Friday, October 7, 2016

Belajar, Belajar dan Belajar (1)

Ayat bacaan: Amsal 1:5
======================
"baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan"

Anda tentu tahu rumus E=MC2. Rumus ini menggambarkan kesetaraan energi dengan massa benda sebagai implikasi dari teori relativitas oleh salah satu ilmuwan paling terkenal, Albert Einstein. Kalau ia tidak pernah hidup, sepertinya sejarah dunia bisa sangat berbeda. Dan alasannya ada banyak. Salah satunya adalah bahwa rumus E=MC2 itu merupakan dasar dari ditemukannya bom atom. Hebatnya, rumus ini bukanlah satu-satunya buah pikiran jenius dari Einstein. Sepanjang hidupnya ia menerbitkan tak kurang dari 300 karya ilmiah plus 150 karya non ilmiah.

Dua tahun lalu ada sebuah universitas yang merilis makalah-makalah Einstein, dan ternyata jumlahnya mencapai 30.000 dokumen yang berbeda. Kalau mau yang lebih hebat lagi, tidak banyak yang tahu kalau Einstein piawai memainkan musik-musik karya maestro mulai dari Mozart sampai Beethoven memakai biola. Dan yang saya salut, ia terus berkarya dan sesekali bermain musik buat momen-momen khusus hingga akhir hayatnya di usia 76 pada tahun 1955. Ia terus berkarya, artinya ia terus belajar sambil melakukan banyak penelitian.

Sampai di usia 76, orang sekelas Einstein pun masih belajar. Bukankah aneh kalau banyak orang yang masih sangat jauh di bawah Einstein malah merasa sudah terlalu 'kenyang' belajar pada usia muda?

Saya juga terinspirasi dari ayah saya. Ia sudah menjadi dokter sejak di awal tahun 70an. Sekitar 30 tahun setelahnya, ia mengagetkan saya dengan mengambil kuliah bidang hukum dan lulus dengan gelar SH. Dokter dan Sarjana Hukum sekaligus. Satunya dia peroleh di usia 60 tahun lebih. Hari ini ia sudah berusia lebih dari 3/4 abad dan masih sangat aktif. Ia masih sering bercerita tentang kegiatan-kegiatan maupun buah pikirannya pada saya dengan penuh semangat meski harus via telepon.

Apa yang ia bilang sangat menarik buat saya dari Einstein dan ayah saya adalah semangat belajar mereka yang tak pernah kendor. Usia mungkin menggerogoti kekuatan fisik mereka, tapi otak mereka tetap lapar untuk belajar lebih banyak lagi. Satu hal yang pernah dikatakan ayah saya adalah kita harus mensyukuri hidup dan apapun yang sudah diberikan Tuhan pada kita hari ini. Dan kita harus tetap belajar, mempergunakan kemampuan otak secara maksimal untuk menyerap ilmu dan kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan. Itu adalah perwujudan dari rasa syukur kita, katanya.

Saya pun jadi ingat kata seorang teman saya yang juga tidak berhenti belajar di bidangnya yaitu seni tarik suara. Katanya ia tidak ingin menjadi buah yang matang, karena kalau buah sudah matang itu artinya hanya tinggal tunggu busuk. Saat orang ingin menjadi matang, ia justru ingin terus pada posisi belajar agar bisa bertumbuh lebih dan lebih lagi. Seperti ayah saya, ia juga bersyukur, tapi tidak mau merasa cukup lalu berhenti. Ia juga berkata bahwa ada begitu banyak ilmu yang sangat menarik tapi belum ia kuasai. Karenanya ia terus berusaha mengolah talentanya untuk terus lebih dan lebih lagi.

Ini sangat menginspirasi saya, karena disaat yang sama saya berhadapan dengan banyak orang yang cepat berpuas diri dan tidak lagi mau mengembangkan kapasitasnya. Mereka puas dengan apa yang ada pada mereka dan seperti hidup tanpa semangat lagi. Dari hari ke hari sama, bagai robot yang diprogram melakukan hal berulang secara rutin tanpa adanya keinginan, semangat atau gairah untuk melakukan pencapaian-pencapaian baru.

Padahal Tuhan tidak membayangkan robot saat menciptakan kita. Kita diciptakan sesuai imageNya sendiri dan diberi kehendak bebas. Dia memberi kita talenta dan kemampuan untuk terus meningkat, mengembangkan kapasitas hingga mencapai tahapan-tahapan diluar apa yang kita anggap sebagai batas kemampuan kita. Terus maju sesuai rencanaNya dan berbuah lebat disana.

(bersambung)


Thursday, October 6, 2016

Siapa yang Berkuasa dalam Hati Kita? (2)

(bersambung)

Ini adalah sebuah panggilan untuk menguduskan, menjadikan dan mendeklarisasikan Yesus sebagai Penguasa tertinggi dalam hidup kita. Dan Petrus jelas mengatakan bahwa itu harus dilakukan pada hati yang tidak lain merupakan sumber kehidupan. Hatilah yang menjadi pusat kerajaan, dan siapa yang berkuasa disana akan sangat menentukan siapa dan bagaimana diri kita hari ini.

Sumber kehidupan? Ya, hati adalah sumber kehidupan. Dalam Amsal tertulis: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Mengapa hati harus dijaga dengan segala kewaspadaan? Jawabannya bisa kita peroleh lewat apa yang dikatakan Yesus: "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan." (Markus 7:21-22).

Injil Matius menuliskannya seperti ini: "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." (Matius 15:19). Keduanya berisi kejahatan-kejahatan yang cukup mengerikan bukan? Dan Yesus berkata: "Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Markus 7:23). Jika demikian jelaslah bahwa sangat penting bagi kita untuk menguduskan hati kita lalu terus mempertahankan dan menjaga kekudusannya.

Kita tidak mungkin bisa menjaga kemurnian atau kekudusan hati kalau masih membiarkan hal-hal selain Tuhan Yesus untuk menjadi Penguasa di dalamnya. Nasib sebuah negara atau kerajaan akan sangat tergantung dari siapa pemimpin atau rajanya. Kualitas produk akan tergantung dari produsennya. Seperti itu pulalah hidup kita. Dan hati, sebagai pusat dari kehidupan butuh Sosok Pemimpin atau Penguasa  yang benar agar bisa mengeluarkan produk-produk yang benar pula.

Ada seruan penting yang harus kita camkan.harus kita perhatikan: "sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:16). Tuhan itu kudus, jadi tidak akan bisa dihampiri oleh yang cemar. Hal ini tidaklah main-main. Kita harus mengejar kekudusan, "sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Untuk menjadikan Yesus sebagai Raja yang bertahta dalam hati kita, kita harus mematikan segala sesuatu yang bisa merusak atau menggagalkan hal itu. Keinginan daging, hawa nafsu, godaan-godaan, pengaruh-pengaruh buruk dan lain-lain, semua itu haruslah bisa kita matikan. Tanpa itu hati kita tidak akan pernah bisa menjadi tempat Yesus memerintah sebagai Raja. Dan kita harus sadar bahwa semua ini bergantung dari kita sendiri.

Sekarang waktunya untuk memeriksa hati kita. Seperti apa kondisi hati kita saat ini? Siapa yang memerintah disana? Ada banyak oknum di dalam diri kita masing-masing yang ingin memegang kendali atas hidup kita. Jangan-jangan tanpa disadari Tuhan sudah terpinggirkan sejak lama dalam hati kita. Hanya menempati sebagian kecil saja disana atau bahkan tidak punya tempat lagi, sementara hal-hal lainnya justru lebih berkuasa atas hati kita. Banyak orang terpengaruh oleh pengajaran dunia yang mengatakan bahwa itu adalah sebuah wujud kebebasan, tetapi sesungguhnya sebuah kebebasan sejati hanya akan datang jika kita mengijinkan Yesus sendiri untuk berkuasa atas hati dan hidup kita.

Mari periksa hati kita masing-masing, dan tetapkanlah penguasa disana dengan benar. Bukan saja itu akan menentukan produk seperti apa yang kita tampilkan dalam hidup, tapi itu juga akan sangat menentukan masa depan dan kelangsungan hidup kita.

Start with Jesus, stay with Jesus, end with Jesus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, October 5, 2016

Siapa yang Berkuasa dalam Hati Kita? (1)

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:15
==================
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!"

Suatu kali saya berkunjung ke sebuah pabrik obat nyamuk. Dari pabrik itu kemudian keluar berbagai jenis produk, mulai dari obat nyamuk semprot, cairan berikut pompanya dan obat nyamuk bakar. Ada berbagai tipe, baik ukuran, aroma dan sebagainya. Semua itu diproduksi dari satu pabrik yang sama, lantas produk-produknya didistribusikan ke banyak tempat penjualan seperti hpyermarket, supermarket, mini market maupun kedai-kedai kecil. Ibarat pabrik, hati pun mirip seperti itu. Hati memproduksi berbagai 'produk' yang kemuian keluar dari dalam diri manusia.

Hati bisa mencetak produk-produk yang baik dan bermanfaat seperti rendah hati, jujur, berintegritas, ramah, sopan, sabar, ulet dan tabah. Tapi hati yang sama bisa juga memproduksi hal-hal yang buruk seperti sifat yang mengganggu atau membuat orang lain kesal, sikap hanya mau menang sendiri, memaksakan kehendak, ketus, congkak, penuh kebencian, pendendam, senang menggerutu, bereaksi negatif terhadap segala sesuatu, mudah putus asa, gampang kecewa dan berbagai kepahitan baik terhadap orang lain, situasi/keadaan maupun kepada Tuhan. Kalau kita pikirkan, hati sebenarnya sangat menentukan wawasan manusia, cara pandang dalam menyikapi berbagai hal maupun keputusan-keputusan yang diambil dalam hidup. Hati adalah penentu seperti apa kehidupan kita yang akan sangat menentukan pula kemana nantinya kita akan melangkah setelah fase yang sekarang selesai.

Lantas apa yang menentukan hati kita? Apa yang menentukan produk seperti apa yang dihasilkan hati kita? Kalau pabrik akan tergantung dari pemiliknya, apa yang menentukan bentuk produk yang dihasilkan hati pun sama, yaitu siapa yang bertahta/berkuasa disana.

Secara umum ada tiga kandidat yang bisa mengambil posisi sebagai pemimpin hati, yaitu:
- diri sendiri
- Tuhan
- iblis.

Orang yang hatinya berpusat pada diri sendiri akan merasa dirinya adalah paling absolut, pusat dari segalanya. Keputusan yang mereka ambil. Mutlak, absolut, tidak bisa dibantah, tidak menerima masukan dan meski salah, mereka tetap merasa paling benar. Self-centered people akan tampil penuh ego, mementingkan diri sendiri dan tidak akan ragu mengorbankan orang lain jika perlu. Tingginya ilmu, kepintaran atau talenta yang diberikan Tuhan secara istimewa sering secara ironis membuat orang lupa kepada Sang Pemberi lalu mengarah kepada sikap bermegah berlebihan terhadap diri sendiri. Merekalah yang berkuasa, paling hebat dan yang lain berada di bawah mereka. Termasuk Tuhan.

Selanjutnya, orang yang dipengaruhi si jahat tentu akan mencerminkan perbuatan-perbuatan si jahat. Hidup orang yang hatinya dikuasai iblis akan membuat orangnya terus berkubang dalam berbagai dosa. Dosa dinikmati tanpa perasaan bersalah. Hati nurani tertutup, berbagai pelanggaran terasa wajar dan dilakukan dengan senang hati. Mereka terus mengemplang kebenaran, sanggup bersikap kejam terhadap orang lain, menghalalkan segala cara demi kepuasan diri sendiri. Ada banyak pula yang berusaha menyesatkan orang lain. Mencuri, membunuh ; kalau tidak secara fisik, membunuh karakter atau harga diri orang lain;, menyakiti orang lain, bentuk-bentuk pemuasan hawa nafsu dalam berbagai bentuk mudah dilakukan tanpa pikir panjang. Berbohong atau menipu jadi kebiasaan sehari-hari yang biasa saja atau bahkan terasa lucu. Pada kondisi berat orang-orang yang hatinya dikuasai iblis bisa melakukan kejahatan dengan cara-cara sadis tanpa perasaan. Dalam kondisi-kondisi ekstrim, orang-orang yang hatinya dikuasai iblis cenderung bergantung/dikuasai atau terhubung dengan kuasa gelap atau okultisme. Tidak jarang mereka ini akan membawa persembahan-persembahan kepada si jahat atau sering dibawah pengaruh iblis seperti mendengar bisikan-bisikan untuk melakukan kejahatan dan sebagainya.

Lebih jauh akan hal ini, perhatikan bahwa Efesus 6 sudah mengatakan tentang struktur kerajaan iblis. "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Kerajaan iblis tampil mulai dari pemerintah tertingginya hingga jajaran dibawahnya sampai ke penghulu-penghulu. Itulah yang harus kita waspadai, karena bentuk-bentuk kaki tangannya yang terkecil yang bisa luput dari perhatian kita justru bisa menjadi penghancur utama. Kerajaan yang tidak kelihatan ini berisi banyak tipu muslihat yang membawa dampak kerusakan parah pada manusia. Kalau kondisi tubuh dan jiwa masih kerap menjadi perhatian kita, tetapi manusia juga dibangun atas roh, yang akan menjadi titik serang paling rawan. Perjuangan melawan kuasa si jahat akan terus berlangsung. Oleh karenanya sangatlah penting untuk mengetahui strategi dan prinsip-prinsip iblis agar kita tidak terjebak dan tetap keluar sebagai pemenang, seperti halnya Yesus yang sudah mengalahkan kuasa mereka di kayu salib 2000 tahun lalu.

Yang baik tentu saja adalah mengijinkan Kristus bertahta, memerintah atas hati kita. Bukan berpusat pada diri sendiri apalagi pada iblis, tetapi berpusat pada Kristus beserta kebenaran Kerajaan Surga. Petrus mengatakan sebuah pesan penting yang mengenai hal ini dengan tegas dan jelas. "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" (1 Petrus 3:15). Dalam bahasa Inggris (amplified) ayat ini berbunyi: "But in your hearts set Christ apart as hold (and acknowledge Him) as Lord." Ada versi lainnya yang ditulis sebagai berikut: "Sanctify the Lord God in your hearts."

(bersambung)


Tuesday, October 4, 2016

Salomo dan Ratu Syeba (2)

(sambungan)

Ratu Syeba akhirnya mengakui bahwa apa yang ia dengar sebelumnya tentang Salomo memanglah tidak berlebihan (ay 6), bahkan sesungguhnya ia mendapati lebih dari apa yang ia dengar. Begitu terpukaunya ratu Syeba hingga ia berkata "sungguh setengahnyapun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar." (ay 7).

Yang menarik, selanjutnya ratu Syeba kemudian memuji Tuhannya Salomo. "Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran." (ay 9). Lihatlah hikmat yang diperoleh Salomo dari Tuhan yang ia pakai sebaik-baiknya untuk mengurusi rakyatnya ternyata mampu dilihat dan dirasakan orang lain dengan nyata. Ratu Syeba bisa melihat betapa hebatnya Tuhan lewat diri Salomo secara langsung. Mereka bisa melihat sebuah bukti nyata sehingga tidak bisa berdalih lagi,  bahkan kemudian membuat mereka tidak tahan untuk memuji Tuhan secara langsung.

Bicara soal dalih, mungkin kita tidak memiliki hikmat sehebat Salomo. Itu benar. Tapi jangan lupa bahwa kepada kita sebenarnya Tuhan telah memberikan talenta-talenta tersendiri yang tentu bisa dipergunakan untuk menyatakan kebenaran tentang Tuhan kepada orang-orang lain. Dengan kata lain, orang bisa mengenal Tuhan lewat diri kita. Orang bisa memuji Tuhan lewat cara hidup kita. Sebaliknya, orang bisa pula mendapatkan pemahaman-pemahaman yang salah lewat perilaku kita yang tidak terpuji dan bertentangan dengan firman Tuhan, orang bisa menjadi malah anti pati terhadap Kristus gara-gara perilaku buruk yang kita pertontonkan. Yesus sudah mengatakan bahwa "hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16). Itulah yang menjadi kewajiban bagi setiap orang percaya. Sejauh mana kita serius mengaplikasikan hal itu dalam kehidupan kita sehari-hari akan memberi pengaruh terhadap sejauh mana orang bisa mengenal Kristus secara benar.

Ini saatnya bagi kita untuk memeriksa diri sampai sejauh mana kita sudah mencerminkan kebenaran lewat sikap hidup kita. Tingkatkan yang baik, terus berproses sehingga kita semakin mengarah kepada tujuan kita yang paling utama, yaitu serupa dengan Kristus. Semua yang jelek harus sesegera mungkin kita perbaiki. Pertanyaan mampukah saya menjadi sebuah cerminan Kristus yang baik, atau jangan-jangan saya masih merupakan batu sandungan bagi banyak orang harus tetap kita ingat dalam segala sesuatu yang kita lakukan atau tunjukkan dalam hidup ini. Sebagai anak-anak Tuhan kita seharusnya bisa menjadi sumber bagi orang lain untuk mengenalNya secara benar. Tidak sekedar mengenal sosok Tuhan yang kita sembah, tetapi juga memuliakan dan memujiNya. Ini sebuah tanggungjawab yang harus kita emban dalam segenap hidup kita.

Salomo menunjukkan bagaimana ia bisa memakai apa yang telah dihadiahkan Tuhan kepadanya dengan baik sehingga lewat semua itu Tuhan kemudian dipermuliakan. Salomo menyatakan Tuhan secara nyata sehingga orang tidak dapat berdalih melainkan mengakui. Kisah perjumpaan Salomo dan ratu Syeba ini hendaknya membuka pikiran kita bahwa ada peran penting kita di dunia ini untuk menjadi representatif yang benar mengenai Tuhan dan kebenaran Injil KerajaanNya.

Mari kita sama-sama renungkan hari ini. Sudahkah kita menerangi orang lain dengan terang Tuhan yang ada pada kita? Sudahkah kita menjadi surat Kristus, yang bukan ditulis dengan tinta melainkan dengan Roh dari Allah yang hidup seperti yang tertulis dalam 2 Korintus 3:3? Sejauh mana kita sudah menyatakan prinsip Kerajaan lewat cara hidup kita? Marilah kita memperhatikan baik sikap, perilaku, cara, gaya dan karakter hidup kita agar kita jangan sampai menjadi batu sandungan yang bisa membuat orang malah semakin jauh dari melihat kebenaran.

Kenalkan Yesus secara benar melalui diri kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, October 3, 2016

Salomo dan Ratu Syeba (1)

Ayat bacaan: 1 Raja Raja 10:9
=================
"Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran."

Hari ini saya dapat sebuah ayat yang rasanya tidak asing lagi bagi kita. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Untuk menyadari bahwa Tuhan itu sungguh ada sebenarnya tidaklah sulit. Hanya dengan melihat apa yang ada di sekeliling kita saja kita sudah bisa mendapatkan lebih dari cukup bukti akan keberadaan Tuhan, kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya. Kalau kita memandang langit, ada bentangan awan yang begitu megah menghias angkasa, tanaman yang indah beraneka ragam warna, bahkan oksigen yang kita hirup tanpa harus bayar. Semua itu tentu harus ada yang menciptakan pertama kali. Sehingga aneh kalau masih ada orang yang meragukan keberadaan Tuhan dengan berbagai dalih. Kita berinteraksi dengan begitu banyak manusia lainnya yang tidak satupun ada yang persis sama, baik rupa, bentuk maupun sifat dan karakter. Itu pun sungguh menceritakan keberadaan Tuhan.

Tapi hari ini saya merenungkan lebih jauh lagi akan ayat ini, dan kemudian sampai pada sebuah pemikiran yang juga sederhana. Kalau kebenaran dan eksistensi Tuhan itu seharusnya tidak sulit untuk terlihat, bagaimana dengan peran kita sebagai orang percaya di dunia saat ini? Apakah kita sudah merepresentasikan kebenaran menurut prinsip Kerajaan secara benar atau kita malah masih jadi batu sandungan yang membuat orang menolak menerima kebenaran.Dengan kata lain, seandainya masih ada dalih yang disampaikan untuk menolak kebenaran, bisa jadi salah satu penyebabnya bisa jadi karena hati Bapa belum tercermin dari sikap dan perilaku kita, orang-orang percaya. Jangan-jangan orang belum bisa melihat cerminan Kristus lewat diri kita, atau malahan mendapat pemahaman yang salah akan Kristus lewat sikap kita.

Hari ini mari kita lihat kisah mengenai kunjungan ratu negeri Syeba ke Yerusalem ketika Salomo tengah memerintah sebagai raja (1 Raja Raja 10:1-13). Nama besar Salomo pada waktu itu sangat harum terdengar ke seantero negeri, hingga ke negeri ratu Syeba yang diperkirakan berasal dari Ethiopia atau Yaman. Ratu Syeba kemudian tertarik untuk membuktikan sendiri apakah benar Salomo itu benar-benar seperti yang sudah ia dengar.

Sang ratu pun datang membawa pertanyaan-pertanyaan sulit kepada Salomo. Mampukah Salomo menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit tersebut dengan hikmatnya? Lewat Alkitab kita bisa mengetahui bahwa "Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu." (ay 3). Ratu Syeba pun terpukau dengan hikmat yang dimiliki Salomo. Ia juga menyaksikan sendiri bagaimana kemakmuran negeri yang diperintah Salomo, tata krama orang-orang disana yang sungguh menginspirasi. Alkitab menggambarkannya demikian: "Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu." (ay 4-5).

(bersambung)


Sunday, October 2, 2016

Dicari Orang yang Jujur dan Tulus (2)

(sambungan)

Kita harus sadar bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan. Meski kita yang berusaha, semua itu kita peroleh atas ijin Tuhan. Bahkan segala talenta, bakat, kemampuan dan keahlian merupakan pemberian dari Tuhan juga. Akan halnya pemenuhan kebutuhan, kita tidak perlu takut kekurangan dan khawatir akan hari depan. Kalau kita sadar akan hal ini, buat apa kita harus melakukan tindakan-tindakan yang tidak jujur atau curang agar bisa mencukupinya? Kita tidak perlu merasa iri melihat orang lain, dan harus bisa belajar untuk mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Yakobus mengingatkan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Kita harus selalu menghindari berbuat curang yang akan segera mencermarkan hati kita.

Ada banyak juga orang yang tidak jujur ini mengira bahwa mereka bisa lolos kalau pintar menyembunyikan kejahatannya. Mungkin manusia bisa dikelabuhi, tapi Tuhan akan selalu melihat segala perbuatan kita. Dan Firman Tuhan berkata: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Secara tegas Tuhan juga sudah mengatakan: "Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. Sebab itu mereka akan rebah di antara orang-orang yang rebah, mereka akan tersandung jatuh pada waktu mereka dihukum, firman TUHAN." (Yeremia 8:12).

Orang bisa saja menganggap bahwa Tuhan tidak menghukum mereka saat ini dan berpikir bahwa mereka aman dari hukuman. Orang-orang jahat ini bisa saja pintar dalam menipu manusia, atau menghamburkan uangnya untuk menyuap penegak hukum agar terlepas dari jerat hukum. Sekarang mungkin lepas, tapi pada suatu ketika nanti hukuman Tuhan itu tetap akan tiba biar bagaimanapun. Akan datang waktunya dimana semua harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, dan disana tidak akan ada yang bisa berkelit lagi. Tidak bisa menyuap, tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain mengakui semuanya. Kalau begitu buat apa tidak jujur? Kepentingan sesaat di dunia fana diprioritaskan dari sebuah hidup yang kekal? Sesuatu yang nantinya kekal dikorbankan untuk sesuatu yang singkat masanya? Itu jelas tidak sebanding.

Dunia bisa jadi semakin lama semakin buruk. Orang saling hancur menghancurkan, saling menohok dan menjatuhkan. Tetapi kita orang percaya tidak boleh ikut-ikutan seperti itu. Dunia hari ini semakin kekurangan orang-orang yang punya hati murni dan berintegritas dengan kejujuran. Maka sebagai orang percaya kita seharusnya tampil beda dengan ketulusan dan kejujuran sebagai bagian dari kehidupan kekristenan yang sebenarnya.

Apapun alasannya, apapun resikonya, kita harus menjauhi kecurangan, kebohongan dan bentuk-bentuk penipuan. Belajarlah untuk senantiasa mempercayakan hidup ke dalam tanganNya dengan sepenuh hati. Tuhan menyediakan berkat-berkat bagi orang yang hidup dengan ketulusan, kejujuran dan kemurnian hati. "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Seperti itulah janji Tuhan. Lalu, "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1).

Dunia boleh saja memandang anda dengan sinis, melihat kita sebagai mahluk aneh, menertawakan kejujuran dan ketulusan sebagai suatu hal yang dianggap bodoh. Biar saja, karena semua itu tetap tidak sebanding dengan seperti apa kita terlihat di mata Tuhan. Bukan apa kata manusia yang penting, tapi bagaimana Tuhan memandang hidup kita itulah yang penting. Tuhan menjanjikan berkat dan keadilan bagi orang-orang yang hidup dengan tangan yang bersih dan hati yang murni. Tuhan menjamin hidup orang-orang jujur, sehingga kita tidak perlu harus berpikir jahat untuk bisa memenuhi kebutuhan hdup. Nikmati kebaikan Tuhan lewat hidup yang kudus dimana kejujuran berperan didalamnya. Tuhan sanggup memberkati anda berlimpah-limpah dan melindungi hidup setiap orang yang berjalan seturut kehendakNya.

Kejujuran merupakan bagian dari integritas yang harus menjadi gaya hidup orang percaya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, October 1, 2016

Dicari Orang yang Jujur dan Tulus (1)

Ayat bacaan: Mazmur 24:4-5
=======================
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia."

Seorang teman yang membuka gerai makanan di sebuah pujasera pernah bercerita tentang sulitnya mencari pegawai jujur. Sudah berkali-kali gonta-ganti, tetap saja ia bermasalah dengan kejujuran. Ditutup satu celah, ketemu celah lain. Begitu terus, dan ia pun bingung melihat realita ini. Mengapa makin susah mencari orang jujur? Entahlah. Mungkin alasannya faktor ekonomi, tapi saya pikir masalah jujur itu masalah karakter dan integritas masing-masing orang. Ada yang mulanya jujur, tetapi ketika ia melihat peluang, maka kejujuran pun tergerus oleh keinginan untuk bisa mendapatkan lebih dari yang seharusnya. Kalau kita lihat di surat kabar harian, ada banyak lowongan kerja tapi jarang sekali yang memasukkan kejujuran sebagai salah satu syarat utama. Mereka lebih tertarik untuk mencantumkan umur, pengalaman, tingkat pendidikan, gelar, kemampuan-kemampuan di luar pendidikan formal seperti bahasa, penguasaan komputer dan lain-lain. Bisa bekerja dalam tim, itu juga sering dijadikan syarat. Tapi kejujuran dan kesetiaan itu jarang.

Kejujuran adalah sebuah kualitas individu yang semakin lama semakin jarang ditemukan, dan ironisnya semakin pula tidak dianggap penting oleh sebuah perusahaan atau lembaga pencari kerja. Melihat hidup yang makin sulit, ada banyak tekanan yang cepat atau lambat akan mendorong mereka yang tadinya jujur untuk masuk ke dalam jerat kecurangan atau penipuan. Lihatlah semakin banyak orang yang tidak tulus dalam bekerja. Semua didasari pamrih, untung rugi dan sebagainya. Penipuan terjadi hampir di setiap lini. Karenanya kualitas orang-orang yang masih bisa bertahan dari tekanan dan terus menekankan hidup jujur akan terlihat sangat berbeda.

Saat orang jujur yang jumlahnya sedikit ini dijumpai, sebagian akan kagum, sebagian lainnya akan memandang mereka sebagai 'mahluk-mahluk' aneh yang dianggap membuang-buang kesempatan untuk bisa mendapatkan lebih dari seharusnya. Orang semakin cenderung berpikir pendek dan mementingkan urusan duniawi lantas dengan gegabah mengabaikan dampaknya bagi kekekalan. Apa yang dikatakan Daud dahulu: "Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik" (Mazmur 14:1), masih terjadi bahkan mungkin tambah jelas sebagai kenyataan hari ini. Orang tidak lagi memikirkan pertanggungjawaban kelak di hadapan Tuhan.

Masih mending kalau orangnya memang tidak percaya Tuhan. Tapi ada banyak yang percaya, bahkan masih terus melakukan kewajiban-kewajiban agamanya. Mereka tentu tahu bahwa Allah itu ada, tetapi mereka mengira bahwa Tuhan tidak akan menghukum karena mereka menyalah artikan bentuk kasih dan kesabaran Tuhan yang besar dan panjang, taking the meaning of 'grace' for granted. Bentuk ilusi rohani seperti inipun sudah disinggung dalam Alkitab. "Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?" Dengan cara kamu menyangka: "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan--atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?" (Maleakhi 2:17). Bukankah itu yang seringkali kita lihat? Bukankah kita melihat sendiri banyak orang dengan tenang melakukan kecurangan karena memiliki pola pikir menggampangkan Tuhan seperti itu di jaman sekarang?

Masalah kejujuran itu merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan. Tuhan memberi penghargaan yang sangat tinggi bagi orang-orang yang jujur. Salah satunya bisa kita lihat dalam ayat berikut: "Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin." (Yesaya 33:15-16).

Selain janji Tuhan yang sangat indah ini, ada firman lainnya yang berbunyi: "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Orang yang bersih tangannya (jujur) dan murni hatinya (tulus), yang tidak tergoda pada kecurangan, itulah yang berkenan di hadapan Tuhan. Bersih tangannya, berarti menjauhi bentuk-bentuk penipuan, menjauhi kecurangan dan tidak gampang tergoda oleh keuntungan-keuntungan lewat jalan yang salah. Murni hati itu artinya hati tidak terkontaminasi/tercemar oleh berbagai motif-motif tersembunyi dalam melakukan sesuatu, tidak pamrih, tidak ada politik kepentingan dalam perbuatan, bersih hatinya. Kepada mereka-mereka yang seperti ini Tuhan mengganjar berkat juga akan diselamatkan dengan keadilan yang langsung berasal dari Tuhan. Inilah upah besar yang dijanjikan Tuhan bagi orang yang hidup jujur dan tulus.

Sebuah kasih dalam tingkatan seperti yang diinginkan Tuhan mengandung kebaikan-kebaikan yang mencakup kejujuran dan ketulusan. Lihatlah rinciannya yang disampaikan Paulus. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Dalam penjabaran kasih pada ayat ini terkandung bentuk-bentuk hidup dengan hati yang murni berisi kejujuran. Artinya jika kita mengaku hidup dalam kasih Tuhan, seharusnya sikap hati seperti inilah yang terpancar dari kehidupan kita. Bagaimana mungkin orang yang tidak jujur, tidak murni hatinya masih berani mengaku punya kasih dalam dirinya? Dan bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki kasih mengaku mengenal Allah? Sebab ada dikatakan "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8).

(bersambung)


Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...