Tuesday, February 14, 2012

Bahasa Kasih di Hari Kasih Sayang

Ayat bacaan: Yohanes 13:34
======================
"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."

bahasa kasihAdakah pasangan yang persis sama seratus persen? Rasanya tidak. Bahkan orang yang kembar sekalipun akan memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri, baik dari wajah, postur maupun perilaku. Paling jauh kita bisa menemukan kemiripan, tapi tidak akan pernah bisa seratus persen persis sama. Seringkali putusnya sebuah hubungan baik pernikahan maupun persahabatan disebabkan karena salah satu atau keduanya tidak lagi bisa/mau mengerti satu sama lain. Mereka mengira bahwa perbedaan-perbedaan itulah yang membuat jurang menganga antara kedua belah pihak, padahal sesungguhnya kitalah yang tengah menggali lubang itu sendiri karena tidak bisa menghargai sebuah perbedaan. Ada kalanya memang perbedaan itu bisa membuat situasi menjadi sangat sulit, tetapi itu bukan berarti tidak ada jalan penyelesaian yang bisa diambil. Saya dan istri saya punya begitu banyak perbedaan. Saya orangnya tidak teratur dan suka membuat ruangan berantakan, sementara dia suka rumah yang teratur. Ada kalanya saya merasa kesal karena ia lebih memilih untuk menegur saya ketimbang mengambil inisiatif untuk membereskan saja, tetapi saya kemudian menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu sesungguhnya baik. Apakah meja kerja saya sekarang sudah rapi? Baju-baju tidak berantakan lagi? Jujurnya belum, tetapi saya berusaha untuk terus mengingatkan diri saya untuk itu. Setidaknya saya merasa ada kemajuan, dan setidaknya saya berproses menuju kesana. Seringkali ego atau self-pride menghalangi kita untuk mau mengerti, memahami atau bahkan mengalah. Padahal kalau kita mau sedikit saja mempertimbangkannya, bisa jadi kita akan mengakui bahwa itu ada baiknya buat kita sendiri juga. Saya pun teringat ketika kami menikah, pendetanya memberi sebuah kotbah yang sangat penting mengenai bahasa kasih.

Bahasa kasih, apakah itu? Bahasa kasih adalah sebuah titik yang jika tepat kena maka orang yang menerimanya akan  merasa benar-benar dikasihi dan dihargai, dan itu berbeda bagi setiap orang. Kerap kita lebih cenderung menganggap bahwa bahasa kasih kita sama dengan orang lain, dan karenanya kita pun memperlakukan mereka sesuai cara kita sendiri. Kita tidak mau mencari tahu apa sebenarnya bahasa kasih dari pasangan kita, dan masalah pun akan muncul cepat atau lambat ketika bahasa kasih pasangan kita tidak kita ketahui atau tidak kita pedulikan. Seringkali kita menganggap bahwa apa yang kita sukai pastilah disukai juga oleh pasangan kita, anak kita, keluarga, teman-teman atau orang lain. Ada banyak ayah yang beranggapan bahwa jika mereka mampu mencukupi kebutuhan materi dari anak-anak atau istrinya, ia sudah menjalankan fungsi sebagai ayah teladan. Padahal mungkin justru anak dan istrinya jauh lebih membutuhkan perhatian dan kehadirannya ketimbang kelimpahan materi. Selama saya mengajar dan berinteraksi dengan banyak orang sepanjang hidup saya, saya sampai pada satu kesimpulan: manusia diciptakan Tuhan berbeda-beda. Baik dari sifat, tingkah laku, hobi, kegemaran, dan sebagainya. Artinya, apa yang saya suka, belum tentu orang lain suka. Apa yang terbaik bagi saya, belum tentu terbaik bagi orang lain. Bahasa kasih saya berbeda dengan bahasa kasih istri saya, berbeda pula dengan bahasa kasih saudara, orang tua dan teman-teman saya.

Lihat apa yang diperintahkan Yesus berikut: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Kemudian di kesempatan lain: "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 15:12) dan "Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yohanes 15:17). Perintah Yesus adalah untuk mengasihi orang lain seperti Tuhan Yesus sendiri telah mengasihi kita. Bagaimana Yesus mengasihi kita? Tuhan Yesus mengasihi dalam sebuah bentuk kasih yang sangat luar biasa besarnya. Dia bahkan sampai rela mengorbankan diriNya untuk mati di atas kayu salib supaya kita tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Mengasihi sesama seperti bagaimana Yesus mengasihi kita akan membuat kita harus mulai memikirkan untuk mengasihi orang lain bukan lagi menurut kemauan kita, tetapi menurut mereka, sesuai dengan apa yang mereka butuhkan/inginkan, dan kemudian berusaha untuk memberikan tepat seperti itu. nya.

Kembali kepada bahasa kasih, sangatlah dibutuhkan sebuah pengertian mendalam mengenai bahasa kasih seseorang agar kita bisa menjangkau hati mereka. Dengan mengetahui bahasa kasih mereka, kita pun bisa memberikan sesuatu yang akan sangat bermakna buat mereka dan akan membuat mereka benar-benar merasa kita sayangi. Dari kotbah pendeta pada saat saya menikah, setidaknya ada 5 hal yang biasanya menjadi bahasa kasih bagi orang, yaitu:
1. Kata-kata pujian
Orang dengan tipe bahasa kasih yang satu ini biasanya akan bahagia atau merasa dikasihi jika mereka mendapatkan kata-kata positif, seperti dukungan, pujian, pengakuan dan lain-lain. Mereka suka mendengar kasih diapresiasikan lewat kata-kata yang indah. Jika mereka mendapatkan sebaliknya, seperti cacian, kata kasar, melecehkan dan sebagainya, akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan, dan perihnya bisa lebih dari orang-orang yang memiliki bahasa kasih yang lain.
2. Kebersamaan
Jenis ini akan merasa dikasihi jika orang yang mereka sayangi mau meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka, berbincang-bincang dari hati ke hati, jalan-jalan dan sebagainya. Mereka akan sangat senang jika pasangannya mau mendengar apa yang ingin disampaikan, atau mau membagi waktu untuk berada bersama dengan mereka.
3. Hadiah
Tipe seperti ini akan sangat senang jika mendapat pemberian, meski yang paling sederhana atau murah sekalipun. Setangkai bunga atau sebungkus cokelat bisa menjadi sesuatu yang sangat berkesan bagi mereka.
4. Bantuan
Orang dengan tipe bahasa kasih seperti ini akan sangat bahagia jika orang yang mereka sayangi mau meluangkan waktu untuk membantu mereka, meski sedang sangat sibuk. Itu akan sangat berarti bagi mereka lebih dari hal lainnya.
5. Sentuhan
Tapping on the shoulder, atau bagi suami-istri atau orang tua pada anak: pelukan, ciuman atau gandengan tangan, itulah yang bermakna sangat besar dan terasa sangat indah bagi pemilik tipe seperti ini.

Beda orang, beda bahasa kasih. Di hari kasih sayang ini saya mengajak teman-teman untuk merenungkan sejenak: sudahkah anda mengetahui bahasa kasih dari pasangan anda, anak-anak anda, orang tua dan teman anda? Dalam menggenapkan perintah Kristus untuk mengasihi orang seperti halnya Dia mengasihi kita, kita harus tahu apa yang paling mereka butuhkan. Itu sama seperti Yesus yang mengetahui betul apa yang paling kita butuhkan. Dalam pelayananNya di dunia Yesus berulangkali menunjukkan hal itu, dalam karya penebusanNya pun itu jelas tergambar, karena semua manusia tentu menyadari keinginan untuk selamat setelah fase dunia ini selesai. Meskipun segala sesuatu yang kita berikan dengan tujuan baik didasari kasih yang tulus adalah baik, ada kalanya curahan kasih kita tidak akan maksimal jika kita salah dalam memberi karena tidak mengetahui bahasa kasih mereka. Tanpa mengetahui bahasa kasih dari orang yang kita sayangi, kita bisa jadi dianggap gagal dalam menyatakan kasih kita pada mereka. Itu bisa berujung pada pertengkaran. Kita merasa pemberian kita tidak dihargai, disisi lain mereka merasa tidak diperhatikan atau dimengerti. Jika Yesus mengasihi kita dengan memberikan yang terbaik buat kita, karena Dia tahu betul apa yang kita butuhkan, ini saatnya kita memberikan yang terbaik pula buat orang-orang yang kita kasihi, dengan mengenal terlebih dahulu apa yang paling mereka butuhkan sesuai dengan bahasa kasih mereka. Mari kenali bahasa kasih masing-masing, dan nyatakanlah kasih dengan maksimal, dan buatlah hari kasih sayang ini menjadi momen terindah bagi orang-orang yang kita kasihi. Happy Valentine, God bless you all.
Kenali bahasa kasih dari orang-orang yang kita sayangi dan berikanlah kasih yang tepat sasaran

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, February 13, 2012

Kebahagiaan dan Firman Tuhan

Ayat bacaan: Lukas 11:28
=====================
"Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

kebahagiaan dan firman TuhanDari mana kebahagiaan bisa kita peroleh? Jawaban orang bisa bermacam-macam. Dunia mengajarkan kita untuk menggantungkan kebahagiaan kepada harta kekayaan, status, jabatan dan sebagainya. Money can buy everything, demikian dunia mengajarkan kita. Tidak masalah dari mana dan bagaimana caranya, yang penting kita punya banyak uang, itu akan membuat kita berbahagia. Berbagai iklan berlomba-lomba mengubahkan kita menjadi pribadi-pribadi yang konsumtif dan berfokus kepada penampilan luar. Penampilan luar pun dianggap bisa memberikan kebahagiaan. Kulit hitam itu jelek, putih bening itu cantik. Dengan gamblang iklan-iklan ini mendiskreditkan orang yang kulitnya gelap semata-mata agar produknya dibeli. Menelepon itu gratis, sms gratis, jadi kejarlah produk kami agar anda bahagia bisa menelepon sepanjang hari tanpa harus melakukan hal lainnya. Itu juga sudah sering kita lihat dari iklan berbagai provider. Uang, pangkat, status, jabatan, penampilan luar dan berbagai kemewahan mungkin pada awalnya bisa seolah memberikan kebahagiaan, tetapi pada suatu ketika kita akan menyadari betapa semu dan fananya semua itu. Ada banyak orang yang bergelimang harta tetapi hidupnya jauh dari rasa bahagia. Sebaliknya saya mengenal beberapa keluarga yang hidupnya pas-pasan tetapi mereka merupakan keluarga yang harmonis penuh dengan sukacita. "Uang tidak menjamin kebahagiaan, yang penting adalah terus berjalan bersama Tuhan, merasakan kehadiranNya setiap hari." Demikian kata salah seorang dari mereka. Apa yang ia katakan itu sama seperti apa yang saya rasakan.

Masalah bisa datang kapan saja, dan tidak satupun dari kita yang mampu menghindar atau terlepas dari masalah-masalah itu selamanya. Banyak pula orang yang menganggap bahwa kebahagiaan tergantung dari situasi yang kita hadapi. Jika ada masalah, itu artinya kita tidak bisa bahagia, ketika hidup nyaman, disanalah rasa bahagia itu ada. Memang tidak satupun dari kita yang suka berada di kelilingi masalah, tetapi situasi pun bukan merupakan sumber kebahagiaan. "Masalah boleh datang, tetapi bagaimana dan dengan siapa kita menghadapinya akan membuat perbedaan besar atas sikap kita." kata seorang teman lagi pada suatu kali. Saya bukanlah orang yang memiliki uang melimpah. Tapi saya memegang teguh jaminan Tuhan atas penyertaanNya, dan selama Tuhan menyertai hidup saya, saya tidak perlu takut atau khawatir dan ragu dalam apapun. Hingga hari ini nyatanya saya tetap bisa merasakan kebahagiaan. Pada saat-saat penting Tuhan selalu menunjukkan keberadaanNya sehingga saya dan keluarga tidak merasakan kekurangan apapun. Semua cukup, semua patut disyukuri. Penyertaan dan perlindunganNya sungguh nyata, sehingga tidak ada alasan apapun mengapa saya tidak bahagia.

Dari Yesus sendiri kita sebenarnya sudah mendapatkan kunci untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati.  "Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya." (Lukas 1:28). Hati yang lembut akan membuat firman-firman Allah yang kita baca jatuh pada "tanah yang baik", bagian yang baik dalam hati kita, sehingga bisa bertumbuh dan berbuah dengan subur di dalam diri kita. (Matius 13:8). Bagi kita yang mendengarkan firman Allah dan mau memeliharanya untuk tumbuh subur di dalam diri kita, firman-firman itu akan bekerja membantu kita dalam menyikapi berbagai persoalan. Firman Tuhan di dalam diri kita bekerja untuk menyelidiki hati kita, melindungi diri kita, membantu kita dalam menyelesaikan masalah dan menguatkan atau menopang kita ketika lemah. Lewat firman Tuhan kita bisa merasakan kehadiran Tuhan dan mendengar suaraNya. Ada solusi, ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan, ada janji-janji Tuhan, ada jaminan. Ada kuasa besar di balik setiap firman Tuhan yang bisa membuat kita tetap teguh tanpa kehilangan kebahagiaan atau sukacita meski tengah menghadapi situasi sulit. Pendeknya, Firman Tuhan menyediakan segalanya, sehingga tidak ada satupun yang bisa merampas sukacita atau kebahagiaan dari hidup kita selama kita berpegang erat kepadanya.

Kitab Mazmur dibuka dengan hal yang sama. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Firman Tuhan mampu menjadi solusi yang sungguh luar biasa dengan Tuhan sendiri bertahta di atasnya, dan karenanya kita berbahagia.

Dalam bagian Perlengkapan Rohani yang dicatat dalam Efesus dikatakan bahwa firman Tuhan adalah pedang Roh. (Efesus 6:17). Ini adalah salah satu dari perlengkapan senjata Allah yang akan memampukan kita untuk melawan segala roh-roh jahat di udara. (ay 12-13). Selanjutnya dalam surat Ibrani, Penulisnya mengatakan demikian: "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman Tuhan bagaikan pedang bermata dua yang sangat tajam yang bisa menghujam kedalam, untuk memperbaiki hati kita agar kehidupan yang terpancar terang adanya, dan itu bisa mengarah keluar untuk memberkati orang-orang lain. Mengetahui firman Tuhan akan membantu kita untuk mengalami pembaharuan budi sehingga kita bisa membedakan mana yang merupakan kehendak Allah dalam hidup kita. Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna, seperti yang tertulis dalam Roma 12:2.

Mari kita lihat sekali lagi ayat bacaan hari ini. "Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya." (Lukas 11:28). Orang yang berbahagia menurut Injil Kerajaan bukanlah orang yang bergelimang harta berkelimpahan, bukan juga orang yang punya pangkat, jabatan atau status tinggi, bukan pula orang yang penampilan luarnya sempurna. Itu semua semu dan tidak akan pernah mampu membuat kita tetap bahagia ketika digoncang problema kehidupan. Tapi Yesus berkata bahwa kebahagiaan akan menjadi milik kita ketika kita mendengarkan firman Tuhan dan kemudian memeliharanya. Disanalah sejatinya sebuah kebahagiaan bisa kita dapatkan. Dari sanalah kita bisa memperoleh kebahagiaan yang tidak gampang goyah, tidak hilang meski masalah tengah menerpa kita. Tuhan tidak menjamin hidup kita seratus persen tanpa masalah, tetapi Tuhan menjanjikan penyertaanNya untuk menghadapi setiap langkah bersama denganNya. Dan Firman Tuhan pun berkata: "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5). Itu janji Tuhan untuk selalu berada bersama kita dalam setiap langkah. Jika Tuhan ada bersama kita dalam segala situasi, cuaca dan kondisi, mengapa kita harus takut?

Mungkin bagi sebagian orang tidaklah mudah untuk mau mendengar apalagi memelihara firman Tuhan dalam hidup. Tapi ketahuilah bahwa dengan membuka diri dan hati kita untuk menerima firman dan memeliharanya, hidup kita akan menjadi bahagia. Lembutkan hati dan terimalah firman Tuhan, lalu peliharalah agar terus tumbuh subur. Tuhan mengingatkan akan hal ini. "Selanjutnya firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, perhatikanlah segala perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu kepadanya." (Yehezkiel 3:10). Jangan biarkan firman-firman Tuhan jatuh sia-sia di bagian tanah yang keras dan berbatu, jangan biarkan hidup kita jauh dari Tuhan dan segala perkataanNya karena yang rugi adalah kita sendiri. Segala yang diberikan Tuhan lewat firmanNya sungguh besar manfaatnya. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Timotius 3:16-17). Rajinlah membaca dan merenungkan Alkitab dan peliharalah setiap Firman Tuhan yang anda baca lalu terapkan dalam kehidupan. Ada berkat yang siap Dia curahkan, ada perlindungan dan keselamatan bagi setiap orang yang mau mendengarkan, memelihara dan hidup dengan mengaplikasikan firman-firman Tuhan itu secara nyata dalam segala perbuatan dan pekerjaan kita. Itulah letak kebahagiaan yang sesungguhnya, yang tidak akan pernah terpengaruh terhadap situasi maupun kondisi dalam hidup.

Kebahagiaan sejati terletak pada hubungan kita dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, February 12, 2012

Manusia Perawat

Ayat bacaan: Markus 4:19
===============
"Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in and choke and suffocate the Word, and it becomes fruitless." (English Amp)

manusia perawat"Saya berubah menjadi manusia perawat." Demikian status seorang teman saya di salah satu jejaring sosial. Saya pun penasaran, apa yang ia maksudkan dengan itu. Sambil tertawa ia berkata bahwa apa yang ia maksudkan adalah betapa banyaknya waktu yang ia habiskan untuk merawat ini dan itu. Merawat anak, merawat rumah, merawat mobil, halaman, peralatan elektronik, perabotan sampai perawatan kuku, wajah dan rambut. Setiap hari ia menghabiskan waktu begitu banyak untuk melakukan satu perawatan ke perawatan lainnya. Dan saya yakin ia tidak sendirian. Sadar atau tidak kita pun demikian. Kita menghabiskan waktu untuk merawat segala macam setiap harinya sampai-sampai kita tidak lagi punya waktu untuk merawat roh kita sendiri.

Tuhan Yesus pada suatu kali menjelaskan bahwa benih yang ditabur akan tergantung dari kondisi tanah dimana benih itu jatuh.  (Matius 13:1-23). Adapun benih yang akan berbuah tentu saja adalah benih yang jatuh di tanah yang baik. "Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (ay 8). Itu benar adanya. Tetapi sadarkah kita bahwa selain itu kita pun perlu memperhatikan kehidupan kita sehari-hari? Kita sering tidak menyadari, tetapi nyatanya hal-hal yang tampaknya tidak bersalah dalam hidup sehari-hari bisa mencekik kehidupan rohani kita jika kita mengijinkannya. Lihatlah ayat bacaan kita hari ini. "Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in and choke and suffocate the Word, and it becomes fruitless." (Markus 4:19: English Amp) Dalam Bahasa Indonesia Terjemahan Baru dikatakan "lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah." Di dalam versi bahasa Inggrisnya hal itu dijabarkan satu persatu yaitu: kekhawatiran dan kegelisahan dunia, gangguan atau kebingungan di jaman ini, kesenangan dan kegembiraan dan gemerlap semu atau palsu, tipu daya kekayaan dan kecanduan dan hasrat yang menggebu untuk hal-hal lain, semua itu bisa merangkak masuk dan mencekik firman hingga tidak bisa berbuah. Memastikan hati dalam keadaan baik untuk ditaburi firman itu penting, tetapi tidaklah kalah pentingnya untuk menjaga hal-hal yang lazim kita hadapi di dunia ini sehari-hari agar jangan sampai mencekik kerohanian kita sehingga tidak lagi bisa berbuah.

Kita sibuk merawat segala sesuatu, kita terus menerus bekerja bagai mesin atau robot yang terus beroperasi nonstop, kita sibuk mencari segala kenikmatan dan kebahagiaan di dunia ini sehingga tidak lagi punya waktu sedikitpun untuk mengurusi masalah rohani. Ketika ini terjadi, disanalah roh kita tercekik dan tanpa sadar kita tengah terseret ke dalam arus penyesatan dunia. Jika ini yang terjadi, itu artinya sudah tiba waktu bagi kita untuk menyederhanakan hidup kita dengan menitikberatkan sesuai skala prioritasnya. Jangan sampai kita mengorbankan waktu untuk berdoa dan bersaat teduh, merenungkan Firman bersama Tuhan demi hal-hal lainnya yang kita anggap jauh lebih penting dibandingkan itu. Firman Tuhan sudah mengingatkan hal ini, ayatnya berbunyi: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2).

Lihatlah pesan Paulus kepada Timotius berikut: "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya." (2 Timotius 2:4). Ini adalah pesan yang sangat penting agar kita tidak memusingkan diri setiap saat dengan soal-soal penghidupan. Tidakkah seorang prajurit atau tentara pun akan seperti itu? Ia tidak akan bisa berkenan kepada atasan atau komandannya apabila ia malah sibuk mengurusi urusan pribadinya dan mengabaikan perintah dari sang komandan. Bagi saya ini adalah sebuah perumpamaan yang sangat tepat untuk mengingatkan kita mengenai skala prioritas dalam menjalani hidup. Apa yang terpenting adalah berhubungan dengan Tuhan lewat doa, pembacaan atau perenungan firman dan saat-saat teduh kita. Itu artinya kita merawat, memperkuat dan menyehatkan roh kita. Itu artinya kita memastikan bahwa roh kita baik adanya dan tidak sedang dalam keadaan tercekik.

Selanjutnya lihatlah firman Tuhan dalam surat 1 Yohanes 2 berikut. "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (1 Yohanes 2:15-16). Ayat ini pun berbicara dengan jelas mengenai apa yang seharusnya menjadi titik fokus atau pilihan kita dalam menjalani kehidupan. Bahkan lebih tegas lagi dikatakan: "Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah akan hidup selama-lamanya." (ay 17). Apa yang bisa membuat kita berbuah adalah apabila kita tetap bersatu dengan Tuhan. Perhatikan ayat berikut ini: "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku." (Yohanes 15:4). Itulah yang penting untuk kita pastikan. Kita tidak akan bisa berbuah apabila kita malah tinggal di dalam segala yang ditawarkan dunia dan terlepas dari Yesus. Dwell in Him, and he will dwell in you. Live with Him, and He will live in you. That's the only way for us to bear fruit. That's the way for us not to be choked and suffocated spiritually.

Hari ini marilah kita memastikan fokus terhadap hal-hal yang kita lakukan sehari-hari. Tidak salah untuk merawat berbagai hal dalam hidup kita, hanya saja jangan sampai semua itu merebut waktu-waktu kita untuk berdiam bersama Tuhan. Tubuh dan jiwa perlu dirawat, roh kita pun perlu dirawat. Perhatikan baik hal-hal yang kecil atau terlihat sangat sederhana, lumrah dan wajar dalam kehidupan sehari-hari, jangan sampai itu membuat jurang antara kita dengan Tuhan terus menganga semakin lebar.

Perhatikan hal-hal sehari-hari dan pastikan jangan sampai satupun dari itu mencekik kerohanian kita hingga tidak bisa berbuah


Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, February 11, 2012

Antara Paku dan Kemarahan (2)

 (sambungan)

Dalam kitab Mazmur, Daud mengatakan: "Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan." (Mazmur 37:8). Ada kalanya memang kita bisa merasa kesal dan kemudian marah. Sebagai manusia yang memiliki perasaan memang pada waktu-waktu tertentu kita tidak bisa menghindar dari kekesalan atau kemarahan akibat banyak hal atau ditimbulkan oleh perilaku orang lain yang menyinggung kita, apalagi ketika kita sedang capai, mood sedang labil dan lain-lain. Meski kita bisa marah pada suatu waktu, kita harus tahu bagaimana meredamnya, tidak membiarkan amarah itu terus membesar hingga tidak lagi bisa kita kendalikan.  Apa yang bisa kita lakukan adalah sesegera mungkin meredamnya. Emosi seringkali berawal kecil, namun bertambah parah jika kita diamkan. Dan apabila sudah parah, emosi itu akan menjadi sulit untuk kita redam. Bagaikan api yang cuma muncul dari sebatang korek kecil, tetapi itu bisa membakar habis sebuah rumah. Jika kita kalah dan membiarkan emosi terus membesar menelan kita, disanalah akhirnya berbagai kejahatan mengintai dan siap membinasakan kita. Berbagai tindakan bodoh pun bisa muncul tanpa terkendali dan tanpa sadar karena kita sudah gelap mata dikuasai oleh emosi. Oleh karena itu kita harus bisa cepat meredam kemarahan kita sebelum terlambat, sebelum kita melakukan atau mengatakan hal-hal yang bisa melukai orang lain atau merugikan/mencelakakan diri kita sendiri.

Yakobus berkata: "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah." (Yakobus 1:19). Kita diminta untuk mendengar dulu baik-baik dan tidak cepat menyela apalagi jika belum apa-apa sudah langsung marah. Cepatlah mendengar, tetapi lambat untuk membalas lewat kata-kata. Jangan terburu-buru menyela sebelum tahu betul masalahnya. Apa yang sering dilakukan manusia justru sebaliknya. Belum jelas masalahnya sudah terlebih dahulu menyerang. Lantas ayat selanjutnya menyatakan mengapa kita diminta untuk lambat berkata-kata dan menghindari kemarahan. "sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (ay 20). Lebih lanjut lewat Paulus kita juga bisa menemukan peringatan agar kita membuang jauh-jauh kemarahan dari diri kita. "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan." (Efesus 4:31). Apa yang dianjurkan bagi kita adalah sebaliknya, "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (ay 32).

Jika anda merasa kesal dan mulai marah, segeralah redam kemarahan itu sebelum kemarahan itu menguasai diri anda. Seperti yang saya katakan kemarin, membiarkan kemarahan menyala-nyala tanpa terkendali dalam diri kita adalah seperti menyediakan taman bermain yang sangat menyenangkan bagi iblis. Dan itu pun disampaikan dalam Alkitab. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:26-27). Lihatlah bahwa dibalik kemarahan yang terus meningkat naik kita sebenarnya membuka celah atau ruang seluas-luasnya kepada iblis untuk menari-nari berpesta pora menghancurkan kita. Petrus berkata: "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Dari ayat ini kita bisa melihat dengan jelas bahwa sesungguhnya iblis hanya bisa berjalan berkeliling mengaum mencari mangsa. Iblis tidak akan pernah bisa menembus kita dan hanya bisa berputar-putar mencari celah yang bisa ia terobos. Ketika kita membiarkan emosi berkuasa atas kita, itulah saat dimana kita membuka celah untuk iblis masuk dan menghancurkan kita.

Alkitab menyatakan bahwa orang yang membiarkan dirinya gampang meledak dalam amarah adalah orang bodoh: "Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak." (Amsal 20:3). Setiap orang bodoh, bukan sebagian. Itu menunjukkan betapa buruknya ketika kita menjadi pribadi yang meledak-ledak dan gampang marah. Dalam kesempatan lain kita juga bisa membaca Firman Tuhan lainnya yang mengatakan hal ini: "Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh." (Pengkotbah 7:9). Lewat sebuah kemarahan ada banyak kejahatan yang mengintai disana. Semakin lama kita membiarkan diri kita marah, maka semakin banyak pula kesempatan iblis untuk menghancurkan kita dengan berbagai bentuk kejahatan. Jangan terlena dengan amarah. Meski alasannya ada, meski penyebabnya jelas, kita harus secepat mungkin mengontrol emosi kita sedini mungkin. Mengapa? Karena akan jauh lebih mudah untuk meredam emosi ketika masih baru, tetapi menjadi sangat sulit bahkan mustahil ketika emosi itu sudah terlanjur menguasai diri kita. Sekali lagi, ingatlah bahwa paku yang ditancapkan ke dinding meski kecil sekalipun akan tetap meninggalkan lubang atau bekas disana selamanya. Paku-paku seperti itu bisa berterbangan keluar dari kemarahan kita dan menancap, menembus, melukai hati banyak orang. Berhentilah melukai orang lain terutama orang yang kita kasihi seperti orang tua, anak, suami/istri dan lain -lain hanya karena kita tidak bisa mengendalikan emosi kita. Berhentilah melubangi orang lain lewat paku-paku yang terus kita tancapkan tanpa henti di hati mereka. Kuasai diri segera ketika marah, sehingga tidak ada paku yang terlanjur menembus orang lain dan meninggalkan luka menganga disana.

Emosi sesaat bisa membawa bekas luka di hati orang sepanjang hidupnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 10, 2012

Antara Paku dan Kemarahan (1)

Ayat bacaan: Amsal 29:22
===================
"Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya."

paku, marahUrusan memaku dinding tidak sulit. Namun saya dan istri seringkali harus berpikir panjang sebelum mulai memaku untuk memasang pigura foto, rak dan sebagainya. Mengapa? Karena kami perlu tahu betul dimana benda-benda itu akan diletakkan. Apakah posisinya sudah tepat, apakah masih miring, sudah proporsional dengan ruangan dan sebagainya. Salah memaku memang tidak terlalu masalah, karena kita tinggal mencabut paku dan melubangi bagian lain dari dinding. Tetapi biar bagaimanapun lubang akan tetap ada. Sekecil apapun lubang yang ditimbulkan oleh paku, bekasnya akan tetap tinggal disana. Meski kita menambalnya dari luar dengan kapur, semen lalu di cat, lubang bekas paku itu akan tetap ada di dinding.

Alasan saya memulai renungan hari ini dengan ilustrasi paku adalah karena saya ingin menyampaikan mengenai dampak dari emosi yang tidak terkendali. Sadarkah kita kalau sebuah kemarahan yang mungkin hanya meledak sekali waktu dari kita mampu meninggalkan "lubang" yang berbekas bagi orang yang terkena, dan bisa jadi akan terus berbekas dalam hati mereka? Ketika diliputi kemarahan kita tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang bisa menghujam hati orang lain bagai dipaku. Mungkin itu cuma akibat emosi sesaat dan karena hanya sesaat dalam waktu singkat kita pun sudah melupakannya. Tetapi dampaknya bisa meninggalkan bekas bagi korban hingga waktu yang lama, bahkan selamanya. Seringkali luka-luka seperti ini menjadi penghalang bagi mereka untuk maju dan sangat sulit untuk dibereskan. Saya mengenal beberapa orang yang hingga hari ini sulit disembuhkan. Awalnya ada sesuatu yang membuat mereka sakit hati di masa lalu, dan itu berdampak menghancurkan hidup mereka. Mereka mendapat banyak masalah dalam kehidupan mereka. Tidak percaya diri, sulit mempercayai orang lain, menutup atau memproteksi diri secara berlebihan, ada pula yang langsung gemetar ketika berhadapan dengan orang yang belum ia kenal. Tidak heran apabila mereka pun menjadi sulit maju. Seperti itulah luka yang bisa ditimbulkan apabila kita tidak bisa mengontrol emosi. Kita mungkin hanya kelepasan karena emosi sehingga melempar kata-kata kasar secara spontan, tetapi seperti halnya dinding, kita meninggalkan bekas yang bisa jadi cukup dalam di hati orang lain dan melukai mereka untuk waktu yang lama, bahkan bisa berdampak negatif seumur hidup mereka. Ada dua teman saya bahkan tidak lagi percaya kepada Tuhan karena beberapa kata-kata buruk ibunya terlanjur melukai mereka cukup dalam. Mereka bisa menyebutkan berbagai kata yang pernah terlontar dari mulut ibunya meski pada saat itu mereka masih sangat kecil. Ibu kedua teman saya adalah orang yang percaya Tuhan, tetapi sayangnya tidak mencerminkan pribadi Tuhan sama sekali dalam hidup mereka. Akhirnya sang anak pun menjadi sinis setiap kali mendengar tentang Tuhan. Mungkin sang ibu sendiri sudah tidak ingat lagi, tetapi kehancuran yang ditimbulkan ternyata sudah cukup parah bagi anaknya. 

Kemarahan bisa mencederai orang lain baik secara fisik maupun psikis. Disamping itu kita sendiri bisa rugi jika membiarkan amarah tidak terkendali. Berbagai penyakit seperti darah tinggi, serangan jantung dan sebagainya bisa dengan mudah menyerang kita. Iblis pun akan berpesta pora mendapatkan lahan bermain yang sangat menyenangkan baginya. Itulah sebabnya Alkitab berulang kali menganjurkan kita untuk bisa mengontrol emosi. Firman Tuhan berkata: "Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya." (Amsal 29:22). Seorang yang gampang marah, kata Firman Tuhan, akan mudah membuat banyak pelanggaran. Apakah itu lewat kata-kata, membanting sesuatu, melempar atau kekerasan secara fisik dan lain-lain, itu bisa terjadi ketika kita kehilangan kesadaran akibat kalap dengan emosi yang meledak-ledak. Dan semua itu kelak akan kita sesali. Seringkali penyesalan datang terlambat, karena sebagian besar diantaranya kerap sudah sangat sulit untuk bisa diperbaiki. Betapa seringnya kita mendengar orang membunuh sesamanya karena emosi sesaat. Kalaupun tidak sampai sefatal membunuh, berbagai akibat yang timbul dari emosi yang tidak terkendali itu pun sudah meninggalkan bekas yang susah untuk dihapus.

(bersambung)

Thursday, February 9, 2012

Membuang-buang Sisa Makanan

 Ayat bacaan: Yohanes 6:12
====================
"Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."

membuang sisa makananIstri saya pernah mendapatkan pelajaran yang cukup keras dari ibunya sewaktu kecil karena suka membuang-buang makanan. Namanya anak-anak, ia mengambil banyak tetapi hanya memakan sedikit, sehingga yang terbuang cukup banyak. Pada suatu kali ibunya menghukumnya dengan menyuruh menghabiskan semua yang ada di piring tanpa sisa. Meski kenyang, dengan menangis ia pun menghabiskan semuanya seperti yang diperintahkan. Sejak saat itu ia tidak lagi mengambil banyak, hanya secukupnya saja. Dan itu masih ia lakukan hingga hari ini, karena pelajaran atau hukuman itu membekas di hatinya. Pelajaran yang cukup keras memang, tetapi itu untuk kebaikan. Bayangkan ada banyak orang yang menderita kelaparan, busung lapar bahkan hingga menemui ajalnya, sementara kita malah membuang-buang makanan karena merasa berhak. Toh uang saya yang keluar, toh saya yang beli, lantas kenapa harus repot? Sesungguhnya perilaku ini tidaklah baik. Meski memang uang kita yang membeli, tetapi kita tidak boleh membuang-buang makanan. Mengapa? Karena makanan merupakan berkat Tuhan, dan membuang makanan itu sama artinya dengan membuang berkat Tuhan.

Di dalam Alkitab kita bisa menemukan dalam beberapa kesempatan bahwa Tuhan sendiri tidak suka perilaku membuang-buang makanan ini. Dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan lewat pimpinan Musa misalnya. Dua kali Tuhan mengabulkan permintaan bangsa Israel akan makanan dalam Keluaran 16:1-36. Dalam dua kali kesempatan ketika Tuhan menurunkan roti dan burung puyuh, dua kali pula Tuhan berpesan agar mereka mengambil secukupnya sesuai kebutuhan dan tidak membuang-buang sisanya, yaitu pada ayat 4: "Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak." dan ayat berikut: "Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa...Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya." (ay 16,18).  Tuhan tidak suka jika berkatNya kita buang sia-sia. Disaat orang lain ada yang membutuhkan, ada yang mati kelaparan, bagaimana mungkin kita tega membuang makanan tanpa sedikitpun terpikir akan nasib mereka? Jika itu kita lakukan, bagaimana kita bisa menjadi terang dan garam, dan bagaimana kita bisa mengaku mengenal dan menjadi anak Tuhan?

Kita bisa melihat contoh lain mengenai ketidaksukaan Tuhan terhadap membuang-buang berkatNya dalam hal ini membuang-buang sisa makanan dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Yang harus diberi makan pada saat itu bukan hanya puluhan, bukan ratusan tetapi ribuan orang. Lima ribu orang, belum termasuk wanita dan anak-anak. Itu tercatat jelas di dalam Injil. Apa yang dipergunakan Yesus pada saat itu tidak lain adalah sisa makanan yang ada pada seorang anak, yaitu lima roti dan dua ikan. Itulah yang kemudian mampu mengenyangkan ribuan orang dan masih bersisa. Berkat yang berkelimpahan yang dijanjikan Tuhan itu Dia berikan, dan itu bisa kita lihat kembali pada kisah ini seperti halnya kepada bangsa Israel di jaman Musa di atas. Tapi lihatlah apa kata Yesus mengenai makanan sisa ini. "Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." (Yohanes 6:12). Begitu pentingnya pesan ini, sehingga keempat Penulis Injil menuliskan hal tersebut. Selain lewat Injil Yohanes diatas, hal tersebut juga ditulis dalam Matius 14:20, Markus 6:43 dan Lukas 9:17.

Membuang-buang sisa makanan itu sama artinya dengan tidak menghargai Sang Pemberinya. Itu sama saja dengan menyia-nyiakan atau menyepelekan berkat Tuhan.Untuk disimpan sendiri saja sudah salah, apalagi jika kita buang-buang. Tidakkah kita seharusnya sedih  melihat begitu banyaknya gelandangan yang kelaparan, orang terlantar dan anak-anak yang menderita kekurangan makanan bahkan hingga mati di berbagai tempat, termasuk di sekitar kita? Ketika kita menghamburkan uang untuk membeli sesuatu yang hanya kita buang sia-sia dalam waktu singkat atau hidup dalam limpahan kemewahan berlebihan tanpa peduli akan nasib mereka yang tengah meratap dalam kekurangan, tidakkah itu berarti bahwa kita sama sekali tidak mencerminkan pribadi Tuhan? Dan itu sama saja dengan melanggar perintahNya. Kita bisa berpikir bahwa itu hak kita, karena uang yang kita pakai kita anggap adalah hasil jerih payah kita bekerja. Tetapi jangan lupa bahwa semua itu pun berasal dari Tuhan yang memberkati lewat kerja keras kita. Intinya, kita tidak boleh lupa bahwa kita diberkati untuk memberkati. "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat." (1 Petrus 3:9). Tuhan tidak ingin anak-anakNya menjadi tamak, egois dan serakah atas berkatNya. Tuhan ingin melihat kita menjadi saluran berkat bagi orang lain. Tuhan ingin lewat kita semakin banyak pula orang yang akan memuliakan Tuhan. Dan itu tidak akan pernah bisa apabila kita masih bersifat egois dan tidak peka terhadap sesama kita. Firman Tuhan juga berkata: "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Ini adalah sesuatu yang harus pula benar-benar kita camkan.

Ketika kita berdoa meminta Tuhan memberkati usaha kita dan memberi kelimpahan buat kita, ingatlah bahwa ada kewajiban yang harus kita lakukan disana. Apakah kita sudah menghargai berkat Tuhan secara benar dan menjalankan kewajiban kita sebagaimana yang Tuhan inginkan? Ingatlah bahwa semua yang kita miliki bukanlah atas hasil jerih payah kita semata, tetapi itu merupakan berkat yang indah dari Tuhan. Kita semua punya hak untuk memakai uang yang kita peroleh dari pekerjaan kita, tetapi Tuhan mengingatkan kita untuk memakai secukupnya dan tidak melupakan orang lain yang pada saat yang sama. Tuhan tidak pernah terbatas untuk melimpahkan berkatNya bagi kita, jadi tidak ada yang perlu kita takutkan. Kita harus terus melatih diri kita hingga kita bisa merasakan kebahagiaan ketika kita memberi, sampai firman Tuhan berikut ini bisa tertanam di dalam diri kita: "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Kita bisa mulai dari yang kecil seperti tidak membuang-buang sisa makanan untuk belajar bersyukur dan menghargai berkat dari Tuhan.

Membuang-buang sisa makanan sama dengan membuang berkat Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, February 8, 2012

Menyesal

Ayat bacaan: Amsal 3:21
=====================
"Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu,"

menyesalBeberapa tahun yang lalu saya pernah melakukan dua investasi tanpa disertai pemikiran yang matang. Saya terburu-buru mengambil keputusan karena tergiur dengan apa yang dijanjikan. Akibatnya saya pun mengalami kerugian yang tidak sedikit, mencapai sekian juta rupiah. Menyesal? Sudah pasti. Seringkali kita gegabah dalam bertindak atau memutuskan sesuatu hanya karena emosi atau tergiur akan sesuatu. Apa yang saya alami masih mendingan jika dibandingkan banyak penyesalan lainnya yang jauh lebih fatal. Saya pernah menonton sebuah acara yang menyorot kehidupan seorang narapidana wanita yang tengah menunggu eksekusi mati akibat melakukan pembunuhan. Bukan hanya dia, tetapi anaknya pun juga mendapat vonis yang sama, dan itu karena permintaannya kepada si anak untuk membantunya membunuh. Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya. Ia mengaku sangat menyesal dan berharap seandainya ada pengampunan setidaknya bagi anaknya atau malah bisa kembali memundurkan waktu untuk merubah perbuatannya. We can never turn back time. Setiap keputusan yang kita ambil punya konsekuensi masing-masing yang harus kita terima. Jika tidak dipertimbangkan secara bijaksana terlebih dahulu, berbagai penyesalan bisa datang, dan biasanya penyesalan itu datang terlambat.

Dalam perjalanan hidup kita selama ini, mungkin ada banyak hal yang kita sesali yang dulu pernah kita lakukan. Mulai dari sesuatu yang sederhana sampai sesuatu yang bisa jadi cukup fatal hingga mempengaruhi diri kita hari ini, atau bahkan turut mengenai orang lain. Ada banyak orang terus terperangkap di bawah bayang-bayang masa lalu mereka dan tidak kunjung bisa maju menatap hari depannya. Nasi sudah menjadi bubur kata pepatah. Bubur tidak bisa diolah lagi menjadi nasi, menggambarkan sesuatu yang sudah terlanjur terjadi dan tidak akan pernah bisa diulang kembali. Penyesalan selalu datang terlambat. Bukankah ini menjadi bagian hidup semua orang? Menyesal tidak belajar dengan baik sehingga gagal dalam ujian, menyesal mengucapkan kata-kata buruk sehingga melukai orang, menyesal sudah meninggalkan pekerjaan, menyesal atas pengambilan keputusan-keputusan yang keliru, menyesal telah melakukan kejahatan mulai dari yang ringan sampai yang fatal dan lain sebagainya.

Bersyukurlah bila kita masih diberi kesempatan untuk bertobat hari ini sehingga kita tidak perlu menyesal kehilangan anugerah keselamatan seperti misalnya yang dialami oleh orang kaya dalam kisah Lazarus. (Lukas 16:19-31). Bersyukurlah jika kita masih diberi waktu untuk berubah sebelum semuanya keburu diambil dari kita. Tapi ingatlah bahwa kita tidak bisa mengulang masa lalu. Penyesalan tetaplah penyesalan.Seringkali kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menanggung konsekuensi sebagai akibat dari kesalahan itu. Konsekuensi mau tidak mau tetap harus kita hadapi meski Tuhan sudah mengampuni kita. Seandainya Daud masih hidup hari ini, tanyakanlah hal ini kepadanya, maka saya yakin ia pasti akan bercerita panjang lebar mengenai hal ini.

Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan agar kita berhenti melakukan hal-hal yang akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari? Ayat bacaan hari ini memberikan kunci agar kita terhindar darinya, "Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu" (Amsal 3:21). Ayat ini sungguh penting dalam mencegah kita terjatuh ke dalam keputusan-keputusan hidup yang bisa mengarah kepada penyesalan. Pertimbangan dan kebijaksanaan, keduanya harus senantiasa menjadi fokus bagi kita dalam mengambil keputusan apapun, baik yang sederhana apalagi yang penting. Jangan terburu-buru, jangan asal-asalan, jangan sembrono, jangan gegabah, tetapi pikirkanlah semua dengan matang terlebih dahulu dengan pertimbangan dan kebijaksanaan. Berdoalah dan mintalah hikmat dari Tuhan untuk memampukan kita mengambil jalan-jalan yang benar dalam pengambilan keputusan. Bisakah kita meminta hikmat kepada Tuhan? Tentu saja bisa. "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5). Salomo menggambarkan bagaimana indahnya apabila kita melakukan ini dalam hidup kita. "maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk. Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak.Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang." (ay 22-25). Dengan kata lain Salomo berkata, apabila kita mempergunakan pertimbangan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, maka hidup kita akan terpelihara secara indah dan menyenangkan, kita akan berjalan dengan aman tanpa harus tersandung, kita akan terbebas dari rasa cemas dan bisa tidur nyenyak dan kita tidak perlu takut akan bencana yang bisa menyerang tiba-tiba. Mempergunakan hikmat untuk pertimbangan dan kebijaksanaan artinya mengijinkan Tuhan sendiri untuk menjaga kita agar tidak terperosok dalam jebakan. "Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat." (ay 26).

Apabila ada kesalahan-kesalahan yang sempat terjadi di waktu lalu dimana konsekuensinya masih kita rasakan hingga hari ini, jangan biarkan hal tersebut membuat kita terbelenggu untuk maju. Sesungguhnya Tuhan sudah memberikan sebuah hidup baru yang bisa kita isi dengan lebih baik dari sebelumnya. Paulus merupakan contoh yang baik untuk itu. Dia bukanlah orang yang baik sebelum bertobat. Masa lalunya kelam, penuh kekejaman layaknya teroris. Tetapi setelah bertobat ia tahu bahwa harus melupakan masa lalunya dan memandang ke depan. Dia berkata: "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Satu hal yang pasti, pertobatan kita akan membukakan pengampunan dari Tuhan. Tuhan sendiri berkata: "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25). Apapun dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu, percayalah bahwa Tuhan sudah mengampuni semua itu ketika kita melakukan pertobatan menyeluruh dan sungguh-sungguh. Pakailah semua itu sebagai pembelajaran agar kita bisa lebih baik lagi kedepannya. Konsekuensi mungkin masih harus kita tanggung, tetapi jangan biarkan hal itu merintangi kita untuk meraih mahkota kehidupan dan keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan bagi kita. Hari ini marilah memakai pertimbangan dan kebijaksanaan dengan sebaik-baiknya sebelum memutuskan sesuatu sehingga kita tidak perlu terjatuh dalam penyesalan tak berujung di kemudian hari.

Setiap keputusan punya konsekuensi, maka pertimbangkanlah dengan matang dan bijaksanalah dalam mengambil keputusan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...