Wednesday, November 24, 2010

Making Excuses (2): Kisah Saul

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: 1 Samuel 15:24
=====================
"Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka."

saul, alasanApa yang ada di benak kebanyakan orang ketika terlambat? Rata-rata akan segera memutar otak untuk mencari alasan yang paling masuk akal. Jalanan macet, kehabisan bensin, ban pecah, mogok, dan banyak lagi alasan-alasan lainnya akan segera dijadikan alternatif untuk dipilih. Seandainya ada sekolah khusus di bidang membuat alasan, mungkin kita sudah bisa mendapatkan gelar setara doktor atau bahkan profesor. Betapa kreatifnya otak kita dalam merancang alasan. Jika berselisih dengan seseorang pun sama saja. Ketimbang menyampaikan maaf dengan tulus, kita akan lebih suka mengeluarkan jurus "sebab-akibat". "Saya terpaksa harus berbuat itu karena kamu begini, begitu.." dan sebagainya. Padahal kalau kita pikir baik-baik, semua keputusan ada di tangan kita. Kita cenderung untuk mencari alasan ketika bersalah, bahkan ketika kita sedang meminta maaf pun seringkali alasan-alasan ini masih juga tercetus keluar dari bibir kita. Setidaknya untuk mengurangi konsekuensi yang harus kita tanggung akibat kesalahan kita syukur-syukur jika bisa melepaskan kita sepenuhnya.

Kemarin kita sudah melihat bahwa sikap seperti ini sudah terjadi pada awal kejatuhan manusia dalam dosa. Sikap Adam dan Hawa yang ketahuan melanggar larangan Tuhan dengan memakan buah dari pohon pengetahuan akan baik dan buruk tidak mereka sikapi dengan jantan atau dewasa. Bukannya meminta maaf dengan tulus tetapi malah saling melempar kesalahan dan mencari alasan agar tidak dipersalahkan. Di awal terpuruknya manusia ke dalam dosa buat kali pertama, kecenderungan mencari alasan ini sudah terjadi, mendahului berbagai dosa-dosa lainnya yang akan muncul kelak setelahnya. Hari ini mari kita lihat sebuah contoh lain dalam mencari alasan lewat pribadi Saul.

Saul memulai segala sesuatu dengan sangat indah. Ia dikatakan sebagai orang yang elok rupanya dan bertubuh tinggi (1 Samuel 9:2). Ia juga dikatakan sebagai pribadi yang rendah hati (ay 20-21), penuh Roh Allah seperti halnya nabi (10:10-13). Tetapi awal yang indah itu ternyata tidak mampu ia pertahankan. Mulai dari 1 Samuel pasal 13 kita melihat tanda kejatuhan Saul. Kegemilangannya tidak diikuti dengan ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan. Ia mulai kehilangan kesabaran, ia mulai dilanda ketakutan akan kehilangan jabatan sebagai raja dan berbagai kekhawatiran lainnya. Bukannya menyerahkan pada Tuhan, tetapi ia justru meminta petunjuk dari arwah karena gentar menghadapi bangsa Filistin dan takut tidak didukung lagi oleh bangsanya. (13:11-12).

Pada 1 Samuel 15 kita bisa melihat bagaimana Saul kembali membangkang terhadap Tuhan. Pada saat itu Saul diperintahkan untuk menumpas orang Amalek secara total, termasuk ternak-ternak yang mereka miliki. (ay 3). Tapi apa yang dilakukan Saul? "Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka." (ay 9). Saul dan rakyatnya tidak menuruti perintah Tuhan. Mereka menyimpan ternak-ternak yang gemuk dan hanya menghabisi yang berada dalam kondisi buruk. Mereka merasa sayang jika membuang kesempatan untuk bisa menjadi makmur lewat ternak-ternak hasil rampasan itu. Dan akibatnya marahlah Tuhan. Tuhan bankah mengatakan "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." (ay 11). Ketika teguran Allah disampaikan lewat Samuel, apa reaksi Saul? Saul segera bikin berbagai macam alasan. "Jawab Saul: "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas." (ay 15). "Bukan membangkang, tapi justru kami sengaja menyimpannya untuk dipersembahkan kepada Tuhan kok.." begitu kira-kira pembelaan diri Saul. Alasan itu kembali ia ulangi pada ayat berikutnya. "Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal." (ay 21). Ketika Samuel terus mencecarnya hingga ia  tidak bisa berkelit lagi, ia pun mengeluarkan alasan berikutnya. "Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka." (ay 24). Kali ini Saul berdalih bahwa ia terpaksa melanggar karena takut kepada rakyat yang dipimpinnya. Saul memberikan berbagai alasan untuk memberi pembenaran atas pelanggarannya. Semua ini adalah pilihan yang keliru. Manusia mungkin bisa ditipu dengan alasan, tetapi kita tidak akan pernah bisa mengelabui Tuhan karena Tuhan jelas tahu segala-galanya. Tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Tuhan. Kita bisa melihat akibatnya, karena segala awal gemilang yang ada pada Saul harus berakhir dengan kejatuhan dan kebinasaan.

Sesungguhnya tidak ada satupun hal yang tersembunyi bagi Tuhan. Mungkin kita bisa memperdaya manusia lewat alasan-alasan yang kita ciptakan, tetapi itu tidak akan pernah mampu memperdaya Tuhan. Pada saatnya kelak kita harus mempertanggungjawabkan segala-galanya di hadapan tahta Tuhan, termasuk pula berbagai alasan yang mungkin kita anggap biasa-biasa saja atau bukan apa-apa dibanding dosa-dosa lainnya yang menurut kita lebih serius. Dari contoh Saul kita bisa melihat bahwa terus bikin alasan bisa membuat kita kehilangan kepercayaan dari Tuhan. Pilihan ada pada kita. Apakah kita mau mengaku dengan jujur dan bertanggung jawab atas kesalahan kita, lalu mau bersikap dewasa dengan menanggung konsekuensinya atau kita memilih untuk terus membela diri dengan berbagai alasan lalu kehilangan kepercayaan Tuhan. Besok kita akan melihat sosok lain yang memilih untuk mengakui secara jantan seluruh kesalahannya dan bagaimana Tuhan memandang hal itu.

Jangan rusak permintaan maaf kita dengan berbagai alasan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

1 comment :

Anonymous said...

Shalom! Terima kasih RHO selalu update renungan dan bahasannya secara lengkap. :) Sebagai pelajar yang sedang merantau, RHO jadi saluran Tuhan untuk bicara pada saya setiap hari sebagai ganti orang tua.

Kali ini, ada ayat yang menarik perhatian saya; yaitu 1 Samuel 15:11, disitu Tuhan berfirman pada Samuel, "Aku menyesal". Kaget sekali, karena ini pertama kalinya saya baca ayat yang menunjukkan penyesalan Tuhan.

Menurut RHO, kenapa Tuhan bisa sampai menyesal? Bukannya Tuhan Mahatahu? Seharusnya, Dia yang paling mengenal kita bahkan sebelum kita dibentuk di kandungan ibu? Dari kecil saya sering kali mendengar, "Dosa membuat hati Tuhan sedih"...kalau begitu, kenapa Tuhan beri manusia hidup? Kita cuma bisa buat hatiNya sedih saja kan...kenapa ya RHO?

Belakangan ini juga saya jadi sering berpikir sendiri, untuk apa saya dilahirkan ke dunia ini? Rasanya bukannya lebih baik kalau saya ngga dilahirkan? Saya masih punya 2 orang adik, walaupun baru2 ini saya dapat beasiswa tapi secara keseluruhan, biaya sekolah dan hidup di luar negeri tidak sedikit; saya tahu. Jadinya, saya pikir bukan cuma Tuhan, tapi saya sudah bikin orang tua, teman2, orang2 di sekitar saya "menyesal" mengenal saya? Jadi jauh sekali dari topik tentang making excuses nih, tapi saya hanya sedang kepikiran saja.

Sampai hari ini, saya memang belum dapat jawaban untuk pertanyaan, "Kenapa saya hidup?". Satu-satunya jawaban yang mungkin paling saya kenal adalah satu baris lirik lagu "Sbab Dia Hidup", yaitu "Hidup jadi berarti sbab Dia hidup."

Terima kasih untuk balasannya. Kalau sibuk, RHO bisa balas kapan saja. Saya tunggu update renungan besok. Tuhan berkati. :)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker