Saturday, July 7, 2018

What Do We Have Today? (5)

(sambungan)


Tapi kemudian Yesus berkata: "Cobalah periksa!" (Markus 6:38). Setelah diperiksa, mereka menemukan ada anak yang membawa lima roti dan dua ikan. Lalu apa yang ada itulah yang dipakai Tuhan Yesus untuk mengenyangkan ribuan orang. Lima ribu orang itu masih laki-laki saja, belum termasuk wanita dan anak-anak. Semua dikenyangkan bahkan masih lebih.

Apakah Tuhan Yesus tidak bisa menurunkan langsung makanan dari langit? Tentu saja bisa. Tapi Yesus mau mengajarkan bahwa kita tidak boleh terfokus pada apa yang tidak ada atau tidak kita punya, melainkan periksalah terlebih dahulu apa yang ada pada kita. Doakan, dan gunakan. Akan halnya potensi, kenali bakat atau keahlian khusus apa yang Tuhan bekali pada kita, asah dan kembangkan semaksimal mungkin dan pergunakan itu demi kebaikan kita dan sesama.

Mungkin anda melihat sesuatu yang tidak mungkin di depan untuk diraih atau diatasi seperti pandangan para murid pada lima ribu lebih orang yang harus diberi makan. Tapi sudahkah anda periksa apa yang ada? Tahukah anda apa yang ada pada diri anda saat ini? Mungkin anda cuma menemukan lima roti dan dua ikan, dan anda merasa itu tidak akan cukup untuk melakukan apa-apa. Tapi dari apa yang kita pelajari hari ini, kita bisa melihat bahwa apabila Tuhan memberkatinya, lima roti dan dua ikan itu sudah lebih dari cukup untuk mendatangkan hal-hal yang besar, bahkan ajaib.

Apakah kita mengetahui apa potensi yang ada pada kita, dan sudahkah kita memuliakan Tuhan lewat itu?  Seperti yang saya sampaikan di awal, manusia cenderung untuk melihat apa yang tidak atau belum mereka punyai daripada menyadari potensi dan semua yang sudah ada pada kita. Maukah kita sadar bahwa Tuhan sudah menyediakan segalanya secara cukup bagi kita untuk bisa berhasil dan bisa memberkati orang lain sekaligus memberi kemuliaan bagi namaNya?

Ada banyak orang disekitar kita yang terabaikan, tertolak, tersisih dan tersingkir, mereka butuh pertolongan, dan kita bisa menyatakan kasih Kristus kepada mereka dengan apa yang kita miliki. Kita tidak perlu sibuk mencari apa yang tidak kita miliki hingga melupakan apa yang ada pada kita. Periksalah apa yang ada pada kita dan pergunakanlah. Tuhan bisa memakai segala sesuatu yang terlihat sederhana atau kecil sekalipun dari kita secara luar biasa. Tuhan bisa melakukan hal-hal besar bahkan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya lewat apapun yang kita punya saat ini. What do we have, and what can we do? Why don't we figure them out and make a difference?

Kenali potensi dan apa yang ada pada kita dan pergunakan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, July 6, 2018

What Do We Have Today? (4)

(sambungan)

Perikop ini mengajarkan kita tentang tiga hal penting yang saling berhubungan, yaitu:

1. Kepekaan/belas kasih terhadap sesama
Petrus peduli terhadap penderitaan si orang yang sudah lumpuh sejak lahir. Orang lumpuh itu merasa hanya bisa bertahan hidup mengharapkan sedekah dari orang lain, tetapi Petrus mengalirkan kasih Tuhan kepadanya dengan memberi mukjizat kesembuhan.

2. Pengenalan apa yang ada dan tidak ada pada kita
Petrus tahu apa yang dia punya dan apa yang tidak ia punya. Tidak memiliki harta, emas dan perak bukanlah kendala sama sekali buat Petrus. Ia tidak memakai itu untuk menjadi alasan tidak sanggup membantu orang lain.

3. Mempergunakan apa yang ada pada kita untuk memberkati sesama
Dengan mengetahui apa yang ia punya, Petrus pergunakan itu untuk memberkati orang lain. Tidak hanya sebatas ucapan kasihan, rasa iba, tapi Petrus melakukan sesuatu yang nyata.

Dalam berbuat baik kita tidak perlu berfokus pada apa yang tidak kita miliki yang bisa menghambat kita untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Kesalahan cara berpikir ini akan membuat kita tidak menyadari apa yang ada pada kita dan karenanya kehilangan kesempatan untuk menolong orang lain. Dan Firman Tuhan tegas berkata: "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." (Yakobus 4:17). Karenanya sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui potensi diri kita, apa yang kita punya dan memakainya untuk memberkati orang lain.

Selain itu Alkitab juga mengingatkan kita: "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." (Galatia 6:9). Kita harus terus melakukan perbuatan-perbuatan baik yang bisa memuliakan Allah dengan tidak jemu-jemu. Ada atau tidak apresiasi manusia bukan masalah, karena sesuatu yang dengan tulus kita lakukan demi namaNya akan selalu berharga di mataNya. Dan tentu saja, tidak perlu ribet berpikir tentang apa yang tidak kita punya, tapi periksalah apa yang kita punya dan pakai itu untuk memberkati orang lain.

Mengenai memeriksa apa yang kita punya, ada contoh bagus dalam kisah Yesus memberi makan lebih lima ribu orang lewat lima roti dan dua ikan. Memberi makan sebanyak itu, mau dari mana? Dari mana duitnya, dan siapa yang bisa memenuhi kebutuhan sebanyak itu? Para murid pun kemudian pesimis karena memandang pada apa yang tidak mereka miliki.


(bersambung)


Thursday, July 5, 2018

What Do We Have Today? (3)

(sambungan)

Pada saat itu Petrus dan Yohanes tengah berjalan menuju ke Bait Allah menjelang waktu berdoa. Di luar Bait Allah ada seorang laki-laki yang sudah lumpuh sejak lahir. Ia selalu diletakkan disana untuk mengemis berharap belas kasihan dari orang-orang yang hendak masuk ke Bait Allah.

Melihat Petrus dan Yohanes, ia pun seperti biasa meminta sedekah. Apa yang ia minta adalah sedekah seperti halnya pengemis yang kita temui setiap hari dijalan-jalan. Banyak dari kita yang merasa terganggu oleh kehadiran pengemis sepertinya. Kita biasanya kalaupun mau memberi akan mencari uang receh. Kalau tidak ada, ya sudah lewati saja sambil mengarahkan telapak tangan ke mereka.

Tapi Petrus menanggapi si pengemis lumpuh dengan sesuatu yang berbeda. "Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kisah Para Rasul 3:6).

"Kalau kamu minta uang, aku tidak punya itu sekarang. Tapi aku mau memberi apa yang ada padaku." kata Petrus. Dan yang ia berikan ternyata mukjizat besar yang bahkan tidak bisa dibeli dengan jumlah uang berapapun, yaitu mukjizat kesembuhan! Begitu ia berkata, "dalam nama Yesus, berjalanlah!", pada saat itu juga orang lumpuh itu diangkat naik oleh Petrus dan mukjizat terjadi. "Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu." (ay 7b).

Orang yang pernah bisa jalan lantas lama lumpuh saja butuh waktu untuk bisa jalan. Waktunya bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, karena tulang-tulang kaki biasanya sudah mengecil dan lemah. Apalagi kalau lumpuhnya sejak lahir seperti pengemis ini. Tapi lihatlah mukjizat Tuhan mengatasi semua logika dan kemampuan manusia. Ia bisa langsung berdiri dan tidak perlu belajar jalan terlebih dahulu untuk menggunakan kakinya.

Betapa senangnya hati orang lumpuh itu. Ia pun segera menikmati sesuatu yang sudah lama ia rindukan. Ia terus berjalan kesana kemari, melompat-lompat, bahkan ikut masuk ke dalam Bait Allah sambil terus memuji Tuhan. Dan hal itu pun menjadi kesaksian bagi semua orang yang melihat kejadian pada saat itu. (ay 9-10).

Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini. Tapi hari ini mari kita melihatnya dari salah satu sisi mengenai pengenalan akan apa yang kita miliki.

Perhatikan lagi jawaban Petrus. "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu." Petrus mengetahui apa yang ia miliki, dan ia tidak perlu mengeluh terhadap apa yang tidak ia punyai. Ia memakai apa yang ada padanya untuk memberkati orang lain, dan itu jauh lebih indah daripada sekedar harta seperti yang diminta orang lumpuh tersebut. Bukan hanya sekedar uang sedekah, tetapi mukjizat kesembuhan hadir dari apa yang dimiliki Petrus, yaitu iman akan Kristus yang memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun di mata manusia.


(bersambung)


Wednesday, July 4, 2018

What Do We Have Today? (2)

(sambungan)

Kemarin kita sudah melihat beberapa orang di kota kecil bernama Yope yang melakukan sesuatu secara langsung lewat talenta dan apa yang mereka punya. Tabita yang dalam bahasa Yunani disebut Dorkas mungkin cuma bisa menjahit. Dia tidak bisa berkotbah, dia bukan dokter, insinyur apalagi bos besar dengan uang melimpah-limpah. Tapi dalam keterbatasannya ia ternyata mau bergerak melakukan tindakan nyata. Ia menjahitkan baju dan jubah secara gratis buat para janda miskin di kotanya. Dan kita sudah tahu bahwa ia kemudian dibangkitkan dari kematiannya oleh kuasa Tuhan yang mengalir lewat Petrus, dan itu membuat banyak orang di Yope menjadi percaya kepada Yesus. Kisah ini bisa dibaca dalam Kisah Para Rasul 9.

Kedatangan Petrus ke kota itu yang tadinya atas permintaan para janda yang merasa kehilangan Tabita lalu berlanjut dengan keputusannya untuk tinggal beberapa hari lagi di rumah Simon yang bekerja sebagai penyamak kulit. Pekerjaan ini jauh dari higienis. Kotor dan bau, penuh bulu, pecahan daging yang menempel di kulit dan tentu saja bangkai hewan. Pekerjaan sebagai penyamak kulit dinilai najis oleh orang-orang Yahudi pada masa itu dan karenanya Simon pun tinggal tersisih jauh dari perkampungan penduduk. Secara logika tidak ada yang bisa ia tawarkan. Siapa yang mau nginap di rumahnya? Dekat saja tidak akan ada yang mau. Tapi Petrus dibawa Tuhan untuk tinggal disana. Dan Simon jelas membuka pintunya lebar-lebar.

Seperti yang sudah saya sampaikan dalam renungan sebelumnya, seorang prajurit bernama Kornelius yang tinggal di kota lain berjarak sekitar 60 km ternyata mendapat perkenanan Tuhan. Ia pun mengutus orang untuk menjemput Petrus. Orang-orang utusannya pun kemudian menginap pula di rumah Simon sang penyamak kulit. Lagi-lagi Simon tidak menolak. Ia mempersilahkan mereka yang belum pernah ia kenal sebelumnya untuk bermalam disana. Singkat cerita, Kornelius dan beberapa orang non Yahudi lainnya kemudian menerima kasih karunia keselamatan, bahkan Roh Kudus turun atas mereka sebelum mereka dibaptis.

Dari sisi tema hari ini, ada satu poin yang sengaja belum saya sampaikan dalam renungan terdahulu lewat kisah perjalanan Petrus di Yope, yaitu baik Tabita maupun Simon sang penyamak kulit tidak ambil pusing terhadap apa yang tidak mereka punya. Mereka langsung berbuat sesuatu dengan apa yang ada pada mereka atau bisa mereka lakukan. Yang satu menjahitkan baju buat janda miskin, yang satu lagi menyediakan penginapan buat Petrus dan utusannya Kornelius. Mereka tidak minder, mereka tidak mengeluh, mereka tidak mempergunakan keterbatasan mereka sebagai alasan. They did what they could, and used whatever they got at that time. Tuhan berkenan atas perbuatan mereka dan mereka pun menjadi bagian dari terjadinya pertobatan terhadap banyak orang yang bahkan lintas kota. Nama mereka tercatat dalam Alkitab dan akan terus menjadi teladan sampai pada kesudahan dunia ini.

Ada satu contoh menarik lainnya yang bisa kita baca dalam kitab Kisah Para Rasul pasal 3:1-10. Disana tertulis cerita mengenai Petrus menyembuhkan orang lumpuh tepat didepan pintu masuk Bait Allah.


(bersambung)


Tuesday, July 3, 2018

What Do We Have Today? (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 3:6
=======================
"Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"

Seorang teman saya menceritakan sebuah pengalamannya tentang memberi. Suatu hari ia ingin merapikan lemari bajunya yang sudah kepenuhan. Karena kepenuhan, ia memutuskan untuk mensortir baju-baju miliknya. Ia mengkategorikan atas tiga bagian: pertama adalah yang masih ingin ia pakai, kemudian yang kedua: bakal jarang dipakai tapi punya nilai historis seperti dari seseorang yang spesial atau mengingatkannya pada sebuah momen penting dalam hidupnya, dan yang ketiga: baju-baju yang tidak akan dipakai lagi. Misalnya sudah ketinggalan jaman, sudah tidak muat, ada flek atau cacat dan sebagainya. Ada beberapa yang masih terlihat seperti baru tapi tertimbun dan kemudian modelnya sudah tidak ia sukai. Nah, baju yang tidak ia pakai lagi ini harus keluar dari lemari. Pertanyaannya, mau dikemanakan? Ia pun kemudian memutuskan untuk berkeliling membagikan bajunya untuk gelandangan.

Saat berkeliling membagikan baju, ia melihat seorang yang masih remaja duduk lesu sendirian di pinggir sebuah ruko. Ia pun mampir dan meminta anak remaja ini memilih mana yang ia mau. Remaja ini terlihat senang dan memilih beberapa potong dengan wajah cerah. Karena merasa kasihan, teman saya pun memberikan beberapa potong roti yang kebetulan sempat ia beli sekalian keluar. Saat ia hendak pulang, remaja ini malu-malu mengulurkan tangan dengan mata berkaca-kaca. Teman saya bertanya, kenapa ia mau menangis? Ia berkata: "Hari ini sebenarnya hari ulang tahun saya, kak. Saya tidak punya siapa-siapa lagi, dan tadi saya sedang sedih harus dalam kondisi seperti ini di saat ulang tahun saya. "Ternyata kakak datang dan memberi saya baju-baju yang bagus banget, juga kue. Siapa sangka saat hari sudah larut malam tiba-tiba saya dapat hadiah seperti ini? Terima kasih kak." katanya. Mengetahui hal itu, teman saya kemudian pergi membeli sebatang lilin dan duduk di emperan merayakan ulang tahunnya, lalu berdoa buat anak remaja tersebut.

Saat ini remaja itu sudah tidak tahu pindah kemana. Beberapa kali ia cari tidak ketemu. Ia mengaku masih terus mendoakan dan berharap kelak bisa ketemu lagi. Pengalaman ini membuka pemahamannya bahwa kebahagiaan dalam memberi itu sungguh luar biasa rasanya, dan ternyata kita tidak selalu harus punya uang banyak terlebih dahulu untuk bisa memberi. Sesuatu yang sederhana hanya dengan menggunakan apa yang ada pada dirinya dan tidak ia butuhkan lagi ternyata bisa begitu berharga buat orang lain, apalagi kalau datangnya pada saat yang tepat. Paradigma berpikirnya berubah. "Saya sekarang tahu bahwa saya harus periksa dulu apa yang saya punya dan bisa berikan juga lakukan untuk orang lain." katanya.

Ada banyak orang yang berpikir seperti cara berpikirnya sebelum ia mendapatkan pengalaman tadi. Sudah menjadi sifat manusia untuk selalu melihat apa yang tidak dipunyai ketimbang memperhatikan betul-betul apa yang ada pada mereka untuk diolah semaksimal mungkin. Kita sibuk mengejar yang kita belum atau tidak punya ketimbang bersyukur dan menggunakan potensi yang sudah ada pada kita. Yang ada dibiarkan menganggur, yang belum ada diburu. Salah satu penyebabnya adalah sifat manusia yang cenderung sulit merasa puas dan terus saja menginginkan lebih dan lebih lagi. Ada peribahasa mengatakan "rumput tetangga lebih hijau lebih hijau dari rumput sendiri". Itu menggambarkan sifat manusia yang selalu merasa kurang dan ingin bisa seperti orang lain. Anehnya, banyak orang yang terus mencari dan mencari tanpa pernah mengetahui apa sebenarnya yang mereka butuhkan dan apa yang bisa mereka lakukan dengan potensi yang mereka miliki.

Jika tidak hati-hati kita bisa terjebak pada rasa iri hati. Dan itu bisa sangat berbahaya, "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Kejahatan-kejahatan dan berbagai jenis dosa mengintip disana, siap menerkam kita. Kalau untuk hidup sendiri saja kita tidak kunjung puas, apalagi dalam hal melayani atau menolong orang lain. Betapa seringnya kita merasa tidak mampu atau belum cukup mampu, karena itu tadi, kita memandang kepada apa yang tidak atau belum kita punya ketimbang memeriksa apa yang ada pada kita.

Kalau cara berpikir seperti ini dipelihara, kita tidak akan pernah merasa mampu dan akibatnya kita tidak kunjung melakukan sesuatu yang bisa membawa dampak baik buat orang lain. Kita tidak bisa menjadi terang dan garam, kita tidak bisa menjadi saksi Kristus di dunia. Padahal kalau saja kita mengetahui potensi diri dan apa yang ada pada kita, mungkin sejak dulu kita bisa mulai menjadi murid-murid Kristus yang berdampak nyata di tempat di mana kita berada. Mengetahui potensi diri sungguh penting baik untuk kemajuan diri kita sendiri maupun dalam mengalirkan kasih Allah lewat perbuatan-perbuatan baik secara nyata.

(bersambung)


Monday, July 2, 2018

Simon Sang Penyamak Kulit (5)

(sambungan)

Simon sang penyamak melakukan pekerjaan yang dianggap kotor oleh orang Yahudi. Produk yang ia hasilkan dibutuhkan, tapi ia sendiri disisihkan dari lingkungan. Tapi Simon tetap setia melakukan pekerjaannya. Saya percaya Tuhan berkenan kepadanya sehingga ia dan rumahnya dipakai Tuhan sebagai bagian dari datangnya keselamatan atas orang lain di kota yang berjarak 60 kilometer-an dari tempat tinggalnya. Dan ia pun tercatat dalam Alkitab. Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui tentang dirinya karena tertutupi kisah Tabita alias Dorkas dan kemudian kisah dibaptisnya prajurit bernama Kornelius bersama orang-orang yang berkumpul disana yang mendengar pemberitaan Petrus. Tapi yang jelas, nama Simon sang Penyamak ditulis di dalam Alkitab. Bukan cuma satu kali tapi tiga kali. Itu menunjukkan bahwa perannya penting dalam pemberitaan Injil dan pertobatan orang-orang lewat pelayanan para rasul.

Tabita alias Dorkas hanyalah penjahit di kota pelabuhan yang kecil di barat daya Laut Tengah (sekitaran Tel Aviv di jaman sekarang). Di kota yang sama ada Simon, seorang yang melakukan pekerjaan bau dan kotor. Tapi dari keduanya kita bisa melihat besarnya curahan kasih karunia keselamatan dan mukjizat Tuhan turun atas orang-orang bukan cuma di kota mereka tapi hingga ke kota lain. Pekerjaan mereka yang tidak dianggap istimewa oleh manusia ternyata sanggup menghasilkan hal-hal luar biasa saat Tuhan bekerja lewat mereka.

Apa yang kita kerjakan hari ini? Sebagian dari kita mungkin merasa bahwa pekerjaan kita rendah, tidak terpandang, atau bahkan kotor seperti Simon sang Penyamak. Mungkin juga ada di antara teman-teman yang merasa punya masa lalu atau sedang berada pada titik yang 'kotor' sehingga tidak layak untuk melayani Tuhan. No, that's not true. Dari kisah ini kita belajar bahwa apapun pekerjaan kita, seperti apapun manusia menilainya, apabila pekerjaan itu berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, Tuhan bisa pakai itu untuk menyatakan kemuliaanNya, bahkan mendatangkan keselamatan buat orang lain. Tidak perlu merasa rendah diri, tidak perlu membandingkan dengan pekerjaan orang lain yang kelihatannya lebih baik. Just do your job the best you can, and be thankful for it. Selain apa yang anda kerjakan bisa berdampak luar biasa bagi orang lain, jika Tuhan mendapati anda bisa dipercaya untuk perkara kecil, Tuhan akan percayakan perkara lebih besar lagi kelak saat waktunya tiba.

Apa yang kotor atau rendah dalam anggapan manusia belum tentu rendah dalam pandangan Tuhan. Sebaliknya, apa yang dianggap hebat oleh manusia belum tentu pula dianggap sama oleh Tuhan. Tuhan tidak memandang manusia dari tinggi rendahnya pekerjaan. Tuhan tidak memandang muka, melainkan melihat hati (1 Samuel 16:7). Hati yang takut akan Tuhan, hati yang mengasihi, hati yang menyembah, hati yang rindu membawa jiwa-jiwa, hati yang rindu melayani, hati yang taat, hati yang mampu menggerakkan pemiliknya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan bukan manusia tanpa memandang besar kecilnya pekerjaan itu.

Pandanglah hati tokoh-tokoh yang ada pada renungan hari ini. Hati Petrus, hati Tabita, hati Simon dan hati Kornelius. Lihatlah bagaimana mereka mendapat perkenanan Tuhan dan bisa menjadi inspirasi hingga ribuan tahun sesudah masa hidup mereka. Tuhan menanti kita untuk memiliki sikap hati yang sama. Lakukan itu, dan lihatlah kelak betapa luar biasanya Tuhan bekerja atas diri, hidup dan pekerjaan anda.

God continues to work miracles in our lives, including through our works 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 1, 2018

Simon Sang Penyamak Kulit (4)

(sambungan)

Sesampainya mereka di Kaisarea, Petrus mengatakan kepada Kornelius dan orang-orang disana: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku dipanggil, lalu datang ke mari. Sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu memanggil aku." (ay 28-29). Lihatlah bahwa penglihatannya di atas rumah menyiapkannya untuk bertemu dengan Kornelius.

Pada masa itu orang Yahudi dilarang keras bergaul dengan non Yahudi, juga tidak boleh masuk ke dalam rumahnya. Tapi lewat penglihatan itu, Petrus sadar bahwa ia tidak boleh menyebut orang non Yahudi sebagai orang yang najis atau tidak tahir. Petrus menyadari bahwa penglihatannya bukan soal halaldan tidak halalnya makanan menurut hukum Israel tapi juga tentang sesama manusia. Dia mendapat pencerahan bahwa Tuhan menerima siapa saja yang bertobat dan taat kepadaNya.

Itulah yang ia katakan kepada orang-orang disana setelah mendengar penjelasan Kornelius tentang alasan pemanggilannya. "Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang." (ay 34-36).

Saya menganjurkan teman-teman untuk membaca kelanjutannya karena disana tercatat dengan jelas semua yang dikatakan Petrus akan hal ini. Dalam ayat 44 kita bisa melihat bahwa kemudian Roh Kudus turun atas semua orang yang mendengar pemberitaan Petrus. Orang Yahudi yang ada disana pun tercengang melihat fakta, bahwa ternyata karunia Roh Kudus pun dicurahkan kepada bangsa-bangsa lain diluar Yahudi. Maka Kornelius dan orang-orangnya yang saleh seperti dirinya kemudian dibaptis dalam nama Yesus.

Bayangkan seandainya tidak ada kisah Tabita, Petrus tidak akan pergi dan menginap sebentar di Yope. Bayangkan seandainya tidak ada rumah Simon sang Penyamak, Petrus mungkin sudah melanjutkan lagi perjalanannya dan tidak bertemu dengan Kornelius. Tempat Simon sang penyamak yang kotor dan bau dan penglihatan yang didapatnya mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghakimi orang-orang yang belum percaya. Mereka sama seperti kita, layak untuk menerima keselamatan, mendapat karunia Roh Kudus apabila mereka menjalankan hidup yang berkenan di hadapan Allah. Apa yang dipandang kotor atau bahkan najis oleh manusia ternyata bisa dipakai Tuhan sebagai awal datangnya keselamatan bagi orang lain! Itu adalah poin penting berikutnya.

(bersambung)


Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...