(sambungan)
Janganlah terlalu cepat menghakimi bahwa denominasi yang satu lebih rendah dari yang lain, mereka salah kita benar, apalagi sampai menuduh sesat segala. Selama gereja mengakui Bapa, Anak dan Roh Kudus, selama gereja selalu fokus dan haus akan Tuhan, selama semuanya didasarkan pada Alkitab, selama Tuhan yang dipermuliakan disana dan bukan untuk kepentingan pribadi, maka Tuhan Yesus jelas ada disana.
Ketika ada orang yang menganggap bahwa hanya gereja dengan jumlah jemaat besar lah yang diberkati, dan menganggap enteng gereja yang jemaatnya hanya sedikit, ingatlah bahwa Tuhan Yesus hadir tidak hanya pada ribuan jemaat, tapi dengan jumlah sedikit pun yang bersekutu dalam doa, Tuhan Yesus hadir diantara mereka. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:20). Dua atau tiga orang saja berkumpul atas NamaNya, maka Yesus pun hadir disana. Alangkah indahnya jika semua gereja mendasarkan bukan pada perbedaan tapi pada kesamaan, bahwa semuanya adalah satu dalam Kristus, merupakan bagian dari tubuh Kristus.
Dalam 1 Korintus 12:12-31 Paulus mengingatkan kita akan hal itu. "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus." (1 Korintus 12:12). Mata adalah organ tubuh penting, tapi bagaimana jika tubuh kita hanya terdiri dari mata? "Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan." (ay 21-22).
Masing-masing kita sebagai bagian dari tubuh Kristus mendapat karunia tersendiri, yang jika digabungkan akan dapat menjadi kesaksian akan Kristus. Perpecahan merupakan keinginan iblis. Iblis akan selalu mempengaruhi dan menggoda agar kita terpecah. Dalam Roma 16:17 kita juga diingatkan untuk waspada terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan dan godaan.
Kita harus semakin utuh dalam kesamaan, bukan malah memperbesar jurang perbedaan. Seperti pelangi yang indah karena warna-warna berbeda bersatu membentuk untaian indah di langit, begitula indahnya jika kita semua bersatu, saling dukung, saling menguatkan dan saling bantu tanpa mempersoalkan latar belakang denominasi dimana kita bertumbuh.
Alangkah indah seandainya dimana ditengah berbagai persoalan kehidupan yang menerpa, ada banyak anak-anak Tuhan tidak lagi mempersoalkan denominasi. Semua berkumpul dan bersatu membangun persekutuan-persekutuan dan pelayanan tanpa memandang perbedaan tempat bertumbuh dan mengedepankan kemuliaan Tuhan Yesus di atas segalanya. ITulah yang seharusnya dijadikan dasar kebersamaan. Kebersatuan kita merefleksikan Trinitas. Kemuliaan Tuhan akan terlihat melalui kita anak-anakNya dan saya yakin, Tuhan akan sangat bangga jika itu kita lakukan. Semua adalah anggota tubuh Kristus, dimana jika mereka berkumpul atas nama Kristus, Dia pun hadir ditengah-tengah mereka, sama seperti Kristus hadir didalam persekutuan kita.
Hendaklah kita menjadi satu, seperti Kristus ada di dalam Tuhan, Tuhan ada di dalam Kristus, dimana kita ada didalamnya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Thursday, May 7, 2015
Wednesday, May 6, 2015
Kebersatuan di Antara Orang Percaya (1)
Ayat bacaan: Yohanes 17:20-21
========================
"Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."
Berkecimpung di dunia musik membuat saya melihat banyak band yang datang dan pergi. Ada yang bisa bertahan lama, ada yang belum apa-apa sudah bongkar pasang dan akhirnya bubar. Apa yang seringkali menjadi akar permasalahan adalah egoisme atau kadar ke'aku'an yang berlebihan. Bentuknya pun macam-macam. Ada yang ingin menonjol di antara rekan-rekan seband, ada yang terlalu dominan dan memaksakan kehendak, ada yang merasa paling hebat sehingga dengan mudah menyalahkan temannya kalau ada tidak pas pada saat bermain, menganggap diri sebagai pemain kunci sehingga menuntut pembagian lebih besar, seenaknya mangkir pada saat latihan dan sebagainya. Apa yang saya lihat adalah perpecahan ternyata bisa terjadi bahkan terhadap orang-orang yang punya visi dan passion yang sama. Mereka sama-sama membangun impian mereka untuk menjadi sukses pada saat membentuk band, bukankah itu menunjukkan bahwa mereka punya dasar dan tujuan yang sama? Jadi jangan kira bahwa perpecahan hanya ada diantara orang yang jelas-jelas berbeda dalam segala hal, tetapi itu pun bisa menimpa mereka yang sebenarnya berpijak pada dasar yang sama.
Sangat disayangkan bahwa diantara orang percaya hal ini juga terjadi. Sama-sama percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, tetapi berbeda gereja dan denominasi alias aliran. Saling mengejek, merendahkan, menjatuhkan bahkan menuduh sesat masih saja terjadi diantara orang percaya. Itu cepat atau lambat akan membuat hubungan di antara sesama saudara/saudari seiman menjadi kaku, renggang atau bahkan terputus. Kita bisa mudah terjebak untuk merasa tata cara kita yang paling benar sedang yang lain salah atau malah sesat. Keretakan dan perpecahan bahkan masih bisa terjadi di dalam satu gereja yang sama. Ironisnya terkadang mereka malah bawa-bawa Tuhan atau berani menyalahkan Tuhan atas itu. "Ini kehendak Tuhan, kita harus berdiri sendiri." Apakah benar Tuhan menghendaki perpecahan? Rasanya tidak. Apa yang disinggung Tuhan Yesus dalam doanya secara khusus justru menunjukkan bahwa persatuan merupakan agenda penting dari isi hati Tuhan bagi umatNya.
Ketika berada di taman Getsemani menjelang penangkapan, Yesus datang berdoa untuk semua orang yang percaya kepadaNya yang tengah, atau seharusnya aktif menyebarluaskan tentang Kristus kepada siapapun. "Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yohanes 17:20-21).
Apa yang diminta Yesus bagi orang percaya? Dia tidak meminta agar Tuhan selalu memastikan orang percaya agar hidup sepenuhnya senang tanpa penderitaan. Dia tidak meminta kita agar tidak pernah jatuh sakit atau kebal secara fisik maupun perasaan. Tapi yang Tuhan Yesus minta adalah agar semua orang percaya menjadi satu, seperti Tuhan di dalam Kristus dan Kristus di dalam Tuhan. For all of us to be one, just like Father is in Him, and He is in Father.
Ini sebuah pesan penting akan persatuan di antara Bapa, Kristus dan kita anak-anakNya. Untuk itu Yesus sudah memberi kemuliaan, the glory and honor, seperti yang telah diberikan Tuhan kepadaNya. "Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:" (ay 22). Yesus berdoa agar kita bersatu, hidup rukun satu dengan lainnya agar dunia bisa mengetahui bahwa Tuhanlah yang mengutus Kristus untuk menyelamatkan manusia. "Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku." (ay 23). Kalau Yesus mengatakan seperti ini, artinya kita tidak akan bisa menyatakan Tuhan kepada dunia.
(bersambung)
========================
"Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."
Berkecimpung di dunia musik membuat saya melihat banyak band yang datang dan pergi. Ada yang bisa bertahan lama, ada yang belum apa-apa sudah bongkar pasang dan akhirnya bubar. Apa yang seringkali menjadi akar permasalahan adalah egoisme atau kadar ke'aku'an yang berlebihan. Bentuknya pun macam-macam. Ada yang ingin menonjol di antara rekan-rekan seband, ada yang terlalu dominan dan memaksakan kehendak, ada yang merasa paling hebat sehingga dengan mudah menyalahkan temannya kalau ada tidak pas pada saat bermain, menganggap diri sebagai pemain kunci sehingga menuntut pembagian lebih besar, seenaknya mangkir pada saat latihan dan sebagainya. Apa yang saya lihat adalah perpecahan ternyata bisa terjadi bahkan terhadap orang-orang yang punya visi dan passion yang sama. Mereka sama-sama membangun impian mereka untuk menjadi sukses pada saat membentuk band, bukankah itu menunjukkan bahwa mereka punya dasar dan tujuan yang sama? Jadi jangan kira bahwa perpecahan hanya ada diantara orang yang jelas-jelas berbeda dalam segala hal, tetapi itu pun bisa menimpa mereka yang sebenarnya berpijak pada dasar yang sama.
Sangat disayangkan bahwa diantara orang percaya hal ini juga terjadi. Sama-sama percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, tetapi berbeda gereja dan denominasi alias aliran. Saling mengejek, merendahkan, menjatuhkan bahkan menuduh sesat masih saja terjadi diantara orang percaya. Itu cepat atau lambat akan membuat hubungan di antara sesama saudara/saudari seiman menjadi kaku, renggang atau bahkan terputus. Kita bisa mudah terjebak untuk merasa tata cara kita yang paling benar sedang yang lain salah atau malah sesat. Keretakan dan perpecahan bahkan masih bisa terjadi di dalam satu gereja yang sama. Ironisnya terkadang mereka malah bawa-bawa Tuhan atau berani menyalahkan Tuhan atas itu. "Ini kehendak Tuhan, kita harus berdiri sendiri." Apakah benar Tuhan menghendaki perpecahan? Rasanya tidak. Apa yang disinggung Tuhan Yesus dalam doanya secara khusus justru menunjukkan bahwa persatuan merupakan agenda penting dari isi hati Tuhan bagi umatNya.
Ketika berada di taman Getsemani menjelang penangkapan, Yesus datang berdoa untuk semua orang yang percaya kepadaNya yang tengah, atau seharusnya aktif menyebarluaskan tentang Kristus kepada siapapun. "Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yohanes 17:20-21).
Apa yang diminta Yesus bagi orang percaya? Dia tidak meminta agar Tuhan selalu memastikan orang percaya agar hidup sepenuhnya senang tanpa penderitaan. Dia tidak meminta kita agar tidak pernah jatuh sakit atau kebal secara fisik maupun perasaan. Tapi yang Tuhan Yesus minta adalah agar semua orang percaya menjadi satu, seperti Tuhan di dalam Kristus dan Kristus di dalam Tuhan. For all of us to be one, just like Father is in Him, and He is in Father.
Ini sebuah pesan penting akan persatuan di antara Bapa, Kristus dan kita anak-anakNya. Untuk itu Yesus sudah memberi kemuliaan, the glory and honor, seperti yang telah diberikan Tuhan kepadaNya. "Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:" (ay 22). Yesus berdoa agar kita bersatu, hidup rukun satu dengan lainnya agar dunia bisa mengetahui bahwa Tuhanlah yang mengutus Kristus untuk menyelamatkan manusia. "Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku." (ay 23). Kalau Yesus mengatakan seperti ini, artinya kita tidak akan bisa menyatakan Tuhan kepada dunia.
(bersambung)
Tuesday, May 5, 2015
Sungkan Meminta Tolong (2)
(Sambungan)
Ada dua hal yang bisa kita pelajari dari kisah Nehemia ini. Pertama, ketika kita masuk ke dalam masa-masa sulit penuh uraian air mata, hal terpenting yang seharusnya kita lakukan adalah mencari Tuhan terlebih dahulu. Nehemia melakukan tepat seperti itu. Ia segera berdoa saat mendengar sesuatu yang menyedihkan hatinya, lalu kembali berdoa saat hendak memutuskan sesuatu. Jadi berdoalah, dan kuduskanlah diri terlebih dahulu dengan mengakui segala dosa-dosa yang masih mengotori diri kita, agar kita bisa mendengar suara Tuhan dengan jelas tanpa terhalang apapun.
Kedua, jangan malu untuk meminta bantuan orang lain yang punya kapasitas lebih dari kita. Kalau memang kita tidak sanggup melakukannya, kalau memang bukan bagian kita, kenapa harus malu meminta tolong dan menyerahkannya kepada orang yang lebih berkompeten untuk mengerjakan? Selama bukan karena malas dan memanfaatkan orang, tidak ada salahnya untuk meminta pertolongan. Itu bukanlah hal yang memalukan atau salah. Seperti yang saya sampaikan kemarin, Tuhan suka dan kerap menjawab doa kita dan menurunkan pertolongan lewat tangan orang lain. Dari kisah Nehemia kita melihat bahwa Tuhan bisa menyalurkan berkatNya bagi pekerjaan Nehemia lewat sosok orang lain, dalam hal ini lewat raja Artahsasta.
Ada kalanya kita melakukan sesuatu sendirian, tapi ada pula saat kita harus mengijinkan Tuhan untuk menyalurkan berkatNya lewat tangan orang lain. Kita tidak perlu malu mengakui bahwa sebagai manusia kita ini terbatas kemampuannya. Ingat bahwa Tuhan sejak awal sudah menetapkan kita untuk tidak hidup sendirian. Kita adalah mahluk sosial yang selalu butuh berinteraksi dan saling dukung, saling bantu untuk bisa meningkat. Hidup dengan gengsi, keangkuhan, kesombongan, atau di sisi lain hidup dengan rasa sungkan dan segan yang berlebihan cepat atau lambat akan membuat kita jalan di tempat, atau malah semakin mundur. Lihatlah apa kata firman Tuhan berikut ini: "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Hukum Kristus terpenuhi jika kita saling bertolong-tolongan dalam memikul beban bersama-sama. Bagaimana mungkin orang bisa menolong jika kita sendiri hanya diam saja dan tidak mau mengakui bahwa kita butuh bantuan? Oleh sebab itu kita harus menghindari sikap tinggi hati, sombong atau sebaliknya rasa sungkan yang terlalu berlebihan. Tidak ada salahnya untuk memohon bantuan, tapi sebelumnya berdoalah, tanyakan kepada Tuhan apa yang harus kita lakukan. Mendengar dan mengikuti apa yang diinstruksikan Tuhan merupakan hal yang seharusnya kita lakukan. Kepada jemaat Galatia Paulus mengatakan: "Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri." (ay 3). Artinya apabila kita merasa mampu segalanya, padahal sebenarnya kita tengah butuh bantuan, itu sama artinya dengan menipu diri sendiri.
Nehemia mengajarkan kita bagaimana pentingnya berdoa di saat kita tengah mengalami permasalahan dan bahwa tidak perlu malu atau sungkan untuk meminta tolong selama itu bukan karena kitanya malas dan lebih suka memanfaatkan orang lain. Tidak peduli seberat apa pergumulan kita hari ini, Tuhan mampu mengubah itu semua menjadi hujan berkat. "Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat." (Mazmur 84:7). Dan ini berlaku bagi orang yang menggantungkan segenap kekuatan serta hidupnya ke dalam tangan Tuhan. (ay 6). Nehemia tidak sungkan untuk memohon pertolongan dari orang lain ketika Tuhan menghendaki demikian, ia tidak malu mengakui bahwa ia membutuhkan pertolongan, demikian pula kita sebaiknya bersikap agar hukum Kristus dapat terjadi.
Tuhan sanggup mencurahkan berkatNya secara langsung, tapi sering memilih untuk menyalurkannya lewat orang lain
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, May 4, 2015
Sungkan Meminta Tolong (1)
Ayat bacaan: Nehemia 2:7-8
===============
"Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku."
Saya sudah bertemu dan mengenal begitu banyak orang yang terlalu segan untuk meminta tolong kepada orang lain. Ada yang segannya berlebihan, ada pula yang gengsi. Mereka ini biasanya lebih suka melepaskan kesempatan untuk maju atau seringkali juga menjadi repot sendiri. Terus-terusan minta tolong karena malas mengerjakan sesuatu memang tidak baik. Tapi kita pun tidak boleh lupa terhadap hakekat hidup kita sebagai mahluk sosial yang memang tidak sempurna. Sebagai mahluk sosial kita harus terhubung dan bekerja sama dengan orang lain agar bisa terus meningkat maju. Selalu saja ada waktu-waktu kita butuh uluran tangan atau bantuan dari orang lain, dan kalau memang kita tidak bisa melakukannya dan membutuhkan orang lain, tidak ada salahnya kita sampaikan. Tuhan bisa, dan kerap memberkati kita dan memberi jawaban lewat tangan orang lain.
Akan hal ini kita bisa belajar dari Nehemia. Nehemia adalah satu dari orang - orang Yehuda yang kembali dari pembuangan di Babel seperti yang tercatat dalam kitab Ezra 2:2. Nehemia hidup pada jaman ketika Yehuda menjadi bagian dari Persia. Nehemia merupakan orang dengan jabatan atau posisi yang cukup baik, yaitu sebagai juru minuman raja. Jabatan yang ia sandang ini memungkinkannya untuk memiliki hubungan yang relatif cukup dekat dengan sang raja Persia waktu itu bernama Artahsasta.
Suatu hari ia mendengar berita mengenaskan mengenai keadaan saudara-saudari sebangsanya yang telah kembali dari pembuangan. Ia prihatin karena pada saat ia beruntung karena punya jabatan terpandang, ternyata bangsanya justru menderita, tengah berada dalam kesengsaraan berat. "Kata mereka kepadaku: "Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar." (Nehemia 1:3). Apa reaksi Nehemia mendengar tentang kemalangan yang diderita bangsanya? Nehemia tidak diam saja tetapi ia menangis dan berkabung berhari-hari. Bukankah Nehemia bisa saja tidak peduli, karena dia sebenarnya sudah hidup berkecukupan? Tentu bisa, tapi Nehemia tidak bersikap demikian. Meski ia tidak mengalami kesusahan dalam hidup, ia turut merasakan kepedihan yang dirasakan bangsanya.
Ada banyak orang yang berhenti hanya pada rasa prihatin, tapi tidak dengan Nehemia. Ia menjawab kesedihannya dengan mulai melakukan beberapa hal. Pertama, Nehemia berpuasa dan berdoa. Bukan hanya memohon ampun bagi bangsanya, tapi juga pembersihan atau pertobatan dari dosa-dosanya sendiri. Kenapa malah melakukan pembersihan atas dosa-dosanya? Jawabannya sederhana. Nehemia tahu bahwa doanya tidak akan punya pengaruh apabila ia sendiri belum bersih dari dosa. Maka dalam doanya ia berkata: "berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa." (ay 6).
Kisah berlanjut pada pasal 2. Pada suatu hari empat bulan kemudian, ketika Nehemia tengah menghidangkan anggur bagi raja Artahsasta, sang raja melihat wajah Nehemia yang murung. Artahsasta bertanya kepada Nehemia, apa gerangan yang terjadi. (ay 1-2). Nehemia menceritakan rasa sedihnya melihat kehancuran bangsanya. (ay 3). Raja Artahsasta lalu menawarkan bantuan, apa yang sekiranya bisa ia bantu. Mendengar itu, Nehemia kembali berdoa dalam hatinya. (ay 4). Setelah berdoa, Nehemia menyampaikan dengan jujur bahwa ia butuh pertolongan dari raja. "Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku." (ay 7-8).
Perhatikan bahwa Nehemia tidak berpangku tangan melihat kesusahan bangsanya dan ia pun tidak segan untuk meminta pertolongan. Dia tahu bahwa dia butuh pertolongan raja untuk bisa membangun kembali Yerusalem. Soal dikabulkan atau tidak itu nanti, yang penting sampaikan dulu. Ternyata Artahsasta mengabulkan hal itu. Membuat sepucuk surat bukanlah hal sulit bagi seorang raja. Itu tidak mungkin dilakukan sendiri oleh Nehemia, karena ia tidak memiliki otoritas untuk melakukannya. Berawal dari sini, kita mengetahui bahwa Nehemia berhasil membangun kembali Yerusalem yang sudah hancur lebur dengan keberhasilan besar. Apakah itu semua semata-mata karena keberuntungan? Tidak. Nehemia tahu pasti bahwa itu semua adalah berkat tangan Allah yang murah melindunginya. Tuhan menyalurkan berkatNya kepada Nehemia lewat perantaraan raja Artahsasta.
(bersambung)
===============
"Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku."
Saya sudah bertemu dan mengenal begitu banyak orang yang terlalu segan untuk meminta tolong kepada orang lain. Ada yang segannya berlebihan, ada pula yang gengsi. Mereka ini biasanya lebih suka melepaskan kesempatan untuk maju atau seringkali juga menjadi repot sendiri. Terus-terusan minta tolong karena malas mengerjakan sesuatu memang tidak baik. Tapi kita pun tidak boleh lupa terhadap hakekat hidup kita sebagai mahluk sosial yang memang tidak sempurna. Sebagai mahluk sosial kita harus terhubung dan bekerja sama dengan orang lain agar bisa terus meningkat maju. Selalu saja ada waktu-waktu kita butuh uluran tangan atau bantuan dari orang lain, dan kalau memang kita tidak bisa melakukannya dan membutuhkan orang lain, tidak ada salahnya kita sampaikan. Tuhan bisa, dan kerap memberkati kita dan memberi jawaban lewat tangan orang lain.
Akan hal ini kita bisa belajar dari Nehemia. Nehemia adalah satu dari orang - orang Yehuda yang kembali dari pembuangan di Babel seperti yang tercatat dalam kitab Ezra 2:2. Nehemia hidup pada jaman ketika Yehuda menjadi bagian dari Persia. Nehemia merupakan orang dengan jabatan atau posisi yang cukup baik, yaitu sebagai juru minuman raja. Jabatan yang ia sandang ini memungkinkannya untuk memiliki hubungan yang relatif cukup dekat dengan sang raja Persia waktu itu bernama Artahsasta.
Suatu hari ia mendengar berita mengenaskan mengenai keadaan saudara-saudari sebangsanya yang telah kembali dari pembuangan. Ia prihatin karena pada saat ia beruntung karena punya jabatan terpandang, ternyata bangsanya justru menderita, tengah berada dalam kesengsaraan berat. "Kata mereka kepadaku: "Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar." (Nehemia 1:3). Apa reaksi Nehemia mendengar tentang kemalangan yang diderita bangsanya? Nehemia tidak diam saja tetapi ia menangis dan berkabung berhari-hari. Bukankah Nehemia bisa saja tidak peduli, karena dia sebenarnya sudah hidup berkecukupan? Tentu bisa, tapi Nehemia tidak bersikap demikian. Meski ia tidak mengalami kesusahan dalam hidup, ia turut merasakan kepedihan yang dirasakan bangsanya.
Ada banyak orang yang berhenti hanya pada rasa prihatin, tapi tidak dengan Nehemia. Ia menjawab kesedihannya dengan mulai melakukan beberapa hal. Pertama, Nehemia berpuasa dan berdoa. Bukan hanya memohon ampun bagi bangsanya, tapi juga pembersihan atau pertobatan dari dosa-dosanya sendiri. Kenapa malah melakukan pembersihan atas dosa-dosanya? Jawabannya sederhana. Nehemia tahu bahwa doanya tidak akan punya pengaruh apabila ia sendiri belum bersih dari dosa. Maka dalam doanya ia berkata: "berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa." (ay 6).
Kisah berlanjut pada pasal 2. Pada suatu hari empat bulan kemudian, ketika Nehemia tengah menghidangkan anggur bagi raja Artahsasta, sang raja melihat wajah Nehemia yang murung. Artahsasta bertanya kepada Nehemia, apa gerangan yang terjadi. (ay 1-2). Nehemia menceritakan rasa sedihnya melihat kehancuran bangsanya. (ay 3). Raja Artahsasta lalu menawarkan bantuan, apa yang sekiranya bisa ia bantu. Mendengar itu, Nehemia kembali berdoa dalam hatinya. (ay 4). Setelah berdoa, Nehemia menyampaikan dengan jujur bahwa ia butuh pertolongan dari raja. "Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku." (ay 7-8).
Perhatikan bahwa Nehemia tidak berpangku tangan melihat kesusahan bangsanya dan ia pun tidak segan untuk meminta pertolongan. Dia tahu bahwa dia butuh pertolongan raja untuk bisa membangun kembali Yerusalem. Soal dikabulkan atau tidak itu nanti, yang penting sampaikan dulu. Ternyata Artahsasta mengabulkan hal itu. Membuat sepucuk surat bukanlah hal sulit bagi seorang raja. Itu tidak mungkin dilakukan sendiri oleh Nehemia, karena ia tidak memiliki otoritas untuk melakukannya. Berawal dari sini, kita mengetahui bahwa Nehemia berhasil membangun kembali Yerusalem yang sudah hancur lebur dengan keberhasilan besar. Apakah itu semua semata-mata karena keberuntungan? Tidak. Nehemia tahu pasti bahwa itu semua adalah berkat tangan Allah yang murah melindunginya. Tuhan menyalurkan berkatNya kepada Nehemia lewat perantaraan raja Artahsasta.
(bersambung)
Sunday, May 3, 2015
Menjadi Terang (2)
(sambungan)
Kristus sendiri sudah mengatakan bahwa ketika kita mengaku dan percaya pada Yesus, kita pun menerima terang, sebab terang yang sejati adalah Kristus sendiri. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Tuhan Yesus memberikan terang kepada kita semua, dan kita harus berusaha untuk menjaga agar terang itu terus bersinar dan menerangi sekeliling kita. Dalam surat Efesus Paulus berkata: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." (Efesus 5:14). Ayat ini mengingatkan hal yang sama seperti apa yang dipesankan Yesaya. Kita harus ingat bahwa terang yang kita terima bukanlah untuk diri kita sendiri saja, tetapi juga untuk orang lain, terutama bagi orang-orang disekitar kita yang masih berada dalam kegelapan.
Tuhan ingin anak-anakNya mampu memberi peran nyata untuk menjadi cahaya terang dalam kegelapan. Tuhan ingin kita terus bersinar bagi dunia ketika kemuliaan Tuhan akan terbit atas kita. Menjadi terang bukan berarti bahwa kita harus selalu berdoa keliling atau melayani penuh waktu, tapi bisa juga lewat perbuatan-perbuatan kita yang sederhana yang menunjukkan perbedaan nyata dengan cara-cara dunia. Misalnya ketika orang korupsi, kita tidak ikut-ikutan. Di tengah ketamakan akan harta sehingga orang menjadi pelit, kita justru murah hati dan mau membantu orang lain. Ketika orang lebih suka menerima, kita malah suka memberi. Ketika orang terlalu sibuk tanpa henti mengumpulkan harta, kita meluangkan waktu untuk saat teduh dan mau menjangkau orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika orang menjadi sombong akan kesuksesannya, kita tetap rendah hati dan selalu ingat bahwa semua itu adalah berkat yang berasal dari Tuhan.
Contoh lainnya, ketika orang terus dilanda kecemasan dan ketakutan, kita mampu tetap tenang dan bersukacita, lantas menunjukkan bahwa hidup bersama Tuhan akan sangat berbeda ketimbang terus mengadopsi pola pikir dunia. Jika dunia melakukan pemaksaan lewat kekerasan, kita mengenalkan bahwa Tuhan adalah kasih lewat hidup dan perbuatan kita. Ketika orang hidup morat marit tanpa harapan, kita tetap bersukacita karena dalam Kristus selalu ada pengharapan. Ketika dunia hidup menurut kedagingan, kita hidup benar dipimpin Roh Kudus. Semua itu menunjukkan bahwa ada terang sejati yang berkuasa di dalam diri kita, dimana dunia akan melihat perbedaan nyata dan mengerti akan arti terang dalam Kristus.
Dalam kitab Hakim Hakim tertulis "Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya." (Hakim Hakim 5:31). Bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya yang penuh sinar terang, itulah yang sesungguhnya ada dalam diri orang-orang benar yang mengasihi Tuhan. Sinarnya ada pada kita, tinggal sumber daya yang harus kita pastikan tetap bekerja baik dan kemauan kita untuk tampil menjadi terang yang bermanfaat. Kita harus terus meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan lewat doa, baik doa pribadi maupun membangun mezbah keluarga, persekutuan, ibadah raya dan sebagainya. Kita harus terus memperkuat rohani kita dengan asupan Firman Tuhan setiap hari.
Kemudian, janganlah pernah menutup diri dan hanya memusatkan segala sesuatu pada kebutuhan dan kecukupan diri sendiri saja. Lihat sekeliling kita, masih banyak yang butuh pertolongan dan terikat dalam gelap, pedulilah kepada mereka. Kalau kita melakukan itu dan menjadi terang, Tuhan pun akan berkata: "Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu." (Yesaya 58:8). Dunia yang kita hidupi sekarang penuh dengan kegelapan dan kekelaman. Apakah anda bersedia untuk tampil menjadi terang? Jika ya, bangkitlah dan menjadi teranglah!
Terang membawa sukacita dan keselamatan bukan hanya untuk kita tapi juga untuk orang lain
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Kristus sendiri sudah mengatakan bahwa ketika kita mengaku dan percaya pada Yesus, kita pun menerima terang, sebab terang yang sejati adalah Kristus sendiri. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Tuhan Yesus memberikan terang kepada kita semua, dan kita harus berusaha untuk menjaga agar terang itu terus bersinar dan menerangi sekeliling kita. Dalam surat Efesus Paulus berkata: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." (Efesus 5:14). Ayat ini mengingatkan hal yang sama seperti apa yang dipesankan Yesaya. Kita harus ingat bahwa terang yang kita terima bukanlah untuk diri kita sendiri saja, tetapi juga untuk orang lain, terutama bagi orang-orang disekitar kita yang masih berada dalam kegelapan.
Tuhan ingin anak-anakNya mampu memberi peran nyata untuk menjadi cahaya terang dalam kegelapan. Tuhan ingin kita terus bersinar bagi dunia ketika kemuliaan Tuhan akan terbit atas kita. Menjadi terang bukan berarti bahwa kita harus selalu berdoa keliling atau melayani penuh waktu, tapi bisa juga lewat perbuatan-perbuatan kita yang sederhana yang menunjukkan perbedaan nyata dengan cara-cara dunia. Misalnya ketika orang korupsi, kita tidak ikut-ikutan. Di tengah ketamakan akan harta sehingga orang menjadi pelit, kita justru murah hati dan mau membantu orang lain. Ketika orang lebih suka menerima, kita malah suka memberi. Ketika orang terlalu sibuk tanpa henti mengumpulkan harta, kita meluangkan waktu untuk saat teduh dan mau menjangkau orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika orang menjadi sombong akan kesuksesannya, kita tetap rendah hati dan selalu ingat bahwa semua itu adalah berkat yang berasal dari Tuhan.
Contoh lainnya, ketika orang terus dilanda kecemasan dan ketakutan, kita mampu tetap tenang dan bersukacita, lantas menunjukkan bahwa hidup bersama Tuhan akan sangat berbeda ketimbang terus mengadopsi pola pikir dunia. Jika dunia melakukan pemaksaan lewat kekerasan, kita mengenalkan bahwa Tuhan adalah kasih lewat hidup dan perbuatan kita. Ketika orang hidup morat marit tanpa harapan, kita tetap bersukacita karena dalam Kristus selalu ada pengharapan. Ketika dunia hidup menurut kedagingan, kita hidup benar dipimpin Roh Kudus. Semua itu menunjukkan bahwa ada terang sejati yang berkuasa di dalam diri kita, dimana dunia akan melihat perbedaan nyata dan mengerti akan arti terang dalam Kristus.
Dalam kitab Hakim Hakim tertulis "Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya." (Hakim Hakim 5:31). Bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya yang penuh sinar terang, itulah yang sesungguhnya ada dalam diri orang-orang benar yang mengasihi Tuhan. Sinarnya ada pada kita, tinggal sumber daya yang harus kita pastikan tetap bekerja baik dan kemauan kita untuk tampil menjadi terang yang bermanfaat. Kita harus terus meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan lewat doa, baik doa pribadi maupun membangun mezbah keluarga, persekutuan, ibadah raya dan sebagainya. Kita harus terus memperkuat rohani kita dengan asupan Firman Tuhan setiap hari.
Kemudian, janganlah pernah menutup diri dan hanya memusatkan segala sesuatu pada kebutuhan dan kecukupan diri sendiri saja. Lihat sekeliling kita, masih banyak yang butuh pertolongan dan terikat dalam gelap, pedulilah kepada mereka. Kalau kita melakukan itu dan menjadi terang, Tuhan pun akan berkata: "Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu." (Yesaya 58:8). Dunia yang kita hidupi sekarang penuh dengan kegelapan dan kekelaman. Apakah anda bersedia untuk tampil menjadi terang? Jika ya, bangkitlah dan menjadi teranglah!
Terang membawa sukacita dan keselamatan bukan hanya untuk kita tapi juga untuk orang lain
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, May 2, 2015
Menjadi Terang (1)
Ayat bacaan: Yesaya 60:1-2
======================
"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu."
Seorang teman yang tinggal di luar negeri merasa aneh saat terjadi pemadaman listrik mendadak. Ia berkata bahwa di negara tempat tinggalnya, kalau lampu tiba-tiba mati berarti ada sesuatu yang tidak beres dengan kota. Seperti ada kerusuhan, gempa atau gangguan lain dalam skala yang mengancam keselamatan warga atau bahkan negara. Well, welcome to Indonesia, my friend... kata saya sambil tertawa. Di negara ini tarif listrik terus naik tapi kualitas pelayanan tetap atau bahkan makin buruk. Telat membayar listrik didenda, tapi kerusakan alat-alat yang menggunakan listrik yang terjadi akibat kelalaian perusahaan harap maklum saja.
Maka di negara ini senter masih menjadi perlengkapan yang wajib dipunyai setiap rumah. Saya meletakkan senter tetap pada tempat yang sama, sehingga kalau tiba-tiba terjadi pemadaman saya tahu harus bergerak kemana untuk memperoleh cahaya. Kondisi senter pun tetap siaga, dalam artian sudah dicharge terlebih dahulu. Ada senter yang bisa dicharge, ada yang masih harus pakai baterai. Apapun sumber dayanya, senter baru akan berfungsi baik apabila mendapatkan sumber daya yang baik pula. Baterai yang sudah lemah atau jika dibiarkan lama tanpa dicharge mengakibatkan cahaya yang dihasilkan senter redup atau bahkan mati.
Kita sebagai orang percaya mirip seperti senter, yang berhubungan dengan keharusan kita untuk menjadi sumber cahaya di dunia, pelita dalam kegelapan atau terang dalam kelam. Ada seruan Tuhan mengenai hal ini. "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu." (Yesaya 60:1-2). God asks us not only to rise, but also shine. Why? Because as a believer we all have God's radiant. Karena terang Tuhan terbit atas diri kita dan kemuliaanNya (seharusnya) nyata terlihat oleh orang lain, kita harus bangkit dan menjadi terang di dunia yang kelam dan gelap. Itu idealnya.
Masalahnya adalah, kita tidak akan pernah bisa menjadi terang kalau kita masih saja bermasalah dan bergumul dengan kondisi keimanan diri sendiri. Kalau senter mulai kehabisan baterai, bagaimana mungkin cahaya terang bisa keluar dari sana? Seperti itu pula diri kita. Kalau kita masih terpuruk dan membiarkan diri kita lemah secara rohani, niscaya kita tidak akan mampu bersinar. Sumber terang itu berasal dari Tuhan. Kemuliaan Tuhan bisa terbit dan bersinar terang dalam diri kita, dan itu hanya akan terjadi apabila kita menjalani hidup dengan selalu berpegang kepadaNya. Jangan berharap bisa memiliki terang Tuhan menyinari diri kita apabila kita jarang membangun hubungan dengan Tuhan atau malah terus melanggar perintahNya. Jadi sebelum menjadi terang, kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa diri kita tidak mengalami keterpurukan rohani.
Mari kita lihat poin selanjutnya. adakah gunanya cahaya jika tidak dipakai menerangi gelap? Tidak. Senter tidak akan berfungsi jika dipakai ditengah terik siang hari. Senter baru akan sangat terasa manfaatnya apabila dihidupkan dalam ruangan atau lingkungan yang gelap. Begitu pula kita. Terang yang berasal dari Tuhan tidak akan berguna jika kita simpan sendiri. Yesus bahkan sudah berkata: "Tidak seorangpun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya." (Lukas 11:33). Sebuah lentera, senter atau sumber cahaya tidak akan berguna kalau disembunyikan atau ditutupi sesuatu. Dia pun tidak akan berguna apabila tidak dipergunakan. Jika kita sudah bangkit dan memiliki cahaya kemuliaan Tuhan bersinar atas kita, langkah selanjutnya adalah menjadi terang yang bermanfaat, yang bisa menerangi dunia yang penuh dengan kegelapan dan kekelaman moral.
(bersambung)
======================
"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu."
Seorang teman yang tinggal di luar negeri merasa aneh saat terjadi pemadaman listrik mendadak. Ia berkata bahwa di negara tempat tinggalnya, kalau lampu tiba-tiba mati berarti ada sesuatu yang tidak beres dengan kota. Seperti ada kerusuhan, gempa atau gangguan lain dalam skala yang mengancam keselamatan warga atau bahkan negara. Well, welcome to Indonesia, my friend... kata saya sambil tertawa. Di negara ini tarif listrik terus naik tapi kualitas pelayanan tetap atau bahkan makin buruk. Telat membayar listrik didenda, tapi kerusakan alat-alat yang menggunakan listrik yang terjadi akibat kelalaian perusahaan harap maklum saja.
Maka di negara ini senter masih menjadi perlengkapan yang wajib dipunyai setiap rumah. Saya meletakkan senter tetap pada tempat yang sama, sehingga kalau tiba-tiba terjadi pemadaman saya tahu harus bergerak kemana untuk memperoleh cahaya. Kondisi senter pun tetap siaga, dalam artian sudah dicharge terlebih dahulu. Ada senter yang bisa dicharge, ada yang masih harus pakai baterai. Apapun sumber dayanya, senter baru akan berfungsi baik apabila mendapatkan sumber daya yang baik pula. Baterai yang sudah lemah atau jika dibiarkan lama tanpa dicharge mengakibatkan cahaya yang dihasilkan senter redup atau bahkan mati.
Kita sebagai orang percaya mirip seperti senter, yang berhubungan dengan keharusan kita untuk menjadi sumber cahaya di dunia, pelita dalam kegelapan atau terang dalam kelam. Ada seruan Tuhan mengenai hal ini. "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu." (Yesaya 60:1-2). God asks us not only to rise, but also shine. Why? Because as a believer we all have God's radiant. Karena terang Tuhan terbit atas diri kita dan kemuliaanNya (seharusnya) nyata terlihat oleh orang lain, kita harus bangkit dan menjadi terang di dunia yang kelam dan gelap. Itu idealnya.
Masalahnya adalah, kita tidak akan pernah bisa menjadi terang kalau kita masih saja bermasalah dan bergumul dengan kondisi keimanan diri sendiri. Kalau senter mulai kehabisan baterai, bagaimana mungkin cahaya terang bisa keluar dari sana? Seperti itu pula diri kita. Kalau kita masih terpuruk dan membiarkan diri kita lemah secara rohani, niscaya kita tidak akan mampu bersinar. Sumber terang itu berasal dari Tuhan. Kemuliaan Tuhan bisa terbit dan bersinar terang dalam diri kita, dan itu hanya akan terjadi apabila kita menjalani hidup dengan selalu berpegang kepadaNya. Jangan berharap bisa memiliki terang Tuhan menyinari diri kita apabila kita jarang membangun hubungan dengan Tuhan atau malah terus melanggar perintahNya. Jadi sebelum menjadi terang, kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa diri kita tidak mengalami keterpurukan rohani.
Mari kita lihat poin selanjutnya. adakah gunanya cahaya jika tidak dipakai menerangi gelap? Tidak. Senter tidak akan berfungsi jika dipakai ditengah terik siang hari. Senter baru akan sangat terasa manfaatnya apabila dihidupkan dalam ruangan atau lingkungan yang gelap. Begitu pula kita. Terang yang berasal dari Tuhan tidak akan berguna jika kita simpan sendiri. Yesus bahkan sudah berkata: "Tidak seorangpun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya." (Lukas 11:33). Sebuah lentera, senter atau sumber cahaya tidak akan berguna kalau disembunyikan atau ditutupi sesuatu. Dia pun tidak akan berguna apabila tidak dipergunakan. Jika kita sudah bangkit dan memiliki cahaya kemuliaan Tuhan bersinar atas kita, langkah selanjutnya adalah menjadi terang yang bermanfaat, yang bisa menerangi dunia yang penuh dengan kegelapan dan kekelaman moral.
(bersambung)
Friday, May 1, 2015
Jangan Jadi Oknum Pencemar
Ayat bacaan: Keluaran 20:7
================
"Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan."
Saya tertarik melihat sebuah running text di sisi sebuah jalan yang dibuat oleh Kepolisian Republik Indonesia yang menyatakan tekad untuk berusaha menjadi lebih baik. Citra kepolisian memang sempat memburuk, tapi komitmen untuk menjadi lebih baik terus diupayakan, terutama dalam beberapa tahun terakhir ini. Saya yakin masih banyak polisi yang menjalankan tugasnya dengan baik, tapi segelintir oknum mencoreng citra institusinya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Oknum, begitulah mereka ini disebut, yang mengacu kepada pribadi atau sekelompok orang yang membuat institusi, lembaga atau badan tempat mereka bernaung menjadi tercemar.
Jika dalam institusi atau lembaga saja hal ini sudah jelek, ada banyak oknum-oknum yang berani mencemari Tuhan. Lihat kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Tuhan dalam melakukan tindakan-tindakan yang memalukan seperti intimidasi, kekerasan hinga teror. Ironisnya, di kalangan orang percaya sekalipun termasuk di antaranya segelintir hamba-hamba Tuhan yang mencemari iman kekristenan lewat perilaku buruk mereka. Bisa lewat sikap-sikap menghakimi seolah-olah mereka paling tahu dan paling benar, dalam perilaku di masyarakat, berbagai tindak kecurangan sampai korupsi dan sebagainya. Mereka menjadi batu sandungan bagi banyak orang untuk mengenal pribadi Kristus. Kalau apa yang ditabur hanya dituai sendiri itu memang harus diterima sebagai konsekuensi, tetapi bayangkan jika itu berdampak bagi pengenalan orang banyak yang keliru tentang esensi Kekristenan. Orang akan mendapatkan pemahaman keliru tentang cara hidup yang benar sebagai anak-anak Allah, tentang bagaimana gambaran sikap sebagai murid Kristus. Dan itu bisa membuat image Tuhan tercoreng lewat perilaku orang percaya yang menyimpang dari kebenaran/ketetapan Tuhan.
Akan perilaku ini, Tuhan sejak semula sudah memberi peringatan yang bisa kita dapati dalam kitab Keluaran. "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Keluaran 20:7). Peringatan ini adalah satu dari 10 Perintah Allah, yang dikenal sebagai the Ten Commandments, yang tentu tidak asing lagi bagi kita. Menyebut nama Tuhan, itu bisa mengacu kepada ucapan yang keluar dari mulut, tapi bisa pula berhubungan dengan berbagai sikap kita secara umum sebagai orang yang mengaku percaya kepadaNya. Sebagai orang percaya, kita harus benar-benar memperhatikan sikap, perbuatan dan gaya hidup kita karena sadar atau tidak, kita menyandang namaNya dengan iman kita. Kita harus memperlakukan Tuhan dengan penuh hormat dan takut, dan sikap itu akan terlihat dari bagaimana cara kita hidup, apakah dari gaya hidup, pergaulan, dalam berbicara, dalam menghadapi masalah dan sebagainya. Jadi bisa dibayangkan bagaimana seandainya Tuhan disebut sia-sia tidak pada tempatnya. Ada yang berani memasukkan kata Tuhan sebagai bagian dari lontaran kata negatif atau makian, dalam mengutuk orang lain, atau bahkan berteriak-teriak menyebut Tuhan sambil menyiksa/menyakiti orang lain. Jika kita menyebut atau merepresentasikan Tuhan secara sembarangan atau tidak benar, maka itu dipandang sebagai kesalahan, dan kita tahu konsekuensi yang harus kita pikul sebagai akibatnya.
Kalau kita tahu bahwa kita tidaklah boleh menyebut nama Tuhan sembarangan tanpa rasa hormat atau takut, ada satu hal yang akan menjaga kita dari kemungkinan memberi cap buruk atau pengenalan yang keliru mengenai Tuhan, dan itu adalah KASIH. Kasih akan membawa pengaruh penting dan menunjukkan sebuah perbedaan nyata dari sikap dan cara kita dalam memandang orang lain atau bahkan memandang hidup. Yesus berkata: "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35). Sebuah kasih dengan ukuran atau standar kekristenan seharusnya menjadi identitas kita sebagai orang percaya atau dikenal sebagai pengikut Kristus. Standar kasih yang sangat tinggi itu seharusnya mampu membuat kita tampil berbeda dari dunia. Sebuah kasih yang harus mampu menyentuh semua orang tanpa terkecuali, terlepas dari apapun latar belakang seseorang, tidak membuat perbedaan, tanpa batas dan sekat.
Perilaku keliru yang bertentangan dengan itu bisa memberi pemahaman yang salah terhadap Tuhan. Selain itu akan mempermalukan Tuhan, itupun dipandang sebagai sebuah kesalahan yang besar dimata Tuhan. Paulus pun menyinggung hal ini. "..Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan." (2 Timotius 2:19). Kemanapun kita melangkah, seharusnya kita tetap sadar bahwa kita sedang membawa Kabar Sukacita kepada orang lain. Ingatlah bahwa dalam setiap langkah kita membawa nama baik Tuhan Yesus, Sang Juru Selamat kita. Apakah itu lewat kata-kata, sikap, bahasa tubuh kita, perbuatan dan sebagainya, kita haruslah bisa menunjukkan sikap yang benar sebagai murid Yesus. Itu akan memberi kesaksian tersendiri kepada orang lain, dan lewat itu kita bisa memuliakan Tuhan. Bahkan kita pun dikatakan sebagai surat Kristus yang ditujukan bagi orang-orang yang belum mengenalNya. "Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." (2 Korintus 3:3).
Cara kita hidup, sikap, tingkah dan perilaku kita, itu akan mencerminkan siapa yang kita sembah. Bukan hanya nama baik anda yang anda pertaruhkan, tetapi pengenalan akan Tuhan pun demikian. Orang bisa melihat Yesus secara benar jika anda berperilaku benar mengikuti firman-firman Tuhan, sebaliknya orang akan mencemooh jika apa yang anda pertontonkan adalah hal-hal yang buruk dan memalukan. Di saat Yesus memberi amanat agung yang tertulis dalam Matius 28:19 agar kita menyebarkan bergerak menjadikan semua bangsa muridNya, Yesus juga mengatakan "dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." Jadi apabila perilaku kita saja tidak terpuji, terus menjadi batu sandungan dengan melakukan hal-hal yang buruk di masyarakat, bagaimana mungkin kita bisa mengajarkan atau mengenalkan orang kepada pribadi Kristus?
Saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita membawa nama Yesus kemanapun kita pergi, kapan dan dimana pun kita berada. Baik atau tidak nama Yesus dikenal orang, benar atau tidak pemahaman orang tentang Dia, itu akan sangat tergantung dari gerak langkah kita sehari-hari ditengah masyarakat. Apakah kita menjadi oknum yang mempermalukan Kerajaan Surga atau menjadi orang-orang yang mencerminkan kedamaian dan kebahagiaan Surgawi di dunia ini, itu semua tergantung dari bagaimana kita hidup. Mari bangkit menjadi orang-orang yang hidup kudus, jujur, baik, ramah, rajin menolong dan lain-lain sesuai kebenaran sehingga orang bisa mengenal pribadi Tuhan secara benar lewat kita.
Jangan jadi oknum pencoreng nama Tuhan, tapi nyatakan terang lewat kehidupan kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
================
"Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan."
Saya tertarik melihat sebuah running text di sisi sebuah jalan yang dibuat oleh Kepolisian Republik Indonesia yang menyatakan tekad untuk berusaha menjadi lebih baik. Citra kepolisian memang sempat memburuk, tapi komitmen untuk menjadi lebih baik terus diupayakan, terutama dalam beberapa tahun terakhir ini. Saya yakin masih banyak polisi yang menjalankan tugasnya dengan baik, tapi segelintir oknum mencoreng citra institusinya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Oknum, begitulah mereka ini disebut, yang mengacu kepada pribadi atau sekelompok orang yang membuat institusi, lembaga atau badan tempat mereka bernaung menjadi tercemar.
Jika dalam institusi atau lembaga saja hal ini sudah jelek, ada banyak oknum-oknum yang berani mencemari Tuhan. Lihat kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Tuhan dalam melakukan tindakan-tindakan yang memalukan seperti intimidasi, kekerasan hinga teror. Ironisnya, di kalangan orang percaya sekalipun termasuk di antaranya segelintir hamba-hamba Tuhan yang mencemari iman kekristenan lewat perilaku buruk mereka. Bisa lewat sikap-sikap menghakimi seolah-olah mereka paling tahu dan paling benar, dalam perilaku di masyarakat, berbagai tindak kecurangan sampai korupsi dan sebagainya. Mereka menjadi batu sandungan bagi banyak orang untuk mengenal pribadi Kristus. Kalau apa yang ditabur hanya dituai sendiri itu memang harus diterima sebagai konsekuensi, tetapi bayangkan jika itu berdampak bagi pengenalan orang banyak yang keliru tentang esensi Kekristenan. Orang akan mendapatkan pemahaman keliru tentang cara hidup yang benar sebagai anak-anak Allah, tentang bagaimana gambaran sikap sebagai murid Kristus. Dan itu bisa membuat image Tuhan tercoreng lewat perilaku orang percaya yang menyimpang dari kebenaran/ketetapan Tuhan.
Akan perilaku ini, Tuhan sejak semula sudah memberi peringatan yang bisa kita dapati dalam kitab Keluaran. "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Keluaran 20:7). Peringatan ini adalah satu dari 10 Perintah Allah, yang dikenal sebagai the Ten Commandments, yang tentu tidak asing lagi bagi kita. Menyebut nama Tuhan, itu bisa mengacu kepada ucapan yang keluar dari mulut, tapi bisa pula berhubungan dengan berbagai sikap kita secara umum sebagai orang yang mengaku percaya kepadaNya. Sebagai orang percaya, kita harus benar-benar memperhatikan sikap, perbuatan dan gaya hidup kita karena sadar atau tidak, kita menyandang namaNya dengan iman kita. Kita harus memperlakukan Tuhan dengan penuh hormat dan takut, dan sikap itu akan terlihat dari bagaimana cara kita hidup, apakah dari gaya hidup, pergaulan, dalam berbicara, dalam menghadapi masalah dan sebagainya. Jadi bisa dibayangkan bagaimana seandainya Tuhan disebut sia-sia tidak pada tempatnya. Ada yang berani memasukkan kata Tuhan sebagai bagian dari lontaran kata negatif atau makian, dalam mengutuk orang lain, atau bahkan berteriak-teriak menyebut Tuhan sambil menyiksa/menyakiti orang lain. Jika kita menyebut atau merepresentasikan Tuhan secara sembarangan atau tidak benar, maka itu dipandang sebagai kesalahan, dan kita tahu konsekuensi yang harus kita pikul sebagai akibatnya.
Kalau kita tahu bahwa kita tidaklah boleh menyebut nama Tuhan sembarangan tanpa rasa hormat atau takut, ada satu hal yang akan menjaga kita dari kemungkinan memberi cap buruk atau pengenalan yang keliru mengenai Tuhan, dan itu adalah KASIH. Kasih akan membawa pengaruh penting dan menunjukkan sebuah perbedaan nyata dari sikap dan cara kita dalam memandang orang lain atau bahkan memandang hidup. Yesus berkata: "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35). Sebuah kasih dengan ukuran atau standar kekristenan seharusnya menjadi identitas kita sebagai orang percaya atau dikenal sebagai pengikut Kristus. Standar kasih yang sangat tinggi itu seharusnya mampu membuat kita tampil berbeda dari dunia. Sebuah kasih yang harus mampu menyentuh semua orang tanpa terkecuali, terlepas dari apapun latar belakang seseorang, tidak membuat perbedaan, tanpa batas dan sekat.
Perilaku keliru yang bertentangan dengan itu bisa memberi pemahaman yang salah terhadap Tuhan. Selain itu akan mempermalukan Tuhan, itupun dipandang sebagai sebuah kesalahan yang besar dimata Tuhan. Paulus pun menyinggung hal ini. "..Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan." (2 Timotius 2:19). Kemanapun kita melangkah, seharusnya kita tetap sadar bahwa kita sedang membawa Kabar Sukacita kepada orang lain. Ingatlah bahwa dalam setiap langkah kita membawa nama baik Tuhan Yesus, Sang Juru Selamat kita. Apakah itu lewat kata-kata, sikap, bahasa tubuh kita, perbuatan dan sebagainya, kita haruslah bisa menunjukkan sikap yang benar sebagai murid Yesus. Itu akan memberi kesaksian tersendiri kepada orang lain, dan lewat itu kita bisa memuliakan Tuhan. Bahkan kita pun dikatakan sebagai surat Kristus yang ditujukan bagi orang-orang yang belum mengenalNya. "Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." (2 Korintus 3:3).
Cara kita hidup, sikap, tingkah dan perilaku kita, itu akan mencerminkan siapa yang kita sembah. Bukan hanya nama baik anda yang anda pertaruhkan, tetapi pengenalan akan Tuhan pun demikian. Orang bisa melihat Yesus secara benar jika anda berperilaku benar mengikuti firman-firman Tuhan, sebaliknya orang akan mencemooh jika apa yang anda pertontonkan adalah hal-hal yang buruk dan memalukan. Di saat Yesus memberi amanat agung yang tertulis dalam Matius 28:19 agar kita menyebarkan bergerak menjadikan semua bangsa muridNya, Yesus juga mengatakan "dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." Jadi apabila perilaku kita saja tidak terpuji, terus menjadi batu sandungan dengan melakukan hal-hal yang buruk di masyarakat, bagaimana mungkin kita bisa mengajarkan atau mengenalkan orang kepada pribadi Kristus?
Saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita membawa nama Yesus kemanapun kita pergi, kapan dan dimana pun kita berada. Baik atau tidak nama Yesus dikenal orang, benar atau tidak pemahaman orang tentang Dia, itu akan sangat tergantung dari gerak langkah kita sehari-hari ditengah masyarakat. Apakah kita menjadi oknum yang mempermalukan Kerajaan Surga atau menjadi orang-orang yang mencerminkan kedamaian dan kebahagiaan Surgawi di dunia ini, itu semua tergantung dari bagaimana kita hidup. Mari bangkit menjadi orang-orang yang hidup kudus, jujur, baik, ramah, rajin menolong dan lain-lain sesuai kebenaran sehingga orang bisa mengenal pribadi Tuhan secara benar lewat kita.
Jangan jadi oknum pencoreng nama Tuhan, tapi nyatakan terang lewat kehidupan kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...



