===================
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."
Buah semangka pada gambar di sebelah kiri memang unik. Tidak seperti buah semangka yang kita kenal berbentuk bulat, kali ini buahnya berbentuk kubus. Rekayasa komputer? Tidak. Ini adalah buah semangka yang bisa dimakan, seperti buah semangka normal lainnya. Semangka berbentuk kubus ini adalah hasil pengembangan dari Jepang. Karena toko/supermarket mereka dirasa terlalu padat, maka mereka memikirkan cara bagaimana agar mereka bisa lebih menghemat ruang. Dan kalau anda menganggap bahwa proses pembentukan semangka ini sangat sulit dan butuh teknologi muktahir, anda pun salah. Ternyata caranya amat sederhana; cukup dengan menempatkan buah semangka yang sedang tumbuh ke dalam sebuah wadah berbentuk kubus, dan hasilnya? Buah-buah semangka dalam kubus itu pun akan terbentuk seperti kubus, menyerupai tempat penyimpanannya. Konsumen di Jepang pun senang dengan bentuk ini, karena mereka bisa menghemat ruang penyimpanan mereka dalam kulkas. Meskipun rasanya sama, semangka dalam bentuk kubus ini punya harga yang jauh lebih mahal dari yang biasa.Kalau dipikir-pikir memang luar biasa, bagaimana bentuk alami buah semangka bisa dibentuk mengikuti bentuk wadah penyimpanan ketika mereka tumbuh. Fenomena semangka ini pun paralel dengan diri kita yang tengah hidup di dalam dunia dengan beragam pengaruh. Sudah tidak heran lagi kalau orang bisa terbentuk dari pengaruh lingkungan di mana dia tinggal atau tumbuh besar. Pengaruh dari pergaulan, hingga pengaruh dari apa yang mereka lihat di televisi dan bioskop, pengaruh dari artis favorit dan lain-lain, semua itu bisa membentuk seseorang, baik ke arah yang positif ataupun negatif. Sayangnya dunia ini menawarkan begitu banyak hal yang seolah-olah baik dan indah, padahal arahnya menjerumuskan kita ke arah kegelapan. Ayat bacaan hari ini mengingatkan kita untuk tidak terjerumus pada hal-hal duniawi, tapi terbentuk oleh pembaharuan budi. Akal budi, hikmat, kebijaksanaan berasal dari Allah, dan akan kita dapatkan jika kita selalu mau membuka diri kita menerima firman Tuhan. Dan biarlah firman Tuhan itu bekerja dalam diri kita, dan menghasilkan pribadi yang berkenan di hadapan Allah, bukan sebaliknya membiarkan bentuk-bentuk tekanan dan pengaruh duniawi membentuk diri kita.
Terkadang proses pembentukan itu tidaklah mudah, malah seringkali menyakitkan. Tapi apabila kita rela dan taat pada Tuhan, hasil yang akan kita dapatkan akan bernilai sangat tinggi, baik bagi kehidupan kita, bagi sekitar kita, bagi dunia dan terutama bagi Allah. Kita akan mencerminkan kemuliaan Tuhan, diubah semakin menyerupai gambarNya dalam kemuliaan yang terus bertumbuh (2 Kor 3:18). Pengaruh dunia boleh saja terus berusaha menarik kita, tapi tidak akan berhasil jika kita tetap berada dan bertumbuh dalam wadah firman Tuhan.
Terbentuk oleh firman Tuhan akan menghasilkan pribadi-pribadi penuh kemuliaan
Matematika bagi sebagian anak adalah pelajaran yang kurang disukai. Saya sendiri waktu kecil menyukai matematika, karena cara ibu saya mengajarkan dengan cara yang menarik. Kalau penjumlahan dan pengurangan mungkin tidak begitu sulit, tapi perkalian dan pembagian sedikit lebih rumit, terutama ketika baru pertama kali diajarkan. Saya ingat ketika ibu saya mengajarkan perkalian. Ibu saya mengajarkannya lewat buah jeruk. Dua buah jeruk, kalau dibagi dua, hasilnya satu di kiri dan satu di kanan. Jadi jawabannya satu. Satu jeruk dibagi dua? Beliau membelah jeruknya, dan hasilnya setengah jeruk, dua potong. Jadi jawabannya setengah. Beliau mengajarkan dengan telaten, karena saya, seperti anak-anak lainnya, punya begitu banyak pertanyaan. Dibutuhkan trik khusus dan metode menarik untuk mengajarkan anak-anak, bahkan hingga harus mengajak si anak bermain lebih dahulu. Dari tidak tahu, kemudian menjadi tahu, lalu mempelajari hal-hal lain yang jauh lebih rumit. Itu namanya tumbuh.










Alkisah di suatu desa, ada kabar yang menggembirakan. Orang-orang di desa itu gembira mendengar bahwa putra sulung sang kepala desa akhirnya akan pulang ke desanya setelah meraih gelar sebagai seorang dokter. Rencananya, ia pulang untuk mencari istri alias pendamping hidupnya.
Ada seorang teman ketika SMP yang selalu ditertawakan karena sifatnya. Ketika orang bercerita tentang sebuah band musik, dia tiba-tiba datang dan nyeletuk "ih, band setan!" Ketika orang bicara tentang artis atau film, dia akan berkomentar "huh, film setan, artis setan." baginya kehidupan duniawi setara dengan setan. "Awas, nanti masuk neraka loh.." , "dikutuk Tuhan ntar.." dan lain-lain, itu semua hampir jadi makanan sehari-hari. Tidak salah memang untuk menasihati orang lain, karena itu merupakan bentuk kepedulian, tetapi jika dilakukan dengan cara yang ekstrim? Bagaimana orang bisa mengenal Tuhan Yesus jika melihat Kristen sebagai sebuah mahluk paranoid dan tidak gaul? Bukannya membawa orang untuk mengenal Yesus, tapi malah semakin menjauh.
Ketika saya masih kuliah, ada seorang teman yang selalu menyapa ramah jika ada maunya. Pada saat itu dia aktif di sebuah MLM yang menjual produk tertentu. Supaya produknya laku, dia pun melimpah dengan pujian setiap pagi. "wah, ganteng sekali hari ini...", "wow, cakepnya..", "rapi sekali kelihatannya.." dan lain-lain. Saya ingat setiap kali dia muncul, teman-teman pun sudah mulai tertawa membayangkan apa yang akan dia katakan sebentar lagi. Setelah lulus kuliah, dia diterima kerja di sebuah perusahaan di Jakarta, dan hanya dalam waktu kurang dari sebulan, dia pun berhenti. Ketika saya tanya kenapa, dia menjawab bahwa orang-orang disana menyebalkan semua. Saya heran, masa sih sekantor menyebalkan kecuali dia?


"No man is an island" adalah sebuah peribahasa yang sudah sering kita dengar. Kalimat yang berasal dari puisi buah karya John Donne sekitar tahun 1600 an ini menggambarkan bahwa tidak ada orang yang sanggup hidup sendirian. Manusia adalah seorang mahluk sosial yang butuh berinteraksi dengan sesama. Manusia tidak akan mampu berbuat apapun jika terisolasi dari sekitarnya. Manusia pun merupakan bagian integral dari sebuah sistem sosial, tidak berdiri sendiri.Ada kisah menarik dari alkitab yang bisa kita baca. Pada satu hari Yesus kembali ke Kapernaum, dan orang ramai berkerumun mendatangi Dia untuk mendengar firman Tuhan. Tempat itu penuh sesak hingga tidak ada tempat kosong lagi. Mendadak atap terbuka, dan turunlah seorang lumpuh terbaring di atas tilam yang digotong oleh empat orang. Yesus pun menyembuhkan orang itu. Rasanya ini kisah yang sudah tidak asing lagi bagi kita.
Masa lalu saya adalah masa lalu yang emosional. Dulu saya termasuk orang bertempramen tinggi. Sedikit saja tersinggung, ditambah suasana hati yang sedang tidak stabil, emosi saya bisa meledak begitu saja tanpa terkendali. Dan semakin lama emosi itu berada pada satu situasi, semakin besar pula api emosi itu membakar diri saya. Pada saat itu, saya menjadi budak amarah. Tidak jarang saya menyatakan pembenaran atas sifat itu. "Daripada dipendam dan bikin penyakit, lebih baik dimuntahkan habis-habisan biar selesai!" Selesaikah? lucunya tidak. Tapi pembenaran itu terus saya ucapkan. Untunglah belum pernah terjadi apa-apa yang bisa menyebabkan saya menyesal seumur hidup dengan emosi itu. Hal yang saya ingat adalah, setelah kobaran emosi itu mulai reda, yang saya rasakan adalah rasa lelah luar biasa. Untunglah setelah saya lahir baru, sifat buruk itu secara bertahap berkurang. Puji Tuhan yang telah memberi rasa sukacita lewat kasihNya, sifat pemarah itu sudah sangat banyak terkikis. 
Hari ini saya memutuskan untuk naik angkot untuk menghadiri sebuah seminar. Supir angkot yang saya naiki punya tempramen aneh. Dia tidak dalam keadaan marah, tidak mabuk, tidak gila, tapi dia ngomel sepanjang jalan. Mulai dari mobil yang berjalan pelan, penumpang yang minta turun tidak pada tempat yang dia suka, orang di pinggir jalan yang tidak mau naik angkotnya dan lain2. Karena dia ngomel tidak dalam keadaan marah, saya yang kebetulan duduk tepat di belakangnya mencoba bercanda, "mas, nanti umurnya pendek lho kalau seperti itu.." Jawabannya? "ah biarin. ngapain juga hidup lama-lama kalau susah gini.." dan sederetan kalimat-kalimat lain. Dari apa yang dia keluhkan, rasanya saya bisa mengambil kesimpulan kalau dia sedang mengalami kesusahan dari segi keuangan. Lama-lama ngomelnya sampai ke arah agama. "percuma atuh mah disuruh sembahyang, disuruh ini, itu..memangnya Allah bisa ngasi duit? nggak ada yang adil di dunia ini, apalagi buat orang miskin.."
Ketika saya pulang ke kampung halaman bulan lalu dan mengunjungi rumah orang tua saya, saya melihat kembali sebuah piano antik yang dulu saya pakai untuk belajar piano, sejak kecil hingga remaja. Betapa piano itu tidak terurus, dinding-dindingnya banyak yang habis dimakan rayap, suaranya sudah tidak ada yang benar lagi. Saya pun ingat, dulu ketika beberapa tuts piano itu mengeluarkan suara yang sumbang, ibu saya memanggil tukang stem piano. Saya masih ingat betul bagaimana si bapak tukang stem mendeteksi bunyi satu persatu. Dia duduk diam, konsentrasi penuh, dan kemudian menekan tuts. Dia akan segera mendapati suara-suara sumbang, dan segera memutar obeng stemnya ke satu arah. Dia tidak mencoba-coba dahulu harus putar ke kiri atau ke kanan, tapi langsung ke satu arah, setelah mendengar nada yang dihasilkan oleh tuts yang ditekannya. Tidak ada peralatan lainnya, hanya si bapak dan seperangkat obeng khusus. Saya dulu bertanya pada si bapak, dia bisa seahli itu karena bakat atau belajar sekian lama? Si bapak cuma senyum dan menjawab, "bapak sudah kenal sama piano dari dulu..itu aja alasannya."
Hari ini saya menuliskan apa yang menjadi motivasi saya untuk berkomitmen menulis renungan secara rutin. Saya bukanlah orang yang mengenal Tuhan Yesus dari kecil. Saya hidup di keluarga multi agama, dan melewatkan masa kecil saya dengan kondisi keimanan yang diperebutkan oleh kedua orang tua saya. Bukan hanya belum mengenal Yesus, hidup saya pun dulu bergelimang dosa. Satu ketika di tahun 2001, melalui serangkaian peristiwa yang sulit saya jelaskan, Tuhan menyatakan dirinya beberapa kali. Ketika ibu saya dalam kondisi serius di rumah sakit akibat kanker, saya pun mengalami lagi berbagai peristiwa yang sulit dijelaskan secara logika manusia, dan puncaknya adalah perjumpaan saya dengan Tuhan Yesus. Pada saat itu, saya tidak menunggu lagi dan segera menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi saya dan dibaptis sebagai tanda ketaatan saya. Setelah itu? Hidup tidak menjadi gampang. Saya diproses cukup keras, yang nanti pada suatu waktu akan saya bagikan sebagai renungan. Tapi yang saya tahu, dalam setiap proses yang saya jalani itu, saya merasakan betul bahwa Tuhan tetap ada bersama saya, dan Dia bukan menyiksa saya, melainkan membentuk saya menjadi manusia baru.
Salah satu profesi sampingan saya adalah sebagai wartawan musik, khususnya jazz. Dalam event2 jazz biasanya saya ikut meliput atau wawancara, baik sendiri atau terkadang bareng rekan dari radio. Suatu kali saya ngobrol dengan rekan saya dari sebuah radio, dia berkata sedang menunggu free pass untuk masuk ke sebuah event jazz. Harga tiketnya sendiri sebenarnya cukup murah, tapi dia hanya mau datang jika mendapatkan tiket gratis atau free pass. "gue nggak mau keluar duit, ini kan tugas, ya harusnya difasilitasi dong.." begitu kira-kira katanya. Fasilitas itu bukan cuma kesempatan masuk gratis, tapi juga ongkos lainnya alias uang jalan. Saya rasa apa yang ia katakan masuk akal, karena untuk urusan itu tentu ada beberapa ongkos yang harus ia keluarkan selama perjalanan. Bagi anda yang mengutus salah seorang pegawai untuk mengantar barang atau menyampaikan sesuatu pada orang lain juga pastinya harus memberikan ongkos atau uang saku untuk dijalan. Ini bukan hal aneh, bukan hal unik, bukan hal baru, tapi merupakan hal yang hampir setiap saat kita lakukan. Yang unik justru ayat bacaan hari ini, ketika Yesus mengutus kedua belas muridNya untuk tugas seperti yang dilakukan Yesus.
Repot benar kalau kita salah jalan di kota besar. Kesemrawutan dan kepadatan lalu lintas terpaksa diatasi dengan membuat ruas2 jalan yang searah. Akibatnya, untuk mencari tempat dimana kita bisa berbalik arah bisa sangat jauh. Bayangkan kalau anda terperangkap macet, dan anda lupa belok, maka anda harus terus terperangkap dalam mencari jalan dimana anda bisa berbalik arah. Saya pernah mengalami hal ini, malah beberapa kali di Jakarta. Hanya gara2 keterusan, perjalanan saya menjadi bertambah extra satu jam.
Dunia yang kita tempati ini adalah dunia yang penuh diskriminasi. Kalau kita bicara diskriminasi, mungkin pikiran akan segera melayang pada diskriminasi akibat perbedaan warna kulit. Memang, di banyak tempat yang masih dalam satu dunia yang sama, orang berkulit hitam mendapat batasan2 yang sangat parah. Saya pernah melihat seorang kulit gelap dipukuli beramai2 oleh gang kulit putih di luar negeri, dan saat itu saya buru2 pergi sebelum mereka melihat saya yang kulitnya juga tidak seputih salju. Slogan "white is right", itu dipakai beberapa kelompok2 tetentu sebagai slogan superioritas mereka. Itu saja? Tidak. Itu baru satu bagian kecil dari contoh diskriminasi. Coba lihat, dalam dunia pekerjaan, diskriminasi bisa berlaku dalam banyak hal. Jika anda suku tertentu, atau bisa bahasa tertentu, maka gaji anda lebih tinggi daripada rekan kerja yang telah bekerja lebih lama sekalipun. Dalam pergaulan? setali tiga uang. Banyak orang yang hanya mau berteman dengan orang dari suku yang sama, agama yang sama, status atau kekayaan yang sama dan lain2. Malah lebih ekstrim lagi, banyak orang yang tidak mau berteman dengan orang dari Gereja yang berbeda, walaupun sama2 menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya. Kalau ada yang mengira di rumah orang bisa lepas dari bentuk diskriminasi, mereka salah. Di rumah sekalipun bentuk2 diskriminasi masih terjadi. Ada anak emas, jangan2 nanti ada pula "anak perak", ada "anak perunggu", bahkan anak yang tidak kebagian "medali". Ada yang dipuji dari prestasi di sekolah, anak yang ganteng dan cantik, sementara yang kurang, kalau bisa jangan dilihat orang deh. Padahal kita masih bicara tentang anak2 yang berasal dari kandungan yang sama.