(sambungan)
Yitro kemudian memberi masukan kepada Musa, memberi usulan agar Musa bisa memakai strategi yang lebih baik, menyusun struktur kepemimpinan yang akan bisa membantu Musa dalam menyelesaikan setiap permasalahan secara lebih cepat, efektif dan efisien. "Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya." (ay 21-22).
Yitro memberi usulan yang sangat baik agar Musa membuat sebuah sistem dengan membentuk kelompok-kelompok yang bertingkat yang masing-masing punya pimpinannya sendiri. Itu tentu akan jauh lebih mempermudah Musa dalam menjalankan perintah Tuhan. Inilah gambaran struktur kepemimpinan terawal yang dicatat dalam Alkitab. Musa terbukti merupakan pribadi yang rendah hati dan mau menerima masukan. Ia tidak menolak dan mendengarkan nasihat mertuanya. "Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya." (ay 24). Yitro pun bisa melihat langsung bagaimana menantunya memperbaiki sistem pelayanannya dengan melibatkan orang-orang yang cakap sebagai rekan sekerja sebelum ia pulang kembali ke negerinya. (ay 27).
Menariknya, dalam salah satu doa Musa di kemudian hari ia meminta Tuhan memberi hikmat kepadanya untuk mampu menghitung hari-hari. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12) Musa menyadari pentingnya meminta hikmat agar ia bisa membagi dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Musa belajar dari mertuanya dan menjadi lebih baik dengan pendelegasian, manajemen waktu (menghitung hari) dan penetapan skala prioritas dengan struktur yang baik. Kita pun tentu bisa belajar dari sana.
Apa yang penting adalah menyadari terlebih dahulu bahwa kita tidak akan sanggup mengerjakan semuanya sendirian. Kita perlu menyiasati banyak hal agar bisa memanfaatkan waktu secara optimal. Mungkin tidak mudah, apalagi bagi yang perfeksionis, tetapi itu harus kita lakukan agar hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi dalam banyak hal dan kita tidak harus mengorbankan banyak hal yang justru akan merugikan diri dan masa depan kita.
Paulus juga sudah mengingatkan kita untuk mempergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya, karena sesungguhnya hari-hari yang kita lalui ini adalah jahat. (Efesus 5:16). Kemampuan memanajemen waktu akan sangat berkaitan erat dengan kemampuan kita mendelegasikan tugas-tugas. Kita tidak akan bisa menyelesaikan semuanya sendirian, dan disaat yang sama meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga dan terutama untuk menikmati hadirat Tuhan. Kalau begitu caranya, mau 100 jam sehari pun tidak akan pernah cukup.
Hitung kemampuan anda dan tingkat prioritas, mana yang bisa anda lakukan, mana yang bisa diwakilkan. Atur skala prioritas dengan benar dan pastikan tidak tumpang tindih atau acak-acakan. Tanpa itu kita tidak akan bisa mengalami peningkatan. Waktu memang terbatas, tapi bukan berarti tidak cukup. Kita terbatas, tetapi bukan berarti kita harus jalan di tempat. Bersama Tuhan, milikilah hikmat untuk bisa menyusun jadwal perencanaan yang baik dan belajarlah untuk mempercayakan sebagian dari beban-beban anda kepada orang lain. Dalam banyak hal, itu justru akan mendatangkan manfaat bagi orang lain karena mereka bisa belajar dan bertumbuh untuk lebih baik pula. Memberi hasil terbaik itu tidak salah, bahkan merupakan sebuah keharusan bagi orang percaya. Tapi bukan berarti untuk itu kita harus menjadi perfeksionis 'mentok' tanpa kompromi. Itu justru merugikan pada akhirnya.
Apakah anda merupakan salah satu dari orang-orang yang hari ini sedang kelabakan dengan tugas-tugas karena merasa harus mengerjakan semuanya sendirian atau sudah melihat bahwa ada banyak hal lain diluar pekerjaan yang mulai terbengkalai atau retak sana sini? Anda mulai kelelahan karena masih melakukan semuanya sendirian, atau mulai lemah karena kondisi tidak fit akibat dari itu? Apakah anda merasa sulit mengalami peningkatan karena tidak sanggup melakukan lebih sebab masih terjebak melakukan semuanya sendirian? Anda bisa mulai memperbaikinya dari sekarang sebelum semuanya bertambah parah.
Kemampuan mendelegasikan merupakan bagian yang penting dalam manajemen waktu
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sunday, September 18, 2016
Saturday, September 17, 2016
Delegasi dan Manajeman Waktu (1)
Ayat bacaan: Keluaran 18:18
=======================
"Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja."
Menjadi orang yang perfeksionis itu tidak mudah. Saya bisa mengatakan itu karena saya termasuk orang yang seperti itu. Dahulu saya lebih suka melakukan semuanya sendirian karena saya merasa tidak akan ada orang yang bisa mengerjakan sebaik saya. Kemampuan yang terbatas ternyata membuat saya sulit untuk berkembang kalau melakukan pekerjaan sendirian. Waktu yang terbatas membatasi saya untuk bisa memperoleh lebih banyak proyek atau tugas dibanding kalau saya punya tim. Saya kemudian belajar untuk mempercayakan pekerjaan kepada orang lain. Untuk itu saya perlu mmengajarkan mereka tentang seluk beluk pekerjaan terlebih dahulu dan bagaimana cara melakukannya satu demi satu. Dan itu ternyata jauh lebih baik daripada menjadi single fighter.
Menjadi perfeksionis itu ada baik buruknya. Sisi baiknya, kita bisa mengharapkan hasil terbaik dari mereka. Soal keseriusan jangan ditanya lagi, tidak perlu diragukan. Mereka akan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka untuk menghasilkan sesuatu. Tapi sisi buruknya, manajemen waktu dari orang-orang perfeksionis benar-benar harus mendapat perhatian khusus kalau tidak mau semuanya menjadi berantakan. Selain bisa membuat orangnya mengalami gangguan kesehatan karena terlalu memforsir tenaga, mereka pun terbatas untuk bisa melakukan hal-hal lebih banyak. Orang yang perfeksionis cenderung mau mengerjakan semuanya sendirian karena sulit mempercayakan tugas kepada orang lain. Kalaupun punya bawahan, semua harus diperiksa secara teliti satu persatu supaya sempurna. Banyak karyawan yang mengeluh kalau kebetulan punya pimpinan perfeksionis karena itu artinya mereka harus bekerja ekstra, baik ekstra serius, ekstra jam alias lembur, sering pula harus bisa dihubungi kapan saja dan siap melakukan revisi, koreksi atau perubahan ini dan itu sesuai keinginan pimpinan dengan tipe perfeksionis.
Saya dahulu sulit mengatur waktu agar semua berjalan sesuai ekspektasi. Waktu 24 jam akan terasa sangat kurang karena semua sepertinya harus dikerjakan sendiri. Kelabakan, harus mengorbankan banyak waktu seperti waktu beristirahat, waktu untuk keluarga. Saya sering bertanya, bagaimana mungkin ada orang-orang yang sanggup mengerjakan jumlah kegiatan yang jauh lebih banyak dari saya tapi masih punya waktu untuk hal-hal lain yang sebenarnya tidak kalah penting dalam hidup? Apa rahasia mereka sehingga bisa bekerja di beberapa bidang sekaligus, membagi waktu untuk keluarga, berolahraga atau bahkan masih punya waktu untuk melayani? Dari sekian banyak orang seperti itu yang saya tanyakan saya menyimpulkan bahwa ada 3 hal penting yang mereka lakukan: Kemampuan membagi waktu alias manajemen waktu, penetapan prioritas yang terarah dan pendelegasian.
Tiga hal ini sulit dimiliki oleh orang yang perfeksionis, tapi sangatlah penting sebelum kondisi tersebut memakan kesehatan kita dan merusak kehidupan kita. Pekerjaan baik, hasil maksimal, tapi keluarga berantakan, waktu untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dikorbankan, waktu untuk bersosialisasi terpangkas sehingga sulit punya teman, terlebih hubungan dengan Sang Pencipta akan renggang atau bahkan terputus sama sekali. Itu bisa terjadi karena semuanya kalah prioritas, dilakukan tanpa manajemen waktu yang baik dan kebiasaan untuk memilih mengerjakan semuanya sendirian ketimbang membaginya kepada orang lain alias melupakan pentingnya delegasi tugas. Seorang pengusaha pernah memberikan nasihat yang membuka carkawala berpikir saya. "Anda harus belajar percaya kepada pekerjaan orang lain. Mungkin tidak persis seperti yang anda harapkan, tapi belum tentu hasilnya lebih buruk." Seperti itulah kira-kira katanya yang masih saya ingat sampai hari ini. Saya harus mampu melihat mana yang bisa diwakilkan dan mana yang benar-benar harus dilakukan sendiri. Mana yang menjadi prioritas dan seperti apa manajemen yang terbaik dari segi waktu. Itu merupakan hal-hal yang penting untuk dicermati terlebih bagi kita yang sangat sibuk.
Dalam Alkitab kita bisa belajar akan hal ini lewat Musa dan mertuanya, Yitro. Kita tahu bahwa Musa dipilih Allah secara langsung untuk sebuah tugas besar yang sangat berat, yaitu membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Bukan satu-dua orang yang harus ia tuntun tapi jumlahnya sangat besar. Masalah bertambah karena yang ia pimpin itu bukanlah sekumpulan orang yang tunduk dan taat, tapi pembangkang, tidak sabaran dan keras kepala. Itu sama sekali tidak mudah.
Dalam prakteknya Musa kerap menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada seluruh orang Israel yang ia pimpin dalam sebuah perjalanan yang menempuh rentang waktu sangat lama. Bukan cuma sehari dua hari atau seminggu, tapi mencapai 40 tahun. Musa menjiwai tugasnya dengan terjun langsung mengurus segalanya sendirian. Apa-apa ia yang harus turun tangan langsung. Menangani perselisihan, pertikaian, pertengkaran dan sebagainya. Bayangkan jumlah orang yang banyak dengan sifat umum keras kepala, kita sudah bisa memastikan bahwa masalah akan sangat sering muncul disana dan sangat banyak pula ragam dan jumlahnya. Musa turun tangan langsung menyelesaikan sendiri satu persatu. Dan itu jelas disebutkan dalam ayat berikut: "Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang." (Keluaran 18:13). Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang terjadi di antara sesama orang Israel yang memang hobi berseteru dan ribut tanpa ada habisnya. Kapan selesainya kalau seperti itu terus? Kalau kita yang menjalani mungkin kita bisa stres, depresi, darah tinggi atau bahkan mati muda.
Mertua Musa, Yitro memperhatikan hal tersebut dan prihatin melihat menantunya. Meski ia tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu merupakan hal yang baik, tapi ia pun tahu bahwa itu tidaklah efektif. Dia pun menanyakan "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" (ay 14). Musa menjelaskan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang. Benar, tapi bukan begitu juga caranya. Itulah kira-kira yang disampaikan Yitro. Katanya: "Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja." (ay 18). Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17).
(berrsambung)
=======================
"Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja."
Menjadi orang yang perfeksionis itu tidak mudah. Saya bisa mengatakan itu karena saya termasuk orang yang seperti itu. Dahulu saya lebih suka melakukan semuanya sendirian karena saya merasa tidak akan ada orang yang bisa mengerjakan sebaik saya. Kemampuan yang terbatas ternyata membuat saya sulit untuk berkembang kalau melakukan pekerjaan sendirian. Waktu yang terbatas membatasi saya untuk bisa memperoleh lebih banyak proyek atau tugas dibanding kalau saya punya tim. Saya kemudian belajar untuk mempercayakan pekerjaan kepada orang lain. Untuk itu saya perlu mmengajarkan mereka tentang seluk beluk pekerjaan terlebih dahulu dan bagaimana cara melakukannya satu demi satu. Dan itu ternyata jauh lebih baik daripada menjadi single fighter.
Menjadi perfeksionis itu ada baik buruknya. Sisi baiknya, kita bisa mengharapkan hasil terbaik dari mereka. Soal keseriusan jangan ditanya lagi, tidak perlu diragukan. Mereka akan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka untuk menghasilkan sesuatu. Tapi sisi buruknya, manajemen waktu dari orang-orang perfeksionis benar-benar harus mendapat perhatian khusus kalau tidak mau semuanya menjadi berantakan. Selain bisa membuat orangnya mengalami gangguan kesehatan karena terlalu memforsir tenaga, mereka pun terbatas untuk bisa melakukan hal-hal lebih banyak. Orang yang perfeksionis cenderung mau mengerjakan semuanya sendirian karena sulit mempercayakan tugas kepada orang lain. Kalaupun punya bawahan, semua harus diperiksa secara teliti satu persatu supaya sempurna. Banyak karyawan yang mengeluh kalau kebetulan punya pimpinan perfeksionis karena itu artinya mereka harus bekerja ekstra, baik ekstra serius, ekstra jam alias lembur, sering pula harus bisa dihubungi kapan saja dan siap melakukan revisi, koreksi atau perubahan ini dan itu sesuai keinginan pimpinan dengan tipe perfeksionis.
Saya dahulu sulit mengatur waktu agar semua berjalan sesuai ekspektasi. Waktu 24 jam akan terasa sangat kurang karena semua sepertinya harus dikerjakan sendiri. Kelabakan, harus mengorbankan banyak waktu seperti waktu beristirahat, waktu untuk keluarga. Saya sering bertanya, bagaimana mungkin ada orang-orang yang sanggup mengerjakan jumlah kegiatan yang jauh lebih banyak dari saya tapi masih punya waktu untuk hal-hal lain yang sebenarnya tidak kalah penting dalam hidup? Apa rahasia mereka sehingga bisa bekerja di beberapa bidang sekaligus, membagi waktu untuk keluarga, berolahraga atau bahkan masih punya waktu untuk melayani? Dari sekian banyak orang seperti itu yang saya tanyakan saya menyimpulkan bahwa ada 3 hal penting yang mereka lakukan: Kemampuan membagi waktu alias manajemen waktu, penetapan prioritas yang terarah dan pendelegasian.
Tiga hal ini sulit dimiliki oleh orang yang perfeksionis, tapi sangatlah penting sebelum kondisi tersebut memakan kesehatan kita dan merusak kehidupan kita. Pekerjaan baik, hasil maksimal, tapi keluarga berantakan, waktu untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dikorbankan, waktu untuk bersosialisasi terpangkas sehingga sulit punya teman, terlebih hubungan dengan Sang Pencipta akan renggang atau bahkan terputus sama sekali. Itu bisa terjadi karena semuanya kalah prioritas, dilakukan tanpa manajemen waktu yang baik dan kebiasaan untuk memilih mengerjakan semuanya sendirian ketimbang membaginya kepada orang lain alias melupakan pentingnya delegasi tugas. Seorang pengusaha pernah memberikan nasihat yang membuka carkawala berpikir saya. "Anda harus belajar percaya kepada pekerjaan orang lain. Mungkin tidak persis seperti yang anda harapkan, tapi belum tentu hasilnya lebih buruk." Seperti itulah kira-kira katanya yang masih saya ingat sampai hari ini. Saya harus mampu melihat mana yang bisa diwakilkan dan mana yang benar-benar harus dilakukan sendiri. Mana yang menjadi prioritas dan seperti apa manajemen yang terbaik dari segi waktu. Itu merupakan hal-hal yang penting untuk dicermati terlebih bagi kita yang sangat sibuk.
Dalam Alkitab kita bisa belajar akan hal ini lewat Musa dan mertuanya, Yitro. Kita tahu bahwa Musa dipilih Allah secara langsung untuk sebuah tugas besar yang sangat berat, yaitu membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Bukan satu-dua orang yang harus ia tuntun tapi jumlahnya sangat besar. Masalah bertambah karena yang ia pimpin itu bukanlah sekumpulan orang yang tunduk dan taat, tapi pembangkang, tidak sabaran dan keras kepala. Itu sama sekali tidak mudah.
Dalam prakteknya Musa kerap menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada seluruh orang Israel yang ia pimpin dalam sebuah perjalanan yang menempuh rentang waktu sangat lama. Bukan cuma sehari dua hari atau seminggu, tapi mencapai 40 tahun. Musa menjiwai tugasnya dengan terjun langsung mengurus segalanya sendirian. Apa-apa ia yang harus turun tangan langsung. Menangani perselisihan, pertikaian, pertengkaran dan sebagainya. Bayangkan jumlah orang yang banyak dengan sifat umum keras kepala, kita sudah bisa memastikan bahwa masalah akan sangat sering muncul disana dan sangat banyak pula ragam dan jumlahnya. Musa turun tangan langsung menyelesaikan sendiri satu persatu. Dan itu jelas disebutkan dalam ayat berikut: "Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang." (Keluaran 18:13). Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang terjadi di antara sesama orang Israel yang memang hobi berseteru dan ribut tanpa ada habisnya. Kapan selesainya kalau seperti itu terus? Kalau kita yang menjalani mungkin kita bisa stres, depresi, darah tinggi atau bahkan mati muda.
Mertua Musa, Yitro memperhatikan hal tersebut dan prihatin melihat menantunya. Meski ia tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu merupakan hal yang baik, tapi ia pun tahu bahwa itu tidaklah efektif. Dia pun menanyakan "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" (ay 14). Musa menjelaskan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang. Benar, tapi bukan begitu juga caranya. Itulah kira-kira yang disampaikan Yitro. Katanya: "Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja." (ay 18). Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17).
(berrsambung)
Friday, September 16, 2016
Naik Jabatan (2)
(sambungan)
Pasti? Ya, pasti. Kenapa saya katakan pasti? Karena Alkitab jelas-jelas berkata bahwa apa yang diinginkan Tuhan untuk terjadi kepada anak-anakNya sesungguhnya bukanlah sesuatu yang kecil atau pas-pasan saja melainkan telah ditetapkan untuk menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan bukan turun. Namun kita harus tahu bahwa untuk itu ada syarat yang ditetapkan Tuhan untuk kita lakukan dengan sungguh-sungguh terlebih dahulu. Itu tertulis dalam kitab Ulangan. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14).
Melakukan kecurangan-kecurangan demi kenaikan jabatan mungkin sepintas terlihat menjanjikan solusi cepat, namun ketika itu bukan berasal dari Tuhan, maka cepat atau lambat keruntuhan pun akan membuat semuanya sia-sia bahkan menghancurkan hidup pelaku, keluarganya hingga merugikan banyak orang. Lihatlah 'parade' banyak koruptor yang kehilangan gaya dan layu setelah vonis dijatuhkan. Benar, masih banyak juga yang tanpa rasa malu pamer senyuman di depan kamera. Mungkin karena mereka berpikir bisa tetap menyuap untuk bebas atau setidaknya bisa menjalani hukuman dengan lebih nyaman bak di hotel mewah. Tapi meski sikapnya seperti itu, pada suatu hari nanti di hadapan Tuhan tidak ada penyuapan atau apapun lagi yang bisa dibuat. Disanalah letak pertanggungjawaban sebenarnya. Tidak ada satupun kejahatan di muka bumi ini yang luput dari hukuman Tuhan, dengan alasan apapun. Di dunia ini semua bisa diusahakan lewat segala cara, tapi di hadapan Tuhan nanti tidak ada cara lagi yang bisa dipergunakan. Kalau begitu, buat apa harus melegalkan segala bentuk pelanggaran hanya untuk naik pangkat? Untuk apa mengorbankan sesuatu yang kekal hanya untuk mengejar sesuatu yang fana?
Apa yang dituntut dari kita sebenarnya hanyalah kesungguhan kita dalam bekerja. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan, itu bagian kita. Masalah berkat, termasuk di dalamnya kenaikan pangkat atau jabatan, itu adalah bagian Tuhan. Mungkin tidak mudah untuk bisa tetap hidup lurus di tengah dunia yang bengkok, namun bukan berarti kita harus menyerah dan berkompromi. Justru Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat jika kita mau mendengarkan firman Tuhan baik-baik dan melakukan dengan setia semua perintahNya tersebut, seperti yang diuraikan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14.
Kita harus berhati-hati agar jangan sampai masuk ke dalam jebakan dunia dengan segala permainan dan kecurangan yang ada di dalamnya. Kita bisa memaksakan kenaikan sesuai keinginan kita, tapi semua itu akan berakhir sia-sia dan menghancurkan hidup maupun janji keselamatan kita jika itu bukan berasal daripadaNya. Tuhan sudah menjanjikan bahwa kita akan terus meningkat. Tuhan menjanjikan kita sebagai kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, tetapi itu hanya berlaku jika kita mendengarkan dan melakukan firmanNya dengan setia, tidak menyimpang dan tidak menghambakan diri kepada hal lain apapun selain kepada Tuhan.
Jika anda memberikan kesungguhan secara penuh dalam pekerjaan, sekecil apapun itu, biar bagaimanapun, itu akan memberikan nilai tersendiri bagi tempat di mana anda bekerja. Mau perusahaannya berbasis kolusi mau tidak, mau di perusahaan sogok menyogok dihalalkan, perusahaan mana yang mau kehilangan pegawai terbaiknya? Dan perusahaan mana yang mau mengambil resiko menempatka npegawai yang tidak qualified di tempat yang penting?
Oleh karena itu, tetaplah bekerja dengan baik, tekun dan sepenuh hati, seakan-akan anda melakukannya untuk Tuhan, maka soal peningkatan hanyalah soal waktu saja. Tuhan sudah menetapkan kita untuk berada di posisi tinggi. Lakukan bagian kita, dan pada waktunya Tuhan akan mengerjakan bagianNya.
Kepala, bukan ekor, itu bagian kita apabila kita melakukan kehendak Tuhan dengan setia
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Pasti? Ya, pasti. Kenapa saya katakan pasti? Karena Alkitab jelas-jelas berkata bahwa apa yang diinginkan Tuhan untuk terjadi kepada anak-anakNya sesungguhnya bukanlah sesuatu yang kecil atau pas-pasan saja melainkan telah ditetapkan untuk menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan bukan turun. Namun kita harus tahu bahwa untuk itu ada syarat yang ditetapkan Tuhan untuk kita lakukan dengan sungguh-sungguh terlebih dahulu. Itu tertulis dalam kitab Ulangan. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14).
Melakukan kecurangan-kecurangan demi kenaikan jabatan mungkin sepintas terlihat menjanjikan solusi cepat, namun ketika itu bukan berasal dari Tuhan, maka cepat atau lambat keruntuhan pun akan membuat semuanya sia-sia bahkan menghancurkan hidup pelaku, keluarganya hingga merugikan banyak orang. Lihatlah 'parade' banyak koruptor yang kehilangan gaya dan layu setelah vonis dijatuhkan. Benar, masih banyak juga yang tanpa rasa malu pamer senyuman di depan kamera. Mungkin karena mereka berpikir bisa tetap menyuap untuk bebas atau setidaknya bisa menjalani hukuman dengan lebih nyaman bak di hotel mewah. Tapi meski sikapnya seperti itu, pada suatu hari nanti di hadapan Tuhan tidak ada penyuapan atau apapun lagi yang bisa dibuat. Disanalah letak pertanggungjawaban sebenarnya. Tidak ada satupun kejahatan di muka bumi ini yang luput dari hukuman Tuhan, dengan alasan apapun. Di dunia ini semua bisa diusahakan lewat segala cara, tapi di hadapan Tuhan nanti tidak ada cara lagi yang bisa dipergunakan. Kalau begitu, buat apa harus melegalkan segala bentuk pelanggaran hanya untuk naik pangkat? Untuk apa mengorbankan sesuatu yang kekal hanya untuk mengejar sesuatu yang fana?
Apa yang dituntut dari kita sebenarnya hanyalah kesungguhan kita dalam bekerja. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan, itu bagian kita. Masalah berkat, termasuk di dalamnya kenaikan pangkat atau jabatan, itu adalah bagian Tuhan. Mungkin tidak mudah untuk bisa tetap hidup lurus di tengah dunia yang bengkok, namun bukan berarti kita harus menyerah dan berkompromi. Justru Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat jika kita mau mendengarkan firman Tuhan baik-baik dan melakukan dengan setia semua perintahNya tersebut, seperti yang diuraikan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14.
Kita harus berhati-hati agar jangan sampai masuk ke dalam jebakan dunia dengan segala permainan dan kecurangan yang ada di dalamnya. Kita bisa memaksakan kenaikan sesuai keinginan kita, tapi semua itu akan berakhir sia-sia dan menghancurkan hidup maupun janji keselamatan kita jika itu bukan berasal daripadaNya. Tuhan sudah menjanjikan bahwa kita akan terus meningkat. Tuhan menjanjikan kita sebagai kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, tetapi itu hanya berlaku jika kita mendengarkan dan melakukan firmanNya dengan setia, tidak menyimpang dan tidak menghambakan diri kepada hal lain apapun selain kepada Tuhan.
Jika anda memberikan kesungguhan secara penuh dalam pekerjaan, sekecil apapun itu, biar bagaimanapun, itu akan memberikan nilai tersendiri bagi tempat di mana anda bekerja. Mau perusahaannya berbasis kolusi mau tidak, mau di perusahaan sogok menyogok dihalalkan, perusahaan mana yang mau kehilangan pegawai terbaiknya? Dan perusahaan mana yang mau mengambil resiko menempatka npegawai yang tidak qualified di tempat yang penting?
Oleh karena itu, tetaplah bekerja dengan baik, tekun dan sepenuh hati, seakan-akan anda melakukannya untuk Tuhan, maka soal peningkatan hanyalah soal waktu saja. Tuhan sudah menetapkan kita untuk berada di posisi tinggi. Lakukan bagian kita, dan pada waktunya Tuhan akan mengerjakan bagianNya.
Kepala, bukan ekor, itu bagian kita apabila kita melakukan kehendak Tuhan dengan setia
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Thursday, September 15, 2016
Naik Jabatan (1)
Ayat bacaan: Mazmur 75:7-8
==========================
"Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu,tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."
Ada beberapa teman yang memprioritaskan mencari kerja yang ada jenjang karirnya. Menurut mereka sistem pekerjaan seperti ini menantang dan bisa memotivasi mereka untuk melakukan yang terbaik. Tipe pekerjaan memang macam-macam. Ada yang suka wiraswasta dan tidak peduli terhadap jenjang karir. Tapi tipe seperti inipun sesungguhnya menginginkan peningkatan dari usahanya. Apapun pekerjaannya, tidak ada orang yang tidak ingin meningkat. Dan peningkatan tentu baik, bahkan sejalan dengan keinginan Tuhan atas diri kita. Tetapi pertanyaannya, bagaimana caranya agar bisa naik?
Nah, disini kita menemukan masalah. Banyak orang hari ini yang hanya mengejar peningkatan lewat jalan-jalan yang serong. Semakin lama semakin banyak orang yang ingin cepat, lewat cara instan. Mementingkan hasil dan tidak lagi menganggap penting proses. Banyak yang percaya bahwa di jaman sekarang, bekerja sebaik mungkin dengan menghasilkan prestasi cemerlang saja tidaklah cukup, atau malah tidak penting sama sekali lagi. Ada banyak orang yang harus pakai 'pelicin' agar lajunya mantap meluncur dengan licin ke arah yang diinginkan. Kalau takut ketahuan dan ketangkap tangan, bisa lewat banyak cara lainnya seperti pemberian diputar lewat banyak tangan perantara misalnya. Kalau bukan lewat uang ya bisa juga lewat rajin memberi bingkisan di hari-hari besar dengan tujuan agar namanya diingat pimpinan. Atau ada juga yang rajin menjilat agar bisa naik. Dan berbagai cara lainnya.
Bagaimana kalau ada pesaing yang sama-sama memperebutkan jabatan yang sama? Saling sikut pun dihalalkan. Mau teman, mau lawan, semua sikat saja yang penting menang. Ada pula yang bahkan rela menggadaikan hak kesulungannya agar tidak terhambat untuk naik pangkat. Semua itu sudah dianggap sebagai hal yang lumrah untuk dilakukan di jaman sekarang, apalagi di negara-negara berkembang seperti negara kita.
Ada banyak orang berpikir bahwa itu terpaksa dilakukan. Kalau kita tidak melakukan, ya kita tidak akan bisa berhasil naik jabatan atau mengalami peningkatan. Take it or leave it, do or die. Kira-kira seperti itu pola pikir kebanyakan orang. Kenapa harus tabu? Bukankah itu memang sudah menjadi kebiasaan di mana-mana? Sebab kalau tidak demikian, lupakan saja soal mendapat promosi. Itu akan menjadi landasan untuk melakukan pembenaran atas perbuatan curang tersebut. Kita seringkali ikut kebiasaan dunia dan cenderung menyerah mengikutinya. Kita malah memilih untuk tidak mematuhi Tuhan dan menuruti cara serong dunia. Dan lama-lama percaya bahwa soal naik dan turun tidak ada urusannya dengan Tuhan.
Apa benar demikian? Apakah masalah mengalami peningkatan atau tidak itu sesungguhnya tergantung dari dunia, atau dari manusia lain dan bukan berasal dari Tuhan? Apakah benar tanpa berlaku curang kita tidak akan bisa mengalami peningkatan karir? Alkitab menyatakan sebaliknya. Kita diingatkan untuk tidak curang. Tanpa berlaku curang dan berkompromi dengan hal buruk yang sudah dianggap lumrah di dunia ini, kita tetap bisa mengalami peningkatan karir, dan saya bisa katakan itu akan terasa luar biasa indahnya jika itu berasal dari Tuhan.
Apakah ada ayat yang menyatakan hal ini? Tentu saja. Mari kita lihat salah satunya. Pemazmur mengatakannya seperti ini: "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Dalam bahasa Inggris Amplified-nya dikatakan "For not from the east nor from the west nor from the south come promotion and lifting up. But God is the Judge! He puts down one and lifts up another."
Inilah hal yang sering kita lupakan. Kita sering tergiur dengan jabatan dan mengira bahwa kita perlu mati-matian menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Kita lupa bahwa peningkatan yang sesungguhnya justru berasal dari Tuhan dan bukan dari manusia. Kita seringkali terburu nafsu untuk secepatnya menggapai sebuah jabatan, padahal Tuhan tidak
pernah menyarankan kita untuk terburu-buru. Ketekunan, kesabaran, keuletan, kesungguhan, itulah yang akan bernilai di mata Tuhan. Proses itu penting menurut Tuhan. Dan bukan dari kiri atau kanan, bukan dari mana-mana, tapi dari Tuhan. Kalau memang dari Tuhan, pada saatnya, sesuai takaran dan waktu Tuhan, kita pasti akan naik walau tanpa melakukan kecurangan-kecurangan yang jahat di mata Tuhan.
(bersambung)
==========================
"Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu,tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."
Ada beberapa teman yang memprioritaskan mencari kerja yang ada jenjang karirnya. Menurut mereka sistem pekerjaan seperti ini menantang dan bisa memotivasi mereka untuk melakukan yang terbaik. Tipe pekerjaan memang macam-macam. Ada yang suka wiraswasta dan tidak peduli terhadap jenjang karir. Tapi tipe seperti inipun sesungguhnya menginginkan peningkatan dari usahanya. Apapun pekerjaannya, tidak ada orang yang tidak ingin meningkat. Dan peningkatan tentu baik, bahkan sejalan dengan keinginan Tuhan atas diri kita. Tetapi pertanyaannya, bagaimana caranya agar bisa naik?
Nah, disini kita menemukan masalah. Banyak orang hari ini yang hanya mengejar peningkatan lewat jalan-jalan yang serong. Semakin lama semakin banyak orang yang ingin cepat, lewat cara instan. Mementingkan hasil dan tidak lagi menganggap penting proses. Banyak yang percaya bahwa di jaman sekarang, bekerja sebaik mungkin dengan menghasilkan prestasi cemerlang saja tidaklah cukup, atau malah tidak penting sama sekali lagi. Ada banyak orang yang harus pakai 'pelicin' agar lajunya mantap meluncur dengan licin ke arah yang diinginkan. Kalau takut ketahuan dan ketangkap tangan, bisa lewat banyak cara lainnya seperti pemberian diputar lewat banyak tangan perantara misalnya. Kalau bukan lewat uang ya bisa juga lewat rajin memberi bingkisan di hari-hari besar dengan tujuan agar namanya diingat pimpinan. Atau ada juga yang rajin menjilat agar bisa naik. Dan berbagai cara lainnya.
Bagaimana kalau ada pesaing yang sama-sama memperebutkan jabatan yang sama? Saling sikut pun dihalalkan. Mau teman, mau lawan, semua sikat saja yang penting menang. Ada pula yang bahkan rela menggadaikan hak kesulungannya agar tidak terhambat untuk naik pangkat. Semua itu sudah dianggap sebagai hal yang lumrah untuk dilakukan di jaman sekarang, apalagi di negara-negara berkembang seperti negara kita.
Ada banyak orang berpikir bahwa itu terpaksa dilakukan. Kalau kita tidak melakukan, ya kita tidak akan bisa berhasil naik jabatan atau mengalami peningkatan. Take it or leave it, do or die. Kira-kira seperti itu pola pikir kebanyakan orang. Kenapa harus tabu? Bukankah itu memang sudah menjadi kebiasaan di mana-mana? Sebab kalau tidak demikian, lupakan saja soal mendapat promosi. Itu akan menjadi landasan untuk melakukan pembenaran atas perbuatan curang tersebut. Kita seringkali ikut kebiasaan dunia dan cenderung menyerah mengikutinya. Kita malah memilih untuk tidak mematuhi Tuhan dan menuruti cara serong dunia. Dan lama-lama percaya bahwa soal naik dan turun tidak ada urusannya dengan Tuhan.
Apa benar demikian? Apakah masalah mengalami peningkatan atau tidak itu sesungguhnya tergantung dari dunia, atau dari manusia lain dan bukan berasal dari Tuhan? Apakah benar tanpa berlaku curang kita tidak akan bisa mengalami peningkatan karir? Alkitab menyatakan sebaliknya. Kita diingatkan untuk tidak curang. Tanpa berlaku curang dan berkompromi dengan hal buruk yang sudah dianggap lumrah di dunia ini, kita tetap bisa mengalami peningkatan karir, dan saya bisa katakan itu akan terasa luar biasa indahnya jika itu berasal dari Tuhan.
Apakah ada ayat yang menyatakan hal ini? Tentu saja. Mari kita lihat salah satunya. Pemazmur mengatakannya seperti ini: "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Dalam bahasa Inggris Amplified-nya dikatakan "For not from the east nor from the west nor from the south come promotion and lifting up. But God is the Judge! He puts down one and lifts up another."
Inilah hal yang sering kita lupakan. Kita sering tergiur dengan jabatan dan mengira bahwa kita perlu mati-matian menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Kita lupa bahwa peningkatan yang sesungguhnya justru berasal dari Tuhan dan bukan dari manusia. Kita seringkali terburu nafsu untuk secepatnya menggapai sebuah jabatan, padahal Tuhan tidak
pernah menyarankan kita untuk terburu-buru. Ketekunan, kesabaran, keuletan, kesungguhan, itulah yang akan bernilai di mata Tuhan. Proses itu penting menurut Tuhan. Dan bukan dari kiri atau kanan, bukan dari mana-mana, tapi dari Tuhan. Kalau memang dari Tuhan, pada saatnya, sesuai takaran dan waktu Tuhan, kita pasti akan naik walau tanpa melakukan kecurangan-kecurangan yang jahat di mata Tuhan.
(bersambung)
Wednesday, September 14, 2016
Melupakan Tuhan setelah Makmur
Ayat bacaan: Ulangan 32:15
=======================
"Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, --bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun--dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya."
Seorang teman geleng-geleng kepala melihat temannya. Dulu waktu sama-sama susah mereka berjuang bareng. Mereka kerap berdoa bersama-sama dan saling topang agar bisa sama-sama maju. Tahun demi tahun berlalu. Saat temannya mulai sukses, sikapnya pun berubah. Ia menjadi tinggi hati dan tidak lagi peduli kepada sahabat-sahabatnya. Kalau dulu ia rajin melayani, sekarang jangankan melayani, ke gereja saja tidak. Kalau ditanya, ia berkata bahwa ia sibuk kerja meski hari Minggu dan tidak punya waktu untuk duduk-duduk di gereja. Baginya itu adalah kegiatan yang buang-buang waktu. Dulu meminta, begitu diberi kemudian melupakan. Ironis sekali, dan sikapnya ini mewakili banyak orang lainnya yang segera melupakan Tuhan saat mereka sudah terbebas dari masalah yang membelenggu mereka.
Ada sebuah peribahasa "bagai kacang lupa kulitnya", mengacu kepada sebuah sikap manusia yang lupa akan asal-usulnya. Selain melupakan jasa orang lain yang pernah membantu, jasa orang tua, guru dan sanak saudara, peribahasa ini juga mengacu kepada orang yang melupakan daerah asal usulnya setelah mereka sukses. Kiasan lainnya yang sering pula dipakai adalah lupa daratan.
Seperti yang bisa kita baca dalam renungan kemarin, sikap melupakan Tuhan sudah terjadi sejak jaman dahulu. Bangsa Israel di jaman Musa menjadi contoh nyata mengenai kelakuan yang memalukan ini. Dalam Ulangan dikatakan: "Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, --bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun--dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya." (Ulangan 32:15). Kalau kita mundur sedikit, kita bisa lihat bagaimana kebaikan Tuhan telah menyertai dan memberkati mereka seperti yang tertulis dalam ayat 10-14. Tapi begitu mereka mendapat kelimpahan berkat, apa yang terjadi? Lihatlah sikap buruk ini. Bukannya bersyukur atas berkat Tuhan, mereka malah berubah sikap setelah menjadi gemuk kekenyangan. Segera mereka melupakan Pribadi yang telah menyediakan itu semua. Betapa kejinya, "Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian, mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar." (ay 16-17). Mereka melupakan Tuhan yang telah begitu baik kepada mereka. "Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau." (ay 18).
Sangatlah wajar jika Tuhan pun kemudian murka menghadapi "angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan." (ay 20) ini. Dalam ayat-ayat selanjutnya kita mendapati kemurkaan Tuhan yang begitu mengerikan. Kapok kah mereka? Ternyata tidak. Bukan sekali dua kali bangsa ini melupakan Tuhannya. Kita melihat dalam banyak kesempatan mereka berulang kali menyakiti hati Tuhan yang telah melepaskan mereka dari perbudakan dan memberkati mereka secara dahsyat dalam perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Dalam kitab Hakim Hakim kembali kita temukan sikap buruk mereka. "Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera." (Hakim Hakim 3:7). Dan hukuman Tuhan pun kembali jatuh atas mereka. Diberkati, melupakan Tuhan, melakukan kejahatan yang membuat Tuhan marah, lalu dihukum, itu terus terjadi berulang-ulang sepanjang sejarah bangsa Israel pada masa itu.
Apa yang terjadi pada bangsa Israel seharusnya bisa dijadikan peringatan. Manusia mendekat kepada Tuhan ketika sedang mengalami penderitaan. Tapi setelah berada dalam keadaan baik dan berkecukupan, seketika itu pula Tuhan dengan mudahnya dilupakan. Padahal tidakkah semua itu kita dapatkan sebagai berkat dari Tuhan? Bukankah tanpa Tuhan kita bukan apa-apa?
Kalau kita menyadari hal itu, mengapa kita tega melupakan Tuhan dan bahkan menyakiti hatiNya? Mazmur Daud mengingatkan kita untuk selalu mengingat kebaikan Tuhan dalam hidup kita. "Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:1-2). Seperti kasih seorang bapa kepada anaknya, seperti itu pula kasih Tuhan yang tidak berkesudahan selalu menaungi kita. "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia....kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya." (ay 13, 17-18).
Apabila hari ini anda diberkati hingga memiliki kehidupan yang makmur tak kurang suatu apapun, dalam segala sisi kehidupan, keluarga dan pekerjaan, jangan lupakan Tuhan. Tetaplah ingat kepada Tuhan yang telah memberikan itu semua. Puji dan sembah Dia, penuhi diri anda dengan ucapan syukur. Ingatlah selalu bahwa apa yang kita raih bukanlah semata-mata karena kerja keras atau hasil jerih payah kita sendiri, tetapi terutama merupakan berkat Tuhan. Tanpa Tuhan semua akan sia-sia. Karenanya jangan pernah lupakan kebaikanNya, jangan menjadi kacang yang lupa kulit, jangan jadi orang yang lupa daratan. Mari kita terus bersyukur, menaati dan melakukan perintahNya, menjauhi laranganNya, dan terus memuji dan menyembah Dia dengan segenap diri kita.
"Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan , dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini." (Ulangan 8:18)
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=======================
"Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, --bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun--dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya."
Seorang teman geleng-geleng kepala melihat temannya. Dulu waktu sama-sama susah mereka berjuang bareng. Mereka kerap berdoa bersama-sama dan saling topang agar bisa sama-sama maju. Tahun demi tahun berlalu. Saat temannya mulai sukses, sikapnya pun berubah. Ia menjadi tinggi hati dan tidak lagi peduli kepada sahabat-sahabatnya. Kalau dulu ia rajin melayani, sekarang jangankan melayani, ke gereja saja tidak. Kalau ditanya, ia berkata bahwa ia sibuk kerja meski hari Minggu dan tidak punya waktu untuk duduk-duduk di gereja. Baginya itu adalah kegiatan yang buang-buang waktu. Dulu meminta, begitu diberi kemudian melupakan. Ironis sekali, dan sikapnya ini mewakili banyak orang lainnya yang segera melupakan Tuhan saat mereka sudah terbebas dari masalah yang membelenggu mereka.
Ada sebuah peribahasa "bagai kacang lupa kulitnya", mengacu kepada sebuah sikap manusia yang lupa akan asal-usulnya. Selain melupakan jasa orang lain yang pernah membantu, jasa orang tua, guru dan sanak saudara, peribahasa ini juga mengacu kepada orang yang melupakan daerah asal usulnya setelah mereka sukses. Kiasan lainnya yang sering pula dipakai adalah lupa daratan.
Seperti yang bisa kita baca dalam renungan kemarin, sikap melupakan Tuhan sudah terjadi sejak jaman dahulu. Bangsa Israel di jaman Musa menjadi contoh nyata mengenai kelakuan yang memalukan ini. Dalam Ulangan dikatakan: "Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, --bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun--dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya." (Ulangan 32:15). Kalau kita mundur sedikit, kita bisa lihat bagaimana kebaikan Tuhan telah menyertai dan memberkati mereka seperti yang tertulis dalam ayat 10-14. Tapi begitu mereka mendapat kelimpahan berkat, apa yang terjadi? Lihatlah sikap buruk ini. Bukannya bersyukur atas berkat Tuhan, mereka malah berubah sikap setelah menjadi gemuk kekenyangan. Segera mereka melupakan Pribadi yang telah menyediakan itu semua. Betapa kejinya, "Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian, mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar." (ay 16-17). Mereka melupakan Tuhan yang telah begitu baik kepada mereka. "Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau." (ay 18).
Sangatlah wajar jika Tuhan pun kemudian murka menghadapi "angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan." (ay 20) ini. Dalam ayat-ayat selanjutnya kita mendapati kemurkaan Tuhan yang begitu mengerikan. Kapok kah mereka? Ternyata tidak. Bukan sekali dua kali bangsa ini melupakan Tuhannya. Kita melihat dalam banyak kesempatan mereka berulang kali menyakiti hati Tuhan yang telah melepaskan mereka dari perbudakan dan memberkati mereka secara dahsyat dalam perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Dalam kitab Hakim Hakim kembali kita temukan sikap buruk mereka. "Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera." (Hakim Hakim 3:7). Dan hukuman Tuhan pun kembali jatuh atas mereka. Diberkati, melupakan Tuhan, melakukan kejahatan yang membuat Tuhan marah, lalu dihukum, itu terus terjadi berulang-ulang sepanjang sejarah bangsa Israel pada masa itu.
Apa yang terjadi pada bangsa Israel seharusnya bisa dijadikan peringatan. Manusia mendekat kepada Tuhan ketika sedang mengalami penderitaan. Tapi setelah berada dalam keadaan baik dan berkecukupan, seketika itu pula Tuhan dengan mudahnya dilupakan. Padahal tidakkah semua itu kita dapatkan sebagai berkat dari Tuhan? Bukankah tanpa Tuhan kita bukan apa-apa?
Kalau kita menyadari hal itu, mengapa kita tega melupakan Tuhan dan bahkan menyakiti hatiNya? Mazmur Daud mengingatkan kita untuk selalu mengingat kebaikan Tuhan dalam hidup kita. "Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:1-2). Seperti kasih seorang bapa kepada anaknya, seperti itu pula kasih Tuhan yang tidak berkesudahan selalu menaungi kita. "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia....kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya." (ay 13, 17-18).
Apabila hari ini anda diberkati hingga memiliki kehidupan yang makmur tak kurang suatu apapun, dalam segala sisi kehidupan, keluarga dan pekerjaan, jangan lupakan Tuhan. Tetaplah ingat kepada Tuhan yang telah memberikan itu semua. Puji dan sembah Dia, penuhi diri anda dengan ucapan syukur. Ingatlah selalu bahwa apa yang kita raih bukanlah semata-mata karena kerja keras atau hasil jerih payah kita sendiri, tetapi terutama merupakan berkat Tuhan. Tanpa Tuhan semua akan sia-sia. Karenanya jangan pernah lupakan kebaikanNya, jangan menjadi kacang yang lupa kulit, jangan jadi orang yang lupa daratan. Mari kita terus bersyukur, menaati dan melakukan perintahNya, menjauhi laranganNya, dan terus memuji dan menyembah Dia dengan segenap diri kita.
"Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan , dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini." (Ulangan 8:18)
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Tuesday, September 13, 2016
Jangan Lupakan Tuhan (2)
(sambungan)
Lihatlah betapa kecewanya Tuhan atas perilaku mereka. "Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau." (Ulangan 32:18). Apa yang mereka perbuat? Di ayat sebelumnya kita melihat apa yang diperbuat Israel. "Lalu menjadi gemuklah Yesyurun (Israel), dan menendang ke belakang, --bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun--dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya. Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian. mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar." (ay 15-17). Bukankah itu sudah sangat keterlaluan?
Selanjutnya dalam kitab Hakim-Hakim kita bisa melihat bagaimana sikap yang sangat jahat dilakukan oleh mereka. "Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera." (Hakim Hakim 3:7). Kurang apa lagi kebaikan Tuhan kepada mereka? Tapi ternyata segala berkat dan perlindungan Tuhan itu malah membuat mereka lupa diri. Bukannya semakin taat pada Tuhan, tapi mereka malah terlena dan membuat segala sesuatu yang jahat, yang dinilai Tuhan sebagai kekejian.
Pesan ini diberikan kepada bangsa Israel, itu benar. Tapi pesan yang sama juga berlaku bagi kita. Jika saat ini hidup anda sedang tenang, dalam keadaan baik, jika kini kita menjadi orang yang berhasil dan serba cukup, bersyukurlah senantiasa kepada Tuhan. Itu seharusnya membuat anda semakin dekat pada Tuhan dan bukan malah mengabaikannya. Lewat ayat bacaan hari ini kita diingatkan dengan tegas agar tidak melupakan Tuhan yang telah menyediakan segalanya itu bagi kita atas dasar kasihNya yang tak terukur dalamnya. Sangatlah keterlaluan jika kita sampai meninggalkanNya dan memilih jalan yang salah. Memalingkan wajah dari Tuhan, itu bisa fatal resikonya.
Maka sebelum terlambat sangatlah baik jika kita memperhatikan hal ini terlebih dahulu. Belajarlah untuk senantiasa mengucap syukur, baik ketika kita berada dalam keadaan yang kurang atau bahkan tidak baik maupun ketika kita sedang menapak naik mengalami berbagai berkat Tuhan dalam kelimpahan. Kita harus terus mengingat bahwa segala-galanya berasal dari Tuhan. Hargai semua yang diberikan Tuhan dengan menunjukkan ketaatan dan kedekatan kepadaNya. Patuhi perintah, ketetapanNya, jauhi laranganNya, bangun terus hubungan yang dekat denganNya. Kita tidak ada apa-apanya jika tidak karena Tuhan. Jangan pernah lupakan Tuhan. Ingat segala kebaikan Tuhan dengan ketaatan, tidak melawan perintah serta ketetapanNya. Tetap ingat Tuhan dan jangan pernah lupa bahwa semua yang kita punya hari ini berasal dari kasih dan kebaikan Tuhan.
Never let the abundance of God's gifts cause you to forget him
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Lihatlah betapa kecewanya Tuhan atas perilaku mereka. "Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau." (Ulangan 32:18). Apa yang mereka perbuat? Di ayat sebelumnya kita melihat apa yang diperbuat Israel. "Lalu menjadi gemuklah Yesyurun (Israel), dan menendang ke belakang, --bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun--dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya. Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian. mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar." (ay 15-17). Bukankah itu sudah sangat keterlaluan?
Selanjutnya dalam kitab Hakim-Hakim kita bisa melihat bagaimana sikap yang sangat jahat dilakukan oleh mereka. "Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera." (Hakim Hakim 3:7). Kurang apa lagi kebaikan Tuhan kepada mereka? Tapi ternyata segala berkat dan perlindungan Tuhan itu malah membuat mereka lupa diri. Bukannya semakin taat pada Tuhan, tapi mereka malah terlena dan membuat segala sesuatu yang jahat, yang dinilai Tuhan sebagai kekejian.
Pesan ini diberikan kepada bangsa Israel, itu benar. Tapi pesan yang sama juga berlaku bagi kita. Jika saat ini hidup anda sedang tenang, dalam keadaan baik, jika kini kita menjadi orang yang berhasil dan serba cukup, bersyukurlah senantiasa kepada Tuhan. Itu seharusnya membuat anda semakin dekat pada Tuhan dan bukan malah mengabaikannya. Lewat ayat bacaan hari ini kita diingatkan dengan tegas agar tidak melupakan Tuhan yang telah menyediakan segalanya itu bagi kita atas dasar kasihNya yang tak terukur dalamnya. Sangatlah keterlaluan jika kita sampai meninggalkanNya dan memilih jalan yang salah. Memalingkan wajah dari Tuhan, itu bisa fatal resikonya.
Maka sebelum terlambat sangatlah baik jika kita memperhatikan hal ini terlebih dahulu. Belajarlah untuk senantiasa mengucap syukur, baik ketika kita berada dalam keadaan yang kurang atau bahkan tidak baik maupun ketika kita sedang menapak naik mengalami berbagai berkat Tuhan dalam kelimpahan. Kita harus terus mengingat bahwa segala-galanya berasal dari Tuhan. Hargai semua yang diberikan Tuhan dengan menunjukkan ketaatan dan kedekatan kepadaNya. Patuhi perintah, ketetapanNya, jauhi laranganNya, bangun terus hubungan yang dekat denganNya. Kita tidak ada apa-apanya jika tidak karena Tuhan. Jangan pernah lupakan Tuhan. Ingat segala kebaikan Tuhan dengan ketaatan, tidak melawan perintah serta ketetapanNya. Tetap ingat Tuhan dan jangan pernah lupa bahwa semua yang kita punya hari ini berasal dari kasih dan kebaikan Tuhan.
Never let the abundance of God's gifts cause you to forget him
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, September 12, 2016
Jangan Lupakan Tuhan (1)
Ayat bacaan: Ulangan 8:11
=====================
"Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini"
Ada banyak orang yang lupa terhadap jasa orang lain buat mereka. Jangankan orang lain, terhadap orang tua pun banyak anak yang durhaka. Beberapa kali saat saya kunjungan ke panti jompo, saya bertemu begitu banyak orang tua yang ditelantarkan anaknya. Ada yang 'masih untung' dibiayai anaknya, ada yang mengharap belas kasih orang lain karena tidak ada satupun lagi anaknya yang peduli. Belum lama saya bertemu dengan seorang kakek yang harus menghabiskan masa tuanya sendirian di sebuah rumah kumuh di pinggiran sungai. Sambil menangis ia bercerita bahwa diantara ke lima anaknya, hanya satu yang masih membantunya. Itupun tidak sering. Keempat anak lainnya sudah tidak lagi mau mengurusnya sama sekali. "Mungkin mereka terlalu sibuk bekerja dan tidak lagi punya waktu buat saya..." katanya lirih. Miris sekali melihat orang-orang tua yang sudah tidak dipedulikan lagi oleh anaknya. Anak-anak mereka lupa bahwa mereka dilahirkan oleh orang tuanya, dibesarkan, diasuh, dididik, disekolahkan sampai dewasa, sehingga kalau mereka hari ini sukses berkarir, itu semua berkat orang tuanya. Ada orang yang mungkin berkata bahwa dahulu orang tuanya mendidik terlalu keras sampai menimbulkan kebencian dalam hati mereka. Tapi biar bagaimanapun, bukankah orang tua juga yang membesarkan mereka? Kecenderungan manusia melupakan orang yang pernah berjasa pada mereka bukanlah hal baru. Itu sudah terjadi sejak dahulu kala. Kalau kepada orang tua sendiri saja tega, apalagi kepada orang lain. Kalau kepada orang yang terlihat mata saja begitu, apalagi kepada Tuhan yang tidak kasat mata. Wah, itu mungkin lebih banyak lagi.
Manusia durhaka pada orang tuanya, juga durhaka pada Tuhan. Begitu seringnya orang tua menjadi perih hatinya akibat perilaku anaknya. Kata durhaka secara umum mengacu kepada ingkar terhadap perintah dari orang yang seharusnya dihormati. Bentuknya beragam, seperti melawan, membangkang, berlaku kasar, mengabaikan, merendahkan dan hal lainnya yang menyakiti hati dari mereka yang seharusnya mendapat hormat sepenuhnya dari kita. Maka istilah durhaka bisa disematkan kepada anak-anak yang berlaku seenaknya, tidak tahu terima kasih, tidak tahu membalas budi, tidak mengindahkan atau bahkan melawan nasihat dan perintah dari orang tuanya, apalagi yang tega berlaku kasar baik lewat perkataan maupun secara fisik. Sikap yang sangat tidak terpuji ini harus dihindari oleh siapapun tanpa terkecuali. Dan Alkitab pun secara tegas mengingatkan hal tersebut baik dalam hubungannya dengan orang tua, pemerintah terlebih kepada Tuhan. Akan halnya pada Tuhan, mungkin banyak yang tidak sadar telah melupakan Tuhan karena terlalu sibuk mengejar segala sesuatu yang dianggap dunia bisa mendatangkan kebahagiaan. Kalau kita menyadari kebaikan Tuhan terutama kasih karuniaNya yang sudah Dia berikan lewat Kristus, bagaimana mungkin kita masih mau bertoleransi kepada dosa, melanggar perintahNya dengan sengaja dan mudah kecewa saat hidup sedang tidak baik?
Yesus mengajarkan kita untuk memanggil Bapa kepada Tuhan. Itu menunjukkan hubungan kekerabatan yang sangat dekat seperti seorang anak dengan ayah. Dan itulah sebenarnya yang dirindukan Tuhan. Sebuah hubungan antara ayah dan anak yang dilandasi kasih. Kalau kepada orang tua kita harus hormat dan tidak boleh bersikap durhaka, apalagi kepada Tuhan. Sayangnya, banyak orang yang tega atau berani melawan dan menyakiti hati Tuhan baik secara sadar atau tidak. Bukankah keterlaluan ketika kita terus meminta segala yang terbaik dari Tuhan, berseru-seru kepadaNya dalam kesesakan, terus menikmati kebaikan dan kasihNya, tetapi masih berani melupakan Tuhan dan melawan segala perintah, peraturan dan ketetapanNya? Kita terus meminta hak tanpa peduli kewajiban, kita meletakkan Tuhan pada prioritas ke sekian dan dengan mudah menyingkirkanNya kapan saja kita mau. Itu adalah sebuah kedurhakaan terhadap Tuhan. Kita pikir itu tidak apa-apa, padahal hukuman yang menanti itu tidak main-main.
Hal itulah yang diingatkan lewat ayat bacaan hari ini. Ayatnya diambil dari peringatan Tuhan yang diberikan kepada bangsa Israel. "Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini" (Ulangan 8:11). Tuhan memperingatkan mereka agar mereka tidak melupakanNya. Sikap pembangkangan dan durhaka kepada Tuhan ternyata bukan hanya masalah di jaman ini tetapi sudah berlangsung sejak dahulu kala. Tuhan memperingatkan mereka karena jelas sekali ada indikasi dan bukti penyelewengan mereka melupakan Tuhan.
Apa yang dilakukan bangsa Israel sungguh benar-benar sudah keterlaluan. Tuhan sendiri yang memimpin mereka keluar dari perbudakan di Mesir, memberi tiang awan dan tiang api dalam perjalanan mereka, membelah laut Teberau, memberi manna dari langit dan banyak lagi bukti nyata kebaikan Tuhan yang turun atas mereka. Mereka mengalami berbagai mukjizat silih berganti, tapi mereka masih saja mudah bersungut-sungut dan terus mengeluh selama perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Meski demikian, Tuhan masih bersabar dengan memberikan peringatan yang amat tegas ini. Tuhan bilang, "hey, kalian harus hati-hati supaya jangan sampai melupakanKu." Dengan bagaimana? Dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapanNya. Lantas setelah peringatan ini turun, apakah mereka menjadi taat? Israel yang tegar tengkuk ternyata memang benar-benar melupakan Tuhan yang telah begitu baik kepada mereka.
(bersambung)
=====================
"Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini"
Ada banyak orang yang lupa terhadap jasa orang lain buat mereka. Jangankan orang lain, terhadap orang tua pun banyak anak yang durhaka. Beberapa kali saat saya kunjungan ke panti jompo, saya bertemu begitu banyak orang tua yang ditelantarkan anaknya. Ada yang 'masih untung' dibiayai anaknya, ada yang mengharap belas kasih orang lain karena tidak ada satupun lagi anaknya yang peduli. Belum lama saya bertemu dengan seorang kakek yang harus menghabiskan masa tuanya sendirian di sebuah rumah kumuh di pinggiran sungai. Sambil menangis ia bercerita bahwa diantara ke lima anaknya, hanya satu yang masih membantunya. Itupun tidak sering. Keempat anak lainnya sudah tidak lagi mau mengurusnya sama sekali. "Mungkin mereka terlalu sibuk bekerja dan tidak lagi punya waktu buat saya..." katanya lirih. Miris sekali melihat orang-orang tua yang sudah tidak dipedulikan lagi oleh anaknya. Anak-anak mereka lupa bahwa mereka dilahirkan oleh orang tuanya, dibesarkan, diasuh, dididik, disekolahkan sampai dewasa, sehingga kalau mereka hari ini sukses berkarir, itu semua berkat orang tuanya. Ada orang yang mungkin berkata bahwa dahulu orang tuanya mendidik terlalu keras sampai menimbulkan kebencian dalam hati mereka. Tapi biar bagaimanapun, bukankah orang tua juga yang membesarkan mereka? Kecenderungan manusia melupakan orang yang pernah berjasa pada mereka bukanlah hal baru. Itu sudah terjadi sejak dahulu kala. Kalau kepada orang tua sendiri saja tega, apalagi kepada orang lain. Kalau kepada orang yang terlihat mata saja begitu, apalagi kepada Tuhan yang tidak kasat mata. Wah, itu mungkin lebih banyak lagi.
Manusia durhaka pada orang tuanya, juga durhaka pada Tuhan. Begitu seringnya orang tua menjadi perih hatinya akibat perilaku anaknya. Kata durhaka secara umum mengacu kepada ingkar terhadap perintah dari orang yang seharusnya dihormati. Bentuknya beragam, seperti melawan, membangkang, berlaku kasar, mengabaikan, merendahkan dan hal lainnya yang menyakiti hati dari mereka yang seharusnya mendapat hormat sepenuhnya dari kita. Maka istilah durhaka bisa disematkan kepada anak-anak yang berlaku seenaknya, tidak tahu terima kasih, tidak tahu membalas budi, tidak mengindahkan atau bahkan melawan nasihat dan perintah dari orang tuanya, apalagi yang tega berlaku kasar baik lewat perkataan maupun secara fisik. Sikap yang sangat tidak terpuji ini harus dihindari oleh siapapun tanpa terkecuali. Dan Alkitab pun secara tegas mengingatkan hal tersebut baik dalam hubungannya dengan orang tua, pemerintah terlebih kepada Tuhan. Akan halnya pada Tuhan, mungkin banyak yang tidak sadar telah melupakan Tuhan karena terlalu sibuk mengejar segala sesuatu yang dianggap dunia bisa mendatangkan kebahagiaan. Kalau kita menyadari kebaikan Tuhan terutama kasih karuniaNya yang sudah Dia berikan lewat Kristus, bagaimana mungkin kita masih mau bertoleransi kepada dosa, melanggar perintahNya dengan sengaja dan mudah kecewa saat hidup sedang tidak baik?
Yesus mengajarkan kita untuk memanggil Bapa kepada Tuhan. Itu menunjukkan hubungan kekerabatan yang sangat dekat seperti seorang anak dengan ayah. Dan itulah sebenarnya yang dirindukan Tuhan. Sebuah hubungan antara ayah dan anak yang dilandasi kasih. Kalau kepada orang tua kita harus hormat dan tidak boleh bersikap durhaka, apalagi kepada Tuhan. Sayangnya, banyak orang yang tega atau berani melawan dan menyakiti hati Tuhan baik secara sadar atau tidak. Bukankah keterlaluan ketika kita terus meminta segala yang terbaik dari Tuhan, berseru-seru kepadaNya dalam kesesakan, terus menikmati kebaikan dan kasihNya, tetapi masih berani melupakan Tuhan dan melawan segala perintah, peraturan dan ketetapanNya? Kita terus meminta hak tanpa peduli kewajiban, kita meletakkan Tuhan pada prioritas ke sekian dan dengan mudah menyingkirkanNya kapan saja kita mau. Itu adalah sebuah kedurhakaan terhadap Tuhan. Kita pikir itu tidak apa-apa, padahal hukuman yang menanti itu tidak main-main.
Hal itulah yang diingatkan lewat ayat bacaan hari ini. Ayatnya diambil dari peringatan Tuhan yang diberikan kepada bangsa Israel. "Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini" (Ulangan 8:11). Tuhan memperingatkan mereka agar mereka tidak melupakanNya. Sikap pembangkangan dan durhaka kepada Tuhan ternyata bukan hanya masalah di jaman ini tetapi sudah berlangsung sejak dahulu kala. Tuhan memperingatkan mereka karena jelas sekali ada indikasi dan bukti penyelewengan mereka melupakan Tuhan.
Apa yang dilakukan bangsa Israel sungguh benar-benar sudah keterlaluan. Tuhan sendiri yang memimpin mereka keluar dari perbudakan di Mesir, memberi tiang awan dan tiang api dalam perjalanan mereka, membelah laut Teberau, memberi manna dari langit dan banyak lagi bukti nyata kebaikan Tuhan yang turun atas mereka. Mereka mengalami berbagai mukjizat silih berganti, tapi mereka masih saja mudah bersungut-sungut dan terus mengeluh selama perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Meski demikian, Tuhan masih bersabar dengan memberikan peringatan yang amat tegas ini. Tuhan bilang, "hey, kalian harus hati-hati supaya jangan sampai melupakanKu." Dengan bagaimana? Dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapanNya. Lantas setelah peringatan ini turun, apakah mereka menjadi taat? Israel yang tegar tengkuk ternyata memang benar-benar melupakan Tuhan yang telah begitu baik kepada mereka.
(bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...



