Thursday, October 27, 2016

Belajar Terbang (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Ulangan 32:11
======================
"Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia."

Bagi yang menonton film animasi box office Hotel Transylvania 2 tahun lalu tentu ingat adegan kocak saat kakek Dracula hendak mengajar cucunya terbang. Cucunya Dennis ternyata sangat kurang skil vampirnya termasuk berubah menjadi kelelawar dan terbang. Oleh karena itulah saat Dennis dititipkan kepadanya, ia naik ke puncak menara untuk mengajar cucunya terbang. Caranya adalah dengan dilepas jatuh ke bawah, dengan harapan naluri terbang Dennis bisa muncul di saat genting dan kemudian bisa terbang. Yang terjadi, si cucu ternyata tidak punya naluri itu, dan tepat sesaat sebelum ia menghantam tanah, kakek Dracula bergegas terbang menyelamatkannya.

Adegan ini tampaknya terinspirasi dari cara burung rajawali mengajari anak-anaknya terbang. Sebuah film dokumenter yang pernah saya tonton menggambarkan cara sang induk mengajar anak-anaknya terbang. Burung rajawali membuat sarang jauh tinggi di atas gunung. Di sanalah biasanya burung rajawali menetaskan telurnya. Posisi tinggi seperti itu dipilih agar burung rajawali bisa meminimalisasi jumlah predator yang bisa memangsa bayi-bayinya. Pada awal kelahiran, seperti halnya bayi manusia, bayi-bayi burung rajawali akan menghabiskan waktunya dengan makan dan tidur dengan penuh kenyamanan dalam sarang. Sang induk pun akan mengurus mereka dengan sepenuhnya, mencari makanan dan menyuapi mereka satu persatu. Tapi akan datang satu hari dimana sang induk akan terbang mengitari sarangnya sambil memperhatikan anak-anaknya dengan seksama. Pada suatu ketika, sang induk rajawali akan meluncur cepat menuju sarangnya, menabrak sarang tersebut lalu mengguncang-guncang sarang itu. Dengan adanya guncangan itu, si anak akan berkali-kali jatuh, namun induknya akan dengan cepat meraih anaknya kembali, mengangkat anaknya naik ke atas, dan melepaskannya kembali hingga semua anaknya terlatih dan siap untuk terbang.

Ada banyak di antara kita yang percaya pada Yesus tapi tidak mau dewasa dan terus berlaku selayaknya bayi burung rajawali. Kita hanya mau berada di sarang yang nyaman, disuapi terus, diurusi terus tanpa mau melangkah, mau masuk lebih dalam atau mau belajar untuk terbang naik lebih tinggi lagi. Kita takut menghadapi perubahan. Kita hanya mau mendengar firman yang berisi berkat-berkat yang nyaman bagi telinga, dan menolak ayat-ayat yang mengajarkan untuk bertekun dalam penderitaan. Kita hanya mau dimanja dan menolak untuk tumbuh dewasa. Kita hanya mau makanan bayi karena malas mengunyah makanan keras. Hanya mau diurus tanpa mau melakukan panggilan. Akan ada saatnya dimana Tuhan akan mulai mengguncang sarang nyaman kita dengan tujuan bukan mau menyiksa tapi karena Dia ingin kita tumbuh dewasa. Kabar baiknya, seperti induk rajawali Tuhan akan mempersiapkan dan melatih kita belajar sampai pada akhirnya bisa terbang.


Hal tersebut bisa kita baca pada ayat bacaan hari ini. "Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia." (Ulangan 32:11). God Himself wants to teach us how to fly. Dia ingin mengajari kita secara langsung. Ada masa dimana kita harus disuapi dan diberi susu, tapi ada saat dimana kita cukup "dewasa" dan akan dipersiapkan Tuhan untuk berdiri, berjalan dan berlari. Mulai mengepakkan sayap dan terus berusaha untuk naik ke atas. Mulai bertolak dari pinggiran pantai dan masuk ke laut yang lebih dalam. Dalam proses itu, Tuhan sendirilah yang akan menuntun kita. Dia akan menuntun dan melatih kita hingga kita siap untuk terbang.

Akan halnya makanan lembut buat bayi dan makanan keras buat orang dewasa, Paulus menyampaikan seperti ini: "Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?" (1 Korintus 3:1-3). Berbagai perselisihan dan saling menjatuhkan di antara sesama anak-anak Tuhan yang banyak terjadi menunjukkan sebuah proses iman yang masih jauh dari dewasa.

Selanjutnya, mari kita lihat dalam kitab lain. "Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat." (Ibrani 5:12-14).

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker