, mari kita sama-sama pastikan bahwa kita telah meletakkan profesi, pekerjaan atau apapun yang kita lakukan kepada Tuhan dan menjadikannya sebagai salah satu ibadah kita.

Ada makna spiritual yang seharusnya terkandung di dalam pekerjaan. Pray often, Work Hard, Trust God

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...