Friday, August 7, 2015

Perihal Mengampuni dan Diampuni (2)

(sambungan)

Sebelum kita membahas hal pengampunan menurut Firman Tuhan, mari kita lihat terlebih dahulu seperti apa dampak memaafkan itu bisa mempengaruhi kesehatan kita dari sisi medis. Coba anda ingat-ingat lagi saat anda marah besar. Bukankah jantung anda berdetak cepat, tubuh terasa gemetar, nafas menjadi cepat dan anda sulit untuk berpikir jernih? Detak jantung dan tekanan darah menjadi tidak normal saat kita emosi. Dan itu tentu berbahaya bagi kesehatan atau nyawa kita. Salah-salah pembuluh darah di otak pecah atau kena serangan jantung. Kalau sudah begitu, apa hal baik yang bisa kita dapatkan dari membiarkan amarah dan dendam dalam diri kita?

Sebaliknya, sebuah jurnal kesehatan pernah memuat studi tentang mengampuni. Saat kita mengampuni seseorang dan melepaskan jerat dendam yang membelenggu hati kita, detak jantung dan tekanan darah menurun. Stres berkurang, sehingga orangnya jadi bisa tidur nyenyak, hidup menjadi rileks dan lapang, dan karenanya kita tidak lagi perlu kehilangan sukacita dari diri kita. Itu tentu akan sangat baik dampaknya buat kesehatan dan panjangnya umur kita.

Tuhan menganggap penting kebesaran hati kita untuk mengampuni, dan menjadikan itu sebagai sebuah syarat agar kita bisa menerima pengampunannya. Dan itu disampaikan dalam banyak bagian di dalam Alkitab, yang menunjukkan bahwa masalah pengampunan ini sangatlah penting. Disamping itu, penyampaian hal mengampuni yang berulang-ulang juga menunjukkan pemahaman Tuhan akan kecilnya kemampuan kita untuk melakukan itu dibanding menyimpan dan membalas dendam.

Sebuah perumpamaan tentang pengampunan pernah diberikan Yesus dalam Matius 18:21-35 yang menggambarkan betapa pentingnya bagi kita untuk membuka pintu pengampunan seluas-luasnya. Dalam perumpamaan itu digambarkan adanya seorang raja yang mau menyelesaikan hutang-hutang dari hamba-hambanya. Saat itu ada seorang hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta. Si hamba pun memohon keringanan waktu untuk dapat membayar lunas hutangnya dengan memohon sambil berlutut. Sang raja pun merasa iba. "Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya." (ay 27). Bukan cuma diberi keringanan, tapi hutangnya dihapuskan. Betapa beruntungnya si hamba tersebut.

Tapi yang terjadi selanjutnya sungguh ironis. Ketika si hamba keluar, ia bertemu dengan orang lain yang berhutang kepadanya, dengan jumlah yang jauh lebih kecil dari hutangnya kepada raja. Kali ini urusannya bukan dia yang berhutang, tapi ia ada pada posisi piutang alias yang dihutangi. Kalau dalam posisi berhutang ia perlu memohon-mohon agar diringankan, reaksinya langsung berbeda ketika ia berada di posisi sebaliknya. Ia langsung mencekik dan memaksa orang itu untuk segera membayar hutangnya. Orang itu pun memohon dengan berlutut untuk meminta keringanan, persis seperti apa yang baru saja ia lakukan di hadapan raja. Tapi si hamba tidak mempedulikan hal itu.

Ketika mendengar perbuatannya, raja pun marah besar. "Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?" (ay 32-33). "Jika aku mengampuni engkau bahkan menghapuskan hutangmu yang besar, masakan engkau tega melakukan itu kepada temanmu yang hanya berhutang sedikit?" Begitu kira-kira kata sang raja. "Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya." (ay 34). Dan Yesus pun menutup perumpamaan itu dengan sebuah peringatan penting: "Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (ay 35).

(bersambung)

Thursday, August 6, 2015

Perihal Mengampuni dan Diampuni (1)

Ayat bacaan: Matius 6:12
======================
"dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami"

Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk bisa memaafkan orang? Anda akan terkejut jika mendengar ada yang memendam dendam selama puluhan tahun, dan itu nyata adanya. Meski orang tersebut memang bukan dalam posisi yang bersalah, ia sudah membuang waktu sekian lama berkubang dalam dendam. Tidak ada sukacita saat kita mendendam, dan bayangkan dalam masa hidup yang singkat ini, sekian puluh tahun ia harus hidup tanpa sukacita karena membiarkan dendam menguasai dirinya. Kalau itu saja sudah parah, ada yang bahkan bertikai dan bermusuhan lebih dari satu generasi. Sampai tujuh turunan bahkan lebih. Generasi yang dibawah mungkin tidak lagi mengetahui latar belakangnya, tetapi mereka tetap harus bermusuhan dengan keturunan musuh nenek buyutnya. Dari pengalaman saya sendiri, mengampuni orang dan hidup tanpa dendam membuat hidup terasa jauh lebih ringan. Benar, ada kalanya orang berlaku demikian buruk kepada kita sehingga melukai perasaan atau bisa saja merugikan kita habis-habisan, tetapi pengampunan tetap saja harus diberikan agar hidup kita terasa lebih lega tanpa ada perasaan yang terus memberatkan kita. Dan Tuhan pun mengharuskan itu sebagai syarat agar pelanggaran-pelanggaran kita pun bisa dimaafkan.

Karena hal ini penting dan seringkali sulit untuk dilakukan, saya ingin membagikan dua contoh dari kisah nyata tokoh dunia. Yang pertama, mari kita lihat sosok Nelson Mandela. Sejak usia muda ia gigih menentang rasisme di negaranya Afrika Selatan. Pada tahun 1964 ia ditangkap dan kemudian dimasukkan ke dalam penjara. Saat ditangkap ia sudah tidak muda lagi, usianya 46 tahun. Dan ia mendekam di penjara bukan untuk waktu yang singkat melainkan selama 27 tahun. Saat ia bebas di tahun 1990, usianya sudah mencapai lebih dari 70 tahun.

Di penjara yang lembab ia sempat menderita berbagai penyakit seperti tuberkolosis dan kehilangan kesempatan untuk menikmati usia produktifnya. Jika kita yang mengalami hal itu, mungkin yang terpikir adalah bagaimana membalas dendam terhadap mereka yang sudah begitu kejam mengurung kita selama lebih dari dua setengah dekade seperti itu. Tapi tidak dengan Mandela. Ia mengajak bangsanya untuk melepaskan pengampunan tanpa syarat. Bukan hanya mengajak, tetapi ia pun memberi keteladanan secara langsung. Ia duduk semeja dengan para 'musuh'nya, bersalaman dengan mereka dan menatap masa depan Afrika Selatan yang lebih cerah.

Itulah yang dilakukan oleh orang yang dipenjara selama 27 tahun terhadap mereka yang menjebloskannya. Inilah yang ia katakan: "Forgiveness liberates the soul. It removes fear. That's why it's such a powerful weapon." Terjemahannya: "Pengampunan memerdekakan jiwa. Pengampunan menyingkirkan rasa takut." Karena itulah pengampunan merupakan senjata yang sangat kuat." Meski ia telah mangkat di usia ke 95, kata-kata dan kebesaran jiwanya tetap diingat orang, dan karya persatuannya lewat mengampuni masih dinikmati rakyatnya sampai sekarang.

Kemudian ada kisah nyata yang ditulis dalam bentuk autobiografi oleh Eric Lomax. Pada masa Perang Dunia II Lomax bertugas sebagai tentara Inggris dan ditangkap oleh tentara Jepang di Singapura. Ia kemudian disekap di Thailand, mengalami kerja paksa membangun rel kereta api dan mengalami penyiksaan mengerikan diluar batas kemanusiaan oleh Kempetai karena ketahuan merangkai radio secara diam-diam. Puluhan tahun ia mengalami trauma psikologis dan di usia tuanya ia mengambil sebuah langkah luar biasa hebatnya, yaitu mengampuni dan rekonsiliasi dengan pimpinan tentara yang menyiksanya. Itu ia lakukan di lokasi dimana ia dahulu mengalami penyiksaan. Mereka bahkan kemudian bisa menjadi sahabat dekat hingga akhir hayatnya. Mengapa ia mau melakukan itu? Alasan Lomax hanya satu: untuk membebaskan dirinya dari kepahitan dan rasa benci/dendam sepanjang hidupnya. Kisah ini sudah difilmkan dengan judul "The Railway Man". 

Ada orang yang sulit mengampuni meski masalahnya sebenarnya tidaklah terlalu berat, tapi sebaliknya ada orang yang sanggup membuka pintu pengampunan meski kerugian dan penderitaan yang mereka tanggung luar biasa besarnya. Terlepas dari ketulusan orang untuk meminta maaf saat menyadari kesalahan atau masih tetap bersikukuh tidak mau minta maaf, pada kenyataannya kemampuan untuk memaafkan pun ternyata tidak kalah sulitnya. Itulah sebabnya Mahatma Gandhi pada suatu kali mengatakan bahwa "The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong." Orang lemah tidak akan pernah bisa mengampuni, karena mengampuni hanyalah atribut dari yang kuat.

(bersambung)

Wednesday, August 5, 2015

Offering The Best or Left-Overs? (2)

(sambungan)

Bahwa kepada ayah kita saja kita harus bersikap hormat, bukankah seharusnya kita justru lebih hormat lagi kepada Tuhan, Sang Pencipta segalanya termasuk diri kita? Dia menciptakan kita dengan begitu indahnya, lengkap dengan segala rancangan penuh damai sejahtera agar kita semua memiliki masa depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Bahkan Yesus Kristus, anakNya yang tunggal pun rela Dia berikan agar kita semua tidak lagi berakhir dalam kebinasaan melainkan bisa memperoleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Sayangnya hanya sedikit yang menyadari hal ini secara jelas. Sebagian lainnya tidak menghargai betapa besar kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Bukannya bersyukur dan rindu untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, mereka malah sibuk menimbang-nimbang neraca keuangan dan segala yang mereka miliki. Untung rugi hanya didasari pada hal finansial dan butuh tidaknya pertolongan Tuhan. Memberi hanya agar jangan sampai berkurang rejeki, atau dengan sangat terpaksa memberi kepada Tuhan supaya jangan masuk neraka, atau supaya usaha mereka lancar jauh dari kebangkrutan. Sangatlah wajar jika Tuhan marah besar melihat kelakuan seperti ini.

Lebih jauh kita bisa melihat apa yang memicu kemarahan Tuhan yang merasa diperlakukan tidak hormat ini dalam ayat selanjutnya pada Maleakhi pasal 1. "Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam." (Maleakhi 1:8).

Kalau ada pemimpin daerah atau negara datang berkunjung ke rumah kita, bukankah kita akan menyediakan semua yang terbaik yang ada pada kita untuk menjamunya? Itu akan kita beri sebagai rasa syukur dan terima kasih kita kepadanya. Kalau kita hanya beri yang sisa atau buruk mutunya, bukankah itu berarti penghinaan? Dan dengan sangat jelas Tuhan menyampaikan teguran itu disertai contoh yang sangat sederhana yang bisa dicerna oleh siapapun. Perilaku seperti ini sangatlah tidak pantas, dan bagi Tuhan merupakan sebuah kecemaran bahkan penghinaan (ay 7). Begitu murkanya Tuhan terhadap sikap-sikap demikian, hingga berkata "Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa." (ay 14). Teguran Tuhan sangat keras, dan itu wajar karena dengan berbuat demikian kita merendahkan Tuhan, yang seharusnya ditinggikan di atas segalanya. Lebih dari orang-orang yang kita hormati di dunia ini.

Sikap seperti ini jelas tidak pantas untuk dilakukan. Tidak kepada orang yang kita hormati di dunia, apalagi kepada Tuhan semesta alam. Apalagi kalau kita melihat betapa banyaknya janji berkat, perlindungan bahkan keselamatan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita manusia, yang ia ciptakan dalam posisi sebagai anak dan ahli warisNya. Salah satu firmanNya dalam Mazmur bunyinya seperti ini: "Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya." (Mazmur 81:17). Janji berkat Tuhan lainnya dibeberkan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14.

Tuhan jelas menjanjikan segala yang terbaik buat kita. Dia memberikan yang terbaik. Tapi bagaimana dengan kita? Jika kepada orang tua kita, dan kepada orang-orang yang kita hormati saja kita harus memberikan yang terbaik, bukan sesuatu yang asal-asalan atau malah sisa-sisa saja, tidakkah Allah jauh lebih layak untuk mendapatkan yang terbaik dari kita yang mengaku anak-anakNya? Hari ini mari kita renungkan, apakah selama ini kita sudah memberi apa yang terbaik dari kita untuk Tuhan? Atau kita masih mengedepankan neraca untung rugi, hitung-hitungan dalam pengukuran duniawi ketika hendak memberi untuk Tuhan? Have we offered Him nothing but the best of us, or are we still thinking of giving him just the left-overs? Apakah kita rindu untuk memberi yang terbaik atau kita malah memberi remah-remah atau sisa-sisa karena terpaksa?

Jangan potong hak Tuhan, hormati Dia dengan layak dengan memberi yang terbaik dari kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, August 4, 2015

Offering The Best or Left-Overs? (1)

Ayat bacaan: Maleakhi 1:8
=======================
"Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam."

Seperti apa sikap kita dalam memberi persembahan setiap minggunya di gereja? Banyak orang yang berhitung dalam melakukannya. Memberi besar kalau sedang ada yang hendak diminta, tapi hanya sepeser kalau sedang baik-baik saja. Soal perpuluhan dijadikan polemik, apakah 10% dari pendapatan sebelum atau sesudah melunasi rekening bulanan. Ada juga yang sangat pelit dalam memberi persembahan tapi royalnya bukan main kalau memberi tips atau saat mentraktir rekan bisnis. Bahkan membayar parkir pun lebih besar ketimbang memberi persembahan. Alasannya banyak. Ada yang pernah berkata "ah, buat apa banyak-banyak, nanti kalau diselewengkan bagaimana?" Padahal masing-masing dari kita punya pertanggungjawaban sendiri. Kalau memang dicurangi itu urusan mereka dengan Tuhan, bukan urusan kita. Urusan kita adalah memberi yang terbaik sebagai persembahan syukur kepada Tuhan yang idealnya dipakai untuk memperluas KerajaanNya di muka bumi ini. Itu adalah dua hal yang berbeda yang tidak ada gunanya dicampur-adukkan.Ada yang berdalih sedang banyak pengeluaran bulan ini, ada yang merasa sayang duit kalau memberi dalam jumlah yang layak, cuma sekedar memberi saja dan sebagainya. Belum lagi yang memberikan uangnya tidak dalam keadaan baik alias yang sobek, lusuh dan sulit dipakai lagi sebagai alat tukar dalam berbelanja. Ada yang menggulung-gulung uangnya seperti kertas yang hendak dibuang ke tong sampah. Saat pemimpin pujian mengingatkan kita untuk memberikan yang terbaik bagi kita, sejauh mana kita menyadari pentingnya akan hal itu?

Ambil contoh sederhana saja. Sebagai anak yang berbakti, setelah kita menerima segala yang terbaik dari orang tua kita dalam memberi makan, mengajarkan budi pekerti, menyekolahkan kita sampai selesai tanpa memandang seberapa besarpun yang harus mereka korbankan demi kita, tidakkah kita seharusnya rindu untuk memberikan yang terbaik pula kepada mereka dan membahagiakan mereka setelah kita sudah mampu? Itu akan menjadi kerinduan anak yang berbakti. Tapi namanya manusia, banyak pula yang kemudian melupakan orang tuanya saat sudah sukses. Mereka tidak lagi peduli, hanya datang di hari-hari tertentu atau kalau sempat dan tidak capai, bahkan ada yang tega menempatkan orang tuanya di rumah jompo padahal tinggalnya di satu kota dan di rumahnya ada begitu banyak kamar tidak terpakai. Kesedihan para orang tua yang terbuang ini sudah terlalu sering saya dengar dari kunjungan-kunjungan ke rumah-rumah jompo. Seorang anak yang berbakti pasti akan menghargai usaha mati-matian orang tuanya dalam membesarkan mereka dan akan selalu memberi yang terbaik bagi orang tuanya.

Kalau kepada orang tua saja seperti itu, bukankah keterlaluan kalau kita melupakan segala yang terbaik yang sudah diberikan Tuhan dalam perjalanan hidup kita? Bukankah Tuhan sudah membekali kita dengan begitu banyak talenta, membukakan kesempatan, menolong kita dalam banyak hal, menyertai kita dan yang jauh lebih besar lagi, menganugerahkan kita keselamatan dan pemulihan hubungan yang sempat terputus denganNya akibat dosa dengan mengorbankan Yesus? Kalau begitu, bagaimana kita bisa sedemikian tega berhitung untung rugi kepada Tuhan?

Seperti itulah yang banyak terjadi di kalangan orang percaya. Semua orang yang mengharapkan berkat yang terbaik dari Tuhan, tapi hanya rela memberikan sisa-sisa kepada Tuhan. Itupun dengan rasa berat hati dan bersungut-sungut. Bukannya memberi dengan sukacita tapi malah dalam keadaan terpaksa dan merasa seperti diperas atau malah dirampok. Kalau kepada orang tua dunia kita saja kita bisa mendapat cap durhaka, entah apa cap yang pantas diberikan kepada orang-orang percaya yang bersikap seperti itu kepada Tuhan.

Dalam kitab Maleakhi kita bisa melihat bagaimana Tuhan saking kecewanya sampai merasa muak dan murka ketika mendapat perlakuan yang tidak pantas dari umatNya. "Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?" (Maleakhi 1:6).

(bersambung)


Monday, August 3, 2015

Tertawalah (Selagi Masih Bisa?)

Ayat bacaan: Amsal 17:22
===================
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."

"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang." Jargon ini melekat erat pada sebuah grup lawak yang sangat terkenal di akhir 70an sampai dua dekade berikutnya. Mengingat pada masa itu pemerintahan masih bersifat sangat represif yang memperbolehkan pemerintah mengintervensi dan mengangkangi kebebasan orang untuk menyuarakan pendapat, kalimatnya menjadi terdengar sangat relevan sekaligus lucu. Dalam banyak hal di kehidupan nyata, kalimat ini masih agak-agak nyambung juga. Mungkin bukan pakai kata 'dilarang', tapi diganti sedikit dengan 'selagi masih bisa'. Jadi kalimatnya berubah menjadi "Tertawalah selagi masih bisa." Rata-rata manusia akan tertawa saat berada dalam keadaan baik, tapi akan segera kehilangan sukacita yang bisa membuat mereka tertawa lepas saat masalah mulai muncul dalam hidup mereka, bahkan meskipun hanya sedikit atau ringan. Jangankan tertawa, senyum pun berat. Seperti ada pemberat yang digantungkan di kedua ujung bibir sehingga sulit sekali untuk bisa melengkungkan mulut ke arah atas, sebaliknya sangat mudah untuk menekuk ke bawah. Air muka keruh atau murung. Kalau sudah begitu tertawa pun sudah tidak lagi bisa.

Berbagai penelitian medis sejak lama menyatakan bahwa tertawa itu sebenarnya sehat. Tertawa bahkan dipercaya bisa menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan bisa memperpanjang usia. Sebaliknya orang sehat pun lama-lama bisa jatuh sakit jika tidak lagi ada kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidupnya. Tidak satupun penelitian yang menyimpulkan sebaliknya bahwa tertawa itu berbahaya bagi kesehatan. Kita sudah tahu betul akan hal itu, akan tetapi kita seringkali tidak mampu untuk mengatasi berbagai perasaan negatif yang bercokol di dalam kita. Ironisnya, bentuk kehidupan yang keras dan berat membuat kita lebih sering bergumul ketimbang berada dalam keadaan baik. Ketakutan, kekhawatiran, kekecewaan, kesedihan, penderitaan dan sebagainya, itu akan setiap saat sanggup merampas sukacita dari hidup kita dan dengan sendirinya menahan senyum atau tawa untuk terlukis di wajah kita.

Jauh sebelum penelitian-penelitian medis itu dibuat, Alkitab sudah terlebih dahulu menyatakannya. Dalam Amsal kita bisa menemukan itu, dimana tulisannya berasal dari orang yang paling berhikmat di dunia, yaitu Salomo. "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). "Happy heart is a good medicine, and a cheerful mind works healing." Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggrisnya dengan lebih rinci. Hati yang gembira itu obat yang manjur atau mujarab, dan pikiran yang bersukacita mendatangkan kesembuhan. Sebaliknya orang yang hatinya murung dikatakan akan mengeringkan tulang, atau mematahkan semangat. Ini sebuah ayat yang mungkin tidak lagi asing bagi kebanyakan dari kita, tetapi sudah sejauh mana kita mengaplikasikannya dalam hidup kita? Atau pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita bagaimana agar hati kita tetap berada dalam kondisi riang?

Kebanyakan orang seringkali keliru menggantungkan letak kegembiraannya. Kita cenderung menganggap bahwa gembira tidaknya kita sangatlah tergantung dari situasi, kondisi atau keadaan yang tengah kita alami hari per hari. Hati kita pun akan terus berada dalam situasi tidak menentu dan tidak stabil. Sebentar bisa gembira, sebentar bisa sedih. Sebentar tertawa, sebentar lagi menangis. Sekarang senang, tapi kemudian bisa penuh dengan amarah dan lain-lain. Tidakkah kita sering bertemu dengan orang yang mood nya swing, benar-benar tidak stabil? Baru saja tertawa ia bisa marah-marah, lalu menangis dan kemudian tertawa lagi. Mungkin kita sendiri juga seperti itu. Kita menyetir sambil tertawa riang, tiba-tiba ada pengemudi lain yang menyalip dengan sembrono dan seketika itu pula kita terpancing emosi.

Mendasarkan kepada situasi akan membuat hati kita terus berada dalam kondisi tidak stabil, dan itu tidak akan baik buat hati dan hidup kita. Di sisi lain, apakah kemurungan dan perasaan susah tidak akan membantu atau memberikan sesuatu yang baik? Itu tidak akan memberikan apa-apa selain menambah masalah saja. Dan Yesus sudah mengingatkannya sejak lama: "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27). Kuatir, sedih, murung atau perasaan-perasaan negatif lainnya tidak akan pernah memberi manfaat apapun. Dan apabila kita terus murung, tidaklah heran jika hari-hari yang kita lalui pun terasa buruk semuanya. Jadi bukan soal ada hari baik dan buruk, tapi lebih kepada bagaimana kita memandang hari-hari yang kita jalani. Lihatlah apa yang ditulis dalam Amsal berikut: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." (Amsal 15:15).

Alkitab pun sudah menyatakan sejak awal bahwa sebuah kebahagiaan sejati seyogyanya tidak tergantung dari situasi dan lingkungan sekitar, melainkan sesungguhnya berasal dari Tuhan. Ada banyak sekali ayat yang sebetulnya menyatakan hal itu untuk kita camkan sungguh-sungguh. Salah satunya berbunyi: "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Sukacita atau kegembiraan yang berasal dari Tuhan pun ternyata mampu menular mempengaruhi orang lain. "Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita." (34:3). Kemana dan dimana kita menggantungkan kebahagiaan hati kita akan sangat menentukan seperti apa kita hari ini. Apakah kebahagiaan, keceriaan, keriangan yang terpancar dari dalam diri kita dan tercermin lewat senyum atau tawa lebar yang bisa membawa suasana senang bagi orang-orang disekitar kita, atau justru kehadiran kita membawa kemuraman dan suasana yang sama sekali tidak enak bagi mereka.

Apa yang anda inginkan untuk terlukis di wajah anda hari ini? The face of rage, anger, sadness, or the smiling face full of joy, happiness and laughter? Ketahuilah bahwa itu tidak tergantung dari kondisi yang tengah dialami, melainkan seberapa besar anda mengizinkan Tuhan berperan dalam hidup anda. Kita bisa memilihnya, bukan hanya diam pasrah membiarkan kondisi hati tidak menentu terombang-ambing dalam berbagai perasaan. Kegembiraan sejati sesungguhnya ada di dalam hubungan erat kita dengan Tuhan dan bukan kepada kondisi faktual kita. Hidup dalam penyertaan Tuhan akan bisa membuat kita tetap ceria dan tertawa meski situasinya sedang tidak kondusif.

Kita bisa melihat bagaimana cara Pemazmur untuk tidak mengizinkan sedikitpun rasa tidak tenteram atau gelisah merampas sukacita dari dirinya. "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram." (Mazmur 16:8-9). Jika demikian, tersenyum dan tertawalah sekarang juga, dan nikmati hidup yang dipenuhi kebahagiaan sejati yang ada pada hidup yang digantungkan kepada Tuhan.

Sulit atau mudahnya tertawa bukan tergantung dari situasi tetapi dari seberapa dekatnya kita dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, August 2, 2015

Menyikapi Panggilan (4)

(sambungan)

4. Panggilan harus dilakukan secara serius seperti untuk Tuhan dan bukan manusia

Karena Dia yang memiliki panggilan itu, tentu kita pun diwajibkan untuk melakukan yang terbaik seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk orang lain. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa bukan sebagian saja, tetapi segala sesuatu, apapun yang kita perbuat, kita harus melakukannya dengan segenap hati seperti untuk Tuhan. Jika untuk pekerjaan biasa-biasa saja kita diminta seperti itu apalagi ketika kita menjalankan sebuah tugas mulia yang didasari oleh panggilan dari Tuhan sendiri.

Ada tujuan-tujuan Tuhan yang secara spesifik diberikan kepada kita, dan bentuknya berbeda-beda. Akan sangat jelas bedanya saat kita mengetahui secara detail lantas melakukannya, mengetahui secara detail tapi tidak sungguh-sungguh, dan tidak tahu sama sekali. Yang terbaik tentu saja adalah mengerti benar maksud dan tujuan Tuhan atas diri anda sejak diciptakan dan meletakkan yang terbaik dari diri anda dalam melakukannya. Seperti untuk Tuhan, bukan manusia, seperti itulah keseriusan yang seharusnya kita miliki dalam menjalani panggilan.

5. Panggilan harus dikerjakan dengan iman

Alkitab menegaskan bahwa apapun yang kita kerjakan haruslah berdasarkan iman. Mengapa? Sebab "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa." (Roma 14:23b). Karena itulah panggilan pun harus dikerjakan dengan iman. Maksudnya adalah ketika kita mengerjakan panggilan itu, kita harus tahu bahwa itu berasal dari Tuhan dan kita harus bertanggung jawab kepadaNya. Jangan sampai dalam mengerjakannya kita tercemar oleh berbagai langkah yang sama sekali tidak didasarkan iman. Semua itu harus ditujukan untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk kepentingan-kepentingan kita pribadi dan harus didasarkan kepada kebenaran.

Selain itu ingat pula bahwa iman menjadi "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Iman bisa menjadi pegangan kita dalam melangkah setapak demi setapak dalam memenuhi panggilan. Tanpa itu kita mungkin bisa merasa bosan, capai atau putus asa lantas gagal dalam menuai keberhasilan seperti yang ada dalam rancanganNya.

Sebagai orang percaya kita dipanggil untuk menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Panggilan bukan hanya akan membuat anda menjadi orang-orang yang berhasil, bahkan lebih dari pemenang dan menikmati kebahagiaan yang begitu indah saat melakukan pekerjaan, tapi juga akan menyatakan terang dan kemuliaan Tuhan di dunia.

Sudahkah anda mengetahui apa sebenarnya yang menjadi panggilan buat anda dan sudahkah anda mengerjakannya secara maksimal? Jika belum, mulailah hari ini juga. Temukan apa yang menjadi panggilan Tuhan dan kerjakanlah dengan sebaik-baiknya. Tetaplah jaga hidup dalam kekudusan, respon dan hidupi panggilan itu, lakukan dengan maksimal seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia dan lakukan dengan dasar iman. Tampillah menjadi orang-orang yang menyatakan terang Tuhan sesuai panggilan anda masing-masing, kembangkanlah itu semua sesuai talenta dan karunia yang sudah Dia sediakan. Give our best to answer our callings!

Temukan panggilan anda dan lakukan yang terbaik dalam mengerjakannya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, August 1, 2015

Menyikapi Panggilan (3)

(sambungan)

Selanjutnya mari kita lihat beberapa hal lain pula yang juga penting untuk kita perhatikan berkenaan dengan panggilan.

1. Merespon panggilan Tuhan dengan baik

Tanpa adanya respon dari kita terhadap sebuah panggilan maka tidak akan ada hasil yang bisa dicapai. Jangankan hasil, kita bahkan tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya Tuhan mau untuk kita kerjakan. Merespon itu sama dengan menjawab bahwa kita siap untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Mungkin kita tidak pernah membayangkan bahwa kita sanggup, tetapi yang Tuhan mau sebenarnya bukanlah kemampuan atau kesanggupan kita melainkan kesediaan kita untuk melakukannya. Bukan kemampuan yang penting, tapi kemauan. Tuhan adalah Allah yang menyediakan, dan Dia akan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan agar kita bisa melakukannya dengan hasil yang terbaik. Berbagai talenta sudah dia berikan sebagai modal awal, tugas kita kemudian mengembangkannya hingga matang dan menghasilkan buah-buah yang bermanfaat bukan hanya bagi kita tetapi bagi orang lain, sehingga itu bisa menyatakan terang dan kemuliaan Allah di manapun kita ditempatkan.

Sebuah panggilan bisa sangat unik, tidak umum bahkan terasa aneh pada mulanya. Tapi jika panggilan itu dijalankan, anda akan mendapati bagaimana Tuhan bekerja di dalam diri anda, menyediakan segala sesuatu yang anda perlukan dalam prosesnya. Dan anda akan merasakan kepenuhan, kebahagiaan atau sukacita yang sangat berbeda saat menjalani panggilan tanpa memandang untung rugi, sebuah perasaan yang tidak akan anda dapatkan saat mengerjakan hal-hal diluar panggilan.

2. Menghidupi Panggilan itu

Panggilan yang diterima tidak otomatis menjadi sesuatu yang langsung jadi. Seperti aspek-aspek kehidupan lainnya, sebuah panggilan pun harus terus dikembangkan agar terus meningkat hingga menjadi sebuah penggenapan seperti yang menjadi tujuan Tuhan dalam hidup kita. Dengan cara terus dilatih dan dikembangkan sesuai dengan karunia dan talenta yang sudah diberikan, panggilan itu nantinya akan menjadi menghasilkan buah yang subur. Seringkali grand design Tuhan akan secara perlahan pula kita ketahui seiring perjalanan atau prosesnya. Bagai melengkapi kepingan puzzle atau gambar yang tadinya kabur tapi kemudian menjadi terus semakin jelas bentuknya, setahap demi setahap kita melakukan panggilan Tuhan hingga akhirnya kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya Dia mau kita lakukan dan seperti apa sebenarnya yang Dia ingin kita capai.

3. Mengubah cara kita menjadi cara Tuhan

Kebanyakan orang melakukan segala sesuatu menurut caranya sendiri, menurut kemauannya sendiri. Ingatlah bahwa panggilan yang diberikan Tuhan itu bukanlah milik kita. Bagaimanapun itu berasal dari Tuhan. Karena itu cara terbaik tentu adalah dengan memakai cara Tuhan dalam melaksanakannya, yaitu dengan megiktui tuntunan yang Dia berikan, sesuai dengan kehendakNya.

Ambil satu contoh mengenai Daud. Ketika Daud dilantik menjadi raja, ia ternyata tidak langsung naik tahta dan berkuasa. Ia ternyata harus mengikuti cara Tuhan, dengan cara menjadi hamba Saul terlebih dahulu. Atau perhatikan proses Yusuf yang diwarnai banyak penderitaan hingga bertahun-tahun lamanya. Ini baru dua dari begitu banyak contoh lainnya yang tertulis dalam Alkitab.

Kalau tidak dari Alkitab, contoh di dunia dari sejarah hidup banyak tokoh pun bisa menjadi pelajaran bagaimana sukses itu tidak datang dalam semalam. Ada proses yang harus kita lalui, dan kelancaran dan kesuksesan yang menjadi hasil akan sangat tergantung dari bagaimana kita menyikapi panggilan. Memakai cara Tuhan, bukan cara kita akan melancarkan tahapan yang harus dilalui. Kita bisa mengetahui itu dengan menyerahkan hidup dan perjalanannya sepenuhnya ke dalam rencana Tuhan. Kedekatan hubungan denganNya menjadi hal penting dalam hal ini. Kita dituntut untuk taat, sabar dan terus memegang komitmen terhadap panggilan yang sudah kita terima.

(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...