Wednesday, August 1, 2018

Kalau Janji, Tepati (1)

Ayat bacaan: Matius 5:37
==================
"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat."

Baru saja saya menonton biografi seorang atlit terkenal yang sempat mengalami masa-masa gelap dalam hidupnya. Sekitar dua dekade silam saat ia mencapai masa keemasannya, ia sempat jatuh pada obat-obatan dan minuman keras. Menurutnya, tekanan untuk tetap tampil dengan performa puncak dan keinginan untuk menjadi yang terbaik begitu besar sehingga ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkannya. Ia mulai memakai obat-obat penenang dan minum. Seperti halnya zat-zat yang mendatangkan kecanduan, dosisnya terus bertambah. Pernah pada suatu kali ia hampir saja menelan 25 butir sekaligus karena merasa dirinya sangat butuh itu. Ia punya keluarga, seorang istri dan tiga orang anak. Berkali-kali ia berjanji kepada istrinya untuk berhenti melakukan semua itu dan berubah agar fungsinya dalam keluarga bisa kembali ia lakukan, tapi sebanyak janjinya,  sebanyak itu pula ia melanggar. Istrinya bercerita bahwa seringkali ia melihat suaminya keluar dari kamar di tengah malam hanya untuk minum obat penenang dan bir lalu tergeletak tak sadar di sofa.

Suatu kali istrinya sudah tidak tahan lagi. Ia berkata kepada suaminya bahwa ia sudah tidak bisa lagi mentolerir kelakuan seperti itu. Berulang kali berjanji tapi terus dilanggar. Sang istri berkata, "aku mencintaimu. Tapi kalau kamu tidak berubah, saya harus meninggalkan kamu dan membawa anak-anak, karena saya tidak mau anak-anak melihat ayahnya merusak diri seperti ini." Atlit terkenal ini pun seolah tersentak. Ia tersadar bahwa akibat perbuatannya ia bisa kehilangan istri dan anak, bahkan nyawanya. Ia kemudian masuk pusat rehabilitasi dan karena motivasinya kuat, ia dengan cepat pulih. Hari ini ia sudah terlepas dari pengaruh kecanduan. Ia menjadi suami dan ayah yang sangat diandalkan, dibanggakan dan dicintai. Apakah godaan untuk kembali mabuk dan minum obat penenang tidak pernah mencoba masuk kembali? Ia berkata bahwa godaan sangat sering timbul. Tapi ia komitmen untuk memegang janjinya. "Ada ribuan janji saya pada istri dan anak-anak saya yang sudah saya langgar. Gara-gara itu saya hampir kehilangan mereka. Saya juga sempat kehilangan rasa bahagia bahkan hampir kehilangan nyawa. Enough is enough. Kali ini saya benar-benar mau pegang janji saya." katanya.

Semakin lama orang semakin menganggap ringan sebuah janji. Banyak orang yang mengkategorikan janji menurut tingkatan-tingkatannya sendiri. Ada yang tidak boleh dibatalkan seperti janji pada orang yang dianggap penting atau perjanjian yang diikat oleh hukum alias ada hitam di atas putihnya, ada yang sifatnya diusahakan, ada pula yang dianggap boleh dinomor duakan atau bahkan janji yang sambil lalu saja atau tidak serius. Ada juga yang suka bahkan terbiasa mengobral janji. Mereka dengan mudahnya menjanjikan ini dan itu, tapi sebentar lagi sudah lupa dengan janjinya. Atau mudah memberi janji semanis madu agar keinginannya terpenuhi. Ada pasangan yang kemudian bubar jalan karena salah satunya hobi ingkar janji, terutama untuk hal-hal kecil. Janji menjemput tapi tidak datang, janji tepat waktu tapi terus terlambat, janji mau menemani atau keluar nonton tapi dibatalkan tanpa alasan jelas.

Seorang teman memilih untuk putus dengan pasangannya karena sifat seperti ini. "Sederhana saja, kalau waktu pacaran saja ia sudah menunjukkan bahwa saya kurang penting dibanding urusan lainnya, yang bahkan cuma dijawab karena malas, bagaimana nanti kalau sudah menikah?" kata teman saya ini menghela nafas. Tapi itu menjadi gambaran bahwa ada orang yang memang tidak bisa dipegang kata-katanya atau sulit berkomitmen pada janji, dan ada pula yang mengkategorikan janji menurut apa yang mereka anggap benar. Ada teman saya lainnya yang di awal sempat mengesalkan saya karena sangat sulit menepati janji. Semudah berjanji semudah itu pula mengingkari atau membatalkan. Belakangan saya belajar mengenal sifatnya dan tidak lagi menganggap serius apapun yang ia janjikan. Dan itu mengurangi rasa kesal saya terhadapnya. Tapi biar bagaimanapun, sikap seperti itu tidaklah baik. Mungkin saya bisa menerima sifatnya, tapi bagaimana dengan orang lain? Dan benar saja, di usia lebih dari 40 tahun dengan satu anak, ia masih terus tidak jelas kerjanya. Saya kira sulit bagi perusahaan manapun untuk mempekerjakan karyawan yang sulit dipegang janjinya.

Dalam renungan terdahulu saya sudah menyampaikan ayat dari kitab Mazmur 12 yang ditulis oleh Daud. Perikop ini menunjukkan perbedaan nyata antara janji manusia dengan janji Tuhan yang murni dan teruji, bagai perak yang tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah (ay 7). Perikop ini menunjukkan the sincerity of God against the insencerity of men. Kalau janji manusia itu sulit dipegang apalagi untuk masa waktu yang lama, janji Tuhan itu murni dan teruji. Murni sehingga pasti akan Dia penuhi, dan teruji sejak ribuan tahun dan akan berlaku hingga akhir masa. Selama kita melakukan bagian kita dengan taat dan benar, Tuhan tidak akan mengingkari janjiNya, karena Dia yang menjanjikannya, setia (Ibrani 10:23).

(bersambung)


Tuesday, July 31, 2018

Janji Tuhan vs Janji Manusia (4)

(sambungan)

Karena itulah Daud bisa mengatakan hal tersebut, dan kemudian melanjutkan dengan "Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya, Engkau akan menjaga kami senantiasa terhadap angkatan ini." (ay 8). Ini adalah doa yang sarat iman. Daud tidak berdoa: "Tuhan, tolonglah aku, lindungi aku dari orang-orang jahat yang suka menipu, menyesatkan serta menindasku." Tidak seperti itu. Tapi Daud berdoa untuk semua orang benar yang mengami tekanan seperti dirinya, dan dia mengatakan "Engkau, Tuhan yang akan menepatinya. Engkau akan senantiasa menjaga kami dari angkatan jahat ini." Itu doa yang disertai keyakinan, yang tentunya lahir dari iman. Lewat pengalamannya Daud tahu bahwa janji Tuhan itu murni dan teruji, dan imannya tahu bahwa kalau Tuhan sudah membuktikan janjiNya, Dia pasti akan tetap menepati janjiNya sampai kapanpun.

Kalau Daud sudah membuktikan dan bisa hidup dengan iman yang percaya seperti itu, hal yang sama pun akan terjadi dengan kita apabila kita jugamengimani tingkat kemurnian sempurna dari janji Tuhan seperti Daud. Janji Tuhan itu sempurna murninya. Tidak ada yang diisi kebohongan, tidak ada yang asal-asalan, sambil lalu atau hanya sebatas mungkin dan mudah-mudahan saja. Tidak ada janji palsu apalagi kosong. Semua mengandung kebenaran yang mutlak. Saya memiliki banyak kesaksian akan hal ini, anda pun mungkin sudah memiliki kesaksian tersendiri. Jika kita taat kepadaNya, hidup takut akan Tuhan dalam artian kita menghormati dan mengasihiNya sedemikian rupa sehingga kita tidak ingin mengecewakanNya bahkan sedikit sekalipun, jika kita mau mendalami dan memahami benar-benar Firman Tuhan dan menjadi pelaku-pelaku Firman, Tuhan pasti akan selalu genapi janjiNya. Belakangan dalam Mazmur kita temukan lagi seruan senada. "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2).

Yakinlah bahwa janji Tuhan itu sangat terbukti, teruji dan sangat murni. Berbagai hal yang mungkin sulit kita terima secara logika dan yang belum bisa kita lihat sudah dijanjikan Tuhan. Bagi kita mungkin sulit dibayangkan, tetapi tidak ada yang mustahil bagiNya dan janji itu akan selalu Dia penuhi selama kita melakukan bagian kita dengan benar. God never made a promise that was too good to be true, He will always keep His promise.

Jika anda mulai melakukan bagian anda saat ini, anda akan mendapati bahwa Tuhan menepati janji itu adalah sesuatu yang nyata. Anda akan melihat sendiri bahwa sesungguhnya Tuhan masih terus bekerja secara luar biasa jauh mengatasi kemustahilan dalam hidup kita semua hingga hari ini. Jadi apabila anda tengah menghadapi keragu-raguan akan pertolongan Tuhan, saat anda berhadapan dengan berbagai bentuk kesulitan dalam hidup, ingatlah bahwa janji Tuhan yang murni ini sama berlakunya bagi anda seperti halnya kepada Daud. Saya sudah membuktikannya dalam begitu banyak kesempatan, ada banyak orang lain juga yang sudah merasakan kebenarannya dan saya percaya sampai kapanpun Tuhan akan selalu setia pada janjiNya. Kalau begitu, kenapa tidak dengan anda?

"Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia." (Ibrani 10:23)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, July 30, 2018

Janji Tuhan vs Janji Manusia (3)

(sambungan)

Semakin banyak penyaringan akan menghasilkan sesuatu yang lebih murni. Kita suka kepada hal-hal yang murni, tidak tercampur atau terkontaminasi dengan unsur lain. Susu murni merupakan salah satunya yang banyak dikonsumsi orang untuk alasan kesehatan.

Emas dan perak juga harus melewati proses berkali-kali agar bisa menjadi murni. Seperti apa pemurnian perak itu? Perak dilebur dalam dapur atau biasa disebut dengan furnace pada temperatur sangat tinggi yang bisa mencapai 1200°C. Itu dilakukan untuk tujuan sampling/pengujian sebelum melalui proses elektrolisis agar mineral-mineral lain bisa dipisahkan dari perak. Jadi kalau mau memperoleh perak yang murni, perak harus melewati proses pemurnian terlebih dahulu. Semakin banyak perulangan prosesnya, hasilnya pun akan makin baik.

Seperti itulah kemurnian janji Tuhan. Daud menyadari hal itu sepenuhnya dalam hatinya. Janji Tuhan itu bagi Daud kemuniannya bagaikan perak yang sudah melewati tujuh kali pemurnian. Seperti apa janji Tuhan yang sangat murni itu? Sebuah kemurnian janji seperti itu berarti bahwa Tuhan tidak akan ingkar pada janjiNya. Apapun yang sudah Dia janjikan akan selalu ditepati dan digenapi, tidak akan tercampur dengan berbagai penilaian subjektif atau pribadi atau like and dislike. Dengan membandingkan dengan tingkat kemurnian perak yang teruji lewat tujuh kali pemurnian, kita pun tahu bahwa kemurnian janji Tuhan itu mengandung nilai yang sangat tinggi baik dalam kehidupan kita di dunia maupun setelahnya nanti. Jika janji manusia bisa dilanggar, dilupakan atau kosong alias palsu, tidak akan pernah demikian dengan janji Tuhan. Selama ribuan tahun janji Tuhan sudah berlaku dan sampai generasi selanjutnya hingga bumi berakhir janjiNya akan tetap berlaku sama.

Bukan saja murni, tapi juga teruji. Bukankah sepanjang jaman sejak Daud mengatakan ayat ini sudah tak terhitung orang yang membuktikan kebenaran dan kemurnian janji Tuhan? Baik lewat begitu banyaknya contoh dalam Alkitab maupun kehidupan manusia dalam generasi-generasi berikutnya kita melihat bagaimana Tuhan setia menepati janjiNya. Bahkan sampai hari ini kita masih dan akan terus mendapati hal yang sama. Saya yang belum sampai dua dekade lahir baru saja sudah begitu banyak mengalami bukti nyata janjiNya yang Dia tepati, tak terhitung banyaknya. Ada banyak pula teman dan orang-orang yang terhubung dengan saya, saya ajak untuk juga mengalami langsung janji Tuhan setelah melakukan dahulu bagian kita. Dan mereka pun kemudian membuktikan sendiri bahwa Tuhan itu setia pada janjiNya. Saya yakin teman-teman di blog renungan ini pun sudah membuktikan juga bagaimana janji Tuhan itu benar-benar teruji dalam setiap keadaan.

Yang tidak kalah penting untuk dicermati adalah fakta bahwa ayat ini hadir disaat Daud tengah menghadapi pergumulan berat. Ia tengah dikejar-kejar dan hendak dibunuh. Daripada ketakutan dan panik, Daud memilih untuk menggantungkan keselamatan hidupnya ke dalam tangan Tuhan dan menunjukkan tingkat keyakinan tinggi bahwa janji Tuhan akan pertolongan bukanlah sesuatu yang patut diragukan. Janji Tuhan bukan hanya mungkin tetapi sesuatu yang pasti. Kalau janji manusia itu ya dan tidak, janji Tuhan sifatnya ya dan amin. Daud tahu bahwa daripada ia bergantung pada kekuatannya sendiri, daripada ia protes dan berteriak dalam kekecewaan dan penderitaan, ia memilih untuk menggantungkan hidupnya pada Tuhan. Ia pegang janji Tuhan karena ia tahu janji itu murni. Sepanjang hidupnya Daud sudah membuktikan hal itu, bahkan sejak saat ia masih muda dan masih menggembalakan kambing domba milik ayahnya.

(bersambung)


Sunday, July 29, 2018

Janji Tuhan vs Janji Manusia (2)

(sambungan)

Dalam Mazmur 12 kita bisa melihat seruan Daud akan hal ini. Mazmur 12 hanya berisi 8 ayat saja dan diberi judul "Doa minta tolong terhadap orang yang curang". 

Daud berseru:

"Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia. Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang. Biarlah TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar, dari mereka yang berkata: "Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?" (ay 1-5).

Dari Mazmur ini kita bisa melihat bahwa perbuatan orang-orang jahat yang merasa berada di atas segalanya membuat orang-orang benar sangat menderita. Mereka suka bicara bohong, saling menipu dengan kata-kata yang manis dan gemar omong besar.

Orang benar hidup tertekan di dunia, itu tidaklah mengagetkan karena sepanjang jaman hal itu terjadi termasuk hari ini. Sekitar seribu tahun setelahnya, Paulus kembali menyampaikan hal ini dalam beberapa kesempatan. Lihatlah salah satunya dalam suratnya untuk Timotius berikut ini: "Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka." (1 Timotius 4:1-2).

Ayat ini dengan jelas menyampaikan bahwa orang-orang jahat yang berada di bawah kuasa iblis bukan hanya orang di luar sana melainkan juga yang murtad dari antara umat Tuhan sendiri. Akan ada banyak yang berbalik menaati roh kebohongan dan mengikuti ajaran iblis. Peringatan Paulus ini penting agar kita tidak mudah tertipu oleh pengajaran-pengajaran yang sesat. Kenapa kita harus waspada? Karena pengajaran sesat seringkali sepintas lalu terlihat seperti benar. Kalau kita tidak benar-benar tahu isi Firman Tuhan dan memahaminya, kita bisa terperdaya oleh berbagai pengajaran yang sebenarnya tidak lagi sesuai dengan kebenaran Firman.

Apa yang paling menarik bagi saya adalah kelanjutan dari Mazmur 12 di atas. Setelah Daud mengungkapan perilaku orang-orang jahat lewat mulut mereka dengan saling tipu, omong besar, manis mulut yang tentu termasuk suka janji muluk-muluk tapi kosong, Daud kemudian menyampaikan bagaimana bedanya sebuah janji yang bukan berasal dari manusia melainkan dari Tuhan.

"Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (ay 7).

Berbeda dengan janji manusia yang seringkali tidak bisa dipegang, palsu atau kosong, janji Tuhan itu dikatakan Daud punya dua hal mendasar yaitu:
- Murni
- Teruji

Pertama-tama mari kita lihat dulu soal murni. Jika anda melihat berbagai produk minyak goreng, maka anda akan menemukan ada yang diproses lewat dua kali penyaringan. Apa yang membedakan satu dan dua penyaringan? Sistim dua kali penyaringan sebenarnya punya beberapa kelebihan dibanding satu kali. Apabila minyak hanya melewati satu kali proses maka jika disimpan dalam waktu lama minyak akan berkabut sehingga terlihat tidak jernih dan menarik. Selain itu proses dua kali penyaringan lebih menyehatkan karena jumlah asam jenuh akan tersaring lebih banyak sehingga menghasilkan jumlah kolestrol yang lebih baik, meski tingkat gurihnya bisa sedikit berkurang.

(bersambung)


Saturday, July 28, 2018

Janji Tuhan vs Janji Manusia (1)

Ayat bacaan: Mazmur 12:7
===================
"Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."

Seteguh apa manusia memegang janji? Kelihatannya semakin lama orang semakin sulit untuk melakukannya. Kalau kita lihat di jaman dulu orang bahkan siap mati demi memegang janjinya, itu bagai sebuah sumpah yang sangat mengikat. Kalau tidak mau seperti itu, ya jangan berjanji. Tapi kalau sudah berjanji, pegang sampai mati. Seperti itulah kira-kira bagaimana orang memegang janji di jaman dulu. Hari ini janji tidak lagi dianggap sepenting itu. Dalam berbagai hal, orang bahkan sekarang perlu diikat perjanjian hitam di atas putih supaya kalau ada yang melanggar yang satunya bisa menuntut.

Ada juga yang janjinya hanya berlaku untuk masa tertentu saja. Artinya, kalau sudah lama maka janji itu dianggap boleh dilupakan. Ada juga yang membuat pentingnya janji itu bertingkat-tingkat. Untuk yang penting maka janji dipegang teguh, tapi untuk yang tidak terlalu penting, maka janji itu biasa saja, dalam artian boleh dipegang boleh tidak. Ada yang memegang janji kalau masih ada perlunya kepada orang yang dijanjikan, tapi kalau sudah tidak perlu lagi janji pun tidak lagi diseriusi.

Banyak orang yang kalau mau meminjam sesuatu dengan mudah dan cepat berjanji akan segera mengembalikan, menjaga kondisi barang yang dipinjam dan sebagainya. Tapi kalau sudah dipinjamkan, menagih atau meminta kembali barang bukan main sulitnya. Mereka bahkan bisa mengelak untuk ketemu, atau saat berpapasan seolah tidak kenal.

Ada pula yang hobi obral janji. Pintar ngomong, kata-kata semanis madu, janji muluk-muluk agar apa yang diharapkan bisa jadi kenyataan atau didapat. Prinsipnya, janji dulu biar dapat, soal ditepati atau tidak urusan belakangan. Paling tinggal cari alasan saja nanti. Dalam hubungan saudara dan keluarga orang hari ini banyak yang tidak bisa dipegang janjinya, apalagi dalam urusan bisnis.

Dan yang paling menyedihkan, sebuah lembaga pernikahan yang dimateraikan Tuhan secara langsung pun menjadi salah satu tempat terparah dalam masalah komitmen. Mengucapkan janji nikah itu satu hal, tapi berkomitmen untuk memegang janji itu hal lain. Dari waktu pacaran janji macam-macam, sewaktu menikah mengucapkan janji nikah dengan yakin, tapi kemudian dengan segera melanggar semua janji itu dengan berbagai alasan, berusaha agar diri mereka terlihat bukan sebagai pelaku pelanggaran tapi sebagai korban yang harus dikasihani dan dimaklumi.

Orang tua menganggap janji pada anak sebagai sesuatu yang tidak sepenting urusan lain. Mereka seringkali dengan udah bisa melanggarnya untuk sesuatu yang dianggap lebih penting. Tadinya sudah janji mau bawa anak-anak nonton dan bermain, tapi batal karena beralasan ada kerjaan mendadak. Suami kepada istri, istri kepada suami, orang tua pada anak, anak pada orang tua, antar teman, ingkar janji merupakan hal biasa saja hari ini.

Bagaimana pada saat pemilihan umum? Di negara yang kerjanya hampir tiap tahun memilih sesuatu seperti kita, obral atau umbar janji menjadi sesuatu yang lazim. Kita memilih mulai dari RW sampai Presiden, legislatif di tiap tingkat, kota dan lingkungan sekitar kotor dengan berbagai spanduk yang memasang wajah entah siapa, dan disana pun seringkali janji sudah diumbar selain pada kampanye atau selebaran. Apakah ditepati atau tidak, atau jangan-jangan janji itu kosong karena sebenarnya tidak bakal bisa ditepati, yang penting bilang saja dulu. Secepat berjanji, secepat itu pula melupakan. Bahkan untuk hal sepele pun kita bisa melihat betapa tidak pentingnya lagi janji bagi manusia. Janji mau datang, sudah ditunggu tapi kemudian tidak kunjung muncul. Jangankan datang, mengabari saja tidak. Mulai dari ingkar janji sampai janji palsu, itu dilakukan orang dengan mudah hari ini.

Meski hari ini semakin banyak orang yang tidak lagi menganggap penting sebuah janji, masalah orang bermulut manis, pendusta atau pembual sudah terjadi sejak jaman Daud.

(bersambung)


Friday, July 27, 2018

Mengisi Lubang dalam Hati (2)


(sambungan)

Poin pentingnya: jangan tutup lubang dengan tambal yang salah. Ambil satu contoh sederhana saja. Jika ada lubang menganga di tengah jalan dan ditutup dengan lumpur, sekali turun hujan lumpur itu akan hanyut dan meninggalkan lubang kembali menganga. Demikian juga dengan lubang dalam diri kita. Mencoba menutup lubang itu dengan cara-cara keliru bukan menyelesaikan tapi malah hanya akan menambah masalah. Kebahagiaan dan sukacita sejati hanyalah bisa kita peroleh secara rohani lewat hubungan kita dengan Tuhan. Dan dengan sendirinya, ketaatan dan kedekatan terhadap Tuhan merupakan kunci penting untuk bisa memperoleh kebahagiaan yang sejati.

Dalam kitab Yesaya kita bisa membaca sebuah ayat yang secara jelas menyebutkan akan hal ini.
"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti." (Yesaya 48:18).

Lihatlah, Tuhan menjanjikan sebentuk kebahagiaan bisa kita peroleh secara melimpah, bagai gelombang laut yang tidak pernah berhenti dan damai sejahtera bagai sungai yang tidak pernah kering. Dan Firman Tuhan ini dengan jelas mengatakan bahwa semua diberikan Tuhan pada kita apabila kita memperhatikan  setiap perintah Tuhan secara serius (bukan main-main) dan sungguh-sungguh (bukan asal-asalan). Ketaatan kita akan membuat Tuhan mau tinggal diam dalam diri kita dan dengan demikian rongga kosong dalam hati kita itu pun akan terisi oleh satu-satunya Pribadi yang sanggup untuk mengisinya. Saat itulah kita bisa merasakan kebahagiaan dan damai sejahtera sejati, from the one and only, ultimate Source. Kenapa saya sebutkan the ultimate Source? Jawabannya adalah, sebab Tuhan sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera. (Roma 15:33, 16:20).

Keinginan daging secara sekilas bisa terlihat seakan-akan mampu memberikan jawaban untuk pencarian kebahagiaan dan damai sejahtera. Banyak orang yang keliru mencoba dengan usaha keras untuk memuaskan keinginan dagingnya dan untuk mencapai itu bahkan rela mengorbankan hubungan dengan Tuhan. Mereka mencoba terus lebih dekat lagi kepada hal-hal duniawi yang dianggap mampu menjawab kebutuhan akan kebahagiaan itu dan kemudian gagal, karena sesungguhnya lewat Roh-lah kita akan mampu memperolehnya. Bagi dunia keinginan daging dianggap mampu menjadi solusi, padahal Firman Tuhan berkata "Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera." (Roma 8:6). Dalam Galatia 5:22-23 pun kita bisa melihat bahwa damai sejahtera dan sukacita merupakan dua dari beberapa buah Roh. Rongga kosong dalam hati kita akan tetap ada selama kita mencoba mencari solusi yang tidak tepat, semua itu tidak akan mampu mengisi kekosongan kecuali Tuhan sendiri.

Selanjutnya mari kita lihat bahwa Yesus juga sudah mengatakan: "..Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." (Roma 14:17). Jadi bukan cuma fisik kita saja yang butuh diberi makan dan minum, tetapi jiwa dan roh kita pun butuh asupan nutrisi. Disitulah letaknya jawaban akan kebutuhan kita akan kebahagiaan ini, yang akan mampu memenuhi rongga kosong dalam hati kita dalam kepenuhan untuk mencapai kebahagiaan yang penuh dengan sukacita, dan akan mampu bertahan untuk waktu lama. Kebahagiaan sejati hanya bisa disediakan oleh Tuhan, dan itu hanya akan bisa terjadi jika Kerajaan Allah hadir dalam kehidupan kita. Harta benda, kekayaan, jabatan, status, pujian dan penghargaan tidak akan pernah mampu menjawab kebutuhan kita akan kebahagiaan ini.

Banyak orang yang masih mengira bahwa uang merupakan jawaban atas segala-galanya, yang sepertinya mampu memenuhi segala kebutuhan kita atas berbagai produk yang terus menawarkan kebahagiaan. Tapi pada suatu ketika nanti, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ada ruang kosong yang tidak akan pernah bisa diisi penuh oleh apapun kecuali oleh Tuhan. Ketika rongga itu terpenuhi, disanalah kita akan merasakan kebahagiaan yang tidak lagi tergantung lewat berbagai kesusahan di dunia ini. Semakin meninggalkan atau menjauh dari Tuhan dan terus mengejar hal-hal dunia yang nikmat bagi daging kita justru akan membuat rongga kosong ini terus melebar dan menelan setiap rasa bahagia, damai sejahtera dan sukacita yang seharusnya menjadi bagian dari kita lewat Kristus.

Jika ada yang saat ini merasakan sebuah rasa kosong dalam hati anda yang membuat anda merasa kering tanpa kebahagiaan dan damai sejahtera, itu tandanya anda harus mulai berpikir untuk menemukan solusinya di tempat yang benar. Bukannya semakin menjauh dari Tuhan, tetapi seharusnya malah semakin dekat. "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8). Mendekatlah kepada Tuhan dan dengarkan perintah-perintahNya. Itu akan mengundang Tuhan untuk segera menambal kekosongan itu dengan kebahagiaan sejati yang hanya berasal daripadaNya. Memperhatikan perintah-perintahNya dengan ketaatan penuh akan membuat hidup kita penuh dengan damai sejahtera yang bagaikan sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaan yang akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.


Kebahagiaan dan damai sejahtera yang melimpah tanpa henti adalah milik dari orang-orang yang mempehatikan perintahNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, July 26, 2018

Mengisi Lubang dalam Hati (1)

Ayat bacaan: Yesaya 48:18
======================
"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti."

Semua orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Semua orang ingin merasakan kedamaian dan kesejahteraan. Tapi tidak banyak yang bisa benar-benar merasakannya. Kehidupan semakin sulit, himpitan masalah dari berbagai dimensi terus menerpa menggantikan semua itu dengan kegundahan, rasa kuatir, takut dan perasaan negatif lainnya. Kalau hati sudah dikuasai perasaan negatif, kita akan menjadi orang yang cepat marah, mudah membenci, iri melihat orang lain, dan kata bahagia dan damai sejahtera pun menjadi semakin jauh untuk dijangkau.

Semakin sulit dijangkau, maka orang akan semakin berusaha mengejarnya. Bagaimana agar bisa mendapatkannya? Dunia mengajarkan bahwa untuk mendapatkannya tidaklah sulit. Money, fame and fortune dipercaya bisa mendatangkan kebahagiaan, sukacita dan damai sejahtera dalam hidup. Lihatlah berbagai iklan, pikiran kita akan diarahkan kepada situasi bahwa kalau kita membeli produk-produk itu maka kebahagiaan akan segera menjadi milik kita. Bukankah wajah pemeran iklannya terlihat bahagia dengan deretan gigi putih dan raut wajah tanpa masalah?

Untuk bisa membelinya tentu butuh uang. Berarti, semakin banyak uang, semakin banyak yang bisa dibeli sehingga kita akan makin bahagia. Tanpa uang kita tidak bisa membeli mobil mewah, rumah besar, mempercantik diri dengan baju dan aksesoris bermerek terkenal, pakai gadget terbaru dan sebagainya. Kalau kita tidak punya itu, kita tidak akan bisa diterima di kalangan kelas atas. Kenapa pergaulan kelas atas penting? Tentu saja, karena kalau bisa diterima di kalangan seperti itu, itu artinya status kita baik dan dianggap bisa mendatangkan kebahagiaan. Pamor, popularitas, jabatan, itu bisa bikin bahagia dan menjamin kesejahteraan. Bukankah kalau kita kemana-mana orang hormat pada kita maka itu tandanya kita sejahtera?

Seperti itulah bentuk dunia berpikir dalam mencari kebahagiaan. Ya, menurut dunia kebahagiaan dan damai sejahtera itu bisa dibeli. Dan untuk bisa membeli tentu lewat uang. So, kalau mau bahagia, ya cari uang sebanyak-banyaknya dengan cara apapun. Ada seorang yang saya kenal tumbuh besar dalam keluarga yang sangat money oriented. Ayahnya dulu tidak akan pulang ke rumah kalau tidak membawa pulang uang. Tidaklah heran kalau ia sempat sulit merubah paradigmanya karena berpuluh tahun dididik dengan cara seperti itu. Masa kecil dan mudanya jauh dari kekurangan. Secara ekonomi ia termasuk makmur.

Tapi pertanyaannya, apakah keluarganya bahagia? Ternyata tidak. Orang tua bercerai, peperangan harta gono-gini memakan waktu sangat panjang, anak ada yang jatuh dalam obat-obatan dan beberapa sampai sekarang masih menggerogoti orang tua dan berperilaku sangat buruk. Uang yang dikumpulkan sejak lama terus menipis, usaha keluarga yang sudah puluhan tahun di ambang kehancuran. Pertikaian antar saudara begitu parah sampai-sampai mereka tidak bisa lagi saling bertemu. Hal itulah yang membuat orang yang saya kenal ini kemudian menyadari bahwa tempatnya menggantungkan kebahagiaan dan kesejahteraan selama ini ternyata salah. Banyak uang ternyata tidak memberi jaminan akan hal itu.

Mungkin untuk jangka waktu singkat apa yang dianggap dunia mampu mendatangkan kebahagiaan itu bisa memberi rasa puas dan senang, tapi untuk jangka waktu panjang seringkali tidak demikian. Seperti orang tadi, saya sudah bertemu dan mengenal banyak lagi orang yang sebenarnya dari sisi materi lebih dari cukup, tapi mereka tidak merasakan damai sejahtera dalam diri mereka.

Ada sebuah hasil pemikiran menarik yang pernah disampaikan oleh seorang pakar matematika dan fisika yang juga seorang filsuf bernama Blaise Pascal. Disamping banyaknya teori yang berasal dari Pascal yang menjadi dasar ilmu pengetahuan sampai sekarang, ia pun pernah memberikan sebuah statement yang sangat esensial mengenai kehidupan. Ini yang dikatakannya: "There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus." 

Kalau diterjemahkan bunyinya kira-kira demikian: Ada sebuah rongga berbentuk Tuhan yang tidak akan pernah bisa diisi oleh hasil ciptaan seperti apapun, kecuali oleh Tuhan, melalui Yesus.

Buat saya sangatlah menarik ketika kesimpulan lewat perenungan ini keluar dari orang yang justru dikenal sebagai ahli dalam ilmu pengetahuan. Setinggi-tingginya kita menguasai ilmu, sehebat-hebatnya kita sebagai manusia, sekaya-kayanya diri kita, ternyata ada sebuah rongga atau "God shaped vacuum" yang akan selalu ada di dalam diri kita yang tidak akan mampu dipenuhi oleh hal apapun selain oleh Tuhan sendiri.

Rongga kosong dalam hati, saya yakin itu tidak sulit untuk kita rasakan. Bahkan kebanyakan dari kita pernah merasakan kekosongan itu, atau malah saat ini sedang merasakannya. Orang akan berusaha menambal lubang itu dengan cara apapun. Ada yang mencoba menambalnya dengan gemerlapnya pesta, ada yang lewat obat-obatan, hubungan terlarang dan sebagainya. Ada yang mengira bisa menambalnya dengan kepemilikan harta benda dan lainnya. Untuk sementara mungkin bisa terlihat menjadi solusi,tapi sekejap kemudian setelah semua berakhir, lubang itu akan kembali ada dan bisa malah bertambah besar. Yang lebih parah, itu bisa menambah masalah dalam hidup kita.

(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...