==================
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."
Seberapa pentingkah tertawa dalam hidup kita? Mari kita lihat sebuah hasil penelitian dari sebuah negara di Eropa sana. Hasil penelitian itu berkata bahwa apabila kita tertawa lepas dua kali saja dalam sehari, itu mengurangi setengah stres kita. Sedangkan tersenyum, itu mengurangi 1/8 dari stres yang kita alami sehari-hari. Kalau stres berkurang, hidup pun akan menjadi lebih baik dan umur pun akan semakin panjang. Wah, kalau dua kali tertawa lepas saja sudah berdampak begitu besar, bagaimana jika hidup kita terus diisi dengan kegembiraan dan keceriaan? Masalahnya, himpitan beban hidup yang sangat sulit ini seringkali bagai memanjat jalan terjal penuh batu tajam yang akan dengan mudah merampas segala kebahagiaan dari diri kita. Kalau sudah begini ceritanya, bagaimana kita bisa lagi memiliki hati yang gembira? Seperti itulah pandangan banyak orang. Kita seringkali keliru menempatkan ukuran kebahagiaan dari ada tidaknya atau banyak-sedikitnya masalah. Padahal kalau mau jujur, siapa sih yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya? Sebuah ayat dalam Amsal tentu sudah tidak lagi asing bagi kita: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Dan itu ternyata benar dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Akan tetapi kita juga perlu tahu kemana kita bisa menggantungkan kebahagiaan karena apabila kita meletakkannya pada ukuran masalah, maka itu artinya kita harus siap berpisah dengan hidup yang penuh keceriaan atau sukacita dan menempatkan diri kita sebagai orang depresi dengan tingkatan stres yang semakin lama semakin tinggi.
Kita hanya bisa tertawa ketika kita sedang gembira tanpa masalah. Seperti itulah pandangan umum yang mungkin kita percaya pula selama ini. Tetapi firman-firman Tuhan dalam Alkitab ternyata tidak menyatakan demikian. Ukuran kegembiraan yang bisa membawa tawa bukanlah tergantung dari situasi atau kondisi yang sedang kita alami, melainkan bergantung kepada seberapa jauh kita meletakkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan, seberapa jauh kita mengandalkanNya dalam hidup kita. Kita bisa melihatnya lewat Daud.
Status Daud sebagai seorang raja tidak serta merta membuat hidupnya seratus persen tanpa masalah. Justru sebaliknya, berkali-kali Daud mengalami masa-masa sulit bahkan tidak jarang nyawanya terancam. Tetapi lihatlah apa yang ia katakan. "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak" (Mazmur 16:8-9). Daud bisa mengetahui bahwa sukacita dan sorak-sorai bukanlah bergantung dari berat-ringannya beban yang sedang kita hadapi. Ia tahu bahwa dengan memandang kepada Tuhan, menyadari kehadiran Tuhan di sebelahnya akan membuatnya mampu untuk terus berdiri tegak meski situasi sedang tidak kondusif sama sekali. Bagi Daud, kehadiran Tuhan bersamanya merupakan kunci utama yang membuatnya mampu terus hidup dengan penuh sukacita dan keriangan. Bersama Tuhan dia tidak perlu takut. Bersama Tuhan ada jawaban, pertolongan bahkan kemenangan. Kalau begitu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita apabila kita menyadari dan meyakini betul keberadaan Tuhan dalam hidup kita.
Apakah anda termasuk orang yang sulit tertawa hari ini? Apakah anda termasuk orang yang saat ini tengah sulit melengkungkan mulut keatas untuk tersenyum karena himpitan beban hidup bagai bandul yang memberatkan mulut untuk melengkung kebawah? Sadarilah bahwa beban kehidupan akan selalu datang silih berganti. Tuhan mengerti kesulitan kita, dia mendengar dan peduli terhadap itu semua. Yesus berkata: "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Perhatikan bahwa Tuhan selalu siap menyertai kita, dan selalu siap pula memberi kelegaan bahkan melepaskan kita dari belenggu masalah. Menaruh pengharapan penuh di dalam Tuhan akan membuat kita tidak mudah goyah dalam situasi dan kondisi seberat apapun, dan dengan demikian kita tidak harus kehilangan sukacita walau sedang berada dalam keadaan yang tidak baik. Kegembiraan akan membuat banyak hal positif hadir dalam kehidupan kita, sebaliknya hati yang selalu susah akan membuat segalanya tampak buruk. Lihatlah ayat berikut ini: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." (Amsal 15:15).
Diperlukan iman untuk membuat kita bisa hidup penuh pengharapan. Dengan iman kita tahu bahwa tangan Tuhan akan selalu siap mengangkat kita keluar tepat pada waktunya. Hari ini mungkin belum, besok pun mungkin saja belum, tetapi iman akan memungkinkan kita untuk percaya sepenuhnya bahwa cepat atau lambat itu pasti terjadi. Firman Tuhan jelas berkata bahwa "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Janganlah kita ragu jika pertolongan Tuhan belum hadir sesuai waktu yang kita inginkan, karena firman Tuhan berkata "Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian." (2 Petrus 3:9). Imanlah yang memampukan kita untuk bisa melihat itu sehingga kita tidak perlu khawatir dan bisa terus memiliki sukacita sejati yang berasal dari Tuhan dalam setiap langkah kita.
Jika hari ini anda masih termasuk orang yang sulit untuk tertawa, pandanglah janji Tuhan dengan iman. Arahkan pandangan anda kepada Tuhan, dan yakinlah bahwa Dia tidak pernah meninggalkan anda. Dia berdiri tepat di sebelah anda dan siap untuk memelihara anda. Fokus terhadap masalah akan membuat kita sulit untuk tertawa, sementara tidak ada satupun yang berubah menjadi lebih baik dengan terus memupuk kekhawatiran. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27). Kegembiraan sejati berasal dari Tuhan dan tidak pernah tergantung dari kondisi yang kita alami saat ini. Kalau begitu berhentilah bermuram durja. Gantikan dengan sukacita, dan tertawalah. Itu akan membuat hidup jauh lebih baik dan membawa kita lebih sehat dan panjang umur.
Tertawa itu sehat
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Hari ini saya bertemu dengan seorang petualang yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia tidak menetap dimanapun dan akan terus mengembara berkeliling Indonesia. Ia bercerita bahwa sebagai pengembara ia seringkali bertemu dengan kesulitan. Ia berkali-kali bertemu orang jahat, pernah dirampok, pernah pula harus berhadapan dengan binatang buas. Untuk meminimisasi kemungkinan-kemungkinan buruk itu ia pun harus berhati-hati benar dalam mengambil jalan. Ia menghindari jalan malam hari, itu salah satu langkah yang ia ambil. selain itu ia pun berkata bahwa ia harus peka dan segera berbalik arah apabila jalan yang ia lalui terasa semakin meragukan. Saya mengambil waktu sejenak setelah berbincang-bincang dengannya dan berpikir, betapa kita pun dalam banyak hal sebenarnya sedang bertualang atau mengembara di muka bumi ini. Life is indeed a journey. Kita terus berjalan dalam menempuh perjalanan kehidupan. Begitu banyak percabangan jalan yang kita temui sepanjang perjalanan. There are so many twists, turns and options. Didalamnya terdapat begitu banyak godaan, dan apabila kita salah mengambil jalan, kita pun bisa tersesat. Jika sudah tersesat akibatnya bisa fatal. Kita bisa-bisa gagal mencapai tujuan kita. Benar, sebagai manusia yang terbatas, adalah wajar jika pada suatu waktu kita akan salah melangkah. Namun yang penting adalah bertindak seperti sang pengembara yang baik. Ketika kita mengambil belokan yang salah dan menyimpang, cepatlah sadar dan bergegaslah untuk berbalik dan menemukan kembali jalan yang sebenarnya.
Jika anda melihat atlit lomba lari yang tengah betanding, anda akan melihat betapa mereka fokus terus ke depan tanpa terpengaruh pelari saingan di kiri, kanan atau malah di belakangnya. Mereka tidak akan bisa mencapai hasil terbaik apabila pikiran mereka tidak mengarah ke garis finish apalagi jika kepalanya terus menoleh ke belakang. Cobalah berlari dengan kepala menoleh ke belakang, anda akan menjadi jauh lebih lambat atau bahkan bisa terjatuh. Demikian pula dalam hidup kita. Ada banyak hal di masa lalu yang tentu bisa menjadi pelajaran bagi kita, baik dalam hal yang baik maupun buruk, tetapi kita harus memastikan jangan sampai masa lalu itu merintangi kita dalam mencapai masa depan yang gemilang. Kenyataannya ada banyak orang yang terbelenggu dengan masa lalunya. Ada juga yang sulit melepaskan kebiasaan-kebiasaan buruk di masa lalu. Akibatnya, mereka yang terus menerus terganggu dengan masa lalu ini sulit untuk bertumbuh dalam mencapai keberhasilan-keberhasilan. Iman mereka pun akan sulit pula mengalami pertumbuhan. Keselamatan yang sudah diberikan Tuhan bisa menguap sia-sia akibat keengganan melepas hal-hal di belakang sana. Kita bisa melihat contoh nyata akan hal itu dari kisah Lot dan keluarganya yang hendak keluar dari kota Sodom yang sebentar lagi akan dimusnahkan Tuhan.
Kita semua ingin menjadi orang-orang yang pintar. Orang tua pun akan berusaha mati-matian agar anaknya mendapatkan pendidikan yang baik setinggi mungkin. Menuntut ilmu sampai setinggi langit tentu menjadi dambaan setiap orang yang ingin sukses, dan benar bahwa itu akan sangat menentukan keberhasilan kita. Tapi sayangnya ada banyak orang yang hanya secara sempit mengasosiasikan keberhasilan hanya mengacu kepada tingkat pendidikan saja. Padahal masalah kerajinan, kedisplinan, semangat berjuang dan sikap pantang menyerah pun merupakan hal yang sangat menentukan sukses tidaknya kita dalam hidup ini. Saya mengenal banyak orang pintar yang memilih untuk malas-malasan, dan akibatnya mereka tidak mengalami kemajuan berarti dalam hidupnya. Sebaliknya saya mengenal pula orang-orang yang kurang beruntung dari segi pendidikan karena ketidakmampuan orangtuanya dahulu, tapi mereka tampil menjadi orang-orang yang berhasil dalam pekerjaan, dalam hidup dan sebagainya karena didukung oleh kegigihan mereka berjuang dari nol.
Sebuah kedipan mata bisa mengandung banyak makna. Kedipan mata sering bisa menjadi sebuah kode atau isyarat akan sesuatu. Bisa juga untuk menggoda teman, bercanda, tetapi juga bisa dipakai untuk hal-hal yang negatif seperti melakukan penipuan. Seorang penjual yang mengedipkan mata untuk 'kongkalikong' dalam menentukan harga, supir yang mengedipkan mata di tempat pengisian bensin agar nilai yang tertera dalam bon dimanipulasi dan sebagainya, itu menjadi hal yang tidaklah sulit untuk kita lihat sehari-hari. Dimana-mana kita bertemu dengan orang-orang yang gemar menipu dalam berbagai bentuk. Lewat sms, online shop yang Tetapi ada berapa banyak orang yang tertipu oleh sms seperti itu? Sms atau telepon yang mengatakan menang undian, pegawai yang menaikkan harga di kwitansi, murid yang bolos dengan mengaku sakit, supir yang mengisi bensin berbeda dengan yang tertera di bon dan sebagainya. Tipu menipu terus hadir dalam berbagai bentuk. Bahkan iklan-iklan lowongan pekerjaan di surat kabar harian pun tidak luput dari para penipu ini. Mereka terus mempergunakan segala cara dalam menjalankan operasinya. Bersepakat berbohong, menipu dan melakukan tipu muslihat sudah ada sejak dahulu dan akan terus ada selama peradaban manusia masih berlanjut.
Tidak semua orang pintar berkata-kata, tidak semua orang mau menjaga perkataan, sikap maupun tindakan. Semua orang rasanya pernah mengalami saat-saat dimana perkataan atau perilaku seseorang bisa terasa menyinggung atau bahkan menyakitkan, baik disengaja maupun tidak. Hal ini bahkan mungkin saja timbul dari orang-orang terdekat kita. Ada kalanya kita tersinggung cukup parah sehingga meininggalkan bekas untuk jangka waktu yang cukup lama, bagai sebuah luka yang meski sudah sembuh namun bercaknya masih terlihat bertahun-tahun setelahnya. Ada yang memang jahat dan sengaja melukai perasaan kita, ada pula yang sebenarnya tidak bermaksud jahat namun kelepasan atau secara tidak sengaja menyakiti hati kita. Manusia adalah mahluk yang tidak terlepas dari kesalahan atau kekhilafan. Kita pun bisa saja secara tidak sengaja menyinggung seseorang bukan? Oleh karenanya jangan arahkan segalanya kepada apa yang dikatakan orang lain. Ingatlah bahwa di atas segalanya, kita harus memusatkan pandangannya kepada Tuhan yang menciptakan dan memelihara kita dengan penuh kasih.