Showing posts sorted by relevance for query ibadah. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query ibadah. Sort by date Show all posts

Wednesday, September 30, 2009

Hakekat Ibadah

Ayat bacaan: Yesaya 29:13
======================
"Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan"

hakekat ibadahRasanya semua anak Tuhan akan sependapat bahwa beribadah kepada Tuhan merupakan hal yang sifatnya wajib. Ada hari yang harus kita pergunakan sebagai kesempatan untuk beribadah bersama-sama dengan saudara-saudari seiman di gereja, berkumpul bersama untuk memuji dan memuliakan Tuhan, bersyukur atas penyertaanNya dalam hidup kita. Selain itu ada pula yang turut dalam persekutuan-persekutuan, kumpulan keluarga dan sebagainya dimana selain menyembah Tuhan bersama-sama, disana para anggotanya juga akan saling menguatkan, menghibur, menasehati dan saling menolong. Diluar itu semua, setiap hari kita juga sangat dianjurkan untuk meluangkan waktu untuk bersaat teduh, membangun mezbah keluarga, dan alangkah baiknya jika setiap saat kita bisa menyadari bahwa ada Tuhan beserta kita sehingga kita menjalani hari ke hari sepenuhnya bersama Tuhan. Semua itu merupakan hal wajib yang idealnya dilakukan oleh semua orang percaya. Karena wajib itu pula, ada banyak orang yang kemudian melupakan esensi dari sebuah ibadah dan melakukannya hanya karena kewajiban semata, sebagai sebuah rutinitas yang terbiasa dilakukan tanpa mengingat makna penting di balik itu semua. Kita melihat ada orang yang terkantuk-kantuk di gereja, lalu menyalahkan kotbah yang dianggap membosankan sehingga membuatnya mengantuk. Ada pula yang menyalahkan worship leader ketika mereka merasa sulit masuk ke dalam hadirat Tuhan ketika pujian dan penyembahan. Tempat kurang nyaman sehingga sulit konsentrasi, ibadahnya terlalu lama dan sebagainya, sering dipakai sebagai alasan, ini semua menggambarkan bahwa orang tersebut sebetulnya melupakan hakekat utama dari ibadah. Semua masih dipandang sebagai rutinitas lahiriah saja, sehingga pengaruh-pengaruh luar pun dapat dengan mudah mengganggu kita dalam menunaikan ibadah.

Fokus yang salah dalam beribadah, mengacu lebih kepada hal-hal lahiriah ketimbang untuk membangun kekuatan rohaniah kita tidak akan membawa kita untuk mendapatkan apa-apa. Padahal ibadah sangat berguna untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik dan membuat pertumbuhan rohani kita semakin dewasa. Hal ini tentu hanya dapat dicapai jika kita memahami hakekat sebenarnya dari ibadah itu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena menjelang hari-hari terakhir. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5). Ini adalah golongan yang secara lahiriah melakukan ibadah, datang ke gereja, berdoa, menyanyi, namun semua itu dilakukan tanpa disertai kerinduan yang sungguh-sungguh, melainkan hanya sebatas aktivitas rutin semata. Tidak heran mereka ini akan tetap hidup dalam keraguan dan gampang goyah ketika permasalahan menerpa mereka. Mereka hadir dalam ibadah, namun pada hakekatnya memungkiri kekuatannya. Secara fisik mereka menjalankan kewajiban beribadah, tapi sebenarnya mereka tidak menangkap inti dari ibadah itu sendiri. Maka tidak akan ada apa-apa yang dialami dan diperoleh dari ibadah itu sendiri. Semua hanyalah akan sia-sia.

Ibadah yang benar seharusnya bisa membuat hidup diubahkan menjadi lebih baik dengan pertumbuhan iman yang pesat. Hakekat dari ibadah sesungguhnya adalah sebuah sarana bagi kita untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan, masuk dan diam dalam hadiratNya, bersekutu dan bergaul akrab dengan Tuhan. Jika ini kita sadari penuh, maka kita tidak akan main-main lagi dalam ibadah kita. Ibadah yang benar akan menghasilkan sesuatu yang besar. Kita bisa belajar dari kesungguhan hati jemaat mula-mula. "Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (Kisah Para Rasul 2:46-47). Lihatlah bagaimana Tuhan memberkati mereka dengan jiwa-jiwa.

Ibadah tidak hanya terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya, sesuatu yang tidak berasal dari hati kita yang terdalam. Tuhan tidak suka dengan orang-orang seperti itu. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa ada hukuman Tuhan yang akan jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27).

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Ini adalah pesan penting bagi kita. Kita diminta untuk terus berusaha hidup kudus, sehingga kita bisa memberikan hidup kita sebagai persembahan yang berkenan bagi Allah. Inilah sesungguhnya ibadah yang sejati, bukan hanya melakukan segala sesuatu secara lahiriah dan terus membiarkan diri kita untuk dikuasai berbagai dosa. Ibadah yang sejati akan menghasilkan perubahan budi, yang akan membuat pribadi kita menjadi baru, terus bertumbuh lebih baik lagi dengan mengetahui kehendak Allah, apa yang baik dan berkenan kepadaNya dan apa yang sempurna. (ay 2). Kita harus terus melatih diri kita untuk beribadah dengan benar, karena itu akan sangat berguna baik untuk hidup di dunia maupun untuk hidup yang akan datang. (1 Timotius 4:7b-8). Tuhan telah memberi keselamatan atas kita sebagai kasih karuniaNya yang begitu besar, oleh karena itu ia menginginkan kita untuk meninggalkan kefasikan dan kedagingan, nafsu-nafsu duniawi dan memilih hidup bijaksana dan taat beribadah. "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini" (Titus 2:11-12). Ibadah yang dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh karena kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, mengasihiNya sepenuh hati akan sangat berguna, sebaliknya ibadah yang dilakukan hanya sebatas lahiriah atau seremonial saja selain tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa malah akan menjatuhkan hukuman atas kita. Karenanya selagi kesempatan untuk beribadah masih ada, manfaatkanlah itu sebaik-baiknya dan lakukanlah dengan menyadari hakekat ibadah yang benar. Don't turn your back on God, let's worship Him with our heart and soul.

beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu (1 Samuel 12:20b)

Thursday, October 20, 2016

Beribadah tapi Memungkiri Kekuatannya (2)

(sambungan)

Dan Paulus pun menyampaikan alasannya. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Latihan jasmani akan sangat berguna bagi kesehatan dan daya tahan tubuh kita. Itu berguna bagi kehidupan kita di dunia saat ini, tetapi tidak akan ada gunanya lagi untuk hidup yang akan datang. Sedangkan melatih diri untuk beribadah akan berguna baik untuk hidup saat ini maupun yang akan datang nanti.

Jadi jelas beribadah itu penting. Tapi jangan lupa bahwa selain melakukan, kita pun harus tahu hakekatnya kita beribadah. Paham tujuannya, kegunaannya, kekuatannya, agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia, tidak berhenti hanya sebatas menjalankan tradisi, sesuai kebiasaan atau tata cara liturginya saja. Ibadah yang dilakukan dengan benar akan mampu membangun iman kita untuk bertumbuh makin besar, berakar dalam Kristus semakin dalam, sehingga kita lagi terjebak memungkiri sendiri kekuatan di balik ibadah-ibadah yang kita lakukan itu.

Kalau untuk percaya terhadap pengalaman atau kesaksian orang saja kita sulit, bagaimana mungkin kita bisa mengalaminya sendiri? Ibadah yang dilakukan hanya pada kegiatannya saja tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi kita. Kita akan terus semakin jauh dari pengalaman-pengalaman luar biasa bersama Tuhan. Kita tidak akan bisa merasakan mukjizatNya, penyertaan dan pertolonganNya yang ajaib, serta berbagai kuasa Tuhan yang terus dinyatakan hingga hari ini secara nyata. Kalau Tuhan terus menyatakan semua itu secara nyata, artinya kita seharusnya bisa melihat, merasakan dan mengalaminya secara nyata pula. We should be able to see it, feel it, experience it for real. Kita harus terus meningkatkan pemahaman kita akan kekuatan dari ibadah hingga pada suatu ketika nanti bisa mengalaminya langsung, bukan lagi hanya kata orang tetapi kita sudah mengalami sendiri. Semua orang percaya harus sampai kepada tingkatan seperti itu, dan itu akan sulit tercapai apabila kita sendiri masih memungkiri kekuatannya.

Ibadah tidak boleh terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya. Ibadah tidak boleh berhenti pada tata cara, gerak tubuh, posisi dan ucapan yang sama berulang-ulang. Ibadah bahkan seharusnya tidak dibatasi oleh jam atau waktu. Ibadah hendaknya diarahkan untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Ibadah bukanlah tempat dimana kita hanya meminta dan terus meminta, mengeluh dan merengek tetapi lebih dari itu seharusnya dipergunakan untuk bersekutu denganNya, membina hubungan yang erat dengan Tuhan dengan penuh ucapan syukur, merasakan hadiratNya, mendengar suaraNya dan mengetahui kehendak dan rencanaNya yang terbaik atas kita, atau mendengar teguranNya ketika kita melakukan sesuatu yang salah.

Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang hanya menjalankan ibadah sebagai sebuah rutinitas atau ritual belaka. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa bahkan akan ada hukuman Tuhan yang jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, kebiasaan, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27). Dan lihat pula ayat berikut: "beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu" (1 Samuel 12:20b). Beribadah harus dilakukan dengan segenap hati, dengan serius dan sungguh-sungguh dengan memiliki tujuan yang benar yang kita sadari dengan sepenuhnya.

Tuhan pasti kecewa apabila kita mementingkan tata cara dan hal-hal lain di luar membangun kedekatan hubungan denganNya. Tuhan kecewa ketika kita hanya ingin terlihat hebat rohani dari luar sementara di dalam iman kita malah tidak jelas bentuknya. Sebaliknya Tuhan akan disenangkan hatiNya kala melihat anak-anakNya yang rajin beribadah karena haus merasakan saat-saat teduh bersamaNya, rindu untuk terus bertemu dan mendengar pesan-pesanNya, dan tentu saja yang menunjukkan imannya dengan mengaplikasikan firman Tuhan secara nyata di dalam kehidupannya sehari-hari. Kita bukanlah hidup untuk terlihat hebat di depan manusia, tetapi justru yang terpenting adalah menghidupi sebuah kehidupan yang berkenan di mata Tuhan.

Jika kita sudah beribadah tetapi masih juga meragukan atau menolak kuasa Tuhan, itu artinya masih ada yang harus kita perbaiki dalam melakukan ibadah kita. Percayalah bahwa Tuhan punya kuasa jauh melebihi segalanya dan mampu menjungkir-balikkan logika manusia. Itu masih terjadi secara nyata sampai hari ini, masih akan terjadi nanti, dan itu pun bisa kita alami secara langsung dalam kehidupan kitai.

Ibadah yang meski dilakukan secara penuh tanpa percaya terhadap kekuatannya adalah sia-sia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, April 9, 2015

Beribadah Tapi Memungkiri Kekuatannya (2)

(sambungan)

Ibadah yang dilakukan hanya pada titik lahiriah saja tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi kita. Kita akan terus semakin jauh dari pengalaman-pengalaman luar biasa bersama Tuhan. Kita tidak akan bisa merasakan mukjizatNya, penyertaan dan pertolonganNya yang ajaib, serta berbagai kuasa Tuhan yang terus dinyatakan hingga hari ini secara nyata. Kita akan menolak untuk mempercayai bahwa memang ada orang-orang yang mengalami mukjizat sebagai bagian dari pengalaman hidupnya. Kalau memang tidak percaya, lantas buat apa repot-repot berdoa dan melakukan ibadah? Karya Tuhan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk kita alami. We can see it, feel it, experience it for real. Kita harus terus maju memahami kekuatan dari ibadah hingga pada suatu ketika nanti bisa mengalaminya langsung, bukan lagi hanya kata orang tetapi kita sudah mengalami sendiri. Semua orang percaya harus sampai kepada tingkatan seperti itu, dan itu akan sulit sekali apabila kita sendiri masih memungkiri kekuatannya. Bukankah Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan bahwa iman sebesar biji sesawi sekalipun akan mampu memindahkan gunung, dan tidak akan ada lagi yang mustahil bagi kita? (Matius 17:20). Ibadah yang dilakukan secara kosong tanpa disertai iman hanya akan sia-sia. Karenanya kita perlu benar-benar memastikan agar kita tidak sampai terjebak pada melakukan sebuah rutinitas tanpa makna dalam hal menjalankan ibadah.

Ibadah tidak boleh terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya. Ibadah tidak boleh berhenti pada tata cara, gerak tubuh, posisi dan ucapan yang sama berulang-ulang. Ibadah seharusnya diarahkan untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Ibadah bukanlah tempat dimana kita hanya meminta dan terus meminta, mengeluh dan merengek tetapi lebih dari itu seharusnya dipergunakan untuk bersekutu denganNya, merasakan hadiratNya, mendengar suaraNya dan mengetahui kehendak dan rencanaNya yang terbaik atas kita, atau mendengar teguranNya ketika kita melakukan sesuatu yang salah.

Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang hanya menjalankan ibadah sebagai sebuah rutinitas atau ritual belaka. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa bahkan akan ada hukuman Tuhan yang jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, kebiasaan, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27). Dan lihat pula Firman Tuhan berikut: "beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu" (1 Samuel 12:20b). Beribadah harus dilakukan dengan segenap hati, dengan serius dan sungguh-sungguh dengan memiliki tujuan yang benar.

Tuhan tidak suka diduakan atau hanya dijadikan satu dari sekian banyak alternatif. Tuhan tidak suka ketika kita hanya ingin terlihat hebat rohani dari luar sementara di dalam iman kita malah tidak jelas bentuknya. Sebaliknya Tuhan akan disenangkan hatiNya kala melihat anak-anakNya yang rajin beribadah karena mengerti betul kekuatan atau kuasa yang terkandung di dalamnya. Tuhan akan sangat senang kalau anak-anakNya beribadah karena haus merasakan kedamaian dan sukacita saat bersamaNya, rindu untuk terus bertemu dan mendengar pesan-pesanNya, dan tentu saja yang menunjukkan imannya dengan mengaplikasikan firman Tuhan secara nyata di dalam kehidupannya sehari-hari.

Kita bukanlah hidup untuk terlihat hebat di depan manusia, tetapi justru yang terpenting adalah menghidupi sebuah kehidupan yang berkenan di mata Tuhan. Jika kita sudah beribadah tetapi masih juga meragukan atau menolak kuasa Tuhan, itu artinya masih ada yang harus kita perbaiki dalam melakukan ibadah kita. Percayalah bahwa ada kuasa luar biasa dibalik setiap ibadah yang kita lakukan dalam namaNya. Itu masih terjadi secara nyata sampai hari ini, masih akan terjadi nanti, dan itu pun bisa kita alami secara langsung dalam kehidupan kita sendiri, tapi itu tidak akan bisa kita alami apabila kita masih terus memungkiri kekuatannya.

Jangan biarkan ibadah sia-sia dan kosong dengan hanya mementingkan tata cara dan kebiasaan saja

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, October 31, 2013

Beribadah Tapi Tidak Percaya

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:5
=====================
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya."

Ada seseorang yang saya kenal pernah menceritakan keheranannya terhadap cara berpikir dari teman-teman gerejanya. Setiap kali saya menceritakan mukjizat Tuhan yang saya alami, mereka menanggapinya dengan sinis. Ia ditertawakan malah dikatakan gila. "ah, kamu mengada-ada..mana ada yang seperti itu?" kata teman-temannya. Okelah kalau yang diceritakan itu mukjizat besar yang sulit diterima akal, tapi untuk yang sederhana sekalipun sulit mereka cerna. Ini adalah gambaran bahwa di kalangan orang percaya pun ternyata masih sangat banyak orang yang belum punya iman yang cukup untuk mempercayai kuasa dan kekuatan Tuhan. Mereka menganggap bahwa itu tidak mungkin dialami secara langsung dalam kehidupan nyata, sehingga apa yang dialami orang lewat kesaksian mereka tidak mengubahkan mereka untuk hidup lebih baik. Tidaklah heran apabila kita melihat orang-orang percaya yang masih saja hidup penuh kecemasan, kekhawatiran atau terus takut. Mereka mengukur kemungkinan untuk lepas dari masalah hanya dari besar kecilnya masalah yang mereka hadapi dan tidak menyadari bahwa Tuhan sanggup melakukan apa-apa. Kalau masalahnya kecil mungkin bisa, tapi kalau sudah terlalu berat maka berdoa pun pasti tidak membawa hasil apa-apa. Mereka beribadah rutin, mereka berdoa, tapi hanya sebatas liturgi atau kebiasaan saja. Ada yang berpikir bahwa itu harus dilakukan hanya karena takut masuk neraka, bukan karena ingin membangun hubungan yang erat dengan Tuhan sehingga memiliki kehidupan yang kuat ditengah badai kehidupan. Meski rajin menjalankan ibadah mereka tetapi mereka sendiri sulit atau bahkan tidak bisa percaya kepada kekuatan yang bisa hadir di dalamnya. Betapa ini merupakan hal yang ironis. Di satu sisi orang berharap mukjizat terjadi dalam hidupnya, tetapi di sisi lain mereka sendiri ragu dan memungkiri kekuatannya.

Sikap seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Kebiasaan memakai logika manusia yang terbatas dalam memahami kuat kuasa Tuhan yang tak terbatas bukan hanya masalah bagi orang percaya hari ini tapi sudah terjadi sejak jaman dahulu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena yang akan semakin marak menjelang akhir jaman. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5) Ini adalah satu dari sekian banyak hal serius yang digambarkan Paulus sebagai "masa yang sukar". (ay 1). Masa yang sukar, dalam benak kita itu berarti ada banyak krisis, bencana, peperangan, tekanan dan sebagainya. Benar, itu memang kerap terjadi akhir-akhir ini. Tetapi apa yang dikatakan oleh Paulus sebagai masa yang sukar ternyata bukan sekedar mengacu kepada kerusakan lingkungan atau bahkan krisis ekonomi. Masa-masa yang sukar menurut hemat Paulus adalah pada saat kejatuhan manusia semakin jauh dalam mementingkan dirinya sendiri. "Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." (ay 2-4). Perhatikan bahwa sikap-sikap seperti ini bukan lahir dari orang tidak percaya tapi justru lahir dari orang-orang yang rajin menjalankan ibadah seperti yang disebutkan dalam ayat 5 di atas. Secara lahiriah mereka beribadah, tapi mereka sebenarnya menolak kekuatannya. They deny and reject it, they are still strangers to the power of it. ini merupakan teguran buat kita juga yang secara fisik hadir di gereja tetapi hanya sebagai sebuah ritual atau kebiasaan atau tradisi semata tanpa mengalami pertumbuhan iman apapun lewat itu semua. Kita memang beribadah, tetapi kita sendiri malah memungkiri kekuatannya. We pray but we reject the power of praying. 

Beribadah sangatlah penting. Paulus mengatakan "Latihlah dirimu beribadah". (1 Timotius 4:7b). Mengapa harus dilatih? Karena latihan rohani itu bisa membawa manfaat yang jauh lebih besar dari latihan badani/jasmani. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Latihan jasmani akan sangat berguna bagi kesehatan dan daya tahan tubuh kita. Itu berguna bagi kehidupan kita di dunia saat ini, tetapi tidak akan ada gunanya lagi untuk hidup yang akan datang. Sedangkan melatih diri untuk beribadah akan berguna baik untuk hidup saat ini maupun yang akan datang nanti. Jadi jelas beribadah itu penting. Tapi jangan lupa bahwa kita pun harus tahu hakekatnya kita beribadah. Paham tujuannya, kegunaannya, kekuatannya, agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia, tidak berhenti hanya sebatas menjalankan tradisi, sesuai kebiasaan atau tata cara liturginya saja. Ibadah yang dilakukan dengan benar akan mampu membangun iman kita untuk bertumbuh makin besar, berakar dalam Kristus semakin dalam, sehingga kita lagi terjebak memungkiri sendiri kekuatan di balik ibadah-ibadah yang kita lakukan itu.

Kalau untuk percaya terhadap pengalaman orang saja kita sulit, bagaimana mungkin kita bisa mengalaminya sendiri? Ibadah yang dilakukan hanya pada titik lahiriah saja tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi kita. Kita akan terus semakin jauh dari pengalaman-pengalaman luar biasa bersama Tuhan. Kita tidak akan bisa merasakan mukjizatNya, penyertaan dan pertolonganNya yang ajaib, serta berbagai kuasa Tuhan yang terus dinyatakan hingga hari ini secara nyata. We can see it, feel it, experience it for real. Kita harus terus maju memahami kekuatan dari ibadah hingga pada suatu ketika nanti bisa mengalaminya langsung, bukan lagi hanya kata orang tetapi kita sudah mengalami sendiri. Semua orang percaya harus sampai kepada tingkatan seperti itu, dan itu akan sulit sekali apabila kita sendiri masih memungkiri kekuatannya.

Ibadah tidak boleh terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya. Ibadah tidak boleh berhenti pada tata cara, gerak tubuh, posisi dan ucapan yang sama berulang-ulang. Ibadah seharusnya diarahkan untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Ibadah bukanlah tempat dimana kita hanya meminta dan terus meminta, mengeluh dan merengek tetapi lebih dari itu seharusnya dipergunakan untuk bersekutu denganNya, merasakan hadiratNya, mendengar suaraNya dan mengetahui kehendak dan rencanaNya yang terbaik atas kita, atau mendengar teguranNya ketika kita melakukan sesuatu yang salah. Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang hanya menjalankan ibadah sebagai sebuah rutinitas atau ritual belaka. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa bahkan akan ada hukuman Tuhan yang jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, kebiasaan, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27). Dan lihat pula Firman Tuhan berikut: "beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu" (1 Samuel 12:20b). Beribadah harus dilakukan dengan segenap hati, dengan serius dan sungguh-sungguh dengan memiliki tujuan yang benar.

Tuhan tidak suka apabila kita mementingkan tata cara dan hal-hal lain di luar membangun kedekatan hubungan denganNya. Tuhan tidak suka ketika kita hanya ingin terlihat hebat rohani dari luar sementara di dalam iman kita malah tidak jelas bentuknya. Sebaliknya Tuhan akan disenangkan hatiNya kala melihat anak-anakNya yang rajin beribadah karena haus merasakan saat-saat teduh bersamaNya, rindu untuk terus bertemu dan mendengar pesan-pesanNya, dan tentu saja yang menunjukkan imannya dengan mengaplikasikan firman Tuhan secara nyata di dalam kehidupannya sehari-hari. Kita bukanlah hidup untuk terlihat hebat di depan manusia, tetapi justru yang terpenting adalah menghidupi sebuah kehidupan yang berkenan di mata Tuhan. Jika kita sudah beribadah tetapi masih juga meragukan atau menolak kuasa Tuhan, itu artinya masih ada yang harus kita perbaiki dalam melakukan ibadah kita. Percayalah bahwa Tuhan punya kuasa jauh melebihi segalanya dan mampu menjungkir-balikkan logika manusia. Itu masih terjadi secara nyata sampai hari ini, masih akan terjadi nanti, dan itu pun bisa kita alami secara langsung dalam kehidupan kita sendiri.

Jangan sia-siakan ibadah dengan hanya mementingkan tata cara dan kebiasaan saja

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, July 14, 2011

Beribadah tapi Memungkiri Kekuatannya

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:5
=====================
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya."

beribadah tapi raguAh, percuma saja, mau bagaimana juga tidak akan ada yang bakal berubah. Sudah begini memang nasibku.." Itu dikatakan seorang teman saya menyikapi usahanya yang bukannya meningkat tetapi malah menurun. Teman saya ini adalah orang percaya. Ia pun rutin beribadah setiap hari Minggu di gereja. Bahkan ia lahir dalam keluarga Kristen juga. Sudahkah berdoa? Itu saya tanyakan. "Sudah, tapi kalau kondisinya memang seperti ini doa pun percuma." katanya lagi. Rajin beribadah ternyata belum menjamin orang untuk memiliki iman yang cukup dalam mempercayai kekuatan dan kuasa Tuhan. Dan sikap teman saya ini sudah beberapa kali saya jumpai sebelumnya, dan mungkin bisa mewakili banyak orang percaya lainnya yang meski rajin menjalankan ibadah mereka tetapi mereka sendiri tidak percaya kepada kekuatan yang bisa hadir di dalamnya. Seorang teman lagi pernah bercerita bahwa mukjizat yang dialaminya ditertawakan oleh teman-teman segerejanya. Mereka menganggap dirinya mengada-ada dalam kesaksiannya. Ia pun sedih ketika bercerita mengenai hal itu. Di satu sisi orang berharap mukjizat terjadi dalam hidupnya, tetapi di sisi lain mereka sendiri ragu dan memungkiri itu. Itu menjadi gambaran sikap banyak orang hingga hari ini.

Hal ini sebetulnya bukanlah hal baru karena sudah pernah disinggung sejak lama di dalam Alkitab. Paulus menggambarkan sebuah salah satu fenomena yang akan semakin marak menjelang hari-hari akhir. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5) Ini adalah satu dari sekian banyak hal serius yang digambarkan Paulus sebagai "masa yang sukar". (ay 1). Benar, bencana alam terus terjadi di berbagai belahan dunia. Orang berkata bahwa bumi makin tua, sehingga semakin rentan terhadap bencana. Ancaman global warming akibat pengrusakan yang dilakukan manusia membuat  segalanya semakin buruk. Tetapi apa yang dikatakan oleh Paulus sebagai masa yang sukar ternyata bukan mengacu kepada kerusakan lingkungan atau bahkan krisis ekonomi. Ia menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan masa sukar disini adalah semakin jatuhnya manusia dalam mementingkan dirinya sendiri dan menjadi hamba uang, arogansi atau kesombongan, fitnah, melawan orang tua, tidak tahu terima kasih, membenci hal-hal rohani, tidak mengasihi, sulit berdamai, suka menjelek-jelekkan orang lain, tidak dapat mengendalikan diri, pemarah, kejam, tidak suka berbuat baik, penghianat, berpikir pendek atau naif, sok tahu dan lebih mengikuti hawa nafsu daripada menuruti kehendak Allah. (ay 2-4). Sikap-sikap seperti ini justru lahir dari orang-orang yang rajin menjalankan ibadah seperti yang disebutkan dalam ayat 5 di atas, dan ini merupakan teguran buat kita juga yang secara fisik hadir di gereja, bernyanyi, berdoa dan sebagainya, tetapi hanya sebagai sebuah ritual atau kebiasaan atau tradisi semata tanpa mengalami pertumbuhan iman apapun di dalam melakukan itu semua. Akibatnya kita memang beribadah, tetapi kita sendiri malah memungkiri kekuatannya. Kita berdoa, tetapi malah menolak atau meragukan inti dari beribadah itu sendiri.

Beribadah itu sangatlah penting. Paulus pun mengingatkan kita untuk terus melatih diri beribadah dengan tekun. "Latihlah dirimu beribadah". (1 Timotius 4:7b). Mengapa harus dilatih? Karena jika latihan jasmani dapat memberikan manfaat dalam hidup di dunia ini, latihan rohani itu bisa berguna lebih dari itu. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Akan tetapi menjalankan ibadah pun harus disertai niat yang benar, agar semuanya tidak berhenti hanya menjalankan tradisi sesuai kebiasaan atau tata caranya saja, melainkan bisa membangun rohani kita bertumbuh semakin besar, berakar semakin dalam, sehingga kita tidak melakukan hal yang ironis dengan meragukan atau memungkiri sendiri kekuatan di balik ibadah-ibadah yang kita lakukan itu.

Ibadah bukanlah hanya terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya, sesuatu yang tidak berasal dari hati kita yang terdalam. Ibadah bukanlah sesuatu yang terfokus hanya kepada gerak tubuh, posisi tangan atau tata cara, melainkan seharusnya fokus dalam membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Ibadah bukanlah tempat dimana kita hanya meminta dan meminta lagi, memberikan Tuhan daftar permintaan setiap kali kita datang kepadaNya, tetapi lebih dari itu yang terpenting justru mendengar suaraNya dan mengetahui kehendak dan rencanaNya yang terbaik atas kita, atau mendengar teguranNya ketika kita melakukan sesuatu yang salah. Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang hanya menjalankan ibadah sebagai sebuah rutinitas atau ritual belaka. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa ada hukuman Tuhan yang akan jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27). Dan lihat pula Firman Tuhan berikut: "beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu" (1 Samuel 12:20b). Beribadah harus dilakukan dengan segenap hati, dengan serius dan sungguh-sungguh dengan memiliki tujuan yang benar.

Tuhan tidak menginginkan kita hanya tampil hebat sebatas kulit saja. Tuhan tidak suka apabila kita mementingkan tata cara dan hal-hal lain di luar membangun kedekatan hubungan denganNya, Tuhan tidak suka ketika kita hanya ingin terlihat rohani dari luar sementara di dalam iman kita malah tidak jelas bentuknya. Tuhan suka melihat anak-anakNya yang rajin beribadah karena haus akan hadiratNya, rindu untuk terus bertemu dan mendengar pesan-pesanNya, dan tentu saja yang menunjukkan imannya secara nyata di dalam kehidupannya sehari-hari. Kita bukanlah hidup untuk menarik perhatian manusia saja, tetapi justru yang terpenting adalah menghidupi sebuah kehidupan yang berkenan di mata Tuhan. Jika kita sudah beribadah tetapi masih juga meragukan atau menolak kuasa Tuhan, itu artinya masih ada yang harus kita perbaiki dalam melakukan peribadatan kita. Percayalah bahwa Tuhan punya kuasa jauh melebihi segalanya dan mampu menjungkir-balikkan logika manusia, dan percaya pula bahwa itu bisa terjadi pada diri kita.

Jangan sia-siakan waktu beribadah kita dengan hanya mementingkan tata cara dan kebiasaan saja

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, January 6, 2023

Simeon dan Hanna (3)

 (sambungan)

Lewat Roh dan iman kita bisa melihat kebenaran yang kita harapkan. Mata kita dicelikan sehingga mampu mengenali Yesus dan segala kebenaran dalam diriNya. Seperti halnya di Bait Allah waktu itu, hari ini pun Yesus hadir ditengah-tengah kita meski tidak lagi secara kasat mata. Yesus hadir dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan, baik dalam kebaktian maupun dalam ibadah yang sejati, yaitu kehidupan kita. Tetapi apakah peduli? Apakah kita merasakan kehadiranNya? Apakah kita cukup merindukan kehadiran Yesus seperti halnya kerinduan yang dimiliki Simeon dan Hana? Masihkah kita merindukan kehadiran Yesus ditengah kesibukan sehari-hari dan segala sesuatu yang kita lakukan? Apakah kita mengingatNya saat berhadapan dengan segala yang diinginkan? Apakah kita berada pada posisi Simeon dan Hana atau orang-orang lain yang berada di bait Allah?

Kita harus mengingatkan diri kita untuk beribadah dengan motivasi yang benar. Jangan sampai ibadah-ibadah kita hanya didasari oleh rutinitas atau sekedar menjalankan kebiasaan saja tanpa memiliki kerinduan yang murni akan Tuhan. Sejatinya ibadah yang kita lakukan dengan motivasi yang benar dan sungguh-sungguh akan membawa keuntungan besar bagi diri kita.

Hidup dalam Roh akan membuat kita mampu melihat segala yang kebenaran dalam Yesus. Paulus berkata "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9). Yesus mengatakan "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yohanes 9:39).

Ada cahaya pengharapan dan keselamatan yang sudah Dia sediakan, dan kedatangan Kristus untuk menebus kita seharusnya bisa membuka mata kita dengan jelas untuk melihat segala kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, ciptaan-ciptaanNya yang teristimewa. Bukan cuma ingin memperoleh berkat dan pertolonganNya semata, tetapi kerinduan untuk mengenalNya dan kemudian mengasihiNya, itulah yang mampu memberikan sukacita penuh rasa syukur dalam hidup kita. Sebab kalau kita tidak kenal dan tidak peduli, bagaimana mungkin kita bisa mengklaim sebagai muridNya? Mari pastikan kualitas dari setiap ibadah yang kita lakukan. Jangan sampai semua ibadah itu tidak ada membawa manfaat apapun alias sia-sia.

Ironis sekali kalau ibadah-ibadah yang kita lakukan ternyata tidak membawa pengenalan akan Kristus

Saturday, November 29, 2008

Kehilangan Kasih Mula-Mula (5) : Rutinitas

Ayat bacaan: Yesaya 29:14-15
=======================
"Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi."

kehilangan kasih mula-mula, ibadah hanya rutinitasDi saat orang pertama kali jatuh cinta, mereka akan merasakan segala-galanya sangat indah. Yang paling pahit pun terasa manis. Segala kekurangan pasangannya akan dirasa seperti sebuah kelebihan dengan perasaan cinta yang meluap-luap. Semua hal yang dapat menyenangkan kekasih akan dilakukan dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Itu hal yang biasa kita jumpai ketika orang yang baru jatuh cinta. Pada suatu saat ketika sebuah hubungan berjalan sebagai sebuah rutinitas dari hari ke hari, perlahan orang akan mulai kehilangan rasa cinta yang meluap-luap seperti di awal. Tidak lagi ada gairah disana, tidak lagi ada semangat dan hasrat untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya demi orang yang kita cintai, tapi hanya didasarkan semata-mata karena itu adalah sebuah kewajiban. Ketika pertama kali lahir baru, kita pun mengalami cinta yang meluap-luap pada Kristus. Kita akan sangat termotivasi dan bersemangat ketika melakukan ibadah karena kita sangat mengasihi Kristus. Namun lama kelamaan jika semua itu menjadi satu rutinitas, tanpa sadar banyak diantara anak-anak Tuhan yang akhirnya kehilangan arah dan tujuan, kehilangan kasih mula-mula mereka.

Ada banyak orang yang rajin ke gereja, rajin berdoa, namun melakukannya hanya karena sebuah kebiasaan atau rutinitas. Dulu saya pernah bertanya kepada seorang teman, untuk apa ia pergi ke gereja pagi-pagi benar? Ia menjawab karena ia orang kristen, dan ia harus ke gereja supaya tidak dimarahi orang tuanya. Ketika ibadah dilakukan hanya atas alasan sebuah rutinitas semata, kebosanan dan kejenuhan pun mengintip. Gairah akan hilang, kasih menurun, dan akhirnya orang bisa kehilangan kasih mula-mula mereka kepada Tuhan.

Di dalam rutinitas seringkali kita temui kejenuhan. Segala sesuatu terasa membosankan dan monoton. Tidak ada gairah dan semangat di dalamnya, dan orang akan menjadi lupa pada motivasi, alasan atau tujuan sebenarnya dari apa yang mereka lakukan. Dalam kehidupan rohani pun tujuan beribadah ini bisa melenceng menjadi sekedar rutinitas. Mungkin awalnya dilakukan karena sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, namun seiring waktu, semuanya menjadi pola kebiasaan yang tidak lagi didasarkan dari hati yang mengasihi. Ada banyak orang yang berdoa hanya menyampaikan teks hafalan itu-itu saja, karena sudah setiap hari mengucapkan hal yang sama. Ada pula yang memang hadir di gereja, tapi mereka tidaklah memiliki hati yang haus akan firman Tuhan, bukan mencari Tuhan. Mereka akan mengobrol, mencari humor dari kotbah pendeta, atau sms-an. Ketika hal ini terjadi, kita bisa melihat bahwa kasih mula-mula yang pernah mereka alami sudah terkikis. Ketika ada orang yang menganggap sebuah kotbah membosankan, atau "acara"nya buruk, lagu-lagunya tidak enak, tidak sesuai selera dan sebagainya, itu karena mereka mementingkan tata caranya di atas hubungan pribadi dengan Tuhan. Jika itu terjadi, bukan gerejanya yang buruk, tapi hubungan pribadi mereka dengan Tuhan lah yang buruk. Ibadah tidak berbicara soal selera, melainkan berbicara tentang kerohanian seseorang dalam membangun hubungan dengan Tuhan.

Sebuah ibadah yang baik seperti yang diajarkan Yesus sendiri adalah menyembah Allah didalam Roh dan kebenaran. (Yohanes 4:24). Adalah penting bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas Roh dan kebenaran secara terus menerus, dan itu semua tidaklah akan berhasil apabila kita kehilangan kasih mula-mula dan melakukan ibadah hanya sebagai simbol maupun rutinitas semata. Sebuah ibadah sejati digambarkan jelas oleh Paulus. "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1). Sebuah ibadah hendaklah dilakukan atas kasih dan rasa syukur tak terhingga bagi Allah saja. Janganlah sampai semua itu hanya merupakan rutinitas tanpa disertai rasa maupun ucapan syukur yang tulus dari hati dan akibatnya kita menjadi bodoh dan kehilangan penyertaan Allah dalam hidup kita. "Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh." (Roma 1:21). Sebuah ibadah sejati tidak boleh terbatas hanya pada ritual-ritual keagamaan, rajin ke gereja, aktif dalam pelayanan atau ikut persekutuan, tapi ibadah sejati haruslah juga menyangkut sebuah hubungan atas kasih dan syukur kepada Tuhan dalam Roh dan Kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, kapan saja dan dimana saja.

Miliki motivasi dan dasar yang benar dalam beribadah agar kita tidak kehilangan kasih mula-mula

Wednesday, April 8, 2015

Beribadah Tapi Memungkiri Kekuatannya (1)

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:5
=====================
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya."

Ke gereja tapi tetap takut hantu. Rutin berdoa tapi masih percaya mistis. Beribadah ya, ke paranormal juga ya. Katanya percaya Tuhan, tapi kuatir tetap Ada banyak sekali orang percaya yang masih seperti itu. Mengakunya mengandalkan Tuhan, tapi mamon tetap nomor satu. Uanglah yang terus menjadi prioritas utama hidup. Bukankah semua kebutuhan membutuhkan uang? Tahu bahwa Tuhan bisa melakukan mukjizat, tapi hidup masih saja tergantung jimat. Katanya warga negara Kerajaan Surga, tapi masih saja ikut cara-cara sesat dunia. Perhatikanlah, ada banyak orang peraya yang masih memiliki cara pandang dan pola hidup seperti ini. Mengapa ini bisa terjadi? Itu karena mereka menjalankan ibadah tapi meragukan kekuatannya.

Kebiasaan memakai logika manusia yang terbatas dalam memahami kuat kuasa Tuhan yang tak terbatas bukan hanya masalah bagi orang percaya hari ini tapi sudah terjadi sejak jaman dahulu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena yang akan semakin marak menjelang akhir jaman. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5) Ini adalah satu dari sekian banyak hal serius yang digambarkan Paulus sebagai "masa yang sukar". (ay 1). Masa yang sukar, dalam benak kita itu berarti ada banyak krisis, bencana, peperangan, tekanan, instabilitas politik, keonaran yang ditimbulkan para pengacau keamanan dan sebagainya. Benar, itu memang masih terus terjadi akhir-akhir ini. Tetapi apa yang dikatakan oleh Paulus sebagai masa yang sukar ternyata bukan sekedar mengacu kepada kerusakan lingkungan, ketidakstabilan atau bahkan krisis ekonomi. Masa-masa yang sukar menurut Paulus terletak pada kejatuhan manusia semakin jauh dalam mementingkan dirinya sendiri.

"Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." (ay 2-4). Perhatikan bahwa sikap-sikap seperti ini bukan lahir dari orang tidak percaya tapi justru lahir dari orang-orang yang rajin menjalankan ibadah seperti yang disebutkan dalam ayat 5 di atas. Intinya, secara lahiriah mereka beribadah, tapi mereka sebenarnya meragukan atau bahkan menolak kekuatannya. Although they pray constantly, they refuse to believe the power of it. They are still strangers to God. Ini merupakan teguran buat kita juga yang secara fisik hadir di gereja, rajin persekutuan dan rutin berdoa tetapi hanya sebagai sebuah ritual atau kebiasaan atau tradisi semata tanpa mengalami pertumbuhan iman apapun lewat itu semua. Kita memang beribadah, tetapi kita sendiri malah memungkiri kekuatannya.

Apakah saya mengatakan bahwa beribadah itu berarti tidak penting? Sama sekali tidak. Beribadah itu sangat penting. Tapi adalah penting juga bagi kita untuk memastikan bahwa setiap ibadah yang kita lakukan disertai iman yang penuh dan bulat, tidak setengah-setengah, tidak hanya sekedar menjalankan apa yang kata orang tua wajib untuk dilakukan. Beribadah itu perlu latihan. Itu dikatakan langsung oleh Paulus. "Latihlah dirimu beribadah". (1 Timotius 4:7b). Mengapa harus dilatih? Karena latihan rohani itu bisa membawa manfaat yang jauh lebih besar dari latihan badani/jasmani. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Anda pergi ke pusat kebugaran, bangun pagi dan lari pagi, itu akan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran. Itu berguna bagi kehidupan kita di dunia saat ini, tetapi tidak akan ada gunanya lagi untuk hidup yang akan datang. Sedangkan melatih diri untuk beribadah akan berguna baik untuk hidup saat ini maupun yang akan datang nanti.

Jadi jelas beribadah itu penting. Tapi jangan lupa bahwa kita pun harus tahu hakekatnya kita beribadah. Paham tujuannya, mengerti kegunaannya dan sadar sepenuhnya akan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Itu perlu kita ketahui dan camkan benar-benar agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia, tidak berhenti hanya sebatas menjalankan tradisi, sesuai kebiasaan atau tata cara liturginya saja. Ibadah yang dilakukan dengan benar akan mampu membangun iman kita untuk bertumbuh makin besar, berakar dalam Kristus semakin dalam, sehingga kita lagi terjebak memungkiri sendiri kekuatan di balik ibadah-ibadah yang kita lakukan itu.

(bersambung)

Saturday, October 13, 2012

Berlatih

Ayat bacaan: 1 Timotius 4:8
=====================
"Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."

Efek naik tangga beberapa tingkat berbeda bagi orang yang sering berolahraga dengan yang jarang atau tidak sama sekali. Bagi yang suka berolahraga, naik tangga beberapa lantai ke atas tidak akan terasa melelahkan. Mereka akan tetap terlihat normal alias biasa-biasa saja. Sedang yang jarang berolahraga tentu akan kehabisan nafas, terengah-engah, keringat dingin, sesak nafas dan menjadi sulit bicara. Pada suatu kali di sebuah kantor lift mendadak mati, sehingga saya bersama beberapa orang harus turun dari lantai 8 menuju ke dasar. Maka terlihat jelaslah orang yang sering berlatih kebugaran dengan yang tidak, terutama setelah mencapai lantai bawah. Usia tidak membawa pengaruh berarti, karena ada beberapa diantara mereka yang sudah cukup lanjut usia ternyata mampu 'mengalahkan' yang lebih muda dari segi kebugaran.

Olahraga atau latihan jasmani yang dilakukan secara rutin akan mampu menjaga dan meningkatkan stamina kita. Tubuh akan menjadi lebih sehat, segar dan kuat, tidak gampang jatuh sakit, dan akan lebih mampu mengatasi tantangan berat seperti jalan yang curam menurun atau naik turun tangga. Jika latihan jasmani atau badani saja sudah memberikan perbedaan signifikan terhadap daya tahan dan kebugaran tubuh, ibadah adalah lebih penting lagi. Mengapa? Sebab disaat latihan jasmani terbatas gunanya, yaitu hanya untuk kehidupan kita di dunia ini, latihan ibadah akan membawa manfaat baik pada hidup kita saat ini maupun kehidupan yang akan datang. Itulah yang diingatkan pula oleh Paulus. Karenanya ia menyerukan pentingnya sebuah komitmen untuk melatih diri kita dalam beribadah. "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7b-8).

Orang yang berolahraga akan terus meningkatkan porsinya secara perlahan dalam sesi latihan yang rutin. Tidak akan ada orang yang akan langsung bisa menyelesaikan lari 10 km pada saat pertama kali berolah raga. Mungkin dimulai dari jalan beberapa kilometer, kemudian lari bertahap dibarengi jalan, dan pada saatnya mereka akan mampu mencapai 10 km dengan berlari tanpa merasa letih atau mengalami pegal dan sebagainya. AWalnya mungkin terasa malas, tetapi dengan terus mendisplinkan dan melatih diri maka lama-lama tubuh akan terbiasa untuk berolahraga, malah nanti terasa seperti ada yang kurang jika tidak melakukan itu pada waktu dimana biasanya kita melakukannya. Seperti halnya diri kita yang harus dilatih untuk memiliki kebiasaan berolah raga dan kemudian bisa terbiasa untuk itu, demikian pula dengan ibadah. Kita harus memiliki komitmen untuk melatih diri kita agar kita terbiasa dan rajin beribadah. Sebuah hidup yang diisi dengan kebiasaan beribadah yang teratur akan kuat menghadapi berbagai masalah dan tekanan yang mampir ke dalam hidup mereka. Orang yang dekat dengan Tuhan dan mempunyai iman yang teguh tidak akan gampang goyah ketika diterpa masalah.Tidak berhenti disitu, ibadah yang baik dan teratur juga menjanjikan sebuah keselamatan untuk hidup bersifat kekal yang akan menjadi fase berikutnya setelah kehidupan di dunia ini selesai. Maka jelaslah betapa pentingnya sebuah komitmen untuk terus melatih diri agar beribadah secara rutin dan teratur. Melatih diri untuk beribadah juga harus dipenuhi rasa cukup dengan ucapan syukur. Bersyukurlah atas berkat Tuhan, atas segala yang telah Dia bekali bagi kita dalam hidup. Paulus mengingatkan pula bahwa ibadah yang disertai rasa cukup, itu akan mendatangkan keuntungan besar. (1 Timotius 6:6).

Dalam Alkitab tertulis: "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja." (Amsal 14:23). Dalam surat untuk jemaat Korintus dikatakan: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58). Jerih payah yang kita lakukan akan selalu memberi keuntungan. Termasuk pula di dalamnya jerih payah kita membangun sebuah hubungan dengan Tuhan. Selanjutnya, Yesus pun mengajarkan kita agar tidak bersikap apatis. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7). Meminta, mencari, mengetuk, itu adalah bagian dari usaha kita yang harus terus kita latih. "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (ay 8). Lihatlah betapa besar keuntungan yang bisa didatangkan dari ketaatan kita untuk tekun beribadah dan melatih diri kita untuk tetap melakukannya dengan disiplin dan teratur. Beribadah tentu saja bukan hanya rajin ke Gereja, tapi juga melakukan saat teduh secara teratur, rajin membaca dan mendalami firman Tuhan, taat menuruti perintah Tuhan, terus mengasihi sesama seperti Yesus telah mengasihi kita dan bentuk-bentuk aplikasi langsung terhadap apa yang menjadi tugas kita seperti yang digariskan Tuhan di dunia ini, itu semua adalah ibadah yang berkenan di hadapan Tuhan. Jadikan ibadah menjadi sebuah gaya hidup, lalu tuai manfaatnya. Bukan saja sangat berguna bagi kekuatan dan ketahanan kita menghadapi masalah, namun juga akan mengarahkan kita kepada keselamatan yang kekal.

Rajin melatih diri untuk melakukan ibadah akan bermanfaat bagi hidup yang sekarang maupun yang akan datang

Follow us on twitter: http://twitter.comz/dailyrho

Friday, May 8, 2009

Berlatihlah

Ayat bacaan: 1 Timotius 4:8
=====================
"Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."

latihan beribadahTepat di depan rumah saya ada sebuah jalan menurun menuju ke perkampungan yang letaknya jauh di bawah. Jalannya menurun dengan cukup curam. Saya pernah mencoba naik turun di sana, dan hasilnya saya kehabisan nafas. Terengah-engah, sesak kecapaian. Padahal itu baru satu kali pulang pergi. Sementara penduduk-penduduk yang tinggal di bawah sama sekali tidak merasakan hal itu. Saya sering melihat mereka bolak balik tanpa kehilangan nafas. Berkeringat pun tidak. Kakek-kakek dan nenek-nenek pun sama. Mereka sama sekali tidak letih. Bagaimana bisa demikian? Mereka sudah terbiasa naik turun sehingga itu bukan lagi menjadi masalah. Mereka terlatih, sedangkan saya yang malas berolah raga ini merasa itu sangat berat untuk dilalui.

Latihan jasmani yang dilakukan secara rutin akan meningkatkan stamina kita. Tubuh akan menjadi lebih sehat dan kuat, tidak gampang jatuh sakit, dan akan lebih mampu mengatasi tantangan berat seperti jalan yang curam menurun di depan rumah saya misalnya. Jika latihan jasmani atau badani saja sudah memberikan perbedaan signifikan terhadap daya tahan dan ketangguhan tubuh, ibadah adalah lebih penting lagi. Latihan jasmani terbatas gunanya, hanya untuk kehidupan kita di dunia ini. Tapi latihan ibadah akan bermanfaat baik pada hidup kita saat ini maupun kehidupan yang akan datang. Hal itu disadari oleh Paulus sepenuhnya, karenanya ia pun mengingatkan kita akan pentingnya sebuah komitmen untuk melatih diri kita dalam beribadah. "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7b-8).

Seperti halnya diri kita yang harus dilatih untuk memiliki kebiasaan berolah raga, demikian pula dengan ibadah. Kita harus memiliki komitmen untuk melatih diri kita agar kita terbiasa dan rajin beribadah. Sebuah hidup yang diisi dengan kebiasaan beribadah yang teratur akan kuat menghadapi berbagai masalah dan tekanan yang mampir ke dalamnya. Orang yang dekat dengan Tuhan dan mempunyai iman yang teguh tidak akan gampang goyah ketika diterpa masalah.Tidak berhenti disitu, ibadah yang baik dan teratur juga menjanjikan sebuah keselamatan untuk hidup bersifat kekal yang akan datang. Maka jelaslah betapa pentingnya sebuah komitmen untuk terus melatih diri agar beribadah secara rutin dan teratur. Melatih diri untuk beribadah juga harus dipenuhi rasa cukup dengan ucapan syukur. Bersyukurlah atas berkat Tuhan, atas segala yang telah Dia bekali bagi kita dalam hidup. Paulus mengingatkan pula bahwa ibadah yang disertai rasa cukup, itu akan mendatangkan keuntungan besar. (1 Timotius 6:6).

"Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja." (Amsal 14:23). Dalam surat untuk jemaat Korintus kita bisa membaca: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58). Jerih payah yang kita lakukan akan selalu memberi keuntungan. Termasuk pula di dalamnya jerih payah kita membangun sebuah hubungan dengan Tuhan. Tuhan Yesus pun mengajarkan kita agar tidak bersikap apatis. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7). Meminta, mencari, mengetuk, itu adalah bagian dari usaha kita yang harus terus kita latih. "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (ay 8). Lihatlah betapa besar keuntungan yang bisa didatangkan dari ketaatan kita untuk tekun beribadah. Beribadah bukan hanya rajin ke Gereja, tapi juga melakukan saat teduh secara teratur, rajin membaca dan mendalami firman Tuhan, taat menuruti perintah Tuhan, terus mengasihi sesama seperti Yesus telah mengasihi kita, itu semua adalah ibadah yang berkenan di hadapan Tuhan. Jadikan ibadah menjadi sebuah gaya hidup, dan petik manfaatnya. Bukan saja sangat berguna bagi kekuatan dan ketahanan kita menghadapi masalah, namun juga akan mengarahkan kita kepada keselamatan yang kekal.

Miliki iman yang kuat lewat keseriusan kita melatih diri untuk rajin beribadah

Friday, May 13, 2011

Tidak Perlu ke Gereja?

Ayat bacaan: Ibrani 10:25
==================
"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

beribadah di gereja"Biarpun tidak ke gereja, yang penting hati kita bersih." Itu diucapkan oleh tetangga saya yang sudah begitu lama tidak menginjakkan kakinya di gereja. Ini sebuah "excuse" atau pembenaran yang begitu sering kita dengar dari orang-orang percaya yang tidak merasa perlu untuk beribadah ke gereja. Yang penting hati kita bersih. Itu tidaklah salah. Karena kita memang diminta untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah, dan itu dikatakan sebagai ibadah yang sejati. (Roma 12:1). Tetapi segala sisi kehidupan yang sulit ini cepat atau lambat bisa membuat roh kita lelah. Kita berhadapan dengan berbagai situasi yang bisa membuat daya tahan kita melemah. Kita tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh orang lain untuk mengingatkan kita, kita butuh saudara-saudari seiman untuk bertumbuh bersama-sama dan saling support. Kita butuh tempat untuk iman kita agar bertumbuh, dan kita akan kehilangan kesempatan untuk itu apabila kita menghindari beribadah di gereja.

Ada banyak orang yang berusaha mencari pembenaran sebagai alasan untuk tidak menghadiri ibadah di gereja. Ada yang kecewa melihat sikap hamba-hamba Tuhan disana, ada pula yang hanya karena merasa malas, lebih tertarik untuk beristirahat penuh di hari minggu setelah bekerja habis-habisan selama 6 hari penuh. Kalaupun pergi itu karena terpaksa, dan datangnya pun terlambat. Mereka menunjukkan sikap yang seolah menanggap ibadah di gereja bukanlah sesuatu yang penting sehingga bisa diremehkan saja. Padahal untuk pergi kerja kita selalu mati-matian untuk tidak terlambat, dan kita bisa melakukannya. Kita takut melanggar peraturan dan kedisplinan kerja agar tidak dipecat atau setidaknya takut ditegur pimpinan. Bersekolah pun sama saja. Apa kita berani datang terlambat setiap hari? Bukankah kita selalu berusaha untuk mentaati peraturan dan disiplin sekolah, termasuk di dalamnya peraturan mengenai kehadiran dan jam kedatangan? Jika kita bisa menuruti itu, mengapa beribadah yang sesungguhnya jauh lebih penting bisa kita abaikan begitu saja?

Firman Tuhan berkata: "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Janganlah menjauhkan diri dari pertemuan ibadah, dan jangan ikuti kebiasaan beberapa orang yang bersikap seperti itu. Kita perlu saling menasihati, bahkan seharusnya terus bertambah giat karena waktu tinggal sebentar lagi. Itu pesan yang disampaikan lewat penulis Ibrani. Sikap seperti ini memang tidak akan bisa datang seketika. Kita harus mengingatkan diri kita dan dengan rajin melatih kedisplinan dan ketaatan kita, seperti halnya kita terus berlatih untuk membiasakan diri dalam berolah raga. Paulus pun menyinggung hal ini. Katanya, "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Dan bukan hanya berkata itu, Paulus juga menjelaskan alasannya. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Ketika kedisplinan dalam bekerja, belajar atau hal-hal lain dalam hidup ini penting, latihan beribadah sesungguhnya jauh lebih penting dari itu, karena di dalamnya terkandung janji yang akan sangat bermanfaat bukan saja dalam hidup saat ini tetapi juga dalam hidup yang akan datang. Begitulah pentingnya melatih diri dalam beribadah yang tidak boleh kita abaikan dalam hidup ini.

Bagi orang yang mengasihi Tuhan, kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan bersama-sama dengan saudara seiman seharusnya tinggi. Yesus berkata: "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21). Jika kita menjadikan Tuhan sebagai harta yang paling berharga, tentu hati kita pun akan melekat kepadaNya sehingga kehadiran di gereja akan menjadi sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Disana kita bisa menunjukkan kasih dan ketaatan kita, bahwa kita menghormati Tuhan lebih dari segalanya. Di dalam jam-jam yang kita pergunakan untuk beribadah kita menyenangkan hati Tuhan dan kita pun akan diberi kekuatan untuk bekerja baik selama 6 hari ke depan.

Hindarilah kemalasan dalam beribadah. Jangan lewatkan waktu-waktu dimana kita bisa saling menguatkan dan bersama-sama menikmati hadirat Tuhan bersama saudara-saudara kita. Ingatlah bahwa Tuhan mengasihi orang yang bersungguh hati kepadaNya, dan terus mengarahkan pandangannya untuk mencari orang-orang seperti ini. "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatanNya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia." (2 Tawarikh 16:9). Jangan biarkan mata Tuhan berlalu dari kita. Mulai sekarang, pastikan diri kita untuk tidak menyepelekan waktu-waktu untuk beribadah menyembah dan memuji Tuhan bersama-sama dalam ibadah.

Hindari kemalasan karena ibadah mengandung janji baik di hidup sekarang maupun yang akan datang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, November 15, 2014

Simeon dan Hana (2)

(sambungan)

Hati yang terbuka untuk menantikan kedatangan Kristus membuat Simeon dan Hana bisa melihat dengan jelas akan sosok Mesias yang ada di depan mereka. Hadirnya Roh Allah membuat Simeon bisa melihat sosok Yesus dalam penggenapan rencana Allah seperti yang sudah berulangkali dinubuatkan para nabi sebelumnya, dan kerinduan Hana yang terus mengisi dirinya dengan doa dan puasa membuatnya bisa melihat Yesus secara benar. Itulah yang membedakan kedua orang ini dari jemaat lainnya yang hadir disana. Dalam Galatia tertulis "Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan." (Galatia 5:5).

Lewat Roh dan iman kita bisa melihat kebenaran yang kita harapkan. Mata kita dicelikan sehingga mampu mengenali Yesus dan kebenaran dalam diriNya. Seperti halnya di Bait Allah waktu itu, hari ini pun Yesus hadir ditengah-tengah kita meski tidak lagi secara kasat mata. Yesus hadir dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan, baik dalam kebaktian maupun dalam ibadah yang sejati, yaitu kehidupan kita. Tetapi apakah kita merasakan kehadiranNya? Apakah kita cukup merindukan kehadiran Yesus seperti halnya kerinduan yang dimiliki Simeon dan Hana? Masihkah kita merindukan kehadiran Yesus ditengah hiruk pikuk kesibukan sehari-hari dan segala sesuatu yang kita lakukan dan inginkan? Apakah kita berada pada posisi Simeon dan Hana atau sisanya?

Kita harus mengingatkan diri kita untuk beribadah dengan motivasi yang benar. Jangan sampai ibadah-ibadah kita hanya didasari oleh rutinitas atau sekedar menjalankan agama saja tanpa memiliki kerinduan yang murni akan Tuhan. Hidup dalam Roh, itulah yang akan membuat kita mampu melihat segala yang kebenaran dalam Yesus. Paulus berkata "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9). Yesus mengatakan "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yohanes 9:39).

Ada cahaya pengharapan dan keselamatan yang sudah Dia sediakan, dan kedatangan Kristus seharusnya bisa membuka mata kita dengan jelas untuk melihat segala kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, ciptaan-ciptaanNya yang teristimewa. Bukan cuma ingin memperoleh berkat dan pertolonganNya semata, tetapi kerinduan untuk mengenalNya, itulah yang mampu memberikan sukacita penuh rasa syukur dalam hidup kita. Sebab kalau kita tidak kenal dan tidak peduli, bagaimana mungkin kita bisa mengklaim sebagai milikNya? Kelahiran Yesus menjadi sebuah penggenapan janji Tuhan kepada Simeon dan Hana, yang selama itu hidup benar dan kudus. Janji itu pun berlaku bagi kita semua sampai hari ini. Sadarilah bahwa mengenal Kristus secara pribadi dan dekat merupakan hal yang sangat penting.

Ironis sekali kalau Yesus bukan menjadi yang kita nantikan dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, May 22, 2017

Mengenal Kristus seperti Simeon dan Hana (2)

(sambungan)

Hati yang terbuka dalam menantikan kedatangan Kristus membuat Simeon dan Hana bisa melihat dengan jelas akan sosok Mesias yang ada di depan mereka. Hadirnya Roh Allah membuat Simeon bisa melihat sosok Yesus dalam penggenapan rencana Allah seperti yang sudah berulangkali dinubuatkan para nabi sebelumnya. Akan halnya Hana,  kerinduan Hana yang terus mengisi dirinya dengan doa dan puasa membuatnya bisa melihat Yesus secara benar. Itulah yang membedakan kedua orang ini dari jemaat lainnya yang hadir disana. Dalam Galatia tertulis "Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan." (Galatia 5:5).

Lewat Roh dan iman kita bisa melihat kebenaran yang kita harapkan. Mata kita dicelikan sehingga mampu mengenali Yesus dan kebenaran dalam diriNya. Seperti halnya di Bait Allah waktu itu, hari ini pun Yesus hadir ditengah-tengah kita meski tidak lagi secara kasat mata. Yesus hadir dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan, baik dalam kebaktian maupun dalam ibadah yang sejati, yaitu kehidupan kita. Tetapi apakah kita merasakan kehadiranNya? Apakah kita cukup merindukan kehadiran Yesus seperti halnya kerinduan yang dimiliki Simeon dan Hana? Masihkah kita merindukan kehadiran Yesus ditengah kesibukan sehari-hari dan segala sesuatu yang kita lakukan? Apakah kita mengingatNya saat berhadapan dengan segala yang diinginkan? Apakah kita berada pada posisi Simeon dan Hana atau orang-orang lain yang berada di bait Allah?

Kita harus mengingatkan diri kita untuk beribadah dengan motivasi yang benar. Jangan sampai ibadah-ibadah kita hanya didasari oleh rutinitas atau sekedar menjalankan kebiasaan saja tanpa memiliki kerinduan yang murni akan Tuhan. Hidup dalam Roh akan membuat kita mampu melihat segala yang kebenaran dalam Yesus. Paulus berkata "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9). Yesus mengatakan "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yohanes 9:39).

Ada cahaya pengharapan dan keselamatan yang sudah Dia sediakan, dan kedatangan Kristus untuk menebus kita seharusnya bisa membuka mata kita dengan jelas untuk melihat segala kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, ciptaan-ciptaanNya yang teristimewa. Bukan cuma ingin memperoleh berkat dan pertolonganNya semata, tetapi kerinduan untuk mengenalNya dan kemudian mengasihiNya, itulah yang mampu memberikan sukacita penuh rasa syukur dalam hidup kita. Sebab kalau kita tidak kenal dan tidak peduli, bagaimana mungkin kita bisa mengklaim sebagai milikNya?

Kelahiran Yesus menjadi sebuah penggenapan janji Tuhan kepada Simeon dan Hana, yang selama itu hidup benar dan kudus. Janji itu pun berlaku bagi kita semua sampai hari ini.

Ironis sekali kalau ibadah-ibadah yang kita lakukan ternyata tidak membawa pengenalan akan Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, December 22, 2010

Menantikan Yesus

Ayat bacaan: Lukas 2:25
================
"Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,"

menantikan YesusApa motivasi kita dalam beribadah? Apakah ingin bertemu dan merasakan hadirat Tuhan bersama saudara-saudari seiman, atau hanya mencari berkat/pertolongan atau bahkan sekedar ritual atau rutinitas yang sudah rutin kita lakukan sejak dulu? Menjelang Natal yang tinggal beberapa hari lagi saja, apakah kita benar-benar merenungkan segala kebaikan Kristus kepada kita untuk memperingati hari kelahiranNya atau kita hanya peduli pada pesta, liburan atau gemerlap perayaannya saja? Ada banyak motivasi orang dalam beribadah, demikian pula halnya dengan memperingati Natal. Bagi sebagian orang, Natal tidaklah lebih dari sebuah pesta keluarga dengan segala kemeriahannya tanpa merenungkan esensi yang paling dasar dari perayaan itu.

Mari kita lihat kisah ketika Yesus dibawa ke bait Allah untuk diserahkan kepada Tuhan. Seperti layaknya gereja, saya yakin pada saat itu ada begitu banyak orang yang hadir di sana. Bisa ratusan hingga ribuan orang. Yusuf dan Maria pun hadir disana membawa bayi Yesus untuk memenuhi hukum Taurat Musa yang menyatakan bahwa "semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah."  (Lukas 2:23). Tetapi mari kita lihat. Berapa orang dari yang hadir mengenal Yesus sebagai Juru Selamat yang sudah sejak lama dinantikan kehadirannya oleh bangsa Israel? Ternyata tidak banyak. Alkitab bahkan secara jelas menyatakan bahwa hanya dua orang saja, yaitu Simeon dan Hana. Bayangkan, hanya dua dari sekian banyak orang. Mengenai Simeon, alkitab mencatat "Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan." (Lukas 2:26). Sedangkan Hana adalah seorang janda tua berusia 84 tahun. Dikatakan bahwa "Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa." (ay 37). Ternyata hanya kedua orang inilah yang mampu melihat bayi Yesus sebagai Mesias yang sesungguhnya. Mereka berdua sudah sejak lama menantikan kedatangan Yesus di muka bumi ini. Kerinduan mereka untuk melihat Yesus dapat kita lihat dari ketekunan dan usaha mereka dalam menantikan Kristus. Bahkan kepada Simeon Roh Kudus menyatakan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias dengan mata kepalanya sendiri. (ay 26). Simeon terus menanti dengan pengharapan penuh, hatinya haus untuk bertemu dengan Yesus. Pada hari itu Roh Kudus membimbingnya untuk menuju Bait Allah (ay 27) dan akhirnya bertemu dengan Mesias yang dijanjikan. Dengan lantang Simeon berkata "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." (ay 29-32). Simeon mampu melihat dengan jelas siapa bayi yang tengah ia gendong. Demikian pula Hana yang langsung mengucap syukur kepada Allah. (ay 38). Apakah jemaat lain melihat hal yang sama? Sayangnya tidak. Selain Simeon dan Hana, yang lain tampaknya tidak memiliki kerinduan yang sama. Mereka tidak bisa melihat siapa Yesus sebenarnya. Kehadiran Yesus tepat di depan mereka nyatanya tidak kunjung menggerakkan hati mereka untuk bersyukur atas keselamatan yang akan hadir sebagai anugerah dari Allah.

Hati yang terbuka untuk menantikan kedatangan Kristus membuat Simeon dan Hana bisa melihat dengan terang dan jelas akan sosok Mesias yang ada di depan mereka. Hadirnya Roh Allah membuat Simeon bisa melihat sosok Yesus dalam penggenapan rencana Allah seperti yang sudah berulangkali dinubuatkan para nabi sebelumnya, dan kerinduan Hana yang terus mengisi dirinya dengan doa dan puasa membuatnya bisa melihat Yesus secara benar. Itulah yang membedakan kedua orang ini dari orang-orang lainnya. Dalam Galatia tertulis "Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan." (Galatia 5:5). Lewat Roh dan iman kita bisa melihat kebenaran yang kita harapkan. Mata kita dicelikan sehingga mampu mengenali Yesus dan kebenaran dalam diriNya. Seperti halnya di Bait Allah waktu itu, hari ini pun Yesus hadir ditengah-tengah kita meski tidak secara kasat mata. Yesus hadir dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan, Yesus hadir dalam kehidupan kita. Tetapi apakah kita merasakan kehadiranNya? Apakah kita cukup merindukan kehadiran Yesus seperti halnya kerinduan yang dimiliki Simeon dan Hana? Masihkah kita merindukan kehadiran Yesus ditengah hiruk pikuk kesibukan sehari-hari dan segala sesuatu yang kita lakukan? Singkatnya, di posisi mana kita saat ini berada, apakah di posisi Simeon dan Hana atau jemaat lainnya?

Kita harus mengingatkan diri kita untuk beribadah dengan tujuan yang benar. Jangan sampai ibadah-ibadah kita hanya didasari oleh rutinitas atau sekedar menjalankan agama saja tanpa memiliki kerinduan yang murni akan Tuhan. Hidup dalam Roh, itulah yang akan membuat kita mampu melihat segala yang kebenaran dalam Yesus. Paulus berkata "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9). Yesus mengatakan "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yohanes 9:39). Ada cahaya pengharapan dan keselamatan yang tersedia, dan kedatangan Kristus seharusnya bisa membuka mata kita dengan jelas untuk melihat segala kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, ciptaan-ciptaanNya yang teristimewa. Tidak hanya ingin memperoleh berkat dan pertolonganNya semata, tetapi kerinduan untuk mengenalNya, itulah yang mampu memberikan sukacita penuh rasa syukur dalam hidup kita. Kelahiran Yesus menjadi sebuah penggenapan janji Tuhan kepada Simeon dan Hana, yang selama itu hidup benar dan kudus. Janji itu pun berlaku bagi kita semua sampai hari ini. Siapa yang kita nantikan dalam setiap ibadah yang kita lakukan? Apa yang menjadi dasar pemikiran kita dalam merayakan Natal tahun ini? Hendaklah kita tetap hidup di dalam Roh dan tidak terpengaruh oleh berbagai keinginan daging. Itu akan membuat kita mampu mengenal Kristus secara pribadi dan dekat. Siapa yang kita nantikan hari ini?

Alangkah sayangnya jika Yesus bukan menjadi yang kita nantikan dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, May 28, 2012

Kemiskinan yang Termiskin

Ayat bacaan: Yakobus 1:27
=================
"Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia."

kemiskinan termiskinKemiskinan sering diasosiasikan dengan keadaan finansial yang berada jauh di bawah rata-rata. Orang yang hidup kekurangan, tidak punya rumah, hanya mampu makan sekali sehari dan sebagainya, itulah yang dikatakan orang sebagai orang miskin. Tapi benarkah kemiskinan hanya melulu soal harta atau kondisi finansial saja? Sesungguhnya tidak. Terlalu sempit jika kita menganggap kemiskinan hanya sebatas itu. Ada banyak lagi bentuk-bentuk kemiskinan lainnya yang tidak hanya berbicara soal kondisi ekonomi seseorang. Lantas kemiskinan apa yang dikatakan sebagai kemiskinan yang paling miskin? Apakah ini mengacu kepada orang yang paling tidak punya uang sama sekali? Bunda Teresa memiliki jawabannya."We think sometimes that poverty is only being hungry, naked and homeless. The poverty of being unwanted, unloved and uncared for is the greatest poverty. We must start in our own homes to remedy this kind of poverty."

Menurut bunda Teresa, kemiskinan yang termiskin  bukanlah kelaparan, telanjang dan tidak punya rumah, melainkan rasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak dipedulikan. Being unwanted, unloved and uncared. Itulah kemiskinan yang paling miskin. Begitu banyak orang yang mengalami kepahitan dan sangat menderita bukan karena mereka tidak mampu secara finansial, tapi karena mereka merasa tertolak, merasa tidak dikasihi atau tidak merasakan kasih sayang.

Bunda Teresa tentu tahu benar mengenai kemiskinan. Hampir sepanjang hidupnya dihabiskan di India, tepatnya di Kalkuta. Bunda Teresa menempatkan dirinya ditengah-tengah masyarakat yang sangat miskin di wilayah itu. Beliau melayani Tuhan dengan memberi waktu sepenuhnya untuk orang-orang yang termiskin, terbuang. Bunda Teresa melayani orang yang lapar, gelandangan, buta, pincang, lepra dan sakit penyakit lain, orang yang telanjang. Ia memeluk bayi-bayi terbuang dengan penuh kasih. Ia berada disana bagi orang yang tidak dicintai, tidak diinginkan, tidak diperhatikan atau orang-orang tertolak. Lewat pengalaman puluhan tahun berada di salah satu tempat termiskin di dunia itu tentu Bunda Teresa sangat mengetahui mengenai kemiskinan, termasuk apa sebenarnya kemiskinan yang paling parah. Kesimpulannya jatuh bukan pada kekurangan biaya, rumah atau harta lainnya, tapi justru kepada sebuah perasaan tertolak tanpa memiliki kasih sayang. Itu sebuah kesimpulan dari pengalaman beliau dari pelayanannya selama puluhan tahun, meninggalkan semua kemewahan dunia untuk datang ke sebuah tempat yang terbuang dan membagikan seluruh perhatian dan kasih yang ada pada dirinya hingga akhir hayatnya.

Jika demikian, maka alangkah sia-sianya kita rajin beribadah apabila kita masih menutup mata, telinga dan perasaan kita terhadap mereka yang saat ini hidup dalam kemiskinan yang termiskin. Yakobus mengatakan: "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." (Yakobus 1:27). Ibadah  yang murni dan tak bercacat bukanlah kerajinan berdoa panjang lebar, bukanlah duduk di gereja berlama-lama, melainkan membagi kepedulian, kasih dan sebagian dari perhatian dan apa yang kita punya untuk mereka yang berada dalam kesusahan. Yatim piatu, para janda, ini gambaran dari orang-orang yang kehilangan kasih sayang selain membutuhkan bantuan secara materi pada masa itu. Kita melakukan sebuah ibadah murni dan tak bercacat di hadapan Allah dikatakan ketika kita peduli kepada mereka. Mengunjungi mereka dalam kesusahan mereka, being there for them, letting them know that they are not alone. Kita mungkin tidak memiliki panggilan seperti Bunda Teresa, tetapi sedikit banyak tentu kita bisa membagi perhatian, kasih dan bantuan lainnya sesuai kemampuan kita apabila kita memiliki kasih Allah mengalir dalam diri kita. Selain hal ini, ibadah yang dikatakan murni dan tak bercacat juga berbicara mengenai keseriusan kita untuk menjaga diri dari kecemaran-kecemaran yang ada di dunia.

Selanjutnya amsal Salomo mengingatkan kita untuk memiliki telinga peka terhadap jeritan orang yang membutuhkan pertolongan. Jika tidak, maka jeritan kita ketika membutuhkan pertolongan pun tidak akan didengar Tuhan. "Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru." (Amsal 21:13). Mengapa demikian? Karena Allah adalah kasih. (1 Yohanes 4:8). Kedatangan Kristus ke dunia untuk menebus dosa kita adalah bukti nyata betapa besar kasih Allah pada kita. Karena Allah begitu mengasihi kita, maka kita pun harus mengasihi orang lain. (1 Yohanes 4:11). Mengasihi tidaklah harus selalu berbentuk pemberian materi, tapi lewat perhatian, lewat membagikan sebagian waktu kita untuk mendengarkan mereka yang membutuhkan pertolongan, atau yang paling mudah, lewat senyum tulus, itu bisa meringankan penderitaan mereka.

Apabila ada diantara teman-teman yang saat ini merasa tidak diinginkan atau tidak merasakan kasih sayang, feeling unwanted and unloved, tidak ada dukungan moril, kepedulian atau empati dari saudara-saudara seiman, ingatlah bahwa diatas segalanya ada Tuhan yang selalu peduli dan tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengar anda. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan anda sendirian. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8). Meski mungkin orang terlihat tidak menghargai anda, meski mungkin anda merasa tertolak dari lingkungan atau bahkan keluarga sendiri, tapi anda berharga di mata Tuhan dan sangat Dia kasihi. Bacalah Mazmur 139:13-18, disana tertulis bahwa kita adalah hasil "tenunan" Tuhan sendiri, itu adalah sebuah kejadian yang dahsyat dan ajaib. Tuhan peduli, dan Dia punya rencana istimewa bagi anda.

Bagi kita yang lebih beruntung tidak mengalami kemiskinan yang paling miskin ini, sudahkah kita perduli kepada saudara-saudara kita yang tengah menjerit meminta pertolongan? Jika pengabdian seperti Bunda Teresa terasa begitu jauh dan sulit, sudahkah kita memperhatikan orang-orang yang sangat dekat di sekitar kita? Maukah kita menyisihkan sebagian dari diri kita untuk mereka, atau kita malah bersungut-sungut karena merasa terganggu dengan kehadiran mereka? Yesus berkata: "..sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40) Kita bisa menjadi wakil-wakil Tuhan untuk mengalirkan kasih Kristus kepada mereka yang tengah mengalami kemiskinan yang termiskin ini. Jangan sampai semua ibadah kita tercemar karena kita tidak memiliki sedikitpun kasih dan perhatian untuk dicurahkan kepada mereka yang membutuhkan.

Tidak ada ibadah yang murni dan tak bercacat tanpa adanya kerinduan untuk membagi kasih kepada mereka yang tertolak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, July 5, 2012

Tidak Perlu ke Gereja?

Ayat bacaan: Ibrani 10:25
==================
"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

"Ke gereja atau tidak itu tidak masalah, yang penting hati kita bersih." Pernahkah anda bertemu dengan orang yang berpendapat seperti ini? Saya sering bertemu dengan orang-orang yang secara sepihak mengeluarkan pernyataan pembenaran sebagai alasan untuk tidak beribadah ke gereja. Saya pernah juga bertemu dengan beberapa orang yang berkata, "Ah, buat apa ke gereja? Memangnya Tuhan cuma ada disana?" Disamping pendapat-pendapat ini, tidak jarang pula jemaat atau bahkan satu dua gereja justru menjadi batu sandungan dengan menunjukkan berbagai kemunafikan, sehingga sebagian orang menjadi tawar hatinya. Benar, Tuhan itu omnipresent alias berada dimana-mana. Dan pendapat bahwa menjaga hati itu penting itu pun tidaklah salah. Kita memang diminta untuk mempersembahkan seluruh tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah, dan itu bahkan dikatakan sebagai ibadah yang sejati. (Roma 12:1). Tapi itu sama sekali bukan berarti bahwa kita tidak perlu beribadah ke gereja, karena ada banyak hal yang sebetulnya luput dari kita jika kita melakukan itu.

Segala sisi kehidupan yang sulit ini cepat atau lambat bisa membuat roh kita lelah. Kita berhadapan dengan berbagai situasi yang bisa membuat daya tahan kita melemah. Oleh karena itu kita tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh orang lain untuk mengingatkan kita, kita butuh saudara-saudari seiman untuk bertumbuh bersama-sama dan saling bahu membahu bekerja sama untuk saling bantu. Selain itu, kita butuh siraman rohani lewat kotbah yang akan mengajarkan kita akan firman-firman Tuhan yang aplikatif terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk contoh atau ilustrasi yang akan sangat membantu kita untuk mengerti firman Tuhan secara lebih mendalam. Kita juga butuh tempat dimana iman kita bisa terjaga dan terus bertumbuh, dan kita akan kehilangan kesempatan untuk itu jika kita mengabaikan saat-saat untuk beribadah di gereja.

Selain alasan-alasan yang sudah saya kemukakan di atas, ada banyak alasan lainnya yang kerap dipakai orang untuk tidak menghindari beribadah di gereja. Banyak yang mengira bahwa hari Minggu seharusnya dipakai total untuk beristirahat karena merasa sudah habis-habisan banting tulang dan otak selama 6 hari penuh. Ada pula yang memakai alasan cuaca, baik terlalu panas atau hujan. Kemalasan pun sering menjadi penghambat utama. Kalaupun akhirnya pergi, itu karena terpaksa, dan datangnya pun terlambat. Mereka menunjukkan sikap yang seolah menanggap ibadah di gereja bukanlah sesuatu yang penting sehingga bisa diremehkan saja. Jika ke gereja saja malas, apalagi ikut persekutuan. Coba pikir, mungkinkah kita berlaku sama terhadap pekerjaan atau ke sekolah/kampus bagi yang masih mengenyam pendidikan? Tentu saja tidak. Kita takut melanggar peraturan dan kedisplinan kerja yang bisa membuat kita kehilangan pekerjaan karena dipecat, atau setidaknya takut ditegur pimpinan. Ke sekolah atau kuliah pun sama saja. Apa kita berani datang terlambat sesuka kita setiap hari? Bukankah kita selalu berusaha untuk datang tepat waktu karena itu merupakan salah satu peraturan atau disiplin yang harus ditaati? Jika kita bisa patuh dalam melakukan itu, mengapa beribadah yang sesungguhnya jauh lebih penting bisa kita abaikan begitu saja? Ini adalah hal yang wajib kita pertimbangkan ketika rasa malas atau alasan lainnya mulai menggoda kita untuk melewatkan saat-saat beribadah raya bersama saudara-saudari seiman di hari Minggu.

Dalam Ibrani sesungguhnya hal ini sudah diingatkan. "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Janganlah menjauhkan diri dari pertemuan ibadah, dan jangan ikuti kebiasaan beberapa orang yang bersikap seperti itu. Mengapa? Karena kita perlu saling menasihati satu sama lain. Bahkan seharusnya kita makin giat dalam beribadah karena waktu tinggal sebentar lagi. Itu pesan yang disampaikan lewat penulis Ibrani. Merubah sikap malas atau menganggap tidak penting ini tidak mudah jika kita sudah terlanjur terbiasa berpikir seperti itu. Oleh karena itu kita harus rajin-rajin mengingatkan diri kita dan terus melatih kedisplinan dan ketaatan kita, seperti halnya kita terus berlatih untuk membiasakan diri dalam berolah raga. Hal itu dikatakan oleh Paulus juga."Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7-8). Ketika kedisplinan dalam bekerja, belajar, berolah raga atau hal-hal lain dalam hidup ini penting, latihan beribadah sesungguhnya jauh lebih penting dari itu, karena di dalamnya terkandung janji yang akan sangat bermanfaat bukan saja dalam hidup saat ini tetapi juga dalam hidup yang akan datang. Begitulah pentingnya melatih diri dalam beribadah yang tidak boleh kita abaikan dalam hidup ini.

Jika anda mengasihi kekasih atau pasangan anda, tentu anda selalu rindu untuk bertemu dengan mereka bukan? Demikian pula halnya bagi orang yang mengasihi Tuhan. Kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan bersama-sama dengan saudara seiman seharusnya menjadi hal yang sulit untuk dilewatkan. Apa yang kita anggap paling berharga tentu menjadi prioritas utama bagi kita, disertai dengan kerinduan mendalam. Dan Yesus berkata: "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21). Jika kita menjadikan Tuhan sebagai harta yang paling berharga, tentu hati kita pun akan melekat kepadaNya sehingga kehadiran di gereja akan menjadi sesuatu yang tidak bisa tergantikan dengan apapun juga. Disana kita bisa merasakan kasih Tuhan bersama dengan saudara-saudari lainnya. Disana kita bisa mendapat siraman rohani yang akan sangat berguna untuk menguatkan kita selama hari kerja di minggu berikutnya. Disana kita bisa menunjukkan ketaatan dan kasih kita kepada Tuhan, bahwa kita menghormati Tuhan lebih dari segalanya. Disana kita bisa memuji dan menyembah Tuhan bersama-sama dan menyenangkan hati Tuhan, dan disana kita bisa berbaur dan bergaul dengan jemaat lainnya, sehingga kita bisa saling mengingatkan dan saling bantu setelah kita mengenal mereka dengan baik.

Bangun di hari Minggu terutama pagi hari mungkin berat. Untuk pergi keluar dari rumah apalagi kalau cuaca buruk pun demikian. Tapi kita harus melatih diri kita untuk menghindari kemalasan dalam beribadah. Bukan cuma ke gereja saja, tapi jangan abaikan pula pentingnya untuk hadir di persekutuan-persekutuan di gereja anda. Jangan lewatkan waktu-waktu dimana kita bisa saling menguatkan dan bersama-sama menikmati hadirat Tuhan bersama saudara-saudara kita. Ingatlah bahwa Tuhan mengasihi orang yang bersungguh hati kepadaNya, dan terus mengarahkan pandangannya untuk mencari orang-orang seperti ini. "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatanNya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia." (2 Tawarikh 16:9). Jangan biarkan mata Tuhan berlalu dari kita. Adalah kekeliruan besar untuk mengabaikan waktu-waktu beribadah bersama-sama ini, karena selain kita sendiri yang rugi, itu juga menunjukkan ke-egoisan kita dengan berpikir bahwa kita tidak perlu mempedulikan orang lain dan hanya mau berkat untuk diri sendiri. Mulai sekarang mari kita disiplinkan diri kita untuk tidak menyepelekan waktu-waktu beribadah.

Disiplinkan diri dalam beribadah, karena ibadah sesungguhnya mengandung janji baik di hidup sekarang maupun yang akan datang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, December 16, 2015

Simeon, Hana dan Bayi Yesus (2)

(sambungan)

Hati yang terbuka disertai karakter yang benar dan saleh dengan kerinduan yang tulus untuk menantikan kedatangan Kristus membuat Simeon dan Hana bisa melihat dengan terang dan jelas akan sosok Mesias yang ada di depan mereka. Hadirnya Roh Allah membuat Simeon bisa melihat sosok Yesus dalam penggenapan rencana Allah seperti yang sudah berulangkali dinubuatkan para nabi sebelumnya. akan halnya Hana, kerinduannya yang dinyatakan dengan terus mengisi dirinya dengan doa dan puasa membuatnya bisa melihat Yesus secara benar. Itulah yang membedakan kedua orang ini dari orang-orang lainnya.

Dalam Galatia tertulis "Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan." (Galatia 5:5). Lewat Roh dan iman kita bisa melihat kebenaran yang kita harapkan. Mata kita dicelikan sehingga mampu mengenali Yesus dan kebenaran dalam diriNya. Seperti halnya di Bait Allah waktu itu, hari ini pun Yesus hadir ditengah-tengah kita, meski tidak terlihat langsung secara kasat mata. Yesus hadir dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan. Dia hadir lewat doa-doa kita, Dia hadir dalam kehidupan kita. Tetapi apakah kita merasakan kehadiranNya? Apakah kita cukup merindukan kehadiran Yesus seperti halnya kerinduan yang dimiliki Simeon dan Hana, terutama menjelang Natal yang akan datang sebentar lagi? Masihkah kita merindukan kehadiran Yesus ditengah hiruk pikuk kesibukan sehari-hari dan segala sesuatu yang kita lakukan? Singkatnya, di posisi mana kita saat ini berada, apakah di posisi Simeon dan Hana atau justru di posisi jemaat lainnya pada waktu itu? Semua ini hendaknya bisa menjadi perhatian kita, agar sebuah perayaan Natal tidak berlalu sia-sia karena hanya mengarah kepada sesuatu yang seremonial belaka lalu kehilangan esensi terpentingnya.

Kita harus mengingatkan diri kita akan pentingnya beribadah dengan tujuan yang benar. Jangan sampai ibadah-ibadah kita hanya didasari oleh rutinitas atau sekedar menjalankan agama saja atau malah sudah lari jauh dari substansi. Jangan sampai kita sibuk akan begitu banyak tata cara dan perayaan tapi tidak ada lagi kerinduan yang murni akan Tuhan disana. Hidup dalam Roh akan membuat kita mampu melihat segala yang kebenaran dalam Yesus. Paulus berkata "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9). Yesus mengatakan "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yohanes 9:39).

Ada cahaya pengharapan dan keselamatan yang disediakan bagi kita, dan kedatangan Kristus seharusnya bisa membuka mata kita dengan jelas untuk melihat segala kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, anak-anak yang Dia kasihi. Tentu saja bukan hanya karena ingin memperoleh berkat dan pertolonganNya semata, tetapi kerinduan untuk mengenalNya, itulah yang mampu memberikan sukacita penuh rasa syukur dalam hidup kita. Kelahiran Yesus menjadi sebuah penggenapan janji Tuhan kepada Simeon dan Hana, yang telah menanti dengan penuh pengharapan sepanjang hidup mereka dengan melakukan pola hidup benar dan kudus. Janji yang sama pun berlaku bagi kita semua sampai hari ini. Siapa yang kita nantikan dalam setiap ibadah yang kita lakukan? Apa yang menjadi dasar pemikiran kita dalam merayakan Natal tahun ini?

Bukan pesta dan seremonial, tapi rayakan Natal sebagai wujud rasa syukur akan kehadiran Sang Juru Selamat bagi kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...