(sambungan)
Standar tinggi ini tentu saja sangat baik apabila diaplikasikan kepada pasangan kita, antara suami-istri, terhadap anak-anak atau keluarga dan sahabat. Tapi kasih seperti ini akan jauh lebih membawa manfaat apabila diaplikasikan jauh melebihi itu, dengan menjangkau orang-orang diluar sana, yang belum kita kenal bahkan yang sulit dijangkau sekalipun. Kasih seperti inilah yang akan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, sebentuk kasih Surgawi yang sudah dipraktekkan oleh Allah sendiri lewat Kristus, kasih yang sudah mendatangkan keselamatan bagi kita dan mendamaikan hubungan antara Sang Pencipta dan yang diciptakan yang tadinya terputus akibat dosa.
Lebih jauh lagi, orang yang memiliki kasih akan tahan menghadapi segala sesuatu, dan mau melihat sisi baik dari setiap orang, tidak pernah kehilangan harapan dan sabar. Mari kita lihat rangkaian ayat berikutnya. "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (ay 7). Lantas "Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap". (ay 8). Semua yang lainnya pada suatu ketika akan lenyap, bahkan hingga tiga poin penting terakhir yaitu iman, pengharapan dan kasih, Firman Tuhan mengatakan bahwa diantara ketiganya yang paling besar itu adalah kasih. "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (ay 13).
Kata "kasih tidak berkesudahan" pada ayat 8 sesungguhnya mengandung pesan yang sangat penting. Dalam versi Amplified Bible dikatakan "Love never fails". Kasih tidak akan pernah gagal, tidak pernah gagal untuk membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan kita menuju ke arah yang lebih baik, tidak pernah gagal untuk memulihkan dan memperbaiki apa yang sudah rusak atau bahkan hancur. Seandainya alkitab diperas habis, maka semuanya akan yang akan kita peroleh adalah kasih. Semua bermuara kepada kasih. Ini pula yang menjadi dua hukum yang terutama yang diberikan Yesus sendiri. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40).
Mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan mengasihi kita, tanpa memandang siapa diri mereka, memilah-milah mana yang harus dikasihi dan mana yang boleh dibenci seperti yang dilakukan sebagian orang yang keliru dalam mengartikan makna kasih. Ada begitu banyak orang yang menjadi tawar karena tidak lagi merasakan kasih dalam hidupnya, dan mereka ini ada di sekitar anda dan saya. Jika anda menganggap bahwa kasih Tuhan nyata dalam hidup anda, jika anda menyadari bahwa Tuhan bukan hanya sumber kasih tetapi kasih itu sendiri, jika anda tahu bagaimana indahnya perasaan dikasihi dan mengasihi, sekarang saatnya untuk membagikan sukacita yang sama pada mereka yang membutuhkan. Hari Valentine yang diperingati sebagai hari kasih sayang hendaknya bisa pula dipakai sebagai sebuah hari yang bukan saja khusus untuk kekasih atau orang-orang terdekat saja, tetapi jadikanlah itu sebagai titik tolak bagi kita untuk membagi kasih kepada sesama manusia, tanpa terkecuali. Selamat Hari Kasih Sayang, Tuhan memberkati!
Semakin anda mengenal kasih Tuhan, hendaknya semakin banyak pula kasih yang kita berikan pada sesama
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, February 14, 2015
Friday, February 13, 2015
Aspek-Aspek yang Terkandung dalam Kasih (1)
Ayat bacaan: 1 Korintus 13:13
======================
"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih."
Valentine's Day, Hari Kasih Sayang, telah tiba. Setiap tahunnya perayaan ini memicu pro dan kontra. Yang membuat saya sedih, kenapa yang menentang hanya didasarkan pada asal muasalnya menurut fakta sejarah saja dan bukan kepada esensinya. Kalau memang hanya berdasarkan asalnya, kenapa tidak pilih saja hari lain yang berbeda untuk itu? Dalih selanjutnya adalah bahwa kasih tidak perlu diperingati secara istimewa. Kasih seharusnya tiap hari dan bukan hanya sehari saja, katanya. Itu idealnya, dan saya sangat setuju kalau itu bisa dijalankan oleh manusia. Faktanya, kesibukan yang menyita waktu, berbagai kegiatan dan agenda sehari-hari selalu saja membuat kita kekurangan waktu, tenaga atau mood untuk bisa seperti itu. Apalagi kalau orang-orang terdekat yang paling kita sayangi tinggal di kota atau negara yang berbeda, akan sulit bagi kita untuk setiap hari bisa menyatakan kasih kita kepada mereka. Fakta lainnya adalah bahwa manusia semakin banyak yang hidup dengan memperkaya kebencian ketimbang menyatakan kasih. Karenanya saya rasa kita semua perlu diingatkan lewat sebuah hari yang dikhususkan untuk kasih. Sebuah hari yang seharusnya lebih dari sekedar makan malam romantis bersama kekasih, tetapi dirayakan dengan kembali merenungkan kasih sebagai esensi yang terindah dalam hidup manusia. Artinya kasih seharusnya bisa menjangkau jauh lebih luas daripada hanya antar pasangan saja, bahkan seharusnya melebihi hubungan antar keluarga dan orang-orang terdekat saja.
Everybody needs to love and to be loved in return. Sebagian orang mungkin menganggap itu sebagai pernyataan sikap cengeng, tapi apa benar ada manusia yang begitu dingin sampai tidak lagi butuh kasih dalam hidupnya? Apakah benar manusia tidak memerlukan itu? apakah kasih itu hanya sesuatu yang semu dan tidak pernah nyata? Saya yakin, siapapun orangnya, termasuk yang paling jagoan sekalipun akan butuh dicintai dan bisa mencintai, meski mungkin perasaan itu tersimpan jauh di dalam lubuk hati mereka. Kalau begitu, terlepas dari ada tidaknya hari kasih sayang, ini merupakan sesuatu yang perlu untuk membuat kita bisa menikmati hidup yang berbahagia.
Kalau ditanya tentang kasih, kebanyakan orang biasanya hanya mengacu kepada sebuah perasaan cinta antara pasangan. Dari ketertarikan kepada seseorang, dari mata turun ke hati, timbul rasa cinta yang mengarah kepada keinginan untuk menjalani dan menghabiskan hidup bersama dengannya. Itu adalah salah satu bentuk dari kasih. Tapi sebenarnya ada banyak lagi seluk beluk atau aspek-aspek penting dari kasih yang mungkin masih luput dari perhatian kita. Apa saja itu? Alkitab sudah membeberkannya dengan jelas, yaitu dalam 1 Korintus pasal 13.
1 Korintus 13 berbicara panjang lebar mengenai kasih. Kasih disana digambarkan bukan hanya sebatas dicintai oleh orang lain, namun lebih jauh berbicara mengenai aspek-aspek yang ada dalam kasih. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran." (1 Korintus 13:4-6). Lihatlah bahwa ada begitu banyak aspek kasih yang jauh lebih dari keinginan untuk memiliki. Di dalam kasih ada:
- kesabaran
- kemurahan hati
- tidak cemburu
- tidak memegahkan diri
- tidak sombong
- tidak melakukan yang tidak sopan
- tidak mencari keuntungan sendiri
- tidak berisi kemarahan
- tidak menyimpan kesalahan orang alias mendendam
- menentang ketidakadilan
- menyukai kebenaran
- menguatkan/memberi daya tahan untuk menghadapi segala sesuatu
- memampukan untuk melihat sisi-sisi terbaik pada setiap orang
- membuat kita terus hidup dalam pengharapan, dan
- membuat kita tabah dalam menanggung segala sesuatu.
Inilah aspek-aspek kasih yang kalau dijalankan akan bermakna besar bagi tatanan kehidupan dunia yang damai, jauh dari kekerasan, kebencian dan kejahatan. Begitu pentingnya dan begitu banyaknya, maka kita perlu diingatkan pada waktu-waktu tertentu akan makna kasih yang mendasari keimanan kita.
(bersambung)
======================
"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih."
Valentine's Day, Hari Kasih Sayang, telah tiba. Setiap tahunnya perayaan ini memicu pro dan kontra. Yang membuat saya sedih, kenapa yang menentang hanya didasarkan pada asal muasalnya menurut fakta sejarah saja dan bukan kepada esensinya. Kalau memang hanya berdasarkan asalnya, kenapa tidak pilih saja hari lain yang berbeda untuk itu? Dalih selanjutnya adalah bahwa kasih tidak perlu diperingati secara istimewa. Kasih seharusnya tiap hari dan bukan hanya sehari saja, katanya. Itu idealnya, dan saya sangat setuju kalau itu bisa dijalankan oleh manusia. Faktanya, kesibukan yang menyita waktu, berbagai kegiatan dan agenda sehari-hari selalu saja membuat kita kekurangan waktu, tenaga atau mood untuk bisa seperti itu. Apalagi kalau orang-orang terdekat yang paling kita sayangi tinggal di kota atau negara yang berbeda, akan sulit bagi kita untuk setiap hari bisa menyatakan kasih kita kepada mereka. Fakta lainnya adalah bahwa manusia semakin banyak yang hidup dengan memperkaya kebencian ketimbang menyatakan kasih. Karenanya saya rasa kita semua perlu diingatkan lewat sebuah hari yang dikhususkan untuk kasih. Sebuah hari yang seharusnya lebih dari sekedar makan malam romantis bersama kekasih, tetapi dirayakan dengan kembali merenungkan kasih sebagai esensi yang terindah dalam hidup manusia. Artinya kasih seharusnya bisa menjangkau jauh lebih luas daripada hanya antar pasangan saja, bahkan seharusnya melebihi hubungan antar keluarga dan orang-orang terdekat saja.
Everybody needs to love and to be loved in return. Sebagian orang mungkin menganggap itu sebagai pernyataan sikap cengeng, tapi apa benar ada manusia yang begitu dingin sampai tidak lagi butuh kasih dalam hidupnya? Apakah benar manusia tidak memerlukan itu? apakah kasih itu hanya sesuatu yang semu dan tidak pernah nyata? Saya yakin, siapapun orangnya, termasuk yang paling jagoan sekalipun akan butuh dicintai dan bisa mencintai, meski mungkin perasaan itu tersimpan jauh di dalam lubuk hati mereka. Kalau begitu, terlepas dari ada tidaknya hari kasih sayang, ini merupakan sesuatu yang perlu untuk membuat kita bisa menikmati hidup yang berbahagia.
Kalau ditanya tentang kasih, kebanyakan orang biasanya hanya mengacu kepada sebuah perasaan cinta antara pasangan. Dari ketertarikan kepada seseorang, dari mata turun ke hati, timbul rasa cinta yang mengarah kepada keinginan untuk menjalani dan menghabiskan hidup bersama dengannya. Itu adalah salah satu bentuk dari kasih. Tapi sebenarnya ada banyak lagi seluk beluk atau aspek-aspek penting dari kasih yang mungkin masih luput dari perhatian kita. Apa saja itu? Alkitab sudah membeberkannya dengan jelas, yaitu dalam 1 Korintus pasal 13.
1 Korintus 13 berbicara panjang lebar mengenai kasih. Kasih disana digambarkan bukan hanya sebatas dicintai oleh orang lain, namun lebih jauh berbicara mengenai aspek-aspek yang ada dalam kasih. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran." (1 Korintus 13:4-6). Lihatlah bahwa ada begitu banyak aspek kasih yang jauh lebih dari keinginan untuk memiliki. Di dalam kasih ada:
- kesabaran
- kemurahan hati
- tidak cemburu
- tidak memegahkan diri
- tidak sombong
- tidak melakukan yang tidak sopan
- tidak mencari keuntungan sendiri
- tidak berisi kemarahan
- tidak menyimpan kesalahan orang alias mendendam
- menentang ketidakadilan
- menyukai kebenaran
- menguatkan/memberi daya tahan untuk menghadapi segala sesuatu
- memampukan untuk melihat sisi-sisi terbaik pada setiap orang
- membuat kita terus hidup dalam pengharapan, dan
- membuat kita tabah dalam menanggung segala sesuatu.
Inilah aspek-aspek kasih yang kalau dijalankan akan bermakna besar bagi tatanan kehidupan dunia yang damai, jauh dari kekerasan, kebencian dan kejahatan. Begitu pentingnya dan begitu banyaknya, maka kita perlu diingatkan pada waktu-waktu tertentu akan makna kasih yang mendasari keimanan kita.
(bersambung)
Thursday, February 12, 2015
Perlindungan dan Kekuatan dari Sukacita karena Tuhan
Ayat bacaan: Nehemia 8:11b
========================
"Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!"
Apa yang dimaksud dengan sukacita? Menurut kamus, sukacita adalah hati yang bersuka, girang. Kapan kita merasakan sukacita? Rata-rata orang menghubungkan sukacita kepada sebuah perasaan dalam suatu kondisi dimana tidak ada penderitaan atau permasalahan yang sedang menimpa mereka. Berarti sukacita sangat tergantung dari kondisi atau keadaan yang sedang dialami. Kalau hidup sedang lancar, aman, berkecukupan atau bahkan berkelebihan, sedang dapat rejeki atau keuntungan, mendapat hadiah, bonus dan lain-lain barulah kita bersukacita. Sebaliknya, kalau sedang menghadapi persoalan, itu tandanya sukacita tidak boleh ada lagi didalam diri kita. Paling tidak sampai situasi bisa menunjukkan perubahan terlebih dahulu. Coba pikir, bagaimana mungkin bersukacita jika sedang dalam keadaan tersesak? Gila apa? Itu pandangan sebagian besar dari kita. Sebenarnya sebuah sukacita bukan seperti itu. Sukacita yang sejati sesungguhnya tidak tergantung dari apa yang sedang kita alami atau rasakan. Bagaimana bisa demikian? Sebab sukacita yang sesungguhnya itu seharusnya berasal dari Tuhan dan tidak boleh tergantung dari manusia, situasi, kondisi atau keadaan apapun.
Mari kita langsung lihat ayatnya, lewat Firman Tuhan yang disampaikan lewat Nehemia: "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:11b). Sukacita karena Tuhan ternyata bukan saja bisa mengobati kesusahan hati tetapi sangat mampu menjadi perlindungan kita. Artinya tidak saja sukacita itu tidak boleh digantungkan kepada keadaan atau kondisi yang tengah kita hadapi, tetapi seharusnya sukacita itu pun bisa memberikan sebuah kekuatan tertentu untuk bisa bertahan bahkan menjadikan kita keluar sebagai pemenang ditengah kesesakan apapun. That's the power of joy, the power of rejoicing. Tapi bukankah itu sulit kita rasakan saat kita sedang dalam tekanan atau masalah? Kalau memakai kekuatan kita sendiri tentu saja ya, tapi itu bisa dimungkinkan karena sukacita yang sejati sebenarnya berasal dari Tuhan.
Sekarang ayo kita lihat aplikasinya lewat contoh dari Paulus yang secara langsung mengaplikasikan sukacita ini dalam perjalanan pelayanannya. Setelah bertobat, hidup Paulus bukanlah menjadi lebih gampang. Yang terjadi justru sebaliknya, karena ia segera bertemu dengan masalah dan penderitaan. Ia mengalami berbagai tekanan, siksaan, deraan bahkan ancaman yang setiap saat bisa menamatkan nyawanya. Secara logika kita mungkin akan berpikir bahwa itu artinya ada sesuatu yang salah. Itu bisa timbul dalam pikiran kita apabila kita tidak memiliki motivasi yang benar dalam bertobat, yaitu menerima Yesus hanya untuk mencari berkat-berkat duniawi saja.
Lantas bagaimana dengan Paulus? Apakah Paulus menyesal mengambil jalan bertobat? Sama sekali tidak. Ia terus konsisten dalam mewartakan firman Tuhan kemanapun ia pergi, apapun taruhannya. Bukan itu saja, secara jelas kita bisa melihat bahwa sukacita ternyata tetap menyertainya. Lihat apa katanya: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! ... Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:4,6-7). Dan dengan tegas ia juga menyatakan "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (ay 13). Seperti itulah bentuk iman Paulus yang tahu betul bagaimana pentingnya memiliki sukacita yang berasal dari Tuhan, yang mampu memberikannya kekuatan dalam menghadapi berbagai masalah dalam pelayanannya.
Berada dalam penjara, mendapat siksaan secara fisik sekalipun, Paulus tidak patah semangat. Dia tidak menganggap penjara sebagai sebuah halangan, kendala atau kerugian, tapi justru sebagai kesempatan atau keuntungan baginya. Ia mempergunakan ruang penjaranya bukan sebagai tempat untuk meratapi nasib, tapi mengubahnya sebagai pusat penginjilannya. Banyak surat ia tuliskan berasal dari dalam penjara. Ia terus membagi sukacita kerajaan Allah dan tips-tips kehidupan yang penuh kemenangan seperti apa yang ia alami. Sebuah sukacita yang berasal dari Tuhan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar. Semua itu sesungguhnya adalah sebuah pilihan bagi kita. Apakah kita mau membiarkan diri kita dikuasai masalah dan kemudian kehilangan sukacita, atau kita mau memakai sukacita ini sebagai kekuatan yang memampukan kita menghadapi badai apapun dengan tegar.
Apakah saat ini anda tengah mengalami situasi-situasi sulit yang menekan hidup kita? Apakah anda tengah mengalami keadaan yang sepertinya sungguh tidak adil? Atau satu masalah belum kelar, masalah baru sudah muncul sehingga kita jadi kalang kabut atau tertekan? Jika ada teman-teman yang merasakan itu, lihat bagaimana Paulus menanggapinya. "Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." (Filipi 1:18b). Seperti itu pula hendaknya prinsip hidup kita. Jangan sampai kita menyerah kalah oleh masalah, jangan sampai pula berbagai tekanan hidup itu menjadi jalan masuk bagi iblis untuk merampas kemenangan kita. Pergunakanlah kekuatan sukacita, the power of rejoicing yang berasal dari Tuhan sebagai senjata yang memampukan anda menghadapi semuanya dengan tegar. Dengan adanya sukacita Kerajaan Allah dalam hidup kita, maka kita bisa bebas dari kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan. Masalah boleh hadir dan tidak bisa kita hindari seterusnya, tapi biar bagaimanapun sukacita harus tetap tinggal di dalam diri kita. Sebab, sukacita karena Tuhan, itulah perlindunganmu!
God says: Don't worry, because My joy is your strength!
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
========================
"Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!"
Apa yang dimaksud dengan sukacita? Menurut kamus, sukacita adalah hati yang bersuka, girang. Kapan kita merasakan sukacita? Rata-rata orang menghubungkan sukacita kepada sebuah perasaan dalam suatu kondisi dimana tidak ada penderitaan atau permasalahan yang sedang menimpa mereka. Berarti sukacita sangat tergantung dari kondisi atau keadaan yang sedang dialami. Kalau hidup sedang lancar, aman, berkecukupan atau bahkan berkelebihan, sedang dapat rejeki atau keuntungan, mendapat hadiah, bonus dan lain-lain barulah kita bersukacita. Sebaliknya, kalau sedang menghadapi persoalan, itu tandanya sukacita tidak boleh ada lagi didalam diri kita. Paling tidak sampai situasi bisa menunjukkan perubahan terlebih dahulu. Coba pikir, bagaimana mungkin bersukacita jika sedang dalam keadaan tersesak? Gila apa? Itu pandangan sebagian besar dari kita. Sebenarnya sebuah sukacita bukan seperti itu. Sukacita yang sejati sesungguhnya tidak tergantung dari apa yang sedang kita alami atau rasakan. Bagaimana bisa demikian? Sebab sukacita yang sesungguhnya itu seharusnya berasal dari Tuhan dan tidak boleh tergantung dari manusia, situasi, kondisi atau keadaan apapun.
Mari kita langsung lihat ayatnya, lewat Firman Tuhan yang disampaikan lewat Nehemia: "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:11b). Sukacita karena Tuhan ternyata bukan saja bisa mengobati kesusahan hati tetapi sangat mampu menjadi perlindungan kita. Artinya tidak saja sukacita itu tidak boleh digantungkan kepada keadaan atau kondisi yang tengah kita hadapi, tetapi seharusnya sukacita itu pun bisa memberikan sebuah kekuatan tertentu untuk bisa bertahan bahkan menjadikan kita keluar sebagai pemenang ditengah kesesakan apapun. That's the power of joy, the power of rejoicing. Tapi bukankah itu sulit kita rasakan saat kita sedang dalam tekanan atau masalah? Kalau memakai kekuatan kita sendiri tentu saja ya, tapi itu bisa dimungkinkan karena sukacita yang sejati sebenarnya berasal dari Tuhan.
Sekarang ayo kita lihat aplikasinya lewat contoh dari Paulus yang secara langsung mengaplikasikan sukacita ini dalam perjalanan pelayanannya. Setelah bertobat, hidup Paulus bukanlah menjadi lebih gampang. Yang terjadi justru sebaliknya, karena ia segera bertemu dengan masalah dan penderitaan. Ia mengalami berbagai tekanan, siksaan, deraan bahkan ancaman yang setiap saat bisa menamatkan nyawanya. Secara logika kita mungkin akan berpikir bahwa itu artinya ada sesuatu yang salah. Itu bisa timbul dalam pikiran kita apabila kita tidak memiliki motivasi yang benar dalam bertobat, yaitu menerima Yesus hanya untuk mencari berkat-berkat duniawi saja.
Lantas bagaimana dengan Paulus? Apakah Paulus menyesal mengambil jalan bertobat? Sama sekali tidak. Ia terus konsisten dalam mewartakan firman Tuhan kemanapun ia pergi, apapun taruhannya. Bukan itu saja, secara jelas kita bisa melihat bahwa sukacita ternyata tetap menyertainya. Lihat apa katanya: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! ... Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:4,6-7). Dan dengan tegas ia juga menyatakan "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (ay 13). Seperti itulah bentuk iman Paulus yang tahu betul bagaimana pentingnya memiliki sukacita yang berasal dari Tuhan, yang mampu memberikannya kekuatan dalam menghadapi berbagai masalah dalam pelayanannya.
Berada dalam penjara, mendapat siksaan secara fisik sekalipun, Paulus tidak patah semangat. Dia tidak menganggap penjara sebagai sebuah halangan, kendala atau kerugian, tapi justru sebagai kesempatan atau keuntungan baginya. Ia mempergunakan ruang penjaranya bukan sebagai tempat untuk meratapi nasib, tapi mengubahnya sebagai pusat penginjilannya. Banyak surat ia tuliskan berasal dari dalam penjara. Ia terus membagi sukacita kerajaan Allah dan tips-tips kehidupan yang penuh kemenangan seperti apa yang ia alami. Sebuah sukacita yang berasal dari Tuhan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar. Semua itu sesungguhnya adalah sebuah pilihan bagi kita. Apakah kita mau membiarkan diri kita dikuasai masalah dan kemudian kehilangan sukacita, atau kita mau memakai sukacita ini sebagai kekuatan yang memampukan kita menghadapi badai apapun dengan tegar.
Apakah saat ini anda tengah mengalami situasi-situasi sulit yang menekan hidup kita? Apakah anda tengah mengalami keadaan yang sepertinya sungguh tidak adil? Atau satu masalah belum kelar, masalah baru sudah muncul sehingga kita jadi kalang kabut atau tertekan? Jika ada teman-teman yang merasakan itu, lihat bagaimana Paulus menanggapinya. "Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." (Filipi 1:18b). Seperti itu pula hendaknya prinsip hidup kita. Jangan sampai kita menyerah kalah oleh masalah, jangan sampai pula berbagai tekanan hidup itu menjadi jalan masuk bagi iblis untuk merampas kemenangan kita. Pergunakanlah kekuatan sukacita, the power of rejoicing yang berasal dari Tuhan sebagai senjata yang memampukan anda menghadapi semuanya dengan tegar. Dengan adanya sukacita Kerajaan Allah dalam hidup kita, maka kita bisa bebas dari kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan. Masalah boleh hadir dan tidak bisa kita hindari seterusnya, tapi biar bagaimanapun sukacita harus tetap tinggal di dalam diri kita. Sebab, sukacita karena Tuhan, itulah perlindunganmu!
God says: Don't worry, because My joy is your strength!
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Wednesday, February 11, 2015
Sulitnya Memahami Rencana Tuhan
Ayat bacaan:Pengkotbah 3:11
===========================
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."
Seorang bassist terkenal yang masih muda sekali waktu menceritakan kisahnya di masa kecil. Sejak masih berusia 5 tahun ia sebenarnya sudah menunjukkan ketertarikan ke arah musik. Maklum, kedua orang tuanya memang hidup di dunia musik, begitu pula dengan paman dan beberapa keluarga lainnya. Ia menceritakan bahwa setiap kali ia meminta sang ayah untuk mengajarkannya memainkan instrumen, sang ayah selalu menolak. Ia sempat kecewa dan marah, bertanya-tanya mengapa ayahnya menolak mengajarnya sementara sangat bersemangat mengajar banyak murid. Ia terus menamatkan tiap jenjang sampai masuk ke sebuah fakultas seni. Setelah mencoba beberapa tahun, ia tidak lagi bisa menutup mata lagi dari panggilannya dan memutuskan untuk total di bidang musik. Belakangan barulah ia tahu bahwa ternyata maksud ayahnya baik. Ayahnya menolak mengajar dia bukan karena merasa dirinya tidak punya bakat. Sama sekali bukan. Tapi ayahnya memutuskan untuk tidak terjun langsung dari semula karena tidak ingin pendidikan formalnya berantakan. Dan yang lebih penting lagi, ia mau anaknya tidak bergantung dan manja karena punya ayah pemusik handal. Sang ayah mau anaknya berjuang sendiri dari bawah agar mental dan moralnya kuat saat sudah berhasil nanti. "Sekarang barulah saya tahu bahwa papa ternyata sangat sayang kepada saya. Semua demi kebaikan saya. Bahkan saya berani berkata bahwa kalau papa tidak bersikap seperti itu, saya tidak akan menjadi diri saya seperti sekarang." katanya. Bertahun-tahun ia tidak bisa mengerti, tetapi akhirnya ia sadar bahwa keputusan sang ayah merupakan yang terbaik bagi dirinya. Saat ini mereka saling dukung bermain bersama di banyak tempat.
Hal yang sama sering terjadi ketika kita mengalami sesuatu yang terasa tidak enak, tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan. Terkadang kita bertanya mengapa Tuhan tega "merusak" sesuatu yang sedang kita nikmati. Kita marah saat Tuhan tidak juga mengijinkan kita sesuatu yang sangat kita idam-idamkan, kita kecewa kalau masalah sepertinya dibiarkan saja untuk menjadi batu-batu yang tajam dalam hidup kita. Atau saat kita kehilangan dan terpukul di kala Tuhan memanggil pulang orang yang kita kasihi. Seringkali kita berdebat mempertanyakan keputusan Tuhan, tidak jarang pula kita marah, mempersalahkan dan menuduh Tuhan. Dari perspektif kemampuan daya pikir dan jarak pandang manusia memang demikian, tetapi ketahuilah bahwa pola pikir kita sangat terbatas dan pasti sulit untuk menjangkau apa yang terbaik menurut perspektif Tuhan yang jauh lebih besar.
Selagi saya menulis, ada seekor semut yang ternyata memanjat kaki saya. Dengan perlahan ia mengangkut tubuhnya yang kecil untuk terus naik, entah untuk apa. Saya berpikir, seandainya kaki orang lain yang ia panjat dan kemudian sampai pada jarak tertentu seperti di paha, semut kecil yang lemah itu bisa dengan mudah dipencet sampai mati. Saya bisa melakukannya dengan mudah kalau mau, karena saya sudah tahu kemana ia akan tiba. Tapi semut yang kecil belum melihat resiko bahaya yang menanti di depan sana karena kemampuan dan jarak pandangnya jauh dibawah manusia yang berukuran lebih besar dan punya kemampuan yang jauh lebih besar juga. Kalau semut ini mengerti bahasa manusia, saya akan memintanya berbalik dan berhenti mengambil resiko dengan mengambil langkah ke tempat-tempat yang tidak perlu. Semut belum bisa melihat kemana ia akan tiba, tapi saya sudah bisa.
Seperti itu kira-kira mengapa kita seringkali sulit untuk mengerti maksud Tuhan saat kita berada dalam situasi yang tidak kondusif. Tunggu sebentar, pikiran saya tiba-tiba kembali kepada pengalaman pribadi saya sekitar 15 tahun lalu saat ibu saya sedang koma di unit gawat darurat sebuah rumah sakit akibat kanker. Keinginan saya, saudara dan ayah saya jelas: kami ingin ibu sembuh dan berkumpul lagi dengan kondisi sehat bersama-sama. Tetapi ternyata Tuhan punya rencana lain. Ibu saya tetap dipanggilNya. Apakah hal tersebut berarti Tuhan tidak mendengar doa-doa dan tidak mempedulikan permohonan kami? Semakin saya pikirkan, semakin saya tahu bahwa Tuhan bukan menutup mata dan secara tega membuat kami kehilangan. Ijinkan saya terangkan alasannya. Pada waktu ibu saya sedang koma, beban biaya yang harus dikeluarkan setiap hari agar beliau bisa memperpanjang nafasnya sangatlah mahal dan jauh diluar kesanggupan keluarga. Yang lebih parah lagi, pada waktu itu adik dan ayah saya terus menerus mempergunakan berbagai kuasa gelap agar ibu saya bisa sembuh. Pada waktu itu saya mengalami begitu banyak pengalaman spiritual yang luar biasa yang pada akhirnya membuat saya memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Selagi saya belum mengenal Kristus dan tidak tahu apa-apa, berulang kali saya dibimbing untuk menjaga agar ibu saya tidak dicemari kuasa-kuasa gelap dan membimbingnya untuk bertobat dan memaafkan semua kesalahan orang yang masih ia simpan dengan berbisik pelan di telinganya. Pada waktu itu saya belum dibaptis dan masih belum tahu apa-apa, tapi Tuhan lewat berbagai caranya yang waktu itu saya anggap aneh terus membimbing saya agar bisa melakukan semua itu. Dia bahkan memberitahukan kapan ibu akan Dia panggil satu malam sebelumnya dengan detail sampai ke jamnya, dan saya bisa mengantar kepulangan ibu dengan berdoa hingga beberapa menit sebelum Tuhan benar-benar memanggilnya, tepat pada jam yang telah Dia beritahukan sebelumnya. Bayangkan, apa yang terjadi jika waktu itu saya tidak terus berperang melawan berbagai kuasa gelap yang terus menerus menghujani ibu saya? Mana yang lebih baik, sembuh tapi dibawah kuasa iblis atau pulang ke rumah Bapa dalam keadaan bersih? Meski saya merindukan beliau, saya sangat yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik dan itulah yang tetap akan Dia berikan selama kita mau percaya dan taat.
Ketidakmampuan kita untuk mengerti rencana Tuhan sesungguhnya sudah diingatkan sejak lama. Dalam Pengkotbah dikatakan "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Mengapa? Jawabannya bisa kita peroleh dari ayat berikut: "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:9) Seperti jauhnya jarak antara langit dan bumi, between heaven and earth, itulah perbedaan tinggi atau jauhnya jarak antara jalan Tuhan dengan jalan kita, antara pikiranNya dengan pikiran kita. Itu bisa membuat kita sulit mengerti dan malah mengira Tuhan jahat, padahal nanti pada suatu hari kita akan sadar bahwa apa yang diputuskan Tuhan adalah yang terbaik. Dia tentu lebih tahu apa yang terbaik bagi kita, bahkan lebih dari apa yang menurut kita sendiri.
Karenanya kita harus percaya dengan iman teguh bahwa apa yang ia berikan kepada kita adalah yang terbaik buat kita. Dia akan selalu menyediakan segala sesuatu yang indah pada waktunya. Kita harus percaya dan mengimani hal tersebut meskipun mungkin kita saat ini belum mengerti atau mungkin saja tidak pernah mengerti alasannya. Kalau kita hidup oleh iman dan menjalankannya dengan setia, radikal tanpa kompromi disertai percaya sepenuhnya, kita seharusnya bisa mempercayakan hidup kita kepada Tuhan karena Dia lah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi kita.
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Lihat bahwa Tuhan sendiri sudah mengatakan bahwa apa yang Dia siapkan bukanlah rencana mencelakakan melainkan rencana damai sejahtera yang siap membawa kita menuju masa depan yang penuh harapan. Meski tidak enak, kita harus sadar bahwa sesuatu yang tidak mengenakkan perlu dikerjakan dalam diri kita bukan untuk menyakiti kita, tapi untuk kebaikan kita, karena rencana Tuhan baik adanya. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Kemarin kita sudah melihat bagaimana Habakuk menunjukkan iman yang radikal dengan percaya sepenuhnya kepada Tuhan meski ia belum melihat apa yang akan terjadi kepada bangsanya Yehuda yang tengah terancam serangan bangsa yang kejam. Dalam renungan sebelumnya kita sudah melihat bagaimana Sadrakh, Mesakh dan Abednego menunjukkan iman yang radikal yang tetap terjaga murni meski tengah menuju kematian lewat cara dibakar. Mari belajar lewat contoh-contoh ini. Meski anda belum melihat atau belum mengerti saat ini, iman yang kuat akan membawa anda untuk percaya bahwa semua itu akan berujung kebaikan.
Tuhan tahu dan selalu memberikan yang terbaik buat kita, tepat pada waktunya, indah pada waktunya, peganglah janji itu dengan iman yang teguh
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
===========================
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."
Seorang bassist terkenal yang masih muda sekali waktu menceritakan kisahnya di masa kecil. Sejak masih berusia 5 tahun ia sebenarnya sudah menunjukkan ketertarikan ke arah musik. Maklum, kedua orang tuanya memang hidup di dunia musik, begitu pula dengan paman dan beberapa keluarga lainnya. Ia menceritakan bahwa setiap kali ia meminta sang ayah untuk mengajarkannya memainkan instrumen, sang ayah selalu menolak. Ia sempat kecewa dan marah, bertanya-tanya mengapa ayahnya menolak mengajarnya sementara sangat bersemangat mengajar banyak murid. Ia terus menamatkan tiap jenjang sampai masuk ke sebuah fakultas seni. Setelah mencoba beberapa tahun, ia tidak lagi bisa menutup mata lagi dari panggilannya dan memutuskan untuk total di bidang musik. Belakangan barulah ia tahu bahwa ternyata maksud ayahnya baik. Ayahnya menolak mengajar dia bukan karena merasa dirinya tidak punya bakat. Sama sekali bukan. Tapi ayahnya memutuskan untuk tidak terjun langsung dari semula karena tidak ingin pendidikan formalnya berantakan. Dan yang lebih penting lagi, ia mau anaknya tidak bergantung dan manja karena punya ayah pemusik handal. Sang ayah mau anaknya berjuang sendiri dari bawah agar mental dan moralnya kuat saat sudah berhasil nanti. "Sekarang barulah saya tahu bahwa papa ternyata sangat sayang kepada saya. Semua demi kebaikan saya. Bahkan saya berani berkata bahwa kalau papa tidak bersikap seperti itu, saya tidak akan menjadi diri saya seperti sekarang." katanya. Bertahun-tahun ia tidak bisa mengerti, tetapi akhirnya ia sadar bahwa keputusan sang ayah merupakan yang terbaik bagi dirinya. Saat ini mereka saling dukung bermain bersama di banyak tempat.
Hal yang sama sering terjadi ketika kita mengalami sesuatu yang terasa tidak enak, tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan. Terkadang kita bertanya mengapa Tuhan tega "merusak" sesuatu yang sedang kita nikmati. Kita marah saat Tuhan tidak juga mengijinkan kita sesuatu yang sangat kita idam-idamkan, kita kecewa kalau masalah sepertinya dibiarkan saja untuk menjadi batu-batu yang tajam dalam hidup kita. Atau saat kita kehilangan dan terpukul di kala Tuhan memanggil pulang orang yang kita kasihi. Seringkali kita berdebat mempertanyakan keputusan Tuhan, tidak jarang pula kita marah, mempersalahkan dan menuduh Tuhan. Dari perspektif kemampuan daya pikir dan jarak pandang manusia memang demikian, tetapi ketahuilah bahwa pola pikir kita sangat terbatas dan pasti sulit untuk menjangkau apa yang terbaik menurut perspektif Tuhan yang jauh lebih besar.
Selagi saya menulis, ada seekor semut yang ternyata memanjat kaki saya. Dengan perlahan ia mengangkut tubuhnya yang kecil untuk terus naik, entah untuk apa. Saya berpikir, seandainya kaki orang lain yang ia panjat dan kemudian sampai pada jarak tertentu seperti di paha, semut kecil yang lemah itu bisa dengan mudah dipencet sampai mati. Saya bisa melakukannya dengan mudah kalau mau, karena saya sudah tahu kemana ia akan tiba. Tapi semut yang kecil belum melihat resiko bahaya yang menanti di depan sana karena kemampuan dan jarak pandangnya jauh dibawah manusia yang berukuran lebih besar dan punya kemampuan yang jauh lebih besar juga. Kalau semut ini mengerti bahasa manusia, saya akan memintanya berbalik dan berhenti mengambil resiko dengan mengambil langkah ke tempat-tempat yang tidak perlu. Semut belum bisa melihat kemana ia akan tiba, tapi saya sudah bisa.
Seperti itu kira-kira mengapa kita seringkali sulit untuk mengerti maksud Tuhan saat kita berada dalam situasi yang tidak kondusif. Tunggu sebentar, pikiran saya tiba-tiba kembali kepada pengalaman pribadi saya sekitar 15 tahun lalu saat ibu saya sedang koma di unit gawat darurat sebuah rumah sakit akibat kanker. Keinginan saya, saudara dan ayah saya jelas: kami ingin ibu sembuh dan berkumpul lagi dengan kondisi sehat bersama-sama. Tetapi ternyata Tuhan punya rencana lain. Ibu saya tetap dipanggilNya. Apakah hal tersebut berarti Tuhan tidak mendengar doa-doa dan tidak mempedulikan permohonan kami? Semakin saya pikirkan, semakin saya tahu bahwa Tuhan bukan menutup mata dan secara tega membuat kami kehilangan. Ijinkan saya terangkan alasannya. Pada waktu ibu saya sedang koma, beban biaya yang harus dikeluarkan setiap hari agar beliau bisa memperpanjang nafasnya sangatlah mahal dan jauh diluar kesanggupan keluarga. Yang lebih parah lagi, pada waktu itu adik dan ayah saya terus menerus mempergunakan berbagai kuasa gelap agar ibu saya bisa sembuh. Pada waktu itu saya mengalami begitu banyak pengalaman spiritual yang luar biasa yang pada akhirnya membuat saya memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Selagi saya belum mengenal Kristus dan tidak tahu apa-apa, berulang kali saya dibimbing untuk menjaga agar ibu saya tidak dicemari kuasa-kuasa gelap dan membimbingnya untuk bertobat dan memaafkan semua kesalahan orang yang masih ia simpan dengan berbisik pelan di telinganya. Pada waktu itu saya belum dibaptis dan masih belum tahu apa-apa, tapi Tuhan lewat berbagai caranya yang waktu itu saya anggap aneh terus membimbing saya agar bisa melakukan semua itu. Dia bahkan memberitahukan kapan ibu akan Dia panggil satu malam sebelumnya dengan detail sampai ke jamnya, dan saya bisa mengantar kepulangan ibu dengan berdoa hingga beberapa menit sebelum Tuhan benar-benar memanggilnya, tepat pada jam yang telah Dia beritahukan sebelumnya. Bayangkan, apa yang terjadi jika waktu itu saya tidak terus berperang melawan berbagai kuasa gelap yang terus menerus menghujani ibu saya? Mana yang lebih baik, sembuh tapi dibawah kuasa iblis atau pulang ke rumah Bapa dalam keadaan bersih? Meski saya merindukan beliau, saya sangat yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik dan itulah yang tetap akan Dia berikan selama kita mau percaya dan taat.
Ketidakmampuan kita untuk mengerti rencana Tuhan sesungguhnya sudah diingatkan sejak lama. Dalam Pengkotbah dikatakan "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Mengapa? Jawabannya bisa kita peroleh dari ayat berikut: "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:9) Seperti jauhnya jarak antara langit dan bumi, between heaven and earth, itulah perbedaan tinggi atau jauhnya jarak antara jalan Tuhan dengan jalan kita, antara pikiranNya dengan pikiran kita. Itu bisa membuat kita sulit mengerti dan malah mengira Tuhan jahat, padahal nanti pada suatu hari kita akan sadar bahwa apa yang diputuskan Tuhan adalah yang terbaik. Dia tentu lebih tahu apa yang terbaik bagi kita, bahkan lebih dari apa yang menurut kita sendiri.
Karenanya kita harus percaya dengan iman teguh bahwa apa yang ia berikan kepada kita adalah yang terbaik buat kita. Dia akan selalu menyediakan segala sesuatu yang indah pada waktunya. Kita harus percaya dan mengimani hal tersebut meskipun mungkin kita saat ini belum mengerti atau mungkin saja tidak pernah mengerti alasannya. Kalau kita hidup oleh iman dan menjalankannya dengan setia, radikal tanpa kompromi disertai percaya sepenuhnya, kita seharusnya bisa mempercayakan hidup kita kepada Tuhan karena Dia lah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi kita.
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Lihat bahwa Tuhan sendiri sudah mengatakan bahwa apa yang Dia siapkan bukanlah rencana mencelakakan melainkan rencana damai sejahtera yang siap membawa kita menuju masa depan yang penuh harapan. Meski tidak enak, kita harus sadar bahwa sesuatu yang tidak mengenakkan perlu dikerjakan dalam diri kita bukan untuk menyakiti kita, tapi untuk kebaikan kita, karena rencana Tuhan baik adanya. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Kemarin kita sudah melihat bagaimana Habakuk menunjukkan iman yang radikal dengan percaya sepenuhnya kepada Tuhan meski ia belum melihat apa yang akan terjadi kepada bangsanya Yehuda yang tengah terancam serangan bangsa yang kejam. Dalam renungan sebelumnya kita sudah melihat bagaimana Sadrakh, Mesakh dan Abednego menunjukkan iman yang radikal yang tetap terjaga murni meski tengah menuju kematian lewat cara dibakar. Mari belajar lewat contoh-contoh ini. Meski anda belum melihat atau belum mengerti saat ini, iman yang kuat akan membawa anda untuk percaya bahwa semua itu akan berujung kebaikan.
Tuhan tahu dan selalu memberikan yang terbaik buat kita, tepat pada waktunya, indah pada waktunya, peganglah janji itu dengan iman yang teguh
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Tuesday, February 10, 2015
Iman Radikal Habakuk (2)
(bersambung)
Kalau kita hubungkan dengan renungan kemarin, maka iman yang radikal, seperti imannya Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang bisa tetap teguh dan tenang saat dimasukkan ke dalam api meski mereka belum tahu apakah Tuhan mau menyelamatkan mereka atau tidak. Mari kita lihat kembali ayat yang menunjukkan hal itu dengan sangat jelas. "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:17-18). Kalau Tuhan berkenan, tentu Dia akan melepaskan dari maut. Tetapi kalaupun tidak, kami tidak akan pernah mau menggadaikan iman kami. Itu seruan ketiga tokoh luar biasa ini. Kita tahu apa yang terjadi pada akhirnya, seperti yang sering dikatakan Yesus, iman mereka telah menyelamatkan mereka.
Kembali kepada Habakuk, meskipun ia tidak mengerti mengapa Tuhan terkesan membiarkan bencana siap menghancurkan bangsa Yehuda, tapi Habakuk tahu pasti bahwa Tuhan tidak akan pernah melupakan orang-orang yang meletakkan hidupnya dalam iman yang secara setia dan radikal diaplikasikan dalam hidup, iman yang teguh dan disertai rasa percaya sepenuhnya kepada keputusan atau kehendak Tuhan tanpa kompromi.
Di akhir kitab Habakuk, kita melihat bagaimana tingginya iman nabi yang satu ini. Iman Habakuk adalah iman yang tidak tergoncang oleh situasi apapun, bahkan dalam ketidak-mengertiannya akan keputusan Tuhan sekalipun. Habakuk mengakhiri doanya dengan keyakinan teguh. "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (ay 17-19).
Lihatlah dalam keadaan krisis, tekanan, ketakutan, ancaman yang kelihatannya mengerikan sekalipun, Habakuk memutuskan untuk bersikap positif dengan menggantungkan hidupnya pada iman yang setia dan percaya pada Tuhan. Itulah yang membuatnya bisa tetap bersukacita dan bersorak-sorak pada Tuhan. Sikap Habakuk didasarkan pada imannya yang secara penuh berserah pada keputusan Tuhan. Meski situasi yang ia hadapi mungkin akan terus menjadi lebih parah, namun imannya pada Tuhan ternyata radikal dan tidak goyah. Dia tetap bersorak-sorak dalam Allah yang menyelamatkan, dan itu semua terjadi karena Allah ia jadikan sebagai sumber kekuatannya.
Jika saat ini ada diantara teman-teman yang merasa iman anda mulai goyah akibat tekanan demi tekanan yang terus memukuli diri anda, kesulitan hidup yang makin meningkat, persoalan yang belum memiliki jalan keluar, atau mungkin apabila ada yang sedang merasa sulit mengerti mengapa Tuhan seolah diam terhadap persoalan anda, mari belajar dari Habakuk. Iman seteguh iman Habakuk yang tidak goncang sama sekali dalam kondisi apapun bisa membuat anda tetap beria-ria di dalam Tuhan dalam segala kondisi. Percayalah bahwa Tuhan mampu membuat kaki anda selincah kaki rusa untuk melompati masalah-masalah itu. Meski mungkin jawaban dari Tuhan belum anda terima, iman yang percaya tidak akan pernah putus pengharapan dan tahu bahwa apapun itu tentu merupakan yang terbaik dari Tuhan bagi kita. Percayalah sepenuhnya pada Tuhan dengan segenap hati, jalanilah hidup dengan itu. Pada suatu ketika nanti anda akan bersyukur bahwa anda tidak sampai salah mengambil langkah dan tidak harus luput dari keselamatan yang sudah Dia anugerahkan lewat Kristus. Saya akan tutup dengan sebuah kutipan dari penulis yang tidak disebutkan namanya: "Sometimes, we don't have to understand what God is doing... we just have to trust Him."
Orang benar hidup oleh iman dan kesetiaannya, oleh percayanya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Kalau kita hubungkan dengan renungan kemarin, maka iman yang radikal, seperti imannya Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang bisa tetap teguh dan tenang saat dimasukkan ke dalam api meski mereka belum tahu apakah Tuhan mau menyelamatkan mereka atau tidak. Mari kita lihat kembali ayat yang menunjukkan hal itu dengan sangat jelas. "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:17-18). Kalau Tuhan berkenan, tentu Dia akan melepaskan dari maut. Tetapi kalaupun tidak, kami tidak akan pernah mau menggadaikan iman kami. Itu seruan ketiga tokoh luar biasa ini. Kita tahu apa yang terjadi pada akhirnya, seperti yang sering dikatakan Yesus, iman mereka telah menyelamatkan mereka.
Kembali kepada Habakuk, meskipun ia tidak mengerti mengapa Tuhan terkesan membiarkan bencana siap menghancurkan bangsa Yehuda, tapi Habakuk tahu pasti bahwa Tuhan tidak akan pernah melupakan orang-orang yang meletakkan hidupnya dalam iman yang secara setia dan radikal diaplikasikan dalam hidup, iman yang teguh dan disertai rasa percaya sepenuhnya kepada keputusan atau kehendak Tuhan tanpa kompromi.
Di akhir kitab Habakuk, kita melihat bagaimana tingginya iman nabi yang satu ini. Iman Habakuk adalah iman yang tidak tergoncang oleh situasi apapun, bahkan dalam ketidak-mengertiannya akan keputusan Tuhan sekalipun. Habakuk mengakhiri doanya dengan keyakinan teguh. "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (ay 17-19).
Lihatlah dalam keadaan krisis, tekanan, ketakutan, ancaman yang kelihatannya mengerikan sekalipun, Habakuk memutuskan untuk bersikap positif dengan menggantungkan hidupnya pada iman yang setia dan percaya pada Tuhan. Itulah yang membuatnya bisa tetap bersukacita dan bersorak-sorak pada Tuhan. Sikap Habakuk didasarkan pada imannya yang secara penuh berserah pada keputusan Tuhan. Meski situasi yang ia hadapi mungkin akan terus menjadi lebih parah, namun imannya pada Tuhan ternyata radikal dan tidak goyah. Dia tetap bersorak-sorak dalam Allah yang menyelamatkan, dan itu semua terjadi karena Allah ia jadikan sebagai sumber kekuatannya.
Jika saat ini ada diantara teman-teman yang merasa iman anda mulai goyah akibat tekanan demi tekanan yang terus memukuli diri anda, kesulitan hidup yang makin meningkat, persoalan yang belum memiliki jalan keluar, atau mungkin apabila ada yang sedang merasa sulit mengerti mengapa Tuhan seolah diam terhadap persoalan anda, mari belajar dari Habakuk. Iman seteguh iman Habakuk yang tidak goncang sama sekali dalam kondisi apapun bisa membuat anda tetap beria-ria di dalam Tuhan dalam segala kondisi. Percayalah bahwa Tuhan mampu membuat kaki anda selincah kaki rusa untuk melompati masalah-masalah itu. Meski mungkin jawaban dari Tuhan belum anda terima, iman yang percaya tidak akan pernah putus pengharapan dan tahu bahwa apapun itu tentu merupakan yang terbaik dari Tuhan bagi kita. Percayalah sepenuhnya pada Tuhan dengan segenap hati, jalanilah hidup dengan itu. Pada suatu ketika nanti anda akan bersyukur bahwa anda tidak sampai salah mengambil langkah dan tidak harus luput dari keselamatan yang sudah Dia anugerahkan lewat Kristus. Saya akan tutup dengan sebuah kutipan dari penulis yang tidak disebutkan namanya: "Sometimes, we don't have to understand what God is doing... we just have to trust Him."
Orang benar hidup oleh iman dan kesetiaannya, oleh percayanya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, February 9, 2015
Iman Radikal Habakuk (1)
Ayat bacaan: Habakuk 2:4
=====================
"Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya."
Kemana orang biasanya menggantungkan hidup? Kebanyakan orang akan memilih untuk meletakkan seluruh hidupnya bertumpu pada kelimpahan finansial. Kemakmuran dengan harta banyak dipercaya bisa menjamin hidup yang berbahagia. Tanyakan kepada mereka, bukankah segala sesuatu di dunia ini membutuhkan uang? Dan itulah memang yang terus diajarkan oleh dunia. Ada yang hidup dengan mengandalkan jabatan, status, koneksi, menilai bahwa hidup yang berhasil adalah hidup yang melimpah harta dan memegang jabatan mentereng. Itulah yang membuat mereka merasa benar-benar 'hidup', itulah yang menjadi dasar hidup mereka. Semakin lama semakin jarang ada orang yang bisa hidup tanpa mengejar semua itu dan meletakkan pondasi kehidupan mereka kepada keyakinan atau kepercayaan mereka kepada Tuhan.
Buktinya mudah. Ada berapa banyak orang yang bisa tetap bertahan untuk percaya tanpa kehilangan pengharapan saat jawaban atas doa tidak kunjung datang? Sebagian besar akan kecewa dan menuduh Tuhan yang bukan-bukan. Kalau ternyata pil pahit yang harus diterima, maka kepahitan pun segera dirasakan. Kita hanya mau menerima yang baik tapi marah kalau harus menerima yang buruk. Kita tidak mau melihat kebaikan apa yang akan datang nanti menurut rencana Tuhan lewat masalah yang tengah diijinkan masuk ke dalam diri kita. Itu kalau kita memang sudah benar-benar hidup sesuai kebenaran. Malah banyak orang yang marah menghujat Tuhan atas penderitaan yang tengah menimpanya, padahal jangan-jangan itu akibat dari kesalahan mereka sendiri. Dengan apa kita hidup hari ini? Apakah kita hidup oleh harta, kekuasaan, sanjungan atau oleh iman?
Hari ini saya ingin mengangkat sedikit kisah mengenai Habakuk. Habakuk adalah seorang nabi yang hidup di jaman yang sangat berat, penuh dengan krisis moral yang sudah sangat keterlaluan. Pada saat itu Habakuk meratap melihat bangsa Yehuda tengah berada dalam bahaya. Habakuk menyadari bahwa penyebabnya adalah akibat ketidaksetiaan. (Habakuk 1:2-4). Lebih lanjut, dikatakan bahwa bangsa Yehuda tengah menghadapi ancaman serius dari orang Kasdim (bangsa Babel) yang terkenal kejam dan ganas. Orang-orang Kasdim siap untuk membantai mereka. (ay 6-11).
Situasinya mengerikan. Dan Habakuk secara terbuka mengaku tidak mengerti mengapa Allah yang Mahakudus bisa berdiam diri melihat orang-orang fasik menghancurkan umatNya. "Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa. Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?" (ay 12-13). Habakuk mempertanyakan dimana kiranya keadilan Tuhan yang seolah berdiam diri membiarkan saja semua bahaya yang sedang menanti momen untuk menelan bangsa Yehuda hidup-hidup.
Bukankah kita juga sering mempertanyakan hal yang sama, terutama di saat kita tengah berada dalam kondisi buruk? Habakuk secara terbuka menyatakan hal tersebut. Tidak mengerti, itu satu hal. Memang kemampuan kita terbatas untuk bisa menyelami rencana Tuhan secara utuh. Tetapi jangan biarkan hal itu berlanjut kepada ketidakpercayaan kita kepada Tuhan dan kemudian menolakNya. Habakuk ternyata cepat menyadari itu. Kita segera mendapatinya berkata: "Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya." (2:4).
Dalam versi Bahasa Inggrisnya kira-kira bunyinya seperti ini: The soul of the proud is not straight or right within him, but the rigidly just and the unomprosingly righteous man shall live by his faith and his faithfulness. Jiwa dari orang-orang yang menyombongkan diri tidak lurus di dalam dirinya, tetapi orang-orang yang benar tanpa kompromi akan hidup oleh iman dan kesetiaannya. Itulah yang akhirnya menjadi kesimpulan dari Habakuk. Iman yang bisa percaya penuh, iman yang tidak tergoyahkan dan tetap setia tanpa memandang apapun yang terjadi, itulah yang seharusnya menjadi dasar penggerak sebuah kehidupan. Bukan iman yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai hal duniawi dan bermacam pengajaran sesat. Bukan pula iman yang mudah tergoncang oleh masalah-masalah dalam hidup, apalagi yang sebenarnya tidak berat-berat amat.
(bersambung)
=====================
"Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya."
Kemana orang biasanya menggantungkan hidup? Kebanyakan orang akan memilih untuk meletakkan seluruh hidupnya bertumpu pada kelimpahan finansial. Kemakmuran dengan harta banyak dipercaya bisa menjamin hidup yang berbahagia. Tanyakan kepada mereka, bukankah segala sesuatu di dunia ini membutuhkan uang? Dan itulah memang yang terus diajarkan oleh dunia. Ada yang hidup dengan mengandalkan jabatan, status, koneksi, menilai bahwa hidup yang berhasil adalah hidup yang melimpah harta dan memegang jabatan mentereng. Itulah yang membuat mereka merasa benar-benar 'hidup', itulah yang menjadi dasar hidup mereka. Semakin lama semakin jarang ada orang yang bisa hidup tanpa mengejar semua itu dan meletakkan pondasi kehidupan mereka kepada keyakinan atau kepercayaan mereka kepada Tuhan.
Buktinya mudah. Ada berapa banyak orang yang bisa tetap bertahan untuk percaya tanpa kehilangan pengharapan saat jawaban atas doa tidak kunjung datang? Sebagian besar akan kecewa dan menuduh Tuhan yang bukan-bukan. Kalau ternyata pil pahit yang harus diterima, maka kepahitan pun segera dirasakan. Kita hanya mau menerima yang baik tapi marah kalau harus menerima yang buruk. Kita tidak mau melihat kebaikan apa yang akan datang nanti menurut rencana Tuhan lewat masalah yang tengah diijinkan masuk ke dalam diri kita. Itu kalau kita memang sudah benar-benar hidup sesuai kebenaran. Malah banyak orang yang marah menghujat Tuhan atas penderitaan yang tengah menimpanya, padahal jangan-jangan itu akibat dari kesalahan mereka sendiri. Dengan apa kita hidup hari ini? Apakah kita hidup oleh harta, kekuasaan, sanjungan atau oleh iman?
Hari ini saya ingin mengangkat sedikit kisah mengenai Habakuk. Habakuk adalah seorang nabi yang hidup di jaman yang sangat berat, penuh dengan krisis moral yang sudah sangat keterlaluan. Pada saat itu Habakuk meratap melihat bangsa Yehuda tengah berada dalam bahaya. Habakuk menyadari bahwa penyebabnya adalah akibat ketidaksetiaan. (Habakuk 1:2-4). Lebih lanjut, dikatakan bahwa bangsa Yehuda tengah menghadapi ancaman serius dari orang Kasdim (bangsa Babel) yang terkenal kejam dan ganas. Orang-orang Kasdim siap untuk membantai mereka. (ay 6-11).
Situasinya mengerikan. Dan Habakuk secara terbuka mengaku tidak mengerti mengapa Allah yang Mahakudus bisa berdiam diri melihat orang-orang fasik menghancurkan umatNya. "Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa. Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?" (ay 12-13). Habakuk mempertanyakan dimana kiranya keadilan Tuhan yang seolah berdiam diri membiarkan saja semua bahaya yang sedang menanti momen untuk menelan bangsa Yehuda hidup-hidup.
Bukankah kita juga sering mempertanyakan hal yang sama, terutama di saat kita tengah berada dalam kondisi buruk? Habakuk secara terbuka menyatakan hal tersebut. Tidak mengerti, itu satu hal. Memang kemampuan kita terbatas untuk bisa menyelami rencana Tuhan secara utuh. Tetapi jangan biarkan hal itu berlanjut kepada ketidakpercayaan kita kepada Tuhan dan kemudian menolakNya. Habakuk ternyata cepat menyadari itu. Kita segera mendapatinya berkata: "Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya." (2:4).
Dalam versi Bahasa Inggrisnya kira-kira bunyinya seperti ini: The soul of the proud is not straight or right within him, but the rigidly just and the unomprosingly righteous man shall live by his faith and his faithfulness. Jiwa dari orang-orang yang menyombongkan diri tidak lurus di dalam dirinya, tetapi orang-orang yang benar tanpa kompromi akan hidup oleh iman dan kesetiaannya. Itulah yang akhirnya menjadi kesimpulan dari Habakuk. Iman yang bisa percaya penuh, iman yang tidak tergoyahkan dan tetap setia tanpa memandang apapun yang terjadi, itulah yang seharusnya menjadi dasar penggerak sebuah kehidupan. Bukan iman yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai hal duniawi dan bermacam pengajaran sesat. Bukan pula iman yang mudah tergoncang oleh masalah-masalah dalam hidup, apalagi yang sebenarnya tidak berat-berat amat.
(bersambung)
Sunday, February 8, 2015
Iman yang Radikal (2)
(sambungan)
Apa yang ditunjukkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego merupakan bentuk dari iman yang radikal. Itu bentuk iman yang tidak goyah bahkan saat ancaman begitu besar dan secara logika tidak lagi punya jalan keluar. Mereka terus memegang teguh iman mereka yang kekuatannya sampai ke akar-akarnya hingga ajal menjelang dan tidak menyerahkan iman mereka untuk ditukarkan dengan apapun, termasuk nyawa mereka. Apa yang dimiliki ketiga tokoh luar biasa ini merupakan iman yang tidak pamrih dan hanya mengharap berkat dan pertolongan Tuhan semata.
Mari kita perhatikan sekali lagi jawaban mereka dalam ayat ke 17 dan 18: "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." Mereka berkata: "Kalau Allah mau melepaskan kami, Dia akan melepaskan kami. Tetapi kalaupun seandainya tidak, kami tidak akan bergeming sedikitpun dan tetap tidak akan menggadaikan Allah yang kami sembah dengan ilah-ilah lain." Apapun akhirnya, mereka bertiga percaya bahwa yang dari Tuhan tetaplah merupakan yang terbaik, dan kematian di dunia tidak akan pernah sebanding dengan kemana kita berada pada fase selanjutnya.
Itulah bentuk dari sebuah iman yang radikal. Radikal bukan berarti bahwa kita harus memusuhi saudara-saudara kita yang tidak seiman, apalagi sampai melakukan kekerasan atau membunuh. Radikal bukanlah berarti melakukan sebuah gerakan penuh kebencian terhadap orang yang berbeda atau berseberangan pahamnya. Radikal yang saya maksudkan mengacu kepada pengertian sebenarnya, yaitu secara mendalam hingga ke akar-akarnya, bahkan melewati batas-batas logika dan kemampuan pikir manusia.
Iman yang radikal adalah iman yang mematuhi Tuhan secara serius, bukan karena apa yang dapat Tuhan lakukan tetapi semata-mata karena kita percaya dan mengasihiNya dengan sepneuh hati. Iman bukanlah sesuatu yang cukup hanya dengan diucapkan tetapi harus pula disertai dengan perbuatan nyata. Sadrakh, Mesakh dan Abednego menunjukkan iman yang disertai perbuatan yang radikal. Mereka secara langsung mempraktekkan kekuatan iman mereka ditengah ancaman kematian yang sangat mengerikan. Tidak ada tawar menawar, berserah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan dan bukan menurut kehendak mereka. Kalau kehendak mereka yang diutamakan, maka mereka pasti akan mencari cara agar bisa diampuni dan tidak harus dimasukkan ke dalam api yang sangat panas untuk dibakar. Tetapi mereka menyerahkan semua itu kepada Tuhan, karena mereka tahu bahwa apapun yang menjadi ujungnya, kehendak Tuhan akan tetap menjadi yang terbaik bagi mereka.
Ketika kita dihadapkan pada sebuah persimpangan dimana iman kita harus diuji, mampukah kita memiliki keyakinan seperti mereka? Bisakah kita mendahulukan iman kita lebih dari segalanya? Cukup kuatkah iman kita saat tengah menghadapi ujian? Apakah kita menyadari betapa besarnya kasih karunia Tuhan dan anugerah keselamatanNya yang harganya jauh diatas hal lain apapun di dunia yang fana ini? Atau, siapkah kita berkorban demi iman kita akan Kristus? Hari ini, marilah kita memiliki iman radikal kepada Kristus yang membuat kita tetap percaya sepenuhnya, tidak pernah putus pengharapan dan secara penuh menyerahkan kepada keputusan Tuhan. Apa yang direncanakan Tuhan bagi setiap kita adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29: 11). Dan ingatlah bahwa segala yang diturunkan Bapa pada kita adalah pemberian yang baik dan anugrah yang sempurna. (Yakobus 1:17). Apabila ada diantara teman-teman yang merasa belum mendapat jawaban, jangan putus asa. Tetaplah pegang janji Tuhan dengan iman penuh yang tidak berhenti pada pemenuhan atas hal-hal yang sifatnya duniawi saja. Mau ada berkat, pertolongan, mukjizat atau tidak, iman terhadap Tuhan tidak boleh goyah sedikitpun. Marilah miliki iman yang radikal terhadap Tuhan. Let's have a radical faith, leave the average or lack of faith behind.
Iman radikal adalah mematuhi Tuhan dengan serius bukan karena apa yang dapat Dia lakukan, namun semata-mata karena mengasihi dan mempercayaiNya dengan sepenuh hati
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Apa yang ditunjukkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego merupakan bentuk dari iman yang radikal. Itu bentuk iman yang tidak goyah bahkan saat ancaman begitu besar dan secara logika tidak lagi punya jalan keluar. Mereka terus memegang teguh iman mereka yang kekuatannya sampai ke akar-akarnya hingga ajal menjelang dan tidak menyerahkan iman mereka untuk ditukarkan dengan apapun, termasuk nyawa mereka. Apa yang dimiliki ketiga tokoh luar biasa ini merupakan iman yang tidak pamrih dan hanya mengharap berkat dan pertolongan Tuhan semata.
Mari kita perhatikan sekali lagi jawaban mereka dalam ayat ke 17 dan 18: "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." Mereka berkata: "Kalau Allah mau melepaskan kami, Dia akan melepaskan kami. Tetapi kalaupun seandainya tidak, kami tidak akan bergeming sedikitpun dan tetap tidak akan menggadaikan Allah yang kami sembah dengan ilah-ilah lain." Apapun akhirnya, mereka bertiga percaya bahwa yang dari Tuhan tetaplah merupakan yang terbaik, dan kematian di dunia tidak akan pernah sebanding dengan kemana kita berada pada fase selanjutnya.
Itulah bentuk dari sebuah iman yang radikal. Radikal bukan berarti bahwa kita harus memusuhi saudara-saudara kita yang tidak seiman, apalagi sampai melakukan kekerasan atau membunuh. Radikal bukanlah berarti melakukan sebuah gerakan penuh kebencian terhadap orang yang berbeda atau berseberangan pahamnya. Radikal yang saya maksudkan mengacu kepada pengertian sebenarnya, yaitu secara mendalam hingga ke akar-akarnya, bahkan melewati batas-batas logika dan kemampuan pikir manusia.
Iman yang radikal adalah iman yang mematuhi Tuhan secara serius, bukan karena apa yang dapat Tuhan lakukan tetapi semata-mata karena kita percaya dan mengasihiNya dengan sepneuh hati. Iman bukanlah sesuatu yang cukup hanya dengan diucapkan tetapi harus pula disertai dengan perbuatan nyata. Sadrakh, Mesakh dan Abednego menunjukkan iman yang disertai perbuatan yang radikal. Mereka secara langsung mempraktekkan kekuatan iman mereka ditengah ancaman kematian yang sangat mengerikan. Tidak ada tawar menawar, berserah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan dan bukan menurut kehendak mereka. Kalau kehendak mereka yang diutamakan, maka mereka pasti akan mencari cara agar bisa diampuni dan tidak harus dimasukkan ke dalam api yang sangat panas untuk dibakar. Tetapi mereka menyerahkan semua itu kepada Tuhan, karena mereka tahu bahwa apapun yang menjadi ujungnya, kehendak Tuhan akan tetap menjadi yang terbaik bagi mereka.
Ketika kita dihadapkan pada sebuah persimpangan dimana iman kita harus diuji, mampukah kita memiliki keyakinan seperti mereka? Bisakah kita mendahulukan iman kita lebih dari segalanya? Cukup kuatkah iman kita saat tengah menghadapi ujian? Apakah kita menyadari betapa besarnya kasih karunia Tuhan dan anugerah keselamatanNya yang harganya jauh diatas hal lain apapun di dunia yang fana ini? Atau, siapkah kita berkorban demi iman kita akan Kristus? Hari ini, marilah kita memiliki iman radikal kepada Kristus yang membuat kita tetap percaya sepenuhnya, tidak pernah putus pengharapan dan secara penuh menyerahkan kepada keputusan Tuhan. Apa yang direncanakan Tuhan bagi setiap kita adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29: 11). Dan ingatlah bahwa segala yang diturunkan Bapa pada kita adalah pemberian yang baik dan anugrah yang sempurna. (Yakobus 1:17). Apabila ada diantara teman-teman yang merasa belum mendapat jawaban, jangan putus asa. Tetaplah pegang janji Tuhan dengan iman penuh yang tidak berhenti pada pemenuhan atas hal-hal yang sifatnya duniawi saja. Mau ada berkat, pertolongan, mukjizat atau tidak, iman terhadap Tuhan tidak boleh goyah sedikitpun. Marilah miliki iman yang radikal terhadap Tuhan. Let's have a radical faith, leave the average or lack of faith behind.
Iman radikal adalah mematuhi Tuhan dengan serius bukan karena apa yang dapat Dia lakukan, namun semata-mata karena mengasihi dan mempercayaiNya dengan sepenuh hati
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...



