====================
"Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya."
Tidak ada satupun manusia yang bisa hidup seratus persen tanpa masalah selamanya. Siapapun kita tentu sudah pernah berhadapan dengan kesulitan-kesulitan atau tekanan hidup dalam berbagai bentuk. Ada yang mungkin tengah menghadapi pergumulan saat ini, nanti pun masalah bisa datang sewaktu-waktu. Tidak satupun manusia yang suka berhadapan dengan masalah, tidak terkecuali saya. Tapi saya tahu bahwa dalam hidup kita memang harus siap berhadapan dengan itu, dan saya selalu berusaha untuk mengambil hikmah dibalik setiap permasalahan yang saya hadapi. Minimal lewat masalah itu saya bisa menguji sampai sejauh mana iman saya untuk percaya kepada Tuhan dengan kesabaran penuh dan berusaha belajar sesuatu yang baru dari masalah yang timbul beserta pemecahannya. Ketika kita tidak bisa menghindari sepenuhnya kehadiran masalah menerpa hidup kita pada waktu yang tidak disangka-sangka, apa yang bisa kita lakukan adalah mencermati betul bagaimana cara yang kita ambil untuk mengatasinya. Seringkali karena kita terburu-buru atau panik, kita mengambil langkah-langkah yang salah. Akibatnya, bukan masalahnya yang selesai, tetapi kerap kali kita malah menambah masalah baru dengan keputusan-keputusan kita sendiri yang gegabah. Ada begitu banyak tokoh di dalam Alkitab, dan masing-masing mereka punya masalah atau pergumulannya sendiri-sendiri. Ada yang harus berhadapan dengan orang-orang yang sulit diatur, ada yang mengalami pergumulan iman, ada yang harus menanti cukup lama akan janji Tuhan, ada pula yang harus menghadapi fitnahan dari orang-orang yang iri atau benci terhadap mereka. Hidup bagi para tokoh ini tidak ada yang mulus dan mudah seluruhnya dan hidup di masa sekarang pun tidak kalah sulitnya. Apa yang menarik bagi saya adalah melihat bagaimana cara mereka menghadapi masalah lalu keluar sebagai pemenang. Semua itu tentu bisa kita jadikan pelajaran dan pedoman dalam menghadapi masalah-masalah hari ini. Apakah anda pernah menjadi korban fitnah? Saya pernah merasakannya dan tahu bagaimana sangat tidak enaknya menghadapi itu. Rasa sirik dan iri hati sepertinya sudah mendarah daging dalam kehidupan manusia, sehingga pembunuhan karakter lewat tuduhan-tuduhan keji bisa dilemparkan dengan mudahnya hanya karena merasa iri melihat keberhasilan orang lain. Fitnahan bisa begitu kejam sehingga hidup korbannya bisa menjadi hancur. Seringkali mereka hancur sebegitu rupa sehingga sulit untuk bangkit kembali. Orang-orang yang busuk hatinya bisa tega melakukan itu hanya untuk memberi kepuasan terhadap perasaan dengki mereka. Daniel pernah mengalam hal itu secara ekstrim. Dalam dua hari ini mari kita lihat bagaimana cara menghadapi serta mengatasi masalah ala Daniel.
Daniel tercatat sebagai sosok luar biasa dengan banyak kelebihan yang lahir pada masa bangsa Israel mengalami pembuangan dan pengasingan di Babel. Daniel dikatakan sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu di seluruh kerajaannya. (Daniel 1:20) dan diketahui memiliki roh yang luar biasa. (6:4). Kecerdasan Daniel dikatakan melebihi 120 wakil raja dan dua pejabat tinggi lainnya. (6:2-4). Empat kali raja lengser, Daniel masih tetap menjabat. Itu membuktikan bahwa Daniel memang beda. Apa yang membuat Daniel bisa diberkati sedemikian rupa? Alkitab jelas menuliskan jawabannya, yaitu kebiasaan dan disiplin Daniel dalam berdoa. Ayat bacaan kita hari ini menunjukkan hal itu dengan sangat jelas. Daniel ternyata biasa melakukan doa, berlutut dan memuji Allah sebanyak tiga kali sehari. Ada atau tidak ada kegiatan, sibuk atau tidak sibuk, keadaan memungkinkan atau tidak, dia tetap memegang komitmen untuk berdoa dengan disiplin. Tidaklah heran jika Kebiasaannya berdoa ternyata bisa membawanya menerima anugerah Tuhan secara luar biasa, dan dari sana Daniel pun menjadi orang penting dengan pengaruh sangat besar. Melihat kesuksesan seperti itu, mulailah para pejabat tinggi dan wakil raja yang berjumlah seratus dua puluh orang itumerasa dengki dan iri hati. Mereka lalu mulai mencari-cari kesalahan atas Daniel. Alkitab menyebutkan bahwa mereka tidak mendapati kesalahan apapun. "Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya." (ay 5). Tapi dasar niatnya jelek, mereka terus saja mencari-cari akal untuk menimpakan kesalahan atas Daniel. Akhirnya mereka menemukan sebuah akal untuk menjebak Daniel. "Maka berkatalah orang-orang itu: "Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!" (ay 6). Dan itulah yang mereka pergunakan untuk menjebak. Mereka tahu betul kebiasaan Daniel dalam berdoa, dan itu mereka pakai untuk menyingkirkan Daniel. Mereka pun datang mengahadap raja dan melancarkan siasat buruk mereka. "Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa." (ay 8). Raja Darius ternyata menyetujuinya. Begitu disahkan, mereka pun langsung bergegas menangkap Daniel.
Saya yakin Daniel tahu ia tengah berhadapan dengan masalah besar ketika mendengar perihal peraturan baru ini. Apa yang menjadi reaksinya? Gentar atau ciutkah dia? Apakah Daniel takut lalu berhenti berdoa atau mulai sembunyi-sembunyi dalam melakukannya? Ternyata tidak. Daniel sama sekali tidak gentar. Dia tidak cemas apalagi takut. Daniel tidak berusaha melarikan diri, berpura-pura tidak berdoa, atau bersembunyi supaya tidak ketahuan. Apa yang dilakukan Daniel menggambarkan sebuah iman yang luar biasa. "Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya." (ay 11). Daniel kemudian ditangkap, dan dimasukkan ke gua singa. namun kita tahu apa yang kemudian terjadi. Daniel selamat tanpa lecet sedikitpun. Kata Daniel: "Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." (ay 23). Apa yang terjadi pada para wakil dan pejabat berhati busuk yang memfitnah dan menjebak Daniel? "Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka." (ay 25).
(bersambung)
Ada beberapa teman saya yang mudah berkata ya atau berjanji, tetapi mereka jarang menepatinya. Misalnya berkata "Ok, besok saya datang..", atau "segera malam ini saya kirim", tapi ternyata tidak. Banyak orang yang begitu mudah memberi janji atau berkata ya dan kita menganggap mereka serius dengan janjinya, padahal itu mereka anggap hanya sebagai basa basi saja. Melihat sifat mereka, saya pun akhirnya tahu menempatkan diri dengan tidak menganggap serius janji-janji mereka, karena apabila saya meletakkan standar yang saya inginkan mengenai menepati janji, saya tentu akan kecewa dan akan sulit berteman dengan mereka.
Saya masih sempat merasakan susahnya berkomunikasi orang yang berada di kota berbeda, apalagi di luar negeri. Sarana komunikasi satu-satunya adalah melalui surat yang dikirim lewat pos atau telepon. Belakangan ada pager yang mempermudah kontak antara kita dengan orang lain, lalu handphone atau mobile phone muncul sehingga kita bisa saling berhubungan meski tengah berada di luar rumah, dan text messaging atau sms memungkinkan kita untuk bisa bertukar cerita dengan tarif yang sangat murah. Hari ini para pengguna BlackBerry tentu sudah merasakan keuntungan dengan menggunakan BBM atau BlackBerry Messenger. Surat bisa dikirim via email yang akan sampai di tujuan dalam hitungan detik. Yahoo messenger dan fasilitas chatting lainnya pun membantu kita dalam berkomunikasi. Bahkan kita bisa berkomunikasi sambil melihat lawan bicara kita dengan menggunakan fasilitas internet. Teknologi semakin berkembang membuat komunikasi pun menjadi semakin mudah. Kita tidak perlu bingung lagi untuk menghubungi teman atau keluarga yang berada di belahan dunia lain, karena selain kita bisa dengan mudah menghubungi mereka, biaya yang harus dikeluarkan juga sangat minim bahkan bisa gratis.
Kita selalu dianjurkan untuk berhati-hati jika berkenalan dengan teman-teman baru di dunia maya. Himbauan ini tentu ada benarnya, mengingat ada begitu banyak orang jahat yang memanfaatkan dunia ini untuk menipu, menjebak atau memperdaya orang lain. Tapi jika kita mengatakan bahwa dunia cyber ini 100% berisi orang jahat, itupun tidaklah benar. Saya memiliki banyak teman dekat yang kemudian menjadi seperti saudara sendiri yang tadinya saya kenal lewat dunia maya ini. Hampir semuanya melalui proses yang tidak singkat, dimana kita saling mengenal lebih jauh terlebih dahulu untuk bisa sampai kepada sebuah tahapan persahabatan yang erat pada akhirnya. Persahabatan itu kemudian menjadi lebih erat lagi setelah bertemu muka secara langsung. Ketika itulah saya bisa mengenal mereka secara lebih dekat lagi, demikian pula sebaliknya. Ada sebuah pepatah yang mengatakan "To know is to love" atau dalam bahasa Indonesianya dikatakan "tak kenal maka tak sayang." Semakin dalam kita mengenal seseorang secara pribadi, maka kita bisa semakin percaya kepada mereka, begitu juga sebaliknya. Apakah di dunia nyata ataupun di dunia maya, proses persahabatan yang bermula dari perkenalan awal membutuhkan sebuah proses. Ada yang cepat, ada yang lambat, tetapi biar bagaimanapun kita tetap harus melewati proses itu. Tanpa mengenal dengan baik, pasti sulit bagi kita untuk percaya.
Dalam bahasa Inggris kata blue bukan semata-mata dipakai sebagai salah satu jenis warna tapi juga dipakai sebagai kata yang mengekspresikan kesedihan. Sangat menarik ketika hari ini saya dihadiahi seorang teman sebuah film seri dokumenter mengenai lahirnya sejarah musik Blues, sebuah genre musik besar yang merupakan akar dari segala jenis musik modern yang ada di dunia hari ini. Musik blues ternyata berasal dari curahan kepedihan para warga berkulit hitam yang dahulu dijadikan budak. Hidup yang penuh penderitaan, kerap mendapat siksaan dan sebagainya. Mereka sempat digeser dari lingkungan pergaulan, tidak boleh bergaul dengan warga kulit putih, bahkan pemisahan itu dilegalkan oleh hukum pada masa itu. Bisa dibayangkan bagaimana tertindasnya mereka hanya karena warna kulit yang berbeda. Ini membuat mereka kemudian mencurahkan perasaan mereka ke dalam sebuah bentuk musik yang tadinya terkesan "asal", dan inilah kemudian yang menjelma sebagai musik blues. Latar belakang musik Blues sangatlah menarik, termasuk perjalanannya tumbuh dari satu kota ke kota lain. Mississippi Blues yang sangat kental dan bersahaja dengan "chord-chord"nya yang unik lalu dikenal sebagai Delta Blues atau D-Blues, lalu ada New Orleans Blues yang masih mirip dengan Delta tapi sudah bercampur dengan African rhythm and melodical pattern, dan terus berkembang hingga Chicago Blues yang lebih "elektrik" dan semakin mendekati rock serta rock n roll, seperti Jimi Hendrix misanya. Musik sebagai sebuah medium ekspresi ternyata mampu menjadi tempat curahan hati dan perasaan kita. Kerap kali lewat lagu kita bisa bergembira, tertawa bahkan menangis mengeluarkan kesedihan yang ada dalam hati kita. "Dalam menanggapi kesedihan kita bisa mengeluh, menangis dan menyalahkan orang atau situasi, tapi kita bisa juga mengekspresikannya lewat nada-nada baik dengan vokal maupun instrumen musik", ujar salah seorang narasumber dalam dokumentasi itu.
Miris rasanya membaca koran setahun terakhir ini. Situasi tidak kunjung membaik malah bisa dikatakan memburuk. Orang bisa bertindak seenaknya tanpa batas. Membunuh, menganiaya menjadi sesuatu yang dianggap biasa hanya karena ingin memaksakan kehendak atau karena memiliki pandangan berbeda. Payung hukum tidak lagi bisa memayungi warganya sendiri. Para pelaku tindak kekerasan leluasa bergerak tanpa kendali, dan aparat berusaha mencari alasan apapun asal tidak menindak mereka. Menyaksikan berita di televisi, surat kabar dan sebagainya saat ini sama seperti menyaksikan luapan kemarahan yang tak terkendali sehingga membunuh pun dianggap pantas dan dibenarkan oleh Tuhan. Setiap hari kita disuguhi berbagai gambaran anarkis dengan wajah-wajah penuh kemarahan, dan itu adalah sebuah gambaran kehidupan di dunia saat ini yang semakin lama semakin menganggap wajar untuk memupuk kemarahan. Semua bertambah parah ketika negara memalingkan muka sejauh-jauhnya. Berbagai alasan pun bisa timbul sebagai dasar mentolerir kemarahan ini. Aspirasi yang tidak kunjung didengar, diperlakukan tidak adil, merasa dirugikan, bahkan ada pula yang menjadi murka karena merasa orang lain tidak sepaham dengan mereka. Alasan-alasan dipakai untuk jadi pembenaran. Kemarahan membuat orang tidak lagi bisa berpikir jernih, dan pada akhirnya bukan saja kemarahan itu bisa merugikan orang lain, tetapi untuk diri sendiri pun kemarahan bisa menimbulkan banyak masalah yang pada suatu ketika kelak akan kita sesali. Jika tidak di dunia, ingatlah kelak kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan kita kepada Sang Pencipta segalanya.
Menjelang hari Natal yang tinggal sebulan lagi, toko-toko akan mulai memajang parcel atau bingkisan dalam berbagai ukuran dan isi dengan harga yang berbeda-beda. Parcel merupakan salah satu cara yang kerap dipakai orang untuk menyampaikan ucapan terima kasih, ucapan selamat dan sebagainya kepada teman, keluarga, atasan, kolega, rekanan bisnis dan orang-orang lain yang kita anggap penting untuk diberikan sesuatu pada perayaan hari besar, termasuk Natal di dalamnya. Parcel itu disusun sedemikian rupa sehingga terlihat indah, berisikan berbagai macam produk atau benda di dalamnya, dan dibungkus dengan rapi dan indah. Bentuk paketnya pun tersedia dalam beragam variasi. Ada yang dikemas dalam produk makanan/minuman, parcel peralatan elektronik, aksesoris, produk kecantikan atau buah-buahan. Ada beberapa toko yang nakal mempergunakan kesempatan ini untuk menghabiskan barang-barang mereka yang sudah kadaluwarsa atau kemasannya rusak. Parcel yang sudah terbungkus rapi dari awal akan membuat pembelinya tidak tahu apakah isinya masih layak dikonsumsi atau tidak. Saya pernah berbisnis parcel bersama beberapa teman saya ketika masih kuliah, dan saya tahu bahwa merangkai produk-produk itu agar terlihat indah tidaklah semudah yang diperkirakan. Satu hal yang pasti, kita akan berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuan kita untuk mereka yang kita anggap penting untuk diberi bingkisan. Semakin penting orangnya, biasanya paket pun akan semakin mewah pula.
Saya pernah menulis bahwa dalam satu hari ada 86.400 detik yang kita lalui. Kecepatan waktu itu berlaku sama bagi setiap orang tanpa terkecuali. Tapi pernahkah anda merasa bahwa waktu itu terkadang sangat relatif? Ada kalanya kita merasa waktu berlalu begitu cepat, tapi sebaliknya kita pun pernah merasa waktu berjalan sangat lambat. Apakah satu jam terasa lama atau singkat biasanya akan sangat tergantung bagaimana perasaan kita terhadap apa yang kita lakukan dalam jangka waktu tersebut. Apabila kita melakukan sesuatu yang menyenangkan maka waktu bisa terasa pendek. Sebaliknya ketika kita sedang bosan atau tidak menyukai kegiatan di dalamnya, maka waktu bisa terasa berjalan sangat lamban, seolah jam bergerak dalam slow motion atau bahkan macet tak bergerak. Bayangkan ketika anda tengah bersama kekasih yang sangat anda cintai pada saat masih pacaran, bukankah anda sering merasa bahwa waktu begitu cepat berlalu? Baru saja anda ketemu, tiba-tiba harus berpisah. Waktu seakan begitu kencang berjalan. Sebaliknya ketika anda tengah menanti antrian, waktu bisa terasa panjang. Ketika anda tengah mengantuk di gereja atau merasa kotbah yang disampaikan membosankan, waktu rasanya begitu lama berlalu. Tapi ketika anda antusias mendengarkannya, apalagi kalau pendetanya pintar menarik perhatian jemaat, maka anda pun akan merasa waktu berjalan dengan sangat cepat.
Musik dan lagu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup saya. Bukan hanya karena profesi saya memang berkecimpung di dunia musik tetapi juga karena sejak kecil saya senang mendengar alunan lagu baik dengan vokal maupun instrumental hampir setiap saat. Di mobil, di rumah, ketika bekerja, ketika bersantai, di tengah kesibukan, selalu ada saja lagu yang menemani saya. Ada lagu yang lembut, ada yang cepat. Ada yang enak dipakai santai, ada yang bisa membuat semangat terbakar atau bahkan provokatif. Ada lirik yang menggugah, mendidik ada pula yang menyesatkan. Jumlah nada cuma ada tujuh, tetapi tak terhitung jumlah lagu yang ada di muka bumi ini. Sebagai pendengar atau penikmat lagu, kita pun bisa memilih apakah kita mau memperhatikan lirik-liriknya dan kemudian melakukan apa yang dinyanyikan, atau hanya menyukai musiknya tanpa memperhatikan apa yang dikatakan disana. Bisa menyanyikan luar kepala pun belum tentu membuat kita serta merta menyerap atau mengerti apa yang terkandung didalamnya. Ada banyak lagu yang berisi lirik yang membangun, inspirasional, ada pula yang mengajarkan hal-hal jahat. Apapun bentuknya, kita sendiri yang memutuskan apakah kita memperhatikan isi lagu itu dengan cermat atau tidak. Seyogyanya kita bisa mendapat bahan perenungan, pelajaran dari lagu-lagu yang berisi pesan yang baik atau setidaknya termotivasi lewat pesan tersebut, dan menjaga agar tidak terpengaruh pesan-pesan yang buruk. Tetapi sekali lagi, semua tergantung dari kita, karena kita pun bisa saja hanya menjadi pendengar pasif yang cuma menikmati melodi atau merdunya suara yang bernyanyi tanpa mempedulikan isinya.
Kata sentosa adalah salah satu kata yang semakin menghilang dari kosakata kita. Dahulu kata ini sering dipadankan dengan kata sehat. Sentosa diartikan sebagai keadaan yang bebas dari segala kesukaran, masalah, atau bencana. Sentosa berarti suatu situasi yang makmur, sejahtera, aman, damai dan tenteram tanpa masalah. Bukankah ini kondisi yang selalu kita inginkan? Bebas dari masalah, hidup tenang tak berkekurangan. Tuhan ingin kita semua pun bisa mengalami keadaan sentosa seperti itu dalam hidup kita. Daud tahu itu dan berkata seperti ini: "Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa." (Mazmur 112:6). Pertanyaannya, apakah ketika kita sedang berada dalam keadaan sentosa kita masih mengingat Tuhan? Sayangnya kecenderungan sebagian orang adalah tidak. Banyak orang yang akan terlena dalam kenyamanan atau keadaan sentosa kemudian malah menjadi sombong dan menganggap bahwa ia tidak butuh siapa-siapa lagi, termasuk Tuhan. Gaji sudah lebih dari sekedar cukup, pekerjaan baik dan mapan, keluarga baik-baik saja, anak-anak sukses dalam studi, karir dan kehidupannya, semua sehat, lalu apa lagi yang harus ditakutkan? Banyak orang yang kemudian melupakan Tuhan dan menyimpan Tuhan hingga nanti ada masalah lagi. Buat apa memberi waktu untuk Tuhan? Toh semua sedang berjalan dengan baik. Posisi Tuhan dijadikan sesuatu yang tidak lebih dari penolong, tempat meminta atau bahkan bodyguard. Tuhan hanya dicari ketika sedang berada dalam pergumulan, kesulitan, bisnis merugi, usaha bangkrut, gagal dalam studi atau karir dan hal-hal buruk lainnya. Ketika hidup menjadi baik kembali, dengan segera Tuhan pun kembali dilupakan.
Adakah sesuatu yang pantas kita jadikan dasar untuk bersikap sombong? Apakah kita punya alasan untuk menyombongkan diri dengan apa yang kita miliki hari ini? Semua orang berharap Tuhan menurunkan hujan berkatNya. Tetapi ironisnya ada begitu banyak orang yang berubah menjadi sombong ketika mereka diberkati. Suatu kali saya melihat seorang pemuda yang turun dari mobil dan memukul supir angkot sembari berteriak-teriak bahwa ia adalah anak tentara. "Bapak saya jendral, tahu!" sambil memaki-maki di tengah umum, di depan banyak orang. Dari plat mobilnya terlihat bahwa ia memang anak tentara. Ternyata kemarahannya muncul bukan karena tersenggol atau tertabrak, tetapi cuma gara-gara tersinggung ketika merasa disalip di jalan. Memang supir angkot bisa sembrono dan tidak sopan dalam mengemudi, tetapi apakah itu pantas dijadikan alasan bagi kita untuk menyakiti mereka baik secara fisik maupun psikis? Perlukah kita meneriakkan siapa diri kita, mengancam orang lain untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa? Atau perlukah kita membawa-bawa nama besar keluarga atau pangkat orang tua untuk berlagak hebat di depan orang lain? Ada banyak manusia yang berpikir seperti itu, lalu lupa bahwa setinggi apapun pangkat seseorang mereka tidak akan pernah bisa melebihi Tuhan. Kalaupun kita termasuk beruntung memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain pada umumnya, perlukah kita menyombongkan diri karenanya? Bukankah semua itu pun berasal dari Tuhan dan tidak pernah boleh dipakai untuk menjadikan kita pribadi yang sombong, arogan atau angkuh?
Saya selalu terkagum-kagum melihat beberapa musisi terkenal yang ternyata masih mampu tampil ramah dan rendah hati. Banyak diantara mereka bahkan menampilkan pribadi yang bersahaja, murah senyum dan dekat dengan penggemarnya. Mengapa saya kagum? Karena saya pun telah bertemu dengan para artis yang bersikap sebaliknya. Artis-artis yang angkuh dan sombong ini justru lebih banyak jumlahnya dibanding yang rendah hati. Baru kemarin ngetop, hari ini mereka sudah menunjukkan sikap yang sangat sombong, bukan saja kepada fansnya, tetapi juga terhadap musisi-musisi yang jauh lebih senior dari mereka. Hal ini pernah diungkapkan oleh beberapa musisi legendaris kepada saya, dan mereka amat menyayangkan hal itu. Tidak jarang para senior ini harus menunggu kapan mereka berkenan datang ke lokasi acara untuk bermain bersama, dan ketika mereka terlambat, tidak sepatah kata maaf keluar dari mereka. Ada beberapa band yang begitu mulai tenar ternyata meninggalkan kesan buruk di kalangan penyelenggara musik, dan sebagai akibatnya mereka pun langsung tenggelam. Alangkah sayangnya jika kesuksesan menjadi lenyap ditelan angin hanya karena sikap tinggi hati ini. Ketika sikap seperti ini yang menguasai kita, maka sadar atau tidak, akan ada begitu banyak hal yang baik akan sirna dari diri kita. Bukan hanya manusia saja, tetapi Tuhan pun sangat menekankan sikap rendah hati ini, dan itu merupakan sebuah kunci yang mutlak untuk dimiliki karena kita harus sadar bahwa semua berkat, keberhasilan atau kesuksesan itu sesungguhnya berasal dari Tuhan.
Salah satu channel tv yang saya sukai adalah Animal Planet. Di sana saya bisa melihat banyak acara tentang orang-orang yang menjalani panggilan hidupnya untuk menjaga kelestarian hewan. Ada acara tentang dokter hewan yang sampai pergi ke Afrika untuk mengobati hewan-hewan disana, ada yang tugasnya menangkap ular yang masuk ke rumah warga untuk dikembalikan ke alamnya, ada polisi satwa yang menangkap orang-orang yang menyiksa atau memperlakukan hewan piaraannya secara buruk dan lain sebagainya. Sementara manusia cenderung bertambah egois atau bahkan kejam terhadap sesamanya, di saluran ini saya melihat sosok-sosok manusia yang menunjukkan kasihnya kepada hewan. Pada kenyataannya di Indonesia saja kita sering melihat orang memperlakukan hewan piaraannya dengan kejam. Ada anjing yang diikat diluar sepanjang hidupnya, terkena panas terik dan hujan begitu saja, ada yang tidak diberi makan, dibiarkan ketika diserang kutu dan sebagainya. Tuhan mengasihi manusia secara istimewa, itu benar. Tetapi bukan berarti bahwa Tuhan tidak mengasihi hewan dan tumbuhan yang notabene merupakan ciptaanNya juga. Manusia merusak lingkungan, menebang pohon sembarangan, merusak habitat hewan bahkan memburu mereka termasuk hewan-hewan langka di dalamnya tanpa merasa bersalah. Padahal ini pun sebenarnya sudah melanggar Firman Tuhan, karena sejak semula Tuhan sudah mengingatkan tugas kita dalam menjaga kelestarian alam beserta isinya.
Saya yakin semua setuju kalau hidup ini merupakan proses belajar. Mulai dari bayi kita sudah mengalami proses pembelajaran. Belajar merangkak, belajar duduk, kemudian belajar bicara. Lalu masuk playground, taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA, kuliah. Setelah lulus S1 ada yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ditengah-tengah proses pendidikan formal kita pun belajar banyak hal lagi, seperti tata krama, sopan santun atau belajar mengenal Tuhan dan FirmanNya. Ada yang mengambil kursus-kursus atau kejuruan, seperti kursus bahasa Inggris, kursus komputer, memasak dan lain-lain. Apapun itu, yang pasti kita akan terus berusaha menambah ilmu selagi bisa dan punya kesempatan. Semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin besar pula kesempatan kita untuk sukses, tentu saja apabila kita memakainya dengan baik dan tidak menyia-nyiakannya.