Thursday, March 14, 2013

Yefta (2)

 (sambungan)

Yefta tidak jual mahal dan menggunakan kesempatan sebagai ajang balas dendam. Ia tidak berniat sedikitpun untuk menuntut balas terhadap kaumnya. Ia tidak memanfaatkan situasi untuk memukul balik para tua-tua dan rakyat Gilead. Yang ia lakukan tercatat jelas dalam Alkitab. "Maka Yefta ikut dengan para tua-tua Gilead, lalu bangsa itu mengangkat dia menjadi kepala dan panglima mereka. Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa." (ay 11). Perhatikan, meski hidupnya dipenuhi segudang kepahitan dan penderitaan, Yefta masih terus mengandalkan Tuhan tanpa henti. Dalam menghadapi situasi pelik dan menentukan keputusan yang harus ia ambil, Yefta memutuskan untuk membawa seluruh perkaranya ke hadapan Tuhan.

Tuhan tidak melihat latar belakang seseorang untuk bisa memakai seseorang. Yefta yang terlahir dengan latar belakang begitu buruk ternyata mendapat kemurahan Allah secara melimpah. Bahkan sempat dikatakan bahwa Yefta dihinggapi Roh Tuhan. (ay 29) Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak memandang siapapun kita, dari mana kita berasal, apa masa lalu kita. Kepahitan Yefta bisa diubahkan Tuhan ketika ia membawa perkaranya ke hadapan Tuhan. Ia pun kemudian menjadi pahlawan Israel. Hal yang sama pun bisa terjadi pada kita jika kita memilih untuk mengutamakan Tuhan dan perintah-perintahNya lebih daripada sumber kepahitan dalam hidup ini.

Adakah diantara anda yang hari ini mengalami kepahitan hidup akibat masa lalu? Apakah anda mengalami hubungan buruk dengan seseorang begitu berat, sehingga anda tidak bisa memaafkannya? Apakah kepahitan itu melahirkan kebencian yang luar biasa dalam hati anda yang tidak lagi bisa terobati? Apakah kepahitan membuat hidup anda lumpuh? Jika ada, ambillah jalan seperti Yefta yang membawa perkara itu ke hadapan Tuhan. Firman Tuhan berkata demikian: "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Bawalah perkara itu ke hadapan Tuhan. Dia mampu melarutkan itu semua ke dalam kasih karuniaNya yang sempurna dan memulihkan kepahitan hidup anda.

Seperti halnya yang terjadi pada Yefta, Roh Allah pun bisa tinggal dalam kehidupan kita. Caranya sudah diberikan dalam Kisah Para Rasul 2:38: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus." Roh Kudus sendiri yang akan membimbing anda untuk mampu memaafkan, terlepas dari kepahitan dan mengalami hidup yang diubahkan. Apapun yang menjadi latar belakang atau penyebabnya, seperti Yefta, anda yang mengalami hal ini pun dipanggil untuk menjadi saksi lewat pergumulan hidup anda. Yefta mampu mengatasi penderitaannya dan tumbuh menjadi terang dalam kegelapan. Ia membuktikan bahwa dengan menyerahkan perkaranya kepada Tuhan ia mampu membalas kejahatan dengan kebaikan. Apa yang ia peroleh jelas, ia mendapatkan kembali nama baiknya, nama yang harum tertulis di dalam Alkitab sepanjang jaman. Serahkan kepada Tuhan, maka sama seperti Yefta, pada suatu hari nanti anda pun bisa menjadi terang lewat kesaksian yang memberkati banyak orang.

Tuhan sanggup melarutkan kepahitan yang paling pekat sekalipun ke dalam aliran kasihNya yang sempurna

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, March 13, 2013

Yefta (1)

Ayat bacaan: Hakim Hakim 11:1
=========================
"Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead."

Saya mengenal beberapa teman yang sempat tidak diinginkan untuk lahir. Kebanyakan alasannya adalah karena mereka hadir akibat kecelakaan dari hubungan diluar nikah, dan kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadiran mereka karena merasa belum sanggup untuk memiliki anak. Ada yang sempat mengalami proses aborsi, tetapi ternyata Tuhan masih menghendaki mereka hidup. Tapi satu hal yang rata-rata sama, anak-anak yang tidak diinginkan ini tumbuh dengan kepahitan. Hidup mereka sulit untuk menjadi normal, dan ada  yang baru tahu belakangan karena hidupnya kacau, penuh rasa benci justru sebelum mereka mengetahui latar belakang mereka sendiri. Ada pula yang mengalami pertumbuhan tanpa mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Mereka kerap dibanding-bandingkan dengan saudaranya yang lain, dikata-katai bodoh atau malah diberikan kepada orang lain sejak kecil. Proses menangani mereka biasanya butuh waktu lama, karena luka yang timbul sudah lama berada dalam diri mereka. Hanya beberapa dari mereka yang kemudian bisa mengampuni dan kemudian pulih dari kepahitan mereka. Sebagian lagi masih dalam proses, dan ada pula yang belum bisa lepas dari kepahitan mereka.

Apa yang menjadi kisah masa lalunya pernah pula dialami oleh seorang tokoh dalam Alkitab bernama Yefta. Nama ini mungkin tidak sering kita dengar, tapi ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari dirinya. Ia terlahir sebagai anak haram, hasil dari hubungan perzinahan sang ayah dengan seorang pelacur. Tentu tidak seorangpun ingin  dilahirkan dalam kondisi seperti itu, namun begitulah kenyataan yang harus ia terima.

Kisah Yefta dalam kitab Hakim Hakim dibuka dengan sebuah kenyataan kontras. "Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead." (Hakim Hakim 11:1). Lihat pendahuluan kisah Yefta, menggambarkan bahwa Yefta, anak Gilead dan seorang pelacur. Kalau di jaman sekarang orang akan mengatakannya anak haram. Tetapi ia juga dikatakan terlebih dahulu sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Kalau kita lihat dalam kitab Ibrani, penulisnya pernah pula menyinggung Yefta. "Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing." (Ibrani 11:32-34). Kita bisa lihat bahwa Yefta digolongkan ke dalam sekumpulan pahlawan/saksi iman bersama-sama dengan Daud, Samuel, Gideon, Barak dan Simson.

Mari kita lihat lebih jauh kisah hidupnya. Yefta adalah sosok "the unwanted child". Karena ia lahir dari hasil perzinahan, maka kedua orang tuanya mengusir Yefta. Pahit memang. Dia tidak meminta untuk dilahirkan. Justru ayahnya yang bersalah, tapi ia yang harus menanggung. "Katanya kepadanya: Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain." (Hakim Hakim 11:2). Maka Yefta yang sudah terlahir dalam kondisi tidak mengenakkan ini pun harus pula menanggung beban yang justru bukan karena kesalahannya. Ia terbuang, menanggung kebencian seisi keluarga dan masyarakat akibat perbuatan ayahnya yang harusnya tidak ditimpakan kepadanya. Tapi itulah yang terjadi. Ia dianggap tidak lebih dari sampah dan harus dibuang, hingga ia pun bergabung dengan segerombolan penjahat/perampok. (ay 3) Inilah hidup yang harus ia pikul akibat dosa ayahnya. Hidup begitu pahit, tapi sepahit apapun, ia memilih terus menjalaninya.

Pada suatu hari datanglah serangan terhadap bangsa Israel yang dilakukan oleh bani Amon. Bangsa Israel terancam lalu menjadi ketakutan. Rupanya rasa takut yang begitu besar ini membuat para tua-tua di Gilead tidak lagi punya malu untuk menjilat ludahnya sendiri. Mereka memutuskan untuk menjemput Yefta, memintanya menjadi panglima untuk memerangi bani Amon. Yefta yang pernah mereka singkirkan, kini diminta kembali untuk menjadi pemimpin mereka. Yefta bertanya: "Tetapi kata Yefta kepada para tua-tua Gilead itu: "Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku, pada waktu kamu terdesak?" (ay 7). Dan setelah mendapat jawaban para tua-tua itu, kita pun melihat sesuatu yang menarik dilakukan Yefta, yang membawanya menjadi sosok pahlawan dengan nama harum yang dikenang sepanjang masa.

(bersambung)

Tuesday, March 12, 2013

Sikap Sombong

Ayat bacaan: 1 Korintus 4:7 (BIS)
=======================
"Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?"

Adakah alasan yang cukup untuk membuat kita punya hak untuk bersikap sombong? Mungkin kita akan tahu untuk menjawab tidak, tapi pada kenyataannya banyak orang yang dengan mudahnya bisa menunjukkan sikap itu ketika mereka merasa di atas angin. Ketika mereka hidup relatif lebih berlimpah dibanding orang lain pada umumnya, ketika mereka mendapatkan posisi-posisi atau jabatan yang tinggi, ketika berprestasi membanggakan, terkenal dan sebagainya. Ada pula yang menunjukkan sikap seperti itu hanya karena ingin dihormati orang lain atau malah untuk sekedar menjaga image saja. Itu jelas bukan merupakan gambaran dari kehidupan ideal orang percaya. Kalaupun kita termasuk beruntung memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain pada umumnya, perlukah kita menyombongkan diri karenanya? Bukankah semua itu pun berasal dari Tuhan dan tidak pernah boleh dipakai untuk menjadikan kita pribadi yang angkuh, sombong, atau arogan?

Sebuah sikap sombong alias tinggi hati bertolak belakang dengan sikap rendah hati yang justru seharusnya diadopsi dalam kehidupan kekristenan. Sikap ini sayangnya kerap muncul saat kita terlalu terlena dengan apa yang kita miliki, lantas secara berlebihan menyikapi keistimewaan talenta, kondisi atau keadaan  yang lebih dari orang lain. Tuhan dengan tegas menentang sikap seperti ini. Sebagai contoh kita bisa melihat sikap buruk dari jemaat Korintus dahulu kala ketika Paulus hadir disana.

Jemaat Korintus pada masa itu merupakan gambaran jemaat yang sombong. Ada banyak ayat yang mengindikasikan hal ini seperti yang bisa kita lihat beberapa kali dalam 1 Korintus 4:6-21, 5:2, 8:1, 13:4 dan lain-lain, dimana kita melihat Paulus memberikan teguran atas kesombongan mereka. Lihatlah misalnya dalam ayat ini. "Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain". (1 Korintus 4:6). Mereka lupa akan jati diri mereka dan tenggelam dalam kesombongan, sehingga merasa tidak lagi memerlukan apa-apa, termasuk tidak lagi membutuhkan hamba Tuhan dalam hidup mereka. "Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (ay 7). Cukup keras bukan tegurannya? Dalam versi BIS dikatakan: "Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?" Perilaku mereka menunjukkan seolah-olah mereka tidak lagi memerlukan apa-apa. "As if you are already filled and think you have enough (you are full and content, feeling no need of anything more)!" Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggris untuk ayat 8. Mereka lupa diri dan tidak lagi menyadari bahwa semua yang mereka miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan, dan karenanya tidak boleh ada orang yang menyombongkan dirinya. Berulang kali pula Paulus pun mengingatkan dengan tegas bahwa keselamatan itu adalah pemberian Tuhan, (1:18, 15:10). Paulus mengingatkan mereka bahwa Tuhanlah yang memilih (1:27-28), mengaruniakan RohNya sendiri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Ilahi (2:10-12), serta memberikan berbagai anugerah atas kasih karuniaNya (1:4-5). Semua berasal dari Tuhan, dan kerenanya tidak seorangpun punya hak untuk menyombongkan diri.

Segala yang kita miliki saat ini, apakah itu biasa atau istimewa, besar atau kecil ukurannya menurut kita, itu semua adalah anugerah luar biasa yang berasal dari Tuhan. Dan Paulus pun berkata "Ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." (1:31). Sesungguhnya sebuah kasih karunia dikatakan kasih karunia karena bukan berasal dari perbuatan kita melainkan dari Sang Pemberi yaitu Tuhan sendiri. "Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia." (Roma 11:6). Kesombongan merupakan penyangkalan akan hal itu, karena artinya mereka berpikiran seolah-olah semua itu adalah hasil pekerjaan mereka atau beranggapan bahwa itu semua karena kehebatan mereka tanpa campur tangan Tuhan. Menyadari bahwa kasih karunia merupakan pemberian Tuhan, milik Tuhan yang diberikan kepada kita akan membuat kita tetap sadar bahwa tidak ada satupun yang pantas kita sombongkan.

Marilah kita menyadari betul anugerah kasih karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita. Semua yang ada pada kita hari ini sesungguhnya berasal dari Tuhan. (Ulangan 8:14-18). Dan dalam Roma 11:36 kita diingatkan bahwa semua itu berasal dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan. "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36). Tidak ada tempat bagi orang sombong di hadapan Tuhan, dan peringatan akan hal tersebut sudah sangat banyak disampaikan sepanjang isi Alkitab. Kesombongan akan berakibat pada kehancuran (Amsal 16:18), itu ditentang Tuhan (Yakobus 4:6), dan merupakan kekejian bagi Allah sehingga tidak akan luput dari hukuman (Amsal 16:5). Oleh karena itu, hendaklah kita menjadi orang-orang yang tahu bersyukur  atas semua yang telah diberikan Tuhan lewat sebentuk kerendahan hati bukannya malah dipakai untuk menjadi sombong atau tinggi hati.

Kesombongan berarti mengingkari kasih karunia Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, March 11, 2013

Mengemban Tanggung Jawab

 Ayat bacaan: 1 Samuel 17:34-35
==========================
"Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya..."

Seberapa besar kita berani menerima tanggung jawab? Ada banyak orang yang menolak peluang besar karena takut terhadap faktor resiko yang berada dibalik sebuah tanggung jawab yang besar. Di sisi lain ada pula orang yang nekad mengambil tanggung jawab besar tanpa berpikir dan tanpa persiapan. Ketika gagal mengemban tanggung jawab, mereka segera lari dari tanggung jawab mereka dengan segera. Para pejabat korup di negara kita tentu paling ahli akan hal ini. Mereka menerima tanggung jawab atau amanat dari rakyat tapi bukannya mengembannya dengan baik malah mempergunakannya sebagai kesempatan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara curang. Ketika ketahuan dan diblow-up media, mereka pun sebisa mungkin berkelit. Jika sepertinya kurang berhasil, maka jalan lari keluar negeri atau bersembunyi di negara lain pun menjadi alternatif yang mereka ambil.

Kita sering lupa bahwa dalam menerima sebuah amanat kita bukan saja bertanggung jawab terhadap orang, badan atau lembaga yang memberi, tetapi kita pun punya  tanggung jawab kepada Tuhan atas setiap amanat yang kita terima. Tanggung jawab terhadap Tuhan itu seharusnya lebih utama ketimbang hal lain. Kita mempertanggung jawabkan pekerjaan kita di depan sesama manusia, kelak kita pun harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Tuhan. Jika di dunia ini kita bisa berkelit dengan cerdik, menyuap agar lepas dan sebagainya, nanti di hadapan Tuhan semua itu tidak akan ada gunanya. Sebuah amanat, besar atau kecil adalah tetap amanat yang harus kita pertanggung jawabkan sebaik mungkin. Seringkali ada pengorbanan dan berbagai hal yang bisa membuat kita khawatir atau bahkan takut, tetapi itu semua harus berani kita hadapi. Kabar baiknya, kita tidak dibiarkan menghadapinya sendirian, tetapi Tuhan sudah berjanji tidak akan meninggalkan kita dan akan menyertai kita dalam setiap langkah yang kita ambil.

Mari kita lihat saat kisah Daud muda yang bekerja sebagai penggembala kambing domba ayahnya. Dari beberapa ayat kita mengetahui bahwa Daud muda diperlakukan tidak sama seperti saudara-saudaranya yang lain. Ia dipekerjakan sebagai gembala oleh ayahnya, sementara beberapa dari saudaranya maju bertempur di garis depan sebagai prajurit Israel. Dibandingkan status prajurit, status gembala pada saat itu tidak ada apa-apanya. Tapi Daud tidak berkecil hati dengan pekerjaan itu. Berapa jumlah yang ia gembalakan saya tidak tahu pasti, tapi rasanya tidak banyak. Dan saya rasa ia pun tidak dibayar untuk itu. Meski tidak banyak dan tidak dibayar, perhatikan bagaimana keseriusan Daud dalam mempertanggung jawabkan pekerjaannya seperti yang ia utarakan kepada Saul. "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya.." (1 Samuel 17:34-35). Lihatlah ia rela mempertaruhkan nyawanya demi sekumpulan domba, yang notabene hanyalah hewan. Di mata manusia mungkin itu merupakan hal yang aneh, bahkan bodoh. Untuk apa manusia harus rela mempertaruhkan nyawa demi hewan? Bukankah lebih baik jika ia lari saja dan membiarkan ternaknya dimangsa ketimbang harus beresiko seperti itu? Tapi tidaklah demikian bagi Daud. Ia rela menghadapi singa dan beruang dalam melakukan pekerjaannya. Ia tidak ingin satupun dari dombanya binasa, dan untuk itu ia harus siap berhadapan dengan maut.

Nyatanya penyertaan Tuhan mampu membuatnya tampil sebagai pemenang setiap kali menghadapi hewan buas yang hendak memangsa ternak yang ia gembalakan. Ia menang menghadapi singa dan beruang, ia pun menang dalam menghadapi Goliat. Kita tahu pula bagaimana Daud diberkati secara luar biasa dalam hidupnya. Kedekatannya, kepercayaannya, pengharapannya kepada Tuhan membuat semua itu menjadi mungkin. Daud memperlihatkan tanggungjawab  yang luar biasa tanpa memperhitungkan untung rugi secara pribadi. Dan apa yang ia perbuat pun menjadi gambaran yang sama mengenai bagaimana Yesus, yang lahir ke dunia sebagai salah satu dari silsilah keturunannya, menyelamatkan kita. Lihat apa kata Yesus berikut: "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu." (Yohanes 10:11-12).

Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik itu bekerja, belajar maupun aktivitas lainnya termasuk ketika melayani. Lihatlah seruan ini: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ini menyatakan bentuk kerinduan Tuhan agar anak-anakNya selalu bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh. Bukan untuk manusia, tapi lakukanlah seperti melakukannya untuk Tuhan. That's the state He does want us to reach. Dalam pelayanan pun demikian. Ada banyak orang yang bersungut-sungut dan tidak serius jika hanya melayani sedikit orang, apalagi satu orang saja. Itu bukanlah gambaran yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan! Bacalah Lukas 15, ada tiga perumpamaan disana yang sudah tidak asing lagi bagi kita mengenai hal ini. "Perumpamaan tentang domba yang hilang" (ay 4-7), "Perumpamaan tentang dirham yang hilang" (ay 8-10) dan "Perumpamaan tentang anak yang hilang" (ay 11-32). Semua ini menunjukkan kerinduan Tuhan untuk menemukan kembali anak-anakNya yang hilang. Tidak peduli berapa yang kembali, meski hanya satu sekalipun, Tuhan akan sangat bersukacita. Bahkan dikatakan: "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (ay 10). Satu jiwa bertobat, itu sudah merupakan kebahagiaan besar bagi Tuhan dan seisi Surga.

Lakukanlah apapun yang dikehendaki Tuhan bagi kita secara serius dan sungguh-sungguh, dan peganglah tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.  Mungkin kita tidak mendapat upah sepantasnya menurut ukuran dunia, tapi bukankah Tuhan mampu memberkati kita lewat banyak hal? Mungkin apa yang kita terima tidak sebanding dengan jerih payah kita hari ini, tapi apakah tidak mungkin kelak kita akan menuai secara luar biasa? Atau tidakkah mungkin Tuhan menurunkan berkatNya dalam kesempatan lain? Bisa jadi ada banyak tekanan atau resiko dalam mengemban tanggung jawab, tetapi ketika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan melakukannya dalam nama Kristus, Tuhan akan berada di atasnya, menjaga kita dari segala hal buruk dan membawa kita keluar sebagai pemenang. Segala sesuatu yang kita lakukan secara sungguh-sungguh dan sesuai dengan rencana Tuhan tidak akan pernah ada yang sia-sia. Firman Tuhan berkata: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58). Daud tahu itu, dan dia sudah membuktikannya sendiri. Lewat keteladanan Yesus pun kita bisa belajar mengenai hal yang sama. Kerjakanlah semuanya dengan sebaik-baiknya dalam nama Yesus, seriuslah dalam mengemban tanggung jawab dan  Tuhan akan memperhitungkan segalanya, tidak akan ada satupun yang jatuh sia-sia.

Sekecil apapun pekerjaan anda hari ini, lakukanlah dengan sebaik-baiknya dengan tanggungjawab penuh kepada Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, March 10, 2013

To Be or Not To Be

Ayat bacaan: 2 Korintus 1:8-9a
============================
"Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati."

Bagi anda penggemar karya William Shakespeare, kalimat "To be or not to be, that is the question" tentu tidak asing lagi. Kalimat yang sangat terkenal ini berasal dari naskah sandiwara Hamlet yang legendaris. Kalimatnya populer, tetapi tidak banyak yang mengetahui artinya atau untuk apa kalimat itu ditujukan. Jika membaca naskahnya atau pernah melihat drama di panggung atau layar lebar, anda akan tahu bahwa kalimat itu diucapkan oleh sang tokoh utama, seorang pangeran bernama Hamlet. Kalimat ini muncul ketika ia merasakan kepedihan luar biasa sewaktu pamannya membunuh ayahnya, dan menikahi ibunya. Begitu sakit rasanya, hingga ia sempat berpikir haruskah ia terus hidup ("to be") atau mengakhiri saja hidupnya, ("or not to be").

Apakah anda pernah atau mungkin sedang merasakan rasa sakit dan penderitaan yang begitu hebat yang rasanya tidak lagi tertahankan? Ada kalanya dalam hidup ini kita merasakan rasa sakit yang tidak terperi, begitu perihnya sehingga kita mulai merasa putus asa dan kehilangan harapan. Kenyataannya ada banyak orang yang memilih seperti Hamlet, yaitu mengakhiri hidupnya karena tidak tahan lagi menderita. Tapi sikap berbeda bisa kita temukan dari Paulus. Seorang Paulus yang dikenal militan dalam menjalankan tugasnya mewartakan Injil setelah bertobat pada suatu ketika merasakan hal ini. Tekanan begitu berat. Ancaman ia dapati dimana-mana. Dia didera, ditangkap, diancam akan dibunuh. Paulus pernah merinci berbagai penderitaan yang ia alami dalam pelayanannya. "..Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian." (2 Korintus 11:-23-27). Sehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya Paulus, tekanan bertubi-tubi ini pada suatu ketika pun membuatnya lemah. Ia mengakui hal itu kepada jemaat di Korintus. "Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati." (2 Korintus 1:8-9a). Sebagai manusia biasa sama seperti kita, Paulus pun pernah mengalami keputus-asaan. Bedanya, ia tidak membiarkan dirinya dikuasai rasa putus asa dan kehilangan harapan terus menerus. Paulus dengan cepat mengubah fokusnya. Ia kembali kepada pemikiran positif yang berpegang sepenuhnya kepada Allah. Paulus mampu melihat sisi lain dari sebuah penderitaan, yaitu sebagai pelajaran agar kita tidak bergantung kepada diri sendiri melainkan kepada Tuhan. "Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati." (ay 9b).

Penderitaan memang menyakitkan, dan terkadang ketika itu terasa begitu berat, kita merasa tidak sanggup lagi memikulnya. Tapi seperti yang terjadi pada Paulus, Tuhan sesungguhnya telah memberikan kasih karuniaNya secara cukup, yang akan memampukan kita untuk bisa bertahan ketika sedang berjalan dalam lembah penderitaan. "Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9). Renungkanlah. Justru dalam tekanan beratlah sebenarnya kita bisa melihat kuasa Tuhan yang sempurna. Dalam kelemahan kitalah kita akan mampu menyaksikan kuasa Tuhan yang sesungguhnya, yang mampu menjungkirbalikkan segala logika manusia.

Penderitaan yang dialami Paulus tidaklah ringan. Bayangkan, ketika ia jahat ia begitu berkuasa, tapi setelah bertobat justru hidupnya penuh tekanan. Banyak orang akan segera menyangsikan kebenaran jika menjadi Paulus dan mengalami apa yang ia alami waktu itu, tapi tidak demikian halnya dengan dirinya. Dia tahu bahwa apa yang menanti di depan sana adalah jauh lebih besar ketimbang penderitaan-penderitaan yang ia alami di dunia yang sifatnya sementara ini. Paulus mengarahkan pandangannya jauh ke depan, dan di saat yang sama ia terus berpegang dengan kepercayaan penuh kepada Kristus. Beratkah penderitaannya? Tentu saja. Meski demikian, Paulus masih mampu berkata "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13). Dia tahu bahwa kasih karunia Allah itu sebenarnya cukup untuk dipakai menanggung beban penderitaan. Pencobaan-pencobaan yang kita alami pun tidak akan melebihi kekuatan kita sendiri. Tuhan tahu sampai dimana kita sanggup bertahan, dan pada saat yang tepat ia pasti memberikan jalan keluar.

Rasa sakit akibat penderitaan bisa membuat kita merasa bahwa hidup ini tidak lagi berharga untuk dijalani. Dalam tekanan berat, rasa putus asa akan mulai mencoba menguasai kita, dan kita pun bisa terjebak pada pemikiran sempit untuk menutup lembaran hidup secara sepihak. Jangan biarkan hal itu terjadi, dan jangan melakukan tindakan fatal seperti bunuh diri, yang akan membawa kita kepada sebuah penyesalan selamanya. Berhentilah mengandalkan kekuatan diri sendiri atau manusia lainnya. Gantikan itu dengan mengandalkan Tuhan. Ubah pandangan anda dengan sebuah perspektif baru, letakkan keyakinan kita dalam Tuhan. Selama berjalan di dunia ini, penderitaan akan menghampiri kita pada suatu waktu. Namun kita harus tahu bahwa Tuhan akan memampukan kita untuk menanggungnya dan jalan keluar dari Tuhan pada saatnya akan turun atas kita. Jika Hamlet berpikir "to be or not to be", terus hidup atau mati saja, kita sebagai anak-anak Tuhan hendaklah menyadari bahwa selalu ada alasan untuk terus hidup. So, "to be" it is. There are always more than enough reasons to choose "to be", millions of them, in the name of God.

Selalu ada harapan dalam kegelapan tergelap sekalipun jika kita berjalan bersama Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, March 9, 2013

Behind the Stage

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:58
============================
"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."

Ketika anda menikmati sebuah sajian pertunjukan panggung musik, pernahkah anda memikirkan peran orang-orang yang berada di belakang panggung? Seringkali kita terfokus pada apa yang tampak di atas panggung dan lupa terhadap mereka yang berperan baik dalam persiapan menjelang acara, soundmen, lighting men dan lain-lain. Artis yang tampil di panggung memang menjadi daya tarik tersendiri, tetapi mereka yang dibelakang pangggung pun punya peran yang tidak kalah pentingnya. Tanpa mereka, sehebat apapun artis yang tampil, hasilnya tidak akan bisa maksimal. Bayangkan band tanpa sound memadai, tanpa sorot lampu dan tata panggung yang baik, itu bisa membuat sebuah konser kehilangan daya tarik. Atau bayangkan apabila tidak ada yang menyapu dan membersihkan area penonton atau sekedar menggulung kabel-kabel yang berseliweran di belakang panggung, itu tentu akan membuat kualitas konser menurun.

Dalam hidup pun kita seringkali bertindak seperti itu. Kita lebih mementingkan penampakan luar ketimbang pembenahan dalam. Kita terlalu lelah mematut diri agar terlihat indah di mata orang dan tidak lagi punya waktu untuk mengurus bagian dalam diri kita. Kita membiarkan dosa-dosa berada dalam diri kita dan tidak segera diselesaikan, masih menyimpan dendam, iri, dengki, atau pikiran-pikiran jahat. Di luar kita tampak sempurna, tapi dibalik itu semua, hati kita masih kotor penuh debu. Kita hanya mementingkan bagian-bagian tertentu saja dan merasa tidak penting untuk membenahi seluruhnya secara total. Contoh lain misalnya dalam bekerja. Kita merasa tidak perlu total melakukannya karena mungkin merasa bahwa tidak ada gunanya melakukan sebaik-baiknya, toh tidak ada yang memperhatikan, imbalan yang kita anggap kecil dan sebagainya. Padahal selalu ada perbedaan signifikan dari hasil sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sepenuh hati dibandingkan melakukan ala kadarnya, seadanya saja.

Mungkin saja bahwa apa yang kita lakukan tidak mendapat perhatian dari manusia, tapi ingatlah bahwa tidak ada satupun yang luput dari pandangan Tuhan. Dia tahu bagaimana sikap hati kita. Bagi sesama manusia mungkin saja apa yang kita lakukan mungkin dipandang tidak istimewa sebagai sesuatu yang layak dipuji, tapi sesuatu yang kita lakukan dengan tulus, serius dan sungguh-sungguh akan selalu istimewa di mata Tuhan. Sekecil apapun yang kita lakukan, jika disertai dengan kerinduan memuliakan Tuhan didalamnya, itu akan merupakan hadiah besar yang sangat bermakna bagiNya. Tidak mudah memang untuk bekerja sungguh-sungguh, karena pasti waktu, tenaga atau mungkin biaya akan terpakai lebih banyak. Dalam hal membereskan masalah-masalah di dalam diri kita pun seringkali tidak gampang. Sulit sekali melepaskan pengampunan kepada orang yang telah begitu menyakiti kita, sulit sekali untuk senang melihat orang lain sukses ketika kita masih pas-pasan dan sebagainya. Tapi semua usaha itu tidak akan pernah sia-sia. Dan Paulus pun mengingatkan: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58).

Sepanjang Alkitab Tuhan selalu mengingatkan kita untuk melakukan segala sesuatu, baik itu membenahi diri kita sendiri, dalam membina keluarga, menjalankan pekerjaan atau pelayanan dengan sebaik-baiknya. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Mengapa harus demikian? Karena sesungguhnya upah yang terutama kita terima bukanlah berasal dari manusia tetapi justru dari Tuhan sendiri. "Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya." (ay 24). Artinya, kita selayaknya melakukan segala sesuatu dengan serius dan sungguh-sungguh untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk mencari upah atau penghargaan dari orang lain. Jika itu yang menjadi fokus pikiran kita, maka kita akan melakukan segalanya secara total dan tidak akan menyisakan bagian-bagian tertentu untuk diabaikan. Apa yang kita lakukan mungkin tidak mendapat apresiasi di mata orang, tapi jika itu yang Tuhan tugaskan bagi kita, kita perlu melakukannya dengan segenap hati sebagai bagian dari panggilan Tuhan untuk saling mengasihi dengan sungguh-sungguh (1 Petrus 4:8). Kita bisa menawarkan bantuan kepada yang memerlukan dengan tulus (ay 9) dan melayani orang lain sesuai karunia yang telah kita peroleh (ay 10). Kita bisa melakukan itu semua sebagai persembahan dari diri kita untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan untuk diri kita sendiri. Tuhan telah memperlengkapi kita semua untuk itu, dan tugas kita adalah mempergunakan semua itu dengan sebaik-baiknya untuk Tuhan. Jika itu kita lakukan, maka jerih payah kita tidak akan pernah sia-sia.

Apapun yang anda lakukan hari ini, meski itu mungkin tidak mendapat penghargaan dari orang lain, tetaplah lakukan dengan sebaik-baiknya karena mengasihi Tuhan. Tuhan selalu menghargai jerih payah yang kita lakukan dengan tulus dan ikhlas. Dan Tuhan bisa memberkati anda berkelimpahan meskipun pekerjaan anda saat ini mungkin kecil dalam penilaian manusia. Lakukan pula pembenahan diri secara total, bersihkan segala noda yang masih menempel. Jangan sisa-sisakan ruang yang masih bisa dimanfaatkan iblis untuk me dosa ke dalam diri anda. Apa yang penting bukanlah menurut pandangan manusia, tetapi pandangan Tuhan. Yang penting adalah Tuhan berkenan atas apa yang Dia lihat dan dapati dari diri kita. Biarkan Tuhan bersukacita lewat segala sesuatu yang kita lakukan.

Tidak satupun usaha kita yang luput dari mata Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, March 8, 2013

Sea Heart

Ayat bacaan: Pengkotbah 3:11
=========================
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."
Ada sebuah tanaman unik yang tumbuh di hutan pedalaman Costa Rica yang diberi nama sea heart. Bentuknya unik seperti bentuk hati dengan biji di dalamnya dan termasuk dalam keluarga kacang-kacangan. Tanaman ini tumbuh di tempat tinggi dan mengulir ke bawah mencapai jarak 3 sampai 6 kaki. Mengapa disebut sea heart? Apa hubungannya dengan laut? Tampaknya nama sea heart itu diambil dari banyaknya tanaman ini yang mengambang di lautan luas sebelum mencapai sebuah tempat baru dan tumbuh subur disana. Seperti inilah kira-kira prosesnya. Curah hujan yang tinggi di hutan tropis membuat sea heart ini jatuh ke laut dan terbawa arus untuk waktu yang cukup lama. Sea heart terus mengambang dibawa arus selama berbulan-bulan, bahkan tidak jarang bertahun-tahun, mengikuti ombak naik dan turun, lautan yang tenang dan berombak bahkan badai sekalipun hingga akhirnya pada suatu ketika mendarat di pantai yang jauh jaraknya dari tempat asalnya. Di sebuah tempat baru ini biji sea heart itu akhirnya akan tumbuh menjadi sebuah tanaman baru yang subur.

Ketika membaca fakta yang sangat menarik dari sebuah tanaman unik ini saya mendapat sebuah analogi darinya yang menggambarkan perjalanan hidup kita. Tidakkah kita pun seringkali harus menempuh perjalanan yang panjang, terkadang penuh riak dan gelombang dalam kehidupan kita, untuk sampai kepada sesuatu yang indah pada akhirnya?  Seringkali kesabaran kita diuji. Seringkali kita harus terus bersabar menantikan Tuhan, menantikan pertolonganNya, menantikan yang terbaik buat kita sesuai waktu Tuhan dan bukan waktu kita. Terkadang ombak bisa begitu tinggi, badai bisa menerpa dengan ganas dalam hidup kita. Datangnya pertolongan Tuhan yang kita nantikan bisa jadi terasa sangat lama dalam ukuran waktu kita. Ada banyak orang yang tidak sabar akhirnya terjatuh kepada berbagai hal yang semakin memperparah keadaan. Bersungut-sungut, patah semangat, hilang harapan, putus asa dan menyerah, atau bahkan mulai ragu dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Tidak jarang pula ada yang malah kemudian mengalami kekecewaan, kepahitan dan akhirnya menghujat Tuhan.

Ayat hari ini akan menegaskan kembali bagaimana ukuran waktu Tuhan dibanding waktu kita, bagaimana kemampuan kita yang terbatas ini seringkali sulit dipakai untuk melihat dan memahami rencana Tuhan. Ayatnya berbunyi sebagai berikut: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Meski kita sudah menjalani hidup benar sekalipun ada kalanya kita harus mengalami masa-masa menangis dalam penderitaan. Mengapa demikian? Karena ada rencana Tuhan yang indah, ada sebuah "grand design" yang telah dipersiapkan Tuhan di depan, dimana kita mungkin belum mampu melihatnya pada saat ini, dan penderitaan kita itu merupakan bagian dari prosesnya. It's a part of the process. Mungkin Tuhan sedang melatih kekuatan otot rohani kita, mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita untuk berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan kembali mengandalkanNya, mungkin Dia sedang menguji iman kita apakah kita masih berada dalam keyakinan teguh ketika berada dalam kesusahan atau tidak, mungkin kita sedang diajar Tuhan untuk bersabar dan tetap teguh dalam pengharapan. Tapi satu hal yang pasti, meski hidup kita tengah bergejolak hari ini, selama kita tetap berada dalam firmanNya dengan taat, selama kita tetap setia berpegang teguh kepadaNya, ada rencana Tuhan yang indah di balik semua itu. We are in the process of a grand design, one perfect concept from the loving Father, and in the end it's going to be beautiful.

Kita tidak bisa berharap bahwa hidup ini akan selamanya tanpa masalah. Ada kalanya kita harus masuk ke dalam kesukaran. Sebuah ayat yang menjelaskan konsep Tuhan akan hal ini. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan "TO EVERYTHING there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven." Selanjutnya kita bisa melihat berbagai "season" atau masa ini dalam rangkaian ayat selanjutnya, dan lihatlah bahwa tidak semuanya menyenangkan. Namun di ayat ke sebelas kita melihat tujuan Tuhan dibalik musim atau masa itu: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." Pada suatu ketika kita akan sampai kepada sesuatu yang indah yang telah dirancangkan Tuhan. Tidak peduli kita berada di musim apa saat ini, suatu ketika nanti kita akan mengalami rancanganNya yang indah. Karena itulah kita harus bersabar dan terus menanti-nantikan Tuhan dengan tekun.

Sebuah benih sea heart tidak memiliki kemampuan untuk bersabar atau menyerah. Ia hanya mengikuti kemana arus membawanya. Tetapi kita punya itu, dan Tuhan sudah berjanji akan selalu menyertai kita dalam setiap langkah. Jika benih-benih itu sanggup menempuh jarak ribuan mil selama bertahun-tahun untuk ahirnya sampai kepada sebuah destinasi dan tumbuh dengan subur, mengapa kita tidak? Firman Tuhan mengajarkan kita demikian: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah  dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Sabarlah, dan terus bertekun, tetaplah dalam sukacita, dan itu bisa kita lakukan karena kita tahu ada rancangan yang indah dari Tuhan menanti kita di depan. Kita bisa meneladani seruan Daud berikut:"Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari." (Mazmur 25:5). Ini sebuah bentuk kesabaran yang harus kita miliki. Sementara menanti, kita bisa belajar banyak. Belajar mengandalkan Tuhan, belajar menahan diri dan bersabar, belajar untuk tetap bersukacita meski dalam kesesakan, dan semua itu akan menumbuhkan iman kita lebih lagi. Mungkin saat ini kita sedang menghadapi ombak besar bahkan badai, tetapi seperti benih-benih sea heart itu, pada suatu saat kita akan sampai kepada tujuan yang indah. Karena itu bertahanlah, jangan menyerah dan raihlah apa yang direncanakan Tuhan untuk anda dan saya di depan sana.

Pakailah saat-saat sukar sebagai kesempatan untuk menumbuhkan iman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...