Tuesday, April 14, 2015

Bersih Tangan dan Murni Hati (1)

Ayat bacaan: Mazmur 24:4-5
=======================
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia."

Kalau melihat lowongan kerja, hampir semua perusahaan mendasarkannya pada gelar. Minimal S1, lebih baik lagi S2 apalagi S3. Lucunya, seringkali mereka hanya mencari sarjana tanpa mempedulikan bidang yang dipelajari. Gelar sarjana teknik bekerja di bank, gelar sarjana ekonomi di bidang yang tidak berhubungan dengan perekonomian, bahkan ada teman lulusan sarjana sastra yang bekerja sebagai supervisor sebuah pabrik makanan ringan. Yang penting S1 dan S lainnya kan? Itu yang dicari. Padahal gelar bisa dibeli, skripsi bisa dialihkan bebannya kepada orang dengan sejumlah uang. Kalau saya yang punya perusahaan, saya tidak akan menggantungkan pada gelar. Mengapa? Karena ada banyak nilai lain yang lebih penting yang nantinya akan jauh lebih berguna ketimbang sebuah surat ijazah kelulusan. Semua bisa diajarkan dan dipelajari, tapi integritas, kesetiaan, ketulusan, kejujuran dan sejenisnya buat saya lebih menentukan kualitas seseorang.

Ini merupakan kualitas manusia yang semakin lama semakin langka dan semakin jarang dianggap penting. Korupsi dan penipuan terjadi di setiap lini pekerjaan mulai dari atas sampai ke bawah. Orang pun tidak lagi tulus dalam mengerjakan sesuatu tapi pamrih. Hasil kerja tergantung bayaran, kalau tidak dibayar tidak dikerjakan, pendeknya semuanya tergantung uang. Soal jujur apalagi. Berbagai godaan, tuntutan keadaan atau alasan seperti ikut arus, solidaritas dan sebagainya bisa membuat orang meninggalkan integritasnya dan mulai beralih untuk mencari tambahan lewat cara-cara curang. Sedikit saja kan tidak apa-apa? Apalah artinya sekian juta buat perusahaan... atau, ah sekali-sekali masa tidak boleh? Kebetulan lagi butuh sih... Dalih seperti itu dijadikan pembenaran untuk mengambil apa yang bukan menjadi haknya.

Dan cara dunia memandang pun menjadi semakin terbalik. Jaman sekarang orang yang jujur dan tulus justru dipandang aneh atau malah bodoh. Orang semakin cenderung berpikir pendek dan mementingkan urusan duniawi, dan itulah orang-orang yang dianggap pintar. Apa yang dikatakan Daud dahulu: "Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik" (Mazmur 14:1), kini semakin banyak dianut orang. Orang tidak lagi memikirkan pertanggungjawaban kelak di hadapan Tuhan. Masalah kekal nanti dulu, pikirkan dulu dunia yang fana ini. Lumayan kan bisa kaya selama sisa hidup? Anak-anak dikasih makan hasil korupsi juga tidak apa-apa, ketimbang hidup susah kalau jujur. Atau kalaupun tahu bahwa Allah itu ada, tetapi mereka mengira bahwa Tuhan tidak akan menghukum karena mereka menyalah artikan bentuk kasih dan kesabaran Tuhan yang besar dan panjang. Bentuk ilusi rohani seperti inipun sudah disinggung dalam Alkitab. "Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?" Dengan cara kamu menyangka: "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan--atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?" (Maleakhi 2:17). Bukankah itu yang terpampang di depan mata kita saat ini?

Dalam Mazmur terdapat ayat yang bunyinya demikian: "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Apa yang dimaksud dengan orang yang bersih tangannya? Rajin cuci tangan? Pakai antiseptik? Sarung tangan? Tidak main lumpur dan yang kotor-kotor? Tentu bukan. Yang dimaksud dengan orang yang bersih tangannya berarti menjauhi bentuk-bentuk penipuan, menjauhi kecurangan dan tidak gampang tergoda oleh keuntungan-keuntungan lewat jalan yang salah. Orang yang bersih tangannya adalah orang yang tidak melakukan hal-hal salah dan jahat dalam bekerja atau melakukan segala sesuatu. Orang yang bersih tangannya tidak melakukan hal-hal yang tercemar.

Bagaimana dengan pure heart atau murni hatinya? Ini adalah jenis orang yang tidak tergoda pada kecurangan. Kalau kita lihat dalam beberapa ayat lain, dalam Mazmur 24:3-4 dikatakan "Orang yang mencintai kesucian hati dan yang manis bicaranya menjadi sahabat raja." He who loves purity and the pure in heart", itu yang dikatakan dalam bahasa Inggrisnya. Inilah orang-orang yang bisa mendapat kehormatan. Setelah renungan ini saya akan membahas lebih jauh mengenai kemurnian hati ini.

(bersambung)

Monday, April 13, 2015

Menghindari Penyebab Alergi Spiritual (2)

(sambungan)

3. Berbagai jenis percabulan/perzinahan

Selingkuh, berhubungan intim diluar nikah, menonton film porno dan kejahatan-kejahatan seksual lainnya pun merupakan salah satu yang sangat berbahaya. Paulus mengingatkan: "Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan." (1 Tesalonika 4:3). Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan: "supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah," (ay 4-5). Dalam ayat ini dikatakan berapa istri? Satu. Dan dikatakan hiduplah dalam pengudusan dan penghormatan.

Itu pesan Tuhan yang sangat penting untuk diingat oleh setiap orang percaya. Kita harus ingat bahwa bahaya perilaku seksual yang menyimpang atau melanggar firman Tuhan ini membawa dampak yang sangat membahayakan kelangsungan perjalanan kita menuju keselamatan kekal. Ada juga orang yang tidak benar-benar berselingkuh tapi hanya melihat dan berfantasi, atau membayangkan sesuatu yang kotor akan lawan jenis yang ia lihat, inipun merupakan hal yang harus dicegah. Yesus sudah mengingatkan bahwa "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." (Matius 5:28). Memandang tidak salah. Tapi jika sudah dibarengi dengan menginginkan, maka itu sudah sama dengan berzinah.

Karena itu kita harus menjaga betul hati kita agar tidak mudah terjebak oleh fantasi-fantasi menyesatkan yang berbahaya. Firman Tuhan mengingatkan "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." (Matius 15:19). Itu sebabnya kita dipesan untuk selalu menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan. (Amsal 4:23). Ada banyak ayat yang mengingatkan kita akan bahaya percabulan/perzinahan atau kejahatan-kejahatan seksual lainnya. Selain itu,

Alkitab pun menyatakan bahwa aktivitas seksual antara pria dan wanita diluar ikatan pernikahan adalah hal yang tidak bermoral. Perhatikan dan renungkanlah kaitan ayat-ayat berikut ini:

-"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." (Kejadian 2:24)
- "Jangan berzinah." (Keluaran 20:14)
- "tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri." (1 Korintus 7:2)
- "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9-10).
- "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah." (Ibrani 13:4).

Kita seharusnya alergi terhadap hal-hal yang bisa membahayakan kesehatan rohani kita dan yang berpotensi menjauhkan kita dari anugerah yang diberikan Tuhan. Jika berbagai substansi atau zat bisa membuat kita alergi dan mengganggu bahkan bisa membahayakan kesehatan tubuh kita, bahaya berbagai substansi yang bisa merusak kondisi spiritual kita akan jauh lebih besar karena berpengaruh terhadap kekekalan dan bukan hanya sementara saja. Oleh karena itu pastikan diri kita untuk menjauhi segala hal yang menimbulkan alergi terhadap kerohanian kita sebelum kita mengalami kehancuran.

Alergi yang menyerang kondisi spiritual itu jauh lebih berbahaya dari alergi pada tubuh. Jauhi sebelum terlambat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, April 12, 2015

Menghindari Penyebab Alergi Spiritual (1)

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:22
=================
"Abstain from evil [shrink from it and keep aloof from it] in whatever form or whatever kind it may be." (English AMP)

Ada beberapa teman yang mengidap alergi akan sesuatu. Yang terbanyak adalah alergi seafood terutama udang atau kepiting. Kalau mereka memakannya maka akan muncul bintik-bintik merah pada beberapa bagian tubuh dan rasa sangat gatal akan menyerang mereka. Ada yang alergi bulu hewan, ada pula yang alergi terhadap sengatan lebah. Alergi adalah sebuah reaksi 'lebih' yang terjadi dalam tubuh akibat adanya kontak terhadap substansi tertentu. Penyebabnya sangat banyak, dan beberapa yang saya sebutkan tadi hanyalah sedikit dari jenis-jenis yang ada. Pintu masuknya pun beragam. Ada yang lewat kontak langsung ke kulit seperti kosmetik, logam seperti besi pada perhiasan/jam tangan dan lain-lain, bisa lewat serbuk tanaman atau jenis rerumputan tertentu, sengatan serangga/hewan, bulu hewan seperti anjing dan kucing dan lain-lain. Berbagai zat tambahan pada makanan seperti penyedap masakan, pewarna atau pengawet pun bisa menimbulkan alergi bagi beberapa orang. Tidak ada orang yang mau mengalami masalah atas alergi yang mereka punya. Kalau tidak mau menderita, kita tentu harus tahu apa yang bisa membuat kita alergi lalu menghindarinya agar kita tidak mengalami masalah baik yang mengganggu atau bahkan sampai mendatangkan bahaya.

Alergi biasanya berpengaruh terhadap tubuh secara fisik dan bisa menimbulkan masalah. Jangan lupa bahwa dalam hidup ini ada pula bahaya-bahaya yang bisa mempengaruhi kondisi kesehatan spiritual kita. Ini pun sama berbahaya, bahkan mungkin lebih tinggi tingkat bahayanya. Karenanya kita harus mewaspadai beberapa hal yang menimbulkan alergi pada kerohanian kita. Beberapa darinya akan saya sharing dalam renungan kali ini.

1. Every kind of evil ; Segala jenis atau bentuk kejahatan 

Ayat yang saya angkat sebagai tema hari ini menyatakan dengan jelas bahwa kita harus menjauhkan diri dari segala macam bentuk kejahatan. "Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan." (1 Tesalonika 5:22). Dalam bahasa Inggris ayat ini berbunyi seperti berikut: "Abstain from evil [shrink from it and keep aloof from it] in whatever form or whatever kind it may be." Jauhi kejahatan karya iblis apapun bentuk dan jenisnya.

Dengan mengingat hal ini, kita harusnya berpikir ulang akan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan kejahatan sebelum kita melakukannya. Mengambil bagian dalam berbagai jenis kejahatan akan merusak kesehatan kita secara spiritual dan membuat kita kehilangan janji-janji Tuhan. Yang sering terjadi orang mentolerir dosa yang dianggap kecil. Kita tidak membunuh, tidak mencuri, tapi mengabaikan potensi kehancuran lewat dosa-dosa seperti membohong, korupsi nilai kecil, mengkonsumsi sesuatu yang buruk saat bergaul dan sebagainya. Kita harus berhenti memberi toleransi-toleransi akan kesalahan seperti ini, karena biarpun kecil jika kita biarkan terus akan membawa dampak dalam eskalasi yang terus meningkat.

Alkitab sudah mengingatkan hal itu: "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15). Berawal dari keinginan daging, kita terpikat dan terseret, membiarkan semua itu terjadi. Pada suatu ketika itu berbuah dan melahirkan dosa. Dan ketika dosa matang, ia melahirkan maut. Mulainya biasa, ujungnya fatal. Maka kita harus menutup celah sekecil apapun terhadap bentuk-bentuk perbuatan jahat supaya jangan sampai maut yang kita tuai pada akhirnya.

2. Pertengkaran akibat soal-soal yang dicari-cari, bodoh atau tidak layak

Mengenai hal ini kita bisa lihat dalam 2 Timotius 2:23 mengingatkan hal ini: "Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran." Ayat yang kurang lebih sama bisa kita temukan dalam Titus. "Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka." (Titus 3:9). Benar, seringkali bukan kita yang memulai. Ada saja orang yang akan memancing perdebatan dan seringkali perdebatan itu sia-sia belaka alias tidak ada gunanya. Karena itu jika ada yang memancing pertengkaran dalam bentuk apapun, kita harus pastikan tetap tenang dan jangan sampai terpancing. Apa yang harus kita lakukan justru adalah berusaha melakukan pekerjaan yang baik. "Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia." (ay 8).

(bersambung)

Saturday, April 11, 2015

Menyembah (2)

(sambungan)

Dikatakan bahwa bila ingin menyembah Tuhan, haruslah menyembah Dia dalam roh. Bisakah kita melakukan itu apabila roh kita masih belum benar atau jelas bentuknya? Maka penting bagi kita untuk memastikan bahwa kita memiliki roh yang benar. Dalam banyak ayat dikatakan bahwa kita harus memiliki roh yang takut akan Tuhan. Kita harus mengerti bahwa tidak akan ada penyembahan yang berkenan bagi Tuhan tanpa ada penyembah yang berkenan. Dengan kata lain, sebelum penyembahannya, penyembahnya dulu yang harus dipastikan benar. Dan yang sering menjadi faktor penentu bagi penyembah yang berkenan di hadapan Tuhan adalah mereka yang tekun dalam membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Jika demikian, akan sangat sia-sia apabila kita beribadah, melakukan pelayanan dan sebagainya apabila dibiarkan kosong tanpa didasari hati yang menyembah.


2. Menyembah dalam kebenaran

Seperti apa kebenaran itu? Kebenaran mengacu kepada mengenal dengan baik Firman Tuhan, merenungkan dan melakukan. Kebenaran memiliki arti bahwa sebuah pengenalan akan Tuhan bukan hanya berdasarkan bentukan menurut penafsiran kita sendiri, bukan berdasarkan emosi pribadi, tetapi untuk bisa mengerti kebenaran kita harus menyelidiki Firman Tuhan yang terkandung di dalam Alkitab.

Yang sering kita lupa adalah bahwa kebenaran sangatlah berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari. Kita mengira bahwa dengan mengetahui beberapa ayat saja sudah cukup, tetapi tentu saja semuanya tidak akan mencerminkan apa-apa kalau secara nyata kita masih terus menjalani hidup yang melenceng dari ketetapan Tuhan. Sehingga lebih dari sekedar menyanyikan pujian-penyembahan, seorang penyembah yang benar akan memperhatikan betul kehidupannya di tengah masyarakat sehari-hari, baik di rumah, kantor, sekolah, kampus, warung, ketika bersama teman-teman dan lain sebagainya. Seorang penyembah yang benar akan mencerminkan kebenaran tentang Allah baik ketika tengah berada ditengah keramaian, bersama orang lain atau ketika sendirian. Disaat seperti inilah kita bisa membuktikan apakah karakter, gaya hidup, sikap dan tingkah laku atau gaya bicara bahkan integritas kita sudah mencerminkan Tuhan yang kita sembah atau belum.

Bagaimana cara hidup keluarga kita di tengah masyarakat? Itu merupakan hal penting untuk dicermati, karena kita tidak akan pernah bisa menjadi penyembah yang benar kalau keluarga kita saja masih tidak karuan. Jauh dari harmonis, penuh keributan, percekcokan, perselisihan dan sebagainya. Jangan lupa bahwa hubungan keluarga kita akan mencerminkan seperti apa hubungan kita dengan Tuhan. Sebelum kita bermimpi untuk hal-hal yang besar, terlebih dahulu kita harus membenahi keluarga terlebih dahulu. Lantas yang tak kalah penting adalah bagaimana kita menjalankan pekerjaan, usaha/bisnis dan sebagainya. Apakah kita sudah menjalankan itu sesuai Firman Tuhan dengan kejujuran dan integritas warga Kerajaan atau kita masih terus menimbun tanpa pernah menabur, atau malah lebih buruk lagi berusaha memperoleh sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara. Apakah kita teratur memberi perpuluhan dan terus menjadi berkat bagi sesama atau kita masih berdalih macam-macam untuk mengelak dari kewajiban kita? Semua sisi kehidupan haruslah mencerminkan kebenaran, atau semua persembahan kita tidak akan ada manfaatnya.

Jadi secara singkat, penyembah yang benar harus memiliki bentuk hidup benar yang tercermin melalui:
- hubungan pribadi dengan Tuhan
- kehidupan rumah tangga/keluarga
- cara kita memperoleh dan mengelola keuangan.
- cara kita bergaul dan seperti apa kita di masyarakat

Ibadah yang sejati di mata Tuhan bukanlah ibadah rutin kita setiap hari Minggu atau aktivitas-aktivitas peribadatan lainnya, tapi justru seluruh diri kita sendiri, kita seutuhnya yang kudus dan berkenan. Seperti apa kita di tengah kehihdupan bermasyarakat sehari-hari atau ketika kita sedang sendirian dan tidak ada yang melihat, itu bentuk kehidupan nyata yang akan menunjukkan apakah kita merupakan cerminan kebenaran atau tidak.

Menghidupi nilai-nilai kebenaran dengan roh yang takut akan Tuhan merupakan syarat bagi penyembah yang benar. That's the spirit of a true worshipper. Sudahkah kita menjadi penyembah-penyembah yang benar? Kenyataannya lebih banyak orang yang lebih tertarik menjadi 'true gossipers' ketimbang true worshippers. Kita tidak akan pernah bisa membuat perbedaan-perbedaan menuju ke arah yang lebih baik sebelum kita berubah menjadi sosok penyembah yang benar.

Bukan tempat yang penting, tapi kerinduan kita mencari Tuhan dan menyembahNya dalam roh dan kebenaran, itulah yang penting

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho


Friday, April 10, 2015

Menyembah (1)

Ayat bacaan: Yohanes 4:22-24
===================
"Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Kata menyembah tidak lagi asing bagi kita. Semua manusia diciptakan dengan roh yang menyembah, apapun latar belakangnya, apapun kepercayaannya. Pertanyaannya, seperti apa sebenarnya menyembah yang benar? Siapa yang disebut dengan penyembah-penyembah yang benar alias the true worshippers? Apakah ada tempat khusus dimana kita harus melakukannya agar menjadi benar?

Akan hal ini, mari kita lihat percakapan antara Yesus dengan seorang perempuan dari Samaria yang bertemu di sebuah sumur di kota Sikhar (Yohanes 4:1-42). Setelah Yesus menyampaikan mengenai Air Hidup, pembicaraan kemudian sampai kepada perihal menyembah. Wanita Samaria berkata: "Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." (ay 20). Apakah penyembahan yang benar bergantung pada suatu tempat atau lokasi tertentu? Di Yerusalem kah, atau di gunung Gerizim, dimana nenek moyang bangsa Samaria menyembah? Apakah tempat, tradisi bahkan upacara agama menjamin sebuah penyembahan yang benar, dan para penyembah harus kesana agar menjadi benar? Paradigma seperti itulah yang ada pada perempuan Samaria, dan masih banyak pula orang yang percaya akan hal itu sampai hari ini, bahkan di kalangan orang percaya.

Apa yang menjadi jawaban Yesus menjadi penegasan kerangka konsep penyembahan yang benar menurut kebenaran Kerajaan. "Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (ay 21-24). Perhatikan. Ternyata Yesus mengoreksi apa yang menjadi kepercayaan atau pemahaman banyak orang. Yesus menyampaikan sebuah gebrakan dalam konsep penyembahan, bahwa tempat penyembahan bukanlah di Yersualem, di gunung atau lokasi tertentu manapun, melainkan dimana kita memiliki kerinduan mencari Tuhan. Dan penyembah yang benar adalah mereka yang menyembah Bapa dalam dua hal, yaitu roh dan kebenaran. Penekanan lebih lanjut, bahwa siapapun yang menyembah Dia haruslah menyembahNya dalam roh dan kebenaran.

Sebelum kita masuk lebih jauh mengenai roh dan kebenaran, mari kita lihat dulu poin pertama bahwa penyembahan adalah kerinduan mencari Tuhan tanpa tergantung oleh lokasi-lokasi tertentu. Dalam kitab Yesaya 29:13-14 dikatakan demikian: "apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN..." Itu artinya, Tuhan akan selalu ada kapan saja kita mencari Dia. Tuhan selalu hadir setiap kali kita membutuhkanNya. Jesus didn't refer to any specific location, not mountains, not places, not even Jerusalem. Tuhan ada dimana saja dan akan selalu mudah ditemukan setiap kali kita mencariNya. Tuhan menginginkan sebuah hubungan dan bukan masalah tempat. Yang Tuhan inginkan adalah penyembah yang mengubahkan bentuk-bentuk ritual dan bentuk upacara menjadi bentuk kehidupan nyata.

Sekarang mari kita lihat dua hal yang harus diperhatikan dalam menjadi penyembah yang benar, yaitu menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran.


1. Menyembah dalam Roh 

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia yang bisa membangun hubungan secara langsung dengan Tuhan adalah mereka yang sudah mengalami lahir baru. Jika tidak, maka rohnya tidak akan bisa terhubung dengan Tuhan karena rohnya belum diperbaharui. Tuhan adalah Roh, dan kita pun mahluk roh yang memiliki tubuh atau bentuk fisik. Karenanya menyembah Tuhan harus dilakukan sesuai dengan keberadaan/hakekat Tuhan dan kita.

(bersambung)

Thursday, April 9, 2015

Beribadah Tapi Memungkiri Kekuatannya (2)

(sambungan)

Ibadah yang dilakukan hanya pada titik lahiriah saja tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi kita. Kita akan terus semakin jauh dari pengalaman-pengalaman luar biasa bersama Tuhan. Kita tidak akan bisa merasakan mukjizatNya, penyertaan dan pertolonganNya yang ajaib, serta berbagai kuasa Tuhan yang terus dinyatakan hingga hari ini secara nyata. Kita akan menolak untuk mempercayai bahwa memang ada orang-orang yang mengalami mukjizat sebagai bagian dari pengalaman hidupnya. Kalau memang tidak percaya, lantas buat apa repot-repot berdoa dan melakukan ibadah? Karya Tuhan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk kita alami. We can see it, feel it, experience it for real. Kita harus terus maju memahami kekuatan dari ibadah hingga pada suatu ketika nanti bisa mengalaminya langsung, bukan lagi hanya kata orang tetapi kita sudah mengalami sendiri. Semua orang percaya harus sampai kepada tingkatan seperti itu, dan itu akan sulit sekali apabila kita sendiri masih memungkiri kekuatannya. Bukankah Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan bahwa iman sebesar biji sesawi sekalipun akan mampu memindahkan gunung, dan tidak akan ada lagi yang mustahil bagi kita? (Matius 17:20). Ibadah yang dilakukan secara kosong tanpa disertai iman hanya akan sia-sia. Karenanya kita perlu benar-benar memastikan agar kita tidak sampai terjebak pada melakukan sebuah rutinitas tanpa makna dalam hal menjalankan ibadah.

Ibadah tidak boleh terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya. Ibadah tidak boleh berhenti pada tata cara, gerak tubuh, posisi dan ucapan yang sama berulang-ulang. Ibadah seharusnya diarahkan untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Ibadah bukanlah tempat dimana kita hanya meminta dan terus meminta, mengeluh dan merengek tetapi lebih dari itu seharusnya dipergunakan untuk bersekutu denganNya, merasakan hadiratNya, mendengar suaraNya dan mengetahui kehendak dan rencanaNya yang terbaik atas kita, atau mendengar teguranNya ketika kita melakukan sesuatu yang salah.

Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang hanya menjalankan ibadah sebagai sebuah rutinitas atau ritual belaka. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa bahkan akan ada hukuman Tuhan yang jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, kebiasaan, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27). Dan lihat pula Firman Tuhan berikut: "beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu" (1 Samuel 12:20b). Beribadah harus dilakukan dengan segenap hati, dengan serius dan sungguh-sungguh dengan memiliki tujuan yang benar.

Tuhan tidak suka diduakan atau hanya dijadikan satu dari sekian banyak alternatif. Tuhan tidak suka ketika kita hanya ingin terlihat hebat rohani dari luar sementara di dalam iman kita malah tidak jelas bentuknya. Sebaliknya Tuhan akan disenangkan hatiNya kala melihat anak-anakNya yang rajin beribadah karena mengerti betul kekuatan atau kuasa yang terkandung di dalamnya. Tuhan akan sangat senang kalau anak-anakNya beribadah karena haus merasakan kedamaian dan sukacita saat bersamaNya, rindu untuk terus bertemu dan mendengar pesan-pesanNya, dan tentu saja yang menunjukkan imannya dengan mengaplikasikan firman Tuhan secara nyata di dalam kehidupannya sehari-hari.

Kita bukanlah hidup untuk terlihat hebat di depan manusia, tetapi justru yang terpenting adalah menghidupi sebuah kehidupan yang berkenan di mata Tuhan. Jika kita sudah beribadah tetapi masih juga meragukan atau menolak kuasa Tuhan, itu artinya masih ada yang harus kita perbaiki dalam melakukan ibadah kita. Percayalah bahwa ada kuasa luar biasa dibalik setiap ibadah yang kita lakukan dalam namaNya. Itu masih terjadi secara nyata sampai hari ini, masih akan terjadi nanti, dan itu pun bisa kita alami secara langsung dalam kehidupan kita sendiri, tapi itu tidak akan bisa kita alami apabila kita masih terus memungkiri kekuatannya.

Jangan biarkan ibadah sia-sia dan kosong dengan hanya mementingkan tata cara dan kebiasaan saja

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, April 8, 2015

Beribadah Tapi Memungkiri Kekuatannya (1)

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:5
=====================
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya."

Ke gereja tapi tetap takut hantu. Rutin berdoa tapi masih percaya mistis. Beribadah ya, ke paranormal juga ya. Katanya percaya Tuhan, tapi kuatir tetap Ada banyak sekali orang percaya yang masih seperti itu. Mengakunya mengandalkan Tuhan, tapi mamon tetap nomor satu. Uanglah yang terus menjadi prioritas utama hidup. Bukankah semua kebutuhan membutuhkan uang? Tahu bahwa Tuhan bisa melakukan mukjizat, tapi hidup masih saja tergantung jimat. Katanya warga negara Kerajaan Surga, tapi masih saja ikut cara-cara sesat dunia. Perhatikanlah, ada banyak orang peraya yang masih memiliki cara pandang dan pola hidup seperti ini. Mengapa ini bisa terjadi? Itu karena mereka menjalankan ibadah tapi meragukan kekuatannya.

Kebiasaan memakai logika manusia yang terbatas dalam memahami kuat kuasa Tuhan yang tak terbatas bukan hanya masalah bagi orang percaya hari ini tapi sudah terjadi sejak jaman dahulu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena yang akan semakin marak menjelang akhir jaman. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5) Ini adalah satu dari sekian banyak hal serius yang digambarkan Paulus sebagai "masa yang sukar". (ay 1). Masa yang sukar, dalam benak kita itu berarti ada banyak krisis, bencana, peperangan, tekanan, instabilitas politik, keonaran yang ditimbulkan para pengacau keamanan dan sebagainya. Benar, itu memang masih terus terjadi akhir-akhir ini. Tetapi apa yang dikatakan oleh Paulus sebagai masa yang sukar ternyata bukan sekedar mengacu kepada kerusakan lingkungan, ketidakstabilan atau bahkan krisis ekonomi. Masa-masa yang sukar menurut Paulus terletak pada kejatuhan manusia semakin jauh dalam mementingkan dirinya sendiri.

"Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." (ay 2-4). Perhatikan bahwa sikap-sikap seperti ini bukan lahir dari orang tidak percaya tapi justru lahir dari orang-orang yang rajin menjalankan ibadah seperti yang disebutkan dalam ayat 5 di atas. Intinya, secara lahiriah mereka beribadah, tapi mereka sebenarnya meragukan atau bahkan menolak kekuatannya. Although they pray constantly, they refuse to believe the power of it. They are still strangers to God. Ini merupakan teguran buat kita juga yang secara fisik hadir di gereja, rajin persekutuan dan rutin berdoa tetapi hanya sebagai sebuah ritual atau kebiasaan atau tradisi semata tanpa mengalami pertumbuhan iman apapun lewat itu semua. Kita memang beribadah, tetapi kita sendiri malah memungkiri kekuatannya.

Apakah saya mengatakan bahwa beribadah itu berarti tidak penting? Sama sekali tidak. Beribadah itu sangat penting. Tapi adalah penting juga bagi kita untuk memastikan bahwa setiap ibadah yang kita lakukan disertai iman yang penuh dan bulat, tidak setengah-setengah, tidak hanya sekedar menjalankan apa yang kata orang tua wajib untuk dilakukan. Beribadah itu perlu latihan. Itu dikatakan langsung oleh Paulus. "Latihlah dirimu beribadah". (1 Timotius 4:7b). Mengapa harus dilatih? Karena latihan rohani itu bisa membawa manfaat yang jauh lebih besar dari latihan badani/jasmani. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Anda pergi ke pusat kebugaran, bangun pagi dan lari pagi, itu akan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran. Itu berguna bagi kehidupan kita di dunia saat ini, tetapi tidak akan ada gunanya lagi untuk hidup yang akan datang. Sedangkan melatih diri untuk beribadah akan berguna baik untuk hidup saat ini maupun yang akan datang nanti.

Jadi jelas beribadah itu penting. Tapi jangan lupa bahwa kita pun harus tahu hakekatnya kita beribadah. Paham tujuannya, mengerti kegunaannya dan sadar sepenuhnya akan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Itu perlu kita ketahui dan camkan benar-benar agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia, tidak berhenti hanya sebatas menjalankan tradisi, sesuai kebiasaan atau tata cara liturginya saja. Ibadah yang dilakukan dengan benar akan mampu membangun iman kita untuk bertumbuh makin besar, berakar dalam Kristus semakin dalam, sehingga kita lagi terjebak memungkiri sendiri kekuatan di balik ibadah-ibadah yang kita lakukan itu.

(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...