======================
"Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar."
Kita mengenal beberapa hamba Tuhan yang benar-benar diberkati secara luar biasa dengan menjadi perantara Tuhan dalam melakukan berbagai mukjizat. Lewat mereka Tuhan bekerja memberi kesembuhan, pelepasan dan sebagainya. Menyaksikan semua ini bisa membuka mata kita akan kuasa Tuhan, betapa tidak ada yang mustahil bagi Dia. Hanya saja sangat disayangkan, ada banyak orang mendasarkan keimanannya secara sempit hanya pada mukjizat, keajaiban, hal-hal mustahil yang jadi nyata dan sebagainya. Jika tidak ada mukjizat terjadi, berarti Tuhan tidak ada, minimal sedang dianggap sedang tidak berada ditempat, sedang tidak peduli, atau malah menganggap bahwa mereka mungkin dianggap Tuhan tidak sepenting orang lain. Ada banyak orang juga yang bersikap apatis, merasa bahwa menjalankan amanat agung itu bukanlah tugas mereka karena mereka tidak mampu membuat mukjizat seperti halnya para hamba Tuhan dalam KKR-KKR besar dan sebagainya. Hanya mau melayani jika bisa membuat mukjizat, kalau tidak berarti itu bukan panggilan. Benarkah demikian?Jika kita baca perjalanan para tokoh dalam alkitab, kita akan mendapatkan banyak mukjizat dilakukan oleh mereka. Ambil contoh beberapa tokoh seperti Musa, Elia, Yesaya dan sebagainya, semua pernah membuat mukjizat. Yesus pun menyembuhkan banyak orang sakit dan membangkitkan orang mati. Para rasul dalam pelayanan mereka setelah kebangkitan Yesus pun melakukan hal yang sama berulang kali. Pertanyaannya, apakah orang hanya bisa percaya dan menerima Tuhan hanya lewat mukjizat semata? Fakta membuktikan tidak selamanya. Yesus masih dihujat dan diminta untuk disalibkan, meski mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus mereka saksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Pertanyaan kedua, apakah cara memberitakan injil hanya bisa dilakukan lewat kuasa kesembuhan dan talenta-talenta yang mendatangkan keajaiban? Tidak juga. Dalam hal ini, kita bisa belajar dari cerita tentang Yohanes Pembaptis.
Sepanjang masa hidupnya, Yohanes Pembaptis tidak pernah melakukan tanda-tanda atau mukjizat apapun. Tapi hal tersebut tidak membuat dia menjadi tokoh yang dilupakan. Dan yang lebih penting lagi, tanpa kemampuan membuat mukjizat, Yohanes tetap bisa memberitakan tentang Kristus dan akibatnya ia menyelamatkan banyak orang. Bagaimana cara yang dilakukan Yohanes? Bukan dengan menyembuhkan, melainkan dengan menjadi saksi Kristus, memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia. Katanya: "Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29). Yohanes mengabarkan berita keselamatan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memperkatakan tentang Yesus. Ternyata hal tersebut cukup untuk membuat banyak orang percaya dan diselamatkan. Selain memperkatakan dan menjadi saksi Kristus, Yohanes juga memberitakan injil lewat memberi nasihat. Hal ini bisa kita ketahui dari Injil Lukas yang berbunyi: "Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak." (Lukas 3:18).
Adalah benar bahwa sebenarnya kita semua telah diberi kuasa untuk melakukan hal-hal yang sama, bahkan lebih jika kita percaya pada Yesus. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;" (Yohanes 14:12), atau dalam kesempatan lain Yesus mengatakan: "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Tapi bisa dimaklumi bahwa sebagian besar orang mungkin belum siap untuk itu, atau masih perlu waktu untuk bertumbuh imannya, atau mungkin juga karena mereka kurang percaya atau masih terhambat oleh dosa-dosa yang belum dibereskan. Atau mungkin juga memang panggilan kita bukan di bidang itu. Ada 5 jawatan seperti yang disebutkan dalam Efesus 4:11-13, dimana masing-masing punya bagian dan tugasnya sendiri-sendiri dalam menjalankan amanat Tuhan. Semua sama pentingnya. Yang pasti, jika kita tidak bisa melakukan mukjizat, bukan berarti bahwa kita lepas dari tanggung jawab kita dalam menjalankan amanat agung seperti yang dipesankan Kristus. Bukan pula berarti kita tidak sanggup menjadi duta-duta Kerajaan Allah. Untuk memberitakan injil kita tidak dituntut untuk mampu membuat KKR, mampu menghidupkan orang mati, mampu menyembuhkan orang sakit, mampu melakukan berbagai mukjizat dan sebagainya, tapi secara sederhana lewat memperkatakan Yesus, mengenalkan siapa Yesus kepada saudara-saudara kita lewat kesaksian-kesaksian hidup kita, itu pun merupakan bentuk menjalankan tanggungjawab yang tidak kalah baiknya. Apa yang kita alami ketika kita berjalan bersama Yesus, dan saat kita telah mengalami Tuhan bisa kita angkat dalam serangkaian kata sebagai kesaksian kita.
Yohanes Pembaptis adalah orang yang tidak membuat satu mukjizat pun, tetapi ia dipilih menjadi satu-satunya orang yang mendapat kehormatan untuk membaptis Yesus. Lewat caranya yang sederhana ia mampu membawa banyak orang mendengar kebenaran dan bertobat. Sebuah ayat jelas menggambarkan hal ini."Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar." (Yohanes 10:41). Karunia yang disediakan Tuhan bermacam-macam. Apapun karunia yang kita miliki tentu bisa dipakai untuk menjalankan tugas yang agung ini. Kita bisa belajar dari Yohanes yang memperkatakan apa yang ia lihat, ia alami dan ia saksikan, meski tanpa lewat mukjizat, sehingga kita pun bisa mulai dari sekarang untuk menjadi murid Yesus sesungguhnya.
Bukan hanya melakukan mukjizat, tapi memperkatakan dan menjadi saksi Kristus pun merupakan cara untuk memberitakan Injil
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sambil duduk pagi ini saya mendengar sebuah lagu lawas milik Guns n Roses yang berjudul Patience. Saya tertarik mendengar salah satu bagian lagu itu yang berkata, "All we need is just a little patience.." Apa yang dikatakan bagian ini sesungguhnya benar. Seringkali apa yang menghambat kita bukan hal-hal lainnya tetapi justru kesabaran. Kita cenderung kurang sabar dalam melakukan atau menghadapi sesuatu, dan akibatnya kerugian pun datang, atau malah mungkin juga kita malah menambah masalah lain hanya gara-gara kurang sabar. Maka kesabaran menjadi sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit untuk diterapkan. Hampir di setiap lini kehidupan kita bertemu dengan situasi-situasi dimana kesabaran kita harus diuji. Dan seringkali apa yang menentukan berhasil tidaknya kita melewati ujian-ujian itu adalah faktor kesabaran kita.
Ada sebuah iklan produk beberapa waktu lalu mempergunakan slogan yang tidak asing lagi untuk menyampaikan perubahan kemasan mereka. Slogan itu berbunyi: "Perubahan Itu Perlu". Sejauh mana perubahan itu dibutuhkan? Bayangkan apabila orang diam di satu titik saja, tidak ada inovasi, tidak ada perkembangan, semua berjalan datar dan hambar. Jika itu terjadi, maka kita tidak akan pernah bisa maju. Seorang penyanyi legendaris Indonesia pernah berkata: "Kalau kita tetap berpegang pada prinsip lama dan tidak memahami dengan apa yang sedang digandrungi di masa sekarang atau masa yang akan datang, niscaya perjalanan tersebut akan berhenti dan tidak akan bisa bertahan lama." Ini sebuah prinsip yang dipegangnya sejak awal, sehingga tidak heran ia tetap bisa berkarir dengan baik semenjak memulainya di pertengahan tahun 60'an. Hari ini ia masih aktif dan bersemangat bernyanyi di mana-mana, bahkan masih kerap dipanggil untuk tampil di luar negeri. Ini adalah buah dari prinsip hidupnya yang tidak pernah mau berhenti untuk belajar, berkembang dan berinovasi mengikuti perkembangan jaman.
Masalah bisa menyerang kapan saja dan dimana saja, bahkan bisa hadir pada saat yang tidak disangka-sangka.Reaksi akan hal itu bisa beraneka ragam. Ada yang kehilangan kontrol atas emosinya, kemudian meledak kemana-mana sehingga orang-orang di sekitar kita yang tidak bersalah menjadi korbannya, ada yang meratapi nasib tak kunjung henti, ada yang terus mengisinya dengan keluh kesah dan sebagainya. Ada kalanya pula masalah itu hadir sedemikian sulitnya sehingga membuat kita tidak mampu berkata-kata lagi. Untuk berdoa pun bisa bingung, karena beban berat itu membuat kita sulit merangkainya dalam bentuk perkataan. Seperti yang kita lihat kemarin, ternyata Daud pun pernah mengalaminya. "Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat." (Mazmur 39:3).Kita tahu bahwa Tuhan sanggup, kita tahu kuasa Tuhan itu sungguh besar, namun kita tidak tahu bagaimana menyampaikannya karena kita sudah tidak lagi bisa berkata-kata. Atau kita tahu Tuhan itu Maha Tahu, tapi kita merasa kurang lengkap jika kita tidak mengatakannya. Ini seringkali jadi permasalahan banyak orang, terutama yang tengah ditimbuni beberapa persoalan berat sekaligus seperti teman saya tadi. Lidah serasa kelu, kita tidak lagi bisa berpikir jernih dan mulai gelisah bahkan stres. Sesungguhnya Tuhan mengerti mengenai hal ini, dan Dia pun telah menyediakan solusi yang bisa membantu kita dalam menghadapi persoalan, terutama persoalan berat yang membuat kita tidak lagi bisa menyampaikannya.
Mengalami tekanan beban masalah bertubi-tubi akan terasa sangat menyiksa, apalagi jika masalah itu seolah betah tinggal pada kita untuk jangka waktu lama. Belum beres satu masalah, masalah lain datang, perginya pun tidak cepat. Kita bisa gelagapan, kalang kabut, stres atau menjadi sangat labil. Lama kelamaan kita merasa muak dengan situasi yang sedang kita hadapi. Kita marah, kehilangan kontrol, mengamuk, meradang penuh emosi, rasanya ingin memberontak keluar dari keadaan yang sudah terlalu menyesakkan kita. Dalam keadaan seperti itu tenaga kita terkuras, mental kita pun bisa anjlok ke titik terendah. Jangankan masalah, pekerjaan yang menumpuk tak habis-habisnya saja bisa membuat kita kehlangan kontrol diri seperti ini. Ada kalanya saya pun merasakannya disaat tugas-tugas mengalir deras bak air bah menerpa saya. Ada kalanya saya ingin berteriak, "I'm fed up, I need a break!" Dalam banyak bentuk perasaan seperti ini bisa kita alami. Mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang lain, orang-orang yang menyebalkan yang bagai tak punya hati terus mengusik kita, orang-orang yang kita anggap dekat ternyata mengecewakan kita atau malah menusuk dari belakang dan banyak lagi. Di saat seperti ini, ketika anda merasa sangat marah terhadap kondisi yang anda rasakan saat ini kita rawan mengambil tindakan yang salah yang pada suatu ketika bisa kita sesali. Emosi yang tidak terkontrol bisa lepas menerkam orang yang tidak bersalah. Kita pun beresiko mengalami berbagai serangan penyakit jika dibiarkan terus menerus. Setidaknya, sukacita akan hilang dari diri kita. Tidak baik bagi kita sendiri, tidak baik juga buat orang di sekitar kita, padahal mereka tidak salah apa-apa. Ada kalanya pula tekanan-tekanan itu membuat kita tidak lagi sanggup berkata apa-apa. Lidah terasa kelu, kita hanya bisa terdiam membisu karena tidak tahu lagi harus bagaimana. Daud pernah mengalaminya, "Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat." (Mazmur 39:3). Jika hal-hal seperti ini yang tengah menimpa anda hari ini, mungkin inilah saat yang paling tepat untuk mengambil sebuah tindakan penting. Dari pada terus berteriak, mengeluh, mengaduh, menangis atau malah melakukan tindakan-tindakan yang didasari emosi hinga merugikan diri sendiri dan orang lain, ada baiknya kita memilih untuk melakukan sebaliknya, yaitu memilih untuk diam dan mengingat Bapa, Sang Pencipta yang begitu mengasihi kita.
Bagus tidaknya sebuah tim sepakbola bukan hanya tergantung dari satu dua pemain, melainkan bagaimana kerjasama tim sebagai suatu kesatuan. Benar bahwa ada beberapa pemain kunci yang akan sangat menentukan aliran serangan dan kekuatan pertahanan, tetapi mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa jika pemain lainnya bermain buruk. Ada pula yang dikenal dengan "pemain keduabelas" yang tidak lain adalah penonton. Dukungan dari suporter atau penonton ini sering pula memberi nyawa tambahan tersendiri bagi tim yang bermain. Semua itu adalah satu kesatuan, satu unit, yang saling bersinergi satu sama lain untuk mencapai kesuksesan. Dalam perkembangan musik pun demikian. Saya bergelut di dunia musik dari sisi media mengetahui dengan pasti bahwa jika semua elemen di dalamnya berjalan sendiri-sendiri, maka tidak ada yang bisa kita capai. Musisinya luar biasa, tetapi jika tidak ada pihak media yang mendukung dengan serius maka mereka tidak akan bisa menapak naik. Sebaliknya untuk apa media musik seperti saya tanpa musisi yang punya kemampuan baik? Elemen-elemen lainnya seperti event organizer, promotor, manajer termasuk juga fans dan keluarga pun harus turut ambil bagian mengerjakan bagiannya masing-masing. Hanya dengan itulah kita bisa mencapai sesuatu hasil yang baik.
Seorang teman pada suatu kali bercerita bahwa ia dikatakan sebagai ayah tanpa kejutan oleh anak-anaknya. Semua yang ia lakukan sangat terpola, dalam memberi pun demikian, sehingga anak-anaknya sudah bisa mengetahui apa yang akan ia berikan sebagai hadiah kepada mereka. "Itu sama persis dengan apa yang dikatakan istriku.." katanya sambil tertawa. Teman saya itu memang termasuk orang yang teratur, terpola atau seolah "terprogram" sehingga orang mudah membaca dirinya meski belum terlalu lama mengenalnya. Buat saya ini menunjukkan bahwa manusia cenderung suka mendapatkan kejutan, terutama dalam momen-momen istimewa dalam kehidupannya. Hadiah yang tak terduga atau surprise party misalnya dalam hari ulang tahun, biasanya akan membawa sesuatu yang berkesan bagi sang penerimanya. Kejutan yang menyenangkan ini tidak selalu harus berharga mahal, karena seringkali hal-hal kecil seperti sekuntum bunga, sebuah puisi atau kehadiran disaat tak terduga pun bisa menjadi kejutan yang tidak akan mudah mereka lupakan. Coba perhatikan wajah anak-anak ketika mendapat hadiah kejutan dari orang tuanya atau ketika mereka tiba-tiba diajak berlibur ke sebuah tempat yang mereka sukai. Mata mereka akan berbinar, senyum mengambang dan seringkali akan disertai sorak dan tawa dari mereka saking riangnya. Mereka akan mudah menangkap rasa sayang kita lewat kejutan-kejutan yang menyenangkan seperti itu.