Monday, November 7, 2011

Meminta Tidak Pada Tempatnya

Ayat bacaan: Markus 6:25
====================
"Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!"

meminta tidak pada tempatnyaKarena tidak tahan anaknya meminta baju baru, seorang tukang ojek nekad menjadi kurir ganja. Saya membaca berita ini kira-kira setahun lalu di sebuah harian ibukota. Ketika ia tertangkap ia pun menyesali perbuatannya, tetapi semuanya sudah terlambat, karena ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum dan harus mendekam di di dalam penjara. Ini baru satu dari sekian banyak berita yang menunjukkan betapa banyaknya orang yang terjerumus dalam kejahatan karena tidak ingin mengecewakan permintaan anak atau anggota keluarga lainnya. Tidak jarang pula kejahatan itu menjadi sedemikian parahnya sehingga harus menghilangkan nyawa orang lain. Khilaf akan selalu menjadi alasan mereka. Penyesalan akan selalu ada, tetapi konsekuensi jelas harus ditanggung, karena mereka tidak akan pernah bisa kembali ke waktu lalu dan mengubah keputusan mereka untuk melakukan kejahatan. Ada banyak contoh kasus kejahatan yang dimulai dari permintaan atau tuntutan dalam keluarga. Bisa karena terlalu sayang anak/istri sehingga tidak tega menolak, bisa karena terbeban hutang budi, dan sebagainya, dan mereka akan terjebak dalam sebuah tindak kejahatan yang seringkali fatal. Bukan hanya mencuri, namun dalam banyak kasus sampai membunuh karena terdesak dan sebagainya.

Bagi teman-teman yang sudah mempunyai anak yang sedang beranjak dewasa anda mungkin sudah sering mendengar rengekan permintaan anak akan banyak hal. Minta blackberry karena semua teman-teman sudah punya, atau takut diejek teman ketinggalan jaman. Kalau sudah beranjak dewasa mereka akan mulai minta dibelikan kendaraan dan sebagainya. Kalau memang mampu memang tidak masalah. Namun bagaimana jika tidak mampu, bagaimana rasanya telinga dan hati merasakannya? Ini sering membuat orang tua menjadi gelap mata dan mengambil keputusan yang salah. Dosa mengintai disana, siap menerkam dan menelan kita, hingga pada suatu ketika kita akan berada pada sebuah situasi dimana penyesalan menjadi tidak lagi ada gunanya.

Ayat bacaan hari ini mencatat kisah tragis dari kematian Yohanes Pembaptis yang dilakukan dengan sangat sadis. Meski Herodes pernah ditegur oleh Yohanes karena mengambil istri saudaranya sendiri, namun dalam hatinya ia tahu Yohanes benar dan suci. Sementara Herodias, istri saudaranya yang ia ambil menaruh dendam akan Yohanes dan berusaha mencari jalan untuk membunuhnya karena merasa sakit hati. Pada suatu kali, anak perempuan Herodias menari dan menghibur tamu-tamu Herodes. Herodes merasa senang sekali sehingga kelepasan memberi janji akan mengabulkan apapun yang ia minta, bahkan setengah dari kerajaannya sekalipun. (Markus 6:22-23). Lalu si anak berdiskusi pada ibunya, dan sang ibu melihat kesempatan emas untuk membunuh Yohanes. Dan inilah yang terjadi. "Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" (ay 25). Karena terlanjur berjanji dan takut malu, Herodes pun dengan terpaksa memerintahkan untuk memenggal kepala Yohanes dan menghadirkannya di atas talam/baki sesuai permintaan. Karena malu jika tidak memenuhi janji kepada seorang gadis kecil, mungkin juga karena cintanya yang begitu dalam akan Herodias, ia pun menghilangkan nyawa Yohanes yang ia tahu tidak bersalah apa-apa.

Bagi teman-teman yang masih remaja, berhati-hatilah dalam meminta. Dalam kondisi ekonomi yang semakin berat ini, permintaan-permintaan yang terlalu berat bagi orang tua bisa menyusahkan hati orang tua bahkan bisa membuat mereka terjerumus jatuh ke dalam dosa. Apakah dengan melakukan korupsi, mencuri, bahkan tindakan kekerasan yang merugikan orang lain dapat terjadi karena mereka tidak tahan mendengar tuntutan anak-anaknya. Tekanan atas tuntutan di luar kemampuan bisa menjerumuskan orang ke dalam jurang dosa yang mematikan. Janganlah karena ingin tampil lebih di hadapan orang, kita kemudian tega mengorbankan orang tua kita sendiri. Jagalah diri kita selalu agar jangan menghambakan uang dan kekayaan, seperti yang diingatkan Paulus. "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:9-10).

Para remaja yang masih tinggal dengan orang tuanya harus mau belajar untuk mampu melihat kondisi orang tuanya. Janganlah terlalu banyak menuntut atau meminta sesuatu yang akhirnya bisa membuat orang tua merasa tertekan, malu atau sedih hatinya. Ada banyak tindak kejahatan dan kekerasan bisa timbul dari sini. Jika orang tua merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi permintaan, mereka suatu saat bisa terdesak dan melakukan tindak kekerasan/kejahatan. Demikian juga antara pasangan suami istri. Istri pun hendaknya bisa mengetahui batas kemampuan suaminya dan tidak menuntut jauh di atas kemampuan suaminya. Pikirkan dulu baik-baik sebelum meminta sesuatu, agar kita tidak menghancurkan hidup orang yang kita sayangi dan orang lain. Herodes mengambil sebuah keputusan yang fatal hanya karena kelepasan bicara dan tidak sanggup menutupi rasa malunya jika menolak. Marilah kita sama-sama belajar agar tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama.

Sebuah permintaan yang tidak pada tempatnya bisa membawa konsekuensi buruk

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, November 6, 2011

Kuasa Untuk Menikmati

Ayat bacaan: Pengkhotbah 6:1-2
=========================
"Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit."

kuasa menikmatiAnda bosan atau malah jengkel melihat iklan-iklan yang memotong konsentrasi anda yang tengah mengikuti atau menonton sebuah acara televisi? Meski saya mengerti mengapa iklan di televisi harus ada, tetapi saya pun sering terganggu ketika tiba-tiba iklan mengganti apa yang terjadi di layar kaca. Semakin tinggi rating sebuah acara, semakin banyak pula iklan yang berseliweran disana. Sembari menanti, saya pun sering memperhatikan iklan-iklan yang ditayangkan. Bukan atas produknya, melainkan apa yang digambarkan atau ditawarkan oleh produk-produk tersebut seperti yang ditampilkan oleh masing-masing iklan. Selain untuk menawarkan kemudahan, kelebihan dan keandalan produk, sebuah iklan juga kerap menawarkan kebahagiaan. Lihatlah iklan yang menampilkan puluhan orang bernyanyi dan menari, deretan gigi-gigi putih bersih, wajah yang begitu bahagia seolah masalah hidup akan sirna semuanya hanya dengan memiliki produk yang diiklankan. Logika manusia memang sepertinya begitu. Siapa sih yang tidak senang kalau punya kemampuan membeli yang lebih dari cukup, dan mampu memiliki produk-produk yang punya kelebihan dan memberi banyak kemudahan dalam hidup? Tapi nyatanya tidaklah demikian. Begitu banyak orang yang kemampuan finansialnya lebih dari cukup, namun kehidupannya jauh dari bahagia. Saya menyaksikan sendiri beberapa orang yang saya kenal hidup dengan harta berlimpah dan berlebih tapi tidak bahagia. Orang yang melihat kekayaan mereka mungkin berpikir akan sangat bahagia jika memiliki setengah saja dari apa yang mereka punya, tapi semua itu nyatanya tidak mendatangkan rasa bahagia sama sekali bagi pemiliknya. Foya-foya, pesta pora, keliling dunia sekalipun seringkali hanya membawa kebahagiaan instan yang sangat singkat umurnya. Kebahagiaan langsung hilang begitu semuanya selesai. Kekayaan tidak serta merta menjamin keluarga yang rukun, damai dan penuh kasih. Banyak keluarga kaya hidupnya berantakan dan penuh masalah. Terus berusaha untuk hidup lebih baik tentu penting, tetapi kita tidak boleh menggantungkan hidup atas kekayaan dan menganggap bahwa kekayaan adalah segalanya. Harta boleh ada tetapi itu belum tentu menjamin kebahagiaan.

Bagaimana mungkin harta berlimpah tetapi orang yang memilikinya belum tentu terjamin kebahagiaannya? Sesungguhnya Alkitab sudah menyampaikan hal itu sejak dahulu kala. Manusia terus berusaha menjadi kaya namun melupakan satu hal yang teramat sangat penting, bahwa kuasa menikmati pun sangatlah kita perlukan. Ini bahkan lebih penting daripada harta, karena jika ini tidak kita miliki maka kita tidak akan bisa menikmati berkat-berkat dalam hidup kita, tak peduli seberapa berlimpahnya harta itu ada pada kita. Itulah sebabnya ada orang-orang yang sangat kaya raya tetapi hidupnya tidak bahagia, karena mereka tidak memperoleh kuasa untuk menikmatinya. Sebaliknya ada orang-orang yang pendapatannya biasa-biasa saja, hanya secukupnya dari hari ke hari, tetapi mereka masih bisa bersyukur dan merasakan kebahagiaan yang indah bersama keluarganya. Jadi kita butuh kuasa untuk menikmati. Dari mana kuasa itu bisa diperoleh? Tentu saja, dari Tuhan.

Perhatikanlah ayat berikut ini: "Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit." (Pengkhotbah 6:1-2). Jika kita heran bagaimana banyak orang yang sungguh kaya raya, tapi tidak bisa menikmati kekayaannya, maka itu terjawab pada ayat bacaan hari ini. Ternyata kemampuan untuk menikmati kekayaan pun berasal dari karunia Tuhan juga. Ketika motivasi kita beralih dari mengasihi Tuhan dan membagi berkat buat sesama yang membutuhkan kepada menimbun harta sebanyak-banyaknya tanpa pernah merasa cukup, ketika kita mulai mengorbankan waktu kita bersama Allah dan mulai fokus mencari uang sebanyak-banyaknya, pada saat itu pula kita mulai meninggalkan Tuhan. Semakin jauh hal itu terjadi, semakin jauh pula karunia-karunia pergi meninggalkan kita, termasuk karunia untuk menikmati apa yang telah kita miliki. Padahal karunia menikmati adalah hal paling mendasar yang dapat membuat kita merasa bahagia. Di saat itu lah kita akan merasa bahwa apa yang kita kumpulkan ternyata sia-sia adanya tanpa kehadiran karunia untuk menikmati. Betapa malangnya, betapa menyedihkan. Itulah yang disorot oleh Pengkotbah dan ia pun mengingatkan kita agar jangan terjatuh dalam lubang yang sama.

Selanjutnya lihat pula ayat berikut ini: "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." (Pengkotbah 5:19). Kekayaan, harta benda atau berkat-berkat jasmani itu merupakan karunia Allah yang patut disyukuri, demikian pula kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagian dan bisa bersukacita menikmati hasil jerih payah, itu pun merupakan karunia Allah pula. Ayat ini pun berbicara jelas akan kuasa untuk menikmati sebagai karunia dari Tuhan yang tidak boleh kita abaikan atau lupakan. Jika Pengkotbah mengangkat pesan ini beberapa kali tentulah hal ini sangat penting. Apa yang dituliskan Pengkotbah ini adalah hasil pengalaman atau kesaksiannya sendiri yang ia tulis dari sebuah perenungan panjang. Kita hendaknya bisa belajar dari apa yang telah ia alami dan tuliskan, karena sang Pengkotbah pun menuliskan itu agar menjadi sebuah pelajaran bagi kita untuk tidak melupakan bahwa ada yang namanya kuasa untuk menikmati yang berasal dari Allah. Inilah yang memampukan kita untuk bisa menikmati setiap hasil jerih payah kita dengan bersukacita. Dan itu tidak tergantung dari besaran harta yang kita miliki, melainkan dari sejauh mana kedekatan, kesetiaan dan ketaatan kita kepada Tuhan, Sang Pemberi baik berkat berbentuk fisik, kesehatan maupun sebuah kesempatan bagi kita untuk menikmati berkat-berkatNya.

Benar, Tuhan sanggup menyediakan segalanya buat kita, dan semua itu diberikan kepada orang yang sungguh-sungguh mengasihiNya. "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Tetapi apalah gunanya itu semua jika tidak disertai dengan karunia untuk bisa menikmatinya? Tidak ada gunanya bagi kita untuk terus fokus hanya kepada mencari harta tanpa memikirkan pentingnya sebuah karunia untuk menikmati. Semua akan sia-sia saja tanpa itu. Karena itu, hendaklah kita bijaksana untuk hidup dalam ketaatan penuh kepada Tuhan, mengasihiNya sepenuh hati, memiliki hidup yang berakar di dalam Tuhan. Membuang hubungan dengan Tuhan tidak saja menghalangi berkat Tuhan tercurah buat kita, tapi juga membuat kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh karunia untuk menikmati. Jangan sampai terlambat, mari kita periksa diri kita masing-masing. Apakah kita telah mengucap syukur dan puas terhadap segala sesuatu yang telah kita miliki? Apakah kita masih saja selalu merasa kekurangan? Apakah kita saat ini bisa menikmati hasil kerja kita atau semua itu masih saja tidak membuat kita bahagia? Jika ini yang terjadi, sekarang waktunya untuk kembali berpaling kepada Tuhan yang selalu merindukan kita. Banyak atau sedikit tidak masalah, yang penting kita bisa bersukacita dan bersyukur dalam menikmati setiap berkat yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Kemampuan untuk menikmati, itupun merupakan karunia Allah yang penting untuk kita miliki

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, November 5, 2011

Materai

Ayat bacaan: Wahyu 7:3
===================
"katanya: "Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!"

materaiFungsi sebuah materai dalam urusan legalitas cukup penting. Dalam pekerjaan saya berurusan dengan banyak Memorandum of Understanding (MOU) dan surat-surat perjanjian kesepakatan lainnya yang wajib dilengkapi dengan materai agar memiliki kekuatan hukum. Sebuah surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 1 juta rupiah atau dengan mata uang lainnya dengan jumlah minimal yang sama memerlukan materai. Apakah surat itu menyebutkan penerimaan uang, penyimpanan atau pembukuan uang, akta yang dibuat oleh notaris atau juga surat pengakuan hutang/piutang, jika informasinya melebihi total dengan nominal di atas jelas memerlukan materai. Terutama apabila surat tersebut nantinya dipergunakan sebagai alat bukti di pengadilan, surat haruslah dilunasi dulu bea materainya. Biasanya surat perjanjian di buat dalam dua versi. Yang satu ditandatangani pihak pertama di atas materai, kemudian yang satu lagi oleh pihak kedua. Tanpa adanya materai surat-surat itu tidak akan punya kekuatan hukum dan tidak bisa dipakai sebagai alat bukti apabila terjadi sengketa antara pihak pertama dan kedua.

Tidak hanya bagi kita, Tuhan pun ternyata menganggap penting fungsi materai. Di dalam Alkitab materai berbicara mengenai tanda kepemilikan dan juga mengenai perlindungan. Mari kita lihat ayat ini: "katanya: "Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!" (Wahyu 7:3). Ayat ini menyatakan bahwa penghukuman Allah baru akan dilaksanakan setelah malaikat memberikan tanda materai pada dahi semua suku keturunan Israel termasuk kita, Israel secara rohani. Dalam kitab Perjanjian Lama kita diingatkan tentang tanda darah yang harus dioleskan pada ambang atas dan kedua tiang pintu sebelum malaikat Allah mengambil nyawa setiap anak sulung, baik manusia maupun hewan. Kisah ini kita jumpai pada masa bangsa Israel ada di bawah pimpinan Musa. Dan dengan demikian tulah tidak akan terkena pada pintu-pintu yang ditandai dengan darah dari seekor anak domba jantan. "Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir." (Keluaran 12:13). Hal ini berbicara mengenai perlindungan Allah kepada umatNya.

Hari-hari ini dunia dilanda kecemasan dari berbagai hal. Kondisi carut marut kita alami baik dari segi ekonomi, politik, keamanan, isu-isu rasialisme dan penindasan minoritas, terorisme, kekerasan bahkan pembunuhan sadis jika berbeda keyakinan dan sebagainya. Negara yang sangat lemah dalam melindungi warganya dan hanya mementingkan golongan tertentu saja membuat situasi semakin runyam. Kecemasan, kegelisahan bahkan ketakutan akan mudah memenuhi hati dan pikiran kita ditengah kehidupan seperti sekarang ini. Tetapi lihatlah bahwa Tuhan telah memberikan anda materai yang menjadi tanda jaminan bagi Allah untuk mengenali milikNya. Tidak hanya sebagai tanda untuk dikenali, tetapi juga sebagai jaminan yang memiliki kekuatan hukum di mata Tuhan. Ini sebuah tanda yang menjamin kita sebagai anak-anakNya yang berhak menerima segala sesuatu yang telah Dia janjikan sejak semula. Lihat apa yang tertulis pada Efesus 1:13-14 berikut ini: "Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimateraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya." Bukan sekedar materai seharga sekian ribu seperti yang kita butuhkan dalam surat-surat, tetapi secara istimewa kita dimateraikan dengan Roh Kudus. Ini memberi jaminan yang sangat kuat pada kita akan perlindungan, pertolongan hingga keselamatan yang kekal kelak di dalam KerajaanNya.

Sebuah materai dari Tuhan menunjukkan kepemilikan Allah atas kita lengkap dengan janji pemeliharaan dan perlindunganNya. Allah akan selalu melindungi anda beserta keluarga anda. Dalam keadaan dunia seperti apapun, kondisi ekonomi, politik dan keamanan yang hanya memihak satu golongan dan sangat lemah dibanding segala bentuk teror yang terus menghujam negeri ini secara terang-terangan, lingkungan yang tidak sehat, atau jika anda berada di tengah orang-orang yang setiap saat bisa mempengaruhi anda pada dosa, ingatlah bahwa Tuhan telah memberikan tanda di diri anda untuk dilindungi. Serahkanlah segala permasalahan, diri anda dan keluarga anda ke dalam tangan Tuhan, karena Dia mampu menjaga kita semua. Walaupun kita hidup bercampur dengan orang lain yang mungkin memberi pengaruh buruk atau menyebabkan kekhawatiran dalam hidup, yakinlah bahwa Tuhan mampu membedakan kita dari mereka. Ada materai Allah dalam diri kita, yang tidak hanya menjadi tanda kepemilikan dari Allah tapi juga sebagai sebuah jaminan perlindungan dariNya.

Allah telah memateraikan kita dengan Roh Kudus untuk menjamin perlindunganNya turun atas kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, November 4, 2011

Hari Ini

Ayat bacaaan: Ibrani 3:13
==================
"Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa."

sekarang, hari iniMasa secara garis besar dibagi atas tiga rentang waktu yaitu masa lalu (past), masa kini (present) dan masa yang akan datang (future). Atau bisa juga kita bagi dengan kemarin (yesterday), hari ini (today) dan besok (tomorrow). Kita tidak bisa mengulang masa lalu. Sekali waktu berjalan, waktu di belakangnya tidak lagi bisa kita utak atik. Kita tidak bisa memutar balik jam untuk kembali ke masa lalu. What's done is done. Begitu kata orang di luar sana, dan memang seperti itulah adanya. We can never turn back the clock and repeat something that has happened in the past. Sementara untuk masa depan, tidak satupun kita yang bisa tahu pasti apa yang akan terjadi disana. Kita hanya bisa memprediksi, tetapi tidak akan pernah mengetahuinya. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi sedetik lagi. Satu-satunya masa yang bisa kita isi dengan melakukan yang terbaik adalah saat ini. Today, at present time, right now, the very hour, minutes or seconds we are passing by. Kita tidak bisa mundur ke waktu yang sudah berlalu dan memperbaikinya, tetapi kita bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat di masa lalu dengan perubahan ke arah yang lebih baik yang kita lakukan hari ini. Dan apa yang kita putuskan hari ini akan sangat mempengaruhi seperti apa kita kelak di masa depan.

Waktu saat ini yang sedang kita jalani sangatlah penting dan menentukan arah kemana kita akan menuju. Firman Tuhan yang saya pakai sebagai ayat bacaan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya memperhatikan baik-baik segala sesuatu yang sedang kita jalani  sekarang. "Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa." (Ibrani 3:13). Betapa pentingnya pesan ini yang mengingatkan kita agar tidak menutup mata ketika melihat ada orang-orang yang masih sesat, termasuk pula untuk diri sendiri. Kita tidak boleh menutup mata terhadap diri kita sendiri dengan terus memberi toleransi kepada dosa untuk terus menggerogoti kita. Di satu sisi kita perlu mengingatkan orang yang tersesat, disisi lain kita sendiri pun pasti masih membutuhkan nasihat, teguran atau peringatan dari orang lain yang dekat dengan kita. Jika mereka menutup mata dan membiarkan kita tersesat, bukankah kita sendiri yang rugi? Begitu pula saudara-saudari kita yang masih melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan membutuhkan orang yang mau mengingatkan mereka, dan itu menjadi tugas kita. Sebuah panggilan untuk menjadi terang dan garam bukan saja berarti bahwa kita harus berbuat baik dalam hidup kita, tetapi termasuk pula di dalamnya untuk menerapkan prinsip "saling", saling mengingatkan, saling menasihati dan saling mendukung atau membantu.

Perhatikanlah bahwa Penulis Ibrani menekankan kata "HARI INI". Mengapa sang Penulis memberi penekanan pada kata itu? Jawabannya jelas, karena kita semua tidak akan pernah tahu kapan waktu dan kesempatan kita berakhir. Bisa puluhan tahun lagi, bisa beberapa tahun lagi, beberapa bulan, beberapa hari, atau bahkan bukan tidak mungkin pula ini hari terakhir kita di muka bumi. Pemazmur mengakui dan berkata "Masa hidupku ada dalam tangan-Mu." (Mazmur 31:16). Panjang pendeknya usia kita memang ada dalam tangan Tuhan. Menyia-nyiakan waktu yang masih ada untuk membawa yang sesat kembali ke jalan Tuhan akan membuat kita melewatkan sebuah kesempatan untuk memenuhi tugas sesuai panggilan kita di bumi ini. HARI INI mungkin merupakan kesempatan terakhir kita untuk memperoleh pengampunan Tuhan, atau jika kita sudah berjalan sesuai dengan kehendakNya, hari ini bisa menjadi kesempatan terakhir kita untuk membagikan kasih dan keselamatan yang telah dihadiahkan Tuhan kepada saudara-saudari kita, orang-orang terdekat dan yang kita kasihi. Dan keputusan ada di tangan kita.

Ada banyak alasan yang bisa kita kemukakan untuk menghindari seruan Tuhan ini. Mungkin kita merasa segan, merasa tidak cukup bisa, tidak berani, tidak tahu caranya atau merasa itu bukan tugas kita. Rasa individualisme dan ego manusia semakin lama semakin menebal. Untuk menolong orang yang jelas-jelas menangis di depan kita saja sudah semakin sulit, apalagi untuk mengingatkan orang yang masih berada dalam situasi tersesat. Di sekeliling kita ada banyak orang yang masih tenggelam dalam jerat-jerat dosa. Waktu mereka sama seperti kita, tidak ada satupun dari kita yang tahu kapan pastinya kita dipanggil pulang. Kita cenderung menunggu sampai orang lain yang menghampiri dan mengingatkan mereka, kita cenderung berdiam diri, tetapi tidakkah kita sadari bahwa kita pun sebenarnya bisa melakukan sesuatu untuk itu?

Tuhan Yesus sendiri sebenarnya telah mengingatkan agar kita bisa menghargai waktu yang ada dan memakainya semaksimal mungkin untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah dibebankan kepada kita. "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (Yohanes 9:4). Ada waktu dimana kita tidak lagi bisa melakukan apa-apa, oleh karena itulah kita harus bisa mempergunakan waktu dengan semaksimal mungkin. Yakobus juga mengingatkan kita akan singkatnya masa hidup kita. "sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap." (Yakobus 4:14). Musa menyadari betul akan hal itu, sehingga ia berkata dalam doanya: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12).

Jika ada kesempatan yang masih diberikan Tuhan hari ini, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk menasihati orang lain, marilah kita mempergunakan waktu dan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan, jangan tunda lagi. Mari kita periksa diri kita lalu memperhatikan orang-orang di sekeliling kita. Bukan besok, bukan nanti, bukan kapan-kapan, tetapi mulailah lakukan hari ini juga, karena tidak ada satupun dari kita yang tahu apa yang akan terjadi esok.

Hargai waktu yang diberikan Tuhan dengan memanfaatkannya semaksimal mungkin

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, November 3, 2011

Cuma Ikut-ikutan

Ayat bacaan: Amsal 1:10
====================
"Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut"

ikut-ikutanAda banyak orang yang tadinya baik-baik tetapi kemudian terjerumus ke dalam berbagai bentuk kejahatan karena ikut-ikutan temannya. Mereka terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang buruk dan ikut terseret ke dalam kesesatan. Kita sering mendengar orang-orang yang ketika di tangkap mengaku bahwa mereka hanya ikut-ikutan saja. Tetapi sayangnya seringkali justru mereka inilah yang lebih sering tertangkap dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum ketimbang orang-orang yang memang dengan sengaja menjerumuskan atau otak yang merencanakan sejak semula. Maka kita kerap mendengar orang yang menjadi rusak karena pergaulan yang salah. Tadinya orang itu hidup baik, namun ketika masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang salah mereka terjerumus ikut-ikutan masuk ke dalam dosa. Awalnya mungkin bisa berkata tidak, namun lambat laun apa yang kita ketahui sebagai dosa itu akan mulai terlihat biasa-biasa saja, lalu kita pun mulai memberi toleransi. Yang terjadi selanjutnya, orang yang tadinya baik bisa berubah menjadi sosok baru yang tidak lagi peka terhadap dosa.

Hal seperti ini sering terjadi dalam hidup kita. Hidup di dunia yang penuh dengan keinginan-keinginan daging yang dikejar oleh orang-orang yang tidak takut akan Tuhan tidaklah mudah. Mereka ada di sekitar kita, terus menawarkan sesuatu yang sepintas terlihat menyenangkan, nikmat dan indah, namun ada banyak kejahatan di mata Tuhan yang mengintip di baliknya. Jika tidak mawas diri maka kita pun bisa terjerumus ke dalamnya, lalu lupa akibat atau konsekuensi yang harus kita tanggung ketika dosa-dosa itu menguasai kita. Sebuah lingkungan pertemanan yang tidak sehat seringkali menjerumuskan orang ke dalam dosa. Konsekuensinya kelak harus kita tanggung, dan penyesalan biasanya datang terlambat. Apakah ini berarti kita tidak boleh membuka diri seluas-luasnya untuk berteman dengan banyak orang? Tentu saja bukan demikian. Kita tidak dilarang untuk berteman dengan orang lain, hanya saja kita harus memperhatikan benar dengan siapa kita menjalin hubungan pertemanan karena tidak peduli sekuat apapun iman kita, ketika kita terus menerus memberi toleransi akan dosa maka cepat atau lambat kita bisa terpengaruh lalu menuruti bujukan-bujukan mereka.

Sejak dahulu kala Salomo sudah mengingatkan akan hal ini. "Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut." (Amsal 1:10). Ini sebuah pesan yang sangat penting. Salomo dengan hikmatnya sudah bisa melihat kecenderungan manusia yang gampang termakan bujukan untuk berbuat dosa. Orang-orang berdosa akan selalu mencari orang lain untuk mengikuti gaya hidup mereka yang salah. Dan kita kerap menuruti mereka dengan didasari banyak alasan. Takut dianggap ketinggalan jaman alias kampungan atau kuno, gengsi atau segan jika menolak, takut dikucilkan dari pergaulan dan sebagainya bisa menjadi awal kejatuhan kita.

Dalam begitu banyak ayat Firman Tuhan telah mengingatkan betapa berbahayanya bermain-main dengan dosa. Mungkin semua berawal dengan sederhana lewat keinginan-keinginan daging yang ditawarkan oleh orang-orang berdosa. Mungkin awalnya hanya coba-coba, mungkin hanya ingin tahu dan alasan lainnya, tetapi ingatlah bahwa meski terlihat sepele hal seperti ini bisa menjadi awal hadirnya masalah. Yakobus menyampaikan gambaran betapa berbahayanya ketika kita mulai bertoleransi dengan dosa. "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:15). Berawal hanya dari keinginan, kemudian ketika dibuahi itu akanmelahirkan dosa. Dan ketika dosa menjadi matang dalam diri kita maka itu akan berujung pada maut. Ini adalah hal yang sangat serius yang harus kita perhatikan mengingat kita hidup di dunia yang dipenuhi orang-orang yang siap menyesatkan kita. Mereka akan terus menawarkan banyak kenikmatan yang sangat dirindukan oleh daging kita. Itulah sebabnya kita benar-benar harus berhati-hati dalam lingkungan pergaulan kita. Adalah baik apabila kita bisa menjadi pengaruh yang baik di tengah lingkungan yang buruk, membawa mereka masuk dalam pertobatan dan berbalik dari jalan-jalan yang jahat, tetapi kita harus berhati-hati agar jangan sampai bukannya menjadi terang dan garam tetapi malah kita yang terseret arus kejahatan.

Seperti apa saja bentuknya keinginan-keinginan yang bisa berbuah dosa dan melahirkan maut itu? Paulus sudah merincinya. "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya." (Galatia 5:19-21a). Dan terhadap pelaku dari semua itu tidak akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan Allah. (ay 21b). Lihatlah poin-poin keinginan yang bisa melahirkan maut itu. Bukankah itu bukan lagi hal yang asing bagi kita hari ini? Dimana-mana ada potensi penyesatan, dan apabila tidak hati-hati maka kita pun akan terjerumus kedalamnya.

Alkitab telah mengingatkan kita agar berhati-hati dalam bergaul. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33). Kita harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh kepada siapa kita bergaul. Kita memang tidak boleh memusuhi mereka, namun kita wajib berhati-hati agar jangan termakan bujukan mereka lalu masuk ke dalam jerat dosa. Perhatikanlah hikmat Salomo kemudian berkata:  "..mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri" (Amsal 1:18). Peran kita adalah untuk menyadarkan dan menyelamatkan mereka dari kebinasaan bukannya malah ikut-ikutan masuk ke dalamnya. Kita harusnya contoh atau keteladanan bukannya malah dengan mudah terbujuk untuk ikut-ikutan. Firman Tuhan pun mengingatkan "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Segala perbuatan dosa sesungguhnya berasal dari Iblis. Dan Yesus pun sudah hadir ke dunia atas kebesaran kasih Allah pada diri kita untuk membayar lunas semua itu. Alkitab menyatakan demikian: "barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu." (1 Yohanes 3:8). Dosa-dosa memang bisa dikemas dengan indah dan penuh kenikmatan, tetapi apa yang sesaat itu sama sekali tidak sebanding dengan akibat yang harus kita tanggung selamanya kelak. Hari ini marilah kita sama-sama mawas diri memperhatikan pergaulan kita dan terlebih lagi menjaga diri kita agar tidak termakan bujuk rayu mereka yang berdosa. Ikut-ikutan tidak akan pernah cukup menjadi alasan untuk mengelak dari konsekuensi yang harus kita tanggung kelak ketika kita terjerumus masuk ke dalam jebakan dosa.

Berikan pengaruh yang baik dalam lingkungan bukan sebaliknya malah ikut-ikutan menjadi jahat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, November 2, 2011

Pohon Badam (3) : Tunas Baru dari Tongkat Mati

Ayat bacaan: Bilangan 17:8
===================
"Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam."

pohon badam, tunas, buahSaya menanam sebuah pohon kamboja atau samoja, pohon yang bunganya biasanya dipakai untuk upacara-upacara keagamaan di Bali. Pohon ini memiliki bunga yang sangat khas baik bentuknya yang indah maupun wanginya. Di luar sana bunga ini disebut dengan Frangipangi. Aroma bunga ini pun sering dijadikan aromaterapi seperti yang bisa kita jumpai dalam banyak produk dengan berbagai bentuk. Pohon ini sempat tidak bereaksi apa-apa selama berbulan-bulan. Tidak ada apapun yang tumbuh, hanya batang yang botak tanpa memperlihatkan adanya gejala kehidupan sama sekali. Saya tidak tahu apakah pohon itu masih hidup atau tidak. Tapi saya merasa sayang untuk membuangnya dan membiarkan pohon itu terus di tempat meski terlihat seperti mati. Setelah beberapa bulan, dari pohon itu mulai muncul tunas dan daun. Untunglah saya belum membuangnya. Hari ini pohon itu tumbuh dengan suburnya penuh dengan bunga yang sangat cantik dan wangi. Apa yang terjadi pada pohon ini mengingatkan sebuah gambaran kehidupan baru yang lahir dari sesuatu yang sudah mati.

Dua hari kemarin renungan berbicara banyak mengenai pohon badam alias almond tree yang bisa tetap tumbuh dalam keempat musim, termasuk di dalam musim salju. Keindahan bunga badam yang berwarna putih dipadu dengan putihnya salju memberikan kesan tersendiri yang indah dipandang mata. Dalam bahasa Ibrani kata badam ini berarti "yang berjaga" atau "yang bangun", menggambarkan karakteristik pohon badam yang berbeda dari pohon-pohon lainnya. Hari ini saya ingin mengangkat satu renungan lagi dari pohon badam, ketika pohon ini kembali disebutkan di dalam Alkitab pada jaman Musa dan Harun.

Pada saat itu Tuhan memerintahkan Musa untuk mengumpulkan tongkat dari pemimpin-pemimpin tiap suku dan menuliskan nama pemimpin pada masing-masing tongkat. Dalam pesan itu secara spesifik pula Tuhan menyuruh nama Harun ditulis pada tongkat suku Lewi. Tongkat itu kemudian harus diletakkan di dalam Kemah Pertemuan di mana peti yang berisi tabut Perjanjian berada. Tuhan lalu bersabda: "Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi." (Bilangan 17:5). Keesokan harinya, ternyata tongkat Harun lah yang mengeluarkan tunas. "Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam." (ay 8). Kemudian Tuhan berfirman kepada Musa, "Kembalikanlah tongkat Harun ke hadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehingga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati." (ay 10).

Tongkat berasal dari sebatang kayu yang sudah mati. Apa yang dialami oleh Harun menjadi momen bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasaNya yang ajaib, untuk memperteguh iman agar bangsa itu tidak lagi bersungut-sungut dan karenanya tidak harus menerima hukuman. Di sisi lain, tunas dan bunga badam yang tumbuh di tongkat yang notabene benda mati berbicara mengenai kehidupan yang kembali muncul dari sesuatu yang sudah mati. Bagi anak-anak Tuhan, hidup ditengah keduniawian yang "mati" secara rohani bukan berarti bahwa kita harus ikut-ikutan mati. Kita mampu tetap bertunas, berbunga bahkan berbuah seperti halnya pohon badam. Disamping itu, jika kita mengalami kekeringan rohani dan kehilangan kasih mula-mula kemudian kehilangan damai sukacita,  mengalami banyak "kematian" dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga dan sebagainya, kita bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali masuk ke dalam hadirat Tuhan lewat pertobatan sungguh-sungguh.

Dengan memberi diri dibaptis dan kemudian menerima Kristus pun sebenarnya kita telah dimatikan dari dosa dan kehidupan buruk kita yang lama kemudian menerima anugerah untuk kembali lahir baru, menjadi ciptaan baru, becoming the whole new creation. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Seperti itulah kita yang dimatikan dari dosa, lalu keluar kembali menjadi ciptaan baru, persis seperti tongkat Harun yang kemudian bertunas dan berbunga. Jika kita masih berselubung dosa maka lahir baru itu pun menjadi kehilangan makna. Kita tidak menjadi ciptaan baru yang benar-benar baru jika masih menghidupi kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk. Maka kelahiran baru yang dianugerahkan Tuhan harusnya menjadi titik awal bagi kita untuk memulai sebuah hidup baru yang bersih, bukan sebaliknya malah dicemari lagi dengan dosa-dosa seperti dahulu. Paulus pun mengingatkan hal ini. "Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." (Roma 6:2-4). Kita semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. (Galatia 3:27). Dengan demikian seharusnya tidak ada lagi tempat bagi dosa untuk terus bercokol bagi kita. Hidup dalam Kristus akan membuat kita bisa bertunas dan berbuah sepanjang musim, tanpa peduli apa kondisi, situasi atau iklim yang tengah kita hadapi.

Tongkat harun yang berbunga menunjukkan bagaimana Tuhan punya kuasa membangkitkan sebuah kehidupan baru dari sesuatu yang sudah mati. Bukan sekedar tumbuh, tetapi tunas-tunas segar dan bunga yang indah bisa keluar dari sana. Pertobatan adalah awal dari pemulihan. Tidak peduli sesulit atau separah apapun masa lalu kita, kita bisa mengalami pemulihan secara luar biasa apabila kita mau kembali kepada Tuhan dan menaati perintah-perintahNya. Mungkin kita sudah mengalami berbagai "kematian" baik dalam pekerjaan, usaha dan bahkan mengalami mati rohani, tetapi percayalah bahwa Tuhan mampu membalikkan itu semua dan kembali menumbuhkan tunas, buah dan bunga dalam sebuah kehidupan yang benar-benar baru.

Tuhan mampu memulihkan anda sepenuhnya dari beragam kematian dan menumbuhkan tunas-tunas segar baru dalam hidup anda

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, November 1, 2011

Pohon Badam (2) : Berjaga-jaga

Ayat bacaan: Matius 24:42
===================
"Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang."

berjaga-jaga, pohon badamSeberapa pentingkah berjaga-jaga bagi kita? Ada banyak orang yang merasa masih terlalu muda untuk itu. Ada yang menganggap bahwa belum saatnya untuk hidup kudus, selagi masih muda, waktu yang ada sebaiknya dipakai untuk bersenang sepuas-puasnya. Urusan hidup kudus adalah urusan orang dewasa atau tua yang secara umum punya waktu yang lebih singkat dibandingkan anak-anak muda. Tapi sesungguhnya tidak seperti itu. Tidak ada yang tahu kapan waktu kita tiba. Bisa puluhan tahun lagi, bisa setahun lagi, bisa sejam, semenit bahkan bisa pula sedetik lagi. Itu adalah rahasia Tuhan yang tidak akan pernah bisa kita ketahui dengan pasti. Jika anda berada di lingkungan yang rawan bahaya, anda tentu akan berjalan lebih waspada. Anda tentu akan berjaga-jaga lebih dari biasanya. Seperti itu pula seharusnya kita berpikir dalam menjalani kehidupan, karena dunia hari ini adalah dunia yang jahat yang penuh dengan godaan dan ancaman dari berbagai arah. 

Kemarin kita sudah melihat bagaimana karakteristik pohon badam yang mampu terus tumbuh dan berbunga indah dalam keempat musim, termasuk di musim salju yang termasuk musim menyulitkan bagi sebagian besar pohon lainnya. Pohon Badam ini muncul ketika Yeremia mendapat sebuah visi atau penglihatan dari Tuhan. Ayatnya berbunyi demikian: "Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." (Yeremia 1:11). Ayat ini dalam bahasa Inggris (Amp) nya dijelaskan lebih rinci. Pohon badam atau almond tree dikatakan sebagai "the emblem of alertness and activity, blossoming in late winter." Pohon yang melambangkan kesiagaan dan keaktifan, dan mampu berbunga pada musim salju. Jika kita melihat dalam bahasa Ibrani, Badam diterjemahkan menjadi "yang berjaga" atau "yang bangun". Tentu asal nama ini pada mulanya diambil dari sifat pohon ini yang seolah-olah tetap berjaga dan mampu tetap subur di musim apapun.

Jika kemarin kita sudah melihat bagaimana karakteristik pohon badam ini bisa menggambarkan bagaimana karakter kita seperti yang diinginkan Tuhan, yang tetap bisa bertumbuh meski dalam kondisi atau situasi apapun, hari ini mari kita lihat dari sifat lain sesuai namanya yaitu berjaga-jaga. Kehidupan bagai pohon badam disediakan bagi orang percaya yang tetap setia untuk berjaga-jaga. Tetap stand by, tetap bersiap sedia dan siap siaga, karena tidak satupun dari kita yang tahu kapan akhir itu tiba.

Perumpamaan yang diberikan Yesus sendiri mengenai lima gadis yang bijaksana dan lima gadis yang bodoh dalam Matius 25:1-13 menggambarkan hal ini secara jelas. "Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka." (ay 3-4). Perhatikanlah lima gadis ceroboh dan menganggap sepele tugas mereka, tetapi lima lainnya menyiapkan segalanya dengan baik. Maka ketika pada malam hari sang mempelai pria datang, kedua kelompok ini memperoleh hasil yang berbeda. Gadis-gadis yang bijaksana sudah mempersiapkan minyak sehingga mereka bisa langsung masuk ke dalam ruang perjamuan, tetapi sebaliknya gadis-gadis yang bodoh luput dari kesempatan itu karena mereka masih kalang kabut menyiapkan segala sesuatu ketika saatnya tiba. "Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup." (ay 10). Lewat perumpamaan ini jelas kita melihat seruan untuk berjaga-jaga. Tuhan Yesus sendiri menyimpulkan perumpamaan ini dengan satu kalimat singkat yang tegas: "Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." (ay 13).

Dalam kesempatan lain kembali Yesus mengingatkan hal yang sama seperti yang bisa kita lihat pada Matius 24:37-44 yang diberi judul "Nasihat supaya berjaga-jaga". Yesus mengatakan: "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang." (ay 42). Lalu: "Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." (ay 44). Seperti halnya pohon badam yang terus mampu bertahan bahkan berbunga, berbuah dalam keempat musim bahkan pada musim yang bagi sebagian besar tumbuhan lainnya akan sangat sulit untuk sekedar bertahan, demikianlah kita semua anak-anakNya yang percaya. Kita harus mampu seperti pohon badam yang terus berjaga-jaga setiap saat sehingga sanggup bertunas, berbunga dan berbuah dalam kondisi seperti apapun. Hendaklah kita terus berjaga, siap siaga kapanpun dan tidak menunda-nunda waktu lagi. Jangan sampai kita lengah atau lalai agar kita tidak luput dari keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan lewat penebusan Yesus. Memang tidak mudah bagi kita, karena setiap saat ada banyak godaan yang siap menjatuhkan kita. Adalah penting bagi kita untuk memperhatikan betul agar jangan lalai dan terus terlena dalam dosa. Tidak ada yang tahu berapa lama lagi kesempatan untuk bertobat dan membersihkan diri dari segala noda dosa itu ada bagi kita. Untuk itulah kita harus senantiasa berjaga-jaga. karena tidak satupun dari kita yang tahu kapan hari itu akan tiba.

Jangan lalai, tetapi berjaga-jagalah senantiasa agar kita tidak luput dari keselamatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...