Tuesday, August 14, 2012

Ketawa

Ayat bacaan: Amsal 17:22
==================
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."

Seberapa pentingkah tertawa dalam hidup kita? Mari kita lihat sebuah hasil penelitian dari sebuah negara di Eropa sana. Hasil penelitian itu berkata bahwa apabila kita tertawa lepas dua kali saja dalam sehari, itu mengurangi setengah stres kita. Sedangkan tersenyum, itu mengurangi 1/8 dari stres yang kita alami sehari-hari. Kalau stres berkurang, hidup pun akan menjadi lebih baik dan umur pun akan semakin panjang. Wah, kalau dua kali tertawa lepas saja sudah berdampak begitu besar, bagaimana jika hidup kita terus diisi dengan kegembiraan dan keceriaan? Masalahnya, himpitan beban hidup yang sangat sulit ini seringkali bagai memanjat jalan terjal penuh batu tajam yang akan dengan mudah merampas segala kebahagiaan dari diri kita. Kalau sudah begini ceritanya, bagaimana kita bisa lagi memiliki hati yang gembira?

Seperti itulah pandangan banyak orang. Kita seringkali keliru menempatkan ukuran kebahagiaan dari ada tidaknya atau banyak-sedikitnya masalah. Padahal kalau mau jujur, siapa sih yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya? Sebuah ayat dalam Amsal tentu sudah tidak lagi asing bagi kita: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Dan itu ternyata benar dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Akan tetapi kita juga perlu tahu kemana kita bisa menggantungkan kebahagiaan karena apabila kita meletakkannya pada ukuran masalah, maka itu artinya kita harus siap berpisah dengan hidup yang penuh keceriaan atau sukacita dan menempatkan diri kita sebagai orang depresi dengan tingkatan stres yang semakin lama semakin tinggi.

Kita hanya bisa tertawa ketika kita sedang gembira tanpa masalah. Seperti itulah pandangan umum yang mungkin kita percaya pula selama ini. Tetapi firman-firman Tuhan dalam Alkitab ternyata tidak menyatakan demikian. Ukuran kegembiraan yang bisa membawa tawa bukanlah tergantung dari situasi atau kondisi yang sedang kita alami, melainkan bergantung kepada seberapa jauh kita meletakkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan, seberapa jauh kita mengandalkanNya dalam hidup kita. Kita bisa melihatnya lewat Daud.

Status Daud sebagai seorang raja tidak serta merta membuat hidupnya seratus persen tanpa masalah. Justru sebaliknya, berkali-kali Daud mengalami masa-masa sulit bahkan tidak jarang nyawanya terancam. Tetapi lihatlah apa yang ia katakan. "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak" (Mazmur 16:8-9). Daud bisa mengetahui bahwa sukacita dan sorak-sorai bukanlah bergantung dari berat-ringannya beban yang sedang kita hadapi. Ia tahu bahwa  dengan memandang kepada Tuhan, menyadari kehadiran Tuhan di sebelahnya akan membuatnya mampu untuk terus berdiri tegak meski situasi sedang tidak kondusif sama sekali. Bagi Daud, kehadiran Tuhan bersamanya merupakan kunci utama yang membuatnya mampu terus hidup dengan penuh sukacita dan keriangan. Bersama Tuhan dia tidak perlu takut. Bersama Tuhan ada jawaban, pertolongan bahkan kemenangan. Kalau begitu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita apabila kita menyadari dan meyakini betul keberadaan Tuhan dalam hidup kita.

Apakah anda termasuk orang yang sulit tertawa hari ini? Apakah anda termasuk orang yang saat ini tengah sulit melengkungkan mulut keatas untuk tersenyum karena himpitan beban hidup bagai bandul yang memberatkan mulut untuk melengkung kebawah? Sadarilah bahwa beban kehidupan akan selalu datang silih berganti. Tuhan mengerti kesulitan kita, dia mendengar dan peduli terhadap itu semua. Yesus berkata: "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Perhatikan bahwa Tuhan selalu siap menyertai kita, dan selalu siap pula memberi kelegaan bahkan melepaskan kita dari belenggu masalah. Menaruh pengharapan penuh di dalam Tuhan akan membuat kita tidak mudah goyah dalam situasi dan kondisi seberat apapun, dan dengan demikian kita tidak harus kehilangan sukacita walau sedang berada dalam keadaan yang tidak baik. Kegembiraan akan membuat banyak hal positif hadir dalam kehidupan kita, sebaliknya hati yang selalu susah akan membuat segalanya tampak buruk. Lihatlah ayat berikut ini: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." (Amsal 15:15).

Diperlukan iman untuk membuat kita bisa hidup penuh pengharapan. Dengan iman kita tahu bahwa tangan Tuhan akan selalu siap mengangkat kita keluar tepat pada waktunya. Hari ini mungkin belum, besok pun mungkin saja belum, tetapi iman akan memungkinkan kita untuk percaya sepenuhnya bahwa cepat atau lambat itu pasti terjadi. Firman Tuhan jelas berkata bahwa "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Janganlah kita ragu jika pertolongan Tuhan belum hadir sesuai waktu yang kita inginkan, karena firman Tuhan berkata "Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian." (2 Petrus 3:9). Imanlah yang memampukan kita untuk bisa melihat itu sehingga kita tidak perlu khawatir dan bisa terus memiliki sukacita sejati yang berasal dari Tuhan dalam setiap langkah kita.

Jika hari ini anda masih termasuk orang yang sulit untuk tertawa, pandanglah janji Tuhan dengan iman. Arahkan pandangan anda kepada Tuhan, dan yakinlah bahwa Dia tidak pernah meninggalkan anda. Dia berdiri tepat di sebelah anda dan siap untuk memelihara anda. Fokus terhadap masalah akan membuat kita sulit untuk tertawa, sementara tidak ada satupun yang berubah menjadi lebih baik dengan terus memupuk kekhawatiran. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27). Kegembiraan sejati berasal dari Tuhan dan tidak pernah tergantung dari kondisi yang kita alami saat ini. Kalau begitu berhentilah bermuram durja. Gantikan dengan sukacita, dan tertawalah. Itu akan membuat hidup jauh lebih baik dan membawa kita lebih sehat dan panjang umur.

Tertawa itu sehat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 13, 2012

Petualang

Ayat bacaan: Yoel 2:13
==================
"Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya."

Hari ini saya bertemu dengan seorang petualang yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia tidak menetap dimanapun dan akan terus mengembara berkeliling Indonesia. Ia bercerita bahwa sebagai pengembara ia seringkali bertemu dengan kesulitan. Ia berkali-kali bertemu orang jahat, pernah dirampok, pernah pula harus berhadapan dengan binatang buas. Untuk meminimisasi kemungkinan-kemungkinan buruk itu ia pun harus berhati-hati benar dalam mengambil jalan. Ia menghindari jalan malam hari, itu salah satu langkah yang ia ambil. selain itu ia pun berkata bahwa ia harus peka dan segera berbalik arah apabila jalan yang ia lalui terasa semakin meragukan. Saya mengambil waktu sejenak setelah berbincang-bincang dengannya dan berpikir, betapa kita pun dalam banyak hal sebenarnya sedang bertualang atau mengembara di muka bumi ini. Life is indeed a journey. Kita terus berjalan dalam menempuh perjalanan kehidupan. Begitu banyak percabangan jalan yang kita temui sepanjang perjalanan. There are so many twists, turns and options. Didalamnya terdapat begitu banyak godaan, dan apabila kita salah mengambil jalan, kita pun bisa tersesat. Jika sudah tersesat akibatnya bisa fatal. Kita bisa-bisa gagal mencapai tujuan kita. Benar, sebagai manusia yang terbatas, adalah wajar jika pada suatu waktu kita akan salah melangkah. Namun yang penting adalah bertindak seperti sang pengembara yang baik. Ketika kita mengambil belokan yang salah dan menyimpang, cepatlah sadar dan bergegaslah untuk berbalik dan menemukan kembali jalan yang sebenarnya.

Jika kita membuka kitab Yoel, disana kita akan menemukan bagaimana mengerikannya hukuman Tuhan yang jatuh atas bangsa Yehuda. Disana kita melihat serbuan belalang yang menakutkan (Yoel 1:4), dimana serbuan belalang itu menimbulkan kerusakan sangat parah pada pertanian dan perekonomian mereka. (ay 7-12). Tidak ada lagi gandum, anggur dan minyak pun tidak ada lagi, sehingga mereka tidak lagi bisa mempersembahkan korban curahan. (ay 9-13). Apa yang kemudian dilakukan Yoel dalam menyikapi hal ini? Yoel menyampaikan seruan Allah pada mereka yang telah meninggalkanNya dan berdoa bagi semuanya. (ay 19). Yoel meminta bangsa Yehuda untuk meratap (ay 8,13), berkabung (ay 13) dan  puasa (ay 14). Yoel menyerukan agar bangsa Yehuda yang sudah terlanjur tersesat untuk segera berbalik kembali pada Tuhan dengan hati yang koyak, seperti yang tertulis pada ayat bacaan hari ini: "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya." (Yoel 2:13). Sebuah pertobatan dengan hati terkoyak kemudian mengembalikan belas kasih Tuhan pada umatNya. Yoel 2:18-27 berbicara mengenai janji Tuhan yang luar biasa pada bangsa yang bertobat. Pemulihan luar biasa atas pertanian yang penuh kelimpahan, curah hujan yang cukup, kehormatan, semua akan mereka peroleh begitu mereka bertobat dengan sungguh-sungguh. Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih, adil, setia dan selalu siap untuk mengampuni siapapun yang datang kepadanya dengan hati hancur untuk bertobat, meninggalkan kesesatan mereka dan kembali pada jalan yang benar, kembali kepada Tuhan.

Ketika kita mendapati diri kita ada ditengah situasi sulit, dimana kita terkepung dalam masalah ekonomi, kesulitan hidup, kecelakaan bahkan bencana, lewat kitab Yoel, kita bisa belajar sesuatu. Periksalah cara hidup, tingkah laku dan perbuatan. Apakah kita sudah berjalan bersama Tuhan, mentaati dan memprioritaskanNya dalam perjalanan hidup kita? Sudahkah kita mendengarkan Tuhan dengan serius karena kita sungguh mengasihiNya, atau kita tanpa sadar sudah begitu jauh menyimpang dari jalanNya? Terkadang himpitan masalah hidup yang menimpa kita itu bukannya membuat kita sadar, tapi malah menyalahkanNya. Rentang jarak pemisah untuk datangnya pertolongan Tuhan bisa timbul sebagai akibat dari jarak antara perbuatan kita yang penuh dosa dengan perbuatan Tuhan yang penuh berkat. Alangkah baiknya sebelum menyalahkan siapa-siapa, kita terlebih dahulu melihat kembali dimana kita ada saat ini. Tidak pernah ada kata terlambat untuk bertobat. Bahkan dalam keadaan sangat hancur seperti bangsa Yehuda diatas sekalipun, belumlah terlambat untuk bertobat karena Tuhan akan segera mengampuni dan melimpahkan berkatNya segera begitu kita berbalik kembali kepadaNya. Bertobatlah dengan hati terkoyak, hati yang hancur, yang berarti dengan segala kesungguhan meninggalkan segala perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Dosa-dosa itu memang bisa terasa nikmat dan sayang untuk ditinggalkan, tapi jika itu ternyata menghancurkan kita, mengapa tidak meninggalkannya segera? Pertobatan sesungguhnya adalah urusan antara manusia dengan Penciptanya, bukan sebagai suatu perbuatan untuk diperlihatkan kepada orang lain. Karenanya pertobatan tuntas dengan hati yang terkoyak akan menghasilkan pengampunan Tuhan secara tuntas pula. "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." (Mazmur 51:19). Selama Tuhan masih memberi kesempatan hari ini, tidak ada kata terlambat untuk kembali berbalik arah menuju jalan yang dikehendaki Tuhan. Jika belum sampai seperti itu, setidaknya kita bisa terus mewaspadai diri kita agar jangan sampai salah dalam melangkah dan memilih jalan. Perhatikan baik sebelum nanti kita sendiri yang rugi jika kita sembrono dalam menentukan langkah.

Segeralah berbalik jika terlanjur salah jalan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, August 12, 2012

Menoleh Ke Belakang (2)

(sambungan)

Yesus mengingatkan hal yang sama. Mari kita lihat kisah mengenai seseorang yang mau mengikuti Yesus namun memilih untuk berlama-lama. "Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku."(Lukas 9:61). Apa jawab Yesus? "Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."(ay 62). Artinya jelas. Orang yang siap melangkah bersama Kristus harus benar-benar siap meninggalkan kehidupan lamanya. Berhenti menoleh kebelakang. Atau jika tidak, itu artinya ia tidak layak di hadapan Tuhan. Tuhan rindu setiap kita untuk maju. Dia rindu untuk mencurahkan berkat-berkatNya, namun bayang-bayang masa lalu kerap membuat kita selalu menoleh ke belakang, dan dengan demikian gagal mencapai janji-janji Tuhan.

Dalam 1 Yohanes 2:17 dikatakan: "Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." Dunia sedang menuju kehancuran, with the forbidden cravings (the passionate desires, the lust) of it. Hanya orang yang melakukan kehendak Allah yang selamat dan hidup selamanya. If we know that this world is trembling down, we have to stop looking back, we have to start moving forward and we really have to do it now. Kita harus ingat pula bahwa iblis, sang pendakwa akan selalu menuduh anda dengan segala hal di masa lalu untuk memperlambat anda, menghentikan anda, bahkan memundurkan anda ke belakang. Iblis sangat tidak suka jika anda maju. Iblis ingin kita ikut lenyap dengan keinginan-keinginan duniawi. Tidak ada jalan lain untuk menolak ini selain berhenti memuaskan hasratnya dengan terus terikat dalam masa lalu. It's time to move on.

Bagi yang terbelenggu dalam hal-hal traumatis atau buruk di masa lalu, kita bisa membaca surat Paulus kepada jemaat di Filipi mengenai pentingnya mengubah arah pandangan. Sepertinya Paulus menyadari tendensi manusia untuk selalu berada dalam bayang-bayang masa lalunya, hingga ia merasa perlu untuk mengingatkan. "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Dia memberi contoh, bahwa walaupun dia telah melayani Tuhan, dia tetap harus fokus untuk melupakan segala masa lalunya, seburuk apapun, dan fokus pada tujuan yang hendak dicapai di depan. Kita tidak akan bisa maju jika selalu berada dalam belenggu masa lalu kita yang kelam. Kita perlu benar-benar mengerti bahwa Tuhan begitu mengasihi kita. Dia tidak mau kita hidup terikat dalam dosa, problema kehidupan dan hal traumatis di masa lalu. Apa buktinya? Jika Tuhan tidak perduli, untuk apa Tuhan sampai harus rela menganugrahkan Kristus, AnakNya yang tunggal untuk memerdekakan kita dari segala dosa, kutuk dan kuk perhambaan warisan masa lalu? Berhentilah menoleh ke belakang, dan raihlah janji-janji Tuhan, yang penuh rancangan damai sejahtera, hidup yang berkelimpahan dan penuh berkat. Lihatlah ayat berikut ini: "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23). Apa yang disediakan Tuhan adalah berkat yang tiada habisnya dan selalu baru setiap pagi. Jika demikian, untuk apa kita terus mengingat-ingat masa lalu? Bukankah artinya kita menjadi orang yang bodoh jika masih saja terkubur dalam masalah di waktu lalu, padahal Tuhan mencurahkan rahmatNya yang baru setiap pagi? Kita artinya menolak rahmatNya yang baru yang Dia sediakan setiap pagi jika terus terbenam dalam masa lalu.

Tuhan menyediakan pengharapan baru bagi kita yang telah ada di dalam Kristus. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."(2 Korintus 5:17). Seringkali kita lebih memilih untuk tidak meninggalkan dosa karena rasanya yang sepertinya terlalu nikmat dan manis. Kita terus mengenakan manusia lama padahal manusia baru, the whole new creation sudah diberikan Tuhan pada kita. Atau kita merasa bahwa kita tidak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayang buruk di masa lalu. Well..listen. In Christ, we are the new creation. Semua telah ditebus Kristus dengan lunas di atas kayu salib. Dan kita sekarang bisa menatap hari depan yang cerah, penuh pengharapan dari Tuhan. Tidak ada lagi belenggu masa lalu, kecuali kita yang mengijinkan dan menginginkan trauma masa lalu itu untuk terus hadir bersama kita, menghambat kita untuk bertumbuh dan maju. Today it's time to let all your past go. Let's stop looking back to the past, let's move forward. Let's move on with all hope and glory!

Menoleh ke belakang akan menghalangi kita untuk menerima janji-janji Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho


Saturday, August 11, 2012

Menoleh Ke Belakang (1)

Ayat bacaan: Kejadian 19:17
=====================
"Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap."

Jika anda melihat atlit lomba lari yang tengah betanding, anda akan melihat betapa mereka fokus terus ke depan tanpa terpengaruh pelari saingan di kiri, kanan atau malah di belakangnya. Mereka tidak akan bisa mencapai hasil terbaik apabila pikiran mereka tidak mengarah ke garis finish apalagi jika kepalanya terus menoleh ke belakang. Cobalah berlari dengan kepala menoleh ke belakang, anda akan menjadi jauh lebih lambat atau bahkan bisa terjatuh. Demikian pula dalam hidup kita. Ada banyak hal di masa lalu yang tentu bisa menjadi pelajaran bagi kita, baik dalam hal yang baik maupun buruk, tetapi kita harus memastikan jangan sampai masa lalu itu merintangi kita dalam mencapai masa depan yang gemilang. Kenyataannya ada banyak orang yang terbelenggu dengan masa lalunya. Ada juga yang sulit melepaskan kebiasaan-kebiasaan buruk di masa lalu. Akibatnya, mereka yang terus menerus terganggu dengan masa lalu ini sulit untuk bertumbuh dalam mencapai keberhasilan-keberhasilan. Iman mereka pun akan sulit pula mengalami pertumbuhan. Keselamatan yang sudah diberikan Tuhan bisa menguap sia-sia akibat keengganan melepas hal-hal di belakang sana. Kita bisa melihat contoh nyata akan hal itu dari kisah Lot dan keluarganya yang hendak keluar dari kota Sodom yang sebentar lagi akan dimusnahkan Tuhan.

Dalam ayat mengenai kisah Sodom dan Gomora kita melihat bahwa istri Lot yang seharusnya ada dalam rencana penyelamatan Tuhan beserta suami dan anak-anaknya. Kedua malaikat yang diutus untuk membawa mereka keluar dari kota Sodom yang akan dimusnahkan sudah mengingatkan mereka. "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." (Kejadian 19:17). Perhatikan kata yang saya cetak tebal di atas. Janganlah menoleh ke belakang. Tapi kita tahu bahwa istri Lot ternyata sulit melepaskan segala yang ia miliki di kota Sodom. Kehidupan lamanya, harta bendanya dan sebagainya. Ia melanggar pesan dan menoleh ke belakang. Alkitab mencatatnya demikian: "Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." (ay 26). Karena menoleh ke belakang, apa yang terjadi pada istri Lot? Dia berubah menjadi tiang garam.

Mari kita fokus kepada kata "menoleh ke belakang". Menoleh ke belakang bisa berarti dikuasai masa lalu, dihantui berbagai hal traumatis, kegagalan atau timbunan dosa-dosa di masa lalu. Ada orang yang mengalami kepahitan akibat disakiti orang terdekat, kejadian-kejadian buruk dalam berbagai hal, yang begitu berat, sedemikian rupa sehingga mereka yang mengalami ini menjadi terus terikat dengan bayang-bayang masa lalunya. Mereka menjadi sulit maju, karena mereka terikat dengan hal-hal traumatis yang pernah terjadi. Ada yang jadi statis, tidak bertumbuh, tidak berkembang, jalan di tempat, tidak sedikit pula yang akhirnya  malah terperosok semakin dalam. Menoleh ke belakang juga bisa berarti sulit melepaskan kebiasaan-kebiasaan atau hal-hal buruk yang kerap kita lakukan di masa lalu, atau sulit melepaskan segala sesuatu yang merintangi langkah kita untuk menuju kepada keselamatan yang sudah diberikan Tuhan. Istri Lot sebenarnya ada dalam rencana Tuhan untuk diselamatkan, namun ia memilih untuk menoleh ke belakang. Sikapnya mendua, antara ingin selamat tapi disisi lain ia sulit meninggalkan segala kenyamanan dengan harta benda miliknya di belakang sana. Karena terus bimbang, ia pun tidak tahan untuk tidak menoleh ke belakang, setidaknya sekali lagi. Ternyata ini sebuah pilihan yang membawa konsekuensi fatal, ia pun berubah seketika menjadi tiang garam dan gagal untuk selamat.

Jika kita melihat kisah penyelamatan bangsa Israel dari Mesir, kita pun bisa menemukan kejadian yang mirip. Kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel pada waktu itu berkali-kali protes kepada Musa karena merasa rugi kehilangan keadaan yang mereka anggap lebih mudah dan nyaman, meski mereka hanyalah berstatus sebagai budak di Mesir. Lihatlah apa kata mereka: "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (Keluaran 16:3) , "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?" (17:3). Mereka terus bersungut-sungut, mengeluh, mengomel dan protes keras terhadap langkah penyelamatan Tuhan. Mereka lebih suka menoleh ke belakang ketimbang mengarahkan pandangan ke depan menuju sebuah tanah terjanji yang berlimpah berkat dari Tuhan. Kita tahu akibatnya generasi awal itu tidak satupun yang berhasil masuk ke tanah terjanji kecuali Yosua dan Kaleb yang memiliki sikap hati berbeda.

(bersambung)

Friday, August 10, 2012

Pemalas

Ayat bacaan: Pengkotbah 10:18
=================
"Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah."

Kita semua ingin menjadi orang-orang yang pintar. Orang tua pun akan berusaha mati-matian agar anaknya mendapatkan pendidikan yang baik setinggi mungkin. Menuntut ilmu sampai setinggi langit tentu menjadi dambaan setiap orang yang ingin sukses, dan benar bahwa itu akan sangat menentukan keberhasilan kita. Tapi sayangnya ada banyak orang yang hanya secara sempit mengasosiasikan keberhasilan hanya mengacu kepada tingkat pendidikan saja. Padahal masalah kerajinan, kedisplinan, semangat berjuang dan sikap pantang menyerah pun merupakan hal yang sangat menentukan sukses tidaknya kita dalam hidup ini. Saya mengenal banyak orang pintar yang memilih untuk malas-malasan, dan akibatnya mereka tidak mengalami kemajuan berarti dalam hidupnya. Sebaliknya saya mengenal pula orang-orang yang kurang beruntung dari segi pendidikan karena ketidakmampuan orangtuanya dahulu, tapi mereka tampil menjadi orang-orang yang berhasil dalam pekerjaan, dalam hidup dan sebagainya karena didukung oleh kegigihan mereka berjuang dari nol.

Jika kita menelaah isi Alkitab, kita tidak menemukan satupun orang malas yang Tuhan mau pakai. Tidak ada satupun yang menerima tugas dari Tuhan ketika sedang bermalas-malasan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyukai orang malas. Di masa-masa sulit seperti sekarang ini kita justru seharusnya tertantang untuk bekerja lebih giat lagi. Tetapi yang banyak terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak saja orang yang malas berusaha untuk memperjuangkan hidup mereka. Para pemalas ini biasanya tidak mau repot-repot mengeluarkan tenaga atau mempergunakan pikiran mereka. Mereka terbiasa menunda pekerjaan atau bahkan melupakannya sama sekali. Apakah itu artinya mereka tidak memiliki keinginan atau impian? Dari yang saya lihat, mereka pun sebenarnya punya impian tinggi. Tetapi yang membedakannya adalah cara menyikapinya. Ketika orang rajin akan berusaha dengan sekuat tenaga dan sungguh-sungguh untuk mencapai impian mereka, si pemalas hanya berhenti sampai tingkat bermimpi untuk itu. Mereka berharap untuk mencapai cita-citanya dengan cara yang paling mudah tanpa harus mengeluarkan setitik keringat pun. Banyak diantara mereka biasanya akan terus mencari kambing hitam, tidak jarang pula mereka berani menyalahkan Tuhan atas keadaan mereka.

Firman Tuhan "Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan." (Amsal 13:4). Sikap-sikap seperti ini tidak boleh dibiarkan menjadi bagian dari diri kita. Selain ayat ini,ada begitu banyak firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk bekerja dan berusaha serius untuk mencapai sebuah tujuan.Kitab Amsal berisi begitu banyak firman Tuhan lainnya yang menyinggung soal kemalasan ini. Misalnya dalam Amsal pasal 6 yang banyak sekali menyinggung soal kemalasan. Agaknya si Penulis mengerti betul mengenai kemalasan yang menjadi gaya hidup banyak orang ini, sehingga ia sampai perlu mengajak kita untuk belajar mengenai kerajinan dari seekor semut, binatang yang paling lemah dan sangat kecil ukurannya. "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak." (Amsal 6:6). Kita tahu bagaimana semut selalu bergerak dan bekerja dengan rajin. Semut mampu mengangkat makanan yang berukuran jauh lebih besar darinya, kalaupun tidak kuat mereka akan bergotong-royong mengangkutnya bersama-sama dengan menempuh jarak yang seringkali sangat jauh menurut ukuran seekor semut. Dan firman Tuhan berkata "biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen." (ay 7-8). Dan hal ini sungguh berbanding terbalik dengan tipe manusia pemalas yang membuang-buang waktu dalam kemalasannya. "Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring."(ay 9-10). Ketika ini yang menjadi sikap hidup kita, "maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata." (ay 11). Bandingkan kedua ayat ini, dan kita bisa melihat bahwa masalah kemalasan merupakan hal yang harus segera kita lawan. Kemalasan yang terus dipupuk akan membawa kita masuk ke dalam kemiskinan dan kekurangan. Itu sama saja dengan menghambat sendiri turunnya berkat Tuhan atas diri kita.

Kita tidak akan pernah menikmati peningkatan-peningkatan atau kemajuan dalam hidup apabila kita terus membiarkan rasa malas menguasai diri kita. Sikap ini bahkan bisa membuat kita menjadi semakin rapuh dan gampang runtuh. Sebuah firman Tuhan dalam Pengkotbah mengatakannya seperti ini: "Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah." (Pengkotbah 10:18). Kegagalan dan kehancuran seringkali berawal dari kemalasan yang terus dibiarkan berdiam dalam diri kita. Untuk itulah kita harus melatih diri sedini mungkin untuk menjadi orang-orang dengan semangat yang kuat dan giat dalam berusaha. Ingatlah bahwa Tuhan tidak menyukai para pemalas seperti ini. Tuhan menyukai orang-orang yang rajin bekerja, dan Dia pun suka memberkati kita lewat usaha sungguh-sungguh yang kita lakukan. Kepada jemaat Tesalonika Paulus mengingatkan dengan sangat keras: "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10).  Selanjutnya lihatlah ayat berikut: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia." (Kolose 3:23) Ini adalah sebuah panggilan untuk melakukan apapun yang kita perbuat dengan segenap hati seperti sedang melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Artinya keseriusan, kesungguhan dan kerajinan kita merupakan bagian yang sangat penting dalam memperoleh kemajuan atau keberhasilan. Dan Tuhan sendiri menganggap penting hal itu. Kemalasan tidak akan pernah masuk dalam konteks ayat Kolose tersebut. Karenanya jangan sampai kemalasan menjadi bagian dalam hidup kita.

Mari periksa diri kita masing-masing, apakah ada hal-hal yang belum berhasil dicapai yang diakibatkan oleh belenggu kemalasan yang masih terus menguasai kita? Apakah anda termasuk orang yang suka menunda-nunda sesuatu, malas merancang masa depan anda, malas untuk melangkah dan sebagainya? Apakah anda lebih menyukai tidur-tiduran ketimbang mulai melakukan sesuatu? Jika ini masih menjadi bagian dari diri anda saat ini, lawanlah segera dan mulailah melakukan perubahan. Kemalasan hanya akan mendatangkan kemiskinan dan kekurangan, yang cepat atau lambat akan meruntuhkan kita habis-habisan.

Kemalasan berarti menutup berkat Tuhan untuk sampai kepada kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, August 9, 2012

Kedipan Tipu Muslihat

Ayat bacaan: Amsal 6:12-15
=======================
"Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi."

Sebuah kedipan mata bisa mengandung banyak makna. Kedipan mata sering bisa menjadi sebuah kode atau isyarat akan sesuatu. Bisa juga untuk menggoda teman, bercanda, tetapi juga bisa dipakai untuk hal-hal yang negatif seperti melakukan penipuan. Seorang penjual yang mengedipkan mata untuk 'kongkalikong' dalam menentukan harga, supir yang mengedipkan mata di tempat pengisian bensin agar nilai yang tertera dalam bon dimanipulasi dan sebagainya, itu menjadi hal yang tidaklah sulit untuk kita lihat sehari-hari. Dimana-mana kita bertemu dengan orang-orang yang gemar menipu dalam berbagai bentuk. Lewat sms, online shop yang  Tetapi ada berapa banyak orang yang tertipu oleh sms seperti itu? Sms atau telepon yang mengatakan menang undian, pegawai yang menaikkan harga di kwitansi, murid yang bolos dengan mengaku sakit, supir yang mengisi bensin berbeda dengan yang tertera di bon dan sebagainya. Tipu menipu terus hadir dalam berbagai bentuk. Bahkan iklan-iklan lowongan pekerjaan di surat kabar harian pun tidak luput dari para penipu ini. Mereka terus mempergunakan segala cara dalam menjalankan operasinya. Bersepakat berbohong, menipu dan melakukan tipu muslihat sudah ada sejak dahulu dan akan terus ada selama peradaban manusia masih berlanjut.

Bolehkah kita melakukan kebohongan meski kecil? Firman Tuhan jelas menyatakan bahwa kebohongan atau tipu menipu seperti apapun adalah dosa. Masalahnya adalah, kita sering mencari pembenaran atas kebohongan itu dengan berbagai alasan. Bohong demi kebaikan itu boleh, sesekali atau sedikit menipu itu tidak apa-apa dan wajar dan alasan lainnya. Kita mengedepankan alasan-alasan sebagai pembenaran untuk berlaku serong atau curang. Padahal kebohongan apapun bentuknya tetaplah sebuah kebohongan. Sebuah penipuan tetaplah penipuan, yang biar bagaimanapun tidak bisa dibenarkan atas dasar alasan apapun. Amsal Salomo berpanjang lebar menjabarkan hal ini. "Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran." (Amsal 6:12-14). Lihatlah bagaimana seriusnya Tuhan memandang sebuah penipuan. Apa ganjaran yang akan menjadi konsekuensinya? Firman Tuhan mengatakan "ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." (ay 15) Broken without remedy, demikian dalam bahasa Inggrisnya.  Dalam rangkaian ayat selanjutnya kita juga bisa melihat bagaimana lidah dusta, hati yang membuat rencana jahat, saksi dusta yang menyemburkan kebohongan termasuk dalam tujuh perkara yang dibenci Tuhan dan dianggap sebagai kekejian bagi hati Tuhan. (ay 16-19).

Kongkalikong atau bersekongkol untuk menipu dengan segala cara termasuk dengat kedipan mata kembali bisa kita baca dalam pasal lainnya dalam kitab Amsal. "Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh." (Amsal 10:10). Jadi jelaslah bahwa apapun bentuknya, kebohongan atau tipu muslihat merupakan sebuah kejahatan di mata Tuhan. Secara lebih tegas kita bisa melihat dalam surat Korintus yang mengatakan: "..Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9b-10). Dalam ayat ini kita bisa melihat bahwa tindakan penipuan itu sama saja parahnya dengan menyembah berhala, percabulan, perzinahan, pencuri, pemabuk, pelit dan sebagainya. Semuanya sama-sama tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah, bahkan dikatakan akan binasa tiba-tiba, diremukkan tanpa dapat pulih lagi. Tuhan tidak mentolerir dosa seperti apapun. Adalah baik tentunya jika kita tidak melakukan kejahatan-kejahatan yang kita anggap besar seperti membunuh atau menganiaya orang lain, tetapi itu hanya akan sia-sia apabila kita masih menghalalkan berbagai bentuk penipuan, karena konsekuensinya akan sama saja beratnya.

Biasanya penipuan timbul dari hati yang sudah terkontaminasi menjadi jahat. Karena itu kita harus waspada menjaga hati kita karena meski kita bisa menyimpan rapi segala bentuk penipuan, walaupun kita bisa menipu banyak orang lewat berbagai muslihat jahat, sekiranya pun kita bisa menutup rapat isi hati kita, namun ingatlah bahwa tidak ada satu hal pun yang tersembunyi di hadapan Allah, "..sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita." (1 Tawarikh 28:9a). Jika tidak hati-hati, maka hati kita akan terus bertambah jahat sehingga berbagai bentuk penipuan akan menjadi biasa saja bagi kita untuk dilakukan. Mungkin kita memulainya dengan kebohongan kecil yang kita anggap tidak apa-apa, tetapi jika tidak hati-hati kebohongan demi kebohongan lainnya dengan tingkatan yang semakin berat bisa terjadi. Kita mulai dari mentolerir dosa kecil, lalu jika dibiarkan maka kita akan semakin sering melakukannya dengan bentuk-bentuk yang semakin besar pula. Pada suatu ketika kita akan menjadi seorang pembohong berhati keras bagai batu, yang tidak lagi merasa bersalah. Alangkah berbahayanya jika hal ini terjadi, karena Tuhan jelas menganggap hal itu sebagai suatu kekejian di mataNya.

Apapun alasannya, jangan mulai melakukan penipuan walau sekecil apapun. Hindarilah sejak dini segala bentuk tipu muslihat. Berbohong, menipu, isyarat kedipan mata, bermain kaki dan sebagainya. Mungkin menipu bisa mendatangkan keuntungan materi, tetapi itu tidak ada gunanya jika pada akhirnya kita harus menuai konsekuensi fatal sebagai akibatnya. Ayat bacaan hari ini pun dengan tegas menyatakan bahwa itu tidak berguna alias sia-sia saja. Jagalah hati kita agar tidak penuh dengan segala yang jahat. Biasakan diri kita untuk bicara dan berlaku jujur sebelum kita terjebak dalam sikap hati seperti ini. Jagalah hati senantiasa dan isilah selalu dengan Firman Tuhan. Pastikan hati kita tetap berada dalam keadaan baik agar kita bisa tetap berhati-hati terhadap berbagai godaan yang bisa membawa kita untuk melakukan penipuan atau kebohongan.

Penipuan adalah sebuah kekejian di mata Tuhan dan pada saatnya akan mendapat ganjaran yang berat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 8, 2012

Mengarahkan Pandangan kepada Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 141:8
=====================
"Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!"

Tidak semua orang pintar berkata-kata, tidak semua orang mau menjaga perkataan, sikap maupun tindakan. Semua orang rasanya pernah mengalami saat-saat dimana perkataan atau perilaku seseorang bisa terasa menyinggung atau bahkan menyakitkan, baik disengaja maupun tidak. Hal ini bahkan mungkin saja timbul dari orang-orang terdekat kita. Ada kalanya kita tersinggung cukup parah sehingga meininggalkan bekas untuk jangka waktu yang cukup lama, bagai sebuah luka yang meski sudah sembuh namun bercaknya masih terlihat bertahun-tahun setelahnya. Ada yang memang jahat dan sengaja melukai perasaan kita, ada pula yang sebenarnya tidak bermaksud jahat namun kelepasan atau secara tidak sengaja menyakiti hati kita. Manusia adalah mahluk yang tidak terlepas dari kesalahan atau kekhilafan. Kita pun bisa saja secara tidak sengaja menyinggung seseorang bukan? Oleh karenanya jangan arahkan segalanya kepada apa yang dikatakan orang lain. Ingatlah bahwa di atas segalanya, kita harus memusatkan pandangannya kepada Tuhan yang menciptakan dan memelihara kita dengan penuh kasih.

Ada saat dimana kita mengalami saat-saat tidak enaknya menjadi korban akibat tindakan atau ucapan seseorang. Contoh kecil saja, dibanding-bandingkan dengan kakak atau adik ketika kecil misalnya. Ada banyak orang tua yang tanpa sadar membuat mental salah satu anaknya ambruk karena selalu dibandingkan dengan saudaranya yang dianggap lebih baik. Ini bisa berbekas hingga mereka dewasa, dan saya pun telah bertemu dengan banyak orang seperti itu. Kita tidak bisa menghindari orang untuk menyinggung perasaan kita atau membuat percaya diri kita ambruk. "Tusukan-tusukan kecil" itu lama-lama bisa menimbulkan masalah serius jika kita menelan hal-hal negatif dari orang lain dan tidak punya kontrol untuk mengatasi hal itu. Akumulasi dari berbagai hal kecil ini akan merampas kedamaian dan sukacita yang berasal dari Tuhan, atau kehilangan keyakinan diri dan lain sebagainya. Ada banyak orang yang kemudian mempercayai pandangan orang lain yang keliru tentang dirinya lalu mengalami kepahitan dalam hidup dan sulit untuk bangkit. Ada yang bahkan sampai menyesali hidup bahkan melakukan tindakan-tindakan fatal. Kita tidak bisa menghalangi orang lain untuk mengatakan hal-hal negatif, tetapi kita bisa memilih untuk tidak terpengaruh. Bagaimana agar tidak berpengaruh? Alkitab sudah memberi kuncinya sejak lama.

Kita bisa melihatnya lewat ucapan Daud sendiri.  "Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!" (Mazmur 141:8). Daud tahu bahwa situasi tidak akan pernah menjadi lebih baik jika ia terus mengarahkan pandangan matanya kepada masalah atau situasi. Kita memang tidak boleh anti kritik, tapi jangan sampai pula kita kemudian membiarkan diri kita untuk hancur karena terfokus hanya mendengarkan ucapan-ucapan yang menjatuhkan dari orang lain. Keadaan tidak akan menjadi lebih baik jika kita menelan semuanya itu bulat-bulat, justru sebaliknya kita sendirilah yang akan rugi. Mental jatuh, hilang rasa percaya diri, semangat lenyap, bahkan sukacita dan kedamaian dalam hidup kita pun terampas. Daripada membiarkan diri seperti itu, alangkah baiknya apabila pandangan mata kita ditujukan kepada Tuhan, Pencipta kita yang teramat sangat mengasihi kita. Kita istimewa bahkan mulia di matanya, siapapun kita saat ini. Dia tidak akan pernah merendahkan usaha dan kerja keras kita. Dia justru akan memberkati usaha setiap anak-anakNya yang telah berupaya dengan sungguh-sungguh memberi yang terbaik, Dia akan selalu siap melindungi kita yang berlindung kepadaNya. KepadaNya-lah mata kita seharusnya tertuju dan bukan kepada orang-orang yang menjatuhkan kita.

Bagaimana Tuhan memandang kita? Jelas dalam Alkitab dikatakan bahwa kita adalah  ciptaanNya yang sangat istimewa. Dia menciptakan kita segambar dengan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), kita terlukis dalam telapak tanganNya dan dalam ruang mataNya (Yesaya 49:16), dia mengetahui segala sesuatu akan kita, bahkan jumlah helai rambut kita pun Dia hitung (Matius 10:30). Tuhan tidak pernah menciptakan kita asal-asalan apalagi sia-sia. Lebih jauh lagi, Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia punya rencana yang indah bagi setiap kita. Apa yang Dia rencanakan kepada kita sejak semula adalaah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, seperti yang disebutkan dalam Yeremia 29:11, untuk memberikan kita hari depan yang penuh harapan. Sebuah ayat indah pada Mazmur mengatakan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang dahsyat dan ajaib. "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:13-14).

Jika kita menyadari bagaimana Tuhan memandang kita, seharusnya kepadaNyalah kita mengarahkan pandangan kita. Melakukan demikian maka kita tidak akan gampang jatuh dan kehilangan kepercayaan diri. Seperti ayat bacaan hari ini, selalulah berlindung kepada Allah. Selalulah tujukan mata kepada Allah. Bersama Allah tidak akan pernah mengecewakan, karena bagi Dia, kita selalu sangat berharga. Besar atau kecilnya yang kita lakukan, selama itu kita perbuat dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya, itu akan sangat besar nilainya di mata Tuhan. Kita tidak bisa melarang orang untuk mengeluarkan komentar-komentar negatif atas diri kita, namun kita bisa memilih kemana kita mau memandang. Ada Tuhan yang saat ini tengah memandang anda dan menghargai jerih payah anda. Maukah anda memandang kepadaNya?

Tujukan mata kepada Allah yang mengasihi dan menghargai setiap usaha sungguh-sungguh dari anda

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...