====================
"Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!"
Karena tidak tahan anaknya meminta baju baru, seorang tukang ojek nekad menjadi kurir ganja. Saya membaca berita ini kira-kira setahun lalu di sebuah harian ibukota. Ketika ia tertangkap ia pun menyesali perbuatannya, tetapi semuanya sudah terlambat, karena ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum dan harus mendekam di di dalam penjara. Ini baru satu dari sekian banyak berita yang menunjukkan betapa banyaknya orang yang terjerumus dalam kejahatan karena tidak ingin mengecewakan permintaan anak atau anggota keluarga lainnya. Tidak jarang pula kejahatan itu menjadi sedemikian parahnya sehingga harus menghilangkan nyawa orang lain. Khilaf akan selalu menjadi alasan mereka. Penyesalan akan selalu ada, tetapi konsekuensi jelas harus ditanggung, karena mereka tidak akan pernah bisa kembali ke waktu lalu dan mengubah keputusan mereka untuk melakukan kejahatan. Ada banyak contoh kasus kejahatan yang dimulai dari permintaan atau tuntutan dalam keluarga. Bisa karena terlalu sayang anak/istri sehingga tidak tega menolak, bisa karena terbeban hutang budi, dan sebagainya, dan mereka akan terjebak dalam sebuah tindak kejahatan yang seringkali fatal. Bukan hanya mencuri, namun dalam banyak kasus sampai membunuh karena terdesak dan sebagainya. Bagi teman-teman yang sudah mempunyai anak yang sedang beranjak dewasa anda mungkin sudah sering mendengar rengekan permintaan anak akan banyak hal. Minta blackberry karena semua teman-teman sudah punya, atau takut diejek teman ketinggalan jaman. Kalau sudah beranjak dewasa mereka akan mulai minta dibelikan kendaraan dan sebagainya. Kalau memang mampu memang tidak masalah. Namun bagaimana jika tidak mampu, bagaimana rasanya telinga dan hati merasakannya? Ini sering membuat orang tua menjadi gelap mata dan mengambil keputusan yang salah. Dosa mengintai disana, siap menerkam dan menelan kita, hingga pada suatu ketika kita akan berada pada sebuah situasi dimana penyesalan menjadi tidak lagi ada gunanya.
Ayat bacaan hari ini mencatat kisah tragis dari kematian Yohanes Pembaptis yang dilakukan dengan sangat sadis. Meski Herodes pernah ditegur oleh Yohanes karena mengambil istri saudaranya sendiri, namun dalam hatinya ia tahu Yohanes benar dan suci. Sementara Herodias, istri saudaranya yang ia ambil menaruh dendam akan Yohanes dan berusaha mencari jalan untuk membunuhnya karena merasa sakit hati. Pada suatu kali, anak perempuan Herodias menari dan menghibur tamu-tamu Herodes. Herodes merasa senang sekali sehingga kelepasan memberi janji akan mengabulkan apapun yang ia minta, bahkan setengah dari kerajaannya sekalipun. (Markus 6:22-23). Lalu si anak berdiskusi pada ibunya, dan sang ibu melihat kesempatan emas untuk membunuh Yohanes. Dan inilah yang terjadi. "Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" (ay 25). Karena terlanjur berjanji dan takut malu, Herodes pun dengan terpaksa memerintahkan untuk memenggal kepala Yohanes dan menghadirkannya di atas talam/baki sesuai permintaan. Karena malu jika tidak memenuhi janji kepada seorang gadis kecil, mungkin juga karena cintanya yang begitu dalam akan Herodias, ia pun menghilangkan nyawa Yohanes yang ia tahu tidak bersalah apa-apa.
Bagi teman-teman yang masih remaja, berhati-hatilah dalam meminta. Dalam kondisi ekonomi yang semakin berat ini, permintaan-permintaan yang terlalu berat bagi orang tua bisa menyusahkan hati orang tua bahkan bisa membuat mereka terjerumus jatuh ke dalam dosa. Apakah dengan melakukan korupsi, mencuri, bahkan tindakan kekerasan yang merugikan orang lain dapat terjadi karena mereka tidak tahan mendengar tuntutan anak-anaknya. Tekanan atas tuntutan di luar kemampuan bisa menjerumuskan orang ke dalam jurang dosa yang mematikan. Janganlah karena ingin tampil lebih di hadapan orang, kita kemudian tega mengorbankan orang tua kita sendiri. Jagalah diri kita selalu agar jangan menghambakan uang dan kekayaan, seperti yang diingatkan Paulus. "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:9-10).
Para remaja yang masih tinggal dengan orang tuanya harus mau belajar untuk mampu melihat kondisi orang tuanya. Janganlah terlalu banyak menuntut atau meminta sesuatu yang akhirnya bisa membuat orang tua merasa tertekan, malu atau sedih hatinya. Ada banyak tindak kejahatan dan kekerasan bisa timbul dari sini. Jika orang tua merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi permintaan, mereka suatu saat bisa terdesak dan melakukan tindak kekerasan/kejahatan. Demikian juga antara pasangan suami istri. Istri pun hendaknya bisa mengetahui batas kemampuan suaminya dan tidak menuntut jauh di atas kemampuan suaminya. Pikirkan dulu baik-baik sebelum meminta sesuatu, agar kita tidak menghancurkan hidup orang yang kita sayangi dan orang lain. Herodes mengambil sebuah keputusan yang fatal hanya karena kelepasan bicara dan tidak sanggup menutupi rasa malunya jika menolak. Marilah kita sama-sama belajar agar tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama.
Sebuah permintaan yang tidak pada tempatnya bisa membawa konsekuensi buruk
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Anda bosan atau malah jengkel melihat iklan-iklan yang memotong konsentrasi anda yang tengah mengikuti atau menonton sebuah acara televisi? Meski saya mengerti mengapa iklan di televisi harus ada, tetapi saya pun sering terganggu ketika tiba-tiba iklan mengganti apa yang terjadi di layar kaca. Semakin tinggi rating sebuah acara, semakin banyak pula iklan yang berseliweran disana. Sembari menanti, saya pun sering memperhatikan iklan-iklan yang ditayangkan. Bukan atas produknya, melainkan apa yang digambarkan atau ditawarkan oleh produk-produk tersebut seperti yang ditampilkan oleh masing-masing iklan. Selain untuk menawarkan kemudahan, kelebihan dan keandalan produk, sebuah iklan juga kerap menawarkan kebahagiaan. Lihatlah iklan yang menampilkan puluhan orang bernyanyi dan menari, deretan gigi-gigi putih bersih, wajah yang begitu bahagia seolah masalah hidup akan sirna semuanya hanya dengan memiliki produk yang diiklankan. Logika manusia memang sepertinya begitu. Siapa sih yang tidak senang kalau punya kemampuan membeli yang lebih dari cukup, dan mampu memiliki produk-produk yang punya kelebihan dan memberi banyak kemudahan dalam hidup? Tapi nyatanya tidaklah demikian. Begitu banyak orang yang kemampuan finansialnya lebih dari cukup, namun kehidupannya jauh dari bahagia. Saya menyaksikan sendiri beberapa orang yang saya kenal hidup dengan harta berlimpah dan berlebih tapi tidak bahagia. Orang yang melihat kekayaan mereka mungkin berpikir akan sangat bahagia jika memiliki setengah saja dari apa yang mereka punya, tapi semua itu nyatanya tidak mendatangkan rasa bahagia sama sekali bagi pemiliknya. Foya-foya, pesta pora, keliling dunia sekalipun seringkali hanya membawa kebahagiaan instan yang sangat singkat umurnya. Kebahagiaan langsung hilang begitu semuanya selesai. Kekayaan tidak serta merta menjamin keluarga yang rukun, damai dan penuh kasih. Banyak keluarga kaya hidupnya berantakan dan penuh masalah. Terus berusaha untuk hidup lebih baik tentu penting, tetapi kita tidak boleh menggantungkan hidup atas kekayaan dan menganggap bahwa kekayaan adalah segalanya. Harta boleh ada tetapi itu belum tentu menjamin kebahagiaan.
Fungsi sebuah materai dalam urusan legalitas cukup penting. Dalam pekerjaan saya berurusan dengan banyak Memorandum of Understanding (MOU) dan surat-surat perjanjian kesepakatan lainnya yang wajib dilengkapi dengan materai agar memiliki kekuatan hukum. Sebuah surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 1 juta rupiah atau dengan mata uang lainnya dengan jumlah minimal yang sama memerlukan materai. Apakah surat itu menyebutkan penerimaan uang, penyimpanan atau pembukuan uang, akta yang dibuat oleh notaris atau juga surat pengakuan hutang/piutang, jika informasinya melebihi total dengan nominal di atas jelas memerlukan materai. Terutama apabila surat tersebut nantinya dipergunakan sebagai alat bukti di pengadilan, surat haruslah dilunasi dulu bea materainya. Biasanya surat perjanjian di buat dalam dua versi. Yang satu ditandatangani pihak pertama di atas materai, kemudian yang satu lagi oleh pihak kedua. Tanpa adanya materai surat-surat itu tidak akan punya kekuatan hukum dan tidak bisa dipakai sebagai alat bukti apabila terjadi sengketa antara pihak pertama dan kedua.
Masa secara garis besar dibagi atas tiga rentang waktu yaitu masa lalu (past), masa kini (present) dan masa yang akan datang (future). Atau bisa juga kita bagi dengan kemarin (yesterday), hari ini (today) dan besok (tomorrow). Kita tidak bisa mengulang masa lalu. Sekali waktu berjalan, waktu di belakangnya tidak lagi bisa kita utak atik. Kita tidak bisa memutar balik jam untuk kembali ke masa lalu. What's done is done. Begitu kata orang di luar sana, dan memang seperti itulah adanya. We can never turn back the clock and repeat something that has happened in the past. Sementara untuk masa depan, tidak satupun kita yang bisa tahu pasti apa yang akan terjadi disana. Kita hanya bisa memprediksi, tetapi tidak akan pernah mengetahuinya. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi sedetik lagi. Satu-satunya masa yang bisa kita isi dengan melakukan yang terbaik adalah saat ini. Today, at present time, right now, the very hour, minutes or seconds we are passing by. Kita tidak bisa mundur ke waktu yang sudah berlalu dan memperbaikinya, tetapi kita bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat di masa lalu dengan perubahan ke arah yang lebih baik yang kita lakukan hari ini. Dan apa yang kita putuskan hari ini akan sangat mempengaruhi seperti apa kita kelak di masa depan.
Ada banyak orang yang tadinya baik-baik tetapi kemudian terjerumus ke dalam berbagai bentuk kejahatan karena ikut-ikutan temannya. Mereka terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang buruk dan ikut terseret ke dalam kesesatan. Kita sering mendengar orang-orang yang ketika di tangkap mengaku bahwa mereka hanya ikut-ikutan saja. Tetapi sayangnya seringkali justru mereka inilah yang lebih sering tertangkap dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum ketimbang orang-orang yang memang dengan sengaja menjerumuskan atau otak yang merencanakan sejak semula. Maka kita kerap mendengar orang yang menjadi rusak karena pergaulan yang salah. Tadinya orang itu hidup baik, namun ketika masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang salah mereka terjerumus ikut-ikutan masuk ke dalam dosa. Awalnya mungkin bisa berkata tidak, namun lambat laun apa yang kita ketahui sebagai dosa itu akan mulai terlihat biasa-biasa saja, lalu kita pun mulai memberi toleransi. Yang terjadi selanjutnya, orang yang tadinya baik bisa berubah menjadi sosok baru yang tidak lagi peka terhadap dosa.
Saya menanam sebuah pohon kamboja atau samoja, pohon yang bunganya biasanya dipakai untuk upacara-upacara keagamaan di Bali. Pohon ini memiliki bunga yang sangat khas baik bentuknya yang indah maupun wanginya. Di luar sana bunga ini disebut dengan Frangipangi. Aroma bunga ini pun sering dijadikan aromaterapi seperti yang bisa kita jumpai dalam banyak produk dengan berbagai bentuk. Pohon ini sempat tidak bereaksi apa-apa selama berbulan-bulan. Tidak ada apapun yang tumbuh, hanya batang yang botak tanpa memperlihatkan adanya gejala kehidupan sama sekali. Saya tidak tahu apakah pohon itu masih hidup atau tidak. Tapi saya merasa sayang untuk membuangnya dan membiarkan pohon itu terus di tempat meski terlihat seperti mati. Setelah beberapa bulan, dari pohon itu mulai muncul tunas dan daun. Untunglah saya belum membuangnya. Hari ini pohon itu tumbuh dengan suburnya penuh dengan bunga yang sangat cantik dan wangi. Apa yang terjadi pada pohon ini mengingatkan sebuah gambaran kehidupan baru yang lahir dari sesuatu yang sudah mati.
Seberapa pentingkah berjaga-jaga bagi kita? Ada banyak orang yang merasa masih terlalu muda untuk itu. Ada yang menganggap bahwa belum saatnya untuk hidup kudus, selagi masih muda, waktu yang ada sebaiknya dipakai untuk bersenang sepuas-puasnya. Urusan hidup kudus adalah urusan orang dewasa atau tua yang secara umum punya waktu yang lebih singkat dibandingkan anak-anak muda. Tapi sesungguhnya tidak seperti itu. Tidak ada yang tahu kapan waktu kita tiba. Bisa puluhan tahun lagi, bisa setahun lagi, bisa sejam, semenit bahkan bisa pula sedetik lagi. Itu adalah rahasia Tuhan yang tidak akan pernah bisa kita ketahui dengan pasti. Jika anda berada di lingkungan yang rawan bahaya, anda tentu akan berjalan lebih waspada. Anda tentu akan berjaga-jaga lebih dari biasanya. Seperti itu pula seharusnya kita berpikir dalam menjalani kehidupan, karena dunia hari ini adalah dunia yang jahat yang penuh dengan godaan dan ancaman dari berbagai arah.