======================
"Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan"
Rasanya semua anak Tuhan akan sependapat bahwa beribadah kepada Tuhan merupakan hal yang sifatnya wajib. Ada hari yang harus kita pergunakan sebagai kesempatan untuk beribadah bersama-sama dengan saudara-saudari seiman di gereja, berkumpul bersama untuk memuji dan memuliakan Tuhan, bersyukur atas penyertaanNya dalam hidup kita. Selain itu ada pula yang turut dalam persekutuan-persekutuan, kumpulan keluarga dan sebagainya dimana selain menyembah Tuhan bersama-sama, disana para anggotanya juga akan saling menguatkan, menghibur, menasehati dan saling menolong. Diluar itu semua, setiap hari kita juga sangat dianjurkan untuk meluangkan waktu untuk bersaat teduh, membangun mezbah keluarga, dan alangkah baiknya jika setiap saat kita bisa menyadari bahwa ada Tuhan beserta kita sehingga kita menjalani hari ke hari sepenuhnya bersama Tuhan. Semua itu merupakan hal wajib yang idealnya dilakukan oleh semua orang percaya. Karena wajib itu pula, ada banyak orang yang kemudian melupakan esensi dari sebuah ibadah dan melakukannya hanya karena kewajiban semata, sebagai sebuah rutinitas yang terbiasa dilakukan tanpa mengingat makna penting di balik itu semua. Kita melihat ada orang yang terkantuk-kantuk di gereja, lalu menyalahkan kotbah yang dianggap membosankan sehingga membuatnya mengantuk. Ada pula yang menyalahkan worship leader ketika mereka merasa sulit masuk ke dalam hadirat Tuhan ketika pujian dan penyembahan. Tempat kurang nyaman sehingga sulit konsentrasi, ibadahnya terlalu lama dan sebagainya, sering dipakai sebagai alasan, ini semua menggambarkan bahwa orang tersebut sebetulnya melupakan hakekat utama dari ibadah. Semua masih dipandang sebagai rutinitas lahiriah saja, sehingga pengaruh-pengaruh luar pun dapat dengan mudah mengganggu kita dalam menunaikan ibadah. Fokus yang salah dalam beribadah, mengacu lebih kepada hal-hal lahiriah ketimbang untuk membangun kekuatan rohaniah kita tidak akan membawa kita untuk mendapatkan apa-apa. Padahal ibadah sangat berguna untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik dan membuat pertumbuhan rohani kita semakin dewasa. Hal ini tentu hanya dapat dicapai jika kita memahami hakekat sebenarnya dari ibadah itu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena menjelang hari-hari terakhir. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5). Ini adalah golongan yang secara lahiriah melakukan ibadah, datang ke gereja, berdoa, menyanyi, namun semua itu dilakukan tanpa disertai kerinduan yang sungguh-sungguh, melainkan hanya sebatas aktivitas rutin semata. Tidak heran mereka ini akan tetap hidup dalam keraguan dan gampang goyah ketika permasalahan menerpa mereka. Mereka hadir dalam ibadah, namun pada hakekatnya memungkiri kekuatannya. Secara fisik mereka menjalankan kewajiban beribadah, tapi sebenarnya mereka tidak menangkap inti dari ibadah itu sendiri. Maka tidak akan ada apa-apa yang dialami dan diperoleh dari ibadah itu sendiri. Semua hanyalah akan sia-sia.
Ibadah yang benar seharusnya bisa membuat hidup diubahkan menjadi lebih baik dengan pertumbuhan iman yang pesat. Hakekat dari ibadah sesungguhnya adalah sebuah sarana bagi kita untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan, masuk dan diam dalam hadiratNya, bersekutu dan bergaul akrab dengan Tuhan. Jika ini kita sadari penuh, maka kita tidak akan main-main lagi dalam ibadah kita. Ibadah yang benar akan menghasilkan sesuatu yang besar. Kita bisa belajar dari kesungguhan hati jemaat mula-mula. "Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (Kisah Para Rasul 2:46-47). Lihatlah bagaimana Tuhan memberkati mereka dengan jiwa-jiwa.
Ibadah tidak hanya terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya, sesuatu yang tidak berasal dari hati kita yang terdalam. Tuhan tidak suka dengan orang-orang seperti itu. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa ada hukuman Tuhan yang akan jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27).
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Ini adalah pesan penting bagi kita. Kita diminta untuk terus berusaha hidup kudus, sehingga kita bisa memberikan hidup kita sebagai persembahan yang berkenan bagi Allah. Inilah sesungguhnya ibadah yang sejati, bukan hanya melakukan segala sesuatu secara lahiriah dan terus membiarkan diri kita untuk dikuasai berbagai dosa. Ibadah yang sejati akan menghasilkan perubahan budi, yang akan membuat pribadi kita menjadi baru, terus bertumbuh lebih baik lagi dengan mengetahui kehendak Allah, apa yang baik dan berkenan kepadaNya dan apa yang sempurna. (ay 2). Kita harus terus melatih diri kita untuk beribadah dengan benar, karena itu akan sangat berguna baik untuk hidup di dunia maupun untuk hidup yang akan datang. (1 Timotius 4:7b-8). Tuhan telah memberi keselamatan atas kita sebagai kasih karuniaNya yang begitu besar, oleh karena itu ia menginginkan kita untuk meninggalkan kefasikan dan kedagingan, nafsu-nafsu duniawi dan memilih hidup bijaksana dan taat beribadah. "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini" (Titus 2:11-12). Ibadah yang dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh karena kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, mengasihiNya sepenuh hati akan sangat berguna, sebaliknya ibadah yang dilakukan hanya sebatas lahiriah atau seremonial saja selain tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa malah akan menjatuhkan hukuman atas kita. Karenanya selagi kesempatan untuk beribadah masih ada, manfaatkanlah itu sebaik-baiknya dan lakukanlah dengan menyadari hakekat ibadah yang benar. Don't turn your back on God, let's worship Him with our heart and soul.
beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu (1 Samuel 12:20b)

Ah, percuma saja, mau bagaimana juga tidak akan ada yang bakal berubah. Sudah begini memang nasibku.." Itu dikatakan seorang teman saya menyikapi usahanya yang bukannya meningkat tetapi malah menurun. Teman saya ini adalah orang percaya. Ia pun rutin beribadah setiap hari Minggu di gereja. Bahkan ia lahir dalam keluarga Kristen juga. Sudahkah berdoa? Itu saya tanyakan. "Sudah, tapi kalau kondisinya memang seperti ini doa pun percuma." katanya lagi. Rajin beribadah ternyata belum menjamin orang untuk memiliki iman yang cukup dalam mempercayai kekuatan dan kuasa Tuhan. Dan sikap teman saya ini sudah beberapa kali saya jumpai sebelumnya, dan mungkin bisa mewakili banyak orang percaya lainnya yang meski rajin menjalankan ibadah mereka tetapi mereka sendiri tidak percaya kepada kekuatan yang bisa hadir di dalamnya. Seorang teman lagi pernah bercerita bahwa mukjizat yang dialaminya ditertawakan oleh teman-teman segerejanya. Mereka menganggap dirinya mengada-ada dalam kesaksiannya. Ia pun sedih ketika bercerita mengenai hal itu. Di satu sisi orang berharap mukjizat terjadi dalam hidupnya, tetapi di sisi lain mereka sendiri ragu dan memungkiri itu. Itu menjadi gambaran sikap banyak orang hingga hari ini.
Di saat orang pertama kali jatuh cinta, mereka akan merasakan segala-galanya sangat indah. Yang paling pahit pun terasa manis. Segala kekurangan pasangannya akan dirasa seperti sebuah kelebihan dengan perasaan cinta yang meluap-luap. Semua hal yang dapat menyenangkan kekasih akan dilakukan dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Itu hal yang biasa kita jumpai ketika orang yang baru jatuh cinta. Pada suatu saat ketika sebuah hubungan berjalan sebagai sebuah rutinitas dari hari ke hari, perlahan orang akan mulai kehilangan rasa cinta yang meluap-luap seperti di awal. Tidak lagi ada gairah disana, tidak lagi ada semangat dan hasrat untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya demi orang yang kita cintai, tapi hanya didasarkan semata-mata karena itu adalah sebuah kewajiban. Ketika pertama kali lahir baru, kita pun mengalami cinta yang meluap-luap pada Kristus. Kita akan sangat termotivasi dan bersemangat ketika melakukan ibadah karena kita sangat mengasihi Kristus. Namun lama kelamaan jika semua itu menjadi satu rutinitas, tanpa sadar banyak diantara anak-anak Tuhan yang akhirnya kehilangan arah dan tujuan, kehilangan kasih mula-mula mereka. 
Efek naik tangga beberapa tingkat berbeda bagi orang yang sering berolahraga dengan yang jarang atau tidak sama sekali. Bagi yang suka berolahraga, naik tangga beberapa lantai ke atas tidak akan terasa melelahkan. Mereka akan tetap terlihat normal alias biasa-biasa saja. Sedang yang jarang berolahraga tentu akan kehabisan nafas, terengah-engah, keringat dingin, sesak nafas dan menjadi sulit bicara. Pada suatu kali di sebuah kantor lift mendadak mati, sehingga saya bersama beberapa orang harus turun dari lantai 8 menuju ke dasar. Maka terlihat jelaslah orang yang sering berlatih kebugaran dengan yang tidak, terutama setelah mencapai lantai bawah. Usia tidak membawa pengaruh berarti, karena ada beberapa diantara mereka yang sudah cukup lanjut usia ternyata mampu 'mengalahkan' yang lebih muda dari segi kebugaran.
Tepat di depan rumah saya ada sebuah jalan menurun menuju ke perkampungan yang letaknya jauh di bawah. Jalannya menurun dengan cukup curam. Saya pernah mencoba naik turun di sana, dan hasilnya saya kehabisan nafas. Terengah-engah, sesak kecapaian. Padahal itu baru satu kali pulang pergi. Sementara penduduk-penduduk yang tinggal di bawah sama sekali tidak merasakan hal itu. Saya sering melihat mereka bolak balik tanpa kehilangan nafas. Berkeringat pun tidak. Kakek-kakek dan nenek-nenek pun sama. Mereka sama sekali tidak letih. Bagaimana bisa demikian? Mereka sudah terbiasa naik turun sehingga itu bukan lagi menjadi masalah. Mereka terlatih, sedangkan saya yang malas berolah raga ini merasa itu sangat berat untuk dilalui.
"Biarpun tidak ke gereja, yang penting hati kita bersih." Itu diucapkan oleh tetangga saya yang sudah begitu lama tidak menginjakkan kakinya di gereja. Ini sebuah "excuse" atau pembenaran yang begitu sering kita dengar dari orang-orang percaya yang tidak merasa perlu untuk beribadah ke gereja. Yang penting hati kita bersih. Itu tidaklah salah. Karena kita memang diminta untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah, dan itu dikatakan sebagai ibadah yang sejati. (Roma 12:1). Tetapi segala sisi kehidupan yang sulit ini cepat atau lambat bisa membuat roh kita lelah. Kita berhadapan dengan berbagai situasi yang bisa membuat daya tahan kita melemah. Kita tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh orang lain untuk mengingatkan kita, kita butuh saudara-saudari seiman untuk bertumbuh bersama-sama dan saling support. Kita butuh tempat untuk iman kita agar bertumbuh, dan kita akan kehilangan kesempatan untuk itu apabila kita menghindari beribadah di gereja.
Apa motivasi kita dalam beribadah? Apakah ingin bertemu dan merasakan hadirat Tuhan bersama saudara-saudari seiman, atau hanya mencari berkat/pertolongan atau bahkan sekedar ritual atau rutinitas yang sudah rutin kita lakukan sejak dulu? Menjelang Natal yang tinggal beberapa hari lagi saja, apakah kita benar-benar merenungkan segala kebaikan Kristus kepada kita untuk memperingati hari kelahiranNya atau kita hanya peduli pada pesta, liburan atau gemerlap perayaannya saja? Ada banyak motivasi orang dalam beribadah, demikian pula halnya dengan memperingati Natal. Bagi sebagian orang, Natal tidaklah lebih dari sebuah pesta keluarga dengan segala kemeriahannya tanpa merenungkan esensi yang paling dasar dari perayaan itu.
Kemiskinan sering diasosiasikan dengan keadaan finansial yang berada jauh di bawah rata-rata. Orang yang hidup kekurangan, tidak punya rumah, hanya mampu makan sekali sehari dan sebagainya, itulah yang dikatakan orang sebagai orang miskin. Tapi benarkah kemiskinan hanya melulu soal harta atau kondisi finansial saja? Sesungguhnya tidak. Terlalu sempit jika kita menganggap kemiskinan hanya sebatas itu. Ada banyak lagi bentuk-bentuk kemiskinan lainnya yang tidak hanya berbicara soal kondisi ekonomi seseorang. Lantas kemiskinan apa yang dikatakan sebagai kemiskinan yang paling miskin? Apakah ini mengacu kepada orang yang paling tidak punya uang sama sekali? Bunda Teresa memiliki jawabannya."We think sometimes that poverty is only being hungry, naked and homeless. The poverty of being unwanted, unloved and uncared for is the greatest poverty. We must start in our own homes to remedy this kind of poverty."
"Ke gereja atau tidak itu tidak masalah, yang penting hati kita bersih." Pernahkah anda bertemu dengan orang yang berpendapat seperti ini? Saya sering bertemu dengan orang-orang yang secara sepihak mengeluarkan pernyataan pembenaran sebagai alasan untuk tidak beribadah ke gereja. Saya pernah juga bertemu dengan beberapa orang yang berkata, "Ah, buat apa ke gereja? Memangnya Tuhan cuma ada disana?" Disamping pendapat-pendapat ini, tidak jarang pula jemaat atau bahkan satu dua gereja justru menjadi batu sandungan dengan menunjukkan berbagai kemunafikan, sehingga sebagian orang menjadi tawar hatinya. Benar, Tuhan itu omnipresent alias berada dimana-mana. Dan pendapat bahwa menjaga hati itu penting itu pun tidaklah salah. Kita memang diminta untuk mempersembahkan seluruh tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah, dan itu bahkan dikatakan sebagai ibadah yang sejati. (Roma 12:1). Tapi itu sama sekali bukan berarti bahwa kita tidak perlu beribadah ke gereja, karena ada banyak hal yang sebetulnya luput dari kita jika kita melakukan itu.