Thursday, July 9, 2015

Makna Spiritual Dibalik Bekerja (1)

Ayat bacaan: Kolose 3:23
===================
"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia."

Kerja ya kerja, rohani ya rohani. Ada banyak orang yang membagi kedua hal ini menjadi bagian yang benar-benar terpisah dan berbeda. Bekerja itu murni dan mutlak untuk menyambung hidup, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga dan diri sendiri. Artinya, tidak ada makna spiritual apapun yang bisa dikaitkan dengan pekerjaan atau profesi kita sehari-hari. Bicara soal rohani beda lagi, yang dipikirkan adalah doa, pujian dan penyembahan, saat teduh dan kegiatan rohani lainnya. Menjadi pendeta, misionaris, diaken atau jabatan-jabatan pelayanan lainnya. Itulah urusan rohani, sedangkan dalam bekerja tidak ada kaitan sama sekali dengan itu. Ini adalah sebuah pemikiran yang keliru atas konsep bekerja dan berdoa yang benar.

Hari ini saya ingin melanjutkan sedikit lagi mengenai ora et labora, alias berdoa dan bekerja. Benar bahwa kita bekerja untuk menyambung hidup. Benar bahwa kita harus bekerja untuk mencari nafkah, mencukupi kehidupan rumah tangga dan kebutuhan istri dan anak-anak. Alkitab pun berkata dengan keras mengenai sebuah keharusan untuk giat bekerja. "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10).

Tidak ada kemalasan dalam kamus kehidupan kekristenan. Jika kita melihat orang-orang yang dipakai Tuhan di sepanjang alkitab, kita pun akan menemukan bahwa mereka yang dipakai Tuhan adalah orang-orang yang kedapatan sedang bekerja. Tuhan tidak memakai orang malas, Dia tidak pernah berkenan kepada sesuatu yang bernama kemalasan ini. Namun ingatlah bahwa prinsip kekristenan memandang kerja bukan hanya sekedar untuk menyambung hidup atau mencari nafkah saja, melainkan juga untuk memuliakan Tuhan di dalamnya. Lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan, bekerja seharusnya juga memiliki makna spiritual di dalamnya.

Pertama, mari kita lihat hal berikut ini. Apa yang menjadi tugas manusia yang diberikan Allah lewat Adam? Dalam Kejadian 2 kita bisa membaca bahwa Adam ditugaskan untuk "mengusahakan dan memelihara taman Eden" (Kejadian 2:15), lebih lanjut juga ditugaskan seperti ini: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (1:28).

Perhatikan bahwa Adam bukan ditugaskan untuk berdoa, menyanyi dan menari untuk Tuhan, tetapi untuk melakukan serangkaian tugas seperti yang tertulis dalam ayat di atas. Artinya untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan kita bukan hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan kerohanian semata, tapi lewat pekerjaan atau profesi kita sehari-haripun kita harus memperhatikan untuk melakukan hal-hal yang bisa menyenangkan hati Tuhan dan memuliakanNya.

Selanjutnya mari kita lihat sosok Paulus dan etos kerjanya. Paulus adalah seorang yang radikal dalam mewartakan berita keselamatan kemanapun ia pergi. Dia tidak takut, dia tidak bersungut-sungut, dia tidak hitung-hitungan untung rugi, semua dia lakukan karena ketaatan dan kasih yang besar kepada Kristus. Bahkan nyawanya sekalipun ia berikan demi menjalankan apa yang telah ditugaskan kepadanya.

Menurut kita itu sudah sangat luar biasa dan lebih dari cukup bukan? Tapi tidak bagi Paulus. Adalah sebuah fakta bahwa Paulus masih tetap bekerja. Paulus bekerja sebagai pembuat kemah (Kisah Para Rasul 18:2-3), dan itu dia gunakan untuk membiayai keperluan dan kebutuhannya beserta teman-teman sekerja dalam melayani. (20:34).

(bersambung)


Wednesday, July 8, 2015

Ora et Labora (2)

(sambungan)

Adalah menarik jika kita melihat sebuah ayat dalam Yoel yang menyinggung atau menyiratkan mengenai keseimbangan ini ketika Yoel memberikan seruan untuk bertobat. Ayat itu berbunyi: "baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?" (Yoel 2:17). Mengapa para imam dan hamba Tuhan harus menangis di antara balai depan dan mezbah? Tuhan secara spesifik mewahyukan hal ini. Dari ayat tersebut kita bisa melihat perlunya keseimbangan antara mezbah dan balai depan. Bukan hanya di mezbah, dan bukan hanya di balai depan. Bukan hanya berdoa, dan bukan juga hanya bekerja saja. Keduanya haruslah dilakukan secara seimbang.

Dari ayat ini kita bisa menangkap sebuah pesan penting, bahwa apapun yang kita lakukan perlu disertai dengan doa. Keduanya harus berjalan beriringan, bersama-sama. kita harus bekerja, itu benar. Tuhan mengharuskan kita bekerja, dan Tuhan memberkati pekerjaan kita. Tapi bagaimana Tuhan mau memberkati pekerjaan kita jika kita tidak melibatkanNya dalam pekerjaan kita? Atau lebih luas lagi, bagaimana Tuhan mau memberkati hidup kita jika kita tidak melibatkanNya dalam kehidupan kita? Oleh sebab itu seruan pertobatan yang disampaikan Yoel menyiratkan bahwa antara berdoa dan bekerja, ora et labora, keduanya haruslah dilakukan secara seimbang, beriringan dan berkesinambungan.

Dalam Efesus 6:18 kita bisa melihat sebuah ayat yang mengingatkan kita agar tidak melupakan atau meniadakan doa dalam langkah kita. Bukan hanya sekedar berdoa sekali-kali, tetapi disana kita diingatkan untuk berdoa setiap waktu. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Pray at all times (on every occasion, in every season) in the Spirit, with all [manner of] prayer and entreaty." Pray at all times, on every occasion, in every season. Berdoalah dalam setiap waktu, dalam hal apapun, dalam situasi apapun. Doakan apapun yang kita kerjakan agar Tuhan memberkati usaha kita secara penuh, pada saat yang sama lakukanlah pekerjaan "dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia" (Kolose 3:23). Keseimbangan seperti inilah yang akan mendatangkan keberhasilan dalam segala sesuatu yang kita lakukan.

Kita perlu melatih dan mendisplinkan diri agar bisa menyeimbangkan keduanya dan terbiasa untuk mengkombinasikan keduanya dalam hubungan yang harmonis. Itu jelas perlu proses dan butuh waktu. Bukan saja dalam pekerjaan atau profesi kita, tetapi pelayanan dan peran kita dalam keluarga pun butuh terus didukung doa agar bisa berhasil dengan maksimal. Jika kita terus melatih diri, kita akan menemukan sebuah kesimpulan bahwa apa yang penting bukanlah maunya kita tetapi maunya Tuhan. Disanalah kita bisa melatih ketaatan kita kepada Tuhan meski kita sudah sedemikian sibuknya, dan disanalah kita bisa melihat bagaimana luar biasanya hasil luar biasa dari usaha kita yang terus didukung dalam doa. Jangan korbankan jam-jam doa karena kesibukan pekerjaan, sebaliknya jangan pula memakai waktu doa sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja. Keduanya harus dilakukan secara seimbang dan saling terkait satu dengan lainnya. Sudahkah anda melibatkan Tuhan dalam pekerjaan anda? Atau sudahkah anda berusaha serius seperti apa yang anda minta dalam doa anda?

Jadilah pengikut Kristus yang rajin bekerja dan tekun dalam doa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, July 7, 2015

Ora et Labora (1)

Ayat bacaan: Yoel 2:17
===================
"baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"

Ora et labora adalah sebuah quote yang tidak lagi asing bagi kita. Diambil dari bahasa Latin, Ora Et Labora dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai "berdoa dan bekerja." Rangkaian kata ini semakin jarang kita dengar, sepertinya semakin ditinggalkan orang. Bukan saja semakin jarang terdengar, tetapi orang yang melakukannya pun semakin sedikit saja. Kehidupan yang semakin keras dan semakin sulit seringkali membuat orang susah membagi waktunya dengan baik. Ada yang mati-matian bekerja banting tulang siang dan malam, sehingga jangankan berdoa, untuk meluangkan waktu bersama keluarga pun sudah sangat sulit dan hampir-hampir tidak mungkin. Disisi lain, banyak pula orang Kristen yang menerjemahkan berkat-berkat yang turun dari Tuhan itu secara sepihak. Mereka kerap mengharapkan berkat turun dicurahkan dari langit lewat serangkaian mukjizat spektakuler setiap saat, dan tidak melakukan apapun untuk mendapatkan berkat itu, selain berdoa siang dan malam.

Semakin banyak orang yang memisahkan antara hidup dengan ibadah dan mengartikan keduanya secara sempit. Ibadah ya hari Minggu, selebihnya lakukan apa saja selama menghasilkan uang. Kalau memang terdesak butuh lebih, usahakan saja lewat segala cara. Urusan rohani ya tunggu giliran lagi, di hari Minggu depan. Atau kalau butuh apa-apa tinggal berdoa, selama masih bisa diusahakan ya kerja saja yang keras, tidak usah pakai terganggu bagi waktu untuk doa segala. Bukankah banyak orang yang pandangannya jadi seperti ini di jaman sekarang?

Ora et labora mengingatkan kembali akan pentingnya sebuah keseimbangan. Keseimbangan sangatlah diperlukan dalam menjalani hidup. Kita tidak bisa melakukan satu hal saja dan melupakan yang lain. Tuhan memang bisa menurunkan berkatNya dalam keadaan apapun. Benar bahwa Yesus berkata "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22). Kuasa doa memang luar biasa besarnya. Tetapi ingat pula bahwa Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya menjadi orang-orang yang malas dan manja, hanya mau terus meminta mengadahkan tangan tanpa mau melakukan apapun. Sebaliknya, Tuhan pun tidak suka orang-orang yang tidak mau melibatkanNya dalam pekerjaan. Hidup menurut keinginan sendiri sesuka hati, mengambil keputusan tanpa menempatkan Tuhan disana. Kalau diibaratkan majalah, majalahnya ada dua buah, dimana tidak ada sedikitpun keterkaitan satu sama lain. Sebagian memegang dua majalah berbeda, sebagian lagi hanya memegang satu sedang satunya lagi disingkirkan jauh-jauh, masuk gudang. Nanti kalau benar-benar butuh baru diambil lagi. Tidak ada yang namanya keseimbangan, tidak ada yang harus disinkronkan. Semua jalan sendiri-sendiri, kan beda pos? Begitu pikiran mereka.

Berkali-kali Tuhan mengungkapkan ketidaksukaanNya terhadap orang yang malas. Lihatlah bagaimana kerasnya Tuhan menghadapi orang yang malas dalam "perumpamaan tentang talenta" yang tertulis di Matius 25:14-30. Begitu keras, sehingga Alkitab berkata "Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." (ay 30). Lihat pula teguran-teguran yang datang kepada orang malas dalam Amsal 6. Salah satunya berkata: "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak." (ay 6). Semut adalah serangga yang lemah dan berukuran jauh lebih kecil dibanding manusia, tetapi baiklah jika orang malas belajar dari etos kerja semut. Orang malas itu tidak bijak. Dan teguran dari Paulus juga menggambarkan hal yang keras pula. "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Berdoa memang bagus, dan itu sudah menjadi kewajiban kita. Tetapi jangan lupa pula bahwa kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh, bahkan dikatakan seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23).

Di sisi lain, Tuhan Yesus juga mengingatkan agar kita terus berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1). Kita diminta harus sadar bahwa "...Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16). Jadi disamping kerja yang giat dengan integritas tinggi, kita pun dituntut untuk tidak mengeyampingkan doa. Singkatnya, keduanya tidak dibiarkan berjalan sendiri-sendiri tapi saling terhubung satu sama lain sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Tidak ada yang dikesampingkan, tidak ada yang dikorbankan, tidak ada yang dinomorduakan.

(bersambung)


Monday, July 6, 2015

Ayah Pemarah (3)

(sambungan)

Mengajar atau menghukum anak bertujuan agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi bukan untuk menyiksa atau menjadikan mereka tempat pelampiasan emosi sesaat. Jelas dikatakan bahwa anak-anak haruslah dididik dalam ajaran dan nasihat Tuhan, dan kekerasan baik secara fisik maupun mental bukannya membuat mereka mengenal Tuhan, tetapi justru sebaliknya akan membuat mereka tawar dan sulit untuk percaya kepada siapapun, termasuk kepada Tuhan.

Dalam Mazmur dikatakan: "Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang." (Mazmur 127:4-5). Anak-anak, itu adalah bagaikan anak panah di tangan seorang pahlawan. Selayaknya pahlawan yang sedang memanah, ia harus pintar mengarahkan busurnya ke arah yang dituju, bukan menembak sembarangan. Apa yang bisa dipetik sebagai hasilnya bukan saja bermanfaat bagi masa depan anak-anak saja, melainkan orang tuanya pun kelak akan merasakan kebahagiaan lewat mereka.

Betapa manusia sering lupa bahwa anak bukanlah hasil dari hubungan suami istri semata, tetapi seperti apa yang dikatakan Alkitab, anak merupakan warisan atau pusaka dari Tuhan. "Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah." (Mazmur 127:3) Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: "Behold, children are a heritage from the Lord, the fruit of the womb a reward." Jadi bukan saja anak laki-laki, tetapi anak perempuan pun merupakan pusaka yang indah dari Tuhan. Jika kita menyadari kehadiran mereka sebagai anugerah yang sangat indah, bukankah itu berarti bahwa kita harus mensyukurinya dengan bertanggung jawab penuh atas mereka? Dan kekerasan baik secara fisik dan mental jelas tidak termasuk di dalamnya.

Orang tua termasuk ayah butuh hikmat Tuhan agar bisa mendidik anak-anak mereka dengan bijaksana. Dari mana hikmat ini datang? Firman Tuhan berkata bahwa "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10). Awalilah langkah dengan rasa segan dan hormat akan Tuhan, dan dari sana melangkahlah maju dengan berpusat terus di dalamnya. Memang terkadang dibutuhkan kesabaran terlebih dalam menghadapi anak-anak yang tingkat kenakalannya melebihi normal, tapi jangan lupa bahwa bersama Tuhan kita akan bisa lebih sabar dalam menghadapi segala masalah.

Ingatlah bahwa Firman Tuhan berkata: "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." (Amsal 16:32). Tuhan menghargai kesabaran kita dengan begitu tinggi, karena selain dalam kasih itu memang terdapat kesabaran (1 Korintus 13:4), kasih juga mampu menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:8). Dengan tegas dikatakan "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8), dan jangan lupa pula bahwa firman Tuhan sudah berkata "love never fails"  (1 Korintus 13:8, Amplified Bible). Kasih tidak pernah gagal. Kita harus mengaplikasikan kasih dalam segala hal, kita pun harus sadar pula bahwa tanpa kesabaran kita bisa terjerumus melakukan banyak hal yang akan kita sesali di kemudian hari.

Intensitas anak bermasalah yang semakin tinggi menunjukkan berkurangnya ayah yang berfungsi sebagaimana mestinya di masa kini. Marilah kita sebagai ayah-ayah Kristiani mampu bersikap sesuai anjuran firman Tuhan. Adalah penting bagi kita untuk memulainya sejak dini agar kelak kita bisa bangga dan bahagia melihat mereka semua berhasil di bidangnya masing-masing.

Jika ada di antara teman-teman yang sempat atau pernah menyakiti hati anak-anak anda, berbesar hatilah untuk mengakui dan meminta maaf kepada mereka. Selalu ada lembaran baru disediakan Tuhan untuk memulihkan kembali hubungan antar keluarga termasuk antara orang tua dan anak-anaknya. Lakukan itu sekarang juga sebelum terlambat.

Jadilah ayah teladan yang dekat dengan anak-anaknya dan mendidik mereka dengan kasih

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 5, 2015

Ayah Pemarah (2)

(sambungan)

Firman Tuhan yang saya angkat menjadi ayat bacaan hari ini memperingatkan para ayah agar jangan melupakan tugas mereka terhadap anak-anaknya dengan cukup keras. "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4). Dalam bahasa Inggris (Amplified) bunyi ayat ini adalah seperti berikut: "Fathers, do not irritate and provoke your children to anger [do not exasperate them to resentment], but rear them [tenderly] in the training and discipline and the counsel and admonition of the Lord." Wahai para ayah, berhentilah memprovokasi anak-anak dengan sikap yang keras dan kasar. Tetapi didik dan disiplinkan mereka dengan pengenalan akan Tuhan. Para ayah, jangan keliru mempergunakan otoritas anda. Jangan membuat anak-anak menjadi malas bertemu dengan anda. Jangan sampai mendengar suara mobil anda saja mereka sudah menggigil ketakutan dan berlari masuk ke kamar. Jangan sampai mereka langsung ciut dan rusak moodnya saat melihat anda datang, memandang anda bagai aura gelap yang memadamkan cahaya bahagia di rumah.

Apa yang seharusnya dilakukan para ayah? Kembali kepada ayat bacaan kita hari ini, disana dikatakan seorang ayah seharusnya memperlakukan anaknya dengan lembut, sedemikian rupa sehingga anda bisa mendidik mereka baik dalam hal etika, sopan santun, disiplin dan terlebih dalam pengenalan akan Tuhan. Itu yang seharusnya menjadi tugas ayah. Tidak peduli seberat apapun kita bekerja untuk mencari nafkah di luar sana, masih ada tugas-tugas kita sebagai suami dan ayah yang harus dijalankan dengan benar dalam keluarga.

Dalam surat lainnya kita kembali menemukan peringatan untuk ayah, yaitu dalam Kolose. Disana dikatakan: "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." (Kolose 3:21). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Fathers, do not provoke or irritate or fret your children [do not be hard on them or harass them], lest they become discouraged and sullen and morose and feel inferior and frustrated. [Do not break their spirit.]". Kali ini Paulus menyinggung soal tawar hati yang bisa dimiliki oleh anak-anak melalui figur ayah yang tidak dijalankan dengan baik atau otoritas yang diartikan secara keliru. Tawar hati ketika dijabarkan sesuai versi Inggrisnya menjadi kehilangan kepercayaan diri, murung, pahit, rendah diri, patah semangat bahkan frustasi. Berawal dari berbagai perasaan negatif ini mereka bisa timbul menjadi pribadi-pribadi yang bermasalah. Tentu tidak ada satupun orang tua yang ingin hal ini terjadi bukan? Oleh karena itu, kita sebagai para ayah baik yang sudah memiliki anak atau yang kelak menjadi ayah harus memperhatikan hal ini.

Anak-anak butuh dikenalkan kepada firman Tuhan sejak dini. Hanya menyerahkan kepada para guru sekolah minggu atau pendidikan formal tidaklah cukup, sebab firman Tuhan secara jelas menyatakan sebagai orang tua "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:7). Lebih daripada itu orang tua pun harus pula menjadi teladan terhadap ketaatan akan firman Tuhan yang kita ajarkan. (ay 9-10). Anak-anak akan selalu mencontoh bagaimana sikap orang tuanya, oleh karena itulah kita juga harus benar-benar memperhatikan cara hidup kita disamping mengajarkannya berulang-ulang kepada mereka.

(bersambung)


Saturday, July 4, 2015

Ayah Pemarah (1)

Ayat bacaan: Efesus 6:4
=================
"Fathers, do not irritate and provoke your children to anger [do not exasperate them to resentment], but rear them [tenderly] in the training and discipline and the counsel and admonition of the Lord."

Saya masih ingin mendasarkan renungan hari ini pada film "The Angriest Man in Brooklyn". Kali ini saya akan lebih fokus kepada salah satu hubungan yang ingin diperbaiki oleh sang tokoh utama, yaitu antara dia dan anaknya. Ia sempat marah besar terhadap sang anak karena menolak untuk melanjutkan firma milik ayahnya dan lebih memilih untuk menekuni karir sebagai penari profesional. Si ayah memaksakan kehendaknya dan mengamuk habis-habisan. Ia kemudian mengusir anaknya dan membuang semua kartu nama yang sudah ia bikin ke jalan dari jendela atas. Ketika ia menyadari bahwa umurnya tinggal sebentar lagi, ia pun berusaha keras untuk memperbaiki hubungan. Sebuah adegan pemulihan yang digambarkan lewat adegan ayah yang berdansa dengan anaknya sangat mengharukan. Si anak memaafkan anaknya dan kembali merajut hubungan yang erat seperti saat ia masih kecil dengan ayahnya dan berada di sisi sang ayah hingga ajal menjemput.

Ada banyak hubungan antara ayah dan anak yang rusak di dalam keluarga. Ada yang beruntung masih sempat dipulihkan seperti kisah film tadi, tapi tidak sedikit pula yang terlambat atau sama sekali tidak pernah pulih. Benar, ada kalanya anak-anak bersikap buruk, bandel dan melawan sehingga hukuman memang kerap harus diberikan. Tetapi seringkali seorang ayah menjalani otoritasnya terlalu berlebihan. Para ayah ini bersikap terlalu keras dan kasar terhadap anaknya. Dengan alasan agar anak tidak menjadi besar kepala, mereka tidak mau memuji setiap perbuatan atau pencapaian baik dari si anak, tetapi akan marah habis-habisan kalau anaknya gagal menampilkan performa terbaik mereka. Gampang protes, mudah marah, tapi sulit memuji. Dan itu seringkali melukai hubungan antara ayah dan anak yang seharusnya bisa membuat si anak tumbuh menjadi lebih bijaksana dan tidak mengalami kerusakan gambar diri.

Seorang pendeta bercerita dalam konseling-konseling yang ia lakukan ia menemukan sebuah kesimpulan bahwa rata-rata dari mereka yang bermasalah ternyata berawal dari kehilangan figur ayah dalam hidup mereka. Itulah akar permasalahan yang paling sering ia temukan. Akarnya satu, yaitu kehilangan figur ayah, namun outputnya bisa timbul dalam bentuk masalah yang berbeda-beda. Ada yang bermasalah dengan kepribadian seperti menjadi tertutup, suka menyendiri atau menjadi orang yang selalu haus perhatian, mencari kebahagiaan lewat obat-obatan terlarang, terlibat pergaulan yang salah bahkan ada pula yang terjebak dalam seks bebas karena mereka selalu haus akan kasih sayang. Ada yang kemudian menjadi orang yang bersifat kejam dan banyak lagi bentuk-bentuk deviasi atau penyimpangan yang kemudian terbentuk pada diri seseorang bermula dari ketidakadaan figur seorang ayah dalam masa lalu mereka.

Banyak ayah yang dengan mudah menyerahkan tanggung jawab mengurus anak kepada ibu. Mereka mengira bahwa sebagai kepala rumah tangga tanggung jawab mereka hanya satu, yaitu cari uang. Mereka lupa peran sebagai suami dan ayah di rumah. Mengapa tidak, saya kan bekerja dari pagi sampai malam, sementara istri hanya diam di rumah? Wajar dong kalau saya tidak lagi punya waktu dan berminat untuk mengurusi perihal anak. Itu alasan yang sudah sangat umum dikemukakan oleh banyak ayah. Yang lebih memprihatinkan, ada banyak pula diantara para ibu yang juga melemparkan tanggung jawab ini kepada orang lain, baby sitter atau pembantu misalnya, karena mereka tidak mau repot. Jika hilang figur ayah saja sudah berat, apalagi hilang dua-duanya. Hal seperti ini jelas akan mengganggu pertumbuhan kepribadian mereka yang dapat berakibat fatal bagi masa depan anak-anak.

Mari kita kembali fokus kepada figur ayah, Alkitab berulang kali menyatakan betapa pentingnya bagi seorang ayah untuk berperan aktif secara langsung dalam pertumbuhan anaknya sejak kecil hingga beranjak dewasa. Meski peran ibu teramat sangat penting, figur ayah pun tidaklah kalah pentingnya. Anda bisa lihat bagaimana perilaku banyak anak yang tumbuh dibesarkan hanya oleh ibu tanpa ada figur ayah. Bagaimana jika kita sebagai ayah sudah terlalu capai bekerja? Itu tidak cukup sebagai alasan, karena biar bagaimanapun kita masih harus bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Bayangkan jika kita menjadi ayah-ayah yang kaku, kasar, tidak mau tahu terhadap mereka, terlalu keras bahkan ringan tangan, apa akibatnya nanti masa depan mereka?

(bersambung)


Friday, July 3, 2015

(Don't Be) The Angriest Man (3)

(sambungan)

Kembali kepada perihal marah, Paulus mengingatkan kita juga akan hal ini. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:26-27). Marah boleh-boleh saja, tapi ingatlah bahwa dalam amarah kita jangan sampai berbuat dosa. Kemarahan bisa menjadi sebuah sarana iblis untuk menghancurkan kita. Jangan sampai marah kita berlarut-larut terlalu lama, karena itu bisa dimanfaatkan iblis. Yakobus mengingatkan agar kita "lambat untuk marah." (Yakobus 1:19). Untuk hal ini, Yakobus punya alasan yang menarik. Perhatikan ayat berikutnya: "sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (ay 20). Orang yang sedang dilanda kemarahan meluap-luap tidak akan dapat melakukan hal yang baik, yang berkenan di hadapan Allah.

Hampir setiap hari kita melihat di televisi atau media-media lainnya bagaimana orang yang dikuasai kemarahan terlihat sangat buruk dan mengerikan. Air wajah yang sadis dan kejam itu sama sekali tidak menarik siapapun. Apalagi ketika mereka mengamuk dan merusak, menganiaya atau bahkan membunuh. selain itu mengekspos kebodohan diri sendiri tapi juga membuat apa yang kita imani menjadi terlihat sangat buruk. Memupuk amarah bisa membuat kita justru menjadi batu sandungan bagi orang untuk mengenal pribadi Kristus yang sebenarnya. Orang diluar sana sudah terlalu

Janganlah jadi orang yang cepat emosi, karena kemarahan yang terlalu sering dan tidak terkendali akan merusak hidup kita, menghancurkan masa depan kita bahkan orang lain, dan merugikan banyak orang, termasuk diri kita sendiri. Jangan terburu nafsu untuk marah ketika anda tidak sependapat dengan orang lain atau ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan anda. Yakobus, Daud dan Paulus sudah memberikan sebuah tips-tips yang sangat luar biasa untuk mencegah kita dari melakukan kebodohan yang merugikan, merusak atau menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain. Disamping itu juga merupakan tips penting agar kita tidak mempermalukan diri sendiri.

Adalah sangat sulit sebenarnya untuk marah tanpa berbuat dosa, maka adalah sangat baik jika kita lambat untuk marah dan sedapat mungkin menenangkan diri kita secepatnya sebelum emosi kita meluap naik. Ketika menghadapi suatu kondisi yang tidak sesuai dengan pendapat atau pikiran anda, biasakan diri anda untuk mendengar sesuatu secara lengkap terlebih dahulu (cepat mendengar), jangan terlalu cepat menghakimi, menuduh dan menyimpulkan sesuatu (lambat berkata-kata) dan jangan terburu nafsu untuk meluapkan kemarahan. (lambat untuk marah).

Kembali kepada ilustrasi renungan ini yang dimulai dengan film "The Angriest Man in Brooklyn", pada akhirnya si orang paling emosian ini bisa mengatasi sifat gampang marah dan menjalani sisa hidupnya dengan bahagia disamping orang-orang terdekat yang ia kasihi. Bagi saya, film ini mengajarkan kita tentang keburukan sifat gampang emosi yang tidak terkendali dan mengingatkan kita akan bahaya yang mungkin terjadi disana. Bukankah jauh lebih indah menjalani hidup dengan rasa bahagia, senang dan tenang ketimbang memenuhinya dengan kemarahan?

Jika anda orang percaya yang termasuk mudah terpancing emosi, waspadai betul saat anda mulai merasakannya. Ingatlah bahwa kemarahan itu seperti api, yang mulanya kecil tapi kemudian membesar sampai tidak lagi bisa dikendalikan. Segera kontrol emosi atau kemarahan itu secepatnya sebelum pada suatu ketika kemarahan itu sudah tidak lagi terkendali dan mendatangkan kerugian bagi banyak pihak.

Control your anger before your anger controls you

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...