Monday, October 24, 2011

Tanpa Mukjizat

Ayat bacaan: Yohanes 10:41
======================
"Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar."

tanpa mukjizatKita mengenal beberapa hamba Tuhan yang benar-benar diberkati secara luar biasa dengan menjadi perantara Tuhan dalam melakukan berbagai mukjizat. Lewat mereka Tuhan bekerja memberi kesembuhan, pelepasan dan sebagainya. Menyaksikan semua ini bisa membuka mata kita akan kuasa Tuhan, betapa tidak ada yang mustahil bagi Dia. Hanya saja sangat disayangkan, ada banyak orang mendasarkan keimanannya secara sempit hanya pada mukjizat, keajaiban, hal-hal mustahil yang jadi nyata dan sebagainya. Jika tidak ada mukjizat terjadi, berarti Tuhan tidak ada, minimal sedang dianggap sedang tidak berada ditempat, sedang tidak peduli, atau malah menganggap bahwa mereka mungkin dianggap Tuhan tidak sepenting orang lain. Ada banyak orang juga yang bersikap apatis, merasa bahwa menjalankan amanat agung itu bukanlah tugas mereka karena mereka tidak mampu membuat mukjizat seperti halnya para hamba Tuhan dalam KKR-KKR besar dan sebagainya. Hanya mau melayani jika bisa membuat mukjizat, kalau tidak berarti itu bukan panggilan. Benarkah demikian?

Jika kita baca perjalanan para tokoh dalam alkitab, kita akan mendapatkan banyak mukjizat dilakukan oleh mereka. Ambil contoh beberapa tokoh seperti Musa, Elia, Yesaya dan sebagainya, semua pernah membuat mukjizat. Yesus pun menyembuhkan banyak orang sakit dan membangkitkan orang mati. Para rasul dalam pelayanan mereka setelah kebangkitan Yesus pun melakukan hal yang sama berulang kali. Pertanyaannya, apakah orang hanya bisa percaya dan menerima Tuhan hanya lewat mukjizat semata? Fakta membuktikan tidak selamanya. Yesus masih dihujat dan diminta untuk disalibkan, meski mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus mereka saksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Pertanyaan kedua, apakah cara memberitakan injil hanya bisa dilakukan lewat kuasa kesembuhan dan talenta-talenta yang mendatangkan keajaiban? Tidak juga. Dalam hal ini, kita bisa belajar dari cerita tentang Yohanes Pembaptis.

Sepanjang masa hidupnya, Yohanes Pembaptis tidak pernah melakukan tanda-tanda atau mukjizat apapun. Tapi hal tersebut tidak membuat dia menjadi tokoh yang dilupakan. Dan yang lebih penting lagi, tanpa kemampuan membuat mukjizat, Yohanes tetap bisa memberitakan tentang Kristus dan akibatnya ia menyelamatkan banyak orang. Bagaimana cara yang dilakukan Yohanes? Bukan dengan menyembuhkan, melainkan dengan menjadi saksi Kristus, memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia. Katanya: "Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29). Yohanes mengabarkan berita keselamatan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memperkatakan tentang Yesus. Ternyata hal tersebut cukup untuk membuat banyak orang percaya dan diselamatkan. Selain memperkatakan dan menjadi saksi Kristus, Yohanes juga memberitakan injil lewat memberi nasihat. Hal ini bisa kita ketahui dari Injil Lukas yang berbunyi: "Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak." (Lukas 3:18).

Adalah benar bahwa sebenarnya kita semua telah diberi kuasa untuk melakukan hal-hal yang sama, bahkan lebih jika kita percaya pada Yesus. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;" (Yohanes 14:12), atau dalam kesempatan lain Yesus mengatakan: "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Tapi bisa dimaklumi bahwa sebagian besar orang mungkin belum siap untuk itu, atau masih perlu waktu untuk bertumbuh imannya, atau mungkin juga karena mereka kurang percaya atau masih terhambat oleh dosa-dosa yang belum dibereskan. Atau mungkin juga memang panggilan kita bukan di bidang itu. Ada 5 jawatan seperti yang disebutkan dalam Efesus 4:11-13, dimana masing-masing punya bagian dan tugasnya sendiri-sendiri dalam menjalankan amanat Tuhan. Semua sama pentingnya. Yang pasti, jika kita tidak bisa melakukan mukjizat, bukan berarti bahwa kita lepas dari tanggung jawab kita dalam menjalankan amanat agung seperti yang dipesankan Kristus. Bukan pula berarti kita tidak sanggup menjadi duta-duta Kerajaan Allah. Untuk memberitakan injil kita tidak dituntut untuk mampu membuat KKR, mampu menghidupkan orang mati, mampu menyembuhkan orang sakit, mampu melakukan berbagai mukjizat dan sebagainya, tapi secara sederhana lewat memperkatakan Yesus, mengenalkan siapa Yesus kepada saudara-saudara kita lewat kesaksian-kesaksian hidup kita, itu pun merupakan bentuk menjalankan tanggungjawab yang tidak kalah baiknya. Apa yang kita alami ketika kita berjalan bersama Yesus, dan saat kita telah mengalami Tuhan bisa kita angkat dalam serangkaian kata sebagai kesaksian kita.

Yohanes Pembaptis adalah orang yang tidak membuat satu mukjizat pun, tetapi ia dipilih menjadi satu-satunya orang yang mendapat kehormatan untuk membaptis Yesus. Lewat caranya yang sederhana ia mampu membawa banyak orang mendengar kebenaran dan bertobat. Sebuah ayat jelas menggambarkan hal ini."Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar." (Yohanes 10:41). Karunia yang disediakan Tuhan bermacam-macam. Apapun karunia yang kita miliki tentu bisa dipakai untuk menjalankan tugas yang agung ini. Kita bisa belajar dari Yohanes yang memperkatakan apa yang ia lihat, ia alami dan ia saksikan, meski tanpa lewat mukjizat, sehingga kita pun bisa mulai dari sekarang untuk menjadi murid Yesus sesungguhnya.

Bukan hanya melakukan mukjizat, tapi memperkatakan dan menjadi saksi Kristus pun merupakan cara untuk memberitakan Injil


Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, October 23, 2011

All We Need Is Just A Little Patience

Ayat Bacaan: Ibrani 6:12
==================
"agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah."

sabarSambil duduk pagi ini saya mendengar sebuah lagu lawas milik Guns n Roses yang berjudul Patience. Saya tertarik mendengar salah satu bagian lagu itu yang berkata, "All we need is just a little patience.." Apa yang dikatakan bagian ini sesungguhnya benar. Seringkali apa yang menghambat kita bukan hal-hal lainnya tetapi justru kesabaran. Kita cenderung kurang sabar dalam melakukan atau menghadapi sesuatu, dan akibatnya kerugian pun datang, atau malah mungkin juga kita malah menambah masalah lain hanya gara-gara kurang sabar. Maka kesabaran menjadi sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit untuk diterapkan. Hampir di setiap lini kehidupan kita bertemu dengan situasi-situasi dimana kesabaran kita harus diuji. Dan seringkali apa yang menentukan berhasil tidaknya kita melewati ujian-ujian itu adalah faktor kesabaran kita.

Dalam hal kerohanian pun sama. Ada banyak orang yang sudah berjalan dengan iman. Mereka sudah menerapkan hidup kudus dan mau menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Tetapi ada kalanya apa yang kita harapkan seolah tidak kunjung datang. terutama ketika kita memakai "time frame" atau ukuran waktu yang kita inginkan. Pertanyaannya adalah,ketika anda sudah mencoba berjalan dengan iman tetapi tangan Tuhan terasa tidak kunjung turun untuk melepaskan anda dari berbagai masalah, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan terus berjalan dengan pengharapan penuh, atau anda akan tergoda untuk menyerah dan putus asa? Sejauh mana tingkat kesabaran anda dalam menanti datangnya jawaban Tuhan?

Firman Tuhan yang saya angkat sebagai ayat bacaan hari ini menggambarkan dengan jelas ada kaitan erat antara iman dan kesabaran yang sama pentingnya dalam urusan menerima sesuatu dari Tuhan, entah itu berkat, pertolongan, pemulihan dan sebagainya. Iman dan kesabaran akan sangat berpengaruh terhadap berhasil tidaknya kita memperoleh jawaban dari Tuhan dan segala yang baik yang mengikutinya. Ketika banyak dari kita yang menuduh Tuhan berlaku tidak adil atau berlama-lama dalam menjawab doa kita, ketika kita mengira bahwa kita kurang penting di banding orang lain untuk didengar Tuhan, apa yang dikatakan Penulis kitab Ibrani ini baik untuk kita renungkan. "Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah." (Ibrani 6:10-12). Perhatikanlah bahwa disana dikatakan bahwa Tuhan itu bukan tidak adil atau mengabaikan segala pekerjaan dan kasih sungguh-sungguh yang sudah kita lakukan, akan tetapi kita harus sadar bahwa frame waktu kita memang berbeda dengan waktunya Tuhan. Kita menganggap kita lebih tahu yang terbaik buat kita, tetapi percayakah kita bahwa Tuhan yang menciptakan kita tentu jauh lebih tahu apa yang terbaik buat kita? Jika kita sudah memastikan bahwa kita hidup seturut dengan kehendakNya dan sudah berjalan dengan iman, tetapi kita merasa bahwa Tuhan rasanya terlalu lambat untuk turun tangan, sikap bersabar akan menjadi sangat penting untuk kita terapkan sepenuhnya. Dan itulah yang dikatakan pula oleh Penulis Ibrani ini. Mari kita lihat sekali lagi bagian berikut: "agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah." (ay 12). Iman dan kesabaran, itu harus berjalan beriringan dan harus keduanya ada dalam diri kita. Satu tidak ada, maka kita akan gagal menerima apa-apa. Dalam Bahasa Inggrisnya dikatakan lebih rinci: "through faith (by their leaning of the entire personality on God in Christ in absolute trust and confidence in His power, wisdom, and goodness) and by practice of patient endurance and waiting." Iman yang berakar pada pribadi Tuhan dalam Kristus dengan kepercayaan dan keyakinan penuh kepada kekuatanNya, kebijaksanaan dan kebaikanNya, lalu disertai pula dengan kesabaran dan ketahanan dalam menanti, yang bukan hanya sebatas kata-kata tetapi juga dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Sikap seperti inilah yang sebenarnya mampu menjamin kita untuk tidak buru-buru merasa putus asa dan kehilangan harapan. Kesabaran mampu memperkuat dan menopang iman kita hingga saatnya tiba untuk memperoleh apa yang diharapkan dari Tuhan.

Setelah kita merenungkan janji-janji Tuhan dan memiliki itu tertanam dalam roh dan jiwa kita lewat iman, selanjutnya kesabaranlah yang akan mendorong kita untuk terus bertahan. Percayalah pada suatu ketika kesabaran akan mengantarkan kita kepada sebuah kesimpulan bahwa firman Tuhan tidak pernah gagal. Kesabaran membuat kita tidak akan pernah melangkah mundur karena ketakutan, tetapi sebaliknya akan memampukan kita untuk terus maju dalam iman sampai kita memperoleh jawaban dari Tuhan. Lewat Yakobus kita menemukan ayat yang secara inspiratif mengingatkan hal yang sama. "Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi." (Yakobus 5:7). Ada begitu banyak tokoh dalam Alkitab yang sudah membuktikan bahwa kesabaran mereka akan berbuah manis pada akhirnya, sebaliknya ada banyak pula tokoh yang akhirnya gagal karena ketidaksabaran mereka, meski mereka sudah memulai segala sesuatu dengan baik. Sebaliknya kesabaran akan selalu berbuah manis.

Sangat baik jika kita sudah berjalan dengan firman Tuhan, menerapkan hidup selaras dengan kehendakNya dan mempercayai Tuhan sepenuhnya dalam urusan pemenuhan kebutuhan. Akan tetapi ketika hasil dari itu sepertinya lambat tiba, jangan menyerah apalagi putus asa. Tetaplah bersabar dan gantungkan pengharapan sepenuhnya.Teruslah pegang firman Tuhan dengan kesabaran dan iman. Maka pada suatu ketika nanti, anda akan menerima penggenapan janji Tuhan sebagai sesuatu yang pasti.

Kesabaran dan iman akan sangat menentukan keberhasilan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, October 22, 2011

Perubahan Itu Perlu

Ayat bacaan: 2 Korintus 3:18
======================
"Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar."

perubahan itu perluAda sebuah iklan produk beberapa waktu lalu mempergunakan slogan yang tidak asing lagi untuk menyampaikan perubahan kemasan mereka. Slogan itu berbunyi: "Perubahan Itu Perlu". Sejauh mana perubahan itu dibutuhkan? Bayangkan apabila orang diam di satu titik saja, tidak ada inovasi, tidak ada perkembangan, semua berjalan datar dan hambar. Jika itu terjadi, maka kita tidak akan pernah bisa maju. Seorang penyanyi legendaris Indonesia pernah berkata: "Kalau kita tetap berpegang pada prinsip lama dan tidak memahami dengan apa yang sedang digandrungi di masa sekarang atau masa yang akan datang, niscaya perjalanan tersebut akan berhenti dan tidak akan bisa bertahan lama." Ini sebuah prinsip yang dipegangnya sejak awal, sehingga tidak heran ia tetap bisa berkarir dengan baik semenjak memulainya di pertengahan tahun 60'an. Hari ini ia masih aktif dan bersemangat bernyanyi di mana-mana, bahkan masih kerap dipanggil untuk tampil di luar negeri. Ini adalah buah dari prinsip hidupnya yang tidak pernah mau berhenti untuk belajar, berkembang dan berinovasi mengikuti perkembangan jaman.

Rasanya semua setuju dengan slogan ini, bahwa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik itu jelas diperlukan. Masalahnya, ada banyak orang yang merasa tidak bisa atau tidak sanggup berubah. Mereka punya niat itu, tetapi merasa tidak punya cukup kekuatan untuk melakukannya. Mereka ini biasanya akan diam di tempat dan tidak berkembang sama sekali. Kemarin sama, hari ini sama, besok lusa pun akan seperti itu juga. Masih untung sama, seringkali kemalasan atau keengganan untuk berubah ini malah menjadi kontra produktif dan merugikan. Sebagian lainnya bahkan berpikir bahwa Tuhan telah menakdirkan mereka untuk menjadi orang-orang lemah. Benarkah demikian? Sama sekali tidak. Tuhan pun setuju bahwa perubahan itu perlu. Buktinya ada banyak ayat di dalam Alkitab yang menyuarakan pentingnya perubahan ke arah yang lebih baik untuk bisa mencapai garis akhir sebagai pemenang, memperoleh mahkota kehidupan dan dilayakkan untuk masuk ke dalam KerajaanNya kelak.

Lewat Paulus kita bisa mendapati sebuah ayat yang menunjukkan pentingnya sebuah proses perubahan yang berkelanjutan. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar." (2 Korintus 3:18). Kita diubah untuk semakin mendekati gambaran Tuhan dengan intensitas yang terus meningkat. Dalam versi English AMP tertulis: "constantly being transfigure into His very own image in ever increasing splendor and from one degree of glory to another." Itu sebuah proses yang akan membawa kita untuk semakin lebih baik lagi dari hari ke hari agar bisa semakin mendekati gambarNya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan menyatakan kita mampu mengalami perubahan dalam sebuah proses berkelanjutan agar semakin serupa dengan gambaranNya, dengan pribadiNya, dengan sifatNya, lengkap dengan segala kemuliaan. Tidak peduli seburuk apa perilaku, sifat atau perbuatan kita pada waktu lalu, tidak peduli sebesar apa kesalahan kita dahulu, tidak peduli seberapa lekatnya pola-pola negatif dalam pikiran atau hati kita sebelumnya, tidak peduli sekelam apa masa lalu kita, di dalam Kristus kita bisa menjadi ciptaan yang benar-benar baru.

Menjadi ciptaan baru? Ya, tepat seperti itu bunyi janji Tuhan. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Firman Tuhan jelas menyatakan bahwa di dalam Kristus kita bukan lagi sosok yang lama. Ada anugerah untuk mengalami perubahan dari manusia lama menjadi ciptaan baru, the whole new person. Dan itu terjadi secara otomatis ketika kita menerima Kristus secara sungguh-sungguh dalam hidup kita. Sebagai ciptaan baru, itu artinya kita bisa mengalami perubahan secara menyeluruh atau bahkan radikal. Ada banyak contoh di dalam Alkitab yang mengalami transformasi diri, seperti Petrus atau yang paling jelas adalah lewat Paulus. Paulus dahulu dikenal sebagai orang yang sangat kejam, teroris, pembantai orang percaya. Dia tidak segan-segan menyiksa atau membunuh orang yang tidak sejalan dengannya. Kita bisa melihat catatan kekejaman Paulus yang waktu itu masih bernama Saulus dalam Kisah Para Rasul 8. Tetapi perhatikan pasal selanjutnya. Melalui perjumpaan dengan Yesus, Paulus pun mengalami transformasi diri. Ia berubah menjadi ciptaan yang benar-benar baru. Selanjutnya kita pun mengenal Paulus sebagai sosok yang sangat berani dalam menjalankan panggilannya. Ia pergi mewartakan Injil kemanapun bahkan hingga ke Asia kecil. Dia tidak mempedulikan resiko atau bahaya yang mengancam nyawanya. Dan lihatlah bagaimana Paulus mewarnai Perjanjian Baru lewat surat-suratnya. Bukankah itu sebuah bukti perubahan yang sangat nyata, yang jelas-jelas terjadi hanya dalam waktu singkat? Secara manusiawi itu tidak mungkin, tetapi bagi Tuhan segalanya bisa terjadi. Jika Tuhan menjanjikan sebuah perubahan kepada kita, bukan lagi ciptaan lama melainkan ciptaan baru, itu telah Dia berikan di dalam Kristus. Artinya, kemampuan untuk berubah bukanlah sebuah utopia semata. Tuhan sendiri sudah menganugerahkan itu kepada kita lewat AnakNya.

Setelah perubahan menjadi ciptaan baru kita peroleh, adalah penting bagi kita untuk menjaga diri kita agar jangan kembali terjerumus ke dalam kebiasaan, sifat atau kelakuan buruk kita di masa lalu. Dalam surat kepada jemaat Kolose Paulus memesankan hal ini. "Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kolose 3:9-10). Kita harus bisa menjaga segala perubahan kita sebagai ciptaan yang baru agar tidak sia-sia dengan kembali tercemar dengan kebiasaan dan perbuatan buruk kita di masa lalu. Ini sangat penting agar kita bisa berproses terus menerus menjadi lebih baik dan semakin mendapatkan gambar Tuhan yang benar, bukan sebaliknya kembali kepada keburukan, menjadi semakin menjauh dari image Tuhan tersebut dan semakin sesat.

Anda bisa beranggapan bagaimana mungkin sesuatu yang sudah mendarah daging, pola pikir yang sudah terbiasa negatif sejak kecil, berbagai kebiasaan buruk yang sudah berakar dan sebagainya bisa diubah. Tetapi percayalah, semua itu mungkin. Tuhan sudah memberikannya di dalam Kristus. Paulus sudah membuktikannya, tokoh-tokoh lain sudah membuktikannya, dan saya sendiri sudah membuktikan pula bahwa itu semua bisa. Perubahan itu mungkin terjadi. Dalam Kristus kita bukan lagi ciptaan lama melainkan sudah menjadi ciptaan baru yang bisa terus berproses untuk semakin mendekati gambaranNya. We are the whole new creation, and we can keep walking towards the process of being more and more like Him.

Perubahan itu perlu, dan Tuhan telah memberikannya di dalam Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, October 21, 2011

Roh Kudus Sang Penyambung Lidah

Ayat bacaan: Roma 8:26
====================
"Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."

Roh Kudus Penyambung LidahMasalah bisa menyerang kapan saja dan dimana saja, bahkan bisa hadir pada saat yang tidak disangka-sangka.Reaksi akan hal itu bisa beraneka ragam. Ada yang kehilangan kontrol atas emosinya, kemudian meledak kemana-mana sehingga orang-orang di sekitar kita yang tidak bersalah menjadi korbannya, ada yang meratapi nasib tak kunjung henti, ada yang terus mengisinya dengan keluh kesah dan sebagainya. Ada kalanya pula masalah itu hadir sedemikian sulitnya sehingga membuat kita tidak mampu berkata-kata lagi. Untuk berdoa pun bisa bingung, karena beban berat itu membuat kita sulit merangkainya dalam bentuk perkataan. Seperti yang kita lihat kemarin, ternyata Daud pun pernah mengalaminya. "Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat." (Mazmur 39:3).Kita tahu bahwa Tuhan sanggup, kita tahu kuasa Tuhan itu sungguh besar, namun kita tidak tahu bagaimana menyampaikannya karena kita sudah tidak lagi bisa berkata-kata. Atau kita tahu Tuhan itu Maha Tahu, tapi kita merasa kurang lengkap jika kita tidak mengatakannya. Ini seringkali jadi permasalahan banyak orang, terutama yang tengah ditimbuni beberapa persoalan berat sekaligus seperti teman saya tadi. Lidah serasa kelu, kita tidak lagi bisa berpikir jernih dan mulai gelisah bahkan stres. Sesungguhnya Tuhan mengerti mengenai hal ini, dan Dia pun telah menyediakan solusi yang bisa membantu kita dalam menghadapi persoalan, terutama persoalan berat yang membuat kita tidak lagi bisa menyampaikannya.

Apakah ada "alat bantu" yang disediakan Tuhan untuk itu? Jawabannya ada. Tuhan tahu bahwa ada masa dimana kita tidak lagi bisa berkata-kata, maka Tuhan telah menganugerahkan Roh Kudus untuk kita lewat Kristus. Ada sosok Roh Kudus yang diberikan Tuhan sebagai Penolong seperti yang dijanjikan Yesus sendiri. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." (Yohanes 14:16-17). Roh Kudus inilah yang akan berperan sebagai Penolong atau Pembimbing dalam kehidupan kita yang sulit ini. Urusan menolong bukan cuma terbatas dari sisi membantu kita untuk membedakan mana yang baik dan buruk atau benar dan salah, tapi juga termasuk menolong kita yang mengalami kesulitan untuk menyampaikan permasalahan kita ke hadapan Allah. Sekali lagi, Tuhan tahu persis bahwa terkadang kita bisa bagai terikat lidahnya ketika tertimpa beban berat dan menjadikan kita tidak lagi tahu harus bilang apa. Disaat-saat seperti itulah kita bisa mengandalkan Roh Kudus. Roh kita dengan perantaraan Roh Kudus mampu menyampaikan itu kepada Tuhan. "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Roma 8:26). Dalam versi English AMP dikatakan "So too the [Holy] Spirit comes to our aid and bears us up in our weakness; for we do not know what prayer to offer nor how to offer it worthily as we ought, but the Spirit Himself goes to meet our supplication and pleads in our behalf with unspeakable yearnings and groanings too deep for utterance." Karunia Roh ini merupakan sebuah sarana yang ampuh untuk membantu kita dalam segala hal, terutama dalam keadaan dimana kita tidak lagi bisa berpikir jernih ketika ditimpa berbagai kesulitan. Karena itulah sangat penting bagi kita untuk menjaga diri kita agar senantiasa menjadi bait Allah yang kudus sehingga Roh Kudus berkenan tinggal diam di dalam kita. Firman Tuhan berkata "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?" (1 Korintus 6:19).

Roh Kudus selalu siap untuk menjadi "Penyambung lidah" kita untuk menyampaikan berbagai persoalan yang tidak lagi bisa kita katakan. Memiliki hubungan dengan Tuhan melalui Roh sungguh sangat penting. Dan semua itu telah dikaruniakan Tuhan kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus, dan telah dijanjikan untuk menyertai kita untuk selama-lamanya seperti yang dinyatakan Kristus dalam Yohanes 14:16 tersebut. Inilah senjata ampuh yang akan bisa mengatasi timbunan permasalahan yang tidak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Selain daripada itu, adalah penting pula bagi kita untuk terus mengucap syukur. Firman Tuhan berkata: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6). Semua permohonan kita baik yang terkatakan maupun tidak hendaklah disertai dengan ucapan syukur. Apakah kita dalam keadaan baik atau buruk, tetaplah biasakan diri kita untuk mengucap syukur dan tidak terjebak dalam keluh kesah berkepanjangan. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Ini bukanlah hal yang bisa dicapai dalam sekejap saja, oleh karena itu kita harus sering-sering melatih diri untuk tetap bersyukur terlepas dari apapun situasi yang tengah kita hadapi saat ini.

Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah miliki iman yang percaya penuh kepada Tuhan dalam berdoa. Tanpa iman maka sia-sia pula semua doa permohonan kita. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:23-24).

Permasalahan bisa hadir dalam kehidupan kita kapanpun dan dimanapun. Ada kalanya kita kesulitan untuk dapat menyampaikannya dengan kata-kata ketika beban-beban berat itu seakan mengunci mulut kita. Dalam menghadapi situasi seperti itu, ingatlah bahwa Sang Penolong, Roh Kudus telah dikaruniakan untuk menyertai dan tinggal di dalam kita untuk selama-lamanya. Dia selalu siap untuk menjadi "Penyambung lidah" kita. Berdoalah dalam Roh, naikkanlah doa disertai ucapan syukur dan miliki iman yang percaya bahwa tidak ada satupun hal yang mustahil bagi Tuhan. Sesungguhnya Tuhan berkuasa lebih dari apapun, Dia tahu, mengerti dan peduli dengan keadaan kita. Apa yang diberikan dan dijanjikan Tuhan sesungguhnya sangat lengkap. Dia membantu kita dalam menyampaikan keluhan yang tidak terkatakan, Dia akan selalu membimbing dan menguatkan kita dalam menghadapi permasalahan apapun dan Dia siap untuk melepaskan kita dari itu semua. Masalah boleh sedemikian berat dan bertimbun, kita bisa merasa kesulitan untuk mengungkapkan dalam doa, namun jangan pernah lupa bahwa ada Roh Kudus ada di dalam diri anda dan selalu rindu untuk membantu kita.

Roh Kudus siap menjadi "Penyambung lidah" bagi kita yang tidak lagi sanggup berkata-kata

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, October 20, 2011

Silence is Golden

 Ayat bacaan: Mazmur 46:11
=======================
"Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!"

diamMengalami tekanan beban masalah bertubi-tubi akan terasa sangat menyiksa, apalagi jika masalah itu seolah betah tinggal pada kita untuk jangka waktu lama. Belum beres satu masalah, masalah lain datang, perginya pun tidak cepat. Kita bisa gelagapan, kalang kabut, stres atau menjadi sangat labil. Lama kelamaan kita merasa muak dengan situasi yang sedang kita hadapi. Kita marah, kehilangan kontrol, mengamuk, meradang penuh emosi, rasanya ingin memberontak keluar dari keadaan yang sudah terlalu menyesakkan kita. Dalam keadaan seperti itu tenaga kita terkuras, mental kita pun bisa anjlok ke titik terendah. Jangankan masalah, pekerjaan yang menumpuk tak habis-habisnya saja bisa membuat kita kehlangan kontrol diri seperti ini. Ada kalanya saya pun merasakannya disaat tugas-tugas mengalir deras bak air bah menerpa saya. Ada kalanya saya ingin berteriak, "I'm fed up, I need a break!" Dalam banyak bentuk perasaan seperti ini bisa kita alami. Mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang lain, orang-orang yang menyebalkan yang bagai tak punya hati terus mengusik kita, orang-orang yang kita anggap dekat ternyata mengecewakan kita atau malah menusuk dari belakang dan banyak lagi. Di saat seperti ini, ketika anda merasa sangat marah terhadap kondisi yang anda rasakan saat ini kita rawan mengambil tindakan yang salah yang pada suatu ketika bisa kita sesali. Emosi yang tidak terkontrol bisa lepas menerkam orang yang tidak bersalah. Kita pun beresiko mengalami berbagai serangan penyakit jika dibiarkan terus menerus. Setidaknya, sukacita akan hilang dari diri kita. Tidak baik bagi kita sendiri, tidak baik juga buat orang di sekitar kita, padahal mereka tidak salah apa-apa. Ada kalanya pula tekanan-tekanan itu membuat kita tidak lagi sanggup berkata apa-apa. Lidah terasa kelu, kita hanya bisa terdiam membisu karena tidak tahu lagi harus bagaimana. Daud pernah mengalaminya, "Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat." (Mazmur 39:3). Jika hal-hal seperti ini yang tengah menimpa anda hari ini, mungkin inilah saat yang paling tepat untuk mengambil sebuah tindakan penting. Dari pada terus berteriak, mengeluh, mengaduh, menangis atau malah melakukan tindakan-tindakan yang didasari emosi hinga merugikan diri sendiri dan orang lain, ada baiknya kita memilih untuk melakukan sebaliknya, yaitu memilih untuk diam dan mengingat Bapa, Sang Pencipta yang begitu mengasihi kita.

Sebuah pepatah mengatakan diam itu emas. Silence is golden. Dengan diam itu bisa mencegah kita melakukan kesalahan-kesalahan yang hanya akan menambah masalah. Tuhan sendiri sudah mengingatkan kita lewat suaraNya sendiri. "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11). Let be and be still, and know that I am God. Ambil jeda, berhentilah sebentar, dan diamlah. Lalu ambil momen perenungan dan ajak pikiran dan hati anda kembali mengingat bahwa ada Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Masalah mungkin belum selesai, peperangan atau pergumulan masih akan terus berlangsung, tapi ada saatnya kita harus mengambil langkah tersebut sebelum kita mengambil tindakan yang tidak rasional dan hanya dilandasi oleh emosi belaka, dan itu akan lebih baik daripada kita terus merintih, meraung dan menangis tanpa henti.

Sebuah kisah mengenai kedatangan Yesus berkunjung ke rumah Maria dan Marta bisa kita jadikan sebagai sebuah pelajaran berharga. Mendapat kunjungan istimewa ini, Marta pun segera sibuk. Tapi Maria justru melakukan yang sebaliknya, yaitu duduk diam di dekat kaki Tuhan Yesus untuk terus mendengarkan perkataanNya. "Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya" (Lukas 10:39). Ketika Marta protes menganggap Maria seperti tidak peduli dan hanya diam saja, Yesus pun meresponnya dengan: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (ay 41-42). Kita pun cenderung berlaku seperti ini. Kita sibuk melakukan segala sesuatu semampu kita, dan terus merasa kesal apabila situasi tidak kunjung menjadi baik meski kita sudah mati-matian berusaha mengatasinya. Di saat seperti itu, kita seringkali lupa bahwa ada waktu dimana kita harus berhenti dan kemudian mendatangi Tuhan, berdiam di hadiratNya untuk mendengar suaraNya. Kita terlalu sibuk berusaha lalu kemudian lupa untuk duduk diam di kakiNya dan menikmati kedekatan terhadap Tuhan yang sangat mengasihi kita serta mendengarkan suaraNya. Kita lupa bahwa Tuhan sanggup menghadirkan kelegaan (Matius 11:28), bahkan menggendong, menanggung dan memikul dan menyelamatkan kita sampai kapanpun. "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4). We tend to forget those when we are too busy trying with everything we can. Kita lupa bahwa di atas segalanya, ada Tuhan yang berkuasa lebih dari apapun di dunia ini. Kita lupa bahwa ada Tuhan yang tak terbatas jauh yang lebih hebat dibanding kita yang terbatas.

Sekali lagi, pesan Tuhan hari ini sungguh jelas."Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11). Let be and be still, and know that I am God. Diamlah dan pandanglah Tuhan. Dalam situasi sulit, kita mungkin menganggap bahwa semua janji Tuhan dalam alkitab terasa sangat jauh dari jangkauan kita, atau sangat lambat datangnya. Tapi ingatlah bahwa meski saat ini kita mengalami kekecewaan dari harapan yang belum juga kunjung tercapai, ada saat dimana kita harus menunggu disertai harapan yang tetap menyala.Sementara menunggu, tetaplah pegang janji Tuhan, dan luangkan waktu lebih banyak bukan untuk terus berkeluh kesah dan meratap dalam doa-doa kita, tapi untuk diam dan mendengarkan suara Tuhan lebih lagi. Ingatlah bahwa sesungguhnya "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita.." (Ibrani 6:19) Percayakan kepadaNya dengan iman yang teguh, maka pertolongan Tuhan pun akan datang, cerah dan membahagiakan seperti melihat fajar menyingsing yang membawa terang dan sukacita ke muka bumi. Seruan ini pun pernah disampaikan melalui Hosea. "Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." (Hosea 6:3). Mungkin jawaban Tuhan belum datang saat ini, tapi apa yang disediakan Tuhan adalah segala yang terbaik bagi kita dan akan tepat pada waktunya. Itu janji Tuhan yang sangat baik untuk kita imani. Sementara anda belum mendapatkannya tetaplah tenang dan jangan panik. Diamlah dan ketahuilah bahwa Dia adalah Tuhan yang setia terhadap janji-janjiNya. After all, "Salvation belongs to the Lord." "Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu!"(Mazmur 3:9). Dari Tuhanlah datangnya pertolongan. Jadi, mengapa tidak mengarahkan pandangan kepadaNya? Ambil masa-masa untuk diam sejenak, dan datanglah kepadaNya serta pandanglah wajahNya. Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk melepaskan anda.

Tuhan adalah sumber pertolongan sejati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, October 19, 2011

Kerjasama dalam Satu Kesatuan

Ayat bacaan: Ibrani 10:24
=====================
"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik."

kerjasamaBagus tidaknya sebuah tim sepakbola bukan hanya tergantung dari satu dua pemain, melainkan bagaimana kerjasama tim sebagai suatu kesatuan. Benar bahwa ada beberapa pemain kunci yang akan sangat menentukan aliran serangan dan kekuatan pertahanan, tetapi mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa jika pemain lainnya bermain buruk. Ada pula yang dikenal dengan "pemain keduabelas" yang tidak lain adalah penonton. Dukungan dari suporter atau penonton ini sering pula memberi nyawa tambahan tersendiri bagi tim yang bermain. Semua itu adalah satu kesatuan, satu unit, yang saling bersinergi satu sama lain untuk mencapai kesuksesan. Dalam perkembangan musik pun demikian. Saya bergelut di dunia musik dari sisi media mengetahui dengan pasti bahwa jika semua elemen di dalamnya berjalan sendiri-sendiri, maka tidak ada yang bisa kita capai. Musisinya luar biasa, tetapi jika tidak ada pihak media yang mendukung dengan serius maka mereka tidak akan bisa menapak naik. Sebaliknya untuk apa media musik seperti saya tanpa musisi yang punya kemampuan baik? Elemen-elemen lainnya seperti event organizer, promotor, manajer termasuk juga fans dan keluarga pun harus turut ambil bagian mengerjakan bagiannya masing-masing. Hanya dengan itulah kita bisa mencapai sesuatu hasil yang baik.

Manusia adalah mahluk sosial yang tetap membutuhkan kehadiran orang lain yang bisa menyemangati atau mendorong untuk tidak menyerah dan terus maju. Manusia tidak bisa hidup sendirian, no one is an island. Dan memang seperti itulah sejatinya kita diciptakan Tuhan. Tuhan jelas berkata di awal penciptaan bahwa "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja..." (Kejadian 2:16). Ini menunjukkan dengan jelas bagaimana manusia sejak awal bukan dirancang untuk menjadi individualis-individualis egois yang berjalan sendirian, tetapi dibentuk menjadi mahluk sosial yang terhubung atau connected dengan sesamanya. Tidakkah kita pernah merasa bagai mendapat tenaga baru ketika mendapat dukungan dari teman-teman atau keluarga di saat kita mungkin sudah mulai "kehabisan bensin" dan berpikir untuk menyerah? Secara alamiah faktanya manusia adalah mahluk yang lemah dan terbatas  Sejauh mana sih kita bisa melakukan sesuatu apabila hanya sendirian? Kelemahan dan keterbatasan ini cepat atau lambat bisa membuat kita patah semangat, frustasi dan kemudian menyerah. Di saat tekanan begitu intens menerpa kita bertubi-tubi kita bisa kehabisan tenaga lalu mulai putus asa kehilangan harapan. Di saat seperti inilah  kita butuh orang-orang yang peduli pada kita. Kita butuh tambahan "bensin" agar bisa terus bergerak, kita butuh "pemain keduabelas" dan "rekan-rekan satu tim" yang bisa saling dukung untuk mencapai kesuksesan bersama. Kita butuh orang yang mampu memberikan dukungan moril. Dorongan semangat seperti ini sungguh sangat berarti bagaikan setetes embun di padang gurun. Di sisi lain, ketika teman kita yang mulai kehabisan tenaga, giliran kita pula yang menjadi penyemangat dan mendukung mereka agar bisa kembali bangkit.

Mengingat kemampuan dan daya tahan manusia yang terbatas inilah sebuah pesan dari penulis Ibrani mengingatkan "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Saling memperhatikan, saling mendorong, saling support dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. We need a teamwork, we need to work as a team. Ketika yang satu lemah, yang lain menguatkan, begitu seterusnya. Bekerja sama, saling bahu membahu dan menguatkan, bukan sebaliknya saling iri, dengki dan menjatuhkan. Perhatikan baik-baik ayat tersebut. Kita harus saling memperhatikan. Mengapa? Supaya kita mengetahui satu sama lain dan bisa saling mendorong, mensuport, mendukung atau menguatkan. Di dalam apa? Di dalam kasih dan pekerjaan baik. Bukan pekerjaan yang buruk apalagi jahat, tetapi pekerjaan baik, untuk tujuan baik, untuk memuliakan Tuhan di dalamNya. Seperti itulah gambaran bagaimana seharusnya kita bergerak. Bukan sendiri-sendiri, tetapi dengan bekerjasama, saling dukung dan saling bantu antara satu dengan lainnya.

Penyemangat. Betapa indahnya kata ini terdengar terutama ketika kita sedang kelelahan menghadapi beratnya hidup. Sosok seperti ini dibutuhkan semua orang tanpa terkecuali, apalagi dalam urusan iman. Hidup di dunia hari ini tidaklah gampang. Tekanan krisis dan rupa-rupa penyesatan hadir di mana-mana menekan kita dari setiap arah. Cepat atau lambat, tenaga kita akan melemah dan kita bisa menyerah, terjatuh dan masuk ke dalam jurang kegelapan. Di saat seperti inilah pesan Penulis Ibrani begitu penting. Artinya kebersamaan di antara saudara-saudari seiman haruslah terbina erat dalam dasar saling mengasihi, memperhatikan, mengingatkan dan menguatkan satu sama lain. Ini penting dalam menghadapi hari-hari yang semakin sulit seperti apa yang kita hadapi saat ini. Jalan terasa makin terjal, langkah terasa makin berat. Karena itu kita harus tetap meluangkan waktu untuk berkumpul bersama-sama agar saling mengingatkan, mendukung maupun menguatkan. "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25). Kita bisa saja beribadah sendiri di rumah, dan benar bahwa ibadah yang sejati bukanlah ibadah di gereja atau persekutuan melainkan cara kita hidup sehari-hari dengan mempersembahkan diri kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah seperti yang disebutkan dalam Roma 12:1. Tetapi kita akan mengabaikan jati diri kita sebagai mahluk sosial dan dengan sendirinya mengabaikan kehendak Tuhan apabila kita melewatkan ibadah bersama saudara-saudari lainnya baik di gereja maupun di persekutuan. Hal ini sangatlah penting untuk kita ingat, begitu pentingnya sehingga bertolong-tolong dalam menanggung beban sehingga orang yang melakukannya dikatakan memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2).

Sepanjang Perjanjian Baru kita membaca berulang-ulang mengenai kepastian kedatangan Kristus untuk kali kedua. Dan berulang kali pula kita diingatkan bahwa kedatanganNya yang kedua sudah dekat. "Tuhan sudah dekat!" (Filipi 4:5b). "..kedatangan Tuhan sudah dekat!" (Yakobus 5:8) Kitab Wahyu pun berkata: "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya." (Wahyu 22:12). Adalah penting bagi kita untuk terus berjalan di jalur yang benar menjelang kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya yang sudah semakin dekat, sehingga kita akhirnya bisa mencapai garis akhir yang baik dan bisa berkata seperti Paulus,"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2 Timotius 4:7). Kelak akan ada hari dimana kemudian kita dianugerahkan mahkota kebenaran oleh Tuhan. (ay 8). Untuk itulah kita perlu saling menyemangati, saling mendorong, menasehati, menguatkan dalam kasih, agar jangan ada di antara kita yang tergelincir keluar dari jalur, sehingga kita semua bisa mencapai garis akhir dengan baik. Marilah kita mulai hari ini. Bangunlah hubungan yang kuat, utuh dan erat dengan orang lain, dan isilah hubungan itu dengan segala sesuatu yang positif. Saling menguatkan, membangun, mengingatkan, mendorong, tolong menolong, peduli satu sama lain, itu akan membuat kita bisa tetap kuat menghadapi hari-hari yang berat.

There is no superman but surely there is superteam

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 18, 2011

Kejutan

Ayat bacaan: 1 Korintus 2:9
=======================
"Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."

kejutanSeorang teman pada suatu kali bercerita bahwa ia dikatakan sebagai ayah tanpa kejutan oleh anak-anaknya. Semua yang ia lakukan sangat terpola, dalam memberi pun demikian, sehingga anak-anaknya sudah bisa mengetahui apa yang akan ia berikan sebagai hadiah kepada mereka. "Itu sama persis dengan apa yang dikatakan istriku.." katanya sambil tertawa. Teman saya itu memang termasuk orang yang teratur, terpola atau seolah "terprogram" sehingga orang mudah membaca dirinya meski belum terlalu lama mengenalnya. Buat saya ini menunjukkan bahwa manusia cenderung suka mendapatkan kejutan, terutama dalam momen-momen istimewa dalam kehidupannya. Hadiah yang tak terduga atau surprise party misalnya dalam hari ulang tahun, biasanya akan membawa sesuatu yang berkesan bagi sang penerimanya. Kejutan yang menyenangkan ini tidak selalu harus berharga mahal, karena seringkali hal-hal kecil seperti sekuntum bunga, sebuah puisi atau kehadiran disaat tak terduga pun bisa menjadi kejutan yang tidak akan mudah mereka lupakan. Coba perhatikan wajah anak-anak ketika mendapat hadiah kejutan dari orang tuanya atau ketika mereka tiba-tiba diajak berlibur ke sebuah tempat yang mereka sukai. Mata mereka akan berbinar, senyum mengambang dan seringkali akan disertai sorak dan tawa dari mereka saking riangnya. Mereka akan mudah menangkap rasa sayang kita lewat kejutan-kejutan yang menyenangkan seperti itu.

Jika teman saya dikenal anak-anaknya sebagai ayah yang tertebak atau tanpa kejutan, bagaimana dengan Bapa kita di Surga? Apakah Dia sosok ayah yang datar, sulit mengapresiasikan kasih dan tidak menganggap penting kejutan atau sebaliknya? Allah adalah Bapa yang begitu penuh kejutan, yang senang memberi kejutan kepada anak-anakNya. He is a Father who loves to give surprises. Dia punya seribu satu atau bahkan jutaan cara untuk memberi kejutan bagi anak-anakNya, sesuatu yang tak terduga yang seringkali datang pada saat tak terduga pula. Sejak saya bertobat, berualngkali bentuk-bentuk kejutan dihadiahkan Tuhan bagi kami sekeluarga. Berkat, mukjizat kesembuhan, pertolongan yang tidak terduga, itu sudah berkali-kali kami alami, dan saya pun juga melihat orang-orang lain yang bersorak sorai karena memperoleh kejutan dari Tuhan. Semakin anda mengasihi seseorang, semakin pula anda ingin menyenangkannya. Bukankah demikian? Tuhan pun seperti itu. Hubungan yang erat dan intim dengan Tuhan akan membuat anda bisa merasakan kasih Bapa yang tak terhingga, yang akan Dia berikan secara berlimpah-limpah dan bukan ala kadarnya seperti yang sudah kita lihat dalam renungan kemarin. Apa yang dikatakan kejutan biasanya adalah sesuatu yang menyenangkan, berharga atau indah yang diberikan kepada kita pada saat-saat tak terduga. Dan Tuhan punya begitu banyak cara untuk itu. He is a loving father who love to give suprises.

Mari kita lihat kembali sebuah ayat yang sudah saya singgung kemarin."Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Ayat ini dengan jelas menggambarkan betapa Allah suka memberi kejutan. Betapa tidak. Dia dikatakan menyediakan segala sesuatu yang tidak kita duga, tidak terbayangkan, tidak terpikirkan, sesuatu yang mungkin kita anggap terlalu muluk buat kita sehingga membayangkannya saja kita tidak berani, atau bahkan kita tidak merasa layak menerimanya. semua itu disediakan Tuhan bagi siapapun yang mengasihiNya. Tuhan mampu, mau dan dengan senang hati menyediakan itu semua sebagai bentuk kejutan bagi anak-anakNya yang mengasihiNya dengan sepenuh hati. Apa yang menggerakkan Tuhan untuk itu? Ayat diatas menyebutkan satu hal, yaitu kasih. Itulah yang membuat Tuhan dengan senang hati melimpahi kita dengan segala sesuatu yang tidak terbayangkan atau terpikirkan oleh kita. Dan itu menunjukkan betapa pentingnya atau tingginya nilai kasih di mata Tuhan. Kasih bukanlah sekedar salah satu kepribadian atau sifat Tuhan, tetapi Alkitab menyatakan bahwa Tuhan adalah kasih itu sendiri. (1 Yohanes 4:8).

Saya pernah memberi kesaksian beberapa kali tentang kejutan-kejutan yang diberikan Tuhan dalam keluarga saya. Misalnya ketika anjing saya salah lompat sehingga tulang dadanya sampai terlihat menonjol keluar. Itu sangat menyakitkan baginya dan ia pun tidak bisa bergerak. Tersentuh sedikit ia pun menjerit kesakitan. Bagaimana mungkin hanya dalam beberapa jam ia tiba-tiba mulai bisa berjalan dan keesokan harinya kembali normal? Apa yang saya lakukan ketika melihat kondisinya hanya satu: berdoa bersama istri saya. Kami sempat panik karena kejadian itu tepat pada hari libur sehingga tidak ada dokter hewan yang buka, tetapi kami kemudian memilih untuk berdoa dan menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan. Tuhan pun kemudian memberi mukjizatNya yang mengejutkan. Momen lainnya yang juga tidak bisa saya lupakan ketika kami bisa memiliki rumah tanpa harus mencicil, meski uang tabungan yang ada hanya cukup untuk membayar seperempatnya saja. Bagaimana itu mungkin? Seperti itulah Tuhan bisa menghadirkan kejutan-kejutan dalam kehidupan kita sebagai pernyataan kasih, keberadaan dan penyertaanNya dalam perjalanan hidup ini. 

Dalam surat kepada jemaat Efesus kita bisa pula melihat pernyataan akan hal ini. "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita." (Efesus 3:20). Bukankah itu luar biasa? Tuhan sanggup melakukan jauh lebih banyak dari apa yang kita doakan atau pikirkan, dan kabar baiknya, Dia mau memberikan itu dengan senang hati. Bersyukurlah kita punya Bapa yang sudah merencanakan "rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan" (Yeremia 29:11), Bapa yang sudah berjanji tidak akan sekali-kali meninggalkan kita sendirian, dan semua itu Dia berikan lengkap dengan berbagai kejutan di dalamnya. Kuncinya hanya satu: kasih. Kasih kita yang tulus dan sepenuh hati kepadaNya akan membuat semuanya ditambahkan kepada kita bahkan hal-hal yang mungkin tidak atau belum kita minta sekalipun.

Apa yang menjadi kebutuhan anda hari ini? Adakah impian anda yang belum terealisasi? Apakah anda khawatir anda tidak dapat memenuhinya? Apakah anda putus asa dan patah semangat terlebih ketika tidak satupun logika yang mendukung anda? Apakah semuanya terlihat tidak mungkin untuk anda peroleh? Anda tidak perlu kuatir tentang itu. Ingatlah baik bahwa kita sesungguhnya punya Bapa yang penuh kejutan. Dia siap memberikan kita lebih dari apapun yang pernah kita lihat, dengar atau pikirkan. Hebatnya lagi, Dia siap memberikan itu semua secara berkelimpahan. Tuhan adalah Bapa yang suka memberi kejutan bagi anak-anakNya. Sekali lagi syaratnya hanya satu: mengasihiNya dengan sungguh-sungguh. Mengasihi bukan hanya berbicara mengenai lips service atau sekedar lewat kata-kata atau pengakuan saja, tetapi di dalamnya terkandung ketaatan, kehidupan yang takut akan Tuhan, menjauhi laranganNya, mendengar, mematuhi dan menjalankan perintahNya dalam aplikasi atau perbuatan nyata dalam hidup kita. Dia mengenal kita, Dia tahu apa yang kita butuhkan bahkan lebih dari itu. Yang jelas, Allah adalah Bapa yang penuh dengan kejutan. He is full of surprises. Tuhan siap melimpahkan kejutan-kejutan, dan hendaklah semua itu kita pakai untuk memuliakan Dia lebih lagi dan bukan untuk dihabiskan sia-sia, ditimbun atau malah dipakai untuk tujuan yang salah.

Bapa Surgawi senang memberi kejutan indah kepada setiap anak yang mengasihiNya dengan sungguh-sungguh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...