Wednesday, May 7, 2014

Dead Pixel

Ayat bacaan: Mazmur 141:8
=====================
"Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!"

Bagi anda yang memakai smart phone, anda mungkin pernah mendengar istilah dead pixel. Dead pixel atau defective pixel adalah ketika salah satu dari ribuan pixel yang terdapat pada smartphone rusak dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Di layar akan terlihat satu titik yang tidak 'nyambung' dengan titik-titik lainnya. Meski hanya satu titik, pixel mati ini bisa sangat mengganggu mata dan yang pasti menurunkan nilai jualnya. Semakin banyak pixel yang mati, semakin jatuh harganya dan akan semakin mengganggu pandangan mata.

Meski kita bukan terdiri dari pixel atau berbentuk layar LCD, secara tidak sadar kita pun mengalami situasi-situasi yang sama bagaikan mengalami dead pixel pada diri kita sepanjang perjalanan hidup. Apa yang saya maksud adalah ketika kita mengalami situasi-situasi yang meruntuhkan mental, percaya diri atau bahkan bisa jadi iman kita. Saya beri beberapa contoh. Saya bertemu dengan beberapa orang yang sejak kecil dinomorduakan dibanding saudaranya yang lain, sering dikatakan bodoh, direndahkan di depan orang lain dan berbagai macam perilaku tidak adil lainnya dari orang tua. Mereka ini rata-rata tumbuh menjadi orang yang gambar dirinya tidak utuh dan butuh waktu lama untuk dipulihkan. Ada juga yang sekian lama ditekan istri sehingga tidak lagi punya semangat juang, atau sebaliknya istri yang selalu takut ketika bertemu orang lain karena sering mendapat kekerasan dalam rumah tangga. Anak-anak yang tidak berani menatap lawan bicara dan tidak punya inisiatif karena terus ditekan di rumah, orang yang mengalami kepahitan karena sering menelan perilaku atau ucapan negatif dari orang lain, dan sebagainya. Semua ini bagaikan 'kematian-kematian' pada 'pixel-pixel' pembentuk diri kita yang jika dibiarkan akan membuat potensi kita tidak keluar, gambar diri tidak utuh dan tidak akan membuat kita tumbuh menjadi manusia seperti yang diinginkan Tuhan.  Semakin banyak 'pixel mati' dalam hidup kita, semakin rusak pula hidup dan masa depan kita. Masalahnya, kita setiap hari bersinggungan dengan orang lain dan seringkali sulit menghindar dari orang-orang yang baik sengaja ataupun tidak membuat mental kita 'down' baik lewat ucapan maupun perbuatan. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan? Apakah Alkitab pernah mengingatkan kita atau memberi cara untuk menghindarinya?

Tentu saja ada. Alkitab sudah memberi kuncinya sejak dahulu kala. Perhatikan kata Daud berikut ini: "Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!" (Mazmur 141:8). Daud tahu bahwa situasi tidak akan pernah menjadi lebih baik jika ia terus mengarahkan pandangan matanya kepada masalah, pada situasi atau dalam hubungannya dengan orang lain. Keadaan tidak akan menjadi lebih baik jika kita menelan ucapan-ucapan menjatuhkan dari orang lain atau ketika kita menghadapi ancaman dan sebagainya. Yang ada justru sebaliknya, kita akan rugi sendiri. Mental jatuh, hilang percaya diri, hilang semangat, bahkan sukacita dan kedamaian dalam hidup kita pun terampas. Itu bisa dihindarkan jika pandangan mata kita ditujukan kepada arah yang seharusnya, yaitu kepada Tuhan, yang tidak lain adalah Kasih itu sendiri. Pencipta kita sangat mengasihi kita dan Dia sudah memberi segala talenta yang ada pada kita masing-masing. Dia tidak akan pernah merendahkan setiap usaha yang anda lakukan demi namaNya, tak peduli apakah itu dihargai oleh manusia atau tidak. Dia justru akan memberkati usaha setiap anak-anakNya yang telah berupaya dengan sungguh-sungguh memberi yang terbaik, Dia akan selalu siap melindungi kita yang berlindung kepadaNya. KepadaNya-lah mata kita seharusnya tertuju dan bukan kepada orang-orang yang menjatuhkan kita.

Kita perlu tahu bagaimana Tuhan memandang kita. Di dalam Alkitab dikatakan bahwa kita disebut sebagai ciptaanNya yang sangat istimewa. We are His masterpiece, we are created special. Dia menciptakan kita segambar dengan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), kita terlukis dalam telapak tanganNya dan dalam ruang mataNya (Yesaya 49:16), dia mengetahui segala sesuatu akan kita, bahkan jumlah helai rambut kita pun Dia hitung (Matius 10:30). Tuhan tidak pernah menciptakan kita asal-asalan apalagi sia-sia. Dan Dia punya rencana yang indah bagi setiap kita. Apa yang Dia rencanakan kepada kita sejak semula adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, seperti yang disebutkan dalam Yeremia 29:11, untuk memberikan kita hari depan yang penuh harapan. Sebuah ayat indah pada Mazmur mengatakan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang dahsyat dan ajaib. "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:13-14). Dan yang lebih penting lagi, bukankah Tuhan sampai rela mengorbankan AnakNya yang tunggal demi keselamatan kita, yang dengan jelas disebutkan atas dasar kasihNya yang begitu besar, seperti dalam Yohanes 3:16? Semua ini adalah gambaran dari betapa istimewanya kita di mata Tuhan, dalam setiap rencanaNya saat menciptakan kita. Kalau nilai kita seperti itu di mata Tuhan, mengapa kita harus ragu untuk mengarahkan pandangan kepadaNya? Dia tahu keseriusan kita, Dia tahu pergumulan kita, Dia tahu sejauh mana kita berusaha dan Dia akan menghargai setiap jerih payah kita yang sungguh-sungugh.

Jika kita menyadari bagaimana Tuhan memandang kita, seharusnya kepadaNyalah kita mengarahkan mata kita. Dengan melakukan itu maka kita tidak akan gampang jatuh dan kehilangan kepercayaan diri. Seperti ayat bacaan hari ini, selalulah berlindung kepada Allah. Selalulah tujukan mata kepada Allah. Bersama Allah tidak akan pernah mengecewakan, karena bagi Dia, kita selalu sangat berharga. Besar atau kecilnya yang kita lakukan, selama itu kita perbuat dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya, itu akan sangat besar nilainya di mata Tuhan. Kita tidak bisa melarang orang untuk mengeluarkan komentar-komentar negatif atas diri kita, namun kita bisa memilih dan memutuskan kemana kita mau memandang. Jika demikian, mengapa tidak mengarahkan pandangan kepada Tuhan sekarang juga?

Hindari 'dead pixel' dengan mengarahkan pandangan pada Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, May 6, 2014

Mengatasi Ketakutan dalam Situasi Terjepit

Ayat bacaan: Keluaran 14:13
=====================
"Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya."

Situasi terjepit, itu bisa mendatangkan rasa takut. Bagaimana tidak? Masalah seperti mengepung dari segala arah. Ke kiri salah, ke kanan salah. Maju kena, mundur kena juga. Semua jalan seperti tertutup, tidak satupun solusi yang kelihatan masuk akal. Ada seorang teman yang pernah mengalami situasi seperti ini bercerita bahwa ketika ia menghadapi situasi seperti itu, ia merasa bagaikan berada di tengah kepungan binatang buas yang siap memangsanya. Mau lari ke kiri ada singa, mau ke kanan ada harimau, mau maju ada macan, mau mundur ada badak. Begitu katanya. Artinya, jalan manapun yang ia ambil, ia akan sama menghadapi kerugian yang bisa menghancurkan bisnis maupun keluarganya. Ia mengalami sebuah pengalaman pelik yang berujung pada sebuah mukjizat diselamatkan Tuhan lewat cara yang ajaib. Situasi seperti itu sempat membuatnya sangat takut. Apa yang membuatnya kemudian menjadi tegar adalah dalam sebuah doanya ia mendapat pencerahan dari Tuhan lewat kisah Musa yang memimpin bangsa Israel dan mentok pada posisi tepat di depan danau Teberau.

Kisah ini tercatat dalam Keluaran 14. Mari kita bayangkan apa yang terjadi saat itu. Ketika itu mereka baru saja keluar dari Mesir. Firaun tidak rela membiarkan mereka pergi begitu saja. (ay 5). Maka Firaun kemudian memimpin sendiri bala tentara besar berjumlah enam ratus kereta yang dikendarai prajurit-prajurinya (ay 7). Bangsa Israel terus berlari menggunakan kaki dikejar pasukan sebegitu besar dan diujung mereka ternyata terjebak dan harus berhenti karena laut Teberau terbentang di depan mereka. Bayangkan situasinya.Di belakang ratusan tentara Firaun siap melahap habis mereka semua, di depan ada danau yang tidak mungkin bisa dilalui. Ketakutan dan kepanikan kemudian membuat mereka segera mencari kambing hitam dan Musa lah yang kena getahnya. Mereka bahkan mengatakan bahwa lebih baik menjadi budak ketimbang berada dalam situasi terjepit seperti itu. "..mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." (ay 11-12). Kata-kata ini keluar dari rasa putus asa dan rasa takut teramat sangat menghadapi situasi terjepit seperti itu. Apa yang menjadi jawaban Musa? "Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.". (ay 13). Apa yang terjadi selanjutnya sangat ajaib. Laut Teberau terbelah sehingga mereka bisa berjalan di tengah-tengah laut layaknya berjalan di dataran biasa.  Air menjadi tembok buat mereka (ay 15 - 22). Ketika bala tentara Firaun mengejar hingga ke tengah laut, tiba-tiba air kembali menutup dan menenggelamkan Firaun dan seluruh pasukannya. (ay 26-28). Bangsa Israel selamat sampai ke seberang (ay 30). Kisah Laut Teberau yang fenomenal ini kembali ditulis dalam Mazmur 106:7-12 dan Nehemia 9:9-11.

Jawaban Musa ini kemudian meneguhkan teman saya. Ia memperkuat imannya dan memutuskan untuk berpegang teguh kepada Tuhan. Ia percaya, meski situasi sudah tidak memungkinkan lagi secara logika, ia punya Tuhan yang mampu mengatasi hal-hal diluar kemampuan pikir manusia. Ada tiga hal yang bisa kita lihat dari jawaban Musa yang saling berhubungan, yaitu: (1) Jangan takut, (2) tetap tegar berdiri dan (3) fokus pada penyertaan Tuhan. Inilah kunci utama agar kita bisa melepaskan diri dari situasi terjepit. Rasa takut tidak akan menolong, justru akan semakin melemahkan dan mempersulit keadaan. Berulang kali Firman Tuhan menyatakan "jangan takut" dalam sepanjang Alkitab. Kalau dihitung, tidak kurang dari 300 kali kata ini disampaikan. Itu menunjukkan keperihatinan Tuhan akan sifat manusia yang gampang merasa takut, sekaligus menunjukkan kepedulianNya. Bersama Tuhan dengan kuasaNya yang mengatasi langit, begitu peduli dan sangat mengasihi kita, mengapa kita harus takut? Membiarkan rasa takut yang berkepanjangan cepat atau lambat akan membuat iman kita terkikis. Dengan iman yang terkikis kita bisa ambruk, tidak lagi kuat untuk berdiri. Dan lewat jawaban Musa hari ini kepada bangsa Israel yang tengah panik, kita pun mengetahui bahwa dalam menghadapi segala hal sulit, adalah penting bagi kita untuk bisa tetap berdiri dalam iman. Lebih lanjut Musa pun mengingatkan agar berhenti fokus terhadap masalah dan mengarahkannya kepada kasih dan penyertaan Tuhan. Tuhan kita adalah Allah yang penuh dengan kasih setia dan tidak akan pernah ingkar janji. "Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (Mazmur 106:1).

Jika diantara anda saat ini ada yang tengah terjepit ditengah masalah dari segala arah, jangan takut. Tetaplah berdiri teguh dalam iman dalam situasi sesulit apapun dan arahkan fokus kepada Tuhan. Mari kita jalani hidup walau seberat apapun dengan penyerahan diri dan pengharapan. Percayalah pada Tuhan yang masih terus membuat mukjizat yang menyatakan kemuliaanNya hingga hari ini. Kalau dulu Dia bisa melakukan mukjizat, sekarang pun sama. Dia sanggup, Dia peduli dan Dia mau. Serahkanlah semuanya ke tangan Tuhan. Sebagaimana Dia menyelamatkan bangsa Israel, seperti Dia melepaskan teman saya dengan caranya yang ajaib, demikian pula Dia mampu menyelamatkan kita dari situasi terjepit dan memberikan kita lembaran baru yang penuh sukacita dan berbuah tanpa henti.

Situasi-situasi sulit adalah lahan subur bagi Tuhan untuk menyatakan kuasaNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, May 5, 2014

Tuhan Tertidur?

Ayat bacaan: Mazmur 121:4
=========================
"Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel."

Hari ini saya masih ingin berbicara mengenai rasa takut. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan takut? Takut merupakan sebuah reaksi emosi terhadap ancaman, sebuah mekanisme pertahanan yang timbul sebagi respon dari suatu stimulus tertentu, mungkin ketika ada bahaya atau bisa juga rasa sakit. Para ahli menyebutkan bahwa rasa takut merupakan satu dari beberapa emosi dasar yang dimiliki oleh semua manusia, bahkan ada pula yang mengatakan semua mahluk hidup. Mungkin benar, karena kita juga tahu bahwa hewan juga punya rasa takut. Jika anda punya anjing dan melakukan kesalahan, mereka bisa takut kalau dimarahi. Rasa takut ada kalanya positif karena bisa mengajarkan kita untuk lebih hati-hati, lebih punya perencanaan dan lebih menghargai kehidupan. Tapi itu menjadi negatif kalau kita hidupi terus menerus alias tumbuh menjadi penakut. Yang jadi masalah, saya melihat ada kecenderungan bahwa rasa takut bisa melebar dan bertambah parah jika dibiarkan. Mula-mula takut akan hal kecil, tapi kemudian takutnya menular ke hal-hal lain yang lebih besar. Orang bisa berubah menjadi paranoid alias ketakutan atau kecemasan yang berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak perlu atau belum terjadi. Yang pasti, rasa takut bisa membuat kita tidak bisa berpikir, gampang emosi, sulit tidur hingga merusak kesehatan atau mendatangkan masalah lainnya.

Disamping itu rasa takut juga berpotensi membuat kita tidak lagi mendengar suara Tuhan atau merasakan kehadiranNya dalam hidup kita. Seumpama seseorang terus berjalan menjauhi lawan bicaranya, semakin menjauh maka semakin kecil pula suara yang terdengar hingga lama-lama ia tidak lagi bisa mendengar apapun yang dikatakan lawan bicaranya diseberang sana. Seperti itulah perasaan takut yang terus dibiarkan merongrong perasaan kita. Memang benar, ada saat dimana rasa takut itu bisa muncul ketika kita menghadapi sebuah atau beberapa masalah, atau ketika menghadapi situasi tak pasti. Solusi tidak terlihat, sementara kita harus terus berhadapan dengan masalah tersebut dari detik ke detik. Jika kita terus membiarkan diri kita dicekam perasaan takut, maka rasa takut ini akan terus menggali jarak antara kita dengan Tuhan sehingga pada suatu ketika nanti kita tidak lagi bisa mendengarnya. Ironisnya, kita malah merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita sendirian atau lebih jauh lagi berani menuduh Tuhan bertindak kejam dan tidak adil terhadap kita.

Mari kita lihat apa yang terjadi pada saat Yesus ada di dalam perahu bersama murid-muridNya ditengah badai dalam Matius 8:23-27. Setelah menaiki perahu,  Yesus dikatakan tidur di buritan. Sekonyong-konyongnya ada angin ribut mengamuk, dan murid-muridN Yesus menjadi panik. (ay 24) Apakah itu berarti bahwa Tuhan tertidur dan lengah? Tentu saja tidak. Tapi tetap saja reaksi para murid sama seperti kebanyakan manusia, termasuk kita. Mereka panik dan buru-buru membangunkan Yesus. Mereka pun berseru: "Tuhan, tolonglah , kita binasa." (ay 25). Yesus yang terbangun tidak berkata, "maaf, Saya ketiduran.." atau "maaf saya lengah", tapi perhatikan bahwa yang datang adalah sebuah teguran.
"Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali." (ay 26). Ada Tuhan bersama mereka, kurang apa lagi? Mereka berpikir bahwa Tuhan seperti manusia yang bisa ketiduran dan kemudian lengah. Maka dari itu Yesus pun menegur dan mengarahkan tegurannya kepada kurangnya iman mereka yang masih kurang. They were lack of faith, just like we are most of the times. Kita perlu mencermati bahwa situasi seperti apapun bukanlah menjadi masalah sulit bagi Tuhan. Sesungguhnya Tuhan selalu perduli dan tidak pernah lengah dalam memperhatikan kita. Alkitab dengan jelas berkata: "Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel". (Mazmur 121:4).

Tuhan tetap ada mengawasi dan melindungi anak-anakNya yang berjalan bersamanya. Dia rindu untuk terus memberkati kita, bahkan menjanjikan posisi sebagai ahli waris KerajaanNya kepada semua orang yang mengasihiNya seperti apa yang tertulis dalam Yakobus 2:5. "Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?" Ketika hari-hari yang sulit ini tidak lagi bisa cukup disikapi dengan hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri atau orang lain, inilah saat yang tepat bagi kita untuk menyadari bahwa tanpa Tuhan kita tidaklah mampu berbuat apa-apa. Ini saatnya kita harus menyadari bahwa kita harus mengandalkan kekuatan Tuhan, Raja dari Kerajaan yang tidak tergoncangkan. Membiarkan rasa takut terus tumbuh dalam hidup kita tidak akan pernah membawa manfaat apapun. Justru itu akan semakin memperbesar jarak antara kita dengan Bapa yang baik dan setia, dan itu akan membuat segalanya justru bertambah runyam. Karena itu kita harus mengatasi rasa takut kita dengan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Kita harus senantiasa berseru kepada Tuhan dan harus senantiasa membangun hubungan yang semakin intim lagi dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah lengah. Dia tidak pernah tertidur dalam menjaga kita, Israel secara rohani. Apa yang dibutuhkan hanyalah iman kita. Iman yang teguh, tidak goyah dalam kondisi apapun, iman yang percaya penuh kepada Tuhan.

Dalam Mazmur dikatakan: "Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." (Mazmur 55:23). Dari ayat ini kita bisa lihat bahwa memang ada kalanya kita harus mengalami masalah-masalah dalam hidup kita. Mungkin atas kesalahan kita, mungkin dalam rangka didikan dari Tuhan agar kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang lebih dewasa dan bijaksana termasuk secara rohani. Tapi kita tidak perlu takut berlarut-larut. Kita selalu bisa menyerahkan kekuatiran atau ketakutan kita kepada Tuhan, dan Tuhan berjanji akan selalu memelihara kita. Dia tidak akan membiarkan kita terus menerus goyah, pada saatnya Dia akan mengangkat kita kembali ke permukaan bahkan meninggikan kita.

Ada tertulis "Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku." (63:7-9), dan juga "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (37:23). Seperti itulah indahnya janji Tuhan yang berlaku bagi siapapun yang mengasihi Dia dengan iman yang teguh. Dalam Mazmur kita bisa pula menemukan sebuah pesan yang sangat indah, bahwa Tuhan akan selalu ada bagi kita semua yang setia dan berharap padaNya. (31:24-25). Masalah seperti apapun boleh datang, namun percayalah Tuhan sanggup melepaskan anda dari jeratan badai seganas apapun. Karenanya kalahkan rasa takut dengan iman anda, berpeganglah kepada Tuhan, Sang Penjaga Israel. Dia tidak pernah tertidur dan lengah.

Tuhan tidak pernah lengah menjaga anak-anakNya yang selalu mengasihi Dia dengan setia dan dengan iman yang percaya dan berserah penuh 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, May 4, 2014

Rasa Takut ini Membunuhku

Ayat bacaan: Yohanes 6:20 (BIS)
====================
"Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Jangan takut, ini Aku!"

Belum lama ini salah seorang teman di jejaring sosial menuliskan status "rasa takut ini membunuhku." Setelah saya tanya apa yang ia takutkan, ia ternyata terlalu takut kehilangan orang yang dicintainya. Bagi yang tengah berpacaran, ternyata bukan saja rasa terlalu cinta yang bisa membunuh, tapi rasa takut ditinggalkan atau diputus juga bisa membunuh juga. Mari kita tinggalkan soal bunuh membunuh dan fokus kepada kata 'takut'. Seperti yang saya sampaikan dalam ilustrasi renungan kemarin, ada banyak bentuk rasa takut yang setiap hari mendera kita. Begitu sering, begitu banyak ragamnya, sehingga kalau satu hari saja kita bisa hidup tanpa rasa takut itu sudah seperti sebuah pencapaian besar. Ada sebuah pemikiran menarik dari teman saya mengenai rasa takut. Katanya kira-kira demikian. "Kalau kita dibilang jangan membunuh, itu tentu mudah. Dibilang jangan mencuri, itu pun tidak sulit. Tapi kenapa begitu sulit ketika disuruh jangan takut? Bukankah itu harusnya sama saja tidak bolehnya? Kata-katanya ini membuat saya tersenyum karena memang ada benarnya.  Membiarkan rasa takut terus berkecamuk dalam diri kita seringkali tidak membantu menyelesaikan masalah tetapi malah menambah lebih banyak lagi masalah. Kita bisa stres, depresi, kehilangan sukacita dan semakin lupa kepada siapa kita seharusnya menggantungkan keamanan kita.

Tampaknya mengatasi rasa takut manusia menjadi salah satu fokus kedatangan Yesus selain menggenapi rencana Allah untuk menganugerahkan kita dengan keselamatan kekal. Mengapa saya katakan demikian? Karena dari keempat injil saja catatan mengenai teguran Yesus agar kita jangan takut tercatat ada begitu banyak. Salah satunya sudah sangat kita kenal yaitu ketika murid-murid Yesus yang didera angin kencang ketika tengah berada di tengah danau di malam hari yang tertulis dalam 3 Injil, misalnya dalam Yohanes 6:16-21. Ditengah kepanikan takut kapal mereka tenggelam, Yesus datang dengan cara yang tidak terduga, yaitu berjalan di atas air. Reaksi mereka bukannya senang tetapi malah takut. Bukankah ini yang sering terjadi pada kita? Kita sulit berpikir jernih saat tengah panik, dan yang lebih parah lagi, kita tidak bisa lagi melihat atau menyadari Tuhan di saat kita tengah dilanda ketakutan. Tapi lihatlah apa kata Yesus kepada mereka. "Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" Dalam versi Bahas Indonesia Sehari-hari (BIS) dikatakan "Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Jangan takut, ini Aku!" Jangan takut, kata Yesus. "Fear not, be not afraid. Stop being frightened!" Sekencang-kencangnya angin pada saat itu, Yesus berhasil meredakannya dan merekapun sampai ke tempat yang dituju dengan selamat.

Apa yang seringkali menjadi penyebab utama rasa takut terus tumbuh pada kita ada pada masalah iman. Banyak orang percaya yang masih bertingkahlaku tidak percaya, atau kalau tidak separah itu imannya kurang alias kurang percaya. Dan akan hal ini Yesus mengatakan hal yang sama. Lihatlah apa kata Yesus saat meredakan angin ribut saat berlayar pada kesempatan lain. "Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" (Matius 8:26a). Dalam bahasa Inggris Amplified Yesus berkata demikian: "Why are you timid and afraid, O you of little faith?" Orang yang kurang percaya, kurang iman. Sudah punya iman tapi masih kurang. Itupun ternyata masih membuka pintu bagi masuknya rasa takut ke dalam diri kita. Lantas sebesar apa iman yang harus kita miliki? Apakah harus sebesar gunung? Kalau mengacu kepada ucapan Yesus sendiri, ukuran besar iman yang bisa membuat kita mampu melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun hanyalah sebesar biji sesawi saja (Matius 17:20). Kalau untuk mengusir setan yang menjadi konteks ayat ini saja kita mampu, mengapa tidak untuk mengatasi rasa takut akan hal apapun yang tengah mengganggu kita? Lantas dari mana iman tumbuh? Firman Tuhan jelas berkata: "iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Jelas, untuk bisa sampai kepada iman yang seukuran biji sesawi saja, kita harus terus menghidupi firmanNya. Itulah yang akan menumbuhkan iman kita agar rasa takut tidak lagi menjadi penghambat untuk maju.

Rasa takut ini membunuhku, kata teman saya tadi. Mungkin tidak berarti langsung membunuh, tapi yang pasti hidup dengan rasa takut sama sekali tidak enak. Tidak ada selera makan, tidak ada semangat, tidak ada gairah, tidak ada ketenangan, tidak ada kenyamanan dan tidak lagi ada rasa damai dan sukacita. Perasaan seperti ini jika dibiarkan berlarut-larut tentu akan mendatangkan berbagai penyakit dan gangguan-gangguan lain. Kalaupun bukan penyakit, kerugian yang tidak sedikit bisa kita derita. Oleh sebab itu kita harus ingat seruan Yesus untuk jangan takut. Bahkan dalam sebuah ayat dengan tegas Yesus berkata "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36). Jangan kurang percayanya, apalagi sampai tidak percaya. Itu memang bisa merugikan, membuat kita menderita bahkan membunuh pelan-pelan. Dari pada habis energi memupuk rasa takut, mengapa tidak mempergunakannya untuk terus bersama Tuhan lebih dan lebih lagi? Itu akan membuat kita mampu berjejak mengatasi segala sesuatu yang bisa membuat kita kuatir, cemas atau takut dan tidak harus kehilangan damai sukacita yang berasal daripadaNya.

Bebaskan diri dari rasa takut, karena kalau dibiarkan lama-lama bisa membunuh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, May 3, 2014

Mengatasi Rasa Takut

Ayat bacaan: Mazmur 91:1-2
===========================
"Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai."

Rasa takut bukan lagi hal baru dalam hidup manusia. Mulai dari rasa takut yang sebenarnya tidak perlu seperti takut hantu, berbagai macam phobia seperti takut ketinggian, takut serangga, laba-laba dan lainnya, juga rasa takut akan ancaman keamanan dari orang jahat, ormas-ormas fanatik dan sebagainya. Kita bisa merasa takut akan keadaan cuaca yang buruk, bencana alam, bahkan kita pun takut akan jaminan masa depan. Ada banyak iklan di televisi yang menyerang rasa takut kita akan masa depan dengan menawarkan berbagai produk yang katanya mampu memberikan itu. Tapi tetap saja orang merasa takut, bahkan ketika punya harta yang banyak sekalipun, rasa takut tidak juga pudar karena muncul lagi rasa takut lainnya yaitu takut kehilangan harta, takut pencuri dan takut-takut lainnya. Banyak orang yang memelihara atau bahkan memupuk rasa takutnya sendiri, baik sadar atau tidak. They forget the fact that the more we drive into fear, the more we keep it, the more it controls us. 

Ayat bacaan hari ini sangat baik untuk mengatasi rasa takut. Ayat ini memberitahukan bahwa ada tempat perlindungan yang sangat bisa diandalkan, kubu pertahanan yang sangat layak untuk dipercaya, tidak lain adalah Tuhan sendiri. Ayatnya berbunyi demikian: "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." (Mazmur 91:1-2). Kita mungkin tahu bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan, tempat kita bergantung dalam menghadapi apapun. Masalahnya, ketika rasa takut melanda, kita seringkali lupa akan hal ini. Sudah terlalu sering kita hanya mengandalkan kekuatan manusia, padahal manusia itu kemampuannya terbatas. Tidak heran jika pada suatu ketika kita akan menyadari bahwa kekuatan atau kemampuan manusia ini tidak lagi mampu memberi solusi terhadap permasalahan-permasalahan kita. Jika demikian, mengapa tidak beralih untuk kembali mempercayakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita? Bukankah tidak satupun orang yang bisa membantah bahwa kuasa Tuhan ada di atas segalanya dan tidak terbatas?

Mazmur pasal 91 selalu bisa menenangkan kala kita mengalami rasa takut. Disana kita bisa melihat betapa hebatnya perlindungan yang sanggup Tuhan berikan. Dia sanggup melepaskan kita dari bahaya tersembunyi dan penyakit yang membawa maut (ay 3), melindungi kita dibawah sayapNya dengan kesetiaanNya yang kokoh seperti perisai dan pagar tembok (ay 4). Kita tidak perlu takut akan bahaya sepanjang hari (ay 5), bencana yang datang di saat gelap, atau kehancuran yang menimpa di tengah hari (ay 6). Malapetaka tidak akan bisa menimpa, tulah atau kutuk tidak akan bisa mendekat (ay 10), bahkan Tuhan menjanjikan malaikat-malaikatNya untuk menjaga kita di setiap langkah. (ay 11). Kita akan mampu melangkahi ular berbisa dan singa, ancaman-ancaman mematikan lainnya. (ay 13). Ini serangkaian janji Tuhan yang besar yang diberikan kepada kita agar mampu hidup tanpa rasa takut lagi, bebas dari ketakutan di dalam dunia yang jahat ini.

Tapi ingat bahwa janji itu berlaku dengan syarat, yaitu hanya berlaku bagi orang yang mengenal Tuhan. "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku." (ay 14). Dalam versi Bahasa Indonesia sehari-hari dikatakan demikian: "Kata TUHAN, "Orang yang mencintai Aku akan Kuselamatkan, yang mengakui Aku akan Kulindungi." Janji-janji perlindungan ini akan hadir kepada siapa saja yang tetap memilih untuk mengakuiNya, mengandalkanNya, orang yang tinggal di dalam Tuhan. Tinggal menetap, berjalan dan bermalam dalam naungan Tuhan, terus hidup dalam persekutuan yang erat dan berkelanjutan dengan Tuhan, mendengar suaraNya dan melakukan perintahNya. Orang yang mengenal Tuhan adalah "orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa" seperti yang disebutkan di awal Mazmur 91 tadi. Orang seperti inilah yang akan mampu mengenal Tuhan, dan dengan sendirinya mendapat janji perlindungan Tuhan yang akan mampu membebaskan jiwa kita dari rasa ketakutan dan menggantikannya dengan damai sukacita.

Luangkan waktu lebih banyak untuk berdoa dan terus membaca, mendengar, merenungkan, memperkatakan dan melakukan firman Tuhan. Yesus berkata: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). Doa akan mampu menguatkan iman kita dan meluputkan kita dari berbagai jebakan. Selanjutnya kita pun perlu terus bertumbuh dalam firman. Kita bisa melihat awal tulisan Yohanes. "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." (Yohanes 1:1). Tumbuh di dalam Firman berarti tumbuh di dalam Allah. Berpegang pada Firman akan memampukan kita untuk bisa berjalan bebas dari rasa takut meski bahaya mengancam dimana-mana. Tetaplah berjalan bersama Tuhan, kenali PribadiNya dengan sungguh-sungguh, hingga iman kita akan terisi penuh dengan kepercayaan akan Tuhan yang sanggup melakukan perkara apapun, bahkan yang menurut logika paling mustahil sekalipun. Jika anda berpegang pada Tuhan, duduk dalam lindunganNya dan bermalam dalam naunganNya, anda maka anda akan melihat, tidak peduli betapapun bahayanya dunia ini, betapapun banyaknya ancaman di sekeliling anda, anda tidak perlu khawatir karena Tuhan lebih dari sanggup menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita.

Orang yang duduk dalam tahta Tuhan dan bermalam dalam naunganNya akan mendapat perlindungan dari Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, May 2, 2014

Seperti Kaki Rusa

Ayat bacaan: Mazmur 18:33-34
========================
"Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit"

Beberapa waktu kemarin saya kebetulan menonton sebuah acara tentang hewan predator di Afrika. Dalam sebuah adegan terlihat rusa yang lemah diincar oleh seekor singa. Singa ini secara perlahan memperpendek jaraknya dengan rusa, dan ketika merasa jaraknya sudah cukup, singa betina itu segera berlari sekencang-kencangnya menuju rusa. Rusa malang ini pun kaget dan langsung lari secepat mungkin. Kalau biasanya singa mampu mengatasi kecepatan mangsanya, kali ini si rusa ternyata cukup beruntung karena ia berhasil menghindar. Entah kenapa singa itu memperlambat laju dan kemudian berhenti dan rusa tersebut selamat. Ia terus lari dengan kaki yang anggun bagai lompatan balerina.

Selain punya langkah yang panjang dengan keempat kaki lentik, rusa bisa melompat tinggi untuk mendaki perbukitan. Jalan terjal berbatu bukanlah masalah bagi seekor rusa untuk bisa mencapai puncak bukit, sebuah lokasi yang jauh lebih aman dari kejaran binatang-binatang buas. Rusa termasuk hewan yang lemah dan selalu menjadi incaran predator-predator buas, tetapi kekuatan kakinya untuk berlari dan melompat jauh bisa membuatnya punya senjata untuk menghindari serangan.

Dalam hidup kita sering mengalami situasi yang mirip. Memang bukan berhadapan dengan singa atau predator lain, tetapi sebagai manusia kita ini lemah dan rentan mendapat serangan dari segala sisi. Berbagai deraan masalah sering mengancam kita bagai binatang-binatang buas yang siap menerkam. Jalan yang kita lalui dalam hidup pun seringkali tidak mulus. Jalan yang tidak rata, terjal, berliku dan berbatu-batu sangat melelahkan untuk dilewati. Seandainya kita punya kaki seperti rusa, kita tentu akan bisa lebih kuat dan lebih lincah untuk mendaki jalan berbatu untuk sampai dengan selamat di atas bukit. Firman Tuhan sudah mengingatkan kita akan hal ini, yang menariknya dihubungkan dengan rusa seperti ilustrasi hari ini.

Kita bisa membacanya dalam Mazmur. "Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit" (Mazmur 18:34). Ayat yang kurang lebih sama bisa kita dapati dalam kitab lainnya. "ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (Habakuk 3:19). Dari kedua ayat ini kita bisa melihat bahwa kita bisa mengandalkan Tuhan yang siap membuat kita bagai rusa, mampu berjejak di bukit terjal, melewati jalan berbatu dan terus melompat untuk bisa mencapai puncak bukit. Kalau kita hanya mengandalkan kemampuan kita yang terbatas, cepat atau lambat kita akan menyerah kalah oleh kesulitan-kesulitan hidup. Kita tidak akan mampu keluar dari beban persoalan jika hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Tetapi Tuhan tahu batas kemampuan kita. Ketika kita sendiri tidak mampu, Tuhan siap menjadi jawaban. Dia mampu membuat kaki-kaki kita lincah dan kuat seperti rusa untuk mampu melewati jalan berbatu dan terjal dan sampai di atas bukit.

Di atas bukit menggambarkan sebuah tempat di mana masalah tidak lagi mampu menyulitkan kita. Dalam Yesaya dikatakan di tempat tinggi itulah rumah Tuhan akan berdiri tegak.  "Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem." (Yesaya 2:2-3). Kalau kita bca di dalam 1 Korintus 3:16, rumah Tuhan atau bait Allah itu berbicara mengenai diri kita. Jadi apa yang dijanjikan Tuhan adalah sebuah pertolongan yang akan memampukan diri kita untuk meloncat dengan lincah melewati batu-batu masalah untuk sampai di atas bukit dimana kita bisa tegar berdiri tanpa terganggu lagi oleh situasi dan kondisi.

Terus latih kehidupan rohani kita agar semakin meningkat dan terus tumbuh. Teruslah menapak naik, terus kenali Tuhan lebih jauh dan lebih dekat lagi. Semakin tinggi kita berada, semakin sulit pula bagi masalah untuk menggoyahkan kita. Sungguh kita membutuhkan firman Tuhan agar kita mampu melangkah maju. Di tempat tinggi kita berdiri tegak, tidak mudah terseret ke dalam hal-hal yang sifatnya duniawi, tidak mudah goyah meski digoyang masalah berat sekalipun. Di tempat itulah kita akan mampu mendirikan rumah Tuhan yang kokoh dan tahan terhadap goncangan apapun. Di tempat tinggi itu kita akan mampu berkata: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku." (Habakuk 3:17-18). Andalkanlah Tuhan. Dia siap menjadikan kaki kita seperti kaki rusa yang mampu naik hingga berdiri tegak di atas bukit.

Tidak akan pernah cukup jika mengandalkan diri sendiri, tapi bersama Tuhan kita akan mampu mengatasi apapun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, May 1, 2014

Segar

Ayat bacaan: Mazmur 19:8
=====================
"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman."

Ketika kita sibuk mengerjakan sesuatu apalagi dalam waktu yang cukup lama, kita perlu mendapat penyegaran agar rasa letih, lelah dan mumet bisa sirna. Buat saya yang sehari-hari duduk di depan komputer mengerjakan tulisan-tulisan baik dalam bekerja maupun menulis renungan setiap hari, ada kalanya punggung terasa pegal dan inspirasi mandek karena jenuh. Otak seperti panas, bagai komputer yang terus dipakai nonstop akan menjadi lambat bahkan bisa nge-hang. Ada kalanya saya harus meninggalkan dahulu meja kerja saya dan refreshing sebentar. Mungkin menonton DVD atau ke bioskop, jalan-jalan bersama istri atau rebahan sebentar mengembalikan kondisi yang drop karena letih. Segelas air dingin di siang hari, atau secangkir kopi panas di malam hari pun lumayan bisa membantu sementara agar semuanya bisa lancar saya selesaikan.

Apa yang bisa mengembalikan kesegaran anda? Ada yang mengambil waktu istirahat dengan tidur, ada pula yang keluar bersama teman atau keluarga, atau jika waktunya cukup, pergi liburan bisa mendatangkan suasana baru yang bisa mengobati rasa jenuh. Tubuh bisa letih, pikiran bisa jenuh. Apapun yang anda kerjakan baik yang memakai tenaga maupun memeras otak pada satu saat akan mengalami kelelahan. Tidak hanya tubuh dan pikiran, tapi kondisi jiwa kita pun sama. Bayangkan bagaimana beratnya kita setiap hari berperang baik melawan berbagai keinginan daging dari diri sendiri maupun berbagai godaan iblis yang terus berusaha untuk menjatuhkan kita. cepat atau lambat, keadaan rohani kita pun bisa kehabisan energi, drained out, washed out, burned out. Pada kondisi ini kita tidak lagi punya daya tahan kuat untuk menghadapi berbagai tantangan yang bisa melemahkan bahkan menghancurkan kondisi spiritual kita. So just like our body, our soul and spirit needs to be restored and refreshed as well.

Daud sudah mengatakan bahwa orang yang mencintai Taurat Tuhan dan mau merenungkannya siang dan malam akan "seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Tidak akan layu, terus berbuah dan berhasil dalam segala yang dilakukan. Kondisi tubuh kita bisa kita jaga dengan menjaga pola makan, berolahraga dan sebagainya, tetapi untuk menjaga kebugaran rohani kita butuh asupan firman Tuhan setiap hari. Firman Tuhan akan selalu menguatkan, meneguhkan, memberi kelegaan, dan jangan lupa satu hal lagi sehubungan dengan tema renungan hari ini, yaitu menyegarkan. Menyegarkan? Ya, menyegarkan. Jiwa seperti halnya tubuh kita butuh penyegaran setiap saat. Seperti yang tertulis dalam Mazmur: "Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman." (Mazmur 19:8). Firman Tuhan mampu menjawab kebutuhan akan kesegaran jiwa. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "The law of the Lord is perfect, restoring the whole person." Restoring, mengembalikan kepada keadaan semula, itupun akan menjadi sebuah manfaat besar bagi orang yang terus lekat dengan firman Tuhan.

Hidup di dunia yang sulit ini akan membuat stamina rohani kita terus terkuras. Karenanya kita sangat membutuhkan sesuatu yang bisa mengembalikan kesegaran jiwa kita, the way a splash of cool water refresh us. Dalam Yesaya kita bisa melihat janji Tuhan yang begitu indah buat kita: "Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai." (Yesaya 44:3-4). Pengenalan yang berkelanjutan, terus menerus akan Tuhan dan bertumbuh pun akan memberikan kita kesegaran seperti ini, seperti yang disampaikan dalam Hosea. "Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." (Hosea 6:3) Betapa menyegarkannya hujan yang turun di saat kemarau, seperti itulah janji Tuhan untuk kita yang mau bersungguh-sungguh mau mengenalNya lewat firmanNya.

Adalah sangat penting bagi kita untuk terus membekali jiwa kita dengan firman Tuhan. Daud tahu bagaimana bahagianya jika ia tetap berada dekat dengan firman Tuhan yang penuh dengan kuasa. Bacalah Mazmur 119 dimana Daud mendeskripsikan dengan panjang lebar dan lengkap mengenai kebahagiaan yang dimiliki oleh orang yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berkali-kali pula Daud memberikan testimoni dari pengalamannya hidup dekat dengan firman Tuhan. Salah satunya berbunyi seperti ini: "Aku mendapatkan kebahagiaan dalam mentaati perintah-perintah-Mu." (Mazmur 119:55). Dalam bahasa Inggrisnya lebih detail: "This I have had [as the gift of Your grace and as my reward]: that I have kept Your precepts [hearing, receiving, loving, and obeying them]." Jangan biarkan jiwa kita mengalami kekeringan. Tetaplah dekat dengan firman Tuhan agar jiwa kita tetap segar dengan daya tahan yang kuat sehingga kita kuat menghadapi segala tantangan dan kesulitan setiap hari.

Seperti halnya tubuh, jiwa kita pun butuh disegarkan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...